Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

KEJANG DEMAM
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keperawatan Anak

Dosen Pembimbing :
Ns. Fatikhu Yatuni Asmara,M.Sc

Oleh:
I Putu Krisna Widya N 22020114130105
Tiodora Naomi Rianauli A 22020114120004
Zipora Basarista BR M 22020114120039
Tiara Adelina D 22020114130104

Kelas : A.14.2

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017
Kejang Demam

A. Definisi Kejang Demam

Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah kejang


yang terjadi pada anak berusia 3 bulan sampai dengan 5 tahun dan berhubungan
dengan demam serta tidak didapatkan adanya infeksi ataupun kelainan lain yang jelas
di intrakranial. Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC).

Pada saat mengalami kejang, anak tidak akan responsif untuk beberapa waktu,
nafas akan terganggu, kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya, serta anak terlihat
kaku dan memutar matanya. Namun, setelah kejang, anak akan segera normal kembali
(IDAI, 2014). Serangan kejang pada penderita kejang demam dapat terjadi satu, dua,
tiga kali atau lebih selama satu episode demam. Jadi, satu episode kejang demam
dapat terdiri dari satu, dua, tiga atau lebih serangan kejang (Lumbantobing, 2004).

B. Klasifikasi Kejang Demam


Kejang demam dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu kejang demam
sederhana dan kejang demam kompleks (Schwartz, 2005). Menurut Berman dalam Fuadi
(2010), sebagian besar (63%) kejang demam berupa kejang demam sederhana dan 35%
berupa kejang demam kompleks.
1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)
Adapun ciri-ciri kejang demam sederhana antara lain :
a. Berlangsung singkat (< 15 menit)
b. Menunjukkan tanda-tanda kejang tonik dan atau klonik. Kejang tonik yaitu
serangan berupa kejang/kaku seluruh tubuh . Kejang klonik yaitu gerakan
menyentak tiba-tiba pada sebagian anggota tubuh.
c. Kejang hanya terjadi sekali / tidak berulang dalam 24 jam.
2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)
Adapun ciri-ciri kejang demam kompleks antara lain :
a. Berlangsung lama (> 15 menit).
b. Menunjukkan tanda-tanda kejang fokal yaitu kejang yang hanya melibatkan salah
satu bagian tubuh.
c. Kejang berulang /multipel atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam

C. Etiologi Demam Kejang


Menurut Schwartz (2005), demam merupakan faktor pencetus terjadinya kejang
demam pada anak. Demam sering disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi seperti
infeksi saluran pernafasan akut, otitis media akut, gastroenteritis, bronkitis, infeksi saluran
kemih, dan lain-lain. Setiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda. Kejang tidak
selalu timbul pada suhu yang paling tinggi. Pada anak dengan ambang kejang yang
rendah, serangan kejang telah terjadi pada suhu 38°C bahkan kurang, sedangkan pada anak
dengan ambang kejang tinggi, serangan kejang baru terjadi pada suhu 40°C bahkan lebih.

D. Patofisiologi Kejang Demam


Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, dalam Rani (2012), sel atau otak
diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak
yang terpenting adalah glukosa dan melalui suatu proses oksidasi. Dalam proses
oksidasi tersebut diperlukan oksigen yang disediakan melalui perantaraan paru-paru.
Oksigen dari paru -paru ini diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskular. Suatu
sel, khususnya sel otak atau neuron dalam hal ini, dikelilingi oleh suatu mem bran
yang terdiri dari membran permukaan dalam dan membran permukaan luar. Membran
permukaan dalam bersifat lipoid, sedangkan membran permukaan luar bersifat ionik.
Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dengan mudah dilalui ion
Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan elektrolit lainnya,
kecuali oleh ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar neuron, maka terdapat
perbedaan potensial yang disebut potensial membran neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na -K-
ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran tadi
dapat berubah karena adanya: perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler,
rangsangan yang datang mendadak seperti rangsangan mekanis, kimiawi, atau aliran
listrik dari sekitarnya , dan p erubahan patofisiologi dari membran se ndiri karena
penyakit atau keturunan.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1°C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15% dan meningkatnya kebutuhan oksigen sebesar 20%. Pada
seorang anak usia 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh sirkul asi tubuh,
dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi kenaikan suhu tubuh pada
seorang anak dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan dalam waktu
singkat terjadi difusi ion Kalium dan ion Natrium melalui membran tersebut sehingga
mengakibatkan terjadinya lepas muatan listrik. Lepasnya muatan listrik ini demikian
besar sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel lain yang ada
didekatnya dengan perantaraan neurotransmitter sehingga terjadilah kejang.

E. Komplikasi Kejang Demam


Gangguan-gangguan yang dapat terjadi akibat dari kejang demam anak antara lain
(Rani, 2012):
1. Kejang Demam Berulang
Kejang demam berulang adalah kejang demam yang timbul pada lebih dari satu
episode demam. Beberapa hal yang merupakan faktor risiko berulangnya kejang
demam yaitu :
a. Usia anak < 15 bulan pada saat kejang demam pertama
b. Riwayat kejang demam dalam keluarga
c. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam
d. Riwayat demam yang sering
e. Kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.

Berdasarkan penelitian kohort prospektif yang dilakukan Bahtera, T., dkk


(2009) dalam Rani (2012) di RSUP dr. Kariadi Semarang, dimana subjek penelitian
adalah penderita kejang demam pertama yang berusia 2 bulan -6 tahun, kemudian
selama 18 bulan diamati. Subjek penelitian berjumlah 148 orang. Lima puluh enam
(37,84%) anak mengalami bangkitan kejang demam berulang.

2. Kerusakan Neuron Otak


Kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai dengan apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot yang akhirnya
menyebabkan hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat karena metabolisme anaerobik,
hipotensi arterial, denyut jantung yang tak teratur, serta suhu tubuh yang makin
meningkat sejalan dengan meningkatnya aktivitas otot sehingga meningkatkan
metabolisme otak. Proses di atas merupakan faktor penyebab terjadinya kerusakan
neuron otak selama berlangsung kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan
peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas
kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan neuron otak.
3. Retardasi Mental
Retardasi mental terjadi akibat kerusakan otak yang parah dan tidak
mendapatkan pengobatan yang adekuat.
4. Epilepsi
Epilepsi terjadi karena kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah
mendapat serangan kejang yang berlangsung lama. Ada 3 faktor risiko yang
menyebabkan kejang demam menjadi epilepsi dikemudian hari, yaitu :
a. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung.
b. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam
pertama.
c. Kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.

Menurut American National Collaborative Perinatal Project, 1,6% dari semua


anak yang menderita kejang demam akan berkembang menjadi epilepsi, 10%
dari semua anak yang menderita kejang demam yang mempunyai dua atau tiga faktor
risiko di atas akan berkembang menjadi epilepsi.

5. Hemiparesis
Hemiparesis yaitu kelumpuhan atau kelemahan otot-otot lengan, tungkai serta
wajah pada salah satu sisi tubuh. Biasanya terjadi pada penderita yang mengalami
kejang lama (kejang demam kompleks). Mula-mula kelumpuhan bersifat flaksid,
setelah 2 minggu timbul spasitas.

F. Pencegahan Kejang Demam


1. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial yaitu upaya pencegahan munculnya faktor predisposisi
terhadap kasus kejang demam pada seorang anak dimana belum tampak adanya faktor
yang menjadi risiko kejang demam. Upaya primordial dapat berupa:
a. Penyuluhan kepada ibu yang memiliki bayi atau anak tentang upaya untuk
meningkatkan status gizi anak, dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Jika status gizi anak baik maka akan meningkatkan daya tahan tubuhnya sehingga
dapat terhindar dari berbagai penyakit infeksi yang memicu terjadinya demam.
b. Menjaga sanitasi dan kebersihan lingkungan. Jika lingkungan bersih dan sehat
akan sulit bagi agent penyakit untuk berkembang biak sehingga anak dapat
terhindar dari berbagai penyakit infeksi.
2. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya awal pencegahan sebelum seseorang anak
mengalami kejang demam. Pencegahan ini ditujukan kepada kelompok yang
mempunyai faktor risiko. Dengan adanya pencegahan ini diharapkan keluarga/orang
terdekat dengan anak dapat mencegah terjadinya serangan kejang demam.
Upaya pencegahan ini dilakukan ketika anak mengalami demam. Demam
merupakan faktor pencetus terjadinya kejang demam. Jika anak mengalami demam
segera kompres anak dengan air hangat dan berikan antipiretik untuk menurunkan
demamnya meskipun tidak ditemukan bukti bahwa pemberian antipiretik dapat
mengurangi risiko terjadinya kejang demam.
3. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder yaitu upaya pencegahan yang dilakukan ketika anak
sudah mengalami kejang demam. Adapun tata laksana dalam penanganan kejang
demam pada anak meliputi:
a. Pengobatan Fase Akut
Anak yang sedang mengalami kejang, prioritas utama adalah menjaga
agar jalan nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan
untuk mencegah aspirasi. Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri, tetapi
dapat juga berlangsung terus atau berulang. Pengisapan lendir dan pemberian
oksigen harus dilakukan teratur, bila perlu dilakukan intubasi. Keadaan dan
kebutuhan cairan, kalori dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu tubuh dapat
diturunkan dengan kompres air hangat dan pemberian antipiretik. Pemberantasan
kejang dilakukan dengan cara memberikan obat anti kejang kepada penderita.
Obat yang diberikan adalah diazepam. Dapat diberikan melalui intravena maupun
rektal.
b. Mencari dan Mengobati Penyebab
Pada anak, demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan
akut, otitis media, bronkitis, infeksi saluran kemih, dan lain-lain. Untuk
mengobati penyakit infeksi tersebut diberikan antibiotik yang adekuat. Kejang
dengan suhu badan yang tinggi juga dapat terjadi karena faktor lain, seperti
meningitis atau ensefalitis. Oleh sebab itu pemeriksaan cairan serebrospinal
(lumbal pungsi) diindikasikan pada anak penderita kejang demam berusia
kurang dari 2 tahun. Pemeriksaan laboratorium lain dilakukan atas indikasi
untuk mencari penyebab, seperti pemeriksaan darah rutin, kadar gula darah
dan elektrolit. Pemeriksaan EEG dilakukan pada kejang demam kompleks
atau anak yang mempunyai risiko untuk mengalami epilepsi.
c. Pengobatan profilaksis terhadap kejang demam berulang
Pencegahan kejang demam berulang perlu dilakukan karena menakutkan
keluarga dan bila berlangsung terus dapat menyebabkan kerusakan otak
yang menetap. Terdapat 2 cara profilaksis, yaitu:
1) Profilaksis intermitten pada waktu demam
Pengobatan profilaksis intermittent dengan antikonvulsan segera diberikan
pada saat penderita demam (suhu rektal lebih dari 38ºC). Pilihan obat
harus dapat cepat masuk dan bekerja ke otak. Obat yang dapat diberikan
berupa diazepam, klonazepam atau kloralhidrat supositoria.
2) Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari
Indikasi pemberian profilaksis terus menerus adalah:
a) Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan atau
gangguan perkembangan neurologis.
b) Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik pada
orang tua atau saudara kandung.
c) Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti
kelainan neurologis sementara atau menetap. Kejang demam terjadi pada
bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multipel dalam
satu episode demam.

Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1-2 tahun setelah


kejang terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.
Pemberian profilaksis terus menerus hanya berguna untuk mencegah
berulangnya kejang demam berat, tetapi tidak dapat mencegah timbulnya
epilepsi di kemudian hari. Obat yang dapat diberikan berupa fenobarbital
dan asam valproat.

4. Pencegahan Tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier adalah mencegah terjadinya kecacatan,
kematian, serta usaha rehabilitasi. Penderita kejang demam mempunyai risiko untuk
mengalami kematian meskipun kemungkinannya sangat kecil. Selain itu, jika
penderita kejang demam kompleks tidak segera mendapat penanganan yang tepat dan
cepat akan berakibat pada kerusakan sel saraf (neuron). Oleh karena itu, anak
yang menderita kejang demam perlu mendapat penanganan yang adekuat dari
petugas kesehatan guna mencegah timbulnya kecacatan bahkan kematian.

G. TEORI ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM


1. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan
menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut. (Santosa. NI,
1989, 154)
Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan
sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan
kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik,
psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman,
team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. Metode
pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi,
perkusi), wawancara (yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data yang diperlukan),
catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang lama), literatur
(mencakup semua materi, buku-buku, masalah dan surat kabar).
Pengumpulan data pada kasus kejang demam ini meliputi :
A. Data Subjektif
a. Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.Biodata orang tua perlu
dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama, umur, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
b. Riwayat Penyakit (Darto Suharso, 2000)
Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan :
Apakah betul ada kejang ?
Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan menirukan gerakan kejang
si anak
Apakah disertai demam ?
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka diketahui apakah
infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya bangkitan kejang. Jarak antara
timbulnya kejang dengan demam.
Lama serangan
Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung lama. Lama
bangkitan kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon terhadap prognosa dan
pengobatan.
Pola serangan
Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola serangan apakah
bersifat umum, fokal, tonik, klonik ?
Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran seperti epilepsi
mioklonik ?
Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai gangguan kesadaran seperti
epilepsi akinetik ?
Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi sementara tangan naik
sepanjang kepala, seperti pada spasme infantile ?
Frekuensi serangan
Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang terjadi untuk
pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per tahun. Prognosa makin kurang baik apabila
kejang timbul pertama kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.
Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan tertentu yang dapat
menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah, muntah, sakit kepala dan lain-lain. Dimana
kejang dimulai dan bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah
penderita segera sadar, tertidur, kesadaran menurun, ada paralise, menangis dan
sebagainya ?
c. Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada penderita epilepsi),
gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lain-lain.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah penderita pernah
mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang terjadi untuk pertama kali ?
Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak, KP, OMA dan lain-lain.
e. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami infeksi atau sakit
panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan per vaginam sewaktu hamil,
penggunaan obat-obatan maupun jamu selama hamil. Riwayat persalinan ditanyakan
apakah sukar, spontan atau dengan tindakan ( forcep/vakum ), perdarahan ante partum,
asfiksi dan lain-lain. Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak
mau menetek, dan kejang-kejang.
f. Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta umur
mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada umumnya setelah mendapat
imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang dapat menimbulkan kejang.
g. Riwayat Perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) : berhubungan dengan kemampuan
mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati
sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan
dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi yang cermat, misalnya
menggambar, memegang suatu benda, dan lain-lain.
Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara spontan.
h. Riwayat kesehatan keluarga.
Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+ 25 % penderita kejang demam
mempunyai faktor turunan). Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit syaraf
atau lainnya ? Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ISPA, diare atau
penyakit infeksi menular yang dapat mencetuskan terjadinya kejang demam.
i. Riwayat sosial
j. Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji siapakah yanh
mengasuh anak ? Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebayanya
?
k. Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
l. Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana ? Pola kebiasaan dan fungsi
ini meliputi :
Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat
Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan,
pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis ?Bagaimana
pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan kesehatan yang diberikan,
tindakan apabila ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan obat-obatan pertolongan
pertama.
Pola nutrisi
Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana kualitas dan
kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh anak ? Makanan apa saja yang disukai dan
yang tidak ? Bagaimana selera makan anak ? Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya
per hari ?
Pola Eliminasi
BAK: ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis ditanyakan bagaimana
warna, bau, dan apakah terdapat darah ? Serta ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak
kencing.
BAB: ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak ? Bagaimana konsistensinya
lunak,keras,cair atau berlendir ?
Pola aktivitas dan latihan
Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya ? Berkumpul dengan
keluarga sehari berapa jam ? Aktivitas apa yang disukai ?
Pola tidur/istirahat
Berapa jam sehari tidur ? Berangkat tidur jam berapa ? Bangun tidur jam berapa ?
Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang ?
B. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi,
respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi
sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum kejang tanpa
kelainan neurologi.
b. Pemeriksaan Fisik
Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk kepala? Apakah
tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar cembung, bagaimana
keadaan ubun-ubun besar menutup atau belum ?.
Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien dengan
malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan seperti rambut
jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien.
Muka/ Wajah.
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis tertinggal bila anak
menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke sisi sehat. Adakah tanda rhisus
sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan nervus cranial ?
Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan ketajaman
penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?
Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi seperti
pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga, keluar cairan dari telinga,
berkurangnya pendengaran.
Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas ? Apakah
keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya ?
Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah? Adakah
stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries gigi ?
Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi faring, cairan
eksudat ?
Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah pembesaran vena
jugulans ?
Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan, frekwensinya,
irama, kedalaman, adakah retraksi Intercostale ? Pada auskultasi, adakah suara napas
tambahan ?
Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah bunyi tambahan ?
Adakah bradicardi atau tachycardia ?
Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ? Bagaimana turgor kulit
dan peristaltik usus ? Adakah tanda meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ?
Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah terdapat oedema,
hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ?
Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang? Bagaimana
suhunya pada daerah akral ?
Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-tanda infeksi ?

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (terganggunya sistem
termoregulasi).
2. Risiko terjadinya kejang berulang berhubungan dengan adanya peningkatan suhu
tubuh.
3. Risiko cedera berhubungan dengan adanya kejang
4. Cemas berhubungan dengan pengobatan
5. Kurang pengetahuan keluarga tentang cara penanganan kejang berhubungan dengan
kurangnya informasi.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Defisiensi pengetahuan b.d kurangnya informasi

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasionalisasi


Setelah dilakukan intervensi Teaching : disease process
2x24 jam diharapkan klien 1. Berikan penilaian 1. Mengetahui sejauh
dapat mencapai kriteria hasil tentang tingkat mana tingkat
: pengetahuan pengetahuan
Knowledge : disease keluarga. keluarga.
process 2. Gambarkan tanda 2. Meningkatkan
1. Keluarga dan gejala yang biasa pemahaman dan
menyatakan muncul pada meningkatkan kerja
pemahaman tentang penyakit. dalam penyembuhan.
penyakit, kondisi , 3. Gambarkan proses 3. Meningkatkan
prognosis dan penyakit. pemahaman dan
program pengobatan. 4. Identifikasi meningkatkan
2. Keluarga mampu kemungkinan kerjasama dalam
melaksanakan penyebab. penyembuhan.
prosedur yang 5. Sediakan informasi 4. Memberikan
dijelaskan secara yang tepat. informasi untuk
benar. 6. Diskusikan pilihan merencanakan
3. Keluarga mampu terapi untuk /melakukan tindakan
menjelaskan kembali penanganan. protektif.
apa yang dijelaskan 5. Membantu
perawat / tim pemahaman kepada
kesehatan lainnya. keluarga dan
membantu proses
penyembuhan.
6. Meningkatkan
pemahaman dan
meningkatkan
kerjasama dalam
penyembuhan.
Hipertermia b.d penyakit

Tujuan dan Kriteria Intervensi Keperawatan Rasionalisasi


Hasil
Setelah dilakukan Temperature Regulation
intervensi 2x24 jam 1. Berikan matras pendingin 1. Untuk menurunkan suhu
diharapkan klien dapat atau kompres dingin pada tubuh pasien.
mencapai kriteria hasil : pasien untuk menurunkan 2. Mengetahui kondisi
1. Tanda-tanda vital suhu tubuh. suhu tubuh pasien setiap
(Vital Sign) 2. Monitor suhu tubuh pasien 2 jam apakah mengalami
a. Suhu tubuh setiap 2 jam sekali. penurunan suhu atau
menjadi normal 3. Monitor tekanan darah, tidaknya.
o
36,5-37,5 C frekuensi nadi, dan 3. Mengetahui perubahan
b. Tekanan darah frekuensi napas pasien. tekanan darah, frekuensi
menjadi normal 4. Berikan antipiretik kepada nadi, dan frekuensi
c. Frekuensi nadi pasien. napas pasien setelah
menjadi normal 80- diberi intervensi
120 x/menit 4. Untuk menurunkan suhu
d. Frekuensi tubuh pasien.
pernapasan
menjadi normal 16-
20 x/menit

Resiko cedera b.d ketidakefektifan orientasi (kesadaran umum), kejang

Tujuan dan Kriteria Intervensi Keperawatan Rasionalisasi


Hasil
Setelah dilakukan Seizure Management
intervensi 1x24 jam 1. Gunakan panduan dalam 1. Agar tidak terjadi
diharapkan dapat memindahkan pasien untuk kesalahan saat
mencapai kriteria hasil : mencegah cedera pemindahan dan pasien
1. Falls Occurence 2. Catat frekuensi lama tidak mengalami cedera.
a. Tidak terjatuh dari terjadinya kejang 2. Untuk mengetahui lama
tempat tidur saat 3. Berikan obat anti kejang dan kejang pasien dan
terjadi kejang medikasi lainnya. mengklasifikasikan.
2. Parenting 4. Catat karakteristik dari 3. Untuk menghilangkan
performance : Infant kejang yang terjadi. kejang pasien.
/ Toddler Childhood Teaching Toddler Safety 25- 4. Untuk mengetahui
Physical Safety 36 months intervensi selanjutnya
a. Mampu mengatur 1. Mendorong orang tua yang lebih cocok atau
tempat tidur yang pasien untuk menulis sesuai dengan pasien.
aman dan nyaman barang-barang yang 5. Untuk menyiapkan
untuk anak. dibutuhkan agar pasien lingkungan yang aman
b. Mampu aman. untuk pasien
mengurangi resiko
Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasionalisasi
Setelah dilakukan Fluid Management Fluid Management
intervensi 2x24 jam 1. Mengamati/memonitor 1. Untuk mengetahui kondisi TTV
dapat diperoleh tanda vital klien agar dapat mengetahui
kriteria hasil : 2. Berikan cairan tindakan yang tepat selanjutnya
Fluid Balance intravena dan suhu 2. Pemberian cairan melalui IV untuk
1. Tekanan Darah
ruang mempermudah pen cairan dan
Normal
3. Berikan cairan untuk mengatur suhu ruang yang
2. Keseimbangan
4. Berikan kateter urin sesuai pasien hipertemia
Intake dan
Fever Treatment 3. Dengan pemberian cairan dapat
keluaran cairan
1. Mengamati suhu tubuh memenuhi cairan tubuh yang
3. Turgor kulit
dan tanda-tanda vital kurang dan membuat suhu tubuh
normal
2. Berikan pengikatan turun
Hydration
melalui IV seperti 4. Untuk mengetahui input dan output
1. Volume cairan
antipiretik, cairan
yang masuk
antibakterial Fever Treatment
sesuai kebutuhan
3. Fasilitasi istirahat 1. Untuk mengamati perubahan
2. Perubahan suhu
4. Dukung konsumsi Suduhu dan TTV sebelum dan
tubuh ke arah
cairan sesudah dilakukan intervensi
normal
2. Untuk mengurangi suhu tubuh agar
tidak tinggi
3. Agar kondisi tubuh pasien dapat
membaik
4. Agar terpenuhinya kebutuhan
cairan pasien
anak terkena 2. Memberitahukan orang tua 6. Agar ketika terjadi
bahaya serta aman pasien untuk menyiapkan sesuatu orang tua pasien
dan nyaman untuk dan menyimpan perawatan sudah siap sedia.
anak. diri dan obat-obatan untuk 7. Agar anak dapat
pasien. terhindar dari cedera
3. Mendorong orang tua akibat benda berbahaya.
pasien untuk menjauhkan 8. Untuk meminimalisir
barang-barang berbahaya resiko cedera ketika anak
dari pasien. menaiki kendaraan.
4. Mendorong orang tua
pasien untuk menyediakan
tempat duduk khusus untuk
anak di kendaraan.
Cemas berhubungan dengan pengobatan

Tujuan dan Kriteria Hasil


Setelah dilakukan intervensi 2x24 jam dapat diperoleh kriteria
hasil :
Decision Making
1. mampu mengidentifikasi informasi yang relevan
2. mampu mengidentifikasi alternatif
3. Keluarga mampu mengidentifikasi kebutuhan untuk
mendukung setiap alternatif
Coping
1. Mencari informasi diagnosis yang baku
2. Mencari informasi perawatan yang baku
3. Menghindari situasi stress yang berlebihan

Intervensi Keperawatan
Coping Enhancement
1. Memaparkan informasi yang faktual terkait diagnosis,
perawatan, dan prognosis
2. Menawarkan pada pasien pilihan yang realistik tentang
segi perawatan tertentu
3. Memahami perspektif pasien terhadap situasi stress
4. Menghalangi pengambilan keputusan ketika pasien berada
dibawah tekanan
Anxiety Reduction
1. Membantu pasien dan keluarga mengidentifikasi defisit
tingkatan aktivitas
2. Intrusikan pasien dan keluarga terkait kegiatan fisik, sosial
,spiritual dan kognitif dalam mempertahankan fungsi dan
kesehatan

Rasionalisasi
Coping Enhancement
1. Informasi faktual yang diberikan dapat mengurangi
kecemasan pasien
2. Pilihan yang ditawarkan akan mempermudah pasien untuk
membuat kepeutusan
3. Agar menghindarkan pasien dari sitruasi yang dianggap
pasien dapat meningkatkan stress
4. Pengambilan keputusan kurang maksimal jika pasien
dalam keadaan tertekan
Anxiety Reduction
1. Dapat mengurangi rasa cemas pasien terhadap penurunan
aktivitas
2. Mempertahankan kesehatan pasien dengan cara melakukan
aktivitas yang dapat mengurangi kecemasan pasien
Serebral

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasionalisasi


Setelah dilakukan intervensi Neurologic Monitoring
2x24 jam dapat diperoleh 1. Monitoring kesadaran dengan 1. Untuk mengetahui
kriteria hasil : Glasgow Comma Scale (GCS) tingkat kesadaran
Circulation Status 2. Monitoring tekanan darah, pasien dan mengetahui
1. Tekanan sistol dan diastole frekuensi nadi, dan frekuensi intervensi yang sesuai
sesuai yang diharapkan pernapasan. dengan GCS tersebut.
2. Nadi normal 3. Monitoring lidah yang keluar 2. Untuk mengetahui
3. PO2 normal (menjulur) kondisi tanda-tanda
4. SaO2 normal 4. Posisikan pasien dengan kepala vital pasien sebelum dan
Tissue Perfusion lebih tinggi 45o setelah dilakukan
1. Tingkat kesadaran : tindakan.
composmetis 3. Untuk melihat adanya
2. Tidak ada gerakan ketidakefektifan jalan
involunter nafas.
4. Agar peredaran darah
lancar ke seluruh tubuh
dan diharapkan tanda-
tanda vital dapat normal
kembali.
Daftar Pustaka

A Consensus development conference on febrile seizures. (1980). Febrile Se izures:


Long Term Management of Children with Fever Associated Seizures . Diakses
pada 20 Maret 2017, dari:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/52848/3/Chapter II.pdf

Fuadi, Fuadi. (2010). Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak. Diakses pada 20
Maret 2017, dari: http://eprints.undip.ac.id/29064/2/Bab_2.pdf

IDAI. (2014). Kejang Demam: Tidak Seseram yang Dibayangkan. Diakses pada 20 Maret
2017, dari: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kejang-demam-tidak-
seseram-yang-dibayangkan

Lumbantobing, S, M. (2004). Kejang Demam (Febrile Convulsion) . Cetakan Ketiga. Jakarta:


Balai Penerbit FK UI.

Rani, Syafni (2012). Karakteristik Penderita Kejang Demam pada Balita Rawat Inap di RSUD
dr. Pirngadi Medan Tahun 2010-2011. Diakses pada 20 Maret 2017, dari:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/52848/3/Chapter%20II.pdf

Schwartz, M, W. (2005). Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: EGC.