Anda di halaman 1dari 24

Analisis Materi Ajar Kimia Pendidikan Tinggi

Critical Book Review (CBR)


BIOKIMIA

DISUSUN OLEH:
ISMANISA
8186141003
PENDIDIKAN KIMIA A 2018

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN KIMIA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2019
IDENTITAS BUKU I

Judul buku : Principles of Biochemistry (Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1)


No. ISBN : 0-7-1674339-6
Pengarang : Albert L. Lehninger
Alih Bahasa : Dr. Ir. Maggy Thenawidjaja
Penerbit : Erlangga
Tahun terbit : 1982
Kota terbit : Jakarta
Tebal buku : 369 halaman
Bahasa teks : Indonesia

A. PENGANTAR
Biokimia berasal dari kata bio artinya organisme hidup, sedangkan kimia adalah satu
cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dari bahan-bahan kimia. Ilmu
Kimia juga menitik beratkan terhadap komposisi bahan dan sifat-sifat yang berhubungan
dengan komposisi. Juga mengkonsentrasikan perbedaan interaksi senyawa satu dengan
senyawa lainnya dalam reaksi kimia untuk membentuk zat-zat baru. Biokimia merupakan
ilmu yang mempelajari tentang senyawa-senyawa yang ada di dalam sistem hidup,
penyusunan senyawa-senyawa tersebut ke dalam sel-sel dan interaksi kimia yang terjadi. Sel-
sel pada makhluk hidup tersusun dari biomolekul. Untuk dapat mempertahankan hidup, sel-
sel mengalami metabolisme (reaksi pada sel). Dalam metabolisme, sel menyerap energi dari
makanan atau nutrisinya, energi ini digunakan untuk membentuk biomolekul penyusun sel.
Buku “Principles of Biochemistry” (Dasar-Dasar Biokimia) Jilid 1 ini terutama ditujukan
bagi mahasiswa yang baru pertama kali mempelajari biokimia. Buku ini menyajikan berbagai
materi, yaitu : bagian I tentang biomolekul yang terdiri dari dua belas bab antara lain :
biokimia : logika molekul organism hidup, sel, komposisi benda hidup : biomolekul, air, asam
amino dan peptide, protein : stuktur kovalen dan fungsi biologi, protein serat, globular
protein: struktur dan fungsi hemoglobin, enzim, vitamin dan unsure kelumit di dalam fungsi
enzim, karbohidrat : struktur dan fungsi biologi, lipida dan membrane.

Daftar Isi Buku :


Bagian 1 Biomolekul
BAB 1 : Biokimia : Logika Molekul Organisme Hidup
BAB 2 : Sel
BAB 3 : Komposisi Benda Hidup: Biomolekul
BAB 4 : Air
BAB 5 : Asam amino dan peptida
BAB 6 : Protein: Struktur Kovalen dan Fungsi Biologis
BAB 7 : Protein Serat
BAB 8 : Globular Protein: Struktur dan Fungsi Hemoglobin
BAB 9 : Enzim
BAB 10 : Vitamin dan Unsur Kelumit di dalam Fungsi Enzim
BAB 11 : Karbohidrat: Struktur dan Fungsi Biologi
BAB 12 : Lipida dan Membran

B. RINGKASAN ISI BUKU


BAGIAN 1 :Biomolekul
Senyawa-senyawa organik sederhana yang merupakan pembentuk organisme hidup
adalah bersifat khas dan tidak ada di bumi sekarang ini, kecuali sebagai produk aktivitas
biologis. Senyawa pembangun ini, yang disebut biomolekul, dipilih selama masa evolusi
biologis agar sesuai dalam melaksanakan fungsi-fungsi sel tertentu, senyawa-senyawa
tersebut identik dengan semua organisme. Biomolekul dihubungkan satu sama lain dan
berinteraksi dalam bentuk “permainan” molekul atau logik. Ukuran, bentuk dan reaktivitas
kimiawi biomolekul memungkinkan mereka tidak saja untuk berfungsi sebagai unsur
pembentuk struktur sel yang rumit, tetapi juga berperan serta dalam transformasi energi dan
materi yang berlangsung secara dinamis dan berkesinambungan. Oleh sebab itu biomolekul
haruslah diteliti dari dua pandangan, yakni dari pandangan kimiawan dan dari pandangan
biologiwan. Biokimia adalah superkimia (superchemistry).
BAB 1: Biokimia: Logika Molekul Organisme Hidup
Biokimia bertujuan memahami bagaimana interaksi molekul satu dengan lainnya
membawa sifat-sifat keadaan hidup ini. Belum pernah dalam pengamatan dalam logika
molekul sel hidup, kita menemukan suatu pelanggaran terhadap hukum-hukum fisis yang
telah dikenal, seiring dengan itu pula, kita belum pernah memerlukan pendefinisian hukum
baru. Mesin-organik lunak sel hidup berfungsi di dalam kerangka hukum-hukum yang sama
yang mengatur mesin buatan manusia, akan tetapi, reaksi-reaksi kimia dan proses pengaturan
sel telah maju demikian pesat, melampaui kemampuan kerja mesin buatan manusia.
Azas-azas di atas, yang menyimpulkan logika molekul keadaan hidup tampaknya berlaku
bagi semua sel, walaupun kita mungkin berpendapat bahwa pernyataan ini bersifat terlalu
sederhana. Dalam penelusuran yang terarah ini, kita telah melihat bahwa biokimia
mempunyai sistem hakiki, yakni, suatu himpunan prinsip penyususnan. Ini bukan hanya
sekedar kumpulan fakta kimia mengenai senyawa hidup yang tidak saling berhubungan.
Setelah sekarang kita mempelajari biokimia, prinsip penyusunan ini seharusnya digunakan
sebagai kerangka acuan.
Di dalam buku ini, pertama-tama kita akan menerangkan berbagai kelas biomolekul. Lalu
kita dapat melangkah lagi untuk menganalisis reaksi-reaksi isotermal yang terangkat secara
berurutan, mampu menyesuaikan diri sendiri dan dikatalisa oleh enzim, yang memungkinkan
proses metabolisme yakni, suatu aliran senyawa dan energi di antara organisme dan
lingkungannya. Akhirnya, kita akan mendiskusikan dasar molekul penggandaan diri pada sel,
dan translasi informasi DNA satu dimensi menjadi protein tiga dimensi. Kita juga akan
melihat, bagaimana biokimia juga memberikan pengertian baru dan penting dalam fisiologi
manusia, nutrisi dan kedokteran, biologi tumbuhan dan pertanian, evolusi dan ekologi, dan
dalam daur energi senyawa antara matahari, bumi, dan dunia tumbuhan serta hewan.

BAB 2: Sel
Semua sel dikelilingi oleh membran plasma, mempunyai sitoplasma, ribosom, dan suatu
daerah inti sel atau inti sel. Ukuran dan bentuk sel dipengaruhi oleh kecepatan difusi fisik
molekul nutrien dan oksigen dan oleh nisbah daerah permukaan terhadap volume sel.
Terdapat dua golongan sel: prokaryotik dan eukaryotik. Prokaryotik, yang terdiri dari bakteri
dan ganggang hijau-biru merupakan sel kecil sederhana yang secara khas tidak mempunyai
membran yang mengelilingi senyawa genetiknya. Golongan ini dilengkapi dengan dinding sel
dan membran plasma, dan beberapa, mempunyai flagela untuk bergerak. Sitoplsma sel
prokaryotik tidak mengandung organel yang dikelilingi membran, tetapi mengandung
ribosom dan granula nutrien. Sel prokaryotik tumbuh dan membelah diri dengan kecepatan
tinggi. Escherichia Coli adalah prokaryotik yang paling banyak dipelajari, sangat bermanfaat
di dalam penelaahan biokimia dan genetik.
Sel eukaryotik jauh lebih besar daripada prokaryotik, volumenya 1000 sampai 10.000 kali
lebih besar. Selain inti sel yang dikelilingi oleh membran yang terbentuk sempurna dan
beberapa kromosom, sel eukaryotik juga mengandung organel yang dikelilingi membran. Di
antaranya, terdapat mitokondria, yang berfungsi untuk mengoksidasi bahan bakar sel dan
menghasilkan ATP, dan kloroplas (di dalam sel fotosintetik) yang menangkap energi sinar
untuk mengubah CO2 menjadi glukosa. Mitokondria dan kloroplas dipandang berasal dari
bakteri. Organel eukaryotik lainnya termasuk retikulum endoplasmik, yang berfungsi untuk
membawa produk sekresi ke badan Golgi, di sini dibungkus untuk dikeluarkan dari sel.
Lisosom mengandung enzim degradatif, dan periksosom memisahkan enzim-enzim
pembentuk dan pengurai peroksida dari bagian sel lainnya. Sitoplasma sel eukaryotik juga
mengandung sedikitnya tiga jenis mikrofilamen dan mikrotubulus. Bersama-sama,
mikrofilamen, mikrotubulus, dan jaringan mikrotrabekuler membentuk suatu silia dan flagela;
aktivitas dorongnya dijalankan oleh pasangan mikrotubulus. Sel eukaryotik juga mengandung
ribosom, beberapa di antaranya bersifat bebas, yang lain terikat pada permukaan retikukulum
endoplasmik.
Virus adalah struktur, supramolekuler tidak-hidup yang terdiri dari molekul asam nukleat,
dikelilingi oleh kulit protein. Molekul ini mampu menjangkit sel induk spesifik menyebabkan
sel ini melakukan replikasi partikel virus berdasarkan instruksi genentik yang diberikan oleh
asam nukelatnya.

BAB 3: Komposisi Benda Hidup: Biomolekul


Kebanyakan benda padat pada organisme hidup terdiri dari senyawa organik karbon yang
secara kovalen, berikatan dengan atom karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. tampaknya,
karbon telah terseleksi selama proses evolusi biologi karena sejumlah sifatnya yang
menguntungkan. Diataranya, kemampuan atom karbon untuk membentuk ikatan tunggal dan
ganda dengan sesamanya, yang memungkinkan pembentukan struktur kerangka yang sangat
bervariasi; struktur linier, bercabang dan siklik yang mengikat berbagai jenis gugus
fungsionil. Biomolekul organik juga mempunyai bentuk atau konformasi dalam tiga dimensi
yang khas. Banyak biomolekul yang berada dalam bentuk asimetri atau khiral, yang disebut
enansiomer.
Kebanyakan benda organik di dalam sel hidup terdiri dari empat jenis utama
makromolekul, yakni, asam nukleat protein, polisakarida, dan serangkaian molekul lipid. Tiap
jenis sistem makromolekul tersusun atas relatif hanya beberapa jenis molekul untuk
pembangun yang berikatan kovalen. Protein terdiri dari rantai yang terbuat dari duapuluh jenis
asam amino, asam nukleat adalah rantai empat dari empat unit nukleotida, dan polisakarida
adalah rantai dari unit-unit gula. Terdapat tingkatan struktural di dalam organisasi molekul
sel. Sel mengandung organel, seperti inti sel dan mitokondria, yang seterusnya mengandung
struktur supramolekuler, seperti membran dan ribosom, dan molekul-molekul ini terdiri dari
kelompok makromolekul yang bergabung bersama-sama, diikat oleh sejumlah gaya tarik yang
lemah. Tetapi, didalam makromolekul, unit pembangun diikat satu dengan yang lain oleh
ikatan kovalen.
Biomolekul unit pembangun yang kita ketahui mungkin pertamakali muncul secara
spontan dari gas atmosfir dan air di bawah pengaruh energi, pada awal mula sejarah bumi.
Proses ini, yang disebut evolusi kimia, dapat ditiru di laboratorium. Biomolekul unit
pembangun yang kita kenal saat ini tampaknya telah terseleksi selama awal evolusi biologi
sebagai molekul-molekul yang paling sesuai dengan fungsi biologisnya. Biomolekul unit
pembangun ini hanya berjumlah sedikit, tetapi bersifat multifungsionil. Masing-masing dapat
menjalankan berbagai jenis fungsi di dalam sel.

BAB 4: Air
Air adalah senyawa yang paling berlimpah di organimse hidup. Titik beku, titik didih,
dan panas penguapan air yang tinggi adalah akibat gaya tarik inter molekuler yang kuat,
dalam bentuk ikatan hidrogen di antara molekul air yang berdekatan. Cairan air mempunyai
susunan yang kisarannya cukup pendek, dan terdiri dari bongkah-bongkah berikatan hidrogen
yang waktu paruhnya amat pendek. Sifat-sifat kepolaran dan ikatan hidrogen air membuatnya
sebagai pelarut ampuh untuk berbagai senyawa ionik dan molekul polar lainnya. Air juga
mendispersikan molekul amfipatik, seperti sabun, untuk membentuk misel, yakni, gumpalan
molekul yang gugus hidrofobiknya tersembunyi dari muka air dan gugus bermuatannya
terletak pada permukaan luar.Air mengion sedikit saja, membentuk ion-ion H+dan OH-. Di
dalam larutan encer, konsentrasi ion H+dan OH-. Konsentrasi ion hidrogen pada sistem
biologi biasanya dinyatakan dalam istilah pH, yang didefinisikan sebagai pH = -log [H+].
Asam didefinisikan sebagai donor proton dan basa sebagai akseptor proton. Suatu
pasangan asam-basa konjugat terdiri dari donor proton HA dan akseptor protonnya A-.
Kecendrungan dari suatu asam HA untuk memberikan protonnya dinyatakan oleh konstanta
disosiasinya (K’ = [H+][A-] / [HA]) atau oleh fungsi pK’, yang didefinisikan sebagai –log K’.
pH dari suatu larutan asam lemah secara kuantitatif berhubungan dengan pK’-nya dan dengan
nisbah konsentrasi senyawa donor proton dan akseptor proton.
Suatu pasangan asam-basa konjugat dapat berfungsi sebagai buffer, dan mempertahankan
perubahan pH; kapasitas kerjanya terbaik pada keadaan pH sama dengan pK’. Pasangan
buffer yang paling penting dalam biologi adalah H2CO3 – HCO3- dan H2PO4- - HPO42-.
Aktivitas katalitik enzim dipengaruhi secara nyata oleh pH.

BAB 5: Asam Amino dan Peptida


Ke 20 asam amino yang biasa dijumpai sebagai produk hidrolisis protein mengandung
suatu gugus α-karboksil, α-amino, dan gugus R yang berbeda-beda, yang bersubstitusi pada
atom α-karbon. Atom α-karbon dari asam amino (kecuali glisin) bersifat asimetrik, dan
karenanya dapat berada dalam minimum dua bentuk stereoisomer. Hanya stereoisomer-L,
yang setara dengan L-gliseraldehida, yang ditemukan di dalam protein. Asam amino
digolongkan atas dasar polaritas gugus R. Golongan non-polar mencakup alanin, leusin,
isoleusin, valin, prolin, fenilalanin, triptofan, dan metionin. Golongan polar-netral termasuk
glisin, serin, treonin, sistein, tirosin, asparagin, dan glutamin. Golongan bermuatan negatif
(asam) mengandung asam aspartat dan asam glutamat, dan golongan bermuatan positif (basa)
mengandung arginin lisin dan histidin.
Asam amino monoamino monokarboksilat merupakan asam diprotik (+NH3CHRCOOH)
pada pH rendah. Jika pH ditingkatkan menjadi kira-kira 6, pada titik isoelektrik ini, proton
dibebaskan dari gugus karboksil untuk membentuk senyawa dua kutub atau zwitterion
+
NH3CHRCOO- yang bermuatan netral. Peningkatan pH yang lebih tinggi lagi menyebabkan
hilangnya gugus proton yang kedua dan menghasilkan senyawa ion NH2CHRCOO-. Asam
amino dengan gugus R yang mengion dapat berada dalam bentuk ion lain, tergantung pada
pH. Asam amino membentuk senyawa turunan berwarna dengan penambahan ninhidrin.
Campuran kompleks asam amino dapat dipisahkan, diidentifikasi, dan diduga jumlahnya oleh
metoda elektroforesis atau kromatografi pertukaran ion. Asam amino dapat disatukan secara
kovalen melalui ikatan peptida, membentuk senyawa peptida, yang juga dibentuk dari
hidrolisa tidak sempurna polipeptida.

BAB 6: Protein: Struktur Kovalen dan Fungsi Biologis


Protein merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel, menyusun lebih
dari setengah berat kering. Protein terdiri dari rantai polipeptida panjang, yang disusun oleh
100 sampai 1000 unit asam amino yang disatukan oleh ikatan peptida. Beberapa protein
berbentuk serabut dan bersifat tidak larut; yang lain berbentuk globular, dengan rantai
polipeptida yang berlipat-lipat.
Sel mengandung ratusan atau ribuan jenis protein, masing-masing dengan fungsi atau
aktivitas biologi yang berbeda. Namun demikian, semuanya terbuat dari susunan 20 asam
amino yang sama, tetapi berbeda dalam deret unit asam aminonya. Protein homolog dari
berbagai spesies organisme memperlihatkan homologi deret: yakni, letak tertentu di dalam
rantai polipeptida. Protein homolog mengandung asam amino yang sama, dan tidak
tergantung pada spesies. Protein globular biasanya menjadi tidak larut dan kehilangan
aktivitas biologi tanpa kerusakan kerangka polipeptida, dengan pemanasan, penambahan pH
ekstrim, atau perlakuan dengan pereaksi tertentu.

BAB 7 : Protein Serat


Terdapat empat jenis protein serat yang mempunyai peranan pelindung atau pemberi
struktur dalam organisme hewan : α-keratin, 𝛽-keratin, kolagen dan elastin. Protein-protein
ini telah memberikan pengertian penting dalam hubungan antara struktur dan fungsi molekul
protein. α-keratin adalah protein bersifat liat dan secara khas tidak larut, ditemukan pada
rambut, wol, sayap, sisik, tanduk, kuku dan kulit penyu. Analisis sinar-x memperlihatkan
bahwa α-keratin menunjukkan unit perulangan pada kira-kira 0,54 nm panjangnya dengan
rantai polipeptida yang membelit terhadap sesamanya.
𝛽-keratin dengan contoh menonjol diantaranya : serat sutera, menunjukkan suatu
perulangan pada kira-kira 0,70 nm, yang juga diperoleh pada pemanasan basah dan
peregangan α-keratin. Pada 𝛽-keratin, rantai polipeptida meluas disepanjang satu sumbu
dengan cara zig-zag. Rantai polipeptida yang berdekatan pada 𝛽-keratin berikatan hydrogen
satu terhadap yang lain, dengan arah antiparalel, dan tersusun menjadi suatu lembaran
berlipat, dengan gugus R yang mencuat ke atas dan ke bawah struktur lembaran tersebut. 𝛽-
keratin mengandung banyak residu glisin dan alanin.
Kolagen merupakan protein yang paling berlimpah pada vertebrata. Protein ini ditemukan
pada urat, serta kulit, pembuluh darah, tulang dan tulang rawan. Serat kolagen terdiri dari tiga
rantai polipeptida yang saling membelit, masing-masing tersusun dalam jenis khusus heliks
berputar, yang mengandung kira-kira 21 persen residu prolin dan hidroksiprolin. Serat
kolagen tidak meregang, dan protein ini mempunyai daya than tegangan yang tinggi. Kolagen
diubah menjadi gelatin, suatu campuran polipeptida yang larut dan dapat dicerna, oleh
hidrolisis sebagian. Elastin yang merupakan protein khas dari jaringan pengikat, terdiri dari
suatu jalinan rantai polipeptida yang dijembatani oleh desmosin. Protein ini mempunyai sifat
elastic. Myosin, aktin, dan tubulin merupakan unit intraseluler protein filament yang
berpartisipasi dalam aktivitas kontraksi dan gerak yang tergantung pada energy ATP.

BAB: 8 Globular Protein: Struktur dan Fungsi Hemoglobin


Rantai polipetida protein globular berlipat erat-erat, dalam semua protein globular, rantai
polipeptida melipat dengan amat kompak, dengan sedikit atau tanpa rongga interior yang
tersedia bagi molekul air. Bukti-bukti telah diberikan oleh penemuan, bahwa banyak protein
globular yang terdenaturasi, yang kehilangan aktivitas biologinya, akan kembali ke struktur
asal secara spontan, dan memperoleh aktivitas biologi semula.
Protein oligomer globular, yang mempunyai dua atau lebih rantai polipeptida mempunyai
struktur yang lebih besar dan lebih kompleks dan seringkali berpartisipasi dalam aktivitas
pengaturan. Hemoglobin mempunyai kurva oksigenasi yang berbentuk sigmoid, yang dengan
baik beradaptasi untuk mengikat oksigen di dalam paru-paru dan membebaskannya di dalam
jaringan periferi. Mioglobin, sebaliknya, mempunyai daya ikat yang jauh lebih tinggi terhadap
oksigen, dengan kurva kejenuhan berbentuk hiperbolik, yang memberikan protein ini sifat-
sifat menguntungkan bagi penyimpanan oksigen di dalam otot.

BAB 9 : Enzim
Enzim adalah protein yang mengkatalisa reaksi kimiawi spesifik. Enzim mengikat
molekul substrat membentuk kompleks enzim-substrat yang bersifat sementara, yang terurai
membentuk enzim bebas dan produknya. Tiap-tiap enzim juga memiliki pH optimum, selain
spesifisitas yang khas bagi substratnya. Enzim dapat terinaktifasi oleh modifikasi tidak dapat
balik terhadap beberapa gugus fungsional yang penting bagi aktivitas katalitiknya. Enzim
dapat juga dihambat secara dapat balik, oleh senyawa yang bersifat kompetitif atau non
kompetitif.
Di samping aktivitas katalitiknya, beberapa enzim memiliki aktivitas pengatur dan
berperan sebagai pemacu atau pengatur kecepatan reaksi metabolisme. Beberapa enzim
pengatur, yang dinamakan enzim alosterik, diatur kecepatannya oleh pengikatan dapat balik-
nonkovalen molekul modulator atau pengatur spesifik pada sisi alosterik atau sisi pengatur.
Beberapa enzim terdapat dalam bentuk ganda, yang disebut isoenzim, yang mempunyai sifat-
sfat kinetika yang berbeda. Pada banyak penyakit genetik manusia, satu atau lebih enzim
mengalami kerusakan fungsi sebagai akibat mutasi yang menurun.
BAB 10 : Vitamin dan Unsur Kelumit di dalam Fungsi Enzim
Vitamin adalah senyawa organik dalam jumlah mikro yang essensial di dalam fungsi
kebanyakan bentuk kehidupan, tetapi tidak dapat disintesa oleh beberapa organisme dan harus
diperoleh dari sumber di luar tubuh. Kebanyakan vitamin yang larut di dalam air berfungsi
sebagai komponen berbagai koenzim atau gugus prostetik emzim yang penting dalam
metabolisme sel. Tiamin (vitamin B1) merupakan komponen aktif tiamin pirofosfat, suatu
koenzim yang dibutuhkan sebagai pembawa sementara asetaldehida di dalam dekarboksilasi
enzimatik piruvat, suatu produk utama dari pemecahan glukosa di dalam sel. Riboflavin
(vitamin B2) adalah komponen koenzim flavin mononukleotida (FMN) dan flavin adenin
dinukleotida (FAD) yang berfungsi sebagai pembawa hidrogen, gugus prostetik pada enzim
oksidatif. Piridoksin (vitamin b6) adalah prekursor esensial-esensial bagi piridoksal fosfat,
gugus prostetik enzim transminase dan enzim lain yang mengubah asam amino. Vitamin B12
dalam bentuk turunan 5’-deoksiadenosilnya berfungsi di dalam pertukaran enzimatik atom
hidrogen dan gugus pensubstitusi tertentu di antara atom-atom karbon yang berdekatan.
Vitamin yang larut di dalam lemak memainkan peran penting lainnya. Vitamin A
merupakan prekursor pigmen peka cahaya di dalam siklus visual sel batang pada vertebrata.
Vitamin D3 merupakan prekursor biologik utama 1,25-dihidroksikolekasiferol yang memiliki
aktivitas seperti hormon di dalam mengatur metobolisme Ca2+ di dalam usus kecil dan tulang.
Vitamin K merupakan kofaktor di dalam pembentukan residu γ-karboksi-glutamil secara
enzimatik pada protrombin, suatu protein plasma pengikat Ca2+ yang penting dalam
pengggumpala ndarah.

BAB 11 : Karbohidrat: Struktur dan Fungsi Biologi


Karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau keton dengan rumus empirik (CH2O)n.
Karbohidrat digolongkan sebagai monosakarida atau gula (satu unit aldehida atau keton);
oligosakarida (beberapa unit monosakarida); dan polisakarida, molekul besar linear atau
bercabang yang mengandung banyak unit monosakarida. Monosakarida atau gula sederhana
memiliki satu unit aldehida atau keton. Golongan ini juga mempunyai sedikitnya satu atom
karbon asimetrik, dan karenanya terdapat dalam bentuk stereoisomer. Gula yang paling
banyak terdapat di alam, seperti ribosa, glukosa, fruktosa, dan manosa, adalah rangkaian gula
D. Gula sederhana dengan 5 atau lebih atom karbon dapat berada dalam bentuk cincin-tertutup
hemiasetal, sebagai furanosa (cincin beranggota lima), atau piranosa (cincin beranggota
enam). Furanosa dan piranosa terdapat dalam bentuk anomer α dan β, yang dapat saling
bertukar dalam proses mutarotasi. Gula yang dapat mereduksi senyawa oksidator disebut gula
pereduksi.
Disakarida terdiri dari dua monosakarida yang digabungkan oleh suatu ikatan kovalen.
Maltosa mengandung dua residu D-glukosa dalam ikatan α (14) glikosida. Laktosa
mengandung D-galaktosa dan D-glukosa. Sukrosa, suatu gula nonpereduksi, mengandung unit
D-glukosa dan D-fruktosa yang digabungkan oleh atom karbon anomernya.
Polisakarida (glikan) mengandung banyak unit monosakarida yang berikatan glikosida.
Beberapa berfungsi sebagai bentuk penyimpan karbohidrat. Polisakarida yang paling penting
adalah pati dan glikogen. Selulosa, polisakarida strukturan pada tumbu-tumbuhan mempunyai
unit D-glukosa yang berikatan β (1-6). Sel hewan memiliki kulit luar atau glikokaliks fleksibel
yang mengandung rantai oligosakarida yang berikatan dengan lipid dan protein. Glikoprotein
mengandung satu atau lebih residu gula. Kebanyakan permukaan sel atau protein ekstraselular
adalah glikoprotein.

BAB 12 : Lipida dan Membran


Lipida adalah komponen sel yang bersifat berminyak atau berlemak, dan tidak larut di
dalam air, yang dapat diekstrak dengan pelarut nonpolar. Beberapa lipida berfungsi sebagai
komponen struktural membran, yang lain sebagai bentuk penyimpan bahan bakar. Asama
lemak yang merupakan komponen berlemak dari lipida, biasanya memiliki jumlah atom
karbon yang genap, yang paling banyak dijumpai memiliki 16 atau 18 atom karbon. Asam
lemak dapat bersifat jenuh atau tidak jenuh, garam sodium atau potasium dari asam lemak
disebut sabun. Triasilgliserol mengandung tiga molekul asam lemak yang berikatan ester
dengan ketiga gugus hidroksil dari gliserol. Triasilgliserol sederhana mengandung hanya satu
jenis asam lemak; tirasilgliserol campuran mengandung sedikitnya dua jenis yang berbeda.
Triasilgliserol terutama adalah lemak penyimpan.
Lipida polar, yang memiliki kepala bersifat polar dan ekor bersifat nonpolar, merupakan
komponen utama membrane. Yang paling banyak adalah fosfogliserida. Kolesterol, suatu
senyawa sterol, merupakan prekursor banyak senyawa steroid dan juga merupakan komponen
membran plasma yang penting.
Semua lipida polar memiliki kepala bersifat polar dan bermuatan listrik, dan ekor
hidrokarbon yang bersifat nonpolar; lipida ini secara spontan membentuk misel, lapisan
tunggal dan lapisan ganda, yang distabilkan strukturnya oleh interaksi hidrofobik. Lapisan
ganda lipida polar berfungsi sebagai inti structural dari membrane sel, yang juga mengandung
berbagai jenis protein, beberapa (protein ekstrinsik) pada permukaan membrane, dan yang
lain (protein intrinsic) pada bagian dalam struktur membrane. Membran sel memiliki sisi yang
berlainan, dan juga mengandung gugus oligosakarida hidrofilik berasal dari molekul
glikoprotein dan glikolipida pada permukaan luar membrane. Beberapa di antara gugus
oligosakarida ini memegang peranan penting di dalam pengenalan antar sel dan merekatnya
sel-sel tersebut, penggolongan jaringan, dan sisi reseptor bagi hormone.

C. KEUNGGULAN BUKU
1. Keterkaitan antar Bab
Pada buku Lehninger Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1 yang tediri dari dua belas bab yang
memuat materi antara lain biokimia: logika molekul organisme hidup, sel, komposisi benda
hidup: biomolekul, air, asam amino dan peptide, protein: stuktur kovalen dan fungsi biologi,
protein serat, globular protein: struktur dan fungsi hemoglobin, enzim, vitamin dan unsure
kelumit di dalam fungsi enzim, karbohidrat: struktur dan fungsi biologi, lipida dan membran.
Keunggulannya adalah beberapa bab sudah saling terkait antara satu bab dengan bab
lainnya seperti bab 1 yang membahas mengenai biokimia; logika molekul organisme hidup
pada bagian akhir bab dibahas mengenai sel menghasilkan energy dalam bentuk kimia dan
metabolisme sel. Bagian akhir dari bab 1 ini terkait pada bab 2 yang membahas mengenai Sel.
Dari hal ini dapat membantu pembaca untuk mempermudah memahami isi buku karena bab
yang ada di dalam buku ini sudah terkait. Sehingga, pada saat pembaca ingin membaca bab
selanjutnya telah mengetahui konsep awal karena di bagian akhir bab telah dijelaskan sedikit
untuk materi bab selanjutnya.
2. Kemutakhiran Isi Buku
Dalam buku ini teori-teori yang dikembangkan sebagian besar diambil dari masalah di
kehidupan sehari-hari, sehingga isi buku lebih mutakhir. Dalam buku ini juga sudah memiliki
teori-teori yang benar dan memberikan wawasan lebih kepada si pembaca.
Kutipan pustaka atau referensi pada buku ini juga dilengkapi dengan jurnal-jurnal yang
terkait. Kutipan referensi yang diambil dari penelitian-penelitian yang terbaru pada tahunnya.
Buku ini juga dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam mempelajari biokimia dasar.

D. KELEMAHAN BUKU
1. Keterkaitan antar Bab
Dalam buku ini untuk keterkaitan antar bab, tidak kami temukan adanya kelemahan,
karena menurut analisis kami bab-bab yang ada dalam buku Lehninger Dasar-Dasar Biokimia
Jilid 1 telah mempunyai keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. Sehingga pembaca
lebih mudah untuk memahami isi buku tersebut.
2. Kemutakhiran Isi Buku
Pada buku ini teori yang dikembangkan dari masalah sudah cukup mutakhir, namun
untuk referensi buku ini sudah termasuk terbitan tahun yang sudah lama yaitu tahun 1982,
sehingga untuk lebih up to date bisa mencari dan menggunakan buku terbitan yang lebih
terbaru yang sudah direvisi atau buku terbitan lainnya yang membahas mengenai dasar-dasar
biokimia juga.

E. IMPLIKASI
1. Teori
Dalam buku Lehninger Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1 terdapat beberapa teori dan konsep
yang dapat membangun dan memberikan wawasan kepada pembaca terutama teori dan
konsep tentang biomolekul karena memang pada jilid 1 lebih memfokuskan mengenai
biomolekul. Dalam buku ini juga dijelaskan mengenai teori dan konsep dari biokimia
mengenai logika molekul organisme hidup, sel, komposisi benda hidup, air, asam amino dan
peptide, protein , enzim, vitamin, karbohidrat serta lipida dan membran. Seperti salah satunya
dalam bab 2 yang membahas mengenai sel, di dalam buku ini dijelaskan mengenai konsep
kelas utama sel yang tediri dari dua yaitu : Prokaryotis dan Eukaryotis.
Buku ini dapat digunakan menjadi bahan referensi bagi pembaca serta masukan untuk
mengetahui lebih dalam mengenai Dasar-Dasar Biokimia.
2. Program Pembangunan di Indonesia
Dari hasil membaca buku ini, pembaca dapat menguasai materi dan konsep mengenai
dasar-dasar biokimia. Melalui konsep dan teori yang telah dipahami, pembaca dapat
memanfaatkannya dalam bidang eksperimental sehingga hasil penelitiannya dapat berguna
dalam program pembangunan di Indonesia terutama dalam bidang penelitian sains.
3. Analisis Mahasiswa
Setelah analisis buku Lehninger “Dasar-Dasar Biokimia”, menurut kami buku ini sudah
bagus untuk menjadi bahan referensi mahasiswa dalam mempelajari biokimia terutama
tentang biomolekul. Di dalam buku ini juga sudah lumyan menarik karena menyajikan
gambar serta tabel-table dengan baik. Namun, masih ada beberapa gambar dan tabel yang
tidak berwarna sehingga kurang menarik bagi pembaca. Di dalam buku juga ada beberapa
kata yang sulit dimengerti oleh pembaca karena buku ini adalah buku terjemahan, sehingga
ada beberapa kata yang terjemahannya membuat pembaca sedikit sulit untuk memahami
isinya.

F. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Dari hasil analisis kami tentang buku Lehninger “Dasar-Dasar Biokimia” Jilid 1, secara
keseluruhan buku ini sangat baik dalam menambah wawasan mengenai biokimia terutama
dalam biomolekul. Buku ini juga memiliki isi materi yang lengkap dan bagus sehingga dapat
dijadikan buku acuan atau sekedar bahan referensi bagi mahasiswa yang ingin mempelajari
lebih dalam mengenai biokimia terutama biomolekul.
2. Saran
Untuk kedepannya diharapkan penerjemah untuk buku-buku sains terutama kimia lebih
memperhatikan hasil terjemahannya agar pembaca tidak mengalami kesulitan dalam
memahami isi materi yang ada di dalam buku tersebut.

KEPUSTAKAAN
Lehninger, A. L. (1982). Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Erlangga, Jakarta.
IDENTITAS BUKU II

Judul buku : Bahan Ajar BIOKIMIA untuk Mahasiswa Pendidikan Biologi


Penyusun : Titi Laily Hajiriah, M.Pd.
Penerbit : Fakultas Pendidikan Matematika dan IPA (FPMIPA) IKIP MATARAM
Tahun terbit : 2014
Kota terbit : Mataram
Tebal buku : 84 halaman

A. Pengantar
Biokimia adalah ilmu yang mempelajari berbagai molekul didalam sel hidup serta
organisme hidup beserta reaksi kimianya. “Bahan Ajar Biokimia” ini digunakan untuk
Mahasiswa Semester 3 di Prodi Pendidikan Biologi. Buku ini menyajikan berbagai materi
tentang biokimia yang terdiri dari 9 bab, yaitu bab 1: konsep dasar biokimia, bab 2:
karbohidrat, bab 3: protein, bab 4: lemak, bab 5: vitamin, bab 6: mineral dan air, bab 7: enzim,
bab 8: asam nukleat, dan bab 9: sifat fisik dan kimia bahan.
Daftar Isi Bahan Ajar :
BAB 1 : Konsep Dasar Biokimia
BAB 2 : Karbohidrat
BAB 3 : Protein
BAB 4 : Lemak
BAB 5 : Vitamin
BAB 6 : Mineral dan Air
BAB 7 : Enzim
BAB 8 : Asam Nukleat
BAB 9 : Sifat Fisik dan Kimia Bahan
B. Ringkasan Isi Buku
BAB 1: Konsep Dasar Biokimia
Pada bab 1 membahas konsep dasar biokimia ini hanya berupa peta konsep yang menjelaskan
sedikit mengenai biokimia. Biokimia adalah ilmu yang mempelajari berbagai molekul didalam
sel hidup serta organisme hidup beserta reaksi kimianya. Ilmu biologi menitik beratkan pada
pertumbuhan dan reproduksi makhluk hidup. Sedangkan Ilmu Kimia menitik beratkan
terhadap hubungan struktur, fungsi, dan reaksi-reaksi kimia yang berhubungan dengan
komposisi. Biomolekul terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, asam nukleat, dan mineral.

BAB 2: Karbohidrat
Bab 2 ini menjelaskan tentang pengantar karbohidrat, jenis-jenis karbohidrat, serta
metabolisme karbohidrat. Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan
sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Semua karbohidrat
berasal dari tumbuh-tumbuhan. Melalui fotosintesis, klorofil tanaman dengan bantuan sinar
matahari mampu membentuk karbohidrat dari karbondioksida (CO2) berasal dari udara dan air
(H2O) dari tanah. Karbohidrat yang dihasilkan adalah klarbohidrat sederhana glukosa. Di samping
itu dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di udara.
Karbohidrat terbagi menjadi dua jenis, yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks.
Karbohidrat sederhana terdiri dari monosakarida, disakarida, gula alcohol, dan oligosakarida.
Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena terdiri atas 6-rantai atau cincin
karbon. Ada tiga jenis heksosa yang penting dalam ilmu gizi, yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa.
Disakarida terdiri dari empat jenis yaitu sukrosa, maltose, laktosa, dan trehaltosa. Gula alkohol
terdapat di dalam alam dan dapat pula dibuat secara sintesis. Ada empat jenis gula alkohol yaitu
sorbitol, manitol, dulsitol, dan inositol. Sedangkan oligosakarida terdiri atas polimer dua hingga
sepuluh monosakarida. Karbohidrat kompleks terdapat pada polisakarida. Karbohidrat kompleks ini
dapat mengandung sampai tiga ribu unit gula sederhana yang tersusun dalam bentuk rantai panjang
lurus atau bercabang. Jenis polisakarida yang penting dalam ilmu gizi adalah pati, dekstrin,
glikogen, dan polisakarida nonpati. Polisakarida terdiri atas molekul-molekul monosakarida.
Metabolisme karbohidrat. Karbohidrat sebagai makanan sumber energi harus dicerna menjadi
molekul-molekul berukuran kecil agar dapat diserap. Hasil pencernaan karbohidrat yaitu
monosakarida terutama glukosa. Hasil pencernaan ini diproses melalui lintasan metaboliknya
masing-masing menjadi Asetil KoA, yang kemudian akan dioksidasi secara sempurna melalui
siklus asam sitrat dan dihasilkan energi berupa adenosin trifosfat (ATP) dengan produk buangan
karbondioksida (CO2).
BAB 3: Protein
Protein merupakan polipeptida dengan berat molekul besar (paling kecil 8000-10000). Protein
dibagi menjadi 2 golongan yaitu protein sederhana (hanya mengandung asam amino saja, contoh:
kolagen, protein kontraktil), dan protein kompleks (terdiri asam amino dan non asam amino, contoh:
hem, glikoprotein, lipoprotein).
Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa
organic kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam
amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung
karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting
dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.
Klasifikasi Protein dapat dilihat berdasarkan kelarutan dan bentuknya. Brdasarkan
kelarutannya, protein dapat dilihat dari mudah/tidak larut dalam air, mudah/tidak larut dalam
asam/basa, mudah/tidak larut dalam larutan garam, dan mudah/tidak larut dalam etanol
encer/absolut. Sedangkan berdasarkan bentuknya, protein dibedakan menjadi dua bentuk. Pertama,
protein fiber yaitu molekul bentuk fiber (serat) yang panjang/spiral panjang yang terikat satu dengan
yang lain. Banyak terdapat dalam protein hewan, tidak larut dalam air, tahan terhadap enzim
proteolitik. Kedua, protein globular yaitu molekul yang berbentuk bulat/lonjong. Rantai polipeptida
lipatan dan berbelit. Mudah larut dalam air dan larutan garam dan asam dan basa dan alkohol.

BAB 4: Lemak
Setiap mahluk yang ada dibumi termasuk manusia tidak bisa lepas dari lemak ( fat ) dan
minyak ( oil ) keduanya merupakan trigliserida yang dimana keduanya memiliki sifat yaitu:
umumnya diperoleh dari hewan, berwujud padat pada suhu ruang, tersusun dari asam lemak jenuh.
Sedangkan untuk minyak memiliki sifat umumnya diperoleh dri tumbuhan, berwujud cair pada
suhu ruang, tersusun dari asam lemak tak jenuh. Fungsi lemak umumnya yaitu sebagai sumber
energi, bahan baku hormon, membantu transport vitamin yang larut lemak, sebagai bahan insulasi
terhadap perubahan suhu, serta pelindung organ-organ tubuh bagian dalam. Terdapat beberapa jenis
lipid, yaitu asam lemak (asasm lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh), gliserida (gliserida netral
dan fosfogliserida), lemak kompleks (lipoprotein dan glikolipid), dan non gliserida (sfingolipid,
steroid, dan malam).
Asam lemak merupakan asam monokarboksilat rantai panjang. Adapun rumus umum dari
asam lemak adalah:
CH3(CH2)nCOOH atau CnH2n+1-COOH
Rentang ukuran dari asam lemak adalah C12 sampai dengan C24. Ada dua macam asam lemak
yaitu asam lemak jenuh (saturated fatty acid), asam lemak ini tidak memiliki ikatan rangkap dan
asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid), asam lemak ini memiliki satu atau lebih ikatan
rangkap.

BAB 5: Vitamin
Vitamin (bahasa Inggris: vital amine, vitamin) adalah sekelompok senyawa organik amina
berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang tidak
dapat dihasilkan oleh tubuh. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah
kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini
digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal. Terdapat 13 jenis vitamin
yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Vitamin tersebut
antara lain vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin, riboflavin, niasin, asam pantotenat, biotin, vitamin
B6, vitamin B12, dan folat).
Metabolisme vitamin. Vitamin diserap oleh usus dengan proses dan mekanisme yang berbeda.
Terdapat perbedaan prinsip proses penyerapan antara vitamin larut lemak dengan vitamin larut air.
Vitamin larut lemak akan diserap secara difusi pasif dan kemudian di dalam dinding usus
digabungkan dengan kilomikron (lipoprotein) yang kemudian diserap sistem limfatik, baru
kemudian bergabung dengan saluran darah untuk ditransportasikan ke hati. Sedangkan vitamin larut
air langsung diserap melalui saluran darah dan ditransportasikan ke hati.

BAB 6: Mineral dan Air


Mineral menempati 4% bagian dari penyusun tubuh manusia. Menurut salah satu referensi,
mineral dibedakan atas 2 golongan besar yaitu makroelemen yang berjumlah relatif besar di dalam
tubuh, serta mikroelemen yang berjumlah relatif lebih sedikit. Mineral adalah nutrien (zat gizi)
esensial yang dibutuhkan oleh manusia dalam jumlah kecil, supaya tubuh dapat menjalankan
fungsinya dengan baik.
Berdasarkan kegunaannya dalam aktivitas kehidupan, mineral (logam) dibagi menjadi dua
golongan, yaitu mineral logam esensial dan nonesensial. Mineral esensial diperlukan dalam proses
fisiologis manusia, sehingga mineral golongan ini merupakan unsur nutrisi penting yang jika
kekurangan dapat menyebabkan kelainan proses fisiologis atau disebut penyakit defisiensi mineral.
Mineral ini biasanya terikat dengan protein, termasuk enzim untuk proses metabolisme tubuh.
Mineral nonesensial adalah golongan mineral yang tidak berguna, atau belum diketahui
kegunaannya dalam tubuh manusia, sehingga hadirnya unsur tersebut lebih dari normal dapat
menyebabkan keracunan. Mineral tersebut bahkan sangat berbahaya bagi makhluk hidup.
Berdasarkan banyaknya, mineral dibagi menjadi dua kelompok, yaitu mineral makro dan mineral
mikro. Mineral makro diperlukan atau terdapat dalam jumlah relatif besar, meliputi Ca, P, K, Na,
Cl, S, dan Mg. Mineral mikro ialah mineral yang diperlukan dalam jumlah sangat sedikit dan
umumnya terdapat dalam jaringan dengan konsentrasi sangat kecil, yaitu Fe, Mo, Cu, Zn, Mn, Co, I,
dan Se.
Dalam tubuh, mineral-mineral ada yang bergabung dengan zat organik, ada pula yang
berbentuk ion-ion bebas. Di dalam tubuh unsur mineral secara umum memiliki fungsi yaitu
penyusun struktur tulang dan gigi (kalsium dan fosfor), kofaktor/metaloenzim dalam reaksi biologis,
fasilitator penyerapan dan transfort zat gizi, menjaga keseimbangan asam-basa tubuh, menjaga
keseimbangan cairan tubuh, penghantar impuls saraf, dan regulasi kontraksi otot.
Air dalam tubuh merupakan unsur esensial. Jaringan yang metabolismenya paling aktif
mengandung air yang terbanyak, misalnya otot. Air dalam tubuh orang dewasa terdapat sekitar 60%
dari berat badannya (± 47 liter). Tubuh memperoleh air secara eksogen dan endogen. Air eksogen
yaitu air yang berasal dari luar, diperoleh dari air yang diminum dan ir bersama dengan makanan.
Air endogen berarti air yang diperoleh dari dalam tubuh sendiri berasal dari hasil oksidasi berbagai
nutrient dalam tubuh. Air merupakan senyawa yang paling berlimpah di dalam sistem hidup dan
mencakup 70% atau lebih dari bobot hampir semua bentuk kehidupan. Titik beku, titik didih dan
panas penguapan air yang tinggi adalah akibat gaya tarik menarik inter molekuler yang kuat, dalam
bentuk ikatan hydrogen di antara molekul air yang berdekatan. Rekondisi molekul air biasa dikenal
dengan siklus air atau daur air.

BAB 7: Enzim
Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang dihasilkan oleh sel.Enzim sangat
penting dalam kehidupan, karena semua reaksi metabolism dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada
enzim, atau aktivitas enzim terganggu maka reaksi metabolisme sel akan terhambat hingga
pertumbuhan sel juga terganggu.
Enzim merupakan senyawa protein dengan berat molekul sekitar 10.000 sampai dengan
2.000.000 D. Sebagian besar enzim dalam molekulnya memiliki bagian-bagian yang bukan
merupakan polipeptida yang biasanya memegang peran penting dalam mekanisme kerja enzim.
Bagian bukan enzim ini disebut kofaktor, sedangkan bagian enzim yang merupakan rantai
polipeptida disebut apoenzim. Keseluruhan molekul enzim, yaitu meliputi apoenzim dan kofaktor
disebut holoenzim. Kofaktor dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu koenzim, gugus prostetik,
dan aktivator ion logam. Koenzim adalah senyawa-senyawa non-protein yang dapat terdialisa,
termostabil dan terikat secara “longgar” dengan bagian protein dari enzim (apoenzim). Dalam
peranannya ,enzim sering memerlukan senyawa organik tertentu selain protein. Ditinjau dari
fungsinya, dikenal adanya koenzim yang berperan sebagai pemindah hidrogen, pemindah elektron,
pemindah gugusan kimia tertentu (“group transferring”) dan koenzim dari isomerasa dan liasa.
Bagi manusia, enzim berperan dalam mengoptimalkan sebuah reaksi kimia yaitu dengan
menguraikan molekul-molekul susbtrat agar menjadi molekul produk. Enzim melakukan katalisasi
terhadap sebuah reaksi dengan meningkatkan kecepatan reaksi yang bertujuan untuk menurunkan
energi aktivasi (energi yang diperlukan untuk melakukan sebuah reaksi). Hal tersebut dikerjakan
oleh enzim dengan membentuk kompleks dan substrat. lalu setelah produk dihasilkan dari reaksi
kimia sebuah proses, enzim kemudian dilepaskan dan bebas untuk membentuk kompleks yang baru
dengan substrat yang lain. Dalam melaksanakan fungsinya enzim melakukan metode kerjanya
sendiri.
Proses metabolisme enzim yang terjadi didalam sel merupakan aktivitas yang sangat
terkoordinasi, melibatkan kerjasama berbagai system enzim yang mengkatalis reaksi-reaksi secara
bertahap dan memerlukan pengaturan metabolik untuk mengendalikan mekanisme reaaksinya.

BAB 8: Asam Nukleat


Asam nukleat merupakan salah satu senyawa pembentuk sel dan jaringan normal. Asam
nukleat terdapat dalam semua sel dan memiliki peranan yang sangat penting dalam biosintesis
protein. Baik DNA maupun RNA berupa anion dan pada umumnya terikat pada protein yang
mempunyai sifat basa, misalnya DNA dalam inti sel terikat pada histon.Senyawa gabungan antara
asam nukleat dengan protein ini disebut nukleoprotein. Ada dua jenis asam nukleat yaitu DNA
(deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribonukleat dan RNA (ribonucleic acid) atau asam
ribonukleat.
Asam deoksiribonukleat atau disingkat DNA merupakan persenyawaan kimia yang paling
penting pada makhluk hidup, yang membawa keterangan genetik dari sel khususnya atau dari
makhluk hidup dalam keseluruhannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. DNA terdiri atas
dua utas benang polinukleotida yang saling berpilin membentuk heliks ganda (double helix). Seutas
polinukleotida pada molekul DNA tersusun atas rangkaian nukleotida. Setiap nukleotida tersusun
atas gugusan gula deoksiribosa, gugusan fosfat yang terikat pada atom C nomor 5 dari gula, dan
gugusan basa nitrogen yang terikat pada atom C nomor 1 dari gula.
RNA merupakan molekul terdampar tunggal yang mengandung ribosa gula. Ini memiliki
struktur yang khas dan, tidak seperti DNA, ada variasi dan berbagai jenis struktur RNA. Molekul
RNA mempunyai bentuk yang berbeda dengan DNA. RNA memiliki bentuk pita tunggal dan tidak
berpilin. Susunan RNA terdiri atas gugus fosfat, gula pentosa (gula ribosa), dan basa nitrogen.
Sintesis perbanyakan bahan genetik seperti DNA, dilakukan melalui proses yang disebut replikasi.
Replikasi dapat dikatakan merupakan reaksi kimia yang mencirikan proses kehidupan. Melalui
suatu replikasi, senyawa kimia dapat membentuk dirinya untuk menghasilkan senyawa baru yang
mirip dengan dirinya. Replikasi hanya terjadi pada asam nukleat, DNA atau RNA. Molekul asam
nukleat yang mampu bereplikasi disebut replikon. Ada tiga cara teoretis replikasi DNA yang pernah
diusulkan, yaitu model konservatif, model semikonservatif, dan model dispersif.

BAB 9: Sifat Fisik dan Kimia Bahan


Semua benda yang ada di alam ini adalah materi. Materi adalah segala sesuatu yang
mempunyai massa dan menempati ruang. Materi terdiri dari makhluk hidup dan makhluk tidak
hidup, seperti manusia, tumbuhan, hewan, air, batu, tanah, angin, dan lain-lain. Materi dapat
berubah jika dipengaruhi oleh faktor luar, baik faktor alami maupun faktor yang disengaja oleh
manusia. Ketika terjadi perubahan, materi mungkin mengalami perubahan bentuk, wujud, atau sifat.
Sifat fisika adalah sifat suatu zat yang dapat diamati tanpa mengubah zat-zat penyusun materi
tersebut. Sifat fisika antara lain wujud zat, warna, bau, titik leleh, titik didih, massa jenis, kekerasan,
kelarutan, kekeruhan, kemagnetan, dan kekentalan. Perubahan fisika merupakan perubahan pada zat
yang tidak menghasilkan zat jenis baru, yang berubah hanya bentuk dan wujud materi. Peristiwa
perubahan wujud zat, antara lain: menguap, mengembun, mencair, membeku, menyublim,dan
mengkristal. Terdapat beberapa ciri- ciri pada perubahan fisika, yaitu: tidak terbentuk zat jenis baru,
zat yang berubah dapat kembali ke bentuk semula, hanya diikuti perubahan sifat fisika saja.
Perubahan sifat fisika yang tampak adalah bentuk, ukuran, dan warna berubah. Perubahan fisika
hanya bersifat sementara karena setelah berubah dapat dikembalikan ke materi asalnya.
Sifat kimia adalah ciri-ciri suatu zat yang berhubungan dengan terbentuknya zat jenis baru.
Contoh sifat fisika antara lain mudah terbakar, mudah busuk, mudah meledak , beracun, dan
berkarat (korosif). Perubahan kimia adalah perubahan yang menghasilkan materi baru dengan sifat
yang berbeda dengan materi semula. Perubahan kimia disebut juga reaksi kimia. Suatu materi yang
mengalami perubahan kimia tidak dapat dikembalikan lagi kepada keadaan semula. Terdapat
beberapa ciri-ciri perubahan kimia suatu zat, yaitu: terbentuk zat jenis baru, zat yang berubah tidak
dapat kembali ke bentuk semula, diikuti oleh perubahan sifat kimia melalui reaksi kimia. Selama
terjadi perubahan kimia, massa zat sebelum reaksi sama dengan massa zat sesudah reaksi.
C. Keunggulan Buku
1. Keterkaitan Antar Bab
Dalam Bahan Ajar Biokimia ini, pertama akan ditampilkan silabus matakuliah
biokimia, setelah itu pembahasan pertamanya mengenai konsep dasar biokimia.
Kemudian pada bab-bab berikutnya dijelaskan secara rinci pembagian-pembagian
biomolekul itu (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air, enzim, asam
nukleas) serta sifat fisik dan kimia bahan.
Keterkaitan antara Bab yang satu dengan bab yang lain dalam buku ini sudah saling
berkaitan. Setiap Bab menyajikan materi yang dapat dipelajari dan bab tersebut
bersangkutan dengan bab sebelumnya atau bab sesudahnya. Penyusunan materi yang
saling terkait sehingga memudahan dalam menuntun pembaca untuk memahami materi,
keterkaitan antar subbab dimulai dari pendahuluan, penggolongan, sifat-sifat, struktur
hingga metabolisme.
2. Kemutakhiran Isi Buku
Kemutakhiran isi bahan ajar ini memiliki keunggulan seperti model yang digunakan
sudah berpusat pada siswa. Dalam buku ini teori-teori yang dikembangkan sebagian besar
diambil dari masalah di kehidupan sehari-hari. Isi buku ini bisa dikatakan mutakhir
karena pembahasannya merupakan ilmu yang akan digunakan terus dalam proses
pembelajaran kimia. Dalam buku ini memiliki teori-teori yang benar, sangat bagus dan
sangat membangun dalam memberikan lebih wawasan kepada si pembaca Kutipan
pustaka atau referensi pada bahan ajar ini menggunakan buku-buku dan jurnal yang
terkait. Bahan ajar ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam mempelajari
biokimia dasar.

D. Kelemahan Buku
1. Keterkaitan Antar Bab
Tidak terlalu banyak kekurangan dalam bahan ajar ini pada bab-bab yang ada, hanya
pada bab 1 mengenai konsep dasar biokimia, itu seharusnya tidak perlu dibuat jadi bab
karena hanya menyajikan peta konsep untuk materi yang ada di bahan ajar biokimia ini.
Maka untuk bab 1 langsung kemateri karbohidrat. Dan juga terdapat beberapa kalimat
yang diulang-ulang serta adanya penulisan kata dan tanda baca yang masih kurang tepat
sehingga menimbulkan kerancuan pada saat kita membaca bahan ajar ini. Serta pada
gambar/skema tulisan yang disajikan terlalu kecil sehingga sulit bagi siswa untuk
membacannya.
2. Kemutakhiran Isi Buku
Pada buku ini teori yang dikembangkan dari masalah sudah cukup mutakhir. Bahan
ajar ini merupakan terbitan tahun 2014, tetapi referensi yang digunakan diambil dari buku
yang lama dan hanya menggunakan sedikit referensi, serta jurnal yang digunakan hanya
satu, sehingga untuk lebih up to date bisa mencari dan menggunakan buku terbitan yang
lebih terbaru yang sudah direvisi atau jurnal-jurnal lainnya yang membahas mengenai
dasar-dasar biokimia.

E. Implikasi Terhadap
1. Teori
Dalam bahan ajar ini memiliki beberapa teori dan konsep seperti membangun dan
memberi wawasan lebih tentang dasar-dasar ilmu kimia yang dapat ditemukan dalam
pembelajaran setiap materi antar bab yang ada, teorinya melalui konsep-konsep. Dalam
bahan ajar ini memfokuskan pada teori biomolekul melalui karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, mineral dan air, enzim, dan asam nukleat serta juga membahas mengenai materi
sifat dan perubahan fisik dan kimia pada kehidupan sehari-hari.
Bahan ajar ini sangat menarik karena model yang digunakan membuat proses
pembeljaran sudah berpusat pada siswa dengan adanya interaksi yang diberikan di dalam
bahan ajar ini, serta permasalahan dan contoh yang diberikan pun juga erat kaitannya
dengan kehidupan sehari-hari siswa. Bahan ajar ini dapat digunakan menjadi bahan
referensi bagi pembaca serta masukan untuk mengetahui lebih dalam mengenai Dasar-
Dasar Biokimia.
2. Program Pembangunan Di Indonesia
Dari hasil membaca buku ini, pembaca dapat menguasai materi dan konsep
mengenai dasar-dasar biokimia. Melalui konsep dan teori yang telah dipahami, pembaca
dapat memanfaatkannya dalam bidang eksperimental sehingga hasil penelitiannya dapat
berguna dalam program pembangunan di Indonesia terutama dalam bidang penelitian
sains. Buku ini direkomendasikan sebagai sarana dalam proses pembelajaran , terutama
pada pemula (baru mempelajari biokimia) dan buku ini juga direkomendsikan sebagai
bahan untuk referensi penelitian.
3. Analisis Mahasiswa
Dengan membaca bahan ajar biokimia ini untuk para pembaca dan khususnya
mahasiswa yang ingin mempelajari tentang biokimia akan tertarik untuk mengetahui dan
mempelajari lebih lanjut. Buku ini sangat bagus dan materi yang disajikan sangat
lengkap, karena didalamnya tidak hanya teori tetapi banyak contoh-contoh soal yang bisa
dijadikan sebagai bahan latihan serta penjelasan teori dibantu dengan adanya tabel dan
gambar yang berwarna sehingga lebih menarik untuk dibaca. Buku ini sangat cocok
digunakan sebagai sumber belajar namun harus tetap disertai dengan sumber-sumber
yang baru agar pembelajaran semakin baik dan ilmu yang diperoleh terus berkembang.

F. Kesimpulan Dan Saran


Kesimpulan
Secara keseluruhan materi yang terdapat dalam bahan ajar ini sudah lengkap dan
bagus. Bahan ajar ini dapat dijadikan bahan referensi mahasiswa dalam menambah
wawasan mengenai biokimia terutama biomolekul karena dalam buku ini setiap konsep
mudah dipahami yang disertai dengan penampilan menarik berupa gambar, tabel, grafik,
bagan, illustrasi, dan lainnya.
Saran
Bahan ajar ini sangat cocok digunakan sebagai sumber belajar namun harus tetap
disertai dengan sumber-sumber yang baru agar pembelajaran semakin baik dan ilmu yang
diperoleh terus berkembang.

Kepustakaan
Hajiriah, T. L. (2014). Bahan Ajar Biokimia untuk Mahasiswa Pendidikan Biologi. Fakultas
Pendidikan Matematika dan IPA (FMIPA) IKIP Mataram.