Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP DENYUT JANTUNG LARVA IKAN

GURAMI

Nama : Arlina Setyoningtyas


NIM : B1A017150
Rombongan :V
Kelompok :5
Asisten : Ainani Priza Minhalina

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ikan gurami (Osphronemus gourami) adalah jenis ikan asli perairan Indonesia
yang sudah dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Ikan gurami memiliki
daging yang tebal dan bercita rasa gurih dan lezat selain itu juga memiliki nilai gizi yang
tinggi dan banyak mengandung protein. Ikan gurami memiliki nilai ekonomis yang
cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari harga jual yang cenderung naik sehingga para
petani tertantang untuk membudidayakannya. Ikan jenis ini sangat mudah dipeliharanya,
tidak membutuhkan tempat yang luas, bisa dipelihara di pekarangan rumah yang sempit
sehingga banyak petani yang memlihara ikan gurame ini sebagai usaha sampingan
dalam sekala kecil (Ahmad et al., 2017).
Gurami termasuk salah satu dari 12 komoditas untuk pemenuhan gizi
masyarakat. Gurami banyak dikembangkan oleh para petani, hal ini dikarenakan
permintaan pasar yang cukup h. Namun salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi ini memiliki pertumbuhan yang lambat tetapi dapat diatasi dengan
pemberian pakan berkualitas dalam jumlah yang cukup. Kendala lain yang sering
dihadapi dalam industrialisasi komoditi gurami adalah tingginya tingkat kematian pada
tahap larva dan benih yaitu hingga 50-70 % serta laju pertumbuhannya yang lambat (
Lucas et al., 2015).
Laju pertumbuhan ikan gurame dikenal relatif lambat, untuk mencapai ukuran
konsumsi diperlukan waktu pemeliharaan relatif cukup lama. Upaya untuk peningkatan
produksi ikan diterapkan dengan berbagai usaha, misalnya pemilihan bibit yang baik
melalui peningkatan kualitas produksi (Harkitiyanto et al., 2016). Perubahan suhu
memiliki pengaruh besar terhadap berbagai proses fisiologis. Pengaruh itu sendiri
misalnya pengaruh suhu terhadap konsumsi oksigen. Konsumsi oksigen pada organisme
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
antara lain spesies, stadium, bobot, aktivitas, jenis kelamin, dan reproduksi. Faktor
eksternal yang berpengaruh adalah salinitas, konsentrasi oksigen terlarut, suhu, cahaya,
status makan, dan karbondioksida (Karim, 2007) Pengukuran frekuensi denyut jantung
dan lamanya kontraksi jantung dapat dijadikan acuan seberapa jauh organisme
mengalami adaptasi dalam menghadapi kondisi yang tidak menguntungkan pada
lingkungannya (Radiopoetra, 1977).
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum “Pengaruh Lingkungan Terhadap Denyut Jantung Larva Ikan
Gurami” adalah mempelajari pengaruh temperatur lingkungan dan zat kimia terhadap
denyut jantung ikan gurami ((Osphronemus gourami.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah mikroskop, pipet tetes, cavity
slide, handcounter, beaker glass, dan termometer.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah air es, air panas, alkohol
70%, baskom dan larva ikan gurami (Osphronemus gouramy).

B. Cara Kerja

1. Suhu air diukur (normal, panas dan dingin)


2. Larva ikan diambil
3. Larva ditetskan pada cavity slide
4. Ditetesi air panas/air dingin/alkohol 70%
5. Diamati di bawah mikroskop
6. Dihitung denyut jantung selama 1 menit (15’x 4’)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3.1 Pengamatan Denyut Jantung Larva Ikan Gurami


Kel Normal Air panas Dingin Alkohol

Suhu dJ/menit Suhu dJ/menit Suhu dJ/menit Kons dJ/menit

1 28○C 156 94○C 128 22○C 88 70% 124

2 27○C 152 92○C 128 17○C 180 70% 100

3 28○C 120 92○C 160 21○C 156 70% 112

4 27○C 108 92○C 208 22○C 152 70% 124

5 28○C 188 93○C 196 19○C 156 70% 64

Perhitungan:

1. Normal
dJ Per menit = dJ × 4 = 47 × 4
= 188
2. Air dingin
dJ Per menit = dJ × 4 = 49 × 4
= 196
3. Air Panas
dJ Per menit = dJ × 4 = 39 × 4
= 156
4. Alkohol
dJ Per menit = dJ × 4 = 16 × 4
= 64
1

Keterangan :
1. Jantung
B. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapat hasil bahwa larva ikan
gurami (Osphronemus gouramy) memiliki jantung yang akan berdenyut lebih cepat
ketika diberi perlakuan air dingin, air panas dan alkohol 70%, denyut jantung larva ikan
gurami akan meningkat dibandingkan keadaan normal pada saat kondisi temperatur atau
suhu yang tinggi serta adanya zat kimia Semakin tingginya nilai suhu maka akan
menyebabkan penurunan nilai oksigen terlarut sedangkan semakin rendah nilai suhu
akan meningkatkan kandungan O2 dalam air. Suhu tinggi tidak selalu berakibat
mematikan bagi ikan hanya dapat menyebabkan gangguan stress kesehatan, tubuh
lemah, kurus dan tingkah laku abnormal. Sedangkan pada suhu rendah memungkinkan
air untuk mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan ikan stress
pernapasan pada ikan berupa menurunnya laju pernapasan dan denyut jantung sehingga
dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen (Lestari &
Dewantoro, 2018).
Jantung yang berkembang adalah organ pertama yang menjadi fungsional pada
ikan. Jantung memulai pemompaan dan sirkulasi yang sesuai selama organogenesis
awal, segera setelah ruang atrium dan ventrikel primitif terbentuk. Jantung mulai
berdetak jauh sebelum produksi eritrosit dan kebutuhan akan oksigenasi yang tergantung
sirkulasi dalam jaringan hewan utuh yang lebih besar dan lebih berkembang. Sirkulasi
dini kemungkinan besar berperan dalam osmoregulasi, metabolisme kuning telur, dan
proses perkembangan lainnya yang bergantung pada tekanan hidrostatik. Permulaan
fungsi jantung juga sangat kompleks, membutuhkan perakitan beberapa protein
struktural ke dalam kontraktil yang membentuk unit otot otot jantung yang berulang
(Incardona & Scholz, 2015).
Jantung merupakan pembesaran otot yang spesifik di pembuluh darah atau suatu
struktur maskular berongga yang bentuknya menyerupai kerucut dan diselimuti oleh
kantung perikardial (perikardium). Jantung ikan terletak di perikardial sebelah posterior
insang. Kontraksi otot jantung ikan yang ditimbulkan sebagai sarana mengkonversi
energi kimiawi menjadi energi mekanik dalam bentuk dan aliran darah. Berdasarkan
strukturnya, jantung pada organisme akuatik (ikan, ampibia, reptil) mempunyai tiga
kamar utama yang terdiri dari dua atrium dan satu ventrikel. Jantung ikan terdiri dari dua
ruang yaitu atrium (auricle) dan yang berdinding tipis, venrtikel yang berdinding tebal
dan serta terdapat ruang tambahan yang disebut sinus venosus (Affandi, 2002).
Bagian-bagian pada jantung diantaranya yaitu sinus venosus, atrium dan ventrikel.
Sinus venosus adalah ruang tambahan yang berdinding tipis, hampir tidak mengandung
jaringan otot dinding. Dinding kaudalnya bersatu dengan bagian depan dari septum
transversum, yang memisahkan rongga pericardial dari rongga pleuroperitoneal.
Atrium adalah ruang tunggal yang dindingnya relatif tipis, terletak anterior dari sinus
venosus. Ventrikel adalah ruang berdinding tebal berotot. Ruang ini dibentuk oleh dua
lapisan otot yaitu lapisan otot luar disebut kortikal dan lapisan otot dalam disebut spongi
(Affandi, 2002).
Faktor yang mempengaruhi fisiologi atau denyut jantung, diantaranya adalah
faktor kimiawi, temperature dan ukuran tubuh. faktor kimiawi yang meliputi ion
adrenalin, karbondioksida serta pengaruh zat kimia lain dimana semakin tinggi
konsentrasi semakin naik frekuensi denyut jantungnya. Temperatur, dimana denyut
jantung akan naik seiring dengan naiknya temperatur tubuh. Hewan kecil mempunyai
denyut cepat daripada hewan besar. Hewan muda frekuensinya akan lebih tinggi jika
dibandingkan dengan hewan tua. Hal tersebut karena ukuran tubuh hewan muda lebih
kecil dan pengaruh hambatan berkurang (Soetrisno, 1987).
Siklus yang reproduktif dari ikan di daerah beriklim panas mungkin ditentukan
oleh beberapa faktor seperti temperatur, curah hujan, permukaan air, ketersediaan
oksigen, keterhantaran elektris, pH air, kadar alkali, bahan gizi dan ketersediaan
makanan, dan persis sama benar luas yang lebih sedikit. Masing-Masing jenis
memerlukan suatu kombinasi yang unik dari faktor lingkungan untuk mencetuskan
tempat bertelur dan menentukan sukses reproduktifnya (Baumgartner et al., 2008).
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa faktor lingkungan dan
pemberian zat kimia berpengaruh terhadap denyut jantung larva ikan gurami
(Osphronemus gouramy). Pemberian suhu yang tinggi/rendah/alkohol pada larva ikan
gurami akan mempercepat denyut jantung. Faktor yang mempengaruhi fisiologi atau
denyut jantung, diantaranya adalah faktor kimiawi, temperatur dan ukuran tubuh. Faktor
kimiawi yang meliputi ion adrenalin, karbondioksida serta pengaruh zat kimia lain
dimana semakin tinggi konsentrasi semakin naik frekuensi denyut jantungnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, N., Martudi, S., & Dawami., 2017. Pengaruh Kadar Protein Yang Berbeda
Terhadap Pertumbuhan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Jurnal
Agroqua, pp. 51-58.
Affandi R., & Usman ,M.T., 2002. Fisioloogi Hewan Air. Pekanbaru: UNRI Press.
Harkitiyanto, D. E., Satyantin, W. H., & Prayogo., 2016. Pengaruh Pemberian
Hormon Igf-I (Insulin-Like Growth Factor-I) Recombinant Mouse Terhadap
Pertumbuhan Ikan Gurame (Osphronemus Gouramy). Jurnal Ilmiah
Perikanan dan Kelautan, pp. 46-56.
Incardona, J. P., & Scholz, N. L., 2015. The influence of heart developmental
anatomy on cardiotoxicity based adverse outcome pathways in fish. Aquatic
Toxicology, pp.515-525.
Karim, M.Y., 2007. Pengaruh Salinitas dan Bobot Terhadap Konsumsi Kepiting
Bakau. Jurnal Sains dan Teknologi, pp. 85-92.
Lestari, T. P., & Dewantoro, E., 2018. Pengaruh Suhu Media Pemeliharaan Terhadap
Laju Pemangsaan Dan Pertumbuhan Larva Ikan Lele Dumbo (Clarias
Gariepinus). Jurnal Ruaya, pp. 13-22.
Lucas, W. G., Kalesaran, O. J., & Lumenta, C., 2015. Pertumbuhan dan
kelangsungan hidup larva gurami (Osphronemus gouramy) dengan pemberian
beberapa jenis pakan. Jurnal Budidaya Perairan, pp. 19-28.
Radiopoetra., 1977. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga.
Soetrisno., 1987. Fisiologi Hewan. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.