Anda di halaman 1dari 113

Edisi 6

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Islam Sultan Agung

BLOK 21

PUBLIC HEALTH
MANAGEMENT

BUKU PEGANGAN
TUTOR

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan Agung


Alamat: JL. Raya Kaligawe Km. 4 Semarang 50112 PO Box 1054/SM
Telepon. (024) 6583584 ext. 592
Facsimile: (024) 6582455

1
Blok 21 : Public Health Management
Buku Blok

Copyright @ by Faculty of Dentistry, Islamic Sultan Agung University.


Printed in Semarang
Fifth printed: September 2016
Designed by: team Block
Cover Designed by: team Block
Published by Faculty of Dentistry, Islamic Sultan Agung University
All right reserved

This publication is protected by Copyright law and permission should be obtained


from publisher prior to any prohibited reproduction, storage in a retrieval system, or
transmission in any form by any means, electronic, mechanical, photocopying, and
recording or likewise

2
Tim Penyusun Blok 21

drg. Kusuma Arbianti, MMR


drg. Erdianto, M.HKes

Fakultas Kedokteran Gigi UNISSULA

KONTRIBUTOR
Core Disiplin :
1. Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat
2. Ilmu Kesehatan Masyarakat

Suplementary Disiplin :
1. Ilmu Epidemiologi
2. Biostatistik
3. Ilmu Manajemen
4. Ilmu Agama Islam

3
Kata Pengantar
Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT, Robbi seluruh alam


yang telah memberikan karunia kepada kami hingga kami dapat menyelesaikan
blok Public Health Management.
Blok Public Health Management adalah blok yang membahas tentang
Managemen Kesehatan, meliputi Sistem Kesehatan Nasional, Program –program
Pelayanan Kesehatan dan Manajemen dalam bidang Kedokteran Gigi serta
manajemen praktek dokter gigi. Pada modul ini mahasiswa akan belajar tentang
epidemiologi, administrasi kesehatan, kebijakan kesehatan, pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan, hygiene perusahaan dan keselamatan kerja,
serta manajemen praktek dokter gigi.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan blok
ini. Oleh karena itu, saran-saran dari tutor maupun dari mahasiswa akan kami
terima dengan terbuka. Semoga materi dalam blok 21 ini dapat bermanfaat dan
membantu siapa saja yang membutuhkannya.
Jazakumulloh Khoiron Katsiro

Semarang, September 2016

Tim Penyusun Modul

4
DAFTAR ISI

Kata pengantar
Gambaran umum blok
Hubungan dengan blok sebelumnya
Hubungan dengan blok sesudahnya
Daftar isi
Kompetensi penunjang
Pemetaan sasaran belajar
Topik tree
Materi “masalah”
Kegiatan pembelajaran
Assesment
Sumber belajar
Penjabaran pembelajaran modul
Modul 1: Unit Belajar 1
Modul 2: Unit belajar 2
Modul 3: Unit Belajar 3
Modul 4: Unit Belajar 4
Modul 5: Unit Belajar 5
Modul 6: Unit Belajar 6
Lampiran jadwal kegiatan

5
VISI FKG UNISSULA
Pada tahun 2025 menjadi Fakultas Kedokteran Gigi terkemuka di Indonesia dalam
menghasilkan dokter gigi profesional sebagai bagian dari generasi khaira ummah,
mengembangkan ilmu kedokteran gigi berdasarkan nilai-nilai Islam, dalam
kerangka rahmatan lil’ alamin.

MISI FKG UNISSULA


1. Menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran terbaik di bidang Kedokteran
Gigi yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam dan berstandar internasional
2. Melaksanakan dan mengembangkan penelitian dan publikasi ilmiah dengan kualitas
terbaik sesuai dengan Islam disiplin ilmu, dalam rangka pengembangan ilmu
Kedokteran Gigi
3. Menyelenggarakan dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai
bagian integral dari aktifitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar
4. Mengembangkan aktifitas evaluasi secara regular untuk meningkatkan kualitas
pelaksanaan proses pendidikan, pengajaran, penelitian dan publikasi ilmiah sesuai
dengan nilai-nilai Islam

6
Tata Tertib
1. Mahasiswa wajib menjaga nama baik FKG UNISSULA
2. Mahasiswa dianjurkan untuk mengucapkan salam saat bertemu dengan dosen,
karyawan dan mahasiswa lainnya.
3. Mahasiswa harus ikut menjaga kebersihan lingkungan kampus baik ruang kuliah,
ruang praktikum serta ruang skills lab.
4. Mahasiswa DILARANG merokok di lingkungan kampus.
5. Mahasiswa putri wajib berpakaian rapi dan sopan, memakai rok, berjilbab menutupi
dada, dilarang memakai pakaian yang ketat dan kaos, sandal, perhiasan yang
berlebihan.
6. Mahasiswa putra wajib berpakaian rapi, sopan dan dilarang memakai kaos baik
berkerah maupun tidak, sandal, potongan rambut harus pendek dan rapi, dilarang
memakai tindik.
7. Selama mengikuti kegiatan pembelajaran, alat komunikasi wajib di silent atau tidak
diaktifkan.
8. Mahasiswa diwajibkan hadir 15 menit sebelum kegiatan pendidikan dimulai.
Toleransi keterlambatan 15 menit. Jika hadir lebih dari 15 menit dengan alasan
yang tidak dapat di pertanggungjawabkan, maka mahasiswa tidak diperbolehkan
mengikuti kegiatan belajar mengajar.

7
Gambaran Umum Blok
Blok Public Health Management dilaksanakan pada semester 7, tahun ke 4, dengan
waktu 6 minggu. Pencapaian belajar mahasiswa dijabarkan dengan penetapan domain,
kompetensi utama, penjabaran kompetensi utama, kompetensi penunjang sebagaimana
yang diatur dalam Buku Standar Kompetensi Dokter Gigi serta sasaran pembelajaran blok
yang didapat dari penjabaran kompetensi penunjang.
Blok ini terdiri dari 6 LBM dan masing-masing LBM terdiri dari judul skenario,
sasaran pembelajaran LBM, konsep mapping, materi, pertanyaan minimal dan daftar
pustaka. Pada modul ini mahasiswa akan belajar tentang epidemiologi, administrai
kesehatan, kebijakan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan,
hygiene perusahaan dan keselamatan kerja, serta manajemen praktek dokter gigi.
Yang dipelajari oleh mahasiswa meliputi pengetahuan dasar kedokteran gigi. Untuk
itu diperlukan pembelajaran praktikum dan keterampilan prosedural yang diperlukan.
Mahasiswa juga akan mempelajari sikap profesionalisme yang terkait dengan topik diatas.
Blok ini akan dipelajari dengan menggunakan strategi Problem Based-Learning,
dengan metode diskusi tutorial menggunakan seven jump steps, kuliah, praktikum dan
belajar ketrampilan klinik di laboratorium ketrampilan (skill lab).

Kompetensi Penunjang Blok

1. Memahami prinsip pelayanan klinis kesehatan gigi dan mulut yang meliputi
tindakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif (C2,P3,A4)
2. Menilai kesehatan gigi dan mulut masyarakat dengan menggunakan data hasil
survey, data epidemiologi dan evidence based dentistry (C4,P3,A3)
3. Menyusun strategi promotif dan preventif kesehatan gigi dan mulut masyarakat
(C3,P3,A3)
4. Menganalisis program kesehatan gigi dan mulut masyarakat yang telah
dilaksanakan (C4,P3,A3)
5. Menyusun pemecahan masalah kesehatan gigi dan mulut masyarakat
berdasarkan prioritas (C3,P3,A3)
6. Mengidentifikasi perilaku kesehatan individu, keluarga dan masyarakat di bidang
kesehatan gigi dan mulut (C1,P3,A3)
7. Memahami cara memotivasi perilaku hidup sehat individu, keluarga dan
masyarakat di bidang kesehatan gigi dan mulut (C3,P3,A3)

8
8. Menjelaskan metode pendekatan untuk mengubah perilaku kesehatan gigi dan
mulut individu serta masyarakat (C3,P3,A3)
9. Mampu menjabarkan upaya mengubah kebiasaan masyarakat dari berorientasi
kuratif menjadi preventif (C2,P3,A3)
10. Melaksanakan kerjasama tim secara profesional (C4,P3,A4)
11. Mengidentifikasi faktor resiko yang berkaitan dengan masalah kesehatan gigi dan
mulut masyarakat (C1,P3,A3)
12. Merencanakan program kesehatan gigi dan mulut masyarakat berdasarkan
prioritas masalah (C4,P3,A4)
13. Mengetahui pemanfaatan jalur organisasi profesi (C1,P2,A2)
14. Memahami manajemen praktik dan tatalaksana sesuai standar pelayanan
kedokteran gigi (C2,P3,A3)
15. Membuat perencanaan praktek kedokteran gigi yang efektif dan efisien
(C3,P3,A3)
16. Menjelaskan pengorganisasian dalam menjalankan praktek (C2,P3,A3)
17. Menjelaskan cara memantau dan mengevaluasi praktek (C2,P3,A3)
18. Menjelaskan lingkungan kerja yang sehat sesuai dengan prinsip ergonomik
(C2,P3,A3)
19. Menjelaskan prinsip kesehatan dan keselamatan kerja (C3,P3,A3)
20. Memahami pengelolaan dampak praktik terhadap lingkungan sekitar (C3,P3,A3)
21. Menjelaskan hubungan antara dokter gigi dengan tenaga kesehatan lain dan
masyarakat dalam upaya mencapai kesehatan gigi dan mulut masyarakat yang
optimal (C3,P3,A3)
22. Mengkomunikasikan program kesehatan gigi dan mulut masyarakat kepada
sesama siswa (C3,P3,A3)
23. Memahami penggunaan/pemanfaatan tekhnologi informasi untuk program
kesehatan gigi dan mulut masyarakat (C2,P2,A2)
24. Menjelaskan jejaring kerja dalam pelaksanaan program kesehatan gigi dan mulut
masyarakat (C3,P3,A3)
25. Menjelaskan kerjasama dan jejaring kerja dengan masyarakat dan instansi terkait
dalam upaya pemberdayaan masyarakat (C3,P3,A3)
26. Menggunakan informasi kesehatan secara profesional untuk kepentingan
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut (C3,P3,A3)
27. Menghubungkan berbagai tatalaksana kedokteran gigi klinik untuk membantu
dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dalam mengembalikan
fungsi optimal sistem stomatognatik (C4,P3,A4))

9
Hubungan Dengan Blok Sebelumnya
1. Telah mempelajari dasar-dasar sistem tubuh manusia (C2,P2,A2)
2. Telah mempelajari etika kedokteran gigi (C2,P2,A2)
3. Telah mempelajari hak dan kewajiban dokter dan pasien (C2,P2,A2)
4. Telah mempelajari hubungan yang terbuka dan jujur serta saling menghargai
antara dokter gigi dengan pasien , pendamping pasien dan sejawat (C2,P2,A2)
5. Telah mempelajari adanya keanekaragaman sosial,ekonomi,budaya,agama dan
ras berdasarkan asal usul pasien (C2,P2,A2)
6. Telah mempelajari penggunaan teknologi ilmiah mutakhir untuk menilai informasi
yang sahih secara profesional dari berbagai sumber (C3,P3,A3)
7. Telah mempelajari penapisan sumber rujukan yang sahih untuk kepentingan
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut (C3,P3,A3)
8. Telah mempelajari dasar-dasar komunikasi (C2,P2,A2)
9. Telah mempelajari teknik komunikasi dasar pada pasien simulasi (C3,P3,A3)
10. Telah mempelajari cara berempati (C2,P2,A2)
11. Telah melakukan role play berempati (C3,P3,A3)
12. Telah mempelajari dasar komunikasi dengan teman sejawat (C3,P3,A3)
13. Telah mempelajari penulisan surat rujukan pasien kepada sejawat jika diperlukan
sesuai dengan standar prosedur operasional yang berlaku (C3,P3,A3)
14. Telah mempelajari peraturan dan perundang-undangan yang berkaitan dengan
praktik kedokteran gigi indonesia (C2,P2,A2)
15. Telah mempelajari lingkungan kerja yang sehat sesuai dengan prinsip ergonomik
(C2,P3,A3)
16. Telah memahami manajemen praktik dan tatalaksana sesuai standar pelayanan
kedokteran gigi (C2,P3,A3)
17. Telah memahami proses penyakit/kelainan yang meliputi infeksi dan noninfeksi
pada kasus skenario blok 11 (C2,P2,A3)

HUBUNGAN DENGAN BLOK SESUDAHNYA


1. Akan mempelajari manajemen rumah sakit (blok 23)
2. Akan mempelajari manajemen kesehatan gigi masyarakat (jenjang profesi)

10
TOPIC TREE

INPUT
EPIDEMIOLOGI

MANAJEMEN
PROSES Pemberdayaan PRAKTEK
Masyarakat DOKTER GIGI

Administrasi/Man Hiperkes K3
ajemen
Kesehatan
Sistem
Informasi
Kebijakan
Kesehatan
Pembiayaan
Kesehatan

DERAJAT KESEHATAN
OUTPUT
MENINGKAT

11
MATERI

Topik
No. Materi Penyakit/masalah
1. Epidemiologi Demografi, geografi, epidemiologi, KLB, Pandemi, penyakit
menular dan tidak menular, indicator kesehatan masyarakat,
nutrisi pencegahan dan indikator gizi masyarakat gizi keluarga
2. Sistem Sistem Kesehatan Nasional, Kebijakan Kes, Program Pelayanan
kesehatan Kes dan Program puskesmas, Sistem Informasi Kesehatan,
Nasional amanah dan kebijakan dalam Islam, Kebijakan Pembangunan
Indonesia Kesehatan,
3. Teori Teori organisasi, Kepemimpinan, organisasi profesi, Pemecahan
Organisasi Masalah Pengambilan Keputusan (PMPK), Administrasi/
dan Manajemen kesehatan, Hukum kesehatan
Manajemen
Kesehatan
4. Strategi Promosi dan Prevensi Kesehatan, Pemberdayaan masyarakat
Preventif dan dalam bidang Kesehatan, Perilaku Kesehatan, UKGMD, UKGS
Promotif ,UKBM, Kerjasama, Lintas Program, Kerjasama Lintas Sektoral
5. Komunikasi Komunikasi dalam KGM, Motivasi dan Perilaku Hidup Sehat,
dan Perilaku interaksi kelompok, team work/collaborative (inter profesional),
dalam Upaya Prinsip komunikasi efektif dalam hubungan dokter-tenaga
peningkatan kesehatan-pasien-masyarakat
KGM
6. Manajemen Kebijakan Praktek dokter Gigi, Manajemen praktek dokter gigi
Praktek (patient safety dan K3), Analisa SWOT Perencanaan Praktik
dokter gigi dokter gigi, perhitungan unit cost, asuransi
kesehatan/Pembiayaan kesehatan, prinsip marketing dan
marketing syariah dalam usaha kesehatan,

Kegiatan Pembelajaran
Pada Blok ini dilakukan kegiatan belajar sebagai berikut :
1. Tutorial
Tutorial akan dilakukan 2 kali dalam seminggu. Setiap kegiatan tutorial berlangsung
selama 100 menit. Jika waktu yang disediakan tersebut belum mencukupi, kelompok
dapat melanjutkan kegiatan diskusi tanpa tutor di open space area yang disediakan.
Keseluruhan kegiatan tutorial tersebut dilaksanakan dengan menggunakan seven jump
steps. Seven jump steps itu adalah:
1. Jelaskan istilah yang belum anda ketahui. Jika masih terdapat istilah yang belum
jelas, cantumkan sebagai tujuan pembelajaran kelompok.
2. Carilah masalah yang harus anda selesaikan.

12
3. Analisis masalah tersebut dengan brainstorming agar kelompok memperoleh
penjelasan yang beragam mengenai persoalan yang didiskusikan, dengan
menggunakan prior knowledge yang telah anda miliki.
4. Cobalah untuk menyusun penjelasan yang sistematis atas persoalan yang anda
diskusikan.
5. Susunlah persoalan-persoalan yang belum bisa diselesaikan dalam diskusi tersebut
menjadi tujuan pembelajaran kelompok (Learning issue/ learning objectives).
6. Lakukan belajar mandiri untuk mencapai informasi yang anda butuhkan guna
menjawab Learning issue yang telah anda tetapkan.
7. Jabarkan temuan informasi yang telah dikumpulkan oleh anggota kelompok,
sintesakan dan diskusikan temuan tersebut agar tersusun penjelasan yang
menyeluruh (komprehensif) untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah

Aturan main tutorial:


Pada tutorial 1, langkah yang dilakukan adalah 1-5. Mahasiswa diminta untuk
menjelaskan istilah yang belum dimengerti pada skenario “masalah”, mencari masalah
yang sebenarnya dari skenario, menganalisis masalah tersebut dengan mengaktifkan
prior knowledge yang telah dimiliki mahasiswa, kemudian dari masalah yang telah
dianalisis lalu dibuat peta konsep (concept mapping) yang menggambarkan hubungan
sistematis dari masalah yang dihadapi, jika terdapat masalah yang belum terselesaikan
atau jelas dalam diskusi maka susunlah masalah tersebut menjadi tujuan pembelajaran
kelompok (learning issue) dengan arahan pertanyaan sebagai berikut: apa yang kita
butuhkan?, apa yang kita sudah tahu? Apa yang kita harapkan untuk tahu?
Langkah ke 6, mahasiswa belajar mandiri (self study) dalam mencari informasi
Pada tutorial 2, mahasiswa mendiskusikan temuan-temuan informasi yang ada dengan
mensintesakan agar tersusun penjelasan secara menyeluruh dalam menyelesaikan
masalah tersebut.

2. Kuliah
Ada beberapa aturan cara kuliah dan format pengajaran pada problem based learning.
Problem based learning menstimulasi mahasiswa untuk mengembangkan perilaku aktif
pencarian pengetahuan. Kuliah mungkin tidak secara tiba-tiba berhubungan dengan
belajar aktif ini, Namun demikian keduanya dapat memenuhi tujuan spesifik pada PBL.
Adapun tujuan kuliah pada Blok ini adalah:
a. Menjelaskan gambaran secara umum isi Blok, mengenai relevansi dan
kontribusi dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda terhadap tema Blok.

13
b. Mengklarifikasi materi yang sukar. Kuliah akan lebih maksimum efeknya
terhadap pencapaian hasil ketika pertama kali mahasiswa mencoba untuk
mengerti materi lewat diskusi atau belajar mandiri.
c. Mencegah atau mengkoreksi adanya misconception pada waktu mahasiswa
berdiskusi atau belajar mandiri.
d. Menstimulasi mahasiswa untuk belajar lebih dalam tentang materi tersebut.
Agar penggunaan media kuliah dapat lebih efektif disarankan agar mahasiswa
menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab atau kurang jelas
jawabannya pada saat diskusi kelompok agar lebih interaktif.
Adapun materi kuliah yang akan dilaksanakan sebagai berikut:
Minggu Topik Materi Waktu
Epidemiologi Pengetahuan demografi
berkaitan dengan sumber data, 2 x 50
pertumbuhan, piramida, dan menit
penyebaran penduduk serta
Minggu 1
ekologi
Indikator derajat kesehatan 2 x 50
masyarakat indicator kesehatan menit
masyarakat
Pengukuran epidemiologi penyakit 2 x 50
menular dan tidak menular menit
Nutrisi pencegahan, indikator gizi 2 x 50
masyarakat dan keluarga menit
(Kadarsi)
Sistem kesehatan Sistem Kesehatan Nasional, UKP, 2 x 50
Nasional UKM, Kebijakan Pembangunan menit
Kesehatan, etika kebijakan
Minggu 2 Indonesia kesehatan
Batasan dan ruang lingkup 2 x 50
Administrasi Kesehatan, Program menit
Pelayanan Kesehatan khususnya
gigi dan mulut (UKGS, UKGM,
Posyandu, Posbindu)
2 x 50
menit
Sistem Informasi Kesehatan dan 2 x 50
Simpus menit
Teori Organisasi Teori Organisasi, Kepemimpinan, 2 x 50
dan Manajemen Kepemimpinan dalam Islam menit
Minggu 3 Kesehatan Organisasi Profesi, Hukum dan 2 x 50
Etika dalam Praktek (medical menit
error, malpraktik, informed
consent)
PMPK (pemecahan masalah dan 2 x 50
pengambilan keputusan) menit
2 x 50
menit
Strategi Preventif Keterkaitan perilaku kesehatan, 2 x 50
dan Promotif pencegahan dan promosi menit
kesehatan, dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang
Minggu 4 kesehatan/ Upaya Kesehatan

14
Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) ,Program-program
puskesmas, prinsip kerjasama
lintas program, dan lintas sektoral
Peran Kader Kesehatan dan 2 x 50
Konsep Pelatihan Kader menit
Kesehatan
Interaksi sosial dalam kelompok 2 x 50
menit
Pencegahan penyakit kesehatan 2 x 50
gigi dan mulut serta Dental Health menit
Education (DHE)
Komunikasi dan Kebijakan perlindungan tenaga 2 x 50
Perilaku dalam kerja menit
Minggu 5 Ergonomi Kedokteran gigi 2 x 50
Upaya kesehatan menit
peningkatan KGM Hyperkes dan K3 Kesehatan 2 x 50
menit
Marketing syariah dan pelayanan 2 x 50
kesehatan dalam Islam menit
Manajemen Perhitungan unit cost 2 x 50
Praktek dokter gigi menit
Asuransi dalam pelayanan 2 x 50
Minggu 6 kesehatan dan Sistem menit
Pembiayaan Kesehatan
Prinsip marketing dalam usaha 1 x 50
kesehatan menit
Dokter Gigi Keluarga 1 x 50
menit
Struktur organisasi profesi, peran 2 x 50
Konsil Kedokteran Indonesia dan menit
MKDKI (STR, SIP dan kode etik)

15
3. Skill Lab
Tujuan utamanya adalah menyiapkan mahasiswa dalam ketrampilan yang
mendukung pembelajaran pada kesehatan masyarakat.
No Topik per Minggu Skills Lab Departemen Durasi Tempat
yang
Bertanggun
g jawab
1. Epidemiologi Simulasi Penghitungan Data 4x50 FKG
Epidemiologi Kedokteran Gigi IKGM menit
Masyarakat
2 Simulasi Pemecahan Masalah 4x50 FKG
Pengambilan Keputusan menit
(PMPK); Penetapan Prioritas IKGM
Masalah, Problem Solving dan
Perencanaan Program
3 Sistem kesehatan Pencarian dan analisis Data 4x50 Puskes
Nasional Epidemiologi dan Program IKGM menit mas
Puskesmas
4
Indonesia Pencarian dan analisis Data 4x50 Puskes
dan observasi sistem K3 dan IKGM menit mas
ergonomi di Puskesmas
5 Teori Organisasi Presentasi Hasil observasi dan 4x50 FKG
IKGM
dan Manajemen analisis di Puskesmas menit
6 Leadership Skill 4x50 FKG
Kesehatan IKGM
menit
7 Strategi Preventif CRS Preventif dan Promotif FKG
dan Promotif IKGM 4x50
menit
8 Media Promosi Kesehatan 4x50 FKG
IKGM
menit
9 Komunikasi dan Perhitungan Unit Cost dan 4x50 FKG
IKGM
Perilaku dalam Tarif menit
10 Upaya Perhitungan Unit Cost dan 4x50 FKG
Tarif IKGM menit
peningkatan KGM
11 Manajemen Perencanaan Praktik Dokter FKG
Praktek dokter Gigi – Analisis SW OT 4x50
IKGM
gigi Perencanaan Praktik drg. menit

12 Presentasi perencanaan 4x50 FKG


IKGM
praktek dokter gigi menit

Assessment
Untuk sistem penilaian mahasiswa dan aturan assesmen adalah sebagai berikut:
I. Ujian knowledge
a. Nilai Pelaksanaan diskusi tutorial (25% dari nilai sumatif knowledge)
Pada diskusi tutorial mahasiswa akan dinilai berdasarkan kehadiran, aktifitas interaksi
dan Kesiapan materi dalam diskusi. Mahasiswa yang tidak mengikuti tutorial dengan
alasan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, harap melapor ke tim blok untuk
mengganti dengan tugas.
c. Nilai Ujian Tengah Blok (25% dari nilai sumatif knowledge)

16
Merupakan ujian knowledge terhadap semua materi baik SGD, Kuliah Pakar,
praktikum dan Ketrampilan Klinik. Materi dan pelaksanaan Ujian tengah blok setelah
menyelesaikan 2 Unit Belajar.
Ketentuan bagi mahasiswa:
- Siswa dapat mengikuti ujian tengah blok jika memenuhi prasyarat berikut:
1. mengikuti 80% SGD
2. mengikuti 100% praktikum
3. mengikuti 75% kuliah
- Apabila mahasiswa berhalangan hadir pada kegiatan SGD, dan praktikum maka
mahasiswa harus:
1. memberikan surat ijin ketidakhadiran pada kegiatan tersebut kepada Kepala
Prodi S1 selambat-lambatnya 1 minggu setelah blok berakhir
2. Mengganti kegiatan SGD dengan tugas dari tim blok, untuk penggantian
tersebut, mahasiswa harus berkoordinasi dengan Tim blok
3. Mengganti kegiatan praktikum pada hari lain, untuk penggantian tersebut,
mahasiswa harus berkoordinasi dengan Bagian
4. Setelah melaksanakan tugas pengganti SGD, dan mahasiswa mengikuti
kegiatan pengganti praktikum, maka mahasiswa telah dinyatakan mengikuti
kegiatan 100%
- mahasiswa yang yang meninggalkan ujian tengah blok, dapat mengikuti
ujian susulan tengah blok jika memenuhi prasyarat untuk mengikuti ujian.
- Jika mahasiswa tidak mengikuti ujian tengah blok maka nilai tengah blok
dinyatakan nol.
- Tata cara permohonan ujian susulan dilaksanakan sebagaimana yang
berlaku, yakni siswa mengajukan permohonan kepada Kepala Prodi S1
dilampiri alasan ketidakhadirannya pada ujian tersebut, selanjutnya surat
permohonan ujian susulan akan dikeluarkan untuk disampaikan kepada
Tim blok terkait.

e. Nilai Ujian Akhir Modul (50% knowledge)


Ujian knowledge merupakan ujian terhadap semua materi baik SGD, Kuliah Pakar,
praktikum dan Ketrampilan Klinik. Materi dan pelaksanaan ujian akhir blok setelah
menyelesaikan seluruh blok (6 Unit Belajar).
Ketentuan bagi mahasiswa
- Siswa dapat mengikuti ujian susulan akhir blok jika memenuhi prasyarat sebagai
berikut:
1. mengikuti 80% dari keseluruhan SGD

17
2. mengikuti 100% dari keseluruhan praktikum
3. mengikuti 75% dari keseluruhan kuliah
- Apabila mahasiswa berhalangan hadir pada kegiatan SGD dan praktikum maka
mahasiswa harus:
1. memberikan surat ijin ketidakhadiran pada kegiatan tersebut kepada Kepala
Prodi S1 selambat-lambatnya 1 minggu setelah blok berakhir
2. Mengganti kegiatan SGD dengan melaksanakan tugas dari tim blok, untuk
penggantian tersebut, mahasiswa harus berkoordinasi dengan Tim blok
3. Mengganti kegiatan praktikum pada hari lain, untuk penggantian tersebut,
mahasiswa harus berkoordinasi dengan Bagian
4. Setelah melaksanakan tugas pengganti SGD, dan mahasiswa mengikuti
kegiatan pengganti praktikum dan skill lab, maka mahasiswa telah dinyatakan
mengikuti kegiatan 100%
- siswa yang meninggalkan ujian akhir blok, dapat mengikuti ujian susulan
akhir blok jika memenuhi prasyarat untuk mengikuti ujian.
- Jika mahasiswa tidak mengikuti ujian akhir blok maka nilai akhir blok
dinyatakan nol.
- Tata cara permohonan ujian susulan dilaksanakan sebagaimana yang
berlaku, yakni siswa mengajukan permohonan kepada Kepala Prodi S1
dilampiri alasan ketidakhadirannya pada ujian tersebut, selanjutnya surat
permohonan ujian susulan dikeluarkan, untuk disampaikan kepada Tim blok
terkait.

II. Ujian ketrampilan medik (skill lab)


Nilai ketrampilan medik (skill lab) diambil dari:
a. Kegiatan skill lab harian: 25% dari total nilai akhir skill
Selama kegiatan ketrampilan medik harian, mahasiswa akan dinilai
penguasaan tekhniknya (sistematis dan lege artis). Hasil penilaian harian
ketrampilan medik akan dipakai sebagai syarat untuk mengikuti ujian OSCE
yang pelaksanaannya akan dilaksanakan pada akhir semester. Bagi mahasiswa
yang tidak dapat mengikuti kegiatan skill lab harian ini dengan alasan dan bukti
yang dapat dipertanggungjawabkan, harap melapor ke tim blok untuk di jadwal
ulang kegiatan ketrampilan. Pengajuan selambat-lambatnya 1 minggu
setelah blok berakhir.

b. OSCE : 75 % dari total nilai akhir skill

18
Ujian skill dilakukan dengan menggunakan Objective and Structured
Clinical Examination (OSCE). Pelaksanaan dilakukan pada akhir semester.
Materi ujian OSCE merupakan materi ketrampilan klinik yang telah diberikan
selama mengikuti blok yang ditentukan berdasarkan kesesuaian dengan materi
ujian OSCE seluruh blok pada akhir semester.
Kelulusan OSCE didasarkan pada kelulusan tiap station. Jika mahasiswa
tidak lulus pada station tertentu, mahasiswa diwajibkan mengulang dan nilai skill
belum dapat dikeluarkan sebelum mahasiswa lulus skill tersebut.

Ketentuan bagi mahasiswa untuk ujian OSCE:


- Telah mengikuti 100% kegiatan skill lab
- bagi siswa yang tidak mengikuti ujian OSCE karena sakit atau ijin
kegiatan kemahasiswaan, harus mengajukan ujian susulan OSCE
untuk mengikuti OSCE susulan.
- Surat permohonan ujian disampaikan kepada Kepala Prodi S1 dan
wajib diterima maksimal seminggu sesudah ujian.
- Siswa yang belum lulus salah satu atau lebih ketrampilan klinik wajib
mengikuti remidi untuk ketrampilan yang belum lulus tersebut.

etentuan Penilaian Akhir Blok:


Nilai akhir Blok dihitung dengan rumus sebagai berikut:

(Nilai total knowledge x sks knowledge)+(nilai total skill x sks Skill lab)
SKS Blok

19
Daftar Pustaka

Anonim,2004, Standart Nasional Rekam Medik Kedokteran Gigi, Departemen Kesehatan


RI, Jakarta
Antonio, S.M, 2007, ed 5, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager, Tazkia
Multimedia & ProLM Centre, Jakarta
Astoeti, Tri Eri, 2006, ed 1, Total Quality Management dalam Pendidikan Kesehatan Gigi
di Sekolah, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Bird.D.L, Robinson S.D, 2009, Modern Dental Assisting, Saunders, St Louis and
Missonouri
Cawson.R.A, Scully.C, 2005, ed 5, Medical Problem in Dentistry, Elsevier Churchill
Livingston Toronto
Domer,L.R,Snyder,T.L,Heid,D.W,1990, Dental Practice Management, Concept and
Aplication, Mosby Company, ST Louis Toronto London
Daniel,S.J,Harfst,S.A, 2004, Dental Hygiene, Concepts, Case and Competenciens, Mosby,
Phyladelphia Sydney Toronto
Dunning,J.M,1970, Principles of Dental Public Health, ed 2, Harvard University Press,
Cambridge,Massachusetts
Eklund,S.A, Burt,B.A,2005, Dentistry, Dental Practice and the Community, ed 6, Elsevier
Saunders, St Louis Missouri
Gluck,G.M, Morganstein,W.M,2003, Jong’s Community Dental Health,ed 5, Mosby
Philadelpia Sydney Toronto
Hasibuan, M.S.P, 2007, ed 9, Manajemen Sumber Daya Manusia, PT Bumi Aksara,
Jakarta
Kreitner, R, Kinicki, A, 2005, ed 5, Perilaku Organisasi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta
Sari Diana I, 2008, ed 1, Manajemen Pemasaran Usaha Kesehatan, Mitra Cendikia Press,
Jakarta
Depkes RI, Undang-Undang kesehatan No. 36 Tahun 2009
Depkes RI, Sistem Kesehatan Nasional Tahun 2009
Depkes RI, Indikator Indonesia Sehat 2010
Dainur. Materi–materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat. Editor: Jonatan Oswari. Widya
Medika. Jakarta, 1995.
Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, UGM, Yogyakarta, 2005
Chafid Fandeli, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Prinsip Dasar dan Pemaparannya
dalam Pembangunan, liberty, Yogyakarta, 1992
Bapelkes salaman, Pedoman Pelaksanaan Kerja di Puskesmas, 1995
Wiku Adisasmito, Sistem Kesehatan, PT rajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007
AA.Gde Muninjaya, Manajemen Kesehatan, ECG,2004
Nur nasry Noor, Epidemiologi Penyakit Menular, Rineka Cipta, Jakarta, 2000
Imbalo S Pohan, Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan, Dasar-Dasar Pengertian, Ikapi,
Jakarta 2003
WHO, Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer, ECG, 1999
Hapsara habib R, Pembangunan Kesehatan di Indonesia, Gajah Mada Press, 2004
Budioro B, Pendidikan Kesehatan Masyarakat, FKM Undip, 2002
Budioro B, Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKm Undip, 2001
Budioro B, Pengantar Administrasi Kesehatan Masyarakat, FKm Undip, 2002
Azrul Azwar, Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga, IDI, 1997
Azrul Azwar, Pengantar Administrasi Kesehatan, Rineka Cipta, 1996

20
Sulastomo, Manajemen Kesehatan, PT Gramedia, 2003
Indan Entjang, Ilmu Kesehatan masyarakat, Citra Aditya bakti, bandung, 2000
Soekidjo N, Ilmu Kesehatan masyarakat prinsip-prinsip dasar, Rineka Cipta, 2003
Eko Budiarto, dewi Anggraeni, Pengantar Epidemiologi, ECG, 2003

21
Penjabaran Pembelajaran LBM
Lembar Belajar Mahasiswa 1

Hari/tanggal Jam Materi Nama Ruang


Instruktur
Senin 08.10-09.50 SGD R. SGD LT 1
5-9-2016
09.50-11.30 KP :Pengetahuan demografi R KULIAH
berkaitan dengan sumber DR. Drg Dyah Lt-1
data, pertumbuhan, F, DMSc
piramida, dan penyebaran
penduduk, serta ekologi
Selasa 08.10 – 11.30 Skill lab TUTOR R SGD LT 1
6-9-2016

12.30-14.10 KP : Indikator derajat Drg Marsono, R KULIAHLt-1


kesehatan masyarakat MKes

Rabu 08.10-12.30 Skill lab TUTOR R.SGD Lt.1


7-9-2016

Kamis 08.10-09.50 KP: Nutrisi pencegahan dan Drg. Baehaqi, R.KULIAH Lt.1
8-9-2016 indikator gizi masyarakat MM
(Kadarsi)

09.50-11.30 KP : DR drg Dyah R KULIAH Lt-1


- Pengukuran F, MDSc
epidemiologi penyakit
menular dan tidak
menular
- Metode Penelitian
Epidemiologi

Jumat 08.10-09.50 SGD TUTOR R SGD Lt -1


11-9-2015

22
Modul : 1
Unit Belajar : Epidemiologi
a. Judul : Gimana ya… mencegah terjadinya KLB
b. Sasaran belajar :

1. Menjelaskan konsep epidemiologi mengenai pengertian, perkembangan,


tujuan, manfaat, sebab-sebab penyakit, dan penyebaran penyakit (SGD)
2. Menjelaskan kejadian luar biasa dan pandemi(SGD)
3. Menjelaskan upaya-upaya mencegah penyakit menular (SGD)

Skenario

Indonesia merupakan negara yang masih memiliki angka kejadian luar biasa (KLB)
penyakit menular dan keracunan yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan perlunya
peningkatan sistem kewaspadaan dini dan respon terhadap KLB tersebut dengan langkah-
langkah yang terprogram dan akurat. Dewasa ini kejadian wabah penyakit sudah merupakan
masalah global, sehingga mendapat perhatian utama dalam penetapan kebijakan kesehatan
masyarakat. kejadian wabah penyakit terjadi tidak hanya di berbagai negara berkembang
dimana kondisi sanitasi dan higiene umumnya buruk, tetapi juga di negara-negara maju.
Oleh karena itu disiplin ilmu epidemiologi berupaya menganalisis sifat dan penyebaran
berbagai masalah kesehatan.

Kata kunci : KLB, Mencegah distribusi penyakit, wabah


Masalah : kejadian luar biasa (KLB)

23
c. Konsep mapping

Epidemiologi

Riwayat Alamiah Kejadian Luar Biasa


Penyakit (KLB)

Promotif,
Preventif, Kuratif,
Rehabilitatif

Pandemi

d. Pertanyaan Minimal
1. Apa Manfaat epidemiologi?
2. Bagaimana Konsep dasar timbulnya penyakit ?
3. Apa Metode-metode epidemiologi ?
4. Bagaimana epidemiologi penyakit menular ?
5. Apa yang dimaksud KLB dan wabah?
6. Apa yang dimaksud Pandemi dan bagaimana cirinya ?
7. Penyakit menular apa saja yang berpotensi menimbulkan wabah/KLB ?
8. Bagaimana Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular?

24
e. Materi

EPIDEMIOLOGI

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Epidemiologi.

Epidemiologi berasal dari kata epi = pada, demos = penduduk, logos = ilmu;
atau dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hal-hal yang terjadi pada
masyarakat. Definisi ini merupakan definisi yang sangat luas yang dapat diterapkan
pada hal-hal apapun yang terjadi pada penduduk.
Definisi yang lama menyebutkan antara lain epidemiologi sebagai ilmu yang
mempelajari penyebaran atau perluasan suatu penularan penyakit didalam suatu
kelompok penduduk atau masyarakat. Dengan berkembangnya keadaan, masalah yang
dihadapi penduduk tidak hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit yang
tidak menular, penyakit degenerasi, kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas,
bencana alam, peledakan penduduk dan sebagainya. Karena adanya berbagai masalah
pada penduduk itu, Omran (1974) membuat definisi epidemiologi sebagai satu studi
mengenai terjadinya dan distribusi keadaan kesehatan, penyakit dan perubahan pada
penduduk, begitu juga "determinan"nya dan akibat-akibat yang terjadi pada kelompok
penduduk. Dalam definisi ini juga dimasukkan studi pelaksanaan program-program
kesehatan.

Dari berbagai definisi yang ada tentang epidemiologi, terdapat persamaan yaitu
tentang perhatian/ kajian epidemiologi dibidang kesehatan, serta sasaran/ target studi
epidemiologi. Persamaan-persamaan prinsip ini adalah:
1. Epidemiologi selalu menyangkut studi dari kelompok penduduk (bukan individu).
2. Epidemiologi selalu membandingkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.
3. Epidemiologi menyangkut penduduk dalam kelompok yang sama, yang
mempunyai karakteristik dan tidak mempunyai karakteristik.

Dalam pengertian epiderniologi juga terdapat tiga hal yang bersifat pokok yakni

1. Frekwensi masalah kesehatan.


Frekwensi yang dimaksudkan disini menunjuk kepada besarnya masafah
kesehatan yang terdapat pada sekelompok manusia. Untuk dapat mengetahui
frekwensi suatu masalah kesehatan dengan tepat ada dua hal pokok yang harus
dilakulcan yakni menemukan masalah kesehatan' yang dimaksud untuk kernudian
dilanjutkan dengan melakukan pengukuran atas masalah kesehatan yang
diternulcan tersebut.

2. Penyebaran masalah kesehatan.


Yang dimaksud dengan penVebaran masalah kesehatdn disini ialah, menunjuk
kepada pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu- keadaan tertentu.
Keadaan tertentu yang dimaksudkan banyak macarnnya, yang dalarn epiderniologi
menurut ciri-ciri manusia (man), menurut tempat (place) dan menurut waktu (time).

25
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi.
Yang dimaksud dengan faktor-faktor yang mempengaruhi disini ialah menunjuk
kepada faktor penyebab dari suatu masalah kesehatan, baik yang menerangkan
frekwensi, penyebaran dan ataupun yang menerangkan penyebab muncuinya
masalah kesehatan itu sendiri. Untuk ini ada tiga langkah pokok yang lazim dilakukan
yakni merumuskan hipotesa tentang penyebab yang dirnaksud, melakukan pengujian
terhadap rumusan hipotesa yang telah disusun dan setelah itu menarik kesimpulan
terhadapnya. Dengan diketahuinya penyebab suatu masalah kesehatan, dapatiah
disusun langkah-langkah penanggulangan selanjutnya dari masalah kesehatan
tersebut.

Asal kata `epidemiologi' juga berarti ilmu pada penduduk atau ilmu yang
mempelajari hal ihwal yang berkaitan dengan penduduk. Jadi secara epistemologis istilah
epidemiologi sebenarnya mengandung pengertian yang mencakup bidang yang sangat
luas, yaitu menyangkut semua hal yang berkaitan dengan manusia.
Di dalam batasan epidemiologi ini sekurang-kurangnya mencakup 3 elemen, yakni :
a. Mencakup semua penyakit
Epidemiologi mempelajari semua penyakit, baik penyakit infeksi maupun non infeksi,
seperti kanker, penyakit kekurangan gizi (malnutrition), kecelakaan lalu lintas maupun
kecelakaan kerja, sakit jiwa dan sebagainya. Bahkan di negara-negara maju
epidemiologi ini mencakup juga kegiatan pelayanan kesehatan
b. Populasi
Apabila kedokteran klinik berorientasi pada gambaran-gambaran penyakitpenyakit
individu-individu, maka epidemiologi ini memusatkan perhatiannya pada distribusi
penyakit pada populasi (masyarakat) atau kelompok.
c. Pendekatan Ekologi
Frekuensi dan distribusi penyakit dikaji dari latar belakang pada keseluruhan
lingkungan baik manusia baik lingkungan fisik, biologi maupun sosial. Hal ini yang
dimaksud pendekatan ekologis. Terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari
manusia dan total lingkungannya,
1. Penyebaran Penyakit
Di dalam epidemiologi biasanya timbul pertanyaan yang perlu direnungkan yakni
a. Siapa (who), siapakah yang menjadi sasaran penyebaran penyakit itu atau
orang yang terkena penyakit.
b. Di mana (where), dimana penyebaran atau terjadinya penyakit
c. Kapan (when), kapan penyebaran atau terjadinya penyakit tersebut Jawaban-
jawaban atau pertanyaan-pertanyaan ini adalah merupakan faktor-faktor yang
menentukan terjadinya suatu penyakit. Dengan perkataan lain terjadinya atau
penyebaran suatu penyakit ditentukan oleh 3 faktor utama yakni : orang,
tempat dan waktu.

2. Kegunaan
Peranan epidemiologi, khususnya dalam konteks program kesehatan dan keluarga
berencana adalah tool/alat dan sebagai metode pendekatan. Epidemiologi sebagai
alat diartikan bahwa dalam melihat suatu masalah KB —Kes selalu
mempertanyakan siapa yang terkena masalah, di mana dan bagaimana
penyebaran masalah, serta kapan penyebaran masalah tersebut terjadi. Demikian

26
pula pendekatan pemecahan masalah tersebut selalu dikaitkan dengan masalah, di
mana atau dalam lingkungan bagaimana penyebaran masalah serta bilamana
masalah tersebut terjadi. Kegunaan lain adalah dalam program kesehatan seperti
prevalensi, point of prevalence dan sebagainya dapat digunakan dalam
perhitunganperhitungan : prevalensi, kasus baru, case fatality rate dan sebagainya

2. Kegunaan Epidemiologi
a. Mempelajari sebab akibat dari suatu penyakit.
Untuk mengetahui sebab dari suau penyakit maupun akibat yang ditimbulkan oleh
kejadian suatu penyakit dalam kelompok masyarakat/ penduduk, diperlukan ilmu
epidemiologi. Karena melalui analisis epidemiologi dari beberapa faktor yang
dicurigai dapat diketahui mana penyebab primernya dan mana penyebab
sekundernya. Sebaliknya dengan epidemiologi kita juga dapat memprediksi akibat
apa yang timbul apabila terjadi peristiwa kesakitan pada kelompok penduduk
tertentu.
b. Mempelajari perjalanan alamiah dari suatu penyakit.
Semua penyakit mempunyai perjalanan alamiah (natural history disease). Melalui
epidemiologi akan dapat diketahui apa penyebabnya (Agent), kapan agent itu
masuk ketubuh penjamu (Host), berapa lama masa inkubasinya, kapan timbul
gejalanya, berapa lama penyakit berlangsung, berapa lama masa menularnya
(apabila penyakit menular), bagaimana prognosisnya. Dengan mengetahui
perjalanan alamiah penyakit, maka dapat diketahui cara-cara penanggulangan
(intervensi) yang dapat dilakukan untuk setiap penyakit atau ketidak-mampuan.
c. Menguraikan status kesehatan dari suatu penduduk.
Melalui ilmu epidemiologi juga dapat digambarkan status kesehatan kelompok
penduduk/ atau masyarakat tertentu. Penjabaran status kesehatan ini dalam
epidemiologi dilakukan menurut orang (Person), tempat (Place) dan waktu (Time).
Melalui penjabaran ini akan dapat diketahui status kesehatan pada kelompok duduk
tertentu, yaitu golongan umur, jenis kelamin, keadaan status sosial-ekonomi dan
budaya.
d. Mengevaluasi upaya kesehatan.
Epidemiologi juga dapat mengevaluasi upaya kesehatan yang telah dilakukan,
apakah itu upaya promotif, preventif, kuratif bahkan rehabilitatif terhadap suatu
kelomppok penduduk. Misalnya mengevaluasi intervensi melalui program-program
imunisasi, sanitasi, perbaikan gizi, atau pengobatan suatu penyakit, melalui studi
perbandingan antar kelompok yang mendapatkan intervensi dan kelompok yang
tidak mendapatkan intervensi.

3. Konsep Dasar Timbulnya Suatu Penyakit.


Suatu penyakit timbul oleh karena akibat dari beroperasinya berbagai faktor baik
dari agen, induk semang (penjamu) maupun lingkungan.

27
Menurut model ini, perubahan dari salah satu faktor akan merubah keseimbangan
antara mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan.

Faktor-faktor itu adalah:


1. Penjamu (host)
Host adalah semua karakteristik yang dimilikinya yang semua ini berpengaruh
terhadap terjadinya suatu peristiwa kesehatan, baik itu mati, sakit, cacat, dan sehat.
Karaktristik itu meliputi: umur, jenis kelamin, bentuk anatomi/ faal tubuh, status
kesehatan, imunitas dan kebiasaan hidup.
Didalam ilmu penyakit menular, host dibedakan menjadi definitive host yaitu mausia
dan intermediate host yaitu binatang penular penyakit (vektor).
2. Penyebab (agent)
Didalam epidemiologi tidak dikenal adanya penyebab tunggal, akan tetapi yang
dikenal adalah berbagai faktor yang mengambil bagian didalam kejadian suatu
penyakit maupun peristiwa kesehatan lainnya (multiple causation).
Secara garis besar penyebab penyakit dalam epidemiologi dibagi menjadi:
a. Penyebab primer : unsur biologis, nutrisi, kimiawi, fisika, psikis dan genetika.
b. Penyebab sekunder atau dikenal sebagai faktor resiko, misalnya: imunitas
individu maupun kelompok, keadaan sanitasi, dan lain sebagainya.
3. Lingkungan (environment)
Yang dimaksud dengan lingkungan dalam epidemologi adalah:
a. Lingkungan biologis, yang terdiri atas unsur yang dapat menjadi sumber
makanan, sumber penularan, maupun vektor penyakit. misalnya: manusia lain,
binatang dan tumbuhan.
b. Lingkungan fisik, terdiri atas tanah, udara, air, keadaan geografi, topografi,
iklim, dan lain-lain yang dapat menunjang terjadinya suatu penyakit atau
peristiwa kesehatan.
c. Lingkungan sosial, yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu penyakit atau
peristiwa kesehatan adalah sistem ekonomi, organisasi masyarakat, sistem
pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya.

4. Endemi dan Pandemi

Endemi
Suatu infeksi dikatakan sebagai endemik (dari bahasa Yunani en- di dalam +
demos rakyat) pada suatu populasi jika infeksi tersebut berlangsung di dalam populasi
tersebut tanpa adanya pengaruh dari luar.
Suatu infeksi penyakit dikatakan sebagai endemik bila setiap orang yang terinfeksi
penyakit tersebut menularkannya kepada tepat satu orang lain (secara rata-rata). Bila
infeksi tersebut tidak lenyap dan jumlah orang yang terinfeksi tidak bertambah secara
eksponensial, suatu infeksi dikatakan berada dalam keadaan tunak endemik (endemic
steady state). Suatu infeksi yang dimulai sebagai suatu epidemi pada akhirnya akan lenyap
atau mencapai keadaan tunak endemik, bergantung pada sejumlah faktor, termasuk
virulensi dan cara penularan penyakit bersangkutan.
Dalam bahasa percakapan, penyakit endemik sering diartikan sebagai suatu
penyakit yang ditemukan pada daerah tertentu. Sebagai contoh, AIDS sering dikatakan
"endemik" di Afrika walaupun kasus AIDS di Afrika masih terus meningkat (sehingga tidak

28
dalam keadaan tunak endemik). Lebih tepat untuk menyebut kasus AIDS di Afrika sebagai
suatu epidemi.

Pandemi
Suatu pandemi (dari bahasa Yunani pan semua + demos rakyat) atau epidemi
global atau wabah global merupakan terjangkitnya penyakit menular pada banyak orang
dalam daerah geografi yang luas.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), suatu pandemi dikatakan terjadi bila ketiga
syarat berikut telah terpenuhi:
 timbulnya penyakit bersangkutan merupakan suatu hal baru pada populasi
bersangkutan,
 agen penyebab penyakit menginfeksi manusia dan menyebabkan sakit serius,
 agen penyebab penyakit menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada
manusia.
Suatu penyakit atau keadaan tidak dapat dikatakan sebagai pandemi hanya karena
menewaskan banyak orang. Sebagai contoh, kelas penyakit yang dikenal sebagai kanker
menimbulkan angka kematian yang tinggi namun tidak digolongkan sebagai pandemi
karena tidak ditularkan.

5. Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Wabah.


Pengertian.
KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/ kematian yang
bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu
(PERMENKES RI No. 4, 1984). KLB penyakit menular merupakan indikasi
ditetapkannya suatu daerah menjadi suatu wabah, atau berkembang menjadi
suatu wabah. Yang termasuk dalam KLB adalah kejadian kesakitan/ kematian
yang disebabkan oleh penyakit menular, penyakit yang tidak menular, keracunan
dan kejadian bencana yang disertai KLB penyakit.
Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular
dalain masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi
daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka (UU No. 4 1984). Menteri menetapkan jenis jenis
penyakit tertentu yang dapat ntenitnbulkan wabah dan menetapkan serta
mencabut penetapan daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit
wabah sebagai daerah wabah.

Kriteria kerja KLB


Kepala wilayah/daerah setempal yang mengetahui adanya tersangka
wabah (KLB penyakit menular) diwilayahnya atau terjangka penyakit menular
yang menitnbulkan wabah, wajib segera melakukan tindakantindakan
penanggulangan seperlunya, dengan bantuan unit kesehatan setentpat, agar
tidak berkembang menjadi wabah (UU No. 4 tahun 1984 dan Permenkes
560/MENKES/PER/VIII/1989).
Suatu kejadian penyakit atau keracunan dikatakan KLB apabila
ntemenuhi kriteria sebagai berikut :
1. timbulnya sttatu penyakit/ menular yang sebelumnya tiadak ada/ tidak

29
dikenal.
2. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terns-men eras selama 3 kurun
waktu berturut-turut menurut jenis penyakit.
3. Peningkatan kejadian penyakit/ kenuttian, 2 kali atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya.
4. Juntlalt penderita barn dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali
lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam
taluut sebelummya.
5. Angka rata-rata per bu/an da/ant sate tahun menunjukkan kenaikan 2 kali
lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari taluut
sebelumttya.
6. Case Fatality Rate snafu penyakitdalam sate kurun waktu tertenrtu
menunjukkan kenaikan 50% atau lebih, dibandingkan dengan CFR dari
periode sebelumnya.
7. Proportional Rate (PR) penderila dari suatu periode tertentu menunjukkan
kenaikan 2 kali atau lebih dibandingkan periode kurun waktu atau tahun
sebelumnya.

6. Penyakitpenyakit menular yang berpotensi wabah/KLB


Penyakit penyakit menular dikelotnpokkan sebagai berikut :
a. penyakit karantina atau penyakit wabah penting, antara lain :
1. Kolera
2. Pes
3. Yellow fever
b. penyakit potensi wabah/ KLB yang menjalar dalam waktu cepat atau
ntempunyai morlalitas tinggi dan penyakit yang telah ntasuk program
eradikasi/ eliminasi dan ntenterlukan tindakan segera :
1. DHF
2. Campak
3. Rabies
4. Tetanus neonatorum
5. Diare
6. Pertusis
7. Polio
c. penyakit-penyakit potensi wabah/ KLB lainnya dan beberapa penyakit
penting :
1. Malaria
2. Frambosia
3. Influenza
4. Anthrax
5. Hepatitis
6. Thypus abdominalis
7. Meningitis
8. Keracunan
9. Encephalitis
10. Tetanus
d. penyakit-penyakit menular yang tidak berpotensi menimnbulkan wabah dan
atau KLB tetapi diprogramkan ditingkat kecamatan dilaporkan secara

30
bulanan sampai ke pusat, meliputi : cacing, lepra, Tbc, sifrlis, gonore,
filariasis dan AIDS.

7. Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular


Untuk pencegahan dan penanggulangan ini ada 3 pendekatan atau cara
yang dapat dilakukan :
1. Eliminasi reservoir /sumber penyakit
Eliminasi reservoir manusia sebagai sumber penyebaran penyakit dapat
dilakukan dengan :
a. Mengisolasi penderita yaitu menempatkan pasien di tempat yang khusus
untuk mengurangi kontak dengan orang lain
b. Karantina, adalah membatasi ruang gerak penderita dan menempatkannya
bersama-sama penderita lain yang sejenis pada tempat yang khusus
didesain untuk itu. Biasanya dalam waktu yang lama, misalnya karantina
untuk penderita kusta.
2. Memutus mata rantai pen ularan
Meningkatkan sanitasi lingkungan dan higiene perorangan adalah merupakan
usaha yang penting untuk memutuskan hubungan atau mata rantai penularan
penyakit menular.
3. Melindungi orang-orang / kelompok rentan
Bayi dan balita adalah usia yang rentan terhadap penyakit menular. Kelompok
usia rentan ini perlu lindungan khusus/ spesifrc protection dengan imunisasi,
baik aktif maupun pas. Pada anak usia muda gizi yang kurang akan
menyebabkan kerentanan pada anak tersebut. Oleh karena itu, meningkatkan
gizi anak adalah juga merupakan usaha pencegahan penyakit.

f. Pustaka
Budioro B, Pengantar Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Diponegoro, Semarang, 2002

Soekidjo N, Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar, Penerbit


Rineka Cipta, Jakarta, 2003

Kadar, A., Epidemiologi, BAPELKES Salaman, Magelang.

Muninjaya, A.A.G., Manajemen Kesehatan: Epidemiologi dan Statistik dalam


Manajemen Kesehatan, EGC, Jakarta,

Sutrisna,B., Pengantar Metoda Epidemiologi cet. 1, PT. Dian Rakyat,


Jakarta,1986

Umaroh, A.K., Kirwon, B., Astuti, D. 2015. Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD
berdasarkan time, place, person di Puskesmas Boylali (2011-2013).
University Reasearch Clloquium.

31
Lembar Belajar Mahasiswa 2

Hari/tanggal Jam Materi Nama Ruang


Instruktur
Senin, 08.10-09.50
12-9-2016
09.50-11.30

Selasa 08.10 – 11.30 Skill lab Puskesmas


13-9-2016

12.30-14.10 SGD TUTOR R SGD Lt-1

Rabu 09.50-11.30 KP : Batasan dan Ruang Drg Marsono R KULIAH Lt-1


14-9-2016 Lingkup Administrasi Mkes
Kesehatan

12.30-14.10 Sistem Kesehatan Drg Marsono R KULIAH Lt-1


Nasional MKes

Kamis 08.10-11.30 Skill lab Puskesmas


15-9-2016

09.50-11.30 KP : Analisis data dan DR drg. Dfyah R KULIAH Lt-1


pemecahan masalah F,MDSc
kesgilut

Jumat 08.10-09.50 SGD TUTOR R SGD Lt-1


16-9-2016
09.50-11.30 KP : Drg. Baehaqi R KULIAH Lt-1
- Program-program MM
puskesmas, prinsip
kerjasama lintas
program, dan lintas
sektoral
- Perencanaaan program
pelayanan kesehatan
gigi dan mulut (UKGS,
UKGM)

32
Modul : 2
Unit Belajar :
a. Judul : Wah … rumitnya membuat program kerja
b. Sasaran belajar :

1. Menjelaskan konsep administrasi kesehatan (SGD)


2. Menjelaskan cakupan kegiatan program (SGD)

Skenario

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan kabupaten/kota


yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah
kerja. Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas perlu
ditunjang oleh manajeman Pelayanan Puskesmas yang baik untuk bisa menyusun dan
melaksanakan program-program kerja yang telah ditetapkan.

Dalam melaksanakan program-program puskesmas selalu didasarkan pada PTP


(perencanaan tingkat puskesmas) sesuai dengan kebijakan administrasi kesehatan
yang telah dicanangkan pemerintah dengan mempertimbangan kondisi/permasalahan
dan kemampuan/potensi masyarakat agar tercapai tertib administrasi

Kata kunci : program, administrasi kesehatan,tertib administrasi


Masalah : Administrasi Kesehatan

c. Konsep mapping

Input Proses : Output Dampak


Perencanaan, (Cakupan hasil) (Morbiditas)
pengorganisasian,
pelaksanaan,
penilaian

Lingkungan
(kebijakan)

Umpan Balik

33
d. Pertanyaan minimal
1. Apa yg dimaksud Administrasi kesehatan ?
2. bagaimana batasan dan unsur- unsur pokok administrasi kesehatan?
3. Bagaimana komponen input administrasi kesehatan , meliputi batasan dan unsur-
unsurnya ?
4. Bagaimana Perencanaan program kesehatan, meliputi batasan, cirri, macam, dan
unsurnya ?
5. Bagaimana Pengorganisasian program, meliputi batasan, unsur, prinsip, macam,
dan langkahnya ?
6. Bagaimana Pelaksanaan program kesehatan, meliputi batasan, manfaat, dan
proses ?
7. Bagaimana Penilaian program kesehatan, meliputi batasa, jenis, ruang lingkup,
langkah, dan teknik nya ?
8. Bagaimana Cakupan (output), meliputi batasan dan manfaatnya ?
9. Bagaimana Umpan balik, meliputi batasan dan manfaat ?

e. Materi

ADMINISTRASI KESEHATAN

BATASAN
Menurut komisi pendidikan administrasi kesehatan tahun 1974 :
Administrasi kesehatan ialah suatu proses yang menyangkut perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, pengkordinasian dan penilaian terhadap
sumber, tata cara kesangupan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan
terhadap kesehatan perawatan, kedokteran serta lingkungan yang sehat dengan jalan
menyediakan dan menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan yang ditujukan kepada
perseroangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.

5 unsur pokok Administrasi Kesehatan :


1. Masukan
a. Ada 3 macam : menurut Komisi Pendidikan Administrasi Kesehatan Amerika
Serikat.
a.1. Sumber (Resources)
a.1.1. Sumber Tenaga (Labour Resources), dibedakan tenaga ahli
(skilled) seperti dokter, dokter gigi, bidan, perawat tenaga tidak ahli
(unskilled) seperti pesuruh.
a.1.2. Sumber Modal (Capital Resources), dibedakan modal bergerak
(Working capital) seperti uang dan giro serta modal tidak bergerak
(Fixed capital) seperti bangunan.
a.1.3. Sumber Alamiah (Natural Resources), seperti sumber tenaga dan
sumber modal
a.2. Tata Cara (Procedures)
a.3. Kesanggupan (Capacity)
b. Menurut Kontz dan Donnells dibedakan 4 macam

34
Manusia (man), modal *capital), manajerial (managerial) dan teknologi
(technology)
c. Pembagian lain dimasyarakat
4 M : manusia (man), uang (money), sarana (material), metoda (method) untuk
organisasi yang tidak mencari keuntungan
6 M : manusia (man), uang (money), sarana (material), methode (method),
pasar (market) serta emsin (machinery) untuk organisasi yang mencari
keuangan

2. Proses (Process)
Ada 4 macam yaitu :
a. Perencanaan (planning) termasuk penyusunan anggaran belanja
b. Pengorganisasian (organizing) termasuk penyusunan staf
c. Pelaksanaan (implementing) termasuk pengarahan, pegkoordinasian,
bimbingan, penggerakan dan pengawasan
d. Penilaian (evaluation) termasuk penyusunan laporan
3. Keluaran (output)
Dikenal pelayanan kesehatan (health services) dikenal
a. Pelayanan kedokteran (medical services)
b. Pelayanan kesehatan masyarakat (public health services)
4. Sasaran (target group)
Dibedakan, perseorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat
Dapat bersifat sasaran langsung (direct target group) atau tidak langsung (indirect
target group)
5. Dampak (Impact)
Yang diharapkan adalah makinmeningkatkan derajat kesehatan
Ruang lingkup administrasi dibedakan :
1) Kegiatan administrasi
Melaksanakan fungsi administrasi mulai dari fungsi perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Seseorang yang
mengerjakan administrasi adalah seorang administrasi atau manajer.
2) Objek dan subjek administrasi
Yaitu sistem kesehatan artinya suatu kumpulan dari berbagai faktor yang
komplek dan saling berhubungan yang terdapat pada suatu negara dan yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan kesehatan perorangan
keluarga, kelompok serta masyarakat pada setiap saat yang dibutuhkan.

Manfaat dibedakan 3 macam :


1. Dapat dikelola sumber, tata cara dan kesanggupan secara efektif dan efisien
2. Dapat dipenuhi kebutuhan dan tuntutan secara tepat dan sesuai
3. Dapat disediakan dan diselenggarakan upaya kesehatan sebaiknya

SISTEM KESEHATAN

Pengertian Sistem
1. Sistem sebagai wujud
Diadakan atas 2 macam

35
a. Sistem sebagai suatu wujud yang konkrit
b. Sistem sebagai suatu wujud yang abstrak

2. Sistem sebagai suatu metode


Rumusan sistem kesehatan menurut WHO 1984 :
Sistem kesehatan adalah kumpulan dari berbagai faktor yang komplek dan saling
berhubungan terhadap dalam suatu negara, yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan dan tuntutan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun
masyarakat pada setiap saat yang dibutuhkan.
Sistem Kesehatan Nasional menurut SK Menteri Kesehatan RI No. 99a / Men Kes
/SK/III/ 1982. diperbaharui dengan SK Menkes No 131/Menkes/SK/II/2004. Tentang
Sistem Kesehatan Nasional .
Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu tatanan yang mencerminkan upaya
bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mencapai derajad kesehatan
yang optimal sebagai perwujudan kesejhteraan umum seperti yang dimaksud
dalamPembukaan UUD 1945.
Ciri sistem dibedakan 4, yaitu :
1. Terapan bagian atau elemen yang satu sama lain saling berhubungan dan
mempengaruhi yang kesemuanya membentuk satu kesatuan.
2. Funngsi yang diperan oleh masing-masing bagian atau elemen yang
membentuk satu kesatuan tersebut adalah dalam rangka mengubah masukan
menjadi keluaran yang direncanakan.
3. semuanya bekerjasama secara bebas namun terkait, dalamterhadap
mekanisme pengendalian yang mengarahkannya agar tetap berfungsi
sebagaiinana yang telah direncanakan.
4. tidak tertutup terhadap lingkungan

Jenjang sistem dapat dibedakan 3 macam :


1. Supra sistem, adalah lingkungan dimana sistem tersebut berada
2. Sistem, adalah sesuatu yang sedang diamati yang menjadi objek dan subjek
pengamatan
3. subsistem, adalah bagian dari sistem yang secara mandiri membentuk sistem

Prinsip pokok pendekatan sistem :


1. Untuk membentuk sesuatu, sebagai hasil administrasi
2. menguraikan sesuatu yang telah ada dalam admministrasi

36
Keuntungan pendekatan sistem :
1. Jenis dan jumlah masukan dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan,
dengan demikian penghamburan sumber, tata cara dan kesanggupan yang
sifatnya terbatas, akan dihindari.
2. Proses yang dilaksanakan dapat diarahkan untuk mencapai keluaran sehingga
dapat dihindari pelaksanaan kegiatan yang tidak diperlukan.
3. Keluaran yang dihasilkan dapat lebih optimal serta dapat diukur secara lebih
tepat dan objektif.
4. Umpan balik dapat diperoleh pada setiap tahap pelaksanaan program

Analisis sistem adalah penilaian yang berupa kajian terhadap setiap kumpulan
elemen atau bagian yang ada di dalam sistem

Langkah analisis sistem :


1. penguraian sistem sehingga menjadi jelas bagian-bagian yang dimiliki serta
hubungannya satu dengan yang lain
2. merumuskan masalah yang dihadapi
3. lakukan pengumpulan data atau informasi
4. kembangkan model-model sistem yang baru
5. lakukan uji coba
6. terapkanlah model sistem yang terpilih dan lakukanlah pemantauan dan
penilaian berkala sesuai yang diperlukan

Faktor yang mempengaruhi bentuk pokok sistem kesehatan :


1) Peranan unsur pembentuk sistem kesehatan
a. Pemerintah (policy maker)
b. Masyarakat (heal! consumer)
c. Penyedia pelayanan kesehatan (health promotion)

2) Pemanfaatan sumber, tata cara dan kesanggupan


a. Telah memanfaatkan kemajuan ilmu dan teknologi secara optimal,
ditemukan di negara maju
b. Baru disentuh oleh kamajuan ilmu dan teknologi, ditemukan di negara
berkembang
c. Sama sekali belum disentuh oleh kemajuan ilmu dan teknologi, ditemukan di
negara yang sangat terbelakang.

3) Unsur pokok sistem kesehatan


a. Organisasi pelayanan
b. Organisasi pembiayaan
c. Mutu pelayanan dan pembiayaan

4) Sub sistem dalam sistem kesehatan


a. Subsistem pelayanan kesehatan
b. Subsistem pembiayan kesehatan

37
PERENCANAAN PROGRAM KESEHATAN

A. Batasan
Perencanaan adalah kemampuan untuk memilih satu kemungkian dari berbagai
kemungkinan yang tersedia dan yang dipandang paling tepat untuk mencapai tujuan (
Billy E. Goetz )
B. Tiga Aspek Pokok Da/am Perencanaan
1. hasil dari pekerjaan perencanaan
2. perangkat perencanaan
3. proses perencanaan
C. Ciri-Ciri Perencanaan Yang Baik
1. Bagian dari sisitem adminitrasi
2. Dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan
3. Berorientasi pada masa depan
4. Mampu menyelesaikan masalah
5. Mempunyai tujuan
6. Bersifat mampu kelola
D. Macam Perencanaan
1. Ditinjau dari jangka waktu berlakunya rencana
 Perencanan jangka panjang
 Perencanan jangka menengah
 Perencanaan jangka pendek
2. Ditinjau dari frekuensi penggunaan
 Digunakan 1 kali
 Digunakan berulang kali
3. Ditinjau dari tingkatan rencana
 Perencanaan induk
 Perencanaan operasional
 Perencanaan harian
4. Ditinjau dari filosofi perencanaan
 Perencanaan memuaskan
 Perencanaan optimal
 Perencaan adaptasi
5. Ditinjau dari orientasi waktu
 Perencanaan berorientasi masa lalu-kini
 Perencanaan berorientasi masa depan
 Perencanaan redistribusi
 Perencanaan spekulatif
 Perencanaan kebijakan
6. Ditinjau dari ruang lingkup
 Perencanaan strategik
 Perencanaan taktis
 Perencanaan menyeluruh
 Perencanaan terpadu
E. Unsur yang Terdapat dalam Rencana
1. Rumusan misi
2. Rumusan masalah
3. Rumusan tujuan umum dan tujuan khusus

38
4. Rumusan kegiatan
5. Asumsi perencanan
6. Strategi pendekatan
a. Pendekatan Institusi (legalitas)
b. Penekatan Komunitas (kesadaran masyarakat)
7. Kelompok sasaran
a. Kelompok sasaran langsung (misal : bayi pada program imunisasi)
b. Kelompok sasaran tidak langsung (misal : ibu-ibu pada program imunisasi
bayi)
8. Waktu
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu :
a. Kemampuan organisasi dalain mencapai target
b. Strategi pendekatan yang akan diterapkan
9. Organisasi dan tenaga pelaksana
 disertai Jon description dan authority
10. Biaya — lengkapi dengan rincian
11. Metoda penilaian dan kriteria keberhasilan _
 Metoda penilaian yang baik sebaiknya berdasarkan data
 Macam Kriteria keberhasilan
a. Kriteria keberhasilan unsur masukan
b. Kriteria keberhasilan unsur proses
c. Kriteria keberhasilan unsur keluaran

 Menetapkan Prioritass Masalah


 Mengikuti prinsip lingkaran pemecahan masalah : Prioritas masalah dengan
teknik kajian data :
1. Pengumpulan data
2. Pengolahan data
3. Pengajian data
4. Memilih prioritas masalah (PM) – dianjurkan dengan tehnik criteria matrix
(criteria matrix technique), secara umum dibedakan 3 macam :
 pentingnya masalah (importancy - I), ukurannya antara lain :
-besarnya masalah (prevalence - P)
-akibat yang ditimbulkan (severety - S)
-kenaikan besarnya masalah (rate of increase – RI)
-derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi (degree of un
meet need - DU )
-keuntungan social karena selesainya masalah (social benefit - SB)
-rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern - PB)
-suasana politik (political climate - PC)
Untuk setiap kriteria diberi nilai antara 1 (tidak penting) sampai
dengan 5 (sangat penting). Prioritas masalah dipilih yang nilai PM
terbesar.
 Kelayakan tehnologi (technical feasibility - T)
 Sumberdaya yang tersedia (resource availability - R)

Rumus :

39
I = P x S x RI x DU x SB x PB x PC

PM = I X T X R

 Menetapkan proritas jalan keluar


1. Menyusun alternatif jalan keluar
 Menentukan berbagai penyebab masalah
 Memeriksa kebenaran penyebab masalah
 Mengubah penyebab masalah ke dalam bentuk kegiatan
2. Memilih prioritas jalan keluar
a. Efektivitas jalan keluar
 Besarnya masalah (magnitude = M)
 Pentingnya jalan keluar (Importancy = I)
 Sensitivitas jalan keluar (vulnerability = V)
b. Efisiensi jalan keluar (dengan angka 1 — 5)
P (Prioritas) = MxIxV
C ( Jalan Keluar Terpilih)
3. Melakukan uji lapangan
4. Memperbaiki prioritas
5. Menyusun uraian rencana prioritas masalah

Rencana Pelaksanaan
 Batasan
Menurut Alan J.Rowe : Suatu uraian rinci dari suatu rencana yang didalamnya
terkandung keterangan tentang kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan, waktu
serta sumber yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap kegiatan guna mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
 Manfaat
1. Membantu administrator mengenal kegiatan yang dilakukan
2. Membantu administrator mengetahui waktu yang diperlukan
3. Membantu administrator mengawasi pelaksanaan rencana (kegiatan, waktu dan
sumber)
 Proses
1. Memahami selengkapnya rencana yang akan dilaksanakan
2. Memahami selengkapnya kemampuan yang dimiliki
3. Menyusun jaringan kegiatan yang akan dilaksanakan
4. Menetapkan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan
5. Menetapkan sumber yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan
 Teknik
1. Gantt Chart oleh Gantt
Chart (bagan) berisi daftar kegiatan yang akan dilaksanakan lengkap dengan
urutan serta hubungannya dengan waktu yang diperlukan.
2. Program Evaluation Review Technique (PERT)/Planning The Time/Planning
The Budget
Lebih mengutamakan aspek waktu dan biaya
Langkah-langkahnya :

40
a. Menyusun jaringan kegiatan, ada 2 hal perlu diperhatikan yaitu event
(kejadian) dan activity (kegiatan).
b. Menaksir waktu untuk kegiatan
c. Menghitung waktu tercepat untuk menyelesaikan seluruh kegiatan
d. Menghitung waktu terlambat yang masih diperkenankan
3. Critical Path Methode (CPM)
Lebih mengutamakan biaya disamping taksiran waktu.

PENGORGANISASIAN PROGRAM KESEHATAN

Batasan Pengorganisasian
1. Pengelompokan berbagai kegiatan untuk melaksanakan rencana sehingga tujuan
memuaskan.
2. Pengaturan personil untuk tujuan yang disepakati dengan mengalokasikan fungsi
dan tanggung jawab.
3. Pengkordinasian rasional kegiatan dari sejumlah orang tertentu untuk tujuan
bersama melalui pengaturan pembagian kerja dan fungsi secara tanggung jawab.

Unsur-Unsur Pokok
1. Hal yang diorganisasikan yaitu
 Kegiatan : pengaturan kegiatan yang persatu padu
 Tenaga pelaksana : pengaturan struktur organisasi, susunan personalia, hak
dan wewenang, tenaga pelaksana
2. Proses Pengorganisasian (unsur terpenting)
Menyangkut pelaksanaan langkah-langkah semua kegiatan dan tenaga pelaksana
mendapat pengaturan sebaik-baiknya.
3. Hasil Pengorganisasian
 Terbentuk wadah (entity) merupakan pepaduan kegiatan yang akan
dilaksanakan dengan tenaga pelaksana.
 Hasil bervariasi

Pengorganisasian Sebagai Suatu Wadah


Batasan : organisasi
 Persekutuan dua orang atau lebih yang bersepakat untuk tujuan
 Sistem yang mengatur kerjasama antara dua orang atau lebih sehingga kegiatan
dapat diarahkan untuk tujuan yang ditetapkan
 Merupakan sistemn yang terbuka (open system)
 organisme (organisms), bedanya organisasi masing-masing mempunyai fungsi dan
wewenang organisme fungsi dan wewenang dimiliki seluruh organisme secara
keseluruhan.

Prinsip Pokok Organisasi


1. Mempunyai pendukung (follower, member)
2. Mempunyai tujuan baik umum (goal) atau khusus (objectives)
3. Mempunyai kegiatan yang jelas dan terarah
4. Mempunyai pembagian tugas antar job description disebut prinsip bagi habis

41
tugas
5. Mempunyai perangkat organisasi dengan sebutan satuan organisasi
(departemens sub ordinates)
6. Mempunyai pembagaian dan pendelegasian wewenang (delegation of authority)
disebut prinsip pengecualian.
7. Mempunyai kesinambungan kegiatan, kesatuan printah (unity of common) dan
arch (direction) bersifat continue, flexible, sederhana. Prinsipnya scalar principle

Pengorganisasian sebagai suatu proses


Ada 7 langkah :
1. Memahami tujuan agar jelas tolak ukurnya
2. Memahami kegiatan sehingga jelas arah dan sasarannya
3. Mengelompokkan kegiatan menjadi jenis kegiatan dan jumlah kegiatan yang tidak
terlalu banyak
4. Mengubah kelompok kegiatan ke dalam bentuk jabatan (position classification,
untuk itu dilakukan beberapa kegiatan)
a. Analisis tugas (job analysis) untuk memperjelas tugas setiap kelompok kegiatan
b. Uraian kegiatan tugas (job description) agar lebih jelas
c. Penilaian tugas (job evaluation) untuk mengkaji ulang tugas yang telah diperinci
ada yang berlebihan dan atau kurang.
5. Melakukan pengelompokkan jabatan (position grouping)
6. Mengubah kelompok jabatan ke dalam bentuk satuan organisasi
a. Atas dasar kesamaan fungsi dan jabatan
b. Atas dasar kesamaan proses atau cara kerja dari jabatan
c. Atas dasar kesamaan basil (produksi) dari jabatan
d. Atas dasar kesamaan kelompok masyarakat yang memanfaatkan
e. Atas dasar kesamaan lokasi jabatan
7. Membentuk struktur organisasi (bagan) dengan membagi tugas dan wewenang'
serta kemampuan pengawasan yang dimiliki (span of control)

6.PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN

Setelah perencanaan (planning) dan pengorganiasian (organizing) selesai


dilakukan, maka selnajutnya yang perlu ditempuh dalam pekerjaan administrasi adalah
mewujudkan rencana (plan) tersebut dengan mempergunakan organisasi (oeganization)
yang terbentuk menjadi kenyataan. Ini berarti rencana tersebut dilaksanakan
(implementating) dan diaktualisasikan (actuating).
Pekerjaan pelaksanaan dan atau aktuasi tersebut bukankah meruapakan
pekerjaan yang mudahm karena dalam melaksanakan suatuu rencana terkadung
berbagai aktivitas yang bukan saja satu sama lain saling berhubungan, tetapi juga
bersifat komplek dan majemuk. Kesemua aktivitas ini harus dipadukan sedemikian rupa
sehingga tujuan yang telah diteapkan dapat dicapai dengan memuaskan.
Memadukan berbagai aktivitas yang seperti ini dan apalagi menugaskan semua
orang yang terlibat dalam organisasi untuk melaksankaan aktivitas yang dimaksud,
memerlukan suatu ketrmapilan khusus. Tugas seorang administrator dan ataupun
manajer, pada dasarnya dalah melakukan uupaya sedemikian rupa sehingga dapat

42
memotivasi bawahan untuk secara bertanggung jawba melaksanakan berbagai aktivitas
yang telah disusun. Agar pekerjana meotivasi ini dapat terlaksana dengan baik,
seorang administrator dan ataupun manajer harus mampu mengkomunikasikan ide dan
ataupun gagasan yang ada padanya kepada bawahan. Untuk kemudian dengan
kepemimpinan yang dimilikinya mampu mengarahkan, mengawasi dan mensupervisi
bawahan sedemikian rupa sehingga semua aktivitas yang telah disusun dapat
terlaksana dengan baik.

Dari uraian yang seperti ini jelaslah muntuk dapat melaksanakan suatu
rencana, seorang administrator dan ataupun manager, perlu menguasai berbagai
pengetahuan dan ketrampilan yang jika disederhanakan dapat dibedakan atas senam
macam yakni :
1. Pengetahuan dan ketrampilan motivasi (motivation)
2. Pengetahuan dan ketrampilan komunikasi (communication)
3. Pengetahuan dan ketrampilan kepemimpinan (leadership)
4. Pengetahuan dan ketrampilan pengarahan (directing)
5. Pengetahuan dan ketrampilan pengawasan (controlling)
6. Pengetahuan dan ketrampilan supervisi (supervision)
Untuk melaksanakan program kesehatan, pengetahuan dan ketrampilan yang
sperti ini juga amat diperlukan. Apalagi jika yang ingin dilaksanakan tersebut adalah
program kesehatan masyarakat. Mudah dipahami karena memanglah ruang lingkup
program kesehatan masyarakat, tidak hanya menyangkut pengaturan bawahan yang
dimiliki, tetapi juga masyarakat banyak, kepada siapa program kesehatan masyaraka t
tersebut ditujukan.

PENILAIAN PROGRAM KESEHATAN

PENDAHULUAN
Setiap administrator yang diserahkan tanggung jawab mengelola program
kesehatan selalu dihadapkan pad suatu keadaan yang tidak pasti (uncertainty).
Keadaan yang tidak pasti tersebut jika disederhanakan dapat disimpulkan ke dalam tiga
macam pertanyaan yakni:
1. Pertanyaan tentang ketepatan program
2. Pertanyaan tentang pelaksanaan program
3. Pertanyaan tentang hasil yang dicapai

Batasan
Batasan penilaian banyak macamnya. Beberapa diantaranya yang dianggap
cukup penting adalah:
1. Penilaian adalah suatu cara belajar yang sistematis dari pengalaman yang dimiliki
untuk meningkatkan pencapaian, pelaksanaan dan perencanaan suatu program
melalui pemilihan secara seksama berbagai kemungkinan tersedia guna

43
penerapan selanjutnya (The World Health Organization)
2. Penilaian adalah suatu proses untuk menentukan nilai atau jumlah keberhasilan
dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(The American Public Association).
3. Penilaian adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam membandingkan
hasil yang dicapai dengan tolak ukur atau kriteria yang telah ditetapkan,
dilanjutkan dengan pengambilan kesimpulan serta penyusunan saran-saran, yang
dapat dilakukan pada setiap tahap dari pelaksanaan program (The International
Clearing House on Adolescent Fertility Control for Population Options).
4. Penilaian adalah pengukuran terhadap akibat yang ditimbulkan dari dilaksanakan
suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Riecken). Jika
diperhatikan keempat batasan di atas, segera terlihat bahwa ada dua pendapat
tentang penilaian tersebut yakni:
 Penilaian hanya dilakukan pada tahap akhir program
 Penilaian dapat dilakukan pada setiap tahap program

Jenis
Sesuai dengan pengertian penilaian dapat ditemukan pada setiap pelaksanaan
program, maka penilaian secara umum dapat dibedakan atas tiga jenis yakni:
1. Penilaian pada tahap awal program
2. Penilaian pada tahap pelaksanaan program
3. Penilaian pada tahap akhir program

Ruang Lingkup
Sesuai dengan luasnya pengertian kesehatan, maka ruang lingkup penilaian yakni hal –
hal yang akan dinilai dari suatu progam kesehatan adalah amat luas sekali.
Beberapa serajana memberikan pedoman sebagai berikut :

1. Deniston
Deniston menyebutkan bahwa hal-hal yang dapat dinilai dari suatu program
kesehatan dibedakan ke dalam empat jenis yakni:
a. Kelayakan program
b. Kecukupan program
c. Efektivitas program
d. Efesiensi
2. George James
a. Upaya program
b. Penampilan program
c. Ketepatan penampilan program
d. Efesiensi program

3. Milton R. Roemer
Milton R. Roemer membedakan ruang lingkup penilaian suatu program kesehatan
atas enam jenis, yaitu:

a. Status kesehatan yang dihasilkan


b. Kualitas pelayanan yang diselenggarakan
c. Kuantitas pelayanan yang dihasilkan

44
d. Sikap masyarakat terhadap program kesehatan
e. Sumber daya yang tersedia
f. Biaya yang dipergunakan
4. Blum
Sama halnya dengan Roemer. Blum juga membedakan ruang lingkup penilaian
atas enam macam. Hanya saja perinciannya agak berbeda, yakni:
a. Pelaksanaan program
b. Pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan
c. Efektivitas program
d. Efesiensi program
e. Keabsahan basil yang dicapai oleh program
f. Sistem yang dipergunakan untuk melaksanakan program
Untuk kepentingan praktis, ruang lingkup penilaian tersebut secara sederhana
dapat dibedakan atas empat kelompok saja, yakni:
1. Penilaian terhadap masukan
2. Penilaian terhadap proses
3. Penilaian terhadap keluaran
4. Penilaian terhadap dampak
Keempat ruang lingkup yang seperti ini, secara sederhana dapat digambarkan
dalam bagan 8.1.

Langkah
Untuk dapat melaksanakan pekerjaan penilaian, tentu diperlukan pedoman
dalam melaksanakannya. Pedoman yang dimaksud pada dasarnya terdiri dari
lanngkah-langkah yang harus dilakukan pada waktu melaksanakan penilaian. Untuk ini
ada beberapa pendapat yang dikenal yaitu :
1. Mac Mahon
Mac Mahon membedakan langkah-langkah penilaian atas tiga tahap, yaitu:
a. Tahap menentukan macam dan ruang lingkup penilaian
b. Tahap pemahaman program yang akan dinilai
c. Tahap pelaksanaan penilaian dan menarik kesimpulan
2. Audie Knutson
Audie Knutson membedakan langkah-langkah penilaian atas tiga macam, yakni:

45
a. Tahap pemahaman program yang akan dinilai
b. Tahap mengembangkan rencana penilaian dan melaksanakan penilaian
c. Tahap menarik kesimpulan
3. Levey dan Loomba
Levey dan Loomba membedakan lanngkah-langkah penilaian atas enam jenis,
yakni:
a. Tahap menetapkan tujuan penilaian
b. Tahap melengkapkan tujuan dengan tolak ukur tertentu
c. Tahap mengembangkan model, rencana dan program penilaian
d. Tahap melaksanakan penilaian
e. Tahap menjelaskan derajat keberhasilan yang dicapai
f. Tahap menyusun saran-saran
4. The World Health Organization
The World Health Organization membedakan langkah-langkah penilaian atas
sembilan tahap, yakni:
a. Tahap penilaian hal yang akan dinilai,
b. Tahap melengkapkan keterangan yang dibutuhkan
c. Tahao memeriksa hubungan keterangan dengan tujuan penilaian
d. Tahap menilai kecukupan keterangan
e. Tahap menetapkan kemajuan program
f. Tahap menetapkan efektivitas program
g. Tahap menetapkan efesiensi program
h. Tahapp menetapkan dampak program
i. Tahap menarik kesimpulan dan menyusun saran
Untuk kepentingan praktis, langkah-langkah yang ditempuh pada waktu
melaksanakan penilaian agaknya merupakan perpaduan dari keempat pembagian di
atas. Langkah-langkah yang dimaksud ialah:
1. Pahami dahulu program yang akan dinilai
2. Tentukan macam dan ruang lingkup penilaian yang akan dilakukan
3. Susunlah rencana penilaian
4. Laksanakan penilaian
5. Tarik kesimpulan
6. Susunlah saran-saran

Teknik Penilaian
Teknik penilaian banyak macamnya,karena kesemuanya tergantung dari
program yang akan dinilai. Dalampraktek sehari-hari yang sering dipergunakan adalah
teknik Ragpie Program Matrix (RPM). Adapun prinsip dari RPM tersebut sebagai berikut:
1. Sederhana dan kelompokkan program kedalam tiga penahapan yakni tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian (akhir) program.
2. Sederhana dan kelompokkan program kedalam tiga komponen yaitu komponen
sumber, komponen kegiatan dan komponen tujuan.
3. Isilah kotak yang terbentuk dengan keterangan yang sesuai, dan lakukan
perbandingan. Setelah itu tarik kesimpulan dan susunlah saran.

46
E.SUMBER BELAJAR
1. Azrul Azwar. 1988. Pengantar Administrasi Kesehatan. Binarupa Aksara.
Jakarta
2. Budioro. 1997. Pengantar Administrasi Kesehatan Masyarakat. FKM Undip.
Semarang
3. Sulastomo. 2000. Manajemen Kesehatan. Gramedia. Jakarta
4. Gde Muninjaya. 1999. Manajemen Kesehatan. EGC. Jakarta
5. WHO.1999. Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer. EGC. Jakarta

47
LEMBAR BELAJAR MAHASISWA 3

Hari/tanggal Jam Materi Nama Ruang


Instruktur
Senin 08.10-09.50 SGD TUTOR R. SGD Lt-1
19-9-2016
09.50-11.30 KP : Kebijakan Drg. Marsono, R KULIAHLt-1
Pembangunan MKes
Kesehatan

Selasa 08.10-11.30 Skill lab PUSKESMAS


20-9-2016
12.30-14.10 KP : Etika kebijakan Drg. Edi R KULIAH Lt-1
kesehatan Sumarwanto,
MHKes
Rabu 08.10-11.30 Skill lab PUSKESMAS
21-9-2016
Kamis 08.10-09.50 KP : Sistem informasi Drg. Baehaqi, R.KULIAH Lt.1
22-9-2016 kesehatan dan MM
SIMPUS

09.50-11.30 KP : Hukum Drg.Edi R KULIAH Lt-1


Kesehatan (medical Sumarwanto,
error, malpraktik, MHKes
informed consent

Jumat 08.10-11.30 SGD TUTOR R. SGD Lt-1


23-9-2016

48
Modul : 3
Unit Belajar :
a. Judul : perumusan kebijakan kesehatan
b. Sasaran belajar :

1. Menjelaskan masalah kesehatan masyarakat, penelitian kebijakan, dan


kebijakan kesehatan (SGD)
2. Menjelaskan SWOT analisis (SGD)
3. Menjelaskan hubungan antara SIMKES dengan kebijakan strategis (SGD)

Skenario
Derajat kesehatan merupakan salah satu ukuran kesejahteraan dan kualitas sumber
daya manusia, sebagaimana lazimnya untuk menggambarkan derajat kesehatan digunakan
indikator masalah kesehatan.
Di Indonesia prevalensi karies dan penyakit periodontal masih tinggi. Implementasi
penelitian kebijakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota pada kesehatan gigi belum
secara signifikan menurunkan angka karies dan penyakit periodontal.
Berbagai kebijakan strategis disadari sangat berpengaruh pada status derajat kesehatan
masyarakat. Untuk menyusun suatu kebijakan strategis, tim dari Dinas Kesehatan
melakukan SWOT analisis.
Selain data berupa angka kesakitan, kebijakan juga dapat dibuat berdasarkan
pengumpulan data kesehatan yang disebut sistem informasi manajemen kesehatan
(SIMKES). Salah satu sumber data penting yang dapat diolah menjadi informasi adalah
rekam medik.

Kata kunci : masalah kesehatan masyarakat, penelitian kebijakan, SWOT analisis,


kebijakan kesehatan, data, informasi, SIMKES, SIMPUS, SIMRS, system
informasi manajemen
Masalah : kebijakan kesehatan dan system informasi manajemen

c. Konsep mapping

Masalah kebijakan kesehatan

Analisis masalah kebijakan kesehatan


(swot analisis)
Penelitian Kebijakan
Kesehatan
Solusi kebijakan kesehatan

Kebijakan strategis

49
d. Pertanyaan minimal
1. Bagaimana Indikator masalah kesehatan masyarakat ?
2. Apa yang dimaksud penelitian Penelitian kebijakan, dan bagaimana latar belakang,
kegiatan, arah, karakteristik, langkah-langkahnya ?
3. Apa yang dimaksud SWOT analisis, unsur-unsur, langkah-langkahnya ?
4. Bagaimana Mendiskripsikan kebijakan-kebijakan kesehatan?
5. Apa yang dimaksud SIMKES, SIMPUS dan SIMRS ?

e. Materi

PENELITIAN KEBIJAKAN

PENGERTIAN

Penelitian kebijakan, seperti telah diuraikan sebelumnya, termasuk ke dalarn kelompok


penelitian terapan atau dalam lingkup penelitian sosial yang dalam aplikasinya
mengikuti prosedur umum penelitian yang berlaku, disertai dengan sifat spesifiknya.
Secara sederhana penelitian kebijakan dapat didefinisikan sebagai kegiatan penelitian
yang dilakukan untuk mendukung kebijakan. Oleh karena sifatnya mendukung
kebijakan, maka penelitian ini bersifat khas, namun tidak berarti mengada-ada. Ann
Majchrwk (1984) mendefinisikan penelitian kebijakan sebagai proses penyelenggaraan
penelitian untuk mendukung kebijakan atau analisis terhadap masalah-masalah sosial
yang bersifat fundamental secara teratur untuk membantu pengambil kebijakan
memecahkan masalah dengan jalan menyediakan rekomendasi yang berorientasi pada
tindakan atau tingkah laku pragmatik. Oleh karena sifatnya berorientasi kepada tingkah
laku pragmatik, maka yang perlu dihasilkan oleh peneliti kebijakan adalah bukan
terletak pada hingga mana bobot ilmiah sebuah hasil penelitian, namun hingga mana
hasil penelitian punya aplikabilitas atau kemamputerapan dalam rangka memecahkan
masalah sosial.
Kegiatan penelitian kebijakan
1. Diawali dengan pemahaman yang menyeluruh terhadap masalah sosial, seperti
kekurangan nutrisi, kemiskinan, ledakan penduduk, urbanisasi, inflasi, kerawanan
sosial dan lain-lain, dilanjutkan dengan
2. Pelaksanaan penelitian untuk mencari alternatif pemecahan masalah.
3. Kegiatan akhir dari penelitian kebijakan adalah merumuskan rekomendasi
pemecahan masalah untuk disampaikan kepada pembuat kebijakan.

Seperti halnya penclitian-penelitian sosial atau penelitian terapan, penelitian


kebijakan diarahkan untuk memberi efek terhadap tindakan praktis, yaitu pemecahan
masalah sosial. Namun demikian penclitian kebijakan bersifat sangat khas. Kekhasan
penelitian kebijakan terletak pada fokusnya, yaitu berorientasi kepada tindakan untuk
memecahkar. masalah sosial yang unik, yang jika tidak dipecahkan akan memberikan
efek negatif yang sangat luas.

Penelitian kebijakan hadir untuk mengilmiahkan kebijakan atau menghasilkan kebijakan


yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dalam batas-batas yang tidak
berbenturan keras dengan political will atau lingkungan sosial politik di suatu negara.
Ada sekelompok pendukung yang penuh keyakinan bahwa kalaupun otak manusia

50
punya keterbatasan, namun ada saatnya (tentu tidak dapat ditentukan besok, apalagi
hari ini) akan dapat mengimbangi kepelikan dunia sosial melalui suatu sistem rekayasa
yang disebut dengan rekayasa sosial. Karena itu, seperti dflcemukakan oleh Lindblom
(1980) ada kemungkinan kelompok ini untuk meningkatkan peran
komponen analisis (akademik-ilmiah) dan menurunkan bobot politis dalarn perumusan
kebijakan.
Dalarn wawasan atau idealisme ini, proses (steps) perumusan kebijakan berkait erat
dengan proses kerja ilmiah apa pun, yang meliputi:
1 . Identifilkasi dan formulasi masalah kebijakan.

LATAR BELAKANG

Maichruk (1984) mengemukakan bahwa ada tiga latar belakang penelitian kebijakan
yang sungguh-sungguh harus dipahami oleh peneliti, yaitu :

1. Penemuan yang diperoleh dalam penelitian kebijakan hanyalah salah satu dari
banyak masukan yang diperlukan bagi pembuatan kebijakan.
2. Kebijakan itu tidak dibuat, bahwa kebijakan merupakan suatu akumujasi.
3. Kompleksitas kebijakan pada hakikatnya sama dengan kompleksitas masalah
sosial.

Aspek pertama arena kebijakan yang relevan bagi penelitian kebijakan adalah bahwa
penemuan-penemuan penelitian hanyalah salah satu dari banyak masukan yang
diperlukan bagi pembuatan kebijakan atau keputusan kebijakan (policy decision).
Masukan-masukan lain yang menunjang keputusan kebijakan adalah :

1. Pandangan-pandangan dan kearifan-kearifan dari konstituensikonstituensi dan


testemonial-testernonial.
2. Sisi memberi dan menerima antara staf dan atasan, pendapat staf serta keeksisan
kebijakan.
3. Sikap-sikap yang dikonsepsikan sebelumnya.
4. Masukan lain yang relevan.

ARAH DAN HAKIKAT PENELITIAN KEBIJAKAN

Bahwa administrator adalah peserta perumus kebijakan yang utama, sesuai dengan
status formaInya. Administrator atau pimpinan bekeda untuk merumuskan kebiJakan atas
dasar prioritas yang paling mendesak, khususnya yang berkenaan dengan pernecahan
masalah sosial. Makin kompleks dan luasnya tugas-tugas keorganisasian,
menyebabkan kian banyak masalah yang dihadapi oleh pimpinan dalam pekerjaan dan
masalah tersebut tidak dapat dipecahkannya sendiri tanpa pendapat atau informasi
yang memadai, balk kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian kebijakan (policy research)
secara. spesiflk dituJukan untuk membantu pembuat kebijakan (policymaker) dalarn
menyusun rencana kebijakan, dengan jalan memberikan pendapat atau informasi yang
mereka perlukan untuk memecahkan masalah yang kita hadapi sehari-hari.
Dengan demikian, penelitian kebijakan merupakan rangkaian aktivitas yang diawali
dengan

51
1. Persiapan peneliti untuk mengadakan penelitian atau kajian,
2. Pelaksanaan penelitian, dan diakhiri dengan
3. Penyusunan rekomendasi.

Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa penelitian kebijakan pada hakikatnya


merupakan penelitian yang dimaksudkan guna melahirkan rekomendasi untuk pembuat
kebijakan dalam rangka pemecahan masalah sosial. Masalah sosial oleh para peneliti
tidak dapat dipersepsi secara tunggal, oleh karena terdapat banyak persepsi mengenai
masalah sosial, lebih-lebih masalah sosial itu menyangkut seluruh tatanan kehidupan.

Penelitian kebijakan merupakan perpaduan intensif antara pelbagai unsur


pembangunnya, yaitu ilmu, keprigelan, dan Beni (Ann Majchrzak, 1984)i Emu sebagai
padanan kata science dalam bahasa Inggris merupakan batang tubuh dari teori, konsep
dan prinsip-prinsip metodologi. Paling tidak ada dua dimensi ilmu yang terkait di sini,
yaitu ilmu dalam arti subject matter dan ilmu dalam arti metodologi penelitian. Dua hal ini
harus dimiliki oleh peneliti, yang pertarna berkenaan dengan akurasi kajian atas
permasalahan dan yang kedua berkenaan dengan akurasi cara. pengkajian. Keprigelan
(craftlore) adalah seperanglcat teknik kemampuan keija, keteraturan keija berdasarkan
pengalaman dan prosedur operasi standar dalam proses penelitian. Keprigelan umumnya
didapat dari pengalaman penelitian, di samping penguasaan metodologi penell tian yang
diterima di bangku kuliah atau pelatihan. Seni atau kiat (art) adalah langkah, gaya, dan
cara melakukan pada penelitian. Proses kerja dalam penelitian secara metodologis sama
untuk satu metode yang dipakai, namun cara peneliti berbeda dalam proses yaitu sangat
individual sifatnya. Sebagai contoh, untuk menyusun instrumen penelitian, ada peneliti
yang mengawalinya dengan penyusunan kisi-kisi instrumen, namun ada yang hanya
beranjak dari definisi operasional variabel. Dua cara itu pada akhirnya dimaksudkan
untuk - menghasilkan instrumen yang memenuhi kriteria valid dan reliabel, namun
kegiatan awal untuk mencapai kondisi itu berbeda pada masing-masing peneliti.

TIPOLOGI PENELITIAN KEBIJAKAN

Ada empat tipe proses penelitian yang dapat memberikan efek terhadap pemecahan
masalah sosial.
Proses-proses penelitian itu meliputi :
1. Penelitian dasar analisis kebijakan - bukan dalam makna pure research seperti yang
ada pada jenis penelitian tradisional.
2. Penelitian teknikal.
3. Analisis kebijakan.
4. Penelitian kebijakan.

Penelitian sosial dasar (basic sosial research) atau penelitian dasar analisis kebijakan
mengacu kepada penelitian akademik tradisional yang secara umum dilaksanakan pada
beberapa departemen/jurusan di universitas atau di lembaga-lembaga penelitian lain.
Analisis kebijakan (policy analisis) merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk
mengkaji proses pernbuatan kebijakan. Analisis kebijakan ditampilkan sec ara tipikal
oleh ilmuwan atau pakar politik yang berminat dengan proses di mana kebijakan

52
diadopsi sebagai efek dari peristiwa-peristiwa politik. Berkenaan dengan analisis
kebijakan, Lindblom (1986) mengatakan :
Kita sering menjumpai teknik-teknik baru ini digunakan dalam proyekproyek dengan
narna analisis kebijaksanaan (policy analysis). Meski kita rnenggunakan istilah analisis
sebagal sebutan gampang bag! segala macam informasi, pernbicaraan, dan analisis
tentang kebijaksanaan, istilah analisis kebijaksanaan biasanya menunjuk batasan yang
lebih sempit sekitar bentuk-bentuk spesifik dari analisis profesional. Dalarn bentuknya
yang terbalk sua to analisis keb#aksanaan merumuskan masalah kebijaksanaan
sebagai suatu yang utuh, merinci sasaran dan nilai-nilai lainnya, niengajukan dan
mengevaluasi alternatif pernecahan, dan mengidentiflkasikan pemecahan yang paling
erat berkaitan dengan nilai-nfiai yang telah diformulasikan.

Analisis kebijakan (policy analysis), seperti diakui sendiri oleh Lindblom (1986) punya
sejumlah kelemahan. Kelernahan-kelemahan itu terlihat dari empat sisi, yaitu :

1. Analisis tidak selalu benar atau bisa saja salah dan hal ini diakui oleh khalayak
pemilih atau warga.
2. Analisis tidak selalu adaptif untuk menyelesaikan tedadinya konfific antar a nilai
dengan kepentingan.
3. Proses keija analisis lambat dan biayanya mahal.
4. Analisis tidak sepenuhnya dapat menunjukkan secara nyata, masalah mana yang
hams diselesafican segera.
Empat proses penelitian seperti disebutican di muka, diklasifikasikan atas d asar
tindakan dan fokus. Proses penelitian yang berorientasi tinggi pada tindakan (high
action orientation) lebih diarahkan untuk mendapatkan kemanfaatan atau utilitas atau
basil segera dibandingkan dengan proses penelitian yang berorientasi rendah pada
tindakan (low action orientation). Proses penelitian- juga berfolcus pada pertanyaan-
pertanyaan teknikal (technical questions) atau isu-isu fundamental (fundamental
issues). Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan umurnnya mempunyai tiga
sifat, yaitu :
1. Dimensinya sangat luas.
2. Bersifat multifaset.
3. Menggali keanekaragaman konsekuensi bagi kelompok orang dalam jumlah besar.

Penelitian kebijakan hanyalah tipe atau bentuk penelitian dengan dua orientasi utama,
yaitu:
1. Berorientasi kepada tindakan.
2. Berorientasi kepada masalah-masalah yang bersifat fundamental.

Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa orientasi. penclitian ini adalah menyediakan
fasilitas kepada pembuat kebijakan - dalam terminologi manajemen disebut pembuat
keputusan - dengan jalan merumuskan rekornendasi yang berguna baginya. Sernua
tindakan yang mungkin d-;lakukan oleh pembuat kebijakan bagi pernecahan masalah
sosial yang bersifat fundamental diajukan oleh pencliti kebijakan atas dasar penelitian
yang cermat. Dengan cara ini, berarti hanya tindakan-tindakan yang paling tepat
direkornendasikan.

53
KARAKTERISTI K STUDI PENELITIAN KEBIJAKAN

Karakteristik utama penelitian kebijakan menurut Ann Majelmak (1984) adalah sebagai
berikut :
1. Fokus penelitian bersifat multidimensional atau banyak dimensi.
2. Orientasi penelitian bersifat empiris-induktif.
3. Menggabungkan dimensi masa depan dan masa kini.
4. Merespons kebutuhan pernakai basil studi.
5. Menonjolkan dimensi kerja sama secara eksplisit

Karakteristik penclitian kebijakan sebagaimana d-;sebutkan di atas dalam artian biasa


tidak sepenuhnya tidak dimiliki oleh penelitian tradisional lainnya. Perbedaan
karakteristik penelitian kebijakan dengan penelitian lainnya hanya pada penckanan -
penekanan khusus dari masing-masing karakteristik tersebut serta kepaduan masing-
masing karakteristik tersebut.

1. Multidimensi Fokus Penelitian Kebijakan

Fokus penelitian kebijakan bersifat banyak dimensi (multidimensional focusses), yang


dalam terminologi penelitian tradisional sering disebut pendekatan antar atau lintas
bidang. KebiJalcan publik secara tipikal dimaksudlcan untulc memecahkan
masalahmasalah sosial yang lcompleks yang munculnya disebablcan oleh banyak
dimensi, faktor, efek dan peristiwa.

2. Pendekatan Empiris-Induktif dalam Penetitian Kebijakan

Penelitian kebijakan menggunakan pendekatan empiris-induktif (empirico-inductive


approach), karena itu penelitian ini diamali dengan pernahaman terhadap masalah-
masalah sosial dan usahausaha empiris untuk menyusun konsep dan teori-teori kausal
sebagai kajian dari perkembangan masalah-masalah sosial. Dalam kata-kata Bogdan
dan BikIen (1982) dirumuskan bahwa "Analytic induction if an approach to collecting
and analyzing data as well as way to develop theory and test it." Lebih jauh, Nazir
(1985) berpendapat sebagai berikut :

Alasan induktif adalah cara berpikir untuk memberi alasan yang dimulai dengan
pernyataan-pernyataan yang spesifik untuk menymn suatu argumentasi yang bersifat
umum. Alasan secara induktif banyak digunakan untuk menj aj aki aturan-aturan
alamiah dari suatu fenomena.

Misalnya, dari pengamatan bahwa ikan ada mulut, kodok ada mulut, kuda ada mulut,
burung ada mulut, maka ditarik kesimpulan bahwa binatang ada mulut.

3. Berfokus pada Vadabel-vafiabel Lunak

Karakteristik ketiga dari penelitian kebijakan adalah, bahwa penelitian kebijakan


berfolcus pada variabel-variabel lunak (malleable variables). Untulc rnewujudkan
penelitian kebijakan yang benar-benar menghasilkan orientasi tindakan. dan
rekornendasirekornendasi yang dapat di implementasikan, penelitian harus terfokus

54
pada aspek-aspek masalah sosial yang terbuka untuk mempengaruhi dan
mengintervensi. Variabel-variabel yang terbuka untuk mempengaruhi dan
mengintervensi disebut variabel lunak. Penentuan apakah variabel itu merupakan
variabel lunak atau bukan, bukanlah pekeijaan yang mudah. Bagi peneliti kebijakan
pemula, menentulcan variabel sebagai folcus kajian saja sulit, apalagi akan
mensortirnya kedalarn variabel lunak atau bukan. Arturo Israel (1992) dalarn sebuah
laporannya mengenai evaluasi proyelcproyek Bank Dunia mengemukakan sebagai
berilcut :

Derajat efektivitas atau prestasi lembaga dipandang sebagai variabel yang dijelaskan,
dan ada dua belas varlabel bebas atau penjelas dalam putaran awal :
a. Derajat kekhususan kegiatan badan.
b. Derajat persaingan yang Whadapi olch badan.
c. Derajat sebaran geografis dari kegiatan badan.
d. Derajat dukungan politik atau kornitmen.
e. Derajat campur tangan politik terang-terangan.
f. Penampilan para manajer yang terkenal.
g. Efektivitas dalam penerapan teknik-teknik manajemen.
h. Faktor-faktor eksogen.
i. Hasil (tingkat Imbalan) investasi proyek.
j. Derajat keberhasilan program pengernbangan lembaga.
k. Defisit (atau tiadanya pemasukan) atau surplus. 1. Tingkat gaji lebih rendah
daripada rata-rata.

4. Berorientasi kepada Pemakal I-lasil Studi

Ciri keempat penelitian kebijakan adalah, bahwa penclitian ini responsif terhadap
kebutuhan pernakai basil studi. Seperti telah diuraikan pada bagian sebelumnya,
bahwa penelitian kebijakan dapat dilakukan atas biaya lembaga tertentu –yang
berkepentingan langsung terhadap basil studi penclitian tersebut dan dapat juga tidak.
Terlepas dari siapa penyandang dana dan bagairnana hubungan mereka dengan
peneliti kebijakan, yang pasti adalah bahwa penelitian kebijakan dimaksudkan untuk
meresponskebutuhan calon pemakai hasil studi.

Karakteristik kritis penclitian kebijakan adalah mengidentifikasi dan mengenai calon


pernakai hasil stud! (study user), hal ini merupakan fase tersendiri dalam keseluruhan
proses kerja penelitian kebijakan. Pemakai hasil studi kebijakan banyak dan bervariasi,
bisa dalam bentuk individulkelompok dan bisajuga dalam bentuk lembagalorganisasi.
Oleh karena itu, beberapa hal yang harus diidentifikasi atau dikenal oleh peneliti
kebijakan berkenaan dengan study user adalah

a. Status lembaga pernakai.


b. Peran yang ditampilkan oleh lembaga pemakai.
c. Harapanrharapan lernbaga pemakai mengenai basil akhir studi biasanya diketahui
melalui diskusi awal untuk merumuskan masalah penehtian.
d. Karakteristik individu/kelompok pemakai.
e. Keprobadian dan asumsimasumsi individu / kelompok peniakai
f. Disposisi kebutuhan individu / kelompok pemakai

55
5. Mensyaratkan Kerjasama

Karakteristik terakhir penelitian kebUakan adalah, bahwa penelitian kebijakan


niensyaratkan keija sama. Penelitian kebijakan merupakan proses yang sarat nilai
(value-laden process), di mana para pembuat kebijakan banyak terlibat di. dalam
usaha-usaha penelitian. Karena kenyataan demikian, pada saat-saat tertentu sering
menimbulkan konflik tata nilai. Nilai-nilai pengguna hasil studi akan merambah ke
dalam rangkaian keija penelitian kebijakan, seperti pada proses-proses :
a. Perumusan masalah yang akan diselidiki.
b. Perumusan pertai)yaan-pertanyaan penelitian.
c. Pengkaiian terhadap data yang terhimpun.
d. Pengembangan atau pembuatan rekomendasi.
e. Penyebaran basil rekomendasi studi kepada pernakai ataupun pesaing - khusus
untuk penelitian kebijakan yang mempunyai efek luas, termasuk efek bisnis.

Secara spesifik dapat d&emukakan bahwa penelitian kebijakan mempunyai


karakteristik khusus, yaitu
a. Hanya mencakup variabel-variabel kecil atau memilah-milah variabel yang luas
menj adi beberapa subvariabel.
b. Fokus penelitian secara exlusive lebih menonjolkan masa kini daripada masa Ialu
atau kecenderungan masa depan.
c. Gagas mewawas secara eksplisit peranan nilal-nilai, terutama nilai-nilai ilmiah.
d. Kedudukan peneliti berada di bawah bayang-bayang pengguna hasil studi.

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN KEBIJAKAN

Penelitian kebijakan dilaksanakan dengan menernpuh langkah-langkah yang dalam


banyak hal sama dengan penelitian tradislonal. Perbedaan utamanya hanya terletak
telaah_ pustaka. dan_ rexJ unman_ tekamfn.ciasi hacil stiuii_ Peneliti. kebijakan rlun
perlu melakukan telaah pustaka, namun sifatnya bukanlah sebagai predetermined
theory atau predefined theory sebagaimana lazimnya penelitian lainnya. Penelitian
tradislonal pun sering diakhiri dengan rekomendasi, namun sifat rekomendasi. tidak
sama dengan rekomendasi yang dihasilkan dalani penelitian kebijakan.
Ann Majchrzak (1984) mengemukakan lima langkah penelitian kebijakan sebagal
berikut
1. Persiapan.
2. Konseptualisasi studi.
3. Analisis teknikal.
4. Perumusan rekomendasi.
5. Mengkomunikasikan hasil studi.

56
PELAKSANAAN PENELITIAN KEBIJAKAN

PERSIAPAN
lnformasi awal dapat berupa data kuantitatif dan data kualitatif atau nuansa-nuansa
politik serta nuansa-nuansa keorganisasian.
Lebih spesifik dapat dikemuka,kan bahwa informasi awal yang diperlukan oleh peneliti
kebijakan adalah:
1. Isu-isu yang muncul secara temporal dan. kekinian.
2. Konteks pembuatan kebijakan masa lalu.
3. Sumber-sumber studi yang akan digunakan.
4. Tipe rekomendasi studi yang dikehendaki.
5. Ancaman-ancaman yang akan muncul jika masalah yang ada tanpa dipecalikan.
6. Kekuatan clan peluang-peluang yang ada pada sistem.

Aktivitas-aktivitas yang dilakukan. selarna fase persiapan didiskusikan, dengan fokus


utama pembahasan adalah :
1. Jenisjenis informasi awal atau data awal yang harus dikumpulkan dan cara
mengumpulkannya.
2. Metodologi pengumpulan informasi.
3. Isu-isu yang terkait dengan keputusan pelaksanaan penelitian
4. Alat untuk menjaring data awal dan data penelitian.

Ann Maichmak (1984) mengemukakan bahwa ada empat isu pokok yang harus
diketahui olch peneliti sebelum melakukan kerja penclitian kebijakan. Keempat isu
tersebut adalah :

1. Latar pembuatan kebijakan untuk memecahkan masalah sosial.


2. Bentangan rumusan daii dan nilai-nilai yang terkandung dalam masalah-masalah
sosial.
3. Tipc rekomendasi pernecahan masalah sosial yang paling mungkin dirumuskan
dan aplikatif.
4. Surnber-sumber yang dibutuhkan dan tersedia bagi penyclenggaraan studi
penelitian kebijakan

SWOT ANALISIS

Pendahuluan

Lingkungan eksternal mempunyai dampak yang sangat berarti pada sebuah lembaga
pendidikan. Selama dekade terakhir abad ke duapuluh, lembaga-lembaga ekonomi,
masyarakat, struktur politik, dan bahkan gaya hidup perorangan dihadapkan pada
perubahan-perubahan barn. Perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat
informasi dan dari ekonomi yang berorientasi manufaktur ke arah orientasi jasa,
telah menimbulkan dampak yang signifikan terhadap permintaan atas program barn
pendidikan kejuruan yang ditawarkan (Martin, 1989).

Analisis kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman atau SWOT (juga


dikenal sebagai analisis TOWS dalam beberapa buku manajemen), menyediakan

57
sebuah kerangka pemikiran untuk para administrator pendidikan dalam
memfokuskan secara lebih baik pada layanan kebutuhan dalam masyarakat.

SWOT adalah sebuah teknik yang sederhana, mudah dipahami, dan juga bias
digunakan dalam merumuskan strategi-strategi dan kebijakan-kebijakan untuk
pengelolaan pegawai administrasi (administrator). Sehingga, SWOT disini tidak
mempunyai akhir, artinya akan selalu berubah sesuai dengan tuntutan jaman.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menunjukkan bagaimana SWOT dapat
digunakan oleh para administrator dalam menganalisis dan memulai pembuatan
program baru yang inovatif untuk ditawarkan dalam pendidikan kejuruan.

Analisis SWOT secara sederhana dipahami sebagai pengujian terhadap kekuatan dan
kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan dan ancaman lingkungan
eksternalnya. SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan digunakan sebagai
langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan sebagai perencanaan
strategis dalam berbagai terapan (Johnson, dkk., 1989; Bartol dkk., 1991).
Sedangkan pemahaman mengenai faktor-faktor eksternal, (terdiri atas ancaman dan
kesempatan), yang digabungkan dengan suatu pengujian mengenai kekuatan dan
kelemahan akan membantu dalam mengembangkan sebuah visi tentang masa
depan. Prakiraan seperti ini diterapkan dengan mulai membuat program yang
kompeten atau mengganti program-program yang tidak relevan serta berlebihan
dengan program yang lebih inovatif dan relevan.

Langkah pertama dalam analisis SWOT adalah membuat sebuah lembaran kerja
dengan jalan menarik sebuah garis persilangan yang membentuk empat kuadran,
keadaan masing-masing satu untuk kekuatan, kelemahan, peluang/kesempatan, dan
ancaman. (Johnson, et al., 1989)

ARAH KEBIJAKAN PROGRAM KBN TAHUN 2010

1. Memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB terutama bagi keluarga miskin,


berpendidikan rendah, PUS MUPAR, daerah pedesaan, tertinggal, terpencil,
perbatasan dan daerah dengan unmet need tinggi
2. Peningkatan kualitas penyediaan dan pemanfaatan alkon MKJP
3. Peningkatan akses informasi dan kualitas pelayanan KR bagi keluarga dan individu
untuk meningkatkan status kesehatan perempuan dan anak dalam mewujudkan
keluarga sehat dengan jumlah anak ideal serta pencegahan berbagai penyakit
seksual dan alat reproduksi
4. Peningkatan akses informasi dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi remaja
dalam rangka menyiapkan kehidupan berkeluarga dan pendewasaan usia
perkawinan
5. Peningkatan kemampuan keluarga dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh
kembang anak, pembinaan kesehatan ibu, bayi dan anak serta pembinaan kual itas
hidup keluarga secara terpadu
6. Pemberdayaan ketahanan keluarga akseptor KB untuk mewujudkan
kemandiriannya dalam memenuhi kebutuhan keluarganya

58
7. Mengoptimalkan upaya-upaya advokasi,promosi dan KIE Program KB Nasional
8. Pembinaan kuantitas dan kualitas SDM di lini lapangan dan kualitas manajemen
pengelolaan program KB nasional
9. Peningkatan kualitas pengelolaan data dan informasi Program KB Nasional

KEBIJAKAN KESEHATAN
 Penggalangan kemitraan lintas sektor
 Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas
 Peningkatan kemampuan daerah
 Pemberdayaan masyarakat dan swasta
 Pengembangan sumber daya kesehatan
 Pelaksanaan upaya kesehatan

Kebijakan program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat


 Pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan
edukasi (KIE)
 Pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat dan generasi muda
 Peningkatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat

Kebijakan program lingkungan sehat


 Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar
 Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan
 Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan
 Pengembangan wilayah sehat

Kebijakan program upaya kesehatan


 Pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya
 Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan
jaringannya
 Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial
 Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-kurangnya
promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana

Kebijakan program pelayanan kesehatan


 Pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya
 Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan
jaringannya
 Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial
 Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan

Kebijakan program upaya kesehatan perorangan


 Pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin kelas III RS
 Pembangunan sarana dan parasarana RS di daerah tertinggal secara selektif
 Perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit
 Pengadaan obat dan perbekalan RS
 Peningkatan pelayanan kesehatan rujukan

59
 Pengembangan pelayanan kedokteran keluarga
 Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan

Kebijakan program pencegahan dan pemberantasan penyakit


 Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko
 Peningkatan imunisasi
 Penemuan dan tatalaksana penderita
 Peningkatan surveilans epidemologi
 Peningkatan KIE pencegahan dan pemberantasan penyakit

Kebijakan program perbaikan gizi masyarakat


 Peningkatan pendidikan gizi
 Penangulangan KEP, anemia gizi besi, GAKI, kurang vitamin A, kekuarangan zat
gizi mikro lainnya
 Penanggulangan gizi lebih
 Peningkatan surveilans gizi
 Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi

Kebijakan program sumber daya kesehatan


 Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan
 Peningkatan keterjangkauan harga obat dan perbekalan kesehatan terutama untuk
penduduk miskin
 Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah sakit

Kebijakan program kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan


 Pengkajian dan penyusunan kebijakan
 Pengembangan sistem perencanaan dan pengangaran, pelaksanaan dan
pengendalian, pengawasan dan penyempurnaan administrasi keuangan, serta
hukum kesehatan
 Pengembangan sistem informasi kesehatan
 Pengembangan sistem kesehatan daerah
 Peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan

Kebijakan program penelitian dan pengembagan kesehatan


 Penelitian dan pengembangan
 Pengembangan tenaga, sarana dan prasarana penelitian
 Penyebarluasan dan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan

60
LEMBAR BELAJAR MAHASISWA 4

Jam Materi Nama Ruang


Hari/tanggal Instruktur
Senin 08.10-09.50 SGD R SGD Lt-1
26-9-2016
09.50-11.30 KP : Peran kader Drg, Baehaqi, R KULIAH Lt-1
kesehatan dan MM
konsep pelatihan
kader kesehatan
Selasa 08.10-11.30 Skill lab TUTOR R SGD Lt-1
27-9-2016
12.30-14.10 KP : Pencegahan Drg Baehaqi, R KULIAH Lt-1
penyakit gigi dan MM
mulut serta DHE

Rabu 08.10-11.30 Skil lab TUTOR R SGD Lt-1


28-9-2016
Kamis 08.10-09.50 KP : Keterkaitan Drg Aova R KULIAH Lt-1
29-9-2016 perilaku kesehatan, Rofkoti
promosi kesehatan,
dan pemberdayaan
kesehatan

09.50-11.30 KP : Interaksi social Drg. Aova R KULIAH t-1


dalam kelompok Rovkoti
Jumat 08.10-09.50 SGD R SGD Lt-1
23-9-2016
14.00-15.40 Ujian MID Blok R.KULIAH Lt.1

61
Modul : 4 (Pemberdayaan Masyarakat )
Unit Belajar :
a. Judul : Ternyata masyarakat bisa diberdayakan ya ?
b. Sasaran belajar :
1. Menjelaskan program promosi kesehatan di Indonesia (SGD)
2. Menjelaskan kedudukan pemberdayaan masyarakat dalam promosi
kesehatan (SGD)
3. Menjelaskan program pembangunan kesehatan di Indonesia dan Sistem
Kesehatan Nasional
4. Menjelaskan cara menumbuh kembangkan partisipasi masyarakat dalam
bidang kesehatan (SGD)

Skenario
Program pembangunan kesehatan di Indonesia terus digulirkan, partisipasi aktif dari
masyarakat mempunyai andil yang besar dalam mensukseskan program-program
tersebut. Pemberdayaan masyarakat di puskesmas X sudah berjalan cukup baik,
namun masih ada implementation gap dalam proses pengimplementasiannya.
Puskesmas yang seharusnya hanya menjadi fasilitator masih menjalankan aktivitas
kegiatan posyandu yang seharusnya dikerjakan oleh para kader posyandu. Cara
penyampaian atau komunikasi dari para petugas kesehatan masih kurang sesuai
dengan mayarakat. Pemerintah setempat khususnya Dinas Kesehatan seharusnya
ikut serta dalam menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat dan mendukung
kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam promosi kesehatan.

Kata kunci : promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, partisipasi masyarakat


Masalah : Pemberdayaan kesehatan

c. Konsep mapping

Program Pembangunan Partisipasi masyarakat


Kesehatan

Bina suasana

Pemberdayaan
Promosi Kesehatan Kesehatan

Advokasi

d. Pertanyaan minimal

62
1. Apa Kegiatan Promosi Kesehatan ?
2. Apa Visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi program promosi kesehatan ?
3. Bagaimana Pemberdayaan Kesehatan dalam promosi kesehatan ?
4. Apa Tujuan pemberdayaan masyarakat ?
5. Bagaimana Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat ?
6. Apa Pengertian, tujuan, dan sasaran program partisipasi masyarakat ?
7. Bagaimana Kebijaksanaan pokok dan strategi peningkatan program partisipasi
masyarakat ?
8. Bagaiamana Langkah dan kegiatan pengembangan partisipasi masyarakat ?
9. Apa Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat ?:
10. Bagaimana Bentuk-Bentuk / Tingkat-Tingkat partisipasi masyarakat ?
11. Apa Faktor pendorong dan penghambat partisipasi masyarakat ?
12. Apa Keuntungan partisipasi masyarakat ?
13. Bagaimana Kedudukan pemberdayaan sebagai dasar pembangunan kesehatan?

b. Materi

Pengertian dan Lingkup Promosi Kesehatan

Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang semakin
penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang
signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai masalah promosi kesehatan. Pada 21
November 1986, World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Konferensi
Internasional Pertama bidang Promosi Kesehatan yang diadakan di Ottawa, Kanada.
Konferensi ini dihadiri oleh para ahli kesehatan seluruh dunia, dan menghasilkan sebuah
dokumen penting yang disebut Ottawa Charter (Piagam Ottawa). Piagam ini menjadi
rujukan bagi program promosi kesehatan di tiap negara, termasuk Indonesia.

Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang
memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka
(Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to
improve, their health, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah kesadaran
di dalam diri orang-orang tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka
sendirilah yang akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka.

Lebih lanjut dokumen itu menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang
sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu
mengenal serta mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya dan agar
mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan
sebagainya). Kesehatan adalah sebuah konsep positif yang menitikberatkan sumber daya
pada pribadi dan masyarakat sebagaimana halnya pada kapasitas fisik. Untuk itu, promosi
kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan, akan tetapi jauh
melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986).

Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat


melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat
menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya

63
masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan.
Program ini ditujukan untuk memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat agar
mampu menumbuhkan perilaku hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan
berbasis masyarakat.

Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif), pencegahan penyakit


(preventif), pengobatan (kuratif), maupun rehabilitasi. Dalam hal ini, orang-orang yang
sehat maupun mereka yang terkena penyakit, semuanya merupakan sasaran kegiatan
promosi kesehatan. Kemudian, promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang
kehidupan, dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, tempat-tempat umum, dan tentu saja
kantor-kantor pelayanan kesehatan.

Kegiatan Promosi Kesehatan menurut Ottawa Charter (1986)

Kesehatan memerlukan prasyarat-prasyarat yang terdiri dari berbagai sumber daya dan
kondisi dasar, meliputi perdamaian (peace), perlindungan (shelter), pendidikan (education),
makanan (food), pendapatan (income), ekosistem yang stabil (a stable eco-system),
sumber daya yang berkesinambungan (a sustainable resources), serta kesetaraan dan
keadilan sosial (social justice and equity) (WHO, 1986). Upaya-upaya peningkatan promosi
kesehatan harus memerhatikan semua prasyarat tersebut.

WHO, lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa pada
tahun 1986, telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap negara
untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. Berikut akan disediakan terjemahan dari
Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. Menurut
Piagam Ottawa, kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti:

1. Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public


policy). Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. Promosi
kesehatan menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua
sektor pada semua level, mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi
kesehatan dari keputusan mereka dan agar mereka menerima tanggung jawab
mereka atas kesehatan.

Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun


dapat saling mengisi termasuk legislasi, perhitungan fiskal, perpajakan, dan
perubahan organisasi. Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa
kepada kesehatan, pendapatan, dan kebijakan sosial yang menghasilkan
kesamaan yang lebih besar. Kegiatan terpadu memberikan kontribusi untuk
memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih sehat, pelayanan jasa
publik yang lebih sehat dan lebih bersih, dan lingkungan yang lebih menyenangkan.

Kebijakan promosi kesehatan memerlukan identifikasi hambatan untuk diadopsi


pada kebijakan publik di luar sektor kesehatan, serta cara menghilangkannya. Hal

64
ini dimaksudkan agar dapat membuat pilihan yang lebih sehat dan lebih mudah
untuk pembuat keputusan.

2. Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments).


Masyarakat kita kompleks dan saling berhubungan. Kesehatan tidak dapat
dipisahkan dari tujuan-tujuan lain. Kaitan yang tak terpisahkan antara manusia dan
lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi
kesehatan. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia, bangsa, kawasan, dan
komunitas yang serupa, adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan
yang timbal-balik —untuk memelihara satu sama lain, komunitas, dan lingkungan
alam kita. Konservasi sumber daya alam di seluruh dunia harus ditekankan sebagai
tanggung jawab global.

Perubahan pola hidup, pekerjaan, dan waktu luang memiliki dampak yang signifikan
pada kesehatan. Pekerjaan dan waktu luang harus menjadi sumber kesehatan
untuk manusia. Cara masyarakat mengatur kerja harus dapat membantu
menciptakan masyarakat yang sehat. Promosi kesehatan menciptakan kondisi
hidup dan kondisi kerja yang aman, yang menstimulasi, memuaskan, dan
menyenangkan.

Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang berubah pesat.—


terutama di daerah teknologi, daerah kerja, produksi energi dan urbanisasi–- sangat
esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan keuntungan yang
positif bagi kesehatan masyarakat. Perlindungan alam dan lingkungan yang
dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi
kesehatan apa saja.

3. Memperkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions).


Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien
dalam mengatur prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan
melaksanakannya untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini
adalah memberdayakan komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha
dan nasib mereka.

Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan


material dalam komunitas untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan
sosial, dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat
partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh
serta terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan,
sebagaimana penggalangan dukungan.

4. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills). Promosi


kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan
informasi, pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup. Dengan
demikian, hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih
dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan
yang kondusif bagi kesehatan. Memungkinkan masyarakat untuk belajar melalui
kehidupan dalam menyiapkan diri mereka untuk semua tingkatannya dan untuk

65
menangani penyakit dan kecelakaan sangatlah penting. Hal ini harus difasilitasi
dalam sekolah, rumah, tempat kerja, dan semua lingkungan komunitas.

5. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services). Tanggung jawab


untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara individu,
kelompok komunitas, profesional kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, dan
pemerintah. Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan
yang berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. Peran sektor kesehatan harus
bergerak meningkat pada arah promosi kesehatan, di samping tanggung jawabnya
dalam menyediakan pelayanan klinis dan pengobatan. Pelayanan kesehatan harus
memegang mandat yang meluas yang merupakan hal sensitif dan ia juga harus
menghormati kebutuhan kultural. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu
dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat, dan membuka saluran antara
sektor kesehatan dan komponen sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan fisik yang
lebih luas.

Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian yang kuat untuk


penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan
profesional. Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan
pengorganisasian pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada
kebutuhan total dari individu sebagai manusia seutuhnya.

6. Bergerak ke masa depan (moving into the future). Kesehatan diciptakan dan
dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan mereka sehari-hari di
mana mereka belajar, bekerja, bermain, dan mencintai. Kesehatan diciptakan
dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan
dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang, dan dengan
memastikan bahwa masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang
memungkinkan pencapaian kesehatan oleh semua anggotanya.

Merawat, kebersamaan, dan ekologi adalah isu-isu yang penting dalam


mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. Untuk itu, semua yang terlibat
harus menjadikan setiap fase perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan
promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama.

Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, serta Strategi Program Promosi Kesehatan Indonesia

Kebijakan Indonesia Sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat,
perilaku sehat dan pelayanan kesehatan bermutu adil dan merata. Kebijakan Nasional
Promosi kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi
nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.
1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010).

Dalam tatanan otonomi daerah, Visi Indonesia Sehat 2010 akan dapat dicapai apabila
telah tercapai secara keseluruhan Kabupaten/Kota Sehat. Upaya pengembangan program
promosi kesehatan dan PHBS yang lebih terarah, terencana, terpadu dan

66
berkesinambungan, dikembangkan melalui Kabupaten/Kota percontohan integrasi promosi
kesehatan dengan sasaran utama adalah PHBS Tatanan Rumah Tangga (individu,
keluarga, masyarakat) dan Institusi Pendidikan, diharapkan akan berkembang kearah
Desa/Kelurahan, Kecamatan/ Puskesmas dan Kabupaten/Kota sehat menuju Indonesia
Sehat 2010. Pedoman ini merupakan salah satu acuan yang dapat digunakan oleh
mahasiswa kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat dalam pengembangan
Kabupaten/Kota percontohan integrasi PHBS.

Pengertian promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan


masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka
dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya
masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan.

Visi Promosi Kesehatan.


Visi Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1193/Menkes/SK/X/2004 adalah “Perilaku Hidup Bersih & Sehat 2010” atau “PHBS
2010”. Yang dimaksud dengan “PHBS 2010” adalah keadaan dimana individu-individu
dalam rumah tangga (keluarga) masyarakat Indonesia telah melaksanakan perilaku hidup
bersih dan sehat dalam rangka :
a. Mencegah timbulnya penyakit dan masalah-masalah kesehatan lainnya
b. Menanggulangi penyakit dan masalah-masalah kesehatan lain, dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan
c. Memanfaatkan pelayanan kesehatan
d. Mengembangkan dan menyelenggarakan upaya kesehatan bersumber daya
masyarakat
Misi Promosi Kesehatan
a. Memberdayakan individu, keluarga, dan kelompok-kelompok dalam masyarakat, baik
melalui pendekatan individu dan keluarga, maupun melalui pengorganisasian dan
penggerakan masyarakat
b. Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya perilaku hidup
bersih dan sehat masyarakat
c. Mengadvokasi para pengambil keputusan dan penentu kebijakan serta pihak-pihak
lain yang berkepentingan (stakeholders) dalam rangka :
 Mendorong diberlakukannya kebijakan dan peraturan perundangundangan
yang berwawasan kesehatan
 Mengintegrasikan promosi kesehatan, khususnya pemberdayaan masyarakat,
dalam program-program kesehatan
 Meningkatkan kemitraan sinergis antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah, serta antara pemerintah dengan masyarakat (termasuk LSM) dan
dunia usaha.
 Meningkatkan investasi dalam bidang promosi kesehatan pada khususnya dan
bidang kesehatan pada umumnya

Tujuan dan Sasaran Promosi Kesehatan

67
a. Individu dan keluarga
 Memperoleh informasi kesehatan melalui berbagai saluran, baik langsung
maupun media massa
 Mempunyai pengetahuan, kemauan dan kemampuan untuk memelihara,
meningkatkan dan melindungi kesehatannya
 Memperaktikkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menuju keluarga
atau rumah tangga sehat
 Mengupayakan paling sedikit salah seorang menjadi kader kesehatan bagi
keluarga
 Berperan aktif dalam upaya/kegiatan kesehatan.

b. Tatanan sarana kesehatan, institusi pendidikan, tempat kerja dan tempat umum
 Masing-masing tatanan mengembangkan kader-kader kesehatan
 Mewujudkan tatanan yang sehat menuju terwujudnya kawasan sehat.

c. Organisasi masyarakat/organisasi profesi/LSM dan media massa


 Menggalang potensi untuk mengembangkan perilaku sehat masyarakat
 Bergotong royong untuk mewujudkan lingkungan sehat
 Menciptakan suasana yang kondusif untuk mendukung perubahan perilaku
sehat.

d. Program/petugas kesehatan
 Melakukan integrasi promosi kesehatan dalam program dan kegiatan
kesehatan
 Mendukung tumbuhnya perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat,
khususnya melalui pemberdayaan individu, keluarga atau kelompok yang
menjadi kliennya
 Meningkatkan mutu pemberdayaan masyarakat dan pelayanan kesehatan yang
memberikan kepuasan kepada masyarakat.

e. Lembaga pemerintah/politisi/swasta
 Peduli dan mendukung upaya kesehatan, minimal dalam mengembangkan
lingkungan dan perilaku sehat
 Membuat kebijakan dan peraturan perundang-undangan dengan
memperhatikan dampaknya dibidang kesehatan.

Strategi Promosi Kesehatan

Menyadari bahwa perilaku adalah sesuatu yang rumit. Perilaku tidak hanya menyangkut
dimensi kultural yang berupa sistem nilai dan norma, melainkan juga dimensi ekonomi,
yaitu hal-hal yang mendukung perilaku, maka promosi kesehatan diharapkan dapat
melaksanakan strategi yang bersifat paripurna (komprehensif), khususnya dalam
menciptakan perilaku baru. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga
strategi dasar promosi kesehatan yaitu :

68
a. Gerakan Pemberdayaan. Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secara
terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta
proses membantu sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi
tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari
mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice).

Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga, serta kelompok
masyarakat. Bilamana sasaran sudah akan berpindah dari mau ke mampu
melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini
kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang seringkali
dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian
masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat (community
development). Untuk itu sejumlah individu yang telah mau, dihimpun dalam suatu
kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang
kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari
pemerintah atau dari dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi
kesehatan dengan program kesehatan yang didukungnya. Hal-hal yang akan
diberikan kepada masyarakat oleh program kesehatan sebagai bantuan, hendaknya
disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai
dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan lebih kepada untuk


meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. Jadi sifatnya bottom-
up (dari bawah ke atas). Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan
masyarakat dalam suatu program. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari
masyarakat maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki
daya ungkit yang lebih besar bagi perubahan perilaku karena dapat menimbulkan
suatu nilai di dalam masyarakat bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari
kita dan untuk kita.

Dengan pemberdayaan masyarakat, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif


atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Sebagai unsur dasar dalam
pemberdayaan, partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan. Pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan
pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya.

b. Bina suasana. Bina suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang
mendorongindividu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang
diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatuapabila
lingkungan sosial dimana pun ia berada (keluarga di rumah, orangorangyang menjadi
panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, danain-lain, dan bahkan
masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut.

Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat, khususnya


dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan
Bina Suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam Bina Suasana, yaitu :
a. Pendekatan Individu

69
b. Pendekatan Kelompok
c. Pendekatan Masyarakat Umum

c. Advokasi. Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk
mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders).
Pihak-pihak yang terkait ini bisa berupa tokoh masyarakat formal yang umumnya
berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan penyandang dana
pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat informal seperti tokoh
agama, tokoh pengusaha, dan lain-lain yang umumnya dapat berperan sebagai
penentu ”kebijakan” (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai penyandang dana
non pemerintah.

Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi
jarang diperoleh dalam waktu singkat. Pada diri sasaran advokasi umumnya
berlangsung tahapan-tahapan, yaitu (1) mengetahui atau menyadari adanya
masalah, (2) tertarik untuk ikut mengatasi masalah, (3) peduli terhadap pemecahan
masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah, (4)
sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif
pemecahan masalah, dan (5) memutuskan tindak lanjut kesepakatan. Dengan
demikian, maka advokasi harus dilakukan secara terencana, cermat, dan tepat.

Bahan-bahan advokasi harus disiapkan dengan matang, yaitu :


- Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi
- Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah
- Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah
- Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based
- Dikemas secara menarik dan jelas
- Sesuai dengan waktu yang tersedia.

Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-


orang di bidang kesehatan, utamanya promosi kesehatan, sebagai bentuk
pengawalan terhadap kesehatan. Advokasi ini lebih menyentuh pada level pembuat
kebijakan, bagaimana orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan bisa
memengaruhi para pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan memerhatikan
kesehatan. Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat
kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan
dan peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi
perilaku sehat dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi, 2007). Advokasi bergerak
secara top-down (dari atas ke bawah). Melalui advokasi, promosi kesehatan masuk
ke wilayah politik.

Pemberdayaan Kesehatan dalam promosi kesehatan

Promosi kesehatan adalah suatu proses membantu individu dan masyarakat meningkatkan
kemampuan dan keterampilannya mengontrol berbagai faktor yang berpengaruh pada
kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya (WHO). Promosi
kesehatan adalah kombinasi dari pendidikan kesehatan dan faktor-faktor organisasi,

70
ekonomi, dan lingkungan yang seluruhnya mendukung terciptanya perilaku kesehatan
meliputi: perilaku pencegahan, perilaku sakit, dan perilaku peran sakit.

Misi dari promosi kesehatan adalah advokasi, mediasi, dan pemberdayaan. Yang
dimaksud dengan advokasi adalah upaya meyakinkan para pengambil kebijakan agar
memberikan dukungan berbentuk kebijakan terhadap suatu program. Mediasi adalah
upaya mengembangkan jejaring atau kemitraan, lintas program, lintas sektor dan lintas
institusi guna menggalang dukungan bagi implementasi program. Adapun pemberdayaan
berarti upaya meningkatkan kemampuan kelompok sasaran sehingga kelompok sasaran
mampu mengambil tindakan tepat atas berbagai permasalahan yang dialami.

Apabila dilihat dari perkembangan adopsi pemberdayaan ke dalam konsep promosi


kesehatan, terdapat beberapa tonggak pencapaian sebagai berikut:
1. Piagam Ottawa (1986) menyatakan bahwa ‘partisipasi adalah elemen utama dalam
definisi promosi kesehatan”. Pada saat yang sam berkembang pendekatan gerakan
“kota sehat” dengan pendekatan promosi kesehatan.
2. Deklarasi Jakarta (1997) berbunyi bahwa keberadaan dari invidu-invidu sebagai
tujuan promosi kesehatan.

Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan sasaran utama dari promosi


kesehatan. Masyarakat atau komunitas merupakan salah satu dari strategi global promosi
kesehatan pemberdayaan (empowerment) sehingga pemberdayaan masyarakat sangat
penting untuk dilakukan agar masyarakat sebagai primary target memiliki kemauan dan
kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.

Tujuan pemberdayaan masyarakat

Pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran,


kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara,
melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Batasan pemberdayaan dalam bidang kesehatan meliputi upaya untuk menumbuhkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan
sehingga secara bertahap tujuan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk:
- Menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman akan kesehatan individu,
kelompok, dan masyarakat.
- Menimbulkan kemauan yang merupakan kecenderungan untuk melakukan suatu
tindakan atau sikap untuk meningkatkan kesehatan mereka.
- Menimbulkan kemampuan masyarakat untuk mendukung terwujudnya tindakan atau
perilaku sehat.

Suatu masyarakat dikatakan mandiri dalam bidang kesehatan apabila:


a) Mereka mampu mengenali masalah kesehatan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan terutama di lingkungan tempat tinggal mereka
sendiri. Pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan tentang penyakit, gizi dan
makanan, perumahan dan sanitasi, serta bahaya merokok dan zat-zat yang
menimbulkan gangguan kesehatan.
b) Mereka mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri dengan menggali
potensi-potensi masyarakat setempat.

71
c) Mampu memelihara dan melindungi diri mereka dari berbagai ancaman kesehatan
dengan melakukan tindakan pencegahan.
d) Mampu meningkatkan kesehatan secara dinamis dan terus-menerus melalui
berbagai macam kegiatan seperti kelompok kebugaran, olahraga, konsultasi dan
sebagainya.

Peran petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat

a. Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program


pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian masyarakat.
b. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam melaksanakan
kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau berkontribusi terhadap program
tersebut.
c. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada masyarakat dengan
melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional.

Ciri pemberdayaan masyarakat


a. Community leader: petugas kesehatan melakukan pendekatan kepada tokoh
masyarakat atau pemimpin terlebih dahulu. Misalnya Camat, lurah, kepala adat,
ustad, dan sebagainya.
b. Community organization: organisasi seperti PKK, karang taruna, majlis taklim, dan
lainnnya merupakan potensi yang dapat dijadikan mitra kerja dalam upaya
pemberdayaan masyarakat.
c. Community Fund: Dana sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM) yang dikembangkan dengan prinsip gotong royong sebagai salah satu prinsip
pemberdayaan masyarakat.
d. Community material : setiap daerah memiliki potensi tersendiri yang dapat digunakan
untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan. Misalnya, desa dekat kali pengahsil pasir
memiliki potensi untuk melakukan pengerasan jalan untuk memudahkan akses ke
puskesmas.
e. Community knowledge: pemberdayaan bertujuan meningkatkan pengetahuan
masyarakat dengan berbagai penyuluhan kesehatan yang menggunakan pendekatan
community based health education.
f. Community technology: teknologi sederhana di komunitas dapat digunakan untuk
pengembangan program kesehatan misalnya penyaringan air dengan pasiratau
arang.

Partisipasi Masyarakat Dalam Pemberdayaan Kesehatan

Pengertian, Tujuan, dan Sasaran Program Partisipasi Masyarakat

72
Partisipasi masyarakat adalah suatu bentuk bantuan masyarakat dalam hal pelaksanaan
upaya kesehatan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitattif dalam bentuk bantuan tenaga,
dana, sarana, prasarana serta bantuan moralitas sehingga tercapai tingkat kesehatan yang
optimal.

Partisipasi masyarakat adalah proses untuk :


a. menumbuhkan dan meningkatkan tanggung jawab individu, keluarga terhadap
kesehatan / kesejahteraan dirinya, keluarganya dan masyarakat
b. mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi dalam pembangunan kesehatan,
sehingga individu / keluarga tumbuh menjadi perintis pembangunan (agent of
development) yang dilandasi semangat gotong royong.

Tujuan Umum :
Meningkatnya jumlah dan mutu upaya masyarakat dalam bidang kesehatan

Tujuan Khusus :
a. meningkatnya kemampuan pemimpin, pemuda, dan tokoh masyarakat dalam merintis
dan menggerakkan upaya kesehatan di masyarakat
b. meningkatnya kemampuan organisasi masyarakat dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan
c. meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam menggali,
menghimpun dan mengelola dana / sarana masyarakat untuk upaya kesehatan.

Sasaran Program
a. Tokoh masyarakat (tokoh formal, tokoh adat, tokoh agama dan sebagainya)
b. Keluarga dan dasa wisma (persepuluhan keluarga)
c. Kelompok masyarakat dengan kebutuhan khusus kesehatan (generasi muda, wanita,
angkatan kerja dan lain-lain)
d. Organisasi masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung dapat
menyelenggarakan upaya kesehatan, antara lain : organisasi profesi, pengobatan
tradisional, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan sebagainya
e. Masyarakat umum di desa, di kota dan di pemukiman khusus (tarnsmigran dan
sebagainya)

Kebijaksanaan Pokok Dan Strategi Peningkatan Program Partisipasi Masyarakat


Kebijaksanaan pokok
A. Dilakukan melalui berbagai jalur :
a. mengutamakan organisasi kemasyarakatan yang ada
b. menerapkan teknologi komunikasi, informasi, motivasi (KIM)
B. Pembentukan dan pembinaan kepemimpinan yang berorientasi kesehatan terhadap
pemimpin/pemuda/tokoh dalam organisasi kemasyarakatan.
C. Pemberian kemampuan, kekuatan dan kesempatan yang lebih banyak kepada
organisasi kemasyarakatan untuk berkiprah dalam pembangunan kesehatan dengan
mendaya gunakan sumberdaya masyarakat sendiri
D. Peningkatan para penyelenggara upaya kesehatan dalam menerapkan (KIM) dan
menggalang (PSM) untuk pembangunan kesehatan

73
Strategi Peningkatan
A. mematangkan kesiapan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan
kesehatan dengan menerapkan Komunikasi Informasi dan Motivasi (KIM) dalam rangka
menumbuhkan “public opinion” yang positif yang dilakukan melalui pendekatan kepada
:
a. individu
b. keluarga (diberikan dengan pendekatan perorangan)
c. kelompok persepuluhan
d. organisasi / kelembagaan masyarakat, dan
e. masyarakat umum (dilakukan melalui penggunaan media elektronik, media
cetak dan tradisional)
B. mewujudkan pemimpin dan perintis pembangunan kesehatan dalam masyarakat
dengan pendekatan :
a. formal : melalui LKMD / PKK dan perangkatnya
b. informal : melalui organisasi kemasyarakatan
c. kelompok masyarakat : (organisasi / kelompok keagamaan, kewanitaan,
kepemudaan, ketenaga kerjaan, ekonomi, pendidikan, peminatan, profesi)
C. mengenal, mengajak, memberi kesempatan dan melibatkan berbagai organisasi
kemasyarakatan untuk berkiprah dalam pembangunan kesehatan sesuai dengan
kemampuan dan kewenangannya di semua tingkat
D. menyelenggarakan pendidikan dan latihan kelanjutan bagi para penyelenggara upaya
kesehatan guna mendalami dan mengamalkan pendekatan masyarakat yang berhasil
guna dan berdaya guna.

Langkah Dan Kegiatan Pengembangan Partisipasi Masyarakat

Langkah Pengembangan Partisipasi Masyarakat:


A. penggalangan dukungan penentu kebijaksanaan, pemimpin wilayah, lintas sektor dan
berbagai organisasi kesehatan yang dilaksanakan melalui dialog, seminar, lokakarya
dalam rangka KIM, dengan memnfaatkan media masa dan sistem informasi kesehatan.
B. Persiapan petugas penyelenggara melalui pelatihan, orientasi atau sarasehan
kepemimpinan di bidang kesehatan
C. Persiapan masyarakat melalui rangkaian kegiatan untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat dalam mengenal dan memecahkan masalah kesehatan, dengan menggali
dan menggerakkan sumber daya yang dimilikinya
D.
Kegiatan Mengembangkan Partisipasi Masyarakat:
A. pendekatan kepada tokoh masyarakat
B. survey mawas diri masyarakat untuk mengenali masalah kesehatan (diagnosa masalah
kesehatan)
C. musyawarah masyarakat desa untuk penentuan pemecahan masalah kesehatan yang
dihadapi (penetapan resep pemecahan masalah oleh masyarakat dan latihan kader)
D. pelaksanaan kegiatan kesehatan oleh dan untuk masyarakat melalui kadernya yang
telah terlatih (tindakan terapi oleh masyarakat)
E. pengembangan dan pelestarian kegiatan kesehatan oleh masyarakat

74
Faktor yang mempengaruhi Partisipasi Masyarakat:

1. Perilaku individu
Perilaku individu dipengaruhi oleh berbagai hal seperti : tingkat pengetahuan, sikap
mental, tingkat kebutuhan individu, tingkat keterikatan dalam kelompok, tingkat
kemampuan sumber daya yang ada.

a. Tingkat pengetahuan. Tingkat pengetahuan seseorang mempengaruhi


perilaku individu. Makin tinggi pendidikan / pengetahuan kesehatan seseorang,
makin tinggi kesadaran untuk berpartisipasi. Penelitian menunjukkan bahwa
ada hubungan langsung antar tingkat pendidikan ibu dan kesehatan
keluarganya.
Dalam permasalahan kesehatan, sering dijumpai bahwa persepsi masyarakat
tidak selalu sama dengan persepsi dengan persepsi pihak provider kesehatan
(tenaga kesehatan).
Untuk mencapai kesepakatan atau kesamaan persepsi sehingga tumbuh
keyakinan dalam hal masalah kesehatan yang dihadapi diperlukan suatu
proses (KIM) yang mantap. Dalam proses ini diharapkan terjadi perubahan
perilaku seseorang, yang tahap-tahapnya adalah :
- pengenalan (awarenes)
- peminatan (interest)
- penilaian (evaluation)
- percobaan (trial)
- penerimaan (adoption)

b. Sikap mental. Sikap mental pada hakekatnya merupakan kondisi


kejiwaan, perasaan dan keinginan (mind, feeling and mood) seseorang
sehingga hal tersebut berpengaruh pada perilaku serta pada akhinya perbuatan
yang diwujudkannya.
Kondisi ini didapatkan dari proses tumbuh kembang individu sejak masa
bayi/anak dan berkembang pula dari pendidikan serta pengalaman hidupnya
dalam berinteraksi dengan lingkungan/masyarakatnya.
Dengan memahami sikap mental masyarakat (norma), maka para pemberi
pelayanan sebagai “Prime Mover” akan dapat membentuk strategi
perekayasaan manusia dan sosial.

c. Tingkat kebutuhan individu. Berkaitan dengan sistem kebutuhan yang


terdapat dalam diri individu, MASLOW mengatakan bahwa pada diri manusia
terdapat sejumlah kebutuhan dasar yang menggerakkannya untuk berperilaku.
Kelima kebutuhan menurut MASLOW tersebut terikat dalam suatu hirarki
tertentu berdasarkan kuat lemahnya MOTIVASI. Motivasi adalah penggerak
batin yang mendorong seseorang dari dalam untuk menggunakan tenaga yang
ada pada dirinya sebaik mungkin demi tercapainya sasaran.
Implikasi dari uraian diatas adalah bahwa sepanjang perilaku berpartisipasi
yang dikehendaki dapat memenuhi kebutuhan poko anggota masyarakat dan
sejalan dengan norma dan nilai yang dianut, maka partisipasi tersebut dapat
berkembang.

75
Sebaliknya, perilaku yang lain (baru ataupun berlawanan) tidak akan muncul
dengan mudah apabila kebutuhan pokok anggota masyarakat tersebut tidak
dipenuhi.

d. Tingkat keterikatan kelompok


Suatu masyarakat terdiri dari individu/keluarga yang hidup bersama, terorganisi
dalam suatu sistem sosial atau ikatan. Sesuai dengan kepentingan dan aspirasi
anggotanya sistem sosial tersebut dapat berupa organisasi/ikatan : politik,
ekonomi, sosbud, agama, profesi, pendidikan, hukum, dll. Organisasi / institusi
bentukan dari sistem sosial tersebut bervariasi besarnya dan profil sosial
ekonominya, serta tingkatannya, mulai dari paguyuban atau bahkan kelompok
terisolir pada tingkat desa, kota dan nasional.

e. Tingkat kemampuan sumber daya


Perilaku individu juga diepengaruhi oleh tersedianya sumber daya terutama
sarana untuk pemenuhan kebutuhan baik yang dimiliki olehnya maupun yang
tersedia dimasyarakat

2. Perilaku masyarakat
Perilaku masyarakat dipengaruhi terutama oleh keadaan politik, ekonomi, sosial
budaya, pendidikan dan agama
1) Keadaan dan struktur politik ; sangat penting peranannya dalam
mempengaruhi derajat perilaku masyarakat yang selanjutnya akan
mewujudkan partisipasi masyarakat. Kestabilan dan kesepakatan politik,
perangkat-perangkat lunak juga hukum yang ada serta wadah yang jelas
merupakan hal penting dalam menunjang perwujudan kearah itu.
2) Keadaan ekonomi ; sangat penting pula pengaruhnya terhadap perwujudan
partisipasi masyarakat, mengingat kemajuan yang dicapai dibidang ekonomi
lebih memungkinkan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam
berbagai aspek pembangunan
3) Aspek sosial-budaya ; turut menentukan pula pengaruhnya terhadap
perwujudan partisipasi masyarakat. Dalam berbagai hal masih sering
dijumpai situasi dimana tata nilai budaya masyarakat indonesia tertentu
belum lagi memungkinkan terwujudnya perilaku hidup sehat, apalagi untuk
berpartisipasi dalam pembangunan kesehatan seperti yang diharapkan.
4) Aspek pendidikan ; tingkat pendidikan suatu bangsa akan mempengaruhi
perilaku rakyatnya. Makin tinggi pendidikan masyarakat makin tinggi
kesadaran kesehatannya.
5) Aspek Agama ; ketentuan atau ajaran-ajaran yang berlaku dalam berbagai
agama mempengaruhi perilaku masyarakat. Agama dapat merupakan
jembatan ataupun hambatan bagi terwujudnya perilaku positif masyarakat
dalam kesehatan.

Bentuk-Bentuk / Tingkat-Tingkat Dalam Partisipasi Masyarakat

Mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat bukan pekerjaan mudah. Partisipasi


masyarakat memerlukan kemampuan, kesempatan dan motivasi. Kenyataan di lapangan
menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dapat terjadi dalam berbagai tingkatan, yaitu :

76
1) Tingkat partisipasi masyarakat karena perintah atau karena paksaan
2) Tingkat partisipasi masyarakat karena imbalan atau karena insentif
3) Tingkat partisipasi masyarakat karena identifikasi atau karena ingin meniru
4) Tingkat partisipasi masyarakat karena kesadaran
5) Tingkat partisipasi masyarakat karena tuntutan akan hak azasi dan tanggung jawab

Tingkat partisipasi masyarakat nomor 5 biasanya muncul di negara-negara maju yang


berpaham demokrasi. Sedangkan partisipasi yang muncul di negara-negara sedang
berkembang yang pola budayanya umumnya paternalistik, tingkat partisipasi
masyarakatnya adalah nomor 1 s/d nomor 4 (terutama nomor 1 s/d 3).

Umumnya orang berpendapat bahwa partisipasi masyarakat erat kaitannya dengan sifat
gotong-royong masyarakat yang sudah membudaya, namun itu bukan satu-satunya faktor
penentu yang mempengaruhi partisipasi, akan tetapi partisipasi masyarakat itu merupakan
hal yang kompleks dan sering sulit diperhitungkan karena terlalu banyak faktor yang
mempengaruhinya.

Faktor Pendorong dan Penghambat Partisipasi Masyarakat

Faktor Pendorong Partisipasi Masyarakat. Dalam upaya mengembangkan dan membina


partisipasi masyarakat ada beberapa faktor yang bisa membantu atau mendorong upaya
tersebut, yang antara lain adalah :
a. Faktor pendorong di masyarakat
Konsep partisipasi masyarakat sebenarnya bukan hal yang baru bagi kita di Indonesia.
Dari sejak nenek moyang kita, telah dikenal adanya semangat gotong-royong dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan di masyarakat. Semangat gotong-royong ini bertolak
dari nilai-nilai budaya yang menyangkut hubungan antar manusia. Semangat ini
mendorong timbulnya partisipasi masyarakat
b. Faktor pendorong di pihak provider
Faktor pendorong terpenting yang ada di pihak provider adalah adanya kesadaran di
lingkungan provider, bahwa perilaku merupakan faktor penting dan besar pengaruhnya
terhadap derajat kesehatan. Kesadaran ini melandasi pemikiran pentingnya partisipasi
masyarakat. Selain itu keterbatasan sumber daya dipihak provider juga merupakan
faktor yang sangat mendorong pihak provider untuk mengembangkan dan membina
partisipasi masyarakat.
Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat :
a. Faktor penghambat yang terdapat di masyarakat
1) persepsi masyarakat yang sangat berbeda dengan persepsi provider tentang
masalah kesehatan yang dihadapi
2) susunan masyarakat yang sangat heterogen dengan kondisi sosial budaya yang
sangat berbeda-beda pula
3) pengalaman pahit masyarakat tentang program sebelumnya
4) adanya kepentingan tetap (vested interest) dari beberapa pihak dimasyarakat
5) sistim pengambilan keputusan dari atas kebawah
6) adanya berbagai macam kesenjangan sosial
7) kemiskinan
b. Faktor penghambat yang terdapat di pihak provider
1) terlalu mengejar target sehingga terjerumus dalam pendekatan yang tidak partisipatif

77
2) pelaporan yang tidak obyektif (ABS) hingga provider keliru mentafsirkan situasi
3) birokrasi yang sering memperlambat kecepatan dan ketepatan respons pihak
provider terhadap perkembangan masyarakat
4) persepsi yang berbeda antara provider dan masyarakat

Keuntungan Partisipasi Masyarakat


a. Bagi masyarakat
Dengan berpartisipasinya masyarakat dibidang kesehatan maka :
1) Upaya kesehatan yang dilaksanakan benar-benar sesuai dengan masalah yang
dihadapi masyarakat, tidak hanya bertolak dari asumsi para penyelenggara semata.
2) Upaya kesehatan bisa diterima dan terjangkau oleh masyarakat, baik secara fisik,
sosial maupun secara ekonomis. Ini karena masyarakat berpartisipasi dalam
merumuskan masalahnya dan dalam merencanakan pemecahannya
3) Masyarakat merasa puas, karena mempunyai andil pula dalam menilai pelaksanaan
daripada upaya kesehatan yang sudah direncanakan dan dilaksanakan bersama.
4) Dengan berpartisipasinya masyarakat dalam proses pemecahan masalah dibidang
kesehatan akan mengembangkan kemampuan dan sikap positif serta motivasi
mereka untuk hidup sehat atas dasar swadaya.
b. Bagi pihak penyelenggara pelayanan (provider)
1) dengan adanya partisipasi masyarakat, berarti adanya penemuan dan pengerahan
potensi masyarakat untuk pembangunan di bidang kesehatan, dan membantu
memecahkan masalah keterbatasan sumber daya yang dimiliki pemerintah, baik
sumber daya tenaga, biaya, maupun fasilitas.
2) Partisipasi masyarakat membantu upaya perluasan jangkauan pelayanan kesehatan
3) Partisipasi masyarakat menciptakan adanya rasa ikut memiliki dan rasa ikut
bertanggungjawab dipihak masyarakat terhadap masalah dan program kesehatan,
hingga hal ini memperlancar munculnya aspirasi-aspirasi dari bawah.
4) Partisipasi masyarakat dapat pula merupakan wadah dan jalur untuk kontrol
terhadap pelayanan kesehatan yang dilaksanakan pemerintah
5) Partisipasi masyarakat dibidang kesehatan dapat menjadi pintu masuk (entry point)
bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan di bidang lain
6) Partisipasi masyarakat merupakan mekanisme berkembangnya dialog antara
masyarakat dan pihak penyelenggaraan pelayanan (provider) dan antara
masyarakat denganmasyarakat sendiri, hingga tercipta kesamaan berbagai
pengertian dan pandangan tentang masalah dan cara pendekatannya.

Pemberdayaan Sebagai Dasar Pembangunan Kesehatan

Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada:


1. Perikemanusian. Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip
perikemanusiaan yang dijiwai, digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan
ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur,
memegang teguh etika profesi, dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan
dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
2. Pemberdayaan dan Kemandirian. Setiap orang dan masyarakat bersama dengan
pemerintah berperan, berkewajiban, dan bertanggung-jawab untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat, dan
lingkungannya. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan

78
mendorong peran aktif masyarakat. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan
berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta
kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotong-royong.
3. Adil dan Merata. Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak
yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, tanpa
memandang suku, golongan, agama, dan status sosial ekonominya. Setiap orang
berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup, tumbuh dan kembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
4. Pengutamaan dan Manfaat. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan
mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan.
Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan
pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau


sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik, sehingga secara berhasil
guna dan bertahap dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan
derajat kesehatan masyarakat, beserta lingkungannya.

Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk


rentan, antara lain: ibu, bayi, anak, manusia usia lanjut, dan masyarakat miskin.

Pemberdayaan Kesehatan Sebagai Salah Satu Sub Sistem SKN

Subsistem Pemberdayaan Masyarakat

Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan
masyarakat. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran
pembangunan kesehatan, melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku
pembangunan kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat
penting, agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai
pelaku pembangunan kesehatan. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya
peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. Upaya pemberdayaan masyarakat
akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi.
Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari
pembangunan kesehatan.

Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu,


kelompok, dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan
upaya kesehatan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan
subsistem pembiayaan kesehatan, subsistem sumber daya manusia kesehatan, subsistem
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta subsistem manajemen dan informasi
kesehatan.

79
1. Pengertian
Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan
berbagai upaya kesehatan, baik perorangan, kelompok, maupun masyarakat
secara terencana, terpadu, dan berkesinambungan guna tercapainya derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

2. Tujuan
Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan
masyarakat untuk berperilaku hidup sehat, mampu mengatasi masalah kesehatan
secara mandiri, berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan, serta dapat
menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan.

3. Unsur-unsur
a. Penggerak Pemberdayaan. Pemerintah, masyarakat, dan swasta menjadi
inisiator, motivator, dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan
dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin, baik formal
maupun non formal.
b. Sasaran Pemberdayaan. Perorangan (tokoh masyarakat, tokoh agama, politisi,
figur masyarakat, dan sebagainya), kelompok (organisasi kemasyarakatan,
organisasi profesi, kelompok masyarakat), dan masyarakat luas serta
pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku
hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan).
c. Kegiatan Hidup Sehat. Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh
masyarakat, sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup, tumbuh dan
berkembang, serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan
bermasyarakat.
d. Sumber Daya. Potensi yang dimiliki oleh masyarakat, swasta, dan pemerintah
yang meliputi: dana, sarana dan prasarana, budaya, metode, pedoman, dan
media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang
kesehatan.

4. Prinsip
a. Berbasis Masyarakat. Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai
perorangan, keluarga, dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial
budaya, kebutuhan, permasalahan, serta potensi masyarakat (modal sosial).
b. Edukatif dan Kemandirian. Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar
untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan, serta menjadi
penggerak dalam pembangunan kesehatan.
Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari, oleh, dan untuk
masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala
sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain.
c. Kesempatan Mengemukakan Pendapat dan Memilih Pelayanan Kesehatan.
Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan, tanggap
terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab, serta kemudahan akses
informasi, mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan
keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri, keluarga, masyarakat, dan
lingkungannya.

80
d. Kemitraan dan Gotong-royong. Semua pelaku pembangunan kesehatan baik
sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan
masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan,
kesetaraan, dan saling memperoleh manfaat.
Tumbuhnya rasa kepedulian, tenggang rasa, solidaritas, empati, dan kepekaan
masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya
bermuara dalam semangat gotong-royong sesuai dengan nilai luhur bangsa.
Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi
secara wajar.

5. Penyelenggaraan
a. Penggerakan Masyarakat. Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh
masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam
pembangunan kesehatan. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam
proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi
masalah kesehatan, penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas
kesehatan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi upaya kesehatan sehingga
dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan.
Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh, dari, dan
untuk masyarakat. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya
penguatan upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan, maupun pemulihan
secara tersendiri atau terpadu.
Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah
kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat
luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilai-nilai sosial
budaya masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat, termasuk penggerakan masyarakat, merupakan
hal yang penting dalam pembangunan kesehatan, hal ini mengingat penekanan
atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan
kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif.
b. Pengorganisasian dalam Pemberdayaan. Pelaksanaan pemberdayaan
masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan, kelompok, dan masyarakat
luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna.
Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan,
seperti: rumah tangga, institusi pendidikan, tempat kerja, tempat umum, dan
fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil
guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya.
Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan
kekhususan masyarakat, seperti masyarakat di desa, kota, daerah pesisir,
daerah pegunungan, dan aliran sungai.
Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat,
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang, serta
dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada.
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan
kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik
promosi kesehatan.

81
Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog, menyiapkan
regulasi, menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan
keterampilan bagi masyarakat, dukungan sumber daya untuk membangun
kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya
Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), seperti: Poskestren, Musholla Sehat,
Desa Siaga, Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena), dan kemandirian
dalam upaya kesehatan.
dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun
memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat.
Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain
pada masyarakat desa/kelurahan.
c. Advokasi.Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada
pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya, seperti legislatif untuk
memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya
pembangunan berwawasan kesehatan.
Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai
serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna.
Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang
membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat.
d. Kemitraan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai
pihak, seperti seluruh sektor terkait, lembaga legislatif, dunia usaha, organisasi
kemasyarakatan, perguruan tinggi, dan masyarakat agar terwujud dukungan
sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan.
Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang
telah dilakukan melalui berbagai cara, antara lain pemberian insentif,
pendampingan, lomba, dan kompetisi.
e. Peningkatan Sumber Daya. Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung
oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat,
pembiayaan yang memadai, dan dukungan berbagai sarana lain yang
berkaitan.
Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi
penggerak yang berperan sebagai fasilitator, komunikator, dan dinamisator
dalam proses pemberdayaan masyarakat.
Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai
masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri, termasuk pentingnya
ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan, seperti di Puskesmas dan
Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi.

KEPUSTAKAAN
 Adisasmito, W., 2007. Sistem Kesehatan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
 Notoatmodjo, S., 2005. Promosi kesehatan. Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta.
Jakarta.
 Ewless, L., Simnett, I., 1994. Promosi Kesehatan. Petunjuk Praktis. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
 Departemen Kesehatan RI, Sistem Kesehatan Nasional Indonesia, tahun 2009

82
 Departemen Kesehatan RI, Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan, Pusat Promosi
Kesehatan Departemen Kesehatan RI Tahun 2004
 WHO, 1986, The Ottawa Charter for Health Promotion, Geneva: WHO, dari
http://www.who.int/health promotion/conferences/previous/ottawa/en/, diakses
tanggal 25 September 2008.
 WHO, 1998, Health Promotion Glossary, Geneva: WHO.

83
LEMBAR BELAJAR MAHASISWA 5

Hari/tanggal Jam Materi Nama Ruang


Instruktur
Senin 08.10-09.50 SGD R SGD Lt-1
3-10-2016
09.50-11.30 KP : Unit Cost Drg. Kusuma, R KULIAH Lt-1
MMR

Selasa
4-10-2016 08.10-11.30 Skill lab TUTOR R SGD Lt-1

Rabu
5-10-2016 08.10-11.30 Skill lab TUTOR R SGD Lt-1

12.30-14.10 KP : Kebijakan Drg. Erdianto R KULIAH Lt-1


perlindungan tenaga Wardhana,
kerja (healthcare M.H.Kes
provider)
Kamis 08.10-09.50 KP : Ergonomi dan Drg. Benni B R KULIAH Lt-1
6-10-2016 Sanitasi

09.50-11.30 KP : Prinsip Drg. Kusuma R KULIAH LT


keselamatan dalam A, MMR 1
pelayanan kesehatan
gigi
Jumat 08.10-09.50 SGD R SGD Lt-1
7-10-2016

84
Modul : 5 (HIPERKES dan K3)
Unit Belajar :
a. Judul : ternyata praktek dokter gigi itu tidak selalu aman ya?
b. Sasaran belajar :

1. Menjelaskan ergonomi, hiperkes dan K3 (SGD)


2. Menjelaskan konsep control infeksi pada praktek dokter gigi (SGD)
3. Menjelaskan kecelakaan kerja/ penyakit akibat kerja dokter gigi dalam
praktek (SGD)
3. Menjelaskan penyakit akibat kerja (SGD)

Skenario
Telah diketahui bahwa dokter gigi rentan tertular beberapa penyakit menular seperti
hepatitis karena kurangnya proteksi diri (provider safety) saat mengerjakan pasien. Selain
itu, banyak dokter gigi yang mengeluhkan gejala low back pain karena kesalahan tidak
mengikuti aturan ergonomi ketika bekerja. Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat,
bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari
penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas
kerja.
Tidak hanya dokter gigi yang rentan tertular penyakit dari pasien, namun juga pasien
yang lain, petugas kesehatan lainnya bahkan pengunjung pasien. Oleh karena itu, dokter
gigi harus melakukan harus menjaga keselamatan pasien (Patient safety) dan kontrol
infeksi di tempat prakteknya guna mencegah infeksi silang

Kata kunci : proteksi diri dokter gigi, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), dan
providor savety, patient savety
Masalah : Keselamatan kerja

85
d. Konsep mapping

Kebijakan perlindungan tenaga kerja

Ergonomi
Penyakit dan
Hiperkes Keselamatan kerja
Kecelakaan kerja

Kontrol infeksi Patient safety and


provider safety

Efisiensi dan produktivitas kerja


meningkat

c. Pertanyaan Minimal
1. Apa yang dimaksud Hiperkes dan K3 serta ruang lingkupnya ?
2. Apa yang dimaksud Kecelakaan kerja dan bagaimana penyebab dan klasifikasi ?
3. Apa yang dimaksud Penyakit akibat kerja dan faktor penyebab ?
4. Apa yang dimaksud Keselamatan Kerja, meliputi : pengetian, tujuan
program,sasaran utama, determinannya ?
5. Apa yang dimaksud Ergonomi, meliputi : pengertian, ruang lingkup, metode, prinsip
–prinsipnya?
6. Bagaimana sistem keselamatan pasien dan kontrol infeksi dilakukan di praktek
dokter gigi?

d. Materi

HIPERKES

1.HIGIENE PERUS AH AAN D AN KESEH ATAN KERJ A

Hiperkes merupakan cabang dari Ilmu Kesehatan Masyarakat, yang mempelajari


cara-cara pengawasan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dan masyarakat di
sekitar perusahaan, dan segala kemungkinan gangguan kesehatan dan keselamatan
akibat proses produksi di perusahaan.

Hygiene perusahaan merupakan spesialisasi dalam ilmu hygiene beserta


prakteknya yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab
penyakit kualitatif dan kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui
pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada
lingkungan tersebut, serta bila perlu pencegahan, agar pekerja dan masyarakat sekitar

86
perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja, serta dimungkinkan mengecap derajat
kesehatan setinggi-tingginya.
Hygiene perusahaan adalah upaya pemeliharaaan lingkungan kerja (fisik, Kimia,
Radiasi) dan lingkungan perusahaan.
Sifat-sifat hygiene perusahaan:
 sasarannya adalah lingkungan kerja yaitu sebagai upaya pencegahan timbulnya
penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan akibat produksi perusahaan.
 Bersifat teknik
Usaha-usaha hygiene perusahaan dan kesehatan kerja:
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan akibat kerja
 Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan tenaga kerja
 Pemeliharaan dan peningkatan efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia
 Pemberantasan kelelahan kerja dan peningkatan kegairahan kerja
 Pemeliharaan dan peningkatan hygiene dan sanitasi perusahaan pada umumnya
seperti kebersihan ruangan-ruangan, carapembuangan sampah sisa pengolahan
dan sebagainya
 Perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari
pengotoran oleh bahan-bahan dari perusahaan yang bersangkutan
 Perlindungan masyarakat luas (konsumen) dari bahaya-bahaya yang mungkin
ditimbulkan oleh hasil-hasil produksi perusahaan (entjang,1974)

Lingkungan kerja adalah lingkungan tempat tenaga kerja melakukan kegiatan


yang ada hubungannya dengan kegiatan perusahaan. Ada beberapa golongan
lingkungan kerja, antara lain:

 Lingkungan fisik (cahaya, pertukaran udara, tekanan suhu)


 Lingkungan kimia (bahan baku, bahan jadi, bahan sisa)
 Lingkungan biologi (flora dan fauna yang ada hubungannya dengan kegiatan
perusahaan
 Lingkungan sosial misalnya terhadap sesama pekerja, masyarakat sekitar
perusahaan, keluarga tenaga kerja, dan lain-lain
Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya gangguan
kesehatan. Demikian juga lingkungan kerja, merupakan salah satu faktor penyebab
penyakit akibat kerja dan keselamatan kerja.
Kesehatan kerja adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara
serta tindakan lainnya dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja
dengan kesehatan (fisik, mental dan sosial) yang maksimal, sehingga dapat
berproduksi secara maksimal pula.
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga
kerja dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan
tempat kerja, lingkungan kerja dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut (dainur,
1992).
Undang-undang tentang hygiene dirumuskan dalam undang-undang no 2 tahun
1966, yang merupakan undang-undang tentang hygiene untuk usaha-usaha bagi
umum. Dalam undang-undang ini dijelaskan bahwa istilah Hygiene dipergunakan untuk
mencakup seluruh usaha manusia maupun masyarakat yang perlu dijalankan guna
mempertahankan dan memperkembangkan kesejahteraannya di dalam lingkungannya

87
yang bersifat badan dan jiwa, maupun sosial. Agar Pemerintah dapat melakukan
usaha-usaha dalam lapangan hygiene yang lebih luas, maka Undangundang ini, yang
menetapkan hal-hal yang pokok mengenai hygiene, dapat dipergunakan sebagai dasar
hukum untuk mengadakan usaha-usaha lebih lanjut. Undang-undang tentang hygiene
perusahaan ini tidak mengurangi beraneka faham tentang isi dan makna daripada apa
yang dimaksud dengan hygiene dalam ilmu kedokteran
(http://kambing.vlsm.org/bebas/v01 /Rl/uu/ 1966/uu- 1966-002.txt).
Hygiene perusahaan dibahas dalam pasal 10 point 2 undang-undang no 14 tahun
1969 tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja. Dalam undangundang
ini disebutkan bahwa pemerintah membina pelindungan kerja yang mencakup norma
kesehatan kerja dan hygiene perusahaan. Yang dimaksud dengan norma disini adalah
"standard" ukuran tertentu yang harus dijadikan pegangan pokok. Dalam undang -
undang ini dijelaskan bahwa norma kesehatan kerja dan hygiene perusahaan meliputi:
pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan tenaga kerja, dilakukan dengan
mengatur pemberian pengobatan, perawatan tenaga kerja yang sakit, mengatur
persediaan tempat, cara dan syarat kerja yang memenuhi syarat hygiene perusahaan
dan kesehatan kerja untuk pencegahan penyakit, baik sebagai akibat pekerjaan
maupun penyakit umum serta menetapkan syarat kesehatan bagi perumahan untuk
tenaga kerja
(http://www.worldlii.org/id/legis/uu/ l 969/uu-1969-014.html).

Perumusan kebijakan, perumusan program, pelaksanaan, koordinasi pelaksanaan


pengolahan data, evaluasi pelaksanaan, dan pelaksanaan administrasi badan hygiene
perusahaan, dilaksanakan oleh Badan Penelitian Dan Pengembangan Ketenagakerjaan
Dan Ketransmigrasian
(http://www.nakertrans.go.id/organisasi/Tupoksi Balitbani.htm).

2.KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

A. Batasan
Kesehatan kerja adalah merupakan bagian dari kesehatan masyarakat atau
aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu masyarakat pekerja dan masyarakat
lingkungannya. Kesehatan kerja bertujuan untuk memperoleh derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya, baik fisik, mental, dan sosial bagi masyarakat pekerja dan
masyarakat lingkungan perusahaan tersebut, melalui usaha-usaha preventif, promotif,
dan kuratif terhadap penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat kerja
atau lingkungan kerja.

Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban
kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh
produktivitas kerja yang optimal (tJU Kesehatan 'l'ahun 1992 Pasal 23).

Konsep dasar dari Upaya Kesehatan Kerja ini adalah : Identifikasi pennasalahan.
Evaluasi dan dilanjutkan dengan tindakan pengendalian.
Secara implisit rumusan atau batasan ini, bahwa hakikat kesehatan kerja
mencakup dua hal, yakni : pertama, sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan
tenaga kerja yang setinggi-tingginya. Kedua, sebagai alat untuk meningkatkan

88
produksi, yang berlandaskan kepada meningkatnya efisiensi dan produktivitas. Apabila
kedua prinsip tersebut dijabarkan ke dalam bentuk operasional, maka tujuan utama
kesehatan kerja adalah sebagai berikut :
a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaankecelakaan
akibat kerja.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja.
c. Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktivitas tenaga kerja.
d. Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan
kerja.
e. Perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari
bahaya-bahaya pencemaran yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut.
f. Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan
oleh produk-produk perusahaan.

Ruang Lingkup Kesehatan Kerja

Kesehatan Kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan
dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal caralmetode kerja, proses
kerja dan kondisi yang bertujuan untuk :

1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di


semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan
sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang
diakibatkan olch kcadaan/kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari
kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan
kesehatan.
4. Menempatkan dan memclihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

B. Diterminan Kesehatan Kerja

Untuk mencapai tujuan-tujuan ini diperlukan suatu prakondisi yang


menguntungkan bagi masyarakat pekerja tersebut. Prakondisi inilah yang penulis sebut
sebagai diterminan kesehatan kerja, yang mencakup tiga faktor utama, yakni : beban
kerja, beban tambahan akibat kerja, dan kemampuan kerja.

1. Beban kerja
Setiap pekerjaan apa pun jenisnya apakah pekerjaan tersebut memerlukan
kekuatan otot atau pemikiran, adalah merupakan beban bagi yang melakukan.
Dengan sendirinya beban ini dapat berupa beban fisik, beban mental, ataupun
beban sosial sesuai dengan jenis pekerjaan si pelaku.
Kesehatan kerja berusaha mengurangi atau mengatur beban kerja para karyawan
atau pekerja dengan cara merencanakan atau mendesain suatu alat yang dapat
mengurangi beban kerja. Misalnya untuk mempercepat pekerjaan tulis menulis

89
diciptakan mesin ketik, untuk membantu mengurangi beban hitung-menghitung
diciptakan kalkulator atau komputer, dan sebagainya.

2. Beban tambahan
Di samping beban kerja yang harus dipikul oleh pekerja atau karyawan, pekerja
sering atau kadang-kadang memikul beban tambahan yang berupa kondisi atau
lingkungan yang tidak menguntungkan bagi pelaksanaan pekerjaan. Disebut beban
tambahan karena lingkungan tersebut mengganggu pekerjaan, dan harus diatasi
oleh pekerja atau karyawan yang bersangkutan. Beban tambahan ini dapat
dikelompokkan menjadi 5 faktor yakni :
a. faktor fisik, misalnya: penerangan/pencahayaan yang tidak cukup, suhu
b. udara yang panas, dan sebagainya.
c. faktor kimia, misalnya: bau gas, uap atau asap, debu, dan sebagainya.
d. faktor biologi, misalnya: nyamuk, lalat, kecoa, lumut, taman yang tidak teratur,
dan sebagainya.
e. faktor fisiologi, yakni peralatan kerja yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh
atau anggota badan (ergonomic), misalnya: meja atau kursi yang terlalu tinggi
atau pendek.
f. Faktor sosial-psikologis, yaitu suasana kerja yang tidak harmonic, misalnya:
adanya klik, gosip, cemburu, dan sebagainya.
3. Kemampuan Kerja
Kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan berbeda dengan seseorang
yang lain, meskipun pendidikan dan pengalamannya sama, dan bekerja pada suatu
pekerjaan atau tugas yang sama. Perbedaan ini disebabkan karena kapasitas
orang tersebut berbeda. Kapasitas adalah kemampuan yang dibawa dari lahir oleh
seseorang yang terbatas. Artinya kemampuan tersebut dapat berkembang karena
pendidikan atau pengalaman tetapi sampai batasbatas tertentu saja.

Kapasitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: gizi dan kesehatan
ibu, genetik, dan lingkungan. Selanjutnya kapasitas ini mempengaruhi atau
menentukan kemampuan seseorang. Kemampuan seseorang juga dipengaruhi
oleh pendidikan, pengalaman, kesehatan, kebugaranan, gizi, jenis kelamin, dan
ukuran-ukuran tubuh.
Peningkatan kemampuan tenaga kerja ini akhirnya akan berdampak
terhadap peningkatan produktivitas kerja.

C. Faktor Fisik dalam Kesehatan Kerja

Lingkungan kerja ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni lingkungan fisik dan
lingkungan sosial, dan kedua-duanya sangat berpengaruh terhadap kesehatan kerja.
Lingkungan fisik mencakup: pencahayaan, kebisingan dan kegaduhan kondisi
bangunan, dan sebagainya.
1. Kebisingan
Kebisingan mempengaruhi kesehatan antara lain dapat menyebabkan
kerusakan pada indra pendengaran sampai kepada ketulian. Dari basil penelitian
diperoleh bukti bahwa intensitas bunyi yang dikategorikan bising dan yang
mempengaruhi kesehatan (pendengaran) adalah diatas 60 dB. Oleh sebab itu,
para karyawan yang bekerja di pabrik dengan intensits bunyi mesin di atas 60 dB,

90
maka harus dilengkapi dengan alat pelindung (penyumbat) telinga, guna
mencegah gangguan pendengaran. Kebisingan yang berasal dari alat-alat bantu
kerja atau mesin dapat dikendalikan antara lain dengan menempatkan peredam
pada sumber getaran, atau memodifikasi mesin untuk mengurangi bising.
2. Penerangan atau Pencahayaan
Penerangan yang kurang di lingkungan kerja bukan saja akan menambah
beban kerja, karena mengganggu pelaksanaan pekerjaan, tetapi juga
menimbulkan kesan yang kotor. Akibat dari kurangnya penerangan di lingkungan
kerja akan menyebabkan kelelahan fisik dan mental ini antara lain : sakit kepala
(pusing), menurunnya kemampuan intelektual, menurunnya konsentrasi dan
kecepatan berpikir.
3. Bau-bauan
Yang dimaksud bau-bauan dalam kaitannya dengan kesehatan kerja adalah
bau-bauan yang tidak enak di lingkungan kerja dan mengganggu kenyamanan
kerja. Dalam kaitannya dengan kesehatan kerja atau dalam lingkungan kerja,
perlu dibedakan antara penyesuaian penciuman dan kelelahan penciuman.
Dikatakan penyesuaian penciuman apabila indra penciuman menjadi kurang peka
setelah dirangsang oleh bau-bauan secara terus menerus, sedangkan kelelahan
penciuman adalah apabila seseorang tidak mampu mencium kadar bau yang
normal, setelah mencium kadar bau yang lebih besar.

D. Faktor Manusia Dalam Kcrja

Aspek manusia adalah merupakan faktor penting dalam mencapai keselamatan


dan kesehatan kerja. Dua faktor penting dari aspek manusia dalam hubungannya
dengan hal ini adalah: ergonomi dan psikologi kerja.
a. Ergonomi
Secara harfiah ergonomi diartikan sebagai peraturan tentang bagaimana
melakukan kerja, termasuk menggunakan peralatan kerja. Dewasa ini batasan
ergonomi adalah ilmu penyesuaian peralatan dan perlengkapan kerja dengan
kondisi dan kemampuan manusia, sehingga mencapai kesehatan tenaga kerja
dan produktivitas kerja yang optimal. Dari batasan ini terlihat bahwa ergonomi
tersebut terdiri dari dua sub sistem, yakni: sub sistem peralatan kerja, dan sub
sistem manusia. Sub sistem manusia terdiri: psikolog, latar belakang sosial, dan
sebagainya.oleh sebab itu, tujuan dari ergonomi ini adalah untuk menciptakan
suatu kombinasi yang paling serasi antara sub sistem peralatan kerja dengan
manusia sebagai tenaga kerja.
Dari uraian tersebut di alas dapat disimpulkan bahwa tujuan utama
ergonomi ialah: mencegah kecelakaan kerja dan mencegah ketidakefisienan
kerja (meningkatkan produksi kerja). Disamping itu ergonomi juga dapat
mengurangi beban kerja, karena apabila peralatan kerja tidak sesuai dengan
kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan menjadi beban tambahan kerja.
b. Psikologi kerja
Pekerjaan apapun akan menimbulkan reaksi psikologis bagi yang
melakukan pekerjaan itu. Reaksi ini dapat bersifat positif misalnya: senang,
bergairah dan merasa sejahtra, atau reaksi yang bersifat negatif misalnya:
bosan, acuh, tidak serius, dan sebagainya.

91
Faktor-faktor yang sering menjadi penyebab stres dilingkungan kerja dapt
dikelompokan menjadi dua, yakni:
1. Faktor internal, yakni dari dalam diri pekerja itu sendiri, misalnya kurang percaya
diri, kurangnya kemampuan atau .keterampilan dalam melakukan pekerjaan, dan
sebagainya.
2. Faktor eksternal, yakni faktor lingkungan kerja. Lingkungan kerja ini mencakup
lingkungan fisik dan lingkungan sosial (masyarakat sosial).
Oleh sebab itu, untuk mencegah dan mengelola stres di lingkungan kerja tersebut juga
di arahkan kedua faktor tersebut.

Kapasitas Kerja, Beban Kerja dan Lingkungan Kerja

Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama
dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen
tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal.
Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta
kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan
pekerjaannya dengan baik.

Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai (modal) awal seseorang untuk
melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian. Kondisi awal seseorang untuk
bekerja dapat depengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja dan lain-lain.

Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu
berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja
menderita gangguan atau penyakit akibat kerja.

Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, bising debu, zat-zat kimia dan lain-lain)
dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan tersebut
secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit
akibat kerja.

Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan
dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Deng an
demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan masyarakat pekerja dipengaruhi
tidak hanya oleh bahaya kesehatan ditempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh
factor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja serta faktor lainnya.

Lingkungan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja yang ditimbulkan

Penyakit akibat kerja dan atau berhubungan dengan pekerjaan dapat disebabkan oleh
pemajanan dilingkungan kerja. Dewasa ini terdapat kesenjangan antara pengetahuan
ilmiah tentang bagaimana bahaya-bahaya kesehatan berperan dan usaha-usaha untuk
mencegahnya.

Misalnya antara penyakit yank sudah jelas penularannya dapat melaui darah dan
pemakaian jarum suntik yang berulang-ulang. atau perlindungan yang belum baik pada

92
para pekerja Rumah sakit dengan kemungkinan terpajan melalui kontak langsung.

Untuk mengantisipasi permasalahan ini maka langkah awal yang penting adalah
pengenalan / identifikasi bahaya yang bisa timbul dan di Evaluasi, kemudian dilakukan
pengendalian.

Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya dilingkungan kerja


ditempuh tiga langkah utama, yakni:

1. Pengenalan lingkungan kerja.


Pengenalan linkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan
mengenal ("walk through inspection"), dan ini merupakan langkah dasar yang
pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja.

2. Evaluasi lingkungan kerja.


Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya
yang mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi
permasalahan.

3. Pengendalian lingkungan kerja.


Dimaksudkan untuk mengurangi atau tnenghilangkan pemajanan terhadap
zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja. Kedua tahapan sebelumnya,
pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang
sehat. Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang adekuat
untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja.

 Pengendalian lingkungan (Environmental Control Measures)


 Disain dan tata letak yang adekuat
 Penghilangan atau pengurangan bahan berbahaya pada sumbernya.
 Pengendalian perorangan (Personal Control Measures)
Penggunaan alat pelindung perorangan merupakan alternatif lain untuk
melindungi pekerja dari bahaya kesehatan. Namun alat pelindung
perorangan harus sesuai dan adekuat .
Pembatasan waktu selama pekerja terpajan terhadap zat tertentu yang
berbahaya dapat menurunkan risiko terkenanya bahaya kesehatan di
lingkungan kerja.
Kebersihan perorangan dan pakaiannya, merupakan hal yang penting,
terutama untuk para pekerja yang dalam pekerjaannya berhubungan dengan
bahan kimia serta partikel lain

Sehat Di Tempat Kerja

Produktivitas kerja memang tidak cukup hanya didukung niat dan semangat, kesehatan
tubuh juga memegang peranan yang cukup besar untuk mewujudkan hasil kerja yang
optimal, ...................... Produktivitas kerja memang tidak cukup hanya didukung niat
dan semangat, kesehatan tubuh juga memegang peranan yang cukup besar untuk

93
mewujudkan hasil kerja yang optimal.Untuk itu selain berolahraga dan menjaga pola
hidup yang sehat, kondisi tempat kerja yang baik juga berpengaruh. Hal ini salah
satunya bisa mewujudkan dengan mengatur meja kerja Anda.Oleh karenanya,
luangkanlah waktu sejenak selama beberapa menit untuk memikirkan bagaimana tata
letak yang paling baik bagi meja kerja anda.

Berikut ini beberapa panduan yang dapat digunakan:

1. Menyortir barang-barang mana yang perlu dan mana yang tidak untuk diletakkan di
atas meja kerja Anda. Selain lebih mudah menatanya, cara ini juga membuat meja
Anda lebih luas.
2. Saat menata, pertimbangkan dengan seksama barang-barang apa saja yang
nantinya akan sering digunakan atau diambil. Barang-barang inilah yang nantinya
akan diletakkan di posisi yang dekat dan mudah dijangkau tangan-misalnya
keyboard, mouse, dan kotak pensil.
3. Demikian pula dengan buku,catatan, majalah dan lain-lain yang dibutuhkan saat
mengetik. Hendaknya barang-barang tersebut diletakkan di bagian bawah monitor
atau di sekelilingnya (bisa di samping atau di atas).
4. Selain mengatur cahaya monitor agar tidak terlampau terang atau gelap, perlu
diperhatikan pula sikap saat bekerja. Duduklah dalam posisi tegak, jangan
meregang ke depan untuk mencapai keyboard atau untuk membaca tulisan di layar
monitor. Begitu pula posisi tubuh "sempurna" dapat bermasalah bila dilakukan
secara kaku dan terns menerus dalam jangka panjang. Karenanya, disarankan
untuk rileks juga sering-seringlah untuk bergerak dan mengubah posisi (duduk
dinamis). Ini bukan cuma berlaku untuk tangan dan lengan, tapi juga pundak,
punggung dan leper.
5. Saat mengetik, pergelangan tangan hendaknya tidak ditekuk ke atas, kebawah,
atau ke samping. Gerakkan tangan sesekali untuk beristirahat atau untuk
meregangkan otot. Begitu ada kesempatan berhenti mengetik sejenak, istirahatkan
sejenak, istirahatkan tangan di atas pangkuan atau di sisi samping anda ketimbang
ditumpangkan di atas keyboard.

3. KECELAKAAN KERJA

Terjadinya kecelakaan kerja disebabkan oleh kedua faktor utama yakni faktor
fisik dan faktor manusia. Oleh sebab itu, kecelakaan kerja juga merupakan bagian dari
kesehatan kerja. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak
diharapkan akibat dari kerja. Suinakmur (1989) membuat batasan bahwa kecelakaan
kerja adalah kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja dengan perusahaan.
Oleh sebab itu, kecelakaan akibat kerja ini mencakup dua permasalahan pokok,
yakni: a). kecelakaan adalah akibat langsung pekerjaan, b). Kecelakaan terjadi pada
saat pekerjaan sedang dilakukan.
Penyebab kecelakaan kerja pada umumnya digolongkan mnjadi dua, yakni:
a. perilaku pekerja itu sendiri (faktor manusia), yang tidak memenuhi keselamatan,
misalnya: karena kelengahan, kecerobohan, ngantuk, kelelahan, dan sebagainya.
b. Kondisi-kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman atau "unsafety condition",
misalnya lantai licin, pencahayaan kurang, silau, dan sebagainya.
Menurut Organisai Perburuhan Internasional (ILO), kecelakaan akibat kerja

94
diklasifikasikan menjadi 4 macam, yakni:
a. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan
b. Klasifikasi menurut penyebab
c. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan
d. Klasifikasi menurut ltak kelainan atau luka di tubuh
Klasifikasi-klasifikasi tersebut bersifat jamak, karena pada kenyataannya kecelakaan
akibat kerja biasaanya tidak hanya satu faktor, tetapi banyak faktor.

4. PENYAKIT AKIBAT KERJA

Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang ditimbulkan oleh atau didapat pada
waktu melakukan pekerjaan.
Sebenarnya menurut batasan ini, termasuk juga kecelakaan akibat kerja, tapi
kecelakaan akibat kerja dipisahkan dari penyakit akibat kerja, dimana pada
kecelakaan akibat kerja faktor penyebabnya adalah faktor mekanis.
Faktor-faktor penyebab penyakit akibat kerja dan penyakit yang ditimbulkannya
1. Golongan fisik
a. Suara yang keras dapat menyebabkan tuli.
b. Suhu tinggi yang dapat menyebabkan heat stroke, heat cramps, atau
hyperpirexia. Suhu rendah menyebabkan chilblain, trench foot, atau
frosbite
c. Penerangan yang kurang atau yang terlalu terang (menyilaukan)
menyebabkan kelainan penglihatan dan memudahkan teijadinya
kecelakaan
d. Penurunan tekanan udara (dekompresi) yang mendadak dapat
menyebabkan caisson disease
e. Radiasi dari sinar Rontgen atau radio aktif menyebabkan penyakit-penyakit
darah, kemandulan, kanker kulit dan sebagainya

2. Golongan kimiawi
a. Gas yang menyebabkan keracunan, misalnya:CO, HCN,H2S. SO2
b. Debu-debu misalnya debu silica, kapas, asbest ataupun debu logatn berat

3. Golongan penyakit infeksi


Misalnya penyakit antrax yang disebabkan bakteri Bacillus antracis pada
penyamak kulit atau pengumpul wool. Penyakit-penyakit infeksi pada karyawan
yang bekerja dalam bidang mikrobiologi ataupun dalam perawatan penderita
penyakit menular.

4. Golongan fisiologi
Penyakit yang disebabkan karena sikap badan yang kurang baik; karena
konstruksi mesin yang tidak cocok, ataupun karena tempat duduk yang tidak
sesuai.
5. Golongan mental-psikologi
Penyakit yang timbul karena hubungan yang kurang baik antara sesama
karyawan, antara karyawan dengan pimpinan karena pekerjaan yang tidak
cocok dengan psikis karyawan, karena pekerjaan yang membosankan ataupun
karena upah imbalan yang terlalu sedikit upah sehingga tenaga pikirannya tidak

95
dicurahkan kepada pekerjaannya melainkan kepada usaha-usaha pribadi untuk
menambah penghasilannya.

Usaha- usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja


1. Subtitusi
Yaitu dengan mengganti bahan-bahan yang berbahaya dengan bahan-bahan
yang kurang atau tidak berbahaya, tanpa mengurangi hasil pekerjaan maupun
mutunya
2. Isolasi
Yaitu dengan mengisolir (menyendirikan) proses-proses yang berbahaya dalam
perusahaan.Misalnya menyendirikan mesin-mesin yang sangat gemuruh, atau
proses-proses yang menghasilkan gas atau uap yang berbahaya.
3. Ventilasi umum
Yaitu dengan mengalirkan udara sebanyak perhitungan ruangan kerja, agar
kadar bahan-bahan yang berbahaya oleh pemasukan udara ini akan lebih
rendah dari nilai ambang batasnya.
4. Ventilasi keluar setempat
Yaitu dengan menghisap udara dari suatu ruang kerja agar bahan-bahan yang
berbahaya dihisap dan dialirkan keluar. Sebelum dibuang ke udara bebas agar
tidak membahayakan masyarakat, udara yang akan dibuang ini harus diolah
terlebih dahulu.
5. Mempergunakan alat pelindung perseorangan
Para karyawan dilengkapi dengan alat pelindung sesuai dengan jenis
pekerjaannya. Misalnya: masker, kacamata, sarung tangan. sepatu, topi, dll.
6. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja
Para karyawan atau calon karyawan diperiksa kesehatannya (fisik dan psikis)
agar penempatannya sesuai dengan jenis pekerjaan yang dipegangnya secara
optimal.
7. Penerangan atau penjelasan sebelum kerja
Kepada para karyawan diberikan penerangan/penjelasan sebelum kerja agar
mereka mengetahui, mengerti dan mematuhi peraturan-peraturan serta agar
lebih berhati-hati.
8. Pemeriksaan kesehatan ulangan pada para karyawan secara berkala Pada
waktu-waktu tertentu secara berkala dilakukan pemeriksaan ulangan untuk
mengetahui adanya penyakit-penyakit akibat kerja pada tingkat awal agar
pengobatan dapat segera diberikan
9. Pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja
Para karyawan diberikan pendidikan kesehatan dan keselamatan kerja secara
kontinyu dan teratur agar tetap waspada dalam menjalankan pekerjaannya,

5. KESELAMATAN KERJA

Keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses
pengolahan, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan
pekerjaan.
Tujuan keselamatan kerja
1. melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan

96
untuk kesejahtraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas
nasional.
2. menjamin keselamatan setiap orang yang berada ditempat kerja
3. sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat,


alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya
serta cara-cara melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja adalah tugas semua orang
yang bekerja. Dan keselamatan kerja adalah dari, oleh, dan untuk setiap tenaga kerja
serta orang lainnya, dan juga mesyarakat pada umumnya.
Budaya keselamatan kerja dapat dilihat sebagai bagian dari keseluruhan
budaya suatu organisasi, karena berkaitan dengan sikap personal, pemikiran dan
tingkah laku yang akan mempengaruhi bagaimana bagaimana individu menampilkan
perilaku kerjanya.
Keselamatan kerja merupakan modal utama kesejahteraan tenaga kerja secara
keseluruhan.
 Tujuan Keselamatan Kerja
Adapun tujuan dari keselamatan kerja adalah :
1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan
untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas
nasional.
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
3. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

Lebih jauh lagi system ini dapat memberikan perlindungan bagi masyarakat sekitar
suatu perusahaan agar terhindar dari bahaya pengotoran oleh bahan-bahan dari
proses industrialisasi yang bersangkutan, dan perlindungan masyarakat luas dari
bahayabahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk industri.

 Sasaran Utama Keselamatan Kerja


1. Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas,
peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan,
kebakaran atau peledakan.
2. Dibuat, dicoba, dipakai, dipergunakan, diperdagangakan, diangkut atau
disimpan bahan atau barang yang dapat meledak, mudah terbakar, menggigit,
beracun, menimbulkan infcksi, bersuhu tinggi.
3. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau
pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan
pengairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau
dilakukan pekerjaan persiapan.
4. Dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan,
pengolahan kayu, atau basil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan
lapangan kesehatan.
5. Dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah.

Perlindungan tenaga kerja meliputi aspek-aspek yang cukup luas, yaitu


perlindungan keselamatan, kesehatan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan
yang sesuai dengan harkat manusia dan moral agama.

97
Perlindungan tersebut bermaksud, agar tenaga kerja secara aman
melakukan pekerjannya sehari-hari untuk meningkatkan produksi dan produktivitas
nasional. Hal ini dikarenakan atas dasar :
1. Dengan tingkat keselamatan kerja yang tinggi, kecelakaan-kecelakaan yang
menjadi penyebab sakit, cacat, dan kematian dapat dikurangi atau ditekan
sekecil-kecilnya, sehingga pembiayaan yang tidak perlu dapat dihindari.
2. Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan dengan pemeliharaan dan
pengguanaan peralatan kerja dan mesian yang produktif dan efisien dan
bertalian dengan tingkat produksi dan produktivitas yang tinggi.
3. Pada berbagai hal, tingkat keselamatan yang tinggi menciptakan kondisi-
kondisi yang mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja, sehingga factor
manusia dapat diserasikan dengan tingkat efiiensi yang tinggi pula.
4. Praktek keselamatan tidak bias dipisah-pisahkan dari ketrampilan, keduanya
berjalan sejajar dan merupakanunsur-unsur esensial bagi kelangsungan
proses produksi.
5. keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya dengan partisipasi
pengusaha dan buruh akan membawa iklim keamanan dan ketenangan kerja
sehingga sangat membantu bagi hubungan buruh dan pengusaha yang
merupakan landasan kuat terciptanya kelancaran produksi.
Di dalam masyarakat yang sedang membangun, keselamatan kerja lebih
tampil ke depan lagi, dikarenakan cepatnya penerapan teknologi dengan segala
seginya termasuk problematik keselamatan kerja menampilkan banyak
permasalahan, sedangakan kondisi sosio-kultural belum cukup siap untuk
menghadapinya. Maka, sebagai akibat dari tidak cukupnya perhatian yang
diberikan di sana-sini terlihat adanya problem keselamatan kerja, bahkan kadang-
kadang hilang sama sekali basil suatu usaha dikarenakan kecelakaan.
Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan, dan
tanpa unsur kesengajaan lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Tidak diharapkan
oleh karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material atauun penderitaan
dari yang paling ringan sainpai yang paling berat.
Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan
hubungan kerja pada suatu perusahaan, baik disebabkan karena :
1. akibat langsung dari pekerjaan
2. pada waktu melakukan pekerjaan
Terdapat tiga kelompok kecelakaan, yaitu :
1. Kecelakaan akibat kerja di perusahaan
2. kecelakaan lalu lintas
3. kecelakaan di rumah
Adapun klasifikasi kecelakaan akibat kerja adalah :
1. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan
a. terjatuh
b. tertimpa benda jatuh
c. terjepit oleh benda
d. pengaruh suhu tinggi
e. terkena arus listrik
2. Klasifikasi menurut penyebab
a. mesin
 mesin penyalur (transmisi.)

98
 mesin-mesin untuk mengerjakan logam
 mesin-mesin pengolah kayu
 mesin-mesin pertanian
 mesin-mesin pertambangan
b. alat angkut dan alat angkat
 mesin angkat dan peralatannya
 alat angkutan di atas rel
 alat angkutan udara
 alat angkutan air
c. Peralatan lain
 Bejana bertekanan
 Dapur pembakar dan pemanas
 Instalasi pendingin
 Alat-alat listrik (tangan)
 Tangga
d. Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi
 bahan peledak
 debu, gas, cairan dan zat-zat kimia terkecuali bahan peledak
 radiasi
e. Lingkungan kerja
 di luar bangunan
 di dalam bangunan
 di bawah tanah
3. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan
a. Patah tulang
b. Dislokasi / kescleo
c. Regang otot / urat
d. Memar dan luka dalam yang lain
e. Amputasi
4. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh
a. Kepala
b. Leber
c. Badan
d. Anggota atas
e. Anggota bawah

Penerapan peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta


perlindungan para buruh atau karyawan sangat memerlukan sistem manajemen
industri yang baik dengan menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) secara
optimal. Sebab, faktor kesehatan dan keselamatan kerja mempengaruhi terbentuknya
SDM yang terampil, profesional dan berkualitas dari tenaga kerja itu sendiri.
Organisasi keselamatan kerja dalam administrasi pemerintah di tingkat pusat
terdapat dalam bentuk Direktorat Pembinaan Norma Keselamatan dan Kesehatan
Kcrja.
Organisasi keselamatan kerja di tingkat perusahaan ada dua jenis, yaitu :
1. Organisasi sebagai bagian dari struktur organisasi perusahaan
2. panitia keselamatan kerja

99
Adapun tujuan pada tingkat perusahaan adalah sebagai berikut :
1. pencegahan terjadinya kecelakaan
2. pencegahan terjadinya penyakit-penyakit akibat kerja
3. pencegahan atau penekanan menjadi sekecil-kecilnya terjadinya kematian akibat
kecelakaan oleh karena pekerjaan
4. pencegahan atau penekanan menjadi sekecil-kecilnya cacat akibat pekerjaan
5. pengamanan material, konstruksi bangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin,
pesawat-pesawat, instalasi-instalasi, dan lain-lain
6. peningkatan produktivitas kerja atas dasar tingkat keamanan kerja yang tinggi
7. penghindaran pemborosan tenaga kerja, modal, alat-alat dan sumber produksi
lainnya sewaktu bekerja
8. pemeliharaan tempat kerja yang bersih, sehat, nyaman dan aman
9. peningkatan dan pengamanan produksi dalam rangka industrialisasi dan
pembangunan

C. Perundang-undangan dalam Keselamatan Kerja


UU No. 14 tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja
secara jelas ditegaskan, bahwa tiap tenaga kerja berhak mendapat perlindunagn atas
keselamatannya (Pasal 9) dan pemerintah membina norma-norma keselamatan kerja
(Pasal 10 ayat a) dan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR I TAIIUN
1970 TENTANG KESELAMATAN KERJA

6.ERGONOMI

A. Pengertian
Ergonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu : Ergos = kerja dan
Nomos = hukum alam (Natural Law).
Sutalaksana menyebutkan Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang
mempelajari perancangan pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan oleh manusia ,
sistem orang dan mesin, peralatan yang dipakai manusia agar dapat dijalankan dengan
cara yang paling efektif termasuk alat-alat peragaan untuk memberi informasi kepada
manusia.
Menurut DEPKES RI, Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia
dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia
pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi
ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk
menurunkan stress yang akan dihadapi.
Sedangkan menurut Eko Nurmianto ergonomi adalah studi tentang aspek aspek
manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi,
fisiologi,psikologi,enginerring manajemen dan desain atau perancangan.
Dan ergonomi menurut Manuaba adalah satu ilmu, teknologi dan seni yang
berusaha menyerasikan alat kerja/mesin, cara kerja dan lingkungan terhadap
kemampuan, kebolehan dan batasan manusia dengan sasaran tercapainya kondisi
kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien demi tercapainya
produktivitas yang setinggi-tingginya.

100
Di berbagai Negara tidak menggunakan istilah ergonomi , misalnya di Negara-
negara Skandinavia menggunakan istilah " Bioteknologi ". Sedangkan di Negaranegara
lain seperti Amerika Utara menggunakan istilah "Human Factors Enginerring ".
Meskipun istilah ergonomi di berbagai Negara berbeda-beda namun mempunyai
misi yang sama yaitu:
a. Penyesuaian antara peralatan kerja dengan kondisi tenaga kerja yang
menggunakan.
b. Apabila peralatan kerja dan manusia atau tenaga kerja tersebut sudah cocok,
maka kelelahan dapat dicegah dan hasilnya Iebih efisien. Hasil suatu proses kerja
yang efisien berarti memperoleh produktivitas kerja yang tinggi.

B. Ruang Lingkup Ergonomi


Ruang lingkup ergonomik sangat luas aspeknya, antara lain meliputi : - Tehnik
 Fisik
 Pengalaman psikis
 Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan
persendian
 Anthropometri
 Sosiologi
 Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen uptake, pols,
dan aktivitas otot.
 Desain, dll

C. Metode Ergonomi
1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, Inspeksi tempat
kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan
pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang
sederhana sampai kompleks.
2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat
diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak
pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi
fisik pekerja.
3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya
dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku,
keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara Obyektif misalnya dengan parameter
produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain

D. Prinsip Ergonomi
Beberapa prinsip ergonomi di bawah ini antara lain dapat digunakan sebagai
pegangan dalam program kesehatan kerja :
a. Sikap tubuh dalam melakukan pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan,

101
ukuran dan penempatan mesin-mesin, penempatan alat-alat petunjuk, cara-cara
harus melayani mesin (macam gerak, arah, kekuataan dsb)
b. Untuk normalisasi ukuran mesin atau peralatan kerja harus diambil ukuran terbesar
sebagai dasar, serta diatur dengan suatu cara, sehingga ukuran tersebut dapat
dikecilkan dan dapat dilayani oleh tenaga kerja yang lebih kecil, misalnya: tempat
duduk yang dapat dinaik-turunkan, dan dimajukan atau diundurkan.
c. Ukuran-ukuran antropometri yang dapat dijadikan dasar untuk penempatan alat -
alat kerja adalah sebagai berikut:
Berdiri : Tinggi badan
Tinggi bahu
Tinggi siku
Tinggi pinggul
Panjang lengan
Duduk : tinggi duduk
Panjang lengan atas
Panjang lengan bawah dan tangan
Jarak lekuk lutut
d. Pada pekerjaan tangan yang dilakukan berdiri, tinggi kerja sebaiknya 5 -10cm di
bawah tinggi siku.
e. Dari segi otot, sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk, sedang
dari sudut tulang, dianjurkan duduk tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot
perut tidak lemas.
f. Tempat duduk yang baik adalah :
1) Tinggi dataran duduk dapat diatur dengan papan kaki yang sesuai dengan
tinggi lutut,sedangkan paha dalam keadaan datar.
2) Lebar papan duduk tidak kurang dari 35 cm.
3) Papan tolak punggung tingginya dapat diatur dan menekan pada punggung.
g. Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37 derajat ke bawah,
sedangkan untuk pekerjaan duduk arah penglihatan antara 32-44 derajad kebawah.
Arah penglihatan inbi sesuai dengan sikap kepala yang istirahat.
h. Kemampuan beban fisik maksimal oleh ILO ditentukan sebesar 40 kg.
i. Kemampuan seseorang bekerja adalah 8-10 jam per hari. Lebih dari itu efisiensi
dan kualitas kerja menuurun.

E. Penerapan / Aplikasi Ergonomi


1. Posisi Kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki
tidak terbebani dengan berat tubuh. dan posisi stabil selarna bekerja. Sedangkan
posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu
secara seimbang pada dua kaki.
2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu
bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Hams dibedakan ukuran
anthropometri . barat dan timur.
3. Tata letak tempat kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan
simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata -
kata.
4. Mengangkat beban

102
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu,
tangan, punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera
tulang punggung,
jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

1) Menjinjing beban
Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sbb:
 Laki-laki dewasa 40 kg
 Wanita dewasa 15-20 kg
 Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg
 Wanita (16-18 th) 12-15 kg
2) Organisasi kerja
Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara :
 Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun -
 Frekuensi pergerakan diminimalisasi
 Jarak mengangkat beban dikurangi
 Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan mengangkat
tidak terlalu tinggi.
 Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.
3) Metode mengangkat beban
Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetik dar i pedoman
penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip :
 Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung
 Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat badan.
Metoda ini termasuk 5 faktor dasar : oPosisi kaki yang benar
 Punggung kuat dan kekar
 Posisi lengan dekat dengan tubuh
 Mengangkat dengan benar
 Menggunakan berat badan
4) Supervisi medis
Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur. -
Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya
 Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya
dan mendeteksi bila ada kelainan
 Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada
wanita muda dan yang sudah berumur.

F. Manfaat Ergonomi
Bagi ilmu Ergonomi diterapkan secara tepat pada perusahaan, akan
menghasilkan beberapa manfaat sebagai berikut:
1) Meningkatkan unjuk kerja, seperti : menambah kecepatan kerja, ketepatan,
keselamatan kerja, mengurangi energi serta kelelahan yang berlebihan.
2) Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan.
3) Mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya menusia melalui peningkatan
ketrampilan yang diperlukan.
4) Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan meminimalkan kerusakan peralatan
yang disebabkan kesalahan manusia.

103
5) Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja.
Bila kelima kondisi tersebut di atas benar-benar dapat tercapai, maka elisiensi
dan produktivitas tenaga kerja perusahaan akan meningkat. Paling tidak dengan situasi
dan kondisi yang nyaman baik secara fisik maupun psikis, pekerja akan dapat bekerja
dengan baik dan memberikan basil yang optimal yang memaaskan perusahaan.

7. Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Kerja


Banyak faktor-faktor yang terlibat dan mempengaruhi keberhasilan seseorang
dalam bekerja. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1) Faktor diri.
Faktor ini datang dari dalam diri si pekerja dan sudah ada sebelum is mulai bekerja.
Faktor diri tersebut antara lain : aptitude, sikap, karakteristik fisik, minat, motivasi,
usia, kelamin, pendidikan, pengalaman, dan sistem nilai.

2) Faktor situasional.
Faktor ini datang dari luar si pekerja dan hampi -r sepenuhnya dapat diatur dan
diubah oleh pimpinan perusahaan sehingga disebut juga faktor-faktor manajemen,
yang antara lain :
a. Faktor sosial dan keorganisasian seperti karakteristik perusahan, pendidikan
dan latihan, pengawasan, pengupahan dan lingkungan sosial.
b. Faktor fisik antara lain mesin, peralatan, material, lingkungan kerja, metode
kerja.
Besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap keberhasilan kerja bukannya
sekedar hasil jumlah atau rata-rata dari pengaruh setiap faktor tersebut, tetapi
merupakan hasil dari interaksi antara faktor-faktor tersebut, dan kadang-kadang
mengikuti suatu mekanisme yang sangat kompleks. Dengan demikian pimpinan
perusahaan harus dapat mengatur semua faktor-faktor tersebut sesuai dengan kondisi
yang diinginkan dan menjalinnya dengan faktor-faktor dari pekerja untuk menciptakan
keberhasilan yang maksimal.

8. Kelambatan Kerja dan Produktivitas


Ada empat unsur yaitu:
1. Kelambatan yang tak terhindarkan ( unavoidable delay)
Kelambatan yang tak terhindarkan adalah kelambatan yang diakibatkan oleh
beberapa hal yang terjadi di luar kemampuan pengendalian pekerja. Hal ini
timbul karena ketentuan cara kerja yang mengakibatkan menganggurnya
pengerjaan. Misalnya padamnya listrik, rusaknya peralatan dan lain-lain yang
mengalibatkan kelambatan.
2. Kelambatan yang dapat dihindarkan (avoidable delay)
Kelambatan yang dihidarkan adalah kelambatan yang ditimbulkan sepanjang
waktu baik disengaja maupun tidak disengaja. Misalkan pekerja sakit batuk, is
sepanjang waktu kerja batuk-batuk yang menimbulkan gangguan pada
pekerjaannya. Untuk mengurangi kelambatan ini harus diadakan perbaikan
pekerjanya sendiri tanpa harus merubah proses operasinya.

3. Perencanaan

104
Merupakan proses mental, operator berfikir untuk mengambil tindakan yang akan
diambil selanjutnya. Kelambatan ini terjadi karena tenaga kerja masih perlu
proses berfikir lebih lama, ini biasanya terjadi pada tenaga kerja baru.

4. Istirahat untuk menghilangkan kelelahan.


Ini tidak terjadi pada setiap siklus kerja, tetapi terjadi secara periodic. Waktu untuk
memulihkan kembali kondisi badannya dari rasa lelah sebagai akibat dari kerja
yang berbeda-beda, tidak saja karena jenis pekerjaanya tetapi juga karena tingkat
kemampuan daya tahan individu tenaga kerja.
Kelambatan kerja berkaitan dengan produktivitas ini dapat diperbaiki dengan cara
penyesuaian ukuran tempat kerja dengan kemampuan dan keterbatasan manusia ,
penelitian di bidang ini menggunakan ilmu ergonomi.

E.Sumber Belajar :
1. Suma'mur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung
Jakarta
2. Suma'mur. 1987. Keselamatan Kerja & Pencegahan Kecelakaan. Gunung
Agung Jakarta
3. Darmanto D. 1999. Kesehatan Kerja di Perusahaan. Gramedia. Jakarta
4. WHO. 1995. Deteksi Dini Penyakit akibat kerja. EGC. Jakarta
5. Harrington & Gill. 2005. Kesehatan Kerja. EGC. Jakarta
6. Dainur, dr, 1992, Materi-materi pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat, III, Widya
Medika, Jakarta, 71-78
7. Entjang, Indan, dr, 1974, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2000

105
LEMBAR BELAJAR MAHASISWA 6

Hari/tanggal Jam Materi Nama Ruang


Instruktur
Senin 08.10-09.50 SGD R SGD Lt-1
10-10-2016
09.50-11.30 KP : Struktur Drg.Erdianto R KULIAH Lt-1
organisasi profesi, Wardhana,
peran KKI (STR, SIP, M.HKes
kode etik)
Selasa
11-10-2016 08.10-11.30 Skill lab TUTOR R SGD LT 1

Rabu 08.10-11.30 Skill lab TUTOR R SGD LT 1


12-10-2016

12.30-14.10 KP : Asuransi dalam Drg. Benni B


pelayanan kesehatan R KULIAH LT1
dan system
pembiayaan
kesehatan

Kamis 08.10-09.50 KP : Prinsip drg Kusuma A, R. KULIAH LT


13-10-2016 marketing dalam MMR 1
usaha kesehatan dan
Dokter Gigi Keluarga

09.50-11.30 KP : Marketing Drg. Rochman R KULIAH Lt-1


syariah dan prinsip M, Sp.OM
pelayanan kepada
umat
Jumat 08.10-09.50 SGD R SGD Lt-1
14-10-2016

Senin 13.00-14.40 Ujian Akhir Blok R. CBT


15-10-2016

106
Modul : 6. (Praktik Dokter Gigi)
Unit Belajar :
a.Judul :gimana tempat praktekku???
b.Sasaran belajar :
1. Menjelaskan manajemen praktik dan tatalaksana sesuai standar pelayanan
KG (SGD)
2. Menjelaskan marketing dalam kesehatan (SGD)
3. Menjelaskan organisasi profesi dan asuransi kesehatan (SGD)

Skenario
Dokter gigi X yang baru saja lulus dan mendapatkan STR, berencana
membuka tempat praktek di ruko dekat rumahnya. Dia mulai membuat tim untuk
membuat perencanaan manajemen praktik kedokteran gigi yang meliputi perijinan
baik dengan organisasi profesi maupun dinas kesehatan setempat, jenis pelayanan
dan tarif pelayanan yang dieselenggarakan, sistem maketing kesehatan yang
sesuai dengan etika kedokteran gigi dan aturan yang berlaku, penyediaan sarana
dan prasarana yang memenuhi standar pelayanan ,serta rencana kerjasama
dengan pihak asuransi kesehatan sebagai bentuk dukungan terhadap Sistem
Jaminan Kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Kata kunci : sistem marketing kesehatan, manajemen praktik KG, asuransi kesehatan
Masalah : perencanaan praktek dokter gigi

Diskusikan skenario diatas menggunakan seven jump step.

c. Konsep mapping

Manajemen
praktek
Dokter Gigi

Manajemen Manajemen Manajemen SDM


Strategis Keuangan

Rencana Strategis
Penentuan Jenis
Pelayanan & Tarif

Manajemen
Marketing

107
Pertanyaan minimal

1. Bagaimana merencanakan tempat praktek yang baik ?


2. Bagaimana marketing usaha kesehatan ?
3. Apa peran organisasi profesi dan pemerintah dalam pelaksanaan praktek dokter gigi
4. Bagaimana langkah langkah menyusun tarif pelayanan ?

PERENCANAAN PRAKTEK DOKTER GIGI

A. Praktek Dokter Gigi

Globalisasi merupakan perubahan jaman yang terus berlangsung dan dapat


dianggap sebagai salah satu alasan bahwa manusia harus berubah. Dalam era
globalisasi yang sedang berlangsung ini terutama dengan adanya perdagangan bebas
kawasan Asean (Asean Free Trade Area) yang dimulai tahun 2003 akan
meningkatkan persaingan di bidang jasa pelayanan kesehatan (Usri dan Moeis,
1996). Dalam era globalisasi juga akan terjadi perkembangan di berbagai bidang
yang mempengaruhi berbagai peningkatan kebutuhan masyarakat, baik peningkatan
kualitas maupun kuantitas sarana pelayanan kesehatan gigi maupun sumber daya
manusia yang mempunyai pandangan maju. Dengan adanya era globalisasi ini, dapat
memungkinkan masuknya pelayanan kesehatan gigi dari luar negeri ke Indonesia
secara bebas sehingga dapat terbentuk persaingan lahan praktek.
Di sisi lain, dokter gigi perlu mengantisipasi secara tepat adanya perubahan
tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang semakin sadar hukum dan haknya terhadap
pelayanan kesehatan. Hal ini tercermin dalam UU no. 8/1999 tentang perlindungan
konsumen. Hal ini mendorong adanya pengawasan dan pengendalian mutu secara
keprofesian. Dokter gigi harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran (dihitung dalam unit Satuan Kredit Profesi)
dan mampu menerapkannya secara etis dan benar. Untuk itu telah hadir perangkat-
perangkat pengendalian mutu dokter gigi melalui ketentuan registrasi dan lisensi
oleh Konsil Kedokteran Gigi Indonesia dan diberlakukan standar-standar
keprofesian oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (Matram, 2001). Dalam
menjalankan tugas keprofesiannya, dokter gigi di saat ini dan di masa mendatang
dalam situasi yang kompetitif. Untuk mengantisipasi persaingan tersebut, doker gigi
juga perlu merancang dan membentuk suatu konsep, rencana strategi, serta
manajemen praktek dokter gigi yang sesuai agar mampu bertahan menghadapi
kondisi-kondisi di area yang mulai maju dan berkembang seperti sekarang ini.

Pada UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran diatur berbagai hal
yang berkaitan dengan penyelenggaraan praktek. Setiap dokter atau dokter gigi yang
melakukan praktek wajib memiliki Surat Ijin Praktek (SIP) yang dikeluarkan oleh

108
pejabat kesehatan yang berwenang di tingkat Kabupaten/kota (Dinas Kesehatan
setempat).

Dokter gigi dalam menyelenggarakan praktek wajib mengikuti standar


pelayanan medis sebagai pedoman yang mencakup standar prosedur, ketenagaan,
dan sarana yang harus dipenuhi dalam menjalankan praktek. Standar pelayanan
diatur dengan Peraturan Menteri akan dibedakan menurut jenis dan strata sarana
pelayanan kesehatan. Disamping itu dokter gigi dalam melaksanakan praktek harus
sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan
medis pasien. Standar profesi adalah batasan kemampuan (knowledge, skill, and
professional attitude) minimal yang harus dikuasai dan ditetapkan oleh organisasi
profesi. Sedangkan Standar prosedur operasional adalah perangkat instruksi/langkah-
langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu.

Dalam menjalankan tugas keprofesiannya, dokter gigi disaat ini dan dimasa
mendatang berada dalam situasi yang kompetitif. Untuk mengantisipasi persaingan,
maka dokter gigi juga perlu merancang dan membentuk suatu strategi serta program
pemasaran yang baik. Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk
mengetahui serta mempelajari cara menyusun konsep praktek dokter gigi pribadi
yang sesuai dengan standar prosedur.

Praktek swasta dokter gigi saatnya nanti bukan mustahil akan menjadi
andalan kehidupan dokter gigi dan bukan lagi hanya sebagai pekerjaan sambilan
seperti sekarang ini. Bila terjadi tentu diperlukan keseriusan dalam mengelolanya.
Pasar dokter gigi sangat dipengaruhi oleh pergeseran tingkat social ekonomi dan
perubahan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan. Oleh karena itu, dalam
penulisan ini batasan masalah yang dihadapi adalah bagaimana penerapan
manajemen praktek dokter gigi dalam menghadapi era globalisasi. Adapun tujuan
dari penulisan ini adalah mengetahui serta mempelajari cara menyusun konsep
praktek dokter gigi pribadi serta penerapan manajemen praktek dokter gigi agar
dapat bertahan dalam menghadapi persaingan jasa pada era globalisasi melalui
orientasi kepada konsumen (pasien) tanpa meninggalkan etika dari kedokteran itu
sendiri.
Dokter gigi harus mengetahui prinsip-prinsip dan konsep dari manajemen
praktek dokter gigi untuk diterapkan pada bisnis praktek dokter gigi. Ada tanda -
tanda yang dapat dijadikan indikasi oleh dokter gigi untuk analisis praktek ini. Hal
hal yang harus diperhatikan terdiri dari area non-finansial maupun financial.
Sehingga diharapkan dokter gigi mampu menganalisis factor-factor tersebut, lalu
mengidentifikasi masalah-masalah yang akan mempengaruhi selama proses
manajerial.
Analisis Praktek ini sangat penting untuk setiap dokter gigi yang baru
ataupun yang akan membuka praktek pribadi. Ada banyak variable sehingga dapat

109
membedakan hal- hal seperti profit, pertumbuhan praktik, ataupun yang dinamakan
bangkrut.

Tabel 1. Area Finansial dan Area Non-Finansial


Finansial Non Finansial

Budget Quality Assurance

Income Statement Patient management


Balance Sheet Delivery Efficiency

Cash Flow Staff Performance

Fees Appointment scheduling


Salaries Patient Recalls

Hal yang paling diperhatikan dalam analisis praktek dokter gigi adalah
rencana keuangan. Anggaran adalah hal yang formal, biasanya diekspresikan dalam
bentuk mata uan g pada rencana keuangan, termasuk didalamnya sebagai tujuan dari
bentuk penilaian pertumbuhan praktek dokter gigi. Modal dan rencana keuangan
memiliki keterkaitan yang dapat mempengaruhi satu sama lainnya.
Beberapa tips untuk mengembangkan anggaran untuk praktik adalah:
1. Dokter gigi harus memiliki tanggung jawab untuk perencanaan dengan
memaksa untuk berpikir ke depan, tentang masa depan praktek dokter gigi.
2. Dokter gigi beserta staf harus selalu focus kepada tujuan dari praktek
dokter gigi.
3. memberikan harapan yang pasti yang berfungsi sebagai kerangka ideal
untuk menilai performa berikutnya

1. Rencana Praktek dokter gigi


a. Situasi Lokasi Tempat Praktek
b. Rencana Fisik Bangunan
c. Persiapan
Persiapan untuk mendirikan klinik antara lain :
1. Pembuatan surat izin
Surat izin terdiri dari surat izin praktek ( SIP ), surat izin mendirikan
bangunan ( IMB ), surat ijin gangguan ( HO),surat izin pembuangan
limbah. Selain itu juga harus melaporkan ke Dinas Kesehatan Kota
dan melampirkan surat keterangan dari Puskesmas setempat yang
telah melakukan terhadap air, aliran / penampungan limbah.
2. Persiapan untuk papan nama
Melalui izin Dinas Kesehatan Kota dan Pengurus PDGI wilayah
3. Persiapan modal
4. Persiapan untuk design bangunan dan design ruangan
5. Persiapan alat & bahan

110
6. Rekruitmen SDM yang di butuhkan
d. Analisa Eksternal dan Internal Praktek Pribadi
e. Pricing dan Marketing

Dalam menjalankan bisnis pelayanan kesehatan (praktek perseorangan), seorang


Dokter Gigi mempunyai peran ganda. Peran pertama adalah sebagai tenaga profesional
yang tugas dan fungsinya adalah memberikan pelayanan medis kedokteran gigi secara
holistik kepada para pelanggan (pasien) sesuai standar profesi yang berlaku. Peran
kedua adalah sebagai Investor atau Pemodal Usaha yang tugas dan fungsinya
mengupayakan roda bisnis pelayanan dapat terus berjalan sesuai tatanan manajemen,
baik manajemen pelayanan, manajemen keuangan, manajemen logistik atau bentuk
manajemen lainnya.

Beberapa masalah yang kerap muncul dalam pembiayaan pelayanan kesehatan


di Indonesia antara lain adalah: 1) Terjadi inflasi biaya kesehatan yang tinggi karena
meningkatnya demand pelayanan kesehatan dibanding supply pelayanan kesehatan,
kemajuan teknologi bidang kesehatan termasuk Kedokteran Gigi serta makin tingginya
tuntutan masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan; 2) Tarif pelayanan kesehatan
termasuk praktek perseorangan yang tidak rasional yang disebabkan tidak seimbang
dengan peningkatan inflasi serta tidak didasarkan pada perhitungan riil atau tidak
bersifat “cost-based”. Oleh karena itu bisnis praktek perseorangan harus dikelola
berdasarkan kaidah “Ekonomi” yang artinya:
1. Terdapat keseimbangan antara expenses atau cost (pengeluaran) dengan revenue
(pendapatan)
2. Pengelolaan cost diarahkan untuk tercapainya tingkat efisiensi
3. Revenue dihasilkan dari utilisasi (kunjungan) dengan tingkat harga tertentu
4. Penanganan tarif dan kepuasan konsumen sangat penting
5. Perlu ada indikator biaya sebagai alat manajerial dalam melakukan kendali biaya

Langkah yang harus dilakukan, provider (dalam hal ini Dokter Gigi yang
praktek perseorangnan), harus mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi
suatu pelayanan dengan melakukan analisis biaya dan harus bisa menetapkan tarif yang
rasional berdasarkan perhitungan biaya satuan (unit cost). Dengan adanya tarif yang
rasional akan didapatkan revenue bagi pihak provider sesuai rumus berikut:

Revenue (Pendapatan) = Tarif X Utilisasi (Jumlah Kunjungan)

Revenue yang didapatkan pihak provider akan menghasilkan kemampuan untuk


meningkatkan “kesejahteraan” provider seperti: membeli peralatan baru yang sesuai
dengan perkembangan teknologi, memperbaiki fasilitas dan sarana pelayanan, membeli
bahan habis pakai yang digunakan dalam pelayanan, membayar gaji SDM pemberi
pelayanan (dokter gigi, tenaga chairside, tenaga administrasi, pekarya, dan lainnya)
serta mengembangkan produk pelayanan baru. Dengan adanya peningkatan
“kesejahteraan” tersebut pihak provider akan mampu memberikan pelayanan yang

111
bermutu tinggi dan paripurna (service execelence) sehingga meningkatkan kepercayaan
dan loyalitas customer.

Dengan melakukan strategi pentarifan yang rasional dan tepat akan memberikan
banyak manfaat terlebih bagi provider yang bekerjasama dengan pihak ketiga seperti
perusahaan kerja sama atau dengan pihak asuransi baik dengan sistem fee for service
maupun kapitasi. Penetapan tarif yang didasarkan pada analisis biaya dan perhitungan
biaya satuan (unit cost) akan memberikan daya tawar dalam menjalin kerjasama dengan
pihak ketiga tersebut sehingga pemberian pelayanan kepada customer sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur di bidang Kedokteran Gigi untuk mencapai nilai
dan mutu yang diharapkan. Provider dapat mengetahui batasan tarif yang masih
rasional dengan perhitungan biaya satuan (unit cost) suatu produk pelayanan sehingga
provider tidak mengalami kerugian karena tarif yang disepakati dengan pihak ketiga
lebih rendah dari biaya satuan suatu produk pelayanan.

Giddens, et al (2005) menyatakan:

“Selecting a pricing strategy for your product is critical, because price is the most
highly visible element of all marketing efforts.”

“To price products appropriately, we need to know: (1) Cost and profit objectives;
(2) Customer or Demand; (3) and Competition.”

Penetapan tarif atau strategi pentarifan, merupakan titik kritis dalam suatu
produk (termasuk di dalamnya produk pelayanan kesehatan gigi); karena tariff
merupakan unsur yang paling berpengaruh dari seluruh usaha pemasaran.

Penentuan tarif yang rasional, dibutuhkan tiga informasi penting, yaitu: (1)
Jumlah biaya dan keuntungan yang diharapkan, (2) Pangsa pasar sasarannya (baik
jumlah maupun karakteristik target pasarnya), dan (3) Keberadaan pesaing.

Berdasarkan teori di atas, hal yang terpenting dalam penentuan tariff pelayanan
kesehatan adalah adanya informasi jumlah biaya yang dibutuhkan untuk melayani satu
kegiatan pelayanan atau tindakan tertentu. Sedangkan informasi lain di luar biaya,
merupakan “kebijakan” yang harus diambil oleh Dokter gigi secara pribadi. Kebijakan
tersebut harus mempertimbangkan faktor di luar biaya pelayanan (keuntungan yang
ingin didapat, “target market’nya, dan keberadaan pesaing.

Undang – undang Republik Indonesia tentang Praktek Kedokteran Tahun 2004


telah mengamanatkan bagi para tenaga profesional dokter dan dokter gigi (spesialis dan
non spesialis) untuk melakukan kendali mutu dan kendali biaya sesuai yang tercantum
dalam Paragraf 5 tentang Kendali Mutu dan Kendali Biaya Pasal 49 ayat (1):

“Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktek kedokteran atau
kedokteran gigi wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya”

112
113