Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini derajat kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia masih belum memuaskan.
Hal ini ditandai dengan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) yang menjadi salah satu indikator dari keberhasilan pembangunan khususnya di
bidang kesehatan. Tidak semua kehamilan berakhir dengan persalinan yang berlangsung
normal.
Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002/2003 menunjukan bahwa
Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah ini
menurun pada tahun 2007 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Namun, angka ini
masih tinggi jika dibandingkan dengan AKIdi negara tetanggadi Asia Tenggara. Angka ini
20-30 kali besar dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura. Tingginya AKI di
Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal yang lebih dikenal dengan istilah 4 terlalu dan 3
terlambat, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan , terlalu banyak,
terlambat dalam mencapai fasilitas kesehatan, terlambat mendapatkan pertolongan, serta
terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan. Secara berturut-turut,
penyebab kematian ibu adalah pendarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%),
Komplikasi massa nifas (8%), emboli (5%), abortus (5%), trauma obstetrik (5%),
persalinan macet/partus lama (5%), dan penyebab lain (11%).
Pelaksanaan berbagai program kesehatan tersebut sangat membutuhkan sumber
daya manusia yang kompeten agar dapat mencapai tujuannya, terutama bidan. Bidan
berperan penting sebagai ujung tombak atau orang yang berada di garis terdepan karena
merupakan tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan wanita sebagai
sasaran program. Oleh sebab itu, bidan perlu senantiasa meningkatkan kompetensinya,
salah satunya dengan meningkatkan pemahaman asuhan kebidanan mulai dari wanita
hamil hingga nifas serta asuhan kebidanan untuk kesehatan bayi.
Kehamilan merupakan suatu kondisi yang normal, namun memerlukan pengawasan
supaya tidak berubah menjadi yang abnormal. Pemeriksaan kehamilan dengan rutin
merupakan suatu hal yang penting dilakukan oleh ibu yang sedang hamil agar merka
dapat mejalankan kehamilannya dengan normal dan janin yang dikandungnya dalam
keadaan baik .Maka dari itu perlunya pengawasan dan pendidikan yang diberikan oleh
seorang petugas kesehatan kepada ibu hamil. Di dalam pemeriksaan kehamilan petugas
kesehatan mengarahkan dan memberikan informasi tentang hal-hal yang harus dilakukan
seorang ibu hamil agar janin nya tetap sehat dan terjadi kelahiran normal bagi bayi.
Pengawasan antenatal atau yang sering disebut pemeriksaan kehamilan ditujukan untuk
menyiapkan baik fisik maupun mental ibu di dalam masa kehamilan dan kelahiran serta
menemukan kelainan dalam kehamilan dalam waktu dini sehingga dapat diobati
secepatnya. Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan
angka kecacatan dan kematian baik ibu maupun janin.
Pengawasan dan pemeriksaan pada masa kehamilan dapat dilakukan dengan
antenatal care lengkap dengan cara:
a. Memberikan pelayanan kepada ibu hamil minimal empat kali, satu kali pada
trimester I, satu kali pada trimester II, dan dua kali pada trimester III untuk
memantau keadaan ibu dan janin dengan seksama sehingga dapat mendeteksi
secara dini dan dapat memberikan intervensi secara cepat dan tepat.
b. Melakukan anamnesis meliputi pengkajian data subjektif, data kebidanan,
pengetahuan informasi kebidanan atau KIE, data kesehatan, data kebiasaan
sehari-hari, data psikologis, data psikososial dan data sosial budaya.
c. Melakukan pemeriksaan head to toe peninjauan dari ujung rambut sampai ujung
kaki pada setiap sistem tubuh pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau
hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang
sistematif dan komprehensif, memastikan atau membuktikan hasil anamnesa,
menentukan masalah dan merencanakan tindakan yang tepat bagi klien.
d. Melakukan penimbangan berat badan ibu hamil dan pengukuran lingkar lengan
atas (LILA) secara teratur mempunyai arti klinis penting, karena ada hubungan
yang erat antara pertambahan berat badan selama kehamilan dengan berat
badan lahir bayi. Pertambahan berat badan hanya sedikit menghasilkan rata-rata
berat badan lahir bayi yang lebih rendah dan risiko yang lebih tinggi untuk
terjadinya bayi BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) dan kematian bayi, pertambahan
berat badan ibu selama kehamilan dapat digunakan sebagai indikator
pertumbuhan janin dalam rahim. Menurut Mufdlilah (2009b) yang dikutip dari
Cunningham dkk (1997), pertambahan yang optimal adalah kira-kira 20% dari
berat badan ibu sebelum hamil,, jika berat badan tidak bertambah, lingkar lengan
atas <23,5cm menunjukkan ibu mengalami kurang gizi.
e. Penimbangan berat badan dan pengukuran tekanan darah harus dilakukan
secara rutin dengan tujuan untuk melakukan deteksi dini terhadap terjadinya tiga
gejala preeklamsi. Tekanan darah tinggi, protein urine positif, pandangan kabur
atau oedema pada ekstremitas atas.
f. Pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) dilakukan secara rutin dengan tujuan
mendeteksi secara dini terhadap berat badan janin. Indikator pertumbuhan berat
janin intrauterine, tinggi fundus uteri dapat juga mendeteksi secara dini terhadap
terjadinya molahidatidosa, janin ganda atau hidramnion yang ketiganya dapat
mempengaruhi terjadinya kematian maternal.
g. Melaksanakan palpasi abdominal setiap kunjungan untuk mengetahui usia
kehamilan, letak, bagian terendah, letak punggung, menentukan denyut jantung
janin untuk menentukan asuhan selanjutnya.
h. Pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT) kepada ibu hamil sebanyak 2 kali
dengan jarak minimal 4 minggu, diharapkan dapat menghindari terjadinya tetanus
neonatorum dan tetanus pada ibu bersalin dan nifas.
i. Pemeriksaan hemoglobin (Hb) pada kunjungan pertama dan pada kehamilan 30
minggu.
j. Memberikan tablet zat besi, 90 tablet selama 3 bulan, diminum setiap hari,
ingatkan ibu hamil tidak minum dengan teh dan kopi, suami/keluarga hendaknya
selalu dilibatkan selama ibu mengkonsumsi zat besi untuk meyakinkan bahwa
tablet zat besi betul-betul diminum.
k. Pemeriksaan urin jika ada indikasi (tes protein dan glukosa), pemeriksaan
penyakit-penyakit infeksi (HIV/AIDS dan PMS).
l. Memberikan penyuluhan tentang perawatan diri selama hamil, perawatan
payudara, gizi dan nutrisi ibu selama hamil,kebutuhan zat besi selama hamil,
tanda bahaya kehamilan dan janin, ketidaknyamanan selama hamil, persiapan
persalinan, pencegahan komplikasi persalinan (P4K), dll. Sehingga ibu dan
keluarga dapat segera mengambil keputusan dalam perawatan selanjutnya dan,
mengetahui informasi tentang kehamilan.

m. Bicarakan tentang persalinan kepada ibu hamil, suami/ keluarga pada trimester
III, memastikan bahwa persiapan persalinan bersih, aman dan suasana yang
menyenangkan, persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk.
n. Tersedianya alat-alat pelayanan kehamilan dalam keadaan baik dan dapat
digunakan, obat-obatan yang diperlukan, waktu pencatatan kehamilan dan
mencatat semua temuan pada kartu menuju sehat (KMS) ibu hamil untuk
menentukan tindakan selanjutnya.
o. Merencanakan mengikuti keluarga berencana (KB) setelah bersalin.
Peran bidan dalam pengawasan dan pemeriksaan kehamilan yaitu meliputi:
a. Melaksanakan asuhan kebidanan kepada ibu hamil (Ante Natal Care)
b. Melakukan asuhan persalinan fisiologis kepada ibu bersalin (Post Natal Care)
c. Menyelenggarakan pelayanan terhadap bayi baru lahir (kunjungan neanatal)
d. Mengupayakan kerjasama kemitraan dengan dukun bersalin di wilayah kerja
puskesmas.
e. Memberikan edukasi melalui penyuluhan kesehatan reproduksi dan kebidanan.
f. Melaksanakan pelayanan Keluarga Berencana (KB) kepada wanita usia
subur (WUS).
g. Melakukan pelacakan dan pelayanan rujukan kepada ibu hamil risiko tinggi (bumil
risti)
h. Mengupayakan diskusi audit maternal perinatal (AMP) bila ada kasus kematian
ibu dan bayi.
i. Melaksanakan mekanisme pencatatan dan pelaporan terpadu pelayanan
puskesmas.
Berdasarkan hal diatas, penulis tertarik melakukan berjudul “Asuhan Kebidanan
pada ibu hamil di Puskesmas Wedi”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan urutan latar belakang di atas masalah yang dapat dirumuskan adalah:
Bagaimana asuhan kebidanan pada ibu hamil di Puskesmas Wedi.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk menerapkan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan menggunakan
menejemen asuhan kebidanan menurut Varney H,1997.
2. Tujuan Khusus
a. Pengkajian.
b. Interpretasi data.
c. Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi masalah.
d. Tindakan segera.
e. Rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional.
f. Pelaksanaan asuhan kebidanan.
g. Mengevaluasi keefektivan asuhan yang diberikan.

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat teoritis;
Hasil asuhan kebidanan ini dapat digunakan untuk menambah wawasan tentang
Asuhan Kebidanan pada ibu hamil.
2. Manfaat aplikatif;
a. Institusi
Hasil asuhan kebidanan ini dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam
pemberian asuhan pada ibu hamil di Puskesmas Wedi.
b. Manfaat bagi Profesi Bidan
Sebagai sumbangan teoritis maupun aplikatif bagi profesi bidan dalam asuhan
kebidanan pada ibu hamil.
c. Klien dan masyarakat
Agar klien maupun masyarakat dapat melakukan deteksi dini penyulit yang
mungkin timbul pada masa hamil,sehingga memungkinkan segera mencari
pertolongan untuk mendapatkan penanganan.
BAB II

TINJAUAN TEORI
A. KEHAMILAN
1. Konsep Dasar
a. Pengertian Kehamilan
a. Kehamilan normal adalah keadaan ibu sehat, tidak ada riwayat obstertic buruk.
Dengan ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan, pemeriksaan fisik dan
laboratorium normal (Saefudin, 2010).
b. Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir
dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). istilah medis untuk wanita hamil
adalah gravida, sedangkan manusia didalamnya disebut embrio (minggu-minggu
awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran). Seorang wanita yang hamil untuk
pertama kalinya disebut primigravida atau gravida 1. Seorang wanita yang belum
pernah hamil dikenal sebagai gravida 0 (cermin dunia kedokteran No.139, 2010
/Wikipedia Bahasa Indonesia).
c. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi
sampai 3 bulan, triwulan kedua dimulai dari bulan ke 4 sampai 6 bulan, triwulan
ketiga dimulai dari bulan ke 7 sampai bulan ke 9 (Saifudin, 2007).
d. Kehamilan 40 minggu disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila kehamilan
lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur. Kehamilan antara 27 sampai
36 minggu disebut kehamilan prematur (Prawirohardjo, 2007).
e. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan
kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun kadang-kadang tidak
sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, pelayanan atau asuhan
antenatal merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan
ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal (Prawirohardjo,
2007).
b. Proses terjadinya kehamilan
a. Ovulasi
Ovulasi terjadi ketika sel telur (ovum) keluar dari sarangnya (ovarium=indung
telur), ceritanya begini: di dalam ovarium terdapat kantung-kantung (folikel) yang
berisi cairan dan sel telur, pada suatu ketika folikel menjadi matang kemudian
pecah maka keluarlah sel telur yang ada di dalamnya tadi. Ovulasi ini normalnya
terjadi setiap bulan sesuai siklus menstruasi dan rata-rata terjadi sekitar dua
minggu sebelum periode (siklus) mens berikutnya.
b. Kenaikan Hormon
Setelah telur meninggalkan folikel, folikel berkembang menjadi sesuatu yang
disebut korpus luteum. Korpus luteum melepaskan hormon yang membantu
menebalkan lapisan rahim, untuk mempersiapkan ketika terjadi proses
kehamilan nantinya.
c. Telur Berjalan ke Tuba Fallopi
Setelah telur dilepaskan, ia bergerak ke tuba falopi. Sel telur tinggal di sana
selama sekitar 24 jam, menunggu sel sperma untuk membuahi. Semua ini
terjadi, rata-rata, sekitar dua minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir
atau masa ini disebut juga dengan masa subur. Telur memiliki hanya 12 sampai
24 jam sedangkan sperma bisa bertahan selama sekitar 72 jam pada saluran
reproduksi wanita. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa masa subur wanita itu
lamanya 4 hari, yakni hari ke 12 – 16 dihitung dari hari pertama menstruasi.
d. Jika sel telur tidak dibuahi
Jika tidak ada sperma yang masuk untuk membuahi sel telur, maka tidak terjadi
proses kehamilan dan sel telur akan bergerak menuju rahim (uterus) kemudian
hancur. Kadar hormon yang dihasilkan korpus luteum tadi kembali normal
sehingga lapisan rahim yang menebal tadi menjadi luruh, inilah yang disebut
dengan menstruasi atau haid.
e. Fertilisasi (pembuahan)
Jika salah satu sel sp*rma masuk ke tuba fallopi dan bertemu sel telur yang
telah menanti, maka terjadilah fertilisasi (pembuahan), proses kehamilan dimulai
dari sini. Sel telur akan mengubah dirinya sehingga tidak ada sp*rma lain bisa
masuk (membuahi). Pada saat pembuahan, gen bayi dan jenis kelaminnya
ditetapkan pada saat itu juga. Jika yang membuahi sp*rma yang berkromosom
Y, maka jadi anak laki-laki. Jika yang membuahi berkromosom X, maka jadi
anak perempuan.
f. Implantasi
Telur yang telah dibuahi (zigot) tetap dalam Tuba Fallopi selama sekitar tiga
sampai empat hari, tetapi dalam waktu 24 jam setelah dibuahi, zigot mulai
membelah diri (zigot yang sudah membelah disebut embrio) sangat cepat
menjadi banyak sel. embrio terus membelah ketika bergerak perlahan-lahan
melalui tuba falopi menuju rahim. Ketika sampai rahim embrio akan menempel
dan tertanam dalam dinding rahim yang sudah menebal (lahan subur), inilah
yang disebut implantasi (penanaman). Beberapa wanita mengalami spotting
atau sedikit bercak pendarahan selama satu atau dua hari sekitar waktu
implantasi. Lapisan rahim semakin tebal dan leher rahim disegel oleh plug lendir
sampai bayi lahir. Dalam minggu pertama, hormon yang disebut human
chorionic gonadotropin (hCG) dapat ditemukan dalam darah. Hormon ini dibuat
oleh sel-sel yang akhirnya menjadi plasenta. Hormon beta-hCG inilah yang
dideteksi pada tes pack atau tes kehamilan.
c. Pertumbuhan dan perkembangan hasil kontrasepsi
Pertumbuhan embrio bermula dari lempeng embrional (embrional plate)
kemudian berdiferensiasi menjadi 3 lapisan, yaitu eksodermal, mesodermal, dan
endodermal. Ruang amnion akan tumbuh pesat mendesak exocoeloma,
sehingga dinding ruang amnion mendekati korion. Mesoblas di ruang amnion dan
mudigah menjadi padat disebut body stalk yang merupakan jembatan antara
embrio dan dinding trofoblas, yang kelak akan menjadi tali pusat (Prawihardjo,
2007). Dalam referensi Prawirohardjo (2007). Perkembangan embrio antara lain :
1. Sperma membuahi ovum kemudian hasil konsepsi menjadi morulla
masuk untuk menempel ± 11 hari setelah konsepsi.
2. Minggu ke- 4/ bulan ke-1 : Dari embrio, bagian tubuh pertama
muncul adalah tulang belakang, otak
dan syaraf, jantung, sirkulasi darah dan
pencernaan terbentuk.
3. Minggu ke-8/ bulan ke-2 : Perkembangan embrio lebih cepat,
jantung mulai memompa darah.
4. Minggu ke-12/ bulan ke-3 : Embrio berubah menjadi janin. Denyut
jantung janin dapat dilihat dengan
pemeriksaan USG, berbentuk manusia,
gerakan pertama dimulai, jenis kelamin
sudah bisa ditentukan, ginjal sudah
memproduksi urine
5. Minggu ke-16/ bulan ke-4 : Sistem muskuloskeletal matang, sistem
syaraf terkontrol, pembuluh darah
berkembang cepat, denyut jantung janin
terdengar lewat dopler, pankreas
memproduksi insulin.
6. Minggu ke-20/bulan ke-5 : Verniks melindungi tubuh, lanugo
menutupi tubuh, janin membuat jadwal
untuk tidur, menelan dan menendang.
7. Minggu ke-24/bulan ke-6 : Kerangka berkembang cepat,
perkembangan pernafasan dimulai.
8. Minggu ke-28/bulan ke-7 : Janin bernafas, menelan dan mengatur
suhu, surfactant mulai terbentuk diparu-
paru, mata mulai buka dan tutup, bentuk
janin 2/3 bentuk saat lahir.
9. Minggu ke-32/bulan ke-8 : Lemak coklat berkembang di bawah
kulit, mulai simpan zat besi, kalsium dan
fosfor.
10. Minggu ke-38/bulan ke-9 : Seluruh uterus digunakan bayi sehingga
tidak bisa bergerak banyak, antibody ibu
ditransfer ke bayi untuk mencapai
kekebalan untuk 6 bulan pertama
sampai kekebalan bekerja bayi bekerja
sendiri.

Table 2.1
Tumbang janin

TinggiFundus
Usia
Menggunakan petunjuk-
Kehamilan Dalam cm
petunjuk badan
12 minggu - Teraba di atas simfisis
pubis
16 minggu - Ditengah, antara simfisis
pubis dan umbilicus
20 minggu 20 cm ( 2cm) pada umbilikus
22-27 minggu Usia kehamilan -
dalam minggu = cm
(2 cm)
28 minggu 28 cm (2 cm) Ditengah antara
umbilikus dan prosesus
sifoideus
29-35 minggu Usia kehamilan -
dalam minggu = cm
36 minggu 36 cm (2cm) Pada prosesus sifoideus
d. Perubahan anatomi dan adaptasi fisiologis pada ibu hamil trimester I,II,III.
a. Uterus
Uterus yang semula besarnya hanya sebesar jempol atau beratnya 30 gram
akan mengalami hipertrofi dan hiperpla-sia, sehingga menjadi seberat 1000 gram
saat akhir kehamilan. Otot dalam rahim mengalami hiperplasia dan hipertrofi
menjadi lebih besar, lunak, dan dapat mengikuti pembesaran rahim karena
pertumbuhan janin(Manuaba, 2010)
b. Ovarium
Ovulasi berhenti selama kehamilan dan pematanga folikel ditunda. Biasanya
hanya satu corpus luteum kehamilan dapat ditemukan di dalam ovarium wanita
hamil dan hanya berfungsi maksimal sampai 6-7 minggu pertama kehamilan dan
selanjutnya fungsinya menurun sampai akhirnya pada minggu ke-16 kehamilan
fungsinya digantikan oleh plasenta untuk menghasilkan estrogen dan
progesterone.
c. Vagina dan Perineum
Perubahan yang terjadi pada vagina selama kehamilan antara lain terjadinya
peningkatan vaskularitas dan hiperemia (tekanan darah meningkat) pada kulit
dan otot perineum, vulva, pelunakan pasa jaringan ikat, munculnya tanda
chadwick yaitu warna kebiruan pada daerah vulva dan vagina yang disebabkan
hiperemia, serta adanya keputihan karena sekresi serviks yang meningkat akibat
stimulasi estrogen (Aprillia, 2010)
d. Payudara
Menurut Djusar Sulin dalam buku Ilmu Kebidanan (2009; h. 179), pada awal
kehamilan perempuan akan merasakan payudara menjadi semakin lunak.
Seletah bulan kedua payudara akan bertambah ukurannya dan vena – vena
dibawah kulit akan lebih terlihat. Puting payudara akan lebih besar, kehitaman,
dan tegak. Areola akan lebih besar dan kehitaman. Kelenjar sebasea dari areola
akan membesar dan cenderung menonjol keluar.
e. SirlukasiDarah
Volume darah semakin meningkat dan jumlah serum darah lebih besar dari
pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi pengenceran darah (hemodelusi). Sel
darah merah semakin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi
pertumbuhan janin dalalm rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang
dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodelusi yang disertai
anemia fisiologis (Manuaba, 2010; h. 93).
f. SistemRespirasi
Kapasitas paru secara total menurun 4-5% dengan adanya elevasi diafragma.
Fungsi respirasi juga mengalami peru-bahan. Respirasi rate 50% mengalami
peningkatan, 40% pada tidal volume dan peningkatan konsumsi oksigen 15–20%
diatas kebutuhan perempuan tidak hamil (Aprillia, 2010; h. 71-72).
g. SistemPencernaan
Menurut Djusar Sulin dalam buku Ilmu Kebidanan (2009; h. 185), seiring dengan
makin membesarnya uterus, lambung, dan usus akan tergeser. Perubahan yang
nyata terjadi pada penurunan motilitas otot polos pada traktus digestivus. Mual
terjadi akibat penurunan asam hidrokloroid dan penurunan motilitas, serta
konstipasi akibat penurunan motilitas usus besar.
Gusi akan menjadi lebih hiperemis dan lunak sehingga dengan trauma sedang
saja bisa menyebabkan perdarahan. Epulis selama kehamilan akan muncul.
Hemorroid juga merupakan suatu hal yang sering terjadi akibat konstipasi dan
peningkatan tekanan vena pada bagian bawah karena pembesa-ran uterus.
h. SistemPerkemihan
Karena pengaruh desakan hamil muda dan turunnya kepala bayi pada hamil tua,
terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering berkemih. Desakan tersebut
menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh. Hemodelusi menyebabkan
metabo-lisme air makin lancar sehingga pembentukan urine akan bertambah
(Manuaba, 2010; h. 94).
i. Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena
pengaruhmelanophore stimulating hor-mone lobus hipofisis anterior dan
pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae
gravidarum livide atau alba, areola mamae, papilla mamae, linea nigra, pipi
(khloasma gravidarum). Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan meng-hilang
(Manuaba, 2010, 94)
j. Metabolisme
Menurut Manuaba (2010, 95) perubahan metabolisme pada kehamilan:
Metabolisme basal naik sebesar 15-20% dari semula, teru-tama pada trimester
ketiga.
Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 mEq per liter menjadi
145 mEq per liter disebabkan hemo-delusi darah dan kebutuhan mineral yang
diperlukan janin.
Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan, dan persiapan laktasi.
Dalam makanan diperlukan protein tinggi sekitar 0,5 g/kg berat badan atau
sebutir telur ayam sehari.
Kebutuhan kalori didapat dari karbohidrat, lemak dan protein.
Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil:
Kalsium, 1,5 gram setiap hari, 30-40 gram untuk pemben-tukan tulang janin
Fosfor, rata – rata 2 gram dalam sehari.
Zat besi, 800 mg atau 30-50 mg per hari.
Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak dan dapat terjadi retensi air.
Berat badan ibu hamil bertambah. Berat badan ibu hamil akan bertambah antara
6,5-16,5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan 0,5 kg/ minggu.
k. Perubahan Fisiologi Sistem Kekebalan pada Ibu Hamil
Sistem pertahanan tubuh ibu selama kehamilan akan tetap utuh, kadar
immunoglobulin dalam kehamilan tidak berubah . Imunoglobulin G atau IgG
merupakan komponen utama dari imunoglobulin janin di dalam uterus dan
neonatal dini. IgG merupakan satu-satunya imunoglobulin yang dapat menembus
plasenta sehingga immunitas pasif akan diperoleh oleh bayi. Kekebalan ini dapat
melindugi bayi dari infeksi selanjutnya.
l. Perubahan pada Sistem Pencernaan
Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan dipengaruhi oleh peningkatan
hormon progresteron dan tekanan uterus yang membesar terhadap organ
saluranpencernaan
Perubahan Sistem Pencernaan Yang Dirasakan Ibu Hamil :
Trimester I
Rasa mual baik yang sedang maupun berat dengan atau tanpa terjadinya
muntah setiap saat siang ataupun malam. Apabila terjadi pada pagi hari sering
disebut “Morning Sickness”. Hipersalivasi sering terjadi sebagai kompensasi dari
mual dan muntah yang terjadi. Pada beberapa wanita ditemukan adanya
(ngidam makanan) yang mungkin berkaitan dengan persepsi individu wanita
tersebut mengenai apa yang bisa mengurangi rasa mual dan muntah. Kondisi
lainnya adalah “Pica” (mengidam) yang sering dikaitkan dengan anemia akibat
defisiensi zat besi ataupun adanya suatu tradisi.
Trimester II dan III
Biasanya terjadi konstipasi karena pengaruh hormon progesteron yang
meningkat. Selain itu perut kembung juga terjadi karena adanya tekanan uterus
yang membesar dalam rongga perut yang mendesak organ-organ dalam perut
khususnya saluran pencernaan, usus besar, kearah atas dan lateral. Wasir
(Hemorrhoid) cukup sering pada kehamilan sebagian besar akibat konstipasi
dan naiknya tekanan vena-vena di bawah uterus termasuk vena hemorrhoid.
Panas perut (heart burn) terjadi karena terjadinya aliran balik asam gastrik ke
dalam esophagus bagian bawah.
m. Perubahan Sistem Muskoloskeletal
Perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal dipengaruhi baik secara
hormonal dengan efek relaksasi jaringan persendian juga secara postural dari
berpindahnya pusat gravitasi.
Perubahan Sistem Muskuloskeletal Yang Dirasakan Ibu Hamil
Trimester II & III
Hormon progresteron dan hormon relaxing menyebabkan relaksasi jaringan ikat
dan otot-otot, hal ini terjadi maksimal pada satu minggu terakhir kehamilan,
proses relaksasi ini memberikan kesempatan pada panggul untuk meningkatkan
kapasitasnya sebagai persiapan proses persalinan, tulang pubik melunak
menyerupai tulang sendi, sambungan sendi sacrococcigus mengendur membuat
tulang coccigis bergeser ke arah belakang sendi panggul yang tidak stabil, pada
ibu hamil hal ini menyebabkan sakit pinggang. Postur tubuh wanita secara
bertahap mengalami perubahan karena janin membesar dalam abdomen
sehingga untuk mengkompensasi penambahan berat ini, bahu lebih tertarik ke
belakang dan tulang lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur, dan
dapat menyebabkan nyeri punggung pada beberapa wanita.
Selama trimester akhir rasa pegal, mati rasa dan lemah dialami oleh anggota
badan atas yang disebabkan lordosis yang besar dengan fleksi anterior leher
dan merosotnya lingkar bahu yang akan menimbulkan traksi pada nervus ulnaris
dam medianus (Crisp dan DeFrancesco, 1964). Ligament rotundum mengalami
hipertropi dan mendapatkan tekanan dari uterus yang mengakibatkan rasa nyeri
pada ligament tersebut.
n. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Perubahan yang terjadi pada sistem kardiovaskular merupakan kompensasi dari
pemenuhan kebutuhan yang meningkat untuk pemenuhan nutrisi dengan adanya
janin. Selain itu pengaruh hormonal terhadap pembuluh darah ikut berperan
dalam beberapa perubahan yang terjadi.
Perubahan Sistem Cardiovaskuler Yang Dirasakan Ibu Hamil :
1. Trimester I
Pada akhir trimester I mulai terjadi palpitasi karena pembesaran ukuran serta
bertambahnya kardiac output. Hidung tersumbat/berdarah
karena pengaruh hormon estrogen dan progresteron terjadi pembesaran
kapiler, relaksasi otot vaskuler serta peningkatan sirkulasi darah.
2. Trimester II & III
Terjadi Edema dependen kongesti sirkulasi pada exstrimitas bawah karena
peningkatan permeabilitas kapiler dan tekanan dari pembesaran uterus pada
vena pelvik atau pada vena cava inferior.Gusi Berdarah karena trauma
terhadap gusi yang karena pengaruh hormon estrogen sangat vaskuler,
percepatan pergantian pelapis ephitel gusi dan berkurangnya ketebalan ephitel
tersebut.Hemorrhoid akibat tekanan uterus terhadap vena hemorrhoidal.
Hipotensi supinasi karena terbloknya aliran darah di vena cava inferior oleh
uterus yang membesar apabila ibu pada posisi tidur terlentang.Timbul spider
nevi dan palmar erythema kareana meningkatnya aliran darah ke daerah
kulit.Varises pada kaki dan vulva karena kongesti vena bagian bawah
meningkat sejalan tekanan karena pembesaran uterus dan kerapuhan
jaringan elastis karena pengaruh hormon estrogen.
k. Perubahan Psikologis pada Ibu Hamil
Seperti pada perubahan fisiologis, perubahan psikologis pada ibu hamil juga
mengalami perubahan jika dibandingkan dengan keadaan sebelum hamil.
Perubahan psikologis pada ibu hamil dapat di bagi dengan melihat waktu
kehamilan yaitu Trimester I, Trimester II, dan Trimester III.
Perubahan psikologis pada ibu hamil terbagi atas tiga periode di atas (Trimester
I Trimester II, dan Trimester III). Masing-masing periode membawa perubahan
sendiri-sendiri

Trimester I
Pada trimester I atau bulan-bulan pertama ibu akan merasa tidak berdaya dan
merasa minder karena ibu merasakan perubahan pada dirinya.
Segera setalah konsepsi kadar hormon estrogen dan progesteron meningkat,
menyebabkan mual dan muntah pada pagi hari, lemah, lelah dan pembesaran
payudara.
Mencari tanda-tanda untuk meyakinkan bahwa dirinya hamil.
Hasrat unt melakukan hubungan seks pada trimester pertama berbeda2,
kebanyakan wanita hamil mengalami penurunan pada periode ini.
Merasa tidak sehat dan benci kehamilannya.
Selalu memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
Khawatir kehilangan bentuk tubuh.
Membutuhkan penerimaan kehamilannya oleh keluarga dan ketidakstabilan
emosi dan suasana hati.
Trimester II
Pada trimester II ibu merasakan adanya perubahan pada bentuk tubuh yang
semakin membesar sehingga ibu merasa tidak menarik lagi dan merasa suami
tidak memperhatikan lagi.
Ibu merasakan lebih tenang dibandingkan dengan timester I karena nafsu
makan sudah mulai timbul dan tidak mengalami mual muntah sehingga ibu lebih
bersemangat.
Pada TM II biasanya ibu lebih bisa menyesuaikan diri dengan kehamilan selama
trisemester ini dan ibu mulai merasakan gerakan janinnya pertama kali.
Ibu sudah mulai merasa sehat dan mulai bisa menerima kehamilannya.
Perut ibu belum terlalu besar sehingga belum dirasa beban.
Libido dan gairah seks kemungkinan meningkat.
Trimester III
Trimester III seringkali disebut periode menunggu dan waspada sebab pada saat
itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya.
Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-waktu.
Ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan timbulnya tanda dan
gejala akan terjadinya persalinan.
Rasa tidak nyaman timbul karena ibu merasa dirinya aneh dan jelek. Disamping
itu ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah dengan bayinya dan kehilangan
perhatian yang khusus diterima selama hamil. Pada trimester inilah ibu
membutuhkan kesenangan dari suami dan keluarga.
Pada TM III ibu merasa tidak nyaman dan depresi karena janin membesar dan
perut ibu juga, melahirkan, sebagian besar wanita mengalami klimaks
kegembiraan emosi karena kelahiran bayi.
Ibu khawatir bayinya akan lahir sewaktu-waktu dan dalam kondisi yang tidak
normal dan semakin ingin menyudahi kehamilannya tidak sabaran dan resah.
Bermimpi dan berkhayal tentang bayinya, aktif mempersiapkan kelahiran
bayinya.

e. Perubahan dan adaptasi psikologis dalam masa kehamilan trimester I,II,III.


Trimester I
a. Ketidakyakinan atau Ketidakpastian
Awal minggu kehamilan, ibu sering merasa tidak yakin dengan kehamilannya.
Setiap wanita memiliki tingkat reaksi yang bervariasi terhadap ketidakyakinan
kehamilannya dan terus berusaha untuk mencari kepastian bahwa dirinya hamil.
Kondisi ini mendorong dia semakin takut atas kehamilan yang terjadi, bahkan
sebagian dari mereka berharap tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa
dirinya tidak hamil.
b. Ambivalen
Ambivalen menggambarkan suatu konflik perasaan yang bersifat simultan,
seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu, atau keadaan. Setiap
wanita hamil memiliki sedikit rasa ambivalen dalam dirinya selama masa
kehamilan. Ambivalen merupakan respon normal individu ketika akan memasuki
suatu peran baru. Beberapa wanita merasa kondisi ini tidak nyata dan bukanlah
saat tepat untuk hamil, walaupun hal ini telah direncanakan atau diidamkan
sebelumnya.
c. Perubahan Seksual
Selama trimester pertama seringkali keinginan seksual wanita menurun. Factor
penyebabnya berasal dari rasa takut terjadi keguguran sehingga mendorong
kedua pasangan untuk menghindari aktivitas seks. Apalagi jika wanita tersebut
sebelumnya pernah mengalami keguguran. Hasrat seksual pada trimester
pertama sangat bervariasi antara wanita yang satu dan yang lain. Meski
beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual, tetapi secara umum
trimester pertama merupakan waktu terjadinya penurunan libido dan jika pun
terjadi diantara mereka harus terlebih dahulu berkomunikasi sebelum
melakukannya. Kondisi ini terkadang digunakan suami untuk memberikan
kebutuhan kasih saying yang besar dan cinta kasih tanpa seks.
d. Fokus pada Diri Sendiri
Awal kehamilan, pusat pikiran ibu berfokus pada dirinya sendiri, bukan pada
janin. Ibu merasa bahwa janin merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari diri
ibu. Kondisi ini mendorong ibu-ibu hamil untuk menghentikan rutinitasnya yang
penuh tuntutan social dan tekanan agar dapat menikmati waktu kosong tanpa
beban sehingga sebagian besar dari ibu banyak waktu yang dihabiskan untuk
tidur.
e. Perubahan Emosional
Perubahan emosional pada trimester I ditandai dengan adanya penurunan
kemauan seksual karena letih dan mual, perubahan suasana hati, seperti
depresi atau khawatir, ibu mulai berpikir mengenai bayi dan kesejahteraannya
dan kekhawatiran pada bentuk penampilan diri yang kurang menarik.
f. Goncangan Psikologis
Kejadian goncangan jiwa diperkirakan lebih kecil terjadi pada trimester pertama
dan lebih tertuju pada kehamilan pertama. Menurut Kumar dan Robson (1978)
diperkirakan ada sekitar 12% wanita yang mendatangi klinik menderita depresi
terutama pada mereka yang ingin menggugurkan kandungan. Perubahan
psikologis yang terjadi pada fase kehamilan trimester pertama lebih banyak
berasal pada pencapaian peran sebagai ibu.
g. Stres
Kemungkinan stress yang terjadi pada kehamilan trimester pertama bias
berdampak negative dan positif, dimana kedua stress ini dapat memengaruhi
perilaku ibu. Terkadang stress tersebut bersifat intrinsic dan ekstrinsik. Stress
intrinsic berhubungan dengan tujuan pribadi ibu, dimana dia berusaha untuk
membuat sesempurna mungkin kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya.
Stress ekstrinsik timbul karena factor eksternal seperti sakit, kehilangan,
kesendirian dan masa reproduksi.

TrimesterII
a. Fase Pre Quickening
Selama akhir trimester pertama dan masa prequickening pada trimester kedua,
ibu hamil mengevaluasi segala aspek yang telah terjadi selama hamil. Disini ibu
menganalisa dan mengevaluasi kembali segala hubungan interpersonal yang
terjadi dan menjadikannya sebagai dasar-dasar dalam mengembangkan
interaksi sosial dengan bayi yang akan dilahirkannya.
Perasaan menolak terhadap sikap negatif dari ibunya akan menyebabkan rasa
bersalah pada dirinya, kecuali bila ibu hamil menyadari bahwa hal tersebut
normal karena ia sedang mengembangkan identitas keibuannya. Proses yang
terjadi dalam masa pengevaluasian kembali ini adalah perubahan identitas dari
penerima kaih sayang (dari ibunya) menjadi pemberi kasih sayang (persiapan
menjadi seorang ibu). Transisi ini memberikan pengertian bagi ibu hamil untuk
mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang penuh kasih sayang kepada anak-anak
yang akan dilahirkannya kelak.
b. Fase Post Quickening
Setelah ibu hamil merasakan quickening, maka identitas keibuan semakin jelas.
Ibu akan fokus pada kehamilannya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi
peran baru sebagai seorang ibu. Terkadang perubahan ini bisa menyebabkan
kesedihan meninggalkan peran lamanya sebelum kehamilan, terutama pada ibu
yang mengalami hamil pertama kali dan wanita karir. Oleh sebab itu, ibu harus
diberikan pengertian bahwa dia tidak harus membuang segala peran yang
diterima sebelum masa hamilnya.
Bentuk-bentuk reaksi psikologis pada trimester kedua, untuk trimester kedua
kehidupan psikologis ibu hamil tampak lebih tenang dan mulai dapat
beradaptasi, perhatian mulai beralih pada perubahan bentuk tubuh, kehidupan
seksual, keluarga, dan hubungan batiniah dengan bayi yang dikandungnya,
serta peningkatan kebutuhan untuk dekat dengan figur ibu, melihat, dan meniru
peran ibu. Selain itu, ketergantungan ibu hamil kepada pasangan juga semakin
meningkat seiring dengan perkembangan kehamilannya.
a. Rasa Khawatir
Kadang kala ibu khawatir bahwa bayi akan lahir sewaktu-waktu. Hal ini
menyebabkan adanya peningkatan kewaspadaan atas timbulnya tanda-tanda
persalinan. Ibu seringkali merasa khawatir atau takut kalau bayi yang akan
dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi
bayinya dan menghindari orang atau benda yang dianggap membahayakan bayi.
Ibu mulai merasa takut atas rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada
saat melahirkan.
b. Perubahan Emosional
Perubahan emosional trimester II terjadi pada bulan kelima kehamilan terasa
nyata karena bayi sudah mulai bergerak sehingga dia mulai memperhatikan bayi
dan memikirkan apakah bayinya akan dilahirkan sehat atau cacat. Rasa
kecemasan seperti ini terus meningkat seiring bertambah usia kehamilannya.
c. Keinginan untuk Berhubungan seksual
Ada satu lagi perubahan yang terjadi pada trimester kedua yang harus diimbangi
untuk mengatasi ketidaknyamanan ialah peningkatan libido. Kebanyakan calon
orang tua khawatir jika hubungan seks dapat memengaruhi kehamilan.
Kekhawatiran yang paling sering diajukan ialah kemungkinan bayi diciderai oleh
penis, orgasme ibu, atau ejakulasi.

Trimester III
Perubahan psikologis pada trimester ketiga, perubahan psikologis ibu hamil
periode trimester terkesan lebih kompleks dan lebih meningkat kembali dari
trimester sebelumnya. Hal ini dikarenakan kondisi kehamilan semakin
membesar. Kondisi itu tidak jarang memunculkan masalah seperti posisi tidur
yang kurang nyaman dan mudah terserang rasa lelah atau kehidupan emosi
yang fluktuatif.
a. Rasa Tidak Nyaman
Rasa tidak nyaman akibat kehamilan akan timbul kembali pada trimester ketiga
dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek. Disamping itu, ibu mulai
merasa sedih karena akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian
khusus yang diterima selama hamil sehingga ibu membutuhkan dukungan dari
suami, keluarga, dan bidan.
b. Perubahan Emosional
Perubahan emosional trimester III terutama pada bulan-bulan terakhir kehamilan
biasanya gembira bercampur takut karena kehamilan telah mendekati
persalinan. Rasa kekhawatirannya terlihat menjelang melahirkan, apakah bayi
lahir sehat dan tugas-tugas apa yang dilakukan setelah kelahiran (Sulistyawati,
2009).

f. Tanda-tanda Kehamilan
a. Tanda Pasti Kehamilan
Terdengar denyut jantung janin (DJJ);
Terasa gerakan janin;
Pada pemeriksaan USG terlihat adanya kantong kehamilan, ada gambaran
embrio;
Pada pemeriksaan rontgen terlihat adanya rangka janin (>16 minggu).
b. Tanda Tidak Pasti Hamil
Rahim membesar;
Tanda Hegar
Tanda Chadwick, yaitu warna kebiruan pada serviks, vagina, dan vulva
Tanda Piskacek, yaitu pembesaran uterus ke salah satu arah sehingga menonjol
jelas kea rah pembesaran tersebut;
Braxton Hicks, bila uterus dirangsang (distimulasi dengan diraba) akan mudah
berkontraksi
Basal Metabolism Rate (BMR) meningkat;
Ballotement positif, jika dilakukan pemeriksaan palpasi diperut ibu dengan cara
menggoyang-goyangkan salah satu sisi, maka terasa “pantulan” di sisi lain;
Tes Urine kehamilan positif (tes HCG), tes urine dilakukan minimal setelah 1
minggu terjadi pembuahan. Tujuan dari pemeriksan ini adalah mengetahui kadar
hormone gonadotropin dalam urin. Kadar yang melebihi ambang normal,
mengindikasikan bahwa wanita mengalami kehamilan.
c. Tanda Dugaan Hamil
Amenore/tidak mengalami menstruasi sesuai siklus (terlambat haid);
Nausea, anoreksia, emesis, dan hipersalivasi;
Pusing;
Sering buang air kecil/miksi
Obstipasi;
Hiperpigmentasi, striae, cloasma, linea nigra;
Varises;
Payudara menegang;
Perubahan perasaan;
BB bertambah.

g. Pemeriksaan diagnostik kehamilan.


a. Tes darah
Tes darah dapat dilakukan sekitar 10 hari setelah ovulasi. Tes darah biasanya
lebih sensitif, tapi harganya lebih mahal dan tidak mudah dilakukan.
Dokter menggunakan dua jenis tes darah untuk memeriksa kehamilan yakni
kualitatif dan kuantitatif. Tes darah dapat mendeteksi HCG lebih awal daripada
tes urin. Tes darah dapat mendeteksi kehamilan sekitar enam sampai delapan
hari setelah Anda berovulasi (melepaskan sel telur dari ovarium). Tes darah
kuantitatif atau disebut juga tes beta HCG dapat menunjukkan berapa tepatnya
kadar HCG dalam darah Anda bahkan saat kadarnya masih sedikit. Tes darah
kualitatif hanya akan menunjukkan apakah ada HCG atau tidak. Jenis tes darah
ini memiliki akurasi yang sama dengan tes urin.
b. Tes urine
Tes urin biasanya lebih akurat bila dilakukan sekitar 14 hari setelah ovulasi, atau
sekitar saat anda tidak mendapatkan haid. Dan dilakukan pada pagi hari, saat
Anda pertama kali bangun tidur. Tes urine ini dapat dilakukan dengan
menggunakan alat strip test.
Alat ini dijual pada hampir setiap apotik dan penggunaan mudah, dengan
menempatkan sampel urin pada semacam tongkat atau piringan. (Ikuti instruksi
pada kotaknya). Hasilnya berupa tanda positif atau negatif. Kadar hCG diatas 5
mIU biasanya sudah dianggap hamil. Sebagian alat untuk tes urin mengukur
kadar hCG antara 25 – 200 mIU. Tidak ada resiko bila menjalani tes ini.
c. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) mungkin akan menjadi salah satu
pemeriksaan yang paling menyenangkan selama masa kehamilan. Anda dan
pasangan Anda dapat melihat bayi yang sedang tumbuh di dalam rahim.
Pemeriksaan tersebut juga merupakan alat yang berguna untuk mendapatkan
informasi detail dari perkembangan si janin. Pemeriksaan USG tidak
menimbulkan bahaya bagi Anda maupun si bayi. Kemungkinan efek yang
merugikan tersebut sudah sering diteliti dan terbukti tidak pernah ditemukan
masalah.
d. Pemeriksaan Rontgen
Merupakan salah satu alat untuk melakukan penegakan diagnosis pasti
kehamilan;
Terlihat gambaran kerangka janin, yaitu tengkorak dan tulang belakang.
e. Palpasi abdomen
Leopold I
Bertujuan untuk mengetahui TFU dan bagian janin yang ada di fundus. Caranya
a. Pemeriksa mengahdap pasien;
b. Kedua tangan meraba bagian fundus dan mengukur berapa tinggi fundus
uteri;
c. Meraba bagian apa yang ada difundus. Jika teraba bulat melenting, mudah
digerakkan, maka itu adalah kepala. Namun jika teraba bulat, besar, lunak, tidak
melenting maka itu bokong.
Leopold II
Bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada disebelah kanan dan kiri.
Caranya :
a. Kedua tangan pemeriksa berada di sebelah kanan dan kiri perut ibu.
b. Ketika memeriksa sebelah kanan, maka tangan kanan menahan perut
sebelah kiri kea rah kanan;
c. Raba perut kanan menggunakan tangan kiri, dan rasakan bagian apa yang
ada di sebelah kanan (jika teraba benda yang rata, punggung bayi, namun jika
teraba bagian-bagian yang kecil dan menonjol, maka itu adalah bagian kecil
janin).
Leopold III
Bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada dibawah uterus. Caranya :
a. Tangan kiri menahan fundus uteri;
b. Tangan kanan meraba bagian yang ada dibagian bawah uterus. Jika
teraba bagian bulat, melenting, keras dan dapat digoyangkan, maka itu adalah
kepala. Namun jika teraba bagian yang bulat, besar, lunak dan sulita digerakkan,
maka ini adalah bokong. Jika dibagian bawah tidak ditemukan kedua bagian
seperti di atas, maka pertimbangkan apakah janin dalam keadaan melintang.
c. Pada letak sungsang dapat dirasakan ketika tangan kanan
menggoyangkan bagian bawah, tangan kiri akan merasakan ballottement
(pantulan dari kepala janin, terutama ini ditemukan pada usia kehamilan 5-7
bulan).
Leopold IV
Bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada dibwah dan untuk
mengetahui apakah kepala sudah masuk panggul atau belum. Caranya :
a. Pemeriksa menghadap kaki pasien;
b. Kedua tangan meraba bagian janin yang berada di bawah;
c. Jika teraba kepala, tempatkan kedua tangan di dua belah pihak yang
berlawanan dibagian bawah;
d. Jika kedua tangan konvergen(dapat saling bertemu) berarti kepala sudah
masuk panggul;
e. Jika kedua tangan divergen (tidak saling bertemu) berarti kepala sudah
masuk panggul.

h. Faktor fisik yang mempengharui kehamilan


a. Status Kesehatan
Status kesehatan yang dikaji mulai dari ujung kepala sampai dengan kaki. Status
kesehatan wanita hamil akan berpengaruh pada kehamilan.Kesehatan ibu
selama hamil akan memengaruhi kehamilannya dan memengaruhi tumbuh
kembang zigot, embrio dan janin termasuk kenormalan letak
janin. (Sulistyawati, 2009)
b. Faktor Usia
Segi negatif kehamilan di usia tua: kondisi fisik ibu hamil dengan usia lebih dari
35 tahun akan sangat menentukan proses kelahirannya. Hal ini turut
mempengaruhi kondisi janin. Pada proses pembuahan, kualitas sel
telur perempuan pada usia ini telah menurun jika dibandingkan dengan sel telur
pada perempuan dengan usia reproduksi sehat (25-30 tahun). Jika pada proses
pembuahan, ibu mengalami gangguan sehingga menyebabkan terjadinya
gangguan perkemihan dan perkembangan buah kehamilan, maka kemungkinan
akan menyebabkan terjadinya Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) atau
kehamilan di luar kandungan yang berakibat bera1t bayi lahir rendah (BBLR).
Kontraksi uterus juga sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik ibu. Jika ibu
mengalami penurunan kondisi, terlebih padaprimitua (hamil pertama dengan usia
lebih dari 40 tahun), keadaan ini harus benar-benar diwaspadai.
Segi positif hamil di usia tua:
Kepuasan peran sebagai ibu
Merasa lebih siap
Pengetahuan mengenai perawatan kehamilan dan bayi lebih baik
Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan
Mampu mengambil keputusan
Karir baik, status ekonomi lebih baik
Perkembangan intelektual anak lebih tinggi
Periode menyusui lebih lama
Toleransi pada kelahiran lebih besar
c. Riwayat Kesehatan
Penyakit yang pernah diderita ibu dapat memengaruhi kehamilannya. Sebagai
contoh penyakit yang akan memengaruhi dan dapat dipicu dengan adanya
kehamilan adalah : hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus,anemia,
penyakit menular seksual atau PMS
Berdasarkan Penyebabnya PMS dibedakan menjadi: gonore, sifilis,
trikomoniasis, ulkus mole, herpes genitalis, kondiloma akuminata, infeksi HIV
dan AIDS, kandidosis vaginalis, vaginosis bakterial, non gonokokal servisitis,
limfogranuloma inguinal.
d. Kehamilan Ganda (Multiple)
Pada kasus kehamilan multiple atau kehamilan lebih dari satu janin, biasanya
kondisi ibu lemah. Ini disebabkan oleh adanya beban ganda yang harus
ditanggung, baik dari pemenuhan nutrisi, oksigen dan lain-lain. Biasanya
kehamilan multiple mengindikasikan adanya beberapa penyulit pada proses
persalinannya, sehingga persalinan operatif (sectio caesaria) lebih
dipertimbangkan. Dengan demikian jika dilihat dari segi biaya, proses persalinan
dari kehamilan multiple akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan kehamilan
tunggal mengingat adanya kemungkinan terjadinya persalinan secara SC. Selain
itu risiko adanya kematian dan cacat juga harus dipertimbangkan.Masalah yang
ditimbulkan dari kehamilan ganda ini adalah partus prematurus, pre-
eklampsia/eklampsia, anemia, malpresentasi, perdarahan pasca persalinan.
e. Kehamilan Dengan HIV
Pada kehamilan dengan ibu yang mengidap HIV, janin akan menjadi
sangat rentan terhadap penularan selama proses kehamilannya. Transmisi HIV
dari ibu kepada janin dapat terjadi intrauterine (5-10%), saat persalinan (10-
20%), dan pascapersalinan (5-20%). Kelainan yang terjadi pada janin adalah
berat badan lahir rendah, bayi lah ir mati, partus preterm, dan abortus spontan.
f. Status Gizi
Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat sangat mutlak dibutuhkan oleh ibu
hamil agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhan dan
perkembangan bayi yang dikandungnya dan persiapan fisik ibu untuk
menghadapi persalinan dengan aman.
Pemenuhan gizi seimbang selama hamil akan meningkatkan kondisi kesehatan
bayi dan ibu, terutama dalam menghadapi masa nifas sebagai modal awal untuk
menyusui misalnya sebagai berikut:
1.Asam folat
Menurut konsep evidence bahwa pemakaian asam folat pada masa pre dan
perikonsepsi menurunkan resiko kerusakan otak, kelainan neural, spina bifida
dan anensepalus, baik pada ibu hamil yang normal maupun berisiko. Asam folat
juga berguna untuk membantu produksi sel darah merah, sintesis DNA pada
janin dan pertumbuhan plasenta.
2.Energi
Diet pada ibu hamil tidak hanya difokuskan pada tinggi protein saja. Tetapi pada
susunan gizi seimbang energi dan juga protein. hal ini juga efektif untuk
menurunkan kejadian BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dan kematian perinatal.
3.Protein
Pembentukan jaringan baru di janin dan untuk tubuh ibu dibutuhkan protein
sebesar 910 gram dalam 6 bulan terakhir kehamilan. Dibutuhkan tambahan 12
gram protein sehari untuk ibu hamil.
4.Zat Besi (Fe)
Pemberian suplemen tablet tambah darah atau zat besi secara rutin
adalah untuk membangun cadangan besi, sintesa sel darah merah, dan sintesa
darah oto t, setiap tablet besi mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 30 mg),
minimal 90 tablet selama hamil.
5.Kalsium
Untuk pembentukan tulang dan gigi bayi. Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah
sebesar 500 mg sehari.
Pemberian suplemen vitamin D terutama pada kelompok beresiko penyakit
seksual (IMS) dan di Negara dengan musim dingin yang panjang.Pemberian
yodium pada daerah dengan edemik kretinisme.
g. Gaya Hidup
Selain pola makan yang dihubungkan d engan gaya hidup masyarakat sekarang
ternyata ada beberapa gaya hidup lain yang cukup merugikan kesehatan
seorang wanita hamil, misalnya kebiasaan begadang, bepergian jauh dengan
berkendara motor dan lain-lain.Gaya hidup ini akan mengganggu kesejahteraan
bayi yang dikandungnya karena kebutuhan istirahat mutlak harus dipenuhi.
h. Subtance Abuse
Adalah perilaku yang merugikan atau membahayakan bagi ibu hamil termasuk
penyalahgunaan atau penggunaan obat atau zat-zat tertentu yang
membahayakan ibu hamil.
i. Partner Abuse
Partner abuse merupakan kekerasan selama kehamilan oleh
pasangan. Kekerasan dapat terjadi baik secara fisik, psikis, ataupun seksual
sehingga dapat terjadi rasa nyeri dan trauma. Kekerasan yang terjadi sekitar 7-
11% dari wanitayang hamil. Efek kekerasan pada ibu hamil dapat berupa
langsung maupun tidak langsung. Bentuk langsung antara lain trauma dan
kerusakan fisik pada ibu serta bayinya misalnya solusio plasenta (terlepasnya
plasenta sebelum waktunya dengan implantasi normal pada kehamilan lebih
dari 28 minggu), fraktur tulang , rupture uteri dan perdarahan; sedangkan efek
yang tidak langsung adalah reaksi emosional, peningkatan kecemasan, depresi,
rentan terhadap penyakit. Trauma pada kehamilan juga dapat menyebabkan
nafsu makan yang menurun dan peningkatan frekuensi merokok, serta
meminum alkohol.
j. Perokok
Ibu hamil yang merokok akan sangat merugikan diri sendiri dan bayinya. Bayi
akan kekurangan oksigen dan racun yang dihisap melalui rokok bisa ditransfer
melalui plasen ta ke dalam tubuh bayi. Pada ibu hamil dengan perokok berat kita
harus waspada akan risiko keguguran, kelahiran premature (bayi belum cukup
bulan atau lahir sebelum waktunya), BBLR bahkan kematian jani
k. Hamil Diluar Nikah
Jika kehamilan tidak diharapkan, secara otomatis ibu akan sangat membenci
kehamilannya, sehingga tidak ada keinginan untuk melakukan hal-hal positif
yang akan meningkatkan kesehatan bayinya. Pada kasus ini kita waspada akan
adanya keguguran (abortus), premature (bayi lahir belum cukup umur) dan
kematian janin. Pada kehamilan di luar nikah, hampir bisa dipastikan bahwa
pasangan masih belum siap dalam hal ekonomi. Selain itu kekurangsiapan ibu
untuk merawat bayi juga perlu diwaspadai agar tidak terjadi postpartum
blues atau seorang wanita yang tidak menerima kehadiran anaknya karena
depresi saat dalam masa nifas dan setelah melahirkan .
l. Kehamilan Tidak Diharapkan
Kehamilan dan kelahiran dapat dikatakan sebagai suatu anugerah. Seorang
wanita yang sedang hamil pasti sangat bahagia kare na didalam tubuhnya ada
sebuah kehidupan yang sedang dinantikan kelahirannya. Makhluk kecil inilah
yang nantinya membuat pasangan suami istri berubah status menjadi orang tua
dan mengalami berbagai kejadian berarti dalam hidup ini. Akan tetapi ada
beberap a orang khusus yang terkadang menyesali kehamilannya.Kehamilan
yang tidak diharapkan, tidak direncanakan atau tidak dikehendaki dapat
merupakan krisis yang berat bagi seorang wanita, terutama jika dukungan dari
keluarganya amat kecil dan struktur emosiona lnya terganggu. Wanita tersebut
dapat merasakan putus asa karena kehamilannya mungkin mempengaruhi
pendidikan, rencana karir, atau situasi ekonominya. Ia juga dapat merasakan
kecemasan, depresi, marah, malu atau bersalah walaupun lingkungan sosial
sekaran g memandang kehamilan tidak sebagai noda seperti masa lalu.

i. Kebutuhan dasar ibu hamil.

1. Kebutuhan fisik ibu hamil:

a. Kebutuhan Imunisasi Pada Ibu Hamil Trimester I, II, III

Imunisasi Interval Durasi Perlindungan

TT1 Selama kunjungan antenatal pertama -

TT2 4 minggu setelah TT1 3 tahun

TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun

TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun

TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun (seumur hidup)

b. Kebutuhan Traveling Pada Ibu Hamil Trimester I, II, III


Boleh asal konsultasi lebih dahulu
waktu terbaik adalah pada usia kehamilan trimester II (minggu ke 13 sampai ke
28)
Trimester I akan menganggu karena mual, kelelahan, resiko abortus
Trimester III akan menganggu karena beban perut makin besar, kelelahan,
resiko prematur.
Kebutuhan Persiapan Laktasi Pada Ibu Hamil Trimester I, II, dan III
Penyuluhan langsung maupun melalui sarana audio visual
Dukungan psikologis untuk ibu dalam menghadapi persalinan dengan tujuan
agar ibu meyakini kemampuannya dan keberhasilannya menyusui
Pemeriksaan payudara
Pemeriksaan putting susu
Senam hamil
c. Persiapan Laktasi
Persiapan laktasi bagi ibu hamil harus diperhatikan untuk kesejahteraan bayi dan
perkembangannya
Persiapan laktasi di mulai dengan memakan makanan yang banyak
mengandung protein dan karbohidrat yang dapat membentuk ASI baik bagi ibu
maupun bayinya. ASI biasanya sudah keluar saat umur kehamilan 20-22
minggu.Anjuran yang diberikan pada ibu tentang ASI pada saat hamil :
Mempelajari tentang ASI, laktasi dan rawat gabung serta bahaya susu formula
Memutuskan akan memberikan ASI kepada bayi sekurang-kurangnya sampai
berusia 4-6 bulan
Belajar keterampilan menyusui
Meningkatkan gizi dan kesejahteraan ibu.
Langkah-langkah Persiapan Ibu Menyusui Secara Mental
Memberikan dorongan pada ibu dengan menyakinkan bahwa ibu mampu
menyusui
Menyakinkan ibu akan keuntungan menyusui ASI
Membantu mengatasi keraguannya karena pernah bermasalah ketika menyusui
pada pengalaman sebelumnya
Mengikutsertakan suami atau keluarga lain yang berperan dalam keluarga
Memberikan kesempatan pada ibu untuk bertanya setiap dia membutuhkan.
Masa Hamil
Mempelajari tentang ASI laktasi dan rawat gabung serta bahaya susu formula
Memutuskan akan memberikan ASI kepada bayi sekurang-kurangnya sampai
bayi berusia 4-6 bulan
Belajar keterampilan menyusui
Meningkatkan gizi dan kesehatan ibu
Memakain BH yang membangu menyokong dan ukurannya sesuai denga
payudara
Memeriksa payudara dan putting
d. Kebutuhan Persiapan Persalinan Pada Ibu Hamil Trimester I, II, III
Membuat rencana persalinan
Tempat persalinan
Memilih tenaga kesehatan terlatih
Bagaimana menghubungi tenaga kesehatan tersebut
Bagaimana transportasi ke tempat persalinan
Siapa yang akan menemani saat persalinan
Berapa banyak biaya yang dibutuhkan dan bagaimana cara mengumpulkan
biaya tersebut
Siapa yang akan menjaga keluarganya jika ibu tidak ada
Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi kegawatdaruratan
pada saat pengambilan keputusan tidak ada
Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi kegawatdaruratan
Membuat rencana/pola menabung
Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan
e. Memantau kesejahteraan janin
Biasanya pada ibu hamil trimester pertama belum terlalu memperhatikan tentang
perkembangan janin mereka. Namun baru pada trimester dua ibu hamil lebih
memperhatikan janin mereka dengan memantau perkembangannya. Contohnya
seperti pemeriksaan USG. Ibu itu dapat melihat gerakan janin yang ada di perut
mereka baik dengan 3 dimensi maupun 4 dimensi. Jika terjadi ketidak normalan
pada janin merekapun dapat terlihat sehingga dapat untuk mengetahui sejak
awal.
Selain itu ibu hamil juga bisa memantaunya dengan cara memeriksa pada bidan,
di situ akan diperiksa leopold dan akan didengar DJJ oleh bidan. Selain itu ibu
hamil dapat berkonsultasi baik keluhan maupun saran kepada ibu bidan.
Ibu hamilpun dapat memantau tumbuh kembang janinnya sendiri dengan cara
lebih memperhatikan makanannya apakah sudah cukup gizi atau belum. Pola
istirahat pun dapat lebih dijaga karena sebaiknya ibu hamil tidak boleh terlalu
lelah, faktor lingkungan yang bersih dan nyaman pun sangat diperluka bagi ibu
hamil.

2. Kebutuhan psikologis ibu hamil TM I,II,III.

a. Support keluarga
Suami
Mendampingi ibu selama proses kehamilan
Membantu menjaga kesehatan ibu
Menemani saat pemeriksaan kehamilan
Ikut serta dalam kegiatan rumah tangga
Penuh perhatian, sabar dan kasih sayang
Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kehamilan ibu
Menyiapkan finansial dan kebutuhan ibu dalam kehamilan
Anak
Memperhatikan ibu
Ikut senang dengan kehmailan ibu
Membantu kelancaran kegiatan rumah tangga
Orang tua
Mendampingi ibu saat suami tidak bisa mendampingi
Memberikan ketenangan dan kasih sayang
Memberikan dukungan moril
Membantu kelancaran kegiatan rumah tangga sesuai dengan kemampuannya
Teman dekat / sahabat
Empati dengan kondisi kehamilan
Menjadi tempat bercerita
Menemani selama kehamilan
Memberi dukungan moral
Support tenaga kesehatan
Memberikan perhatian terhadap masalah dan perkembangan kehamilan ibu
Memberikan palayanan yang humanistik dan komprehensif
Menghargai pendapat dan keinginan ibu
Memberikan informed choise yang jelas
Cepat tanggap, peka dan cekatan
Sabar dalam memberikan pelayanan
Tempat pelayanan yang aman, nyaman, ramah dan menyenangkan
Memberikan pelayanan asuhan sayang ibu
Rasa aman dan nyaman dalam kehamilan
Merasa dilindungi, diperhatikan dan disayang oleh keluarga
Ibu merasa kehamilan nya diterima oleh lingkungan
Kondisi fisik dan mental terjaga
Situasi sosial ekonomi yang kondusif
Kondisi kehamilan baik
b. Persiapan menjadi orang tua
Menurut Rubin seorang ibu hamil akan melalui beberapa tahap dalam
adaptasinya menjadi orang tua nanti. Tujuannya adalah:
Memastikan keselamatan ibu dan bayi dalam kehamilan
Memastikan penerimaan masyarakat atau lingkungan terhadap diri dan bayinya
kelak
Membangun identitas yang jelas tentang hubungan “ saya”( ibu) dan “kamu’
(bayi) sebagai suatu hubungan yang erat
Menggali makna dari masa transisi yang sedang dijalani, terutama makna
memberi dan menerima dalam hubungan ibu dan anak
Dari tujuan tersebut. Rubin mengelompokkan 3 tahap seorang ibu hamil dalam
melakukan persiapan menjadi orang tua:
Taking on : meniru dan bermain peran
Taking in : mencobakan dan berfantasi
Letting go : melakukan kegiatan nyata
c. Persiapan menjadi orang tua yang harus dilakukan:
Persipan fisik
Persiapan mental
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi emosi ibu:
Kesiapan menerima kehamilan
Kemampuan mengontrol emosi
Keyakinan, sikap dan nilai yang dianut
Tingkat pengetahuan dan pendidikan

j. Tanda bahaya/ komplikasi pada masa kehamilan.

a. Ibu tidak mau makan dan muntah terus


Kebanyakan ibu hamil dengan umur kehamilan 1-3 bulan sering merasa mual
dan kadang-kadang muntah. Keadaan ini normal dan akan hilang dengan
sendirinya pada kehamilan lebih dari 3 bulan.Tetapi, bila ibu tetap tidak mau
makan, muntah terus menerus sampai ibu lemah dan tak dapat bangun,
keadaan ini berbahaya bagi keadan janin dan kesehatan.
b. Berat badan ibu hamil tidak naik
Selama kehamilan berat badan ibu naik sekitar 9-12 kg, karena adanya
pertumbuhan janin dan bertambahnya jaringan tubuh ibu akibat kehamilan
(pregnancy cause). Kenaikan berat badan itu biasanya terlihat nyata sejak
kehamilan berumur 4 bulan sampai menjelang persalinan.Bila berat badan ibu
tidak naik pada akhir bulan keempat atau kurang dari 45 kg pada akhir bulan
keenam (end of second trismester), pertumbuhan janin mungking terganggu.
Kehidupan janin mungking terancam. Ibu mungkin kekurangan gizi. Mungkin
juga ibu mempunyai penyakit lain,seperti batuk menahun, malaria, dll yang
segera perlu diobati.
c. Perdarahan (bleeding)
Perdarahan melalui jalan lahir pada kehamilan, persalinan dan nifas sering
merupakan tanda bahaya yang dapat berakibat kematian ibu dan atau
janin.Perdarahan melalui jalan lahir pada kehamilan sebelum 3 bulan dapat
disebabkan oleh keguguran atau keguguran yang mengancam. Ibu harus segera
meminta pertolongan bidan atau dokter. Janin mungkin masih dapat
diselamatkan. Bila janin tak dapat diselamatkan, ibu perlu mendapat pertolongan
agar kesehatannya terjaga
Perdarahan melalui jalan lahir disertai nyeri perut bawah yang hebat, pada ibu
yang terlambat haid 1-2 bulan, merupakan keadaan sangat berbahaya.
Kehidupan ibu terancam, ia harus langsung di bawa ke rumah sakit untuk
diselamatkan jiwanya.
Perdarahan kehamilan 7-9 bulan, meskipun hanya sedikit, merupakan ancaman
bagi ibu dan janin. Ibu perlu segera mendapat pertolongan di rumah sakit.
Perdarahan yang banyak, segera atau dalam 1 jam setelah melahirkan, sangat
berbahaya dan merupakan penyebab kematian ibu paling sering. Keadaan ini
dapat menyebabkan kematian dalam waktu kurang dari 2 jam. Ibu perlu segera
ditolong untuk penyelamatan jiwanya.
Perdarahan pada masa nifas (dalam 42 hari setelah melahirkan) yang
berlangsung terus menerus, disertai bau tak sedap dan demam, juga merupakan
tanda bahaya. Ibu harus segera di bawa ke rumah sakit.
d. Bengkak tangan/wajah, pusing, dan dapat diikuti kejang
Sedikit bengkak pada kaki atau tungkai bawah pada umur kehamilan 6 bulan ke
atas mungkin masih normal. Tetapi , sedikit bengkak pada tangan atau wajah,
apa lagi bila disertai tekanan darah tinggi dan sakit kepala (pusing), sangat
berbahaya. Bila keadaan ini dibiarkan maka ibu dapat mengalami kejang-kejang.
Keadaan ini disebut keracunan kehamilan atau eklamsi.Keadaan ini sering
menyebabkan kematian ibu serta janin. Bila ditemukan satu atau lebih gejala
tersebut, ibu harus segera meminta pertolongan kepada bidan terdekat untuk di
bawa ke rumah sakit.
e. Gerakan janin berkurang atau tidak ada
pada keadaan normal, gerakan janin dapat dirasakan ibu pertama kali pada
umur kehamilan 4-5 bulan. Sejak saat itu, gerakan janin sering dirasakan
ibu.Janin yang sehat bergerak secara teratur. Bila gerakan janin berkurang,
melemah atau tidak bergerak sama sekali dalam 12 jam, kehidupan bayi
mungkin terancam. Ibu perlu segera mencari pertolongan.
f. Kelainan letak janin
Pada keadaan normal, kepala janin berada di bagian bawah rahim ibu dan
menghadap ke arah punggung ibu. Menjelang persalinan, kepala bayi turun dan
masuk ke rongga panggul ibu.
Kadang-kadang letak bayi tidak normal sampai umur kehamilan 9 bulan. Pada
keadaan ini, ibu harus melahirkan di rumah sakit, agar ibu dan bayi dapat
diselamatkan. Persalinan mungkin mengalami gangguan atau memerlukan
tindakan. Anjurkan ibu/keluarganya untuk menabung.
Kelainan letak janin antara lain :
Letak sungsang : kepala janin di bagian atas rahin
Letak lintang: letak janin melintang di dalam rahim
Kalau menjelang persalinan terlihat bagian tubuh bayi di jalan lahir, misalnya
tangan, kaki atau tali pusat, maka ibu perlu segera di bawa ke rumah sakit
g. Ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW)
Biasanya ketuban pecah menjelang persalinan, setelah ada tanda awal
persalinan seperti mulas dan keluarnya lendir, bercampur sedikit darah. Cairan
ketuban biasanya berwarna jenih kekuningan.
Bila ketuban telah pecah dan cairan ketuban keluar sebelum ibu mengalami
tanda-tanda persalinan, janin dan ibu akan mudah terinfeksi. Hal ini berbahaya
bagi ibu maupun janin. Ibu perlu segera mendapat pertolongan bidan terdekat
untuk di bawa ke rumah sakit.
h. Persalinan lama
Persalinan berlangsung sejak ibu mulai merasa mulas sampai kelahiran bayi.
Persalinan tersebut biasanya berlangsung kurang dari 12 jam. Ibu yang
melahirkan anak kedua dan selanjutnya biasaya lebih cepat dari ibu yang
melahirkan anak pertama.
Bila bayi belum lahir lebih dari 12 jam sejak mulainya mulas, maka persalinan
tersebut terlalu lama. Perlu dilakukan tindakan. Ibu perlu mendapat pertolongan
di rumah sakit untuk menyelamakan janin dan mencegah terjadinya perdarahan
atau infeksi pada ibu.
i. Penyakit ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan
Kesehatan dan pertumbuhan janin dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Bila ibu
mempunyai penyakit yang berlangsung lama atau merugikan kehamilannya,
maka kesehatan dan kehidupan janinpun terancam
Beberapa penyakit yang merugikan kehamilan antara lain:
Penyakit jantung : gejalanya ibu sering berdebar, mudah sesak nafas bila
melakukan kegiatan ringan sehari-hari
Kurang darah (anemia) berat : gejalanya pucat, lesu, lemah, pusing dan sering
sakit.
Tbc : gejalanya batuk tidak sembuh-sembuh, nafsu makan kurang, berat badan
turun, berkeringat pada malam hari.
Malaria : gejalanya demam menggigil secara berkala, lemah, pucat
Infeksi pada saluran kelamin : gejalanya tidak selalu nyata, misalnya keputihan,
luka atau nyeri pada alat kelamin
Ibu dengan keadaan tersebut harus diperikasa dan mendapat pengobatan
secara teratur oleh dokter. Anjurkan ibu dan keluarganya menabung untuk
persiapan persalinannya nanti.
j. Preeklamsia
Merupakan sebuah komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan
darah tinggi (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan organ, misalnya kerusakan
ginjal yang ditunjukkan oleh tingginya kadar protein pada urine (proteinuria).

k. Strandar Pelayanan ANC

a. Ukur Berat badan dan Tinggi Badan ( T1 ).


Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu dari sebelu hamil dihitung dari
TM I sampai TM III yang berkisar anatar 9-13,9 kg dan kenaikan berat badan
setiap minggu yang tergolong normal adalah 0,4 - 0,5 kg tiap minggu mulai TM
II. Pengukuran tinggi badan ibu hamil dilakukan untuk mendeteksi faktor resiko
terhadap kehamilan yang sering berhubungan dengan keadaan rongga panggul.
b. Ukur Tekanan Darah ( T2).
Tekanan darah yang normal 110/80 - 140/90 mmHg, bila melebihi 140/90 mmHg
perlu diwaspadai adanya Preeklampsi.
c. Ukur Tinggi Fundus Uteri ( T3 )
Tujuan pemeriksaan TFU menggunakan tehnik Mc. Donald adalah menentukan
umur kehamilan berdasarkan minggu dan hasilnya bisa di bandingkan dengan
hasil anamnesis hari pertama haid terakhir (HPHT) dan kapan gerakan janin
mulai dirasakan. TFU yang normal harus sama dengan UK dalam minggu yang
dicantumkan dalam HPHT.
Ukuran Fundus Uteri sesuai Usia Kehamilan

Usia Kehamilan sesuai Jarak dari simfisis


minggu

22 – 28 Minggu 24-25 cm

28 Minggu 26,7 cm
30 Minggu 29,5 – 30 cm

32 Minggu 31 cm

34 Minggu 32 cm

36 Minggu 33 cm

40 Minggu 37,7 cm

d. Pemberian Tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan ( T4 )


e. Pemberian Imunisasi TT ( T5 ) Imunisasi Tetanus Toxoid harus segera di berikan
pada saat seorang wanita hamil melakukan kunjungan yang pertama dan
dilakukan pada minggu ke-4.
Interval dan Lama Perlindungan Tetanus Toxoid

Imunisasi TT Selang Waktu Lama Perlindungan


minimal
pemberian
Imunisasi TT

TT1 - Langkah awal pembentukan


kekebalan tubuh terhadap
penyakit Tetanus

TT2 1 bulan setelah 3 Tahun


TT1

TT3 6 bulan setelah 6 Tahun


TT2

TT4 12 Bulan 10 Tahun


setelah TT3

TT5 12 Bulan ≥25 Tahun


setelah TT4

f. Pemeriksaan Hb ( T6 )
Pemeriksaan Hb pada Bumil harus dilakukan pada kunjungan pertama dan
minggu ke 28. bila kadar Hb < 11 gr% Bumil dinyatakan Anemia, maka harus
diberi suplemen 60 mg Fe dan 0,5 mg As. Folat hingga Hb menjadi 11 gr% atau
lebih.
g. Pemeriksaan VDRL ( Veneral Disease Research Lab. ) ( T7 )
pemeriksaan dilakukan pada saat Bumil datang pertama kali daambil spesimen
darah vena kurang lebih 2 cc. apabila hasil test positif maka dilakukan
pengobatan dan rujukan..
h. Pemeriksaan Protein urine ( T8 ) dilakukan untuk mengetahui apakah pada urine
mengandung protein atau tidak untuk mendeteksi gejala Preeklampsi.
i. Pemeriksaan Urine Reduksi ( T9 ) untuk Bumil dengan riwayat DM. bila hasil
positif maka perlu diikuti pemeriksaan gula darah untuk memastikan adanya
DMG.
j. Perawatan Payudara ( T10 ) senam payudara atau perawatan payudara untuk
Bumil, dilakukan 2 kali sehari sebelum mandi dimulai pada usia kehamilan 6
Minggu.
k. Senam Hamil ( T11 )
l. Pemberian Obat Malaria ( T12 ) diberikan kepada Bumil pendatang dari daerah
malaria juga kepada bumil dengan gejala malaria yakni panas tinggi disertai
mengigil dan hasil apusan darah yang positif.
m. Pemberian Kapsul Minyak Yodium ( T13 ) diberikan pada kasus gangguan akibat
kekurangan Yodium di daerah endemis yang dapat berefek buruk terhadap
Tumbuh kembang Manusia.
n. Temu wicara / Konseling ( T14 )