Anda di halaman 1dari 6

L-GLUTAMINE

Mitos : Glutamine hanya efektif untuk membuat otot bagi individu yang terkena penyakit serius
dan bisa fatal seperti korban bakar, AIDS, dll dimana otot menyusut dengan drastic

Fakta : L-Glutamine merupakan rentetan dari 20 jenis asam amino bebas yang terdapat pada
jaringan otot dan berfungsi untuk menjaga stabilitas volume sel otot. Namun asam amino
tersebut tidaklah terkategorikan sebagai asam amino essensial, akan tetapi dapat menjadi suatu
kondisional penting pada situasi tertentu seperti pelatihan intensif pada atlet olahraga atau pasien
penderita gangguan pencernaan tertentu. L-Glutamine diproduksi oleh tubuh secara alami dalam
jumlah yang cukup, namun banyak dilepaskan otot selama melakukan latihan (exercise),
sehingga L-Glutamine tidak dapat menjalankan fungsinya dalam menjaga volume sel otot yang
pada akhirnya volume sel otot kita dapat menurun. Pada kondisi tersebut, L-Glutamine menjadi
asam amino yang perlu kita cukupi dari asupan makanan.

Manfaat

Riset mengenai glutamin telah banyak dipelajari secara ekstensif selama 10-15 tahun, dan
telah terbukti sebagai pengobatan luka, trauma, luka bakar, dan efek samping terkait pengobatan
kanker, serta terapi penyembuhan luka bagi pasien pasca operasi. Uji klinis lain juga
menunjukan, pasien yang menggunakan L-Glutamine dapat meningkatkan jumlah nitrogen,
generasi sisteinil-leukotrie dari neutrofil polimorfonuklear granulosit, serta meningkatkan
pemulihan limfosit dan permeabilitas usus (pada pasien pasca operasi), jika dibandingkan dengan
pasien yang tidak menggunakan.

Disamping itu L-glutamine juga diperlukan oleh para atlet guna memperbaiki
pertumbuhan jaringan sel otot, yang sering kali dijumpai pada atlet binaraga, angkat besi, atlet
ketahanan dan beberapa cabang atlet olahraga lainnya. Bukti lain juga menunjukan, L-glutamine
dapat meningkatkan plasma HGH dengan merangsang kelenjar hipofisis interior (kelenjar kecil
di bawah sel otak yang menghasilkan getah). Kemudian ditambhkan pada penelitian biologi lain,
bahwa jumlah L-glutamine biasanya dimasukan ke dalam media kultur sel. Namun, semakin
tingginya tingkat L-Glutamine dapat menghambat kegiatan transportasi asam amino lainnya.
Menurut riset yang diterbitkan Journal of Sports Medicine and Physical fitness pada tahun 1998
menambahkan, bahwa L-Glutamine tidak dipastikan dapat meningkatkan kinerja latihan
intensitas tinggi.

Fungsi

L-Glutamine turut berperan penting dalam metabolisme protein dan menjaga volume sel.
Bahkan beberapa literatur juga turut menyebutkan, bahwa mengonsumsi BCAA (Branched-cain
amino acid) diikuti dengan L-glutamine dapat mengurangi risiko pemecahan protein otot secara
mensignifikan. Selain itu, fungsi lain L-glutamine diantaranya: mencegah degradasi otot,
meningkatkan volume sel otot, mencegah kelelahan serta meningkatkan dalam menghasilkan
hormone pertumbuhan, sehingga membantu metabolisme lemak tubuh dan mendukung
pertumbuhan otot baru.

Tak hanya itu, secara biokimia fungsi L-Glutamine berperan dalam:

 sintesis protein
 mengatur keseimbangan asam basa dalam ginjal dengan memproduksi ammonium
 sebagai sumber energy sel
 menyumbang nitrogen pada proses anabolic termasuk sintesis purin
 sebagai sumber penyumbang karbon dalam pengisian ulang asam sitrat

Apakah aman dikonsumsi?

Setiap berbagai jenis obat-obatan ataupun suplementasi, tentunya memiliki beberapa sisi
negatif. Meskipun L-glutamine umumnya dianggap aman dan memberikan manfaat baik bagi
tubuh, tetap saja terdapat beberapa kekhawatiran jika penggunaannya menyalahi aturan ataupun
tidak tepat sasaran, termasuk mengkombinasikan dengan obat-obatan tertentu (seperti obat
kemoterapi dan obat anti kejang) yang dapat menghasilkan efek merugikan bagi tubuh.

Selain itu, mengonsumsi L-glutamine dapat membahayakan bagi mereka yang memiliki
kondisi kesehatan tertentu, seperti penyakit berat hati, mania, dan epilepsy. Oleh sebab itu,
penting rasanya jika kita mengkonsultasikannya lebih dahulu kepada ahli medis, sebelum kita
memutuskan untuk mengambil L-glutamine pada pembentukan otot. Agar terhindar dari kejadian
yang tidak semestinya terjadi.

Dalam jurnal The effects of glutamine supplementation on performance and hormonal


responses in non-athlete male students during eight week resistance training

Menyelidiki efek suplementasi glutamin pada kinerja (kekuatan otot eksplosif, kekuatan
otot atas dan bawah (komposisi tubuh (massa tubuh, massa bebas lemak, dan lemak tubuh) dan
perubahan hormon) Testosteron, GH, IGF-1 dan kortisol (selama program pelatihan resistensi 8
minggu pada siswa pria non-atlet. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun kedua
kelompok menunjukkan kinerja yang signifikan (kekuatan otot eksplosif, kekuatan otot tubuh
atas dan bawah (meningkat seiring waktu, glutamin ditambahkan (GL) kelompok menunjukkan
peningkatan yang lebih besar dalam kekuatan tubuh bagian atas dan bawah dan kekuatan otot
eksplosif bila dibandingkan dengan kelompok plasebo (PL). Temuan ini mirip dengan penelitian
oleh Candow et al. (2001). Meskipun dua penelitian telah menyelidiki efek suplementasi
glutamin oral selama pelatihan resistensi (Antonio et al., 2002; Lacey et al., 1990). Tidak ada
perbedaan signifikan antara kelompok glutamin dan kelompok plasebo yang dilaporkan untuk
variabel kekuatan atau massa tubuh. Sebagian besar penelitian ini telah menunjukkan efek
jangka pendek dari suplementasi glutamin, namun suplementasi jangka panjang terbukti menjadi
aplikasi glutamin yang lebih efektif dalam kaitannya dengan penguatan kekuatan. Meskipun
glutamin dapat mensimulasikan sintesis glikogen otot, Varnier et al. (1995) dan Bowtell et al.
(1999) menunjukkan bahwa infus dan suplementasi glutamin oral meningkatkan penyimpanan
glikogen otot. Atas dasar ini satu suplemen saat ini banyak digunakan adalah L-glutamin, yang
meningkatkan sintesis protein dalam otot rangka yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan
otot. Dengan meningkatkan massa otot, kekuatan kontraktil otot dapat ditingkatkan lebih jauh,
hemat protein dan aksi sintetik glutamin dapat menghasilkan peningkatan penanda kinerja
olahraga sebagai akibat langsung dari peningkatan kekuatan otot (Phillips, 2007). Tes lompat
vertikal adalah tes sederhana dan dapat diandalkan yang dapat memberikan informasi yang
berguna tentang kekuatan otot eksplosif dan karakteristik kinerja atlet (Canavan & Vescovi,
2004). Perubahan signifikan terlihat selama program pelatihan resistensi 8 minggu di salah satu
ukuran kinerja daya untuk kedua kelompok. Meskipun GL telah terbukti secara signifikan
meningkatkan kinerja daya. Membandingkan hasil kami dalam tes lompat vertikal dengan
penelitian lain sulit karena besarnya latihan yang diinduksi kehilangan kekuatan otot belum
dilaporkan secara sistematis. Juga, hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan yang signifikan
dalam testosteron darah, GH dan IGF-1. dari PRE di kedua kelompok GL dan PL. Namun,
perbandingan testosteron darah, GH dan IGF-1 menunjukkan bahwa subjek dalam GL memiliki
peningkatan testosteron darah, GH dan IGF-1 yang secara signifikan lebih besar dibandingkan
dengan kelompok PL. Konsentrasi darah testosteron merangsang pertambahan protein otot
(Kraemer et al., 2007). Testosteron juga meningkatkan sintesis protein dengan mengikat reseptor
androgen untuk kompleks menjadi faktor transkripsi dan ketiga dengan mengaktifkan sel-sel
satelit otot, yang penting karena transkripsi gen merupakan target awal untuk modulasi sintesis
protein (Herbst & Bhasin, 2004 , Olsen et al., 2006). Pelatihan resistensi dikaitkan dengan
peningkatan yang signifikan dalam hormon anabolik seperti testosteron (Kraemer & Ratamess,
2005).

Temuan tentang perubahan hormon testosteron dalam penelitian ini mirip dengan
penelitian oleh Volek et al. (1997). Hakimi et al / Pelatihan resistensi dikombinasikan dengan
glutamin. JOURNAL OF SPORT MANUSIA & VOLUME LATIHAN 7. Hormon pertumbuhan
memiliki efek besar pada metabolisme dan mempengaruhi pemanfaatan substrat dan mengubah
metabolisme spesifik (Hammarqvist et al., 2010). Temuan dalam penelitian ini mirip dengan
penelitian oleh Zou et al. (2006) dan Welbourne (1995). Bagian dari aksi hormon pertumbuhan
dimediasi melalui insulin-like growth factor-1 (IGF-1). Pemberian hormon pertumbuhan
menginduksi peningkatan sirkulasi IGF-1 (Kimbrough et al., 1991) yang memiliki efek
metabolisme penting dalam merangsang penyerapan glukosa dan asam amino dalam otot dan
meningkatkan sintesis protein otot (Fryburg, 1994; Russell-Jones et al. , 1994). Dalam situasi
katabolik, kadar IGF-1 menurun sementara protein pengikatnya meningkat yang mengarah ke
aktivitas IGF-1 lokal yang lebih rendah, berkontribusi terhadap penurunan sensitivitas insulin
yang terlihat pada katabolisme (Van den Berghe et al., 2000; Bang et al., 1998 ). Hasil ini mirip
dengan penelitian oleh Marcelo et al. (2011).

Pemakaian Obat
Untuk menggunakan glutamine, pastikan untuk memerhatikan beberapa hal berikut:

1. Baca aturan pakai. Jangan menggunakan obat dengan dosis lebih besar atau lebih kecil
daripada yang dianjurkan dokter.
2. Saat digunakan untuk mengobati short bowel syndrome, glutamine sebaiknya diminum 6
kali sehari selama 16 minggu.
3. Jumlah aturan minum glutamine per hari tergantung dari tujuan penggunaan glutamine.
Selalu ikuti anjuran dokter.
4. Glutamin serbuk oral sebaiknya diminum bersamaan dengan makanan atau snack kecuali
disarankan untuk diminum secara sebaliknya
5. Minum tablet glutamin saat perut kosong, minimal 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah
makan.
6. Konsultasikan dengan dokter sebelum glutamine digunakan oleh ibu hamil atau ibu
menyusui
7. Simpan obat pada suhu ruang dan jauhkan dari tempat yang panas dan lembap.

Dosis

Pemberian dosis glutamine disesuaikan dengan tunjuan terapi.

Interaksi

Pehatikan penggunaan glutamine dengan beberapa jenis obat berikut ini karena dpat
menimbulkan interaksi tertentu dalam tubuh.

1. Efek laktulosa akan berkurang jika digunakan bersamaan dengan glutamine.


2. Glutamine kemungkinan dapat menurunkan efek terapi dari beberapa obat antikanker.
3. Glutamine kemungkinan dapat menurunakn efek terapi dari beberapa obat antikejang
seperti: phenobarbital, primidone, valproic acid, gabapentin, carbamazepine, phenytoin.
Dapus

https://rua.ua.es/dspace/bitstream/10045/26600/1/jhse_Vol_VII_N_IV_770-782.pdf

http://reps-id.com/l-glutamine-for-max-muscle/

https://www.guesehat.com/info-obat/l-glutamine-glutamine