Anda di halaman 1dari 14

3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II

Home ANALISIS GEOMETRIK TIKUNGAN

Analisa Numerik (4) Desain interior rumah (9) E-Book's (1) Geoteknik (27) Ilmu lingkungan (10) Irigasi Dan Bangunan Air (24) Jalan raya (25) Jembatan (10)

Matematika (4) Mekanika Tanah (15) Pengetahuan Gempa (16) Program dan Internet (24) Statistik (3) Struktur (44)

PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH


JEMBATAN-II
2.5. PEMANCANGAN

1) UmumTiang pancang dapat dipancang dengan setiap jenis palu, asalkan tiang
pancang tersebut dapat menembus masuk pada ke dalaman yang telah ditentukan
atau mencapai daya dukung yang telah ditentukan, tanpa kerusakan.

Bilamana elevasi akhir kepala tiang pancang berada di bawah permukaan tanah asli,
maka galian harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum pemancangan. Perhatian
khusus harus diberikan agar dasar pondasi tidak terganggu oleh penggalian di luar
batas-batas yang ditunjukkan dalam Gambar.

Kepala tiang pancang baja harus dilindungi dengan bantalan topi atau mandrel dan
kepala tiang kayu harus dilindungi dengan cincin besi tempa atau besi non-magnetik.
Palu, topi baja, bantalan topi, katrol dan tiang pancang harus mempunyai sumbu
yang sama dan harus terletak dengan tepat satu di atas lainnya. Tiang pancang
termasuk tiang pancang miring harus dipancang secara sentris dan diarahkan dan
dijaga dalam posisi yang tepat. Semua pekerjaan pemancangan harus dihadiri oleh
Direksi Pekerjaan atau wakilnya, dan palu pancang tidak boleh diganti dan
dipindahkan dari kepala tiang pancang tanpa persetujuan dari Direksi Pekerjaan atau
wakilnya.

Tiang pancang harus dipancang sampai penetrasi maksimum atau penetrasi tertentu,
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, atau ditentukan dengan
pengujian pembebanan sampai mencapai ke dalaman penetrasi akibat beban
pengujian tidak kurang dari dua kali beban yang dirancang, yang diberikan menerus
untuk sekurang-kurangnya 60 mm. Dalam hal tersebut, posisi akhir kepala tiang
pancang tidak boleh lebih tinggi dari yang ditunjukkan dalam Gambar atau
sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan setelah pemancangan tiang
pancang uji. Posisi tersebut dapat lebih tinggi jika disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Bilamana ketentuan rancangan tidak dapat dipenuhi, maka Direksi Pekerjaan dapat
Pencarian memerintahkan untuk menambah jumlah tiang pancang dalam kelompok tersebut
sehingga beban yang dapat didukung setiap tiang pancang tidak melampaui kapasitas
Search daya dukung yang aman, atau Direksi Pekerjaan dapat mengubah rancangan
bangunan bawah jembatan bilamana dianggap perlu.
Followers
Alat pancang yang digunakan dapat dari jenis gravitasi, uap atau diesel. Untuk tiang
pancang beton, umumnya digunakan jenis uap atau diesel. Berat palu pada jenis
gravi-tasi sebaiknya tidak kurang dari jumlah berat tiang beserta topi pancangnya,
tetapi sama sekali tidak boleh kurang dari setengah jumlah berat tiang beserta topi
pancangnya, dan minimum 2 ton untuk tiang pancang beton. Untuk tiang pancang
baja, berat palu harus dua kali berat tiang beserta topi pancangnya.

Tinggi jatuh palu tidak boleh melampaui 2,5 meter atau sebagaimana yang
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Alat pancang dengan jenis gravitasi, uap atau
diesel yang disetujui, harus mampu memasukkan tiang pancang tidak kurang dari 3
mm untuk setiap pukulan pada 15 cm dari akhir pemancangan dengan daya dukung
yang diinginkan sebagaimana yang ditentukan dari rumus pemancangan yang My Blog List
disetujui, yang digunakan oleh Kontraktor. Enerji total alat pancang tidak boleh
kurang dari 970 kgm per pukulan, kecuali untuk tiang pancang beton sebagaimana
disyaratkan di bawah ini.

Alat pancang uap, angin atau diesel yang dipakai memancang tiang pancang beton

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 1/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
Pengikut (20) harus mempunyai enerji per pukulan, untuk setiap gerakan penuh dari pistonnya
tidak kurang dari 635 kgm untuk setiap meter kubik beton tiang pancang tersebut.

Penumbukan dengan gerakan tunggal (single acting) atau palu yang dijatuhkan harus
dibatasi sampai 1,2 meter dan lebih baik 1 meter. Penumbukan dengan tinggi jatuh
yang lebih kecil harus digunakan bilamana terdapat kerusakan pada tiang pancang.
Contoh-contoh berikut ini adalah kondisi yang dimaksud :

§ Bilamana terdapat lapisan tanah keras dekat permukaan tanah yang harus ditem-
bus pada saat awal pemancangan untuk tiang pancang yang panjang.

Putra Creative to-


§ Bilamana terdapat lapisan tanah lunak yang dalam sedemikian hingga penetrasi
src.com
yang dalam terjadi pada setiap penumbukan.
Odi Darmawan J
§ Bilamana tiang pancang diperkirakan sekonyong-konyongnya akan mendapat
penolakan akibat batu atau tanah yang benar-benar tak dapat ditembus lainnya.

Bilamana serangkaian penumbukan tiang pancang untuk 10 kali pukulan terakhir


telah mencapai hasil yang memenuhi ketentuan, penumbukan ulangan harus
dilaksanakan dengan hati-hati, dan pemancangan yang terus menerus setelah tiang
pancang hampir berhenti penetrasi harus dicegah, terutama jika digunakan palu
Ikuti berukuran sedang. Suatu catatan pemancangan yang lengkap harus dilakukan

Setiap perubahan yang mendadak dari kecepatan penetrasi yang tidak dapat
Blog Archive dianggap sebagai perubahan biasa dari sifat alamiah tanah harus dicatat dan
penyebabnya harus dapat diketahui, bila memungkinkan, sebelum pemancangan
► 2018 (1)

dilanjutkan.
► 2017 (2)

► 2016 (5)
► Tidak diperkenankan memancang tiang pancang dalam jarak 6 m dari beton yang
► 2015 (21)
► berumur kurang dari 7 hari. Bilamana pemancangan dengan menggunakan palu yang
memenuhi ketentuan minimum, tidak dapat memenuhi Spesifikasi, maka Kontraktor
► 2014 (31)

harus menyediakan palu yang lebih besar dan/atau menggunakan water jet atas
► 2013 (21)
► biaya sendiri.
▼ 2012 (143)

► November (4)
► 2) Penghantar Tiang Pancang (Leads)
Penghantar tiang pancang harus dibuat sedemikian hingga dapat memberikan
► September (5)

kebebasan bergerak untuk palu dan penghantar ini harus diperkaku dengan tali atau
► August (15)
► palang yang kaku agar dapat memegang tiang pancang selama pemancangan. Kecuali
► July (13)
► jika tiang pancang dipancang dalam air, penghantar tiang pancang, sebaiknya
mempunyai panjang yang cukup sehingga penggunaan bantalan topi tiang pancang
► June (6)

panjang tidak diperlukan. Penghantar tiang pancang miring sebaiknya digunakan
▼ May (62)

untuk pemancangan tiang pancang miring.
► 31 May (1)

► 22 May (8)

► 21 May (5)

▼ 19 May (20)

SURAT
PERJANJIAN
KONTRAK
PELAKSANAAN
JEMBATAN
BANGUNAN
BAWAH
JEMBATAN-II
PELAKSANAAN
JEMBATAN
BANGUNAN
Gambar .20 – Alat Pancang Crane
BAWAH
JEMBATAN
3) Bantalan Topi Tiang Pancang Panjang (Followers)
PELAKSANAAN
JEMBATAN Pemancangan tiang pancang dengan bantalan topi tiang pancang panjang sedapat
BANGUNAN mungkin harus dihindari, dan hanya akan dilakukan dengan persetujuan tertulis dari
ATAS Direksi Pekerjaan.
JEMBATAN - III
PELAKSANAAN 4) Tiang Pancang Yang Naik
JEMBATAN Bilamana tiang pancang mungkin naik akibat naiknya dasar tanah, maka elevasi
BANGUNAN
ATAS kepala tiang pancang harus diukur dalam interval waktu dimana tiang pancang yang
JEMBATAN - II berdekatan sedang dipancang. Tiang pancang yang naik sebagai akibat pemancangan
PELAKSANAAN tiang pancang yang berdekatan, harus dipancang kembali sampai ke dalaman atau
JEMBATAN ketahanan semula, kecuali jika pengujian pemancangan kembali pada tiang pancang
BANGUNAN yang berdekatan menunjukkan bahwa pemancangan ulang ini tidak diperlukan.
ATAS
JEMBATAN
5) Pemancangan Dengan Pancar Air (Water Jet)
KEWAJIBAN
Pemancangan dengan pancar air dilaksanakan hanya seijin Direksi Pekerjaan dan de-
PENYEDIA
JASA ngan cara yang sedemikian rupa hingga tidak mengurangi kapasitas daya dukung
KONSTRUKSI tiang pancang yang telah selesai dikerjakan, stabilitas tanah atau keamanan setiap
PONDASI JALAN struktur yang berdekatan.
RAYA
Pengistilahan
Banyaknya pancaran, volume dan tekanan air pada nosel semprot haruslah sekedar
dalam cukup untuk melonggarkan bahan yang berdekatan dengan tiang pancang, bukan
Perencanaan untuk membongkar bahan tersebut. Tekanan air harus 5 kg/cm2 sampai 10 kg/cm2
Jalan Raya tergantung pada kepadatan tanah. Perlengkapan harus dibuat, jika diperlukan,
PERKERASAN untuk mengalirkan air yang tergenang pada permukaan tanah. Sebelum penetrasi
BETON SEMEN yang diperlukan tercapai, maka pancaran harus dihentikan dan tiang pancang
(PERKERASAN
KAKU / RIGID dipancang dengan palu sampai penetrasi akhir. Lubang-lubang bekas pancaran di
PA... samping tiang pancang harus diisi dengan adukan semen setelah pemancangan
Untuk merubah selesai.
file pdf ke

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 2/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
dalam format 6) Tiang Pancang Yang Cacat
images
Prosedur pemancangan tidak mengijinkan tiang pancang mengalami tegangan yang
Mekanisme berlebihan sehingga dapat mengakibatkan pengelupasan dan pecahnya beton,
pengelolaan pembelahan, pecahnya dan kerusakan kayu, atau deformasi baja. Manipulasi tiang
dan
Pemantauan pancang dengan memaksa tiang pancang kembali ke posisi yang sebagaimana
Lingkungan mestinya, menurut pendapat Direksi Pekerjaan, adalah keterlaluan, dan tak akan
Pendekatan
diijinkan. Tiang pancang yang cacat harus diperbaiki atas biaya Kontraktor.
Pengelolaan Bilamana pemancangan ulang untuk mengembalikan ke posisi semula tidak
Lingkungan memungkinkan, tiang pancang harus dipancang sedekat mungkin dengan posisi
Baku Mutu semula, atau tiang pancang tambahan harus dipancang sebagaimana yang
Lingkungan, diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
Air Tawar,
Udara, Air
Laut 7) Catatan Pemancangan (Calendering)
Sebuah catatan yang detil dan akurat tentang pemancangan harus disimpan oleh
Integrasi Aspek
Lingkungan Direksi
Pada Kegiatan
Konstruks... Pu : Kapasitas daya dukung batas (ton)
Ekologi dan
Ekosistem Pu = {ef.WH / [S + (C1 + C2 + C3)/2]} x { [W + n^2.Wp] / [W + P]}
Konsep
Lingkungan Pekerjaan dan Kontraktor harus membantu Direksi Pekerjaan dalam menyimpan
Hidup catatan ini yang meliputi berikut ini : jumlah tiang pancang, posisi, jenis, ukuran,
LAPIS PONDASI panjang aktual, tanggal pemancangan, panjang dalam pondasi telapak, penetrasi
JALAN pada saat penumbukan terakhir, enerji pukulan palu, panjang perpanjangan,
DENGAN
panjang pemotongan dan panjang akhir yang dapat dibayar.
AGREGAT
LAPIS PONDASI
8) Rumus Dinamis untuk Perkiraan Kapasitas Tiang Pancang
JALAN TANPA
PENUTUP Kapasitas daya dukung tiang pancang harus diperkirakan dengan menggunakan rumus
ASPALLAPIS dinamis (Hiley). Kontraktor dapat mengajukan rumus lain untuk mendapat
PONDA... persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
Dokumen Kontrak
Kerja Pa : Kapasitas daya dukung yang diijinkan (ton)
konstruksi
ef : Efisiensi palu
► 16 May (2)
► ef = 1,00 untuk palu diesel
ef = 0,75 untuk palu yang dijatuhkan dengan tali dan gesekan katrol
► 13 May (2)

W : Berat palu atau ram (ton)
► 08 May (9)
► W : Berat tiang pancang (ton)
► 05 May (10)
► n : Koefisien restitusi
n = 0,25 untuk tiang pancang beton
► 01 May (5)

H : Tinggi jatuh palu (m)
► April (3)
► H = 2 H’ untuk palu diesel (H’ = tinggi jatuh ram)
► March (17)
► S : Penetrasi tiang pancang pada saat penumbukan terakhir, atau “set” (m)
C1 : Tekanan sementara yang diijinkan untuk kepala tiang dan pur (m)
► February (10)

C2 : Tekanan sementara yang diijinkan untuk deformasi elastis dari batang tiang
► January (8)
► pancang (m)
C3 : Tekanan sementara yang diijinkan untuk gempa pada lapangan (m)
► 2011 (118)

N : Faktor Keamanan
► 2010 (9)

Pageviews last month 2.6. PENGUJIAN TIANG

2.6.1. Pengujian dengan Static Load Test (SLT)

7017 a). Umum


Pengujian tiang dilaksanakan untuk mengetahui dengan pasti daya dukung dari jenis
pondasi pada setiap jembatan. Jumlah tiang pancang yang diuji tidak kurang dari
satu atau tidak lebih dari empat untuk setiap jembatan. Pengujian tiang dapat
dilaksanakan di dalam atau di luar keliling pondasi, dan dapat menjadi bagian dari
pekerjaan yang permanen. Beban-beban untuk pengujian pembebanan tidak boleh
diberikan sampai beton mencapai kuat tekan minimum 95 % dari kuat tekan beton
berumur 28 hari, namun dapat juga menggunakan semen dengan kekuatan awal yang
tinggi (high-early-strength-cement), jenis III atau IIIA untuk beton dalam tiang
pengujian pembebanan dan untuk tiang tarik.

b). Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah peralatan yang disetujui dan cocok untuk mengukur
beban tiang dan penurunan tiang pancang dengan akurat dalam setiap peningkatan
beban, peralatan tersebut harus mempunyai kapasitas kerja tiga kali beban
rancangan untuk tiang yang akan diuji yang ditunjukkan dalam Gambar. Titik
referensi untuk mengukur penurunan (settlement) tiang pancang harus dipindahkan
dari tiang uji untuk meng-hindari semua kemungkinan gangguan yang akan terjadi.
Semua penurunan tiang pancang yang dibebani harus diukur dengan peralatan yang
memadai, seperti alat peng-ukur (gauges) tekanan, dan harus diperiksa dengan alat
pengukur elevasi.

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 3/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
Gambar .21 Peralatan Percobaan Pembebanan

c). Pelaksanaan Pembebanan


Peningkatan lendutan akan dibaca segera setelah setiap penambahan beban
diberikan dan setiap interval 15 menit setelah penambahan beban tersebut. Beban
yang aman dan diijinkan adalah 50 % beban yang telah diberikan selama 48 jam
secara terus menerus menyebabkan penurunan tetap (permanent settlement) tidak
lebih dari 6,5 mm yang diukur pada puncak tiang. Beban pengujian harus dua kali
beban rancangan yang ditunjukkan dalam Gambar.

Beban pertama yang harus diberikan pada tiang percobaan adalah beban rancangan
tiang pancang. Beban pada tiang pancang dinaikkan sampai mencapai dua kali beban
ran-cangan dengan interval tiga kali penambahan beban yang sama. Setiap
penambahan beban harus dalam interval waktu minimum 2 jam, kecuali jika tidak
terdapat penam- bahan penurunan kurang dari 0,12 mm dalam interval waktu 15
menit akibat penam- bahan beban sebelumnya. Bilamana kekuatan tiang uji untuk
mendukung beban pengujian diragukan, penambahan beban harus dikurangi sampai
50 % masing-masing beban pengujian, sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan agar
kurva keruntuhan yang halus dapat digambar. Beban pengujian penuh harus
dipertahankan pada tiang uji dalam waktu tidak kurang dari 48 jam. Kemudian
beban ditiadakan dan penurunan permanen dibaca. Bilamana diminta oleh Direksi
Pekerjaan, pembebanan diteruskan melebihi 2 kali beban rancangan dengan
penambahan beban setiap kali 10 ton sampai tiang runtuh atau kapasitas peralatan
pembebanan ini dilampaui. Tiang pancang dapat dianggap runtuh bila penurunan
total akibat beban melebihi 2,5 cm atau penurunan permanen melebihi 6,5 mm.

Setelah pengujian pembebanan selesai dilaksanakan, beban-beban yang digunakan


harus disingkirkan, dan tiang pancang, termasuk tiang tarik dapat digunakan untuk
struktur bilamana oleh Direksi Pekerjaan dianggap masih memenuhi ketentuan untuk
digunakan. Tiang uji yang tidak dibebani harus digunakan seperti di atas. Jika setiap
tiang pancang setelah digunakan sebagai tiang uji atau tiang tarik dianggap tidak
memenuhi ketentuan untuk digunakan dalam struktur, harus segera disingkirkan
bilamana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, atau harus dipotong sampai di bawah
permukaan tanah atau dasar pondasi telapak, mana yang dapat dilaksanakan.

Jumlah dan lokasi tiang uji untuk pengujian pembebanan akan ditentukan oleh
Direksi Pekerjaan. Untuk tiang dengan diameter lebih dari 600 mm jumlah ini tidak
boleh kurang dari satu dan tidak lebih dari tiga untuk setiap jembatan; untuk tiang
dengan diameter kurang dari dan sampai dengan 600 mm jumlah tiang tidak boleh
kurang dari satu untuk setiap 30 tiang.

d). PelaporanLaporan yang harus dibuat untuk setiap pengujian pembebanan


meliputi dokumen-dokumen berikut ini :
§ Denah pondasi
§ Lapisan (stratifikasi) tanah
§ Kurva kalibrasi alat pengukur tekanan
§ Gambar diameter piston dongkrak
§ Grafik pengujian dengan absis untuk beban dalam ton dan ordinat untuk penu-
runan (settlement) dalam desimal mm.
§ Tabel yang menunjukkan pembacaan alat pengukur tekanan dalam atmosfir,
beban dalam ton, penurunan dan penurunan rata-rata dimana semua itu
merupakan fungsi dari waktu (tanggal dan jam).

Bilamana kapasitas daya dukung yang aman dari setiap tiang pancang, diketahui
kurang dari beban rancangan, maka tiang pancang harus diperpanjang atau
diperbanyak sesuai dengan yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

2.6.2. Pengujian dengan Dynamic Load Test (DLT)

a). UmumTest dengan beban statis merupakan metode terbaik dan juga merupakan
yang termahal untuk menentukan daya dukung suatu tiang. Pembebanan secara
static yang merupakan uji skala penuh dilakukan dengan memberikan beban yang
lebih besar dari beban rencana seperti yang telah dijelaskan diatas. Metode Static
Load Test (SLT) ini memerlukan banyak waktu (time consuming).
Test dengan beban dinamis atau Dynamic Load Test (DLT) adalah metode lain yang
lebih ekonomis dan efisien. Test pembebanan tiang secara dinamis ini menggunakan
peralatan FPDS (Foundation Pile Diagnostic System) berikut software PDA (Pile
Driving Analyis) tertentu misalnya PDI dari USA, TNO dari Belanda, CEBTP dari
Perancis dan PID dari Swedia).
Dengan menggunakan system ini, beban diberikan secara dinamik pada kepala tiang
dengan menggunakan hammer pemancang. Dengan memberikan blow (pukulan) dari
hammer pemancang, signal acceleration (percepatan) dan strain (regangan) dari
tiang dicatat dan direkam oleh computer. Dari dua signal tersebut dapat diperoleh
signal velocity-time dan force-time dan kemudian tahanan pemancangan dinamis
(dynamic driving resistance) dapat ditentukan.

b). Peralatan dan Persiapan


Bahan-bahan dan hal-hal yang harus dipersiapkan adalah :
· Siapkan peralatan DLT dengan mengisi cek list dan lakukan test peralatan dengan
menggunakan test box
· Siapkan file input data dengan memperhatikan form yang sudah diisi dan data
kalibrasi sensor-sensor
· Record pemancangan untuk tiang yang akan ditest (kalendering)
· Blowrecord untuk tiang yang ditest (Blowcount)
· Data soil investigasi dapat berupa SONDIR, atau SPT dan data BORING
· Gambar desain jembatan
· Tiang yang akan ditest dipilih salah satu tiang dari kelompok tiang dan dapat tiang

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 4/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
dengan kondisi kalendering yang besar atau tiang yang jauh dari titik berat kelompok
tiang (pilar atau abutment)
· Tiang yang akan ditest harus dibiarkan beberapa hari (2-7 hari) agar tegangan air
tanah (pore pressure) kembali pada kondisi sebelum pemancangan (setting)
· Tiang yang akan ditest minimal 2 meter harus muncul dari permukaan tanah asli
atau air yang ada saat pengujian
· Tersedia Power Supply untuk computer dan bor listrik minimum 1000VA
· Tersedia hammer dengan kapasitas yang sama dengan yang digunakan pada saat
pemancangan

c). Pelaksanaan Test DLT I Lapangan


· Tiang yang akan ditest dilubangi (dibor) untuk meletakan sensor dan sensor harus
dipasang pada tiang yang akan ditest secara simetris
· Pasang sensor dan hubungan kabel-kabel pada signal conditioning dan perangkat
komputer yang dioperasikan dengan paket software DLT atau PDA tertentu
· Cek kelurusan hammer dengan tiang pancang
· Monitoring signal dari hammer blow
· Cek signal velocity dan force dengan memperhatikan hammer centricity (sekitar
100%) dan kedua signal force channel 3 dan channel 4 harus tekan (positif)
· Jika telah memenuhi persyaratan teknis lakukan monitoring untuk kurang lebih 15
pukulan
· Jika belum memenuhi persyaratan cek kembali kelurusan hammer dengan tiang
dan lanjutkan langkah selanjutnya Pilih signal yang mewakili untuk digunakan pada
signal matching.

Gambar 22- Peralatan DLT

d). Signal matching


Tiang yang ditest dipasang transducer strain dan acceleration, pengukuran strain
dilakukan pada saat adanya tumbukan hammer dan bersamaan itu juga pergerakan
tiang dicatat sebagai acceleration. Data test dari setiap hammer blow atau dari
blow hammer tertentu dicatat untuk dianalisa lebih lanjut. Suatu hal yang mendasar
dari tiang yang ditest secara dynamic bahwa tahanan (soil resistance) pada
pergerakan tiang dianggap sebagai baik statik (elasto-plastic) dan dynamic
(damped).
Beberapa metode telah dikembangkan untuk mengevaluasi static resistance pada
waktu test, tetapi hal ini sangat tergantung pada asumsi soil damping resistance dan
biasanya hanya digunakan bilamana soil damping resistance sudah dievaluasi dan
divalidasi dengan menggunakan cara lain seperti static load testing suatu tiang.
Umumnya dianjurkan dari data yang didapatkan dari dynamic load test diikuti
dengan analisa yang teliti yang mana biasanya dilakukan jauh dari lokasi tiang yang
ditest (biasanya dilakukan di kantor). Analisa tersebut didasarkan pada ”wave
equation philosopy” dan menggunakan program komputer dalam uraian ini diambil
sebagai contoh adalah TNOWAVE dengan pilihan SIGNAL MATCHING. Analisa teliti ini
memberikan hasil yang lebih detail dibandingkan dengan yang didapat langsung dari
lokasi. Cara ini dapat menentukan daya dukung tiang dan karakteristik deformasi
tiang seketika akibat beban statik.

2.6.3. PONDASI TIANG BOR (BORED PILE)


a). UmumDi Indonesia pondasi jenis ini cukup populer juga meskipun peralatan yang
tersedia masih terbatas dan umumnya terkonsentrasi di pulau jawa. Jenis pondasi ini
prinsip kerjanya hampir sama dengan pondasi tiang pancang. Perbedaannya terletak
pada cara pemasangannya, kalau tiang pancang masuk kedalam tanah dengan
kekuatan tumbukan sehingga menimbulkan suara yang keras, tetapi lain halnya
dengan bored pile yang suaranya tidak mengganggu lingkungan, sehingga jenis
pondasi ini banyak digunakan di daerah perkotaan dalam pembangunan apartemen,
mall, dan gedung pencakar langit.
Contoh bahan yang digali harus disimpan untuk semua tiang bor. Pengujian
penetrometer untuk bahan di lapangan harus dilakukan selama penggalian dan pada
dasar tiang bor sesuai dengan yang diminta oleh Direksi Pekerjaan. Pengambilan
contoh bahan ini harus selalu dilakukan pada tiang bor pertama dari tiap kelompok.

b) Pelaksanaan pengeboran :
· Dibuat lubang dengan dibor sampai kedalaman sesuai gambar rencana
· Sebelum pengecoran semua lubang harus utuh, dasar casing harus dipertahankan
tidak lebih dari 150 cm dan tidak kurang dari 30 cm dibawah permukaan beton
selama penarikan dan operasi penempatan, kecuali ditentukan lain oleh direksi
· Sampai kedalaman 3 m dari permukaan, beton yg dicor harus digetarkan dengan
alat penggetar, dan sebelumnya semua kotoran dibersihkan, demikian juga bila ada
air dalam lubang bor harus dikeluarkan
· Saat pencabutan casing digetarkan untuk menghindari menempelnya beton pada
dinding casing
· Apabila pengecoran beton didalam air atau pengeboran lumpur maka digunakan
cara tremieTiang bor umumnya harus dicor sampai kira-kira satu meter di atas
elevasi yang akan dipotong, semua beton yang lepas, kelebihan dan lemah harus

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 5/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
dikupas dari bagian puncak tiang bor dan baja tulangan yang tertinggal harus
mempunyai panjang yang cukup sehingga memungkinkan pengikatan yang sempurna
kedalam pur atau struktur di atasnya.

Gambar 23- Pelaksanaan Tiang Bor

c). Pengecoran Beton Tiang Bor (Bored Pile)Pengecoran beton harus dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan. Dimanapun beton digunakan harus dicor ke dalam suatu
lubang yang kering dan bersih. Beton harus dicor melalui sebuah corong dengan
panjang pipa. Pengaliran harus diarahkan sedemikian rupa hingga beton tidak
menimpa baja tulangan atau sisi-sisi lubang. Beton harus dicor secepat mungkin
setelah pengeboran dimana kondisi tanah kemungkinan besar akan memburuk akibat
terekspos. Bilamana elevasi akhir pemotongan berada di bawah elevasi muka air
tanah, tekanan harus dipertahankan pada beton yang belum mengeras, sama dengan
atau lebih besar dari tekanan air tanah, sampai beton tersebut selesai mengeras.

d). Pengecoran Beton di Bawah AirBilamana pengecoran beton di dalam air atau
lumpur pengeboran, semua bahan lunak dan bahan lepas pada dasar lubang harus
dihilangkan dan cara tremie yang telah disetujui harus digunakan.
Cara tremie harus mencakup sebuah pipa yang diisi dari sebuah corong di atasnya.
Pipa harus diperpanjang sedikit di bawah permukaan beton baru dalam tiang bor
sampai di atas elevasi air/lumpur.
Bilamana beton mengalir keluar dari dasar pipa, maka corong harus diisi lagi dengan
beton sehingga pipa selalu penuh dengan beton baru. Pipa tremie harus kedap air,
dan harus berdiameter paling sedikit 15 cm. Sebuah sumbat harus ditempatkan di
depan beton yang dimasukkan pertama kali dalam pipa untuk mencegah
pencampuran beton dan air.

e). Penanganan Kepala Tiang Bor BetonTiang bor umumnya harus dicor sampai kira-
kira satu meter di atas elevasi yang akan dipotong. Semua beton yang lepas,
kelebihan dan lemah harus dikupas dari bagian puncak tiang bor dan baja tulangan
yang tertinggal harus mempunyai panjang yang cukup sehingga memungkinkan
pengikatan yang sempurna ke dalam pur atau struktur di atasnya.

f). Tiang Bor Beton Yang CacatTiang bor harus dibentuk dengan cara dan urutan
sedemikian rupa hingga dapat dipasti-kan bahwa tidak terdapat kerusakan yang
terjadi pada tiang bor yang dibentuk sebelumnya. Tiang bor yang cacat dan di luar
toleransi harus diperbaiki atas biaya Kontraktor.

g). Pengujian Tiang Bor


Perkembangan dan penggunaan metode Load Cell test untuk pengujian static dengan
kapasitas tinggi pada pondasi tiang bor memberikan pengaruh dan konstribusi yang
sangat besar bagi para perencana struktur pondasi untuk dapat mengevaluasi
kapasitas dari struktur pondasi yang direncanakan dan mengakaji pemilihan teknik
konstruksi pada pondasi tiang bor. Objektif dari Load Cell test adalah untuk
mengukur pergerakan tiang pondasi melalui alat load cell yang dihubungkan dengan
peralatan elektronik sistem data yang terkomputerisasi dengan akurat.
Saat ini, perencana struktur pondasi tidak lagi memerlukan dan bergantung kepada
penggunaan tiang pondasi uji dengan skala lebih kecil dari ukuran aktual-nya
(diperkecil dari ukuran sebenarnya) dan biaya yang besar untuk dapat melakukan
pengujian beban pada pondasi tiang bor berdiameter besar yang biasanya menjadi
ciri khas dari metode pengujian statik konvensional. Kesalahan-kesalahan yang
terdapat pada metode konvensional statik khususnya Pengenalan Load Cell Test.
Proses perubahan skala ukuran tiang uji secara konservatif dapat di-eliminasi dengan
menggunakan ukuran aktual dari tiang uji pada pengujian beban dengan metode
Load Cell test yang mampu memobilisasi beban lebih dari 200 MN. Load Cell adalah
alat pengangkat yang dimobilisasi dengan mekanisme hidrolis selama proses
pengujian beban. Alat ini ditanamkan dan merupakan bagian pada struktur pondasi
dan bekerja pada dua arah (bi-directictional), keatas (upward) melawan tahanan
geser selimut (side shear resistance) dan kebawah (downward) melawan tahanan
dasar (end bearing), load cell secara otomatis akan merekam kedua karakteristik
tahanan tersebut secara terpisah. Penggunaan alat ini pada struktur pondasi tidak
diharuskan untuk menggunakan struktur balok tambahan dan tiang-tiang pengikat
(tie-down piles). Load Cell menjabarkan semua reaksi yang bekerja pada tiang
pondasi dari tanah dan batuan yang mengelilingi pondasi. Pada suatu kondisi dimana
komponen-komponen tahanan tanah dan alat ini telah mencapai kapasitas
maksimumnya maka proses pengujian beban dapat dihentikan.

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 6/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II

Gambar 24- Pelaksanaan Tiang Bor

Setiap alat load cell secara khusus dilengkapi dengan komponen peralatan yang
berkemampuan untuk dapat mengukur secara langsung dan otomatis adanya
pergerakan pada dirinya. Kapasitas beban yang dapat dimobilisasi selama pengujian
beban adalah 0.7 - 27 MN. Dengan menggunakan satu (single) atau lebih (multiple)
alat load cell pada satu bidang horisontal, maka kapasitas yang dapat tersedia dapat
mencapai lebih dari 220 MN (22000 ton); sedangkan penggunaan multiple cells pada
bidang yang berbeda (elevasi yang berbeda) dalam satu struktur tiang pondasi akan
memungkinkan segmen-segmen pada tiang tersebut dapat dianalisa dan diketahui
hasil-hasil keluarannya secara terpisah.
Pelaksanaan pengujian beban pada metode load cell mengacu kepada Peraturan
ASTM, Quick Testing Method - D1143. Meskipun para perencana juga menetapkan
beberapa metode statik lainnya akan tetapi metode ini sudah menjadi metode yang
umum digunakan dan menjadi pilihan yang baku. Dibawah ini adalah peralatan yang
umum digunakan pada pelaksanaan load cell test, yaitu meliputi:

1. Load Cell set: perangkat alat berat komposit yang terdiri dari 2 plat baja yang
berbentuk lingkaran dan silinder baja untuk menggambungkan kedua plat tersebut.
Perangkat ini merupakan alat utama dari unit load cell.
2. Hydraulic supply line: pipa baja yang digunakan untuk menyalurkan tekanan
hidrolis dari pompa hidrolik kepada perangkat Load Cell dengan tekanan yang telah
ditetapkan
3. Hydraulic pump: sumber tekanan yang digunakan untuk memobilisasi Load Cell.
4. Pressure gauge: merupakan salah satu komponen bagian dari alat sumber tekanan
hidrolis yang berfungsi untuk membaca besarnya tekanan hidrolis yang telah
disalurkan pada Load Cell.
5. Telltale casing: pipa baja yang digunakan sebagai selongsong dari steel telltale
rods.
6. Stainless Steel Telltale Rods: kawat baja yang digunakan untuk menghubungkan
perangkat Load Cell set dengan Data Acquisition System melalui Digital Indicator.
Kawat ini berfungsi untuk mengirimkan displacement atau expansion yang terjadi
pada Load Cell set.
7. Data Acquisition System: perangkat lunak elektronik yang berfungsi sebagai
perantara antara Computer dan Data gatherer. Data (reading) yang dibaca kemudian
disaring sebelum dianalisa dan ditampilkan pada Computer.
8. Displacement transducers: alat yang berfungsi untuk membaca adanya
displacement yang terjadi pada Load Cell melalui telltale rods.
9. Data gatherer: alat yang berfungsi untuk mengumpulkan data hasil reading yang
dikirimkan dari displacement transducers dan grating sensors.
10. Grating sensors: alat yang digunakan untuk mengukur tegangan pada setiap
lapisan tanah.

2.7. TOLERANSI TIANG PANCANG DAN TIANG BOR


a. Lokasi kepala tiangPergeseran lateral kepala tiang pancang dari posisi yang
ditentukan : < 75 mm dalam segala arah
b. Kemiringan tiang pancangPenyimpangan arah vertikal/ kemiringan yang
dipersyaratkan : Penyimpangan arah vertikal/ kemiringan yang dipersyaratkan : < 20
mm per meter (1 : 50)

c. Kelengkungan (BOW)Kelengkungan tiang pancang beton cor langsung ditempat : <


0,01 panjang tiang dalam segala arah;
Kelengkungan lateral tiang pancang baja : < 0,0007 panjang total tiang pancang>

d. Garis tengah lubang bor tanpa selubung (casing) : 0 sd +5% dari diameter
nominal pada setiap posisi

2.8. TURAP

a) Umum
Umumnya ketentuan yang mengatur pemancangan tiang pancang penahan beban
harus berlaku juga untuk turap. Jenis tiang pancang yang akan digunakan harus
seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan

b). Turap KayuTiang pancang kayu sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan dalam
Gambar baik yang dipotong dari bahan yang utuh (solid) maupun dibuat dari tiga
papan yang diikat jadi satu dengan kokoh. Ujung bagian bawah tiang pancang harus

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 7/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
diruncingkan agar dapat mendesak ke dalam sedemikian hingga tiang-tiang yang
berdekatan mempunyai ikatan yang rapat. Puncak tiang pancang harus dipotong
pada suatu garis lurus pada elevasi yang telah ditunjukkan dan harus diperkaku
dengan balok yang ditumpang-tindihkan dan disambung pada semua sambungan dan
sudut-sudut. Balok-balok pengaku sebaik-nya dipasang untuh antara sudut-sudut dan
harus dibaut di dekat puncak tiang pancang.

c) Turap Beton
Dinding turap beton harus dilaksanakan sesuai dengan Gambar.

d) Turap Baja
Turap baja harus mempunyai jenis dan berat seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar. Bilamana dipasang dalam struktur yang telah selesai, turap baja harus
kedap air pada sambungannya. Pengecatan turap baja harus memenuhi ketentuan
Spesifikasi.

3. PONDASI SUMURAN (CAISSON)

a). Umum
Pondasi ini terbuat dari beton bertulang atau beton pracetak, yang umum digunakan
pada pekerjaan jembatan di Indonesia adalah dari silinder beton bertulang dengan
diameter 250 cm, 300 cm, 350 cm, dan 400 cm. Pekerjaan ini mencakup penyediaan
dan penurunan dinding sumuran yang dicor di tempat atau pracetak yang terdiri
unit-unit beton pracetak. Penurunan dilakukan dengan menggali sedikit demi sedikit
di bawah dasarnya. Berat beton pada sumuran memberikan gaya vertical untuk
mengatasi gesekan (friction) antara tanah dengan beton, dan dengan demikian
sumuran dapat turun.

Ketepatan pematokan pada sumuran sangat penting karena tempat yang digunakan
oleh sumuran sangat besar. Akibat kesalahan pematokan, bersama-sama dengan
kemiringan yang terjadi pada waktu sumuran diturunkan, dapat menyebabkan
sumuran itu berada di luar daerah kepala jembatan atau pilar. Hal ini merupakan
tambahan pekerjaan untuk memperbesar kapala jembatan atau pilar, dan akan
meneruskan beban vertical dari bangunan atas kepada bangunan bawah secara
eksentris.

Garis tengah memanjang jembatan dan garis tengah melintang dari sumuran harus
ditentukan dan dioffset sejauh jarak tertentu untuk memastikan bahwa titik-titik
referensi tersebut tidak terganggu pada saat pembangunan sumuran.
Harus diperhatikan penentuan letak tiap segmen untuk memastikan bahwa segmen
baru akan mempunyai alinyemen yang benar sepanjang sumbu vertical.
Hal ini penting terutama pada waktu suatu segmen ditambahkan pada sumuran yang
tidak (keluar dari) vertical. Secara ideal kemiringan ini harus diperbaiki sebelum
penambahan segmen berikutnya. Setelah pekerjaan pematokan selesai, dilakukan
penggalian pendahuluan untuk memberikan jalan awal melalui mana sumuran akan
diturunkan. Sisi galian ini harus sedapat mungkin vertical.

Gambar 25 - Jenis Pondasi Sumuran

Gambar 26 - Bentuk Detail Pondasi Sumuran

b). Pembuatan Pondasi Sumuran


1). Unit Beton PracetakUnit beton pracetak harus dicor pada landasan pengecoran
yang sebagaimana mestinya. Cetakan harus memenuhi garis dan elevasi yang tepat

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 8/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
dan terbuat dari logam. Cetakan harus kedap air dan tidak boleh dibuka paling
sedikit 3 hari setelah pengecoran. Unit beton pracetak yang telah selesai dikerjakan
harus bebas dari segregasi, keropos, atau cacat lainnya dan harus memenuhi dimensi
yang disyaratkan.

Unit beton pracetak tidak boleh digeser paling sedikit 7 hari setelah pengecoran,
atau sampai pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan beton telah mencapai 70
persen dari kuat tekan beton rancangan dalam 28 hari.
Unit beton pracetak tidak boleh diangkut atau dipasang sampai beton tersebut
mengeras paling sedikit 14 hari setelah pengecoran, atau sampai pengujian
menunjukkan kuat tekan mencapai 85 persen dari kuat tekan rancangan dalam 28
hari.

2) Dinding Sumuran dari Unit Beton Pracetak


Beton pracetak yang pertama dibuat harus ditempatkan sebagai unit yang terbawah.
Bilamana beton pracetak yang pertama dibuat telah diturunkan, beton pracetak
berikut-nya harus dipasang di atasnya dan disambung sebagimana mestinya dengan
adukan semen untuk memperoleh kekakuan dan stabilitas yang diperlukan.
Penurunan dapat dilanjutkan 24 jam setelah penyambungan selesai dikerjakan.

3) Dinding Sumuran Cor Di Tempat


Cetakan untuk dinding sumuran yang dicor di tempat harus memenuhi garis dan
elevasi yang tepat, kedap air dan tidak boleh dibuka paling sedikit 3 hari setelah
pengecoran. Beton harus dicor dan dirawat sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi
ini. Penurunan tidak boleh dimulai paling sedikit 7 hari setelah pengecoran atau
sampai pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan beton mencapai 70 persen dari
kuat tekan rancangan dalam 28 hari.
c) Penggalian dan PenurunanBilamana penggalian dan penurunan pondasi sumuran
dilaksanakan, perhatian khusus harus diberikan untuk hal-hal berikut ini :

1. Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan aman, teliti, mematuhi undang-


undang keselamatan kerja, dan sebagainya.

2. Penggalian hanya boleh dilanjutkan bilamana penurunan telah dilaksanakan


dengan tepat dengan memperhatikan pelaksanaan dan kondisi tanah. Gangguan,
pergeseran dan gonjangan pada dinding sumuran harus dihindarkan selama
penggalian.
3. Dinding sumuran umumnya diturunkan dengan cara akibat beratnya sendiri,
dengan menggunakan beban berlapis (superimposed loads), dan mengurangi
ketahanan geser (frictional resistance), dan sebagainya.

4. Cara mengurangi ketahanan geser :


Bilamana ketahanan geser diperkirakan cukup besar pada saat penurunan din-ding
sumuran, maka disarankan untuk melakukan upaya untuk mengurangi geseran antara
dinding luar sumuran dengan tanah di sekelilingnya.

5. Sumbat Dasar Sumuran


Dalam pembuatan sumbat dasar sumuran, perhatian khusus harus diberikan untuk
hal-hal berikut ini :
i) Pengecoran beton dalam air umumnya harus dilaksanakan dengan cara tremies
atau pompa beton setelah yakin bahwa tidak terdapat fluktuasi muka air dalam
sumuran.
ii) Air dalam sumuran umumnya tidak boleh dikeluarkan setelah pengecoran beton
untuk sumbat dasar sumuran.

6. Pengisian Sumuran
Sumuran harus diisi dengan beton siklop K175 sampai elevasi satu meter di bawah
pondasi telapak. Sisa satu meter tersebut harus diisi dengan beton K250, atau
sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar.

7. Pekerjaan Dinding Penahan Rembesan (Cut-Off Wall Work)


Dinding penahan rembesan (cut-off wall) harus kedap air dan harus mampu menahan
gaya-gaya dari luar seperti tekanan tanah dan air selama proses penurunan dinding
sumuran, dan harus ditarik setelah pelaksanaan sumuran selesai dikerjakan.

8. Pembongkaran Bagian Atas Sumuran Terbuka


Bagian atas dinding sumuran yang telah terpasang yang lebih tinggi dari sisi dasar
pondasi telapak harus dibongkar. Pembongkaran harus dilaksanakan dengan
menggunakan alat pemecah bertekanan (pneumatic breakers). Peledakan tidak
boleh digunakan dalam setiap pembongkaran ini.
Baja tulangan yang diperpanjang masuk ke dalam pondasi telapak harus mempunyai
panjang paling sedikit 40 kali diameter tulangan.

4. PENJANGKARAN TANAH (GROUND ANCHOR)

a). UmumPenjelasan tentang Penjangkaran Tanah ini seluruhnya disadur dari buku
“Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi oleh Ir. Suyono Sosrodarsono dan Kazuto
Nakazawa Edisi ke 7 Tahun 2000” sebagai berikut . Metode penjangkaran tanah
disebut juga dengan nama Alluvian Anchor, Ground Anchor atau Tieback Anchor.
Dalam metode ini pemboran dilakukan di dalam tanah pondasi yang baik terdiri dari
lapisan berpasir, lapisan kerikil, lapisan berbutir halus ataupun batuan yang lapuk,
serta suatu bagian yang menahan gaya tarik seperti campuran semen dengan kabel
baja atau semen dengan batang baja dimasukkan ke dalam lubang hasil pemboran
tersebut, kemudian disertai suatu gaya tarik setelahnya untuk memperkuat
konstruksinya. Dalam banyak hal dipergunakan untuk melawan tekanan tanah seperti
turap ataupun tembok penahan tanah. Kadang-kadang juga dipergunakan untuk
konstruksi yang permanent tetapi pada dasarnya hanyalah dipakai untuk konstruksi

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 9/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
sementara. Apabila suatu dinding turap dipasang di suatu daerah di mana sedang
dikerjakan penurapan sedangkan penopang ataupun tiang-tiang antara tidak
dibutuhkan maka akan diperoleh daerah yang lebih luas di antara dinding turap,
yang memungkinkan penggalian dengan alat-alat berat.

Gambar 27 – Gambaran Umum Jangkar

b). Tipe Jangkar


Penjangkaran dengan tahanan geser. Jenis ini memakai batang jangkar yang silindris
yang digrout di dalam lubang bor dan gaya tarik ditimbulkan dari tahanan geser yang
bekerja sekelilingnya.
Penjangkaran dengan plat pemikul. Jenis ini menggunakan suatu plat massif yang
dipasang di dalam tanah sehingga tekanan tanah pasipnya yang bekerja dapat
menahan gaya tarik.Penjangkaran gabungan. Di mana ada bagian-bagian yang
diperbesar dan tekanan pasip bersama-sama tahanan geser batangnya yang menahan
gaya tarik, sehingga dapat disebut sebagai gabungan dari kedua metode terdahulu.
Untuk membuat penjangkaran dengan diameter besar pembuatan lubangnya perlu
menggunakan mata bor khusus atau semburan air bertekanan tinggi.

Gambar.28 – Tipe Jangkar

c). Metode Penjangkaran


Beberapa metode penjangkaran yang dipakai dapat dijelaskan berikut ini :

1. Metode penjangkaran dengan grouting : Setelah suatu batang PC baja atau kabel
baja terpasang sebagai batang tarik di dalam lubang hasil pemboran, dilaksanakan
grouting dan batang tarik ini dijangkar. Untuk menghindari mengalir keluarnya
adukan semen dari lubang waktu sedang digrouting, perlu dipasang alat khusus
didalam lubang tersebut yaitu ” packer” untuk menahan tekanan tinggi. Cara ini
dimaksudkan untuk mengeraskan dinding lubang secukupnya, yang agak urai karena
adanya grouting dengan suatu kekuatan leleh yang besar.
2. Metode penjangkaran dengan lubang bertekanan (jangkar PS) : Adalah metode
dimana suatu tabung yang dapat mengembang dimasukkan ke dalam lubang hasil
pemboran dan adukan mengisi bagian luar dari dinding tabung dan kemudian air
bertekanan dimasukkan kedalam tabung tersebut agar mengembang, sehingga
bagian luar tabung tertekan dan dapat menjadi keras. Setelah mengeras tabung
tersebut dikeluarkan dan batang tarik dimasukkan mengganti tempat tabung tadi
dan diberi tambahan adukan.

Gambar 29 – Metode Jangkar Tabung Tekan

3. Metode penjangkaran dengan penekanan (jangkar baji): Suatu batang PC baja


dimasukkan kelubangnya dan adukan diisikan ke dalam dasar lubang, lalu beton
bertulang yang berlubang ditengahnya sebagai inti dari jangkar ini dengan batang
baja tadi sebagai pengarahnya dipukul masuk ke dalam adukkannya menyebabkan
adukan ini memperbesar dinding lubangnya, sehingga tahanan cabut dari jangkar
tersebut diperbesar.

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 10/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II

Gambar 30 – Metode Jangkar Dengan Inti Yang Dipancang

4. Metode penjangkaran plat : Metode ini disebut metode penjangkaran mekanis,


terdiri dari batang baja dan bagian jangkar yang terbuat dari plat baja dan
dimasukkan kedalam tanah dengan dipukul. Setelah dimasukkan batang-batang baja
itu ditarik sehingga plat tadi berputar dan menjadi plat penahan. Dalam metode
penjangkaran mekanis ini ada juga suatu jenis yang jangkarnya dimasukkan kedalam
lubang bor, sebagai tambahan dari jenis jangkar yang dipukul seperti metode jangkar
dengan plat tadi. Jenis jangkar yang dipukul biasanya dipergunakan untuk beban
rencana yang agak kecil dimana gaya tarik kurang dari 20 ton. Hal ini ditandai dari
cara pelaksanaannya yang mudah dan prinsipnya sederhana.

Gambar 31 – Metode Pelat Jangkar

5. Metode jangkar UAC : Metode ini adalah dengan pembesaran lubang. Telah
dikembangkan di Inggris dan banyak digunakan disana. Caranya berdasarkan bahwa
setelah dibor sampai kedalaman yang diperlukan, suatu mata bor khusus dipakai
untuk memperbesar bagian dasar lubang yang mengakibatkan meningkatnya tahanan
cabut jangkar tersebut. Metode pelaksanaannya setelah dasar lubang dibesarkan
adalah seperti metode jangkar gabungan.

Gambar32 - Metode Jangkar UAC

d). Metode Penjangkaran Prategang Pratekan dengan Grouting


1. Umum
Metode penjangkaran pratekan prategang dengan grouting (prestressed grouted
ground anchor) adalah komponen konstruksi yang ditanam pada tanah atau batu
(rock) yang digunakan untuk menyalurkan gaya ke bumi. Grouting diisi ke lubang
hasil pengeboran.
Penjangkaran dengan grouting terdiri dari 3 (tiga) bagian penting yaitu :

a. Anchorageb. Free stressing (unbonded) length


c. Bond length

seperti terlihat pada gambar dibawah ini :

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 11/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II

Gambar33 - Metode Jangkar UAC

Anchorage merupakan kombinasi dari anchor head, bearing plate dan trumpet yang
mempunyai kapasitas mentransfer gaya prategang dari baja prategang (bar atau
strand) ke bumi atau konstruksi pendukung.
Unbonded length adalah bagian baja prategang yang bebas untuk mengalami
perpanjangan atau pemuluran secara elastis (elongate elastically) dan mentransfer
gaya perlawanan dari “bond length” ke struktur. Sebuah bondbreaker dari plastik
ditempatkan pada tendon di bagian unbonded length untuk mencegah baja
prategang tersebut dari pengikatan akibat rembesan grouting. Hal tersebut
memungkinkan baja prategang pada unbonded length untuk mengalami
perpanjangan tanpa hambatan saat testing dan stressing dan tetap dalam keadaan
unbonded setelah lock-off.
Tendon bond length adalah panjang baja prategang yang diikat oleh grouting dan
mempunyai kemampuan mentransfer tegangan yang terjadi akibat beban yang
bekerja ke bumi.
Untuk selanjutnya istilah Tendon berarti termasuk baja prategang (strand atau bar),
perlindungan terhadap karat, sheaths (sheatings), centralizer, spacer dan dalam hal
ini tidak termasuk anchorage dan grouting.
Sheats adalah lapisan pembungkus bergelombang yang melindungi baja prategang
dari karat pada unbonded length. Posisi tendon harus ditengah pada lubang bor agar
minimum grouting yang menutupinya tercapai.
Spacer digunakan untuk menyekat antar baja prategang atau bar agar masing-masing
terikat dengan cukup terhadap anchor grout.

2. Grouting
Grouting untuk soil dan rock adalah jenis grouting murni atau tanpa agregat dan
mengacu pada ASTM C150, dengan water cement ratio antara 0,4 – 0,55 terhadap
berat dan semen yang dipakai type I dan semen grouting harus mencapai kekuatan
21 Mpa pada saat akan stressing serta dapat pula memakai additive untuk mengatasi
masalah panas yang timbul dan jauhnya jarak pompa saat dilakukan penekanan
grouting. Grouting ini adalah suatu campuran portland cement yang menyalurkan
gaya dari tendon ke bumi dan juga memberikan perlindungan terhadap karat.

3. Material TendonSpesifikasi steel bar dan strand tendons mengacu pada ASTM
A722 dan ASTM A416 sedangkan strand yang digunakan seven wire diameter 15,2 mm
(0,6 in) grade 270, sedangkan bar tendon umumnya diameter 26 mm, 32 mm, 36
mm, 45 mm dan 64 mm dengan panjang tanpa sambungan ± 18 m. Desain angker
dengan beban ± 2077 kN dapat digunakan bar tendon dengan diameter 64 mm single.
Apabila digunakan sambungan maka harus diperhatikan perlindungan karatnya.

4. Spacers and CentralizersUnit spacer/centralizers ditempatkan secara teratur


dengan interval biasanya 3 m sepanjang daerah anchor bond. Untuk strand tendon,
spacer biasanya dipasang untuk memberikan jarak/spasi antar strand minimum 6 –
13 mm dan terhadap bagian terluar grouting minimum 13 mm. Spacer dan
Centralizer dibuat dari bahan anti karat dan mudah untuk mengalirkan bahan
grouting.
5. KEPALA DAN PILAR JEMBATAN

5.1. UMUM
Kepala jembatan, umumnya dari jenis dinding dan balok beton, diperlukan sebagai
landasan jembatan dan menahan timbunan dibelakang kepala jembatan. Jika kepala
jembatan spill-through, kepala jembatan bertindak sebagai cap dan dudukan bagi
landasan.
Kepala jembatan dengan tipe gaya berat (gravity), yang menggunakan pasangan
batu serta dudukan dan dinding belakang beton juga sering digunakan.
Pilar-pilar dapat berupa susunan rangka pendukung (trestle), yaitu topi beton yang
bertindak sebagai balok melintang (cross beam) dengan kepala tiang tertanam pada
topi, atau susunan kolom, yang menggunakan sistem beton kopel (pile cap) yang
terpisah, sistem kolom dan balok melintang terpisah.

Pada umumnya di Indonesia dipakai susunan rangka pendukung untuk pondasi tiang.
Pada susunan tersebut tiang diteruskan langsung pada balok melintang ujung (cross
head) pilar. Kelebihan utama dari susunan ini adalah biaya, kemudahan pelaksanaan
dan kurangnya kemungkinan penggerusan sungai. Kekurangan utama susunan ini
adalah penampilannya yang kurang menarik terutama pada waktu muka air rendah.
Tambah lagi, pile cap sering ditempatkan sangat tinggi diatas muka air.
Jika pondasi sumuran digunakan untuk pilar, sistem topi beton, kolom dan balok
melintang ujung dipakai. Sistem kolom dapat berupa kolom tunggal atau majemuk
atau dapat berupa dinding penuh. Kepala jembatan dengan pondasi sumuran
biasanya menempatkan bangunan kepala jembatan langsung pada pondasi sumuran.
Sistem ini kadang-kadang dipakai juga untuk pondasi tiang.
Kepala Jembatan dan Pilar menyalurkan gaya – gaya vertikal dan horisontal dari

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 12/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
bangunan atas pada pondasi. Bentuk umum digambarkan pada Gambar B.2.1 berikut
ini. Beda dengan abutmen yang jumlahnya 2 buah dalam satu jembatan, maka pilar
ini belum tentu ada dalam suatu jembatan.

Gambar 34- Jenis Pilar Tipikal

Pilar jembatan pada umumnya terkena pengaruh aliran sungai sehingga harus
diperhatikan segi kekuatannya dan segi keamanan.

Gambar ……... menunjukkan bentuk – bentuk lain dari pilar yang karena
pertimbangan – pertimbangan pelaksanaan (misalnya pilar normal yang cukup tinggi,
sehingga sulit untuk melaksanakan kistdam), bila poer dibuat di atas tinggi normal.
Juga hal yang perlu diperhatikan tekanan barang – barang hanyutan pada permukaan
air.

Gambar 35 – Bentuk Lain Pilar

Kepala Jembatan (Abutmen) dan pilar – pilar dilengkapi dengan blok landasan beton
dan baut – baut dan sebagainya, untuk memasang rangka baja dan perletakan –
perletakan gelagar beton pracetak – pratekan.

5..2. TOLERANSI
Kepala Jembatan dan pilar harus dilaksanakan sesuai dengan gambar dan spesifikasi
umum yang diterbitkan secara terpisah, dan harus dikerjakan sesuai dengan denah
dan elevasi (permukaan atas) yang ditujukkan pada Gambar Rencana dalam toleransi
sebagai berikut:

a. Denah
1. abutmen atau pilar (diukur dari garis perletakan) 2.0 cm
2. Baut angker bila telah digrouting 0.5 cm

b. Posisi akhir pusat ke pusat perletakan


1. Panjang bentang 1.0 cm
2. Jarak melintang dari perletakan – perletakan 0.5 cm
pada tiap abutmet atau pilar

c. Elevasi Permukaan
1. Permukaan abutment atau pilar + 2.0 cm
2. Permukaan atas balok landasan balok + 0.5 cm

d. Penahan Horisontal
Titik pusat perletakan sampai ke permukaan dinding 0 + 0.5 cm

e. Perletakan
1. Elevasi / Permukaan + 0.5 cm
2. Lokasi 2.0 cm
Ukuran – ukuran yang ditunjukkan pada gambar didasarkan pada asumsi adanya 5 cm

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 13/14
3/22/2019 Nawar Syarif: PELAKSANAAN JEMBATAN BANGUNAN BAWAH JEMBATAN-II
aspal beton yang akan digelar di atas lantai beton dan jika lapisan aspal beton ini
dihilangkan, ukuran – ukuran yang ada harus disesuaikan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan, Direktorat Jenderal Bina Marga
Departemen Pekerjaan Umum, Desember 2005;
2. Panduan Pengawasan Pelaksanaan Jembatan Bridge Management System,
Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, Tahun 1993;
3. Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi, Kazuto Nakazawa dkk, PT Pradnya Paramita,
Th 2000;
4. Foundation Design and Construction, MJ Tomlinson, Fourth Edition, the Pitman
Press London, 1983;
5. Principles of Foundation Engineering, Braja M.Das, PWS Publishing Company
Boston, Second Edition, 1990;
6. Bahan Publikasi, PC Pile, PT. Wijaya Karya Beton;
7. Ground Anchors and Anchored Systems, Geotechnical Engineering Circular No.4,
Publication FHWA, June 1999;
8. Load Cell Test Pada Pondasi Bored Pile Jembatan Suramadu, SKS Pembinaan
Teknik Pembangunan Jembatan Suramadu Core Team-Manajemen Konstruksi Tahap II;
9. Test Daya Dukung Tiang Pancang Dengan Metode Beban Dinamis (DLT), Pile
Foundation Diagnostic Services;
10. Modul Pelatihan Supervisi Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan, Pembinaan
Manajemen Kebinamargaan , Direktorat Jenderal Bina Marga, May 2006;
11. Modul Pelaksanaan Konstruksi Jembatan, Jafung Teknik Jalan dan Jembatan
Pusat Pendidikan dan Latihan Departemen Pekerjaan Umum, Tahun 2006.

Posted by Nawar Syarif at 5/19/2012 08:00:00 am


Reactions:  Dont Like (0) Like (0) Keren (0)

Labels: Jembatan, Struktur

No comments:

Post a Comment

Enter your comment...

Comment as: indra sukman Sign out

Publish Preview Notify me

Links to this next


Create a Link

Newer Post Home Older Post

Subscribe to: Post Comments (Atom)

Simple theme. Powered by Blogger.

https://nawarsyarif.blogspot.com/2012/05/pelaksanaan-jembatan-bangunan-bawah_19.html 14/14