Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan manusia terhadap energi listrik akan terus meningkat. Hal ini
dikarenakan jumlah populasi manusia yang bertambah dan makin beragamnya
peralatan yang menggunakan listrik, baik untuk penerangan, alat bantu kerja,
hingga hiburan.
Indonesia hingga saat ini masih mengandalkan bahan bakar fosil sebagai
sumber pembangkit energi listrik (Sahid, 2012). Padahal bahan bakar fosil adalah
sumber energi yang tak terbarukan, selain itu pembakaran adalah sumber polusi
dan penyebab pemanasan global. Sedang di negara-negara maju, sumber energi
terbarukan yang ramah lingkungan sudah menggeser penggunaan bahan bakar
fosil.
Salah satu sumber energi listrik yang terbarukan dan ramah ligkungan
adalah tenaga air. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) maupun Pembangkit Listrik Tenaga
Mikro Hidro (PLTMH), karena kondisi topografi Indonesia yang bergunung dan
berbukit serta dialiri oleh banyak sungai. PLTMH lebih mudah dibangun daripada
PLTA, dengan PLTMH pada daerah dekat aliran sungai akan dapat mengurangi
ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, menghemat biaya untuk listrik, atau
menciptakan daerah yang mandiri energi (Hari, 2011).
PLTMH menggunakan turbin air sebagai alat untuk mengubah energi
aliran air menjadi energi putaran poros. Ada berbagai jenis turbin air, yang paling
mudah diaplikasikan secara langsung adalah jenis crossflow poros vertikal.
Karena jenis turbin ini bisa langsung berputar jika dicelupkan ke dalam aliran air
tanpa harus membuat bendungan (Achmad, 2014). Hal ini akan mendukung
penggunaan untuk daerah terpencil, karena tidak memerlukan pembangunan
dengan banyak bahan material berbiaya mahal (Adia, 2013).
Akan tetapi turbin crossflow memiliki efisiensi yang tergolong rendah
(Sahid, 2012). Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi turbin adalah dengan
pemasangan bertingkat. Saat ini pemasangan turbin secara bertingkat masih
sebatas pada turbin uap. Selain itu jumlah sudu pada turbin juga mempengaruhi
efisiensi turbin.

1.2 Tujuan
1. Untuk memahami komponen penyusun turbin cross-flow
2. Untuk memahami cara kerja turbin cross-flow
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Turbin Crossflow


Pada tahun 1920 Michell dan Banki mengembangkan turbin yang cocok
untuk tinggi air yang rendah, dikenal sebagai turbin aliran silang atau Crossflow.
Salah satu keistimewaan turbin aliran silang adalah dapat berputar meski hanya
didorong tekanan jatuh 1 m dengan kapasitas aliran antara 0,02 m3/dt sampai
dengan 7 m3/dt (Dietzel,1995).
Di Indonesia turbin crossflow biasa digunakan sebagai penggerak mula
pada Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) (Sahid, 2012). Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Yesung, et al (2014), menyatakan bahwa
pemanfaatan turbin crossflow sangat cocok untuk potensi energi air yang tersedia
di alam sekitar yang didominasi aliran sungai. Mengingat turbin impuls jenis
crossflow memiliki karakteristik yang cocok untuk range head rendah hingga
medium.
Prinsip kerja dari turbin aliran silang poros vertikal yaitu air sungai
dialirkan melalui sudu pengarah yang berfungsi untuk mengarahkan aliran air agar
tepat menumbuk sudu jalan turbin. Tumbukan air ini akan membuat turbin
berputar menghasilkan energi mekanik pada poros (Sahid, 2012). Karena sudu
terletak menyilang terhadap aliran, sehingga akan menerima energi kinetik aliran
untuk diubah menjadi kecepatan putar tanpa membutuhkan tekanan yang besar.
2.2 Kinerja Turbin Crossflow
Turbin air yang diteliti adalah peralatan mekanis berbentuk roda dengan
sudu mangkok dengan poros vertikal. Turbin air ini memanfaatkan selisih
ketinggian alamiah dari permukaan sungai kecil atau kecepatan aliran. Air yang
masuk ke dalam turbin memiliki tekanan yang rendah, energi mekanis yang
dihasilkan utamanya berasal dari energi kinetik aliran air. Kinerja dari turbin air
ini tergantung :
1. Daya yang dihasilkan turbin
2. Efesiensi
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


1. Turbin Crossflow
2. Perlengkapan obeng dan kunci
3. Penggaris
4. Jangka sorong

3.2 Prosedur Percobaan


1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengamati bentuk fisik turbin
3. Mengamati cara kerja turbin
4. Membongkar turbin dan mengamati setiap komponennya
5. Mengukur panjang dan diameter setiap komponen
6. Memasang kembali turbin seperti kondisi semula
BAB IV

PEMBAHASAN

1. Turbin crossflow

Turbin sebagai tulang punggung dari minihydro berfungsi untuk


mengkonversikan energi potensial air menjadi energi mekanik.Turbin tipe ini
dibuat pertama kali di Eropa.Nama cross-flow diambil dari kenyataan bahwa air
melintasi kedua sudu gerak atau runner dalam menghasilkan putaran
(rotasi).Turbin cross-flow ini mempunyai arah aliran yang radial atau tegak lurus
dengan sumbu turbin.Turbin ini mempunyai alat pengarah sehingga dengan
demikian celah bebas dengan sudu-sudu di sekeliling roda hanya sedikit.Karena
itu pada keadaan beban penuh perputarannya roda terjadi sedikit
kemacetankemacetan, yang menimbulkan sedikit tekanan lebih.Turbin cross-flow
terdiri dari tiga bagianutama yaitu roda jalan, alat pengarah dan rumah
turbin.Dalam aplikasinya turbin cross-flow baik sekali digunakan untuk pusat
tenaga air yang kecil dengan daya kurang lebih 750 kW. Tinggi air jatuh yang
bisa digunakan diatas 1 m sampai 200 m dan kapasitas antara 0,02 m3 /s sampai 7
m 3 /s (Dietzel, F., 1993). Komponen – komponen utama konstruksi turbin cross-
flow adalah sebagai berikut : Rumah Turbin, Alat Pengarah (distributor), Roda
Jalan, Penutup, Katup Udara, Pipa Hisap, Bagian Peralihan. Material untuk body
turbine = constructional steel Mild Steel SS-41 or equivalent Material runner =
Mild Steel SS-41 or equivalent Material guide vane = Mild Steel SS-41 or
equivalent Material bearing housing = fero casting ductile FCD-50 Mekanisme
operasional guide vane : manual digerakkan dengan steer wheel Runner bearing :
Spherical roller bearing FAG 22218 EK, adapter sleeves SKF H 318 Koneksi
turbin ke penstock – valve : menggunakan adaptor-dismantling joint DN = 24”
type sliding dengan graphite seal.
Pada adaptor dilengkapi dengan pressure gauge (manometer) ukuran 3 – 4
bar atau 3 – 4 kg/cm2 sebagai indikator tekanan air.

2. Corong turbin

Diameter 6,2 cm.

Penggunaan corong turbin dalam perancangan mikrohidro selain untuk


mengarahkan debit air menuju turbin,juga untuk menjaga besarnya debit air yang
mengalir. Ada beberapa besaran yang harus dicari untuk memastikan agar pipa
pesat dapat bekerja secara optimal.

Berfungsi untuk:

1. Untuk mengalirkan dan mengarahkan air ke turbin.


2. Untuk mendapatkan tekanan hidrolistika yang sebesar-besarnya.
Secara mekanis berfungsi sebagai pengubah tenaga kinetis dari
hidrostatik pada reservoir (penmapung) menjadi tenaga potensial.
3. Body penutup turbin

Diameter penutup = 6,23 cm Diameter pulley = 4,6 cm


Turbine Casing atau Penutup Turbin merupakan kmponen dari turbin yang
berfungsi sebagai penutup dari komponen-komponen turbin lainnya seperti runner
atau disebut juga rotor. Ini merupakan bagian dari turbi yang paling utama karena
bagian inilah yang akan merubah aliran air menjadi gerakan putar dari turbin yang
kemudian putaran tersebut dihubungkan ke generator. Selain itu fungsi dari
turbine casing adalah sebagai tempat menempelnya, dudukan dari komponen-
komponen turbin, seperti poros dari runner, bearing maupun dudukan regulator.

4. AS + Bearing turbin

Diameter luar = 3,3 cm


Diameter dalam = 1,2 cm
Tebal = 0,82 cm
Bantalan berfunsi sebagai penyangga rotor sehingga membuat rotor dapat
stabil/lurus pada posisinya di dalam casing dan rotor dapat berputar dengan
bebas.Adanya bantalan yang menyangga turbin selain bermanfaat untuk mnjaga
rotor turbin tetap pada posisinya juga menimbulkan kerugian mekanik karena
gesekan.Sebagai bagian yang berputar, rotor memiliki kecenderungan bergerak
baik dalam arah radial maupun dalam arah aksial.Karena itu rotor harus ditumpu
secara baik agar tidak terjadi pergeseran radial maupun aksial yang berlebihan.

5. Body rangka turbin

Tinggi blade = 3,2 cm Panjang = 7,67 cm


D blade = 6 cm Lebar = 4,24 cm
D poros = 1,23 cm
Tinggi poros = 14,3 cm
BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa, komponen dari turbin
cross flow yaitu turbin, corong turbin, body penutup turbin, AS + Bearing turbin,
Body rangka turbin. Selain itu kita dapat mengetahui prinsip kerja dari turbin
crossflow yaitu air sungai dialirkan melalui sudu pengarah yang berfungsi untuk
mengarahkan aliran air agar tepat menumbuk sudu jalan turbin.
DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.polban.ac.id/files/disk1/97/jbptppolban-gdl-dwisunumuk-4826-1-
daftar--2.pdf