Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh bagian
tubuh, memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai macam
gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui
sejumlah mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus
menerus, respirasi dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan keringat
serta pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar
ultra violet matahari(1).
Kulit yang tidak sehat dapat menyebabkan timbulnya penyakit tertentu,
diantaranya adalah psoriasis vulgaris, eksem, piodermia dan dermatomikosis
atau penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur(2). Salah satu penyakit kulit
yang disebabkan oleh infeksi jamur adalah Pityriasis versicolor atau yang
dikenal dengan penyakit kulit panu.
Pityriasis versicolor merupakan penyakit yang banyak ditemukan di seluruh
dunia (kosmopolit) terutama di daerah tropis yang beriklim panas dan lembab.
Disebabkan oleh Malassezia furfur, yaitu jamur yang bersifat lifopilik dimorfik
dan merupakan flora normal pada kulit manusia, ditandai dengan bercak lesi
yang bervariasi mulai dari hipopigmentasi, kemerahan sampai kecoklatan atau
hiperpigmentasi. Penyakit ini di Indonesia frekuensinya masih tinggi dapat
menyerang semua ras serta tidak ada perbedaan frekuensi pada laki-laki
maupun perempuan. Menyerang semua umur terutama dewasa muda,
sedangkan umur < 1 tahun sangat jarang ditemukan Malassezia furfur, hal ini
disebabkan karena pada anak-anak produksi sebumnya masin rendah.
Penularan panu terjadi bila ada kontak dengan jamur penyebab oleh karena itu
kebersihan pribadi sangat penting(3).
Pengobatan Pityriasis versicolor salah satunya dengan sediaan topikal krim
antijamur mikonazol dan ketokonazol, selain itu juga kombinasi antara asam
salisilat dan asam benzoat juga dapat digunakan. Terapi topikal didefinisikan

1
sebagai aplikasi obat dengan formulasi tertentu pada kulit yang bertujuan
mengobati penyakit kulit atau penyakit sistemik yang bermanifestasi pada kulit.
Metode pengobatan topikal telah lama digunakan pada berbagai kebudayaan
kuno di dunia. Bangsa Mesir kuno menggunakan sejenis rumput papyrus yang
dicampur dengan berbagai minyak binatang dalam pengobatan alopesia.
Sementara bangsa Indian kuno menggunakan senyawa arsen dalam pengobatan
kusta. Campuran merkuri dan sulfur juga mereka gunakan dalam pengobatan
pedikulosis, sedangkan pasta yang mengandung besi sulfat, empedu, tembaga
sulfat, sulfur, arsen, dan antimoni digunakan dalam pengobatan pruritus.
Terapi topikal merupakan metode yang nyaman, namun keberhasilannya
bergantung pada pemahaman kita mengenai fungsi sawar kulit. Keuntungan
utamanya adalah dapat memintas jalur metabolisme obat pertama (first-pass
metabolism) di hati. Terapi topikal juga dapat menghindari risiko dan
ketidaknyamanan seperti pada terapi yang diberikan secara intravena, serta
berbagai hal yang mempengaruhi penyerapan obat pada terapi peroral, misalnya
perubahan pH, aktivitas enzim, dan pengosongan lambung. Keuntungan lain,
yaitu karena penyerapan sistemik pada terapi topikal dapat diabaikan maka efek
samping maupun interaksi obat pada terapi topikal jarang terjadi. Meskipun
demikian, pengobatan topikal juga memiliki berbagai kelemahan misalnya
dapat menimbulkan iritasi dan alergi (dermatitis kontak), permeabilitas
beberapa obat melalui kulit yang relatif rendah, sehingga tidak semua obat dapat
diberikan secara topikal, dan terjadinya denaturasi obat oleh enzim pada kulit(4).
Absorpsi perkutan pada sediaan topikal merupakan gabungan fenomena
penembusan suatu senyawa dari lingkungan luar ke bagian kulit dalam dan
fenomena penyerapan dari struktur kulit ke dalam peredaran darah getah
bening. Fenomena absorpsi perkutan (permeasi pada kulit) dapat digambarkan
dalam tiga tahap yaitu penetrasi pada permukaan stratum korneum, difusi
melalui stratum korneum, epidermis dan dermis, masuknya molekul ke dalam
sirkulasi sistemik(5).
B. Identifikasi Masalah

2
Berdasarkan latar belakang di atas maka diidentifikasikan masalah sebagai
berikut :
1. Apa saja penyakit yang dapat timbul pada kulit ?
2. Apa yang dimaksud dengan Pityriasis versicolor dan bagaimana cara
pencegahan dan pengobatannya ?
3. Apa yang dimaksud dengan terapi topikal dan keuntungannya?
4. Bagaimana absorbsi sediaan topikal pada kulit ?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa saja penyakit yang dapat timbul pada kulit.
2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Pityriasis versicolor dan cara
pengobatannya.
3. Mengetahui apa yang dimaksud dengan terapi topikal dan keuntungannya.
4. Mengetahui absorbsi sediaan topikal pada kulit.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kulit(1)
1. Struktur Kulit
Struktur kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu : kulit ari (epidermis), sebagai
lapisan yang paling luar, kulit jangat (dermis, korium atau kutis) dan
jaringan penyambung di bawah kulit (tela subkutanea,hipodermis atau
subkutis).
a. Kulit ari (epidermis)
Epidermis merupakan bagian kulit paling luar. Ketebalan epidermis
berbeda-beda pada berbagai bagian tubuh, yang paling tebal berukuran
1 milimeter misalnya pada telapak tangan dan telapak kaki, dan yang
paling tipis berukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak mata, pipi,
dahi dan perut. Sel-sel epidermis disebut keratinosit. Epidermis melekat
erat pada dermis karena secara fungsional epidermis memperoleh zat-
zat makanan dan cairan antar sel dari plasma yang merembes melalui
dinding-dinding kapiler dermis ke dalam epidermis. Pada epidermis
dibedakan atas lima lapisan kulit, yaitu :
1) Lapisan tanduk (stratum corneum)
Merupakan lapisan epidermis yang paling atas, dan menutupi
semua lapisan epiderma lebih ke dalam. Lapisan tanduk terdiri atas
beberapa lapis sel pipih, tidak memiliki inti, tidak mengalami proses
metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit mengandung air.
2) Lapisan bening (stratum lucidum) disebut juga lapisan barrier
Terletak tepat di bawah lapisan tanduk, dan dianggap sebagai
penyambung lapisan tanduk dengan lapisan berbutir (stratum

4
granulosum). Lapisan bening terdiri dari protoplasma sel-sel jernih
yang kecil-kecil, tipis dan bersifat translusen sehingga dapat
dilewati sinar (tembus cahaya).
3) Lapisan berbutir (stratum granulosum)
Tersusun oleh sel-sel keratinosit berbentuk kumparan yang
mengandung butir-butir di dalam protoplasmanya, berbutir kasa dan
berinti mengkerut. Lapisan ini tampak paling jelas pada kulit telapak
tangan dan telapak kaki.
4) Lapisan bertaju (stratum spinosum) disebut juga lapisan malphigi
Terdiri atas sel-sel yang saling berhubungan dengan perantaraan
jembatan-jembatan protoplasma berbentuk kubus. Jika sel-sel
lapisan saling berlepasan, maka seakan-akan selnya bertaju. Setiap
sel berisi filamen-filamen kecil yang terdiri atas serabut protein. Sel-
sel pada lapisan taju normal, tersusun menjadi beberapa baris.
5) Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
Merupakan lapisan terbawah epidermis, dibentuk oleh satu baris
sel torak (silinder) dengan kedudukan tegak lurus terhadap
permukaan dermis. Alas sel-sel torak ini bergerigi dan bersatu
dengan lamina basalis di bawahnya. Lamina basalis yaitu struktur
halus yang membatasi epidermis dengan dermis. Pengaruh lamina
basalis cukup besar terhadap pengaturan metabolisme demo-
epidermal dan fungsi-fungsi vital kulit. Di dalam lapisan ini sel-sel
epidermis bertambah banyak melalui mitosis dan sel-sel tadi
bergeser ke lapisan-lapisan lebih atas, akhirnya menjadi sel tanduk.
Di dalam lapisan benih terdapat pula sel-sel bening (clear cells,
melanoblas atau melanosit) pembuat pigmen melanin kulit.

b. Kulit jangat (dermis)


Dermis menjadi tempat ujung saraf perasa, tempat keberadaan
kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar palit atau kelenjar

5
minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah bening, dan otot penegak
rambut (muskulus arektor pili).
Keberadaan ujung-ujung saraf perasa dalam dermis, memungkinkan
membedakan berbagai rangsangan dari luar. Masing-masing saraf
perasa memiliki fungsi tertentu, seperti saraf dengan fungsi mendeteksi
rasa sakit, sentuhan, tekanan, panas, dan dingin.
Di dalam lapisan dermis terdapat dua macam kelenjar yaitu kelenjar
keringat dan kelenjar minyak.
1) Kelenjar keringat,
Kelenjar keringat terdiri dari fundus (bagian yang melingkar)
dan duet yaitu saluran semacam pipa yang bermuara pada
permukaan kulit membentuk pori-pori keringat. Semua bagian tubuh
dilengkapi dengan kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat di
permukaan telapak tangan, telapak kaki, kening dan di bawah ketiak.
Kelenjar keringat mengatur suhu badan dan membantu membuang
sisa-sisa pencernaan dari tubuh. Kegiatannya terutama dirangsang
oleh panas, latihan jasmani, emosi dan obat-obat tertentu. Ada dua
jenis kelenjar keringat yaitu kelenjar keringat ekrin dan kelenjar
keringat apokrin.
2) Kelenjar lemak
Kelenjar lemak terletak pada bagian atas dermis berdekatan
dengan kandung rambut terdiri dari gelembung-gelembung kecil
yang bermuara ke dalam kandung rambut (folikel). Folikel rambut
mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit dan menjaga kelunakan
rambut. Kelenjar lemak membentuk sebum atau urap kulit.
Terkecuali pada telapak tangan dan telapak kaki, kelenjar lemak
terdapat di semua bagian tubuh terutama pada bagian muka.

c. Jaringan penyambung (jaringan ikat) bawah kulit (hipodermis)


Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah
dan limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit.

6
Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju
lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan
atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian dalam,
membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan.

2. Fungsi Kulit
Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut :
a. Pelindung atau proteksi
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi
jaringan-jaringan tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari
pengaruh-pengaruh luar seperti luka dan serangan kuman. Lapisan
paling luar dari kulit ari diselubungi dengan lapisan tipis lemak, yang
menjadikan kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh, menahan
luka-luka kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh
serta menghalau rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari
matahari.
b. Penerima rangsang
Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang
berhubungan dengan sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan, dan
getaran. Kulit sebagai alat perasa dirasakan melalui ujung-ujung saraf
sensasi.
c. Pengatur panas atau thermoregulasi
Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh
kapiler serta melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom.
Tubuh yang sehat memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 F atau sekitar
36,50C. Ketika terjadi perubahan pada suhu luar, darah dan kelenjar
keringat kulit mengadakan penyesuaian seperlunya dalam fungsinya
masing-masing. Pengatur panas adalah salah satu fungsi kulit sebagai
organ antara tubuh dan lingkungan. Panas akan hilang dengan
penguapan keringat.

7
d. Pengeluaran (ekskresi)
Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar-
kelenjar keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan
membawa garam, yodium dan zat kimia lainnya. Air yang dikeluarkan
melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat tetapi juga melalui
penguapan air transepidermis sebagai pembentukan keringat yang tidak
disadari.
e. Penyimpanan.
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak.
f. Penyerapan terbatas
Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut
dalam lemak dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat pada
krim muka dapat masuk melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit
pada tingkatan yang sangat tipis. Penyerapan terjadi melalui muara
kandung rambut dan masuk ke dalam saluran kelenjar palit, merembes
melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah kemudian ke
berbagai organ tubuh lainnya.

B. Perubahan Patologik Pada Kulit dan Jenis-jenis Penyakit Kulit(2)


1. Perubahan Patologik pada Kulit
Untuk mendiagnosis suatu penyakit kulit dan untuk melakukan
penanganan terapeutik, maka harus dapat dikenali perubahan pada kulit
yang dapat diamati secara klinis yauitu efloresen primer dan sekunder.
a. Efloressen primer, terdiri dari :
1) Bercak merupakan perubahan warna pada kulit, misalnya oleh
adanya dilatasi pembuluh (eritema) masuknya darah kedalam
jaringan, perubahan pigmen dalam lapisan basal atau depigmentasi
(vitiligo).
2) Urica adalah bentol-bentol pada kulit yang berwarna merah muda
sampai putih dan disebabkan oleh udem. Gejala penyakit urtikaria
yaitu bentol-bentol yang banyak dan gatal.

8
3) Papula terjadi karena penebalan epidermis secara lokal dan atau
adanya perbanyakan sel dalam korium
4) Tuber mirip dengan palpula, hanya berbeda sedikit dalam ukuran,
tuber agak lebih besar sedikit.
5) Vesicula merupakan rongga beruang satu atau banyak yang berisi
cairan dan besarnya sebesar kepala jarum pentul, terdapat pada
jaringan subepitel atau intraepitel.
6) Bulla mirip dengan vesicular hanya agak besar dan biasanya
beruang satu.
7) Pastula merupakan vesicular yang berisi nanah, biasanya ada pada
kulit yang berubah karena peradangan atau ada pada peradangan
atau pada folikel rambut.
b. Efloresen sekunder, terdiri dari :
1) Ketombe terdiri dari pecahan-pecahan stratum corneum. Ini terjadi
pada berbagai penyakit kulit, yang pembentukan keratinnya lebih
banyak atau ada perubahan pembentukan keratin secara patologis,
misalnya pada psoriasis.
2) Crusta terbentuk akibat mengeringnya eksudat, nanah, darah atau
obat. Biasanya di bawahnya terdapat kulit yang berubah misalnya
erosion atau ulkus.
3) Erosio merupakan cacat kulit permukaan yang ada dalam epidermis.
Penyembuhan terjadi tanpa pembentukan luka parut.
4) Ulcus disebabkan oleh hilangnya komponen kulit pada bagian yang
lebih dalam dan disamping epidermis dan korium.
5) Rhagade merupakan kerusakan kulit dalam bentuk celah. Ini terjadi
pada daerah kulit yang banyak digunakan, misalnya pada telapak
tangan, ujung bibir atau diantara jari kaki.
6) Atrofi terjadi pengecilan semua lapisan kulit, jumlah kelenjar
keringat dan kelenjar sebum berkurang, rambut tidak ada, kulit
berkerut dan mudah diangkat dari lapisan di bawahnya.

9
7) Cicatrix terjadi akibat perbaikan yang tidak sempurna sesuatu cacat
jaringan oleh jaringan ikat berserat, yang dengan bertambahnya usia
akan berkerut.

2. Jenis-jenis Penyakit Kulit


a. Psoriasis vulgaris
Psoriasis vulgaris merupakan dermatosis eritemato-skuamosa,
kemungkinan merupakan cacat bawaan multifaktorial, yang juga amat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sebagai efloresen primer biasanya
terjadi bercak merah yang ditutupi sisik-sisik putih secara berkala, yang
kemudian membesar dan bergabung, dan pada saat yang sama akan
terbentuk bercak baru ditempat lain. Jika di coba untuk menghilangkan
sisik-sisik itu akan terjadi perdarahan setempat.
b. Eksem
Bergantung pada dermatologi yang dianut, eksem dibagi atas
berbagai jenis tertentu. Yang paling sering digunakan yaitu pembagian
atas eksem kontak (vulger), eksem disregulatif mikroba (seboroik
mikroba) dan eksem endogen (atopik)
Secara histologi, eksem ditandai dengan adanya reaksi peradangan
tersebut dengan adanya udem intersel (spongiosis) dan masuknya sel
yang meradang (umumnya limfosit).
1) Eksem kontak.
Pada eksem kontak harus dibedakan eksem alergi dan non alergi.
Eksem non alergi disebabkan oleh kerusakan terus menerus akibat
rangsang yang masing-masing di bawah nilai ambang, tetapi
berlangsung untuk waktu yang lama, misalnya oleh basa encer, gips,
semen, pelarut organik.
Eksem kontak alergi merupakan alergi dari tipe lambat, yang
biasanya merusakkan selaput tanduk. Dengan demikian alergen
dapat masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan mencapai sel
imun dan menyebabkan terjadinya sensibilisasi. Bersama-sama dan

10
setelah eksem kontak terjadi eritema, papula dan vesicula, yang
dapat diikuti dengan crusta dan pembentukan squama. Jika eksem
berlangsung lama terjadi likhenifikasi, yaitu menjadi kasarnya
permukaan kulit dan meluasnya kutis.
2) Eksem disregulatif mikroba.
Pada jenis ini biasanya ditemukan eritema bersisik yang
mempunyai batas yang jelas, oval atau bundar jarang terjadi papula,
vesicula tidak pernah ada. Lokalisasi yang sering adalah kepala
berambut, daerah berambut di dada, tempat yang berkeringat
dipunggung , ketiak dan lipat paha. Disebabkan oleh bakteri
penyebab eksem (streptococus, stafilococus, enterococus,
pseudomonas) dan faktor patogenetik lainnya
3) Eksem endogen
Eksem endogen berbeda dengan eksem kontak kondisional,
merupakan eksem konstitusional, artinya penyakit kulit dipastikan
secara genotip. Eksem ini biasanya dimulai dengan eksem endogen
pada muka bayi : eksem susu, pada fase kedua waktu pertumbuhan
menjadi eksem flexurarum (eksem pada lipat tangan dan lipat kaki)
dengan daerah yang berlikhenifikasi pada lipatan sendi besar. Dalam
fase ketiga pada usia dewasa menjadi stadium pruriginosa (eksem
prurigo). Bersama-sama atau bergantian dengan ini pasien dapat
menderita asma bronkhus atau rinopati vasomotorik. Setelah usia 5
tahun biasanya penyakit agak membaik.
Disamping gejala pada kulit, pada penderita eksem endogen di
temukan pula tanda yang khas yaitu susunan rambut seperti
memakai topi kain, kulit yang pucat, alis bagian tepi gundul dan
produksi keringat berkurang biasanya ketika musim panas agak
sembuh dan pada musim gejala pada kulit ini makin parah.
c. Piodermia.
Piodermia merupakan penyakit kulit akibat stafilococus, terutama
oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Syarat

11
terjadinya penyakit infeksi oleh kuman ini, yang beberapa orang
senantiasa ada pada mukosa nasofa rings, adalah melemahnya daya
tahan tubuh (misalnya akibat kurang gizi, sindrom defisiensi anti body
atau karena pemberian kortison) atau karena adanya luka kecil.
Berdasarkan lokalisasi dan penyebarannya dibedakan atas Piodermia
folikel dan Piodermia epidermal rata
d. Dermatomikosis.
Merupakan penyakit jamur pada kulit, dapat disebut antara lain :
1) Tinea
Termasuk disini semua penyakit jamur benang pada kulit, kuku,
dan rambut, yang terjadi dengan reaksi radang yang hebat. Ciri khas
pada tinea adalah timbulnya satu atau beberapa masa datar dengan
eritrema dengan tepi yang jelas dan bersisik. Didalam massa ini
dapat terjadi pustula yang kadang-kadang menunjukan adanya
infeksi sekunder bakteri. Yang sering terjadi yaitu tinea pedis,
penyakit jamur pada kaki. Penyebab yang paling umum adalah
Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes dan
Epidermatophyton floccosum.
Yang sama pada berbagai bentuk adalah rasa gatal yang amat
sangat dan paling banyak terjadi selama musim panas. Ini akan
ditunjang dengan digunakannya sepatu yang tak dapat dilewati uap
air serta kaos kaki dari serat sintesis. Tempat penyebaran penting
dari penyakit ini adalah tempat pemandian umum.
2) Kandidosis (soor)
Jenis candida yang termasuk kelompok ragi atau jamur
Saccharomyces menimbulkan gejala penyakit yang berbeda-beda
3) Pityriasis versicolor.
Penyakit jamur yang disebabkan oleh Malassezia furfur.
ditandai dengan bercak lesi yang bervariasi mulai dari
hipopigmentasi, kemerahan sampai kecoklatan atau
hiperpigmentasi. Kelainan ini umumnya menyerang badan dan

12
kadang- kadang terlihat di ketiak, lipat paha, tungkai atas, leher,
muka dan kulit kepala.

C. Pityriasis Versicolor atau Panu


1. Definisi
Pityriasis Versicolor adalah infeksi jamur superfisial yang sering terjadi
disebabkan oleh Malassezia furfur, yaitu jamur yang bersifat lifopilik
dimorfik dan merupakan flora normal pada kulit manusia, ditandai dengan
bercak lesi yang bervariasi mulai dari hipopigmentasi, kemerahan sampai
kecoklatan atau hiperpigmentasi. Kelainan ini umumnya menyerang badan
dan kadang- kadang terlihat di ketiak, lipat paha, tungkai atas, leher, muka
dan kulit kepala(3).
Ada yang unik dari panu, bila diderita orang yang berkulit putih, maka
bercak yang tampak adalah berwarna kemerahan. Bila diderita orang
berkulit gelap, maka bercak yang tampak adalah warna
keputihan (Pityriasis versicolor). Bila terdapat di daerah kulit yang tertutup,
maka akan tampak sebagai bercak kecoklatan atau hitam (Pityriasis
versicolor nigra). Karena terdapat beberapa warna itulah maka panu
disebut Pityriasis versicolor(6).
Di dalam berbagai literatur kedokteran ada beberapa istilah untuk
menyebut penyakit panu, seperti(6):
1) Tinea versicolor atau Tinea versikolor
2) Pityriasis versicolor atau Pitiriasis versikolor
3) Pitiriasis versikolor flava
4) Tinea flava
5) Chromophytosis atau Kromofitosis
6) Dermatomycosis furfuracea atau Dermatomikosis
7) Liver spots
8) Aeromia parasitica
9) Kleinenflechte
10) Hodi-Potsy

13
2. Penyebab Pityriasis versicolor atau Panu
Pityriasis versicolor terjadi akibat aktivasi dari Malassezia furfur akibat
adanya perubahan keseimbangan flora normal kulit. Malassezia
furfur (dahulu dikenal sebagai Pityrosporum orbiculare, Pityrosporum
ovale) merupakan jamur lipofilik yang normalnya hidup di keratin kulit dan
folikel rambut manusia saat masa pubertas dan di luar masa itu. Sebagai
organisme yang lipofilik, Malassezia furfur memerlukan lemak (lipid)
untuk pertumbuhan in vitro dan in vivo(6).
Faktor yang dapat mempengaruhi keseimbangan flora normal kulit
antara lain adalah faktor lingkungan, faktor suseptibilitas individual
(misalnya penyakit yang mempengaruhi imunitas, malnutrisi, penggunaan
obat-obatan yang menurunkan imunitas dan adanya kecenderungan
genetik), hormonal, ras, matahari, peradangan kulit dan efek primer
pytorosporum terhadap melanosit. Akibat kondisi tersebut maka Malassezia
furfur akan berkembang menjadi bentuk miselial yang bersifat patogenik.
Pertumbuhannya pada kulit (stratum korneum) berupa kelompok sel-sel
bulat, bertunas, berdinding tebal dan memiliki hifa yang berbatang pendek
dan bengkok, biasanya tidak menyebabkan tanda-tanda patologik selain
sisik halus sampai kasar. Penyakit ini terutama ditemukan pada daerah yang
menghasilkan banyak keringat, karena jamur ini hidup dan berkembang
biak dari hasil metabolisme sebum. Keluhan berupa bercak yang berwarna
coklat, bercak putih yang disertai dengan rasa gatal terutama pada waktu
berkeringat. Bercak putih tersebut disebabkan oleh asam dekarboksilase
yang dihasilkan oleh jamur yang bersifat kompetitif inhibitor terhadap
enzim tirosinase dan mempunyai efek sitotoksik terhadap melanosit yang
menghasilkan pigmen warna pada kulit(3).

14
3. Manifestasi Klinis (Gejala, Keluhan)(6)
Biasanya timbul makula dalam berbagai ukuran dan warna, dengan kata
lain terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni, berbentuk tidak teratur
sampai teratur, berbatas jelas sampai difus, ditutupi sisik halus dengan rasa
gatal (ringan), atau asimtomatik (tanpa gejala atau tanpa keluhan).
Panu dapat terjadi di mana saja di permukaan kulit manusia, seperti:
tubuh bagian atas, lengan atas, leher, kulit kepala yang berambut,
muka/wajah, punggung, dada, perut (abdomen), ketiak (axillae), tungkai
atas, lipat paha, paha, alat kelamin (genitalia), dan bagian tubuh yang tak
tertutup pakaian.

4. Bentuk-bentuk Pityriasis Versicolor atau Panu(6)


Ada berbagai bentuk panu, yaitu :
a. Bentuk 1
Merupakan gambaran paling umum pada panu, yaitu banyak
(numerous), berbatas jelas (well-marginated), bersisik
“kecil/sempurna” (finely scaly), makula oval-bulat menyebar di tubuh
dan/atau di dada, dan sesekali ada juga di bagian bawah perut, leher, dan
ekstremitas (anggota gerak) bagian proximal(dekat sumbu tubuh).
Makula-makula cenderung bergabung/menyatu, membentuk
perubahan pigmen (pigmentary alteration) patches yang tidak teratur.
Sebagaimana arti istilah versicolor (versi=beberapa), maka panu
memiliki karakteristik adanya variasi warna kulit. Area kulit yang
terinfeksi panu dapat menjadi lebih gelap atau lebih terang
dibandingkan dengan kulit di sekitarnya.
b. Bentuk 2
Bentuk kebalikan (inverse form) dari panu juga ada, dimana kondisi
ini memiliki distribusi yang berbeda sepenuhnya, melibatkan daerah
lipatan kulit (flexure), wajah, atau area ekstremitas (anggota gerak, yaitu
tangan dan kaki) yang terpisah (isolated). Bentuk panu ini lebih sering
terlihat pada hosts yang immunocompromised (mengalami gangguan

15
sistem kekebalan tubuh). Bentuk ini dapat dikacaukan dengan
kandidiasis, seborrheic dermatitis, psoriasis, erythrasma, dan infeksi
dermatofit.
c. Bentuk 3
Bentuk ketiga infeksi M furfur pada kulit melibatkan folikel rambut.
Kondisi ini secara khas berlokasi di punggung, dada,
dan extremities (anggota gerak tubuh, meliputi tangan dan kaki). Faktor
predisposisi meliputi: diabetes, kelembaban yang tinggi, terapi
antibiotik atau steroid, dan terapi immunosuppressant.

5. Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Panu


Penyakit panu sebenarnya dapat dicegah, berikut ini cara-cara untuk
mencegahnya terjadinya penyakit panu(6):
a. Keringkan handuk setelah dipakai dan ganti sesering mungkin
b. Mandi rutin dan bersih
c. Simpan atau gantung pakaian di tempat kering
d. Pola hidup sehat, maka kemungkinan untuk menderita penyakit ini
sangat kecil. Hal-hal yang mempengaruhi tumbuhnya jamur adanya
udara yang panas, lembab, kebersihan diri yang kurang, kegemukan,
sosial ekonomi rendah, pemakaian obat-obatan yang lama, adanya
penyakit kronis seperti TBC atau keganasan, dan penyakit
endokrin (diabetes mellitus).
e. Pada kehidupan sehari-hari, sebaiknya bila udara terasa panas, maka
kita harus rajin menyeka keringat yang menempel di badan. Baju yang
dikenakan juga sebaiknya yang menyerap keringat. Bila terpaksa harus
mengenakan baju yang tidak menyerap keringat, kita harus sesering
mungkin mengganti baju tersebut.
f. Selain itu, setelah terkena air, maka sebaiknya segera mengeringkannya,
karena jamur senang dengan tempat yang lembab. Dianjurkan pula
untuk menggunakan pakaian, ataupun handuk secara terpisah antar
keluarga. Sebab bila salah satu keluarga sudah terkena panu atau

16
penyakit jamur lainnya, maka bila memakai handuk atau baju secara
bergantian, jamur akan menular dari satu anggota keluarga ke anggota
lainnya. Akibatnya nanti seluruh keluarga akan menderita panu.
g. Sebaiknya pula menjaga keseimbangan berat badan. Sebab, pada orang
yang mengalami kegemukan(obesitas), umumnya lebih banyak
mengeluarkan keringat. Bila tidak rajin menyeka keringat ataupun
menggunakan baju yang menyerap keringat, maka kemungkinan sangat
besar ia akan menderita panu.
h. Bila berenang di kolam renang umum, kebersihan air kolam belum tentu
terjaga. Untuk mencegah terkena penyakit panu yang dapat ditularkan,
maka sebaiknya sesudah berenang, segera mandi dengan sabun
antiseptik seperti yang banyak dijual di pasaran dan segera
mengeringkan seluruh tubuh bila sudah selesai mandi.

Sebelum diberikan pengobatan sebaiknya pasien diberi informasi bahwa


panu disebabkan oleh jamur yang secara normal sudah ada di permukaan
kulit dan oleh karenanya tidak menular. Kondisi ini tidak meninggalkan
bekas luka (scar) permanen apapun atau perubahan pigmen, dan perubahan
warna kulit akan berakhir dalam waktu 1-2 bulan setelah perawatan dimulai.
Kambuh (recurrence) biasa terjadi, dan terapi profilaksis dapat membantu
mengurangi tingginya angka kekambuhan.
Panu berespon baik dengan terapi antimikotik oral maupun topikal.
Banyak pasien yang menyukai terapi oral karena kenyamanannya.
Antijamur topikal membasmi panu secara temporer, meskipun perlu
diulangi secara rutin dan teratur untuk mencegah kambuh lagi. Terapi oral
untuk panu nyaman dan efektif, namun tidak mencegah kekambuhan. Suatu
alternatif yang populer adalah pemberian fluconazole sekali sebulan
(selama 6 bulan) dosis oral(6).
Jenis-jenis obat yang dapat digunakan untuk pengobatan pytiriasis
versicolor atau panu baik oral maupun topikal terdiri dari:
a. Mikonazol(8)

17
Mempunyai aktivitas antijamur terhadap Trichopyton,
Epidoermophyton, Microsporum, Candida dan Malassezia furfur.
Mikonazol menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan
permeabilitas membran sel jamur meningkat. Mungkin pula terjadi
gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel
jamur yang mungkin menimbulkan kerusakan. Obat yang sudah
menembus ke dalam lapisan tanduk kulit akan menetap di sana sampai
4 hari.
Efek sampingnya berupa iritasi dan rasa terbakar, bentuk krimnya
dengan konsentrasi 2% digunakan 2 kali sehari selama 2-4 minggu.
Contoh produk yang beredar adalah Daktarin.
b. Ketokonazol(8,9)
Obat ini efektif terutama untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi
dan jaringan lemak. Juga terbukti bermanfaat pada Paracoccidioides
brasiliensis, thrush (kandidiasis faringeal), kandidiasis mukokutan, dan
dermatomikosis.
Ketokonazol bisa diberikan per oral atau topikal. Pada pemberian
oral, obat ini diserap baik pada saluran cerna (75%), dan absorpsi
meningkat pada pH asam. Dalam plasma, 84% ketokonazol berikatan
dengan protein plasma terutama albumin, 15% berikatan dengan sel
darah dan 1% dalam bentuk bebas. Ketokonazol dimetabolisme secara
ekstensif oleh hati. Sebagian besar ketokonazol diekskresi bersama
cairan empedu ke lumen usus dan hanya sebagian kecil yang keluar
bersama urine.
Pemberian ketokonazol per oral harus berhati-hati karena adanya
efek hepatotoksik, pemberian per oral tidak dianjurkan pada infeksi
superfisial(9). Efek samping lainnya yang sering terjadi pada pemberian
oral adalah mual dan muntah. Obat ini harus dihindari pada wanita
hamil. Pada pemberian topikal, efek sampingnya bisa berupa iritasi,
pruritus, dan rasa terbakar.

18
Ketokonazol tersedia dalam bentuk tablet 200 mg, krim 2%, dan
scalp solution 20 mg/ml. Cara penggunaan ketokonazol tablet untuk
dewasa diminum 1 kali sehari selama 14 hari dan pada anak 3 mg/kg
bb/hari dosis tunggal atau dosis terbagi. Sedangkan untuk Ketokonazol
krim dioleskan 1 x sehari maksimum 5 hari.
Contoh produk yang beredar antara lain Nizoral, Mycoral dan
Formyco.
c. Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat(8)
Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat juga dapat digunakan
untuk mengobati penyakit panu, dimana asam salisilat memberikan efek
keratolitik dan asam benzoat bersifat fungistatik. Efek fungistatik asam
benzoat baru tercapai setelah lapisan tanduk yang menderita infeksi
terkelupas seluruhnya, sehingga pemakaian obat ini berlangsung agak
lama.
Oleskan dengan kapas 2-3 kali/hari sesudah mandi. Efek
sampinngnya berupa iritasi ringan pada tempat pemakaian. Contoh
produk yang beredar Kalpanax lotion, Mikorex.

D. Terapi Topikal(4)
Terapi topikal didefinisikan sebagai aplikasi obat dengan formulasi
tertentu pada kulit yang bertujuan mengobati penyakit kulit atau penyakit
sistemik yang bermanifestasi pada kulit. Terapi topikal merupakan metode yang
nyaman, namun keberhasilannya bergantung pada pemahaman mengenai fungsi
sawar kulit.
Keuntungan utamanya adalah dapat memintas jalur metabolisme obat
pertama (first-pass metabolism) di hati. Terapi topikal juga dapat menghindari
risiko dan ketidaknyamanan seperti pada terapi yang diberikan secara intravena,
serta berbagai hal yang mempengaruhi penyerapan obat pada terapi peroral,
misalnya perubahan pH, aktivitas enzim, dan pengosongan lambung.
Keuntungan lain, yaitu karena penyerapan sistemik pada terapi topikal dapat
diabaikan maka efek samping maupun interaksi obat pada terapi topikal jarang

19
terjadi. Meskipun demikian, pengobatan topikal juga memiliki berbagai
kelemahan misalnya dapat menimbulkan iritasi dan alergi (dermatitis kontak),
permeabilitas beberapa obat melalui kulit yang relatif rendah, sehingga tidak
semua obat dapat diberikan secara topikal dan terjadinya denaturasi obat oleh
enzim pada kulit.
1. Farmakokinetik Obat Topikal
Farmakokinetik obat topikal menggambarkan perubahan konsentrasi
obat setelah aplikasinya pada permukaan kulit, perjalanannya menembus
sawar kulit dan jaringan di bawahnya, dan distribusinya ke dalam sirkulasi
sistemik. Senyawa yang diaplikasikan pada permukaan kulit, termasuk obat
topikal, masuk ke dalam kulit mengikuti suatu gradien konsentrasi (difusi
pasif). Gradien konsentrasi ditimbulkan oleh perbedaan konsentrasi obat
aktif dalam sediaan yang diaplikasikan pada kulit dan konsentrasi obat aktif
dalam jaringan kulit serta jaringan di bawahnya (dermis dan subkutan).
Analisis farmakokinetik dari suatu sediaan topikal yang diaplikasikan
pada kulit meliputi pembahasan mengenai tiga kompartemen yang dilalui
obat aktif, yaitu vehikulum sebagai pembawa obat aktif, stratum korneum,
dan lapisan epidermis serta dermis.
Untuk dapat masuk ke dalam lapisan kulit, bahan/obat aktif dalam suatu
sediaan topikal harus dilepaskan dari vehikulumnya setelah sediaan obat
topikal diaplikasikan. Pelepasan/ disolusi bahan aktif dari vehikulumnya
ditentukan oleh koefisien partisinya. Makin besar nilai koefisien partisi,
maka bahan aktif makin mudah terlepas dari vehikulum.
Bahan aktif yang telah terlepas dari vehikulumnya akan berinteraksi
dengan permukaan kulit/ stratum korneum. Bahan aktif yang telah
berinteraksi dengan stratum korneum akan segera berdifusi ke dalam
stratum korneum. Difusi yang terjadi dimungkinkan dengan adanya gradien
konsentrasi. Pada awalnya, difusi bahan aktif terutama berlangsung melalui
folikel rambut (jalur transfolikular). Setelah tercapai keseimbangan
(steadystate), difusi melalui stratum korneum menjadi lebih dominan.

20
Bahan aktif yang masuk ke dalam folikel rambut akan berpartisi dan
selanjutnya berdifusi ke dalam sebum yang terdapat di dalam folikel rambut
hingga mencapai lapisan epitel pada bagian dalam folikel dan kemudian
berdifusi menembus epitel folikel hingga mencapai lapisan epidermis.
Difusi bahan/obat aktif melalui kedua jalur di atas pada akhirnya akan
mencapai lapisan yang lebih dalam yaitu epidermis hingga kemudian
dermis. Dengan adanya pembuluh darah dalam dermis, bahan aktif yang
mencapai lapisan dermis kemudian akan diresorpsi oleh sistem sirkulasi.

2. Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Obat Melalui Kulit


Berbagai faktor mempengaruhi penyerapan suatu obat melalui kulit, antara
lain:
a. Faktor fisikokimiawi obat
Faktor fisikokimiawi obat yang mempengaruhi penyerapan obat
topikal antara lain konsentrasi obat, koefisien partisi, dan ukuran
molekul obat. Peningkatan konsentrasi sediaan obat topikal akan
menjadi daya pendorong molekul obat, sehingga akan meningkatkan
penyerapannya.
Koefisien partisi menunjukkan kemampuan obat aktif terlepas dari
vehikulumnya untuk kemudian berinteraksi dan berdifusi ke dalam
stratum korneum dan lapisan di bawahnya. Peningkatan nilai koefisien
partisi tersebut meningkatkan penyerapan obat aktif ke dalam kulit.
Sementara semakin kecil ukuran molekul obat aktif akan memudahkan
obat aktif melalui sawar dan lapisan kulit.

b. Penetration enhancer
Penyerapan obat perkutan dapat ditingkatkan dengan penambahan
bahan kimia tertentu. Bahan kimia yang memiliki kemampuan
meningkatkan penyerapan obat topikal disebut sebagai penetration

21
enhancer. Beberapa bahan kimia dapat meningkatkan permeabilitas
kulit dengan cara merusak atau mengubah sifat fisikokimiawi alami
stratum korneum sehingga tahanan difusinya menurun. Perubahan sifat
fisiko-kimiawi tersebut misalnya perubahan status hidrasi stratum
korneum dan perubahan struktur lipid dan lipoprotein pada ruang
interselular. Bahan kimia yang memiliki efek sebagai penetration
enhancer misalnya berbagai pelarut antara lain: alkohol, metanol,
propylen glikol, gliserol, silikon cair, dan isopropil palmitat. Beberapa
surfaktan misalnya asam linoleat, asam oleat, kalsium tioglikolat, dan
sodium deoksikolat juga dapat digunakan sebagai penetration enhancer.
Istilah optimized vehicle yang digunakan pada beberapa produk obat
topikal merujuk pada penggunaan penetration enhancer dalam produk
tersebut.

c. Faktor lain
Faktor lain yang dapat mempengaruhi penyerapan obat topikal
antara lain oklusi dan lokasi aplikasi obat topikal. Oklusi dapat
meningkatkan penyerapan obat topikal melalui peningkatan status
hidrasi stratum korneum. Aplikasi obat topikal pada lokasi yang berbeda
juga dapat memberikan hasil yang berbeda karena perbedaan ketebalan
stratum korneum

3. Vehikulum
Vehikulum adalah zat inaktif/ inert yang digunakan dalam sediaan
topikal sebagai pembawa obat/ zat aktif agar dapat berkontak dengan kulit.
Meskipun inaktif, aplikasi suatu vehikulum pada kulit dapat memberikan
beberapa efek yang menguntungkan, meliputi efek fisik misalnya efek
proteksi, mendinginkan, hidrasi, mengeringkan/ mengangkat eksudat, dan
lubrikasi, serta efek kimiawi/ farmakologis, misalnya efek analgesik,
sebagai astringent, antipruritus, dan bakteriostatik.

22
Berdasarkan komponen penyusunnya, vehikulum dapat digolongkan
dalam monofasik, bifasik, dan trifasik. Yang termasuk vehikulum
monofasik di antaranya adalah bedak, salep, dan cairan. Bedak kocok, pasta,
dan krim tergolong dalam vehikulum bifasik. Sementara pasta pendingin
merupakan contoh vehikulum trifasik. Selain ketiga kelompok besar
vehikulum di atas, terdapat vehikulum lain yang tidak dapat dimasukkan ke
dalam salah satu golongan tersebut, yaitu jel.
Pembagian lain vehikulum adalah berdasarkan kelarutannya dalam air,
yaitu vehikulum hidrofobik dan vehikulum hidrofilik. Vehikulum
hidrofobik meliputi berbagai hidrokarbon, silikon, alkohol, sterol, asam
karboksilat, ester dan poliester, serta eter dan polieter. Sementara vehikulum
hidrofilik meliputi berbagai poliol dan poliglikol, sebagian dari golongan
ester dan poliester, serta beberapa macam eter dan polieter. Berdasarkan
konsistensinya, vehikulum dibagi menjadi cair, solid, dan semisolid.
Berikut ini contoh jenis vehikulum dalam beberapa sediaan topikal.
a. Salep
Salep merupakan sediaan semisolid yang dapat digunakan pada kulit
maupun mukosa. Bahan dasar salep yang digunakan dalam
dermatoterapi dibagi dalam empat kelompok yaitu; 1) hidrokarbon, 2)
bahan penyerapan, 3) bahan dasar emulsi, dan 4) bahan yang larut air
(watersoluble based).
Salep berbahan dasar hidrokarbon memiliki efek sebagai emolien,
efek oklusi, dan mampu bertahan pada permukaan kulit dalam waktu
lama tanpa mengering. Bahan dasar hidrokarbon yang paling banyak
digunakan adalah petrolatum putih dan petrolatum kuning.Umumnya
bersifat stabil, sehingga tidak memerlukan zat pengawet. Kelemahannya
adalah dapat mewarnai pakaian.
Bahan dasar penyerapan pembentuk salep terdiri atas lanolin dan
turunannya, kolesterol dan turunannya, serta sebagian ester dari alkohol
polihidrat. Kelompok bahan dasar ini memiliki efek lubrikasi, emolien,
efek proteksi, serta karena sifat hidrofiliknya, dapat digunakan sebagai

23
vehikulum obat/ zat aktif yang larut air. Salep dengan bahan dasar
penyerapan bersifat lengket, namun lebih mudah dicuci dibandingkan
yang berbahan dasar hidrokarbon.
Bahan dasar salep yang lain, yaitu bahan dasar pengemulsi dan
bahan dasar yang larut air sering digunakan untuk membentuk sediaan
semisolid yang lain, yaitu krim dan jel. Konsentrasi bahan dasar salep
dalam suatu sediaan berbentuk salep dapat ditingkatkan agar
kemampuan penetrasi bahan aktif yang terkandung di dalamnya
meningkat, misalnya sediaan salep khusus yang disebut fatty ointment.
Konsentrasi bahan dasar salep dalam sediaan tersebut mencapai lebih
dari 90 persen. Sediaan tersebut dapat digunakan untuk kelainan/
penyakit kulit pada daerah dengan stratum korneum yang tebal,
misalnya lipat siku, lutut, telapak tangan, dan telapak kaki.

b. Krim
Krim merupakan sediaan semisolid yang mengandung satu atau
lebih zat aktif yang terdispersi dalam suatu medium pendispersi dan
membentuk emulsi. Untuk kestabilan emulsi, digunakan suatu agen
pengemulsi (emulsifier). Bahan pengemulsi dapat terlarut dalam kedua
fase cairan penyusun emulsi, dan mengelilingi cairan yang terdispersi
membentuk titik-titik air mikro yang terlarut dalam medium
pendispersi. Surfaktan maupun beberapa jenis polimer atau campuran
keduanya dapat digunakan sebagai bahan pengemulsi. Beberapa contoh
surfaktan yang sering digunakan dalam pembentukan emulsi adalah
sodium lauril sulfat, Spans, dan Tweens.
Berdasarkan fase internalnya, krim dapat dibagi menjadi krim oil-
in-water dan krim water-in-oil. Krim water-in-oil mengandung air
kurang dari 25 persen dengan minyak sebagai medium pendispersi.
Selain surfaktan, zat pengawet juga seringkali digunakan dalam sediaan
krim water-in-oil. Sediaan ini kurang lengket dibanding dua sediaan
yang disebutkan sebelumnya, sehingga relatif lebih mudah

24
diaplikasikan. Sediaan ini juga memiliki efek sebagai emolien karena
kandungan minyaknya, sedangkan kandungan air di dalamnya
memberikan efek mendinginkan saat diaplikasikan. Krim oil-in-water
mengandung air lebih dari 31 persen. Formulasi ini merupakan bentuk
yang paling sering dipilih dalam dermatoterapi. Sediaan ini dapat
dengan mudah diaplikasikan pada kulit, mudah dicuci, kurang
berminyak, dan relatif lebih mudah dibersihkan bila mengenai pakaian.
Sebagai pengawet, biasanya digunakan paraben untuk mencegah
pertumbuhan jamur. Bahan lain yang terkandung dalam emulsi oil-in-
wateradalah humektan, misalnya gliserin, propilen glikol, ataupun
polietilen glikol.Fase minyak dalam sediaan ini juga menyebabkan rasa
lembut saat diaplikasikan.

c. Cairan/ liquid
Vehikulum berbentuk cair dapat berupa air, alkohol, minyak, dan
propilen glikol. Penambahan suatu zat aktif ke dalam berbagai
vehikulum cair tersebut dapat membentuk suatu sediaan cair yang
berbeda bergantung kelarutan dan jenis zat yang terdispersi dalam
medium pendispersi, yaitu solusio, emulsi, dan suspensi.
Solusio atau larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan
kimia terlarut (solut) yang terlarut secara homogen dalam media pelarut
misalnya air, alkohol, minyak, atau propilen glikol. Contoh dari solusio
adalah solusio Burrowi, yodium tingtur, dan linimen.
Suspensi atau losio adalah suatu sistem berbentuk cair yang
komponennya terdiri atas dua fase zat. Fase pertama merupakan fase
eksternal/ kontinu dari suspensi, yang umumnya berbentuk cair atau
semisolid, dan fase kedua merupakan fase internal yang merupakan
partikel yang tidak larut dalam fase kontinu, namun terdispersi di
dalamnya. Dalam suatu sediaan obat topikal, fase internalnya adalah zat
atau obat aktif. Karena tidak larut dalam medium pendispersinya, maka
zat aktif dalam suatu sediaan berbentuk suspensi atau losio dapat

25
mengendap bila didiamkan, sehingga sebelum digunakan harus dikocok
terlebih dahulu agar dosis obat aktif yang diaplikasikan merata. Losio
banyak digunakan untuk pasien anak, karena mudah diaplikasikan
secara merata. Penguapan air yang terkandung dalam sediaan ini setelah
aplikasinya memberikan efek mendinginkan. Dibandingkan salep, losio
dapat menyebabkan kondisi kulit yang kering, dan dapat menyebabkan
abrasi pada kulit.

d. Pasta
Pada dasarnya pasta merupakan salep yang ke dalamnya
ditambahkan bedak dalam jumlah yang relatif besar, hingga mencapai
50 persen berat campuran. Konsistensinya relatif lebih keras dibanding
salep karena penambahan bahan padat tersebut. Kandungan bedak yang
ditambahkan ke dalamnya dapat berupa seng oksida, kanji, kalsium
karbonat, dan talk. Seperti halnya salep, pasta dapat membentuk lapisan
penutup/film di atas permukaan kulit, yang impermeabel terhadap air
sehingga dapat berfungsi sebagai protektan pada daerah popok.
Komponen zat padat dalam pasta menjadikannya dapat digunakan
sebagai sunblock. Pasta relatif kurang berminyak dibandingkan salep,
karena sebagian besar komponen minyak yang terkandung dalam salep
telah berasosiasi dengan bahan padat yang ditambahkan.

4. Pemilihan Vehikulum dalam Dermatoterapi Topikal


Berbagai hal menjadi pertimbangan dalam pemilihan vehikulum dalam
dermatoterapi, antara lain 1) stadium dan tipe penyakit kulit, 2) tipe/status
kulit, 3) lokasi penyakit kulit, 4) faktor lingkungan, serta 5) pertimbangan
kosmetik.
a. Stadium dan tipe penyakit kulit
Prinsip pengobatan basah-dengan-basah serta kering dengan-kering
masih merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam dermatoterapi.
Misalnya, dermatosis akut yang eksudatif ditatalaksana dengan

26
vehikulum yang bersifat mendinginkan yaitu dengan menggunakan
kompres dengan atau tanpa zat aktif. Sementara dermatitis kronik
dengan kelainan kulit yang kering dapat ditatalaksana dengan
menggunakan vehikulum salep, lotion, dan krim.
b. Tipe dan status kulit
Vehikulum dapat mengubah keadaan fisik dan kimiawi kulit dengan
cara mempengaruhi kandungan lemak dan air di dalamnya. Vehikulum
yang bersifat hidrofilik sesuai untuk digunakan pada kondisi kulit
normal atau berminyak, sedangkan vehikulum yang bersifat lipofilik
lebih cocok untuk keadaan kulit yang kering.
c. Lokasi penyakit kulit
Pemilihan vehikulum berdasarkan lokasi anatomis kelainan kulit
menjadi hal penting. Ketebalan stratum korneum dan kepadatan folikel
rambut yang bervariasi pada berbagai lokasi anatomis, mempengaruhi
penyerapan sediaan topikal. Misalnya sediaan berbentuk salep dapat
digunakan dalam pengobatan dermatosis pada telapak tangan atau
telapak kaki. Pertimbangan lain yang berkaitan dengan lokasi anatomis
juga menyangkut kenyamanan pasien dan pertimbangan kosmetik.
d. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan, misalnya kondisi iklim yang ekstrim dapat
mengubah struktur matriks suatu vehikulum, sehingga diperlukan uji
untuk mengetahui kestabilan vehikulum pada berbagai keadaan iklim.
e. Pertimbangan kosmetik
Penampilan fisik, bau, kemudahan dalam aplikasi, serta kemampuan
untuk tidak meninggalkan residu setelah aplikasi menjadi pertimbangan
penting dalam pemilihan vehikulum karena dapat meningkatkan
kepatuhan pasien dalam pengobatan.

5. Prinsip Dasar Dalam Pembuatan Sediaan Topikal


Secara ideal, dalam pembuatan suatu sediaan obat topikal, vehikulum
yang dipilih harus mudah dalam aplikasinya, tidak menimbulkan iritasi,

27
nontoksik, nonalergenik, stabil secara kimiawi, homogen, bersifat inert, dan
secara kosmetik dapat diterima penggunanya. Di sisi lain, vehikulum yang
dipilih juga memungkinkan bahan aktif tetap stabil dan mudah dilepaskan
ke dalam kulit setelah diaplikasikan. Pemilihan vehikulum yang tepat dapat
meningkatkan bioavailabilitas obat aktif yang terkandung di dalamnya,
sehingga perannya tidak dapat diabaikan dan hampir sama penting dengan
peran zat/obat aktif yang dibawanya.
Beberapa parameter harus dipertimbangkan dalam pembuatan sediaan
obat topikal, antara lain, fungsi dari tiap materi yang akan digunakan,
jumlah materi yang digunakan, dan aspek fisiko-kimiawi dari zat aktif.
a. Fungsi dari tiap materi yang digunakan
Pengetahuan mengenai materi yang akan digunakan harus dimiliki
oleh seorang formulator/ pembuat obat, termasuk dalam pembuatan obat
topikal. Pengetahuan tersebut mencakup fungsi tiap materi dalam
sebuah formulasi/sediaan, misalnya fungsi sebagai vehikulum, bahan
pengemulsi, penetration enhancer, bahan pembentuk jel, dan berbagai
fungsi lainnya. Seorang formulator yang belum berpengalaman kadang
mengambil contoh dari suatu sediaan dalam bentuk jadi yang sudah
dikenal untuk melihat materi apa saja yang digunakan dalam sediaan
tersebut. Hal tersebut sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, karena
modifikasi pada spesifikasi materi yang digunakan dapat merusak
stabilitas sediaan.
b. Jumlah materi yang akan digunakan
Dalam suatu vehikulum multifase misalnya krim, jumlah tiap materi
yang digunakan harus diperhitungkan dengan tepat. Hal tersebut
berkaitan dengan stabilitas sediaan yang dibuat. Suatu vehikulum
multifase tersusun oleh materi hidrofilik dan lipofilik. Untuk
menyatukan kedua zat yang berbeda afinitasnya terhadap air dan
minyak tersebut, diperlukan bahan pengemulsi. Jumlah materi yang
digunakan, baik materi hidrofilik maupun lipofilik akan menentukan
jumlah dan jenis bahan pengemulsi yang diperlukan.

28
c. Sifat fisikokimiawi zat aktif dan vehikulum
Sifat fisikokimiawi zat aktif maupun vehikulum menentukan nilai
koefisien partisi zat aktif antara vehikulum dan stratum korneum dan
pada akhirnya menentukan kemampuan zat aktif berdifusi ke dalam
lapisan kulit. Tingkat kelarutan yang terlalu tinggi dari zat aktif dalam
vehikulum sebaiknya dihindari, karena akan mencegah partisi bahan
aktif ke permukaan stratum korneum setelah diaplikasikan.

E. Contoh Kasus
Pasien bernama Ny. Irma berusia 30 tahun dan berjenis kelamin wanita
mengeluh adanya bercak-bercak putih bersisik di hampir seluruh badan.
Bercak-bercak putih timbul di badan sejak 2 bulan lalu. Awalnya bercak timbul
di bagian bahu kiri dan kanan kemudian menyebar ke lengan, daerah dada,
ketiak, perut dan punggung. Bercak juga ditemukan pada daerah kedua paha
hampir bersamaan dengan timbulnya bercak pada bahu. Bercak tersebut disertai
rasa gatal, dan gatal terasa jika penderita berkeringat. Setelah diperiksa pasien
didiagnosa menderita Ptiriasis Versikolor atau panu. Pasien diberi terapi yang
terdiri dari :
 Non-medikamentosa
Menjaga kebersihan diri, misalnya dengan mengganti baju jika berkeringat
banyak. Menjaga agar tubuh tetap kering dengan untuk tidak memakai
pakaian yang masih lembab, misalnya belum kering benar, atau memakai
pakaian pada saat tubuh belum benar-benar kering sehabis mandi. Mencuci
pakaian, kain sprei, handuk dengan air panas.
 Medikamentosa
Topikal : Zoloral cream dicampur dengan asam salisilat dan vaselin album.
Oral : Ketokonazol 200 mg/hari

29
Contoh Resep:

30
BAB III
PEMBAHASAN

31
Diagnosis Pityriasis versicolor atau panu pada kasus ini ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Pada
Pityriasis versicolor kelainan biasanya asimtomatik sehingga adakalanya penderita
tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut. Kadang - kadang penderita dapat
merasakan gatal ringan, yang merupakan alasan berobat, tetapi biasanya penderita
datang berobat karena bercak hipopigmentasi. Pada beberapa penderita, dapat
merasakan keluhan gatal ringan terutama bila berkeringat.
Pada pasien ini diberikan Zoloral Cream yang isinya ketokonazol 2%,
dicampur dengan asam salisilat dan vaselin album. Ketokonazol krim dapat
digunakan untuk dermatomikosis salah satunya pityriasis versicolor. Ketoconazol
bekerja dengan menghambat enzym "cytochrom P. 450" jamur, dengan
mengganggu sintesa ergosterol yang merupakan komponen penting dari membran
sel jamur sedangkan asam salisilat bekerja sebagai keratolitikum yaitu melepaskan
lapisan tanduk pada kulit yang mengalami infeksi jamur. Campuran ini diberikan
secara topikal 2 kali sehari. Farmakokinetiknya menggambarkan perubahan
konsentrasi obat setelah aplikasinya pada permukaan kulit, perjalanannya
menembus sawar kulit dan jaringan di bawahnya, dan distribusinya ke dalam
sirkulasi sistemik.
Campuran ketokonazol dan asam salisilat yang diaplikasikan pada permukaan
kulit, akan masuk ke dalam kulit mengikuti suatu gradien konsentrasi (difusi pasif).
Gradien konsentrasi ditimbulkan oleh perbedaan konsentrasi obat aktif dalam
sediaan yang diaplikasikan pada kulit dan konsentrasi obat aktif dalam jaringan
kulit serta jaringan di bawahnya (dermis dan subkutan). Dalam pengobatan topikal,
penyerapan obat melalui beberapa tahapan yaitu:
1. Pelepasan bahan/obat aktif vehikulumnya
2. Bahan aktif berdifusi ke dalam stratum korneum. Difusi yang terjadi
dimungkinkan dengan adanya gradien konsentrasi. Pada awalnya, difusi bahan
aktif terutama berlangsung melalui folikel rambut (jalur transfolikular). Setelah
tercapai keseimbangan (steadystate), difusi melalui stratum korneum menjadi
lebih dominan.

32
3. Bahan aktif yang masuk ke dalam folikel rambut akan berpartisi dan selanjutnya
berdifusi ke dalam sebum yang terdapat di dalam folikel rambut hingga
mencapai lapisan epitel pada bagian dalam folikel dan kemudian berdifusi
menembus epitel folikel hingga mencapai lapisan epidermis.
4. Difusi bahan/obat aktif melalui kedua jalur di atas pada akhirnya akan mencapai
lapisan yang lebih dalam yaitu epidermis hingga kemudian dermis. Dengan
adanya pembuluh darah dalam dermis, bahan aktif yang mencapai lapisan
dermis kemudian akan diresorpsi oleh sistem sirkulasi.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyerapan obat topikal antara lain
konsentrasi obat, koefisien partisi, dan ukuran molekul obat. Peningkatan
konsentrasi sediaan obat topikal akan menjadi daya pendorong molekul obat,
sehingga akan meningkatkan penyerapannya. Koefisien partisi menunjukkan
kemampuan obat aktif terlepas dari vehikulumnya untuk kemudian berinteraksi dan
berdifusi ke dalam stratum korneum dan lapisan di bawahnya. Peningkatan nilai
koefisien partisi tersebut meningkatkan penyerapan obat aktif ke dalam kulit.
Sementara semakin kecil ukuran molekul obat aktif akan memudahkan obat aktif
melalui sawar dan lapisan kulit.
Sediaan topikal yang diberikan kepada pasien adalah krim, keuntungan
penggunaan krim antara lain mudah diaplikasikan pada kulit, mudah dicuci, kurang
berminyak, dan relatif lebih mudah dibersihkan bila mengenai pakaian.
Selain itu pasien juga diberikan ketokonazol tablet 200 mg diberikan 2 kali
sehari selama 12 hari. Pemberian ketokonazol tablet pada pengobatan pityriasis
versikolor sebenarnya tidak diperlukan, pemberiannya dapat dilakukan bila infeksi
ini tidak dapat diobati secara topikal karena tempat lesi tidak dipermukaan kulit
atau kegagalan pada terapi topikal.
Obat antihistamin mungkin juga dapat diberikan untuk mengurangi rasa
gatal yang ditimbulkan, misalnya mebhidrolin napadisilat, loratadin, dan lain-lain.
Selain pengobatan medikamentosa, pasien juga disarankan untuk menjaga
agar tubuh tetap kering, tidak memakai pakaian yang masih lembab, misalnya
belum kering benar, atau memakai pakaian pada saat tubuh belum benar-benar

33
kering sehabis mandi. Hal ini perlu diperhatikan karena kesembuhan dari Pitiriasis
versikolor tidak lepas dari perilaku sehat dari penderita itu sendiri.

BAB IV
KESIMPULAN

34
1. Penyakit-penyakit yang dapat timbul pada kulit antara lain psoriasis
vulgaris, eksem, piodermia, dermatomikosis.
2. Pityriasis versicolor atau panu disebabkan oleh infeksi jamur superfisial
yang disebabkan oleh Malassezia furfur yang dapat dicegah dengan jalan
menjaga kebersihan tubuh sedangkan pengobatannya terdiri dari oral dan
topikal.
3. Terapi topikal didefinisikan sebagai aplikasi obat dengan formulasi tertentu
pada kulit yang bertujuan mengobati penyakit kulit atau penyakit sistemik
yang bermanifestasi pada kulit. Keuntungannya adalah dapat memintas
jalur metabolisme obat pertama (first-pass metabolism) di hati, menghindari
risiko dan ketidaknyamanan seperti pada terapi yang diberikan secara
intravena, serta berbagai hal yang mempengaruhi penyerapan obat pada
terapi peroral, misalnya perubahan pH, aktivitas enzim, dan pengosongan
lambung.
4. Farmakokinetik obat topikal menggambarkan perubahan konsentrasi obat
setelah aplikasinya pada permukaan kulit, perjalanannya menembus sawar
kulit dan jaringan di bawahnya, dan distribusinya ke dalam sirkulasi
sistemik.

DAFTAR PUSTAKA

35
1. Anatomi Fisiologi Kulit.
http://pharzone.com/materi%20kuliah/anfis%202/kulit.pdf. Diakses
tgl 9 November 2012.

2. Mutschler, E. 1986. Dinamika Obat. Edisi V. Institut Teknologi Bandung.


Bandung. Hal 581-584.

3. Penatalaksanaan Pitiriasis Versikolor atau Panu. 2009.


http://imadeharyoga.wordpress.com/2009/07/24/penatalaksanaan-
pitiriasis-versikolor-atau-panu/. Diakses tgl 1 Desember 2012.

4. Asmara, A. Sjaiful, F. dan Tantien, N. 2012. Vehikulum Dalam


Dermatoterapi Topikal. MDVI. Vol 39. No 1. Hal 25-35.

5. Krim. 2012. http://jalankemenangankoe.blogspot.com/2012/06/diktat-


semisolid.html. Diakses tgl 2 Januari 2012.

6. Rumah sakit Umum Daerah dr. R. Goeteng Taroenadibrata. 2012. Penyakit


kulit Panu atau Pityriasis versicolor.
http://rsud.purbalinggakab.go.id/berita/item/30-penyakit-kulit-panu-
atau-pityriasis-versicolor.html. Diakses tgl 1 Desember 2012.

7. Vicky kandou. 2010. Pitiriasis Versikolor. Fakultas Kedokteran


Universitas Sam Ratulangi. Manado.
http://kedipankelinci.blogspot.com/2010/08/pitiriasis-versikolor.
html. diakses tgl 1 Desember 2012.

8. Ganiswarna, S.G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi VI. Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal 562-568.

9. Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2008. Informatorium Obat Nasional


Indonesia. Sagung Seto. Jakarta. Hal 440, 807.

36