Anda di halaman 1dari 18

I.

Konsep Dasar Penyakit


1.1 Definisi
Pneumonia adalah peradangan paru dimana asinus paru terisi cairan radang
dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang kedalam dinding alveoli dan
rongga interstisium. (secara anatomis dapat timbul pneumonia lobaris maupun
lobularis / bronchopneumonia.
Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan yang
terbanyak didapatkan dan sering merupakan penyebab kematian hampir di seluruh
dunia. Di Indonesia berdasarkan survei kesehatan rumah tangga tahun 1986 yang
dilakukan Departemen Kesehatan, pneumonia tergolong dalam penyakit infeksi
akut saluran nafas, merupakan penyakit yang banyak dijumpai.
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru
atau alveoli. Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan
dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton
& Fugate, 2013).

1.2 Etiologi
Pneumonia bisa diakibatkan adanya perubahan keadaan pasien seperti
gangguan kekebalan dan penyakit kronik, polusi lingkungan, dan penggunaan
antibiotik yang tidak tepat hingga menimbulkan perubahan karakteristik pada
kuman. Etiologi pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia, dan
hal ini berdampak kepada obat yang akan di berikan. Mikroorganisme penyebab
yang tersering adalah bakteri, yang jenisnya berbeda antar Negara, antara suatu
daerah dengan daerah yang lain pada suatu Negara, maupun bakteri yang berasal
dari lingkungan rumah sakit ataupun dari lingkungan luar. Karena itu perlu
diketahui dengan baik pola kuman di suatu tempat.
Pneumonia yang disebabkan oleh infeksi antara lain :
1. Bakteri
Agen penyebab pneumonia di bagi menjadi organisme gram-positif atau gram-
negatif seperti : Steptococcus pneumonia (pneumokokus), Streptococcus
piogenes, Staphylococcus aureus, Klebsiela pneumoniae, Legionella, hemophilus
influenzae.
2. Virus
Influenzae virus, Parainfluenzae virus, Respiratory, Syncytial adenovirus,
chicken-pox (cacar air), Rhinovirus, Sitomegalovirus, Virus herves simpleks,
Virus sinial pernapasan, hantavirus.
3. Fungi
Aspergilus, Fikomisetes, Blastomises dermatitidis, histoplasma kapsulatum.
Selain disebabkan oleh infeksi, pneumonia juga bisa di sebabkan oleh bahan-
bahan lain/non infeksi :
a) Pneumonia Lipid : Disebabkan karena aspirasi minyak mineral
b) Pneumonia Kimiawi : Inhalasi bahan-bahan organik dan anorganik atau
uap kimia seperti berillium
c) Extrinsik allergic alveolitis : Inhalasi bahan debu yang mengandung
alergen seperti spora aktinomisetes termofilik yang terdapat pada ampas
debu di pabrik gula
d) Pneumonia karena obat : Nitofurantoin, busulfan, metotreksat
e) Pneumonia karena radiasi
f) Pneumonia dengan penyebab tak jelas.
Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah:
a) virus sinsisial pernafasan
b) Adenovirus
c) virus parainfluenza
d) virus influenza
Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui :
a) Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar.
b) Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
c) Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.
Faktor resiko
Faktor-faktor resiko terkena pneumonia, antara lain: Infeksi Saluran Nafas
Atas (ISPA), usia lanjut, alkoholisme, rokok, kekurangan nutrisi, Umur dibawah 2
bulan, Jenis kelamin laki-laki , Gizi kurang, Berat badan lahir rendah, Tidak
mendapat ASI memadai, Polusi udara, Kepadatan tempat tinggal, Imunisasi yang
tidak memadai, Membedong bayi, efisiensi vitamin A dan penyakit kronik
menahun. Selain faktor-faktor resiko diatas, faktor-faktor di bawah ini juga
mempengaruhi resiko dari pneumonia :
1. Individu yang mengidap HIV
2. Individu yang terpajan ke aerosol dari air yang lama tergenang
3. Individu yang mengalami aspirasi isi lambung
4. Karena muntah air akibat tenggelam
5. Bahan yang teraspirasi
Pneumonia paling sering diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus, atau
mikoplasma, atau aspirasi benda asing. Organisme utama penyebab pnuemonia
bakteri pada bayi berusia kurang dari 3 bulan adalah streptococcus pneumonia,
streptococcus grup A, staphylococcus, basil gram-negatif, basil enterik, dan
chlamydia. Pada anak-anak berusia antara tiga bulan sampai 5 tahun, S.
Pneumoniae, H. Influenzae (menurun sejak diberikan vaksin), dan staphylococcus
merupakan organisme umum penyebab pneumonia bakteri. Pneumonia virus lebih
sering terjadi dibandingkan pneumonia bakteri. Penyebab paling sering
pneumonia virus pada bayi adalah RSV. Adeno –associated virus, virus influenza
dan parainfluenza merupakan organisme yang biasanya menyebabkan pneumonia
virus pada anak-anak yang lebih besar. Pneumonia mikoplasma mirip dengan
pneumonia virus, kecuali bahwa organisme mycoplasma lebih besar dibandingkan
virus. Pneumonia mikoplasma terjadi lebih sering pada anak-anak berusia lebih
dari 5 tahun.

1.3 Manifestasi Klinis


Pneumonia bakterial (atau pneumokokus) secara khas diawali dengan awitan
menggigil, demam yang timbul dengan cepat (39,5oC sampai 40,5oC), dan nyeri
dada yang terasa ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernapas dan batuk. Pasien
sangat sakit dengan takipnea sangat jelas (25 sampai 45 kali/menit) disertai
dengan pernapasan mendengkur, pernapasan cuping hidung, dan penggunaan otot-
otot aksesori pernapasan.
Pneumonia atipikal beragam dalam gejalanya, tergantung pada organisme
penyebab. Banyak pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (kongesti
nasal, sakit tenggorok), dan awitan gejala pneumonianya bertahap. Gejala yang
menonjol adalah sakit kepala, demam tingkat rendah, nyeri pleuritis, mialgia,
ruam, dan faringitis. Setelah beberapa hari, sputum mukoid atau mukopurulen
dikeluarkan.
Nadi cepat dan bersambungan (bounding). Nadi biasanya meningkat sekitar
10 kali/menit untuk setiap kenaikan satu derajat Celcius. Bradikardia relatif untuk
suatu demam tingkatan tertentu dapat menandakan infeksi virus, infeksi
mycoplasma, atau infeksi dengan spesies Legionella.
Pada banyak kasus pneumonia, pipi berwarna kemerahan, warna mata
menjadi lebih terang, dan bibir serta bidang kuku sianotik. Pasien lebih menyukai
untuk duduk tegak di tempat tidur dengan condong ke arah depan, mencoba untuk
mencapai pertukaran gas yang adekuat tanpa mencoba untuk batuk atau napas
dalam. Pasien banyak mengeluarkan keringat. Sputum purulen dan bukan
merupakan indikator yang dapat dipercaya dari etiologi. Sputum berbusa, bersemu
darah sering dihasilkan pada pneumonia pneumokokus, stafilokokus, Klebsiella,
dan streptokokus. Pneumonia Klebsiella sering juga mempunyai sputum yang
kental; sputum H. influenzae biasanya berwarna hijau.
Tanda-tanda lain terjadi pada pasien dengan kondisi lain seperti kanker, atau
pada mereka yang menjalani pengobatan dengan imunosupresan, yang
menurunkan daya tahan terhadap infeksi dan terhadap organisme yang
sebelumnya tidak dianggap patogen serius. Pasien demikian menunjukkan
demam, krekles, dan temuan fisik yang menandakan area solid (konsolidasi) pada
lobus-lobus paru, termasuk peningkatan fremitus taktil, perkusi pekak, bunyi
napas bronkovesikular atau bronkial, egofoni (bunyi mengembik yang
terauskultasi), dan bisikan pektoriloquy (bunyi bisikan yang terauskultasi melalui
dinding dada). Perubahan ini terjadi karena bunyi ditransmisikan lebih baik
melalui jaringan padat atau tebal (konsolidasi) ketimbang melalui jaringan
normal.
Pada pasien lansia atau mereka dengan PPOM, gejala-gejala dapat
berkembang secara tersembunyi. Sputum purulen mungkin menjadi satu-satunya
tanda pneumonia pada pasien ini. Sangat sulit untuk mendeteksi perubahan yang
halus pada kondisi mereka karena mereka telah mengalami gangguan fungsi paru
yang serius.
1.4 Patofisiologi
Pneumonia bakterial menyerang baik ventilasi maupun difusi. Suatu reaksi
inflamasi yang dilakukan oleh pneumokokus terjadi pada alveoli dan
menghasilkan eksudat, yang mengganggu gerakan dan difusi oksigen serta karbon
dioksida. Sel-sel darah putih, kebanyakan neutrofil, juga bermigrasi ke dalam
alveoli dan memenuhi ruang yang biasanya mengandung udara. Area paru tidak
mendapat ventilasi yang cukup karena sekresi, edema mukosa, dan bronkospasme,
menyebabkan oklusi parsial bronki atau alveoli dengan mengakibatkan penurunan
tahanan oksigen alveolar. Darah vena yang memasuki paru-paru lewat melalui
area yang kurang terventilasi dan keluar ke sisi kiri jantung tanpa mengalami
oksigenasi. Pada pokoknya, darah terpirau dari sisi kanan ke sisi kiri jantung.
Percampuran darah yang teroksigenasi dan tidak teroksigenasi ini akhirnya
mengakibatkan hipoksemia arterial.
Sindrom Pneumonia Atipikal. Pneumonia yang berkaitan dengan
mikoplasma, fungus, klamidia, demam-Q, penyakit Legionnaires’. Pneumocystis
carinii, dan virus termasuk ke dalam sindrom pneumonia atipikal.
Pneumonia mikoplasma adalah penyebab pneumonia atipikal primer yang
paling umum. Mikoplasma adalah organisme kecil yang dikelilingi oleh membran
berlapis tiga tanpa dinding sel. Organisme ini tumbuh pada media kultur khusus
tetapi berbeda dari virus. Pneumonia mikoplasma paling sering terjadi pada anak-
anak yang sudah besar dan dewasa muda.
Pneumonia kemungkinan ditularkan oleh droplet pernapasan yang
terinfeksi, melalui kontak dari individu ke individu. Pasien dapat diperiksa
terhadap antibodi mikoplasma.
Inflamasi infiltrat lebih kepada interstisial ketimbang alveolar. Pneumonia
ini menyebar ke seluruh saluran pernapasan, termasuk bronkiolus. Secara umum,
pneumonia ini mempunyai ciri-ciri bronkopneumonia. Sakit telinga dan miringitis
bulous merupakan hal yang umum terjadi. Pneumonia atipikal dapat menimbulkan
masalah-masalah yang sama baik dalam ventilasi maupun difusi seperti yang
diuraikan dalam pneumonia bakterial.
WOC: Pneumonia
1.5 Pemeriksaan Penunjang
1) Chest X-ray: teridentifikasi adanya penyebaran (misalnya: lobus dan
bronkhial); dapat juga menunjukan multipel abses/infiltrat, empiema
(staphylococcus); penyebaran atau lokasi infiltrat (bakterial); atau
penyebaran/extensive nodul infiltrat (sering kali viral), pneumonia mycoplasma
chest X-ray mungkin bersih.
2) Analisis gas darah (analysis blood gasses-ABGs) dan pulse oximetry:
abnormalitas mungkin timbul tergantung dari luasnya kerusakan paru-paru.
3) Pewarna Gram/culture sputum dan darah: didapatkan dengan needly biopsy,
apirasi transtrakheal, fiberoptic bronchoscopy, atau biopsi paru-paru terbuka
untuk mengeluarkan organisme penyabab. Lebih dari satu tipe organisme yang
dapat ditemukan, seperti diplococcus pneumonia, staphylococcus aureus, A.
Hemolytic streptococcus , dan hemophilus influenzae.
4) Periksa darah lengkap (complete blood count-): leukositosis biasanya timbul,
meskipun nilai pemeriksaan darah putih (white blood coun-WBC) rendah pada
infeksi virus
5) Tes serologi : membantu dalam membedakan diagnosis pada organisme secara
spesifik
6) LED: meningkat
7) Pemeriksaan fungsi paru-paru: volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps
alveolar): tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas pemenuhan udara
menurun, hipoksemia
8) Elektrolit :sodium dan klorida mungkin rendah
9) Bilirubin mungkin meningkat

1.6 Penatalaksanaan Medis


Terapi antibiotic
Merupakan terapi utama pada pasien pneumonia dengan manifestasi apapun,
yang dimaksudkan sebagai terapi kausal terhadap kuman penyebabnya.
Terapi suportif umum
a. Terapi O2 untuk mencapai PaO2 80-100 mmHg atau saturasi 95-96 %
berdasar pemeriksaan AGD
b. Humidifikasi dengan nebulizer untuk mengencerkan dahak yang kental
c. Fisioterapi dada untuk pengeluaran dahak, khususnya anjuran untuk batuk
dan napas dalam
d. Pengaturan cairan: pada pasien pneumonia, paru menjadi lebih sensitif
terhadap pembebanan cairan terutama pada pneumonia bilateral
e. Pemberian kortikosteroid, diberikan pada fase sepsis
f. Ventilasi mekanis : indikasi intubasi dan pemasangan ventilator dilakukan
bila terjadi hipoksemia persisten, gagal napas yang disertai peningkatan
respiratoy distress dan respiratory arrest
g. Drainase empiema bila ada.
II. Manajemen Keperawatan
2.1 Pengkajian
1. Identitas
Data yang didapat dari klien dan keluarga
2. Keluhan Utama
Keluhan yang dirasakan saat dikaji
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Kejadian sebelum masuk rumah sakit sampai masuk rumah sakit dan dirawat
inapkan
4. Riwayat Penyakit sebelumnya
Penyakit yang pernah dialami sebelumnya
5. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit keluarga baik yang menular atau menurun
Data Fokus:
1. Aktivitas/istirahat
Gejala: Kelemahan, kelelahan, insomnia. Tanda: Letargi, penurunan toleransi
terhadap aktivitas.
2. Sirkulasi
Gejala: Riwayat adany/GJK kronis. Tanda: Takikardia, penampilan kemerahan
atau pucat.
3. Integritas
Gejala: Banyaknya stresor, masalah finansial.
4. Makanan/cairan
Gejala: Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, riwayat diabetes melitus.
Tanda: Distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor
buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi).
5. Neurosensori
Gejala: Sakit kepala daerah frontal (influenza). Tanda: Perubahan mental
(bingung, somnolen).
6. Nyeri/keamanan
Gejala: Sakit kepala, nyeri dada (pleuritik), meningkat oleh batuk; nyeri dada
substernal (influenza), mialgia, artralgia. Tanda: Melindungi area yang sakit
(pasien umumnya tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan).
7. Pernapasan
Gejala: Riwayat adanya/ISK kronis, PPOM, merokok sigaret, takpnea, dispnea
progresif, pernapasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal.
Tanda: Sputum: merah muda, berkarat, atau purulen, perkusi: pekak di atas
area yang konsolidasi, fremitus: taktil dan vokal bertahap meningkat dengan
konsolidasi, gesekan friksi pleural, bunyi napas: menurun atau tak ada di atas
area yang terlibat, atau napas bronkial, warna: pucat atau sianosis bibir/kuku.
8. Keamanan
Gejala: Riwayat gangguan sistem imun, mis: SLE, AIDS, penggunaan steroid
atau kemoterapi, institusionalisasi, ketidakmampuan umum, demam (mis:
38, 5-39,6oC). Tanda: Berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan
mungkin ada pada kasus rubeola atau varisela.
9. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: Riwayat mengalami pembedahan; penggunaan alkohol kronis.
Pertimbangan: DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 6,8 hari. Rencana
pemulangan: Bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah,
oksigen mungkin diperlukan bila ada kondisi pencetus.

2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d peningkatan produksi sputum.
2. Gangguan pertukaran gas b/d pneumonia.
3. Intoleransi aktivitas b/d kerusakan pertukaran gas sekunder terhadap
pneumonia.
4. Nyeri akut b/d inflamasi parenkim paru.
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d peningkatan kebutuhan metabolik
sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
6. Risiko kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan berlebihan (demam,
berkeringat banyak, napas mulut/hiperventilasi, muntah).
7. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun sekunder tehadap
gangguan pernapasan, batuk ditandai dengan pasien mengatakan sering
terbangun di malam hari karena sulit bernapas dan batuk, tampak lelah.
2.3 Intervensi
RENCANA KEPERAWATAN

NO Diagnosa Tujuan Dan Kriteria Intervensi Rasional


Hasil
1. Bersihan jalan Setelah dilakukan 1. Kaji frekuensi 1. Takipnea, pernafasan dangkal,
napas tidak tindakan asuhan pernapasan dan gerakan dada tidak simetris sering
efektif b.d keperawatan selama gerakan dada terjadi karna ketidaknyamanan
peningkatan 2x24 jam diharapkan 2. Auskultasi area paru gerakan dinding dada dan cairan
produksi bersihan jalan nafas 3. Ajarkan latihan nafas paru
sputum efektif dengan dalam 2. Penurunan aliran udara terjadi pada
kriteria hasil: 4. Beri minum air area konsolidasi dengan cairan.
1. Jalan nafas paten hangat Bunyi napas bronkial dapat juga
2. Bunyi nafas bersih 5. Kolaborasi terjadi pada area konsolidasi.
3. Tidak ada sekret pemberian obat Krekels, ronki, mengi terdengar
4. Tidak ada bunyi napas sesuai indikasi pada inspirasi dan ekspirasi pada
tambahan respon terhadap pengumpulan
5. Tidak ada dipsnea cairan, sekret kental, spasme jalan
6. Tidak sianosis napas obstruksi.
3. Nafas dalam memudahkan ekspansi
paru. Batuk pembersihan jalan
napas alami, membantu silia
mempertahankan jalan napas
paten.
4. Cairan atau air hangat memobilisasi
dan mengeluarkan sekret
5. Analgetik untuk memperbaiki batuk
dengan menurunkan
ketidaknyamanan.
2. Gangguan Setelah dilakukan 1. Kaji frekuensi dan 1. manifestasi distres pernafasan
pertukaran gas tindakan asuhan kedalaman bernafas tergantung pada derajat
keperawatan selama 2. Observasi warna keterlibatan paru dan kesehatan
3x24 jam diharapkan kulit umum
gangguan pertukaran 3. Observasi suhu 2. Sianosis kuku menunjukan
gas dapat teratasi badan vasokontriksi respon tubuh
dengan kriteria hasil: 4. Atur posisi yang terhadap demam dan sianosis daun
1. Perbaikan ventilasi nyaman telinga membran mukosa, kulit
2. Oksigenasi jaringan 5. kolaborasi pemberian sekitar mulut menunjukan
GDA normal terapi oksigen hipoksemia sistemik.
3. Tidak ada distres 3. Demam tinggi sangat meningkatkan
pernafasan kebutuhan metabolik dan
kebutuhan oksigen
4. Meninggikan kepala dapat
meningkatkan inspirasi maksimal,
meningkatkan pengeluaran sekret
untuk memperbaiki ventilasi.
5. Mempertahankan PaO2 dan
mengurangi sesak.
3. Intoleransi Setelah dilakukan 1. Kaji respon terhadap 1. Menetapkan kemampuan pasien
aktivitas b.d tindakan asuhan aktivitas dan memudahkan pilihan
kerusakan keperawatan selama 2. Atur posisi yang intervensi
pertukaran gas 2x24 jam diharapkan nyaman 2. Kepala tinggi membuat nyaman
sekunder intoleransi aktivitas 3. Berikan lingkungan untuk istirahat dan tidur
terhadap dapat teratasi dengan yang tenang dan 3. Menurunkan stres dan rangsangan
pneumonia kriteria hasil: batasi pengunjung berlebihan, meningkatkan istirahat
1. peningkatan toleransi 4. Bantu aktivitas 4. Meminimalkan kelelahan dan
terhadap aktivitas perawatan diri membantu keseimbangan suplai
2. Tidak ada dipsnea dan kebutuhan oksigen
3. Tidak ada kelemahan
berlebihan
4. Tanda-tanda vital
dalam rentang normal
4. Nyeri akut b.d Setelah dilakukan 1. Kaji karakteristik 1. Nyeri dada beberapa derajat dan
inflamasi tindakan asuhan nyeri dada timbul komplikasi seperti
parenkim paru keperawatan selama 2. Observasi TTV perikarditis dan endokarditis
2x24 jam diharapkan 3. Berikan latihan 2. Perubahan frekuensi jantung atau
nyeri akut berkurang relaksasi tekanan darah menunjukan adanya
dnegan kriteria hasil: 4. Ajarakan teknik nyeri
1. Menunjukan rileks menekan dada 3. Pijat punggung, mendengar musik,
2. Dapat istirahat dan selama batuk membaca,, berbincang dapat
tidur dengan nyaman 5. Kolaborasi menghilangkan ketidaknyaman
3. Peningkatan aktivitas pemberian dan memperbesar efek terafi
4. Tidak ada nyeri analgesik dan analgesik
antitusif sesuai 4. Untuk mengontrol
indikasi ketidaknyamanan dada sementara
meningkatakan keefektifan upaya
batuk
5. Untuk menekan batuk non
produktif atau menurunkan
mukosa berlebih, meningkatkan
kenyamanan istrirahat umum
5. Nutrisi kurang Setelah dilakukan 1. Pantau presentase 1. Menidentifikasikan kemajuan atau
dari tindakan asuhan jumlah makanan penyimpangan dari sasaran yang
kebutuhan b.d keperawatan selama 2. Anjurkan memakan diharapan
peningkatan 3x24 jam makanan kondisi 2. Makanan yang hangat lebih enak
kebutuhan diharapakan hangat dikonsumsi
metabolik kebutuhan nutrisi 3. Berikan porsi sedikit 3. Meningkatkan masukan dan sedikit
sekunder kurang dapat tapi sering alergi
terhadap terpenuhi dengan 4. Kolaborasi dengan 4. Membantu memilih makanan yang
demam dan kriteria hasil: ahli gizi untuk diet memenuhi kebutuhan kalori dan
proses infeksi 1. Menunjukan makan nutrisi sesuai sakitnya, usia, tinggi
peningkatan masukan dan berat badan.
makanan
2. Meningkatkan berat
badan
3. Frekuensi makan
meningkat
4. Perasaan sejahtera
6. Risiko Setelah dilakukan 1. Kaji TTV 1. Peningkatan suhu meningkatkan
kekurangan tindakan asuhan 2. Kaji turgo kulit laju metabolik dan kehilangan
volume cairan keperawatan selama 3. Observasi intake dan cairan melalui evaporasi,
b.d kehilangan 3x24 jam output peningkatan takikardia
cairan diharapakan resiko 4. Anjurkan banyak menunjukkan kekuranag cairan
berlebihan kekurangan volume minum air sebanyak sistemik
cairan dapat teratasi 2.500cc/hari 2. Indikator keadekuatan volume
dengan kriteria hasil: 5. Kolaborasi dalam cairan dan oksigen tambahan
1. Menunjukan pemberian cairan 3. Memberi informasi keadekuatan
keseimbangan cairan tambahan melalui volume cairan
optimal IV 4. Pemenuhan kebutuhan dasar cairan,
2. Membran mokusa menurunkan resiko dehidrasi
lembab 5. Dapat memperbaiki dan mencegah
3. Turgo kulit baik kekurangan
4. Pengisian kapiler cepat
5. Tanda Vital normal
7. Gangguan pola Setelah dilakukan 1. Kaji kabiasaan tidur 1. Mengidentifikasikan intervensi
tidur b.d tindakan asuhan 2. Atur posisi yang yang tepat
sering keperawatan selama nyaman 2. Meningkatan kenyaman tidur dan
terbangun 2x24 jam diharapkan 3. Ajarkan tindakan dukungan psikologis
gangguan pola tidur relaksi 3. Membantu menginduksikan tidur
dapat teratasi dengan 4. Bantu mengubah 4. Mengubah area tekanan dan
kriteria hasil: posisi meningkatkan istirahat.
1. Pola tidur normal 5. kolaborasi dalam
2. Tidur 7-8 jam pemberian obat
3. Tidur lebih nyenyak tidur
4. Batuk berkurang
2.4 Implementasi
Implementasi merupakan tindakan keperawatan yang akan dilakukan sesuai
dengan intervensi keperawatan meliputi baik tindakan mandiri, kolaborasi dan di
bawah perintah dokter. Tujuan implementasi dilakukan agar memberikan
pelayanan untuk peningkatan kesehatan, pencegahan, pengobatan guna
kesembuhan pasien.
Tindakan keperawatan mandiri seperti prilaku, peningkatan kesehatan dan
upaya pencegahan, pengaturan posisi dan intervensi mandiri.
Tindakan mandiri : aktivitas perawat yang dilakukan atau yang didasarka
pada kesimpulan sendiri dan bahan petunjuk dan perintah tenaga kesehatan lain.
Tindakan kolaborasi: tindakan yang dilaksanakan atas hasil keputusan
bersama dengan dokter dan petugas kesehatan lain.

2.5 Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan
pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan dengan cara
berkesinambungan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Alsagaf, 2010. Kanker Paru dan Terapi Paliatif. Surabaya: Penerbit Air Langga.
Defa, 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Kanker Paru. Pontianak:
Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah.
Doenges, 2010. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Smeltzer & Bare, 2012. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Suyono, 2011. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.