Anda di halaman 1dari 27

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
MEKANIKA FLUIDA & PERPINDAHAN MASSA

ABSORBSI GAS CO2

DISUSUN OLEH :

NAMA / NIM : 1. Nur Aisyiyah Rahmah / 16 644 002


2. Bintang Jaya Saputra / 16 644 006
3. Sri Yuvita Dewi Askari / 16 644 015
4. Adjie Saputra / 16 644 019
JENJANG : S1-Terapan
KELAS : IV B
KELOMPOK : 1 (Satu)
DOSEN : Irmawati Syahrir, S. T., M. T

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal ....................................................... 2018

Mengesahkan dan Menyetujui


Dosen Pembimbing

Irmawati Syahrir, S. T., M. T.


NIP 19690326 200003 2 001
BAB I

Pendahuluan

1.1 Tujuan Percobaan


 Mengukur laju absorbsi gas CO2 ke dalam air yang mengalir ke bawah kolom
menggunakan alat analisa gas hampl
 Menghitung laju absorbsi gas CO2 ke dalam air menggunakan metode titrasi
1.2 Dasar Teori
1.2.1 Absorbsi
Absorpsi merupakan proses yang terjadi ketika suatu komponen gas (absorbat)
berdifusi ke dalam cairan (absorben) dan membentuk suatu larutan. Prinsip dasar dari
absorpsi adalah memanfaatkan besarnya difusivitas molekul-molekul gas pada
larutan tertentu. Bila campuran gas dikontakkan dengan cairan yang mampu
melarutkan salah satu komponen dalam gas tersebut dan keduanya dikontakkan
dalam jangka waktu yang cukup lama pada suhu tetap, maka akan terjadi suatu
kesetimbangan dimana tidak terdapat lagi perpindahan massa. Driving force dalam
perpindahan massa ini adalah tingkat konsentrasi gas terlarut (tekanan parsial) dalam
total gas melebihi konsentrasi kesetimbangan dengan cairan pada setiap waktu.
Sebagai ilustrasi dapat diamati, bila gas (rich gas) yang mudah larut dalam air
dengan konsentrasi tertentu memasuki bagian bawah kolom absorbsi, bergerak anik
secara berlawanan arah (countercurrent) dengan air murni yang bergerak turun
melalui bagian atas kolom, akan jelas terlihat bahwa jumlah gas yang ter;arut dalam
total gas keluar akan turun (lean gas) dan konsentrasi gas dalam air akan naik. Laju
yang menunjukkan perpindahan molekul terlarut yang terabsorbsi dikenal dengan
interface mass-transfer rate dan bergantung dengan jumlah permukaan kontak kedua
fluida. Jumlah area kontak tersebut berhubungan erat dengan ukuran dan bentuk
material isian (packing), laju cairan, distribusi cairan antar permukaan packing,
potensi cairan untuk menggenang, dan sifat-sifat lain.
1.2.2 Macam-macam Absorbsi
Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-gaya fisible
atau ikatan kimia. Ada 2 macam absorbsi yaitu :
1. Absorbsi Fisik
Absorbsi fisik merupakan proses penyerapan dimana gas terlarut dalam cairan
menyerap tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi
H2S dengan air, metanol, propilen, dan karbonat. Penyerapan terjadi karena
adanya interaksi fisik, difusi gas ke dalam air, atau pelarutan gas ke fase cair.
2. Absorbsi Kimia
Absorbsi kimia merupakan proses penyerapan dimana gas terlarut di dalam
larutan penyerap disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah
absorbsi dengan larutan MEA, NaOH, K2CO3, dan sebagainya. Aplikasi dari
absorbsi kimia dapat dijumpai pada poses penyerapan gas CO2 pada pabrik
amoniak. Penggunaan absorbsi kimia pada fase kering sering digunakan untuk
mengeluarkan zat terlarut secara lebih sempurna dari campuran massa gas.
Absorbsi kimia juga dapat berlangsung di daerah yang hampir stagnan.
1.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Absorbsi
1. Luas Pemukaan Kontak
Semakin besar permukaan gas dan pelarut yang kontak, maka laju absorpsi
yang terjadi juga akan semakin besar. Hal ini dikarenakan, permukaan kontak
yang semakin luas akan meningkatkan peluang gas untuk berdifusi ke pelarut.
2. Laju Alir Fluida
Jika laju alir fluida semakin kecil, maka waktu kontak antara gas dengan
pelarut akan semakin lama. Dengan demikian, akan meningkatkan jumlah gas
yang berdifusi.
3. Konsentrasi Gas
Perbedaan konsentrasi merupakan salah satu driving force dari proses difusi yang
terjadi antar dua fluida.
4. Tekanan Operasi
Peningkatan tekanan akan meningkatkan efisiensi pemisahan.
5. Temperatur Komponen Terlarut dan Pelarut
Temperatur pelarut hanya sedikit berpengaruh terhadap laju absorbsi.
6. Kelembaban Gas
Kelembaban yang tinggi akan membatasi kapasitas gas untuk mengambil
kalor laten, hal ini tidak disenangi dalam proses absorbsi. Dengan demikian,
proses dehumidification gas sebelum masuk ke dalam kolom absorber sangat
dianjurkan.
1.2.4 Absorben
Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan diabsorbsi pada
permukannya, baik secara fisik maupun dengan reaksi kimia. Berlawanan dengan
adsorben memiliki permukaan dalam yang luas, pada adsorben yang harus dibuat
luas adalah permukaan luarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan mencerai-beraikan
cairan, misalnya menjadi tetesan-tetesan. Absorben (juga sering disebut dengan
cairan pencuci) harus memenuhi persyaratan yang sangat beragam misalnya bahan
itu harus :
 Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorbsi sebesar mungkin
(kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil)
 Sedapat mungkin sangat selektif
 Memiliki tekanan uap rendah
 Sedapat mungkin tidak korosif
 Mempunyai viskositas yang rendah
 Stabil secara rendah
 Murah
Absorben yang sering digunakan adalah air (untuk gas-gas yang dapat larut atau
untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan), Natrium Hidroksida (untuk gas-
gas yang dapat bereaksi dengan asam) dan Asam Sulfat (untuk gas-gas yang bereaksi
dengan basa). Berdasarkan aturan ekonomi dan kelestarian lingkungan absorben
kebanyakan dikembalikan ke dalam alat absorbsi dengan sirkulasi sehingga bahan
tersebut terbebani secara penuh. Kemudian absorben diolah lebih lanjut untuk
keperluan lain, dibuat menjadi tidak berbahaya atau diregenerasi.
1.2.5 Jenis-jenis Kolom Absorber
Secara umum kolom absorber dibagi menjadi 3 yaitu :
a. Packed Bed Column
b. Plate Column
c. Spray Column

Gambar 1.1 Packed Bed Column Gambar 1.2 Plate Column

Gambar 1.3 Spray Column


Aliran fluida dalam kolom absorber dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :
a. Cross-flow → bersilangan
b. Countercurrent → berlawanan arah
c. Co-current → searah
1.2.6 Menara Packed Bed
Packed bed column adalah sebuah alat untuk proses kimia yang terdiri dari sebuah
hollow tube, pipe, atau vessel lainnya yang diisi material packing lainnya.

Gambar 1.4 Peralatan Absorbsi


Keterangan :
1. Piston Gas 11. S1 (Valve Keluaran Gas Kolom 1)
2. Flowmeter Udara 12. Kolom Absorbsi
3. Flowmeter CO2 13. S2 (Valve Keluaran Gas Kolom 2)
4. Flowmeter Water 14. S3 (Valve Keluaran Gas Kolom 3)
5. Manometer 15. S4 (Valve Keluaran Air 1)
6. Switch Control Air 16. S5 (Valve Keluaran Air 2)
7. Switch Control Water 17. Tabung Bola
8. Sump Tank 18. Air Control Valve
9. Water Pump 19. Water Control Valve
10. Air Compressor 20. Gas Flow Control Valve
a. Keunggulan Menara Packed Bed
 Fabrikasi yang minim
Kolom isian hanya membutuhkan sejenis packing support dan sebuah
distributor cairan untuk tiap ketinggian 10 ft.
 Versatilitas
Materi isian dapat dengan mudah ditukar sehingga mudah meningkatkan
efisiensi, menurunkan pressure drop, dan meningkatkan kapasitas.
 Minim Korosi
Larutan asam dan larutan yang bersifat korosif lainnya dapat diatasi oleh
packed bed column karena konstruksi kolom terbuat dari material yang tahan
korosi.
 Pressure Drop yang Rendah
Lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis Sieve Tray.
 Capital Cost yang rendah
Bila digunakan isian plastik dengan diameter kurang dari 3 ft, investasi masih
dianggap murah.
b. Kelemahan Menara Packed Bed
 Jika terdapat padatan atau pengotor, maka akan sulit dibersihkan
 Isian packed bed column akan mudah patah selama proses pengisian dan proses
pemanasan
 Tidak ekonomis jika laju alir pelarut tinggi
c. Ketentuan Isian dari Menara Packed Bed
 Bersifat inert terhadap fluida
 Kuat tetapi tidak berat
 Memiliki fraksi kekosongan yang cukup untuk menjamin kontak yang optimal
namun tidak menaikkan pressure drop
 Biaya murah
Terdapat dua metode pengisian packing pada kolom absorber yaitu :
 Random Packing
Pengisian secara acak memberikan luas permukaan spesifik yang besar
dan porositas yang lebih kecil, sehingga menurunkan biaya investasi. Namun,
pressure drop yang dihasilkan akan lebih besar.
 Regular or Stack Packing
Pengisian yang tersusun memberikan pressure drop yang lebih kecil dan
efektif untuk laju alir yang tinggi. Namun, investasi lebih besar.

Gambar 1.5 Jenis Isian dalam Packed Bed Column


d. Pressure Drop pada Packed Bed Column
Faktor penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan kolom isian
adalah besarnya pressure drop. Hal ini terutama berkaitan dengan fenomena yang
disebut dengan flooding (penggenangan), dimana cairan yang seharusnya
bergerak menuruni kolom, tertahan pergerakannya oleh tekanan gas yang terlalu
besar atau ruang antar isian terlalu rapat.
Fenomena flooding dapat terjadi bila pada laju alir gas konstan, laju alir
cairan dinaikkan sehingga cairan mengisi lebih banyak ruang antar isian dan
mengurangi ruang gerak gas. Bila hal ini terus terjadi, maka akan timbul
fenomena flooding cairan serta kenaikan pressure drop yang tinggi. Hampir sama
dengan di atas, untuk laju alir cairan turun yang tetap, ternyata laju alir gas
ditingkatkan sehingga pressure drop ikut naik, maka akan terjadi flooding.
1.2.7 Absorbsi dan Menara Isian
Suatu alat yang hanya di pergunakan adalah absorbsi gas dan beberapa operasi
lain yaitu menara isian. Piranti ini terdiri dari sebuah kolom berbentuk silinder atau
menara yang dilengkapi dengan pemasukan gas dan ruang distribusi pada bagian
bawah, pemasukan cairan dan distribusinya pada bagian atas. Sedang pengeluaran
gas dan zat cair masing – masing diatas dan dibawah, serta suatu massa bentukan zat
padat tak aktif (inert) diatas penyangga. Bantuan ini disebut isi menara (packing),
dimana penyangga itu harus mempunyai fraksi ruang terbuka yang cukup terbuka
dan cukup besar, untuk mencegah terjadinya pembanjiran pada piringan penyangga
itu.
Ada dua jenis isian menara yang lazim yaitu yang disikan dengan mencurahkan
secara acak kedalam menara dengan tangan. Isian curah ini terdiri dari satuan-satuan
dengan dimensi utama ¼ sampai 3 inchi, dimana isian yang ukurannya kurang dari 1
inchi dipergunakan dalam kolom-kolom laboratorium atau instalasi percobaaan (pilot
plant), satuan-satuan isian disusun dengan tangan biasanya mempunyai ukuran antara
2-8 inchi. Karakteristik bahan isian yang baik :
1. Tidak dapat bereaksi dengan bahan yang akan diserap
2. Kuat tetapi tidak terlalu berat
3. Mengandung cukup banyak larutan untuk kedua arus tanpa terlalu banyak zat cair
yang terperangkap atau menyebabkan penurunan tekanan yang terlalu tinggi
4. Memiliki kontak permukaaan yang luas
5. Tidak terlalu mahal
Jadi, dapat disimpulkan bahwa isian menara terbuat dari bahan-bahan yang
murah, tidak bereaksi dan ringan, seperti lumpung, porselin, dan berbagai bahan
plastik. Alat absorbsi disebut juga absorben adalah tempat campuran gas dan
absorben yang dikontakkan satu sama lain secara intensif, biasanya dalam arah
berlawanan. Untuk maksud tersebut absorben didistribusikan sebaik mungkin
(permukaan dibuat luas), dengan bantuan perlengkapan yang khusus misalnya
(penyemprot, bahan pengisi, pelat, benda rotasi). Gas dialirkan melalui tirai cairan
yang terbentuk. Agar terjadi perpindahan massa dan panas yang baik, umumnya
lebih menguntungkan jika operasi dilakukan dengan cara laju alir cairan dan gas
yang setinggi mungkin. Namun seperti pada kolom rektifikasi, operai harus tetap di
bawah batas peluapan.
Besarnya absorben (juga kuantitas absorben yang diperlukan) tidak hanya
ditentukan oleh jumlah gas yang akan diolah, melainkan juga oleh daya melarutkan
dari absorben dan kecepatan pelarutan. Absorbsi kimia misalnya sering berlangsung
begitu cepatnya sehingga diperlukan jumlah tahap yang lebih sedikit daripada
absorbsi fisik (alat menjadi lebih kecil). Seperti telah disinggung sebelumnya, pada
proses absorbsi sering diperlukan perlengkapan pendingin. Alat ini dapat dijadikan
satu dengan absorber atau dipasang dalam sistem sirkulasi absorber. Pada operasi
kontinyu harus tersedia dua absorber secara bergantian, alat yang satu digunakan
untuk absorbsi dan alat yang lain untuk regenerasi absorben yang telah terbebani.
Kadang-kadang satu kali absorbsi tidak cukup untuk memisahkan campuran multi
komponen. Dalam hal ini, dua atau lebih absorben harus dipasang secara seri.
Dengan cara tersebut dimungkinkan misalnya untuk membersihkan gas buang
yang berasal dari berbagai reaktor, gas tersebut dapat berupa campuran yang
mengandung gas yang bersifat netral asam dan basa. Pemisahan dapat dilakukan
dengan menggunakan tiga absorber yang dihubungkan secara seri (dengan air,
natrium hidroksida dan asam sulfat). Selain itu absorber seringkali digunakan untuk
melakukan presipitasi bahn-bahan padat (debu) dalam kuantitas kecil yang ikut
terbawa dalam campuran gas. Alat-alat absorbsi yang terpenting adalah alat pencuci
seperti contoh menara :
 Menara Pencuci dan Menara Lintang
 Pencuci Pusaran
 Pencuci Pancaran
 Pencuci Rotasi
 Pencuci Venture
 Alat Pemisah Loncatan Tekanan
 Kompresor adalah alat mekanik yang berfungsi untuk meningkatkan tekanan
fluida. Tujuan meningkatkan tekanan untuk mengalirkan kebutuhan proses dalam
suatu sistem proses yang lebih besar. Secara umum kompresor dibagi menjadi 2
yaitu dinamik dan perpindahan panas.
1.2.8 Laju Absorbsi
Laju yang menunjukkan perpindahan molekul terlarut yang terabsorbsi dikenal
dengan interface mass-transfer rate dan bergantung dengan jumlah permukaan
kontak kedua fluida. Jumlah area kontak tersebut berhubungan erat dengan ukuran
dan bentuk material isian (packing), laju aliran, distribusi cairan antar permukaan
packing, potensi cairan untuk menggenang, dan sifat-sifat lain.
1.2.9 Pengukuran Laju Absorbsi Gas CO2
Pengukuran laju absorbsi gas CO2 dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu :
1. Metode Analisa Gas Hampl

Gambar 1.6 Analisa Gas


Gambar 1.7 Analisa Gas Hampl
Berikut adalah tahapan-tahapan analisan gas hampl :
a. Mengisi dua tabung bola pada alat analisa dengan NaOH 0,1 M lalu mengatur
level pada tabung hingga skala 0 pada pipa menggunakan valve pembuangan
C dan menampung buangan kedalam labu. Membersihkan saluran
pengambilan contoh dengan mengisap tabung berulang-ulang menggunakan
piston gas dan mengeluarkan ke atmosfer. Menutup saluran ke tabung
penyerapan dan lubang atmosfer juga di tutup.
b. Mengisi tabung penghisap melalui piston gas sampai terisi gas 40 mL (V1)
dan 50 mL untuk proses selanjutnya, lalu menekan piston gas sampai gas
keluar ke atmosfer.
c. Membuka lubang ke atmosfer kemudian menghisap selama 10 detik dengan
menarik piston.
d. Membuka saluran ke tabung penyerapan, sehingga antara tabung penyerapan
dan tabung penghisap terhubung. Ketinggian cairan harus tetap, bila berubah
membuka saluran ke atmosfer. Menunggu sampai ketinggian cairan berada
pada posisi nol, dimana menunujukkan bahwa tekanan dalam tabung 1 atm.
Lalu menutup saluran keluar.
e. Dengan perlahan menekan piston hingga semua gas berpindah ke tabung
penyerapan. Lalu menarik piston secara perlahan dan memperhatikan
ketinggian cairan.
f. Mengulangi langkah e sampai ketinggian cairan tak berubah. Mencatat
volume akhir cairan (V2) yang menunjukkan volume contoh gas yang
dianalisa.
 Perhitungan CO2 pada gas sampel
Untuk gas ideal, volume fraksi = mol fraksi = Y
𝑉2 𝐹3
= 𝑌𝑖 =
𝑉1 𝐹2 + 𝐹3
Readings at inlet Calculations
F1 (CO2) F1 (Air) V1 (mL) V2 (mL) 𝐹3 𝑉2
= 𝑌𝑖
L/s L/s 𝐹2 + 𝐹3 𝑉1

 Perhitungan banyaknya CO2 yang terabsorbsi di kolom dari analisa pada


sampel inlet dan outlet
Dari analisis dengan Hampl apparatus, fraksi volume pada CO2 dalam aliran
𝑉 𝑉
gas pada inlet, Yi = (𝑉2 )𝑖 dan pada outlet, Y0 = (𝑉2 )0
1 1

Jika Fa adalah Liter/second CO2 diserap antara bagian atas dan bawah, jadi :
[F2 + F3] Yi – [F2 + (F3 – Fa)] Y0 = Fa

CO2 in CO2 out CO2 terserap


(𝑌𝑖 −𝑌0 )(𝐹2 +𝐹3 ) (𝑌𝑖 −𝑌0 )
Fa = = x (total aliran gas inlet)
1−𝑌0 (1−𝑌0 )

INLET CONDITIONS OUTLET


Air F2 CO2 F3 TOTAL GAS GAS
ABSORBED
F2 F3 SAMPLE SAMPLE
CO2 Fa L/s
𝑉2 𝑉2
𝑌𝑖 = ( )𝑖 𝑌𝑜 = ( )0
𝑉1 𝑉1

Note : L/s bisa dikonversi menjadi gmol/s sebagaimana :

𝐹𝑎 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎(𝑚𝑚𝐻𝑔) 273


Ga = 22,42 𝑥( )𝑥(𝑇𝑒𝑚𝑝.𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 (0 𝐶) + 273)
760

2. Metode Titrasi
Titrasi asam-basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. Reaksi titrasi asam
basa yaitu penetralan atau netralisasi yang menghasilkan garam dan air. Misalnya
reaksi antara natrium hidroksida dan asam klorida.
𝑁𝑎𝑂𝐻 + 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻 → 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝑎 + 𝐻2 𝑂
Bila diukur berapa mL larutan asam denhan titar tertentu diperlukan untuk
menetralkan suatu larutan basa, kadarnya atau titarnya dicari maka pekerjaan itu
disebut asidimetri sedangkan penitaran sebaliknya, asan dengan basa yang
titarnya diketahui disebut alkalimetri. Ternyta ion 𝑂𝐻 − setara dengan 1 ion 𝐻 + ,
maka dapat disimpulkan bahwa 1 gram setara asam atau basa adalah jumlah asam
yang mengandung ion 𝐻 + atau 1 gram ion 𝑂𝐻 − , dengan kata lain 1 gram setara (1
gram ekuivalen) asam atau basa yang berkedudukan n adalah 1/n gram mol zat
terlarut.
Gambar 1.8 Metode Titrasi
Berikut merupakan tahapan-tahapan analisa menggunakan metode titrasi :
a. Isi cairan pada tanki pengisian hingga ¾ tangki.
b. Dengan mengontrol tutupan valve C2 dan C3, nyalakan pompa cairan dan
menambahkan aliran air melewati kolom kurang lebih 6 L/min pada flowmeter
F1 dengan mengontrol aliran valve C1.
c. Mulai nyalakan compressor dengan menyetel control valve C2 untuk
memberikan aliran udara kurang lebih 10% dari skala total flowmeter F2.
d. Buka dengan perlahan regulasi tekanan katup pada silinder karbon dioksida,
dan mengatur valve C3 untuk mengatur flowmeter F3 kurang lebih setengah
dari aliran udara Fe. Pastikan menutup rapat cairan pada dasar dari kolom
absorbsi yang dijaga. Jika diperlukan, tambahkan pada valve control C4
e. Setelah 15 menit dari operasi stabil, ambil sampel dengan interval 15 menit
dari S4 dan S5. Ambil sampel 150 ml dengan mengetahui waktu setiap case.
Analisa sampel mengikuti prosedur titrasi.
 Perhitungan
Jumlah CO2 bebas di dalam sampel air dihitung dari :
𝐵𝑉 𝑥 0.0277
gmol/Liter bebas CO2 = 𝑉𝑜𝑙 = Cd
𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
CO2 diserap selama periode waktu tertentu (ex. 30 min)
Rata-rata = [Cdi (t=40) – Cdi (t = 10)] x VT (gmol/second)
30 x 60
CO2 diserap melintasi kolom pada waktu tertentu
Aliran masuk dari CO2 terlarut = F1. Cdi (gmol/second)
Aliran keluar dari CO2 terlarut = F1. Cd0 (gmol/second)
Absorpsi rata-rata = F1 [Cdi – Cd0] (gmol/second)
Keterangan :
Cdi = Konsentrasi CO2 bebas terlarut masuk (gmol/second)
Cd0 = Konsentrasi CO2 bebas terlarut keluar (gmol/second)
F = Aliran (Liter/second)
VB = Volume basa yang ditambahkan dalam analisis cairan (mL)
VT = Volume air pada sistem (Liter)
 Indikator PP
Penoftaelin adalah senyawa kimia dengan rumus mulekul C2H14O4 dan
sering ditulis sebagai “Hln” atau “PP” dalam notasi singkat. Fenolftalein sering
digunakan sebagai indicator dalam asam basa. Untuk aplikasi ini, ia berubah
warna dan tak bewarna dalam larutan asam menjadi merah muda dalam larutan
basa.
1.2.10 Gas CO2
Absorbsi kimia merupakan absorbsi dimana gas terlarut dalam larutan penyerap
disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi gas
CO2 dengan larutan MEA, NaOH, K2CO3, dan sebagainya. Aplikasi dari absorbsi
kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO2 pada pabrik Amonia.
Penggunaan absorbsi kimia dalam fase cair sering digunakan untuk mengeluarkan
zat pelarut secara lebih sempurna dalam campuran gasnya. Suatu keuntungan dalam
absorbsi kimia adalah meningkatkan harga koefisien perpindahan massa (kga).
BAB II

Metodologi

2.1 Alat dan Bahan


2.1.1 Alat yang digunakan :
 Alat UOP 7, Gas Absorbtion  Pipet Volume 10 mL
Column  Bulp
 Buret 50 mL  Corong kaca
 Statif & Klem  Pipet Tetes
 Gelas Kimia 50 mL  Botol Semprot
 Erlenmeyer 250 mL
2.1.2 Bahan yang digunakan :
 Gas CO2  Larutan NaOH 0,0277 M
 Udara  Larutan Na2CO3 0,1 M
 Air  Aquades
 Larutan NaOH 0,1 M  Indikator PP

2.2 Prosedur Percobaan


2.2.1 Penyerapan Gas CO2 ke dalam Air dengan Alat Analisa Gas
1. Mengisi tangki penampung cairan sampai ¾ bagian dengan air bersih.
2. Menghubungkan steker pada alat ke sumber arus listrik.
3. Dengan valve pengendali aliran gas C2 dan C3 tertutup, menjalankan pompa
cairan dan mengatur aliran air melalui kolom sampai 6 Liter/menit pada F1
dengan mengatur valve pengendali C1.
4. Menjalankan compressor dan mengatur valve pengendali C2 agar aliran udara
30 Liter/menit pada F2. Membuka valve pengendali tekanan pada tabung CO2
dan mengatur valve C2. Memastikan lapisan cairan di dasar kolom terjaga, bila
perlu mengatur dengan valve C4.
5. Menganalisa contoh gas :
a. Mengisi dua tabung bola pada alat analisa dengan NaOH 0,1 M lalu
mengatur level pada tabung hingga skala 0 pada pipa menggunakan valve
pembuangan C dan menampung buangan kedalam labu.
b. Membersihkan saluran pengambilan contoh dengan mengisap tabung
berulang-ulang menggunakan piston gas dan mengeluarkan ke atmosfer.
c. Menutup saluran ke tabung penyerapan dan lubang atmosfer juga di tutup.
Mengisi tabung penghisap melalui piston gas sampai terisi gas 40 mL (V1)
dan 50 mL untuk proses selanjutnya, lalu menekan piston gas sampai gas
keluar ke atmosfer.
d. Membuka lubang ke atmosfer, menghisap selama 10 detik dengan menarik
piston.
e. Membuka saluran ke tabung penyerapan, sehingga antara tabung penyerapan
dan tabung penghisap terhubung. Ketinggian cairan harus tetap, bila berubah
membuka saluran ke atmosfer.
f. Menunggu sampai ketinggian cairan berada pada posisi nol, dimana
menunujukkan bahwa tekanan dalam tabung 1 atm. Lalu menutup saluran
keluar.
g. Dengan perlahan menekan piston hingga semua gas berpindah ke tabung
penyerapan. Lalu menarik piston secara perlahan dan memperhatikan
ketinggian cairan.
h. Mengulangi langkah g sampai ketinggian cairan tak berubah. Mencatat
volume akhir cairan (V2) yang menunjukkan volume contoh gas yang
dianalisa.
2.2.2 Penyerapan Gas CO2 ke dalam Air dengan Alat Analisa Titrasi
1. Mengisi tangki penampungan cairan dengan air bersih 40 L dan mencatat
volumenya (Vt).
2. Dengan valve pengendali C2 dan C3 dalam keadaan tertutup, memulai
menjalankan pompa cairan dan mengatur laju alir melalui kolom sampai 6
L/menit pada F1, dengan mengatur valve pengendali C1.
3. Menjalankan kompresor dan mengatur valve pengendali C2 pada 30 L/menit
sebagai F2.
4. Membuka valve pengendali tekanan pada tabung CO2 dan mengatur valve C3
pada 15 L/menit sebagai F3.
5. Setelah 15 menit operasi berjalan dengan baik, mengambil contoh sampel secara
bersamaan dititik S4 dan S5. Menganalisa kandungan CO2 dalam kedua contoh
tersebut.
6. Analisa CO2 yang terlarut dalam air :
a. Mengambil contoh larutan S4 dan S5 menggunakan erlenmeyer sebanyak 50
mL.
b. Menambahkan 5 tetes indikator PP, bila larutan berubah menjadi merah
dengan cepat berarti tidak mengandung CO2. Jika tetap bening, menitrasi
dengan NaOH 0,0277 M sampai larutan berubah warna menjadi merah muda.
c. Mencatat volume NaOH yang digunakan sebagai (V2)
7. Melepaskan steker dari sumber arus listrik.
8. Membersihkan alat yang telah digunakan.
BAB III

Hasil dan Pembahasan

3.1 Data Pengamatan


Tabel 3.1.1 Pengamatan Penyerapan Gas CO2 ke dalam Air dengan Analisa Gas

Waktu (menit) F2 Udara (L/min) F3 CO2 (L/min) V1 (mL) V2 (mL)


15 20 0,2
30 30 0,5
30 15
45 40 0,8
60 50 1,2

Tabel 3.1.2 Pengamatan Penyerapan Gas CO2 ke dalam Air dengan Analisa Larutan

Waktu F1 Air F2 Udara F3 CO2 VL S4 (mL) S5 (mL)


(menit) (L/min) (L/min) (L/min) (mL) V1 V2 Ṽ V1 V2 Ṽ
15 2 2 2 2,4 2,8 2,6
30 2,9 3 2,95 2,9 3,1 3
6 30 15 20
45 3,1 3,3 3,2 3,2 3,3 3,25
60 3,4 3,5 3,45 3,5 3,8 3,65

Tabel 3.1.3 Perhitungan Penyerapan Gas CO2 ke dalam Air dengan Analisa Gas

CO2 yang Terserap


Waktu (menit) Gas Masuk Gas Keluar
(L/min)
15 0,3333 0,01 14,6955
30 0,3333 0,0167 14,489
45 0,3333 0,02 14,3862
60 0,3333 0,024 14,2608

Tabel 3.1.2 Perhitungan Penyerapan Gas CO2 ke dalam Air dengan Analisa Larutan

CO2 Bebas (gmol/L) CO2 yang Terserap Sepanjang Kolom (gmol/min) Laju
Waktu
Penyerapan
(menit) Cdo Cdi CO2 dalam Aliran Masuk CO2 dalam Aliran Keluar
(gmol/min)
15 0,0055 0,0072 0,033 0,108 0,0102
30 0,0082 0,0083 0,0492 0,1245 0,0006
45 0,0089 0,009 0,0534 0,135 0,0006
60 0,0096 0,0101 0,0576 0,1515 0,003
3.2 Pembahasan
Praktikum absorbsi gas CO2 bertujuan menghitung laju penyerapan gas CO2 ke dalam
air yang mengalir ke bawah kolom absorbsi yang berisi bahan isian jenis rasching rings
menggunakan alat analisa gas serta menghitung laju penyerapan gas CO2 ke dalam air
menggunakan metode titrasi. Absorben yang digunakan adalah air dan bahan yang akan
diserap berupa gas CO2. Penyerapan gas CO2 yang masuk bersama-sama dengan udara ke
dalam air terjadi di dalam kolom absorbsi yang berisi packing jenis rasching rings. Packing
berfungsi untuk memperbesar kontak antara gas yang naik dari bawah dengan cairan yang
turun dari atas packing. Proses ini berlangsung secara berlawanan agar penyerapan gas
CO2 oleh air lebih optimal.
Praktikum ini menggunakan 2 analisa yaitu analisa gas dan analisa cairan. Pada
percobaan pertama dilakukan dengan analisa gas. Untuk mengetahui banyaknya
penyerapan gas CO2 maka dilakukan dengan menggunakan larutan NaOH 0,01 M. Dimana
gas CO2 yang terserap di udara dapat diketahui dari volume yang terlarut pada piston gas.
Pada analisa gas, digunakan laju alir udara sebesar 30 L/min, gas CO2 sebesar 15 L/min,
dan air sebesar 6 L/min. Setiap 15 menit, sampel diambil masing-masing sebanyak 20 mL
pada titik S4 dan S5 untuk analisa titrasi. Hasil analisa gas, pada waktu 15 menit CO2 yang
terserap sebesar 14,6955 L/min. Pada waktu 30 menit, CO2 yang terserap sebesar 14,489
L/min. Pada waktu 45 menit, CO2 yang terserap sebesar 14,3862 L/min. Pada waktu 60
menit, CO2 yang terserap sebesar 14,2608 L/min.
Selanjutnya, penyerapan gas CO2 ke dalam air dengan analisa cairan menggunakan
metode titrasi. Larutan NaOH 0,0277 M sebagai larutan penitar dan larutan
pembandingnya adalah Na2CO3 0,01 M. Hasil analisa cairan, pada waktu 15 menit laju
penyerapan gas CO2 sebesar 0,0102 gmol/min. Pada waktu 30 menit, laju penyerapan gas
CO2 sebesar 0,0006 gmol/min. Pada waktu 45 menit, laju penyerapan gas CO2 sebesar
0,0006 gmol/min. Pada waktu 60 menit, laju penyerapan gas CO2 sebesar 0,003 gmol/min.
BAB IV

Kesimpulan

4.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada percobaan penyerapan gas CO2 ke dalam air dengan menggunakan analisa gas
diperoleh adanya gas CO2 yang terserap :
 Pada waktu 15 menit, gas CO2 yang terserap sebesar 14,6955 L/menit
 Pada waktu 30 menit, gas CO2 yang terserap sebesar 14,489 L/menit
 Pada waktu 45 menit, gas CO2 yang terserap sebesar 14,3862 L/menit
 Pada waktu 60 menit, gas CO2 yang terserap sebesar 14,2608 L/menit
2. Pada percobaan penyerapan gas CO2 ke dalam air dengan menggunakan analisa larutan
menunjukkan laju penyerapan gas CO2 :
 Pada waktu 15 menit, laju penyerapan gas CO2 sebesar 0,0102 gmol/menit
 Pada waktu 30 menit, laju penyerapan gas CO2 sebesar 0,0006 gmol/menit
 Pada waktu 45 menit, laju penyerapan gas CO2 sebesar 0,0006 gmol/menit
 Pada waktu 60 menit, laju penyerapan gas CO2 sebesar 0,003 gmol/menit
Daftar Pustaka

Anonim. 2010. Absorbsi. http://angghajuner.blogspot.co.id/2011/10/absorbsi.html (Diakses pada


tanggal 15 Mei 2018)

Anonim. 2010. Laporan Absorbsi. https://id.scribd.com/doc/226061788/Laporan-Absorbsi.html


(Diakses pada tanggal 16 Mei 2018)

Anonim. 2011. Absorpsi Gas. https://id.scribd.com/document/51091372/ABSORBSI-GAS.html


(Diakses pada tanggal 17 Mei 2018)

Anonim. 2013. Pengertian Absorbsi. http://alexschemistry.blogspot.co.id/2013/03/pengertian-


absorpsi.html (Diakses pada tanggal 13 Mei 2018)

Anonim. 2013. Absorbsi CO2. http://depisatir.blogspot.co.id/2013/06/absorpsi-ii-absorpsi-co2-


dalam-air.html (Diakses pada tanggal 18 Mei 2018)
LAMPIRAN
Perhitungan

1. Penyerapan Gas CO2 ke dalam Air dengan Analisa Gas


F1 = Laju Alir Air = 6 L/min
F2 = Laju Alir Udara = 30 L/min
F3 = Laju Alir CO2 = 15 L/min
𝑉2 𝑌1 − 𝑌0
𝑌0 = 𝐺𝑎𝑠 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 = 𝐹𝑎 = (𝐹3 + 𝐹2)
𝑉1 1 − 𝑌0
𝐹3 15 𝐿/𝑚𝑖𝑛
𝑌1 = = = 0,3333
𝐹2 + 𝐹3 30 𝐿 + 15 𝐿/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛
 Waktu 15 menit
0,2 𝑚𝐿
𝑌𝑜 = = 0,01
20 𝑚𝐿
0,3333 − 0,01 𝐿 𝐿
𝐹𝑎 = (15 + 30 ) = 14,6955 𝐿/𝑚𝑖𝑛
1 − 0,01 𝑚𝑖𝑛 min
 Waktu 30 menit
0,5 𝑚𝐿
𝑌𝑜 = = 0,0167
30 𝑚𝐿
0,3333 − 0,0167 𝐿 𝐿
𝐹𝑎 = (15 + 30 ) = 14,489 𝐿/𝑚𝑖𝑛
1 − 0,0167 𝑚𝑖𝑛 min
 Waktu 45 menit
0,8 𝑚𝐿
𝑌𝑜 = = 0,02
40 𝑚𝐿
0,3333 − 0,02 𝐿 𝐿
𝐹𝑎 = (15 + 30 ) = 14,3862 𝐿/𝑚𝑖𝑛
1 − 0,02 𝑚𝑖𝑛 min
 Waktu 60 menit
1,2 𝑚𝐿
𝑌𝑜 = = 0,024
50 𝑚𝐿
0,3333 − 0,024 𝐿 𝐿
𝐹𝑎 = (15 + 30 ) = 14,2608 𝐿/𝑚𝑖𝑛
1 − 0,024 𝑚𝑖𝑛 min
2. Penyerapan Gas CO2 ke dalam Air dengan Analisa Larutan
𝑉𝐵. 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
𝐶𝑑𝑜 = 𝑆4 =
𝑉𝐿
𝑉𝐵. 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑁𝑎𝑂𝐻
𝐶𝑑𝑖 = 𝑆5 =
𝑉𝐿
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 = 𝐹1. 𝐶𝑑𝑜
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 = 𝐹3. 𝐶𝑑𝑖
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 = 𝐹1(𝐶𝑑𝑖 − 𝐶𝑑𝑜)
 Waktu 15 menit
𝑔𝑚𝑜𝑙
2 𝑚𝐿. 0,0277
𝐶𝑑𝑜 = 𝐿 = 0,0055 𝑔𝑚𝑜𝑙
10 𝑚𝐿 𝐿
𝑔𝑚𝑜𝑙
2,6 𝑚𝐿. 0,0277 𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑑𝑖 = = 0,0072
10 𝑚𝐿 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 = 6 . 0,0055 = 0,033 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 = 15 . 0,0072 = 0,108 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 = 6 . (0,0072 − 0,0055 ) = 0,0102 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿 𝐿
 Waktu 30 menit
𝑔𝑚𝑜𝑙
2,95 𝑚𝐿. 0,0277 𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑑𝑜 = = 0,0082
10 𝑚𝐿 𝐿
𝑔𝑚𝑜𝑙
3 𝑚𝐿. 0,0277 𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑑𝑖 = = 0,0083
10 𝑚𝐿 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 = 6 . 0,0082 = 0,0492 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 = 15 . 0,0083 = 0,1245 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 = 6 . (0,0083 − 0,0082 ) = 0,0006 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿 𝐿
 Waktu 45 menit
𝑔𝑚𝑜𝑙
3,2 𝑚𝐿. 0,0277
𝐶𝑑𝑜 = 𝐿 = 0,0089 𝑔𝑚𝑜𝑙
10 𝑚𝐿 𝐿
𝑔𝑚𝑜𝑙
3,25 𝑚𝐿. 0,0277 𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑑𝑖 = = 0,009
10 𝑚𝐿 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 = 6 . 0,0089 = 0,0534 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 = 15 . 0,009 = 0,135 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 = 6 . (0,009 − 0,0089 ) = 0,0006 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿 𝐿
 Waktu 60 menit
𝑔𝑚𝑜𝑙
3,45 𝑚𝐿. 0,0277
𝐶𝑑𝑜 = 𝐿 = 0,0096 𝑔𝑚𝑜𝑙
10 𝑚𝐿 𝐿
𝑔𝑚𝑜𝑙
3,65 𝑚𝐿. 0,0277 𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑑𝑖 = = 0,0101
10 𝑚𝐿 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 = 6 . 0,0096 = 0,0576 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐶𝑂2 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑎𝑙𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 = 15 . 0,0101 = 0,1515 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿
𝐿 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 = 6 . (0,0101 − 0,0096 ) = 0,003 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑚𝑖𝑛
𝑚𝑖𝑛 𝐿 𝐿