Anda di halaman 1dari 138

PEDOMAN PRAKTIS OP PRASARANA

DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

DRAFT

2017
PEDOMAN PRAKTIS OP PRASARANA
DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

DAFTAR–ISI

DAFTAR - ISI i - ii
BAB I PENDAHULUAN 1 - 3
1.1. Latar Belakang 1 - 1
1.2. Sistem Drainase 1 - 1
1.3. Beberapa Macam Sistem Drainase 2 - 2
1.3.1. Sistem Drainase Berdasarkan Lingkup Area Pematusan: 2 - 2
1.3.1.1. Sistem Drainase Utama Perkotaan 2 - 2
1.3.1.2. Sistem Drainase Lingkungan 2 - 2
1.3.2. Sistem Drainase Berdasarkan Elevasi Area Pematusan: 2 - 3
1.3.2.2. Sistem Drainase Gravitasi. 2 - 2
1.3.2.3. Sistem Drainase Polder 2 - 3

BAB II TUJUAN DAN LINGKUP KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN 4 - 6


PRASARANA DRAINASE UTAMA PERKOTAAN
2.1. Tujuan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan 4 - 4
2.2. Lingkup kegiatan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan 4 - 4
2.2.1. Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan 4 - 5
2.2.2. Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan 5 - 6
2.3. Jenis-Jenis Prasarana Drainase Utama Perkotaan 6 - 6

BAB III OPERASI PRASARANA DRAINASE UTAMA PERKOTAAN 7 - 15


3.1 Operasi Prasarana Drainase utama Perkotaan 7 - 7
3.1.1. Pematusan Air yang Datang Dari Lingkungan 7 - 7
3.1.2 Pengaturan Air untuk Pengglontoran (flushing) 7 - 7
3.1.3 Untuk Mdendukung Pengendalian Banjir 7 - 9
3.2 Prasarana pendukung pelaksanaan tugas operasi ataupun 9 - 13
pemeliharaan alur drainase utama perkotaan
3.3 Kriteria Teknis Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan 13 - 15
3.3.1 Kriteria Teknis Operasi Bangunan Pengatur Atau Pengendali 14 - 14
Debit Dan Arah Aliran Air pada Alur Drainase Utama
Perkotaan
3.3.1.1 Operasi Prasarana Pintu Air 13 - 14
3.3.1.2 Operasi Prasarana Pompa 14 - 14
3.3.2 Kriteria Teknis Operasi Prasarana Penunjang/Pendukung 14 - 15
Kegiatan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan

BAB IV PEMELIHARAAN PRASARANA DRAINASE UTAMA PERKOTAAN 16 - 52


4.1 Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan 17 - 28
4.1.1 Penatausahaan alur drainase utama perkotaan 17 - 19
4.1.2 Pemeliharaan ruang alur drainase utama perkotaan dan 19 - 27
pengendalian pemanfaatan ruang alur drainase utama
perkotaan
4.1.2.1 Pemeliharaan Ruang Alur drainase utama perkotaan 19 - 22
4.1.2.2 Pengendalian pemanfaatan ruang alur drainase utama 22 - 27
perkotaan
4.1.3 Restorasi alur drainase utama perkotaan 27 - 28
4.2. Pemeliharaan prasarana drainase utama perkotaan 29 - 40
4.2.1 Penatausahaan bangunan prasarana drainase utama 29 - 30
perkotaan
4.2.2 Pemeliharaan fisik bangunan alur drainase utama perkotaan 30 - 38
4.2.3 Pemeliharaan prasarana penunjang atau pendukung kegiatan 38 - 40
OP
4.2.3.1 Pemeliharaan dan perawatan bangunan kantor, 38 - 39
gudang, bengkel, pos jaga dan rambu-rambu
peringatan
4.2.3.2 Pemeliharaan peralatan informasi dan 39 - 40
telekomunikasi
4.2.4 Pemeliharaan alat-alat berat dan transportasi 40 - 41
4.3 Kriteria Teknis Pemeliharaan Alur drainase utama 41 - 52
4.3.1 Kriteria Teknis Pemeliharaan Alur drainase utama perkotaan 41 - 41
4.3.2 Kriteria Teknis Pemeliharaan Prasarana Alur drainase utama 41 - 52
perkotaan
4.3.2.1 Pemeliharaan Tanggul Alur drainase utama perkotaan 42 - 44
4.3.2.2 Pemeliharaan Revetment 44 - 45
4.3.2.3 Pemeliharaan Pintu Pengendali Banjir 45 - 46
4.3.2.4 Pemeliharaan Prasarana Pompa 46 - 47
4.3.2.5 Pemeliharaan Retention Pond 47 - 49
4.3.2.6 Pemeliharaan Jalan Inspeksi 49 - 50
4.3.2.7 Pemeliharaan Gedung Kantor 50 - 50
4.3.2.7 Pemeliharaan Gedung Kantor Alat-Alat Berat dan 51 - 51
Kendaraan Operasional Pendukung Kegiatan OP
Prasarana Drainase Utama Perkotaan
4.3.2.9 Pemeliharaan Peralatan Informasi Dan Komunikasi 52 - 52

BAB V KELEMBAGAAN DAN SUMBER DAYA MANUSIA 53 - 57


5.1. Struktur organisasi Pelaksana Operasi serta Pemeliharaan Prasarana 53 - 53
Drainase Utama Perkotaan di Tingkat Lapangan
5.2. Beban kerja Pengamat Dan Juru Yang Menangani OP Drainase Utama 54 - 54
Perkotaan
5.3. Uraian Tugas dan Kualifikasi Pengamat dan Juru Drainase Utama 55 - 57
Perkotaan
5.4. Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan OP Prasarana Drainase 57 - 57
Utama Perkotaan.

BAB V I PERENCANAAN DAN PEMBIAYAAN OP PRASARANA DRAINASE 58 - 68


UTAMA PERKOTAAN
6.1. Perencanaan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan 58 - 59
6.2. Urutan Kegiatan Penyusunan Rencana Tahunan OP Prasarana 58 - 61
Drainase Utama Perkotaan.
6.3. Biaya Pelaksanaan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan 61 - 67
6.4. Sumber Dana Untuk Pembiayaan OP Prasarana Drainase Utama 67 - 68
Perkotaan

BAB V II EVALUASI KINERJA PELAKSANAAN OP PRASARANA DRAINASE 69 - 75


UTAMA PERKOTAAN
7.1. Maksud Dan Tujuan Evaluasi Kinerja 69 - 69
7.2. Indikator Kinerja Pelaksanaan OP Prasarana Drainase Utama 69 - 72
Perkotaan
7.3. Pelaksanaan Evaluasi Kinerja OP Prasarana Drainase Utama 72 - 73
Perkotaan
7.4. Laporan hasil evaluasi kinerja pelaksanaan OP prasarana Drainase 73 - 75
Utama Perkotaan

LAMPIRAN I
PEKERJAAN EVALUASI PEMANFAATAN PEMBANGUNAN PRASARANA DAN 75 - 90
SARANA DRAINASE PERKOTAAN DI INDONESIA
Daftar Isi 75 - 75
Form 1. Perencanaan 76 - 76
Form 1A. Peta Masterplan Drainase Kota/Kabupaten 77 - 77
Form 1B. Skema Pola Arah Aliran dan Genangan 78 - 78
Form 1C. Peta Land Subsidence 79 - 79
Form 2 Data Saluran 80 - 80
Form 3 Data Kolam 81 - 81
Form 4 Data Rumah Pompa 82 - 82
Form 5 Data Pintu Air 83 83
Form 6 Data Genangan 84 84
Form7 Aspek Perundangan Sarana Drainase 85 85
Form 8 Struktur Organisasi OP 86 86
Form 9 SDM Pelaksanaan OP 87 87
Form 10 Peran Masyarakat 88 88
Form 11 Data Lainnya 89 89
Form 12 Pengumpulan Data Pelengkap 90 90
Form OP-01a Catatan Inspeksi Drainase Utama Perkotaan (Alur)
Form OP-01b Catatan Inspeksi Drainase Utama Perkotaan (Tanggul)
Form OP-01c Catatan Inspeksi Drainase Utama Perkotaan (Revetment)
Form OP-01d Catatan Inspeksi Drainase Utama Perkotaan (Turap)
Form OP-01e Catatan Inspeksi Drainase Utama Perkotaan (Pelimpah Banjir)
Form OP-01f Catatan Inspeksi Drainase Utama Perkotaan (Waduk Banjir)
Form OP-01g Catatan Inspeksi Drainase Utama Perkotaan (Pompa Banjir)
Form OP-01h Catatan Inspeksi Drainase Utama Perkotaan (Pintu – Tidal Gate,
Salinity Barrier)

LAMPIRAN II
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Awal mula peradaban manusia pada umumnya berada di sepanjang tepian
alur sungai. Salah satu alasannya adalah karena alur sungai menyediakan ke-
mudahan memperoleh air dan sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan
dasar manusia. Aktivitas eksploitasi alur sungai disuatu daerah pada umum-
nya, telah berlangsung terlebih dulu jauh sebelum ada infrastruktur atau
prasarana alur sungai ataupun saluran drainase utama perkotaan, misalnya
menggunakan air untuk mandi, mencuci, menangkap ikan, dan mengangkut
barang hingga kepelosok pedalaman.

Tuntutan kebutuhan sosial dan ekonomi manusia yang kian berkembang


telah mendorong pengembangan pemanfaatan suatu daerah menjadi suatu
daerah dengan pertambahan kepadatan penduduk dengan berbagai
aktifitasnya. Kondisi tersebut secara langsung menimbulkan permasalahan
baru menyangkut masalah tata airnya yang harus ditangani dengan suatu
sistem drainase yang baik.

1.2. Sistem Drainase


Sistem drainase adalah suatu tata air yang diperlukan untuk menangani air
permukaan pada suatu daerah tertentu sehingga tidak menimbulkan
genangan-genangan yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat luas dan
bahkan dapat menimbulkan kerugian sosial ekonomi terutama yang
menyangkut aspek-aspek kesehatan lingkungannya.

Sistem drainase berupa prasarana drainase yang terdiri dari alur-alur atau
saluran dengan bangunan pelengkapnya yang berfungsi sebagai sarana
pembuangan air untuk mengalirkan secepatnya keluar daerah tersebut.

Sesuai dengan fungsi prasarana drainase sebagai sarana pembuang, maka


pada saat hujan, air yang mengalir di permukaan diusahakan secepatnya
dibuang keluar daerah, namun dalam konsep IWRM (Integrated Water
Resources Management) daerah resapan bisa difungsikan, sehingga
mengurangi run-off yang kehilir (konsep : zero ∆ Q).
1.3. Beberapa Macam Sistem Drainase
1.3.1.Sistem Drainase Berdasarkan Lingkup Area Pematusan:
1.3.1.1. Sistem drainase utama perkotaan
yaitu sistem saluran/badan air dan bangunan pelengkapnya
yang menampung dan mengalirkan air hujan dari daerah
permukiman ke sungai/badan air lainnya. Biasanya sistem ini
menampung aliran yang berskala lebih besar dan luas dari
saluran lingkungan permukiman dan berfungsi sebagai
prasarana drainase utama.

1.3.1.2. Sistem drainase lingkungan


yaitu : sistem saluran drainase dan bangunan pelengkapnya
yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan
air hujan di permukiman perkotaan. Secara keseluruhan yang
termasuk dalam sistem drainase lingkungan adalah : saluran
di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar
bangunan dalam satu kelompok permukiman.

1.3.2. Sistem Drainase Berdasarkan Elevasi Area Pematusan:


1.3.2.1. Sistem Drainase Gravitasi.
Pada lokasi-lokasi yang mempunyai ketinggian/elevasi dan
kemiringan lahan cukup, sistem drainase dilakukan
sepenuhnya dengan pengaliran secara gravitasi, dan disebut
sebagai Sistem Drainase Gravitasi.

1.3.2.2. Sistem Drainase Polder


Pada lokasi-lokasi dengan ketinggian/elevasi rendah, terutama
di daerah pantai dimana daerah tersebut sulit atau bahkan
tidak mungkin untuk melakukan pembuangan air
(pematusan) secara gravitasi, maka pembuangan air
keluar daerah harus dibantu dengan waduk dan pompa.
Sistem drainase ini pada umumnya disebut Sistem Drainase
Polder atau Sistem Polder.

Tanpa pemeliharaan yang memadai secara menyeluruh terhadap prasarana


yang telah dibangun untuk menangani alur drainase utama perkotaan maka
prasarana yang telah ada akan mengalami degradasi fisik dan fungsi sehingga
efektivitas operasinya akan terganggu. Tindakan pengendalian aliran air
menjadi tidak optimal ataupun dapat terhenti dan dapat memberikan dampak
negatif terhadap lingkungannya. Karena itu, operasi dan pemeliharaan
prasarana dan sarana sistem sungai dan alur drainase utama perkotaan
merupakan kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan.
Kegiatan OP prasarana sungai saat ini telah tertuang dalam SE Dirjen No. 5
Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan OP Prasarana
Sungai dan Pemeliharaan Sungai. Sehubungan dengan hal tersebut diatas,
diperlukan pengaturan tentang Operasi dan Pemeliharaan (OP) untuk
Prasarana Drainase Utama Perkotaan. Prasarana tersebut meliputi alur
beserta bangunan pelengkapnya, yang merupakan kewenangan Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air. Hal tersebut akan diuraikan lebih lanjut dalam
Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan
ini. Adapun penanganan OP Prasarana Drainase lingkungan, tidak ditangani
oleh Dit. Jen SDA , tetapi merupakan kewenangan dari Pemerintah Daerah
yang bersangkutan.

Pedoman ini dimaksudkan sebagai panduan atau rujukan bagi para


penyelenggara/pelaksana yang menangani kegiatan OP dan diharapkan dapat
menjadi acuan dalam melakukan pembinaan dan evaluasi kinerja
pelaksanaan OP prasarana drainase utama perkotaan di Indonesia
BAB II
TUJUAN DAN LINGKUP KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
PRASARANA DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

2.1 Tujuan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Operasi dan Pemeliharaan prasarana Drainase Utama Perkotaan merupakan salah


satu bagian dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. OP prasarana Drainase Utama
Perkotaan bertujuan untuk menjaga kelestarian fungsi dan kemanfaatan
Prasarana Drainase Utama Perkotaan bagi masyarakat dan kehidupan pada
umumnya.

Drainase Utama Perkotaan dalam kehidupan sehari-hari memiliki banyak manfaat,


diantaranya:

1) Menyalurkan/menampung aliran air hujan dari permukiman.


2) Untuk penggelontoran (flushing) drainase dalam kota, yang diperlukan
terutama selama musim kemarau.
3) Untuk menjaga kelestarian habitat flora dan fauna diperkotaan.
4) Menjaga estetika dan keasrian lingkungan serta landmark kota.

Operasi dan Pemeliharaan prasarana drainase utama perkotaan mencakup


fungsi-fungsi: 1) pematusan air hujan lokal, 2) pengendalian air yang meluap
dari sungai.

Operasi prasarana drainase utama perkotaan bertujuan untuk mengoptimalkan


kemanfaatan drainase lingkungan suatu daerah perkotaan. Sedangkan pemeli-
haraan prasarana drainase utama perkotaan untuk mempertahankan kinerja
prasarana drainase utama perkotaan.

Meskipun pemeliharaan daerah tangkapan air hujan di permukiman sebagai


kegiatan yang berfungsi penting dalam memelihara kelestarian lingkungan, namun
kegiatan dimaksud tidak diatur dalam pedoman ini.

2.2 Lingkup kegiatan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan

2.2.1. Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan


Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan mencakup tindakan/
kegiatan pengaturan dan pemanfaatan prasarana Drainase Utama Perkotaan,
yaitu:

1) Semua prasarana yang digunakan untuk tujuan pematusan dengan


mengatur arah aliran air dalam sistem Drainase Utama Perkotaan ke
sungai/badan air lainnya.
2) Semua prasarana penunjang atau pendukung kegiatan Operasi antara
lain:
 Bangunan kantor, gudang, bengkel, pos jaga dan rambu-rambu
 keamanan.
  Peralatan informasi dan telekomunikasi.
 Alat-alat berat dan peralatan transportasi.

2.2.2. Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan


Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan mencakup tindakan
memelihara dan melindungi prasarana Drainase Utama Perkotaan, untuk
menjamin kelestarian fungsi alurnya. Pemeliharaan Prasarana Drainase
Utama Perkotaan dilakukan melalui :

 tindakan/kegiatan pencegahan kerusakan atau kemerosotan (tindak-


 an preventif),
  perbaikan kerusakan (tindakan korektif), serta
 pemulihan kembali (tindakan rehabilitatif).

Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Drainase Utama Perkotaan secara garis


besar berkaitan dengan dua obyek, yaitu:

1) Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan, yang meliputi:


  Lahan yang digunakan untuk Prasarana Drainase Utama Perkotaan.
 Semua bangunan fasilitas Prasarana Drainase Utama Perkotaan.

2) Semua prasarana penunjang atau pendukung kegiatan Operasi Prasa-
rana Drainase Utama Perkotaan, meliputi:
  Operasi Prasarana yang berupa palung alur drainase utama,
  Operasi dan pengendali prasarana aliran air sistem drainase utama,
 Pemanfaatan Prasarana penunjang atau pendukung kegiatan Operasi
yang berupa a.l : gedung maupun peralatannya.

Berdasarkan uraian sebagaimana dimaksud, pemeliharaan Prasarana Drainase


Utama Perkotaan mencakup tindakan dan kegiatan sebagaimana tercantum di
dalam tabel berikut.
Tabel 2.1 Lingkup Kegiatan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Lingkup Kegiatan OP
Jenis
Kegiatan Sistem Drainase Utama Prasarana Drainase
Perkotaan Utama Perkotaan
Operasi Pengoperasian berdasarkan 1) Pengoperasian bangunan
sistem yang telah dibuat untuk pengatur atau pengendali
seluruh Prasarana Drainase debit dan arah aliran air
Utama Perkotaan sesuai SOP Sistem Drainase Utama
yang telah ditetapkan Perkotaan;
2) Pengoperasian prasarana
penunjang atau pendu-
kung kegiatan OP (per-
alatan dan kendaraan,
perahu, telekomunikasi).
Pemeliharaan 1) Penatausahaan Sistem Drainase 1) Penatausahaan bangunan
Utama Perkotaan Prasarana Drainase
2) Pemeliharaan ruang Sistem Utama Perkotaan
Drainase Utama Perkotaan dan 2) Pemeliharaan bangunan
pengendalian pemanfaatan ruang Prasarana Drainase
Sistem Drainase Utama Utama Perkotaan
Perkotaan 3) Pemeliharaan prasarana
3) Menjaga kelestarian Sistem penunjang dan
Drainase Utama pendukung kegiatan OP
Perkotaan. baik berupa gedung,
peralatan berat, serta
peralatan transportasi
dan telekomunikasi

2.3 Jenis-Jenis Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Jenis-jenis prasarana Drainase Utama Perkotaan, meliputi:


1. Tanggul alur Sistem Drainase Utama Perkotaan.
2. Pelindung tebing (revetment).
3. Pintu-pintu air pengendali aliran.
4. Pompa air untuk menanggulangi genangan air.
5. Kolam penampung air sementara (Retention pond).
6. Jalan inspeksi, sempadan saluran dan lahan untuk infra struktur lainnya.
7. Bangunan-bangunan gedung pendukung OP.
8. Peralatan, meliputi alat berat dan kendaraan operasi pendukung OP.
9. Peralatan informasi dan komunikasi.
BAB III

OPERASI PRASARANA
DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

3.1 Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Pengoperasian Prasarana Drainase Utama Perkotaan bertujuan mengoptimalkan


manfaat Prasarana Drainase Utama Perkotaan dalam rangka pematusan atau juga
mempertahankan keindahan kota.

Jenis prasarana alur drainase utama perkotaan yang dioperasikan dapat


dikelompokkan kedalam 3 bagian yaitu:

3.1.1. Pematusan Air yang Datang Dari Lingkungan


Semua air hujan yang mengalir dalam Drainase Lingkungan dialirkan ke
saluran Drainase Utama Perkotaan dan selanjutnya dibuang kesungai/badan
air.

 3.1.2. Pengaturan Air untuk Pengglontoran (flushing)
Sehubungan dengan belum terbangunnya saluran pembuangan untuk air
limbah, maka sementara ini masih diperlukan air untuk pengglontoran pada
saluran drainase perkotaan untuk memper-tahankan keindahan dan
kebersihan.

 3.1.3. Untuk Mendukung Pengendalian Banjir
Pengendalian banjir yang dilakukan oleh Pemerintah bertujuan untuk
mengurangi tingkat resiko/kerusakan atau korban yang menimpa seseorang
 dan properti yang terdampak oleh banjir.
Peristiwa banjir di Indonesia pada umumnya terjadi sekitar bulan Oktober
sampai Maret sehubungan dengan curah hujan tinggi. Sekalipun demikian
peristiwa itu terkadang dapat juga terjadi di luar periode ini. Dampak yang
timbul akibat peristiwa banjir sangat variatif, tergantung pada kondisi
lingkungan yang terpengaruh paparan banjir.

Kegiatan yang perlu dilakukan oleh unit pelaksana OP dalam menghadapi
 banjir dapat dipilah menurut tiga tahapan yaitu:
o persiapan menghadapi datangnya musim banjir,
o pelaksanaan pada saat menghadapi banjir, dan
o pelaksanaan kegiatan paska banjir.
Tabel 3.1 Kegiatan operasi dalam rangka mendukung pengendalian banjir

Tahapan
No Uraian kegiatan
Kegiatan
1 Persiapan
menghadapi1) Mempelajari prosedur operasi standar yang baru menghadapi
banjir banjir.
2) Menyiapkan peralatan komunikasi yang terintegrasi dengan
pengendalian banjir.
3) Memeriksa kesiapan operasi pintu-pintu air, pompa air, saringan
sampah.
4) Melakukan penelusuran untuk mengidentifikasi lokasi
alur/saluran drainase utama yang rentan gangguan untuk
mengalirkan air (misal : terjadi penyempitan alur/penyumbatan
akibat sampah, longsoran), bocoran tanggul atau limpasan air dari
drainase utama.
5) Memperkokoh dan meninggikan tanggul drainase utama pada
lokasi yang rentan terhadap limpasan air.
6) Menyiapkan material untuk menanggulangi kerawanan saluran
drainase utama pada lokasi kritis.
7) Menyiapkan peralatan untuk mengurangi kerugian
masyarakat karena kurang berfungsinya drainase utama.
8) Membentuk regu piket untuk menginformasikan kepada
masyarakat maupun Posko Banjir.
9) Menyediakan Peta Jalur Evakuasi dan peta lokasi kritis.

10) Melakukan pendataan daerah rawan genangan karena luapan


drainase utama.
11) Mengikuti koordinasi dalam sistem sistem komunikasi dan jalur
komando dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).
12) Mengikuti pemutakhiran dan mengaitkan terhadap sistem
dan prosedur komunikasi dan pelaporan yang berlaku.
13) Meng-update sistem komunikasi untuk integrasi dengan
sistem penanggulangan banjir, agar dapat memberitahukan
bahaya kepada masyarakat lebih dini.
14) Mengikuti uji coba sistem melalui pelaksanaan simulasi
menghadapi peristiwa banjir.
2 Saat 1) Menyiapkan regu peronda pada pos masing-masing, dengan
menghadapi tugas mengamati :
banjir  ketinggian muka air alur drainase utama perkotaan
 kondisi tanggul banjir
 kondisi pintu-pintu air
 saringan sampah, dll.
2) Melaksanakan perondaan dengan mengikut sertakan masyarakat.
3) Mengoperasikan sistem prakiraan dan peringatan dini.
4) Segera melaporkan kepada POSKO Banjir yg terdekat jika
mengetahui ada tingkat bahaya tertentu.
5) Mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan darurat penang-
gulangan limpasan air alur drainase utama perkotaan atau
bocoran pada bangunan/tanggul.
6) Menyampaikan laporan singkat tentang kejadian banjir kepada
kepala unit pengelola SDA WS.
3 Paska banjira) Melaksanakan inventarisasi dan
penilaian besarnya kerusakan dan kerugian akibat
banjir:
 jumlah korban jiwa.
 jenis dan jumlah bangunan yg rusak atau hanyut
 taksiran nilai kerugian harta benda
b) Melaksanakan evaluasi penyebab banjir dan usulan
penanganan mendesak termasuk taksiran kebutuhannya.
c) Menyampaikan laporan kejadian banjir:
 waktu kejadian (tanggal dan jam) besar curah hujan dan debit
saat itu
 daerah banjir (lokasi, luas, dalamnya genangan,lamanya)
 taksiran nilai kerugian.
d) Menyusun program dan rencana perbaikan kerusakan akibat
banjir (termasuk kebutuhan survai dan perencanaan)

3.2 Prasarana pendukung pelaksanaan tugas operasi ataupun pemeliharaan


Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Banjir yang akan terjadi di suatu alur drainase utama perkotaan tidak dapat
dipastikan, baik saat maupun besarnya. Sekalipun demikian banjir dapat diperki-
rakan saatnya tiba di suatu tempat dengan cara mengamati histori curah hujan dan
kejadian banjir di masa lalu.

Kemampuan memprakirakan dan menyampaikan informasi mengenai banjir di


suatu tempat akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkemas
melakukan pengamanan terhadap harta benda dan bersiap diri dalam menghadapi
bahaya banjir. Semakin dini peringatan banjir disampaikan akan semakin baik bagi
masyarakat dalam melakukan persiapan dan penyelamatan diri dan harta benda.

Prakiraan dan peringatan dini bahaya banjir bertujuan untuk menyediakan


informasi dini mengenai perkiraan waktu dan besarnya banjir yang akan tiba di
suatu tempat sehingga masyarakat dapat memiliki waktu yang cukup untuk
menyelamatkan diri dan mengamankan properti guna mengurangi besarnya
kerugian yang timbul akibat banjir. Hal hal yang di prakirakan meliputi:

  Prakiraan cuaca harian ataupun prakiraan real time.


  Prakiraan mengenai ketinggian air alur drainase utama perkotaan.
 Prakiraan mengenai daerah yang berpotensi terdampak aliran banjir.

Prakiraan dan peringatan dini bahaya banjir harus memenuhi lima persya-ratan
sebagai berikut:
 Berasal dari sumber data atau pos pengamat yang benar, berdasarkan data dan
perhitungan yang akurat, disampaikan tepat waktu (tidak terlambat).
  Substansi peringatan mudah didengar dan dimengerti orang awam.
  Dilakukan secara terus menerus sesuai dengan perkembangan situasi banjir.
 Untuk mencegah agar peringatan dini tidak disalah-gunakan oleh pihak-pihak
tertentu yang berniat menciptakan kepanikan dan kecemas-an bagi
masyarakat, maka prosedur penyampaian informasi peringatan dini harus
dibakukan dan ditetapkan oleh Kepala Satuan Pelaksana Penanggulangan
Banjir.

Pengaturan ini mencakup mengenai:


  Substansi yang perlu dimuat di dalam informasi peringatan,
 Hirarkhi dan simpul-simpul pos resmi dalam jejaring penyampaian informasi
 peringatan,
 Media atau peralatan yang dipergunakan untuk menyampaikan peringatan
 pada setiap tingkatan, serta
 Sistem kesiap-siagaan mobilisasi dan evakuasi.

Dalam pengoperasian sistem prakiraan dan peringatan dini, unit pelaksana OP


perlu mengambil peran sebagai berikut:
 Menetapkan dan mengoperasikan pos/stasiun pemantauan muka air di
 saluran drainase utama perkotaan.
 Meneruskan peringatan dini kepada publik yang ada di daerah rawan banjir.

Tingkatan bahaya yang akan disampaikan agar tidak menggunakan istilah yang
membingungkan atau menimbulkan multi tafsir. Tingkatan bahaya yang paling
tinggi agar menggunakan istilah siaga merah, tingkatan bahaya sedang
menggunakan istilah siaga kuning, dan tingkatan bahaya ringan menggunakan
istilah siaga hijau, dengan kriteria sebagaimana tersebut dalam tabel berikut:
Tabel 3.2 Kriteria mengenai tingkatan siaga banjir dan komando penanganannya
pada sungai yang harus dimengerti oleh petugas OP drainase utama perkotaan.

Tingkat Tinggi jagaan Selang waktu


Alamat Pelaporan Durasi
keadaan (freeboard) pengamatan
keluar laporan
bahaya (m) debit/ TMA
Gubernur
Dinas SDA Prov
Siaga Setiap
< 0,80 15 menit SATLAK PBP
merah Kab./Kota
30 menit
SATKORLAK
Dinas SDA
Siaga Prov SATLAK PBP Setiap
kuning 0,80 – 1,20 2 jam Kab./Kota 8 jam
SATKORLAK
Dinas SDAProv
Siaga >1,20 – 1,50 4 jam SATLAK PBP Setiap
hijau Kab./Kota 12 jam

Siaga Normal
>1,50 Normal Normal
biru

Pengoperasian bangunan prasarana drainase utama perkotaan ini harus dida-


sarkan pada pedoman yang dibuat dan ditetapkan secara khusus untuk prasarana
yang bersangkutan. Penyiapan pedoman pengoperasian bangunan tersebut dibuat
oleh perencana bangunan yang bersangkutan. Pedoman ini ditetapkan oleh pejabat
yang berwenang melakukan pembinaan pengoperasian bangunan yang
bersangkutan,mungkin cukup ditetapkan oleh kepala Balai Wilayah Sungai.

Ketersediaan pedoman operasi bangunan prasarana drainase utama perkotaan


merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam proses persiapan serah
terima pelaksanaan bangunan dari pihak/unit yang membangun kepada pihak/unit
pelaksana OP.

Hal hal yang perlu dilakukan dalam pengecekan diuraikan dalam tabel berikut.
Tabel 3.3 Pengecekan berfungsinya prasarana
drainase utama perkotaan

Jenis prasarana alur


No Hal hal yang perlu dilakukan
drainase utama
1 Pintu pengatur atau  Menguji keakuratan tinggi bukaan pintu air.
pengendali debit alur dengan besarnya debit yang terlepas dari pintu air.
drainase utama  Mengecek kesempurnaan penutupan aliran alir.
1)
perkotaan
2 Pompa air  Mengecek kesesuaian antara kapasitas
pemompaan air dengan realita debit air yang
keluar dari pompa.
 Mengecek kesiapan operasi emergency genset
3 Peralatan komunikasiMelakukan pemutakhiran terhadap
alamat(address) para pihak yang terkait.
 Mengecek catu daya (battery dan jaringan
kelistrikan) peralatan komunikasi.

1) Pengoperasian pintu pengatur atau pengendali debit harus dicacat dalam


buku catatan (log book) setiap kali dilakukan perubahan posisi, baik karena ada
perubahan ukuran bukaan pintu air maupun perubahan yang berkaitan dengan
pengecekan ataupun kalibrasi alat. Penjaga pintu air (petugas pintu air) dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya wajib mengikuti pedoman dan manual
operasi bangunan yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam hal terjadi kondisi yang tak terduga atau emergency, dengan alasan
apapun petugas pintu air tidak diperbolehkan menyimpang dari ketentuan yang
tercantum di dalam pedoman dan manual operasi bangunan, kecuali setelah
kondisi tersebut dilaporkan dan mendapat persetujuan pengoperasian dari
pejabat yang berwenang melakukan perubahan sementara pengoperasian di
luar kondisi normal.

2) Alat-alat berat dan peralatan transportasi.


Pengoperasian alat-alat berat dan kendaraan dilaksanakan sesuai dengan
manual operasi yang dibuat oleh pabrik pembuat peralatan masing masing.

Faktor faktor yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan pengoperasi-


an alat berat, adalah:

  Kondisi kesiapan alat.


Faktor kondisi dari alat sangat berpengaruh. terhadap pencapaian target
rencana operasi. Unit peralatan tertentu yang kondisinya tidak siap operasi
penuh tentu tidak mungkin akan dapat menghasilkan kinerja 100% sesuai
dengan rencana operasi.
 Metode kerja operasi alat, harus senantiasa disesuaikan dengan
 dinamikan perubahan kondisi medan yang dihadapi.
 Ketrampilan operator. Ketrampilan operator sangat berpengaruh
 terhadap produktivitas peralatan.
 Cycle time operasi alat, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh alat berat untuk
melakukan serangkain proses pada saat bekerja. Medan kerja, jarak yang
harus ditempuh, atau karakteristik material yang dihadapi sangat
mempengaruhi besarnya cycle time. Perubahan waktu siklus juga akan
sangat mempengaruhi komposisi dan jumlah alat yang bekerja di satu
 lokasi.
 Komunikasi antar para operator di lapangan dengan pengawas dan
 bagian pemeliharaan juga harus menjadi keniscayaan.
Tanpa komunikasi yang baik, tidak akan mengahasilkan sinergi operasi
dengan produktivitas yang maksimal. Dalam suatu armada alat berat, maka
hasil yang diperoleh selalu merupakan hasil kerja sebuah kelompok. 

3.3 Kriteria Teknis Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan

3.3.1 Kriteria Teknis Operasi Bangunan Pengatur Atau Pengendali Debit Dan
Arah Aliran Air pada Alur Drainase Utama Perkotaan

3.3.1.1 Operasi Prasarana Pintu Air

a) Pengecekan kondisi pintu-pintu air beserta bangunannya,


secara visual, dilakukan secara rutin setiap hari, agar pintu air
dan kelengkapannya dapat selalu siap dioperasikan dengan
baik, serta dapat diketahui apabila terdapat permasalahan
berkaitan dengan kelancaran pengoperasian pintu.
b) Pengoperasian pintu air yang berfungsi sebagai pengendali
drainase utama, secara teknis hendaknya mengikuti manual
pengoperasian pintu dan peralatan yang ada, serta disesuaikan
dengan kenaikan muka air di alur drainase utama perkotaan.
c) Untuk memastikan kesiapan operasi pintu air dan alur drainase
utama perkotaan, maka perlengkapan dan peralatan pendukung
operasi (misalnya: genset dan komponen penggerak pintu)
perlu dilakukan uji operasi secara rutin sesuai dengan manual
peralatan yang bersangkutan.
d) Melaporkan kondisi pintu-pintu air beserta bangunannya yang
rusak kepada atasan yang terkait untuk tindakan penanganan
lebih lanjut.
e) Kegiatan-kegiatan operasional pintu air pengendali dan
prasarana dilakukan sesuai SOP, dan dilaporkan dalam format
laporan sesuai manual masing-masing bangunan.
f) Pengujian keakuratan tinggi bukaan air pada pintu dengan
besarnya debit yang dikeluarkan, dilakukan paling sedikit 1
(satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

3.3.1.2 Operasi Prasarana Pompa


a) Pengecekan kondisi pompa-pompa air sesuai SOP serta
bangunannya secara visual dilakukan secara rutin setiap hari,
agar pompa air dan kelengkapannya dapat dioperasikan dengan
baik, serta dapat segera diketahui apabila terdapat
permasalahan berkaitan dengan kelancaran pengoperasian
pompa.
b) Untuk memastikan kesiapan operasi prasarana pompa air, maka
perlengkapan dan peralatan pendukung operasi pompa
(misalnya: genset, panel sumber tenaga listrik) perlu dilakukan
pengecekan dan uji operasi secara rutin paling sedikit 1 (satu)
kali dalam 1 (satu) minggu atau sesuai dengan SOP.
c) Untuk menjaga kemungkinan terjadinya pemadaman listrik
pada saat pompa beroperasi, maka prasarana pompa harus
dilengkapi dengan stand by genset yang dioperasikan dan
berfungsi sebagai cadangan tenaga listrik .
d) Setelah terjadi genangan di suatu lingkungan, maka operasional
pompa kembali pada posisi normal. Namun demikian, perlu
dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan operasi pada saat
sesaat sebelum dan saat terjadinya genangan, sehingga dapat
diperoleh data-data dan hasil analisa untuk bahan masukan
bagi upaya perbaikan dan penyempurnaan sistem operasi
prasarana drainase, termasuk evaluasi terhadap kinerja sistem
drainase yang sudah ada (sistem operasi pompa dan pintu air).
e) Khususnya untuk pompa-pompa air yang ada, paling tidak 2
(dua) kali dalam satu tahun atau sesuai dengan SOP menjelang
musim hujan dan setelah musim hujan, harus dilakukan uji
coba (“running test”) operasi pompa pengendali, untuk
menjamin agar pompa air dapat berfungsi baik dan dapat
segera dioperasikan ketika diperlukan.
f) Menginformasikan kondisi pompa-pompa air beserta bangun-
annya untuk tindakan penanganan lebih lanjut yang diperlukan.

3.3.2 Kriteria Teknis Operasi Prasarana Penunjang/Pendukung Kegiatan OP


Prasarana Drainase Utama Perkotaan
1) Bangunan kantor, gudang, bengkel, dan pos jaga, harus memenuhi
kebutuhan minimal persyaratan kelengkapan prasarana penunjang
kegiatan OP prasarana drainase utama perkotaan (jumlah dan luas
ruangan minimal, kelengkapan fasilitas pendukung operasi).
2) Peralatan informasi dan komunikasi untuk mendukung kegiatan
pengumpulan data, analisis basis data dan layanan dengan kegiatan OP
prasarana drainase utama perkotaan (terdiri antara lain: workstation,
UPS computer, printer, monitor, peralatan GPS (“global positioning
system”), dan peralatan catu daya,jaringan listrik. Peralatan informasi
tersebut harus dipastikan dapat dioperasikan dengan baik.
Pengoperasian peralatan dilakukan sesuai dengan SOP manual dari
pabrik.

3) Alat berat dan peralatan serta kendaraan pendukung operasi, harus


dipastikan selalu dalam kondisi siap dioperasikan. Pengoperasian
peralatan berat dilaksanakan sesuai dengan manual operasi yang dibuat
oleh pabrik pembuat peralatan masing-masing.
BAB IV
PEMELIHARAAN PRASARANA
DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

4.1 Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan bertujuan untuk menjaga


eksistensi fisik alur Drainase Utama Perkotaan dan kelangsungan fungsinya agar
alur Drainase Utama Perkotaan senantiasa bermanfaat sebagai pendukung
kehidupan yang sejahtera dan berkelanjutan.

Pemeliharaan prasarana drainase utama perkotaan meliputi tindakan yang bersifat


fisik dan non fisik sebagaimana telah diuraikan dalam table 1, yaitu:

1) Penatausahaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan.


2) Pemeliharaan ruang alur Drainase Utama Perkotaan.
3) Restorasi alur Drainase Utama Perkotaan.

Jumlah tindakan pemeliharaan pada suatu ruas alur drainase utama perkotaan
tergantung pada intensitas pendaya-gunaannya, serta besar kecilnya dampak yang
diakibatkan oleh aktivitas lingkungan di daerah tangkapan air hujan (DTA) alur
drainase utama perkotaan .

Karena itu, jenis dan kebutuhan tindakan pemeliharaan tidak berlaku seragam
untuk setiap alur drainase utama perkotaan. Begitu pula halnya dengan
pemeliharaan pada suatu alur drainase utama perkotaan tidak berarti setiap
ruasnya memperoleh tindakan pemeliharaan yang sama dengan ruas yang ada di
hulu maupun di hilirnya.

Secara garis besar, tindakan pemeliharaan pada setiap ruas alur drainase utama
perkotaan dapat dikelompokkan kedalam tiga kondisi sebagai berikut:
Tabel 4.1 Standar Tindakan Pemeliharaan Pada Ruang Alur
Drainase Utama Perkotaan

Kriteria
Standar Jenis tindakan
No kondisi ruas Ciri khusus
tindakan pemeliharaan
sungai
1 Terletak di  Pendayagunaan Lengkap 1) Penatausahaan sungai.
kawasan sungai sangat 2) Pemeliharaan ruang
perkotaan intensif; atau sungai.
 Pemanfaatan ruang 3) Pemeliharaan dataran
di DTA sangat padat. banjir.
4) Restorasi pada ruas
sungai
2 Terletak di  Pendayagunaan Selektif 1) Penatausahaan sungai.
luar sungai sedang 2) Pemeliharaan ruang
kawasan berkembang atau sungai selektif.
perkotaan terbatas; atau 3) Pemeliharaan dataran
 Pemanfaatan ruang banjir.
di DTA terbatas;
 Pendayagunaan Sangat selektif 1) Penatausahaan sungai.
sungai sangat 2) Pemeliharaan ruang.
terbatas; atau sungai sangat selektif.
· DTA sangat alami

4.1.1 Penatausahaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Yang dimaksud dengan Penatausahaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan


adalah kegiatan pendataan atau pencatatan dan pemberian nomor kode atau
kodefikasi menurut letak kedudukan hirarkhis suatu ruas alur drainase utama
perkotaan terhadap seluruh jaringan Prasarana Drainase Utama Perkotaan.
Penatausahaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan bertujuan untuk
menjaga eksistensi Prasarana Drainase Utama Perkotaan secara administratif
dengan cara mencatat dan memberi tanda secara fisik dalam rangka mencapai
tertib penyelenggaraan pengelolaan kekayaan milik negara/daerah.

Pencatatan bangunan Prasarana Drainase Utama Perkotaan dilakukan ruas per


ruas menurut ordo yang ditentukan mulai dari ruas alur drainase utama
perkotaan yang terletak paling hilir sebagai induk alur drainase utama
perkotaan ke arah hulu yang menunjukkan hubungan hirarkhi: induk alur
drainase utama perkotaan, anak alur drainase utama perkotaan, cucu alur
drainase utama perkotaan, dan seterusnya.
Langkah langkah dalam Penatausahaan alur drainase utama perkotaan
meliputi kegiatan sebagaimana diuraikan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.2. Langkah-langkah Penatausahaan
Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Keterangan Hasil
No Langkah Uraian kegiatan
Pemetaan
1 Pemetaan Mendapatkan peta dasar dari Peta berskala 1:2500
alur drainase Hasil pemetaan berupa sistem Infor-
utama masi geografis 3D dengan memakai
sistem Datum terakhir atau berda-
perkotaan *)
sarkan World geodetic system 84
Menggambarkan jaringan alur Berdasarkan data Daerah
drainase utama perkotaan diatas Tangkapan Air dan survai
peta dasar. lapangan

2 Pencatatan Membuat sketsa jaringan alur Sesuai dengan hasil


dan drainase utama perkotaan untuk pemetaan
penomoran menentukan hirarkhi setiap ruas
alur drainase alur drainase utama perkotaan.
Melakukan penomoran pada ruas- Sesuai dengan letak dan
utama
ruas alur drainase utama perkotaan hirarkhinya.
perkotaan yang dimulai dari hilir ke hulu
3 Pemasangan Melakukan survai untuk Patok harus dipasang
patok menentukan letak patok kilometer ditempat yang aman dari
alur drainase utama perkotaan jangkauan banjir, dan mudah
kilometer
dengan keterangan koordinatnya. diakses
alur drainase
utama Memasang patok sementara. Dari bahan kayu/ bambu
perkotaan Membuat patok dan Dari bahan beton bertulang
mempersiapkan atribut patok dengan bentuk dan ukuran
(memuat nama alur drainase utama sesuai standar.
perkotaan dan nomor Km). Atribut tercetak pada
permukaan bahan batuan
keras (marmer)
Memasang patok berikut atributnya. Patok yang telah dipasang
harus dicatat posisi
koordinatnya dan dipotret
4 Pembuatan Membuat buku register patok yang Buku register ini merupakan
buku register memuat informasi mengenai dokumen yg harus disimpan
deskripsi patok yang terpasang di tempat yang aman
patok alur
berikut potretnya.
drainase
*) Pemetaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan bertujuan untuk memperoleh
gambaran mengenai jaringan alur drainase utama perkotaansecara
keseluruhan yang dapat menggambarkan tata letak ruas-
ruas alur drainase utama perkotaan di dalam suatu jaringan alur drainase
utama perkotaan tertentu dan memuat informasi mengenai nama alur
drainase utama perkotaan berikut anak-anak alur drainase utama
perkotaan.
Pemetaan alur drainase utama perkotaan harus dilakukan diataspeta dasar
yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) dengan skala
paling kecil sebesar 1:10.000 sesuai dengan luas daerah aliran alur drainase
utama perkotaan (DAS) yang bersangkutan dan tingkat kepadatan aktivitas
pendayagunaan alur drainase utama perkotaan yang bersangkutan.
18
Patok alur drainase utama perkotaan ini merupakan bagian dari Jaring
Kontrol Horisontal Nasional (JKHN), yaitu sebaran titik kontrol geodesi
horizontal yang terhubung satu sama lain dalam satu kerangka referensi. Selain
itu patok ini juga merupakan Jaring Kontrol Vertikal Nasional (JKVN), yaitu
sebaran titik kontrol geodesi vertikal yang terhubung satu sama lain dalam
satu kerangka referensi yang digunakan sebagai acuan posisi vertikal untuk
informasi geografis. Karena itu pemasangan patok ini harus dilakukan seakurat
mungkin berdasarkan standar pemetaan yang ditetapkan oleh Badan Informasi
Geospasial (BIG). Dalam pemasangan patok ini, unit pelaksana OP dapat
bekerja sama dengan BIG. Untuk alur drainase utama perkotaan yang lebarnya
kurang dari 10 m, patok kilometer diletakkan pada sisi kiri arah aliran alur
drainase utama perkotaan.
Sedangkan untuk alur drainase utama perkotaan yang lebarnya lebih dari 10
m, patok kilometer diletakkan pada kedua sisi alur drainase utama perkotaan.

Dalam hal terdapat lokasi patok yang belum dapat ditetapkan elevasinya secara
pasti, dapat digunakan elevasi sementara berdasarkan referensi lokal yang
penggambarannya dalam atribut patok dibedakan dengan menggu-nakan
simbol dan/atau warna khusus.

Setiap orang wajib menjaga kondisi fisik dan atribut patok. Setiap orang
dilarang menghilangkan, merusak, mengambil, memindahkan, atau mengubah
tanda fisik dan atribut patok yang merupakan bagian dari JKHN, dan JKVN.

Patok yang sudah terpasang harus dimutakhirkan secara periodik dalam


jangka waktu paling lama tiga tahun sekali, atau dalam hal terjadi bencana
yang diduga dapat mengakibatkan perubahan fisik dan/atau posisi patok.

Detail tata cara pelaksanaan Penatausahaan alur drainase utama perkotaan


akan diatur lebih lanjut dalam pedoman pengelolaan aset alur drainase utama
perkotaan dan prasarana alur drainase utama perkotaan yang merupakan
bagian komplementer dari pedoman ini.
4.1.2 Pemeliharaan ruang alur drainase utama perkotaan dan pengendalian
pemanfaatan ruang alur drainase utama perkotaan

4.1.2.1 Pemeliharaan Ruang Alur drainase utama perkotaan

Pemeliharaan ruang alur drainase utama perkotaan sebagaimana


dimaksud pada Pasal 13 ayat (2) huruf b bertujuan untuk menjaga:
a. Palung alur drainase utama perkotaan senantiasa berfungsi
sebagai tempat air mengalir dan tempat berlangsungnya
kehidupan ekosistem alur drainase utama perkotaan , dan
b. Sempadan alur drainase utama perkotaan senantiasa berfungsi
sebagai tempat penyangga antara ekosistem alur drainase utama
perkotaan dan daratan, agar fungsi alur drainase utama perkotaan
dan kegiatan manusia tidak saling terganggu.

Unsur unsur yang dipelihara pada ruang alur drainase utama


perkotaan meliputi:
1) Struktur dan fitur batuan dasar alur drainase utama perkotaan
serta fitur vegetasi di tepian alur drainase utama perkotaan
2) Dimensi palung alur drainase utama perkotaan
3) Kemiringan dasar alur drainase utama perkotaan
4) Eksistensi sempadan alur drainase utama perkotaan

Faktor yang perlu diperhatikan dan dikerjakan oleh unit pelaksana OP


alur drainase utama perkotaan dalam pemeliharaan ruang alur
drainase utama perkotaan diuraikan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.3 Hal hal yang perlu diperhatikan dan dikerjakan di dalam pemeliharaan
ruang alur drainase utama perkotaan
Uraian kegiatan
Faktor yang
pemeliharaan alur
perlu
No Fokus perhatian drainase utama
diperhatikan
perkotaan
1 Struktur dan  Fitur alami bebatuan  Melaksanakan inspeksi dan
formasi batuan pada dasar alur drainase pengawasan rutin
dasar alur utama perkotaan  Mencegah pengambilan
drainase utama  Pepohonan dan rumpun bebatu-an dasar alur
perkotaan tetumbuhan di tepi alur drainase utama perkotaan
drainase utama  Mencegah pembabatan
perkotaan terhadap pepohonan di
 Degradasi dan agradasi tepian alur drain-ase utama
dasar alur drainase perkotaan
utama perkotaan  Merawat rumpun
tetumbuhan di tepi alur
drainase utama perkotaan
 Memasang rambu
peringatan/
larangan

Unsur unsur yang dipelihara pada ruang alur drainase utama perkotaan
meliputi:

1) Struktur dan fitur batuan dasar alur drainase utama perkotaan serta
fitur vegetasi di tepian alur drainase utama perkotaan,
2) Dimensi palung alur drainase utama perkotaan,
3) Kemiringan dasar alur drainase utama perkotaan,
4) Eksistensi sempadan alur drainase utama perkotaan.

Faktor yang perlu diperhatikan dan dikerjakan oleh unit pelaksana OP alur
drainase utama perkotaan dalam pemeliharaan ruang alur drainase utama
perkotaan diuraikan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.3 Hal hal yang perlu diperhatikan dan dikerjakan di dalam
pemeliharaan ruang alur drainase utama perkotaan

Faktor yang Uraian kegiatan


No perlu Fokus perhatian pemeliharaan alur
diperhatikan drainase utama
perkotaan
1 Struktur dan  Fitur alami bebatuan  Melaksanakan inspeksi dan
pengawasan rutin
formasi batuan pada dasar alur drainase  Mencegah pengambilan
dasar alur utama perkotaan
bebatuan dasar alur drainase
drainase utama  Pepohonan dan rumpun utama perkotaan
perkotaan tetumbuhan di tepi alur  Mencegah pembabatan
drainase utama terhadap pepohonan di
perkotaan tepian alur drainase utama
 Degradasi dan agradasi perkotaan
dasar alur drainase  Merawat rumpun
utama perkotaan tetumbuhan di tepi alur
drainase utama perkotaan
 Memasang rambu peringat-
an/larangan
 Melakukan penyuluhan
kepada masyarakat setempat
2 Dimensi palung  Perubahan dimensi  Memberikan pertimbangan
alur drainase palung alur drainase teknis terhadap kegiatan
pengerukan
utama utama perkotaan  Melaksanakan pembersihan
perkotaan  Perubahan arah aliran  rutin terhadap sampah di alur
air drainase utama perkotaan
 Sampah mengambang  Menyingkirkan ranting dan
atau menumpuk di alur batang pohon tumbang yang
drainase utama mengganggu kelancaran
perkotaan aliran alur drainase utama
 Serasah tanaman yang perkotaan
hanyut atau menyangkut  Melakukan pemantauan dan
evaluasi periodik 2 tahunan
di alur drainase utama terhadap perubahan dimensi
perkotaan palung.
 Menjaga kestabilan tebing
alur drainase utama
3 Kemiringan  Kemiringan dasar alur  Melakukan inspeksi dan
dasar alur drainase utama pengawasan rutin.
drainase perkotaan  Melaksanakan pengawasan
terhadap aktivitas
utama  Lebar dan kedalaman pengerukan alur drainase
perkotaan alur utama perkotaan dan
pengambilan batuan
alur drainase utama
perkotaan
 Melaksanakan pengerukan
periodik paling lama 2
tahunan
pada ruas yang mengalami
pendangkalan
 Melakukan pemantauan dan
evaluasi periodik 2 tahunan
terhadap perubahan
kemiringan dasar alur
drainase utama perkotaan
4 Eksistensi  Potensi pelanggaran  Memasang patok batas
sempadan terhadap ketentuan sempadan alur drainase
1)
utama perkotaan
alur batas sempadan alur
 Memasang rambu peringatan
drainase drainase utama dan larangan
utama perkotaan  Melaksanakan pengawasan
perkotaan  Dinamika penggunaan periodik satu bulan sekali
ruang di dalam terhadap penggunaan ruang
sempadan alur drainase di dalam sempdan alur
utama perkotaan drainase utama perkotaan
dan melaporkan pelanggaran
kepada Pemerintah Daerah.
 Menjaga ketertiban
penggunaan ruang di dalam
sempadan
alur drainase utama
perkotaan, bersama
masyarakat.

Ketentuan mengenai batas sempadan pada suatu ruas alur drainase utama
perkotaan yang bermeander tidak dapat mengacu pada kriteria sempadan
yang bersifat umum, melainkan harus dilakukan berdasarkan rencana detail
tata ruang(RDTR)

4.1.2.2 Pengendalian pemanfaatan ruang alur drainase utama perkotaan


Yang dimaksud dengan ruang alur drainase utama perkotaan adalah
ruang yang meliputi palung alur drainase utama perkotaan dan
sempadan alur drainase utama perkotaan . Palung alur drainase
utama perkotaan berfungsi sebagai ruang wadah air mengalir dan
sebagai tempat berlangsungnya kehidupan ekosistem alur drainase
utama perkotaan. Sedangkan sempadan alur drainase utama
perkotaan merupakan ruang yang berfungsi sebagai penyangga
antara ekosistem alur drainase utama perkotaan dan daratan agar
fungsi alur drainase utama perkotaan dan kegiatan manusia tidak
saling terganggu, Sempadan alur drainase utama perkotaan meliputi
ruang di kiri dan kanan palung alur drainase utama perkotaan yang
terletak diantara tepi palung alur drainase utama perkotaan dan garis
sempadan (yaitu garis maya di kiri dan kanan palung alur drainase
utama perkotaan yang ditetapkan sebagai batas perlindungan alur
drainase utama perkotaan ).

Pengendalian pemanfaatan ruang alur drainase utama perkotaan


bertujuan untuk melindungi kelestarian fungsi palung alur drainase
utama perkotaan dan sempadan alur drainase utama perkotaan dari
dampak negatif yang diakibatkan oleh aktivitas/ kegiatan yang
berlangsung di dalam ruang alur drainase utama perkotaan.
Aktivitas/kegiatan pemanfaatan ruang yang perlu dikendalikan
meliputi:
1) Pelaksanaan konstruksi pada ruang alur drainase utama
perkotaan ;
2) Pembuangan air limbah ke alur drainase utama perkotaan ;

Kategori tindakan pengendalian pemanfaatan ruang alur drainase


utama perkotaan dapat dikategorikan kedalam tiga jenis tindakan,
yaitu: preventif, korektif dan rehabilitatif. Sistem perizinan yang
diberlakukan terhadap kegiatan tersebut diatas merupakan salah
satu bentuk tindakan preventif.

4.1.2.2.1 Pelaksanaan konstruksi pada ruang alur drainase utama


perkotaan

Yang dimaksud dengan pelaksanaan konstruksi pada ruang


alur drainase utama perkotaan , yaitu semua aktivitas
pembangunan fisik konstruksi yang dilaksanakan di dalam
ruang alur drainase utama perkotaan misalnya konstruksi
jembatan, konstruksi prasarana sumber daya air, dan
konstruksi prasarana selain SDA, misalnya: jaringan pipa air
minum, pipa gas, atau pipa minyak, jaringan kabel listrik
dan telekomunikasi, serta jaringan drainase dan sanitasi
sejajar atau melintang lintas atas atas atau lintas bawah alur
drainase utama perkotaan , serta jembatan.

Pelaksanaan konstruksi pada ruang alur drainase


utamaperkotaan dapat dilakukan berdasarkan izin
Pemerintah Daaerah sesuai dengan rekomendasi dari Ditjen
SDA. Terhadap pelaksanaan konstruksi pada ruang alur
drainase utama perkotaan , unit pelaksana OP Alur drainase
utama perkotaan perlu melakukan tindakan pengendalian
sebagaimana tersebut dalam tabel berikut.
Tabel 4.4 Peran Unit Pelaksana OP dalam pengendalian terhadap pelaksanaan
konstruksi pada ruang alur drainase utama perkotaan

No Kategori tindakan Bentuk kegiatan


1 Preventif Melakukan pengawasan sekurang-kurangnya 1 bulan sekali
terhadap:
a) Metode dan tatacara pelaksanaan konstruksi
b) Kelengkapan sarana dan prasarana pencegahan
kecelakaan dan keamanan kerja
c) Pelaksanaan kewajiban kontraktor dalam:
 pengaturan dan pengamanan lalu lintas kendaraan dan
peralatan proyek
 perbaikan kerusakan lingkungan alur drainase utama
perkotaan dan prasarana yg timbul akibat pelak-sanaan
konstruksi
 pemeliharaan prasarana alur drainase utama
perkotaan selama masa pelaksanaan konstruksi
 Merapikan kembali kondisi lingkungan alur drainase
utama perkotaan yang diakibatkan pelaksanaan
konstruksi.
Melakukan pemantauan mengenai perubahan kualitas air akibat
pelaksanaan konstruksi, dilakukan sekurang-kurangnya setiap
bulan sekali atas beban biaya pelaksana konstruksi
2 Korektif Memberikan teguran atau peringatan kepada pelaksana
konstruksi dalam hal pelaksana kegiatan:
a) melanggar ketentuan dan persyaratan
pelaksanaan konstruksi
b) tidak menyediakan sarana dan prasarana pencegahan
kecelakaan dan keamanan kerja
c) tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana ketentuan
dan persyaratan yang tercantum dalam surat izin.
d) terbukti melakukan pencemaran air alur drainase utama
perkotaan
Menyampaikan laporan dan saran korektif kepada pemberi
izin pelaksanaan konstruksi untuk mengambil tindakan
administratif dalam hal teguran atau peringatan tidak
dihiraukan oleh pelaksana konstruksi.
3 RehabilitatifMeminta pertanggungjawaban kepada pelaksana konstruksiuntuk
melaksanakan rehabilitasi prasarana alur drainase utama
perkotaan dan prasarana umum lainnya yang mengalami
kerusakan berat akibat pelaksanaan konstruksi

 Dalam hal pelaksana konstruksi tidak melaksanakan


kewajibannya, maka unit pelaksanaan OP melaksanakan
rehabilitasi prasarana alur drainase utama perkotaan yang
mengalami kerusakan berat akibat pelaksanaan konstruksi atas
beban biaya jaminan pelaksanaan konstruksi.

Tabel 4.5 Kategori dan Bentuk Tindakan Dalam


Pelaksanaan Konstruksi pada Ruang Alur Drainase Utama Perkotaan

No Kategori Bentuk tindakan


tindakan
1 Preventif • Memberikan rekomendasi teknis terhadap permohonan
izin pemanfaatan lahan bantaran alur drainase utama
perkotaan untuk kegiatan
yang bersifat temporal.
• Memasang rambu peringatan mengenai ketentuan
pemanfaatan lahan bantaran alur drainase utama
perkotaan
• Melakukan pengawasan sekurang-kurangnya 1 bulan
sekali terhadap dinamika kegiatan pemanfaatan lahan di
dalam bantaran alur drainase utama perkotaan .
2 Korektif • Memberikan teguran atau peringatan kepada pemanfaat
lahan bantaran dalam hal mereka lalai atau melanggar
ketentuan dan persyaratan pemanfaatan lahan bantaran
• Melakukan pembongkaran terhadap bangunan yang
melanggar ketentuan dan persyaratan pemanfaatan lahan
bantaran
• Menghentikan kegiatan yang melanggar ketentuan dan
persyaratan pemanfaatan lahan bantaran
• Memperbaiki kerusakan rambu rambu peringatan.
3 Rehabilitatif • Menata kembali lahan bantaran yang terlanjur mengalami
gangguan fungsi dan kerusakan estetika.
• Mengganti rambu rambu peringatan yang hilang.

Bekas alur drainase utama perkotaan adalah ruang alur


drainase utama perkotaan yang sudah tidak berfungsi
ataupun tidak difungsikan lagi sebagai layaknya sebuah
alur drainase utama perkotaan .

Dalam hal terjadi pengalihan alur alur drainase utama


perkotaan sehingga terbentuk alur alur drainase utama
perkotaan baru yang pelaksanaannya dibiayai Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau perolehan
lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, maka alur alur drainase utama perkotaan baru
dicatat sebagai barang milik negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam hal terjadi pengalihan alur pada alur drainase utama


perkotaan sehingga terbentuk alur alur drainase utama
perkotaan baru yang pelaksanaannya dibiayai Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah dan/atau sumber dana
lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, maka alur alur drainase utama perkotaan baru
dicatat sebagai barang milik daerah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

4.1.2.2.2 Pembuangan air limbah ke alur drainase utama


perkotaan

Pembuangan limbah ke alur drainase utama perkotaan


mempunyai implikasi terhadap beban biaya ekonomik, di
samping nilai ekologik, dan sosio kultural. Tanpa dilakukan
pemulihan terhadap alur drainase utama perkotaan yang
tercemar akan mengakibatkan biaya ekstra yang akan
membebani masyarakat, misalnya dalam bentuk: biaya
pengolahan air yang lebih mahal, dan biaya pengobatan
terhadap penderita penyakit yang timbul akibat
penggunaan air yang tercemar.
Pembuangan air limbah ke alur drainase utama perkotaan
yang tak terkendali dapat menimbulkan berbagai macam
implikasi akibat air alur drainase utama perkotaan yang
tercemar, sebagai berikut:
 Gangguan terhadap kesehatan manusia yang
menggunakan ataupun mengkonsumsi air alur drainase
utama perkotaan, misalnya gangguan sistem pencerna-
 an, atau penyakit kulit.
 Gangguan ataupun kerusakan prasarana dan sarana
yang terdapat di alur drainase utama perkotaan,
misalnya berupa efek korosif sehingga mengganggu
kinerja operasi prasarana dan sarana yang bersang-
kutan.
 Degradasi keanekaragaman sumber daya hayati alur

drainase utama perkotaan , misalnya berupa kematian
masal ikan atau punahnya biota tertentu baik dalam
wilayah yang terbatas maupun ke lingkungan yang lebih
luas hingga muara alur drainase utama perkotaan dan
kawasan pesisir pantai.
 Kendala atau gangguan terhadap usaha budidaya
perikanan alur drainase utama perkotaan dan wisata/
olahraga air lainnya.
 Peningkatan beban biaya pengolahan air baku menjadi
air yang siap dikonsumsi untuk rumah tangga, dan
industri.

4.1.3 Restorasi Alur Drainase Utama Perkotaan

Restorasi alur drainase utama perkotaan merupakan salah satu kegiatan


pemeliharaan rehabilitatif terhadap lingkungan alur drainase utama perkotaan
yang kondisinya sangat parah. Restorasi alur drainase utama perkotaan
bertujuan mengembalikan fungsi alami alur drainase utama perkotaan guna
memperoleh manfaat tertentu agar alur drainase utama perkotaan dapat
dinikmati keasriannya dan kemanfaatannya oleh masyarakat. Restorasi pada
suatu ruas alur drainase utama perkotaan tertentu pada dasarnya merupakan
jawaban atas keluhan banyak orang yang setiap hari berhadapan dengan
situasi alur drainase utama perkotaan yang semakin memburuk dan membuat
tidak nyaman baik fisik maupun visual. Munculnya ide atau gagasan restorasi
alur drainase utama perkotaan pada umumnya dilandasi antara lain sebagai
berikut:

1) Memperoleh lingkungan alur drainase utama perkotaan yang lebih asri dan
berkualitas.
2) Memperoleh kemanfaatan sosial dan ekonomis dari alur drainase utama
perkotaan.
3) Membentuk kembali lingkungan alur drainase utama perkotaan senatural
mungkin.
4) Meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap banjir.
5) Meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
6) Menjaga keanekaragaman hayati.

Restorasi pada suatu ruas alur drainase utama perkotaan merupakan kegiatan
pemeliharaan yang berlangsung dalam jangka waktu lebih dari satu tahun.
Restorasi alur drainase utama perkotaan merupakan kegiatan yang sangat
rentan mengalami kegagalan, karena itu rancangan kegiatan ini harus
direncanakan secara matang.
Perencanaan dan pelaksanaannya harus melibatkan sebanyak mungkin pihak
terkait yang memiliki kompetensi baik dari segi substansi kegiatan maupun
kemampuan pengerahan sumber daya. Memahami kebutuhan kelompok
masyarakat lokal dan keterlibatan mereka dalam perencanaan dan
pelaksanaan merupakan faktor yang sangat penting dalam meraih kesuksesan
restorasi alur drainase utama perkotaan .

Pelibatan para pihak yang berkepentingan dalam perencanaan dan


pelaksanaan restorasi alur drainase utama perkotaan dimaksudkan untuk:

 Menampung aspirasi masyarakat setempat. Pelibatan masyarakat


dalam dialog untuk menentukan arah dan bentuk perubahan kondisi alur
drainase utama perkotaan yang diharapkan akan menggugah kesadaran
berpartisipasi dalam pelaksanaan program restorasi alur drainase utama
perkotaan . Hal ini merupakan faktor penting untuk menciptakan
 keberlanjutan pengembangan manfaat paska proyek restorasi
 Menggalang kerjasama berbagai kelompok masyarakat lokal dan
 para pelaku usaha atas dasar kemitraan.
 Mememukan kesegaran baru mengenai cara-cara pemecahan suatu
masalah yang terkait dengan pelaksanaan rencana restorasi.

Langkah langkah yang perlu ditempuh dalam perencanaan restorasi alur drai-
nase utama perkotaan adalah, sebagai berikut:

1) Perumusan mengenai kondisi alur drainase utama perkotaan yang


ingin diwujudkan sebagai hasil kegiatan restorasi.
2) Menentukan indikator pengukur kinerja restorasi alur drainase utama
perkotaan.
3) Menentukan target level dari setiap indikator lingkungan yang akan
dilakukan restorasi.
4) Melakukan prediksi dan komparasi jangka panjang mengenai kondisi
tanpa dilakukan restorasi (do as usual) versus kondisi yang akan terbentuk
akibat tindakan restorasi alur drainase utama perkotaan.
5) Menyusun rancangan detail tindakan intervensi berdasarkan prinsip
keberlanjutan, dan keefektifan rencana tindakan yang disusun
berdasarkan pengalaman pelaksanaan restorasi di tempat lain sebagai
pelajaran yang terbaik.

Pedoman mengenai tatacara perencanaan dan pelaksanaan restorasi alur


drainase utama perkotaan akan diatur dalam pedoman tersendiri.

4.2. Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan


Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan perkotaan bertujuan untuk
menjaga eksistensi fisik dan kelangsungan fungsi Prasarana Drainase Utama
Perkotaan agar senantiasa dapat menunjang kelancaran pelaksanaan dan
ketercapaian tujuan operasi prasarana alur drainase utama perkotaan .

Bangunan Prasarana drainase utama perkotaan ditinjau dari segi fungsinya, yaitu:

1) Bangunan Prasarana Drainase Utama Perkotaan yang berfungsi sebagai


pelindung palung alur drainase utama perkotaan, pendaya-gunaan alur drainase
utama perkotaan, dan pengendali aliran air alur drainase utama perkotaan :
2) Prasarana penunjang atau pendukung kegiatan OP baik berupa gedung
maupun peralatan berat, peralatan transportasi dan telekomunikasi.

Lingkup kegiatan pemeliharaanPrasarana Drainase Utama Perkotaan


sebagaimana telah diuraikan dalam Tabel 1 (Bab II), terdiri atas kegiatan sebagai
berikut:

1) Penatausahaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan ;


2) Pemeliharaan fisik prasarana Drainase Utama Perkotaan;
3) Pemeliharaan prasarana penunjang dan pendukung kegiatan OP.

4.2.1 Penatausahaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Penatausahaan prasarana drainase utama perkotaan merupa-kan kegiatan


inventarisasi atau pencatatan bangunan pada alur drainase utama
perkotaan dan pemberian nomor kode atau kodefikasi. Penatausahaan
bangunan Prasarana Drainase Utama Perkotaan bertujuan untuk menga-
mankan eksistensi bangunan Prasarana Drainase Utama Perkotaan secara
administratif sesuai dengan kaidah pengelolaan barang milik negara atau
daerah.

Pencatatan alur drainase utama perkotaan dipilah-pilah menurut kelompok


bangunan dan letaknya di dalam jaringan alur drainase utama perkotaan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.29/PMK.06/2010 Tentang
Penggolongan dan Kodefikasi BMN, jumlah nomor kode bangunan drainase
utama perkotaan terdiri atas 11 (sebelas) digit yang menunjukkan mengenai:

Hasil inventarisasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan kemudian dihimpun


ke dalam Laporan Tahunan Inventarisasi Prasarana Drainase Utama
Perkotaan. Hasil inventarisasi tahunan tersebut akan digunakan sebagai
bahan pertimbangan dalam penyusunan target dan jadwal rencana inspeksi
bangunan Prasarana Drainase Utama Perkotaan.

Langkah langkah yang perlu dilakukan dalam Penatausahaan bangunan


Prasarana Drainase Utama Perkotaan diuraikan dalam tabel berikut.
Tabel 4.6 Langkah Kegiatan Penatausahaan
Prasarana Drainase Utama Perkotaan
No Uraian kegiatan Output data Keterangan
1 Mengumpulkan data  nilai perolehan bangunan, Data statis
dan informasi  tahun perolehan, dan
mengenai bangunan  sumber dana
alur drainase utama  kapasitas/fungsi bangunan
 gambar terbangun (as built
perkotaan yang ada.
drawing)
2 Melakukan  posisi koordinat geografis Data statis
pengecekan letak dan bangunan Data dinamis
kondisi bangunan di  kondisi bangunan
 taksiran nilai bangunan
lapangan
sekarang
 foto lokasi bangunan, dan
 keterangan lain yang dianggap
perlu
3 Melakukan  Nomor kode bangunan Memuat informasi
pencatatan dalam  Laporan inventarisasi dan sebagaimana
buku register register bangunan prasarana dihasilkan dalam
drainase utama perkotaan kegiatan 1) dan 2).
bangunan

Setiap Prasarana Drainase Utama Perkotaan akan mengalami degradasi fungsi


dan kondisi sejalan dengan pertambahan usia bangunan, selain itu jumlah dan
jenis Prasarana Drainase Utama Perkotaan pun dapat berubah setiap saat
tergantung dari dinamika pembangunan di sepanjang jaringan alur drainase
utama perkotaan. Setiap kali ada perubahan mengenai jumlah, jenis, dan
kondisi bangunan harus senantiasa dilakukan pencatatan mengenai hal ihwal
terjadinya perubahan. Catatan mengenai perubahan ini harus dihimpun
dalam laporan hasil inventarisasi tahunan. Laporan inventarisasi Prasarana
Drainase Utama Perkotaan ini menjadi masukan bagi kegiatan kegiatan
pengelolaan barang milik negara atau daerah.

4.2.2 Pemeliharaan Fisik Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Pelaksanaan pemeliharaan fisik Prasarana Drainase Utama Perkotaan


bertujuan untuk mempertahankan agar kondisi bangunan yang bersangkutan
senantiasa terpelihara sehingga dapat berfungsi sesuai dengan tujuan
pembangunannya.

Pemeliharaan fisik Prasarana Drainase Utama Perkotaan dapat


dikelompokkan kedalam tiga kategori tindakan menurut hirarkhi dan sifat
pekerjaannya, yaitu:
1) Pemeliharaaan preventif;
2) Pemeliharaan korektif; dan
3) Pemeliharaan rehabilitatif

Kriteria dan deskripsi kegiatan-kegiatan tersebut diatas, diuraikan di dalam


tabel berikut.

Tabel 4.7 Kategori Tindakan/Kegiatan Pemeliharaan


Bangunan Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Kategori Kriteria Uraian Contoh kegiatan


pemeliharaan Kegiatan
Preventif  Bertujuan menjaga Pengamanan Penatausahaan
agar bangunan tetap administratif bangunan alur
eksis dan sesuai drainase utama
dengan tingkat kinerja Pengamanan Pemagaran,
layanan yang fisik pemasangan lampu
direncanakan. penerangan, dan
 Kegiatannya bersifat penjagaan bangunan
kontinyu atau tertentu.
Pemeliharaan Pemangkasan
rutin tanaman liar pada
lereng tanggul.
terjadwal periodik Pengerukan
dan tidak tahunan dasar alur
memerlukan drainase utama
kelengkapan perkotaan
perhitungan disain
Pemeliharaan Pelumasan
berkala perangkat penggerak
pintu air
Pengecatan pintu
bangunan alur drainase
utama perkotaan
Pengurasan lumpur
pada bangunan
Prasarana Drainase
Utama Perkotaan
tertentu
Perbaikan Peninggian ruas
ringan/ reparasi tanggul yang ambles
Reparasi pintu
angkat yang macet
Perbaikan jalan
inspeksi
Korektif  Kegiatan memperbaiki Pemeliharaan Perbaikan terhadap
kerusakan bangunan khusus kerusakan berat
yang kinerjanya bangunan atau
bagian bangunan.
dibawah 70% hingga Rektifikasi atau Memperpanjang
50%, pembetulan tembok sayap
 Kegiatan mengoreksi terhadap pelimpah banjir.
atau menyempurnakan kekurang Memperpanjang krib
ketidak efektifan sempurnaan
kinerja bangunan, atau kinerja bangunan
 Melakukan perbaikan Perbaikan Penutupan segera
darurat untuk darurat (darurat) bagian
menanggulangi tanggul yang bocor
kerusakan bangunan Pengamanan
yang bersifat sementara longsoran
mendadak, tebing alur drainase
utama perkotaan
Rehabilitatif Kegiatan memperbaiki Rehabilitasi Memperbaiki
atau membangun kembali kembali bangunan
bangunan yang nilai Pembangunan Membangun kembali
kembali (asset
Renewal)
kinerjanya kurang dari seluruh bangunan alur
50% atau sudah hancur drainase utama
(tanpa melampaui fungsi perkotaan yang rusak
atau disain kinerja Restorasi Menata kembali
semula). Bangunan ekosistem ruang alur
Prasarana drainase utama
Drainase Utama perkotaan
Perkotaan

Pemeliharaan berkala dilakukan dengan interval waktu yang berbeda-beda


untuk setiap jenis bangunan, misalnya setiap 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1
tahun, 2 tahun, atau 3 tahun. Interval waktu pelaksanaan untuk setiap jenis
kegiatan pemeliharaan berkala diatur di dalam Standar Pelaksanaan
Pekerjaan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan yang ditetapkan tersendiri
oleh Menteri. Standar dimaksud merupakan bagian komplementer dari
pedoman ini. Dalam pemeliharaan berkala terdapat pula kegiatan
penggantian sebagian atau keseluruhan komponen Prasarana Drainase
Utama Perkotaan baik karena mengalami kerusakan maupun karena telah
mencapai masa penggantian sebagaimana ditetapkan pabrik pembuatnya,
misalnya penggantian pintu, penggantian minyak pelumas, penggantian
sistem transmisi, penggantian klep pompa dan sebagainya.

Perbaikan ringan atau reparasi merupakan kegiatan/pekerjaan


pemeliharaan berskala kecil yang dilaksanakan dengan cara dan teknologi
sederhana dan tak memerlukan kelengkapan perhitungan desain.
Pemeliharaan korektif harus direncanakan berdasarkan hasil
inspeksi/survai detail terhadap keadaan bangunan Prasarana Drainase Utama
Perkotaan yang bersangkutan. Keharusan perencanaan ini dikecualikan
untuk pekerjaan perbaikan darurat. Disain pekerjaan pemeliharaan
korektif harus disiapkan oleh personil yang terlatih dan berpengalaman.
Gambar disain dan RAB harus disahkan oleh kepala unit pelaksana teknis
pengelolaan sumber daya air yang bersangkutan (Kepala Balai) sebelum
pelaksanaan pemeliharaan dimulai. Apabila dalam tahun anggaran berjalan
tidak cukup tersedia dana dan/atau waktu pelaksanaan, maka pelaksanaan
pemeliharaan agar dianggarkan pada tahun berikutnya.

Catatan:
Perlu dilakukan kajian untuk meng inventarisasi BMN dan BMD

Perbaikan darurat merupakan tindakan instan yang dikerjakan dalam


keadaan dan situasi yang sangat mendesak. Pekerjaan mendesak ini bertujuan
untuk mengatasi kerusakan mendadak dalam keadaan darurat menghadapi
aliran banjir, tanah longsor ataupun karena gempa bumi. Karena itu kualitas
pekerjaannya pun bersifat sementara, misalnya untuk meredam atau
mengisolasi terjadinya eskalasi genangan air, atau untuk mencegah terjadinya
keadaan yang lebih buruk atau membahayakan lingkungan. Pasca kejadian
banjir telah mereda, pekerjaan yang bersifat sementara ini perlu dibongkar
dan direncanakan perbaikannya berdasarkan kaidah disain pemeliharaan
korektif yang memenuhi standar normal konstruksi bangunan.

Intensitas tindakan pemeliharaan yang akan dilakukan terhadap


Prasarana Drainase Utama Perkotaan sangat ditentukan oleh:

 Jenis bahan konstruksi pembentuk struktur bangunan (bangunan yang


terbuat dari tanah yang dipadatkan atau pasangan batu kali memerlukan
pemeliharaan yang lebih intens daripada bangunan yang terbuat dari
beton atau baja).
 Kondisi lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap kondisi fisik
bangunan (di daerah yang bercurah hujan tinggi membutuhkan
pemeliharaan yang lebih sering daripada di daerah bercurah hujan sedikit
seperti di Nusa Tenggara dan Sulawesi Tengah).

Untuk memperoleh hasil pemeliharaan yang efektif dan efisien, pelaksanaan


pemeliharaan fisik Prasarana Drainase Utama Perkotaan perlu mengikuti
prosedur sebagaimana diuraikan dalam tabel berikut.
Tabel 4.8 Prosedur pemeliharaan fisik
Prasarana Drainase Utama Perkotaan

No Urutan kegiatan Maksud dan Keterangan


tujuan
1 Inspeksi  Memperoleh informasi Dilakukan setiap awal bulan
lapangan 1) mengenai kondisi sepanjang tahun
terkini dari bangunan.
 Mengetahui bagian
bagian bangunan yang
perlu diperbaiki
2 Pengukuran Memperoleh gambaran Kegiatan ini tidak berlaku
mengenai dimensi/ untuk:
besaran pekerjaan  pemeliharaan darurat
sebagai bahan informasi  pekerjaan penggantian
untuk pembuatan disain komponen bangunan
pekerjaan dan peralatan
3 Penyiapan disain Memperoleh gambar Kegiatan ini tidak berlaku
pemeliharaan disain, volume pekerjaan untuk kategori:
korektif dan dan RAB.  pemeliharaan preventif;
rehabilitatif  pemeliharaan darurat.
4 Persiapan Mempersiapkan Kegiatan ini tidak berlaku
pelaksanaan kebutuhan sumber daya untuk pekerjaan yang
fisik yang diperlukan dalam bersifat penggantian
pemeliharan 2)pelaksanaan pekerjaan komponen bangunan dan
pemeliharaan. peralatan
5 Pelaksanaan Menghasilkan pekerjaan Dilaksanakan secara
kegiatan fisik pemeliharaan sesuai swakelola ataupun
pemeliharaan dengan disain. kontraktual
Menghasilkan gambar
terbangun (as bulit
drawing)
6 PengendalianMenjaga mutu dan target
pelaksanaan waktu pelaksanaan
pemeliharaan pekerjaan agar sesuai
dengan yang
direncanakan
7 Pelaporan Memperoleh informasi Untuk pekerjaan yang
kemajuan mengenai perkembangan berlangsung selama satu
pelaksanaan pelaksanaan pekerjaan bulan atau lebih perlu
pekerjaan (progres fisik dan/atau dibuat laporan: harian,
keuangan) mingguan dan bulanan,
pemeliharaan
serta laporan akhir
pelaksanaan.

1) Inspeksi lapangan terhadap seluruh prasarana drainase utama perkotaan


bertujuan untuk mendeteksi bagian bagian alur drainase utama perkotaan
dan bangunannya yang bermasalah dan memerlukan perbaikan, serta
menaksir jenis tindakan pemeliharaan yang tepat. Penilaian kondisi bangunan
tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan kategori tindakan (preventif
ataukah korektif). Juru atau petugas harus selalu mengadakan inspeksi rutin
di wilayah kerja yang menjadi tanggung jawabnya minimal setiap 1 (satu)
bulan sekali dan dilaksanakan pada setiap awal bulan.

Kerusakan yang dijumpai dalam inspeksi rutin harus segera dilaporkan


kepada pengamat untuk selanjutnya dilakukan pengecekan sebelum
dilaksanakan pekerjaan pemeliharaan dan/atau perbaikan rutin.

Untuk menentukan taksiran volume perbaikan fisik, petugas pelaksana


inspeksi perlu membawa peralatan ukur sederhana seperti: roll meter, alat
bantu ukur seperti: selang air atau tali . Sedangkan untuk mengetahui
perubahan dimensi palung alur drainase utama perkotaan dan bangunannya
yang mengalami kerusakan, pelaksanaannya perlu menggunakan peralatan
ukur (waterpass atau theodolit). Hasil pengukuran akan menjadi dasar dalam
pembuatan desain pemeliharaan.

Untuk mengetahui bagian bagian mana yang harus diperhatikan dalam


pelaksanaan inspeksi pada setiap ruas alur drainase utama perkotaan dan
setiap jenis bangunan, petugas pelaksana inspeksi perlu membawa formulir
sebagaimana tersebut dalam Lampiran: Formulir Catatan Inspeksi Alur
drainase utama perkotaan dan Bangunan Alur drainase utama
perkotaan.

Rangkuman cacatan inspeksi digunakan sebagai salah satu bahan


pertimbangan dalam evaluasi program OP lima tahunan, serta menjadi
masukan dalam penyusunan program OP pada tahun berikutnya.

Selain inspeksi rutin, kegiatan penelusuran Prasarana Drainase Utama


Perkotaan (walk through) perlu pula dilakukan terutama ketika menjelang
musim penghujan (banjir). Penelusuran dilakukan paling sedikit dua kali
dalam satu tahun. Penelusuran yang pertama dilakukan sebelum memasuki
musim penghujan, dengan tujuan membangun kesiap-siagaan mengantisipasi
kemungkinan terjadinya bencana banjir. Penelusuran Prasarana Drainase
Utama Perkotaan meliputi alur dan bangunan pelengkapnya, yang pertama
difokuskan pada tempat-tempat atau bangunan yang rentan dan berpotensi
mengalami masalah di kala musim banjir. Temuan masalah yang diperoleh
dari hasil penelusuran harus segera diselesaikan sebelum musim banjir tiba.

Sedangkan penelusuran yang kedua dilakukan sesudah terjadi bencana


banjir (paska banjir) dengan tujuan untuk melakukan evaluasi dan peng-
hitungan (assessment) mengenai nilai kerugian yang terjadi akibat banjir.

Penelusuran dilaksanakan oleh tim yang dibentuk Kepala Balai. Tim ini
beranggotakan dari unsur perencanaan, pelaksanaan pembangunan, dan OP.

Dalam kondisi tertentu, anggota tim penelusuran dapat ditambah dari unsur
instansi yang terkait dan atau masyarakat yang membangun prasarana di alur
drainase utama perkotaan .

2) Dalam pelaksanaan kegiatan fisik pemeliharaan perlu dilakukan pengendalian


dan pengawasan terhadap:
 Mutu pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan dimulai sejak persiap-an
sampai dengan pekerjaan selesai. Hal hal yang dikendalikan mencakup:
 penggunaan bahan; peralatan; metoda; dan tenaga kerja;
 Waktu pelaksanaan pekerjaan agar sesuai dengan jadwal
 pelaksanaan yang direncanakan dan dilakukan selama satu tahun;
 Progres fisik pelaksanaan secara harian dan berkala,atau sesuai kontrak.

Guna mencegah terjadinya gangguan terhadap kelangsungan


penyelenggaraan pelayanan air dan penggunaan Prasarana Drainase
Utama Perkotaan selama pelaksanaan kegiatan fisik pemeliharaan, unit
pelaksana OP perlu melakukan konsultasi dengan para pihak yang terkait
dalam:

a) Penyusunan jadwal pelaksanaan pemeliharaan


b) Penggunaan metoda pelaksanaan pemeliharaan
c) Rencana antisipasi untuk pencegahan pencemaran air dan bentuk
gangguan lain yang diakibatkan oleh pengoperasian peralatan
pemeliharaan.
d) Menyampaikan pemberitahuan kepada masyarakat yang berpotensi
terkena dampak, selambat-lambatnya satu minggu sebelum dimulainya
pekerjaan pemeliharaan.
e) Menyediakan sarana/materi pengganti sebagai substitusi untuk
sementara waktu kepada para pihak yang berpotensi terkena gangguan
selama pelaksanaan pemeliharaan.
f) Memasang rambu-rambu peringatan untuk pencegahan kemacetan dan
kecelakaan lalu lintas.
g) Menempatkan petugas pemandu arus lalu lintas kendaraan.
h) Melakukan perbaikan kembali atas kerusakan jalan umum yang
dipergunakan selama pekerjaan pemeliharaan berlangsung.

Pengaturan jadwal pelaksanaan pemeliharaan dimaksudkan misalnya untuk


mencegah terjadinya gangguan dalam pelayanan penyediaan air, dan gang-
guan terhadap aktivitas pendayagunaan SDA di tempat berlangsungnya
kegiatan pemeliharaan maupun di hulu dan di hilir lokasi kegiatan
pemeliharaan.

Penggunaan metoda pelaksanaan pemeliharaan yang tidak tepat akan


berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lingkungan di sekitar tempat
berlangsungnya pekerjaan pemeliharaan. Bahkan dapat pula menimbulkan
gangguan atau kerusakan struktur bangunan yang terletak di sekitar lokasi
pekerjaan pemeliharaan, serta kerusakan ekosistem alur drainase utama
perkotaan yang berada di hilir lokasi pekerjaan pemeliharaan.

Penyiapan sarana antisipasi, misalnya berupa penyiapan prasarana


pencegahan pencemaran air, droping penyediaan air minum yang
dipersiapkan untuk mencegah protes dari para pelanggan air minum yang
mengalami gangguan selama pekerjaan pemeliharaan berlangsung.

Pemberitahuan kepada para pihak yang diperkirakan terkena dampak,


dimaksudkan agar pihak yang bersangkutan memiliki waktu yang cukup
untuk beradaptasi apabila terjadi gangguan untuk sementara waktu selama
pekerjaan pemeliharaan berlangsung.

Pelaporan kemajuan pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh pelaksana


kegiatan. Laporan ini kemudian disampaikan kepada kepala unit pengelola
sumber daya air pada Daerah Tangkapan Air yang bersangkutan dan/atau
dinas provinsi/kabupaten/kota serta instansi terkait selaku pejabat kuasa
pengguna anggaran pemeliharaan.

Laporan akhir pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan merupakan rang-


kuman informasi seluruh pekerjaan pemeliharaan yang dilaksanakan pada
tahun anggaran berjalan. Laporan ini memuat informasi keuangan dan
kinerja, meliputi :

a. Volume masing-masing jenis bangunan


b. Waktu pelaksanaan
c. Jumlah dana yang tersedia dan jumlah dana yang digunakan;
d. Pemakaian tenaga kerja;
e. Daftar dan jumlah pemakaian bahan;
f. Pemakaian peralatan;
g. Kualitas hasil pekerjaan; dan
h. Catatan semasa pelaksanaan pekerjaan
i. Gambar terbangun (as bulit drawing)
j. Foto dokumentasi mengenai keadan: sebelum, selama dan setelah
pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan.
Catatan :
Kinerja dicatat pada setiap kejadian hujan dan dilaporkan setiap akhir
musim hujan pada akhir tahun yang bersangkutan

4.2.3 Pemeliharaan prasarana penunjang atau pendukung kegiatan OP

Prasarana penunjang atau pendukung kegiatan OP alur drainase utama


perkotaan terdiri atas:

1) Bangunan kantor, gudang, bengkel, pos jaga dan rambu-rambu keamanan.


2) Peralatan informasi dan telekomunikasi.
3) Peralatan berat dan peralatan transportasi.

4.2.3.1 Pemeliharaan dan perawatan bangunan kantor, gudang bengkel,


pos jaga dan rambu-rambu peringatan

Pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung bertujuan menjaga


keandalan bangunan gedung beserta prasarana dan sarananya agar
bangunan gedung selalu laik fungsi dan memenuhi persyaratan:

a) Keamanan bangunan;
b) Kesehatan bangunan gedung;
c) Kenyamanan bangunan gedung; dan
d) Kemudahan bangunan gedung

Jenis pekerjaan yang dilakukan meliputi:

 Membersihkan,
 Merapikan, dan
 Memperbaiki dan/atau mengganti bagian, komponen,
bahan bangunan, dan/atau prasarana dan sarananya.

Pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung dilakukan untuk


memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan pengelolaan bangunan
gedung, yaitu:

Kelengkapan tata cara pemeliharaan dan perawatan bangunan


gedung meliputi:

a) Penetapan prosedur dan metode pemeliharaan dan perawatan


bangunan;
b) Pembuatan program kerja pemeliharaan dan perawatan
bangunan;
c) Perlengkapan dan peralatan untuk pekerjaan pemeliharaan dan
perawatan bangunan; serta
d) Penetapan standar dan kinerja pemeliharaan dan perawatan
bangunan.

Rincian mengenai tata cara dan metode pemeliharaan dan pera-watan


bangunan gedung tersebut diatas agar dibuat oleh unit pengelola SDA
selaku pengelola bangunan yang bersangkutan dengan berpedoman
pada lampiran Peraturan Menteri PU No.24/PRT/M/2008 tentang
Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung.

4.2.3.2 Pemeliharaan peralatan informasi dan telekomunikasi

Peralatan dan perangkat informasi dan telekomunikasi yang tersedia


di stasiun utama (kantor Balai) pada umumnya terdiri atas:
workstation; monitor; printer; static display; global positioning system
(GPS),; local area network; storage data; serta peralatan catu daya.

Yang dimaksud dengan peralatan catu daya, misalnya: genset;


automatic transfer switch (ATS); static transfer switch (STS);
uninterruptable power supply (UPS); rectifier; batere; AC/DC
distribution board; dan rectifier dan batere mobile.

Pemeliharaan peralatan tersebut diatas harus dilaksanakan berdasar-


kan buku petunjuk pemeliharaan misalnya Manual Book atau
Installation Workbook yang disediakan oleh pabrik pembuat
peralatan yang bersangkutan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian dan


pemeliharaan peralatan di stasiun utama adalah sebagai berikut:
a) Petugas pengelola stasiun minimal memahami penggunaan
perangkat keras komputer, sistem operasi, sistem jaringan
komputer, software dan aplikasi database; dan prinsip kerja
masing-masing peripheral;
b) Kelengkapan dokumen prosedur pengoperasian;
c) Klasifikasi hak akses yang bisa diperoleh pihak-pihak yang
mengoperasikan aplikasi di stasiun utama;
d) Kelengkapan dokumen instalasi kabel;
e) Ijin kerja pengoperasian;
f) Seminimal mungkin tidak mengganggu sistem di sekitarnya; dan
g) g) Pengetahuan mengenai keselamatan kerja.
4.2.4 Pemeliharaan peralatan berat dan transportasi

Pemeliharaan peralatan berat dan transportasi merupakan kegiatan yang


dilakukan dengan tujuan untuk mencegah kemungkinan munculnya
gangguan/ kerusakan pada bagian mesin dan kompenen-komponen lain yang
merupakan unsur yang terkait dengan peralatan dan kendaraan yang
bersangkutan. Jenis peralatan berat yang berkaitan dengan pekerjaan OP Alur
drainase utama perkotaan dan prasarananya, misalnya:
 Alat gali, penggaruk lumpur, tanah dan batuan (kapal keruk,
 excavator backhoe, shovel, clamshell);
 Alat pengangkut atau pemindah tanah dan batuan (bulldozer, loader,
 dump truck dan conveyor belt).
 Alat pemadat tanah (roller dan compactor).
Sedangkan peralatan transportasi yang diperlukan dalam pekerjaan OP Alur
drainase utama perkotaan , misalnya kendaraan roda empat (SUV, jeep atau
pick up, dan truk), dan kendaraan roda dua (sepeda motor dan sepeda), dan
perahu motor.
Pemeliharaan peralatan berat dan transportasi terdiri atas perawatan rutin,
berkala dan penggantian sebagaimana tersebut dalam tabel berikut.

Tabel 4.9 Kategori pemeliharaan alat-alat berat dan transportasi

No Kelompok Jenis pekerjaan Komponen yang


pekerjaan pemeliharaan dirawat atau diganti
pemeliharaan
1. Rutin Service rutin berdasarkan jam 1) body kendaraan
operasi peralatan (pencucian)
2) pelumas mesin, rem,
dan transmisi
3) grease
4) roda
2. Berkala Pemeliharaan atau perawatan 1) Engine/ blok mesin
(pemeliharaan yang dilaksanakan secara 2) Clutch/Torgue Converter
yang terjadwal yang meliputi: 3) Transmission
terjadwal) • Engine overhaul 4) Drive Line
• Transmisi overhaul 5) Differential
• General overhaul 6) Final Drive
7) Steering
8) Brake System
9) Electrical System
10) Hydraulic System
11) Chasis & Body
12) Attachment
3. Penggantian Dilaksanakan apabila ada unit
total atau peralatan dan kendaraan yg Pengadaan baru
asset renewal rusak atau tidak laik operasi

4.3 Kriteria Teknis Pemeliharaan Alur drainase utama perkotaan dan Prasarana
Alur drainase utama perkotaan

4.3.1 Kriteria Teknis Pemeliharaan Alur Drainase Utama Perkotaan


1) Penatausahaan alur drainase utama perkotaan.
2) Pemeliharaan ruang alur drainase utama perkotaan dan pengendalian
pemanfaatan ruang alur drainase utama perkotaan.
3) Pemeliharaan dataran banjir dan pengendalian pemanfaatan dataran
banjir.
4) Restorasi alur drainase utama perkotaan.

4.3.2 Kriteria Teknis Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan

1) Sesuai dengan tata cara OP prasarana alur drainase utama perkotaan,


sebelum dilaksanakan kegiatan OP prasarana alur drainase utama
perkotaan, perlu dilakukan tahapan kegiatan Penatausahaan bangunan
serta kegiatan inspeksi bangunan alur drainase utama perkotaan .
2) Penatausahaan bangunan alur drainase utama perkotaan bertujuan untuk
mengamankan eksistensi bangunan secara administratif sesuai dengan
kaidah pengelolaan barang milik negara (BMN) atau barang milik daerah
(BMD).
3) Penatausahaan bangunan alur drainase utama perkotaan merupakan
kegiatan inventarisasi atau pencatatan bangunan alur drainase utama
perkotaan dan pemberian nomor kode atau kodefikasi.Hasil inventarisasi
bangunan alur drainase utama perkotaan dihimpun kedalam laporan
inventarisasi Prasarana Alur drainase utama perkotaan . Setiap kali terjadi
perubahan mengenai jumlah, jenis, dan/atau kondisi bangunan, harus
senantiasa dilakukan pemutakhiran catatan/data mengenai hal ihwal
terjadinya perubahan.
4) Kegiatan inspeksi rutin secara visual dilakukan oleh juru alur drainase
utama perkotaan paling sedikit 1(satu) kali dalam 1 (satu) bulan, guna
melihat dan memastikan kondisi prasarana alur drainase utama perkotaan
dalam kondisi baik. Dalam hal ditemukan permasalahan penurunan kondisi
ataupun terjadi kerusakan bangunan, maka perlu ditindak- lanjuti dengan
kegiatan penelusuran detail terhadap tingkat kerusakan bangunan tersebut
untuk kemudian dilakukan analisa tingkat kerusakan dan rekomendasi
untuk per-baikannya.
5) Penelusuran prasarana drainase utama perkotaan atau walkthrough dila-
kukan paling sedikit 2 (dua) kali dalam satu tahun terutama ketika
menjelang musim penghujan (sebelum masa banjir) dan setelah terjadinya
banjir atau paska musim banjir. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat
kerusakan prasarana drainase utama perkotaan (apabila terjadi
kerusakan), terutama pada tanggul dan lokasi yang rentan terhadap
bocoran, longsoran tebing dan limpasan air. Penelusuran prasarana
drainase utama perkotaan ini dilakukan oleh Tim yang dibentuk oleh
Kepala Balai Besar/Balai Wilayah Alur drainase utama perkotaan . Tim
dimaksud terdiri dari unsur Balai dan instansi terkait.
6) Pemeliharaan yang bersifat preventif bertujuan untuk mempertahankan
fungsi prasarana drainase utama perkotaan tetap sesuai dengan tingkat
kinerja layanan yang direncanakan. Pemeliharaan preventif terdiri atas
pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala. Pemeliharaan rutin dan
berkala dilakukan dengan selang/interval waktu yang berbeda-beda untuk
setiap jenis bangunan, misalnya setiap 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun
atau 2 tahun.
7) Pemeliharaan rutin dapat berupa kegiatan fisik maupun kegiatan non-fisik
dan merupakan kegiatan pemeliharaan yang dilakukan secara rutin, antara
lain meliputi kegiatan sosialisasi peraturan terkait dengan pengamanan
bangunan dan pemeliharaan bangunan, membersihkan sampah dan
pembersihan serasah atau batang-batang kayu yang dapat mengganggu
aliran.
8) Pemeliharaan berkala dapat berupa kegiatan fisik maupun kegiatan non
fisik, yang dilakukan secara berkala dengan jadwal tetap.

4.3.2.1 Pemeliharaan Tanggul Alur drainase utama perkotaan


a) Tanggul alur drainase utama perkotaan , dibangun untuk menjaga
aliran alur drainase utama perkotaan tidak melimpas dan
menggenangi daerah dibelakang tanggul. Tinggi tanggul dibuat
dengan kapasitas pengaliran dengan periode ulang tertentu.
Tanggul terdiri atas tanggul tanah, dan tanggul pasangan
beton/batu.

b) Inspeksi pengamatan kondisi tanggul secara visual dilakukan


paling sedikit 1(satu) kali dalam satu bulan untuk memastikan
kondisi tanggul dalam keadaan baik. Pengamatan umumnya
mencakup keutuhan tubuh tanggul, kondisi puncak tanggul, lereng
hulu (bagian dalam) dan lereng hilir (bagian luar) tanggul serta
kaki dan tumpuan tanggul.
c) Termasuk dalam pengamatan kondisi tanggul diatas, adalah
identifikasi ruas-ruas tanggul kritis, serta kerusakan dan ketidak-
teraturan bagian tanggul, antara lain yang diakibatkan oleh erosi
atau penggerusan aliran alur drainase utama perkotaan ,
kerusakan puncak tanggul, keretakan atau kebocoran dan
longsoran lereng tanggul dan tebing alur drainase utama
perkotaan.
d) Apabila ditemukan adanya kondisi kritis atau kerusakan pada
sebagian tanggul , maka perlu ditindak-lanjuti dengan penelusuran
detail terhadap tingkat kerusakan bangunan untuk kemudian
dilakukan analisa tingkat kerusakan dan rekomendasi untuk
perbaikannya. Hasil analisa kerusakan ini, harus memuat data
detail kebutuhan perbaikan (pemeliharaan preventif), antara lain :
berapa panjang ruas tanggul (dalam m) yang kritis, luas kerusakan
lereng tanggul (dalam m2), luas keretakan bagian tanggul dan
puncak tanggul pasangan batu.
e) Terhadap tanggul-tanggul yang kritis perlu segera dilakukan
perbaikan untuk menghindari potensi terjadinya kerusakan yang
lebih parah. Beberapa contoh kerusakan tanggul antara lain :
lendutan puncak tanggul tanah; bocoran dan rembesan; longsoran
dan kikisan tebing tanggul, keretakan pada tubuh dan puncak
tanggul pasangan batu.
f) Apabila diperlukan peninggian tanggul untuk memperoleh tinggi
jagaan cukup pada saat banjir, bisa dilakukan penambahan tinggi
tanggul dengan cara menambah timbunan tanah diatasnya atau
memasang tembok parapet. Dalam hal menambah timbunan
tanggul, terlebih dahulu perlu diperhatikan kekuatan dan kondisi
tanggul yang sudah ada, untuk menghindari terjadinya longsoran
atau kerusakan tanggul asli.

4.3.2.1.1 Tanggul Tanah :

a) Pemeliharaan tanggul tanah secara rutin berupa


kegiatan pembersihan tanggul, sementara kegiatan
berkala berupa pemotongan rumput serta penanaman
kembali bagian bagian tanggul yang rumputnya mati.
Pemotongan rumput, pemangkasan semak-semak liar.
Penambalan dan pemadatan kembali serta penggantian
gebalan rumput pada bagian yang mati atau terbuka,
harus dilakukan paling sedikit 1(satu) kali dalam 1
(satu) bulan.
b) Pemeliharaan preventif secara berkala untuk perbaikan
(meliputi antara lain : pemadatan pada bagian puncak
tanggul yang mengalami kelendutan, penutupan
bocoran, dan perbaikan longsoran, serta perbaikan
sistem drainase tanggul), dilakukan paling sedikit 1
(satu) kali dalam 6 (enam) bulan.
4.3.2.1.2 Tanggul Pasangan Batu Atau Beton :

a) Pemeliharaan tanggul pasangan batu atau beton secara


rutin berupa kegiatan pembersihan tanggul, pencabutan
tanaman liar pada permukaan tembok tanggul, dan
pembersihan lubang drainase pada tubuh tanggul, harus
dilakukan paling sedikit 1(satu) kali dalam 1 (satu)
bulan.
b) Pemeliharaan berkala tanggul pasangan batu kali atau
tanggul beton, antara lain berupa: perbaikan sistem
drainase, perbaikan dasar tembok pasangan yang
terlepas, tergerus atau gerowong, dan perbaikan
permukaan tanggul yang retak/pecah, harus dilakukan
paling tidak setelah penelusuran, atau paling sedikit 1
(satu) kali dalam 6 (enam) bulan.

4.3.2.2 Pemeliharaan Perkuatan Tebing (Revetment)


a) Revetment atau bangunan pelindung tebing adalah bangunan
untuk melindungi tebing alur drainase utama perkotaan secara
langsung terhadap kerusakan akibat tekanan arus alur drainase
utama perkotaan, atau adanya potensi kelongsoran tebing.
Bangunan pelindung tebing, umumnya terdiri atas jenis perkuatan
pasangan batu, beton, pasangan bronjong. Tata cara perencanaan
teknik pelindung tebing dari pasangan batu dapat mengikuti acuan
SNI 03-3441-1994.
b) Inspeksi pengamatan kondisi bangunan pelindung tebing atau
revetment, secara visual, dilakukan paling sedikit 1(satu) kali
dalam satu bulan untuk memastikan kondisi bangunan dalam
keadaan baik. Pengamatan umumnya mencakup keutuhan tubuh
dan lereng bangunan, kondisi puncak, serta kaki dan tumpuan
bangunan pelindung tebing.
c) Termasuk dalam pengamatan ini, adalah identifikasi kerusakan
yang antara lain disebabkan oleh erosi atau penggerusan aliran air
didalam alur drainase utama perkotaan, keretakan atau kebocoran
dan longsoran lereng bangunan pelindung tebing alur drainase
utama perkotaan , kerusakan pada kawat pengikat bronjong dan
lepasnya batuan dalam bronjong, penurunan struktur bronjong.
d) Apabila pada saat dilakukannya inspeksi visual, ditemui adanya
kerusakan atau kondisi pada sebagian struktur atau komponen
bangunan prasarana revertment yang kritis yang perlu dilakukan
perbaikan untuk menghindari potensi kerusakan yang lebih parah,
perlu direkomendasikan untuk dilakukan penelitian detail melalui
walkthrough. Beberapa contoh antara lain : kerusakan longsoran
dan kikisan tebing tanggul, kerusakan pada kaki revetment.
e) Pemeliharaan bangunan pelindung tebing secara rutin berupa
kegiatan pembersihan tubuh bangunan dari sampah yang
tersangkut atau berupa pembersihan dan pencabutan tumbuhan
liar pada permukaan bangunan, atau pembersihan lubang-lubang
drainase pada permukaan tembok, dilakukan paling sedikit 1
(satu) kali dalam 1 (satu ) bulan.
f) Pemeliharaan preventif secara berkala untuk perbaikan ini
(meliputi antara lain : penambalan tembok pasangan yang terlepas,
perbaikan dinding tembok yang retak atau pecah, serta perbaikan
kaki bangunan yang tergerus stau gerowong dengan toe protection,
yang untuk upaya perbaikannya tidak diperlukan desain), dan
merupakan rekomendasi hasil kegiatan penelusuran
(walkthrough) yang dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 6
(enam) bulan, terutama sebelum waktu musim banjir.

4.3.2.3 Pemeliharaan Pintu Pengendali Banjir


a) Pintu pengendali banjir beserta bangunan pelengkapnya, yang
dioperasikan untuk mengendalikan aliran banjir dan penga-
turan tinggi muka air dimuka pintu, dilakukan sesuai dengan
kondisi muka air di alur drainase utama perkotaan serta
mengikuti prosedur dan manual pengoperasian pintu dan
peralatan pendukungnya. Pintu harus selalu siap dioperasikan
pada saat diperlukan. Oleh karenanya, factor pemeliha-raan
menjadi sangat penting untuk menjamin pintu dapat
dioperasikan.
b) Kegiatan inspeksi kondisi fisik pintu-pintu air beserta
Bangunannya, secara visual, dilakukan paling tidak 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) bulan, untuk memastikan kondisi pintu dan
bangunannya (termasuk sistem kontrol panel listrik dan peralatan
mekanikal-elektrikal) dalam keadaan baik, serta dapat diketahui
apabila terdapat kerusakan.
c) Dalam hal terdapat kerusakan pada komponen pintu air dan
kelengkapannya, yang dikhawatirkan dapat berpengaruh
terhadap pengoperasian pintu atau kemungkinan
timbulnyakerusakan yang lebih parah, harus ditindak-lanjuti
dengan kegiatan penelusuran detail untuk mengetahui tingkat
kerusakan dan rekomendasi langkah perbaikannya. Dalam hal
tidak ada rekomendasi dari hasil inspeksi, maka kegiatan
penelusuran (walkthrough) harus dilakukan paling tidak 1 (satu)
kali dalam 6 (enam) bulan, utamanya sebelum musim banjir.
d) Pemeliharaan preventif pintu pengendali banjir secara rutin
berupa kegiatan pembersihan tubuh bangunan, pencabutan
tanaman liar atau gulma air (enceng gondok) didepan pintu yang
dapat mengganggu aliran, serta pembersihan sampah yang
tersangkut, yang dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1
(satu) bulan. Kegiatan ini dapat dilakukan bersamaan dengan
kegiatan inspeksi.
e) Pemeliharaan preventif secara berkala untuk tujuan menjaga
kondisi pintu dan bangunan serta peralatan pendukungnya tetap
dalam keadaan baik dan siap operasi, meliputi antara lain:
 Pengecatan pintu dan bangunannya, termasuk pengecatan
staff gauge (papan duga air), dilakukan paling sedikit 1
(satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Sebelum pengecatan, harus
dilakukan pembersihan pintu dari karat, dan dicat dengan
cat dasar (meni). Waktu pengecatan sebaiknya dilakukan
 pada musim kemarau.
 Pelumasan pada peralatan unit penggerak operasi pintu
serta peralatan hidro-mekanikal lainnya, termasuk
penguatan baut/mur pengikat, dilakukan paling sedikit 1
(satu) kali dalam 3 (tiga) bulan, atau mengikuti ketentuan
sesuai manual peralatan masing- masing yang dikeluarkan
 pabrik pembuat peralatan dimaksud.
 Perbaikan ringan yang tidak memerlukan kelengkapan
perhitungan desain, dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) tahun, sebelum musim hujan / banjir datang.

4.3.2.4 Pemeliharaan Prasarana Pompa


a) Prasarana Pompa beserta peralatan penggerak dan bangunan
pelengkapnya, yang dioperasikan untuk kegiatan penyediaan air
atau untuk mengendalikan aliran banjir, dilakukan sesuai
kebutuhan dan atau sesuai dengan kondisi muka air di alur
drainase utama perkotaan /waduk, dan harus mengikuti
prosedur dan manual pengoperasian pompa dan peralatan
pendukungnya. Prasarana pompa harus selalu siap dioperasikan
pada saat diperlukan, dan oleh karenanya, faktor pemeliharaan
menjadi sangat penting untuk menjamin pompa dapat
dioperasikan dengan baik.
b) Kegiatan inspeksi kondisi fisik prasarana pompa beserta
peralatan pendukung dan bangunannya, secara visual, dilakukan
paling tidak 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan, untuk memastikan
kondisi prasarana pompa dalam keadaan baik, serta untuk
mengetahui apabila terdapat kerusakan.
c) Dalam hal terdapat kerusakan pada komponen pompa dan
kelengkapannya, yang dikhawatirkan dapat berpengaruh
terhadap pengoperasian pompa, atau kemungkinan timbulnya
kerusakan yang lebih parah pada komponen peralatan
pendukung dan bangunan pelengkapnya, harus ditindak-lanjuti
dengan kegiatan penelusuran detail untuk mengetahui tingkat
kerusakan dan rekomendasi langkah perbaikannya. Dalam hal
tidak ada rekomendasi dari hasil inspeksi, maka kegiatan
penelusuran (walkthrough) harus dilakukan paling tidak 1 (satu)
kali dalam 6 (enam) bulan.
d) Pemeliharaan preventif prasarana pompa secara rutin dapat
berupa kegiatan pembersihan tubuh bangunan, pencabutan
tanaman liar atau pembersihan gulma air (enceng gondok), yang
dapat mengganggu atau menyumbat aliran, serta pembersihan
sampah yang tersangkut, terutama didepan fasilitas pompa, yang
dilakukan paling sedikit 1 kali dalam 1 (satu) bulan. Kegiatan ini
dapat dilakukan bersamaan waktunya dengan kegiatan inspeksi.

e) Pemeliharaan preventif secara berkala untuk menjaga kondisi


prasarana pompa dan bangunan serta peralatan pendukungnya
tetap dalam keadaan baik dan siap operasi, meliputi antara lain:

 Pengecatan fasilitas pompa, peralatan pendukung dan


bangunannya, dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun. Sebelum pengecatan, harus dilakukan
pembersihan pintu dari karat, dan dicat dengan cat dasar
(meni). Waktu pengecatan sebaiknya dilakukan pada musim
kemarau.
 Pelumasan pada peralatan unit penggerak operasi pompa,
genset serta peralatan hidro-mekanikal lainnya, dilakukan
paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan, atau
mengikuti ketentuan sesuai manual peralatan masing-masing
 yang dikeluarkan pabrik pembuat peralatan dimaksud.
 Perbaikan ringan yang tidak memerlukan keleng-kapan
perhitungan desain, dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) tahun, sebelum musim hujan / banjir datang.

4.3.2.5 Pemeliharaan Kolam Penampung Banjir Sementara


(Retention Pond)
a) Retention pond (waduk retensi) beserta bangunan pelengkapnya
dioperasikan untuk menampung air banjir sementara serta
untuk mengendalikan aliran banjir melalui “operasi waduk”
dengan pengaturan pintu atau pelimpah banjir.
b) Kegiatan inspeksi kondisi fisik retention pond beserta bangunan
kelengkapannya, secara visual, untuk pemeliharaan, dilakukan
paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan, untuk
memastikan kondisi bangunan dalam keadaan baik, serta dapat
segera diketahui apabila terdapat kerusakan.
c) Dalam hal terdapat kerusakan pada komponen bangunan, yang
dikhawatirkan dapat terjadi kerusakan yang lebih parah, harus
ditindak-lanjuti dengan kegiatan penelusuran detail untuk
mengetahui tingkat kerusakan dan rekomendasi langkah
perbaikannya. Dalam hal tidak ada rekomendasi dari hasil
inspeksi, maka kegiatan penelusuran (walkthrough) harus
dilakukan paling tidak 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan,
utamanya sebelum musim banjir dan setelah musim banjir.
d ) Pemeliharaan waduk retensi secara rutin berupa kegiatan
pembersihan tubuh bangunan utama, pembersihan dan
pencabutan tanaman liar pada tanggul, pembersihan sampah
dan gulma air (enceng gondok) di waduk, pengawasan dan
perlindungan waduk dan bangunannya, yang dilakukan paling
sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan.

Kegiatan ini dapat dilakukan bersamaan waktunya dengan


kegiatan inspeksi.

a) Pemeliharaan preventif secara berkala untuk menjaga kondisi


waduk retensi, beserta pintu dan bangunan serta peralatan
pendukungnya dalam keadaan baik, meliputi :
 Pemotongan rumput pada lereng dan permukaan badan
tanggul waduk retensi, pemangkasan semak dan tanaman
liar, dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga)
 bulan
 Pelumasan pada peralatan unit penggerak operasi waduk
retensi serta peralatan hidro-mekanikal lainnya, dilakukan
paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan, atau
mengikuti ketentuan sesuai manual peralatan masing-
masing yang dikeluarkan pabrik pembuat peralatan
 dimaksud.
 Pengecatan pintu, peralatan pelengkap dan bangunan-nya,
dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.
Waktu pengecatan sebaiknya dilakukan pada musim
kemarau.
 Perbaikan ringan yang tidak memerlukan kelengkapan
perhitungan desain, dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) tahun, sebelum musim hujan / banjir
 datang.
 Pengerukan sedimen di waduk, terutama sedimen yang
menumpuk di depan pintu inlet dan outlet dila-kukan
paling sedikit 1(satu) kali dalam 5 (lima) tahun

4.3.2.6 Pemeliharaan Jalan Inspeksi


a) Jalan inspeksi dan jalan masuk (akses), dipergunakan untuk
mendukung kegiatan operasi prasarana alur drainase utama
perkotaan , kegiatan inspeksi dan pengawasan alur drainase
utama perkotaan dan bangunan alur drainase utama perkotaan,
mendukung kegiatan pemeliharaan prasarana alur drainase
utama perkotaan serta untuk mendukung kegiatan perawatan
dan perbaikan alur drainase utama perkotaan dan prasarana
alur drainase utama perkotaan .
b) Kegiatan Inspeksi dan pengamatan kondisi jalan inspeksi
dilakukan paling sedikit 1(satu) kali dalam 1 (satu) bulan untuk
memastikan kondisi jalan inspeksi dalam keadaan baik.
Pengamatan umumnya mencakup keutuhan lapisan
penutupjalan, kondisi permukaan jalan, kerusakan dan
ketidakteraturan tubuh jalan inspeksi, sisi lereng jalan, kondisi
saluran drainase, bangunan melintang, dan sebagainya.
c) Apabila tanggul alur drainase utama perkotaan juga difungsikan
sebagai jalan inspeksi, maka kegiatan inspeksi dilakukan
bersamaan waktunya dengan inspeksi pengamatan tanggul.
Pengamatan jalan inspeksi ini harus memperhatikan kekuatan
tanggul untuk jalan, kondisi lapisan penutup puncak tanggul
(paving, beton, aspal), apakah mengalami ketidak teraturan
permukaan, lendutan, kupasan, retakan atau longsoran, yang
perlu penanganan perbaikan segera pada ruas tersebut.

d) Pekerjaan pemeliharaan rutin jalan inspeksi meliputi kegiatan


pembersihan jalan, pembersihan saluran drainase, pemangkasan
tanaman liar yang mengganggu jalan, pengendalian lalu lintas
umum, pengawasan dan pencegahan kendaraan yang berpotensi
merusak jalan inspeksi (dengan pemasangan portal atau papan
larangan), dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali daalam 1 (satu)
bulan. Kegiatan pemeliharaan rutin ini dapat dilakukan bersamaan
dengan kegiatan inspeksi rutin.
e) Pekerjaan pemeliharaan berkala dilakukan paling sedikit 1 (satu)
kali dalam 6 bulan, meliputi antara lain: perbaikan bagian yang
rusak, perbaikan aspal yang terkelupas, penutupan jalan yang
berlubang, penambalan permukaan jalan, pengecatan pintu portal.

4.3.2.7 Pemeliharaan Gedung Kantor


a) Gedung kantor untuk mendukung OP prasarana alur drainase
utama perkotaan , sangat diperlukan guna menjamin
kelancaran pelaksanaan kegiatan OP alur drainase utama
perkotaan . Segala aktifitas berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian, monitoring dan
evaluasi, serta dokumentasi dan pelaporan penyelenggaraan OP
alur drainase utama perkotaan berpusat di gedung kantor ini.
b) Prasarana kantor pendukung kegiatan OP alur drainase utama
perkotaan, dapat terdiri atas: Bangunan kantor, gudang,
bengkel/workshops, ruang laboratorium dan pos jaga.
c) Pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung bertujuan
menjaga keandalan bangunan gedung beserta prasarana dan
sarananya agar bangunan gedung selalu laik fungsi.
d) Kegiatan pemeliharaan rutin dilakukan setiap hari, meliputi
antara lain pemeliharaan kebersihan gedung dan halamannya,
pemeliharaan peralatan dan perlengkapan gedung, pemeliha-
raan peralatan instalasi listrik, air dan sanitasi, serta pemeli-
haraan peralatan keamanan bangunan.
e) Kondisi bengkel dan fasilitas laboratorium harus selalu dijaga
kebersihannya. Pemeliharaan ruang dilakukan setiap hari
dengan kegiatan pemeliharaan kebersihan, terutama setelah
fasilitas ruangan digunakan. Peralatan harus dibersihkan dan
dikembalikan ditempat penyimpanan.
f) Pemeliharaan berkala berupa pengecatan gedung dan
bangunan lainnya, perbaikan dan/atau penggantian sebagian
komponen bangunan, yang dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) tahun.
g) Rincian mengenai tata cara dan metode pemeliharaan dan
perawatan bangunan gedung tersebut diatas agar dibuat oleh
unit pengelola OP alur drainase utama perkotaan selaku
pengelola bangunan yang bersangkutan dengan berpedoman
pada lampiran Peraturan Menteri PU No.24/PRT/M/2008
tentang “Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan
Gedung”.
4.3.2.8 Pemeliharaan Peralatan, Alat Berat Dan Kendaraan Operasi-
onal Pendukung Kegiatan OP Prasarana Drainase Utama
Perkotaan
a) Peralatan, alat berat dan kendaraan operasi pendukung
kelancaran kegiatan OP alur drainase utama perkotaan, meliputi
berbagai jenis alat berat (antara lain: truck, dumptruck, crane,
dozer, backhoe), peralatan untuk kegiatan pemeliharaan (mesin
pemotong rumput, chainsaw pemotong pohon), serta kendaraan
operasi roda 4 dan roda 2. Peralatan, Alat berat dan kendaraan
operasi tersebut harus selalu dipelihara agar tetap laik operasi
dan siap dimobilisasikan ketika dibutuhkan.
b) Inspeksi rutin dilakukan setiap hari untuk memastikan bahwa
kondisi alat berat dan kendaraan operasi dalam keadaan baik.
Pemeliharaan rutin dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan
inspeksi.
c) Pengecekan kondisi (sekaligus untuk pengecekan kelaikan) serta
uji operasi (running test) mesin beserta peralatan
perlengkapannya, agar selalu dalam keadaan siap operasi,
dilakukan paling tidak 1 (satu) kali dalam satu minggu.
d) Pemeliharaan rutin peralatan alat berat dan kendaraan operasi
meliputi pencucian kendaraan dan peralatan, pengecekan oli
mesin dan minyak rem, yang dilakukan paling sedikit 1 (satu)
kali dalam 1 (satu) hari.
e) Pemeliharaan berkala terhadap peralatan/alat berat dan
kendaraan operasional, dilakukan dalam bentuk servis rutin
berdasarkan jam operasi peralatan (antara lain pelumasan
mesin, grease dan penggantian ban).
f) Pemeliharaan berkala peralatan berat dan kendaraan operasi-
onal OP alur drainase utama perkotaan, yang dilaksa-nakan
secara terjadwal mengikuti ketentuan dalam manual
peme-liharaan yang dikeluark an oleh pabrik pembuatnya,
antara lain meliputi kegiatan : overhaul mesin overhaul
transmisi, general overhaul.
g) Secara umum, pemeliharaan peralatan tersebut diatas harus
dilaksanakan mengacu kepada buku petunjuk pemeliharaan
misalnya Manual Book atau Installation Workbook yang
disediakan oleh pabrik pembuat peralatan yang bersangkutan.
h) Pengoperasian peralatan transportasi dilaksanakan sesuai
dengan manual operasi peralatan masing masing.
4.3.2.9 Pemeliharaan Peralatan Informasi Dan Komunikasi
a. Peralatan informasi dan komunikasi, termasuk peralatan penting
yang diperlukan untuk mendukung kelancaran kegiatan operasi
dan pemeliharaan prasarana alur drainase utama perkotaan .

b. Peralatan informasi dimanfaatkan untuk mendukung


pengumpulan data, analisis penyediaan basis data dan layanan
informasi berkaitan dengan kegiatan OP prasarana alur drainase
utama perkotaan . Peralatan informasi terdiri antara lain :
workstation, UPS computer, printer, monitor, proyektor, operasi
router, storage data, modem, peralatan GPS (global positioning
system), fasilitas LAN (local area network), peralatan catu daya.
Peralatan ini perlu dilengkapi pula dengan fasilitas jaringan
internet atau TV cable, jaringan listrik, penyediaan biaya
langganan listrik, pulsa, biaya langganan internet, serta
perlengkapan operasi (tinta printer, kertas, ATK) dan fasilitas
software.

c. Peralatan komunikasi, digunakan untuk membantu kelancaran


komunikasi dan koordinasi dalam penyelenggaraan kegiatan OP
prasarana alur drainase utama perkotaan , meliputi antara lain :
telepon/handphone, alat komunikator, handy talky, fasilitas
transmitter, reciever.
d. Pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala terhadap
peralatan informasi dan telekomunikasi tersebut diatas
dilaksanakan berdasarkan buku petunjuk manual pemeliharaan
yang disediakan oleh pabrik pembuat peralatan yang
bersangkutan.
e. Pengecekan peralatan komunikasi agar selalu dalam keadaan
siap dioperasikan dan dalam keadaan laik operasi, dapat
dilakukan setiap saat, atau paling tidak 1 kali dalam satu bulan.
f. Demikian juga dengan peralatan informasi dan komunikasi
harus selalu dalam keadaan siap dioperasikan dan laik operasi.
Pengecekan peralatan komunikasi dapat dapat dilakukan setiap
saat, atau paling tidak 1 kali dalam satu bulan.

Catatan:
Khusus drainase yang tidak menggunakan sisten gravitasi, tetapi
dengan sistem polder, maka OP masing masing prasarana harus
dilihat dalam satu amanagement sistem polder.
BAB V

KELEMBAGAAN DAN SUMBER DAYA MANUSIA

5.1 Struktur organisasi Pelaksana Operasi serta Pemeliharaan Prasarana Drainase


Utama Perkotaan di Tingkat Lapangan

Ujung tombak pelaksanaan tugas sehari-hari Operasi serta Pemeliharaan Prasarana


Drainase Utama Perkotaan di lapangan dilaksanakan oleh beberapa satuan
pengamat Operasi serta pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan.
Satuan pengamat ini merupakan sub unit pelaksana Operasi yang berada dibawah
unit pelaksana teknis pengelola sumber daya air wilayah Drainase Utama Perkotaan.

Satuan pengamat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan gugus tugas
terdepan dalam pelaksanaan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan yang
dibentuk. oleh Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan
kewenangannya dalam pengelolaan sumber daya air.

Kantor pengamat terletak di ibukota kabupaten/kota yang berkaitan dengan wilayah


kerja pengamat. Tiap tiap kantor satuan pengamat dipimpin oleh seorang pengamat
OP Drainase Utama Perkotaan yang dibantu sekurang-kurangnya oleh satu orang
tenaga administratif, satu orang tenaga teknis, dan pesuruh, serta petugas keamanan
kantor.

Seorang pengamat membawahi 3 sampai dengan 5 juru OP Drainase Utama


Perkotaan yang berdomisili tersebar sesuai dengan wilayah kerjanya masing-
masing. Seorang juru dibantu oleh beberapa orang petugas OP. Tabel berikut ini
menguraikan hirarkhi organisasi Pelaksana OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan
di lapangan dengan uraian tugas, serta batasan wilayah tanggung jawab masing-
masing elemen unsur organisasi.
Gambar No.3 Struktur Organisasi Satuan Pelaksana Tugas OP
Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Kebutuhan personil ditentukan sesuai dengan besarnya beban kerja yang dihitung
berdasarkan kriteria panjang, lebar area prasarana Drainase Utama Perkotaan,
dengan memperhatikan posisi atau letak Drainase Utama Perkotaan yang
bersangkutan.

5.2 Beban kerja Pengamat Dan Juru Yang Menangani OP Drainase Utama Perkotaan

Beban kerja Pengamat dan Juru yang menangani OP Drainase Utama Perkotaan
ditentukan berdasarkan lingkup Drainase Utama Perkotaan yang diurus dan
besarnya Drainase Utama Perkotaan yang ditentukan berdasarkan kriteria
sebagaimana tersebut di dalam tabel berikut.

Tabel 5.1 Beban Kerja Pengamat dan Juru Drainase Utama Perkotaan
Letak/posisi Beban kerja
No Lebar Drainase
Drainase Utama
Utama Perkotaan Seorang
Perkotaan Pengamat Seorang Juru

1 Di perkotaan <2m < 1000 m 250 m

2–8m < 2Km 500m


5.3 Uraian Tugas dan Kualifikasi Pengamat dan Juru Drainase Utama Perkotaan

Uraian tugas Pengamat dan Juru Drainase Utama Perkotaan berikut persyaratan
kualifikasinya diatur sebagaimana tersebut di dalam tabel berikut.

Tabel 5.2 Uraian tugas dan persyaratan Pengamat, Juru, dan petugas

OP Drainase Utama Perkotaan

No Jabatan Uraian Tugas Persyaratan minimum

1 Pengamat 1) Membina para juru dan petugas 1) Lulus sarjana muda/ D-


dan/atau operator dalam III Teknik sipil
pelaksanaan OP prasarana 2) Sehat jasmani dan
Drainase Utama Perkotaan rokhani
2) Mengajukan usulan rencana anggaran 3) Jujur dan berkelakuan
biaya operasi prasarana Drainase baik
Utama Perkotaan ; 4) Mampu memimpin
3) Menyampaikan laporan pelaksanaan organisasi dan tim kerja
kegiatan OP prasarana Drainase 5) Bertanggung jawab
Utama Perkotaan kepada kepala Unit 6) Lulus dalam pelatihan
pelaksana OP di kantor UPT Pengelola kepemimpinan
SDA WS yang bersangkutan. 7) Lulus dalam
4) Melaksanakan supervise pelaksanaan pelatihan OP prasarana
kegiatan OP prasarana Drainase Drainase Utama
Utama Perkotaan. Perkotaan (untuk
5) Melaksanakan OP terhadap seluruh pengamat), atau
Prasarana Drainase Utama Perkotaan berpengalaman sebagai
juru paling sedikit 10
6) Melaksanakan koordinasi dengan tahun.
masyarakat dan instansi lain yang
terkait dengan kegiatan OP prasarana Disediakan: mobil pick
Drainase Utama up, kantor pengamat
7) Memberi komando kepada juru dan dan alat komunikasi
pengamat dalam pelaksanaan
penanggulangan banjir dan kejadian
luar biasa lainnya sesuai dg batas
kewenangannya.
8) Menyampaikan laporan kejadian
banjir atau kejadian luar biasa
lainnya kpd Kepala UPT pengelola
SDA WS.
2 Juru 1) membantu pelaksanaan tugas 1) Lulus SMA/SMK Mesin/
pengamat Drainase Utama SMK Bangunan Sipil
Perkotaan; 2) Sehat jasmani dan
2) melaksanakan instruksi dari rokhani
pengamat Drainase Utama 3) Jujur dan berkelakuan
Perkotaan dalam pelaksanaan OP baik
prasarana Drainase Utama
Perkotaan; 4) Mampu bertindak tegas
5) Bertanggung jawab
3) memberi instruksi dan pengarahan 6) Mampu memimpin Tim
kepada para petugas/operator Kerja
prasarana Drainase Utama
Perkotaan; 7) Lulus dalam pelatihan
OP prasarana
4) mengarahkan pelaksanaan Drainase Utama
pemeliharaan prasarana Drainase Perkotaan (untuk
Utama Perkotaan; juru)
5) Melaksanakan penelusuran dan
pengamatan kondisi seluruh
Prasarana Drainase Utama Disediakan: sepeda
Perkotaan motor dan alat
komunikasi
6) Membuat laporan pelaksanaan
kegiatan OP prasarana Drainase
Utama Perkotaan.

7) Menghimpun dan menyampaikan


laporan pengamatan:
a) data hidrologi, hidroklimatologi;
b) perkembangan kondisi
Drainase Utama Perkotaan dan
bangunan Drainase Utama
Perkotaan
c) Perkembangan pelaksanaan
pekerjaan OP prasarana
Drainase Utama Perkotaan
d) Perkembangan aktivitas
masyarakat yang berkaitan
dengan pendayagunaan
Drainase Utama Perkotaan
e) kejadian banjir dan keadaan
luar biasa lainnya.

3 Petugas OP bangunan Drainase Utama Perkotaan


pelaksanaan penelusuran dan
1) Merawat dan menjaga keamanan Drainase Utama
bangunan; pengamatanperkembangan kondisi Perkotaan
2) Memimpin pelaksanaan bangunan yang menjadi tanggung
pemeliharaan bangunan jawabnya. Disediakan: sepeda
5) Mencatat dan melaporkan kejadian
3) Melaksanakan pengoperasian dan alat komunikasi
bangunan Drainase Utamaluar biasa yang berkaitan dengan
Perkotaan dan mencatat keamanan bangunan Prasarana
Drainase
kedudukan pintu bangunan; dan Utama Perkotaan yang
4) Membantu juru dalam menjadi tanggung jawabnya

5.4. Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan OP Prasarana Drainase Utama


Perkotaan.

Mengingat para pemangku kepentingan dalam pengelolaan Drainase Utama


Perkotaan tidak hanya berasal dari unsur pemerintah baik Pemerintah Pusat
maupun pemerintah daerah, maka dalam penyelenggaraan OP Prasarana Drainase
Utama Perkotaan perlu melibatkan masyarakat baik masyarakat lokal, Komunitas
Peduli Drainase Utama Perkotaan, maupun organisasi non pemerintah lainnya.
BAB VI
PERENCANAAN DAN PEMBIAYAAN OP
PRASARANA DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

6.1 Perencanaan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan


OP pada suatu Drainase Utama Perkotaan memiliki jangkauan pelayanan yang amat
luas baik dari segi obyek yang harus dikelola maupun subyek yang harus
dilayani. Sementara itu ketersediaan sumber daya (dana, personil, prasarana
Drainase Utama Perkotaan dan peralatan) tidak selalu dalam keadaan yang cukup
untuk mendukung kebutuhan pelayanan yang paling ideal di wilayah yang
bersangkutan. Karena itu target pelayanan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan
harus direncanakan serasional mungkin di dalam rencana strategis.

Rencana strategis ini berfungsi sebagai panduan atau arahan untuk menjawab
pertanyaan mengenai: ke arah mana pelayanan OP prasarana Drainase Utama
Perkotaan akan ditujukan, bagaimana sumber daya akan di alokasikan setiap tahun
untuk menjawab tuntutan pelayanan yang senantiasa berkembang dalam berbagai
kemungkinan perubahan lingkungan eksternal organisasi OP. Rencana strategis
perlu dibuat menurut horison waktu paling pendek lima tahun ke depan. Rencana
strategis memuat pernyataan mengenai:

 Target pelayanan yang hendak dicapai pada tahun terakhir rencana strategis; dan
 Formulasi strategi untuk mencapai target kinerja pada setiap tahun sesuai
perkembangan kapasitas sumber daya (personil, prasarana Drainase Utama
Perkotaan, peralatan, dan dana) yang tersedia pada unit pelaksana OP.

Banyak opsi target kinerja OP prasarana Drainase Utama Perkotaan yang dapat
dipertimbangkan sebagai pilihan di dalam penyusunan rencana strategis pada suatu
waiayah yang bersangkutan. Pilihan mengenai target kinerja dapat berorientasi
pada input, proses, output dan/atau outcome (manfaat), misalnya:

 Prosedur operasi standar (SOP) penanggulangan bahaya banjir perlu di


prioritaskan pada Prasarana Drainase Utama Perkotaan yang setiap tahun
mengalami banjir, dan penyelesaiannya harus rampung pada awal tahun kedua.

 Ketetapan mengenai batas sempadan Drainase Utama Perkotaan


ditargetkan penyelesaiannya secara bertahap dengan prioritasnya dimulai pada
ruas-ruas lokasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan yang rawan banjir.
ini misalnya harus rampung semuanya pada akhir tahun ketiga, sedangkan untuk
ruas Drainase Utama Perkotaan yang lain akan mengikuti pada tahun
berikutnya;
 Pemetaan daerah rawan banjir, ditargetkan penyelesaiannya secara bertahap
misalnya dimulai dari kawasan perkotaan yang sering ke banjiran;
 Pemeliharaan preventif harus terlaksana sesuai dengan standar penuh
terutama pada ruas Drainase Utama Perkotaan yang bertanggul;
 Daerah rawan banjir, ditargetkan penyelesaiannya secara bertahap misalnya
dimulai dari kawasan perkotaan yang sering ke banjiran;
 Pemeliharaan preventif harus terlaksana sesuai dengan standar penuh terutama
pada ruas Drainase Utama Perkotaan yang bertanggul;
 Perbaikan pompa banjir dan pintu pengendali banjir yang kondisinya
rusak, tidak boleh tertunda;
 Kelengkapan peralatan OP lebih diprioritaskan pada pengadaan peralatan
ringan yang mempunyai mobilitas tinggi, sedangkan pekerjaan OP yang
membutuhkan peralatan berat lebih baik dikontrakkan kepada pihak ketiga;
dan
 Beberapa opsi lainnya.

Dari berbagai opsi pilihan target kinerja itu, kemudian disusun kedalam dokumen
rencana strategis yang memuat informasi mengenai target kinerja setiap tahun,
berikut input yang diperlukan untuk mencapai target tersebut. Target OP pada
setiap tahun anggaran ini kemudian menjadi acuan dalam penyusunan Rencana
Tahunan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan, yang sekurang- kurangnya
memuat informasi mengenai:
 Target kinerja OP pada setiap Drainase Utama Perkotaan
 Uraian kegiatan OP pada setiap Drainase Utama Perkotaan yang terinci
menurut ruas Drainase Utama Perkotaan;
 Uraian kegiatan pemeliharaan preventif dan korektif.
 Kebutuhan peralatan baru dan bahan habis pakai yang diperlukan untuk
pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana atau pemeliharaan darurat.
 Metoda atau cara penyelesaian kegiatan.
 Kebutuhan bahan dan alat operasional kantor OP
 Kebutuhan gaji/upah tenaga pelaksana OP; dan
 Jadwal pelaksanaan kegiatan OP.

6.2 Urutan Kegiatan Penyusunan Rencana Tahunan OP Prasarana Drainase


Utama Perkotaan.
Penyusunan rencana tahunan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan dilakukan
oleh unit pelaksana OP, menurut urutan kegiatan sebagai berikut:
1) Pengumpulan data dan informasi yang diperoleh dari hasil inspeksi
rutin, dan penelusuran Drainase Utama Perkotaan ;
2) Identifikasi dan analisis tingkat kerusakan;
3) Pengukuran dan pembuatan detail desain;
4) Pengaturan cara penyelesaian pekerjaan;
5) Penghitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB); dan
6) Perencanaan jadwal pelaksanaan pekerjaan
Tabel 6.1. Urutan Kegiatan Dalam Penyusunan Rencana Tahunan OP
Prasarana Drainase Utama Perkotaan

No Langkah Tujuan Output


kegiatan
1 Pengumpulan Mengusahakan data dan Data dan informasi mengenai:
data dan informasi yang diperoleh  Daftar prasarana Drainase
informasi dari laporan hasil Utama Perkotaan berikut
mengenai inventarisasi dan letaknya.
penelusuran Prasarana  Nilai bangunan prasarana
kondisi
Drainase Utama Drainase Utama Perkotaan dan
Prasarana Perkotaan. tahun pembangunannya.
Drainase  Tingkat kinerja bangunan
Utama prasarana Drainase Utama
Perkotaan Perkotaan.
 Gambar as built drawing.
Memperoleh data dan  Catatan mengenai letak dan
informasi mengenai bagian bagian bangunan
perkembangan keadaan/ Prasarana Drainase Utama
kondisi prasarana Perkotaan yang kondisinya
Drainase Utama Perkotaan bermasalah
yang memerlukan tindakan  Tindakan perbaikan yang
pemeliharaan.. diusulkan.
 Besar dan penyebab banjir
 Nilai kerugian akibat banjir
2 Identifikasi Menyediakan informasi  Evaluasi hasil inventarisasi dan
dan analisis mengenai kategori tindakan penelusuran.
tingkat pemeliharaan yang paling  Kategori tindakan pemeliharaan
kerusakan; tepat bagi prasarana yg diperlukan pada setiap ruas
Drainase Utama Perkotaan alur Drainase Utama Perkotaan
agar OP dapat mencapai dan Prasarananya.
hasil yang optimal.  Penentuan ruas alur Drainase
Utama Perkotaan dan Prasarana
Drainase Utama Perkotaan yang
perlu mendapat prioritas
penanganan

3 Pengukuran Memperoleh informasi  Peta situasi dan gambar


dan mengenai detail dimensi pengukuran penampang
Pembuatan dari bagian bangunan (pengukuran menggunakan
detail Drainase Utama Perkotaan peralatan ukur dan peta GIS)
yang memerlukan
desain
pemeliharaan
Memperoleh gambar disain, Catatan, perhitungan dan gambar disain
dan volume pekerjaan pemeliharaan korektif
pekerjaan pemeliharaan
berdasarkan hasil
pengukuran
4 Pengaturan Menentukan pekerjaan OP  Daftar pekerjaan swakelola
cara yang pelaksanaannya  Daftar pekerjaan yang dikontrakkan
penyelesaian dilakukan dengan cara
pekerjaan swakelola dan dikontrakkan.

5 Penghitunga Menyediakan informasi Informasi mengenai uraian pekerjaan


n Rencana mengenai jumlah kebutuhan pemeliharaan, volume pekerjaan, harga
Anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan satuan pekerjaan, dan besarnya biaya
Biaya (RAB) pemeliharaan. pemeliharaan.

6 Perencanaan Mengatur jadwal Informasi mengenai jadwal


jadwal pelaksanaan pekerjaan rencana pelaksanaan pekerjaan OP
pelaksanaan secara tertib, efektif dan pada setiap ruas Drainase Utama
pekerjaan efisien Perkotaan

6.3. Biaya Pelaksanaan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Besarnya biaya OP prasarana Drainase Utama Perkotaan sangat tergantung pada


intensitas pemanfaatan/pendayagunaan sumber daya yang terdapat di wilayah
Drainase Utama Perkotaan tersebut, termasuk airnya serta banyaknya prasarana
Drainase Utama Perkotaan yang ada, serta potensi dampak dari aktivitas yang terjadi
di lingkungan di luar wilayah Drainase Utama Perkotaan.

Semakin banyak sumber daya di wilayah Drainase Utama Perkotaan didaya-gunakan,


semakin besar pula biaya yang diperlukan untuk mengatur distribusi air Drainase
Utama Perkotaan. Semakin banyak prasarana Drainase Utama Perkotaan yang
dioperasikan, semakin besar pula biaya OP-nya. Semakin padat pertumbuhan
ekonomi di suatu wilayah, semakin banyak pula properti dan lingkungan yang rentan
terhadap bahaya banjir dan kekeringan, dan semakin besar pula kebutuhan OP
prasarana Drainase Utama Perkotaan guna mencegah resiko kerugian yang timbul.

Peningkatan kebutuhan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan yang berkaitan


dengan pengaturan, pengendalian dan pemeliharaannya tidak akan dapat berjalan
sebagaimana yang diharapkan tanpa memperoleh dukungan pembiayaan yang
memadai dan menerus.

Agar pembiayaan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan dapat direncanakan


secara optimal dan efisien, diperlukan dukungan informasi yang akurat mengenai
kondisi terkini dari Prasarana Drainase Utama Perkotaan. Informasi ini diperoleh
dari hasil inspeksi dan penelusuran di lapangan. Inspeksi dan penelusuran lapangan
merupakan bagian penting dalam proses perencanaan tindakan dan pembiayaan OP
yang efektif dan efisien.

Melalui kegiatan inspeksi dan penelusuran parasarana Drainase Utama Perkotaan,


proses evaluasi dan penilaian (assesment) mengenai kondisi prasarana Drainase
Utama Perkotaan dapat dilakukan. Hasil evaluasi dan penilaian atas kondisi
prasarana Drainase Utama Perkotaan akan memberikan kesimpulan yang penting
dalam menetapkan pilihan tindakan pemeliharaan yang paling efektif dan efisien.

Berdasarkan penilaian itu, bentuk tindakan pemeliharaan yang akan dilakukan


terhadap prasarana Drainase Utama Perkotaan akan ditentukan dan dihitung volume
pekerjaannya menurut angka kebutuhan biaya nyata yang selanjutnya dikenal
dengan istilah Angka Kebutuhan Nyata OP (AKNOP). AKNOP meliputi biaya:

1) Operasi prasarana Drainase Utama Perkotaan.


2) Pemeliharaan Drainase Utama Perkotaan
3) OP Peralatan berat dan peralatan transportasi.
4) OP Bangunan kantor, gudang, bengkel, pos jaga dan rambu-rambu keamanan.
5) OP Peralatan informasi dan telekomunikasi.

Dalam pemeliharaan preventif, AKNOP prasarana Drainase Utama Perkotaan


dihitung sesuai dengan uraian pekerjaan OP yang perlu dilaksanakan dan dibiayai
berdasarkan keadaan riil dari prasarana Drainase Utama Perkotaan yang ada.
Uraian pekerjaan OP yang merupakan sumber pengeluaran biaya dimaksud dapat
dilihat dalam beberapa tabel berikut.

Tabel 6.2 Uraian pengeluaran untuk membiayai pelaksanaan OP


prasarana Drainase Utama Perkotaan

No Komponen Uraian pengeluaran Satuan volume Frekuensi


pengeluaran
Pengendalian
1 Perjalanan dinas Hari perjalanan Enam kali/th
dan pengawasan
terhadap
aktivitas
pendayagunaan
jaringan
2 Penelusuran Perjalanan dinas Km perjalanan per Dua kali/th
jaringan Drainase hari kerja (pra dan paska
Utama Perkotaan banjir)
untuk persiapan
menghadapi
3 Pengukuran Upah pekerja lepas harian Jumlah hari kerja
morfologi Drainase
Utama Biaya perjalanan surveyor
Perkotaan,dengan Pembuatan dan Jumlah patok
pemasangan patok
peta GIS Perhitungan dan Sepanjang
pembuatan peta hasil Drainase Utama
pengukuran Perkotaan
Prakiraan
Kebutuhan bahan bakar Jumlah dan jenis Jam operasi
4 kebutuhan operasi
peralatan alat
peralatan
Gaji/upah operator jumlah hr kerja
Prakiraan
5 kebutuhan bahan Karung plastik Jumlah lembar Berdasarkan
rata rata
banjiran Kawat bronjong Jumlah lembar kebutuhan satu
Batu dan pasir m3 tahun
Gedek/sesek bambu Jumlah lembar
Kayu dolken/ bambu batang
Biaya angkut bahan Km

Pengoperasian
6 bangunan Biaya listrik Tiap bulan
pengendali aliran Bahan bakar standby Jam operasi Selama satu
Drainase Utama genset tahun
Perkotaan Tes kesiapan
Pengoperasian Gaji/upah operator operasi mingguan
7 pompa Tiap bulan

Tabel 6.3 Uraian pengeluaran untuk membiayai pelaksanaan pekerjaan


pemeliharaan Prasana Drainase Utama Perkotaan

No Nama bangunan Uraian Satuan Frekuens i


pengeluaran volume
Palung Drainase 2
1 Perbaikan tebing longsor/tergerus m
Utama Perkotaan 2
Pangkas semak liar m
Pengerukan lumpur /sampah m3
Pengerukan sampah m3
Penertiban bangunan liar bh
Tanggul tanah
2 Pangkas semak liar m2
Penambalan dan pemadatan m3
Penggantian gebalan rumput m2
Pemeliharaan dan perbaikan sistem m
Tanggul/ revetmen
3 Penambalan tembok pasangan yang m2
pasangan batu kali
Perbaikan dasar tembok yg m
Perbaikan permukaan tembok yang m2
Pencabutan tanaman liar pada m2
Pembersihan lubang drain bh
4 Tanggul Perbaikan dinding tembok yg m3
turap/Revetment
beton atau baja Perbaikan dasar tanggul yang m2
5 Pelimpah banjir Penambalan permukaan pasangan m2
konstrksi pasangan
batu Perbaikan dasar bangunan yang m
Perbaikan kolam olak yang m2
Pencabutan tanaman liar di m2
Pembersihan lubang drain bh
Pembersihan sangkrah/sampah yg m3
Perbaikan tembok sayap m2
6 Pelimpah banjir Penambalan permukaan beton yang m3
konstruksi beton
Perbaikan dasar bangunan yang m
Pembersihan lubang drain bh
Pembersihan sangkrah/sampah yg m3
7 Pelimpah banjir Perbaikan dasar bangunan yang m
konstruksi bronjong
Pembersihan sangkrah/sampah yg m3
Perbaikan kawat bronjong yang unit
8 Bangunan Penambalan permukaan m3
pengendali/pem-bagi tubuh bangunan yang
aliran Drainase
Utama Perkotaan Perbaikan sistem penggerak pintu unit
atau bangunan
Pengecatan (satu kali/tahun) m2
bendung gerak dari
pasangan batu atau Penggantian seal dan bearing pintu Unit
beton
Pemeliharaan standby genset Unit
Pembersihan sangkrah/sampah m3
Pengerukan sedimen di sekitar m3
Pembersihan tanaman liar m2
Perbaikan dan pengecatan staf unit
Perbaikan lantai kolam olak m2
Perbaikan tembok sayap m2
Perbaikan tebing tumpuan bendung m3
Penggantian lampu penerangan titik
Waduk banjir atau
9 Pelumasan sistem penggerak pintu unit
danau paparan banjir
Pengecatan pintu inlet/outlet m2
Perbaikan unit pintu inlet dan outlet Unit
Pemeliharaan tanggul sekeliling m3
Pemangkasan semak dan tanaman m2
Pengerukan sedimen berkala m3
Pembersihan sampah di waduk m3
Pengerukan sedimen yg m3
menumpuk di depan pintu inlet
Perawatan dan pengecatan staf m2
10 Pompa banjir Perawatan rutin mesin dan unit
rumah pompa dan genset
Pemeliharaan standby genset Unit
Servis/reparasi pompa & genset Unit
Pembersihan sampah/ sangkrah m3
11 Pintu drainase/flap Pelumasan sistem penggerak pintu Unit
gate
Pengecatan pintu Unit
Perbaikan unit pintu Unit
Penggantian karet seal pintu Unit
Pembersihan sampah/ sangkrah m3
Pengerukan sedimen di depan pintu m3
Pembersihan tanaman liar m2
Perbaikan terhadap kerusakan m3
12 Tidal gate (Salinity Pelumasan sistem penggerak pintu unit
barrier) 2
Pengecatan pintu m

Perbaikan daun pintu m2


3
Pemeliharaan tanggul sekeliling m

Pemangkasan semak dan tanaman m2


Pengerukan berkala m3
3
Pembersihan sampah dan m
pengerukan sedimen dekat pintu
Perawatan dan pengecatan staf unit
Tabel 6.5. Uraian pengeluaran untuk membiayai OP
peralatan berat dan transportasi
No Komponen Uraian pengeluaran Satuan Frekuensi
pengeluaran volume

1 Pemeliharaan • Pencucian kendaraan Unit Sesuai


• Minyak pelumas mesin, rem,
rutin peralatan/ dengan
dan transmisi
kendaraan manual OP
• Penggantian Grease yg dibuat
• Penggantian ban pabrik

2 Operasi peralatan/ Bahan bakar Jam operasi Sesuai


kendaraan/perahu dengan
Gaji/upah tenaga operator/sopir Bulanan penggunaan
peralatan/
Engine overhaul
3 Pemeliharaan Unit Sesuai
berkala/ terjadwal Transmisi overhaul peralatan/ dengan
kendaraan manual OP
yg dibuat
General overhaul
pabrik
4 Penggantian total Pengadaan baru Unit Pada saat
atau aset renewal peralatan/ rusak/
kendaraan tidak layak

Kebutuhan biaya pemeliharaan jembatan dan jalan inspeksi untuk pelaksana-


an OP meliputi pengeluaran untuk:

  Pemeliharaan rutin jembatan dan jalan.


 Perbaikan korektif atau rehabilitatif terhadap kerusakan jembatan dan jalan
akses OP menuju ke lokasi prasarana Drainase Utama Perkotaan.

Kebutuhan biaya OP bangunan gedung, bengkel meliputi pengeluaran untuk:


  Pemeliharaan kebersihan,
 Pemeliharaan dan/atau penggantian bagian bangunan gedung, komponen,
 bahan bangunan, dan/atau prasarana dan sarananya.
  Biaya listrik dan pemeliharaan instalasi air dan sanitasi
  Gaji/upah penjaga gedung dan pelayan kantor
 OP peralatan keamanan gedung

Kebutuhan biaya OP peralatan informasi dan telekomunikasi, meliputi


pengeluaran untuk:
  OP Workstation;
 Penggantian Monitor
  Pengisian/penggantian tinta printer;
  Pemeliharaan Static display;
  OP Global positioning system (GPS),;
  Operasi layar tayang;
  Switching;
  Abonemen layanan internet dan TV cable
  Pembelian dan pemasangan software
  Operasi Router;
  Pemeliharaan Local area network;
 Pemeliharaan Storage data; serta
 OP Peralatan catu daya (genset; Automatic Transfer Switch (ATS); Static
Transfer Switch (STS); Uninterruptable Power Supply (UPS); Rectifier;
Batere; AC/DC Distribution Board; dan Rectifier dan Batere mobile).

Dalam hal suatu bangunan memerlukan pemeliharaan korektif, rencana


kebutuhan biayanya dihitung berdasarkan desain perbaikan. Dalam pembuatan
desain itu terlebih dulu perlu diadakan survai/pengukuran yang lebih mendetail
mengenai kondisi riil bagian bagian yang mengalami kerusakan. Survai dan disain
dimaksud harus dilakukan oleh tenaga yang profesional dan berpengalaman di
bidangnya.
Usulan rencana pemeliharaan korektif terhadap bangunan tertentu harus dilengkapi
dengan gambar disain dan rencana anggaran biaya yang disetujui oleh Kepala Unit
Pengelola SDA (Kepala Balai) yang bersangkutan. Pengusulan rencana kebutuhan
anggaran pelaksanaan pemeliharaan korektif terhadap suatu bangunan Drainase
Utama Perkotaan sedapat mungkin disampaikan paling lambat pada bulan Juli.
Sehingga pengalokasian kebutuhan anggarannya dapat ditampung pada tahun
anggaran berjalan sejauh masih tersedia dana atau dialokasikan pada tahun
anggaran berikutnya.
Dalam hal diperlukan penggantian atau pengadaan peralatan baru yang berkaitan
dengan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan, maka kebutuhan biayanya perlu
ditambahkan dalam uraian kebutuhan baiaya OP yang dicantumkan sebagai biaya
pengadaan peralatan dan kendaraan OP.

6.4 Sumber Dana Untuk Pembiayaan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan

a) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,


b) Dana Swasta,
c) Dana Masyarakat, dan
d) Hasil penerimaan iuran eksploitasi dan pemeliharaan bangunan pengairan .
Dengan mengacu pada ketentuan mengenai pembagian wewenang dan tanggung
jawab pengelolaan SDA sebagaimana diatur di dalam UU No. 11 Tahun 1974 dan UU
No.23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah serta PP No.22 Tahun 1982
tentang Tata Pengaturan Air, dapat disimpulkan bahwa sumber dana untuk pembi-
ayaan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan dapat berasal dari berbagai sumber
dana sebagaimana tersebut dalam tabel berikut.

Tabel 6.6. Sumber dana untuk pembiayaan OP


Prasarana Drainase Utama Perkotaan

No Kriteria bangunan Sumber dana OP prasarana Keterangan


prasarana Drainase Utama Perkotaan
Drainase Utama
Perkotaan
1 Terletak pada WS Lintas Anggaran Pendapatan dan Termasuk dana yang
Negara, WS Lintas Prov Belanja Negara (APBN) dipungut dari
dan WS Strategis penerima manfaat
Nasional jasa pengelolaan SDA
pada WS yang
2 Terletak pada WS Lintas APBD Provinsi termasuk DAK
bersangkutan
Kabupaten/Kota
3 Terletak pada WS di APBD Kab/Kota termasuk DAK
dalam satu Kab/Kota
4 Prasarana Drainase Pihak yang membangun
Utama Perkotaan yang prasarana yang bersangkutan
dibangun oleh pihak
swasta dan masyarakat.
5 Drainase Utama Dana sumbangan atau hibah Company Social
Perkotaan dan dari perusahaan Responsibility (CSR)
prasarana Drainase
Utama Perkotaan pada
umumnya
BAB VII
EVALUASI KINERJA PELAKSANAAN OP
PRASARANA DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

7.1 Maksud Dan Tujuan Evaluasi Kinerja

Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas semakin mengemuka di


semua sektor penyelenggaraan pemerintahan. Tuntutan ini semakin mengemuka
akibat timbulnya kesadaran masyarakat terhadap hak untuk memperoleh pelayanan
publik yang lebih memuaskan. Dengan kata lain, kinerja unit pelaksana OP kini akan
lebih banyak mendapat sorotan, karena masyarakat mulai mempertanyakan manfaat
yang dapat mereka peroleh atas pelayanan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan
Kondisi ini mendorong peningkatan kebutuhan evaluasi kinerja terhadap
pelaksanaan OP prasarana Drainase Utama Perkotaan sebagai penerima amanat
masyarakat untuk mengetahui seberapa jauh kinerja yang telah dicapai dalam suatu
periode tertentu dibandingkan dengan target atau janji yang direncanakan.

Evaluasi kinerja adalah suatu metode atau alat yang digunakan untuk mencatat dan
menilai pencapaian pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran, dan strategi
sehingga kemajuan organisasi dapat diketahui. Selain itu evaluasi kinerja dapat
dipergunakan pula sebagai sumber informasi untuk meningkatkan produktivitas dan
kualitas pelayanan organisasi.

Untuk menilai kinerja unit pelaksana OP prasarana Drainase Utama Perkotaan


diperlukan indikator-indikator atau kriteria-kriteria untuk mengukurnya secara
jelas. Tanpa indikator dan kriteria yang jelas tidak akan diperoleh informasi yang
dapat dipergunakan untuk menentukan hal hal mana yang perlu diperbaiki dan
ditingkatkan kenerjanya, kearah mana sumber daya yang tersedia akan
diprioritaskan penggunaannya. tugas dan wewenang apa yang lebih efektif
didistribusikan pelaksanaannya kepada pihak lain.

7.2 Indikator Kinerja Pelaksanaan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja organisasi unit


pelaksana OP prasarana Drainase Utama Perkotaan sangat erat kaitannya dengan
empat faktor sebagai berikut:

1) Kapasitas organisasi, yaitu seberapa besar kapasitas sumber daya yang dimiliki
unit pelaksana OP. Faktor ini banyak berhubungan dengan input yang
diterima/dimiliki organisasi.

2) Produktivitas organisasi,. Faktor ini tidak hanya berkaitan dengan tingkat


efisiensi, atau rasio antara input dan output, tetapi juga efektivitas pelayanan
atau rasio antara input dan outcome.

3) Kualitas Layanan. Faktor ini berkaitan dengan tingkat kepuasan masyarakat atau
ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh unit pelaksana
OP

4) Kepekaan dan kepedulian organisasi. Faktor ini berkaitan dengan daya tanggap
unit pelaksana OP terhadap situasi lingkungan di luar organisasi, atau kemauan unit
pelaksana OP untuk mendengar dan menampung laporan pengaduan, harapan dan
aspirasi yang disampaikan masyarakat yaitu kemampuan unit OP untuk mengenali
dan menanggapi kebutuhan masyarakat yang bersifat prioritas yang ditunjukkan
dalam bentuk agenda dan prioritas pelayanan dan pengembangan program
pelayanan publik.

Bagi suatu organisasi, kinerja merupakan hasil dari kegiatan kerjasama diantara
anggota atau komponen organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi.
Sederhananya, kinerja merupakan produk dari kegiatan kerjasama untuk mencapai
tujuan yang pengelolaannya biasa disebut sebagai manajemen.

Kinerja organisasi selain dipengaruhi oleh faktor-faktor input juga sangat


dipengaruhi oleh proses-proses administrasi dan manajemen yang berlangsung.
Sebagus apapun input yang tersedia tidak akan menghasilkan suatu produk kinerja
yang diharapkan secara memuaskan, apabila dalam proses administrasi dan
manajemennya tidak bisa berjalan dengan baik. Antara input dan proses
mempunyai keterkaitan yang erat dan sangat menentukan dalam menghasilkan
suatu output kerja yang sesuai harapan atau tidak. Karena itu indikator input dan
indikator proses adalah sama pentingnya dengan indikator output dan indikator
outcome dalam evaluasi kinerja organisasi.

Dengan mempertimbangkan keempat faktor tersebut diatas, maka indikator


penilaian kinerja unit pelaksana OP prasarana Drainase Utama Perkotaan
ditetapkan sebagaimana tersebut dalam tabel berikut.
Tabel 7.1Indikator penilaian kinerja pelaksanaan OP
prasarana Drainase Utama Perkotaan

No Unsur penilaian Indikator kinerja pelaksanaan Parameter Penilaian

1 a. Ketersediaan SDM Kuantitas dan


Kapasitas Kualitas
Organisasi b. Pedoman pelaksanaan OP Belum ada/
Tersedia/
Dimutakhirkan ke.....
c. Ketersediaan peta, Jumlah layer dan
d. Ketersediaan data dan Jumlah dan jenis
e. Ketersediaan peralatan Jumlah dan jenis
f. pemeliharaan
g. Ketersediaan peralatan
pantau Jumlah dan jenis
h. Ketersediaan peralatan Jumlah dan jenis
komunikasi & mobilisasi
i. Tertundanya pemeliharaan Lokasi dan jenis
rutin pekerjaan
2 Prosentase a. Besarnya beban kebutuhan Prosentase
pekerjaan pemeliharaan korektif yang pekerjaan yg tak
pemeliharaan belum tertangani. tertangani
korektif yang
tertunda b. Efektivitas pelaksanaan Prosentase
pekerjaan pemeliharaan layananyang tak
preventif terjangkau
c. Magnitud kerusakan Prosentase
prasarana Drainase Utama prasarana yang
Perkotaan, berfungsi <50%
3 Resiko kerugian a. Tingkat nilai kerugian Nilai kerugian per
yang timbul properti akibat banjir tahun
akibat banjir dan
kekeringan
4 Efiiensi a. Tingkat efisiensi pelaksanaan Rasio target v/s
pelaksanaan pekerjaan OP realisasi output
pekerjaan OP
b. Tingkat efisiensi penggunaan Rasio jam operasi
peralatan kerja v/s hasil kerja
peralatan
5 Kualitas a. Kedisiplinan dalam Ketepatan waktu
pengendalian pembuatan laporan stock penyelesaian laporan
barang sediaan barang dan suku cadang stock barang
(stock bahan, peralatan & sarana kerja.
suku cadang
peralatan) b. Laporan rekonsiliasi Prosentase ketidak
bulanan tentang neraca akuran isi laporan
penggunaan barang & suku rekonsiliasi
cadang peralatan.
6 Kepedulian a. Ketersediaan pos atau media Jumlah pos/media
terhadap laporan penampung pengaduan untuk menampung
yang disampaikan masyarakat. laporan masyarakat
masyarakat
b. Skema bagan alur Rasio laporan yg
penanganan laporan masuk v/s yg
masyarakat ditanggapi
c. Intensitas terjadinya Jumlah laporan
protes masyarakat. ketidak puasan
masyarakat

Dengan melakukan penilaian kinerja, akan diperoleh gambaran mengenai sendi


sendi kelemahan dan kekuatan organisasi dalam menjalankan tugas dan fungsi
OP prasarana Drainase Utama Perkotaan. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja,
pimpinan dan staf inti unit organisasi pelaksana OP akan dapat secara bersama-
sama menyepakati tentang arah perubahan ataupun pengembangan yang perlu
dilakukan terhadap input dan proses administratif ataupun manajemen di
dalam organisasi.

Selain itu, evaluasi kinerja juga menghasilkan informasi mengenai kondisi


eksternal organisasi yang perlu diperhatikan dan diantisipasi untuk mengubah
faktor eksternal menjadi peluang ataupun faktor pemicu untuk mendongkrak
peningkatan kinerja organisasi. Berkaitan dengan upaya peningkatan kinerja
organisasi, maka pilihan mana yang akan dioptimalkan penanganannya, apakah
pada sisi internal organisasi ataukah pada sisi eksternal organisasi, itu tergantung
pada kondisi permasalahan organisasi yang ditemukan dalam evaluasi kinerja
organisasi.

7.3 Pelaksanaan Evaluasi Kinerja OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Pelaksanaan evaluasi kinerja organisasi dilakukan oleh sebuah tim internal yang
dibentuk oleh kepala UPT pengelola SDA (Kepala Balai).Tim pemantauan dan
evaluasi kinerja dipimpin oleh seorang kepala bagian atau pejabat yang setingkat.
Proses pelaksanaan evaluasi kinerja meliputi urutan langkah-langkah sebagaimana
diuraikan dalam tabel berikut.
Tabel 7.2 Tahapan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi kinerja
OP prasarana Drainase Utama Perkotaan

No Tahapan Uraian Kegiatan


1 Persiapan evaluasi Mencatat rencana jangka menengah dan target kerja
organisasi
Menghimpun data dan informasi yang berkaitan dengan
program dan kegiatan OP pada akhir tahun berjalan dan
tahun sebelumnya
Menghimpun data dan informasi yang berkaitan dengan
unsur penilaian dan indikator kinerja pelaksanaan OP
sebagaimana tsb dalam Tabel 7.1
2 Pendalaman substansi Mempelajari prosedur pengendalian input, proses, output
dan outcome
Membandingkan realita prosedur pengendalian yang
berlaku
Mengenali potensi kelemahan dan kekuatan pengendalian
input, proses, output dan outcome
3 Penilaian Menggunakan parameter penilaian sebagai acuan
Melakukan wawancara dengan para pihak yang
berkepentingan (secara selektif) dg pelayanan OP
Melakukan penilaian berdasarkan informasi yang
diperoleh pada langkah kedua
4 Penulisan laporan Mengkomunikasikan hasil penilaian kepada para pihak
evaluasi kinerja yang terkait dengan substansi penilaian
Melakukan koreksi dan perbaikan penilaian
Merumuskan dokumen hasil akhir penilaian
5 Penyampaian laporan Meminta konfirmasi dan persetujuan atas substansi
laporan
Mendistribusikan laporan hasil evaluasi kepada pra pihak
yang berkepentingan dalam peningkatan kinerja
pelaksanaan OP

7.4 Laporan hasil evaluasi kinerja pelaksanaan OP prasarana Drainase Utama


Perkotaan

Laporan hasil evaluasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  Ketepatan waktu penyampaian

  Akurat dan benar sesuai keadaan aktual


  Obyektif atau tidak memihak ataupun apriori
  Ringkas dan informatif mengutamakan hal hal yang sangat substansial
 Efektif sesuai dengan esensi tujuan evaluasi kinerja
 
 
 Format laporan memuat informasi mengenai:
  Tanggal pelaksanaan evaluasi
 Keterangan mengenai anggota tim evaluasi
 Para pihak yang dihubungi selama evaluasi
 Hal hal yang dinilai dalam proses pelakanaan evaluasi
 Metoda pelaksanaan evaluasi
 Pernyataan mengenai adanya keterbatasan selama pelaksanaan evaluasi
(apabila ada).
 Hasil evaluasi dan penilian kinerja
 Kesimpulan dan saran peningkatan kinerja

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal ..................
Direktur OP DitJen SDA
PEKERJAAN EVALUASI PEMANFAATAN PEMBANGUNAN PRASARANA
DAN SARANA DRAINASE PERKOTAAN DI INDONESIA

DAFTAR ISI

FORM
i Halaman Judul
1 Data Perencanaan 1
a. Peta Masterplan Drainase Kota/Kabupaten 1a
b. Skema Pola Arah Aliran dan Genangan 1b
c. Peta Land Subsidence 1c
2 Data Saluran 2
3 Data Kolam Retensi 3
4 Data Rumah Pompa 4
5 Data Pintu Air 5
6 Data Genangan 6
7 Aspek Perundangan Prasarana & Sarana Drainase 7
8 Organisasi Pelaksana O&P 8
9 SDM Pelaksana O&P 9
10 Peran Serta Masyarakat 10
11 Data Lainnya 11

12 Pengumpulan Data Pelengkap -

75
1A. PETA MASTERPLAN DRAINASE KOTA/KABUPATEN FORM – 1A

KOTA/KAB :

PROVINSI :
1B. SKEMA POLA ARAH ALIRAN DAN GENANGAN FORM – 1B

KOTA/KAB :

PROVINSI :

Keterangan :
Saluran Primer Rumah Pompa Pintu Air
Saluran Sekunder Genangan Trash Rack
Saluran Tersier Kolam Retensi dst
1C. PETA PENURUNAN LAHAN (LAND SUBSIDENCE) FORM – 1C

KOTA/KAB :

PROVINSI :
8. STRUKTUR ORGANISASI OP FORM – 8

KOTA/KAB :

PROVINSI :
OP – 01.a

CATATAN INSPEKSI
ALUR DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Nama bangunan : PALUNG DRAINASE UTAMA PERKOTAAN/ SUDET-


AN/FLOODWAY
Lokasi bangunan : Drainase Utama Perkotaan ............ pada ruas antara patok
Km...... s/d Km........
Inspeksi dilakukan oleh : .....................................
Tanggal pelaksanaan inspeksi : ......................................

Type bangunan : Sudetan, kanal banjir/floodway

No Bagian Hasil Tindakan Taksiran


bangunan Pengamatan yang perlu dilakukan volume
yang perbaikan
diamati
1 Tebing Lereng longsor;
dasarnya
tergerus;
Tumbuh semak
liar
2 Alur dasar Lumpur
mengendap;
Sampah
menumpuk;
Agradasi;
Degradasi

3 Kegiatan di Pengerukan;
palung dan Penambangan
bantaran batu/pasir;
Drainase Pelayaran;
Utama Pembuangan
Perkotaan limbah
Bangunan liar
4 Sempadan Penambangan
Drainase batu/pasir;
Utama Bangunan liar
Perkotaan Patok batas
sempadan rusak

Isi Kolom 3: harap dipilih yang relevan saja, sedangkan yg tidak relevan harap dicoret

Tanda tangan pelaksana Inspeksi

...............................................
OP – 01.b

CATATAN INSPEKSI
BANGUNAN DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Nama bangunan : TANGGUL BANJIR


Lokasi bangunan : Drainase Utama Perkotaan ............ pada ruas antara patok
Km...... s/d Km ......
Inspeksi dilakukan oleh : .....................................
Tanggal pelaksanaan inspeksi : ......................................

Type bangunan: Konstruksi tanah timbun

No Bagian Hasil Tindakan Taksiran


bangunan Pengamatan yang perlu dilakukan volume
yang perbaikan
diamati
1 Puncak Retak; Ambles;
tanggul Berlubang.
Tumbuh semak
liar
2 Lereng Retak; Longsor;
tanggul Berlubang;
Gebalan rumput
botak; Tumbuh
semak liar
4 Sistem Tertutup tanah;
drainase Tertutup sampah
tanggul
6 Tanah di Longsor
sekitar kaki
tanggul
7 Patok Miring; Rusak;
kilometer Hilang
rusak
8 Portal Miring; Rusak.
tanggul
rusak
Isi Kolom 3: harap dipilih yang relevan saja, sedangkan yg tidak relevan harap dicoret

Tanda tangan pelaksana Inspeksi

...............................................
OP – 01.c

CATATAN INSPEKSI
BANGUNAN DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Nama bangunan : TANGGUL BANJIR atau REVETMEN


Lokasi bangunan : Drainase Utama Perkotaan ............ pada ruas antara patok
Km...... s/d Km .......
Inspeksi dilakukan oleh : .....................................

Tanggal pelaksanaan inspeksi : ......................................

Type bangunan: Tembok pasangan batu kali

No Bagian Hasil Tindakan Taksiran


bangunan Pengamatan yang perlu dilakukan volume
yang perbaikan
diamati
1 Puncak Retak; Patah;
bangunan Ambles;
Berlubang,
Tumbuh semak
liar
2 Lereng Retak; Longsor;
Berlubang;
Pasangan batu
terlepas; Tumbuh
semak liar
4 Bagian dasar Gerowong;
bangunan Tergerus

6 Sistem Tertutup tanah;


drainase Tertutup sampah

Isi Kolom 3: harap dipilih yang relevan saja, sedangkan yg tidak relevan harap dicoret

Tanda tangan pelaksana Inspeksi

...............................................
OP – 01.d

CATATAN INSPEKSI
BANGUNAN DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Nama bangunan : TURAP atau REVETMENT


Lokasi bangunan : Drainase Utama Perkotaan ............ pada ruas antara patok
Km...... s/d Km ......
Inspeksi dilakukan oleh : .....................................
Tanggal pelaksanaan inspeksi : ......................................

Type bangunan: Konstruksi Beton atau Baja

No Bagian Hasil Tindakan Taksiran


bangunan Pengamatan yang perlu dilakukan volume
yang perbaikan
diamati
1 Puncak Pecah; Bengkok
bangunan

2 Lereng Miring;
Melengkung;
Retak; Patah,
Berlubang;;
Keropos; Berkarat
4 Bagian dasar Tergerus; Keropos
bangunan

6 Sistem Tertutup tanah;


drainase Tertutup sampah

Isi Kolom 3: harap dipilih yang relevan saja, sedangkan yg tidak relevan harap dicoret

Tanda tangan pelaksana Inspeksi

...............................................
OP – 01.e

CATATAN INSPEKSI
BANGUNAN DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Nama bangunan : PELIMPAH BANJIR


Lokasi bangunan : Drainase Utama Perkotaan ............ pada ruas antara patok
Km...... s/d Km ........
Inspeksi dilakukan oleh : .....................................
Tanggal pelaksanaan inspeksi : ......................................

Type bangunan: Konstruksi pasangan batu; konstruksi beton, tumpukan bronjong

No Bagian Hasil Tindak Taksiran


bangunan Pengamatan an volume
yang yang perlu perbaikan
diamati dilakukan
1 Puncak Retak, Pecah,
pelimpah pasangan batu
terlepas; Kawat
bronjong putus
2 Stiling basin Retak; Patah;
(kolam olak) Tergerus bagian
ujungnya; Gerowong:
Kawat bronjong
putus
3 Pangkal Struktur terlepas
kiri/kanan dari tebing Drainase
pelimpah Utama Perkotaan

4 Pintu Daun pintu rusak: Tak


pelimpah dapat tertutup
(jika ada) sempurna; Mesin
penggerak rusak
4 Tembok Retak; Pecah;
sayap Kawat bronjong
putus
5 Palung Sangkrah
Drainase menyangkut;
Utama Tebingnya longsor
6 Palung Degradasi dasar
Drainase Drainase Utama
Utama Perkotaan, Tebing
Perkotaan di tergerus, Tebing
7 Papan peil- Tak terbaca;
skal Rusak
Isi Kolom 3: harap dipilih yang relevan saja, sedangkan yg tidak relevan harap dicoret

Tanda tangan pelaksana Inspeksi

....................................................
OP – 01.f

CATATAN INSPEKSI
BANGUNAN DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Nama bangunan : WADUK BANJIR


Lokasi bangunan : Drainase Utama Perkotaan ............ pada ruas antara patok
Km...... s/d Km ........
Inspeksi dilakukan oleh : .....................................
Tanggal pelaksanaan inspeksi : ......................................

Type bangunan:

No Bagian Hasil Tindakan Taksiran


bangunan Pengamatan yang perlu dilakukan volume
yang perbaikan
diamati
1 Pintu Terganjal; Daun
inlet/outlet pintu rusak: Tak
dapat tertutup/
terbuka rapat;
Stang bengkok;
Alat penggerak
rusak
2 Puncak Ambles; Bocor;
tanggul Lereng longsor;
sekeliling Tumbuh semak
wduk liar; Gebalan
rumput botak;
3 Lereng Longsor;
tanggul Berlubang;
Tumbuh semak
liar Gebalan
rumput botak;
4 Kolam Penuh sedimen;
waduk Penuh gulma; Ada
bangunan liar
5 Papan duga Tak terbaca;
(peilskal) Rusak

Isi Kolom 3: harap dipilih yang relevan saja, sedangkan yg tidak relevan harap dicoret

Tanda tangan pelaksana Inspeksi

...................................................
OP – 01.g

CATATAN INSPEKSI

BANGUNAN DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Nama bangunan : POMPA BANJIR


Lokasi bangunan : Drainase Utama Perkotaan ............ pada ruas antara patok
Km...... s/d Km ........
Inspeksi dilakukan oleh : .....................................
Tanggal pelaksanaan inspeksi : ......................................

Type bangunan:

No Bagian Hasil Tindakan Taksiran


bangunan Pengamatan yang perlu dilakukan volume
yang perbaikan
diamati
1 Rumah Atap bocor; pintu
pompa rusak.
2 Mesin Rusak tak
pompa berfungsi;
3 Standby Mati tak berfungsi;
genset Rusak;
4 Lampu Lampu
penerangan penerangan mati
5 Sampah di Menutup saringan
hulu sampah
bendung
6 Pintu outlet Terganjal; Daun
pintu rusak: Tak
dapat tertutup/
terbuka rapat;
Stang bengkok;
Alat penggerak
rusak
Isi Kolom 3: harap dipilih yang relevan saja, sedangkan yg tidak relevan harap dicoret.

Tanda tangan pelaksana Inspeksi

....................................................
OP – 01.h

CATATAN INSPEKSI
BANGUNAN DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

Nama bangunan : TIDAL GATE (SALINITY BARRIER) / Pintu Air

Lokasi bangunan : Drainase Utama Perkotaan ............ pada ruas antara patok
Km...... s/d Km ........
Inspeksi dilakukan oleh : .....................................

Tanggal pelaksanaan inspeksi : ......................................

Type bangunan:

No Bagian Hasil Tindakan Taksiran


bangunan Pengamatan yang perlu dilakukan volume
yang perbaikan
diamati
1 Pintu Macet; Seal Bocor;
bangunan Terganjal
2 Sistem Tak berfungsi;
penggerak Macet;
pintu
3 Power house Atap bocor:
Dinding/pintu
rusak; Lampu
putus
3 Bag dasar Retak; Pecah
bangunan

4 Tanggul di Ambles; Tertutup


hulu semak
bangunan
5 Sedimen di Menumpuk
hulu dan
hilir
bangunan
6 Papan duga Tak terbaca;
(peilskal) Rusak

Isi Kolom 3: harap dipilih yang relevan saja, sedangkan yg tidak relevan harap dicoret

Tanda tangan pelaksana Inspeksi

...................................................
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT
DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR
Jl.PattimuraNo.20KebayoranBaru-JakartaSelatan12110,Telp.(021)7395500,Fax. (0
21)7246312

LAMPIRAN II

METODE PERHITUNGAN ANGKA


KEBUTUHAN NYATA OP (AKNOP)
PRASARANA DRAINASE UTAMA
PERKOTAAN

2017
DAFTAR ISI
BAB 1
....................................................................................................................
.......... 1
PENDAHULUAN ..........................................................................................
....................... 1
BAB
II .................................................................................................................
................... 2
PENYUSUNAN ANGKA KEBUTUHAN NYATA OPERASI DAN PEMELIHARAAN
(AKNOP) PRASARANA DRAINASE UTAMA PERKOTAAN ...2
2.1 Umum ........................................................................................................................ 2
2.2 Perhitungan AKNOP Prasarana Drainase Utama Perkotaan ........................ .... 2
2.3 Ketentuan Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) ........................................... .... 3
2.3.1 Analisa Harga Satuan (AHS) Bidang Pekerjaan Umum ........................... ... 4
2.3.2 Analisa Harga Satuan (AHS) Bidang Non Pekerjaan Umum ...................... 15
2.4 Lingkup Kegiatan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan ................................ 21
2.4.1 Lingkup Kegiatan Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan........... ... 24
2.4.2 Lingkup Kegiatan Pemeliharaan Drainase Utama Perkotaan . ................... 29
2.4.3 Lingkup Kegiatan Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan .... 33
BAB I
PENDAHULUAN

Drainase Utama Perkotaan merupakan salah satu sumber air permukaan yang
bernilai penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, upaya mempertahankan
keberadaan dan keberlanjutan pemanfaatan fungsi Drainase Utama Perkotaan
merupakan salah satu amanat pokok Undang- Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang
Pengairan. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan operasi dan pemeliharaan
(OP) prasarana Drainase Utama Perkotaan yang telah dilaksanakan oleh para
pemangku kepentingan, terutama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat melalui Balai Wilayah Drainase Utama Perkotaan (BWS) dan Balai Besar
Wilayah Drainase Utama Perkotaan (BBWS).

Pada kondisi nyata kegiatan OP tidak akan dapat berjalan sebagaimana yang
diharapkan tanpa memperoleh dukungan pembiayaan yang memadai dan
berkelanjutan. Biaya OP sering disebut dengan Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan
Pemeliharaan (AKNOP), memiliki arti kebutuhan biaya operasi dan pemeliharaan
berdasarkan perhitungan kebutuhan nyata di lapangan.

Mengingat pentingnya AKNOP ini, maka dibutuhkan suatu pedoman yang mengatur
tata cara penyusunan anggaran biaya sesuai dengan kenyataan di lapangan dan
mencakup seluruh lingkup kegiatan OP sesuai amanat Pedoman OP prasarana
Drainase Utama Perkotaan. Dengan adanya tata cara yang jelas, diharapkan
penyusunan AKNOP Drainase Utama Perkotaan di masa mendatang akan berjalan
sistematis, mudah disusun, dan mudah dievaluasi di seluruh Indonesia.
BAB II
PENYUSUNAN ANGKA KEBUTUHAN NYATA
OPERASI DAN PEMELIHARAAN (AKNOP)
PRASARANA DRAINASE UTAMA PERKOTAAN

2.1 Umum
Penyusunan besaran nilai kebutuhan biaya dan pendanaan untuk kegiatan OP
Prasarana Drainase Utama Perkotaan dilakukan melalui perhitungan Angka
Kebutuhan Nyata OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan (AKNOP Prasarana
Drainase Utama Perkotaan). AKNOP Prasarana Drainase Utama Perkotaan
disiapkan dan ditentukan oleh masing-masing pengelola Drainase Utama
Perkotaan untuk setiap Drainase Utama Perkotaan yang berada didalam wilayah
Drainase Utama Perkotaan yang menjadi kewenangannya agar dana OP
Drainase Utama Perkotaan lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhannya.

Tahap penyusunan AKNOP:

a) Tahapan perencanaan
Tahapan perencanaan dilakukan dengan menyusun tahapan dan jadwal yang
harus dilakukan untuk mendapatkan data AKNOP, komponen penilaian, serta
personil yang melaksanakan;

b) Pemantauan lapangan
Data yang didapatkan pada kegiatan pemantauan lapangan adalah hasil
pengamatan kondisi fisik prasarana serta tindakan yang perlu dilakukan
serta taksiran volume perkiraan pekerjaan dan biaya yang diperlukan;

c) Penilaian kategori pemeliharaan


Untuk mendapatkan jenis kategori pemeliharaan dilakukan dengan
memberikan penilaian terhadap gabungan unsur kondisi fungsi dan kondisi
fisik prasarana. Dari hasil penilaian selanjutnya dijadikan dasar untuk
memberikan rekomendasi kategori pemeliharaan prasarana termasuk
kategori pemeliharaan preventif, korektif, atau rehabilitatif. Personil yang
ditugaskan untuk memberikan penilaian kondisi prasarana di lapangan harus
mempunyai kompetensi yang memadai.

2.2 Perhitungan AKNOP Prasarana Drainase Utama Perkotaan


Penyusunan perhitungan AKNOP Prasarana Drainase Utama Perkotaan serta
Pemeliharaan Drainase Utama Perkotaan dibuat dalam bentuk matriks dengan
menggunakan format excel sederhana agar para pelaksana dapat
menggunakannya dengan mudah. Matriks perhitungan AKNOP Prasarana
Drainase Utama Perkotaan yang disusun merupakan hasil dari penjabaran
Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) dengan memuat beberapa ketentuan
seperti berikut:

Kolom (1) : Nomor

Kolom (2) : Uraian

Berisi kegiatan operasi/pemeliharaan prasarana Drainase Utama


Perkotaan yang berpotensi menimbulkan biaya. Penyusun
AKNOP tidak perlu mengisi atau mengubah kolom uraian,
tetapi Penyusun AKNOP wajib menyesuaikan kegiatan OP di
wilayahnya dengan kegiatan OP yang tertera dalam kolom ini.

Kolom (3) : Kode Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHS)


Berisi petunjuk kode Analisa Harga Satuan (AHS) yang
digunakan pada masing-masing komponen kegiatan.

Kolom (4) dan (5) : Satuan dan Koefisien

Berisi angka/koefisien dan satuan volume.


Kolom (6) : Harga Satuan
Berisi harga satuan masing-masing komponen kegiatan.

Kolom (7) : Jumlah

Merupakan perkalian antara volume dengan harga satuan.

Contoh penjabaran Analisa Harga Satuan Pekerjaan untuk penyusunan Angka


Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama
Perkotaan, sebagai berikut:
2.3 Ketentuan Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP)
Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) merupakan suatu sarana perhitungan
yang berguna untuk mempermudah pendefinisian satu item pekerjaan per
satuan tertentu. Untuk penentuan harga satuan bahan dan upah diambil
berdasarkan harga pasar setempat, satu daerah berbeda dengan daerah yang
lain. Biasanya setiap kabupaten/kota mengeluarkan harga satuan standar per
tahun, harga satuan tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam menyusun
anggaran biaya OP. Beberapa faktor yang mempengaruhi harga satuan bahan
dan upah adalah lokasi, iklim, dan inflasi.

2.3.1 Analisa Harga Satuan (AHS) Bidang Pekerjaan Umum


Dalam melakukan penghitungan AKNOP Prasarana Drainase Utama
Perkotaan, Analisa Harga Satuan (AHS) yang digunakan adalah
mengacu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11/PRT/M/2013
tentang Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum
Bagian 1. Bidang Umum dan Bagian 2. Bidang Sumber Daya Air.

Berikut adalah daftar kode AHS Bidang Sumber Daya Air yang dapat
dijadikan acuan dalam melakukan penghitungan AKNOP Prasarana
Drainase Utama Perkotaan :
Daftar AHS Bidang Sumber Daya Air
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11/PRT/M/2013 tentang Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum

Kode AHS Keterangan

AHS - T01 T01 1 m2 Pembersihan dan striping/korsekan secara manual


AHS - T02 T02 1 m2 Tebas tebang berupa memotong dan membersihkan lokasi dari tanaman/ tumbuhan
AHS - T03 T03 1 Pohon, Cabut tunggul tanaman keras minimum diameter 15 cm dengan membuang sisa tunggul kayu dan akar-akar nya
AHS - T04 T04 Uitset trase saluran pembawa dan pembuang
AHS - T05 T05 Pasang profil melintang galian tanah jarak 50 m pada ruas saluran yang lurus

AHS - T06a T06a Galian tanah biasa (1 m3 Galian tanah biasa pada saluran sedalam lebih kecil sama dengan 1 m dan membuang hasil galian ketempat pembuangan dengan
jarak angkut lebih kecil atau sama dengan 3 m termasuk perataan dan perapihan.)
AHS - T06b T06b Galian tanah biasa (1 m3 Galian tanah biasa pada saluran sedalam 2 m)
AHS - T06c T06c Galian tanah biasa (Galian tanah biasa sedalam s.d 3m)
AHS - T06d T06d Galian tanah biasa (1 m3 galian tanah biasa dengan kedalaman > 3m, tambahan koefisien untuk setiap penambahan kedalaman 1m)
AHS - T07a T07a Galian tanah berbatu(1 m3 galian tanah berbatu sedalam < 1m)
AHS - T07b T07b Galian tanah berbatu(1 m3 galian tanah berbatu sedalam s.d 2m)
AHS - T07c T07c Galian tanah berbatu(1 m3 galian tanah berbatu sedalam s.d 3m)
AHS - T07d T07d Galian tanah berbatu(1 m3 galian tanah berbatu dengan kedalaman > 3m, tambahan koefisien untuk setiap penambahan kedalaman m
AHS - T08a T08a Galian batu (1 m3 galian batu sedalam lebih kecil atau sama dengan 1m)
AHS - T08b T08b Galian batu (1 m3 galian batu sedalam s.d 2m)
AHS - T08c T08c Galian batu (1 m3 galian batu sedalam s.d 3m)
AHS - T08d T08d Galian batu (1 m3 galian batu dengan kedalaman lebih besar atau sama degan 3m, tambahan koefisien setiap penambahan kedalaman 1m)
AHS - T09a T09a Galian tanah cadas atau tanah keras (1 m3 galian batu sedalam lebih kecil atau sama dengan 1m)
AHS - T09b T09b Galian tanah cadas atau tanah keras (1 m3 galian tanah cadas atau tanah keras sedalam s.d 2m)

AHS - T09c AHS - T10b


AHS - T09d AHS - T10c
AHS - T10a AHS - T10d
AHS - T11a T09c Galian tanah cadas atau tanah keras (1 m3 galian tanah cadas atau tanah keras sedalam s.d 3m)
T09d Galian tanah cadas atau tanah keras (1 m3 galian tanah cadas atau tanah keras dengan kedalaman > 3m, tambahan koefisien setiap penambahan kedalam 1m)
AHS - T11b
T10a Galian tanah lumpur (1 m3 galian lumpur sedalam lebih besar sama dengan 1 m)
AHS - T11c
T10b Galian tanah lumpur (1 m3 galian lumpur sedalam s.d 2m)
AHS - T11d T10c Galian tanah lumpur (1 m3 galian lumpur sedalam s.d 3m)
AHS - T12a.1 T10d Galian tanah lumpur (1 m3 galian lumpur dengan kedalaman lebih kecil 3m, tambahan koefisien setiap penambahan kedalaman 1m)
AHS - T12a T11a Galian pasir untuk fondasi bangunan (Galian pasir untuk fondasi bangunan sedalam s.d 1 m)
AHS - T12b.1 T11b Galian pasir untuk fondasi bangunan (Galian pasir untuk fondasi bangunan sedalam s.d 2 m)
AHS - T12b T11c Galian pasir untuk fondasi bangunan (Galian pasir untuk fondasi bangunan sedalam s.d 3 m)
AHS - T12c.1 T11d Galian pasir untuk fondasi bangunan (Galian pasir untuk fondasi bangunan dengan kedalaman lebih besar 3m tambahan koefisien setiap penambahan
kedalaman 1m)
AHS - T12c
T12a.1 Perkuatan dinding galian atau alat bantu gali (1 m perkuatan dinding galian untuk 1 m paling bawah)
AHS - T12d
T12a. Contoh 1m' perkuatan dinding untuk galian 1 m' paling bawah, menggunakan baja INP-10 dan balok kayu 8/12
AHS - T14a
T12b.1 Penambahan setiap tinggi 1 m' perkuatan dinding galian
AHS - T14b
T12b. Contoh 1m' penambahan setiap tinggi 1 m' perkuatan dinding galian, menggunakan baja INP-10 dan balok kayu
AHS - T14c
T12c.1 Perkuatan dinding galian dengan turap untuk 1 m' paling bawah
AHS - T14d
T12c. Contoh 1 m' perkuatan dinding galian dengan turap untuk 1 m' paling bawah dengan turap INP-8
AHS - T15a.1
T12d. Contoh perkuatan dinding galian dengan turap INP-8 untuk setiap penambahan tinggi 1m'
AHS - T15a.2
T14a. Timbunan dan Pemadatan (Timbunan tanah atau urugan tanah kembali 1 m3)
AHS - T15a.3
T14b. Timbunan dan Pemadatan (Pemadatan tanah)
T14c. Timbunan dan Pemadatan (Timbunan pasir bahan pengisi 1 m3)
T14d. Timbunan dan Pemadatan (Pemdatan pasir sebagai bahan pengisi 1 m3)
T15a.1 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan h=jarak angkut lebih besar 3 m s.d lebih kecil dari 5 m)
T15a.2 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 5m)
T15a.3 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 10m)
AHS - T15a.4 T15a.4 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 30m)
AHS - T15a.5 T15a.5 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 50m)
AHS - T15a.6 T15a.6 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 100m)
AHS - T15a.7 T15a.7 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 200m)
AHS - T15a.8 T15a.8 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 300m)
AHS - T15a.9 T15a.9 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 400m)
AHS - T15a.10 T15a.10 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut 500m)
AHS - T15a.11 T15a.11 Angkutan Material dan/ atau hasil galian (Mengangkut 1 m3 hasil galian dengan jarak angkut > 500m untuk setiap penambahan jarak angkut 100 m)
AHS - P01a P01a 1 m3 Pasangan batu dengan mortar jenis PC-PP (Mortar tipe M)
AHS - P01b P01b 1 m3 Pasangan batu dengan mortar jenis PC-PP (Mortar tipe S)
AHS - P01c P01c 1 m3 Pasangan batu dengan mortar jenis PC-PP (Mortar tipe N)
AHS - P01d P01d 1 m3 Pasangan batu dengan mortar jenis PC-PP (Mortar tipe O)
AHS - P01e P01e 1 m3 Pasangan batu dengan mortar jenis PC-PP (Bongkar 1 m3 pasangan batu)
AHS - P01f P01f 1 m3 Pasangan batu dengan mortar jenis PC-PP (1 m3 persiapan pemanfaatan kembali material batu dari bekas bongkaran pasangan batu)
AHS - P02a P02a 1 m3 Pasangan Bata Merah (tipe M)
AHS - P02b P02b 1 m3 Pasangan Bata Merah (tipe N)
AHS - P02c P02c 1 m3 Pasangan Bata Merah (tipe O)
AHS - P02d P02d 1 m3 Pasangan Bata Merah (Mortar campuran 1 PC: 6PP)
AHS - P02e P02e 1 m3 Pasangan Bata Merah (Bongkar 1 m3 pasangan bata merah)
AHS - P03a P03a 1 m2 Pekerjaan siaran dengan mortasr jenis PC-PP (Trasraam tebal 1 cm, tipe M)
AHS - P03b P03b 1 m2 Pekerjaan siaran dengan mortasr jenis PC-PP (Trasraam tebal 1 cm, tipe S)
AHS - P04a P04a 1 m2 Plesteran dengan mortar jenis PC-PP (Trasraam tebal 1 cm, tipe M)
AHS - P04b P04b 1 m2 Plesteran dengan mortar jenis PC-PP (Plestreran tebal 1 cm, tipe S)
AHS - P04c P04c 1 m2 Plesteran dengan mortar jenis PC-PP (Plesteran tebal 1 cm, tipe N)
AHS - P04d P04d 1 m2 Plesteran dengan mortar jenis PC-PP (Trasraam tebal 1.5 cm, tipe M)
AHS - P04e P04e 1 m2 Plesteran dengan mortar jenis PC-PP (Plesteran tebal 1.5 cm, tipe S)
AHS - P04f P04f 1 m2 Plesteran dengan mortar jenis PC-PP (Plesteran tebal 1.5 cm, tipe N)
AHS - P05 P05 1 m3 Pasangan batu kosong
AHS - P06(1)a P06.1a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe A); kawat anyaman dengan ukuran 2,70 mm
AHS - P06(1)b P06.1b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe A); kawat anyaman dengan ukuran 3,00 mm
AHS - P06(1)c P06.1c Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe A); wire mesh 5 mm
AHS - P06(2)a P06.2a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe B); kawat anyaman dengan ukuran 2,70 mm
AHS - P06(2)b P06.2b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe B); kawat anyaman dengan ukuran 3,00 mm
AHS - P06(2)c P06.2c Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe b); wire mesh 5 mm
AHS - P06(3)a P06.3a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe C); kawat anyaman dengan ukuran 2,70 mm
AHS - P06(3)b P06.3b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe C); kawat anyaman dengan ukuran 3,00 mm
AHS - P06(3)c P06.3c Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe C); wire mesh 5 mm
AHS - P06(4)a P06.4a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); kawat anyaman dengan ukuran 2,70 mm
AHS - P06(4)b DP06.4b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); kawat anyaman dengan ukuran 3,00 mm
AHS - P06(4)c P06.4c Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); wire mesh 5 mm
AHS - P06(5)a P06.5a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); kawat anyaman dengan ukuran 2,70 mm
AHS - P06(5)b P06.5b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); kawat anyaman dengan ukuran 3,00 mm
AHS - P06(5)c P06.5c Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); wire mesh 5 mm
AHS - P06(6)a P06.6a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); kawat anyaman dengan ukuran 2,70 mm
AHS - P06(6)b DP06.6b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); kawat anyaman dengan ukuran 3,00 mm
AHS - P06(6)c P06.6c Pasangan batu bronjong kawat Bentuk I (Tipe D); wire mesh 5 mm
AHS - P06(7) P06.7 Pasangan bronjong pabrikasi (tenaga kerja untuk 1 m3 batu bronjong)
AHS - P06(8)a P06.8a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk II (Tipe G); kawat anyaman dengan ukuran 2,00 mm
AHS - P06(8)b P06.8b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk II (Tipe G); kawat anyaman dengan ukuran 2,70 mm
AHS - P06(9)a P06.9a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk II (Tipe H); kawat anyaman dengan ukuran 2,00 mm
AHS - P06(9)b P06.9b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk II (Tipe G); kawat anyaman dengan ukuran 2,70 mm
AHS - P06(10)a P06.10a Pasangan batu bronjong kawat Bentuk II (Tipe I); kawat anyaman dengan ukuran 2,00 mm
AHS - P06(10)b P06.10b Pasangan batu bronjong kawat Bentuk II (Tipe I); kawat anyaman dengan ukuran 2,7 mm
AHS - P06(11) P06.11 Pasangan bronjong pabrikasi (tenaga kerja untuk 1 m3 batu bronjong)
AHS - P07a P07a Jika menggunakan konstruksi cerucuk kayu/dolken, diameter 8 - 10 cm
AHS - P07b P07b Jika menggunakan konstruksi cerucuk bambu, diameter 8 - 10 cm
AHS - P07c P07c Jika menggunakan konstruksi cerucuk bambu, diameter 10 - 12 cm
AHS - P07d P07d Pemasangan modul 1 m3 bronjong kawat menjadi struktur krib Drainase Utama Perkotaan
AHS - P08a P08a Pasangan batu muka atau batu candi (Pasangan Batu Muka)
AHS - P08b P08b Pasangan batu muka atau batu candi (Pasangan Batu Candi)
AHS - P09a P09a 1 m2 Pasangan Geotekstil (Tipe A)
AHS - P09b P09b 1 m2 Pasangan Geotekstil (Tipe B)
AHS - P09c P09c 1 m2 Pasangan Geotekstil (Tipe c)
AHS - P10 P10 Pasangan bar screen/ saringan kasar (1 buah)
AHS - P11 P10 1 bh Pasangan bangunan pengukur dan pengatur
AHS - P12a P12a Pasangan 1 m2 lempengan rumput (Penanaman rumput lempengan)
AHS - P12b P12b Pasangan 1 m2 lempengan rumput (Pembabatan rumput)
AHS - P15b P15b. Pengecoran 1 buah buis beton diamter 1 m' dengan campuran beton f'c= 7,4 Mpa (K-100)
AHS - P16 P16 Pasangan pipa suling-suling (1 m')
AHS - P17 P17 1 m peilskaal/ mistar duga muka air
AHS - B01 B01 1 m3 beton untuk lantai kerja (bedding)
AHS - B02 B02 1 m3 beton mutu, f’c = 7,4 MPa (K100), slump (12±2) cm, w/c = 0,87
AHS - B03 B03 1 m3 beton mutu, f’c = 9,8 MPa (K125), slump (12±2) cm, w/c = 0,78
AHS - B04 B04 1 m3 beton mutu, f’c = 12,2 MPa (K150), slump (12±2) cm, w/c = 0,72
AHS - B05 B05 1 m3 beton mutu, f’c = 14,5 MPa (K175), slump (12±2) cm, w/c = 0,66
AHS - B06 B06 1 m3 beton mutu, f’c = 16,9 MPa (K200), slump (12±2) cm, w/c = 0,61

AHS - B07 B07 1 m3 beton mutu, f’c = 19,3 MPa (K225), slump (12±2) cm, w/c = 0,58
AHS - B08 B08 1 m3 beton mutu, f’c = 21,7 MPa (K250), slump (12±2) cm, w/c = 0,56
AHS - B09 B09 1 m3 beton mutu, f’c = 24,0 MPa (K275), slump (12±2) cm, w/c = 0,53
AHS - B10 B10 1 m3 beton mutu, f’c = 26,4 MPa (K300), slump (12±2) cm, w/c = 0,52
AHS - B11 B11 1 m3 beton mutu, f’c = 28,8 MPa, (K325), slump (12±2) cm, w/c = 0,49
AHS - B12 B12 1 m3 beton mutu, f’c = 31,2 MPa, (K350), slump (12±2) cm, w/c = 0,48
AHS - B13 B13 1 m3 beton menggunakan ready mixed dan pompa beton
AHS - B14a B14a 1 m3 beton dicorkan pada tapak berjarak < 25 m dengan ketinggian/kedalaman < 1 m (Tenaga Manual)
AHS B14b(1) B14b.1 1 m3 beton dicorkan pada tapak berjarak setiap tambahan jarak 25 m (horizontal), jika menggunakan tenaga manual.
AHS B14b(2) B14b.2 1 m3 beton dicorkan pada tapak berjarak setiap tambahan jarak 25 m (horizontal), jika menggunakan peralatan pompa beton
AHS - B15a B15b Penggunaan Vibrator (vibrator)
AHS - B15b B15b Penggunaan Vibrator (vibrator+tenaga kerja manual)
AHS - B16a B16a 1 m3 beton dicorkan pada tapak setiap kenaikan 3m - 4 m (vertikal), jika menggunakan tenaga manual.
AHS - B16b B16a 1 m3 beton dicorkan pada tapak setiap kenaikan 3m - 4 m (vertikal), jika menggunakan tenaga manual.
AHS - B17 B17 Pembesian 100 kg dengan besi polos atau ulir
AHS - B18 B18 Pembesian 100 kg jaring kawat (wire mesh)
AHS - B20a B20a Penambahan koefisien tenaga kerja (Manual)
AHS - B20b B20b Penambahan koefisien tenaga kerja (Mekanis jarak 10 s.d 25 m)
AHS - B20c B20c Penambahan koefisien tenaga kerja (Mekanis horizontal 25 m)
AHS - B20d B20d Penambahan koefisien tenaga kerja (Mekanissetiap 4m)
AHS - B21 B21 1 m2 Bekisting untuk permukaan beton biasa dengan multiflex 12 mm atau 18 mm (tanpa perancah)
AHS - B22 B22 1 m2 Bekisting untuk permukaan beton biasa dengan papan ukuran 3/20 cm (tanpa perancah)
AHS - B23 B23 1 m2 bekisting untuk permukaan beton expose dengan multiflex 12 mm atau 18 mm - kaso 5/7 cm (tanpa perancah)

AHS - B24 B24 1 m2 perancah bekisting kaso 5/7 cm tinggi 4 m*


AHS - B25 B25 1 m2 perancah bekisting kayu dolken diameter 8 cm – 10 cm tinggi 4 m **
AHS - B26 B26 Bekisting balok beton biasa dengan multiflex 12 mm atau 18 mm(tanpa perancah)
AHS - B27 B27 Perancah Bekisting balok dengan Kaso 5/7 tinggi 4 m
AHS - B28 B28 Perancah Bekisting balok dengan Kayu dolken diameter 8 cm tinggi 4 m**
AHS - B29 B29 Bekisting kolom beton biasa dengan multiflex 12 mm atau 18 mm
AHS - B30 B30 Bekisting kolom beton biasa dengan papan ukuran 3/20 cm
AHS - B31 B31 Bekisting dinding beton biasa dengan multiflex 12 mm atau 18 mm
AHS - B32 B32 Bekisting dinding beton biasa dengan papan ukuran 3/20 cm
AHS - B33 B33 Bekisting fondasi dan sloof beton biasa dengan multiflex 12 mm/18 mm
AHS - B34 B34 Bekisting fondasi dan sloof beton biasa dengan papan ukuran 3/20 cm
AHS - B35 B35 Bongkar 1 m2 bekisting secara biasa
AHS - B36 B36 Bongkar 1 m2 bekisting secara hati-hati
AHS - B39 B39 Bongkar beton secara konvensional
AHS - B40 B40 Bongkar beton dengan Jack Hammer
AHS - B41 B41 Pemasangan Water Stop, Memasang 1 m water stop PVC lebar 150 mm
AHS - B42 B42 Memasang 1 m water stop PVC lebar 200 mm
AHS - B43 B43 Memasang water stop 1 m PVC lebar 230 mm – 320 mm
AHS - B44 B44 Pemasangan water stop 1m Rubber lebar 150 mm – 200 mm
AHS - F01 F01 Tiang Pancang Kayu Gelondongan
AHS - F02 F02 Tiang Panjang Baja Pipa

AHS - F03 AHS - F05


AHS - F04
AHS - F07 F03 Tiang Pancang Beton Bertulang ( 30x 30 cm)
AHS - F08 F04 Tiang Pancang Beton Bertulang (40 x 40 cm)
AHS - F09 F05 Turap Kayu Dolken
AHS - F10 F07 Turap beton Bertulang Precast (30 x 12 cm)
AHS - F11 F08 Turap Beton Bertulang Pre-cast (40 x 15 cm)
AHS - F12 F09 Turap Beton Bertulang Pre-cast (50 x 22 cm)
AHS - F13 F10 Tiang Pancang Kayu Gelondongan
AHS - F14 F11 Tiang Pancang Baja Pipa (30 x 30 cm)
AHS - F16 F12 Tiang Pancang Beton Bertulang ( 30 x 30 cm)
AHS - F17 F13 Tiang Pancang Beton Bertulang (40 x 40 cm)
AHS - F18 F14 Turap Kayu Dolken
AHS - F16 Turap Beton Bertulang Pre-cast (30 x 12 cm)
D01a F17 Turap Beton Bertulang Pre-cast (40 x 15 cm)
AHS - F18 Turap Beton Bertulang Pre-cast (50 x 22 cm)
D01b
D01.a 1 bh kistdam pasir/tanah dibungkus karung plastik bagor (sebesar karung beras 25 kg) uk. 43 cm x 65 cm
AHS -
D01c D01.b 1 bh kistdam pasir/tanah dibungkus karung plastik bagor atau terpal uk. 45 cm x 120 cm
AHS - D02 D01.c 1 bh geobag pasir/tanah uk. 145 x 240 cm
AHS - D03 D02 Kerangka kayu untuk 1 m3 kistdam pasir/tanah uk. 23 cm x 65 cm
D03 Kerangka baja profil L.40.40.4 atau profil union berlubang untuk 1 m3 kistdam pasir/tanah uk. 23 cm x 65 cm.
AHS - D04
D04 Pengoperasian per hari selama 24 jam pompa air diesel daya 5 kW dengan suction head max. 3m dan discharge head max. 20m (kapasitas 0,5 m3/s
pada suction head 1m dan discharge head 10m)
AHS - D05
D05 Pengoperasian per hari selama 24 jam pompa air diesel daya 10 kW dengan suction head max. 3m dan discharge head max. 20m (kapasitas 1 m3/s
pada suction head 1m dan discharge head 10m)

– 13 –
AHS - D06 D06 Pengoperasian per hari selama 24 jam pompa air diesel daya 20 kW dengan suction head max. 3m dan discharge head max. 20m (kapasitas 2 m3/s pada
suction head 1m dan discharge head 10m
AHS - H01a H01a Pintu angkat ( Lebar B=200mm; H=250 mm; H1=500mm dan TR 1050mm)
AHS - AT01 AT01 1 M' Pengambilan dan deskripsi sampel batuan (dalam laporan)
AHS - AT02 AT02 1 M' Pengeboran diameter 8 3/4"
AHS - AT05 AT05 Bongkar pasang Temporary Cassing (ID) 12"
AHS - AT06 AT06 Bongkar pasang Temporary Cassing (ID) 17"
AHS - AT07 AT07 1 m' Pengadaan dan Pemasangan Cassing Pipa Black Steel 6"
AHS - AT08 AT08 1 m' Pengadaan dan Pemasangan LC Screen 6"
AHS - AT09 AT09 1 m' Pengadaan dan Pemasangan Cassing Pipa Black Steel 8"
AHS - AT10 AT10 1 m' Pengadaan dan Pemasangan LC Screen 8"
AHS - AT11 AT11 1 m' Pengadaan dan Pemasangan Pipa Sounding PVC 1'
AHS - AT12 AT12 1 m' Pengadaan dan Pemasangan Gravel Pack
AHS - AT13 AT13 1 m' Pencucian sumur (1 jam)
AHS - AT14 AT14 Uji pemompaan (1 jam)
AHS - AT15 AT15 1 lokasi pasang dan bongkar peralatan uji
AHS - AT16 AT10 1 m' Pengadaan dan Pemasangan LC Screen 8"
AHS - AT17 AT17 1 bh patok sumur
AHS - AT18 AT18 1 titik electric Logging
AHS - LA01a LA01a Pemagaran daerah kerja (Rangka Baja 40.40.4)
AHS - LA01b LA01b Pemagaran daerah kerja (Rangka Kayu)
AHS - LA02 LA02 Pembuatan direksi keet, los kerja dan gudang
AHS - LA03 LA03 Pembuatan papan nama pekerjaan
AHS - LA04a LA04a Mobilisasi (Investigasi Lapangan)
AHS - LA04b LA04b Mobilisasi (Sewa Lahan)
AHS - LA04c LA04c Fasilitas
AHS - LA04d LA04d Kebutuhan lain-lain
AHS - LA05a LA05a Foto dokumentasi (1 set foto dokumentasi menggunakan kamera)
AHS - LA05b LA05b Foto dokumentasi (1 set foto dokumentasi menggunakan kamera digital)
AHS - LA07a LA07a Penggambaran (Kondisi rumit dan bentuk gambar ukuran A1)
AHS - LA07b LA07b Penggambaran (Kondisi tidak rumit dan bentuk gambar ukuran A1)
AHS - LA08a LA08a Foto copy dan Jilid
AHS - LA08b LA08b 1 set As built drawing
AHS - LA09a LA09a 1 m2 Pengangkatan gulma terapung (secara manual)
AHS - LA09b LA09b 1 m2 Pengangkatan gulma terapung (secara mekanis)
AHS - LA10a LA10a 1 m2 Pengangkatan gulma padat, ketebalan 25 cm (secara manual)
AHS - LA10b LA10b 1 m2 Pengangkatan gulma terapung (secara mekanis)
AHS - BM 01 BM 01 Pengecatan
AHS - BM 02 BM 02 Pelumasan

2.3.2 Analisa Harga Satuan (AHS) Bidang Non Pekerjaan Umum


Untuk Analisa Harga Satuan (AHS) yang tidak tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11/PRT/M/2013, maka
penyusun AKNOP dapat mengacu dan menggunakan AHS yang dikeluarkan pemerintah setempat atau adjusment yang ditulis sendiri

dalam kelompok AHS Non PU. Berikut adalah beberapa hasil perhitungan AHS Bidang Non Pekerjaan Umum yang dapat dijadikan
acuan:

– 15 –
Daftar AHS Non PU
AHS Inspeksi Rutin Drainase Utama Perkotaan Alami
IR-a per 1 Km Drainase Utama Perkotaan dengan lebar 8 m jalan kaki

Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan
dalam Tata Cara AKNOP,
tidak bersumber dari manapun
Harga Satuan = bergantung lokasi
Asumsi 1 juru dapat 0.50 Km Drainase
Utama Perkotaan alami jalan kaki
Untuk 10 Km, membutuhkan (10
Km/ 2,5 Km) 4 orang juru

AHS Inspeksi Rutin Drainase Utama Perkotaan Berkembang


IR-b per 1 Km Drainase Utama Perkotaan dengan lebar 8 m Kendaraan

Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan
dalam Tata Cara AKNOP,
tidak bersumber dari manapun
Harga Satuan = bergantung lokasi
Asumsi 1 juru dapat 500 m Drainase Utama

Perkotaan berkembang naik kendaraan

Untuk 10 Km, membutuhkan


(10 Km/ 5 Km) 2 orang juru
AHS Inspeksi Rutin Drainase Utama Perkotaan Perkotaan
IR-cper 1 Km Drainase Utama Perkotaan dengan lebar 8m Kendaraan

Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan
dalam Tata Cara AKNOP,
tidak bersumber dari manapun
Harga Satuan = bergantung lokasi
Asumsi 1 juru dapat 10 Km Drainase Utama
Perkotaan perkotaan naik kendaraan
Untuk 10 Km, membutuhkan (10
Km/ 5 Km) 1 orang juru

AHS Pintu Pengendali Aliran


PPA per unit pintu pengendali aliran di lokasi yang sama

Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan
dalam Tata Cara AKNOP,
tidak bersumber dari manapun
Harga Satuan = bergantung lokasi
Asumsi 1 orang petugas membawahi 4 pintu air di

wilayah kerjanya wil. kerja petugas = 10 Km panjang

ruas Drainase Utama Perkotaan dengan lebar 20 mtr

AHS Pengecatan 2
CAT per m pengecatan
Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan
dalam Tata Cara AKNOP,
tidak bersumber dari manapun
Harga Satuan = bergantung lokasi
Asumsi
Pekerja dapat menyelesaikan 100
2
m per hari (Koefisien pekerja
per hari = 1 : 100 = 0.01)
Koefisien mandor = Koefisien
pekerja : 2 = 0.01 x 2 = 0.02
2
1 Kg cat untuk 100 m (volume cat yang dibutuhkan

per 1 m2 = 1 : 100 = 0.01)


1 Lt tiner untuk 200 m2 (volume tiner yang

dibutuhkan per 1 m2 = 1 : 200 = 0.005)

AHS Tabalan Rumput dan Penyiraman

TRP per m2 Tabalan rumput dan penyiraman

Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan
dalam Tata Cara AKNOP,
tidak bersumber dari manapun
Harga Satuan = bergantung lokasi
Asumsi
Pekerja dapat menyelesaikan 100
2
m per hari (Koefisien pekerja
per hari = 1 : 100 = 0.01)
Koefisien mandor = Koefisien
pekerja x 2 = 0.01 x 2 = 0.02
Selang dan Pompa
Sewa 1 hari dapat dipergunakan untuk penyiraman
2
seluas 1000 m
koefisien selang dan pompa per
m2 adalah 1 : 1000 = 0.001
AHS Peninggian dan Pemadatan Tanggul
3
PPT per m Peninggian dan Pemadatan Tanggul

Sumber:
AHS = Gabungan antara AHS T14 - T18 Pedoman
Analisis Harga satuan (AHSP) Bidang
Pekerjaan Umum Kemen. PU
Harga Satuan = bergantung lokasi

AHS Sosialisasi / Rapat


SR per kegiatan sosialisasi/rapat

Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan dalam Tata

Cara AKNOP, tidak bersumber dari manapun


AHS Inspeksi Rutin Drainase Utama Perkotaan Perkotaan
IR-t per titik

Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan dalam Tata
Cara AKNOP,
tidak bersumber dari manapun
Harga Satuan = bergantung lokasi

AHS Operasi Alat Berat dan Kendaraan


ALT per unit

Sumber:
AHS ini merupakan hasil perhitungan dalam Tata
Cara AKNOP,
tidak bersumber dari manapun
Harga Satuan = bergantung lokasi
2.4 Lingkup Kegiatan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan
Lingkup Kegiatan OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan dijelaskan sebagai-
mana pada tabel di bawah ini:

Tabel 1 Lingkup Kegiatan OP Prasarana Drainase Utama


Perkotaan serta Pemeliharaan Drainase Utama Perkotaan

Lingkup Kegiatan
Jenis OP
Kegiatan Drainase Utama Prasarana
Perkotaan Drainase Utama
Perkotaan
Operasi 1. Pengoperasian bangunan
pengatur atau
pengendali debit dan
arah aliran air Drainase
Utama Perkotaan;
2. Pengoperasian prasarana
penunjang atau
pendukung kegiatan OP
(peralatan dan
kendaraan, perahu,
Pemeliharaan 1. Penatausahaan Drainase 1. Penatausahaan bangunan
Utama Perkotaan; Drainase Utama Perkotaan;
2. Pemeliharaan ruang 2. Pemeliharaan
bangunan Drainase
Drainase Utama
Utama Perkotaan;
Perkotaan dan
3. Pemeliharaan prasarana
pengendalian
penunjang dan pendukung
pemanfaatan ruang kegiatan OP baik berupa
Drainase Utama gedung, peralatan berat,
Perkotaan; serta peralatan transportasi
dan telekomunikasi.
3. Pemeliharaan dataran
banjir dan pengendalian
pemanfaatan dataran

Pedoman OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan menjabarkan bentuk-bentuk


kegiatan dari empat kelompok besar lingkup OP di atas secara detail. Namun
perlu ditekankan dalam pedoman AKNOP Drainase Utama Perkotaan ini,
Pedoman OP Prasarana Drainase Utama Perkotaan mengelompokkan lagi
kedalam tiga kategori menurut hierarki dan sifat pekerjaannya, yaitu:
1. Pemeliharaaan preventif.
2. Pemeliharaan korektif.
3. Pemeliharaan rehabilitatif.

Kriteria dan deskripsi kegiatan mengenai ketiga kategori pemeliharaan tersebut


diuraikan di dalam Tabel 2 berikut.

Catatan :Akuntabilitas dalam kinerjanya dapat dilaporkan


tersendiri dalam bentuk laporan bulanan dan tahunan….

Tabel 2 Kategori tindakan/kegiatan pemeliharaan


bangunan Drainase Utama Perkotaan
2.4.1. Lingkup Kegiatan Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan

2.4.1. Lingkup Kegiatan Operasi Prasarana Drainase Utama Perkotaan

Frekuensi Volume
Uraian Kode AHS
per Tahun
No. Satuan
(1) (2) (3) (4)
I Pengoperasian Bangunan Pengatur atau Pengendali Debit dan Arah Aliran Air Drainase Utama Perkotaan
1 1a. Prasarana Pintu Air 12 unit AHS - Non PU
2 1a.1. Pengecekan kondisi pintu-pintu air secara visual.
3 1a.2. Operasi pintu air sesuai dengan kebutuhan air yang di suplei. 48 unit AHS - Non PU
4 1a.3. Pengoperasian pintu air sesuai dengan manual operasi dan kondisi muka air di Drainase Utama Perkotaan. 48 unit AHS - Non PU
5 1a.4. Uji operasi perlengkapan dan peralatan pendukung operasi (genset dan komponen penggerak pintu). 2 unit AHS - Non PU
6 1a.5. Uji coba untuk pintu-pintu air yang tidak di operasikan secara rutin.
7 1a.6. Mengnformasikan kondisi pintu-pintu beserta bangunannya kepada instansi terkait.
8 1a.7. Operasi penutupan dan pembukaan pintu harus sesuai dengan SOP.
9 1a.8. Operasi pintu-pintu air dan bangunan dilakukan degan kerjasama dengan instansi terkait. 12 eksemplar AHS - LA08a
10 1a.9. Pelaporan kegiatan-kegiatan operasional pintu air pengendali dan prasarana pelengkapnya. 1 unit AHS - Non PU
11 1a.10. Pengujian keakuratan tinggi bukaan air pada pintu dengan besarnya debit yang keluar.
12 1b. Prasarana Pompa 12 unit AHS - Non PU
13 1b.1. Pengecekan kondisi pompa-pompa air beserta bangunannya secara visual.
14 1a.2. Operasi pompa air sesuai dengan kebutuhan air yang di suplei. 48 unit AHS - Non PU
15 1b.3. Uji operasi perlengkapan dan peralatan pendukung operasi (genset dan panel sumber tenaga listrik). 12 unit AHS - Non PU
16 1b.4. Mengecek kesesuaian kapasitas pemompaan air dengan realita debit air yang keluar dari pompa. 12 eksemplar AHS - LA08a
17 1b.5. Pelaporan besarnya debit air yang di pompa pada saat banjir sesuai dengan kebutuhan dan SOP yang dilaksanakan. 2 unit AHS - Non PU
18 1b.6. Mengecek kesiapan OP emergency genset. 2 AHS - Non PU
19 1b.7. Uji coba operasi pompa pengendali. 12 AHS - Non PU
20 1b.8. Menginformasikan kondisi pompa-pompa air beserta bangunannya kepada instansi terkait. AHS
21 1b.9. Kerja sama yang dilakukan dengan instansi terkait mengenai pengoperasian pompa-pompa air. 2 AHS - LA08a
22 1b.10. Evaluasi kegiatan operasi yang dilaksanakan pada saat sebelum dan saat terjadinya banjir.
4. Pengendalian Banjir (Air Tinggi)
23 4a. Persiapan menghadapi banjir.
24 4a.1. Memeriksa kesiapan operasi pintu air, pelimpah banjir, dan saluran pengelak. 1 unit AHS - Non PU
25 4a.2. Melakukan penelusuran untuk mengidentifikasi lokasi yang rentan terhadap bocoran atau limpasan air. 1 km AHS - Non PU
26 4a.3. Memperkokoh dan meninggikan tanggul pada lokasi yang rentan terhadap limpasan air. 1 km AHS - Non PU
27 4a.4. Menyiapkan bahan banjiran. 1 event AHS - Non PU
28 4a.5. Menyiapkan peralatan evakuasi. 1 event AHS - Non PU
29 4a.6. Melakukan kalibrasi kurva elevasi muka air Drainase Utama Perkotaan vs debit banjir di tiap pos pengamat. 12 pos AHS - Non PU
30 4a.7. Membentuk regu piket banjir. 1 regu AHS - Non PU
31 4a.8. Melakukan pendataan dan mengecek kesiapan dan kelengkapan tempat evakuasi dan dapur umum. 1 lokasi AHS - Non PU
32 4a.9. Melakukan pengujian terhadap kinerja sistem prakiraan dan peringatan dini. 1 event AHS - Non PU
33 4a.10. Pemuktakhiran prosedur operasi standar menghadapi banjir. 1 unit AHS - Non PU
34 4a.11. Menyapkan peralatan komunikasi, transportasi, dan distribusi. AHS - Non PU
35 4a.12. Pelaksanaan koordinasi dalam membangun sistem komunikasi. 1 event AHS - Non PU
36 4a.13. Pemuktakhiran terhadap sistem dan prosedur komunikasi dan pelaporan. 1 unit AHS - Non PU
37 4a.14. Penyediaan informasi mengenai nomor telepon para pihak yang terkait dengan penanggulangan banjir. AHS - Non PU
38 4a.15 Uji coba sistem melalui pelaksanaan simulasi peristiwa banjir. 1 unit AHS - Non PU
39 4b. Saat menghadapi banjir.
40 4b.1. Mengerahkan regu peronda. 3 hari AHS - Non PU
41 4b.2. Mengoperasikan sistem prakiraan dan peringatan dini. 3 hari AHS - Non PU
42 4b.3. Pelaksanaan perondaan dengan mengikutsertakan masyarakat. 3 event AHS - Non PU
43 4b.4. Pelaporan. 3 eksemplar AHS - Non PU
44 4b.5. Pelaksanaan pekerjaan darurat penanggulangan limpasan air Drainase Utama Perkotaan. 3 event AHS - Non PU
45 4b.6. Pelaporan singkat tentang kejadian banjir. 3 eksemplar AHS - Non PU
46 4c. Paska musim banjir.
47 4c.1. Melakukan inventarisasi dan penilaian besarnya kerusakan dan kerugian akibat banjir. 1 event AHS - Non PU
48 4c.2. Melakukan evaluasi penyebab banjir dan usulan penanganan mendesak. 1 event AHS - Non PU
49 4c.3. Menyusun program dan rencana perbaikan kerusakan. 1 event AHS - Non PU
50 4c.4. Pelaporan. 1 eksemplar AHS - Non PU
II Pengoperasian Prasarana Penunjang atau Pendukung Kegiatan OP
51 1a. Peralatan berat
52 1a.1. Pengecekan efisiensi operasi peralatan berat. 12 unit AHS - Non PU
53 1a.2. Pengecekan kesiapan operasi alat berat. 12 unit AHS - Non PU
54 1a.3. Pemanasan mesin. 12 unit AHS - Non PU
55 1a.4. Running test mesin. 12 unit AHS - Non PU
56 1b. Peralatan komunikasi.
57 1b.1. Pemuktahiran terhadap adres para pihak yang terkait. 12 unit AHS - Non PU
58 1b.2. Pengecekan catu daya (battery dan jaringan kelistrikan) peralatn komunikasi. 12 unit AHS - Non PU

2.4.2 Lingkup Kegiatan Pemeliharaan Drainase Utama Perkotaan


I 1. Penatausahaan Drainase Utama Perkotaan
59 1a. Pemetaan Drainase Utama Perkotaan. 1 km AHS - LA 07a
60 1b. Pencatatan dan penomoran Drainase Utama Perkotaan. 1 km AHS - Non PU
61 1c. Pemasangan patok kilometer Drainase Utama Perkotaan. 1 unit AHS - AT17
62 1d. Pembuatan buku register patok Drainase Utama Perkotaan. 1 buku AHS - Non PU
II 1. Inspeksi dan Penelusuran(walkthrough) dalam rangka Pemeliharaan Ruang Drainase Utama Perkotaan
63 1a. Inspeksi rutin Drainase Utama Perkotaan alami. 12 km AHS - Non PU
64 1b. Inspeksi rutin Drainase Utama Perkotaan berkembang. 12 km AHS - Non PU
65 1c. Inspeksi rutin Drainase Utama Perkotaan perkotaan. 12 km AHS - Non PU
66 1d. Inspeksi rutin Drainase Utama Perkotaan alami. 12 km AHS - Non PU
67 1e. Inspeksi rutin Drainase Utama Perkotaan berkembang. 12 km AHS - Non PU
68 1f. Inspeksi rutin Drainase Utama Perkotaan perkotaan. 12 km AHS - Non PU
2. Pemeliharaan Ruang Drainase Utama Perkotaan
69 2a. Pemeliharaan pada bagian struktur dan formasi batuan dasar Drainase Utama Perkotaan.
70 2a.1. Melaksanakan inspeksi dan pengawasan rutin. 12 lokasi AHS - Non PU
71 2a.2. Mencegah pengambilan bebatuan dasar Drainase Utama Perkotaan. 12 event AHS - Non PU
72 2a.3. Mencegah pembabatan terhadap pepohonan di tepian Drainase Utama Perkotaan. 12 vent-batan AHS - T08a
73 2a.4. Merawat rumpun tetumbuhan di tepi Drainase Utama Perkotaan. 2 lokasi AHS - Non PU
74 2a.5. Memasang rambu peringatan/ larangan. 2 unit AHS - LA9b
75 2a.6. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat setempat. 2 lokasi AHS - Non PU

76 2b. Pemeliharaan pada bagian dimensi palung Drainase Utama Perkotaan.


77 2b.1. Melaksanakan pembersihan rutin terhadap sampah di Drainase Utama Perkotaan. 12 lokasi AHS - T07d
78 2b.2. Menyingkirkan ranting dan batang pohon tumbang yang menganggu kelancaran aliran Drainase Utama Perkotaan. 12 lokasi AHS - T08b
79 2b.3. Melakukan pemantauan dan evaluasi periodik 2 tahunan terhadap perubahan dimensi palung. 1 lokasi AHS - Non PU
80 2b.4. Menjaga kestabilan tebing Drainase Utama Perkotaan. 1 event AHS - Non PU
81 2b.5. Memberikan pertimbangan teknis terhadap kegiatan pengerukan. 1 lokasi AHS - Non PU

82 2c. Pemeliharaan pada bagian kemiringan dasar Drainase Utama Perkotaan.


83 2c.1. Melakukan inspeksi dan pengawasan rutin. 12 lokasi AHS - Non PU
2c.2. Melaksanakan pengawasan terhadap aktivitas pengerukan Drainase Utama Perkotaan dan pengambilan batuan 1 lokasi AHS - Non PU
84
Drainase Utama Perkotaan.
85 2c.3. Melaksanakan pengerukan periodik paling lama 2 tahunan pada ruas yang mengalami pendangkalan. 1 lokasi AHS - Non PU
86 2c.4. Melakukan pemantauan dan evaluasi periodik 2 tahunan terhadap perubahan kemiringan dasar Drainase Utama Perkota 1 lokasi AHS - Non PU

87 2d. Pemeliharaan pada bagian eksistensi sempadan Drainase Utama Perkotaan.


88 2d.1. Memasang patok batas sempadan Drainase Utama Perkotaan. 1 unit AHS - Non PU
89 2d.2. Memasang rambu peringatan dan larangan. 1 unit AHS - Non PU
90 2d.3. Melaksanakan pengawasan periodik terhadap penggunaan ruang di dalam sempadan Drainase Utama Perkotaan. 12 lokasi AHS - Non PU
91 2d.4. Menjaga ketertiban penggunaan ruang di dalam sempadan Drainase Utama Perkotaan. 1 lokasi AHS - Non PU

3. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Drainase Utama Perkotaan


92 3a. Pengendalian pelaksanaan konstruksi pada ruang Drainase Utama Perkotaan.
93 3a.1. Pengawasan konstruksi. 12 lokasi AHS - Non PU
94 3a.2. Pemberian teguran dan peringatan kepada pelaksana konstruksi yang melanggar. 12 event AHS - Non PU
95 3a.3. Pelaporan dan saran korektif kepada pemberi izin pelaksana. 12 eksemplar AHS - Non PU
96 3a.4. Meminta pertanggungjawaban kepada pelaksana konstruksi untuk rehabilitasi.*) 1 event AHS - Non PU
97 3a.5. Unit pelaksana OP melaksanakan rehabilitasi prasarana Drainase Utama Perkotaan.*) 1 event AHS - Non PU
98 3b.3. Melakukan pembongkaran terhadap bangunan yang melanggar. 1 unit AHS - Non PU
99 3b.4. Menghentikan kegiatan yang melanggar. 1 lokasi AHS - Non PU
100 3b.5. Memperbaiki kerusakan rambu peringatan. 1 unit AHS - Non PU
101 3b.6. Penataan kembali lahan bantaran yang mengalami gangguan fungsi.*) 1 lokasi AHS - Non PU
102 3b.7. Mengganti rambu peringatan yang rusak.*) 1 unit AHS - Non PU

103 3b. Pengendalian pemanfaatan lahan bekas Drainase Utama Perkotaan.


104 3b.1. Melakukan pemetaan lahan bekas Drainase Utama Perkotaan. 1 lokasi
105 3b.2. Memasang patok batas lahan bekas Drainase Utama Perkotaan. 1 unit
106 3b.3. Menyampaikan pelaporan. 1 eksemplar AHS - Non PU
107 3b.4. Memasang rambu peringatan 1 unit AHS - Non PU
108 3b.5. Melakukan pemantauan dan pengawasan per 3 bulan. 4 lokasi AHS - Non PU
109 3b.6. Memberikan teguran kepada pemanfaat lahan yang melanggar. 4 lokasi AHS - Non PU
110 3b.7. Melakukan pembongkaran bangunan yang melanggar. 1 unit AHS - B39
111 3b.8. Menghentikan kegiatan yang melanggar. 1 lokasi AHS - Non PU
112 3b.9. Melakukan pemeliharaan periodik. 2 lokasi AHS - Non PU

113 3c. Pengendalian pembuangan air limbah ke Drainase Utama Perkotaan.


114 3.c.1 Melakukan identifikasi kegiatan yang berpotensi sebagai subyek pencemar. 6 titik AHS - Non PU
115 3.c.2. Melaksanakan pemantauan terhadap kualitas dan volume limbah. 12 titik AHS - Non PU
116 3.c.3. Melakukan inspeksi mendadak pada ruas Drainase Utama Perkotaan tertentu. 4 titik AHS - Non PU
117 3.c.4. Melakukan inspeksi bersama instansi yang membidangi LH. 1 titik AHS - Non PU
118 3c.5. Melakukan tindakan penanggulangan darurat. 1 event AHS - Non PU
119 3c.6. Pemberian rekomendasi kepada instansi pemberi izin untuk pelaksanaan tindakan korektif.
120 3c.7. Penanggulangan darurat untuk kasus pencemaran luar bisa.*) 1 event AHS - Non PU
121 3d. Pengendalian pemanfaatan Drainase Utama Perkotaan untuk budidaya perikanan.
122 3d.1. Melakukan penertiban dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ketentuan batas areal. 1 lokasi AHS - Non PU
123 3d.2. Meminta pelaku kegiatan usaha budidaya perikanan untuk bertanggung jawab terhadap kerusakan. 1 lokasi AHS - Non PU
124 3d.3. Meminta pertanggungjawaban pelaku kegiatan usaha yang mengakibatkan pencemaran Drainase Utama Perkotaan. 1 lokasi AHS - Non PU

III 1. Pemeliharaan Dataran Banjir


125 1a. Membatasi dan mengendalikan rencana dan aktivitas pembangunan di dataran banjir. 1 lokasi AHS - Non PU
126 1b. Mencegah degradasi fungsi dan penyusutan ruang terbuka hijau. 1 lokasi AHS - Non PU
127 1c. Memelihara dan meningkatkan kemampuan resapan air di dataran banjir. 1 lokasi AHS - Non PU

2. Pengendalian Penggunaan Ruang di Dataran Banjir


128 2a. Menyampaikan masukan kepada bupati/ walikota mengenai ketentuan penggunaan ruang di dataran banjir. 1 event AHS - Non PU
129 2b. Memasang beberapa patok batas dataran banjir. 1 unit AHS - Non PU
130 2c. Penyebarluasan informasi mengenai peta zona peruntukan ruang di dataran banjir. 1 event AHS - AT17
131 2d. Memasang patok peil banjir pada setiap zona peruntukan. 1 unit AHS - Non PU
132 2e. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi tahunan perkembangan pemanfaatan lahan di dataran banjir. 1 event AHS - AT17
133 2f. Menunjukkan lokasi tempat evakuasi/ penampungan bagi korban banjir. 1 lokasi AHS - Non PU
134 2g. Penyampaian masukan kepada Bupati/walikota mengenai tindakan korektif. 1 event AHS - Non PU

IV Restorasi Drainase Utama Perkotaan 1 event AHS - AT17

2.4.3 Lingkup Kegiatan Pemeliharaan Prasarana Drainase Utama Perkotaan

I 1. Penatausahaan Bangunan Drainase Utama Perkotaan


135 1a. Mengumpulkan data dan informasi mengenai bangunan Drainase Utama Perkotaan yang ada. 12 km AHS - Non PU
136 1b. Melakukan pengecekan letak dan kondisi bangunan di lapangan. 2 unit AHS - Non PU
137 1c. Melakukan inventarisasi bangunan Drainase Utama Perkotaan. 2 km AHS - Non PU
II 2. Pemeliharaan Bangunan Drainase Utama Perkotaan

138 2a. Inspeksi lapangan. 12 km AHS - Non PU


139 2b. Identifikasi dan pengukuran. 2 km AHS - Non PU
140 2c. Penelusuran 2 km AHS - Non PU
141 2d. Pemeliharaan fisik.

142 2d.1. Tanggul tanah.


143 2d.1a. Pembersihan tanggul dari sampah secara rutin. 12 m2 AHS - T01
144 2d.1b. Pemotongan rumput dan pemangkasan semak liar. 4 m2 AHS - T02
145 2d.1c. Penambalan dan pemadatan tanah.

146 2d.1c.1. Penggalian tanah. 1 m2 AHS - T06a


147 2d.1c.2. Penambalan dan pemadatan tanah. 1 m2 AHS - T14a
148 2d.1d. Penanaman kembali tanggul yang rumputnya mati atau terbuka.

149 2d.1d.1. Penggalian tanah yang rumputnya mati. 12 m2 AHS - T06a


150 2d.1d.2. Penanaman kembali rumput yang baru. 12 m2 AHS - Non PU
151 2d.1e. Perbaikan tanggul tanah yang mengalami kerusakan kristis.*)
152 2d.1e.1. Perbaikan longsoran dan kikisan tebing tanggul

153 2d.1e.1a. Pemadatan tanah pada tebing tanggul yang mengalami longsoran. 2 m3 AHS - Non PU
154 2d.1e.2. Pemadatan pada bagian tubuh tanggul yang lendut.

155 2d.1e.2a. Penggalian tanah tanggul. 2 m2 AHS - T06a


156 2d.1e.2b. Pemadatan tanah pada bagian tanggul yang lendut. 2 m3 AHS - Non PU
157 2d.1e.3. Penutupan bocoran dan rembesan.

158 2d.1e.3a. Penggalian dasar tanggul. 2 m2 AHS - T06d


159 2d.1e.3b. Pemadatan tanah pada bagian tanggul mengalami bocoran atau rembesan. 2 m2 AHS - Non PU
160 2d.1e.4. Pemotongan tanggul. 2 m2 AHS - Non PU
161 2d.1e.5. Pemeliharaan dan perbaikan sistem drainase.

162 2d.1e.5a. Pengerukan sedimen lumpur. 2 m3 AHS - T10d


163 2d.1e.5b. Perbaikan pintu yang macet. 2 unit AHS - Non PU
164 2d.2. Tanggul/ revetment pasangan batu kali.

165 2d.2a. Pembersihan bangunan pelindung tebing. 12 m3 AHS - T02


166 2d.2b. Perbaikan pada sebagian struktur atau komponen bangunan prasarana revetment.*)
167 2d.2b.1. Perbaikan dinding tembok yang retak atau pecah.
168 2d.2b.1a. Membuka atau membongkar bagian sisi bangunan yang retak. 2 m2 AHS - B36
169 2d.2b.1b. Mengisi keretakan bagian bangunan dengan menggunakan semen. 2 m2 AHS - B14b(1)
170 2d.2b.2. Perbaikan longsoran dan kikisan tebing tanggul.
171 2d.2b.2a. Pemadatan tanah pada yang mengalami pengikisan atau longsoran tebing. 2 m3 AHS - Non PU
172 2d.2b.3. Kerusakan pada kaki revetment.
173 2d.2b.3a. Pembongkaran atau penggalian dasar revertment. 2 m2 AHS - B35
2d.2b.3b. Penggantian struktur bangunan revertmen seperti penggantian batuan atau kawat pengikat
174
batu. 2 m3 AHS - P06(1a)
175 2d.2b.4. Pemeliharaan dan perbaikan sistem drainase.
176 2d.2b.4a. Pengerukan sedimen lumpur. 2 m3 AHS - T10d
177 2d.2b.4b. Perbaikan pintu yang macet. 2 unit AHS - Non PU
178 2d.3. Tanggul turap/ revetmen beton/ baja.
179 2d.3a. Pembersihan tanggul turap dari sampah secara rutin. 12 m3 AHS - T02
180 2d.3b. Perbaikan pada sebagian struktur atau komponen bangunan prasarana.*)
181 2d.3b.1. Perbaikan dinding tembok yang retak atau pecah.
182 2d.3c.1a. Membuka atau membongkar bagian sisi bangunan yang retak 2 m2 AHS - B36
183 2d.3c.1b. Mengisi keretakan bagian bangunan dengan menggunakan semen. 2 m2 AHS - B14a
184 2d.3b.2. Perbaikan longsoran dan kikisan tebing tanggul.
185 2d.3b.2a. Pemadatan tanah pada yang mengalami pengikisan atau longsoran tebing. 2 m2 AHS - Non PU
186 2d.3b.3. Kerusakan pada kaki revertmen tanggul turap/ revertmen beton/ baja.
187 2d.3b.3a. Pembongkaran atau penggalian dasar revertment. 2 m2 AHS - B39
188 2d.3b.3b. Penggantian struktur bangunan revertmen seperti penggantian batuan atau kawat pengikat batu 2 m2 AHS - P06(1a)
189 2d.3b.4. Pemeliharaan dan perbaikan sistem drainase.
190 2d.3b.4a. Pengerukan sedimen lumpur. 2 m3 AHS - T10d
191 2d.3b.4b. Perbaikan pintu yang macet. 2 unit AHS - Non PU
192 2d.4. Pelimpah banjir konstruksi pasangan batu.
193 2d.4a. Pencabutan tanaman liar tau gulma di permukaan saluran dan tembok. 12 m2 AHS - TO3
194 2d.4b. Pembersihan tubuh bangunan. 12 m2 AHS - T02
195 2d.4c. Pembersihan sangkrah/ sampah yg tersangkut. 12 m3 AHS - T01
196 2d.4d. Pengecetan pintu, bangunan dan staff gauge. 1 m2 AHS - Non PU
197 2d.4e. Pembersihan karat di pintu. 1 unit AHS - T02
198 2d.4f. Pelumasan pada peralatan unit penggerak pintu serta hidromekanikal lainnya. 4 m2 AHS - BM02
199 2d.4g. Perbaikan kolam olah yang retak atau pecah
200 2d.4g.1 Pembongkaran dasar kolam olah. 1 m2 AHS - B39
201 2d.4g.2 Pemberian semen sebagai struktur baru dasar kolam olah. 1 m2 AHS - B16a
202 2d.4h. Penambalan permukaan pasangan yang terlepas. 1 m2 AHS - B16a
203 2d.4i. Perbaikan dasar bangunan yang tergerus atau gerowong.
204 2d.4i.1. Pembongkaran bagian bangunan yang terlepas. 1 m2 AHS - B39
205 2d.4i.2. Pemasangan konstruksi beton yang baru. 1 m2 AHS - B16a
206 2d.5. Pelimpah banjir konstruksi beton.
207 2d.5a. Penambalan permukaan beton yang pecah/retak m2 AHS - B16a
208 2d.5b. Perbaikan dasar yang tergerus/gerowong
209 2d.5b.1. Pembongkaran bagian bangunan yang terlepas m2 AHS - B39
210 2d.5b.2. Pemasangan konstruksi beton yang baru m2 AHS - B16a
211 2d.5c. Pembersihan tubuh bangunan. 12 m2 AHS - T01
212 2d.5d. Pembersihan sangkrah/ sampah yg tersangkut. 12 m3 AHS - T02
213 2d.5e. Pencabutan tanaman liar atau gulma di depan pintu. 12 m2 AHS - LA10a

214 2d.6. Pelimpah banjir konstruksi bronjong.


215 2d.6a. Perbaikan dasar bangunan yang tegerus/ gerowong.
216 2d.6a.1. Pembongkaran bagian bangunan yang tergerus 1 m2 AHS - B39
217 2d.6a.2. Pengecoran dasar pelimpah banjir yang baru 1 m2 AHS - B16a
218 2d.6b. Pembersihan sangkrah/ sampah yg tersangkut. 12 m3 AHS - T01
219 2d.6c. Perbaikan kawat bronjong yang putus.
220 2d.6c.1. Pembongkaran kerangka kawat bronjong yang putus. 1 m
221 2d.6c.2. Penggantian kawat bronjong yang baru. 1 m AHS - P06(1)a
222 2d.9. Bangunan pengendali/ pembagi aliran Drainase Utama Perkotaan/ bangunan bendung gerak dari pasangan batu/ beton.
224 2d.7a.Penambalan permukaan tubuh bangunan yang pecah/ retak. 1 m3 AHS - P15b
225 2d.7b.Perbaikan sistem penggerak pintu (satu kali/ 2 th). 1 unit AHS - Non PU
226 2d.7c.Pengecatan pintu dan bangunannya serta staff gauge 1 m2 AHS - Non PU
227 2d.7d.Penggantian seal dan bearing pintu (satu kali/ 2 th). 1 unit AHS - Non PU
228 2d.7e.Pemeliharaan standby genset. 1 unit AHS - Non PU
229 2d.7f.Pembersihan sangkrah/ sampah yang tersangkut 12 m3 AHS - T01
230 2d.7g.Pengerukan sedimen di sekitar pintu. 1 m3 AHS - T10d
231 2d.7h.Pembersihan atau pencabutan tanaman liar atau gulma air (enceng gondok di depan pintu 12 m2 AHS - LA10a
232 2d.7i.Perbaikan lantai kolam olak.
233 2d.7i.1. Pembongkaran lantai kolam yang pecah atau retak. 1 m2 AHS - B40
234 2d.7i.2. Pemasangan atau penambalan bagian kolam yang rusak atau pecah 1 m2 AHS - B16a
235 2d.7j. Perbaikan tembok sayap.
236 2d.7j.1. Pembongkaran kosntruksi tembok sayap yang rusak. 1 m2 AHS - B40
237 2d.7j.2. Penambalan atau pemasangan pasangan batu pada bagian tembok 1 m2 AHS - B16a
238 2d.7k. Perbaikan tebing tumpuan bendung.
239 2d.7k.1. Pembongkaran bagian tebing yang rusak. 1 m2 AHS - B40
240 2d.7k.2. Penambalan sisi bangunan tebing yang rusak atau pecah. 1 m2 AHS - B16a
241 2d.7l. Penggantian lampu penerangan. 1 unit AHS - AT18

242 2d.8. Pompa banjir.


243 2d.8a. Pembersihan tubuh bangunan. 12 unit AHS - T01
244 2d.8b. Pencabutan tanaman liar atau gulma air (eceng gondok). 12 m2 AHS - T02
245 2d.8c. Pembersihan sampah atau sangkrah yang tersangkut. 12 m2 AHS - T01
246 2d.8d. Pengecatan fasilitas pompa, peralatan pendukung serta bangunannya. 1 unit AHS - BM 01
247 2d.8e. Pembersihan pintu dari karat. 1 unit AHS - T02
248 2d.8f. Pelumasan pada peralatan unit penggerak operasi pompa, genset, dan hidro-mekanikal. 4 unit AHS - BM 02
249 2d.8g. Servis/ reparasi pompa dan genset. 1 unit AHS - Non PU
250 2d.9. Pintu drainase / flap gate.
251 2d.9a. Pelumasan sistem penggerak pintu. 4 unit AHS - BM 02
252 2d.9b. Pengecatan pintu. 1 unit AHS - BM 01
253 2d.9c. Perbaikan unit pintu seperti penguatan baut/ mur pengikat. 1 unit AHS - Non PU
254 2d.9d. Penggantian karet seal pintu. 1 unit AHS - Non PU
255 2d.9e. Pembersihan sampah/ sangkrah yang tersangkut di pintu air. 12 unit AHS - T01
256 2d.9f. Pengerukan sedimen di depan pintu. 1 m3 AHS - T10d
257 2d.9g. Pembersihan tanaman liar atau gulma air. 12 m3 AHS - LA09a
258 2d.9h. Perbaikan terhadap kerusakan tembok pilar/sayap
259 2d.9h.1. Pembongrakan konstruksi tembok sayap yang rusak. 1 m2 AHS - B40
260 2d.9h.2. Penambalan atau pemasangan pasangan batu pada bagian tembok. 1 m2 AHS - P15b
261 2d.10. Tidal gate (salinity barrier ).
262 2d.10a. Pelumasan sistem penggerak pintu. 4 unit AHS - BM 02
263 2d.10b. Pengecatan pintu. 1 unit AHS - BM 01
264 2d.10c. Perbaikan daun pintu. 1 unit AHS - Non PU
265 2d.10d. Pemeliharaan tanggul sekeliling bangunan. 1 m2 AHS - Non PU
266 2d.10e. Pemangkasan semak dan tanaman liar. 12 m2 AHS - T02
267 2d.10f. Pengerukan berkala. 1 m3 AHS - T10d
268 2d.10g. Pembersihan sampah dekat pintu. 12 m2 AHS - T01
269 2d.10h. Perawatan dan pengecatan staf gauge. 1 unit AHS - BM 01
270 2d.11. Jalan Inspeksi
271 2d.11a Pembersihan jalan. 12 m2 AHS - T01
272 2d.11b Pembersihan saluran drainase. 12 m3 AHS - T01
273 2d.11c Pemangkasan tanaman liar. 12 m2 AHS - T02
274 2d.11d Pengendalian lalu lintas umum. 12 m2 AHS - Non PU
275 2d.11e Pencegahan dan pengawasan kendaraan yang berpotensi merusak jalan inspeksi. 12 m2 AHS - Non PU
276 2d.11f Perbaikan aspal yang terkelupas.
277 2d.11f.1. Penggalian aspal yang rusak. 2 m2 AHS - T07a
278 2d.11f.2. Pengaspalan yang baru. 2 m2 AHS - Non PU
279 2d.11g. Penutupan jalan yang berlubang. 2 m2 AHS - Non PU
280 2d.11h. Penambalan permukaan jalan. 2 m2 AHS - Non PU
281 2d.11i. Pengecatan pintu portal. 2 unit AHS - Non PU
282 2d.12 Retention pod (waduk retensi)
283 2d.12a. Pembersihan tubuh bangunan utama. 12 m2 AHS - T01
284 2d.12b. Pembersihan dan pencabutan tanaman liar pada tanggul. 12 m2 AHS - LA09a
285 2d.12c. Pembersihan sampah dan gulma air di waduk. 12 m2 AHS - Non PU
286 2d.12d. Pengawasan dan perlindungan waduk dan bangunannya. 12 unit AHS - Non PU
287 2d.12e. Pemotongan rumput pada lereng dan permukaan badan tanggul. 4 m2 AHS - T03
288 2d.12f. Pelumasan pada peralatan unit penggerak serta peralatan hidro-mekanikal lainnya. 4 m2 AHS - BM 02
289 2d.12g. Pengecatan pintu, peralatan pelenkapp dan bangunannya. 1 unit AHS - BM 01
290 2d.12h. Perbaikan ringan waduk yang tidak memperhitungkan desain. 1 unit AHS - Non PU
291 2d.12i. Pengerukan sedimen di dalam waduk. (1kali/ 5 thn) 1 m3 AHS - T10d
292 2e. Pelaporan 1 eksemplar AHS - LA08a

IV 4. Pemeliharaan Prasarana Penunjang dan Pendukung Kegiatan OP


293 4a. Pemeliharaan dan perawatan bangunan kantor, gudang, bengkel, pos jaga, dan rambu peringatan.

294 4a.1. Membersihkan. 12 bangunan AHS - Non PU


295 4a.2. Merapihkan. 12 bangunan AHS - Non PU
296 4a.3. Memperbaiki dan/ atau mengganti. 1 bangunan AHS - Non PU
297 4b. Pemeliharaan peralatan informasi dan telekomunikasi.

298 4b.1. Pengecekan peralatan komunikasi (seperti: telepon, handphone, handy talky, transmitter, dan reciever). 12 unit AHS - Non PU
299 4b.2. Pengecekan peralatan informasi (seperi: workstation, UPS komputer, GPS, LAN, peralatn catu daya, dsb). 12 unit AHS - Non PU
300 4c. Pemeliharaan peralatan berat dan kendaraan.

301 4c.1. Service rutin. 12 unit AHS - Non PU


302 4c.2. Engine overhaul. 4 unit AHS - Non PU
303 4c.3. Transmisi overhaul. 4 unit AHS - Non PU
304 4c.4. General overhaul. 1 unit AHS - Non PU