Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kesehatan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Bertolak dari latar
belakang manusia yang berbeda-beda. Hal ini mengakibatkan banyak faktor yang
terjadi dan berhubungan dengan masalah kesehatan. Di dalam komunitas masyarakat
suatu daerah bila diklasifikasikan berdasarkan kelompok khusus yang rentan terhadap
kondisi kesehatan salah satunya adalah kelompok khusus anak usia sekolah. Salah
satu upaya yang dilaksanakan adalah meningkatkan pola hidup masyarakat yang sehat
dengan melakukan kegiatan keperawatan pada komunitas atau masyarakat yang
didalamnya terdapat kelompok khusus anak sekolah.
Menurut WHO, sebanyak 100.000 anak Indonesia meninggal dunia karena
penyakit diare setiap tahunnya, sedangkan data Departemen Kesehatan menunjukkan
bahwa dari 1.000 penduduk, terdapat sebanyak 300 orang yang menderita penyakit
diare sepanjang tahun (Profi l Kesehatan Indonesia Tahun 2011). Selain itu juga masih
terdapat sebanyak 40-60% anak usia sekolah yang menderita penyakit cacingan (Lubis,
2013).
Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009 menyajikan data bahwa, terdapat
sebanyak 64,41% sarana yang telah dibina lingkungannya untuk menerapkan
kehidupan bersih dan sehat. Sarana tersebut terdiri dari institusi pendidikan sebanyak
67,52%, tempat kerja sebanyak 59,15%, dan lingkungan lainnya sebanyak 62,26%
(Depker RI, 2010).
Kehidupan bersih dan sehat di tatanan pendidikan, lingkungan tempat kerja, dan
lingkungan fasilitas kesehatan belum berjalan sesuai dengan yang diinginkan, oleh
sebab itu diperlukan pendekatan yang peripurna (komprehensif), lintas program dan
lintas sektor, serta mobilisasi sumber daya yang luar biasa di semua tingkat administrasi
pemerintah (Syukriyah, 2011).
Untuk menciptakan SDM yang berkualitas dan mampu bersaing, perlu adanya
tindakan pengawasan terhadap kesehatan. Pengawasan tersebut dapat dimulai dari usia
dini, yaitu usia anak sekolah. Mulai dari tingkat pra sekolah, SD, SMP, dan SMA. Pada
usia ini, anak akan belajar langsung dari lingkungannya. Lingkungan disini dapat
diartikan sebagai orang tua, guru, dan teman sepermainan. Mereka dapat mempelajari
bagaimana harus bertingkah laku yang sesuai dan tidak sesuai dengan aturan.
Pada era globalisasi ini banyak tantangan bagi kelompok khusus anak usia
sekolah yang dapat mengancam kesehatan fisik dan jiwanya. Tidak sedikit anak yang
menunjukkan perilaku tidak sehat, seperti lebih suka mengkonsumsi makanan tidak
sehat yang tinggi lemak, gula, garam, rendah serat, meningkatkan risiko hipertensi,
diabetes melitus dan obesitas, dan sebagainya. Apalagi sebelum makan tidak mencuci
tangan terlebih dahulu, sehingga memungkinkan masukkan bibit penyakit ke dalam
tubuh. Tantangan lain tentang perilaku tidak sehat muncul dari diri kelompok khusus
anak usia sekolah sendiri. Aktifitas fisik berupa olahraga pun kurang dilakukan, baik di
rumah maupun di sekolah. Peserta didik pun cenderung lebih menyukai dan banyak
menonton televisi, bermain video games, dan smartphon, sehingga mengakibatkan
fisiknya kurang bugar.
Untuk menghadapi berbagai tantangan yang dapat mengancam kesehatan fisik
dan jiwanya tersebut sekolah memilkki peran yang penting untuk menciptakan dan
meningkatkan kesehatan peserta didik. Upaya yang dilakukan antara lain dengan
menciptakan lingkungan “Sekolah Sehat” dengan menerapan PHBS di sekolah. Selain
manfaat penerapan PHBS dalam kebiasaan sehari-hari dapat mencegah kerentanan
timbulnya penyakit, tentunya juga bermanfaat dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran di sekolah karena fisik yang sehat pada pelajar dan lingkungan yang
bersih dan nyaman dapat mempengaruhi hasil belajar mengajar selama di sekolah.
Penerapan PHBS di sekolah dapat berupa aktivitas sehat seperti mencuci tangan
dengan sabun, mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, tidak merokok,
menggunakan jamban yang bersih dan sehat, olahraga yang teratur, menimbang berat
badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan, dan membuang sampah pada
tempatnya. Tujuh indikator PHBS di sekolah ini harus diterapkan seluruh jajaran
akademik, mulai dari guru hingga kepada pelajar demi terwujudnya sekolah yang sehat.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang di lakukan pada tanggal 15 April 2019
di SDN 17 Mataram, ditemukan sebagian besar murid memiliki masalah kebersihan diri
(personal hygine) yang cukup banyak antara lain 45 murid tidak membuang sampah
pada tempatnya dengan persentase 36,5% , 25 murid yang tidak mencuci tangan
sebelum makan dengan persentase 20,3%, 20 murid tidak mengkonsumsi jajanan sehat
dengan persentase 16,2%. 15 murid tidak menggunakan jamban yang bersih dan sehat.
Dampak negatif dari prilaku tersebut adalah menimbulkan berbagai penyakit yang
terjadi seperti diare, cacingan, gatal-gatal yang dapat mengganggu proses belajarnya.
Melihat berbagai masalah kesehatan yang muncul pada kelompok usia sekolah
maka diperlukan adanya peran tenaga kesehatan dalam membantu menangani
masalah tersebut baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
1.2 Permasalahan Sasaran
Menurut WHO, sebanyak 100.000 anak Indonesia meninggal dunia karena
penyakit diare setiap tahunnya, sedangkan data Departemen Kesehatan menunjukkan
bahwa dari 1.000 penduduk, terdapat sebanyak 300 orang yang menderita penyakit
diare sepanjang tahun (Profi l Kesehatan Indonesia Tahun 2011). Selain itu juga masih
terdapat sebanyak 40-60% anak usia sekolah yang menderita penyakit cacingan (Lubis,
2013).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang di lakukan pada tanggal 15 April 2019
di SDN 17 Mataram, ditemukan sebagian besar murid memiliki masalah kebersihan diri
(personal hygine) yang cukup banyak antara lain 45 murid tidak membuang sampah
pada tempatnya dengan persentase 36,5%, 25 murid yang tidak mencuci tangan
sebelum makan dengan persentase 20,3%, 20 murid tidak mengkonsumsi jajanan sehat
dengan persentase 16,2%. Dampak negatif dari prilaku tersebut adalah menimbulkan
berbagai penyakit yang terjadi seperti diare, cacingan, gatal-gatal yang dapat
mengganggu proses belajarnya. Melihat berbagai masalah kesehatan yang muncul
pada kelompok usia sekolah maka diperlukan adanya peran tenaga kesehatan dalam
membantu menangani masalah tersebut baik promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan Komunitas selama 1x30 menit yang
dilakukan oleh mahasiswa/i STIKES Yarsi Mataram tingkat 3 kepada Agregat Anak
Usia Sekolah di SDN 17 Mataram. Diharapkan Agregat Anak Usia Sekolah di SDN 17
Mataram dapat mengalami perubahan perilaku hidup bersih dan sehat seperti
membuang sampah pada tempatnya, memcuci tangan dengan baik dan benar sebelum
makan, dapat mengetahui makanan yang sehat yang baik untuk di konsumsi
2

BAB II
TARGET DAN LUARAN

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar,
mau dan mampu mempraktekkan PHBS. Adapun program PHBS ini untuk memberikan
pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, kelompok, dan
masyarakat, melalui jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi),
bina suasana (Sosial Support) dm memberdayakan masyarakat (Empowerment). Diharapkan
melalui kegiatan ini siswa dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama
dalarn tatanan masing-masing, dan masyarakat dapat menerapkan cara-cara hidup sehat
dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Depkes RI, 2002)
Pengabdian ini diharapkan dapat memberikan contoh-contoh bagi siswa tentang
perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu pendidikan kesehatan tentang PHBS dapat
menumbuhkan budaya hidup bersih dan sehat dalam kehidupan siswa di sekolah maupun di
rumah.
Munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (usia 6-10)
ternyata umumnya berkaitannya dengan PHBS. Oleh karena itu, penanaman kebutuhan
mutlak dan dapat diketahui melalui pendekatan usaha kesehatan. Perilaku hidup bersih dan
sehat disekolah adalah upaya untuk memberdaya siswa, guru, dan masyarakat lingkungan
sekolah agar tahu dan mampu mempraktikan PHBS, dan berperan aktif dalam mewujudkan
sekolah sehat.
BAB III

PELAKSANAAN PROGRAM

3.1 Pelaksanaan Program


Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 15 April 2019 di
SDN 17 Mataram. Maka kelompok merencanakan perogram pendidikan kesehatan dengan
materi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada semua murit dari kelas 1 sampai
dengan kelas 5 di SDN 17 Mataram dengan harapan semua peserta didik dapat menerapkan
materi ajar yang disampaikan oleh pemateri.

3.2 Metode Pelaksanaan


1. Tahap persiapan
Pada tahap persiapan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
2. Tahap pelaksanaan
3. Tahap evaluasi
dst
Dari program yang direncanakan yaitu siswa-siswi SDN 17 Mataram diberikan
penyuluhan 30 menit mengenai materi PHBS dengan metode story telling boneka tangan.
Tim penyuluhan PHBS dengan metode story telling tersebut terdiri dari satu orang leader,
tiga orang berperan sebagai story telling dan dibantu dua belas orang fasilitator dari
mahasiswa semester VI Program Studi S1 Keperawatan STIKES Yarsi Mataram. Adapun
setelah didemontrasikan materi mengenai PHBS, mahasiwa yang berperan sebagai leader
melakukan tanya jawab kepada adik-adik kelas 1 SDN 17 Mataram mengenai PHBS serta
cara mencuci tangan dengan benar. Setelah di evaluasi. Siswa kelas 1 SDN 17 Mataram
sebagian besar terlihat mampu untuk melakukan prilaku hidup bersih dan sehat dan bisa
mempraktikkan cara mencuci tangan dengan benar, Selain itu juga sebagian dari siswa
kelas 1 di SDN 17 Mataram sudah mampu menyebutkan dampak yang akan tejadi apabila
tidak mencuci tangan dengan baik dan membuang sampah pada tempatnya. hanya saja
memang belum terampil, karena masih sebagai pemula yang masih terus belajar dan
mencari pengalaman serta pengetahuan terutama dalam Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat.

BAB IV
KELAYAKAN MAHASISWA
4.1 Kinerja Project Mahasiswa STIKES Yarsi Mataram
Project Mahasiswa yang dilakukan adalah:
4.1.1 Senam kaki diabetic dan pengukuran kekuatan otot pada lansia di wilayah karang
bedil Mataram
4.1.2 Kegiatan penyuluhan tentang SADARI pada remaja santrwati kelas 11 dan 12 di
Pondok Pesantren Al-Aziziyah Kapek Gunung Sari kabupaten Lombok Barat
4.1.3 Penyuluhan dan pengajaran tentang tata cara cuci tangan dan gosok gigi yang baik
dan benar di TKIT Yarsi Mataram
4.1.4 Kegiatan penyuluhan tentang bahaya menonton video porno pada remaja di SMK
YARSI Mataram.
4.1.5 Pengajaran tekhnik relaksasi progresif pada kelompok lansia di ling. Karang Seme,
kel. Karang Pule, kec. Sekarbela

4.2 Jenis Kepakaran


Tim pelaksana Project “Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Pada Anak Usia
Sekolah di SDN 17 MATARAM”, Pelaksana terdiri dari 16 orang mahasiswa STIKES Yarsi
Mataram. pelaksanaan program Project pengajaran PHBS dalam upaya menambah wawasan
murid kelas 1 di SDN 17 Mataram agar dapat melakukan hidup bersih pada kegiatannya
sehari-hari. Dengan adanya matakuliah komunitas di STIKES YARSI Mataram dapat
melatih mahasiswa untuk berperan penting dalam lingkungan masyarakat, sehingga
matakuliah tersebut mendorong mahasiswa untuk berfikir masalah yang terjadi dalam
lingkungan dan berani melakukan tindakan atau pendidikan kesehatan di lingkungan
masyarakat tersebut, STIKES Yarsi Mataram juga layak melaksanakan program ini karena
selain memiliki program Studi S1 Keperawatan, D3 Keperawatan dan D3 Kebidanan. Hal
itulah yang mendasari STIKES Yarsi Mataram layak melaksanakan program Project
“Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada Anak Usia Sekolah di SDN 17 MATARAM”.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Pengabdian


Project Mahasiswa kepada murid kelas 1 di SDN 17 Mataram, pengajaran perilaku
hidup bersih dan sehat pada anak usia sekolah di SDN 17 MATARAM. Penyuluhan tersebut
dilakukan pada seluruh murid kelas 1 di SDN 17 Mataram berlangsung pada tanggal 2 Mei
2019, penyuluhan PHBS tersebut dilakukan dengan metode story telling yg di hadiri sekitar
30 siswa, yang terdiri dari 17 orang laki-laki dan 13 orang perempuan dengan rentan usia 6-
7 tahun. Tim penyuluhan PHBS dengan metode story telling tersebut terdiri dari satu orang
leader, tiga orang berperan sebagai story telling dan dibantu dua belas orang fasilitator dari
mahasiswa semester VI Program Studi S1 Keperawatan STIKES Yarsi Mataram.
Adapun setelah didemontrasikan mengenai PHBS, mahasiwa yang berperan sebagai
leader melakukan tanya jawab kepada adik-adik kelas 1 SDN 17 Mataram mengenai PHBS
serta cara mencuci tangan dengan benar. Setelah di evaluasi. Siswa kelas 1 SDN 17 Mataram
sebagian besar terlihat mampu untuk melakukan prilaku hidup bersih dan sehat dan bisa
mempraktikkan cara mencuci tangan dengan benar, Selain itu juga sebagian dari siswa kelas
1 di SDN 17 Mataram sudah mampu menyebutkan dampak yang akan tejadi apabila tidak
mencuci tangan dengan baik dan membuang sampah pada tempatnya.
hanya saja memang belum terampil, karena masih sebagai pemula yang masih terus
belajar dan mencari pengalaman serta pengetahuan terutama dalam Perilaku Hidup Bersih
Dan Sehat, karena hal tersebut sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan siswa dapat
mengetahui dampak-dampak yang akan terjadi jika tidak menerapkan perilaku hidup bersih
dan sehat.
Masukkan konsep2 teori penting dalam hasil pengabdian
5.2 Pembahasan
5.2.1 Hasil Observasi
Menurut WHO, sebanyak 100.000 anak Indonesia meninggal dunia karena
penyakit diare setiap tahunnya, sedangkan data Departemen Kesehatan menunjukkan
bahwa dari 1.000 penduduk, terdapat sebanyak 300 orang yang menderita penyakit
diare sepanjang tahun (Profi l Kesehatan Indonesia Tahun 2011). Selain itu juga
masih terdapat sebanyak 40-60% anak usia sekolah yang menderita penyakit
cacingan (Lubis, 2013).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang di lakukan pada tanggal 15 April
2019 di SDN 17 Mataram, ditemukan sebagian besar murid memiliki masalah
kebersihan diri (personal hygine) yang cukup banyak antara lain 45 murid tidak
membuang sampah pada tempatnya dengan persentase 36,5% , 25 murid yang tidak
mencuci tangan sebelum makan dengan persentase 20,3%, 20 murid tidak
mengkonsumsi jajanan sehat dengan persentase 16,2%. 15 murid tidak
menggunakan jamban yang bersih dan sehat. Dampak negatif dari prilaku tersebut
adalah menimbulkan berbagai penyakit yang terjadi seperti diare, cacingan, gatal-
gatal yang dapat mengganggu proses belajarnya. Melihat berbagai masalah
kesehatan yang muncul pada kelompok usia sekolah maka diperlukan adanya
peran tenaga kesehatan dalam membantu menangani masalah tersebut baik promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan Komunitas selama 1x30 menit yang
dilakukan oleh mahasiswa/i STIKES Yarsi Mataram tingkat 3 kepada Agregat Anak
Usia Sekolah di SDN 17 Mataram. Diharapkan Agregat Anak Usia Sekolah di SDN
17 Mataram dapat mengalami perubahan perilaku hidup bersih dan sehat seperti
membuang sampah pada tempatnya, memcuci tangan dengan baik dan benar
sebelum makan, dapat mengetahui makanan yang sehat yang baik untuk di
konsumsi, dan dapat menggunakan dan membersihkan toilet dengan baik dan benar.
Maka dari itu manfaat pengabdian ini adalah diharapkan dapat memberikan
contoh-contoh bagi siswa tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu
pendidikan kesehatan tentang PHBS dapat menumbuhkan budaya hidup bersih dan
sehat dalam kehidupan siswa di sekolah maupun di rumah, serta diharapkan pada
murid SDN 17 Mataram untuk bisa melakukan dan mengerti tentang PHBS dan
dapat menerapkan pada kegiatan sehari-hari.

5.2.2 Pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan
seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri
(mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakat. Dibidang pencegahan dan penanggulangan penyakit serta penyehatan
lingkungan harus dipragakan perilaku mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air
minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggunakan air bersih, menggunakan
jamban sehat, pengelolaan limbah cair yang memenuhi syarat, memberantas jentik
nyamuk, tidak merokok di dalam ruangan dan lain-lain. Di bidang kesehatan ibu dan
anak serta keluarga berencana harus dipraktikkan perilaku meminta pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan, menimbang balita setiap bulan, mengimunisasi
lengkap bayi, menjadi akseptor keluarga berencana dan lain-lain. Di bidang gizi dan
farmasi harus dipraktikkan perilaku makan dengan gizi seimbang, minum Tablet
Tambah Darah selama hamil, memberi bayi air susu ibu (ASI) eksklusif,
mengonsumsi Garam Beryodium dan lainlain. Sedangkan di bidang pemeliharaan
kesehatan harus dipraktikkan perilaku ikut serta dalam jaminan pemeliharaan
kesehatan, aktif mengurus dan atau memanfaatkan upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat (UKBM), memanfaatkan Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan
lain dan lain-lain, (Kemenkes RI, 2011).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan
seseorang atau keluarga yang dapat menolong diri sendiri dibidang kesehatan dan
berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan setinggi-tingginya. Munculnya
berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (usia 6-10 tahun)
ternyata umumnya berkaitannya dengan PHBS. Oleh karena itu, penanaman
kebutuhan mutlak dan dapat diketahui melalui pendekatan usaha kesehatan. Perilaku
hidup bersih dan sehat disekolah adalah upaya untuk memberdaya siswa, guru, dan
masyarakat lingkungan sekolah agar tahu dan mampu mempraktikan PHBS, dan
berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat.

5.2.3 Manfaat PHBS di lingkungan sekolah


Umumnya pengetahuan informan cukup memahami tentang PHBS di sekolah
yaitu meningkatkan kesehatan, menjaga lingkungan dan mewujudkan lingkungan
sehat. PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta
didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil
pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.

5.2.4 Indikator PHBS sekolah


Perilaku murid dalam bentuk pengetahuan tentang manfaat PHBS disekolah
yaitu informan cukup memahami manfaat PHBS disekolah dengan menjaga
lingkungan sekolah bersih dan sehat. Manfaat PHBS disekolah terciptanya sekolah
yang bersih dan sehat sehingga siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah
terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit. Adapun indikator PHBS
di sekolah, sebagai berikut :
a. mencuci tangan dengan air mengalir yang bersih dan menggunakan sabun
b. mengonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah
c. menggunakan jamban yang bersih dan sehat
d. olahraga yang teratur dan terukur
e. memberantas jentik nyamuk disekeliling sekolah
f. Tidak merokok di sekolah
g. menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap enam bulan
h. Membuang sampah pada tempatnya.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari peyuluhan tesebut mahasiswa dapat mengetahui bahwa sebagian
besar murid telah mengetahui Pengertian, Indikator, dan Manfaat PHBS di sekolah. Hal ini
dapat mempengaruhi sikap dan tindakan murid menjadi lebih terarah yang lebih baik untuk
berprilaku hidup bersih dan sehat. Jadi dengan adanya pengetahuan cukup tentang PHBS
dapat mendorong siswa-siswi untuk bersikap dan bertindak dalam membentuk PHBS baik di
lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil kegiatan Project Mahasiswa diatas, maka perlu disarankan untuk para
guru tetap membimbing dan mengajarkan siswa agar tetap melakukan perilaku hidup bersih
dan sehat di lingkungan sekolah dan di sarankan untuk melakukan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) di lingkungan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Proverawati A., Rahmawati, E. 2012. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Yogyakarta:
Nuha Medika

Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta

Anik, M. (2013). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta: Trans Info
Media
Lina, H. P. (2016). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Siswa DI SDN 42
Korong Gadang Kecamatan Kuranji Padang. Jurnal Promkes vol 4. no 1, 92-
103.Diakses darI journal.unair.ac.id/PROMKES/article/view/5809/3718. Pada
Tanggal 14 Desember 2017
Putra, R. S.(2016).Perilaku Hidup Bersih Sehat. Diakses dari
http://promkes.depkes.go.id/perilaku-hidup-bersih-dan-sehat-di-sekolah. Pada tanggal
16 April 2017.
LAMPIRAN 1
SATUAN ACARA PENYULUHAN
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT

Masalah : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


Pokok Pembahasan : PHBS di lingkungan sekolah
Sub Pokok Pembahasan : Gambaran tentang PHBS di lingkungn ekolah
Sasaran : siswa di SDN 17 Mataram
Jam : 09.00 WIB
Waktu : 30 menit
Tanggal : 02 januari 2019
Tempat : SDN 17 Mataram
Nama Penyuluh : Mahasiswa STIKES Yarsi Mataram

A. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan 30 menit, diharapkan siswa -siswi di SDN 17 Mataram
mampu memahami dan mengerti tentang Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS).
B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit tentang PHBS, diharapkan siswa sswa-
siswi di SDN 17 Mataram dapat:
1. Menjelaskan tentang pengertian PHBS
2. Menjelaskan tentang manfaat PHBS
3. Menjelaskan apa saja 4 PHBS di lingkungan sekolah
4. Menjelaskan tentang mencuci tangan yang baik dan benar
5. Menjelaskan tentang membuang sampah pada tempatnya (organik, non organik, non
organik berbahaya
6. Menelaskan tentang prilaku toileting yang baik dan benar
C. Materi Penyuluhan (Terlampir)
1. Pengertian PHBS
2. Manfaat PHBS
3. PHBS di lingkungan sekolah
4. mencuci tangan yang baik dan benar
5. membuang sampah pada tempatnya
D. Metode Penyuluhan
1. Story telling
2. Tanya Jawab
E. Media
1. Boneka tangan
2. Peragaan oleh mahasiswa
F. Kegiatan Penyuluhan
No Tahap Waktu Kegiatan Penyuluhan Sasaran
Kegiatan
1. Pembukaan 5 menit a. Mengucapkan salam Menjawab salam
b. Memperkenalkan diri Mendengarkan dan
c. Menyampaikan tentang menyimak
tujuan pokok materi Bertanya mengenai
mengunakan boneka perkenalan dan tujuan
tangan jika ada yang kurang
d. Meyampakaikan pokok jelas
pembahasan
e. Kontrak waktu
2. Pelaksanaan 15 menit a. Penyampaian Materi Mendengarkan dan
1. Menjelaskan tentang . menyimak
Pengertian PHBS Bertanya mengenai hal-
2. Manfaat PHBS hal yang belum jelas dan
3. 3 PHBS di lingkungn dimengerti
sekolah
4. mencuci tangan yang
baik dan benar
5. membuang sampah
pada tempatnya
3. Penutup 5 menit a. Melakukan evaluasi Sasaran dapat menjawab
b. Menyampaikan tentang pertanyaan yang
kesimpulan materi diajukan
c. Mengakhiri pertemuan dan Mendengar
menjawab salam Memperhatikan
Menjawab salam

G. Evaluasi
Diharapkan peserta didik mampu :
1. Menjelaskan tentang pengertian PHBS
2. Menjelaskan tentang manfaat PHBS
3. Memperagakan cara mencuci tangan yang baik dan benar
4. Menerapkan membuang sampah pada tempatnya
LAMPPIRAN 2
ANGGARAN PENGGUNAAN DANA PENYULUHAN

No Keterangan Satuan Harga Satuan Jumlah

1. Keranjang Sampah 2 Rp. 11.500.00 Rp. 23.000.00

2. Sabun 1 Rp. 13.500.00 Rp. 13.000.00

3. Snack Aanak 40 Rp. 2.200.00 Rp. 88.000.00

4. Air Dus 2 Rp. 22.000.00 Rp. 44.000.00

5. Snack Dosen 15 Rp. 5000.00 Rp. 75.000.00

6. Boneka Tangan 3 Rp. 10.000.00 Rp. 30.000.00

7. Leaflet 3 Rp. 6.600.00 Rp. 19.000.00

Jumlah Total Rp. 293.300.00