Anda di halaman 1dari 9

Nama : Aprian

NIM : 153037
Prodi : S1 Manajemen
Semester :7

Investasi Langsung Luar Negeri dan Perdagangan Pangan Olahan; Daya Saing
Industri Pangan Dalam Perekonomian Global

1. Industri
A. Pengertian Industri
Industri adalah bidang matapencaharian yang menggunakan ketrampilan dan
ketekunan kerja (bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang
pengolahan hasil-hasil bumi dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka industri
umumnya dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi
kebutuhan (ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian,
perkebunan dan pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan
industri semakin jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi, budaya, dan
politik.
B. Jenis Industri
1) Jenis Industri berdasarkan Bahan Baku
a. Industri ekstraktif
b. Industri nonekstaktif
c. Industri fasilitatif
2) Golongan / macam industri berdasarkan besar kecil modal
a. Industri padat modal
b. Industri padat karya
3) Jenis-jenis / macam industri berdasarkan klasifikasi atau penjenisannya
= berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986 =
a. Industri kimia dasar
b. Industri mesin dan logam dasar
c. Industri kecil
d. Aneka industri
4) Jenis-jenis / macam industri berdasarkan jumlah tenaga kerja
a. Industri rumah tangga
b. Industri kecil
c. Industri sedang atau industri menengah
d. Industri besar
5) Pembagian / penggolongan industri berdasakan pemilihan lokasi
a. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar (market oriented
industry)
b. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada tenaga kerja / labor
(man power oriented industry)
c. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada bahan baku (supply
oriented industry)
6) Macam-macam / jenis industri berdasarkan produktifitas perorangan
a. Industri primer
b. Industri sekunder
c. Industri tersier

2. Pengaruh Perkembangan Perindustrian Terhadap Perekonomian


Arti penting perindustrian terhadap perkembangan perekonomian dapat dilihat
dari arah kebijakan ekonomi yang tertuang dalam GBHN 2000-2004, yaitu
“Mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai kemajuan teknologi
dengan membangun keunggulan kompetitif berdasarkan keunggulan komparatif
sebagai negara maritim dan agraris sesuai kompetensi dan produk unggulan di setiap
daerah, terutama pertanian dalam arti luas, kehutanan, kelautan, pertambangan,
pariwisata serta industri kecil dan kerajinan rakyat, serta mengembangkan kebijakan
industri, perdagangan dan investasi dalam rangka meningkatkan daya saing global
dengan membuka aksesbilitas yang sama terhadap kesempatan kerja dan berusaha
bagi segenap rakyat dan seluruh daerah melalui keunggulan kompetitif terutama
berbasis keunggulan SDA dan SDM dengan menghapus segala bentuk perlakuan
diskriminatif dan hambatan”.
Selanjutnya disebutkan dalam Undang-Undang No 25 tahun 2001 tentang
Program Pembangunan Ekonomi Nasional (Propenas) yang mengamanatkan bahwa
dalam rangka memacu penigkatan daya saing global dirumuskan lima strategi utama,
yaitu pengembangan ekspor, pengembangan industri, penguatan institusi pasar,
pengembangan pariwisata dan peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas dapat diketahui bahwa perkembangan
industri sangat penting untuk menghadapi persaingan ketat, baik di pasar dalam negeri
maupun pasar ekspor dalam era globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia. Hal
tersebut kembali dipertegas dalam konsiderans Undang-Undang Perindustrian
(Undang-Undang Nomor 5 Th. 1984) yang menyatakan bahwa untuk mencapai
sasaran pembangunan di bidang ekonomi dalam pembangunan nasional, industri
memegang peranan yang menentukan dan oleh karenanya perlu lebih dikembangkan
secara seimbang dan terpadu dengan meningkatkan peran serta masyarakat secara
aktif serta mendayagunakan secara optimal seluruh sumber daya alam, manusia, dan
dana yang tersedia.
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik pengertian bahwa perkembangan
industri membawa pengaruh yang sangat besar sekali terhadap perkembangan
perekonomian Indonesia. Industri memegang peranan yang menentukan dalam
perkembangan perekonomian sehingga benar-benar perlu didukung dan diupayakan
perkembangannya.

3. Upaya Pemerintah Dalam Meningkatkan Perindustrian Di Indonesia.


Sasaran pembangunan sektor industri dan perdagangan pada tahun 2008
adalah sebagai berikut :
a. Terwujudnya pengembangan industri yang mempunyai keunggulan kompetitif
berdasarkan keunggulan komparatif dengan mengacu kepada pengembangan
klaster industri, sehingga tercipta struktur industri yang kokoh dan seimbang;
b. Terwujudnya peningkatan daya saing nasional melalui peningkatan kemampuan
profesionalisme sumber daya manusia, penguasaan penggunaan teknologi dan
inovasi, serta pemenuhan ketentuan standar keamanan, kesehatan, dan lingkungan
baik nasional maupun internasional;
c. Terciptanya perluasan lapangan usaha dan kesempatan kerja secara merata di
sektor industri dan perdagangan;
d. Terciptanya peningkatan utilisasi kapasitas produksi, sehingga mampu
meningkatkan kinerja sektor industri dan perdagangan;
e. Tersedianya kebutuhan masyarakat luas dengan harga yang wajar dan mutu yang
bersaing melalui kelancaran distribusi barang dan peningkatan pelayanan
informasi pasar yang terintegrasi;
f. Terciptanya profesionalisme pelaku usaha dan kelembagaan perdagangan,
sehingga kegiatan perdagangan barang dan jasa di dalam negeri semakin
berkembang;
g. Terwujudnya iklim usaha yang kondusif dengan menerapkan mekanisme pasar
tanpa distorsi, serta terjaminnya perlindungan konsumen sehingga tercipta
pemahaman konsumen akan hak dan kewajibannya dalam upaya tertib mutu,
tertib usaha dan tertib ukur;
h. Terselenggaranya kegiatan Bursa Berjangka sebagai tempat lindung nilai
(hedging) dan tempat pembentukan harga (price discovery) secara efisien dan
memiliki daya saing yang kuat;
i. Terselenggaranya pengembangan Ware House Receipt System (WRS) yang
mendukung peningkatan efisiensi distribusi nasional dan memperlancar
pembiayaan dalam perdagangan komoditi (trade financing);
j. Terselenggaranya sistem Pasar Lelang Lokal (PLL) melalui mekanisme pasar
yang transparan dan efisien yang memungkinkan produsen/petani memperoleh
pendapatan yang proporsional dengan harga yang terjadi di tingkat nasional atau
internasional;
k. Terwujudnya peningkatan partisipasi Indonesia melalui peningkatan diplomasi
perdagangan, baik dalam kegiatan kerjasama bilateral, regional maupun
multilateral yaitu dalam forum negosiasi persetujuan-persetujuan WTO, ASEAN,
APEC, Kerjasama Komoditi Internasional, serta kerjasama Badan-Badan Dunia
lainnya;
l. Terwujudnya peningkatan penyediaan dan penyebarluasan informasi pasar
mengenai peluang pasar internasional dan hasil-hasil kerjasama industri dan
perdagangan kepada dunia usaha, khususnya usaha kecil menengah;
m. Terwujudnya peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri;
n. Terwujudnya budaya organisasi yang lebih berorientasi kepada pencapaian
sasaran;
o. Terwujudnya keterpaduan peran pemerintah di sektor industri dan perdagangan;
p. Terwujudnya peningkatan sinergi dalam pemanfaatan sumber daya serta
peningkatan kinerja pelayanan sesuai dengan aspirasi masyarakat dalam era
otonomi daerah.
Di bidang regulasi, untuk mewujudkan sasaran di atas, diperlukan perangkat
hukum yang secara jelas mampu melandasi upaya pengaturan, pembinaan, dan
pengembangan dalam arti yang seluas-luasnya tatanan dan seluruh kegiatan
industri. Dalam rangka kebutuhan inilah sudah saatnya untuk melakukan
pembaharuan Undang-Undang Perindustrian yang berlaku, dimana Undang-
Undang tersebut sudah sangat dirasakan tidak sesuai lagi dengan perkembangan
perekonomian dan perindustrian yang ada pada saat ini.
Selanjutnya di bidang birokrasi, optimalisasi atas pemberdayaan departemen-
departemen yang terkait sangat dibutuhkan dalam rangka mewujudkan
perkembangan perindustrian sebagaimana yang telah digariskan dalam cita-cita
pembangunan nasional. Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan
SDM, pemangkasan birokrasi dalam perijinan usaha dan lain sebagainya yang
tujuan utamanya adalah meningkatkan perkembangan perindustrian.

4. Mempertajam Daya Saing Industri Pangan


Untuk dapat menjadi pelaku dalam percaturan perdagangan global, maka
industri pangan nasional harus mempertajam daya saingnya guna merebut pasar
nasional dan internasional. Jika mutu produk industri pangan nasional biasa-biasa
saja, pasti kalah bersaing di pasar bebas dengan produk pangan dari industri-industri
raksasa yang mutunya terjamin dan harganya terjangkau daya beli masyarakat
kebanyakan. Berbagai produk olahan pangan bermutu yang diproduksi multinational
corporation (MNC), seperti Nestle's, Unilever, Philip Morris, ConAgra, Coca Cola,
Kraf General Foods (KGF), dan lain-lain kini menempati peringkat atas dalam soal
modal, pemasaran, penelitian, dan pengembangan. Lewat dukungan modal kuat dan
SDM berkualitas, memungkinkan MNC membuka cabang di berbagai negara
termasuk Indonesia. Dengan pola manajemen global partnering mereka makin kuat
mencengkeram pasar. Pada gilirannya fenomena globalisasi di bidang perdagangan
produk pangan gampang dilihat di sekitar kita.
Beragam produk buatan industri pangan yang menguasai pasaran internasional
dan sudah lama dikenal di Indonesia dikemas apik di berbagai supermarket dan toko
swalayan. Demikian juga dengan menjamurnya berbagai restoran cepat saji (fast food)
bermerek Barat, seperti pizza, ayam goreng, donat, dan lain-lain. Kehadiran mal di
kota-kota besar menjanjikan kemudahan yang melengkapi fenomena yang
menjungkirbalikkan peradaban tradisional ke peradaban modern. Betapa tidak!
Zaman dulu, ketika orang tua kita belanja ke pasar, oleh-olehnya adalah pisang
goreng dan dawet. Tetapi kini, sehabis berbelanja di mal, oleh-olehnya Dunkin'
Donuts, Coca Cola dingin, dan es krim bermerek Barat. Bahkan, gaya hidup generasi
muda kita di era globalisasi ini seakan lebih afdol bila sudah menggenggam Coca-
Cola kaleng dan satu paket Dunkin' Donuts.
Kehadiran berbagai makanan dan minuman berbau Barat ini, di satu sisi
berdampak positif. Paling tidak, bila orang asing yang tinggal di Indonesia atau
datang sebagai wisatawan dapat bertahan lebih lama karena ada jenis makanan yang
cocok dengan seleranya. Ini tentu dapat menambah pundi-pundi devisa negara. Atau
dapat juga membuka lapangan kerja baru di tengah meningkatnya jumlah penganggur
akibat krisis ekonomi.
Namun, bila dikaji lebih jauh sesuatu yang ironis sedang melanda masyarakat
kita. Yakni, memuja secara berlebihan, dengan membayar lebih mahal, produk olahan
pangan bermerek asing, tetapi melecehkan produk olahan pangan sendiri. Orang kita
lebih mengenal Muffin keluaran Inggris ketimbang wingko babat dari Semarang atau
lebih familier dengan donat bermerek asing ketimbang Ombus-ombus dari Toba
Samosir. Bahkan, sampai kini banyak orang lebih bangga untuk membayar satu porsi
salad seharga Rp 79.990 di ruangan ber-AC, tetapi mengomel ketika harus membayar
satu porsi gado-gado-padahal bahannya relatif sama-Mbok Sukiyem seharga Rp
20.000.
Produk olahan pangan nasional-khususnya yang diproduksi industri kecil dan
rumah tangga-secara tak sengaja harus tersingkir dari pasar karena kurang promosi.
Sementara itu, produk olahan pangan dari berbagai perusahaan-perusahaan besar
MNC, kerap dipromosikan secara besar-besaran di berbagai media massa baik cetak
maupun elektronik dan produknya terstandardisasi secara baik. Misalnya, ayam
goreng McDonald's di salah satu outlet-nya di Medan akan sama lezatnya dengan
yang dijual di Singapura. Tetapi, siapa bisa menjamin, gudeg yogya yang dijual di
berbagai restoran lesehan di sepanjang Malioboro sama lezatnya Sebab, ada gudeg
Nyonya Rahmat, Mbak Sutini, dan lain-lain dengan resep yang berbeda-beda pula.

5. Arah pengembangan
Dari segi peluang bisnis nasional, globalisasi dapat menjanjikan dampak
positif. Untuk itu, arah pengembangan industri pangan nasional harus diletakkan pada
selera, keinginan pasar, dan konsumen. Sebab, globalisasi tidak hanya menyebabkan
kita dengan mudah menemukan Cola-Cola dan pizza di mana-mana, tetapi juga
memberi kesempatan untuk mengembangkan produk olahan pangan lain sepanjang
mutunya terjamin dan harganya terjangkau. Implikasinya, globalisasi membuka
peluang bisnis besar bagi produk pangan tradisional. Masakan padang, bandeng duri
lunak dari Semarang, brem bali, jenang kudus, dodol garut, empek-empek palembang
dan lemang medan boleh menjadi contoh makanan tradisional yang sudah dikenal
luas di masyarakat dan potensial dikembangkan di masa datang.
Hal lain yang menjadi dampak ikutan globalisasi adalah informasi pangan
makin banyak sehingga masyarakat makin melek gizi. Peranan media massa amat
besar, sebab kerap mengetengahkan berita-berita kesehatan yang dikemas dalam
bungkus iklan produk pangan tertentu. Misalnya, berbagai iklan dalam bentuk
advertorial, khususnya produk-produk suplemen pangan seperti pil dan serbuk yang
mengandung komponen fungsional protein, asam amino, serat makanan,
oligosakarida, asam lemak omega 3, omega 6 dan omega 9, vitamin C, vitamin E,
yang diiklankan secara meyakinkan.
Berkat arus informasi pangan dan gizi yang pesat menyusup ke dalam
kehidupan konsumen, makanan sehat menjadi arah pengembangan produk industri
pangan nasional khususnya untuk keperluan ekspor. Kejelian mengamati pasar seperti
ini amat menentukan keberhasilan dalam pengembangan produk pangan baru (novel
foods) yang memiliki beberapa karakteristik yang menjadi tuntutan konsumen. Yakni,
enak dimakan (palatable); aman dikonsumsi; tidak mengandung residu kimia,
mikrobia, bahan tambahan makanan (pengawet); bergizi dan bermanfaat bagi
kesehatan; praktis penggunaannya, mudah disimpan dan mudah dikonsumsi; dan
terjangkau daya beli.
Tren gaya hidup sehat yang kini diadopsi masyarakat kebanyakan di perkotaan
harus dijembatani penguasaan ilmu dan teknologi pangan sehingga dapat
menyediakan pilihan produk pangan yang aman dan enak dikonsumsi serta berkhasiat
bagi kesehatan karena mengandung komponen fungsional yang dibutuhkan tubuh.
Fenomena ini telah menetaskan paradigma baru dalam dinamika ilmu dan teknologi
pangan untuk melakukan berbagai modifikasi produk olahan pangan menuju makanan
fungsional (functional foods). Yakni, suatu produk olahan pangan yang mengandung
komponen bioaktif yang mampu mencegah-bahan menyembuhkan-suatu penyakit
tertentu sehingga tercapai kesehatan tubuh yang optimal.
Meski diharapkan memberi manfaat kesehatan, menurut Goldberg (1994),
makanan fungsional tidak dianggap sebagai obat, tetapi dikategorikan sebagai
makanan. Tetapi, paling tidak tiga kriteria utama harus dipenuhi suatu produk agar
dapat disebut makanan fungsional.
a. Pertama, produk itu harus berbentuk makanan (bukan kapsul, tablet, atau serbuk)
dan berasal dari bahan yang terdapat secara alami.
b. Kedua, produk itu dikonsumsi sebagai bagian dari makanan sehari-hari.
c. Ketiga, produk itu memberi peran positif dalam metabolisme tubuh, seperti
meningkatkan pertahanan tubuh sehingga mencegah timbulnya penyakit,
membantu mengembalikan kondisi tubuh secara fit setelah sembuh dari penyakit
dan memperlambat proses penuaan.
Untuk memperoleh berbagai fungsi fisiologik ini, dalam perancangan dan
pembuatan makanan fungsional diperlukan tahap formulasi yang memegang peran
penting agar senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi tubuh, seperti vitamin, mineral,
fitokimia dan senyawa-senyawa bukan gizi (non nutritives) secara utuh tetap ada pada
produk itu. Ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri pangan
nasional dalam memasuki era globalisasi.

6. Pertumbuhan Industri di Indonesia Era Globalisasi


Sampai dengan Triwulan II 2011 pertumbuhan industri yang dapat dicapai
sebesar 6,61 persen dengan nilai PDB sebesar Rp. 144.750,6 miliar. Pertumbuhan
pada triwulan II tahun 2011 mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan
pada triwulan yang sama tahun 2010 (5,12 persen). Hal ini didukung oleh kinerja
semua cabang industri yang semakin membaik, dan memiliki pertumbuhan positif
seperti industri logam dasar, besi dan baja; industri Makanan, Minuman dan
Tembakau; serta industri tekstil, barang kulit & alas kaki.
Berdasarkan hal tersebut, percepatan pembangunan industri di daerah perlu
terus dilakukan melalui pendekatan:
a. Pertama, mengkonsentralisasikan lokasi pembangunan industri pada wilayah yang
memiliki potensi keunggulan komperatif yang besar melalui pembangunan pusat-
pusat pertumbuhan industri (growth center), dilengkapi dengan mengembangkan
klaster industri dan pengembangan kompetensi inti industri daerah. Pendekatan ini
dilakukan secara terpadu dengan sektor ekonomi lainnya.
b. Kedua : meningkatkan kemampuan masyarakat dilokasi industri tersebut,
sehingga dituntut masyarakat untuk investasi di bidang pendidikan di dukung oleh
fasilitas yang disediakan pemerintah dan swasta, sehingga akan memberikan
dampak positif bagi pembangunan industri yang semakin efisien dan efektif serta
memberikan dampak berguna bagi daerah setempat.
c. Ketiga : Meningkatkan investasi di sektor industri yang dapat dilakukan oleh
pihak swasta dan investasi infrastruktur yang diharapkan dilakukan
oleh pihak pemerintah dan swasta.
d. Keempat : Peningkatan penguasaan pasar dalam negeri melalui upaya pemanfaat
produk dalam negeri dan penguasaan pasar internasional.
Pendekatan yang digunakan dalam mempercepat pembangunan industri
dilakukan dengan mengkombinasikan pendekatan sektoral yaitu mengembangkan
klaster industri dan pendekatan regional yang berlandaskan pada keunggulan
komparatif yang dimiliki oleh masing-masing daerah.

DAFTAR PUSTAKA
http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/blob/F9667/Industri%20Pangan
%20Nasional%20Siap%20Hadapi%20Globalisasi.htm

https://www.academia.edu/5745283/PERKEMBANGAN_INDUSTRI_DI_ERA_GLOB
ALISASI_EKONOMI_DUNIA_TERHADAP_PENDAPATAN_NASIONAL_INDONE
SIA