Anda di halaman 1dari 6

.

Tugas 1: Etika Pemerintah

1. Asas-asas etis yang pokok dalam administrasi pemerintahan ada 6 buah, yaitu sebagai
berikut.

a. Pertanggungjawaban. Hasrat setiap petugas administrasi pemerintahan untuk


merasa memikul kewajiban penuh dan ikatan kuat dalam pelaksanaan semua
tugas pekerjaan secara memuaskan.

b. Pengabdian. Hasrat keras setiap petugas administrasi pemerintahan untuk


menjalankan semua tugas pekerjaan dengan seluruh tenaga fisik, pikiran,
semangat kegairahan, dan perhatian tanpa pamrih apa-apa yang bersifat pribadi.

c. Kesetiaan. Kesadaran setiap petugas administrasi pemerintahan untuk


setulusnya patuh kepada tujuan bangsa, konstitusi negara, peraturan
perundangan, badan instansi, tunas jabatan maupun pihak atasan demi
tercapainya cita-cita bersama yang ditetapkan.

d. Kepekaan. Kemauan dan kemampuan setiap petugas dalam administrasi


pemerintahan untuk memperhatikan serta siaga terhadap berbagai
perkembangan yang baru, situasi yang berubah, dan kebutuhan yang timbul
dalam kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu dengan disertai usaha-usaha
untuk menanggapi secara sebaik-baiknya.

e. Persamaan. Hasrat setiap petugas administrasi pemerintahan untuk memberikan


perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan atau pilih kasih kepada semua
pihak.

f. Kepantasan. Hasrat setiap petugas administrasi pemerintahan untuk


memperhatikan persoalan dan kebutuhan dalam masyarakat yang sangat
beraneka ragam sehingga memerlukan perbedaan perlakuan asalkan
berdasarkan pertimbangan yang adil atau alasan yang benar.

Menurut The Liang Gie (1978), bahwa dalam proses penyelenggaraan administrasi
mempunyai unsur-unsur yang merupakan pola perbuatan manusia dalam bidang
administrasi, yakni: 1) organisasi, 2) manajemen, 3) komunikasi, 4) kepegawaian, 5)
keuangan, 6) perbekalan, 7) ketatausahaan, dan 8) hubungan masyarakat.
a. Organisasi, sebagai unsur pertama dari administrasi merupakan rangka atau
wadah di mana usaha kerjasama itu diselenggarakan. James D. Money (1947)
menyebutnya sebagai bentuk perserikatan manusia untuk pencapaian suatu
tujuan bersama. (the form of every human association for the attainment of a
common purpose). Sejalan dengan ini, maka proses mengorganisir (organizing)
ialah penyusunan rangka itu dengan membagi-bagi dan menghubung-
hubungkan orang, wewenang, tugas dan tanggungjawab menjadi kesatuan yang
laras. Termasuk pula proses mengorganisir organisasi ini ialah penentuan tujuan
yang hendak dicapai. Penelaahan terhadap rangka di mana administrasi itu
berlangsung menimbulkan sekelompok pengetahuan yang disebut:
1) teori organisasi (theory of organization)
2) analisis organisasi dan methode (organization and methods analysis –
O & M analysis)
3) tingkah laku administratif (administrative behavior), perilaku
keorganisasian (organizational behavior)
4) hubungan manusia (human relations)
b. Manajemen, sebagai suatu proses yang menggerakkan kegiatan dalam
administrasi itu sehingga tujuan yang telah ditentukan benar-benar tercapai.
Sarjana Oliver Sheldon (1957) mengatakannya sebagai “the process by which
the execution of a given purposes is put into operation and supervised”(proses
dengan mana pelaksanaan dari suatu tujuan tertentu dijalankan dan diawasi).
Manajemen mempunyai fungsi-fungsi yang sebagian sarjana berbeda
klasifikasi. Menurut Henry Fayol, yaitu: Perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pemberian komando (comanding),
pengkoordinasian (coordinating), pengawasan (controlling). G.R. Terry dengan
akronim POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). The Liang Gie
dengan fungsi perencanaan, pengambilan putusan, pembimbingan,
pengkoordinasian, pengendalian dan penyempurnaan.
Dalam perkembangan manajemen telah muncul berbagai pengetahuan
sepertinya: Total quality management(manajemen mutu terpadu), management by
objectives(manajemen berdasarkan sasaran), Management Information
System(Sistem Informasi Manajemen),Manajemen Stratejik, Manajemen Sumber
Daya Manusia dan banyak pengetahuan ekonomi yang memakai istilah manajemen
seperti manajemen pemasaran, manajemen keuangan, manajemen koperasi, dan
manajemen akuntansi, bahkan pada lembaga pendidikan di bidang ekonomi
terbentuk jurusan/program studi manajemen.
c. Komunikasi, Ini merupakan urat nadi yang memungkinkan orang-orang dalam
usaha bersama itu mengetahui apa yang terjadi atau diinginkan oleh masing-
masing. Tanpa komunikasi yang baik, tak mungkin kerjasama dapat terlaksana
dengan baik. Pengetahuan yang merupakan segi-segi komunikasi ini
misalnya: reporting techniques (tehnik pelaporan) Sistem informasi
(information system),
d. Kepegawaian, Ini merupakan segi yang berkenaan dengan sumber tenaga
manusia (working force) yang harus ada pada setiap usaha kerjasama.
Penelaahan terhadap unsur ini menimbulkan sekelompok pengetahuan yang
dicakup dengan nama Administrasi Kepegawaian (Personnel Administration)
yang dewasa ini kecenderungan menggunakan istilah sumber daya manusia.
Administrasi ini pada pokoknya mempelajari segenap proses penggunaan
tenaga manusia itu dari penerimaannya (recruiting) sampai pemberhentiannya
(retirement). Termasuk pula di sini ialah analisis dan klasifikasi jabatan (job
analysis and classification) serta pengembangan tenaga itu melalui latihan-
latihan (training)
e. Keuangan, Ini merupakan segi pembiayaan (financing) dalam setiap
administrasi. Dari sini timbullah Administrasi keuangan yang mencakup
penganggaran belanja (budgeting), pembukuan (accounting), pemeriksaan
(auditing) serta tindakan-tindakan lainnya dalam bidang keuangan.
f. Perbekalan, Istilah lainnya perlengkapan, persediaan, logistik, dan urusan
rumah tangga. Ini merupakan segi yang mengurusi kebutuhan-kebutuhan
kebendaan dan kerumahtanggaan yang juga tentu ada dalam setiap usaha
bersama. Pada bidang ini berkembanglah pengetahuan tentang administrasi
perlengkapan (supply administration), pembelian (procure-ment), persediaan,
pergudangan, klasifikasi dan standardisasi alat-alat, pengendalian harta benda
(inventory and property control)
g. Ketatausahaan, yaitu rangkaian kegiatan merencanakan, mengada-kan,
mengirim, dan menyimpan pelbagai keterangan yang diperlukan dalam usaha
kerjasama. Pada bidang ini berkembang pengetahuan tentang administrasi
perkantoran (office administration) atau manajemen perkan-toran (office
management), kesekretarisan, tata persuratan, kearsipan, dan dokumentasi.
h. Hubungan Masyarakat, Ini merupakan segi yang menggambarkan pada pihak
luar segala sesuatu yang berlangsung mengenai usaha kerjasama itu, demikian
pula sebaliknya menyalurkan sesuatu hasrat, cita atau pendapat dari luar ke
dalam sesuatu usaha bersama, dengan demikian tercapai pengertian yang
sebaik-baiknya antara suatu administrasi dengan keadaan sekelilingnya. Aspek
ini justru amat pentingnya bagi kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh
pemerintah maupun perusahaan agar mendapat dukungan dari rakyat bagi
pemerintah dan kesukaan konsumen bagi perusahaan. Pada akhir-akhir ini
timbullah pengetahuan dalam bidang ini, yaitu hubungan masyarakat (publik
relation), keprotokolan, dan dalam bidang perusahaan dengan periklanan
(advertising).

2. Ragam perbuatan pemerintah yang tidak patut dalam melaksanakan tugasnya yaitu:

a. Adanya ‘budaya’ korupsi yang telah sejak lama menodai penyelenggaraan


administrasi negara di Indonesia menunjukkan bahwa etika administrasi negara
telah sangat dilanggar oleh para penyelenggara negara. Ketika etika untuk
mengambil tindakan yang berhubungan langsung dengan kegiatan negara
dilanggar inilah maka dapat dipastikan etika politik dan pemerintah sama sekali
tidak diperhatikan.

b. Namun pada kenyataannya, banyak sudah contoh kasus yang ada di Indonesia
berkaitan dengan etika administrasi negara/publik. Mulai dari hal terkecil saat
pembuatan KTP, karena organisasi pemerintah tidak melangsungkan hidupnya
dengan etika, maka dengan mudah terjadi praktek pungutan liar yang merugikan
masyarakat. Hal itu membuat penilaian tentang buruknya manajemen
pemerintahan yang ada.

c. Dalam etika administrasi negara yang dapat dikatakan harus melingkupi semua
proses penyelenggaraan. Pada praktiknya, kepegawaian di Indonesia seringkali
berjalan tidak sesuai dengan etika yang ada. Dapat dilihat dari awal, proses
seleksi saja sudah mengindikasikan adanya kecurangan misalnya dengan
adanya kasus penyuapan untuk diterima sebagai PNS. Kecurangan ini
kemudian berdampak buruk, karena dengan kecurangan ini akan timbul sumber
daya manusia yang kurang berkualitas.

d. Kemudian, tampak pula perilaku tidak etis birokrat, seperti: Bohong kepada
publik; Korupsi, kolusi, nepotisme; Melanggar nilai-nilai publik: responsibilitas,
akuntabilitas, transparansi, keadilan, dan lain-lain; Melanggar sumpah jabatan;
Mengorbankan, mengabaikan, atau merugikan kepentingan publik; Pungli
pembuatan perizinan, identitas, dan sebagainya.

e. Sebagai contoh nyata, kita menyaksikan bersama berbagai kasus pelanggaran


etika administrasi yang menjerat para penyelenggara negara ini: Kasus
penyuapan Jaksa Urip Tri Gunawan yang menerima suap sebesar 660 ribu dolar
AS dari Arthalita Suryani terkait penanganan kasus BLBI; Kasus kawin siri
Bupati Garut yang hanya bertahan empat hari dan diakhiri talak cerai melalui
sms; Kasus perpajakan Gayus Tambunan; Kasus Hambalang, Andi
Mallarengeng mantan Menteri Pemuda dan Olahraga; Kasus Suap, Rudi
Rubiandini mantan Ketua SKK Migas; Korupsi oleh Kepala Daerah (54 orang,
2004-2014, data KPK); Kasus suap Akil Mochtar mantan Ketua Mahkamah
Konstitusi (MK); Korupsi pengadaan Al-Quran oleh Politisi dan Pejabat
Kemenag, dan lain sebagainya.

3. Ada dua faktor yang menjadi penyebab timbulnya perilaku tidak etis yang terjadi dalam
praktek administrasi publik. Pertama, faktor internal yaitu faktor pribadi orang yang
melakukan tindakan mal-administrasi. Kedua, faktor eksternal, yaitu faktor yang
berada di luar diri pribadi orang yang melakukan tindakan mal-administrasi, bisa,
lemahnya peraturan perundangan, lemahnya pelaksanaan pengawasan, dan lingkungan
kerja yang memungkinkan terbukanya kesempatan untuk melakukan tindakan mal-
administrasi.

a. Faktor Internal berupa kepribadian seseorang. Faktor kepribadian ini


berwujud suatu niat, kemauan, dorongan yang tumbuh dari dalam diri seseorang
untuk melakukan tindakan tersebut. Faktor ini disebabkan oleh lemahnya
mental seseorang, dangkalnya agama dan keimanan mereka, sehingga
memudahkan mereka untuk melakukan sesuatu tindakan walaupun
sesungguhnya mereka tahu bahwa tindakan yang akan mereka lakukan itu
merupakan suatu tindakan yang tidak baik, tercela, buruk baik menurut nilai-
nilai sosial, maupun menurut ajaran agama mereka. Namun karena rendahnya
sikap mental mereka, dangkalnya keimanan dan keagamaan mereka, maka
manakala ada kesempatan ada niatan untuk melakukan tindakan mal-
administrasi dengan mudahnya mereka lakukan. Faktor Internal banyak pula
dipengaruhi oleh faktor eksternal: faktor kebutuhan keluarga, kesempatan,
lingkungan kerja, dan lemahnya pengawasan, dan lain sebagainya.

b. Faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar diri orang yang melakukan
tindakan mal-administrasi, bisa berupa, lemahnya peraturan, lemahnya lembaga
kontrol, lingkungan kerja dan lain sebagainya yang membuka peluang
(kesempatan) untuk melakukan tindakan korupsi. Meskipun aturan telah dibuat
oleh pihak yang berwenang, tetapi masih ada pihak yang menyalahgunakan
haknya. Hal ini mengakibatkan tidak terlaksananya proses dan kerja
administrasi publik dengan baik dan benar. Peraturan perundangan tempat
mereka bekerja, merupakan suatu tatanan nilai yang dibuat untuk diikuti dan
dipatuhi oleh para pegawai dalam menjalankan tupoksi yang diberikan.
Manakala peraturan tadi memberi kelonggaran bagi pegawainya untuk
melakukan tindakan tidak etis dalam pelaksanaan administrasi publik, karena
peraturannya tidak jelas, sanksi yang diberikan lemah, dan lain sebagainya,
maka akan memberikan peluang (kesempatan) pegawai untuk melakukan
tindakan tersebut.