Anda di halaman 1dari 8

KOLEKSI SPESIMEN

Oleh :
Nama : Siska Noviana Dewi
NIM : B1A017018
Rombongan :V
Kelompok :6
Asisten : Ristra Sefty Anggriani

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Pratiwi (2006), koleksi spesimen merupakan koleksi berbagai macam


jenis hewan/tumbuhan yang dibutuhkan untuk pengawetan dengan tujuan pengujian di
kemudian hari. Koleksi spesimen dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk
identifikasi jenis-jenis binatang, objek penelitian Biosistematika atau Taksonomi, bahan
untuk belajar dan mengajar dalam bidang biologi dan praktik Sistematika, sumber data
fauna Indonesia, mengetahui hubungan kekerabatan, serta mengetahui persebaran
hewan. Menurut Tjakrawidjaya (1999), koleksi spesimen yaitu pengawetan yang
digunakan dalam mempertahankan organ spesimen. Teknik koleksi dibedakan menjadi
dua yaitu koleksi basah dan koleksi kering.
Spesimen objek biologi sebagai media pembelajaran dapat digunakan dalam
keadaan segar ataupun awetan, utuh ataupun sebagian, sesuai dengan kondisi dan
tujuannya. penggunaan media berupa spesimen ataupreparat awetan menjadi sangat
diperlukan. Spesimen awetan dapat disimpan dalam waktu yang lama dan dapat
digunakan berkali-kali, sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran secara efesien
(Syafitri & Afreni, 2016).
Manfaat dan dayaguna koleksi spesimen adalah untuk membantu dalam
mengidentifikasi atau mengenali jenisnya, mendiagnosa atau mendeskripsikan karakter
pemiliknya, membantu mempelajari hubungan kekerabatan spesies, mempelajari pola
sebaran geografis, mempelajari pola musim keberadaanya, mengetahui habitat,
mengetahui tumbuhan atau hewan inang, dan mengetahui proses biologi seperti perilaku
dan daur hidup (Suhardjono, 1999).

B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Koleksi Spesimen antara lain:
1. Praktikan mengetahui berbagai teknik pengambilan sampel dan pengawetan
spesimen hewan.
2. Praktikan dapat melakukan pengawetan terhadap hewan invertebrata dan vertebrata.
3. Praktikan dapat membuat koleksi spesimen yang dapat bertahan lama.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Holotype meruakan satu spesimen organisme yang oleh author pertama


dijelaskan dalam deskripsi aslinya atau spesimen yang pada saat spesies tersebut
dijelaskan merupakan satu-satunya yang diketahui. Lectotype merupakan tipe spesimen
yang menjadi dasar dari deskripsi aslinya dimana pemilihan spesimen ini dilakukan
setelah deskripsi asli dari salah satu syntype. Syntype merupakan salah satu dari
sejumlah spesimen yang menjadi dasar dari deskripsi asli. Neotype merupakan spesimen
terpilih sebagai tipe yang baru yang secara pasti telah diketahui bahwa tipe spesimen
dan deskripsinya yang asli telah hilang atau mengalami kerusakan (Kilawati & Diana,
2017).

Spesimen adalah contoh atau keseluruhan bagian dari kelompok organisme


(hewan, tumbuhan, bakteri, jamur, alga dan virus) yang diambil dari lingkungan dan
disimpan dalam wadah berupa botol atau kotak. Spesimen tersebut ada yang berupa
spesimen basah maupun spesimen kering (Artasari et al., 2017). Macam-macam koleksi
spesimen secara umum sebagai berikut :
1. Pengawetan basah
Koleksi basah adalah spesimen yang direndam dalam alkohol 70% dan disimpan
dalam botol-botol koleksi dengan tutup yang sangat rapat.Hewan yang dapat digunakan
sebagai koleksi berupa ikan, crustaceae, mamalia, reptile, amphibi dan Arthropoda.
Teknik preservasi basah, dilakukan dengan cara mematikan hewan terlebih dahulu yaitu
secara fisik dan kimia. Secara fisik, dilakukan dengan menekan bagian dada untuk
menghambat kerja jantung. Secara kimia, dilakukan dengan pemberian larutan
kemikalia berupa alkohol 70 dan 96% , klorofoam, formalin 8-10% dan eter. Semua
spesimen koleksi basah tersimpan dalam botol yang berisi larutan pengawet alkohol.
Setelah spesimen koleksi tersimpan dan tertata dengan rapi, maka perlu dilakukan
(Pratiwi, 2006).
Teknik preservasi basah dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yang berbeda
dari setiap jenis kelas hewan. Kelebihan preservasi basah yaitu cukup mudah dalam
penanganannya, karena hanya dimasukkan ke dalam botol berisi alkohol.
Kekurangannya yaitu tidak dapat mengawetkan hewan yang berukuran besar,
perawatannya rutin karena harus mengganti larutan alkohol karena mudah menguap,
serta mudah mengeluarkan bau yang tidak sedap (Tjakrawidjaya, 1999). Berikut
merupakan gambar awetan menurut sumber Wahyudi et al. (2016).
2. Pengawetan kering
Koleksi kering dapat berupa tubuh binatang seutuhnya, kulit, tengkorak, tulang,
telur, sarang, dan spesimen awetan kaca (slide).Insekta dibuat dengan pengawetan
kering dengan membuat insektarium (Yayuk et al., 2010).Mamalia dan burung dapat
dibuat awetan kering (taksidermi). Awetan kulit dilakukan dengan cara mengeluarkan isi
tubuh dan menggantinya dengan kapas. Awetan tulang/rangka dapat dilakukan dengan
proses penguburan spesimen ke kasa/plastik dan proses perebusan. Penguburan
spesimen dilakukan selama 6-24 bulan. Perebusan dilakukan melalui tahapan
mematikan hewan, pengulitan (skining), perebusan selama 30 menit-2 jam, penyisihan
daging dan tulang, tahap digreasing (pembersihan lemak) menggunakan cairan
pembersih lemak, bleaching (pemutihan) menggunakan larutan H2O2 dan bensin yang
direndam sampai 1 jam, penyusunan rangka yang ditambahkan kawat untuk
mengokohkan rangka, pelabelan dan pemberian silika gel. Insektarium dapat dilakukan
dengan cara memasukkan spesimen ke dalam amplop agar bentuk hewan tetap rapi
kemudian spesimen di tusuk dengan jarum dan disimpan di stereofoam.
3. Taksidermi
Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya,
vertebrata pada khususnya, dan biasanya dilakukan terhadap hewan yang berukuran
relatif besar dan hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, burung, dan
mammalia.Organ dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli
ketika hewan tersebut hidup (dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa).Pengetahuan
tentang kulit ini sering dipakai sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan
vertebrata, dan juga untuk menunjukkan bemacam-macam varietas yang terdapat di
dalam spesies.Taksidermi merupakan pengetahuan tentang skinning (pengulitan),
preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/opzet/pajangan
(penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup) (Brusca, 2003).
Kelebihan preservasi kering yaitu dapat diterapkan pada hewan yang berukuran
kecil seperti serangga maupun hewan berukuran besar, mampu bertahan lebih lama dan
tidak menimbulkan bau apabila selama proses pengawetan dilakukan secara baik dan
bersih. Kekurangannya yaitu membutuhkan waktu yang relatif lama, membutuhkan
banyak alat dan bahan (Brusca, 2003).Taksidermi bukanlah representasi dari sesuatu
yang sudah ada sebelumnya.Badan-badan ini lebih suka didefinisikan sebagai model
tiga dimensi, dibuat dari bahan yang asli (Berndt, 2014). Berikut merupakan gambar
taksidermi menurut sumber (Berndt, 2014).

4. Insektarium
Insektarium adalah tempat penyimpanan koleksi spesimen insekta, baik awetan
basah maupun awatan kering. Insektarium sering menampilkan berbagai jenis serangga,
koleksi serangga merupakan bahan untuk belajar struktur tubuh serangga secara
mendalam, terutama yang berhubungan dengan ciri khasnya, sehingga akan dapat lebih
mudah dikenali dan digolongkan bila suatu waktu menjumpainya kembali di lapangan
(Susilo, 2015).
Insekta merupakan hewan yang paling besar jumlahnya dibanding dnegan hewan
lain. Insekta hidup di semua temoat baik di darat maupun di air.Insekta merupakan satu-
satunya hewan avertebrata yang dapat terbang.Anggota insekta sangat beragam tetapi
memiliki ciri khusus, yaitu hexapoda (kaki berjumlah enam) dan tubuh terbagi menjadi
tiga bagian yaitu kepala, perut dan ekor (Rusyana, 2011).Identifikasidilakukan untuk
mencari klasifikasi mulaidari kingdom sampai spesies. Pengamatanyang dilakukan
mulai dari warna, bentuk,dan ukuran pada serangga (Dinarwika et al., 2014). Berikut
gambar insectarium menrut sumber Wahyudi et al. (2016).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum acara Koleksi Spesimen adalah bak
preparat, pinset, scalpel, gunting, sikat gigi, panci, kompor, dan wadah spesimen,
syringe, killing bottle, botol spesimen, dan kertas label.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum acara Koleksi Spesimen adalah
spesimen kelompok masing-masing, alkohol, byclean, sabun cuci piring, dan
chloroform.
B. Metode

Metode yang dilakukan pada praktikum acara Koleksi Spesimen adalah:


B. 1. Pembuatan Awetan Basah Hewan
1. Spesimen disiapkan dan dimatikan dengan chloroform.
2. Larutan campuran formalin 8-10% dengan 4 liter aquabidest dibuat.
3. Semua bagian basah spesimen (organ pencernaan, mata, otak) dikeluarkan
karena jika dibiarkan akan membusuk dan berbau.
4. Larutan disuntikkan ke seluruh tubuh terutama di bagian perut dan daerah
berdaging.
5. Spesimen direndam alkohol 90% dan bagian dada di sayat supaya larutan
alkoholnya menyerap rata.
6. Formalin dibuang dengan menggunakan air mengalir selam 24 jam.
7. Spesimen dimasukkan ke dalam botol spesimen yang berisi alkohol 70%.
B. 2. Koleksi Spesimen Insectarium
1. Serangga ditangkap dengan jaring serangga.
2. Serangga dimasukkan ke dalam killing bottle yang sudah diberi chloroform.
3. Serangga yang telah mati lemas dikeluarkan dari killing bottle dan disuntikkan
alkohol 70% dari bagian ujung abdomen.
4. Serangga ditancapkan ke sterofoam dengan menggunakan jarum pada bagian
thoraks dan samping tubuh serangga, sayap direntangkan dan dijepit dengan
kertas kalkir dan jarum.
5. Serangga diberi label.
6. Insectarium disimpan dalam tempat kering dan kedap udara.
B. 3. Koleksi Spesimen Rangka
1. Spesimen yang telah disediakan dibius dengan chloroform, setelah mati spesimen
direbus kurang kebih 10 menit.
2. Spesimen dibedah menggunakan gunting lalu dikuliti hingga bersih dari kulit.
3. Spesimen dipisahkan daging dan otot yang masih menempel pada rangka hingga
bersih.
4. Spesimen difiksasi menggunakan alkohol kurang lebih 24 jam, setelah itu
direndam pada sabun cuci piring selama 24 jam agar sisa daging yang ada hilang.
5. Spesimen direndam di dalam byclean selama 15 menit agar rangka menjadi putih
lalu dikeringkan.
6. Spesimen ditata rapi, diberi label, dan diidentifikasi.
7. Data-data dicatat pada log book dan diberi keterangan spesies pada label/kertas
kalkir.
B. 4. Koleksi Spesimen Kering
1. Spesimen dikuliti dari depan kloaka sampai thorax. Proses pengulitan sebaiknya
dengan menggunakan tepung maizena agar kulit tidak menempel dengan daging
kebali. Spesimen dikuliti dari ujung ekor sampai ke ujung kepala dan terpisah
antara kulit dengan krapaksnya,
2. Spesimen kemudian dibersihkan lemaknya menggunakan alat pengeruk lemak
atau dengan borax atau bensin dengan cara digosok gosokkan ke bagian
badannya.
3. Ekor palsu spesimen dibuat dengan menggunkan kawat sesuai dengan ukuran
spesimen.
4. Seluruh badan diisi dengan kapas dan mata diganti dengan mata palsu agar tidak
terjadi pembusukkan, kemudian dijahit.
5. Badan diposisikan sesuai keinginan.
6. Spesimen diletakkan di box kaca yang sudah diberi kapur barus atau silica gel.
B. 5. Teknik Labeling
1. Data labeling diperoleh dengan mengukur dan menghitung spesimen
2. Informasi terkait spesimen dikumpulkan
3. Informasi dituliskan pada sebuah kertas yang di temple atau diikatkan pada
spesimen, apabila awetan basah sebaiknya menggunakan kertas dan alat tulis
yang tahan lama untuk menghindari kerusakkan.
4. Informasi tersebut berupa: Nama lokal, Nama ilmiah, Nama famili, lokasi
ditemukkan, tanggal ditemukan, habitat, jumlah spesimen, dan kolektor.
5. Kolektor merupakan orang yang menemukan dan menangkap spesimen.
DAFTAR REFERENSI

Adhiaramanti, T. & Sukiya, 2016. Keanekaragaman Anggota Ordo Anura di


Lingkungan Universitas Negeri Yogyakarta. Journal Biologi, 5(6), pp. 62-73.

Ayyubi, H., Agung, B. & Sugiyarto, 2018. Karakteristik morfologis populasi ikan tawes
Barbonymus gonionotus (Bleeker, 1849)dari lokasi perairan berbeda di Provinsi
Jawa Tengah, Jurnal Iktiologi Indonesia, 19(1), pp. 65-78.
Artasari, Y., Rena, L., & Rofisa, Y., Rofisa, Y., 2017Yuni Artasari Rena; YOLANDA,
Rofiza. PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN SPESIMEN
MOLUSKA PADA MATERI ANIMALIA KELAS X DI SMA NEGERI 1
RAMBAH SAMO. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FKIP Prodi Biologi, 2017, 3.1.

Campbell, N. A., Reece, J. B.,Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,Minorsky, P. V.


& Jakson, R. B., 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Chaeri, A., Kusbiyanto, Priyo, S. & Sugiharto, 2016. Ciri-ciri dan Pola Perkembangan
Tubuh Hewan Vertebrata. Jakarta: Universitas Terbuka.

Clement, A. M., Johan, N., Robin, S. & Per, E. A., 2015. Brain – Endocast Relationship
in the Australian Lungfish, Neoceratodus forsteri, Elucidated from Tomographic
Data (Sarcopterygii: Dipnoi). PLoS ONE, 10(10), pp.1-17.

Gupta, R. S., 2015. Molecular signatures that are distinctive characteristics of the
vertebrates and chordates and supporting a grouping of vertebrates with the
tunicates. Molecular phylogenetics and evolution, 94, pp. 383-391.

Haendel, M. A., 2014. Unification of multi-species vertebrate anatomy ontologies


for comparative biology in Uberon. Journal of Biomedical Semantics, 5 (21), pp.
1-13.

Heenan, P., Lisa, Z. & Megan, J. W., 2015. Evolution of the Sox gene family within the
chordate phylum. Gene, (15), pp. 1-22.

Pratomo, H. & Bayu, R., 2010. Identifikasi Pisces. Jakarta: Universitas Terbuka.

Putri, V., Ahmad, A. & Ani, W., 2015. Perancangan Komunikasi Visual Untuk
Meningkatkan Konsumsi Ikan Laut Pada Anak Muda Di Surabaya, Jurnal DKV
Adiwarna, 3(2), pp. 1-11.

Sahari, S. & Erif, A., 2018. Analisis Miskonsepsi Bahan Ajar Ilmu Pengetahuan Alam
Siswa Kelas 5 SDN Mrican 1 dan SDN Mrican 2 Kota Kediri Tahun Pelajaran
206/2017. Simki Pedagogia, 2(2), pp. 1-8.

Sulistyadi, E., 2016. Karasteristik Komunitas Mamalia Besar di Taman Nasional Bali
Barat (TNBB). Zoo Indonesia, 25(2), pp. 142-159.

Wahid, A., 2012. Analisis Karakteristik Sedimentasi di Waduk PLTA Bakaru. Jurnal
Hutan dan Masyarakat, 2(2), pp.229-236.

Yudha, D. S., Epilurahman, R., Muhtianda, I. A., Ekarini, D. F. & Ningsih, O. C., 2015.
Keanekaragaman Spesies Amfibi dan Reptil di Kawasan Suaka Margasatwa.
Jurnal MIPA, 38 (1), pp. 7-12.