Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha
Esa. karena berkat rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik
dan tepat waktu. Selain itu penulis juga mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Biofis, yang telah memberikan tugas dan membimbing kami. Penulis
membuat makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Biofis, yang berjudul “Biolistrik”.

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka penulis berharap
kritik dan saran dari pembaca . Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembacat dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan kita semua.

Denpasar, 29 September 2016

Penulis
BAB I

1.1 Latar Belakang

Kelistrikan merupakan sesuatu yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan biasanya
kita tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut. Pengamatan terhadap gaya tarik listrik dapat
ditelusuri sampai pada zaman Yunani kuno. Orang-orang yunani kuno telah mengamati bahwa
setelah batu amber digosok, batu tersebut akan menarik benda kecil seperti jerami atau bulu.
Sedangkan kata Listrik itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu electron.
Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang kedokteran. Ada dua aspek dalam bidang
kedokteran yaitu listrik dan magnet yang timbul dalam tubuh manusia, serta penggunaan listrik
dan magnet pada permukaan tubuh manusia. Nah, listrik yang ada pada tubuh kita disebut
dengan Biolistrik atau sering diartikan sebagai listrik yang terdapat pada makhluk hidup, yang
mana berasal dari kata bio berarti makhluk hidup dan kata listrik.

Makalah ini membahas tentang sinyal listrik yang dihasilkan oleh tubuh. Listrik yang dihasilkan
di dalam tubuh berfungsi mengendalikan dan mengoperasikan saraf, otot, dan berbagai organ.
Pada dasarnya, semua fungsi dan aktivitas tubuh sedikit banyak melibatkan listrik. Gaya-gaya
yang ditimbulkan oleh otot disebabkan tarik-menarik antara muatan listrik yang berbeda. Kerja
Otot, otak dan jantung pada dasarnya bersifat elektrik (listrik). Sistem saraf berperan penting
pada hampir semua fungsi tubuh. Otak, yang pada dasarnya adalah suatu komputer sentral,
menerima sinyal eksternal dan internal dan (biasanya) menghasilkan respons yang sesuai.
Informasi disalurkan sebagai sinyal listrik di sepanjang saraf-saraf. Saat kita menjalankan fungsi-
fungsi khusus tubuh, banyak sinyal listrik yang dihasilkan. Sinyal-sinyal ini dihasilkan dari
proses elektrokimiawi tertentu.

Biolistrik adalah ilmu yang mempelajari tentang potensial listrik pada organ tubuh. Pada
biolistrik ada dua aspek yang memegang peranan penting yaitu : Kelistrikan dan Kemagnetan
yang timbul pada tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan magnet pada permukaan tubuh
manusia. Aktivitas organ dan berbagai sistem didalam tubuh manusia tidak hanya berhubungan
erat satu sama lain tetapi juga bekerjasama dalam menanggapi perubahan lingkungan, baik
lingkungan dalam maupun lingkungan luar tubuh. Didalam tubuh manusia terdapat sistem
koordinasi yang meliputi sistem saraf yang berfungsi mengendalikan aktivitas dan keserasian
kerja antara sistem organ. Biolistrik merupakan energi yang terdapat dalam tubuh makhluk hidup
yang bersumber dari ATP (Adenosine Tri Posphate) dimana ATP ini dihasilkan oleh salah satu
bagian sel yakni mitokondria... Biolistrik juga merupakan fenomena sel. Hasil rekaman isyarat
listrik dari jantung (Electrocardiogran-ECG) diganti untuk diagnosa kesehatan. Seperti halnya
padaECG, aktivitasi otak dapat dimonitor dengan memasang beberapa elektroda pada posisi
tertentu. Isyarat listrik yang dihasilkan dapat untuk mendiagnosa gejala epilepsy, tumor, geger
otak dan kelainan otak lainnya. Oleh karena hal tersebut di atas, untuk mengetahui lebih banyak
tentang biolistrik tersebut, maka saya akan mencoba menggali, mengkaji, dan memaparkan
makalah yang berjudul “Biolistrik.”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas adapun rumusan masalah yang ditemukan yaitu

1.2.1 Apa itu Biolistrik?

1.2.2 Siapa penemu biolistrik?

1.2.3 Apa saja hukum yang ada dalam biolistrik?

1.2.4 Bagaimana kelistrikan yang timbul dalam tubuh manusia?

1.2.5 Bagaimana potensial listrik saraf yang terjadi dalam tubuh manusia?

1.2.6 Apa itu syok listrik?

1.2.7 Bagaiman isyarat listrik dalam tubuh ?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu:
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari biolistrik dan penemunya

1.3.2 Untuk mengetahui hukum-hukum dalam biolistrik

1.3.3 Untuk mengetahui kelistrikan yang timbul dalam tubuh manusia

1.3.4 Untuk mengetahui potensial listrik saraf yang terjadi dalam tubuh manusia

1.3.5 Untuk mengetahui pengertian mengenai syok listrik dan isyrat listrik

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu untuk menambah ilmu pengetahuan pembaca
dan agar pembaca dapat memahami mengenai biolistik dan pemanfaatannya.

1.5 Metode Penulisan

Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapatkan materi pembahasan dengan mencari ke
media internet dan sumber dari buku. Kemudian dari berbagai sumber tersebut dirangkum
dengan memperhat ikan materi yang dibahas dalam makalah ini.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Biolistrik

Biolistrik adalah daya listrik hidup yang terdiri dari pancaran elektron-elektron yang keluar dari
setiap titik tubuh (titik energi) dan muncul akibat adanya rangsangan penginderaan. Pikiran kita
terdiri dari daya listrik hidup, semua daya ini berkumpul didalam pusat akal didalam otak dalam
bentuk potensi daya listrik. Dari pusat akal, daya ini kemudian diarahkan ke seluruh anggota
tubuh kita, yang kemudian bergerak oleh perangsangnya. Potensi daya listrik hidup ini, yang
tertimbun didalam pusat akal harus di tuntut oleh sesuatu supaya mengalir untuk mengadakan
gerakan tubuh kita atau bagian-bagian tubuh lainnya.

Biolistrik merupakan energi yang dimiliki setiap manusia yang bersumber dari ATP (Adenosine
Tri Posphate), dimana ATP ini di hasilkan oleh salah satu energi yang bernama mitchondria
melalui proses respirasi sel. Biolistrik juga merupakan fenomena sel. Sel-sel mampu
menghasilkan potensial listrik yang merupakan lapisan tipis muatan positif pada permukaan luar
dan lapisan tipis muatan negative pada permukaan dalam bidang batas/membran. Kemampuan
sel syaraf (neurons) menghantarkan isyarat biolistrik sangat penting.

..

Kelistrikan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan muatan-muatan, ion-ion
yang terdapat dalam tubuh dan medan listrik yang dihasilkan oleh ion-ion dan muatan –muatan
tersebut serta tegangan yang dihasilkan.

Tegangan (voltage) listrik atau sering disebut potensial listrik dapat dihasilkan oleh sel-sel
tubuh. Tegangan yang dihasilkan disebut sebagai tegangan-bio atau biopotensial. Tegangan yang
paling besar dihasilkan oleh sel-sel saraf (nerve) dan sel-sel otot (muscle). Tegangan yang terjadi
pada sel, (selanjutnya disebut tegangan sel (cell potentials)), terus menerus terjaga
keberadaannya, dan untuk menjaganya, sejumlah besar energi dibutuhkan. Jadi, energi yang
disuplai ke dalam tubuh, sebanyak paling tidak 25% digunakan untuk menjaga kehadiran
tegangan pada sel.

Kemampuan sel syaraf (neurons) menghantarkan isyarat biolistrik sangat penting.Transmisi


sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang dinamakan Dendries yang berfungsi
mentransmsikan isyarat dari sensor ke neuron. Stimulus untuk mentringer neuron dapat berupa
tekanan, perubahaan temperature, dan isyarat listrik dari neuron lain. Aktifitasi bolistrik pada
suatu otot dapat menyebar ke seluruh tubuh seperti gelombang pada permukaan air.

Pengamatan pulsa listrik tersebut dapat dilakukan dengan memasang beberapa elektroda pada
permukaan kulit. Hasil rekaman isyarat listrik dari jantung (Electrocardiogran-ECG) diganti
untuk diagnosa kesehatan. Seperti halnya pada ECG, aktivitasi otak dapat dimonitor dengan
memasang beberapa elektroda pada posisi tertentu. Isyarat listrik yang dihasilkan dapat untuk
mendiagnosa gejala epilepsy, tumor, geger otak dan kelainan otak lainya.

Alat elektroencephalogram (EEG) adalah alat yang digunakan untuk merekam pulsa-pulsa
tegangan yang dihasilkan oleh aktivitas sel-sel saraf otak. Alat elektrocardiogram (ECG)
digunakan untuk merekam pulsa-pulsa tegangan yang dihasilkan oleh aktivitas sel-sel otot,
khususnya otot jantung.

2.2 Penemuan Biolistrik

Manusia tidak bisa melihat, merasa, mencium atau menyadari keberadaan listrik dengan
inderanya, baik untuk muatan maupun untuk medan listriknya. Baru pada akhir abad 18 hal-hal
mengenai listrik diteliti.

Histori Yunani Kuno : Batu amber digosok dapat menarik benda kecil seperti jerami atau bulu
(kata listrik dari bahasa yunani, electron = amber)

1. Gilbert, 1600, dokter istana Inggris –> electric (membedakannya dgn gejala kemagnetan)
2. Du Fay, 1700, tolak menolak – tarik menarik –> resinous (-), vitreous (+)
Franklin, ilmuwan USA membagi muatan listrik atas dua: positif dan negatif. Jika gelas
dengan sutera digosokkan, maka gelas akan bermuatan positif dan sutera akan bermuatan
negative.
3. Luigi Galvani (1786), periode hujan badai: Menyentuh otot tungkai seekor katak dengan
metal, teramati otot berkontraksi. Aliran listrik akibat badai merambat melalui saraf katak
sehingga otot-ototnya berkontraksi. Kemudian hari: Impuls dalam sistem syaraf terdiri
dari ion-ion yang mengalir sepanjang sel syaraf, analog dengan aliran elektron dalam
konduktor. Pada tahun 1786 dia melaporkan hasil eksperimennya bahwa kedua kaki
katak terangkat ketika diberikan aliran listrik lewat suatu konduktor.
4. Millikan (1869 – 1953), mencari harga muatan paling kecil, percobaan tetes minyak
Millikan. Muatan elektron e = 1,6 10-19 C
5. Caldani (1856), kelistrikan pada otot katak yang telah mati.
6. Arons (1892), merasa ada aliran frekuensi tinggi melalui tubuhnya sendiri serta pembantu
atau asistennya.
7. Van Seynek (1899), mengamati terjadinya panas pada jaringan yang disebabkan aliran
frekuensi tinggi.
8. Schlephake (1982), melaporkan tentang pengobatan dengan menggunakan Short Wave.

2.3 Hukum Dalam Biolistrik

Ada dua hukum dalam biolistrik, yaitu : Hukum Ohm dan Hukum Joule.

Hukum Ohm menyatakan bahwa :

“Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan arus yang melewati,
dan berbanding terbalik dengan tahanan dari konduktor”.

Rumusnya yaitu : R ꞊ V/I

Dimana, R : hambatan (Ω), I : kuat arus (ampere), V : tegangan (Volt).

Hukum joule menyatakan bahwa :

“Arus listrik yang melewati konduktor dengan beda potensial (V), dalam waktu tertentu akan
menimbulkan panas”.
Rumusnya yaitu : Q =V I t

Dimana, Q : energi panas yang ditimbulkan (joule), V : tegangan (Volt), I : arus (A), t : waktu
lamanya arus mengalir (second).

Macam-Macam Gelombang Arus Listrik

Gelombang arus listrik bekaitan erat dengan penggunaan arus listrik untuk merangsang saraf
motoris atau saraf sensoris. Gelombang yang dimaksud diantaranya :

1. Arus bolak balik/sinosuidal

2. Arus setengah gelombang

3. Arus setengah penuh

4. Arus searah murni

5. Faradik

6. Sentakan faradik

7. Sentakan sinosuidal

8. Galvanik yang interuptus

9. Arus gigi gergaji

2.4 Kelistrikan dan Kemagnetan Yang Timbul Pada Tubuh Manusia

1. Sistem syaraf dan neuron

Sistem syaraf dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem syaraf pusat dan otonom. Sistem syaraf
pusat terdiri diantaranya otak, medulla spinalis dan perifer. Saraf perifer ini adalah saraf-saraf
yang mengirim informasi sensoris ke otak atau ke medulla spinalis disebut saraf afferen
sedangkan serat saraf yang menghantarkan informasi dari otak atau medula spinalis ke otot serta
kelenjar disebut sistem saraf efferen sedangkan sistem saraf otonom mengatur organ dalam tubuh
seperti jantung usus dan kelenjar-kelenjar sehingga pengontrolan sistem ini dilakukan dengan
tidak sadar yakni bekerja secara sendiri-sendiri.

2. Konsentrasi ion di dalam dan di luar sel

Ini merupakan suatu model potensial istirahat pada waktu = 0 dimana ion K akan melakukan
difusi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sehingga pada saat tertentu akan terjadi
membran dipole atau membran dua kutub di mana larutan dengan konsentrasi yang tadinya
rendah akan kelebihan ion positif, kebalikan dengan larutan yang konsenrasi tinggi akan
mengalam kekurangan ion sehingga menjadi lebih negatif.

3. Kelistrikan saraf

Dalam bidang Neuroatomi akan dibicarakan kecepatan impuls serat saraf, serat saraf yang
berdiameter yang besar mempunyai kemampuan menghantarkan impuls lebih cepat daripada
serat saraf yang mempunyai diameter yang kecil. Serat dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian
diantaranya A,B dan C.

Dengan menggunakan mikroskop elektron , serat saraf di bagi dalam dua tipe serta saraf yang
bermyelin dan tidak bermyelin.

4. Kelistrikan Pada Sinapsis dan Neuronyal Junction

Hubungan antara dua buah syaraf disebut sinapsis; berakhirnya syaraf pada sel otot/hubungan
syaraf otot disebur Neuromyal Junction.Baik sinapsis maupun neuromyal junction mempunyai
kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengam cara lompat dari satu sel ke sel yang
berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel membrane otot, oleh karena pada waktu
terjadi depolarisasi, zat kimia yang terdapat pada otot akan trigger/bergetar/berdenyut
menyebabkan kontraksi otot dan setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan
mengalami relaksasi.
5. Kelistrikan Otot Jantung

Sel membran otot jantung sangat berbeda dengan saraf dan otot bergaris, pada saraf maupun otot
bergaris dalam keadaan potensial membran istirahat dilakukan rangsangan maka ion-ion Na+
akan masuk kedalam sel dan setelah mencapai nilai ambang akan timbul depolrisasi sedangkan
pada sel sel otot jantung ion Na+ mudah terjadi kebocoran sehingga terjadi repolarisasi komplit,
ion Na+ perlahan-lahan akan masuk kembali ke dalam sel dengan akibat gterjadi gejala
depolarisasi secara spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi tanpa
memerlukan rangsangan dari luar.

Dapat diketahui membrane sel otot jantung tanpa rangsangan dari luar akan mencapai nilai
ambang dan menghasilkan potensial aksi pada suatu rate/kecepatan yang teratur. Rate/kecepatan
ini disebut Natural Rate/kecepatan dasar membrane sel otot jantung.

Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet. Medan magnet sekitar jantung
disebabkan adanya aliran listrik jantung yang mengalami depolarisasi dan repolarisasi.
Pencatatan medan magnet disebut magnetoksdiogram. Besar medan magnet sekita jantung
adalah sekitar 5 x 10 pangkat -11 T( Testa) atau sekitar 10 x 10 pangkat 8 medan megnet bumi.

7.Sinyal listrik dari Jantung (Elektrokardiogram)

Jantung mempunyai aktifitas listrik meliputi: Sino Atrio Nodus, Atrio Ventrikuler Nodus, Berkas
His dan Serabut Purkinje, inilah point penting dalam pembacaan EKG. Listrik jantung dihasilkan
oleh adanya reaksi sel jantung dengan ion Na+. Sel membran otot jantung (miokardium) berbeda
dengan saraf dan otot bergaris. Saraf dan otot bergaris memerlukan rangsangan supaya ion Na+
masuk ke dalam sel, proses masuknya ion Na+ ke dalam sel disebut proses depolarisasi.
Sedangkan depolarisasi pada sel otot jantung, ion Na+ mudah bocor (tidak memerlukan
rangsangan dari luar), setelah repolarisasi komplit, ion Na+ akan masuk lagi ke dalam sel yang
disebut depolarisasi spontan. Depolarisasi spontan ini menghasilkan gelombang depolarisasi
untuk seluruh otot miokardium. Depolarisasi sel membran otot jantung oleh perambatan
potensial aksi menghasilkan kontraksi otot sehingga terjadi denyut jantung.

Gerakan ritmis jantung dikendalikan oleh sebuah sinyal listrik yang diprakarsai oleh rangsangan
spontan dari sel-sel otot khusus yang terletak di atrium kanan. Sel-sel ini membentuk sinoatrial
(SA) node, atau alat pacu jantung alami (Gambar. 2.9). SA node berdetak secara berkala sekitar
72 kali per menit. Namun, laju detak dapat ditingkatkan atau dikurangi dengan saraf eksternal
untuk mengetahui respon jantung terhadap kebutuhan darah tubuh serta rangsangan lainnya.
Sinyal listrik dari SA node memulai depolarisasi saraf dan otot dari kedua atrium, menyebabkan
atrium berkontraksi dan memompa darah ke dalam ventrikel. Sehingga terjadilah repolarisasi
dari atrium tersebut. Sinyal listrik kemudian lolos ke atrioventrikular (AV) node, yang
mengawali depolarisasi ventrikel kanan dan kiri, menyebabkan mereka kontrak dan memaksa
darah masuk ke dalam paru dan sirkulasi umum. Saraf dan otot ventrikel kemudian mengalami
repolarisasi dan siklus dimulai lagi

8. Sinyal listrik dari otot (Elektromiogram)

Informasi diagnostik tentang otot dapat di peroleh dari aktivitas listriknya. Di bagian ini, kita
menelusuri transmisi potensial aksi dari akson ke otot, tempat potensial aksi tersebut
menimbulkan kontraksi otot. EMG dapat diperoleh dari otot atau unit motorik yang dirangsang
secara elektris.

Otot dimisalkan terdiri dari banyak unit motor. Sebuah unit motor terdiri dari sebuah neuron
bercabang tunggal dari batang otak atau kabel spinal dan 25-2000 serat otot (sel) yang terhubung
ke ujung pelat motor (Gambar 2.7). Potensial istirahat pada membran serat otot mirip dengan
potensial istirahat di serat saraf. Tindakan Otot dimulai oleh potensial aksi yang bergerak
sepanjang akson dan ditransmisikan melalui ujung pelat motorik ke serat otot, menyebabkan
serat otot saling kontraksi.

Gambar 2.7 Skema neuron dimulai dari spinal cord dan diakhiri beberapa sel Neuron dan sel otot
penghubung membuat sebuah unit motorik. (John R. Cameron, 1978: 190).

Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsis, berakhirnya saraf pada sel otot atau hubungan
saraf otot disebut Neuromyal Juction. Baik sinapsis maupun Neuromial Junction mempunyai
kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang
berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel membran otot, karena pada waktu
terjadi depolarisasi, zat kimia yang terdapat pada otot akan trigger/ bergetar/ berdenyut
menyebabkan kontraksi otot dan setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan
mengalami relaksasi.
.

2.5 Potensial listrik saraf

1. Potensial aksi sel

Potensial aksi adalah suatu peristiwa yang terjadi antara neuron dalam rangka untuk mengirim
pesan dari otak ke bagian-bagian tubuh yang berbeda, baik untuk tindakan sadar atau tak sadar.
Dalam arti sederhana, potensial aksi dapat digambarkan sebagai pulsa listrik pendek yang dibuat
di dalam badan sel neuron.

Urutan tahap potensial aksi adalah sebagai berikut:

a. Tahap Istirahat (Resting Membrane Potential)

Tahap ini adalah tahap potensial membran istirahat, sebelum terjadinya potensial aksi.

b. Tahap Depolarisasi

Membran tiba-tiba menjadi permeable terhadap ion NA sehingga banyak sekali ion NA mengalir
ke dalam akson. Keadaan polarisasi normal sebesar -90mV akan hilang dan potensial meningkat
dengan arah positif. Keadaan ini disebut depolarisasi.

c. Tahap Repolarisasi

Tahap ini, dalam waktu yang sangat singkat sekali sesudah membran menjadi permeable
terhadap ion NA, saluran NA mulai tertutup dan saluran K terbuka lebih daripada normal.
Kemudian difusi ion K yang berlangsung cepat ke bagian luar akan membentuk kembali
potensial membran istirahat negatif yang normal. Peristiwa ini disebut repolarisasi membran.

Aktivitas sel dari keadaan polarisasi menjadi depolarisasi dan kemudian kembali ke polarisasi
lagi disertai dengan terjadinya perubahan-perubahan pada potensial membran sel. Perubahan
tersebut adalah dari negatif di sisi dalam berubah menjadi positif dan kemudian kembali lagi
menjadi negatif. Perubahan ini menghasilkan suatu impuls tegangan yang disebut potensial aksi
(action potential). Potensial aksi dari suatu sel akan dapat memicu aktivitas sel-sel lain yang ada
di sekitarnya.
Perubahan-perubahan potensial membran mulai keadaan istirahat, depolarisasi, repolarisasi, dan
kembali istrahat diperlihatkan dalam Gambar 5. Perubahan potensial tersebut berupa impuls yang
disebut potensial aksi sel. Ada lima fase dalam potensial aksi tersebut yaitu fase 4, 0, 1, 2, dan 3.
Fase 4 adalah fase istirahat sel.

Gambar 5. Potensial aksi sel

Fase 0 adalah fase pada saat kanal sodium terpicu-tegangan (kanal cepat) terbuka sehingga ion-
ion sodium dengan cepat masuk ke dalam sel. Fase 1 adalah fase pada saat kanal potasium mulai
membuka (dengan lambat). Fase 2 adalah kombinasi fase menutupnya kanal sodium terpicu-
tegangan, membukanya kanal kalsium-sodium terpicu-tegangan (kanal lambat), dan
membukanya kanal potasium terpicu-tegangan. Fase ini disebut plateau. Fase 3 adalah fase
kombinasi menutupnya kanal-kanal sodium dan kalsium-sodium terpicu-tegangan serta
membukanya kanal potasium terpicu-tegangan. Selanjutnya sel kembali ke fase 4.

2. Potensial istirahat sel

Dalam keadaan istirahat, antara sisi dalam dan luar membran sel terdapat suatu beda potensial
yang disebut dengan potensial istirahat sel (cell resting potential). Potensial ini berpolaritas
negatif di sisi dalam dan positif di sisi luar membran sel. Dalam keadaan istirahat, di sisi dalam
dan luar membran sel sama-sama terdapat ion-ion potasium dan sodium, tetapi dengan
konsentrasi yang berbeda.

Difusi ion-ion potasium dan sodium menembus membran sel akan mempengaruhi potensial di
sisi dalam dan luar membran sel. Untuk melihat pengaruh kedua jenis ion tersebut pada potensial
membran sel, akan dilihat pengaruh masing-masing jenis ion tersebut secara sendiri-sendiri
terlebih dahulu, setelah itu baru diperhitungkan interaksi keduanya secara bersamaan. Untuk itu
akan dilihat terlebih dahulu pengaruh difusi ion potasium.

2.6 Syok Listrik

Syok listrik atau kejutan adalah suatu nyeri pada syaraf sensorik yang diakibatkan aliran listrik
yang mengalir secara tiba-tiba melalui tubuh. Kejadian syok listrik merupakan kejadian yang
timbul secara kebetulan. Bahaya syok listrik sangat besar, tubuh penderitya akan mengalami
ventricular fibrilon, kemudian diikuti dengan kematian. Oleh karena itu perlu diketahui
perubahan-perubahan yang timbul akibat syok listrik,metode pengaman sehingga bahaya syok
dapat dihindari.

Dalam bidang kedokteran ada dua jenis syok listrik antara lain:

1. Syok dengan tujuan tertentu


Syok listrik ini dilakukan atas dasar indikasi medis. Dalam bidang psiaktri dikenal
dengan nama” electric convultion teraphy” contohnya penderita psikosis (gangguan jiwa)
sengaja dilakukan syok dengan tujuan terapi, dimana diantara temporalis kanan dan kiri
penderita dialiri listrik dalam orde 0,5-1,5 Ampere dengan tegangan sebesar 80-110 volt
dalam waktu1/10 sampai 1/5 detik.
2. Syok tanpa tujuan tertentu
Timbul nyok ini diakibatkan dari suatu kecelakaan. Factor-faktor yang menyokong
sehingga terjadinya syok listrik ini adalah;
a. Peralatan
 Petunjuk penggunaan alat yang kurang jelas
 Prosedur testing secara teratur tidak atau kurang jelas
 Peralatan ECG yang lama tanpa penggunaan transformator
b. Perorangan
 Petugas-petugas yang kurang mendapatkan pelatihan
 Kurang pengertian tentang kelistrikan maupun bahaya-bahaya yang
ditimbulkan
 Kurang pengertian tentang cara proteksi bagi petugas sendiri maupun
penderita

2.7 Isyarat listrik tubuh

Isyarat listrik ( elektrical signal ) tubuh merupakan hasil perlakuan kimia dari tipe-tipe sel
tertentu. Dengan mengukur isyarat listrik tubuh secara selektif sangat berguna untuk memperoleh
informasi klinik tentang fungsi tubuh.

Yang termasuk dalam isyarat listrik tubuh :

a) EMG (Elektromiogram),

Yaitu pencatatan potensial otot biolistrik selama pergerakan otot. Ada 25-2.000 serat otot(sel),
dihubungkan dengan syaraf via motor end plate. EMG bisa digunakan untuk mengukur sel otot
tunggal maupun pada beberapa serat otot. Elektrode permukaan diletakkan pada permukaan
kulit untuk mengukur isyarat listrik dari sejumlah unit motoris. Electrode jarum konsentris
dimasukkan ke dalam kulit untuk mengukur aktivitas unit motoris tunggal.

b) ENG (elektroneurogram)

Tujuannya untuk mengetahui keadaan lingkungan, untuk mengetahui kecepatan konduksi syaraf
motoris dan sensosris, untuk menentukan penderita miastenia gravis. Kecepatan normal
konduksi saraf motoris berkisar 40-60 m/detik. Apabila kecepatan < 10 m/detik merupakan
pertanda kelainan saraf.

c) ERG (Elektroretionogram)

Suatu pencatatan bentuk kompleks potensial biolistrik yang ada pada retina mata yang di
kerjakan melalui rangsangan cahaya pada retina. Isyarat ERG sangat kompleks, karena
merupakan sumasi efek yang terjadi di dalam mata. Bila gelombang B tidak tampak pada ERG,
berarti retina penderita mengalami retinitis pigmentosa.

d) EOG (Elektrookulogram)

Suatu pengukuran/pencatatan berbagai potensial pada kornea-retina sebagai akibat perubahan


posisi dan gerakan mata.

e) EGG (Elektrogastrogram)

Merupakan EMG yang berkaitan gerakan peristaltic traktus gastrointestinalis.

f) EEG (Elektroensefalogram)

Yaitu pencatatan isyarat listrik otot. Pencatatan potensial aksi listrik otak merupakan sumasi dari
potensial aksi sel saraf di dalam otak. Amplitudo dari isyarat EEG merupakan gelombang denyut
demi denyut (peak to peak) dengan jarak antara 10 mV-100mV pada frekuensi di bawah 1 Hz
sampai lebih 100 Hz. Pemeriksaan EEG bertujuan untuk menggantikan fungsi EKG sebagai alat
monitor saat operasi, mendiagnosis epilepsy dan klasifikasi epilepsy, menunjukkan tumor otak
(aktivitas listrik pada daerah tumor otak akan menurun). Frekuensi EEG berkisar 8-13 Hz, pada
penderita berjaga memiliki frekuensi di atas 13 Hz. Ada 4 grup frekuensi normal isyarat listrik
EEG, Delta (lambat ; 0,5-3,5 Hz), Teta (menengah ; 4-7 Hz), Alfa ( normal ; 8-13 Hz), Beta
(cepat ; > 13 Hz).

g) EKG (Elektrokardiogram)

Merupakan pencatatan isyarat biolistrik jantung, di lakukan pada permukaan kulit. Irama jantung
diatur oleh isyarat listrik yang dihasilkan oleh rangsangan spontan pada SA Node.

Jenis-jenis Alat Kedokteran

a. EEG (Elektroensefalograf)

Bila ditempatkan electrode pada kulit kepala dan mengukur kegiatan elektris , akan ditemukan
sinyal elektris kompleks yang lemah. Potensial listrik dihasilkan melalui proses sinkronisasi
berselang-seling yang melibatkan syaraf pada permukaan otak (cortex), dengan kelompok-
kelompok berbeda menjadi sinkron pada waktu singkat yang berbeda. Rekaman sinyal inilah
yang disebut elektroensefalogram.

Alat yang digunakan untuk merekam sinyal ini disebut Elektroensefalograf. Elektrode yang
digunakan berupa disket kecil perak berklorida, terdiri dari dua macam ; electrode jarum
(permukaan kulit) dan electrode reference yang dipasang pada kedua daun telinga. Elektrode
dipasang di 10-20 saluran (standard internasional), secara rutin hanya 8-16 saluran electrode
yang dipakai & dicatat serentak, jarak tiap-tiap electrode dengan interval 10% dan 20%.
Frekuensi sinyal EEG tampak terikat pada aktivitas mental seseorang. Amplitudo EEG
meningkat dan frekuensi menurun seiring seseorang tertidur lebih lelap. EEG yang diambil
selama tidur menunjukkan pola frekuensi tinggi = paradoxical sleep atau Rapid Eye Movement
(REM) karena mata bergerak selama periode ini. Hal ini timbul berkaitan dengan mimpi .

b. EKG (Elektrokardiograf)

Depolarisasi dan repolarisasi otot-otot jantung menyebabkan arus mengalir ke dalam torso,
menyebabkan potensial listrik pada kulit. Rekaman potensi jantung pada permukaan kulit disebut
elektrokardiogram (ECG). Alat yang digunakan untuk merekam potensial listrik jantung disebut
Elektrokrdiograf.

Permukaan electrode untuk mendapatkan gambaran EKG (terdiri dari 12 lead), diletakkan di :
a. lengan kiri (LA)
b. lengan kanan (RA)
c. kaki kiri (LL)
d. V1 (Ruang iga IV pada garis sternal kanan)
e. V2 (Ruang iga IV pada garis sternal kiri)
f. V3 (Terletak di tengah antara V2 dan V4)
g. V4 ( Ruang iga V garis tengah Klavikula Kiri)
h. V5 ( Ruang iga V garis aksilla depan kiri)
i. V6 (Ruang iga V garis aksilla tengah kiri)

Masing- masing pencatatan EKG, memetakan proyeksi vector kutub elektris atau aktifitas
elektris jantung, melalui setiap bagian lingkarnya.

Kegiatan elektris utama untuk siklus jantung yang normal antara lain :
a. Depolarisasi serambi jantung yang memproduksi gelombang P
b. Polarisasi ulang serambi jantung yang jarang terlihat dan tidak berlabel
c. Depolarisasi bilik jantung yang memproduksi kesatuan QRS
d. Polarisasi ulang bilik jantung yang memproduksi gelombang T

PR segment menunjukkan berhentinya impuls pada AV Node (Tidak ada transmisi


impuls di AV Node) ST Segment menunjukkan tidak adanya transmisi impuls disebabkan
adanya periode refrakter di sel miokardium Bentuk gelombang EKG ada yang positif dan
negative tergantung pada arah kutub vector elektris dan polaritas serta posisi elektroda dari alat
pengukur.
BAB III

3.1 Kesimpulan

Biolistrik merupakan energi yang dimiliki setiap manusia yang bersumber dari ATP (Adenosine
Tri Posphate), dimana ATP ini di hasilkan oleh salah satu energi yang bernama mitchondria
melalui proses respirasi sel. pada akhir abad 18 hal-hal mengenai listrik diteliti. Ilmuan yang
meneliti listrik diantaranya Gilbert (1600), Du Fay(1700),Luigi Galvani (1786), Milikan(1869-
1953), Caldani(1856),Arons(1892), Van seynek(1899), Schlephake(1982). Ada dua hukum
dalam biolistrik, yaitu : Hukum Ohm dan Hukum Joule.Hukum Ohm menyatakan bahwa
“Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan arus yang melewati,
dan berbanding terbalik dengan tahanan dari konduktor”. Hukum joule menyatakan bahwa
:“Arus listrik yang melewati konduktor dengan beda potensial (V), dalam waktu tertentu akan
menimbulkan panas”. Kelistrikan dan kemagnetan yang timbul pada manusia. Yakni ada Sistem
syaraf dan neuron,Konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, Kelistrikan saraf, Kelistrikan Pada
Sinapsis dan Neuronyal Junction, Kelistrikan Otot Jantung Sinyal listrik dari Jantung
(Elektrokardiogram), dan yang terakhir sinyal listrik dari otot. Potensial listrik saraf terdiri dari
potensial aksi sel (tahap istirahat,depolarisasi,repolarisasi) dan potensial istirahat sel. Syok listrik
atau kejutan adalah suatu nyeri pada syaraf sensorik yang diakibatkan aliran listrik yang
mengalir secara tiba-tiba melalui tubuh. Dalam bidang kedokteran ada dua jenis syok listrik yaitu
syok dengan tujuan tertentu dilakukan atas dasar indikasi medis. Syok tanpa tujuan tertentu
timbul nyok ini diakibatkan dari suatu kecelakaan. Isyarat listrik ( elektrical signal ) tubuh
merupakan hasil perlakuan kimia dari tipe-tipe sel tertentu. Adapun yang termasuk isyarat listrik
yaitu EMG (Elektromiogram), ENG (elektroneurogram), ERG (Elektroretionogram), EOG
(Elektrookulogram), EGG (Elektrogastrogram), EEG (Elektroensefalogram). Alat kedokteran
yang memanfaatkan biolistrik antara lain EEG dan EKG.

3.2 Saran

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik, dan tentunya masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, masih perlu kritik dan saran yang
membangun serta bimbingan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis.
.