Anda di halaman 1dari 6

Sejarah Clostridium Perfringens

Clostridium perfringens juga dikenal sebagai Clostridium welchii dan merupakan


anggota dari bakteri kerajaan. C. perfringens ditemukan pada tahun 1892 oleh dua orang: George
Nuttall dan William Welch yang dan masih dua orang yang dihormati baik di sana lapangan.
George Nuttall adalah seorang bakteriologi Amerika-Inggris tetapi memberikan kontribusi untuk
banyak bidang ilmu. Nuttall mendirikan Molteno Institut Biologi dan Parasitologi di Cambridge
University dan dia bertugas di sana sampai 1921. Nuttall juga mendirikan Journal of Hygiene tahun
1901 dan Journal of Parasitologi pada tahun 1908, ia juga diedit untuk kedua jurnal. William
Welch memulai studinya di AS patologi dan terus mereka di Jerman. Ia kemudian kembali ke
Amerika Serikat di mana ia membuka laboratorium patologi pertama di Bellevue Hospital Medical
College di New York City pada tahun 1879. Ia pergi dari laboratorium patologi dan pada tahun
1893 diarahkan Johns Hopkins University dan mulai pertama jurusan patologi di AS Kedua pria
telah membuat penemuan besar dan tayangan yang kekal dalam biologi.

Definisi Bakteri Clostridium Perfringens


Clostridium perfringens adalah spesies bakteri gram-positif yang dapat membentuk
spora dan menyebabkan keracunan makanan. Bakteri yang memiliki gram positif, umunya tidak
selalu diwarnai dengan pewarna gram positif. Reproduksi umunya dengan pembelahan biner.
Bakteri pada kategori ini memproduksi spora sebagai bentuk dormannya (endorspora). Organism
ini umumnya khemosintetis heterotrof.

Clostridium perfringens

Beberapa karakteristik dari bakteri ini adalah non-motil (tidak bergerak), sebagian besar
memiliki kapsul polisakarida, dan dapat memproduksiasam dari laktosa. C. perfringens dapat
ditemukan pada makanan mentah, terutama daging dan ayam karena kontaminasi tanah atau tinja.
Bakteri ini dapat hidup pada suhu 15-55 °C, dengan suhu optimum antara 43-47 °C. Clostridium
perfringens dapat tumbuh pada pH 5-8,3 dan memiliki pH optimum pada kisaran 6-7. Sebagian C.
perfringens dapat menghasilkan enterotoksin pada saat terjadi sporulasi dalam usus manusia.
Spesies bakteri ini dibagi menjadi 6 tipe berdasarkan eksotoksin yang dihasilkan, yaitu A, B, C,
D, E dan F. Sebagian besar kasus keracunan makanan karena C. perfringens disebabkan oleh galur
tipe A, dan ada pula yang disebabkan oleh galur tipe C

Taksonomi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Bacteria
Divisi : Firmicutes
Kelas : Clostridia
Ordo : Clostridiales
Famili : Clostridiaceae
Genus : Clostridium
Spesies : Perfringens

Morfologi Clostridium Perfringens


Batang gemuk garam positif, berbentuk lurus, sisinya sejajar, ujung-ujungnya
membulat/bercabang & berukuran 4 – 6 µ x 1 µ, sendiri-sendiri / tersusun bentuk rantai. Bersifat
pleomorfik, sering tampak bentuk-bentuk involusi dan & filament. Bersimpai dan tidak bergerak.
Sporanya sentral / subterminal.
Patogenesis
Hanya tipe A dan F yang pathogen untuk manusia. Tipe A menyebabkan gas
gangrene & keracunan makanan.
Gas Gangrene
Gas-gangren adalah infeksi luka dalam yang paling sering dikaitkan dengan alpha-racun
dari C. perfringens tipe A. Hal ini ditandai oleh peradangan yang cepat di tempat infeksi,
pembengkakan, nyeri akut ekstrim, dan, akhirnya, nekrosis jaringan yang terinfeksi . Selain racun
merusak, bakteri juga menghasilkan gas: komposisi 5,9% hidrogen, 3,4% karbon dioksida, 74,5%
nitrogen dan oksigen 16,1% dilaporkan dalam satu kasus klinis.
Clostridium perfringens tipe A merupakan penyebab utama gangrene gas. Kuman
masuk ke dalam luka bersama benda asing bersama tanah, debu dll.
3 jenis infeksi luka yang anaerob :
1. Pencernaan luka biasa tanpa invasi ke dalam jaringan di bawahnya sehingga penyembuhan
luka terlambat.
2. Selulitis anaerob
3. Miositis anaerob
Pengobatan biasanya melibatkan eksisi / amputasi, dan antibiotik. Terapi oksigen
hiperbarik (HBOT) juga dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh
anaerobik C. perfringens.
Keracunan makanan
Kuman-kuman tipe A membuat tosin alfa & beta, sporanya tahan terhadap pemanasan, tidak
hemolitik. Masa inkubasi berlangsung 10 – 12 jam, timbul gejala rasa sakit pada perut, muntah.

Cara-cara Penularan
Cara penularan adalah karena menelan makanan yang terkontaminasi oleh tanah dan tinja
dimana makanan tersebut sebelumnya disimpan dengan cara yang memungkinkan kuman
berkembangbiak. Hampir semua KLB yang terjadi dikaitkan dengan proses pemasakan makanan
dari daging (pemanasan dan pemanasan kembali) yang kurang benar, misalnya kaldu daging,
daging cincang, saus yang dibuat dari daging sapi, kalkun dan ayam. Spora dapat bertahan hidup
pada suhu memasak normal. Spora dapat tumbuh dan berkembang biak pada saat proses
pendinginan, atau pada saat penyimpanan makanan pada suhu kamar dan atau pada saat
pemanasan yang tidak sempurna.
KLB biasanya dapat dilacak berkaitan dengan usaha katering, Clostridium perfringens
restoran, kafetaria dan sekolah-sekolah yang tidak mempunyai fasilitas pendingin yang memadai
untuk pelayanan berskala besar. Diperlukan adanya Kontaminasi bakteri yang cukup berat (yaitu
lebih dari 105 organisme per gram makanan) untuk dapat menimbulkan gejala klinis.

Gejala-gejala keracunan makanan oleh bakteri Clostridium perfringens


Keracunan makanan ´perfringens´ merupakan istilah yang digunakan untuk keracunan
makanan yang disebabkan oleh C. perfringens Penyakit yang lebih serius, tetapi sangat jarang,
juga disebabkan oleh konsumsi makanan yang terkontaminasi strain Type Clostridium. Penyakit
yang ditimbulkan strain type C ini dikenal sebagai enteritis necroticans atau penyakit pig-bel .
Keracunan perfringens secara umum dicirikan dengan kram perut dan diare yang mulai
terjadi 8-22 jam setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak C. perfringens
penghasil toxin penyebab keracunan makanan. Penyakit ini biasanya sembuh dalam waktu 24 jam,
namun pada beberapa individu, gejala ringan dapat berlanjut sampai 1 hingga 2 minggu. Beberapa
kasus kematian dilaporkan akibat terjadi dehidrasi dan komplikasi-komplikasi lain.
Necrotic enteritis (penyakit pig-bel ) yang disebabkan oleh C. perfringens sering berakibat
fatal. Penyakit ini juga disebabkan karena korban menelan banyak bakteri penyebab penyakit
dalam makanan yang terkontaminasi. Kematian karena necrotic enteritis ( pig-bel syndrome )
disebabkan oleh infeksi dan kematian sel-sel usus dansepticemia (infeksi bakteri di dalam aliran
darah) yang diakibatkannya. Penyakit ini sangat jarang terjadi.
Dosis infektif – Gejala muncul akibat menelan sejumlah besar (lebih dari 10 - 8 ) sel
vegetatif. Produksi racun di dalam saluran pencernaan (atau di dalam tabung reaksi) berhubungan
dengan proses pembentukan spora. Penyakit ini merupakan infeksi pada makanan; hanya satu
sajian memungkinkan terjadinya keracunan (penyakit timbul karena racun yang terbentuk sebelum
makanan dikonsumsi)

Diagnosis laboratories oleh bakteri Clostridium perfringens


Gastroenteritis adalah salah satu penyakit ang disebakan oleh Clostridium
perfringens.Gastroenteritis ini disebabkan karena memakan makanan yang tercemar oleh toksin
(racun) yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium perfringens. Cara penularannya dengan menelan
makanan yang terkontaminasi oleh tanah dan tinja dimana makanan tersebut sebelumnya disimpan
dengan cara yang memungkinkan kuman berkembangbiak. Hampir semua KLB yang terjadi
dikaitkan dengan proses pemasakan makanan dari daging (pemanasan dan pemanasan kembali)
yang kurang benar, misalnya kaldu daging, daging cincang, saus yang dibuat dari daging sapi,
kalkun dan ayam. Spora dapat bertahan hidup pada suhu memasak normal. Spora dapat tumbuh
dan berkembang biak pada saat proses pendinginan, atau pada saat penyimpanan makanan pada
suhu kamar dan atau pada saat pemanasan yang tidak sempurna. KLB biasanya dapat dilacak
berkaitan dengan usaha katering, restoran, kafetaria dan sekolah-sekolah yang tidak mempunyai
fasilitas pendingin yang memadai untuk pelayanan berskala besar. Diperlukan adanya
Kontaminasi bakteri yang cukup berat yaitu lebih dari 105 organisme per gram makanan) untuk
dapat menimbulkan gejala klinis.
Pencegahan keracunan makanan oleh bakteri Clostridium perfringens
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk melakukan tindakan pencegahan penyebaran bakteri
Clostridium perfringens adalah dengan cara-cara sebagai berikut:
· Pendidikan tentang dasar-dasar kebersihan merupakan hal yang sangat penting dalam sanitasi
makanan
· Jangan biarkan makanan berada pada suhu kamar yang memungkinka mikroorganisme yang
mengkontaminasi berkembang biak
· Lakukan pemasakan dengan sempurna sebelum dihidangkan agar dapat tercegah dari infeksi dan
keracunan

Pengobatan keracunan makanan oleh bakteri Clostridium perfringens


Pengobatan penyakit ini dapat dilakukan dengan, penderita diberi cairan dan dianjurkan
untuk istirahat. Pada kasus yang berat, diberikan penicillin. Jika penyakit ini sudah merusak bagian
dari usus halus, mungkin perlu diangkat melalui pembedahan.

Bahan Pangan Pontensial Bakteri Clostridium Perfringens

Pemeriksaan makanan potensi bakteri


1. Uji organoleptik: melihat tanda-tanda kerusakan masing-masing produk yaitu:

- Perubahan kekenyalan/tekstur pada daging dan ikan.

- Perubahan kekentalan (viskositas) pada produk-produk cair seperti susu, santan sari , buah, sup, kaldu,
dan lain-lain.

- Perubahan warna pada semua produk pangan.

- Perubahan bau pada semua produk pangan.

- Pembentukkan lendir pada semua produk pangan berkadar air tinggi (daging, ikan, sayuran, sup, kaldu,
dan lain-lain).

2. Uji fisik, yaitu:

- Perubahan pH pada semua bahan pangan dan produk pangan

- Perubahan viskositas (viskosimeter)

- Perubahan indeks refraktif pada air daging

- perubahan warna (chromameter)


- Perubahan tekstur (teksturometer)

3. Uji kimia, yaitu:

- Uji H2S

- Uji TMA

- Uji VRS

- Uji reduksi nitrat

- Uji katalase

- Uji reduksi warna (pada susu dan santan)

- Uji etanol (pada susu)

4. Uji mikrobiologis, yang paling sederhana dan cepat yaitu uji secara mikroskopis dengan menghitung
jumlah mikroba.

5. Uji Reduksi Warna dengan Biru Metilen , Salah satu cara untuk menghitung jumlah sel di dalam
contoh secara tidak langsung adalah dengan uji reduksi biru metilen.