Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN

PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI III

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Bakteriologi III

Dosen :

1. Pestariati, S.Si, M.Kes

2. Tacik Idayanti, S.ST

Oleh :

1. Desty Ratna Ayu P P27834117001


2. Ellen Restining Tyas P27834117002
3. Febri Fitra Nur P27834117003
4. Hikma Candra Triana P27834117004
5. Syafira Rizqy F P27834117005
6. Mega Ayu Putri S P27834117006

Prodi D4 Analis Kesehatan/Semester 4


Poltekkes Kemenkes Surabaya 2018/2019
Jl. Karang Menjangan No. 18A, Airlangga, Gubeng Kota Surabaya
ANGKA LEMPENG TOTAL

1. Definisi
Angka lempeng total adalah angka yang menunjukkan jumlah bakteri mesofil dalam tiap-
tiap 1 mL atau 1 gram sampel makanan yang diperiksa.

2. Tujuan
Untuk mengetahui jumlah dari pertumbuhan bakteri pada sampel makanan.

3. Teori dasar
Uji angka lempeng total dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu teknik cawan tuang
(pour plate) dan teknik sebaran (spread plate). Pada prinsipnya dilakukan pengenceran
terhadap sediaan yang diperiksa kemudian dilakukan penanaman pada media lempeng
agar. Jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada lempeng agar dihitung setelah inkubasi
pada suhu dan waktu yang sesuai. Perhitungan dilakukan terhadap petri dengan jumlah
koloni bakteri antara 30-300. Angka lempeng total dinyatakan sebagai jumlah koloni
bakteri hasil perhitungan dikalikan faktor pengenceran.

4. Prinsip
Menghitung pertumbuhan koloni bakteri aerob mesofil setelah sampel makanan ditanam
pada lempeng media yang sesuai dengan cara tuang kemudian dieramkan selama 24-48
jam pada suhu 35-37oC.

5. Metode
Angka lempeng total ini digunakan untuk menentukan jumlah total mikroorganisme
aerob dan anaerob (psikrofilik, mesofilik dan termofilik).
a. Psikofilik adalah kelompok mikroorganisme yang hidup pada suhu <20oC
b. Mesofilik adalah kelompok mikroorganisme yang hidup pada suhu 20-40oC
c. Termofilik adalah kelompok mikroorganisme yang hidup pada suhu >40oC

6. Alat
- Petridish - Labu
- Ose - Pipet
- Bunsen - Inkubator
- Tabung reaksi - Penghitung koloni

7. Media
- Nutrient agar

8. Langkah kerja
a. Air yang akan diperiksa harus dikocok lebih dulu di dalam labu
b. Jika sampel bentuk padat, timbang bahan yang akan diperiksa secara aseptic
sebayak 20 gram.
c. Buat pengenceran 101, 102, 103, 104, 105, dst. Larutkan dengan 180 mL fosfat
steril pH 7,2.
d. Siapkan 6 petridish steril, tiap-tiap petridish di isi 1 mL sampel dan tulis besarnya
pengenceran.
e. Satu blanko petridish di isi dengan buffer fosfat 1 mL sebagai kontrol.
f. Siapkan nutrient agar yang telah dicairkan dengan jalan mendidihkan pada alat
penangas.
g. Tunggu suhu nutrient agar hingga 50oC.
h. Setelah suhu 50oC, tuangkan pada setiap petridish 18-20 mL nutrient agar
tersebut, sambil petridish digoyang agar merata.
i. Tunggu hingga membeku (dingin) kurang lebih 20 menit pada suhu kamar.
j. Inkubasi pada inkubator selama 24 jam dengan suhu 37oC.
k. Hitung jumlah koloni dengan coloni counter setelah 24 jam.

9. Hasil pengamatan

Sampel I : Teh Poci

Sampel II : Teh Warung

Sampel III : Kopyor


SAMPEL Jumlah Koloni dalam setiap Pengenceran

Kontrol 101 102 103 104 105

Teh Poci 1 ∞ ∞ ∞ 83 27

Teh Warung 1 ∞ ∞ 262 61 6

Kopyor 1 ∞ ∞ ∞ ∞ ∞

Perhitungan Jumlah Bakteri yang terbentuk:

 Sampel The Poci = ( €Koloni sampel - €Koloni Kontrol ) x Pengenceran


= (83-1) x 104
= 820.000 Koloni

 Sampel Teh Warung = ( €Koloni Sampel - €Koloni Kontrol ) x Pengenceran


= (262-1) x 103
= 261.000 Koloni

 Sampel kopyor = Jumlah Bakteri ∞ (tak terhingga) jadi tidak dilakukan


perhitungan

10. Hasil Pengamatan


Sampel Teh Poci
Kontrol 101 102

103 104 105


Sampel Teh Warung
Kontrol 101 102

103 104 105

Sampel Kopyor
Kontrol 101 102

103 104 105


11. Pembahasan
Untuk mengetahui bahwa bahan baku, bahan tambahan maupun sediaan jadi tidak
mengalami perubahan sifat serta bebas dari kontaminan mikroba, maka diperlukan uji
mikrobiologis, meliputi pengujian angka lempeng total (ALT), dan uji cemaran bakteri /
kapang. Jika telah dilakukan uji-uji tersebut, dan tidak ditemukan bakteri dan kapang yang
sesuai standar SNI, maka produk tersebut layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

12. Kesimpulan
Pada praktikum Angka Lempeng Total (ALT), terdapat 3 sampel yang terdiri dari sampel
I yaitu Teh poci, sampel II yaitu Teh warung dan sampel III yaitu Es kopyor. Dari ketiga
sampel tersebut, ketiganya mengandung mikroorganisme sehingga saat diinkubasi dengan
media nutrient agar tumbuh koloni. Koloni yang termasuk pada ALT adalah 30-300 koloni
per petridish. Pada sampel I, koloni yang masuk pada rentang koloni adalah pada
pengenceran 104 yaitu 83 koloni. Lalu jumlah bakteri dalam 1 mL/24 jam pada sampel I
adalah 820.000 koloni. Lalu pada sampel II, koloni yang masuk dalam rentang koloni
adalah pada pengenceran 103 yaitu 262 koloni. Dan jumlah bakteri dalam 1 mL/24 jam
pada sampel II adalah 261.000 koloni. Dan pada sampel III, koloni yang masuk tidak
terhingga.
MOST PROBABLE NUMBER (MPN)

A. TUJUAN
Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui kualitas sampel air yang
diuji berdasarkan nilai MPN Coliform.

B. PRINSIP
Kuman E.coli dan coliform merupakan indikator adanya pencemaran di dalam air. Dengan
media tertentu kuman E.coli dan coliform dibiakan dan dilihat ada tidaknya gas dalam media
tersebut.

C. DASAR TEORI
Analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan penting dilakukan untuk mengetahui
mutu bahan pangan, dan proses yang akan diterapkan pada bahan pangan tersebut. Ada
beberapa cara untuk mengukur atau menghitung mikrobia yaitu dengan perhitungan jumlah
sel, perhitungan massa sel secara langsung, dan pendugaan massa sel secara tak langsung.
Perhitungan jumlah sel dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu dengan hitungan mikroskopik,
MPN (Most Probable Number), dan hitungan cawan (BPOM RI, 2008).

Adanya bakteri coliform didalam makanan atau minuman menunjukkan adanya mikroba yang
bersifat enteropatogenik yang berbahaya bagi kesehatan. Bakteri Coliform dapat dibedakan
atas dua kelompok yaitu Coliform fecal misalnya Escherichia coli dan Coliform nonfecal
misalnya Enterobacter aerogenes. Escherichia coli merupakan bakteri yang berasal dari
kotoran hewan atau manusia, sedangkan Enterobacter aerogenes ditemukan pada hewan atau
tumbuhan yang telah mati. Adanya Escherichia coli pada air minum menandakan air tersebut
telah terkontaminasi feses manusia dan mungkin juga mengandung patogen usus. Uji kualitatif
Coliform secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji dugaan (Presumtive test), uji penetapan
(Confirmed test), dan uji pelengkap (Completed test) (Sahdan, 2010).
Bakteri Coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya
sebenarnya, bakteri Coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri
patogen. Penentuan Coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah
koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi
Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain.
Contoh bakteri Coliform adalah Escherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, Coliform
adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan Coliform, artinya, kualitas air semakin
baik (Hartini, 2011).

D. METODE
Kulture

E. SAMPEL
1. Es Batu
2. Es Teh
3. Kuah kaldu Pentol

F. MEDIA
1. Lactosa Broth I (LB I)
2. Lactosa Broth II (LB II)
3. Escherecia coli Broth (EC Broth)

G. ALAT
1. Petridisk
2. Ose Loop
3. Bunsen
4. Tabung LB
5. Erlenmeyer
6. Gelas Ukur
7. Inkubator
8. Colony Counter
9. Pipet matt

H. PROSEDUR
a. Tes Pendahuluan
Ragam 1 : Untuk spesimen yang diolah atauangka kumannya diperkirakan rendah,
digunakan ragam 5.1.1 yang terdiri dari :
1. Menambahkan pada 5 tabung dengan media Lactosa Broth II (LB II) 10 mL
2. Menambahkan masing-masing 10 mL sampel pada masing-masing 5 tabung
3. Menambahkan pada 1 tabung dengan media Lactosa Broth I (LB I) 10 mL
4. Menambahkan 1 mL sampel pada tabung
5. Menambahkan pada 1 tabung dengan media Lactosa Broth I (LB I) 10 mL
6. Menambahkan 0,1 mL sampel pada tabung
7. Mengocok merata dan diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37˚C
8. Melakukan prosedur 1 sampai 6 pada masing-masing sampel

Pembacaan :

Diperhatikan ada atau tidaknya gas dalam tabung. Tes dikatakan positif apabila terbentuk
gas (terlihat gelembung-gelembung halus dalam tabung atau adanya udara dalam tabung
durham). Apabila tes pendahuluan positif maka dilanjutkan tes penegasan.

b. Tes Penengasan

Tiap tabung yang positif pada tes pendahuluan dipindahkan 1 sampai 2 ose ke dalam
tabung tes penegasan yang berisi 10 mL Escherecia coli Broth (EC Broth). Inkubbasi
selama 24-48 jam pada suhu 37˚C untuk memastikan adanya total koliform.

Pembacaan :
Diperhatikan adanya gas atau tidak dalam tabung, lalucatat jumlah tabung EC yang positif
gas dan mencocokan dengan tabel MPN sehingga diperoleh indek MPN Coliform pada
suhu 37ºC dan dicocokan tabel sesuai dengan ragam yang digunakan.

I. Hasil Pengamatan

Sampel Teh Poci

Setelah Inkubasi Setelah Inkubasi Di Media EC-Broth

Sampel Teh Warung

Setelah Inkubasi Setelah Inkubasi Di Media EC-Broth

Sampel Kopyor

Setelah Inkubasi Setelah Inkubasi Di Media EC-Broth


J. PEMBAHASAN
Hasil yang didapatkan pada uji pendahuluan pada sampel teh poci pada ragam 511 dari 5
tabung reaksi berisi media LB II yang ditambahkan 10 mL sampel didapatkan 5 tabung reaksi
yang positif, dari 1 tabung LB I yang ditambahkan 1 mL sampel didapatkan 1 tabung reaksi
yang positif, dan dari 1 tabung LB I yang ditambahkan 0,1 mL sampel didapatkan 1 tabung
reaksi yang positif.
Hasil yang didapatkan pada uji pendahuluan pada sampel teh warung pada ragam 511 dari
5 tabung reaksi berisi media LB II yang ditambahkan 10 mL sampel didapatkan 5 tabung reaksi
yang positif, dari 1 tabung i LB I yang ditambahkan 1 mL sampel didapatkan 1 tabung reaksi
yang positif, dan dari 1 tabung LB I yang ditambahkan 0,1 mL sampel didapatkan 1 tabung
reaksi yang positif.
Hasil yang didapatkan pada uji pendahuluan pada sampel es kopyor pada ragam 511 dari
5 tabung reaksi berisi media LB II yang ditambahkan 10 mL sampel didapatkan 5 tabung reaksi
yang positif, dari 1 tabung LB I yang ditambahkan 1 mL sampel didapatkan 1 tabung reaksi
yang positif, dan dari 1 tabung reaksi berisi LB I yang ditambahkan 0,1 mL sampel didapatkan
1 tabung reaksi yang positif.
Indikator yang menandakan bahwa uji pendahuluan ini positif atau negatif yaitu positif (+)
apabila terdapat gelembung gas di dalam tabung durham pada tabung reaksi, dan hasil negatif
(-) apabila tidak terdapat gelembung gas di dalam tabung durham pada tabung reaksi. Apabila
tes pendahuluan positif maka dilanjutkan tes penegasan.
Pada tes penegasan, tiap tabung yang positif pada tes pendahuluan dipindahkan 1 sampai
2 ose ke dalam tabung tes penegasan yang berisi 10 mL Escherecia coli Broth (EC Broth).
Lalu Inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37˚C untuk memastikan adanya total koliform.
Diperhatikan adanya gas atau tidak dalam tabung, lalu catat jumlah tabung EC yang positif gas
dan mencocokan dengan tabel MPN sehingga diperoleh indek MPN Coliform pada suhu 37ºC
dan dicocokan tabel sesuai dengan ragam yang digunakan.
Adapun hasil yang didapatkan pada uji penegasan pada sampel teh poci pada ragam 511
didapatkan hasil :

Volume (mL) Indeks MPN/100 mL


10 1 0,1

5 1 1 240

Adapun hasil yang didapatkan pada uji penegasan pada sampel teh warung pada ragam 511
didapatkan hasil :

Volume (mL) Indeks MPN/100 mL


10 1 0,1

5 1 1 240

Adapun hasil yang didapatkan pada uji penegasan pada sampel Es kopyor pada ragam 511
didapatkan hasil :

Volume (mL) Indeks MPN/100 mL


10 1 0,1

5 1 1 240

K. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari percobaan ini diperoleh nilai MPN pada sampel Teh poci sebanyak
240 MPN/100 mL, pada sampel Teh warung sebanyak 240 MPN/100 mL dan pada sampel Es
kopyor sebanyak 240 MPN/100 mL.
URINE KULTUR

I. Teori dasar
Dalam keadaan normal urin yang diproduksi ginjal sampai ke kandung air kemih adalah steril.
Sejak dari urethra terus keluar bisa didapatkan flora normal air kemih dalam jumlah terbatas
atau sedikit. Bakteri gram positif yang sering ditemui adalah staphylococcus non koagulase,
alfa dan beta streptococcus, streptococcus faecalis dan bakteri gram negative proteus sp,
ccoliform. Pemeriksaan urine dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit infeksi saluran
kencing.

Cara pengambilan sampel urine

1. Urin pagi porsi tengan (mid stream urine)


2. Catheter urine
3. Supra pubic bledder puchture
Sebelum sampel urine di ambil :
Orificium urethra ext dan sekitarnya dicuci dengan air dan sabun berulang kemudian
dikeringkan.
Untuk culture urine : sesudah pengambilan 15 – 20 menit harus sudah ditanam

II. Metode
Kulture

III. Sampel
Urine

IV. Media
- Nutrient agar
- Blood agar base (bap)
- Mc conkey (mc)
- Manitol salt agar (msa)
- Triple sugar iron agar (tsia)
- Biokimia reaksi : glukosa, laktosa, maltose, manosa, sukrosa, vp, mr motility (semisolid),
simmon citrate, urea, air pepton

V. Alat
- Cawan petri/petridisk
- Ose
- Lampu spirtus / bunsen
- Tabung reaksi ukuran 12 x 100 mm
- Erlenmeyer
- Beaker glass
- Pipet pasteur
- Matt pipet
- Rak tabung reaksi
- Penghitung koloni
- Batang pengaduk
- Object glass
- Pinset
- Tablet antibiotic

VI. Prosedur
1. Menghitung jumlah bakteri dengan Total Plate Count (TPC/ALT)
a. Buat pengenceran urine dengan buffer steril pH 7 (aquades pH 7), dimulai 101, 102,
103, 104, sampai 105
b. Pengenceran pertama (pengenceran 101) pada erlenmeyer dengan sampel urine yaitu
25 ml diaddkan dengan buffer steril pH 7 sampai 225 ml.
c. Siapkan 6 petridish steril , tiap-tiap petridish di isi 1 ml dan tulis sama dengan besarnya
pengenceran
d. Satu blanko petridish di isi 1 ml buffer steril pH 7 sebagai control
e. Setiap pengenceran air kemih diambil 1 ml. Masukkan ke petridish steril
f. Tambahkan ±15 ml Nutrient Agar steril yang masih cair dan bersuhu 45°-50°C. Dan
goyang-goyang seperti angka 8 tetapi jangan sampai terkena tutup petridish sampai
tercampur sempuran. Tangguhkan hingga padat. Selanjutnya inkubasi 37°C selama 24
jam
g. Setelah inkubasi, dihitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh menggunakan colony
counter pilih pengenceran yang ditumbuhi sekitar 30-300 koloni saja.
h. Hitung total bakteri dan masukkan dalam rumus

2. Identififkasi bakteri penyebab infeksi saluran kencing


a. Jika ditentukan jumlah bakteri lebih dari 100.000 bakteri/ml, maka harus ditentukan
bakteri penyebab ISK
b. Sentrifuge urine dengan 2500-3500 rpm selama 20 menit
c. Endapan diinokulasikan pada media agar darah (BAP) dan MC selama 24 jam 37°C
d. Buat sediaan gram dari sedimen dan periksa di bawah mikroskop
e. Setelah 24 jam, amati pertumbuhan bakteri
f. Lanjutkan pemeriksaan ke reaksi biokimia untuk menentukan spesies kuman untuk
gram negatif
g. Lanjutkan ke NAS dan MSA untuk menentukan spesies gram positif
h. Setelah di tentukan spesies kumam penyebab ISK dibuat biakan murni untuk dilakukan
pemeriksaan “Tes Kepekaan Antibiotik”
RUMUS:

Banyaknya bakteri = ( Ksampel-Kkontrol) X Pengenceran


VII. Data Pasien

Sampel :

1. Nama : Ny.X
2. Usia : 48 tahun
3. Jenis kelamin : perempuan
4. Alamat : Surabaya

VIII. Hasil pengamatan


A. Perhitungan ALT
Total bakteri :
Pengenceran Koloni Sampel

101 ∞

102 ∞

103 148

104 34

105 6

Kontrol : 0

Perhitungan Jumlah Bakteri yang terbentuk:

 Sampel Urine 103 = ( €Koloni sampel - €Koloni Kontrol ) x Pengenceran


= (148-0) x 103
= 148.000 Koloni
 Sampel Urine 104 = ( €Koloni sampel - €Koloni Kontrol ) x Pengenceran
= (34-0) x 104
=
340.000

∑ koloni total
∑ koloni = 2
488.000
= 2
= 244.000 koloni

Kontrol 101 102

103 104 105

B. Pewarnaan Gram
 Jika ditemukan bakteri berbentuk basil pada sampel maka dilanjutkan ditanam pada
media MC
 Jika ditemukan bakteri berbentuk coccus pada sampel maka dilanjutkan ditanam
pada media BAP
 Gambar
C. Sedimen urin di streak di media MC dan BAP lalu diinkubasi 37⁰C selama 24 jam.
Media Gambar

Mc.Conkey

BAP

D. Menginokulasikan koloni yang berbentuk basil (gram negative) ke mesia TSIA lalu
diinkubasi 37⁰C selama 24 jam. Dan koloni yang berbentuk kokus (gram positif)
diinokulasikan ke media MSA dan NAS lalu diinkubasi 37⁰C selama 24 jam.

Hasil pengamatan pada media TSIA:

Hasil Reaksi Keterangan

 Lereng : asam / acid


 Dasar : asam / acid
Bakteri hanya memfermentasi glukosa,
karena pada dasar media berwarna
kuning (bersifat asam) dan lereng (slant)
c berwarna merah (bersifat basa)
 Gas : (-) negatif
 H2s : (-) negatif
Hasil pengamatan pada media MSA dan NAS:

Media Keterangan

MSA Pada sampel , menunjukkan bahwa bakteri


tidak memfermentasi manitol sempurna
sehingga tidak berubah menjadi warna
kuning

NAS Pigmen koloni berwarna putih

E. Menginokulasikan koloni yan telah ditanam pada media TSIA ke dalam media
biokimia kemudian diinkubasi 37⁰C selama 24 jam. Serta melakukan uji koagulase
dan uji katalse pada koloni yang sudah ditanam pada media MSA dan NAS yang
sudah melalui waktu inkubasi selama 24 jam.
dari kiri ke kanan: maltose-manosa-laktosa-glukosa-sukrosa-MR-indol-VP-semi solid-
simon sitrat-urea-TSIA
Media Keterangan Gas

Maltosa (+) (-)


Terjadi perubahan warna
biru  kuning.
Menandakan bakteri
memfermentasi glukosa.
Laktosa (+) (-)
Terjadi perubahan warna
biru  kuning.
Menandakan bakteri
memfermentasi glukosa.
Manosa (+) (-)
Terjadi perubahan warna
biru  kuning.
Menandakan bakteri
memfermentasi glukosa.
Glukosa (-) (-)
Tidak terjadi perubahan
warna biru  kuning.
Menandakan bakteri tidak
memfermentasi glukosa.
Sukrosa (-) (-)
Tidak terjadi perubahan
warna biru  kuning.
Menandakan bakteri tidak
memfermentasi glukosa
MR (+)
Terbentuk cincin merah di permukaan
media saat ditetesi reagen methyl red

Indol (-)
Tidak terbentuk cincin berwarna merah di
permukaan media saat ditetesi reagen
kovac.
Bakteri tidak membentuk indol dari
tryptopan sebagai sumber karbon, yang
dapat diketahui dengan me-nambahkan
larutan kovac.

VP (-)
Tidak terjadi perubahan warna.
Bakteri tidak memproduksi hasil akhir
fermentasi glukosa dalam bentuk asetil-
metil-karbinol (acetoin) yang akan
mengalami perubahan warna menjadi
merah

Semi Solid (+)


Pada hasil positif, terlihat adanya
penyebaran yang berwarna putih seperti
akar disekitar inokulasi. Hal ini
menunjukkan adanya pergeraan bakteri
yang diinokulasikan, yang berarti bakteri
ini memiliki flagel. Dan luas penyebaran
semakin ke atas semakin melebar,
menandakan bahwa bakteri ini adalah
bakteri aerob.

Simon Sitrat (-)


Tidak terjadi perubahan warna menjadi
biru pada slent media. Bakteri tidak
menggunakan sitrat sebagai sumber
karbon dan amoniak sebagai sumber
nitrogen.

Urea (+)
Terjadi perubahan warna menjadi merah
muda (pink).
Bakteri menghidrolisis urea menjadi
ammonia

Katalase dan Koagulase

Katalase Koagulase

Negative (-)

Positive (+)
Keterangan :

Koloni yang tumbuh menunjukkan hasil positif pada tes katalase dengan
ditandai adanya gelembung gas (H2O). sedangkan pada tes koagulase
menunjukkan hasil negatif karena tidak terbentuk gumpalan (koagulan).

F. Pembahasan
Seseorang dapat dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan kultur urin apabila mengalami
keluhan
 Nyeri dan terasa terbakar pada saat buang air kecil
 Nyeri punggung bawah
 Urin keruh dan berbau tajam
 Terasa ada yang menekan
 Terdapat darah dalam urin

Pada praktikum ini sampel yang digunakan merupakan urin sewaktu yang diambil
menggunakan metode porsi tengah (midstream). Pengobatan infeksi saluran kemih yaitu
dengan cara penggunaan antibiotic yang sesuai dengan jenis bakteri dan melewati uji
resistensi antibiotic serta didukung dengan aktivitas sehari-hari dengan lebih rajin
meminum air putih dan tidak menahan kencing.

G. Kesimpulan
Pasien kemungkinan mengalami Infeksi Saluran Kemih, karena jumlah bakteri pada
pemeriksaan ALT mencapai 244.000 bakteri sedangkan nilai rujukannya 100.000
bakteri. Sehingga dilanjutkan ke pewarnaan gram serta penanaman pada media MC dan
BAP. Setelahnya, dilanjutkan inokulasi ke media TSIA dan MSA, NAS. Setelah
inkubasi maka dilanjutkan ke tes katalase koagulase dan tes biokimia. Dari langkah-
langkah yang telah kami kerjakan, didapatkan hasil sebagai berikut :
 BAP = koloni dengan γ hemolisis dan α hemolisis
 MSA = Tidak memfermentasi manitol
 NAS = pigmen putih
 Katalase = positif (+)
 Koagulase = negatif (-)
 MC = koloni putih, smooth, mukoid
 TSIA = L:acid, D:acid, Gas:(-)neg, H2S:(-)neg
 Biokimia
 Laktosa (+)
 Sukrosa (-)
 Glukosa (-)
 Maltosa (+)
 Manosa (+)
 VP (-)
 MR (+)
 Indol (-)
 Urea (+)
 Simon Citrat (-)
 Semisolid motil

Dari hasil yang sudah kami dapatkan dari praktikum kultur urine dapat disimpulkan
bahwa bakteri yang menginfeksi saluran kemih penderita merupakan bakteri Klebsiella.
UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK PADA BAKTERI

a. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan sensitifitas antibiotic terhadap bakteri

b. Landasan Teori
Uji sentifitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan
bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki
aktivitas antibakteri. Metode Uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana
mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta
mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada
konsentrasi yang rendah. Uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan
tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni
yang memiliki aktivitas antibakteri. Seorang ilmuan dari perancis menyatakan bahwa
metode difusi agar dari prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui
sensitivitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan
mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram
kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri
menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa
semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif.
Sensitivitas adalah suatu keadaan dimana mikroba sangat peka terhadap antibiotik atau
sensitivitas adalah kepekaan suatu antibiotik yang masih baik untuk memberikan daya
hambat terhadap mikroba. Uji sensitivitas terhadap suatu antimikroba untuk dapat
menunjukkan pada kondisi yang sesuai dengan efek daya hambatnya terhadap mikroba.
Suatu penurunan aktivitas antimikroba akan dapat menunjukkan perubahan kecil yang
tidak dapat ditunjukkan oleh metode kimia, sehingga pengujian secara mikrobiologis dan
biologi dilakukan. Biasanya metode merupakan standar untuk mengatasi keraguan tentang
kemungkinan hilangnya aktivitas antimikroba (Djide, 2008).
Intermediet adalah suatu keadaan dimana terjadi pergeseran dari keadaan sensitif ke
keadaan yang resisten tetapi tidak resisten sepenuhnya. Sedangkan resisten adalah suatu
keadaan dimana mikroba sudah peka atau sudah kebal terhadap antibiotik.
Resisten adalah ketahan suatu mikroorganisme terhadap suatu anti mikroba atau antibiotik
tertentu. Resisten dapat berupa resisten alamiah, resisten karena adaya mutasi spontan
(resisten kromonal) dan resisten karena terjadinya pemindahan gen yang resisten (resistensi
ekstrakrosomal) atau dapat dikatakan bahwa suatu mikroorganisme dapat resisten terhadap
obat-obat antimikroba, karena mekanisme genetik atau non-genetik.
Penyebab terjadiya resisten terhadap mikroorganisme adalah penggunaan antibiotik yang
tidak tepat, misalnya penggunaan dengan dosis yang tidak memadai, pemakaian yang
tidak teratur, demikian juga waktu pengobatan yang tidak cukup lama, sehingga untuk
mencegah atau memperlambat terjadinya resisten tersebut, maka cara pemakaian antibiotik
perlu diperhatikan.
Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhambat pertumbuhannya akibat
antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah daerah untuk menghambat pertumbuhan
mikroorrganisme pada media agar oleh antibiotik. Contohnya: Tetracycline,
Erytromycin, dan Streptomycin.Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki
spektrum yang luas sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara luas. Berikut
merupakan tabel zona hambat antibiotik pada bakteri:

c. Alat dan Bahan


1. Alat
- Lampu spirtus
- Ose loop
- Cotton swab
- Petri dish
- Penggaris
- Inkubator
- Pinset

2. Bahan
- Aquades steril
- Standard Mc Farland
- Media agar Mueller Hilton (MH Agar)
- Suspensi bakteri Klebsiella sp
- Disk antibiotic Penicilin
- Disk antibiotic Ampicilin
- Disk antibiotic Ticarcilin
- Disk antibiotic Chiloramphenicol
- Disk antibiotic Cefprozil
- Disk antibiotic Streptomycin
- Disk antibiotic Cephalothin
- Disk antibiotic (Rd)
- Disk antibiotic Sulphametoxazole

d. Prosedur
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Siapkan aquades steril untuk ditanami suspensi kuman dan standard Mc Farland yang
akan digunakan sebagai standar kekeruhan.
3. Ambil suspensi kuman yang ada kemudian celupkan ke dalam aquades steril
menggunakan ose loop.
4. Buat 6 buah media MH dalam petri dish dan sterilkan menggunakan autoklaf.
5. Ambil kuman yang ada di dalam aquades steril dengan menggunakan cotton swab dan
jangan lupa untuk meniriskan terlebih dahulu pada dinding tabung sebelum di streak
pada media MH.
6. Tanam kuman secara merata dan full pada setiap bagian pada media MH dan harus
selalu dekat dengan api.
7. Siapkan disk antibiotik yang akan digunakan pada uji sensitifitas.
8. Beri tanda pada daerah yang akan ditempel disk antibiotik, dan jarak antara satu disk
dengan yang lainnya minimal 2 cm.
9. Ambil dan tempelkan pada media MH yang telah ditanami kuman menggunakan
pinset.
10. Pada 2 petri dish berisi 5 disk antibiotik yang terdiri dari:
- S.10
- P.10
- Amp.10
- Cpr.30
- C.30
11. Pada 2 petri dish berisi 5 antibiotik yang terdiri dari:
- P.10
- CE.30
- Tic.75
- Sxt.25
- RD.5
12. Pada 1 petri berisi 4 antibiotik terdiri dari :
- Sxt.25
- Rd.5
- Tic.75
- CE.30
13. Dan pada 1 petri lainnya berisi 6 antibiotik terdiri dari:
- TIC
- SXT
- CE
- RD
- P
- Amp
14. Selesai menempelkan disk antibiotik pada media MH, letakkan dan simpan petri dish
di dalam inkubator pada suku 37℃ selama 24 jam.
15. Setelah 24 jam, ukur zona daya hambat pada masing-masing media MH tersebut.
16. Catat dan cocokkan hasil pengukuran zona hambat dengan table disk antibiotik.

e. Hasil Pengamatan

Pengamatan 1.1
JENIS NAMA KETERANGAN
ANTIBIOTIK
SYAFIRA DESTY

S 20 mm 20 mm Susceptible

P 18 mm 7 mm Resistant

Amp 12 mm X Resistant

Cpr 25 mm 15 mm Resistant

C 9 mm 11 mm Resistant
Pengamatan 1.2
JENIS NAMA KETERANGAN
ANTIBIOTIK
HIKMA MEGA

P 16 mm 20 mm Resistant

CE 28 mm 34 mm Susceptible

Tic 20 mm 39 mm Susceptible

Sxt 30 mm 38 mm Susceptible

Rd 22 mm 22 mm Susceptible

Pengamatan 1.3

JENIS NAMA KETERANGAN


ANTIBIOTIK
ELLEN

Sxt 32 mm Susceptible

Rd 21 mm Susceptible

Tic 14 mm Resistant

CE 13 mm Resistant
Pengamatan 1.4

JENIS NAMA KETERANGAN


ANTIBIOTIK
FEBRI

Tic 22 mm Suspectible

Sxt 30 mm Suspectible

CE 24 mm Suspectible

Rd 2 mm Resistant

P 18 mm Resistant

Amp 16 mm Intermediate

f. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pengujian antibiotik Streptomycin dengan
menggunakan bakteri Klebsiella sp, diperoleh zona hambat 20 mm, di mana hal tersebut
menunjukkan hasil interpretasi bahwa uji sensitivitas bakteri Klebsiella sp terhadap
antibiotik Streptomycin adalah Susceptible atau sensitif. Berdasarkan hasil tersebut,
antibiotic Streptomycin baik digunakan untuk pengobatan pada penyakit yang disebabkan
oleh Klebsiella sp.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pengujian antibiotic penicillin dengan
menggunakan bakteri Klebsiella sp, diperoleh zona hambat sebesar 18 mm, 7 mm, 16 mm,
dan 20 mm di mana hal tersebut menunjukkan hasil interpretasi bahwa uji sensitivitas
antibiotik Penicilin adalah Resistant di mana berdasarkan hasil tersebut menunjukkan
bahwa antibiotik penicillin tidak baik untuk pengobatan pada penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Klebsiella sp.
Uji sensitivitas antibiotik berikutnya menggunakan antibiotik Ampicillin, dan
diperoleh zona hambat sebesar 12 mm dan 16 mm, di mana hasil tersebut menunjukkan
bahwa Ampicillin bersifat resistant hinga intermediate terhadap bakteri Klebsiella sp. Hal
ini membuktikan bahwa penggunaan antibiotik Ampicillin kurang baik untuk pengobatan
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Klebsiella sp .
Pada uji sensitivitas antibiotic Cefprozil diperoleh zona hambat sebesar 25 mm dan
15 mm di mana angka tersebut menunjukkan hasil interpretasi uji sensitivitas antibiotik
Cpr adalah Resistant. Hasil tersebut menunjukkan bahwa antibiotik Cefprozil tidak baik
terhadap bakteri Klebsiella sp .
` Pada uji sensitivitas antibiotic Chiloramphenicol diperoleh zona hambat sebesar 9
mm, dan 11 mm, di mana hasil tersebut menunjukkan bahwa sensitivitas antibiotic
Chiloramphenicol bersifat Resistant terhadap bakteri Klebsiella sp. Dari interpretasi
tersebut dapat disimpulkan bahwa antibiotik Chiloramphenicol tidak baik digunakan untuk
pengobatan pada penyakit yang disebabkan oleh bakteri Klebsiella sp.
Pada uji sensitivitas antibiotic Cephalothin diperoleh zona hambat sebesar 34
mm, 28 mm, 24 mm, dan 13 mm di mana angka tersebut menunjukkan hasil interpretasi
uji sensitivitas antibiotik Ce adalah Susceptible Hasil tersebut menunjukkan bahwa
antibiotik Cephalothin sensitif terhadap bakteri Klebsiella sp dan sebaliknya, bakteri
resistant terhadap antibiotik Cephalothin.
Pada uji senstivitas antibiotic Ticarcilin, diperoleh zona hambat sebesar 20 mm, 39
mm, 14 mm dan 22 mm di mana hasil tersebut menunjukkan hasil interpretasi bahwa
sensitivitas antibiotik Ticarcilin bersifat Suspectible terhadap bakteri Klebsiella sp. Dari
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik Ticarcilin Baik untuk
pengobatan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Klebsiella sp.
Uji sensitivitas berikutnya dilakukan untuk melakukan pengujian sensitivitas
antibiotik Sulphametoxazole terhadap bakteri Klebsiella sp di mana diperoleh zona hambat
sebesar 30 mm, 32 mm, dan 38 mm yang menunjukkan bahwa sensitivitas antibiotik
Sulphametoxazole bersifat susceptible atau sensitif. Dari interpretasi tersebut dapat
disimpulkan bahwa antibiotik Sulphametoxazole baik digunakan untuk pengobatan
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Klebsiella sp.
Uji sensitivitas berikutnya dilakukan untuk melakukan pengujian sensitivitas
antibiotik Rifampicin terhadap bakteri Klebsiella sp di mana diperoleh zona hambat
sebesar 22 mm, 21 mm, dan 2 mm yang menunjukkan bahwa sensitivitas antibiotik
Rifampicin bersifat susceptible atau sensitif. Dari interpretasi tersebut dapat disimpulkan
bahwa antibiotik Rifampicin baik digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Klebsiella sp.

g. Kesimpulan
Dari hasil yang sudah didapat makan dapat disimpulkan bahwa bakteri Klebsiella sp
susceptible (rentan) pada antibiotic Streptomycin dan Sulphametoxazole ; resisten hingga
intermediet pada antibiotic Ampicilin ; dan resisten pada antibiotic Penicilin dan
Chiloramphenicol.
- Disk antibiotic Penicilin
- Disk antibiotic Ampicilin
- Disk antibiotic Ticarcilin
- Disk antibiotic Chiloramphenicol
- Disk antibiotic Cefprozil
- Disk antibiotic Streptomycin
- Disk antibiotic Cephalothin
- Disk antibiotic (Rd)
- Disk antibiotic Sulphametoxazole