Anda di halaman 1dari 56

FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN OCUSERT SODIUM

CROMOGLYCATE

FORMULATION AND EVALUATION OF SODIUM


CROMOGLYCATE OCUSERTS

NURFADILAH (N012181009)

PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN OCUSERT SODIUM
CROMOGLYCATE

Makalah

Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan mata kuliah

biofarmasetika

Program Studi

Farmasi Klinik

Disusun dan diajukan oleh:

NURFADILAH

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan segala rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan

makalah dengan judul “Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Ocusert Sodium

Cromoglycate” guna melengkapi tugas perkuliahan Biofarmasi untuk

program studi pascasarjana farmasi Universitas Hasanuddin.

Penulis sangat menyadari atas kelemahan serta keterbatasan yang

ada sehingga dalam menyelesaikan makalah ini memperoleh bantuan dari

berbagai pihak, sumber jurnal dan buku pengantar dan dalam kesempatan

ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh pihak yang

telah membantu dalam menyelesaikan tugas tepat waktu.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan

baik isi maupun susunannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat tidak

hanya bagi penulis juga bagi para pembaca.

Makassar, Maret 2019

Penulis
ABSTRAK

P. Nagadivya, V.R.M. Gupta, P. Vagdevi, S. Naveen Kumar, V. Sreemouni


and V. Sandeep Kumar. Formulasi dan Evaluasi sediaan Ocusert Sodium
Cromoglycate.

Tujuan: Karya ini menggambarkan formulasi dan evaluasi ocuserts Sodium


Cromoglycate menggunakan polimer yang berbeda untuk meningkatkan
waktu tinggal obat dalam cul-de-sac mata. Metode: Larutan berair dari
berbagai konsentrasi polimer berbeda disiapkan dan dievaluasi untuk
mengidentifikasi komposisi yang sesuai untuk digunakan sebagai Ocuserts.
Teknik pengecoran pelarut digunakan untuk merumuskan Sodium
Cromoglycate ocuserts menggunakan polimer carbopol 940, Sodium
Alginate dan Hydroxypropyl Methylcellulose (K4M), pada konsentrasi yang
berbeda. Formulasi yang menjanjikan dievaluasi untuk pemeriksaan visual,
ketebalan, kandungan obat, daya tahan lipat, persen penyerapan air, studi
in-vitro, iritasi mata, dan stabilitas. Hasil: Studi difusi in vitro memberikan
pelepasan obat kumulatif persen yang ditemukan 80%. Keseragaman
bobot film menunjukkan distribusi obat yang baik, dalam polimer dan
plasticizer. Formulasi tidak menghasilkan iritasi ketika ditempatkan di cul de
sac karena mereka tidak cukup tebal untuk menghasilkan iritasi. Hasil
kandungan obat ditemukan memuaskan. Studi persen penyerapan air
mengungkapkan bahwa formulasi F5 (4,20 ± 0,05) menunjukkan hilangnya
kelembaban yang tinggi karena hambatan yang ditawarkan oleh karbopol.
Kesimpulan: Ocuserts menghasilkan peningkatan waktu tinggal obat dan
pelepasan obat secara terkontrol sebanding dengan formulasi yang
dipasarkan.

KATA KUNCI: Ocuserts, Sodium Cromoglycate, Sodium Alginate,


Carbopol 940, HPMC K4M, daya tahan lipat, difusi in vitro.
ABSTRACT

P. Nagadivya, V.R.M. Gupta, P. Vagdevi, S. Naveen Kumar, V. Sreemouni


and V. Sandeep Kumar. Formulation And Evaluation Of Sodium
Cromoglycate Ocuserts.

Objective: The present work describes the formulation and evaluation of


Sodium Cromoglycate ocuserts using different polymers to increase the
residence time of the drug in the cul-de-sac of the eye. Methods: Aqueous
solutions of varying concentrations of different polymers were prepared and
evaluated in order to identify the compositions suitable for use as Ocuserts.
Solvent casting technique was used to formulate Sodium Cromoglycate
ocuserts using polymers carbopol 940, Sodium Alginate and Hydroxypropyl
Methylcellulose (K4M), at different concentrations. The promising
formulations were evaluated for visual examination, thickness, drug content,
folding endurance, percent moisture absorption, in-vitro studies, ocular
irritation, and stability. Results: The in vitro diffusion studies gave the
cumulative percent drug release which was found to be 80%. The uniformity
of the weights of the films indicates good distribution of the drug, in polymer
and plasticizer. The formulations did not produce any irritation when placed
in the cul de sac since they were not thick enough to produce irritation. The
results of drug content were found to be satisfactory. The percent moisture
absorption study revealed that formulation F5 (4.20 ± 0.05) showed high
moisture loss due to less hindrance offered by carbopol. Conclusion: The
ocuserts resulted in increased drug residence time and the drug release
was in controlled manner comparative to the marketed formulation.

KEYWORDS: Ocuserts, Sodium Cromoglycate, Sodium Alginate, Carbopol


940, HPMC K4M, folding endurance, in vitro diffusion.
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR iii

ABSTRAK iv

ABSTRACT v

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR viii

I. PENDAHULUAN 1

A..Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 5

C. Tujuan Penelitian 5

II. TINJAUAN PUSTAKA 6

A. Mata 6

B. Sediaan Ocusert 28

C. Sodium Cromoglykate 33

III. METODE PENELITIAN 35

A. Bahan 35

B. Metode Kerja 35

1. Persiapan Ocusert natrium kromoglikat 35

2. Perhitungan Dosis 37

3. Parameter Evaluasi 38
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 42
A. Uji Penampakan 42

B. Uji Keseragaman bentuk 42

C. Ujii Keseragaman ukuran 42

D. Uji Keseragaman Isi 42

E. Evaluasi Ketahanan Lipatan 42

F. Kelembaban/penyerapan air 43

G. Uji Sterilitas 43

H. Studi In Vitro 44

V. PENUTUP 46
A. Kesimpulan 46

DAFTAR PUSTAKA 47

LAMPIRAN JURNAL 48
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Komposisi Ocusert Sodium Cromoglikat 37

2. Komposisi Cairan air mata buatan 39

3. Result of thickness, weight variation, % drug content and


%moisture Absorbance 43
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Struktur mata 7
2. Struktur Kornea 9
3. Rute Eliminasi 18
4. Struktur Kimia Sodium Kromoglikat 33
5. Profil in vitro Ocusert Sodium Cromoglikat 45
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mata merupakan salah satu organ yang unik dari segi anatomi dan

fisiologinya, di dalamnya terdiri dari beberapa struktur yang sangat berbeda

dengan fungsi fisiologis tertentu. Sebagai contoh, kornea dan lensa kristal

adalah satu-satunya jaringan dalam tubuh selain tulang rawan yang tidak

memiliki suplai darah, sedangkan proses koroid dan silia sangat

tervaskularisasi dan menunjukkan peredaran darah yang sangat banyak.

Retina dengan saraf optik, perpanjangan dari diencephalon dari sistem

saraf pusat, memiliki fungsi yang sangat spesifik dalam persepsi dan

transduksi visual. Mata memiliki atribut khusus yang memungkinkan

penghantaran obat langsung ke mata dan penilaian klinis non-invasif

penyakit, tetapi juga organ yang sangat kompleks dan unik dalam

mengetahui patogenesis penyakit dan cukup menantang dalam

penghantaran obat melalui mata. Tujuan spesifik dalam desain obat adalah

agar obat dapat memberikan efek dan mencapai konsentrasi optimal dalam

durasi yang tepat. Metode konvensional seperti sediaan suspensi dan salep

disebut telah kurang efektif dalam memerangi penyakit karena zat aktif yang

terdapat di dalamnya mudah terurai oleh mata. Dalam sediaan ocusert

bioavalaibilitasnya dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan waktu


kontak zat aktif dalam jaringan kornea sehingga frekuensi pemberian dapat

dikurangi. (Khokhar and Shukla)

Sistem penghantaran obat melalui mata merupakan salah satu

tantangan yang paling menarik bagi ilmuwan farmasis dalam 10 – 20 tahun

terakhir. Sistem penghantaran obat melalui mata dibatasi oleh aspek

fisiologis yang disebabkan oleh mekanisme perlindungan dari mata itu

sendiri sehingga durasi penyerapan obat berkurang. Bioavalaibilitas sistem

penghantaran obat konvensional seperti tetes mata sedikit diamati

disebabkan mekanisme perlindunganny sehingga membatasi konsentrasi

efektif obat mencapai target. (Tofighia et al)

Keuntungan dari sistem penghantaran obat melalui mata

diantaranya yaitu mudah, nyaman dan pengaplikasiannya tanpa

menggunakan jarum sehingga tidak perlu tenaga terlatih untuk

menggunakannya, dapat digunakan sendiri. Penetrasi hidrofilik yang baik,

obat dengan berat molekul rendah dapat digunakan, absorpsinya cepat dan

onset cepat dapat tercapai karena luas permukaan kontak yang besar dan

vaskularisasi yang tinggi. Administrasi secara okular cukup nyaman dan

dapat digunakan sebagai alternatif lain dalam terapi darurat. Dengan

demikian, sediaan ocusert dapat menghindari metabolisme lintas pertama

di hati sehingga dosis yang dikurangi tetap bepengaruh jika dibandingkan

dengan rute oral.(Tofighia et al)

Aplikasi topikal obat pada mata merupakan rute administrasi dalam

mengobati bermacam-macam penyakit pada mata seperti mata kering,


konjungtiva, eye flu dan lain-lain. Salah satu masalah utama dalam sistem

penghantaran obat melalui mata seperti pada sediaan tetes mata adalah

cepat dieliminasi dari mata. Tetes mata, terlepas dari volume yang

diberikan, seringkali dieliminasi dengan cepat dalam 5 – 6 menit setelah

pemberian dan hanya sejumlah kecil sekitar (1-3%) dari tetes mata yang

benar-benar dapat mencapai jaringan intraokular. Alasan penghantaran

obat tidak efisien termasuk mekanisme penggntinny secra cepat oleh air

mata, drainase lachrimal, dan obat mengalami pengenceran oleh air mata.

Tingkat drainase yang lebih tinggi adalah karena kecenderungan mata

untuk mempertahankan volume tinggalnya pada 7-10 ml secara permanen,

sedangkan volume berbagai topikal ditanamkan dari 20 sampai 50μl.

Secara in vivo membuktikan bahwa 90% dari dosis hilang dalam 2 menit

saat diberikan sebanyak 50μl. Akibatnya, waktu tinggal pada okular dari

sediaan terbatas untuk beberapa menit, dan penyerapan keseluruhan obat

topikal terbatas hanya 1-10%. Dengan demikian, sulit untuk menyediakan

dan mempertahankan konsentrasi yang memadai obat pada daerah

kornea. Lebih dari 75% dari larutan tetes mata yang diberikan hilang melalui

naso-lachrymal drainage dan diserap secara sistemik melalui konjungtiva,

maka ketersediaan obat mata sangat rendah. (Nagadivya et al).

Untuk meningkatkan bioavailabilitas okular dan durasi kerja obat,

berbagai sediaan mata, seperti larutan kental, salep, gel, atau sisipan

polimer, telah digunakan.Dengan demikina waktu kontak dengan kornea

telah ditingkatkan untuk berbagai tingkat oleh sediaan ini, tetapi karena
penglihatan kabur (pada sediaan salep) atau kurangnya kepatuhan pasien

(yaitu sisipan); sehingga belum diterima secara luas. Dari sudut pandang

penerimaan pasien, bentuk sediaan cair yang dapat mempertahankan obat

untuk terlepas dan waktu kontak yang lama dengan kornea mata sangat

ideal. Jika waktu tinggal prekornea obat dapat ditingkatkan dari 5 menit

menjadi beberapa jam, kemudian bioavailabilitas lokal ditingkatkan,

mengurangi konsentrasi dosis, frekuensi pemberian, dan peningkatan

penerimaan pasien terhadap obat mungkin dapat dicapai (Nagadivya et al).

Sistem penghantaran berdasarkan konsep bentuk gel in situ harus

mempunyai sifat-sifat tersebut. Seperti pada sistem penghantaran yang

terdiri dari fase transisi polimer yang ditanamkan dalam bentuk cair dan

berubah menjadi fase gel pada daerah cul-de-sac/ sulit dilewati pada mata.

Telah diteliti, beberapa polimer memperlihatkan fase transisi karena

perubahan dalam skala mikro. Diantaranya thempoloxamer407, yang mana

viskositasnya meningkat seiring dengan peningkatan suhu pada mata,

karbopol 940, cellulose acetophtalate (CAP) yang menggumpal ketika pH

yang awalnya 4,5 meningkat oleh cairan mata menjadi pH 7,4 dan sodium

alginat, polisakarida yang membentuk gel karena kation mono atau divalen.

(Nagadivya et al)

Sistem penghantaran obat okular membutuhkan serangkaian

karakteristik tertentu sesuai dengan struktur fisiologis mata, karena mata

manusia merupakan organ yang sangat sensitif terhadap zat eksogen


seperti mikroorganisme dan obat-obatan. Hal ini mengarahkan pada

penggunaan obat yang pekat secara berulang untuk menghasilkan terapi.

Penting sekali dilakukan usaha untuk mengembangkan

formulasi/alat/ proses untuk meningkatkan penetrasi bahan aktif yang

mudah berpenetrasi ke dalam jaringan internal mata sehingga dapat

tercapai efek terapi yang diinginkan. Tipe obat seperti tetes mata, suspensi,

dan salep dapat digantikan dengan penghantaran obat yang lebih

terkontrol, diperlambat, dan berkelanjutan menggunakan sistem

penghantaran obat okular yang pengeluarannya dikontrol.

B. Rumusan Masalah

Adapun umusan Masalah dalam penulisan ini sebagai berikut :

1. Bagaimana sistem penghantaran obat secara okular ?

2. Bagaimana cara memformulasi dan mengevaluasi sediaan ocusert ?

3. Bagaimana formulasi dan evaluasi dari ocusert Sodium cromoglycate ?

4. Polymer jenis apa yang cocok untuk sediaan ocusert Sodium

cromoglycate?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui sistem penghantaran obat secara okular.

2. Mengetahui cara formulasi dan evaluasi sediaan ocusert.

3. Mengetahui formulasi dan evaluasi dari ocusert sodium cromoglycate.

4. Mengetahui polimer yang cocok untuk ocusert Sodium cromoglucate.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Mata

1. Struktur Mata

Mata memiliki sifat yang selalu mempunyai mekanisme perlindungan

yang berkontribusi terhadap eliminasi segera apabila terdapat partikel

debu, insek, benda asing, ataupun formulasi sediaan yang bersinggungan

dengan kata. Mekanisme inilah yang menyebabkan obat sukar berkontak

lama dengan mata. Dalam pembuatan sediaan untuk mata ada beberapa

kesulitan yang muncul ataupun yang perlu diperhatikan dalam

formulasinya, yaitu faktor anatomi dan fisiologi mata, penghantaran obat ke

bagian internal mata, penilaian kinerja formulasi oftalmik, eksipien yang

digunakan dalam formulasi, dan pertimbangan formulasi lain.

Bagian terdepan dari mata adalah kornea yang merupakan suatu

lapisan transparan dengan tujuan agar dapat membiarkan berkas cahaya

masuk ke dalam mata. Di sebelah dalam sclera adalah koroid, suatu lapisan

berpigmen yang mengandung banyak pembuluh draah yang memberikan

makanan pada bentukan-bentukan dalam bola mata. Lensa adalah struktur

transparan yang berbentuk bulat dan agak gepeng pada daerah equatornya

yang terpaut oleh serabut-serabut zonulu zinnia yang menguntungkan


lensa pada korpus siliaris. Lensa mata otomatis lebih mencembung akibat

kontraksi muskulus siliaris yang mengakibatkan pengenduran zonula zinii.

Pada daerah depan lensa terdapat iris yang berpigmen dengan lubang pupil

ditengahnya. Iris mengandung serabut otot siskuler yang menyempitkan

pupil dan serabut membujut (radial) yang melebarkan pupil.perubahan

diameter pupik mata berguna untuk mengatur banyaknya cahaya yang

masuk ke mata. Ruang antara lensa dan retina berisi masa cair kental yaitu

korpus vitreum dan cairan akuos humor. Akuos humor yang dihasilkan oleh

korpus siliaris terutama mengisi bilik depan mata.

Gambar 1. Struktur mata

1) Sklera

Sclera ini umumnya dikenal sebagai “mata putih”. Jaringan buram

yang berfungsi sebagai lapisan luar pelindung mata. Enam otot kecil
menyambung ke sekitar mata dan mengontrol gerakan mata. Saraf optik

melekat pada sklera di bagian paling belakang mata.

Pada anak-anak, sclera lebih tipis dan lebih transparan,

memungkinkan jaringan terlihat dan memberikan tanda kebiruan. Pada

orang dewasa/orang tua timbunan lemak dpt memberikan warna kuning

pada sklera Lapisan koroid.

Lapisan kaya akan pembuluh darah dan sel-sel pigmen sehingga berwarna

hitam. Koroid terletak antara retina dan sclera, terdiri dari lapisan pembuluh

darah yang memberi nutrisi bagian belakang mata. Koroid terhubung

dengan ciliary tubuh ke arah depan mata dan melekat ke tepi saraf optik di

belakang mata. Lapisan ini terletak di dalam sklera, mengandung banyak

pembuluh darah dan dimodifikasi di depan mata sebagai iris berpigmen.

Lensa bikonveks terletak tepat di belakang pupil. Ruang di belakang lensa

diisi dengan humor vitreous, gelatin substance menempati 80% dari bola

mata. Ruang anterior dan posterior terletak antara kornea dan iris, dan iris

dengan lensa, masing-masing dan penuh dengan aqueous humor. Di

bagian belakang mata adalah cahaya yang mendeteksi retina.

2) Kornea

Berfungsi memfokuskan cahaya ke mata. Kornea adalah lapisan

transparan menutupi bagian depan mata. Karena tidak ada pembuluh darah

di kornea, biasanya akan terlihat jelas dan memiliki permukaan mengkilap.

Kornea dewasa tebalnya hanya sekitar 1/2 mm dan terdiri dari 5 lapisan:

epitel, membran Bowman, stroma, membran Descemet dan endotelium.


Kornea adalah jaringan optik transparan yang meneruskan gambar

ke bagian belakang mata dan mencakup sekitar seperenam dari total luas

permukaan bola mata. kornea dianggap jalur utama untuk perembesan obat

ke mata. Memiliki tebal 0,5 mm dibagian tengah, meningkat menjadi kira-

kira 0,7 mm di pinggiran dan terdiri dari lima lapisan.

Gambar 2. Struktur kornea

a) Epitel : berada di kornea wilayah terluar yang terdiri dari sekitar 10

persen dari ketebalan jaringan ini, fungsi epitel terutama untuk: (1)

memblokir bagian ini dari bahan asing seperti debu atau air yang

masuk ke dalam mata dan lapisan kornea lainnya (2) memberikan

permukaan halus yang menyerap oksigen dan nutrisi sel yang


diperlukan yang terkandung dalam air mata. Lapisan ini, terdiri dari

sekitar lima sel yang dalam berisi ribuan ujung saraf kecil yang

membuat kornea sangat sensitif terhadap rasa sakit ketika digosok

atau tergores.

Epitel dibangun dari beberapa lapisan sel dan sekitar 10% dari total

ketebalan kornea pada manusia, dan proporsi yang sama di banyak

spesies mamalia lainnya. Ada 5 lapisan dalam pria dengan ketebalan

50-100 mm, yang mirip dengan kelinci, namun jumlah lapisan

meningkat di kornea paling tebal sampai 10, seperti pada kornea

sapi. Ini merupakan jaringan hidrofobik dan memberikan kontribusi

90% dari penghalang terhadap obat hidrofilik dan 10% untuk obat

hidrofobik.

b) Membran Bowman : Pada manusia sebagai lembaran tipis homogen

merupakan sheet homogen aselular, ketebalan sekitar 8-14 µm.

Posisinya antara membran basal epitel dan stroma. Mata kelinci

tidak memiliki lapisan ini. Ini bukan membran elastis dan tidak

beregenerasi ketika hancur. Lapisan ini tidak dianggap sebagai

penghalang untuk penyerapan obat di kornea.

c) Stroma atau substantia Propria: Terletak di belakang epitel, terdiri

dari sekitar 90% dari kornea. Bagian utamanya terdiri dari air (78%);

serat protein berlapis (16%) yang memberikan kekuatan, elastisitas,

dan bentuk pada kornea; dan sel-sel yang menutrisi. Mewakili sekitar

90% dari ketebalan kornea pada mamalia dan terdiri dari jaringan
ikat yang dimodifikasi; 70-80% dari berat basah air, dan 20-25% dari

berat kering kolagen, protein dan mucopolysaccharides lainnya.

Stroma adalah penghalang utama untuk obat yang sangat lipofilik.

d) Membran Descemet : disekresikan oleh endothelium, terletak di

antara stroma dan endothelium. Ini adalah membran yang kuat,

homogen dan sangat tahan. Tebalnya sekitar 6 µm. Membran ini

dapat meregenerasi ketika rusak.

e) Endotelium Kornea : lapisan sel tunggal terletak antara stroma dan

aqueous humor. Karena stroma cenderung menyerap air, tugas

utama endotelium adalah untuk memompa kelebihan air dari stroma.

Tanpa tindakan memompa ini, stroma akan membengkak dengan

air, menjadi kabur, dan akhirnya buram.

Merupakan satu lapisan sel epitel seperti saling bertautan dengan

bergantian, permukaan berputar, yang benar-benar meliputi

permukaan posterior kornea. Persimpangan kesenjangan ada di

antara sel-sel yang berdekatan memungkinkan perembesan

berbagai zat. Endotelium tidak memiliki nilai penentu sebagai

permeabilitas adalah 200 kali atau lebih lebih besar dari epitel.

Lapisan ini merumahkan pompa Na+ / K+ ATPase yang bergantung-

bikarbonat, dan beroperasi pada tingkat yang konstan untuk

mengontrol keseimbangan antara gerakan pasif air ke stroma dan

gerakan aktif cairan itu, bertanggung jawab untuk menjaga

transparansi kornea dan ketebalan kornea konstan. Jika pompa aktif


rusak atau kehabisan bikarbonat yang dilemahkan oleh inhibitor

karbonat anhidrase, stroma akan menyerap air, membengkak dan

menjadi buram, sehingga terjadi penebalan dan kekeruhan kornea.

Perubahan ketebalan kornea mempengaruhi penyerapan obat.

3) Konjungtiva

Terlibat dalam pembentukan dan pemeliharaan lapisan air kornea dan

dalam perlindungan mata. Lapisan yang tipis, vascularisasi selaput

lendir yang melapisi di permukaan posterior dari kelopak mata dan

bagian luar kornea. Konjungtiva manusia 2 sampai 30 kali lebih

permeabel terhadap obat daripada kornea dan telah dilaporkan bahwa

kerugian pada rute ini permasalahan utama pada clearance obat.

4) Traktus uvealis (uvea)

Lapisan tengah bola mata terdiri atas 3 bagian, yaitu iris, badan siliar, &

koroid.

5) Iris

Membran sirkuler yg berwarna, terletak di belakang kornea, tepat di

depan lensa. Pada bagian pusatnya terdapat lubang yg disebut pupil.

Iris membagi ruangan yg berisi humor akuos antara kornea & lensa

menjadi 2, yaitu kamera anterior & kamera posterior. Iris terdiri dari

jaringan halus yg mengandung sel-sel pigmen, otot polos, pembuluh

darah & saraf. Warna iris tergantung pada susunan pigmen iris. Otot

pada iris adalah otot polos yg tersusun sirkuler & radier. Otot sirkuler bila

kontraksi akan mengecilkan pupil, dirangsang oleh cahaya sehingga


melindungi retina terhadap cahaya yg sangat kuat. Otot radier dari tepi

pupil, bila kontraksi menyebabkan dilatasi pupil. Bila cahaya lemah, otot

radier akan kontraksi, sehingga pupil dilatasi untuk memasukkan

cahaya lebih banyak. Fungsi iris: mengatur jumlah cahaya yang masuk

mata. Pengendalian oleh saraf otonom.

6) Badan siliaris

Menghubungkan koroid dengan iris. Tersusun dalam lipatan-lipatan

yang berjalan radier ke dalam, meyusun prosesus siliaris yang

mengelilingi tepi lensa. Prosesus ini banyak mengandung pembuluh

darah & saraf. Menghasilkan humor akuos.

7) Koroid

Membran berwarna coklat, yg melapisi permukaan dalam sklera.

Mengandung banyak pembuluh darah & sel-sel pigmen yg memberi

warna gelap. Fungsi: memberi nutrisi ke retina dan badan kaca, &

mencegah refleksi internal cahaya.

8) Badan kaca & humor akuos

Tekanan mata dipengaruhi tekanan badan kaca pada posterior mata &

humor akuos yang mengisi kamera anterior (bilik depan). Normal:

volume badan kaca tetap. Humor akuos bertanggung jawab mengatur

tekanan intraokuler. Perubahan kecepatan masuknya humor akuos ke

dalam mata dari prosesus siliaris atau kecepatan keluarnya humor

akuos dari sudut filtrasi dan mempengaruhi tekanan intraokuler.


a) Badan Kaca : Merupakan jaringan albuminosa setengah cair yang

bening, yang mengisi ruang antara lensa &retina. Mengisi 4/5 bagian

belakang bola mata & mempertahankan bentuk bola mata &

mempertahankan retina untuk mengadakan aposisi dengan koroid.

Badan kaca tidak mengandung pembuluh darah mendapat nutrisi

dari jaringan sekitarnya. Kekeruhan badan kaca dapat disebabkan

oleh karena sisa-sisa pembuluh darah yang ada dalam bola mata

selama perkembangan janin.

b) Aquous humor : adalah cairan yang diproduksi secara terus menerus

oleh kapiler venosa dalam prosesus siliar. Humor akuos berjalan dari

kamera posterior melewati pupil ke kamera anterior, meninggalkan

mata melalui trabekula menuju kanalis Schlemm (suatu sinus yang

berjalan melingkar, di perbatasan kornea & sklera) melewati

sekeliling mata, kemudian melewati vasa-vasa kecil menuju vena di

permukaan mata.

9) Lensa

Letak: di depan badan kaca & di belakang iris. Merupakan bangunan

lunak, bening, & bikonveks (cembung), yang dilapisi oleh kapsul tipis

yang homogen. Titik pusat permukan anterior & posterior disebut polus

anterior & polus posterior, garis yang melewati kedua polus disebut

sumbu (aksis). Lensa dibungkus suatu kapsul, yang merupakan

membran bening yang menutup lensa dengan erat & tebal pada

permukaan anterior. Fungsi kapsul: mengubah bentuk lensa &


melindungi dari badan kaca & humor akuos, dan berperan pada proses

akomodasi. Lensa dipertahankan pada posisinya karena dari depan

ditekan oleh humor akuos & dari belakang di tekan oleh humor vitreus

(badan kaca) & zonula (ligamentum suspensorium) yang merupakan

membran tipis yang menutupi permukaan badan siliar, prosesus siliaris,

& lensa. Sifat fisik lensa sesuai usia. Pada fetus:lensa hampir sferis &

agak lunak. Pada dewasa, permukaan anterior kurang cembung

dibandingkan permukaan posterior & lebih keras. Pada umur 40-45

tahun, lensa bertambah besar & pipih, warna kekuningan, & lebih keras.

10) Retina

Lapisan paling dalam pada mata lapisan penerima cahaya. Membran

lunak, rapuh, tipis. Tebal dari 0,4 mm dekat masuknya saraf optikus

smpai 0,1 mm pada orra serata. Warna merah ungu karena adanya

rodopsin. Mempunyai bintik kuning (makula lutea). Elemen peka cahaya

mengandung sel-sel batang & kerucut. Sel batang untuk intensitas

cahaya rendah cara: mengubah rangsang cahaya menjadi impuls listrik

yang berjalan sepanjang serabut saraf sensoris menuju pusat

penglihatan di otak. Sel kerucut: untuk penglihatan cahaya terang &

penglihatan warna. Letak di pusat retina.

Faktor anatomi dan fisiologi sangat terkait dan berhadapan langsung

dengan obat yang diberikan melalui mata. Faktor pertama yang sering

terjadi adalah setelah pemberian obat terjadi kekaburan penglihatan karena

sekresi air mata dan pembilasan nasolakrimal. Penutupan (pengedipan)


mata dan kekaburan penglihatan merupakan gerak reflek mata untuk

melindungi mata dari serangan luar. Air mata secara kontinu membilas

permukaan mata. Pembilasan ini juga merupakan aktivitas dan mekanisme

antiinfeksi melalui kandungan lisosim dan immunoglobulin dalam

kandungan air mata. Cairan lakrimal akan disalurkan mengikuti alur

nasokrimal, kemudian menuju faring dan esofagus.

Sebagai tambahan, obat berikatan dengan dengan protein (dalam)

dan musin konjuktival akan menidakaktifkan sebagian dari dosis obat yang

diberikan. Kehilangan selanjutnya dapat meningkat karena hal yang bersifat

fisik. Selama pemberian obat, sebagian dari larutan obat yang diteteskan

pada kantong air mata hilang karena mengalami pencucian. Melimpah

karena kantong konjungtival hanya mampu mengakomodasi sekitar 20µl

cairan tambahan saja.

2. Kendala penghantaran obat melalui mata

Kendala untuk penghantaran obat melalui mata pada umumnya

meliputi solusi drainase, lakrimasi dan pengenceran air mata, pergantian air

mata, dan penyerapan konjungtiva. Drainase larutan obat dari daerah

prekornea telah terbukti menjadi faktor yang paling signifikan dalam

mengurangi waktu kontak mata dan bioavailabilitas. Dosis hanya mampu

bertahan dalam waktu 5 menit pada manusia. Kecenderungan alami dari

cul-de-sac adalah mengurangi volume ke 7 - 10 µl. Tetes mata yang berisi


30 µl, sebagian besar cepat hilang melalui drainase nasolacrimal. Drainase

memungkinkan obat diserap secara sistemik melalui mukosa hidung atau

saluran pencernaan. Obat, pH, dan tonisitas dari bentuk sediaan dapat

menginduksi lakrimasi.secara normal, air mata manusia berganti 16%

permenit yang juga berkontribusi dalam menghilangkan larutan obat dari

konjungtiva. (Khokhar and shukla)

Hambatan fisiologis untuk penyerapan kornea topikal sangat

signifikan. Akibatnya, dokter terpaksa untuk merekomendasikan pemberian

yang lebih sering pada konsentrasi yang sangat tinggi. Pemberian melalui

cara ini tidak hanya menghasilkan fluktuasi ekstrim dalam konsentrasi obat

pada mata tetapi juga dapat menyebabkan banyak efek samping yang tak

diinginkan. Obat umumnya hilang dari prekornea melalui drainase cairan.

Faktor inilah dan yang membatasi penetrasi obat topikal ke dalam mata.

Hanya beberapa persen dari dosis yang masuk ke dalam jaringan

intraokular, sedangkan bagian utama (50-100%) dari dosis yang diserap

secara sistemik. Kendala penghantaran obat pada kornea: tumpahan obat

yang mengalir, pengenceran obat oleh pergantian air mata, Nasolachrymal

Drainase / penyerapan sistemik, absorbsi conjunctival dan metabolisme

enzimatik.
Gambar 3. Eliminasi dengan rute yang beragam

a) Hilangnya obat karena aliran

Volume normal air mata adalah 7ml dan jika mata tidak berkedip

dapat menampung 30ml tanpa tumpahan membentuk fisura palpebra.

Dengan volume yang tumpah diperkirakan 50ml, 70% dari dosis yang

diberikan dikeluarkan dari mata dengan dan jika berkedip hanya volume

residu sekitar 10 ml yang tersisa menunjukkan bahwa 90% dari dosis yang

dikeluarkan.

b) Melarutnya obat karena pergantian air mata

Air mata ternyata memiliki pangsa besar dalam menghilangkan obat

dari conjunctivital cul-de-sac di mata. Pergantian air mata manusia normal

sekitar 16% permenit yang distimulasi oleh banyak faktor seperti entitas

obat, pH, tonisitas sediaan dan formula pendukung. Faktor ini membuat

aplikasi topikal sediaan mata ke dalam cul-de-sac sangat tidak efisien.

c) Nasolachrymal Drainase atau penyerapan obat sistemik


Kebanyakan obat yang diberikan langsung hilang melalui drainase

nasolacrimal setelah pemberian. drainase memungkinkan obat yang akan

diserap secara sistemik di mukosa hidung dan saluran pencernaan yang

menyebabkan bermacam-macam efek.

3. Sistem Penghantaran Obat Okular/Oftalmik

Suatu sistem penghantaran obat oftalmik yang didesain secara baik

haruslah menghantarkan bahan aktif ke tempat yang tepat, meningkatkan

perbandingan aktivitas lokal, mengurangi jumlah pemberian setiap hari,

dengan mudah dapat diberikan sendiri (oleh pasien), tidak menginduksi

rangsangan benda asing, tidak menyebabkan kekaburan penglihatan

jangka panjang, tidak memberikan rasa ikutan yang sangat tidak

menyenangkan, dapat disterilkan dalam skala industri, kompatibel dengan

pengawet antimikroba yang efisien.

a. Penetrasi obat mata yang diberikan secara lokal

Jika obat tidak bertujuan untuk pengobatan bagian luar mata, maka obat

harus masuk ke bagian dalam mata. Rute paling penting adalah korneal,

namun rute nonkorneal dapat pula berkontribusi terhadap bioavailabilitas

okular. Secara skematis, kornea tersusun yang terdiri atas suatu lapisan

hidrofilik stroma diantara 2 lapisan hipofilik, yaitu epitelium dan endotelium.

Epitelium tersusun dari 5 sampai 6 lapisan sel, sedangkan endotelium

merupakan suatu lapisan tunggal pada bagian dalam kornea. Sifat hidrofilik-

lipofilik kornea secara jelas mengindikasikan bahwa kornea dapat

mengabsorbsi obat dengan baik dalam batas tertentu yang menunjukkan


sifat baik lipofilik maupun hidrofilik. Masalah utama dalam pengembangan

obat mata ini adalah perbandingan antara kehilangan obat secara

prekorneal dengan penetrasi korneal.

b. Penetrasi obat mata yang diberikan secara sistemik

Sebagian besar obat yang digunakan secara sistemik adalah obat-obat

antiinfeksi dan antiinflamasi. Proses penetrasi ini mendapat halangan dari

darah di mata, zat cair yang berada di dalam bilik mata depan dan belakang

inti mata (aquous humor) yang dihasilkan oleh epitelium silier akan

mencegah lewatnya molekul besar, protein plasma, dan kebanyakan

antibiotika. Beberapa molekul dapat disekresi dalam aquous humor selama

pembentukannya. Ada halangan antara “darah-retina”, dan ada pula antara

darah dan humor vitreous yang dipersulit karena viskositas tinggi humor

vitreous yang mencegah difusi obat pada bagian posterior mata.

Sediaan mata seperti tetes dan salep adalah bentuk sediaan okular

tradisional, memiliki kelemahan seperti sering pemberian, bioavalaibilitas

yang buruk, dosis tak terduga dan cairan nasolacrimal. Berbagai sistem

pengiriman obat oftalmikus canggih dikembangkan untuk mencapai

ketersediaan hayati yang lebih tinggi dari obat-obatan seperti mikrosfer,

partikel nano, liposom dan sisipan mata bersama dengan keuntungan lain

seperti peningkatan waktu kontak, pelepasan obat yang lambat dan

peningkatan waktu simpan. Pemberian obat mata merupakan salah satu

tugas paling menarik dan menantang yang dihadapi para peneliti Farmasi.

Ketersediaan hayati yang buruk dan respons terapeutik yang ditunjukkan


oleh tetes mata konvensional akibat eliminasi prekursor obat yang cepat,

termasuk refleks berkedip, pergantian air mata dan permeabilitas kornea

yang rendah. Cul-de-sac mata (sudut) biasanya menampung sekitar 7-9 μl

air mata. Kornea dianggap sebagai jalur utama untuk perembesan obat ke

dalam mata. Persimpangan ketat dan domain hidrofobik pada lapisan ini

menjadikannya penghalang terpenting untuk pemberian obat. Agar obat

dapat melewati kornea secara efektif, obat harus memiliki sifat hidrofilik dan

lipofilik, dan cukup kecil untuk melewati persimpangan yang ketat. Tetes

mata konvensional membutuhkan pemakaian yang sering, karena kurang

dari 1% dari dosis yang diberikan dapat diserap secara okuler. Sisipan

okular, film okuler, wafer, dan batang adalah perangkat padat yang

ditempatkan di kornea. Sediaan ini memiliki keunggulan dibandingkan

formulasi cair dengan waktu retensi yang lebih lama, dosis akurat,

peningkatan stabilitas, dan waktu simpan.

Banyak bentuk sediaan mata yang tersedia. Sediaan mata

diklasifikasikan atas dasar bentuk fisik sebagai berikut:

a) Cairan: Larutan, suspensi, Sol ke sistem gel, Spray

b) Padatan: ocular insert, lensa kontak, pelindung kornea.

c) Semi-padat: salep, gel

d) Miscellaneous: Ocular iontophoresis, sistem vesikular, bentuk

sediaan mucoadesif, partikel.


1) Larutan

Larutan adalah sediaan yang paling populer yang diinginkan dari

bentuk sediaan yang digunakan untuk mata. Hal ini karena penyerapan

obat yang tercepat saat ini. Slow release obat dari padatan tersuspensi

memberikan efek berkelanjutan untuk durasi waktu yang singkat.

a) Larutan dan suspensi

Larutan adalah bentuk sediaan farmasi yang paling banyak untuk

obat yang digunakan di permukaan mata, kornea atau konjungtiva. Obat

dalam sediaan larutan dalam keadaan terlarut dan mungkin segera aktif.

Bentuk sediaan ini juga memiliki kelemahan; waktu yang sangat singkat

untuk tetap berada di permukaan mata, bioavailabilitas yang buruk

(sebagian besar yaitu 75% hilang melalui drainase nasolacrimal),

ketidakstabilan obat, dan perlunya menggunakan pengawet. Kerugian

besar menggunakan tetes mata adalah eliminasi yang cepat dan

bioavalaibilitasnya kurang. Eliminasi yang cepat ini disebabkan oleh

bentuk larutan dan mungkin dipengaruhi oleh komposisi dari sediaan.

Retensi cairan dalam mata dipengaruhi oleh viskositas, konsentrasi ion

hidrogen, osmolalitas dan volume yang ditetapkan. Penelitian yang lebih

luas telah dilakukan untuk memperpanjang retensi obat dengan

meningkatkan viskositas atau mengubah pH larutan. Suspensi adalah

dispersi zat obat yang relatif tidak larut dalam pembawa air yang

mengandung sejumlah zat pensuspensi. Karena kecenderungan untuk

partikel yang akan dipertahankan di cul-de-sac, waktu kontak dan durasi


kerja suspensi melebihi sediaan larutan. Retensi untuk sementara

meningkat dengan peningkatan ukuran partikel, namun juga terhadap

iritasi mata. Tingkat kelarutan sediaan suspensi meningkat dengan

penurunan ukuran partikel. Dengan demikian ukuran optimum dari suatu

partikel harus dipilih untuk setiap jenis obat, dan dianjurkan bahwa

ukuran partikel dalam suspensi tetes mata tidak lebih dari 10 µm.

b) Sol-Gel Sistem

Konsep baru menghasilkan gel di situ (misalnya di cul-de-sac mata)

disarankan untuk pertama kalinya di awal 1980-an. Hal ini diterima

secara luas bahwa peningkatan viskositas formulasi obat di area kornea

akan menyebabkan peningkatan bioavailabilitas, karena drainase yang

lambat dari kornea. Beberapa konsep untuk sistem pembentuk gel in

situ telah diteliti. Sistem ini dapat dipicu oleh perubahan pH, suhu atau

dengan aktivasi ion. Dispersi polimer anionik menunjukkan viskositas

rendah sampai pH 5. 0, dan akan coacervate kontak dengan cairan air

mata karena adanya sistem penyangga karbonat yang mengatur pH air

mata. Pembentukan gel in situ oleh perubahan suhu yang dihasilkan

ketika suhu dispersi polimer dinaikkan 25-37°C. Aktivasi ion dispersi

polimer terjadi karena adanya kation dalam cairan air mata. Larutan

yang mengandung 1,5% metil selulosa dan 0,3% karbopol pada pH 4,0

dan 25°C menjadi lebih mudah mengalir sebagai sediaan tetes dan

menunjukkan peningkatan viskositas dan perubahan menjadi gel pada

perubahan pH 7,4 dengan penambahan 0,5 M NaOH


c) Spray

Meskipun tidak secara umum digunakan, beberapa praktisi

menggunakan mydriatics atau cycloplegics sendiri atau dalam

kombinasi dalam bentuk semprot mata. Semprotan ini digunakan dalam

mata untuk melebarkan pupil atau untuk pemeriksaan cycloplegics.

2) Sediaan padat

Konsep menggunakan padatan untuk mata didasarkan pada

karakteristik pelepasan berkelanjutan.

a) Ocular insert/Ocusert

Ocusert adalah bentuk sediaan padat dan dapat mengatasi

kelemahan dilaporkan dari bentuk sediaan tetes mata seperti

larutan, suspensi dan salep. Sediaan konvensional digantikan oleh

sediaan dengan pelepasan obat yang lebih terkontrol, berkelanjutan.

Ocusert mempertahankan konsentrasi obat yang efektif dalam

jaringan target dan belum meminimalkan jumlah pengaplikasian

dengan pelepasan terkendali. Kurangnya pengetahuan tentang

sediaan ocusert diduga disebabkan oleh faktor psikologis, seperti

keengganan pasien untuk meninggalkan pengobatan yang lama

dengan menggunakan larutan dan sediaan semi padat.

Sejumlah sisipan polimer padat telah dikembangkan sebagai

sistem penghantaran obat okular dan banyak tersedia di pasaran,

sisipan polimer ditoleransi lebih baik dengan drainase dan aliran air
mata dibandingkan formulasi oftalmik lainnya dan juga menghasilkan

pelepasan obat yang baik dalam konjungtiva.

Ocusert dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori :

a. Degradable/bioeridible/biosuluble

Sisipan ini aman dan nyaman karena dapat terurai dengan

baik walaupun proses pelepasan obat ini begitu rumit dalam kondisi

fisiologis. Matriks polimer akan hilang dari mata dengan erosi.

Berbagai bahan telah digunakan dalam pengembangan sisipan yang

dapat terdegradasi seperti polivinil alkohol, hidroksil propil selulosa,

pirolidon polivinil. Polimer ini dapat membentuk ikatan hidrogen

dengan air, oleh karena itu ketika kontak dengan air, akan

menghidrasi dan akhirnya mengikis saat polimer larut.

Keuntungannya yaitu lebih efektif, lebih fleksibel dalam jenis obat

dan disolusinya, tidak perlu dilepaskan. Sedangkan kerugiannya

yaitu ketidaknyamanan dari pasien, dan membutuhkan penyisipan

dari pasien.

b. Nondegradable

Sisipan yang tidak dapat terdegradasi telah dikembangkan

dengan polimer yang terkait dengan lensa kontak lunak dan etilena

vinil alkohol kopolimer. Pelepasan obat dari sisipan yang tidak larut

biologis lebih mudah diprediksi daripada yang berasal dari sisipan

biosoluble. Penyisipan sisipan seperti ini dibuat dari bahan polimer


fleksibel yang secara biologis inert, non allergenic, dan tidak larut

dalam cairan air mata. Karena bahan polimer tidak larut, dengan air

mata ia mempertahankan integritasnya dan tetap utuh selama

menjalani terapi, bertindak sebagai reservoir untuk terus

melepaskan obat ke mata dan jaringan sekitarnya pada tingkat yang

tidak terpengaruh oleh erosi. Bahan yang sering digunakan seperti

polimer polietilena. Keuntungan dari nondegradable ini yaitu

menurunkan efek samping lokal dan toksisitas, dan juga

memperbaiki kepatuhan. Kerugiannya yaitu dibutuhkan pengecekan

berkala, harus dilakukan penggantian unit yang terkontaminasi, dan

lebih mahal. Contohnya yaitu ocusert dan contact lens.

3) Semi Padat

Berbagai macam sediaan semisolids untuk penggunaan pada mata

dikategorikan dalam dua kategori umu yaitu basa sederhana dan

kompleks. Basa sederhana merujuk pada fase kontinu tunggal,

termasuk petrolatum putih, lanolin dan gel kental dibuat dari polimer

seperti PVA, karbopol dll. Basis senyawa biasanya dari jenis biphasic

tipe air dalam minyak atau minyak dalam emulsi air. Sediaan semipadat

yang paling umum digunakan adalah salep yang terdiri dari dispersi obat

padar dalam basis yang tepat. Bentuk sediaan semi-padat yang

diaplikasikan sekali atau dua kali sehari dan memberikan efek

berkelanjutan. Sasaran utama dari sediaan salep mata adalah untuk

memperpanjang waktu kontak obat dengan permukaan eksternal


okular. Tapi bentuk ini juga memberikan kelemahan yang mana dapat

menyebabkan pengaburan dan ketidaknyamanan dari kelopak mata.

Pembawa semi-padat menunjukkan waktu kontak yang lama pada mata

daripada kebanyakan obat, yang akhirnya mengarah ke peningkatan

bioavailabilitas.

4) Miscellanous

a) Nanopartikel

Nanopartikel adalah pembawa koloid dengan kisaran ukuran 10

sampai 1000 nm. Untuk penghantaran oftalmik, partikel nano umumnya

terdiri dari lipid, protein, polimer, alami atau sintetis seperti albumin,

natrium alginat, kitosan, PLGA. Nanopartikel menjanjikan untuk

pengiriman obat okular karena ukuran kecil yang menyebabkan iritasi

rendah dan pelepasan berkelanjutan yang menghindari adminstrasi

sering. Nanopartikel bisa dieliminasi dengan cepat dari kantong

prekorneal. Oleh karena itu, untuk nanopartikel administrasi topikal

dengan sifat mukoadhesif telah dikembangkan untuk memperbaiki

waktu tinggal prekorneal. PEG, kitosan dan asam hialuronat biasanya

digunakan untuk memperbaiki waktu tinggal precorneal nanopartikel.

Nanopartikel juga telah berhasil digunakan sebagai strategi alternatif

pengiriman obat jangka panjang ke jaringan okular segmen posterior.

Untuk pengiriman segmen posterior, disposisi nanopartikel tergantung

pada ukuran dan sifat permukaan.

b) Liposom
Liposom merupakan partikel koloid yang dibuat menggunakan

molekul, fosfolipid, dan merupakan sistem penghantaran obat yang

paling umum digunakan untuk penghantaran obat tertarget. Ukuran

liposom biasanya berkisar antara 0,08 sampai 10,00 m. Liposom tidak

beracun, nonhemolitik, dan non-imunogenik bahkan setelah suntikan

berulang. Sifatnya biokompatibel dan biodegradable. Untuk aplikais

oftalmik, liposom mewakili sistem penghantaran yang ideal karena

adanya biokompabilitas yang sangat baik, membran sel seperti struktur

dan kemampuan untuk merangkum obat hidrofilik dan hidrofobik.

Liposom telah menunjukkan efektivitas yang baik untuk penghantaran

okular segmen anterior dan posterior dalam beberapa penelitian. Untuk

pengiriman obat ke segmen anterior mata, upaya terutama dilakukan

untuk meningkatkan waktu tinggal prekorneal dengan memasukkan lipis

bermuatan positif atau polimer mukoadhesif dalam liposom. Liposom

kationik telah menunjukkan kemanjuran yang lebih baik dalam

penyerahan okular daripada liposom bermuatan negatif karena

mengikat muatan negatif permukaan kornea.

Didodecyldimethylammonium bromide, stearylamine, N-

trimethylammonium chloride umumnya digunakan untuk fabrikasi

liposom kationik.

B. Sediaan Ocusert

Sejumlah sisipan polimer padat telah dikembangkan sebagai sistem

penghantaran obat okular dan banyak tersedia di pasaran, sisipan polimer


ditoleransi lebih baik dengan drainase dan aliran air mata dibandingkan

formulasi oftalmik lainnya dan juga menghasilkan pelepasan obat yang baik

dalam konjungtiva.

1. Klasifikasi

Penyisipan okular dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori :

1) Degradable/bioeridible/biosoluble

Sisipan ini aman dan nyaman karena dapat terurai dengan baik walaupun

proses pelepasan obat ini begitu rumit dalam kondisi fisiologis. Matriks

polimer akan hilang dari mata dengan erosi. Berbagai bahan telah

digunakan dalam pengembangan sisipan yang dapat terdegradasi seperti

polivinil alkohol, hidroksil propil selulosa, pirolidon polivinil. Polimer ini dapat

membentuk ikatan hidrogen dengan air, oleh karena itu ketika kontak

dengan air, akan menghidrasi dan akhirnya mengikis saat polimer larut.

Keuntungannya yaitu lebih efektif, lebih fleksibel dalam jenis obat dan

disolusinya, tidak perlu dilepaskan. Sedangkan kerugiannya yaitu

ketidaknyamanan dari pasien, dan membutuhkan penyisipan dari pasien.

2) Nondegradable

Sisipan yang tidak dapat terdegradasi telah dikembangkan dengan polimer

yang terkait dengan lensa kontak lunak dan etilena vinil alkohol kopolimer.

Pelepasan obat dari sisipan yang tidak larut biologis lebih mudah diprediksi

daripada yang berasal dari sisipan biosoluble. Penyisipan sisipan seperti ini

dibuat dari bahan polimer fleksibel yang secara biologis inert, non

allergenic, dan tidak larut dalam cairan air mata. Karena bahan polimer tidak
larut, dengan air mata ia mempertahankan integritasnya dan tetap utuh

selama menjalani terapi, bertindak sebagai reservoir untuk terus

melepaskan obat ke mata dan jaringan sekitarnya pada tingkat yang tidak

terpengaruh oleh erosi. Bahan yang sering digunakan seperti polimer

polietilena. Keuntungan dari nondegradable ini yaitu menurunkan efek

samping lokal dan toksisitas, dan juga memperbaiki kepatuhan.

Kerugiannya yaitu dibutuhkan pengecekan berkala, harus dilakukan

penggantian unit yang terkontaminasi, dan lebih mahal. Contohnya yaitu

ocusert dan contact lens.

2. Keuntungan sediaan Ocusert

Beberapa keuntungan sediaan Ocular insert/ Ocusert, diantaranya :

1) Peningkatan waktu kontak yang mengarah pada peningkatan

bioavailabilitas.

2) Kemungkinan memberikan pelepasan obat yang berkepanjangan dan

menyebabkan kemanjuran yang lebih baik.

3) Pemberian dosis tepat di mata dan dengan demikian terapi dapat

ditingkatkan.

4) Mengurangi efek samping sistemik.

5) Pengurangan jumlah administrasi dan dengan demikian meningkatkan

kepatuhan & kemudahan pasien.

6) Kurangnya explosi

7) Kemudahan penanganan dan pemasangan.

8) Reproduksibilitas kinetika kontol.


9) Steril

10) Stabilitas yang lebih baik.

11) Kurang zat aditif.

12) Waktu simpan yang lebih baik dibandingkan dengan larutan air karena

kurang kandungan air. (Dawaba et al)

3. Mekanisme Pelepasan Obat

Pelepasan obat dari Ocusert melibatkan salah satu mekanisme berikut :

1) Difusi

Dalam mekanisme Difusi, obat dilepaskan terus menerus pada

tingkat terkontrol melalui membran ke dalam cairan air mata apabila insert

terbentuk dari sediaan padat non-erodible dengan pori-pori dan obat yang

tersebar. Pelepasan obat dapat dilakukan melalui difusi melalui pori-pori.

pelepasan terkontrol dapat diatur lebih lanjut oleh pelarutan obat bertahap

tersebar dalam matriks ini sebagai akibat dari difusi ke dalam larutan berair.

Dalam perangkat larut, pelepasan benar terjadi terutama melalui

pembengkakan polimer. Ketika insert ditempatkan di mata, air dari cairan

air mata mulai menembus matriks, kemudian mengalami pembengkakan

dan akibatnya polimer rantai relaksasi dan difusi obat berlangsung.

Pelepasan matriks, yang mengikuti proses pembengkakan, tergantung

pada struktur polimer: polimer linier amorp larut jauh lebih cepat dari polimer

silang atau sebagian polimer kristal.

2) Osmosis
Dalam mekanisme Osmosis, insert terdiri dari membran elastis

melintang kedap membagi interior insert ke dalam kompartemen pertama

dan kompartemen kedua; kompartemen pertama dibatasi oleh membran

semi-permeabel dan membran elastis kedap air, dan kompartemen kedua

dibatasi oleh bahan kedap air dan membran elastis. Ada pelepasan obat

aperture di dinding kedap insert. Kompartemen pertama berisi zat terlarut

yang tidak dapat melewati membran semipermeabel dan kompartemen

kedua menyediakan reservoir untuk obat yang lagi dalam bentuk cair atau

gel. Ketika insert ditempatkan di lingkungan mata berair, air berdifusi ke

dalam kompartemen pertama dan membentang membran elastis untuk

memperluas kompartemen pertama dan kontak kompartemen kedua

sehingga obat dipaksa melalui pelepasan obat aperture.

3) Bioerosi

Dalam mekanisme Bioerosi, konfigurasi tubuh insersi terdiri dari matriks

bahan bioerodible di mana obat didispersikan. Kontak insert dengan cairan

air mata menghasilkan pelepasan obat yang terkontrol secara

berkelanjutan melalui bio-erosi matriks. Obat dapat didispersikan secara

seragam di seluruh matriks tetapi diyakini pelepasan yang lebih terkontrol

diperoleh jika obat terkonsentrasi secara dangkal dalam matriks. Dalam

perangkat yang benar-benar dapat erosi atau tipe-E, laju pelepasan obat

dikendalikan oleh reaksi hidrolitik kimia atau enzimatik yang mengarah pada

pelarutan polimer, atau degradasi ke molekul yang lebih kecil, yang larut

dalam air. Polimer ini, yang seperti yang ditentukan oleh Heller, dapat
mengalami hidrolisis curah atau permukaan. Sisipan yang mudah terbakar

yang mengalami hidrolisis permukaan dapat menampilkan kinetika

pelepasan tanpa urutan; asalkan perangkat mempertahankan geometri

permukaan yang konstan dan bahwa obat tersebut tidak larut dalam air.

(Kokhar and Shukla)

C. Sodium Cromoglycate

1. Struktur

C23H14Na2O11

Gambar 4. Struktur kimia Sodium Cromoglikat (DrugBank.ca)

2. Nama Kimia/IUPAC

Disodium 5, 5’-[(2-hydroxytrimethylene) dioxy] bis[4-oxo-4H-1-

benzopyran-2-carboxylate]; disodium 5,5'-[(2-hydroxy-1,3-propanediyl) bis

(oxy)]-bis[4-oxo-4H-1-benzopyran-2carboxylate].

3. Sinonim

Cromolyn disodium salt / Cromolyn sodium / Disodium cromolyn /

Sodium cromoglicate / Sodium cromoglycate.


4. Kegunaan

Sodium kromoglikat digunakan untuk pencegahan reaksi alergi. Ia

bertindak dengan mencegah pelepasan mediator inflamasi dari sel mast

peka melalui stabilisasi membran sel mast, tidak memiliki tindakan

antihistaminic intrinsik dan secara umum dianggap memiliki tidak ada

aktivitas bronkodilator. Sodium kromoglikat dapat mencegah respon asma

untuk berbagai rangsangan alergi dan non-alergi. Cromoglicate

menghambat degranulasi sel mast, kemudian mencegah pelepasan

histamin dan substansi reaksi lambat anafilaksis (SRS-A), mediator reaksi

alergi tipe I. Cromoglicate juga dapat mengurangi pelepasan leukotrien

inflamasi. Cromoglicate dapat bertindak dengan menghambat masuknya

kalsium. Cromoglicate atau cromolyn (USAN), suatu senyawa sintetis,

menghambat bronkospasme yang diinduksi antigen dan, karenanya,

digunakan untuk mengobati asma dan rinitis alergi. Cromoglicate

digunakan sebagai solusi mata untuk mengobati konjungtivitis dan

digunakan secara oral untuk mengobati mastositosis sistemik dan kolitis

ulserativa.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Bahan

Sampel Natrium kromoglikat yang disediakan oleh Kopalle Pharma Pvt.

Ltd. Jeedimetla, Hyderabad, Sodium Alginat, Carbopol 940, dan HPMC

K4M diperoleh dari Hi-media Laboratories Pvt Ltd, Mumbai, India. Bahan-

bahan lain yang digunakan adalah Kalium dihidrogen fosfat, Sodium

hydroxide, Ethanol dan air suling steril.

B. Metode Kerja

Sebanyak delapan formulasi disusun dengan menggunakan konsentrasi

polimer yang berbeda dan dievaluasi.

1. Persiapan Ocusert Sodium kromoglikat

Larutan berair dari berbagai konsentrasi polimer yang berbeda disiapkan

dan dievaluasi untuk mengidentifikasi komposisi yang sesuai untuk

digunakan sebagai Ocuserts. Sisipan okular yang mengandung rasio

karbopol / natrium alginat / HPMC yang berbeda disiapkan dengan teknik

casting pelarut. Gliserin ditambahkan sebagai plasticizer. Rasio plasticizer

yang digunakan dalam sediaan adalah 50% berat per gram dari total berat

polimer. Sodium Cromoglycate Ocuserts disiapkan dengan menggunakan

metode casting pelarut.


Dalam metode casting pelarut cetakan kaca digunakan. Polimer pada

konsentrasi tertentu dilarutkan dan dicampur dengan baik menggunakan

magnetic stirrer untuk mendapatkan larutan polimer berbeda menggunakan

gliserin sebagai plasticizer. Untuk larutan di atas ditambahkan jumlah obat

yang diperlukan. Setelah pencampuran selesai, larutan dituangkan ke

cawan petri dalam bidang horizontal yang disimpan dalam oven udara

panas yang dipertahankan pada suhu 35ºC. Larutannya akan diuapkan

perlahan-lahan dengan membalik corong kaca (dengan penutup kapas di

batang pada suhu kamar selama 24 jam). Pelarut diuapkan untuk

membentuk ocular insert. Kemudian disterilkan (radiasi UV) dalam kondisi

aseptik dan dikemas dalam aluminium foil dan ditempatkan dalam desikator

sampai digunakan.

Lapisan filmnya kemudian diambil dari cawan petri dan dipotong sesuai

ukuran yang diperlukan. Lapisan film dengan gelembung udara atau ada

kerusakan lain dibuang. 25 sisipan polimer untuk setiap formulasi dibuat

lalu dipotong menjadi berbentuk lingkaran atau oval dengan bantuan

penggerek. Sisipan mata dengan area dan dimensi yang sesuai dipotong

dari larutan polimer, menghasilkan sekitar 25 sisipan untuk setiap formulasi.

Secara teoritis jumlah obat yang terkandung dalam setiap sisipan mata

dihitung berdasarkan metode luas permukaan berat kertas.


Tabel 1. Komposisi Ocusert Sodium Cromoglikat

2. Perhitungan dosis

Jumlah obat untuk pengobatan satu hari dengan tetes mata yang

mengandung 2% b / v natrium Kromoglikat diberikan di bawah ini:

Satu tetes natrium Kromoglikat = 0,04 ml

Satu tetes - 0,8 mg Sodium Cromoglikat

Jumlah obat yang diberikan pada satu waktu (2 tetes) ) = 0,16mg

Jumlah Obat yang ditanamkan dalam satu hari (8 tetes X 0,8 mg = 6,4 mg)

Diameter internal cincin = 5cm

Luas cincin = 3,14 X 2,5 X 2,5 = 19,6 cm2

Diameter Ocusert tunggal = 1 cm

Luas pada cincin tunggal = 3,14 X 0,5 X 0,5 = 0,785cm2

Jumlah film yang dimasukkan dalam cincin = 19,6 / 0,785 = 25

Jumlah obat yang dimuat pada Ocusert tunggal = Jumlah film tunggal ×

dosis = 25 X 6,4 = 160mg


3. Parameter Evaluasi

1) Pemeriksaan visual: Ocuserts diperiksa secara visual untuk melihat

transparansinya, adanya gelembung udara, homogenitas warna, dan

cacat/kerusakan lainnya.

2) Keseragaman bobot: Berat dihitung menggunakan timbangan digital.

Ocuserts ditimbang satu persatu dan berat rata-rata dihitung.

3) Keseragaman ketebalan: Tebal diukur dengan menggunakan alat

ukur sekrup pada sisi yang berbeda dari ocuserts dan rata-rata dihitung.

4) Keseragaman isi/konten obat: Ocusert Sodium Cromoglycate diuji

dengan analisis Spektrofotometri. Formulasi diambil dalam labu ukur 100

ml yang diencerkan dengan saline fosfat (PBS) pH 7,4 dan dikocok untuk

melarutkan obat dalam PBS pH 7,4. Larutannya disaring menggunakan

kertas saring Whatmann; filtratnya kemudian diencerkan dengan PBS pH

7,4 jika perlu. Konten obat ditentukan menggunakan spektrofotometer sinar

ganda Shimadzu UV 1800 pada 327 nm.

5) Daya tahan Lipat: Daya Tahan lipat ditentukan dengan cara berulang

kali melipat lapisan film di tempat yang sama hingga pecah atau munculnya

tanda-tanda pecah. Berapa kali lapisan film dapat dilipat di tempat yang

sama tanpa putus menunjukkan ketahanan lipatnya.

6) Persen penyerapan air

Cairan air mata buatan dibuat dengan natrium klorida, natrium bikarbonat,

kalsium klorida, air murni. 3-4 ocuserts diambil dan berat awal ditimbang

dan ditempatkan dalam cairan air mata buatan pada interval waktu yang
teratur, ocuserts ditimbang lagi. Persentase penyerapan kelembaban

dihitung menggunakan persamaan berikut:

Persentase penyerapan air = Berat akhir − Berat awal / Berat awal × 100.

Tabel 2. Komposisi Cairan air mata buatan


Komposisi Jumlah (gm)
Natrium klorida 0,670
Natrium bikarbonat 0,200
Kalsium klorida, 2H2O 0,008
Purified water q.s 100

7) Studi sterilitas

Uji sterilitas dimaksudkan untuk mendeteksi keberadaan bakteri, jamur, dan

ragi dalam atau pada sediaan yang disterilkan. Uji sterilitas dilakukan sesuai

dengan Farmakope India. Pengujian dilakukan dengan menginkubasi

selama tidak kurang dari 14 hari pada suhu 30 sampai 35°C dalam media

cair thioglycolate untuk mengetahui pertumbuhan bakteri dan pada 20

hingga 25°C dalam media SoybeanCasein untuk menemukan pertumbuhan

jamur dalam formulasi.

8) Studi Stabilitas

Stabilitas didefinisikan sebagai sejauh mana suatu produk tetap, dalam

batas yang ditentukan dan sepanjang periode penyimpanan dan

penggunaannya (umur simpan), sifat dan karakteristik yang sama yang

dimilikinya pada saat pembuatannya. Prinsip studi stabilitas dipercepat

diadopsi untuk menghindari keterlambatan yang tidak diinginkan dengan

studi stabilitas jangka panjang, di mana produk terdegradasi di bawah suhu

lemari es.
Menurut pedoman ICH, kondisi penyimpanan adalah sebagai berikut:

Pengujian jangka panjang: 5ºC ± 3ºC selama 12 bulan

Pengujian yang dipercepat: 25ºC ± 2ºC; 60% RH ± 5% RH selama 6 bulan.

Karena formulasi melakukan kinerja produk yang lebih baik, mereka

menjadi sasaran studi stabilitas pada 25°C ± 2°C dan 60% RH ± 5% RH

untuk periode tiga bulan. Sampel ditarik setelah 15, 30, 60 dan 120 hari dan

dievaluasi untuk parameter persentase kandungan obat dan pelepasan

obat in vitro.

9) Studi pelepasan obat in vitro

Studi pelepasan obat in vitro Model dua kompartemen donor-penerima,

dirancang menggunakan membran semipermeabel transparan dan type

regenerasi selulosa transparan (membran dialisis Sigma), digunakan untuk

memodelkan studi pelepasan obat in vitro. Membran semi-permeable

digunakan untuk meniru kondisi in vivo, seperti penghalang epitel kornea.

Sisipan (n = 3) ditempatkan di kompartemen donor, dan 7 μL STF dengan

pH 7,4 dipertahankan pada tingkat yang sama selama penelitian dalam

kompartemen donor untuk mensimulasikan volume air mata. Seluruh

permukaan membran bersentuhan dengan kompartemen reservoir yang

berisi 25 mL STF dengan pH 7,4, yang diaduk terus menerus menggunakan

magnetic stirrer pada 20 rpm untuk mensimulasikan aksi kedip. Pelepasan

obat ditentukan dengan menarik jumlah sampel yang ditentukan dari port

secara berkala, yang diganti dengan volume yang sama dari buffer fosfat
pH 7,4. Alikuot diencerkan dengan media reseptor dan dianalisis dengan

spektrofotometer UV-Vis pada 327 nm menggunakan STF pH 7,4 as blank..


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Visual examination

Semua formulasi diperiksa untuk transparansi, gelembung udara

terperangkap, homogenitas warna, dan kerusakan lainnya. Ocuserts

transparan, jernih tanpa gelembung udara.

B. Keseragaman Bobot

Ocusert Sodium Cromoglycate ditemukan berada dalam kisaran 4,97 ±

0,43mg hingga 5,40 ± 0,45 mg. Keseragaman bobot film menunjukkan

distribusi obat yang baik, dalam polimer dan plasticizer.

C. Keseragaman ketebalan

Ketebalan sisipan okular Sodium Cromoglycate bervariasi antara 0,045

± 0,007 mm hingga 0,055 ± 0,003 mm. Formulasi tidak menyebabkan iritasi

ketika ditempatkan di culde-sac karena tidak cukup tebal untuk

menghasilkan iritasi.

D. Keseragaman isi

Berbagai formulasi (F1 hingga F8) dari kandungan obat penyisipan

okular Sodium Cromoglycate ditemukan bervariasi antara 97,9 ± 0,1 hingga

99,8 ± 0,4 mg. Kandungan obat ditemukan hampir sama dengan nilai

standar deviasi yang rendah.

E. Daya tahan lipat


Daya tahan lipatan dari sediaan ocusert Sodium Cromoglycate adalah

untuk mengetahui kekuatan dan daya tahannya. Dari berbagai formulasi

(F1 hingga F8) dari daya tahan lipatan ocusert Sodium Cromoglycate

ditemukan menjadi 2. Hasil ini menunjukkan kekuatan yang cukup dari

ocusert untuk menahan goncangan.

F. Persen penyerapan air

Hasil studi % penyerapan air bahwa formulasi F5 (4,20 ± 0,05)

menunjukkan hilangnya kelembaban yang tinggi mungkin disebabkan oleh

carbopol (5%). Formulasi F2 (2,52 ± 0,05) menunjukkan lebih sedikit

kehilangan air mungkin karena adanya lebih banyak polimer hidrofilik

(HPMC), natrium alginat.

Tabel 3. Result of thickness, weight variation, % drug content and


%moisture absorbance

G. Uji Sterilitas

Uji sterilitas dilakukan sesuai dengan Pharmacopoeia India 1996.

Dilakukan dengan menginkubasi selama tidak kurang dari 14 hari pada

suhu 30 hingga 35°C dalam media cairan thioglycolate untuk menemukan


pertumbuhan bakteri pada 20 hingga 25°C di dalam Kedelai-Casein, media

untuk pertumbuhan jamur dalam formulasi.

H. Studi Difusi In vitro

Data pelepasan obat in-vitro memastikan bahwa formulasi F8

menunjukkan pelepasan obat untuk jangka waktu yang lebih lama yaitu 6

jam. Gambar 5 menunjukkan pelepasan ocuserts sodium Cromoglycate

secara in vitro. Disimpulkan dari hasil bahwa okusert yang hanya

mengandung satu polimer natrium alginat (F1) menunjukkan pelepasan

obat yang lebih cepat. Ini menunjukkan pelepasan obat yang berkelanjutan

hanya selama 3 jam. Dalam formulasi F2, F3, F4 selanjutnya, konsentrasi

polimer HPMC ditambahkan ke natrium alginat yang meningkatkan

kemampuan ocusert untuk mempertahankan obat. Ini karena HPMC adalah

polimer penahan air tidak seperti natrium alginat. Formulasi F4 yang

mengandung konsentrasi HPMC yang lebih tinggi obat bertahan selama 5

jam. Ini menunjukkan bahwa penambahan HPMC ke sisipan alginat

meningkatkan sifat pelepasan obat yang berkelanjutan. Karbopol (F5)

menunjukkan pelepasan obat yang lebih lambat daripada alginat. Tetapi

pada penambahan HPMC ke carbopol telah memperpanjang pelepasan

obat hingga 6 jam. Formulasi F8 yang memiliki kandungan HPMC yang

lebih tinggi mendukung obat untuk periode terpanjang 6 jam.


Gambar 5. Profil pelepasan in vitro sediaan ocusert natrium cromoglikat
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sodium cromoglycate telah diformulasikan sebagai sistem penghanaran

sisipan mata untuk pengobatan infeksi mata. Sodium Cromoglycate

ocuserts basis carbopol dan HPMC telah menunjukkan pelepasan obat

yang berkelanjutan serta tolerabilitas terhadap mata yang baik. Semua

ocusert disiapkan dengan konsentrasi yang tepat dari polimer hidrofilik dan

hidrofobik. Ocusert ini dievaluasi untuk ketebalan, variasi berat, kadar obat,

daya tahan lipatan, persen penyerapan air, dan studi difusi in vitro.

Karakteristik fisikokimia semua sisipan memuaskan. Konten obat

ditentukan dengan analisis spektrofotometri.

Pelepasan obat dari semua ocusert dengan konsentrasi polimer yang

bervariasi ditentukan oleh studi difusi in vitro. Data pelepasan obat in vitro

dari insersi menunjukkan aksi berkelanjutan selama sekitar 6 jam dengan

formulasi yang mengandung karbopol dan polimer HPMC (F8). Pelepasan

obat dalam formulasi khusus ini kurang jika dibandingkan dengan sisipan

yang disiapkan dengan natrium alginat. Karena tujuan utama dari sistem

penghantaran obat mata adalah untuk meningkatkan waktu tinggal obat di

cul-de-sac mata, formulasi yang melepaskan jumlah obat yang moderat

secara terkendali dianggap sebagai formulasi terbaik. Selanjutnya formulasi

terbaik diambil untuk studi in vivo untuk mengetahui kemanjuran terapi obat.
DAFTAR PUSTAKA

Kokhar, P., Shukla, V. 2014. Ocular Drug Delivery System: A Review Based
on Ocusert. International Journal of Pharma Research & Review
(IJPPR) 3(8) : 29 – 41. ISSN: 2278-6074.

Tofighia, P., Soltani, S., Hasan, S.M., Ataollah, S.M., Jelvehgari, M. 2017.
Formulation of Tolmetin Ocusert as Carriers for Ocular Drug
Delivery System. Iranian Journal of Pharmaceutical Research, 16
(2): 432 – 441.

Nagadivya, P., Gupta V.R.M., Naveen Kumar,S., Sreemouni,V., Sandeep


Kumar,V. 2018. Formulation and Evaluation of Sodium
Cromoglycate Ocuserts. World Journal of Pharmacy and
Pharmaceutical Sciences. Vo.7, Issue 5, 863 – 873. ISSN 2278 –
4357.