Anda di halaman 1dari 6

PERBANDINGAN KEMAMPUAN INHIBITOR TANIN DAUN JAMBU

BIJI, EKSTRAK PEKAT DAUN JAMBU BIJI DAN SERBUK DAUN


JAMBU BIJI, SEBAGAI INHIBITOR KOROSI BESI PADA MEDIUM
ASAM KLORIDA

(INHIBITION ABILITY COMPARATION OF GUAVA LEAVES TANNIN, EXTRACT OF


GUAVA LEAVES, AND GUAVA LEAVES POWDER AS IRON CORROSION
INHIBITION IN HCL SOLUTION)

Rondang Tambun1*, Harry P. Limbong2, Panca Nababan1, dan Nimrod Sitorus1


1)Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara,
Jl. Almamater Kampus USU Medan 20155, Indonesia
2) Balai Riset dan Standardisasi Industri Medan, Jl. Sisingamangaraja No.24,

Medan 20213, Indonesia

*Email: rondang_tambun@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat tanin terhadap laju korosi pada plat besi yang
direndam dalam larutan asam klorida (HCl) 2N. Zat tanin pada penelitian ini diperoleh dari hasil ekstraksi daun
jambu biji. Variabel yang diteliti adalah waktu perendaman dan konsentrasi inhibitor. Parameter yang diteliti
adalah laju korosi besi dan efisiensi inhibisi. Hasil penelitian menunjukkan tanin daun jambu biji, ekstrak pekat
daun jambu biji dan serbuk daun jambu biji memiliki kinerja inhibisi korosi yang baik. Untuk lama perendaman
besi selama 12 hari di dalam larutan HCL dan penambahan 9 gr inhibitor, laju korosi terendah yang dicapai
adalah 0,000079 gr/cm2.hari dengan menggunakan inhibitor tanin daun jambu biji, 0,000119 gr/cm2.hari
dengan menggunakan ekstrak pekat daun jambu biji, dan 0,000197 gr/cm2.hari dengan menggunakan
inhibitor serbuk daun jambu biji, sementara efisiensi inhibisi tertinggi yang dicapai adalah sebesar 96 %
dengan menggunakan inhibitor tanin daun jambu biji, 93,98 % dengan menggunakan inhibitor ekstrak pekat
daun jambu biji, dan 90,05 % dengan menggunakan inhibitor serbuk daun jambu biji.

Kata kunci: Tanin; laju korosi;, efisiensi inhibisi, daun jambu biji

ABSTRACT

This study was conducted to determine the effect of tannin substances on the rate of corrosion on iron soaked
in HCl 2N solution. In this experiment, the tannins were obtained by extracting guava leaves. The variables
studied were soaking time and the concentration of inhibitor. The parameters studied were the iron corrosion
rate and inhibition efficiency. The results showed that tannin of guava leaves, extract of guava leaves and
guava leaves powder could be used as corrosion inhibition. The soaking time of iron for 12 days in HCl
solution and 9 gr adding of inhibitor gave the lowest of corrosion and the highest inhibition efficiency. At these
conditions, the lowest of corrosions rate were 0,000079 g/ cm2.day using tannin of guava leaves, 0,000119
g/cm2.day using extracts of guava leaves, and 0,000197 g/cm2.day using guava leaves powder, while the
highest inhibition efficiency of iron were reached about 96% using tannin of guava leaves, 93,98% using
extract of guava leaves, and 90,05% using guava leaves powder.

Keywords: Tannin; corrosion rate; inhibition efficiency; guava leaf

1
PENDAHULUAN

Korosi adalah kerusakan atau berbentuk bulat telur agak jorong, ujung
degradasi logam akibat adanya interaksi tumpul, pangkal membulat, tepi rata agak
antara logam dengan lingkungan yang melekuk ke atas, pertulangan menyirip,
korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai panjang 6-14 cm, lebar 3-6 cm, berwarna
serangan yang merusak logam karena logam hijau, buah tunggal, bertangkai, keluar dari
bereaksi secara kimia atau elektrokimia ketiak daun, berkumpul 1-3 bunga, berwarna
dengan lngkungan (Roberge, P. 1999, putih. Selain itu, buahnya berbentuk bulat
Finsgar et al 2014). Menurut Amitha et al sampai bulat telur, berwarna hijau sampai
(2012), cara-cara penanggulangan korosi hijau kekuningan, daging buah tebal, buah
adalah: yang masak bertekstur lunak, berwarna putih
1. Adsorpsi ion di atas permukaan logam. kekuningan atau merah jambu, biji banyak
2. Menaikkan atau menurunkan reaksi mengumpul di tengah, kecil-kecil, keras,
anodik atau katodik. berwarna kuning kecoklatan. Daun jambu biji
3. Menurunkan laju difusi pada permukaan memiliki kandungan tanin 12-18%, kalori 49
logam. kal, vitamin A 25 SI, vitamin B1 0,02 mg,
4. Menurunkan tahanan listrik pada vitamin C 87 mg, kalsium 14mg, hidrat arang
permukaan logam. 12,20 g, fosfor 28 mg, besi 1,10 mg , protein
5. Melapisi permukaan logam dengan 0,90 mg , lemak 0,30 g, air 86 g, dan zat-zat
inhibitor. penyamak (psiditanin) sekitar 9%, minyak
Inhibitor yang berasal dari tumbuhan atsiri berwarna kehijauan yang mengandung
(green inhibitor) dapat digunakan untuk eganol sekitar 0,4%, damar 3%, minyak
memproteksi logam dari korosi (Amitha et al, lemak 6%, dan garam-garam mineral
2012, Manoj et al, 2013.). Pada penelitian ini, (Jiménez et al, 2001).
daun jambu biji (Psidium guajava) digunakan Kandungan tanin yang terdapat pada
sebagai komponen utama inhibitor korosi besi. daun jambu biji menjadi dasar bahwa daun
Media asam yang digunakan pada penelitian jambu biji ini dapat digunakan sebagai
ini adalah HCl (Singh et al, 2010, Finsgar et inhibitor korosi. Tanin yang mudah
al, 2014). Penggunaan daun jambu biji terhidrolisis merupakan polimer gallic atau
sebagai inhibitor korosi ini dibagi atas 3 ellagic acid yang berikatan ester dengan
bentuk/bagian, yaitu: sebuah molekul gula, sedangkan tanin
1. Dalam bentuk tanin hasil ekstrak dari daun terkondensasi merupakan polimer senyawa
jambu biji flavonoid dengan ikatan karbon-karbon
2. Dalam bentuk ekstrak pekat daun jambu (Waghorn et al. 2003). Tanin merupakan
biji senyawa yang dapat larut dalam air, gliserol,
3. Dalam bentuk serbuk daun jambu biji alkohol, dan hidroalkohol, tetapi tidak larut
Perlakuan ini dilakukan untuk mengetahui dalam petroleum eter, benzen, eter dan etil
kemampuan daun jambu biji sebagai inhibitor asetat (Gust et al, 1993). Menurut Hagerman
korosi besi, apakah daun jambu biji tersebut et al (2002), sifat kimia dari tanin adalah
harus diekstrak menjadi tanin, atau bisa sebagai berikut:
digunakan langsung dalam bentuk serbuk a. Tanin merupakan senyawa kompleks
daun jambu biji ataupun dalam bentuk dalam bentuk campuran polifenol yang
ekstrak pekat daun jambu biji. sukar dipisahkan sehingga sukar
mengkristal.
TEORI b. Tanin dapat diidentifikasikan dengan
kromotografi.
Jambu biji merupakan salah satu c. Senyawa fenol dari tanin mempunyai aksi
tanaman buah jenis perdu. Jambu biji ini adstrigensia, antiseptik dan pemberi
mempunyai daun dengan helaian daun warna.

2
kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu
METODOLOGI PENELITIAN 110 0C selama 2 jam agar besi tidak
mengandung air.
Pembuatan Tanin, Ekstrak Pekat dan
Serbuk Daun Jambu Biji Perendaman plat besi dalam larutan asam
Daun jambu yang telah terkumpul klorida tanpa inhibitor
dibersihkan dari kotoran-kotoran, kemudian Sampel plat besi yang telah disiapkan
dirajang kecil-kecil dan dikeringkan di udara masing-masing direndam dalam larutan asam
terbuka selama 3 hari. Daun yang telah klorida dengan volume larutan 50 ml selama
kering ditumbuk hingga menjadi serbuk. 0, 3, 6, 9, dan 12 hari, lalu ditentukan laju
Serbuk daun jambu biji ini dimasukkan ke reaksi korosinya.
dalam maserator, kemudian dicampurkan
metanol 70% sebanyak 18 L, lalu dibiarkan di Perendaman plat besi dalam larutan asam
dalam maserator selama 16 hari. Setelah klorida dengan penambahan inhibitor
hasil diperoleh, dikeluarkan dari maserator Sampel plat besi yang telah disiapkan
lalu disaring dengan kertas saring. Filtrat masing-masing direndam dalam larutan asam
yang diperoleh di masukkan ke dalam rotary klorida dengan volume larutan 50 ml,
vacuum evaporator pada suhu 64 - 66 0C kemudian dilakukan variasi penambahan
selama 2 jam. Kemudian ekstrak pekat inhibitor. Inhibitor yang digunakan adalah
(inhibitor) ini dimasukkan ke dalam botol kaca, tanin yang berasal dari daun jambu biji,
lalu diuji dengan menggunakan analisa ekstrak pekat daun jambu biji, dan serbuk
kualitatif. daun jambu biji. Konsentrasi inhibitor yang
ditambahkan masing-masing adalah 1, 3, 5, 7
Analisa Kualitatif Tanin pada Ekstrak dan 9 gr, kemudian disimpan selama 0, 3, 6,
Pekat 9, dan 12 hari untuk ditentukan laju reaksi
Ekstrak pekat di masukkan ke dalam korosi dan efisiensi inhibisi dari masing-
beaker glass sebanyak 10 gr, kemudian masing inhibitor.
ditambahkan air sebanyak 10 ml kemudian
dipanaskan hingga mendidih, disaring dan Penentuan laju reaksi korosi
diambil filtratnya, filtrat ditambahkan larutan Setelah proses korosi berjalan selama
FeCl3 1% sebanyak 10 tetes, jika warna waktu tertentu, produk korosi diangkat dari
berubah menjadi hijau kehitaman maka media korosi, dan dicuci. Dikeringkan dalam
terdapat tanin. oven pada suhu 110 oC, kemudian ditimbang
sebagai berat akhir. Berat awal dari besi
Pemisahan Tanin pada Ekstrak Pekat adalah berat besi sebelum direndam kedalam
Ekstrak pekat dimasukkan kedalam larutan. Laju reaksi korosi dan efisiensi
beaker glass. Ditambahkan etil asetal 95%, inhibisi korosi dihitung dengan persamaan (1)
diaduk sampai bercampur, didiamkan hingga dan (2) berikut (Asdim, 2007, Kumar et al,
membentuk endapan, disaring, endapan 2013):
tersebut dicuci lagi dengan etil asetat 95%
sampai filtratnya berwarna bening, kemudian Laju Reaksi Korosi =
disaring untuk memperoleh residunya. Residu Berat Awal − Berat Akhir
… . . (1)
yang diperoleh ini merupakan tanin yang siap Luas Plat Besi × Waktu Perendaman
digunakan sebagai inhibitor.
Efisiensi Inhibisi =
Persiapan plat besi yang akan diuji Vko − Vki
× 100 % … … … … … … … … … (2)
Sampel plat besi dengan ukuran 1 x 2 x Vko
0,1 cm dihaluskan permukaannya dengan
ampelas besi. Permukaan yang telah halus dimana :
ini dicuci dengan deterjen dan aquades, Vko=Laju reaksi korosi tanpa inhibitor
Vki=Laju reaksi korosi adanya inhibitor:.

3
menggunakan inhibitor tanin daun jambu biji,
HASIL DAN PEMBAHASAN 0,000119 gr/cm2.hari dengan menggunakan
inhibitor ekstrak pekat daun jambu biji, dan
Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa 0,000197 gr/cm2.hari dengan menggunakan
penambahan tanin dapat memperlambat laju inhibitor serbuk daun jambu biji.
korosi. Hal ini membuktikan bahwa tanin
dapat berfungsi sebagai inhibitor korosi plat 2

Laju Korosi (mg/cm2.hari


1.8
besi dalam media asam klorida. Hasil 1.6
penelitian menunjukkan bahwa semakin 1.4
tinggi konsentrasi tanin, maka laju korosi 1.2 inhibitor 9 gr
1 inhibitor 7 gr
pada plat besi makin rendah. Hal ini 0.8 inhibitor 5 gr
disebabkan tanin merupakan senyawa 0.6 inhibitor 3 gr
0.4 inhibitor 1 gr
polifenol yang sangat kompleks, dimana tanpa inhibitor
0.2
molekul tanin teradsorpsi pada permukaan 0
logam, dan membentuk suatu lapisan tipis 3 6 9 12
dengan ketebalan beberapa molekul inhibitor. Waktu (hari)
Lapisan ini tidak dapat dilihat oleh mata
biasa, namun dapat menghambat Gambar 2. Pengaruh konsentrasi ekstrak
penyerangan lingkungan terhadap logamnya. pekat daun jambu biji terhadap
laju korosi plat besi
2
1.8 2
Laju Korosi (mg/cm2.hari

1.6 1.8
Laju Korosi (mg/cm2.hari)

1.4 1.6
1.2 inhibitor 9 gr 1.4
inhibitor 7 gr 1.2 inhibitor 9 gr
1 inhibitor 7 gr
Inhibitor 5 gr 1
0.8 0.8 inhibitor 5 gr
Inhibitor 3 gr inhibitor 3 gr
0.6 0.6
Inhibitor 1 gr 0.4 inhibitor 1 gr
0.4 tanpa inhibitor
Tanpa Inhibitor 0.2
0.2
0
0 3 6 9 12
3 6 9 12
Waktu (hari)
Waktu (hari)

Gambar 3. Pengaruh konsentrasi inhibitor


Gambar 1. Pengaruh konsentrasi inhibitor
serbuk daun jambu biji terhadap
tanin terhadap laju korosi plat
laju korosi plat besi
besi

Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa


Begitu juga pada Gambar 2 dan 3,
efisiensi inhibisi dipengaruhi oleh konsentrasi
menunjukkan bahwa ekstrak pekat daun
inhibitor dan lamanya waktu perendaman plat
jambu biji dan serbuk daun jambu biji juga
besi, dimana semakin besar konsentrasi
mampu memperlambat laju korosi. Dari hasil
inhibitor tanin yang di tambahkan serta
penelitian diperoleh bahwa semakin tinggi
semakin lama waktu perendaman plat besi
konsentrasi ekstrak pekat daun jambu biji
maka semakin tinggi efisiensi inhibisinya
ataupun serbuk daun jambu biji, maka laju
(Uhlig et al. 2007).
korosi plat besi pada media asam klorida
Berdasarkan penelitian yang telah
makin rendah.
dilakukan menunjukkan bahwa hasil yang
Dapat disimpulkan bahwa dari Gambar 1,
diperoleh telah sesuai dengan teori, dimana
2 dan 3, laju korosi terendah terjadi pada
besarnya efisiensi inhibisi tergantung pada
penambahan 9 gr inhibitor dan lama
konsentrasi inhibitor serta lamanya waktu
perendaman besi 12 hari di dalam larutan
kontak antara logam dengan media korosif.
HCl, yaitu 0,000079 gr/cm 2.hari dengan

4
Semakin lama waktu kontak antara logam
dengan media korosif, maka efisiensi inhibisi Hal yang sama dapat dilihat pada
semakin besar, begitu juga sebaliknya (Uhlig Gambar 5 dan 6, yang menunjukkan bahwa
et al. 2007). efisiensi inhibisi tergantung pada konsentrasi
ekstrak pekat daun jambu biji dan serbuk
100 daun jambu biji serta lama waktu kontak
antara logam dengan media korosif. Semakin
Efisiensi Inhibisi (%)

80
lama waktu kontak antara logam dengan
60 inhibitor 9 gr
media korosif, maka efisiensi inhibisi semakin
inhibitor 7 gr
40 Inhibitor 5 gr besar, begitu juga sebaliknya.
Inhibitor 3 gr Dari gambar 4, 5 dan 6 dapat dilihat
20 Inhibitor 1 gr bahwa efisiensi inhibisi tertinggi masing-
0 masing dicapai pada penambahan inhibitor
3 6 9 12 sebesar 9 gr dan lama perendaman selama
Waktu (hari) 12 hari, yaitu 96% dengan menggunakan
inhibitor tanin daun jambu biji, 93,98%
Gambar 4. Pengaruh konsentrasi inhibitor dengan menggunakan inhibitor ekstrak pekat
tanin terhadap efisiensi inhibisi daun jambu biji, dan 90,05 % dengan
plat besi menggunakan inhibitor serbuk daun jambu
biji. Proses inhibisi ini terjadi akibat molekul-
100 molekul serbuk daun jambu biji, ekstrak
pekat, dan tanin teradsorpsi pada permukaan
Efisiensi Inhibisi (%)

80
besi dan membentuk lapisan pelindung di
60 inhibitor 9 gr
inhibitor 7 gr permukaan logam sehingga semakin banyak
40 Inhibitor 5 gr serbuk daun jambu biji, ekstrak pekat, dan
Inhibitor 3 gr
20 Inhibitor 1 gr tanin yang teradsorpsi, maka semakin besar
efisiensi inhibisinya.
0
3 6 9 12
KESIMPULAN
Waktu (hari)

Dari hasil penelitian yang dilakukan


Gambar 5. Pengaruh konsentrasi inhibitor dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
ekstrak pekat daun jambu biji 1. Laju korosi plat besi semakin berkurang
terhadap efisiensi inhibisi plat dengan penambahan inhibitor tanin daun
besi jambu biji, ekstrak pekat daun jambu biji
dan serbuk daun jambu biji dalam larutan
100 media korosif HCL 2N.
2. Laju korosi terendah masing-masing
Efisiensi Inhibisi (%)

80
dicapai pada penambahan inhibitor
60 sebesar 9 gr dan lama perendaman
inhibitor 9 gr
40
inhibitor 7 gr selama 12 hari, yaitu 0,000079
Inhibitor 5 gr 2
gr/cm .hari dengan menggunakan
Inhibitor 3 gr
20 inhibitor tanin daun jambu biji, 0,000119
Inhibitor 1 gr
0 gr/cm2.hari dengan menggunakan
3 6 9 12 inhibitor ekstrak pekat daun jambu biji,
Waktu (hari) 0,000197 gr/cm2.hari dengan
menggunakan inhibitor serbuk daun
Gambar 6. Pengaruh konsentrasi inhibitor jambu biji.
serbuk daun jambu biji terhadap 3. Efisiensi inhibisi tertinggi masing-masing
efisiensi inhibisi plat besi dicapai pada penambahan inhibitor

5
sebesar 9 gr dan lama perendaman Waghorn, G. C. & W. C. McNabb. 2003.
selama 12 hari, yaitu 96% dengan Consequences of plant phenolic
menggunakan inhibitor tanin daun jambu compounds for productivity and
health of ruminants. Proc. Nutr. Soc.
biji, 93,98% dengan menggunakan
62(2):383-92.
inhibitor ekstrak pekat daun jambu biji,
dan 90,05 % dengan menggunakan
inhibitor serbuk daun jambu biji.

DAFTAR PUSTAKA

Amitha, R. B. E and B. J. B Bharathi. 2012.


Green inhibitors for corrosion
protection of metals and alloys: An
overview. International Journal of
Corrosion 2012: 1-15.
Asdim. 2007. Penentuan efisiensi inhibisi
ekstrak kulit buah manggis (garcinia
mangostana l) pada reaksi korosi baja
dalam larutan asam. Jurnal Gradien
3(2) : 273-276.
Finsgar, M and J. Jackson. 2014. Application
of corrosion inhibitors for steels in
acidic media for the oil and gas
industry: Corrosion Science 86: 17–41.
Gust, J. and J. Bobrowicz. 1993. Sealing and
anti-corrosive action of tannin rust
converters. Corrosion Science 49
(1):24-30.
Hagerman, A. E. 2002. The Tannin
Handbook. Miami University. Oxford.
Jiménez, E. A., M, Rincón., R Pulido, and F.
C. Saura. 2001. Guava fruit (Psidium
guajava L.) as a new source of
antioxidant dietary fiber. J Agric Food
Chem 49(11): 5489-93.
Kumar, S. A., A. Sankar, and S.
Rameshkumar. 2013. Oxystelma
esculentum leaves extracts as
corrosion inhibitor for mild steel in acid
medium. International journal of
scientific & technology research 2(9):
55-58.
Manoj A, J. S. Chouhan, A. Dixit, and D. K.
Gupta. 2013. Green inhibitors for
prevention of metal and alloys
corrosion: an overview. Chemistry and
materials research 3(6):16-24.
Roberge, P. 1999. Handbook of Corrosion
Engineering. New York: Mc Graw Hill
Book Company.
Singh, A. K and Quraishi, M. A. 2010. Effect
of cefazolin on the corrosion of mild
steel in HCl solution, Corrosion
Science 52 (1): 152-160.
Uhlig, H. H and R. W. Revie. 2007. Corrosion
& Corrosion Control. 4th edition. John
Wiley & Sons, Inc., N.Y.