Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

EMULSIFIKASI
Tanggal Praktikum: 03 April 2018

oleh
Kelompok B
Farfis D - Selasa Siang
Benedictus 1606889105
Chesira Rizki 1606924373
Desta Nurwati Siamyah 1606890662
Merianda Ramadhian Putri 1606823651
Nadhifah Salsabila 1606879281
Salsabila Raniyah 1606881632

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2018
I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menghitung jumlah emulgtor gabungan surfaktan yang digunakan dalam
pembuatan emulsi
2. Membuat emulsi dengan menggunakan emulgator golongan surfaktan
3. Mengevaluasi ketidakstabilan emulsi
4. Menentukan HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi

II. LATAR BELAKANG


Farmasi Fisika adalah kajian atau cabang ilmu hubungan antara fisika (sifat-
sifat Fisika) dengan kefarmasian (sediaan Farmasi, farmakokinetik, serta
farmakodinamiknya) yang mempelajari tentang analisis kualitatif serta kuantitatif
senyawa organik dan anorganik yang berhubungan dengan sifat fisikanya serta
menganalisis pembuatan dan pengujian hasil akhir dari sediaan obat. (Sinala et al.,
n.d.)
Salah satu materi farmasi fisika adalah emulsifikasi. Emulsi adalah suatu
sistem yang secara termodinamik tidak stabil, terdiri dari paling sedikit dua fase
yang tidak tercampur, dimana satu diantaranya terdispersi sebagai globul-globul
dalam fase cair yang lainnya. (Petunjuk Praktikum Farfis, 2018)
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak sediaan farmasi yang berupa
emulsi karena emulsi memiliki banyak kelebihan seperti dapat menyatukan 2 fase
berbeda, mengurangi rasa pahit dari zat aktif obat dan dapat mempercepat
absorbsi secara oral dalam tubuh (Jufri M,2004)
Dalam pembuatan suatu emulsi pemilihan emulgator merupakan faktor yang
penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak
dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang banyak
digunakan dalam pembuatan emulsi adalah surfaktan. Mekanisme kerja emulgator
ini adalah menurunkan tegangan antar permukaan air dan minyak serta
pembentukan lapisan film pada permukaan globul-globul fase terdispersi.
(Petunjuk Praktikum Farfis, 2018)
Selain surfaktan, hal yang harus diketahui adalah HLB surfaktan tersebut
untuk menilai efisiensi surfaktan emulgator yang ditambahkan. Semakin tinggi
harga HLB suatu surfaktan maka zat itu akan bersifat polar. Disamping itu juga
perlu diketahui harga HLB butuh dari minyak yang digunakan. (Petunjuk
Praktikum Farfis, 2018)
III. METODE
1. Buat satu seri emulsi dengan HLB masing-masing 6, 8, 10, 12, dan 14.
Jumlah minyak jagung, tween 80, span 20, dan aqua destillata dihitung
sesuai kebutuhan.
2. Menimbang minyak jagung, tween 80, span 20 , dan aquadestilata
a) Menimbang minyak jagung masing-masing sebanyak 20 gram dalam
5 cawan penguap
b) Tween 80 ditimbang sebanyak 0,794 gram; 1,728 gram; 2,663 gram;
3,598 gram; 4,532 gram dan Span 20 sebanyak 4,206 gram; 3,272
gram; 2,337 gram; 1,402 gram; dan 0,468 gram.
c) Menimbang aqua destillata sebanyak 75 gram, tara timbangan
terlebih dahulu. Lakukan sebanyak 5 kali.
3. Campurkan tween 80 dengan aqua destillata dan span 80 dengan oleum
maydis. Kemudian panaskan di waterbath sampai suhu 70o C
4. Campurkan fase air dan fase minyak kedalam beaker glass untuk
homogenizer. Homogenizer dinyalakan dengan kecepatan 2 selama 3
menit.
5. Masukkan ke dalam gelas ukur dan beri tanda untuk masing-masing
HLB.
6. Mencatat waktu pemisahan dan ketinggian masing-masing, kemudian
diamati kembali terbentuknya lapisan selama tujuh hari berturut-turut
dan hingga pemisahan emulsi konstan (ketinggian masing-masing
lapisan tetap).
7. Apabila sudah konstan, hasil pemisahan emulsi dikocok. Kemudian
diamati tipe ketidakstabilannya untuk menentukan creaming atau
demulsifikasi.
8. Emulsi yang paling stabil ditentukan, yaitu emulsi yang paling lama
memisah dan memiliki volume emulsi terbanyak.
9. Hasil pengamatan dicatat pada lembar data percobaan yang tersedia dan
dicatat harga HLB dimana emulsi relatif paling stabil.
IV. HASIL PENGAMATAN
Gambar Hasil Pengamatan
(Urutan Gelas Ukur Dari Kiri Ke Kanan : Emulsi HLB 6 – HLB 8 – HLB 10 –
HLB 12 – HLB 14)

Gambar 1 – Kamis, 5 April Gambar 2 – Jumat, 6 April


2018 2018

Gambar 3 – Senin, 9 April Gambar 4 – Selasa, 10 April


2018 2018
Gambar 5 – Selasa, 10 April 2018
(Setelah Pengocokan)

Data Pengamatan

Keterangan :
A = Volume Fase Air (Bagian Berwarna Bening), satuan dalam mL
B = Volume Fase Minyak (Bagian Berwarna Putih), satuan dalam mL

Setelah dilakukan pengocokan pada pengamatan hari terakhir :


HLB Emulsi Homogen Kembali Tidak Homogen Kembali
HLB 6 V -
HLB 8 V -
HLB 10 V -
HLB 12 V -
HLB 14 V -
V. PEMBAHASAN
Emulsi merupakan sistem yang secara termodinamik tidak stabil yang
terdiri dari paling sedikit dua fase yang tidak tercampur yaitu air dan minyak
dimana satu diantaranya terdispersi sebagai globul-globul dalam fase cair yang
lainnya. Karena tidak stabil, sistem ini biasanya distabilkan dengan emulgator.
Mekanisme kerja emulgator adalah menurunkan tegangan antar permukaan air
dan minyak serta pembentukan lapisan film pada permukaan globul-glabul fase
terdispersi. Mekanisme pembentukan emulsi dengan emulgator Tween dan Span
adalah sebagi berikut: bagian hidrokarbon Span 80 berada dalam bola minyak dan
radikal sorbitan berada dalam fase air. Bagian kepala sorbitan dari molekul-
molekul Span mencegah ekor hidrokarbon bergabung dengan erat pada fase
minyak. Bila Tween 80 ditambahkan, ia mengarah pada batas sedemikian rupa
sehingga sebagian dari ekor hidrokarbon ada dalam fase minyak dan rantai
tersebut, bersama-sama dengan cincin sorbitan serta rantai polioksetilen, berada
dalam fase air. Rantai hidrokarbon dari molekul Tween berada dalam bola minyak
di antara rantai-rantai Span, dan penyusunan ini menghasilkan gaya Van der
Walls yang efektif. Lapisan antar muka diperkuat dan kestabilan emulsi
ditingkatkan untuk melawan pengelompokan partikel.
Pada praktikum kali ini kami membuat sediaan emulsi minyak jagung
dalam air dengan beragam HLB butuh minyak yaitu 6,8,10,12,dan 14 dengan
emulgator yang digunakanan adalah kombinasi tween 80 (HLB 15) dan span 20
(HLB 4,3) yang kestabilannya akan diamati selama 6 hari dan panjang pemisahan
antar fase akan diukur. secara teoritis, suatu emulsi pasti akan memperlihatkan
suatu gejala ketidakstabilan seperti flokulasi, creaming, koalaesen, demulsifikasi,
inversi atau bahkan cracking. Namun, secara teoritis emulsi dengan nilai HLB
butuh yang mendekati nilai HLB butuh minyak yang digunakanlah yang paling
dapat menjaga kestabilannya. Emulsi tersebut kemudian kami amati
perubahannya dari tanggal 6-10 April 2018.
Ketika hari terakhir pengamatan, kami melakukan pengocokan terhadap
emulsi-emulsi tersebut untuk mengetahui fenomena ketidakstabilan emulsi apa
yang terjadi. Setelah dilakukan pengocokan, semua emulsi kembali homogen. Hal
tersebut menunjukkan bahwa fenomena ketidakstabilan emulsi termasuk ke dalam
fenomena creaming. Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan
konsentrasi yang berbeda-beda dalam suatu emulsi.Lapisan yang paling dekat
akan berada di atas atau bawah,tergantung dari bobot jenis fase yang terdispersi.
Pada fenomena ini,lapisan film antar partikel belum rusak sehingga emulsi dapat
kembali seperti semula setelah pengocokan.
Perhitungan presentase kestabilan pada pengamatan hari keempat (Selasa, 10
April 2018) :

HLB 6 HLB HLB HLB HLB


8 10 12 14
Volume fase air 0-67ml 0- 0- 0- 0-
(cm) 63ml 68ml 65ml 69ml
Volume fase 67-93ml 63- 68- 65- 69-
minyak(cm) 88ml 95ml 92ml 95ml

𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑚𝑢𝑙𝑠𝑖 26𝑚𝑙


HLB 6: 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 × 100 = × 100 = 27.96%
93𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑚𝑢𝑙𝑠𝑖 23𝑚𝑙
HLB 8: 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 × 100 = × 100 = 26.14%
88 𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑚𝑢𝑙𝑠𝑖 27 𝑚𝑙
HLB 10: 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 × 100 = × 100 = 28.42%
95𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑚𝑢𝑙𝑠𝑖 27𝑚𝑙
HLB 12: 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 × 100 = × 100 = 29.34 %
92𝑚𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑚𝑢𝑙𝑠𝑖 27𝑚𝑙
HLB 14: 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 × 100 = × 100 = 39.13 %
69 𝑚𝑙

Berdasarkan data perhitungan persentase kestabilan emulsi diatas,


praktikan menyimpulkan emulsi paling stabil yaitu emulsi dengan nilai HLB 14
karena persentase kestabilannya paling tinggi yaitu sebesar 39.13%. Angka
persentase kestabilan yang merupakan perbandingan volume emulsi (fase minyak)
dengan volume keseluruhan cairan, dapat menggambarkan seberapa banyak sisa
emulsi yang dapat dipertahankan kestabilannya dari total volume cairan. Tetapi
hasil ini tidak valid karena total volume emulsi yang berbeda-beda.
Ketika pembuatan emulsi, kami tidak mendapatkan total volume 100ml. Hal ini
dapat terjadi karena :
1. Ketidaktelitian penimbangan.
2. Sebagian bahan tertinggal di wadah pada saat pemindahan ke wadah
berikutnya.
3. Terlalu lama memanaskan bahan sehingga menguap.
d 2 1  2 g
Berdasarkan hukum Stokes ( v  ), fenomena ketidakstabilan emulsi
18
dapat terjadi karena sistem HLB yang digunakan dalam emulsi tidak mendekati
HLB butuh minyak dalam emulsi atau karena hal berikut:
a. Berat Jenis
Jika berat jenis fase pendispersi lebih besar daripada fase
terdispersi, maka akan terjadi creaming positif, yaitu creaming ke
bagian atas.
b. Ukuran partikel terdispersi
Jika ukuran partikel makin besar, maka creaming akan lebih cepat
terjadi. Oleh karena itu, biasanya digunakan alat homogenizer
untuk memperkecil ukuran partikel.
c. Viskositas
Semakin besar viskositas, maka emulsi semakin stabil karena
kecepatan sedimentasi semakin kecil.
d. Suhu
Semakin tinggi suhu, maka emulsi semakin tidak stabil karena
suhu yang tinggi akan menurunkan viskositas emulsi sehingga
peristiwa creaming cepat terjadi.
VI. KESIMPULAN
Pembuatan suatu emulsi memerlukan emulgator yang HLB nya
mendekati HLB butuh fase minyaknya. Pada emulsi minyak jagung dalam air
dengan campuran emulgator tween 80 (HLB 15) dan span 20 (HLB 4,3) didapat
emulsi paling stabil yaitu emulsi dengan nilai HLB 14 karena persentase
kestabilannya paling tinggi yaitu sebesar 39.13%. Ketidakstabilan emulsi dapat
terjadi karena sistem HLB yang digunakan dalam emulsi tidak mendekati HLB
butuh minyak dalam emulsi atau karena fenomena creaming/flokulasi yang dapat
diperbaiki dengan cara pengocokan emulsi.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Sinala, S., Si, S., Si, M., Junaedi, A., Si, S., & Farm, M. (n.d.). BAB I Dasar-dasar
Farmasi Fisika dan Sifat Fisika Molekul Topik 1 Dasar-dasar Farmasi Fisika,
1, 1–147.
Sinko, Patrick. 2006. Martin’s Physical Pharmacy and Pharmaceutical Science
6th edition. Baltimore: Lippincott Williams and Wikins.
Petunjuk Praktikum Farmasi Fisika, UI, 2018