Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL FINAL PROJECT

Sistem Pengukuran Kelembaban Tanah Commented [V1]: Keluaran dari FP ini kalian bisa
mengukur? Sbg alat ukur berarti? Bukan hanya sensor

Menggunakan Fiber Optik sebagai Pendeteksi


Potensi Tanah Longsor

Disusun Oleh : Kelompok 9

Sapto Wahyu Sudrajat 02311540000053


Aulia Mutiara Aminullah 02311745000005
M. Rizal Rizki Hansyah 02317450000023
Yunita Kholidaziah Arifiana 02311745000028
Rasian Indra Mukromin 02311745000050

Asisten Pembimbing :
Niza Rosyda 02311850010004

PROGRAM STUDI S-1


DEPARTEMEN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2018
LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL FINAL PROJECT DEPARTEMEN
TEKNIK FISIKA FTI-ITS

Judul : Sistem Pengukuran Kelembaban Tanah


Menggunakan Fiber Optik sebagai Pendeteksi
Potensi Tanah Longsor

Bidang Studi : Sistem Fotonika


1. a. Nama Ketua : Radian Indra Mukromin
b. NRP : 02311745000050
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
2. Jangka Waktu : 1 bulan
3. Asisten Pembimbing : Niza Rosyda
4. Usulan Proposal ke :I
5. Status : Baru
Surabaya, 26 November 2018
Pengusul,

Radian Indra Mukromin


NRP. 02311745000050

Menyetujui,
Asisten Pembimbing,

Niza Rosyda

NRP.02311850010004

Koordinator Final Project Sistem Fotonika,

Iwan Cony S

NIP. 0231440000093
I. Judul Commented [V2]: Beda sama yg di cover
“Sistem Pengukuran Kelembaban Tanah untuk Mengetahui Potensi
Tanah Longsor”

II. Mata Kuliah Pilihan Bidang Minat Yang Diambil :


1. Sistem Fotonika

III. Pembimbing Commented [V3]: Tdk perlu


1. Niza Rosyda

IV. Latar Belakang

Kejadian bencana alam banyak terjadi dan cenderung meningkat dari


tahun ketahun. Peningkatan ini terjadi di dunia termasuk di Indonesia. Banjir,
kekeringan, tanah longsor, tsunami, gempa bumi, dan badai merupakan
bencana alam yang dapat menimbulkan dampak kerugian yang besar bagi
kehidupan manusia. Indonesia merupakan wilayah yang secara geologis,
geomorfologis, meteorologis, klimatologis, dan sosial ekonomi sangat rawan
terhadap bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui website-
nya menyatakan jumlah kejadian bencana terus bertambah selama tahun 2018.
Selama Januari 2018 hingga Februari 2018 telah terjadi 513 kejadian bencana
di tanah air. Dari 513 kejadian bencana terjadi longsor sebanyak 137. Dampak
yang ditimbulkan oleh bencana selama kurun waktu 2 bulan tersebut adalah 72
jiwa meninggal dunia dan hilang, 116 jiwa luka-luka, dan lebih dari 393 ribu
mengungsi dan menderita. Sebanyak 12.104 rumah rusak meliputi 1.566 rumah
rusak berat, 3.141 rumah rusak sedang dan 7.397 rumah rusak ringan. Selain
itu juga terdapat kerusakan 127 unit fasilitas pendidikan, 123 fasilitas
peribadatan dan 13 fasilitas kesehatan. Diperkirakan kerugian dan kerusakan
akibat bencana mencapai puluhan trilyun rupiah. Dari korban 72 jiwa
meninggal dan hilang, bencana longsor adalah jenis bencana yang banyak
jumlah korbannya. Tercatat 45 jiwa meninggal dunia dan hilang akibat longsor.
Longsor menjadi bencana yang paling mematikan sejak tahun 2014 hingga
sekarang. Sekitar 40,9 juta jiwa masyarakat Indonesia tinggal di daerah rawan
longsor sedang hingga tinggi.
Tanah longsor merupakan kejadian alam dimana satu blok (masa)
tergelincir kebawah terhadap masa yang lain. Hal ini banyak disebabkan oleh
tidak kuatnya gaya lekat (resisting force) antar lapisan tanah menahan Commented [V4]: Istilah asing miring
perubahan masa (Driving force) dalam struktur tanah tersebut. Gerakan tanah Commented [V5]: Istilah asing miring
adalah suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk kondisi baru akibat
gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun
akibat ulah manusia. Gerak tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada
keadaan ketidak seimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses
mekanis, mengakibatkan sebagaian dari lereng tersebut bergerak mengikuti
gaya gravitasi, dan selanjutnya setelah terjadi longsor merupakan pergerakan
massa tanah atau batuan menuruni lereng mengikuti gaya gravitasi akibat
terganggunya kestabilan lereng. Semakin curamnya lereng juga memperbesar
energi angkut air. Hal ini disebabkan gaya berat yang semakin besar sejalan
dengan semakin miringnya permukaan tanah dari bidang horizontal, sehingga
lapisan tanah atas yang tererosi akan semakin banyak. Saat musim hujan seperti
saat ini longsor marak terjadi. Akibatnya ketika terjadi peningkatan kadar air
tanah menjadi mudah longsor. [4] Commented [V6]: 1,2,3 mana?

Upaya-upaya untuk mengetahui potensi terjadinya tanah longsor terus


dilakukan, salah satunya dengan membuat instrumen yang dapat mendeteksi
potensi tanah longsor menggunakans sistem pengukuran kelembaban tanah..
Kelembaban tanah memiliki peranan untuk kegagalan erosi tanah dan
kemiringan lereng. Alat pendeteksi untuk mengetahui potensi tanah longsor
menggunakan sistem pengukuran kelembaban tanah di Indonesia masih sangat
minim. Khusus untuk bencana longsor, sistem pendeteksian yang
dikembangkan juga bermacam-macam, salah satunya dengan memanfaatkan
serat optik. Eksperimen ini merupakan studi kasus dalam perancangan sitem
pengukuran kelembaban tanah menggunakan fiber optik sebagai pendeteksi
potensi tanah longsor.[5]

V. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan sebelumnya,
permasalahan yang diangkat pada final project ini adalah: Bagaimana
mengimplementasikan fiber optik sebagai sistem pengukuran kelembaban tanah
untuk mengetahui potensi tanah longsor ?

VI. Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakannya final project ini adalah: Mampu
mengimplementasikan fiber optik sebagai sistem pengukuran kelembaban tanah
untuk mengetahui potensi tanah longsor.

VII. Batasan Masalah Commented [V7]: Tambahkan jenis serat optik apa yg
digunakan
Agar penelitian final project ini memiliki ruang bahasan yang jelas, tanpa
menghilangkan tujuan dari final project maka ditetapkan pendekatan sistem
sebagai berikut:
1. Sistem pendeteksi potensi tanah longsor diemplementasikan ke tiga jenis Commented [V8]: Variasi jenis tanah? Atau variasi
kelembaban tanah?
tanah.
2. Source pada fiber menggunakan LED
VIII. Tinjauan Pustaka

[1] Haroon, Hazura. Khadijah Idris, Siti “Design and Implementation of Fiber
Optic Sensor for Soil Moisture Detection,” Journal of Telecommunication,
Electronic and Computer Engineering, vol. 10 No.2-5, pp. 131-134. 2016
Fiber optik plastik terbukti menjadi elemen yang penting dalam mengembangkan
sensor yang terjangkau harganya untuk berbagai aplikasi. Dengan menggunakan prinsip
pelepasan serat cladding, fiber optik plastik berfungsi sebagai sensor. Dalam penelitian
ini menjelaskan kelayakan sistem sensor kelembaban tanah menggunakan fiber optik
plastik. Pengukuran dilakukan pada suhu ruang 30 derajat C. Terdapat tiga sensor yang Commented [V9]: Perbaiki penulisan
dirancang berbeda berdasarkan panjang fiber optik.

[2] Hallet, J.S. Patridge, M. “ Soil Moistrure Content Measurement Using Optical Fiber
Long Period Gratings” 25 th International Conference on Optical Fiber Sensors, Vol.
10323. pp. (103232J-1)- (103232J-1), 2017.
Dalam penelitian ini menjelaskan untuk mengetahui akurasi dari sebuah sistem,
fiber optik (sensor) menggunakan prisip perbandingan antara volume kadar air dengan
volume tanah kering . Akurasi yang dikutip sekitar 3% . Invsetigasi ini menguji tanah
untuk kapasitasnya, jumlah kelembaban tanah atau kandungan air yang disimpan
ditanah setelah kelebihan air. Pada penelitian ini menggunakan A Theta Probe (SM200)
sebagai alat pendeteksi. LPG (Long Period Gratings) mempunyai sensitivitas baik
untuk menunjukkan kadar air.

[3] Leone, Marco. Principe, Sofia, “Fiber Optic Thermo-Hygrometers for Soil
Moisture Monitoring,” vol 10 .3390 , pp. 1-16 2017.
Dalam penelitian ini mengembangkan serat Bragg Grating (FBGs) digunakan
sebagai sensor kelembaban tanah untuk tujuan irigasi. Penelitian ini membahas
terkasit kadai air untuk eksploitasi aplikasi pencegah tanah longsor. Sistem
mampu mengamati secara kontinyu hingga kedalaman tanah 37% dari
permukaan.

[4] Maddu, Akhiruddin. Mohjahidin, Kun. “Pengembangan Probe Sensor


Kelembaban Serat Optik Dengan Cladding Gelatin” , vol. 10 No. 1 pp 45-50 .
2006.
Probe sensor kelembaban menggunakan serat optik dengan cladding gelatin. Pada
probe sensor kelembaban ini, cladding asli serat optik diganti dengan lapisan gelatin
sebagai cladding sensitif kelembaban. Untuk menguji respon sensor serat optik yang
dibuat, dilakukan pengukuran intensitas cahaya yang ditransmisikan pada probe serat
optik untuk setiap variasi perlakuan kelembaban berbeda. Respon probe sensor serat
optik ini diukur dari kelembaban 42% hingga 99% RH, hasilnya memperlihatkan kurva
transmisi optik berbavariasi terhadap nilai kelembaban relatif (RH). Transmisi optik di
dalam probe serat optik meningkat terhadap kenaikan nilai RH pada suatu rentang
panjang gelombang spesifik, yaitu pada spektrum pita hijau hingga merah (500 nm -
700 nm), dengan variasi signifikan pada rentang 600 nm sampai 650 nm atau dalam pita
spektrum kuning hingga merah. Panjang gelombang dimana intensitas maksimum
transmisi optik terjadi pada panjang gelombang 610 nm. Dengan demikian, probe sensor
kelembaban serat optik ini dapat merespon kelembaban dari 42 %R hingga 99%H
dengan respon terbaik pada rentang kelembaban 60% RH hingga 72%R yang memiliki
linieritas dan sensitifitas yang cukup baik.

[5] Susilo, Adi. Santoso, Didik R. ,” DESAIN SISTEM PERINGATAN DINI ZONA
RAWAN LONGSOR DENGAN PENERAPAN SENSOR KELEMBABAN DAN
GETARAN PADA TANAH”, Jurnal Meteorlogi dan Geofisika. vol. 12 No. 3, pp. 283-
289. Desember 2011.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem peringatan dini longsoran atau
gerakan tanah. Untuk keperluan tersebut dirancang perangkatt elektronik berupa
gabungan sensor getaran dan kandungan air tanah. Sensor kedua dirancang berdasarkan
prinsip kapasitif yakni pengukuran luaran tegangan yang dihasilkan dari perubahan
kandungan air pada suatu obyek. Model longsoran dibuat pada suatu box dari bahan
mika, dan material tanah dibuat dari campuran kaolin dan pasir dengan kadar air
bervariasi. Tanah dipadatkan dan membentuk lereng dengan kemiringan 75 , 65 , 60 dan
45 . Box yang berisi tanah diletakkan di atas suatu vibrator dengan skala tertentu. Untuk
merekam longsoran yang terjadi dipasang video camera. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa makin tinggi kemiringan suatu lapisan tanah (batuan), makin kecil skala getaran
dan makin cepat pula waktu yang diperlukan untuk terjadinya longsoran dan sebaliknya.

IX. Teori Penunjang


9.1 Serat optik plastik
Serat optik plastik (Plastic Optical Fiber, POF) merupakan serat
optik yang berbahan plastik polimer, dimana lapisan inti (core) dibuat
dari Poly(methyl methacrylate) (PMMA) sedangkan lapisan (coating) dibuat
daripada Perfluropolimer. FOP terdiri dari teras (core), selongsong (cladding),
dan jaket pelindung. Core dan cladding dibuat berbeda indeks bias, agar bisa
terjadi pemantulan internal total. Pemantulan internal total inilah yang
menyebabkan cahaya tetap berada di dalam fiber optik. Sementara jaket
digunakan untuk melindungi fiber optik dari kondisi lingkungan yang merusak.

Gambar 1 Struktur serat optik plastik


9.2 OPM (Optical Power Meter) Commented [V10]: Benahi jarak spasi
Optical power meter (OPM) adalah peralatan penting untuk pengukuran daya dalam
sistem komunikasi serat optik. Pengukuran daya adalah salah satu dasar pengukuran
serat optik Power meter dipakai untuk mengukur total loss dalam sebuah link optik
baik saat instalasi (uji akhir) atau pemeliharaan. Nilai untuk pengukuran rugi -rugi
dengan daya pada sisi kirim (sumber) atau daya pada akhir penerima yang berbeda–
beda. Jenis optical power meter menggunakan bahan semikonduktor photodetector
seperti Silicon (Si), Germanium (Ge), atau Indium Gallium Arsenide (InGaAs),
tergantung pada panjang gelombang yang digunakan. Si detector digunakan pada
daerah panjang gelombang 850 nm, sedangkan Ge dan InGaAs detector adalah jenis
yang digunakan pada daerah panjang gelombang 1310 and 1550 nm

9.3 LED
LED adalah komponen elektronika yang dapat memancarkan cahaya
monokromatik ketika diberikan tegangan maju. Warna-warna Cahaya yang
dipancarkan oleh LED tergantung pada jenis bahan semikonduktor yang
dipergunakannya. Cara kerja LED hanya akan memancarkan cahaya apabila
dialiri tegangan maju (bias forward) dari Anoda menuju ke Katoda. LED terdiri
dari sebuah chip semikonduktor yang di doping sehingga menciptakan junction
P dan N. Yang dimaksud dengan proses doping dalam semikonduktor adalah
proses untuk menambahkan ketidakmurnian (impurity) pada semikonduktor
yang murni sehingga menghasilkan karakteristik kelistrikan yang diinginkan.
Ketika LED dialiri tegangan maju atau bias forward yaitu dari Anoda (P) menuju
ke Katoda (K), Kelebihan Elektron pada N-Type material akan berpindah ke
wilayah yang kelebihan Hole (lubang) yaitu wilayah yang bermuatan positif (P-
Type material). Saat Elektron berjumpa dengan Hole akan melepaskan photon
dan memancarkan cahaya monokromatik (satu warna).

Gambar 2 LED tipe P dan tipe N

9.4 Arduino
Arduino adalah pengendali mikro single-board yang bersifat open-source,
dirancang untuk memudahkan penggunaan elektronik dalam berbagai
bidang. Hardware dalam arduino memiliki prosesor Atmel AVR dan
menggunakan software dan bahasa sendiri. Penggunaan jenis arduino
disesuaikan dengan kebutuhan, hal ini yang akan mempengaruhi dari jenis
prosessor yang digunakan. Jika semakin kompleks perancangan dan
program yang dibuat, maka harus sesuai pula jenis kontroler yang
digunakan. Yang membedakan antara arduino yang satu dengan yang
lainnya adalah penambahan fungsi dalam setiap boardnya dan jenis
mikrokontroler yang digunakan.

Gambar 3 Arduino pin out

9.5 Kelembaban Tanah


Kelembaban tanah adalah air yang mengisi sebagian atau seluruh pori-pori
tanah yang berada di atas water tabel. Definisi yang lain menyebutkan bahwa
kelembaban tanah menyatakan jumlah air yang tersimpan diantara pori-pori
tanah sangat dinamis, hal ini disebabkan oleh penguapan melalui permukaan
tanah dan perkolasi. Tingkat kelembaban tanah yang tinggi dapat menjadikan
tanah menjadi jenuh. Dalam kondisi tanah jenuh maka air yang ada didalam
tanah akan memberikan tekanan pada partikel-partikel tanah yang akan
mempengaruhi seberapa erat partikel-partikel tanah untuk tidak bergerak
ketika dilakukan suatu penekanan. Apabila terjadi gempa bumi, maka tekanan
air yang ada didalam tanah meningkat ke titik dimana partikel-partikel tanah
dapat bergerak dengan mudah antara satu sama lain. Kandungan air didalam
tanah dapat diketahui melalui persamaan :

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑗𝑒𝑛𝑢ℎ − 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔


Kandungan air didalam tanah (%) = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
x
100%

9.6 U-Bent
U-bent merupakan perlakuan pada sebuah fiber optik sebagai sensing yang
dibentuk seperti huruf U. Dalam u-bent ini terdapat parameter berupa diameter
u-bent (D) atau bisa dikatakan diameter lekukan bentuk U dan diameter pada
fiber optik (∅). Keuntungan dalam penggunaan u-bent sebagai sensing yaitu
1. Memiliki sensitivitas serapan evanescent wave yang tinggi. Evanescent wave
merupakan salah satu metode sensor yang dibuat dengan mengupas
cladding asli serat optik dan diganti dengan material yang lain sehingga nilai
indeks biasnya berubah
2. Tidak mudah rapuh dibanding dengan geometri lain
3. memudahkan dalam fabrikasi probe

Gambar 4 Struktur U-bent

Gambar 5 ukuran U-bent (a) ∅= 1000 µm, diameter 3 mm (b) ∅= 750 µm,
diameter 1,25 mm (c) ∅= 500 µm, diameter 1,25 mm (d) ∅= 250 µm ,diameter
0,75 mm

X. Metodologi Penelitian

10.1 Tahapan Penelitian


Penelitian direncanakan dilakukan di Laboratorium Rekayasa Fotonika,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Adapun pelaksanaan penelitian ini secara
garis besar digambarkan dalam diagram alir pada gambar 6
Commented [V11]: Serat optik plastik tidak disambung

Gambar 6 Flow chart penelitian

Berikut ini adalah alur dari penelitian final project ini :

a. Persiapan Eksperimen
Berikut merupakan alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan Commented [V12]: Yg bertanda kuning tdk diperlukan
eksperimen :
 Serat optik plastik multimode
 Alkohol 96%
 Fusion splicer type-ZIC Sumitomo Electric
 3dB fiber coupler
 Pigtail fiber
 Arduino UNO
 Optical light source
 Optical power meter
 Fiber cleaver
 Fiber stripper
 Power Bank 5 Volt
 Sampel Tanah Kering
 Air Secukupnya

b. Pembuatan Sensor Bending Serat Optik


Pada tahap ini dilakukan pemotongan serat optik plastik multimode Commented [V13]: Pembuatan ini berlaku utk fiber silika
bukan plastik.
dengan variasi panjang 50 mm. Bagian coating dari serat multiimode Pembuatan sensor dg serat optik plastik
dikupas sebagian menggunakan fiber cleaver kemudian dibersihkan 1.Kupas jaket
2.Bersihkan cladding dg aseton
menggunakan alkohol 96%. Ujung masing-masing serat dipotong Baru disambung ke sumber chy dan detektor (ke arduino,
menggunakan fiber stripper dengan skala mm agar lebih presisi. Kedua power bank, dll)
ujung serat multimode masing-masing disambung menggunakan fussion
splicer. Salah satu ujung serat multimode dihubungkan ke optical power
meter, sedangkan ujung lainya dihubungkan dengan sumber cahaya dari
arduino UNO.

c. Karakteristik Fiber Optik Plastik Multimode Tanpa Pengaruh


Variabel Kelembaban
Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Fiber Optik
Plastik Multimode yang sudah dibuat dengan cara menguji intensitas
keluaran pada optical power meter tanpa adanya pengaruh kelembaban.

d. Pengujian Sensor Serat Optik Plastik Multimode Dengan Beberapa


Variabel Kelembaban
Tahapan ini akan digunakan untuk membandingkan intensitas
keluaran yang diakibatkan oleh Fiber Optik Plastik Multimode tanpa
adanya pengaruh kelembaban dengan intensitas keluaran yang
menggunakan beberapa variabel kelembaban. Sehingga perubahan daya
dari dua kondisi tersebut dianalisa lebih lanjut untuk mengetahui hubungan
perubahan kelemababan terhadap intensitas keluaran.
10.2 Pembuatan Alat
Dalam pembuatan sistem pengukuran menggunakan fiber optik diperlukan
skema yang ditunjukkan pada gambar berikut ini,
Gambar 5 Skema peengukuran kelembapan tanah
10.3 Pengambilan Data
Dalam proses pengambilan data, sebelum dilakukan pengambilan data,
dilakukan pengeringan pada tanah terlebih dahulu. Setelah itu uji coba terlebih dahulu
dari konfigurasi lekukakan dari fiber optik plastik tingkat kelembapan pada tanah
kering. Dari konfigurasi pengukuran sudah tepat maka dilakukan pengambilan data
dengan menambahkan air pada tanah, buat sebuah tabel yakni dengan variabel rugi
daya, dan tingkat basah tanah.

10.4 Analisa

Analisa yang disusun oleh kelompok kami dilakukan dengan menganalisis


perubahan tingkat basah tanah terhadap rugi daya dari detektor yang dibaca. Sehingga
dari variabel tersebut dapat dilakukan konfigurasi terhadap tingkat terjadinya longsor.
Sehingga dari kelembapan tanah itulah kita dapat menentukan peringatan dini yang
harus diwaspadai dari bencana longsor berdasarkan kelembapan tanah.

10.5 Penyusunan dan Penulisan Laporan

Penyusunal dan penulisan laporan merupakan tahap akhir dari proses penelitian
dan pengukuran. Dimana hasil yang dilakukan kelompok kami dilaporkan secara
keseluruhan berdasarkan asas kejujuran dan keterbukaan, Sehingga memperoleh
kesimpulan .
X.I Jadwal Kegiatan
Kegiatan penelitian ini akan dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut:

Tabel 1 Jadwal kegiatan


No. KEGIATAN MINNGU
1 2 3 4 5
1. Pembuatan Abstrak dan Proposal
2. Studi Literatur dan Pembuatan
pengukuran
3. Pengambilan data
4. Analisa
5. Penyusunan Extended Abstract
6. Penyusunan Laporan
7 Presentasi Akhir dan Pengumpulan
Laporan Akhir

XII. Anggaran Dana


Adapun anggaran biaya yang akan dialokasikan untuk final project ini dapat
dirinci pada tabel berikut :
Tabel 2 Rencana Anggaran Biaya
Justifikasi Harga Jumlah
Material Kuantitas Keterangan
Pemakaian Satuan harga
Tempat uji
Toples plastik kelmbapan 1 buah 10.000 10.000 Beli
tanah
Light source Transmiter 1 buah - - Dari lab
Penyalur air
Fiber optik
dari keran ke 30 cm - - Dari lab
plastik
ember
Mengukur
penggaris 1 Buah 4.500 4.500 Beli
Ketinggian Air
Merekatkan
Fiber optik
Selotip 1 Buah 5.500 5.500 Beli
pastik dengan
Tiang (U-bent)
Agar
Tiang
membentuk 1 Buah 10.000 10.000 Beli
(kayubalok)
(U-bent)
OPM Reciver 1 Buah - - Dari lab
Jumlah Biaya RP 30.000
XIII. Daftar Pustaka
[1] Haroon, Hazura. Khadijah Idris, Siti “Design and Implementation of
Fiber Optic Sensor for Soil Moisture Detection,” Journal of
Telecommunication, Electronic and Computer Engineering, vol. 10
No.2-5, pp. 131-134. 2016
[2] Hallet, J.S. Patridge, M. “ Soil Moistrure Content Measurement
Using Optical Fiber Long Period Gratings” 25 th International
Conference on Optical Fiber Sensors, Vol. 10323. pp. (103232J-1)-
(103232J-1), 2017.
[3] Leone, Marco. Principe, Sofia, “Fiber Optic Thermo-Hygrometers
for Soil Moisture Monitoring,” vol 10 .3390 , pp. 1-16 2017.
[4] Maddu, Akhiruddin. Mohjahidin, Kun. “Pengembangan Probe
Sensor Kelembaban Serat Optik Dengan Cladding Gelatin” , vol. 10 No.
1 pp 45-50 . 2006.
[5] Susilo, Adi. Santoso, Didik R. ,” DESAIN SISTEM PERINGATAN
DINI ZONA RAWAN LONGSOR DENGAN PENERAPAN SENSOR
KELEMBABAN DAN GETARAN PADA TANAH”, Jurnal Meteorlogi
dan Geofisika. vol. 12 No. 3, pp. 283-289. Desember 2011.

Anda mungkin juga menyukai