Anda di halaman 1dari 18

BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH

Pada jaman dahulu kala, tersebutlah seorang gadis cantik dan baik budi yang bernama
Bawang Putih. Gadis ini tinggal bersama ibu dan kakak tirinya yang bernama Bawang Merah.
Bawang Putih diperlakukan dengan sangat kejam. Setiap hari ia harus mengerjakan semua
pekerjaan rumah, sementara kakak tirinya Bawang Merah, hanya bermalas-malasan. Bila ia
sedikit saja melakukan kesalahan, maka hukumanlah yang akan ia terima. Bawang Putih
selalu bangun pagi dan mengerjakan semua pekerjaan di rumah itu, lalu tidur lebih malam
dari ibu dan kakaknya. Pekerjaan rumah seperti tak pernah ada habisnya. Ada-ada saja
pekerjaan yang diberikan oleh ibu dan kakaknya itu.

Sebelumnya, kehidupan Bawang Putih sangatlah bahagia. Ibunya seorang ibu yang
sangat sayang kepadanya. Ayahnya yang seorang saudagar kaya, juga mencintainya dengan
luar biasa. Apalagi ia adalah anak semata wayang mereka. Kesedihan Bawang Putih mulai
datang ketika ibunya sakit dan meninggal. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan seorang
janda beranak satu yang tidak lain adalah tetangga mereka sendiri. Akhirnya, tinggalah
Bawang Merah dan ibu tirinya itu di rumah mereka. Kesedihan dan kesengsaraan Bawang
Putih berlanjut ketika ayahnya pergi berdagang. Selama ditinggal pergi ayahnya, ibu tiri dan
Bawang Merah selalu memperlakukannya dengan buruk. Bawang Putih tidak pernah berani
mengungkapkan kekejian ibu dan kakaknya itu kepada ayahnya. Keduanya selalu berlaku
baik kepada Bawang Putih saat berada di depan ayahnya.

Situasi semakin buruk ketika ayahnya jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Kini Bawang
Putih merasa sangat tersiksa. Hari-harinya menjadi suram. Badannya menjadi kurus kering
dan matanya semakin sayu. Ia sangat merindukan kehidupan sebelumnya yang sangat
berbahagia bersama ibu dan ayah kandungnya.

Suatu hari, saat itu matahari telah tergelincir dan menuju peraduannya di ufuk barat.
Bawang Putih diperintahkan oleh ibu tiri dan kakak tirinya Bawang Merah untuk mencuci
pakaian di sungai. Cucian kotor itu banyak sekali. Keranjang rotannya penuh dengan kain
dan kebaya ibunya dan Bawang Merah. bawang Putih tentu saja tidak berani menolaknya.

Di sungai Bawang Putih mencuci dengan hati-hati. Ia meletakkan keranjangnya di atas


sebuah batu besar dan mulai bekerja. Tetapi, karena tubuhnya telah letih bekerja seharian,
ia menjadi kurang awas. Selembar kain milik ibu tirinya hanyut terbawa arus sungai yang
deras. Setelah menyadari bahwa kain ibunya hanyut, Bawang Putih berusaha mencarinya.

Bawang Putih berjalan di tepi sungai. Ia menyusuri arus dengan melompat dari satu
batu ke batu lainnya. Kakinya telah berdarah-darah dan sakit karena permukaan batu yang
keras dan tajam. Tetapi Bawang Putih berusaha untuk mengatasi rasa sakitnya itu. Ia terus
menyusuri sungai sambil mengamati arus sungai. Siapa tahu, kain milik ibunya itu dapat
ditemukannya kembali. Bawang Putih sangat takut. Jika ia tak bisa mendapatkan kain itu,
entah hukum apa yang akan menimpanya. Ibu dan Bawang Merah bisa sangat kejam.
Jangan-jangan ia akan dipukul lagi dengan sapu lidi dan tidak diberikan makanan seperti
ketika seminggu yang lalu tanpa sengaja telah menjatuhkan belanga berisi beras saat akan
menanak nasi.

Telah cukup jauh Bawang Putih berjalan. Ia melihat seorang gembala sedang
memandikan kerbaunya. Bawang Putih segera memberi salam dan kemudian bertanya
apakah gembala tersebut melihat sepotong kain berwarna merah yang hanyut. Gembala ia
mengiyakan. Ia mengatakan bahwa baru saja ia melihat sepotong kain berwarna merah
hanyut ke arah hilir, tetapi karena arus yang deras ia tak bisa mengambilnya. Bawang Putih
berterima kasih kepada gembala kerbau itu dan melanjutkan pencariannya.

hampir semua perabotan dapur terbuat dari tulang-belulang

Beberapa jam kemudian, Bawang Putih melihat seorang nelayan sedang memancing di
tepi sungai. Ia segera menghampirinya. Bawang Putih mengucapkan salam dan bertanya
apakah nelayan itu melihat sepotong kain berwarna merah yang hanyut terbawa arus
sungai. Ternyata, seperti juga gembala kerbau, nelayan itu juga melihat kain merah itu
hanyut. Tetapi, karena arus sungai yang sangat deras, ia tidak dapat mengambilnya. Buru-
buru Bawang Putih mengucapkan terima kasih. Kemudian, ia segera melanjutkan kembali
pencariannya.

Saat itu hari telah mulai gelap. Senja datang tak terasa. Di tepian sungai yang terlihat
agak menyeramkan dengan pohonnya yang besar-besar dan semak-semak yang rimbun,
Bawang Putih melihat seorang nenek yang terbungkuk-bungkuk sambil mencuci beras.
Bawang Putih agak takut karena penampilan nenek itu tidak biasa. Tubuhnya besar dan
wajah keriputnya menakutkan. Kalung dan gelangnya terbuat dari tulang-belulang. Nenek
tua itu ternyata seorang raksasa. Akan tetapi, Bawang Putih memberanikan diri. Seseorang
dengan penampilan buruk dan menyeramkan bisa saja berhati emas dan berbudi pekerti
luhur. Ia segera teringat ibu tiri dan kakaknya yang cantik tetapi berhati bengis.

Bawang Putih memberi salam kepada nenek raksasa itu. Ia kemudian menanyakan
apakah nenek itu melihat sepotong kain berwarna merah milik ibu tirinya yang hanyut di
sungai. Jawaban nenek raksasa itu sangat menggembirakannya. Nenek raksasa itu
mengatakan bahwa ia memang melihat kain merah itu tersangkut di semak-semak yang
tumbuh hingga ke aliran sungai yang deras itu. Nenek raksasa itu telah mengambilnya dan
menyimpannya. Bawang Putih berterima kasih karena nenek raksasa itu telah
mengambilkan kain merah itu. Bawang Putih mengatakan bahwa ia akan dimarahi ibu tiri
dan kakak tirinya jika saja kain itu tak dapat ditemukannya.

Bawang Putih kemudian membantu nenek raksasa mencuci beras. Ia telah sangat
terlatih melakukan pekerjaan itu. Bawang Putih kemudian mengikuti nenek raksasa ke
pondoknya yang ternyata letaknya tidak jauh dari tepi sungai itu.

Hari telah benar-benar malam. Gelap menyelimuti seluruh dataran. Nenek raksasa itu
meminta Bawang Putih untuk bermalam saja di pondoknya. Bawang Putih kemudian
diminta menanak nasi dan memasak lauk pauk di dapur. Betapa kagetnya Bawang Putih
ketika mengetahui bahwa hampir semua perabotan dapur dan makan nenek raksasa itu juga
terbuat dari tulang-belulang seperti halnya kalung dan gelang yang dipakainya. Bawang
Putih berdoa semoga ia selalu dilindungi dari marabahaya. Akhirnya ia memasak juga.
Hatinya menjadi tenang karena telah memasrahkan diri kepada Sang Pencipta. Setelah
makanan tersaji, nenek raksasa mengajak Bawang Putih makan bersama. Semalaman itu
Bawang Putih tidur bersama nenek raksasa di pondok kecil tepi sungai itu.
Ketika matahari mulai menyingsing di ufuk timur, Bawang Putih terbangun. Lumayan,
tubuhnya kini telah menjadi segar dan rasa sakit di kakinya berangsur sembuh. Bawang
Putih berpamitan untuk pulang setelah nenek raksasa itu menyerahkan kain berwarna
merah milik ibu tirinya. Kemudian, nenek raksasa itu juga memberi Bawang Putih sebuah
hadiah. Bawang Putih diminta memilih sebuah labu kuning dari dua buah labu yang ada di
dapur. Bawang Putih mengambil sebuah labu yang berukuran kecil dan meninggalkan labu
yang berukuran besar. Bawang Putih mengucapkan terima kasih kepada nenek raksasa itu
dan berjalan ke arah hilir untuk kembali pulang.

Setibanya di rumah, ibu dan kakak tirinya telah menunggunya. Keduanya langsung
memaki-maki Bawang Putih. Ibu tirinya segera merenggut keranjang rotan di tangan
Bawang Putih dan mendapati sebuah labu kuning di dalamnya. Bawang Merah kemudian
menyuruh Bawang Putih membelah labu kuning kecil itu. Ternyata labu itu bukan
sembarang labu. Ketika labu itu dibelah, tampaklah bermacam-macam perhiasan dari emas,
intan, dan permata. Jumlahnya banyak sekali, penuh seisi labu. Ruangan di dapur mereka itu
seperti bercahaya terang karenanya. Keduanya segera mengambil perhiasan-perhiasan itu
untuk mereka sendiri. Ibu tirinya sangat senang. Ia lalu memaksa Bawang Putih
menceritakan bagaimana ia bisa memperoleh labu berisi perhiasan itu.

Akhirnya, ibu tirinya membuat rencana bersama Bawang Merah. Bawang Merah akan
pura-pura mencuci pakaian ke sungai lalu dengan sengaja menghanyutkan selembar kain
berwarna merah milik ibunya di sungai. Begitulah, kemudian Bawang Merah menyusuri
tepian sungai. Ia bertemu dengan gembala kerbau, kemudian dengan nelayan yang sedang
mengail ikan, seperti yang dialami Bawang Putih, keduanya mengatakan bahwa mereka
telah melihat kain merah itu tetapi tidak dapat mengambilnya karena arus yang sangat
deras.

Bawang merah akhirnya sampai di tempat nenek raksasa mencuci beras. Seperti juga
yang dialami Bawang Putih, nenek raksasa itu mengatakan bahwa ia telah mengambil kain
berwarna merah itu dari semak-semak yang tumbuh sampai ke arus sungai dan
menyimpannya di pondoknya. Bawang Merah kemudian dengan setengah hati membantu
nenek raksasa mencuci beras, lalu menanak nasi dan memasak lauk pauk. Pada dasarnya ia
memang gadis yang pemalas dan tak biasa bekerja. Ia sangat ketakutan dengan alat-alat
dapur dan perabotan nenek raksasa yang terbuat dari tulang-belulang. Tetapi, karena
bayangan akan memperoleh perhiasan yang banyak dan indah-indah, rasa takutnya itu
ditekannya. Malam itu Bawang Merah makan dan juga tidur bersama nenek raksasa.

Keesokan harinya, Bawang Merah bangun kesiangan. Hari telah pagi ketika ia membuka
mata. Dihadapannya, di dalam keranjang rotannya telah diletakkan kain berwarna merah
milik ibunya. Nenek raksasa kemudian menyuruh Bawang Merah untuk segera pulang
karena ibunya pasti telah menunggunya dengan khawatir. Tetapi Bawang Putih ingat, ia
belum mendapatkan labu kuning seperti yang diperoleh Bawang Putih.

Akhirnya Bawang Merah bertanya mengapa ia tidak diberikan labu kuning seperti
Bawang Putih. Nenek raksasa itu tersenyum lalu menyuruh Bawang Merah untuk memilih
salah satu labu kuning yang ada di dapurnya. Segera saja Bawang Merah ke dapur dan
mengambil labu berukuran besar dari labu lainnya yang berukuran kecil. Dalam hati,
Bawang Merah tertawa senang, ia akan memperoleh perhiasan yang jauh lebih banyak
karena labu itu sangatlah besar. Kemudian, Bawang Merah segera pulang, bahkan lupa
pamit dan memberi salam kepada nenek raksasa itu.

Begitu besarnya labu kuning di keranjang rotannya itu, Bawang Merah sangat kesulitan
mengangkatnya. Tetapi, bayangan akan banyaknya perhiasan indah dan mahal yang akan
diperolehnya membuat ia tetap berusaha mengangkatnya. Setelah bersusah payah,
akhirnya sampailah Bawang Merah di rumah. Ibunya sudah menyambutnya dengan senang.
Keduanya pergi ke dapur dan segera membelah labu kuning yang amat besar itu. Tetapi,
siapa sangka, isi labu kuning itu bukanlah perhiasan dari emas, intan dan permata. Labu itu
penuh dengan binatang berbisa. Ada kalajengking dan lipan yang besar-besar, hingga ular-
ular. Jumlahnya sangat banyak. Keduanya sangat ketakutan, tetapi binatang-binatang
berbisa itu sangat ganas. Kedua anak-beranak yang serakah dan jahat itu digigit binatang-
binatang itu hingga tewas. Wajah dan sekujur tubuh keduanya membiru. Mungkin, itulah
balasan untuk mereka berdua.

Akhirnya, semua perhiasan yang diperoleh Bawang Putih dan dikuasai ibu tiri dan
saudara tirinya itu kembali kepadanya. Ia akhirnya hidup bahagia selamanya tanpa ada lagi
ibu tiri dan kakak tiri yang selalu jahat kepadanya.
CINDERELLA
Pada zaman dahulu, di sebuah Kerajaan. Tinggalah seorang anak perempuan yang
sangat cantik dan baik hatinya. Ia tinggal bersama kedua kakak dan ibu tirinya. Ayah dan
ibunya sudah meninggal.

Ia dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari. Setiap hari ia selalu di siksa. Tetapi
ia tetap menyanyangi ibu dan kakak tirinya, meskipun mereka sudah sangat jahat
kepadanya. Kakak-kakaknya yang sangat jahat memanggilnya ‘’Cinderella’’, yang artinya ‘’
Gadis yang sangat kotor’’ menurut mereka itu adalah panggilan yang cocok untuk
Cinderella.

Suatu hari ada sebuah undangan pesta dansa dari istana untuk semua gadis. Gadis yang
bruntung dapat menikah dengan Pangeran yang sangat tampan. Ibu dan kedua kakak tirinya
sangat senang mendengar kabar tersebut.

‘’Aku sangat ingin segera ke Istana, dan berdansa dengan Pangeran’’ ujar kakak sulungnya.

‘’Hai jangan mimpi Kak, Aku lebih cantik darimu, jika nanti aku jadi Putri Raja, ibu pasti akan
sangat bangga dan bahagia.’’ Jawab kakak keduanya dengan wajah berseri.

‘’Siapapun di antara kalian yang akan menikah dengan Pangeran, itu akan membuat ibu
sangat bahagia, keluarga kita akan menjadi terpandang.’’ Ujar ibu tirinya menengahi kedua
anaknya.

Hari yang di nantipun telah tiba. Mereka memakai gaun yang paling indah dan sangat
mahal. Kedua kakak tirinya mulai berdandan dengan sangat cantik. Cinderella sangat ingin
ikut dan bertanya kepada ibunya.

‘’Bolehkah aku ikut ke pesta dansa bersama bu?’’ tanyanya dengan suara memelas.

‘’Haha, dasar Cinderella bodoh ! kau tinggal di rumah selama kami pergi, bersihkan semua
ruangan, cuci piring dan baju, dan kamu sangat jelek. Pengeran tidak akan melihatmu
meskipun kau datang kesana.’’ Jawab ibu tirinya menghina.

‘’Kau bahkan sangat bau Cinderella. Jika kamu ikut, kamu akan membuat kami malu!’’
tambah Kakak teruanya.

‘’Tapi aku sangat ingin ikut kak’’ Cinderella mencoba mempertahankan keinginannya.
Walaupun Cinderella sudah memohon, Ibu dan kakaknya tidak mengijinkan dia datang
ke pesta sanga pangeran tampan.

Ibu Cinderella dan Kakak-kakaknya pergi dengan perhiasan yang mewah. Sedangkan
Cinderella masuk kee dalam kamar, ia sangat sedih dan berkata. ‘’ Aku sangat ingin pergi.
Seandainya aku bisa pergi ke pesta dansa dan dapat bertemu dengan Pangeran. Tetapi aku
juga tidak dapat pergi dengan pakaian kotor dan bau seperti ini, tapi aku ingin sekali pergi.’’
Ujarnya dalam hati. Cinderella menangis di dalam kamar.

Tiba-tiba ada cahaya yang sangat terang dan suara gemuruh di sampingnya. Muncullah
Ibu Peri yang sangat baik hati. ‘’ Cinderella, berhentilah kamu menangis.’’ Ia sangat terkejut
di sebelahnya ada seorang ibu peri sambil tersenyum ramah. ‘’ Aku ibu peri yang akan
menolongmu pergi ke pesta dansa itu. Tapi sebelum itu kamu harus mencari enam Tikus,
enam Kadal, dan Labu Emas. Kamu dapat mendapatkan itu di kebun belakang, dan
kemudian bawakan kesini.’’

Cinderella segera mencari Labu Emas, enam Tikus dan enam Kadal. Cinderella segera
membawanya. Ibu peri mengahampiri mereka satu persatu dan dengan tongkatnya Labu
Emas berubah menjadi Pedati Emas yang sangat indah. ke enam Tikus berubah menjadi
enam Kuda berwarna Keemasan. Dan Kadal menjadi pengawal dengan berbadan kekar.
Cinderella sangat terkejut. Lalu, ibu peri menghampirinya dan dengan tongkatnya pakaian
Cinderella yang sangat jelek dan kotor berubah menjadi Gaun Emas yang sangat berkilau
dengan perhiasan yang sangat indah dan berkilau.

Sementara kakinya, ada sepasang sepatu kaca yang sangat cantik. Cinderella menari-
nari dengan sangat gembira, sebelum ia pergi, ibu peri berpesan.
‘’Cinderella, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam. Karena
itu, tepat pukul dua belas malam kamu harus meninggalkan pesta dansa.”

‘’Baiklah, ibu peri. Aku akan ingat pesan ini dan meninggalkan pesta tepat pukul 12 malam.
Terima kasih ibu peri.’’ Jawab Cinderella dan ia langsung menaiki kendaraannya.

Ketika Cinderella tiba di pesta dia tampak sangat cantik. Ia langsung masuk kedalam
aula istana. Begitu ia masuk kedalam. Semua mata tertuju padanya. Mereka sangat terkejut
dan sangat kagum dengan kecantikan Cinderella. Bahkan ibu dan kedua kakak tirinya tidak
mengenali siapa Putri cantik itu.

‘’Putri itu sangat cantik sekali.’’

‘’Putri dari Negara mana secantik itu.’’ Tanya mereka.

Pangeran tampan pergi mengahampiri Cinderella. ‘’ Putri, kau sangat cantik sekali.
Maukah kamu berdansa denganku?’’ ujar Pengeran.

‘’Iya, aku mau Pangeran.’’ Jawab Cinderella sambil tersenyum.

Mereka berdua berdansa dengan rasa bahagia. pangeran berkata,

‘’Kamu adalah wanita yang selama ini saya cari.’’ Cinderella sangat bahagia dan lupa waktu.
Ternyata, jam mulai mendekati pukul dua belas.

‘’Maafkan aku Pangeran, aku harus segera pulang.’’ Cinderella menarik tangannya dari
genggaman Pangeran dan langsung berlari ke luar istana.

Tiba-tiba di tengah perjalannya keluar istana. Sepatunya terlepas sebelah. Cinderella


terus berlari. Pangeran berlari mengejarnya dan menemukan sepatu kaca milik Cinderella di
tengah anak tangga. Pangeran langsung mengambil sepatu itu.

‘’Aku akan mencari pemilik sepatu ini.’’ Katanya dalam hati.

Cinderella kembali menjadi gadis kotor dan berdebu. Namun, ia sangat bahagia karena
dapat pergi berpesta dan berdansa dengan Pangeran.
Suatu pagi, Pangeran dan para Prajuritnya pergi dari rumah ke rumah untuk mencari
kaki yang cocok dengan sepatu kaca tersebut. Ia mencari sampai kepelosok negeri untuk
mencocokkan sepatu kaca. Namun, tidak ada dari mereka yang cocok.

Akhirnya tibalah di rumah Cinderella, kedua kakaknya sangat senang dan tidak sabar
untuk mencoba sepatu itu.

‘’Permisi. Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini.’’ Kata para
Pengawal.

Kedua kakak tirinya mencoba sepatu kaca itu. Kaki mereka berdua terlalu besar tapi
terus memaksakannya masuk. Pengawal melihat Cinderella. ‘’ Hei kamu. Kemari. Cobalah
sepatu ini!’’

Cinderella menjulurkan kakinya masuk ke dalam sepatu itu. Ternyata, sepatu kaca
tersebut sangat cocok.

‘’Ternyata, kamulah putri yang di cari Pangeran.’’ Seru salah satu pengawal gembira.

‘’Cinderella, selamat..’’ Cinderella langsung menoleh ke belakang.

Disana telah berdiri Ibu Peri yang baik hati. ‘’Hiduplah dengan bahagia dengan
Pangeran.’’ Katanya. Ibu peri langsung menghampiri dan menggerekkan tongkatnya dan
membaca mantra. ‘’ Sim Salaaaabim..’’

Cinderella berubah menjadi Putri dengan memakai gaun yang sangat indah. Pengawal
langsung membawa Cinderella ke Istana. Sesampainya ia di istana. Pangeran
menyambutnya dengan gembira dan tersenyum. Cinderella dan Pangeran akhirnya menikah
dan hidup sangat bahagia selama-lamanya.
PINOKIO
Disebuah desa tinggalah seorang kakek tua miskin. Ia tinggal seorang diri, pekerjaannya
hanyalah seorang pemahat kayu, saking kesepiannya dia memutuskan untuk membuat
boneka kayu yang dia pahat dari cabang pohon.

Dia bekerja dengan sangat detail dan berhati-hati, sambil membuat boneka tersebut
dirinya bergumam dalam hati, "Kamu akan menjadi anak ku dan aku akan memberi nama
kamu 'PINOKIO'". Melihat hal ini, ada sesosok peri yang berbaik hati, peri ini tidak tega
melihat kesepian kakek geppetto lalu ia menyihir boneka itu agar bisa berbicara, bergerak
layaknya manusia. Dan ketika kakek geppetto sedang memahat dibagian mulutnya, tiba-tiba
boneka kayu itu berbicara dan sambil meledek Geppetto.

"Hentikan, Hentikan itu sekarang juga!!" teriak Pinokio.

"Kamu bisa berbicara?!" Seru kakek Geppetto, sambil terkaget.

"Tentu saja aku bisa, kan kamu yang telah memberi saya sebuah mulut!" jawab Pinokio.

Melihat hal itu hati Geppetto pun sangat senang, dia lantas berkata "Nak. Kamu harus
segera istirahat, karena esok kau akan mulai pergi kesekolah bersama anak lainnya. Kamu
harus belajar bagaimana menjadi anak yang baik dan banyak hal baru."

Keesokan harinya Pinokio pun pergi kesekolah, tapi ditengah perjalanan Pinokio melihat
pertunjukan boneka. Dia melihat boneka-boneka itu sedang menari dan bernyanyi, melihat
itu Pinokio pun langsung melompat keatas panggung sambil berkata "Aku bisa menari dan
bernyanyi lebih baik daripada boneka-boneka kayu tersebut!!"
Awalnya pemilik pertunjukan itu merasa sangat terganggu atas kehadiran Pinokio yang
tiba-tiba muncul disela pentas boneka kayunya, tapi setelah melihat reaksi dari para
penonton yang sangat terhibur dengan penampilan Pinokio ia pun membiarkannya. Setelah
Pinokio selesai menari dan bernyanyi pemilik pertunjukan itupun memberikan Pinokio lima
koin emas dan menyuruhnya pergi. Kemudian pergilah Pinokio, tapi tidak terlalu jauh
melangkah ia bertemu dengan rubah dan kucing.

Rubah dan Kucing tahu kalo pinokio mempunyai uang emas lalu mereka berpura-pura
menjadi temannya, dan berkatalah rubah tersebut kepada Pinokio

"Hei..Pinokio, mau tidak koin emas mu menjadi banyak? pasti papa mu akan sangat
senang."

"Bagaimana caranya???" jawab Pinokio.

"Caranya, kamu harus menimbun koin emasmu dibawah pohon ajaib (seraya mereka sambil
berjalan kearah sebuah pohon dan menunjukan pohon tersebut kepada Pinokio)."

Tanpa berpikir panjang Pinokio pun langsung saja mengikuti saran dari Rubah dan
kucing tersebut untuk menimbun uang emas miliknya dibawah pohon tadi. Setelah itu
mereka pun pergi makan. Setelah makan Rubah dan Kucing menyelinap pergi keluar dan
mereka menggali tanah dibawah pohon tempat Pinokio menimbun uang emasnya.

Pinokio pun mengetahui hal tersebut, tapi sayang Pinokio langsung diikat dan digantung
diatas pohon oleh Rubah dan Kucing. Tiba-tiba datanglah sesosok peri yang membawa
serigala dan menyuruh untuk mengejar Kucing dan Rubah itu.

Lalu peri itu berkata "Kenapa kau tidak pergi kesekolah?"

"Akuuu..Akuuu!" Pinokio gugup tak bisa berkata-kata.

Disaat bersamaan hal aneh terjadi pada hidung Pinokio yang tiba-tiba memanjang
seperti cabang pohon.

"Hai, Pinokio...Setiap kali kau berbohong maka hidungmu akan terus tumbuh panjang tapi
jika kau berkata jujur maka hidungmu akan kembali menyusut." kata peri.

Lalu peri itu menyuruh Pinokio pulang, diperjalanan dia selalu teringat perkataan peri
tadi. Tapi ditengah perjalanan Pinokio bertemu dengan permainan kereta dunia, dia tidak
bisa menahan dirinya untuk tidak bermain, dan Pinokio pun lupa akan janjinya pada peri.
Ternyata pemilik mainan tersebut adalah seorang penyihir, dan penyihir tersebut telah
menyihir Pinokio dan anak-anak yang lain yang sedang bermain menjadi keledai. Tapi sihir
tersebut tidak bekerja secara sempurna pada Pinokio, karena Pinokio terbuat dari kayu
maka hanya bagian telinga, kaki dan ekor saja yang berubah menjadi seperti keledai.

Penyihir itu pun tidak senang dan membuang Pinokio kelaut, dilaut Pinokio dimangsa
oleh seekor ikan paus. Didalam perut paus itu Pinokio ternyata tidak sendiri, dia melihat ada
cahaya sambil berteriak dia berjalan menghampiri asal cahaya tersebut.

Ternyata didalam perut ikan paus itu terdapat papa Geppetto yang sebelumnya sedang
mencari Pinokio yang kata orang-orang pinokio pergi kelaut, lalu Geppetto pergi kelaut dan
perahu yang dinaiki pecah lalu dirinya disantap ikan paus ini.

Setelah Geppetto dan Pinokio bertemu didalam perut ikan paus, alhasil mereka pun
berhasil keluar dengan pertolongan dari peri yang telah mengetahui kalau Pinokio telah
berjanji didalam hatinya kalau dirinya bisa bertemu dengan papanya maka dirinya akan
berubah menjadi anak yang jujur, penurut, dan baik.

"Papa, sekarang aku berjanji akan menjadi anak yang jujur dan penurut", setelah
mengatakan hal itu, lalu Pinokio pun berubah menjadi manusia dan menjadi seorang anak
laki-laki sejati!.

Akhirnya Pinokio dan Papa Geppetto pun hidup bahagia.


TERJADINYA DANAU TOBA
Di sebuah desa di wilayah Sumatera Utara di Tapanuli tinggallah seorang laki-laki
bernama Toba hidup seorang diri di gubuk kecil. Toba adalah seorang seorang petani yang
sangat rajin bekerja setiap hari menanam sayuran kebunnya sendiri.

Hari demi hari, tahun demi tahun umur semakin bertambah, petani tersebutpun mulai
merasa bosan hidup sendiri. Terkadang untuk melepaskan kepenatan diapun sering pergi
memancing ke sungai besar dekat kebunnya.

Menjelang siang setelah selesai memanen beberapa sayuran dikebunnya diapun


berencana pergi kesungai untuk memancing. Peralatan untuk memancing sudah
dipersiapkannya, ditengah perjalanan dia sempat bergumam dalam hati berkata,
“seandainya aku memiliki istri dan anak tentu aku tidak sendirian lagi hidup melakukan
pekerjaan ini setiap hari. Ketika pulang dari kebun, makanan sudah tersedia dan disambut
anak istri, oh betapa bahagianya”

Sampailah dia dimana tempat biasa dia memancing, mata kail dilempar sembari
menunggu, agannya tadi tetap mengganggu konsentrasinya. Tidak beberapa lama tiba-tiba
kailnya tersentak, sontak dia menarik kailnya. Diapun terkejut melihat ikan tangkapannya
kali ini. “Wow, sunggu besar sekali ikan mas ini. Baru kali ini aku mendapatkan ikan seperti
ini” Teriaknya sembari menyudahi kegiatan memancing dan diapun segera pulang.

Setibanya di gubuk kecilnya, pemuda itupun meletakkan hasil tangkapannya di sebuah


ember besar. Betapa senangnya dia, ikan yang dia dapat bisa menjadi lauk untuk beberapa
hari. Diapun bergegas menyalakan api di dapur, lalu kembali untuk mengambil ikan mas
yang ditinggalnya di ember besar. Betapa terkejutnya dia melihat kejadian tersebut. Ember
tempat ikan tadi dipenuhi uang koin emas yang sangat banyak, diapun terkejut dan pergi ke
dapur. Disanapun dia kaget setengah mampus, ada sosok perempuan cantik berambut
panjang. “Kamu Siapa?” tanyanya. “Aku adalah ikan engkau pancing di sungai tadi, uang
koin emas yang diember tadi adalah sisik-sisik yang terlepas dari tubuhku. Sebenarnya aku
adalah seorang perempuan yang dikutuk dan disihir oleh seorang dukun karena aku tidak
mau dijodohkan. Karena engkau telah menyelamatkan aku dan mengembalikan aku menjadi
seorang manusia, maka aku rela menjadi istrimu” kata ikan tadi yang kini sudah menjelma
kembali menjadi seorang perempuan berparas cantik dan berambut panjang.
Ini suatu kebetulan, selama ini aku mengharapkan seorang pendamping hidup untuk
tinggal bersama-sama menjalankan kehidupan berumatangga kata petani tersebut. Maka
iapun setuju memperistri perempuan cantik tersebut.

Perempuan berparas cantik tadi juga mengutarakan kepada petani tadi sebuah syarat
dan sumpah bahwa jika suatu hari nanti ketika engkau marah, engkau tidak boleh
mengutarakan bahwa asal-usulku dari seekor ikan kepada siapapun. Sebab jika engkau
mengatakan itu, maka akan terjadi petaka dan bencana besar di desa ini. Petani itupun
menyanggupinya, dan akhirnya mereka menikah.

Hari demi hari merekapun hidup bahagia, apa yang diharapkan petani selama ini pun
sudah terwujud dan diapun merasa bahagia sekali. Sampai merekapun dikaruniai seorang
anak laki-laki dan mereka memberi namanya Samosir.

Samosirpun tumbuh besar, diapun sudah bisa membantu orangtuanya bertani. Setiap
hari Samosir disaat siang selalu mengantarkan makan siang buat ayahnya yang sudah
dimasakin oleh ibunya.

Suatu hari, siang itu petani sudah merasa lelah dan lapar sembari menunggu Samosir
datang mengantarkan bekal siang. Tidak biasanya, kali ini Samosir terlambat mangantarkan
bekal orangtuanya. Diperjalanan Samosir mencium bekal yang dibawanya untuk
orangtuanya, kelihatannya enak masakan ibu hari ini, gumamnya. Samosirpun mencicipi
masakan ibunya, dia tidak sadar bekal itu dimakan hampir habis.

Samosirpun tersentak dan bergegas menuju kebun ayahnya. Dia melihat ayahnya sudah
kelaparan dan kehauasan. Merasa berat, Samosirpun memberikan bekal kepada ayahnya.
Dan terkejutlah ayahnya melihat isi bekal yang diberikan Samosir.

“Iya, Among. Samosir tadi lapar dan aku makan, masakan Inong sekali rasanya” kata
Samosir kepada ayahnya yang terlihat emosi. Spontan ayahnya marah dan melempar bekal
yang sudah kosong tadi sembari berkata kepada Samosir: “Kurang ajar kau Samosir, dasar
anak ikan kau ini”.

Samosirpun menangis dan pergi berlari menuju rumah menemui ibunya. Ibu, ibu , ayah
marah besar Samosir disebut anak ikan. Kata Samosir kepada ibunya. Ibunyapun menangis,
sektika itu ibunya menyuruh Samosir berlari ke sebuah bukit diketinggian. Lalu hujanpun
semakin deras, angin kencang, gemuruh dan petirpun menyambar-nyambar seketika itu.
Airpun meluap sampai menenggelamkan seluruh desa itu. Sumpah itu dilanggar,
akhirnya tengenanglah seluruh desa itu dan genangan itu berbuah menjadi danau, yang kini
disebut Danau Toba. Lalu pulau tempat samosir berlindung disebutlah Pulau Samosir.
KANCIL dengan BUAYA
Pada zaman dahulu Sang Kancil merupakan binatang yang paling cerdik di dalam hutan.
Banyak binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila
mereka menghadapi masalah. Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang-binatang di
dalam hutan, tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang sombong malah bersedia membantu
kapan saja.

Suatu hari Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Karena
makanan di sekitar kawasan kediamannya telah berkurang, Sang Kancil pergi untuk mencari
di luar kawasan kediamannya. Cuaca pada hari itu, sangat panas dan terlalu lama berjalan,
menyebabkan Sang Kancil kehausan. Lalu, ia berusaha mencari sungai terdekat. Setelah
mengelilingi hutan akhirnya Kancil aliran sungai yang sangat jernih airnya. Tanpa membuang
waktu, Sang Kancil minum sepuas-puasnya. Dinginnya air sungai itu menghilangkan rasa
dahaga Sang Kancil.

Kancil terus berjalan menyusuri tebing sungai. Apabila terasa capai, ia beristirahat
sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rindang. Kancil berkata di dalam hatinya
“Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lezat-lezat.” Setelah rasa capainya
hilang, Sang Kancil kembali menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaunan
kegemarannya yang terdapat di sekitarnya. Ketika tiba di satu kawasan yang agak lapang,
Sang Kancil memandang kebun buah-buahan yang sedang masak ranum di seberang sungai.
“Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-
buahan tersebut,” pikir Sang Kancil.
Sang Kancil terus berpikir mencari akal bagaimana cara menyeberangi sungai yang
sangat dalam dan deras arusnya itu. Tiba-tiba Sang Kacil memandang Sang Buaya yang
sedang asyik berjemur di tebing sungai. Sudah menjadi kebiasaan buaya, apabila hari panas
buaya suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari. Tanpa berlengah-lengah lagi kancil
menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata,

”Hai sahabatku Sang Buaya, apa kabarmu hari ini?”

Buaya yang sedang asyik menikmati cahaya matahari membuka mata dan didapati Sang
Kancil yang menegurnya.

“Kabar baik sahabatku, Sang Kancil.” Sambung buaya lagi,

“Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?”

“Aku membawa kabar gembira untukmu,” jawab Sang Kancil.

Mendengar kata-kata Sang Kancil, Sang Buaya tidak sabar lagi ingin mendengar khabar
yang dibawa oleh Sang Kancil, lalu berkata,

“Ceritakan kepadaku apakah yang hendak engkau sampaikan?”

Kancil berkata,

“Aku diperintahkan oleh Nabi Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di
dalam sungai ini karena Raja Sulaiman ingin memberi hadiah kepada kamu semua.”

Mendengar nama Raja Sulaiman saja sudah menakuti semua binatang karena Nabi
Sulaiman telah diberi kebesaran oleh Allah untuk memerintah semua makhluk di muka bumi
ini.

“Baiklah, kamu tunggu di sini, aku akan turun ke dasar sungai untuk memanggil semua
kawanku,” kata Sang Buaya.

Sementara itu, Sang Kancil sudah berangan-angan untuk menikmati buah-buahan. Tidak
lama kemudian, semua buaya yang berada di dasar sungai berkumpul di tebing sungai. Sang
Kancil berkata

“Hai buaya sekalian, aku telah diperintahkan oleh Nabi Saulaiman supaya menghitung
jumlah kamu semua karena Nabi Sulaiman akan memberi hadiah yang istimewa pada hari
ini.” Kata kancil lagi,
“Berbarislah kamu merentasi sungai mulai dari tebing sebelah sini sampai ke tebing sebelah
sana.”

Karena perintah tersebut datangnya dari Nabi Sulaiman, semua buaya segera berbaris
tanpa membantah. Kata Buaya,

“Sekarang hitunglah, kami sudah bersedia.”

Sang Kancil mengambil sepotong kayu yang berada di situ lalu melompat ke atas buaya
yang pertama di tepi sungai dan ia mulai menghitung dengan menyebut

“Satu dua tiga lekuk, jantan betina aku ketuk,” sambil mengetuk kepala buaya hingga Kancil
berjaya menyeberangi sungai.

Ketika sampai ditebing seberang, Kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil
bersorak gembira dan berkata, “Hai buaya-buaya sekalian, tahukah kamu bahwa aku telah
menipu kamu semua dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman.”

Mendengar kata-kata Sang Kancil semua buaya merasa marah dan malu karena mereka
telah ditipu oleh kancil. Mereka bersumpah dan tidak akan melepaskan Sang Kancil apabila
bertemu pada masa akan datang. Dendam buaya tersebut terus membara hingga hari ini.
Sementara itu Sang Kancil terus melompat kegembiraan dan terus meninggalkan buaya-
buaya tersebut dan menghilangkan di dalam kebun buah-buahan untuk menikmati buah-
buahan yang sedang masak ranum itu.