Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Botani Tanaman Pisang


1. Klasifikasi
Klasifikasi kedudukan tanaman pisang dalam sistematika (taksonomi)
tumbuhan adalah sebagai berikut (Rukmana, 1999) :
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiopermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Scitaminae
Familia : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa paradisiaca L.
2. Morfologi
Tanaman pisang termasuk dalam golongan terna monokotil tahunan
berbentuk pohon yang tersusun atas batang semu. Batang semu ini
merupakan tumpukan pelepah daun yang tersusun secara rapat teratur.
Percabangan tanaman bertipe simpodial dengan meristem ujung memanjang
dan membentuk bunga lalu buah. Bagian bawah batang pisang
menggembung berupa umbi yang disebut bonggol. Pucuk lateral (sucker)
muncul dari kuncup pada bonggol yang selanjutnya tumbuh menjadi
tanaman pisang. Buah pisang umumnya tidak berbiji atau bersifat
partenokarpi.
Tanaman pisang dapat ditanam dan tumbuh dengan baik pada berbagai
macam topografi tanah, baik tanah datar atau pun tanah miring. Produktivitas
pisang yang optimum akan dihasilkan pisang yang ditanam pada tanah datar
pada ketinggian di bawah 500 m di atas permukaan laut (dpl) dan keasaman
tanah pada pH 4,5-7,5. Suhu harian berkisar antara 25°C-28°C dengan curah
hujan 2000-3000 mm/tahun. Pisang merupakan tanaman yang berbuah
hanya sekali, kemudian mati. Tingginya antara 2- 9 m, berakar serabut

4
5

dengan batang bawah tanah (bongol) yang pendek. Dari mata tunas yang ada
pada bonggol inilah bisa tumbuh tanaman baru.
Pisang mempunyai batang semu yang tersusun atas tumpukan pelepah
daun yang tumbuh dari batang bawah tanah sehingga mencapai ketebalan
20-50 cm. Daun yang paling muda terbentuk dibagian tengah tanaman,
keluarnya menggulung dan terus tumbuh memanjang, kemudian secara
progresif membuka. Helaian daun bentuknya lanset memanjang, mudah
koyak, panjang 1,5-3 m, lebar 30-70 cm, permukaan bawah berlilin, tulang
tengah penopang jelas disertai tulang daun yang nyata, tersusun sejajar dan
menyirip, warnanya hijau.
Pisang mempunyai bunga majemuk, yang tiap kuncup bunga dibungkus
oleh seludang berwarna merah kecoklatan. Seludang akan lepas dan jatuh ke
tanah jika bunga telah membuka. Bunga betina akan berkembang secara
normal, sedang bunga jantan yang berada di ujung tandan tidak berkembang
dan tetap tertutup oleh seludang dan disebut sebagai jantung pisang. Tiap
kelompok bunga disebut sisir, yang tersusun dalam tandan. Jumlah sisir
betina antara 5-15 buah.
Buah pisang tersusun dalam tandan. Tiap tandan terdiri atas beberapa
sisir, dan tiap sisir terdiri dari 6-22 buah pisang atau tergantung pada
varietasnya. Buah pisang pada umumnya tidak berbiji atau disebut 3n
(triploid), kecuali pada pisang batu (klutuk) bersifat diploid (2n). Proses
pembuahan tanpa menghasilkan biji disebut partenokarpi (Rukmana, 1999).
Ukuran buah pisang bervariasi, panjangnya berkisar antara 10-18 cm
dengan diameter sekitar 2,5-4,5 cm. Buah berlingir 3-5 alur, bengkok dengan
ujung meruncing atau membentuk leher botol. Daging buah (mesokarpa)
tebal dan lunak. Kulit buah (epikarpa) yang masih muda berwarna hijau,
namun setelah tua (matang) berubah menjadi kuning dan strukturnya tebal
sampai tipis (Cahyono, 2002). Buah pisang termasuk buah buni, bulat
memanjang, membengkok, tersusun seperti sisir dua baris, dengan kulit
berwarna hijau, kuning, atau coklat. Tiap kelompok buah atau sisir terdiri
dari beberapa buah pisang. Berbiji atau tanpa biji. Bijinya kecil, bulat, dan
6

warna hitam. Buahnya dapat dipanen setelah 80-90 hari sejak keluarnya
jantung pisang.

B. Syarat Tumbuh Tanaman Pisang


1. Iklim
Tanaman pisang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada
daerah yang memiliki iklim tropis basah, lembab dan panas. Walaupun
demikian tanaman pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Selain itu
pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari
batangnya yang berair tetapi produksinya sangat sedikit. Curah hujan
optimal adalah 1,520–3,800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi curah
hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak
tergenang (Rismunandar, 1990; Robinson & Souco, 2010).
2. Media Tanam
Syarat media tanam untuk pertumbuhan tanaman pisang yaitu tanah
yang kaya humus dan mengandung kapur atau tanah berat. Air harus selalu
tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman pisang harus
diairi dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50-200
cm, di daerah setengah basah 100-200 cm dan di daerah kering 50-150 cm.
Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang
yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air dan tanaman pisang tidak
dapat tumbuh dan berkembang pada tanah yang mengandung garam 0,07%
(Rismunandar, 1990; Robinson & Souco, 2010).
3. Ketinggian Tempat
Tanaman pisang cukup toleran terhadap ketinggian dan kekeringan. Di
Indonesia, umumnya tanaman dapat tumbuh di dataran rendah sampai
pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Sedangkan untuk pisang ambon, nangka
dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl (Rismunandar, 1990;
Robinson & Souco, 2011).
7

C. Penggolongan Tanaman Pisang


Menurut Rukmana (1999 : 20), penggolongan varietas atau kultivar pisang
berdasarkan sifat buah dan pemanfaatannya dibedakan menjadi tujuh kelompok
sebagai berikut.
1. Kelompok Pisang Ambon
Karakteristik morfologi kelompok pisang Ambon adalah sebagai berikut.
a. Tinggi pohon 2,5-3 m dengan lingkar batang 0,4-0,6 m (kecuali pisang
Badak) berwarna hijau dengan bercak kehitaman.
b. Panjang daun 2,1-3 m dengan lebar 40-65 cm dan kadang-kadang
berlapis lilin tipis.
c. Panjang tandan buah 40-60 cm merunduk dan berbulu halus.
d. Jantung berbentuk bulat telur, kelopak berwarna ungu sebelah luar dan
merah jambu sebelah dalam.
e. Sisir buah berjumlah 7-10 sisir dan tiap terdiri dari 10-16 buah (uler).
f. Buah berbentuk silinder sedikit melengkung, panjang dan tidak berbiji.
g. Kulit buah agak tebal (2,4-3 mm).
h. Warna daging buah putih atau putih kekuning-kuningan, rasanya manis,
lunak sampai agak keras dan beraroma.
i. Berbunga pada umur 11-12 bulan dan masak 4-5 bulan setelah berbunga.
Contoh dari pisang Ambon antara lain Ambon Putih, Ambon Kuning,
Ambon Hijau, Ambon Lumut, Ambon Badak, Ambon Angleng dan Ambon
Cavendish.
2. Kelompok Pisang Raja
Kelompok pisang ini umumnya dikonsumsi segar dengan karakteristik
morfologi sebagai berikut.
a. Buah mirip dengan pisang Ambon tetapi kulit lebih tebal. Warna buah
beraneka ada yang kuning muda, kuning tua dan merah daging.
b. Tinggi pohon 2,6-3 m dengan lingkar batang 0,4-0,5 m (kecuali pisang
raja sere) berwarna hijau dengan bercak coklat kehitaman.
c. Panjang daun 2,4-2,8 m, lebar 40-60 cm berwarna hijau.
d. Tandan buah mencapai panjang 40-60 cm, merunduk, berbulu halus.
8

e. Jantung berbentuk telur, kelopak luar berwarna ungu dan merah sebelah
dalam.
f. Sisir buah berjumlah 6-8 sisir dan tiap sisir berjumlah 12-13 buah.
g. Buah berbentuk silinder, berkulit agak tebal (3 mm) dengan ujung
runcing bulat atau bersegi empat.
h. Daging buah berwarna putih kekuningan, kuning muda atau kemerah-
merahan, tidak berbiji, rasa agak manis sampai manis, agak keras, kurang
beraroma.
i. Berbunga pada umur 14 bulan dan masak sekitar 150-160 hari setelah
berbunga.
Termasuk dalam kelompok pisang Raja adalah pisang Songit, Raja Bulu,
Raja Sere, Udang Potho dan Pulo.
3. Kelompok Pisang Mas
Karakteristik morfologi pisang Mas adalah sebagai berikut.
a. Tinggi pohon 2 m dengan lingkar batang 20-28 m dengan bercak coklat
tua kemerah-merahan.
b. Panjang daun 90-110 cm, lebar 20-27 cm berwarna hijau.
c. Tandan buah mencapai panjang 20-30 cm, merunduk, berbulu halus.
d. Jantung berbentuk bulat telur, kelopak luar berwarna ungu dan sebelah
dalam berwarna merah.
e. Sisir buah berjumlah 4-6 sisir dan tiap sisir berjumlah 6-8 buah.
f. Buah berbentuk silinder, ujung runcing dengan panjang 9-10 cm dan
tidak berbiji, kulit buah tipis (1 mm) berwarna kuning keemasan.
g. Daging buah krem, rasa manis sampai agak kesat, kurang beraroma
h. Berbunga pada umur 12 bulan dan masak sekitar 3,5 bulan setelah
berbunga.
Termasuk dalam kelompok pisang mas adalah pisang Lampung, Susu,
Empat Puluh Hari, Muli dan pisang Seribu.
4. Kelompok Pisang Kepok
Karakteristik morfologi pisang Kepok adalah sebagai berikut.
9

a. Tinggi pohon 3 m dengan lingkar batang 40-50 m berwarna hijau dengan


sedikit atau tanpa coklat kehitaman.
b. Panjang daun 180 cm, lebar 50-60 cm berlapis lilin pada permukaan
sebelah bawah.
c. Tandan buah mencapai panjang 30-60 cm, merunduk, tidak berbulu
halus.
d. Jantung berbentuk bulat telur, agak melebar, kelopak luar berwarna ungu
dan sebelah dalam berwarna merah.
e. Sisir buah berjumlah 5-9 sisir dan tiap sisir berjumlah 10-14 buah
berpenampang segi tiga atau segi empat atau bulat.
f. Daging buah putih kekuning-kuningan, puting keungu-unguan, rasa
kurang lunak dengan tekstur yang agak berkapur (kecuali pisang Siem).
Termasuk dalam kelompok pisang kepok adalah pisang Kepok Kuning,
Gajih Putih, Gajih Kuning, Saba, Siem,, Cangklong dan pisang Kates.
5. Kelompok Pisang Tanduk
Karakteristik morfologi pisang Tanduk adalah sebagai berikut.
a. Tinggi pohon 3 m dengan lingkar batang 63-69 cm, berwarna coklat
muda dengan bagian atas berwarna merah jambu.
b. Panjang daun 190-210 cm, lebar 70-85 cm dengan tangkai daun
berwarna merah muda.
c. Tandan buah mencapai panjang 50-60 cm, merunduk.
d. Jantung berbentuk bulat telur, kelopak luar berwarna ungu dan sebelah
dalam berwarna merah.
e. Sisir buah berjumlah 1-5 sisir dan tiap sisir berjumlah 10-12 buah
berpenampang segi tiga atau segi empat atau bulat berbentuk silinder
panjang 23-28 cm berkulit tebal.
f. Daging buah putih atau kekuning-kuningan, rasa tidak manis sampai
agak masam.
Termasuk dalam kelompok pisang Tanduk adalah pisang Agung, Byar,
Galek (2-3 sisir), Karayunan (3-5 sisir), Candi, Kapas dan pisang Nangka.
6. Kelompok Pisang Uli
10

Karakteristik morfologi pisang Uli adalah sebagai berikut.


a. Tinggi pohon 2-2,5 m dengan lingkar batang 25-35 cm dengan warna
hijau pucat atau kemerah-merahan.
b. Panjang daun 180-200 cm, berwarna hijau dengan tangkai daun kadang-
kadang nerah muda.
c. Tandan buah mencapai panjang 1,5-1,7 m, merunduk, berbulu halus.
d. Jantung berbentuk bulat telur, kelopak luar berwarna ungu dan sebelah
dalam berwarna merah.
e. Sisir buah berjumlah 4-8 sisir.
f. Buah kecil dan langsing, panjang 10 cm, berkulit tipis, warna daging
putih atau kekuning-kuningan, kurang manis dan agak lembek.
g. Daging buah krem, rasa manis sampai agak kesat, kurang beraroma
Termasuk dalam kelompok pisang Uli adalah pisang Janten, Lidi, Jari Buaya,
Kayu dan pisang Ampyang.
7. Kelompok Pisang Kluthuk
Karakteristik morfologi pisang Kluthuk adalah sebagai berikut.
a. Tinggi pohon 3 m dengan lingkar batang 60-70 cm berwarna hijau
dengan atau tanpa bercak coklat kehitaman.
b. Panjang daun 60-200 cm, kadang-kadang berlapis lilin dan sulit sobek.
c. Tandan buah mencapai panjang 80-100 cm.
d. Jantung berbentuk bulat telur, kelopak luar berwarna ungu dan sebelah
dalam berwarna merah.
e. Sisir buah berjumlah 5-7 sisir dan tiap sisir berjumlah 12-18 buah yang
tersusun rapat, berpenampang segi tiga atau segi empat, berkulit tebal.
f. Daging buah putih atau kekuning-kuningan, rasa kurang manis, tekstur
agak kasar.
Termasuk dalam kelompok pisang klutuk adalah pisang Batu, Klutuk
Wulung dan pisang Menggala.
11

D. Manfaat Tanaman Pisang


Menurut Satuhu dan Supriyadi (2001), tanaman pisang memang banyak
dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dan dikenal dengan dengan tanaman
multiguna karena selain buahnya bagian tanaman lainpun dapat dimanfaatkan,
mulai dari bonggol hingga daunnya. Di antara manfaatnya adalah :
1. Bunga, bunga pisang biasanya digunakan sebagai sayur karena memilki
kandungan protein, vitamin, lemak dan karbohidrat yang cukup tinggi.
2. Daun, oleh masyarakat pedesaan jawa daun pisang kerap dimanfatkan untuk
pembungkus makanan, sementara daun yang sudah tua dan robek biasanya
diguanakan untuk pakan ternak karena mengandung berbagai unsur yang
dibutuhkan oleh hewan.
3. Batang, batang pisang biasanya dimanfaatkan untuk alas memandikan
mayat, sebagai tancapan wayang, membungkus bibit dan kadang dipotong
untuk dijadikan tali dan dijadikan bahan pembuatan kompos dan juga pakan
ternak.
Selain dimanfaatkan untuk berbagai olahan makanan, buah pisang juga
bermanfaat sebagai obat luka lambung, menurunkan kolesterol darah,
mencegah kanker usus, menjaga kesehatan jantung, menbantu melancarkan
pengiriman oksigen ke dalam otak, menyuburkan rambut, menghaluskan kulit
dan sebagainya. Jenis pisang emas dapat dipakai sebagai obat penyakit kuning.
Jenis pisang klutuk terutama bijinya dapat digunakan sebagai obat diare karena
memiliki zat tannin yang dikandungnya (Cahyono, 1992).

E. Teknik Kultur Jaringan


Kultur jaringan (tissue culture) adalah suatu teknik mengisolasi bagian-
bagian tanaman (sel, sekelompok sel, jaringan, organ, protoplasma, tepung sari,
ovari dan sebagainya), ditumbuhkan secara tersendiri, dipacu untuk
memperbanyak diri, akhirnya diregenerasikan kembali menjadi tanaman
lengkap yang mempunyai sifat sama seperti induknya dalam suatu lingkungan
yang aseptik (bebas hama dan penyakit). Selanjutnya teknik ini juga disebut
kultur in vitro yang artinya kultur di dalam wadah gelas (Wattimena dkk, 1986).
12

Dasar pengembangan kultur jaringan adalah totipotensi. Totipotensi merupakan


potensi suatu sel untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang
lengkap. Setiap sel akan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap dan utuh
apabila ditempatkan pada kondisi yang sesuai (Kumar dkk, 2011).
Menurut Kusuma (2000), teknik dalam kultur jaringan ini mempunyai
berbagai macam manfaat yang besar bagi manusia sesuai fungsinya, antara lain
yaitu:
1. Dengan teknik kultur jaringan sel perbanyakan tanaman
Melalui teknik kultur jaringan maka akan menghasilkan tanaman baru
dalam jumlah banyak dengan waktu yang relative singkat, memiliki sifat
morfologi dan fisiologis yang sama persis dengan induknya serta dapat
memperoleh tanaman yang bersifat unggul.
2. Untuk mengeliminasi atau menghilangkan virus
Kultur jaringan dilakukan dalam keadaan steril didalam media
sehingga tanaman yang terkena virus dapat dihilangkan jadi akan didapat
tanaman yang bebas virus.
3. Memperbaiki sifat tanaman
Seringkali jika menggunakan perkembangbiakan secara generative
maka sifat keturunannya tidak sama dengan induknya bahkan bisa jadi lebih
buruk, tetapi dengan teknik kultur jaringan dapat memperbaiki sifat
tanaman bahkan dapat menghasilkan bibit unggul karena adanya
sumaklonal yaitu variasi yang terjadi akibat perbanyakan yang tidak
melewati zigot melainkan somatik.
4. Untuk penyimpanan plasma nutfah
Teknik kultur jaringan dapat dimanfaatkan dalam penyimpanan plasma
nutfah atau benih, hal ini akan membantu petani menyimpan bibit selama
perpuluh-puluh tahun dan dapat melestarikan tanaman.
5. Produksi metabolism sekunder
Pada respirasi tanaman selain menghasilkan energy juga menghasilkan
senyawa metabolit sekunder, tetapi tidak semua tanaman dapat
13

menghasilkan senyawa metabolit sekunder. Metabolit sekunder ini berupa


alkaloid, terpenoid, phenyl propanoid yang dapat dihasilkan.
Keunggulan teknik perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan adalah
mampu menghasilkan bibit tanaman dalam jumlah banyak dengan waktu yang
relatif singkat, bebas patogen, dapat dilakukan sepanjang tahun, tidak
memerlukan tempat yang luas, dan bibit yang dihasilkan bersifat true-to type.
(Yusnita, 2003). Selain memiliki kelebihan, teknik kultur jaringan juga
mempunyai beberapa kelemahan misalnya munculnya variasi somaklonal yang
akan menyebabkan penyimpangan fenotip dari sifat genetik tanaman induknya.
Hal ini terjadi karena subkultur yang berlebihan serta organogenesis tidak
langsung (perbanyakan dari kalus), konsentrasi zat pengatur tumbuh yang
digunakan terlalu tinggi. Masalah lain yang banyak dihadapi dalam
mengaplikasikan teknik kultur jaringan, khususnya di Indonesia adalah modal
investasi awal yang cukup besar dan sumberdaya manusia yang menguasai dan
terampil dalam bidang kultur jaringan tanaman masih terbatas (Nursyamsi,
2010).
Adapun tahapan-tahapan dalam pembuatan kultur jaringan tumbuhan yaitu :
1. Pemilihan dan Penyiapan Tanaman Induk Sumber Eksplan
Tanaman tersebut harus jelas jenis, spesies, dan varietasnya serta harus
sehat dan bebas dari hama dan penyakit. Tanaman indukan sumber eksplan
tersebut harus dikondisikan dan dipersiapkan secara khusus di rumah kaca
atau greenhouse agar eksplan yang akan dikulturkan sehat dan dapat tumbuh
baik serta bebas dari sumber kontaminan pada waktu dikulturkan secara in-
vitro (Harianto, 2009).
2. Inisiasi Kultur
Tujuan utama dari propagasi secara in-vitro tahap ini adalah pembuatan
kultur dari eksplan yang bebas mikroorganisme serta inisiasi pertumbuhan
baru. ini mengusahakan kultur yang aseptik atau aksenik. Aseptik berarti
bebas dari mikroorganisme, sedangkan aksenik berarti bebas dari
mikroorganisme yang tidak diinginkan. Dalam tahap ini juga diharapkan
bahwa eksplan yang dikulturkan akan menginisiasi pertumbuhan baru,
14

sehingga akan memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman


yang tumbuhnya paling kuat,untuk perbanyakan (multiplikasi) pada kultur
tahap selanjutnya (Harianto, 2009).
3. Sterilisasi
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus
dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar air flow dan menggunakan
alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu
menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang
digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril
(Harianto, 2009).
4. Multiplikasi atau Perbanyakan Propagul
Tahap ini bertujuan untuk menggandakan propagul atau bahan tanaman
yang diperbanyak seperti tunas atau embrio, serta memeliharanya dalam
keadaan tertentu sehingga sewaktu-waktu bisa dilanjutkan untuk tahap
berikutnya. Pada tahap ini, perbanyakan dapat dilakukan dengan cara
merangsang terjadinya pertumbuhan tunas cabang dan percabangan aksiler
atau merangsang terbentuknya tunas pucuk tanaman secara adventif, baik
secara langsung maupun melalui induksi kalus terlebih dahulu. Seperti
halnya dalam kultur fase inisiasi, di dalam media harus terkandung mineral,
gula, vitamin, dan hormon dengan perbandingan yang dibutuhkan secara
tepat. Hormon yang digunakan untuk merangsang pembentukan tunas
tersebut berasal dari golongan sitokinin seperti BAP, 2-iP, kinetin, atau
thidiadzuron (TDZ) (Harianto, 2009).
5. Pemanjangan Tunas, Induksi, dan Perkembangan Akar
Tujuan dari tahap ini adalah untuk membentuk akar dan pucuk tanaman
yang cukup kuat untuk dapat bertahan hidup sampai saat dipindahkan dari
lingkungan in-vitro ke lingkungan luar. Dalam tahap ini, kultur tanaman
akan memperoleh ketahanannya terhadap pengaruh lingkungan, sehingga
siap untuk diaklimatisasikan. Tunas-tunas yang dihasilkan pada tahap
multiplikasi di pindahkan ke media lain untuk pemanjangan tunas. Media
untuk pemanjangan tunas mengandung sitokinin sangat rendah atau tanpa
15

sitokinin. Tunas tersebut dapat dipindahkan secara individu atau


berkelompok. Pemanjangan tunas secara berkelompok lebih ekonomis
daripada secara individu. Setelah tumbuh cukup panjang, tunas tersebut
dapat diakarkan. Pemanjangan tunas dan pengakarannya dapat dilakukan
sekaligus atau secara bertahap, yaitu setelah dipanjangkan baru diakarkan.
Pengakaran tunas in-vitro dapat dilakukan dengan memindahkan tunas ke
media pengakaran yang umumnya memerlukan auksin seperti NAA atau
IBA. Keberhasilan tahap ini tergantung pada tingginya mutu tunas yang
dihasilkan pada tahap sebelumnya (Harianto, 2009).
6. Aklimatisasi
Tahap akhir dari kultur jaringan tanaman adalah tahap aklimatisasi.
Aklimatisasi dapat didefinisikan sebagai proses penyesuaian suatu
organisme untuk beradaptasi pada lingkungan yang baru. Proses aklimatisasi
sangat penting karena akan menentukan apakah tanaman yang berasal dari
invitro dapat beradaptasi atau tidak pada kondisi in-vivo.
Plantlet hasil kultur jaringan sering masih sulit untuk dipelihara sesuai
dengan kondisi alamiahnya/lapangan, karena masih sangat peka sehingga
diperlukan tahap aklimatisasi. Tanaman tersebut perlu dipersiapkan untuk
masa transisi dari media agar ke media tanah sehingga mempunyai perakaran
dan ketinggian yang lebih baik serta lebih kokoh.
Aklimatisasi merupakan kegiatan memindahkan eksplan ke luar dari
ruangan aseptik ke rumah kaca. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan
bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk
melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit
hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan
udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya
maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan
dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif (Nursyamsi,
2010).
16

Dalam kegiatan kultur jaringan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
yaitu pemilihan bahan tanaman yang juvenil (muda), pH media, konsentrasi dan
jenis zat pengatur tumbuh yang akan digunakan, dan yang utama adalah
sterilisasi dari keseluruhan tahapan kerja.
1. Bahan tanaman (explant)
Pengaruh dari bahan tanaman terhadap keberhasilan perbanyakan kultur
jaringan antara lain adalah (Pierik, 1987):
a. Genotif
Ada perbedaan yang sangat luas dalam hal kapasitas regenerasi dari
jenis-jenis tanaman. Tanaman dikotil secara umum lebih mudah
beregenerasi dari pada tanaman monokotil, sedangkan tanaman
gymnospermae mempunyai kapasitas regenerasi yang sangat terbatas.
b. Umur tanaman
Jaringan embrionik mempunyai kapasitas regerasi yang tingggi.
Misalnya pada jenis-jenis sereal, embrio dan benih seringkali dipakai
sebagai materi kultur jaringan. Untuk itu bahan kultur jaringan yang
digunakan adalah bahan yang juvenil.
c. Umur jaringan atau organ
Jaringan yang masih muda dan lunak (tidak berkayu) biasanya lebih
baik untuk dikulturkan dari pada jaringan berkayu yang lebih tua.
d. Status fisiologis
Secara umum organ vegetatif tanaman lebih mudah beregenerasi
secara in vitro daripada bagian generatif tanaman. Bagian tanaman yang
masih muda (juvenil) lebih mudah beregerasi dari pada tanaman yang
sudah tua.
e. Kondisi kesehatan jaringan
Jika tanaman dalam kondisi sehat ketika proses isolasi, maka
cenderung akan lebih berhasil ketika jaringannya dikulturkan.
f. Posisi explant pada tanaman induk
17

Pucuk yang berasal dari bagian atas tajuk tanaman memiliki


kemungkinan lebih kecil dalam pembentukan akarnya daripada potongan
yang berasal dari bagian bawah tanaman.
2. Media
Media yang digunakan mengandung garam mineral, asam amino, gula,
vitamin dan hormon tumbuh dan biasanya ditambahkan agar-agar supaya
bahan tanaman ( eksplan ) dapat berdiri. Ada pula media cair tanpa
penambahan agar-agar, hal ini dibedakan sesuai dengan tujuan produk yang
akan dicapai.
3. Zat pengatur tumbuh (Hormon Tumbuh)
Hormon tumbuh (fitohormon) bermanfaat untuk memacu terbentuknya
jaringan tertentu dari sel-sel kalus yang belum terdifferensiasi. Dewasa ini
dikenal beberapa golongan zat yang temasuk hormon tumbuh, yaitu auksin,
giberelin, sitokinin, dan inhibitor serta etilin. Efektifitas hormon tumbuh
tergantung jenis dan konsentrasi yang digunakan. Untuk pembentukan akar
dan perpanjangan tunas dapat digunakan hormon tumbuh golongan auksin
diantaranyan: Indole acetic acid (IAA), Indole butryric acid (IBA), dan
Naphthalena acetic acid (NAA), 2,4-Dichorophenoxyacetic acid (2,4-D).
Sitokinin termasuk hormon yang dapat menyebabkan pembelahan sel dan
pertumbuhan tunas. Beberapa senyawa yang termasuk golongan sitokinin
diantaranya adalah: purine, adenine, kinetin, 6-Benzylamino purine (BA),
Zeatin.
4. Sarana dan Kondisi lingkungan
Faktor-faktor fisik yang berpengaruh terhadap keberhasilan kultur
jaringan adalah:
a. Cahaya (komposisi dan lama pencahayaan)
Setelah proses penanaman di dalam laminar air flow selesai, seluruh
botol kultur ditutup dengan rapat dengan menggunakan alumunium foil
dan dipindahkan ke ruang kultur dimana suhu dan pencahayaan harus
diatur sedemikian rupa agar prosesnya pertumbuhan berlangsung dengan
optimum.
18

b. Temperatur biasanya pada jenis-jenis tropis suhu dijaga pada 28-29°C.


c. Kelembaban udara harus dijaga pada ruang pertumbuhan in vitro.
d. Ketersediaan air, oksigen, karbón dioksida
e. Semua alat dan bahan yang digunakan harus steril