Anda di halaman 1dari 8

FILSAFAT MISTISISME DALAM ISLAM

( TASAWUF DALAM ISLAM )

KELOMPOK 8 :

1. VEMBY YUMALA ( NPM : 201841500176)


2. ZARRA PUTRI NOOR AZKA ( NPM : 201841500171)
A.PENDAHULUAN
Sifat buruk dapat dihapuskan melalui perbuatan baik, keburukan dapat dihilangkan dengan
kebaikan; semua yang kotor dapat dibersihkan dengan sesuatu yang murni. Gagasan jiwa sebagai
cermin, mencerminkan gambaran Tuhan dibandingkan dengan kecermelangannya sendiri yang
dipakai oleh para sufi Muslim.
Gagasan cermin yang berkarat dan kebutuhan menyemirnya itu sangat digandrungi oleh
para sufi generasi selanjutnya. Penegasan bahwa hati dan pikiran yang perlu dibersihkan, dan
kenyataan bahwa ibadah ritual yang dilakukan dan amal shalih saja dirasakan oleh para sufi
belum memadai. Hal inilah yang mendorong mereka para sufi periode awal untuk melakukan
meditasi dan perenungan. Kepuasan rohaniah yang yang sejati seperti inilah yang mendorong
terbentuknya pemisah yang tegas antara hakikat yang sementara dan abadi, serta pembatasan
yang jelas antara kehidupan duniawi dibandingkan dengan kehidupan yang kekal bersama
Tuhan.Untuk itu marilah kita kupas pembahasan mengenai mistisisme atau tasawuf secara lebih
mendalam.

B.PEMBAHASAN
1.Pengertian
Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia
(geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau
terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld ).
Mistisisme dalam Islam diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut
sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam.
Sufisme tidak dipakai untuk mistisisme yang terdapat dalam agama-agama lain. Mistisisme atau
tasawuf mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan,
sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.
Berbicara tentang mistisisme Islam bisa kita dapat hanya jika kita memahami makna
orisinil istilah itu, yang berkaitan dengan misteri-misteri Ilahi. Kita harus ingat bahwa diam atau
tutup mulut adalah makna dasar kata Yunani muo yang menjadi akar kata mysterion dan
mistisisme.
Menurut Lorens Bagus mistisisme adalah suatu pendekatan spiritual, dan nondiskurtif
kepada persekutuan jiwa dengan Allah, atau apa saja yang dipandang sebagai realitas sentral
alam.
Tasawuf adalah sebuah jalan kebenaran dan petunjuk. Sementara asal-usulnya adalah
pemusatan diri dalam ibadah, menghambakan diri semata kepada Allah.

2.Tokoh-tokoh Utama
Ada beberapa tokoh tasawuf, yang tidak boleh dilewatkan dalam kajian tasawuf. Mereka
adalah :
(1) Dzû al-Nûn al-Mishrî,
(2) Abû Manshûr al-Hallâj,
(3) Ibn ‘Arabî,
(4) Jalâl al-Dîn Rûmî.
1. Dzû al-Nûn al-Mishrî (165-245 H/ 781-859 M)
Ia adalah Imam sepajang masa, sufi fenomenal sepanjang sejarah, dan juga pemuka
komunitas Sufi. Ia adalah sufi pertama yang mengungkapkan isyarat (simbol) dengan ibarat
(verbal), dan pembuka jalan perbincangan mengenai jalan hidup sufistik.
2. Bû Manshûr al-Hallâj (w. 310 H/922 M)
Dalam sejarah sufi, Ia dikenal sebagai orang yang mengatakan “aku adalah Tuhan,” (anâ
al-Haqq). Selama perjalanan pertama hajinya ia tidak beranjak selama satu tahun penuh dari
ruang masjid. Para pengunjung yang menyaksikannya ketika ia duduk di terik matahari di atas
sebuah batu dengan peluh mengucur di seluruh tubuhnya, lebih terpesona oleh kekerasan
tekadnya ketimbang kesalehannya. Ketika ia kembali ke Baghdad ia menjalin sekali lagi
persahabatannya dengan al-Junayd, tapi al-Junayd menyalahkan al-Hallâj karena klaimnya
sebagai Tuhan. Keretakan dengan al-Junayd sekaligus dengan pemisahan diri al-Hallâj dari
tarekat-tarekat sufi yang mapan.
Beliau juga mengembangkan teori al-Hulûl (inkarnasi), di mana persatuan mistik dicapai
dengan turunnya Tuhan kepada manusia.
3. Ibn ‘Arabî (w. 637 H/ 1240 M)
Ibn ‘Arabî adalah pemikir dan penulis yang produktif. Hampir tidak ada sufi besar yang
tidak mengenal beliau. Ajarannya yang terkenal adalah wahdat al-wujûd yang telah menjadi
buah bibir dan bahan perdebatan yang tak pernah berhenti sampai sekarang. Beliau mengatakan
bahwa wujud yang sejati hanya satu yaitu Allah, sedangkan wujud selainnya yang disebut alam
adalah manifestasi (tajallî) Allah.
4. Jalâl al-Dîn Rûmî
Rûmî adalah seorang tokoh agama terkemuka yang menguasai berbagai disiplin ilmu, dari
syari’ah (hukum), teologi sampai ke filsafat dan tasawuf formal. Tetapi ketenaran dan puncak
karir intelektual ini bagi Rûmî Sendiri malah sangat tidak memuaskan. Ia tidak menemukan
dalam disiplin-disiplin ilmu yang ia kuasai saat itu, sebuah ilmu yang dapat mentransformasikan
dirinya ke arah manusia paripurna (insân kâmil).
Menurutnya, baik fiqih maupun teologi tidka berhasil untuk mengubah dirinya karena
kecenderungan mereka kepada formalisme. Untunglah muncul sesosok figur misterius yang
kemudian dikenal sebagai Syams al-Dîn Tabrîzî. Kemudian ia menjadi tokoh yang telah
mengubah Rûmî dari seorang teolog menjadi sufi, dan dari seorang intelektual menjadi
“penyair”.

3.Tema-tema Utama Tasawuf


 Hakikat (Haqîqah)
Para sufi terobsesi terhadap kebenaran yang hakiki. Obsesi terhadap hakikat (realitas
absolut) ini tercermin dalam penafsiran mereka terhadap formula “lâ ilâha illa Allâh” yang
mereka artikan “tidak ada realitas yang sejati kecuali Allah”. Pernyataan “lâ ilâha illa Allâh”
ditafsirkan para sufi sebagai penafikan terhadap eksistensi dari yang selain-Nya, termasuk
eksistensi dirinya, sebagai realitas.
Bagi mereka Tuhanlah satu-satunya yang hakiki, dalam arti yang betul-betul ada, ada yang
absolut, sedangkan yang lain keberadaannya tidaklah hakiki atau nisbi, dalam arti tergantung
keberadaannya pada kemurahan Tuhan.
 Ma’rifat (Ma’rifah)
Ma’rifat adalah sejenis pengetahuan yang mana para sufi menangkap hakikat atau realitas
yang menjadi obsesi mereka. Ma’rifat berbeda dengan jenis pengetahuan yang lain, karena ia
menangkap objeknya secara langsung, tidak melalui representasi, citra atau simbol dari objek-
objek penelitiannya itu.
Seperti indera menagkap objeknya secara langsung, demikian juga hati atau intuisi
menangkap objeknya secara langsung. Perbedaannya terletak pada jenis objeknya.
Kalau objek indera adalah benda-benda inderawi, sedangkan objek-objek intuisi adalah
entitas-entitas spiritual.
Ma’rifat, seperti yang telah diketahui, berdasarkan pada pengalaman; artinya ia harus
dialami, bukan dipelajari. Ma’rifat tidak dapat diraih melalui jalan inderawi, karena menurut
Rûmî, itu seperti mencari mutiara yang berada di dasar laut hanya dengan datang dan
memandang laut dari darat.
 Tarekat (Tharîqah)
Seperti syari’at, tarekat (Tharîqah) berarti jalan, hanya saja kalau yang pertama jalan raya
(road), maka yang terakhir adalah jalan kecil (path). Tarekat kemudian dipahami sebagai jalan
spiritual yang ditempuh seorang sufi.
Selanjutnya, walaupun jalan spiritual itu sendiri objektif, dalam arti betul-betul dialami
oleh orang-orang suci di sepanjang zaman, tetapi pengalaman masing-masing sufi dalam
menempuh perjalanan tersebut bersifat subjektif. Oleh karena itu wajar, kalau para penulis sufi
berbeda, misalnya, dalam menamakan maqam-maqam ataupun urutan-urutannya.

4.Tasawuf dan Tantangan Zaman


a. Disorientasi manusia modern
Pengaruh sains yang besar dalam kehidupan modern, dengan sengaja atau tidak, telah
menyebarkan pandangan sekuler tersebut yang sampai masuk ke dalam jantung dan hati manusia
modern. Pandangan dunia sekuler yang hanya mementingkan urusan duniawi secara tidak
langsung telah menggeser manusia modern dari aspek spiritualitas. Mereka menolak segala dunia
non-fisik, seperti dunia imaji atau spiritual, sehingga terputus hubungan dengan segala realitas-
realitas yang lebih tinggi. Akibatnya banyak manusia modern yang mengalami krisis spiritual.
Krisis spiritual ini pada gilirannya telah menimbulkan apa yang disebut sebagai
“disorientasi” pada manusia modern. Ketika ada kata “orientasi”, ini tentu mengandung makna
“memberi arah”, dan dengan demikian orientasi tidak bisa tidak kecuali mengandaikan adanya
arah dan tujuan. Kata “disorientasi” yang merupakan negasi dari orientasi, karena itu, akan
terjadi ketika kita tidak tahu lagi arah, mau ke mana kita pergi, bahkan juga dari mana kita
berasal. Hal inilah yang menjadikan manusia modern mengalami keterputusan spiritual dengan
Tuhan, sumber dari segala yang ada.
Bagi para sufi, Tuhan adalah alpha dan omega, asal dan tempat kembali, bagi banyak
orang modern, Tuhan hanyalah dipandang sebagai penghalang bagi penyelenggaraan diri
mereka, dan kebebasan yang menyertainya. Nietzsche, misalnya, memandang Tuhan sebagai
perintang utama bagi terciptanya manusia super (Ubermensch), karena itu lebih baik dibunuh
saja. Maka ia berteriak Tuhan telah mati.
Akibat keterputusan ini, maka manusia tidak lagi mengarahkan jiwanya kepada Tuhan
yang maha esa, tetapi tertumpu kepada beraneka benda-benda fisik yang tidak pernah memberi
mereka kepuasan dan ketenangan. Bagi para sufi, ketenangan dapat dicapai hanya apabila kita
telah berada dekat dengan Tuhan. Keterputusan dengan sumber adalah penyebab timbulnya
perasaan terasing, gelisah dan sebagainya, sebagaimana yang banyak diderita manusia yang
hidup di dunia modern ini.

b.Menuju ke kehadirat Ilahi


Sejak awal tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi pada saat ini
kita masih berada jauh dari asal dan tempat kembali kita yang sejati. Kenyataan bahwa manusia
selalu merasa gelisah, menunjukkan betapa kita masih jauh dari tujuan, ke mana kita harus pergi.
Tasawuf bukan hanya menyadarkan kita akan keterpisahan dari sumber dan tempat
kembali kita yang sejati, tetapi juga sekaligus menjelaskan kepada kita dari mana kita berasal
dan ke mana kita akan kembali. Dengan demikian, dalam arti tertentu, tasawuf telah memberi
kita arah (orientasi) dalam hidup kita.
Lantas dapatkah tasawuf memberi petunjuk arah bagi manusia modern yang telah
mengalami disorientasi? Jawabnya, mungkin saja. Ketika manusia modern telah kehilangan
identitas dirinya, maka tasawuf dapat memberikan pengertian yang lebih komprehensif tentang
siapa manusia itu sesungguhnya. Dari ajaran para sufi, jelas betapa manusia itu bukan hanya
makhluk fisik, tetapi juga makhluk spiritual, yang memiliki asal-usul spiritualnya pada Tuhan.
Dengan begitu, maka lebih mungkin kita akan bertindak lebih bijak dan seimbang dalam
memeperlakukan diri kita. Selain itu dengan mengetahui asal-usul kita – baik fisik maupun
spiritual – maka kita bisa mengarahkan diri kita secara proporsional baik untuk kesejahteraan
hidup di dunia maupun untuk akhirat nanti.
Dengan demikian diharapkan tasawuf akan memberikan sedikitnya petunjuk tentang siapa
manusia itu sesungguhnya, dan dengan demikian memberi solusi terhadap krisis identitas yang
diderita banyak oleh manusia modern.

C. KESIMPULAN
Karena sifatnya yang universal, baik dalam arti ruang maupun waktu, sebuah sistem
spiritual, seperti tasawuf, mungkin saja menerima pengaruh dari sistem lain yang ada
sebelumnya. Para sufi menggambarkan Tuhan sebagai sebuah prinsip yang menyeluruh dan
paripurna. Dari sudut pandang waktu, Dia adalah yang awal dan yang akhir, maksudnya Dialah
asal dan tempat kembali segala sesuatu yang ada. Dari sudut pandang ruang, Dia adalah yang
lahir dan yang batin, yakni yang imanen dan transenden.
Esensi dari sebuah sistem mistisisme adalah perasaan dekat dengan Tuhan. Perasaan dekat
ini dinyatakan dalam perasaan sufi akan kehadiran Tuhan di manapun ia berada. Kehadiran
Tuhan ia rasakan baik dalam dirinya maupun di alam yang mengelilinginya.
DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia. 2005


Jaiz, M.H Amien. Masalah Mistik Tasawuf & Kebatinan. Bandung: PT Al-ma'arif. 1980
Kartanegara, Mulyadhi. Pengantar Studi Islam. Jakarta: Ushul Press. 2011
Nasr, Seyyed Hossein dan Oliver Leaman. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. Bandung: Mizan. 2003
Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 2008
Smith, Margareth. Mistisisme Islam & Kristen: Sejarah Awal dan Perkembangannya. Terj. Amroeni
Dradjat. Tangerang: Gaya Media Pratama. 2007