Anda di halaman 1dari 3

Macam-Macam Masalah Konflik Karena

Kemajemukan Masyarakat Indonesia


Masalah konflik sering terjadi di Indonesia baik itu konflik antar suku, etnis maupun
Agama dengan timbulnya masalah tersebut bisa merugikan bangsa dan menghilangkan
harta ataupun nyawa sekalipun, dan itu merupakan kerugian yang tak ternilai. Untuk itu
marilah kita jaga keutuhan dan bisa mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa,
jangan sampai kejadian yang sudah terjadi terulang lagi, karena merupakan pengalaman
yang pahit.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dengan keanekaragamannya dan kita
harus patut bangga akan hal itu. Karena dengan keanekaragamannya itu Indonesia
dikenal dengan Negara yang paling kaya akan kesenian dan budayanya. Jangan sampai
kejadian seperti kesenian atau budaya kita diklaim lagi oleh Negara lain karena itu bisa
merugikan kita. Pada kesempatan kali ini akan kita bahas secara mendalam tentang
beberapa alternatif pemecahan masalah yang disebabkan oleh adanya kemajemukan
masyarakat Indonesia.

Masalah Konflik Antaretnis

Akibat dari bertemunya individu-individu dengan latar belakang etnis yang berbeda
tersebut akan menyebabkan munculnya:

 a. Saling menolak (konfrontasi), apabila pihak-pihak yang bertikai tidak dapat saling
menyesuaikan diri.
 b. Asimilasi, pihak-pihak yang berinteraksi dapat saling menyerap sehingga muncul
budaya baru demi berlangsungnya kehidupan di masyarakat tersebut.
 c. Akulturasi, apabila keduanya saling mengambil unsur sehingga terjadi saling
menyesuaikan diri.

Munculnya konflik antaretnis biasanya disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

 a. Perbedaan pendirian antarindividu.


 b. Perbedaan kebudayaan.
 c. Perbedaan kepentingan.

Menyadari kondisi di atas, maka diperlukan adanya penanganan konflik yang cepat dan
tepat, sehingga konflik yang awalnya bersifat individu tidak menjalar menjadi konflik
antaretnis. Kita harus mampu menyadari perbedaan yang ada. Setiap suku bangsa
mempunyai tata nilai dan tradisi yang berbeda-beda. Dengan demikian, sudah saatnya
setiap warga negara bersikap terbuka dan mau menerima kebudayaan etnis lain.
Pandangan primordial yang akan membawa pada suatu sikap picik perlu segera diubah
sehingga munculnya perasaan superior harus segera ditingaIkan.

Masalah Konflik Antaragama

Menurut Clifford Geertz,agama adalah unsur perekat yang menimbulkan harmoni


sekaligus unsur pembelah yang dapat menimbulkan disintegrasi. Dalam pandangan
fungsional, agama adalah sesuatu yang mempersatukan inspirasi yang paling luhur,
memberikan pedoman moral, memberikan ketenangan individu, dan kedamaian bagi
masyarakat. Namun pada saat yang sama, kadang-kadang agama dijadikan sebagai alat
untuk memecah belah persatuan bangsa. Agama dijadikan sebagai kedok untuk
mencapai ambisi yang diinginkan. Akibatnya, masyarakat yang mempunyai pemikiran
sempit akan gampang terbakar dengan segala macam isu yang coba diembuskan oleh
orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kondisi demikian harus segera diatasi secepatnya. Banyak pengalaman yang dapat
dijadikan hikmah. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mengembangkan toleransi antar
umat beragama dan membiarkan orang lain melakukan kegiatan keagamaannya.

Masalah Konflik Antara Mayoritas Dengan Minoritas

Di Indonesia, masih banyak dijumpai adanya perasaan sebagian etnis yang merasa
paling berkuasa di wilayahnya. Akibatnya, etnis lain yang secara ekonomi lebih mapan
dapat menjadi pemicu terjadinya konflik. Oleh karena itu, setiap etnis harusnya dapat
menghargai setiap perbedaan yang ada bahwa perbedaan adalah sebuah anugerah
bukan musibah.

Masalah Konflik Antara Pribumi Dan Nonpribumi Serta


Perlakuan Diskriminatif

Sentimen rasial dan etnis di Indonesia merupakan sebuah isu yang sangat potensial
dalam memunculkan terjadinya konflik. Diskriminasi mempunyai dua pengertian, yaitu:
a. Diskriminasi merupakan penyangkalan hak-hak suatu kelompok warga negara yang
sebenarnya berIaku untuk semua warga negara.

b. Diskriminasi merupakan penyangkalan terhadap hak-hak minoritas.

Bangsa Indonesia dapat hidup damai berdampingan satu sama lain. Budayakan sikap
toleransi antarsuku bangsa, agama, dan antargolongan.