Anda di halaman 1dari 17

ACARA V

UJI KESUKAAN-RANKING

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Rasa adalah salah satu parameter penting ketika mengevaluasi
sensorik atribut makanan. Pengaturan terhadap cita rasa terhadap suatu
bahan makanan umumnya dilakukan dengan alat indera manusia. Uji
kesukaan-ranking biasanya digunakan untuk mengemukakan pendapat
panelis secara spontan, tanpa membandingkan dengan sampel standar.
Uji kesukaan adalah pengujian yang panelisnya mengemukakan
responnya berupa suka tidaknya sifat suatu bahan yang diuji. Pengujian
ini umumnya digunakan untuk mengkaji reaksi konsumen terhadap suatu
bahan atau sampel yang diujikan. Uji ranking untuk mengurutkan
intensitas mutu atau kesukaan konsumen dalam rangka memilih yang
terbaik atau menghilangkan yang terjelek. Pada praktikum ini digunakan
berbagai macam sampel untuk diuji parameternya dengan melakukan uji
kesukaan sampel dengan metode ranking.
2. Tujuan
Tujuan dari praktikum acara Uji Kesukaan-Ranking adalah
mahasiswa mampu melakukan uji kesukaan sampel dengan metode
ranking.
B. Tinjauan Pustaka
Analisis sensoris adalah pemeriksaan produk melalui evaluasi atribut
seperti warna, bau, rasa, sentuhan, tekstur dan pendengaran. Sampai tahun
1960-an, teknik analisis sensoris pada dasarnya mengandalkan pengalaman
pribadi penilai ahli. Teknik ini sederhana dan murah, tetapi kekurangan syarat
penting reproduksibilitas untuk dipertimbangkan matang sepenuhnya metode
analisis (Piana et al., 2004).
Analisis sensori digunakan dalam mengidentifikasi penerimaan pasar
terutama pada produk berbasis makanan atau minuman. Hal ini berguna untuk
pengembangan produk dan perbaikan karena faktor yang terpenting untuk
pasar dapat diidentifikasi dan diperbaiki. Analisis sensori juga diperlukan
untuk memastikan keberhasilan produk di pasar. Tanpa analisis sensorik yang
tepat, akan terjadi risiko kegagalan tinggi pada pasar. Konsumen saat ini
cerdas, menuntut dan lebih berpengetahuan tentang makanan dan
mengharapkan produk yang aman, baik nilai dan kualitas sensorik. Oleh
karena itu, mengetahui preferensi konsumen dan persepsi karakteristik
sensorik dari makanan atau minuman produk sangat penting untuk produsen
makanan (Lazim, 2009). Penggunaan metode skala membantu penentuan
tingkat kesukaan dan preferensi dari produk-produk yang diuji. Skala hedonik
adalah skala yang umum digunakan. Kategori skala yang umum digunakan
adalah skala 5, 7, atau 9 (Harikedua, 2001).
Dalam pengujian organoleptik atau ranking panelis diminta untuk
mengurutkan intensitas sifat yang dinilai. Uji ranking dapat digunakan untuk
mengurutkan intensitas , mutu, karakteristik dalam rangka menentukan yang
terbaik dan terburuk. Panelis yang dipakai dapat berasl dari panelis terlatih
maupun kurang terlatih (Kartika dkk, 1988).
Uji organoleptik dilakukan untuk menentukan tingkat kesukaan atau
penerimaan panelis produk. Bentuk uji organoleptik yang diberikan pada
panelis meliputi rasa, warna, aroma dan tekstur (keras atau lunak). Kemudian
data diolah menggunakan metode uji ANOVA (analisis varian), dan diikuti
dengan metode DMRT (Duncan Multiple Range Test) untuk kemudian
dibandingkan ada tidaknya perbedaan antar sampel uji (Buntaran et al., 2010).
Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap. Setelah
didapat formulasi resep yang tepat, produk tersebut kemudian diuji hedonik
pada panelis untuk melihat mutu dan kesukaan. Uji mutu hedonik merupakan
uji hedonik yang lebih khusus yang ditujukan untuk menilai satu jenis mutu
tertentu. Sama halnya seperti uji hedonik, data uji mutu hedonik dianalisis
denganpendekatan uji one way anova dengan uji lanjut adalah Uji Duncan
(Merawati, 2012).
Aspek kualitatif dari suatu produk mencakup semua aroma,
penampilan, rasa, tekstur, rasa, dan sifat dari suatu produk, yang membedakan
aspek dalam memfasilitasi deskripsi atribut produk yang dirasakan. Analisis
juga digunakan untuk pengendalian kualitas, perbandingan prototipe produk,
memahami tanggapan konsumer dalam kaitannya dengan atribut produk
sensorik, serta pemetaan sensorik dan produk yang sesuai. Hal ini juga dapat
digunakan untuk menentukan perubahan produk dari waktu ke waktu
sehubungan dengan mikroba hidup dan efek kemasan, menyelidiki efek dari
bahan-bahan pengolahan pada kualitas sensorik produk akhir, dan menyelidiki
persepsi konsumen terhadap produk (Murray et al., 2001).
Bidang penilaian sensori memerlukan subjek untuk menilai produk.
Subjek ini kemudian disebut sebagai panelis, dan panelis dapat dibedakan
menjadi panelis konsumen, panelis jenis konsumen, dan panelis laboratorium.
Setiap pemakaian panelis sangat tergantung pada metode yang digunakan
dalam sebuah penelitian (Hayati dkk, 2012).
Kualitas sensorik produk berperan peran penting dalam pemilihan
produk. Pengujian hedonik sering digunakan untuk menentukan sikap
konsumen terhadap makanan dengan mengukur tingkat penerimaan produk
baru atau meningkatkan produk pangan yang telah ada. Metode yang
digunakan dalam analisis sensori produk didasarkan pada sifat makanan,
keseluruhan, kualitas (kriteria, karakteristik). Ukuran sifat yang berbeda itu
ditentukan oleh nilai-nilai tertentu (poin, persentase, kecepatan). Metode
analisis yang digunakan untuk menilai kualitas sensorik makanan terbagi
menjadi dua kelompok, yaitu analisis dan pilihan (Muresan et al., 2012).
Wafer merupakan produk makanan kering yang terbuat dari adonan
cair berbasis tepung terigu, berpori-pori besar, renyah, dan penampangnya
berongga bila dipatahkan. Wafer tergolong biskuit yang sangat tipis dengan
ketebalan lebih kecil dari 1 mm hingga 4 mm, mempunyai tekstur lembut dan
renyah, serta mempunyai permukaan halus yang ukuran dan detailnya
dibentuk sesuai cetakan19. Bahan adonan wafer terdiri atas gula, tepung, air,
garam, lemak, dan bahan lainnya (Budiyanti, 2010).
Ada dua jenis wafer yaitu wafer flat dan wafer stick. Wafer stick
mempunyai bentuk bulat panjang seperti stick. Bentuk tersebut dicetak setelah
proses pemanggangan dengan cara melilitkan lembaran wafer pada sebuah
nozzle lalu diisi dengan krim kedalamnya. Wafer flat adalah jenis creamed
sandwich wafer yang terdiri dari empat wafer dan tiga lapis krim di antara
sheet. Wafer flat dibentuk dari adonan yang dipanggang di antara sepasang
plat metal yang panas (Budiyanti, 2010).
C. Metodologi
1. Alat
a. Borang penilaian
b. Gelas sloki
c. Label
d. Nampan
e. Sendok
f. Tisu
g. Wadah untuk sampel
2. Bahan
a. Lima macam wafer ; Tango (Kode Sampel 360 dan 575), Selamat
(Kode Sampel 764 dan 644), Nissin (Kode Sampel 935 dan 349),
UBM Biskuit (Kode Sampel 195 dan191), TOP (Kode Sampel 816 dan
Tango (360 dan
404). Penyiapan borang uji kesukaan-
575)
b. Air mineral ranking
3. Cara Kerja (Flowchart)
a. Penyaji
Selamat (764
dan 644) Penaruhan sampel pada wadah
sampel
Nissin (935
dan 349)

Persiapan panelis, menunjuk


pemimpin pengujian untuk panelis
UBM Biskuit
(195 dan191)

Penentuan lama waktu pengujian

TOP (816 dan


404)
Pentabulasian data hasil pengujian
Gambar 5.1 Flowchart Untuk Penyaji

b. Panelis

Penulisan nama, tanggal pengujian,


produk yang diuji, dan tanda tangan

Pembacaan instruksi yang ada.


Pemeriksaan kelengkapan sampel

Pengujian sampel sesuai intruksi yang


ada dalam borang

Gambar 5.2 Flowchart untuk Panelis

Bila pengujian telah selesai,


pemeriksaan kembali apakah
penguian sudah dilengkapi semua.
Penyerahan hasil uji kepada penyaji
D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 5.1 Hasil Uji Ranking Sampel Wafer
Panelis Sampel
Tango Selamat Nissin UBM TOP
biskuit
1 5 2 1 3 4
2 2 1 4 3 5
3 4 3 2 1 5
4 2 1 4 3 5
5 3 1 2 5 4
6 5 1 2 3 4
7 2 1 3 4 5
8 2 1 3 4 5
9 2 1 3 5 4
10 1 2 3 4 5
11 1 2 3 4 5
12 2 1 3 4 5
13 2 1 3 4 5
14 2 1 4 5 3
15 3 1 2 4 5
16 5 2 3 4 1
17 2 1 4 3 5
18 3 1 2 4 5
19 2 1 3 4 5
20 2 1 3 5 4
21 1 5 4 3 2
22 2 1 3 5 4
23 2 3 1 4 5
24 1 3 4 2 5
25 1 2 4 3 5
26 2 1 5 3 4
27 3 2 1 4 5
28 2 1 3 4 5
29 1 2 3 4 5
30 4 5 3 1 2
Jumlah 71 50 88 109 131
Rata - 2,367 1,667 2,933 3,633 4,367
rata
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan Nilai:
1 = sangat suka
2 = suka
3= netral
4= tidak suka
5= sangat tidak suka
Wafer merupakan produk makanan kering yang terbuat dari adonan
cair berbasis tepung terigu, berpori-pori besar, renyah, dan penampangnya
berongga bila dipatahkan. Wafer tergolong biskuit yang tipis dengan ketebalan
lebih kecil dari 1 mm hingga 4 mm, mempunyai tekstur lembut dan renyah,
serta mempunyai permukaan halus yang ukuran dan detailnya dibentuk sesuai
cetakan. Bahan adonan wafer terdiri atas gula, tepung, air, garam, lemak, dan
bahan lainnya Standar mutu biskuit telah diatur menurut SNI 01-2973-1992
dengan persyaratan antara lain kandungan air maksimal 5%, protein minimal
9 , lemak minimal 9,5 %, karbohidrat minimal 70 %, kalori 400 kal/g, dan
serat kasar maksimal 0,5 % (Budiyanti, 2010).
Dalam praktikum uji kesukaan-ranking menggunakan lima macam
sampel wafer dari berbagai merk yang berbeda. Sampel wafer yang diujikan
beserta kode sampel yang digunakan antara lain wafer dengan merk Tango
(360 dan 575) Selamat (764 dan 644), Nissin (935 dan 349), UBM biskuit
(195 dan191), dan TOP (816 dan 404). Pengujian dilakukan dengan
menggunakan 30 orang panelis yang diminta untuk melakukan uji pada tiap
sampel. Selain sampel, panelis juga disediakan air mineral bertujuan untuk
menetralkan rasa wafer agar rasanya tidak bercampur dan menyebabkan bias.
Setelah mencicipi sampel, panelis menuliskan tingkat kesukaan ke dalam
borang yang telah disediakan. Skala rangking yang dimasukkan adalah 1=
sangat suka, 2 = suka, 3= netral, 4= tidak suka, dan 5= sangat tidak suka.
Tabel 5.1 memuat data hasil panelis setelah ditabulasikan.
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat sampel yang paling disukai panelis.
Dari tabel tersebut. besarnya nilai kolom jumlah terkecil merupakan sampel
yang paling disukai panelis (skor angka kecil diberikan untuk sampel yang
disukai), sedangkan nilai kolom dengan jumlah yang besar menunjukkan
sampel tersebut tidak disukai panelis. Berdasarkan hasil percobaan, diketahui
bahwa sampel selamat kode sampel 764 dan 644 mendapatkan total skor
terkecil yang artinya sampel tersebut paling disukai panelis. Kemudian urutan
sampel selanjutnya yaitu sampel tango dengan total skor 71, nissin dengan
total skor 88, UBM biskuit dengan yoyal skor 109 dan terakhir yaitu sampel
TOP dengan total skor 131.
Menurut Setyaningsih dkk (2011), faktor yang mempengaruhi
kesukaan atau kepekaan panelis antara lain jenis kelamin, usia, kondisi
fisiologis, faktor genetis, dan kondisi psikologis. Pada faktor jenis kelamin,
wanita lebih peka terhadap pria dalam merasakan sesuatu. Tetapi untuk
penilaian sensori terhadap aroma dan flavor wanita lebih tidak konsisten
dibandingkan pria. Pada faktor usia, kemampuan seseorang dalam merasa,
mencium, mendengar, dan melihat semakin berkurang seiring bertambahnya
umur. Faktor kondisi fisiologis misalnya lapar, kenyang, sakit, merokok dan
lain-lain. Faktor genetis akan mempengaruhi sensoris seseorang apabila
berhubungan denganpengenalan dan ambang batas. Sedangkan faktor
psikologis seseorang seperti mood, motivasi, bias dan suasana hati.
Tabel 5.2 Data Hasil Uji Kesukaan – Ranking Aplikasi Tabel Fisher and
Yates
Panelis Sampel
Tango Selamat Nissin UBM biskuit TOP
1 -1,16 0,500 1,16 0 -0,500
2 0,500 1,16 -0,500 0 -1,16
3 -0,500 0 0,500 1,16 -1,16
4 0,500 1,16 -0,500 0 -1,16
5 0 1,16 0,500 -1,16 -0,500
6 -1,16 1,16 0,500 0 -0,500
7 0,500 1,16 0 -0,500 -1,16
8 0,500 1,16 0 -0,500 -1,16
9 0,500 1,16 0 -1,16 -0,500
10 1,16 0,500 0 -0,500 -1,16
11 1,16 0,500 0 -0,500 -1,16
12 0,500 1,16 0 -0,500 -1,16
13 0,500 1,16 0 -0,500 -1,16
14 0,500 1,16 -0,500 -1,16 0
15 0 1,16 0,500 -0,500 -1,16
16 -1,16 0,500 0 -0,500 -1,16
17 0,500 1,16 -0,500 0 -1,16
18 0 1,16 0,500 -0,500 -1,16
19 0,500 1,16 0 -0,500 -1,16
20 0,500 1,16 0 -1,16 -0,500
21 1,16 -1,16 -0,500 0 0,500
22 0,500 1,16 0 -1,16 -0,500
23 0,500 0 1,16 -0,500 -1,16
24 1,16 0 -0,500 0,500 -1,16
25 1,16 0,500 -0,500 0 -1,16
26 0 1,16 -1,16 0 -0,500
27 0,500 0,500 1,16 -0,500 -1,16
28 0,500 1,16 0 -0,500 -1,16
29 1,16 0,500 0 -0,500 -1,16
30 -0,500 -1,16 0 1,16 0,500
Jumlah 9,98 22,06 1,32 -9,98 -23,38

Rata-
rata 0,332667 0,735333 0,044 -0,33267 -0,77933
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan : 5 sampel
1 = 1,16
2 = 0,500
3=0
4 = -0,500
5 = -1,16
Tabel 5.2 merupakan data Hasil Uji Kesukaan – Ranking
diaplikasikan dalam Tabel Fisher and Yates. Transformasi data pada Fisher
and Yates dilakukan dengan merubah angka 1-5 menjadi range antara 1,16
sampai -1,16. Angka 1 pada tabel 5.1 ditransformasikan menjadi 1,16 ; angka
2 menjadi 0,5 ; angka 3 menjadi 0 ; angka 4 menjadi -0,5 ; angka 5 menjadi
-1,16. Transformasi ini bertujuan untuk memudahkan analisis statistika untuk
menentukan ada tidaknya perbedaan nyata antar sampel. Angka-angka yang
terdapat pada Tabel 5.2 adalah angka pokok yang akan menentukan
perhitungan selanjutnya.
Melalui data dari tabel fisher and yates kita dapat menentukan besar db
panelis ( panelis – 1), db contoh ( contoh – 1), db error (db panelis x db
contoh), FK, JK contoh, JKR contoh, JK total, JK error, JKR error, F hitung
contoh, Standar Error, F tabel, nilai LSD, nilai pembanding antarsampel dan
mencari letak perbedaan antarsampel. Sebelum melakukan perhitungan
statistik, baiknya melakukan pembuatan hipotesa dan kriteria penolakan H0.
Hipotesa terdiri darii H0 dan H1. H0 menyatakan tidak ada perbedaan nyata
antarsampel, sedangkan H1 menyatakan adanya perbedaan nyata antarsampel.
Baik penerimaan maupun penolkan H0 tergantung dengan uji yang dilakukan
(Riduwan, 2013).
Analisis sidik ragam atau ANOVA (Analysis of variance) terdapat dua
jenis, yaitu ANOVA satu jalur dan ANOVA dua jalur. ANOVA satu jalur
memiliki tujuan untuk membandingkan rata-rata lebih dari dua. Uji ini
berguna untuk menguji kemampuan generalisasi. Jika terbukti kedua sampel
berbedamaka dapat digeneralisasi. Sedangkan ANOVA dua jalur digunakan
untuk menguji hipotesis perbandinganlebih dari dua sampel dan setiap sampel
terdiri atas dua jenisatau lebih secara bersama-sama (Riduwan, 2013).
Tabel 5.3 Analisis Sidik Ragam Uji Kesukaan-Ranking
FK Stand Nilai Nilai
ar LSD pemband
SK db JK JKR Fhitung
Error ing antar
(SE) sampel
Paneli
29 0 0 -
s
21,8
Samp 41,140 10,2
4 53
el 37 851 0,125
0 3,925 0,4918
3
54,595 0,47
Error 116 -
63 065
14
Total 95,736 - -
9
Sumber: Laporan Sementara
Tabel 5.3 merupakan tabel analisis sidik ragam atau biasa bertujuan
untuk mencari nilai F hitung sebagai penentu apakah terdapat perbedaan nyata
antar sampel. Kriteria penolakan H0 yaitu jika besar nilai F hitung > F tabel,
dan p value < nilai α. Tingkat signifikansi yang dipakai adalah 95%. Hal ini
karena lazimnya dalam bidang pangan tingkat kepercayaan seseorang tidak
sepenuhnya atau masih sering terjadi eror. Tingkat kepercayaan 99% biasanya
digunakan pada dunia kedoketran.
Menurut Riduwan (2013), F hitung dapat ditentukan dengan
membandingkan varian antar grup dengan varian dalam grup. Selain itu dapat
juga dihitung dengan membandingkan jumlah kuadrat rerata sampel
dibandingkan jumlah kuadrat rerata error. Berdasarkan perhitungan statistik
didapat besar nilai F hitung sebesar 21,853. Kemudian Nilai F hitung
dibandingkan dengan nilai F tabel. Besarnya nilai F tabel dicari menggunakan
metode interpolasi karena tidak ada angka 116 pada barisan Tabel F dengan
signifikansi 0,05. Nilai f tabel pada kolom ke 4 (db Sampel) dan baris ke 116
(db Error), yaitu 2,454 maka F Hitung > F Tabel sehingga dapat disimpulkan
tolak H0, dan hipotesis H1 diterima. Jadi. dinyatakan terdapat perbedaan
nyata antar sampel.
Nilai LSD (Least Significant Difference) didapat sama halnya dengan
mencari nilai Ftabel yaitu dengan menggunakan db eror dan jumlah sampel
yang kemudian dimasukkan dalam tabel significant studentized range 5%
level. Diperoleh nilai LSD sebesar 3,925. Taraf signifikansi digunakan 5%
bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat dengan angka kesalahan yang
kecil yaitu 0,05. Nilai pembanding antar sampel didapatkan dengan
mengalikan standar error (0,1253) dengan nilai LSD dan diperoleh nilai
sebesar 0,4918. Nilai pembanding antar sampel ini digunakan untuk mencari
ada tidaknya perbedaan antar sampel.
Tabel 5.4 Perbedaan Antar Sampel
Perbandingan Hasil Perbandingan NPAS Keterangan
antar sampel antar sampel
A-B - 0,402666 0,4918 Tidak berbeda nyata
A-C 0,288667 0,4918 Tidak berbeda nyata
A-D 0,665337 0,4918 berbeda nyata
A-E 1,111997 0,4918 berbeda nyata
B-C 0,691333 0,4918 berbeda nyata
B-D 1,068003 0,4918 berbeda nyata
B-E 1,514663 0,4918 berbeda nyata
C-D 0,37667 0,4918 Tidak berbeda nyata
C-E 0,82333 0,4918 berbeda nyata
D-E 0,44666 0,4918 Tidak Berbeda nyata
Keterangan:
A = Tango D = UBM Biskuit
B = Selamat E = TOP
C = Nissin
Nilai LSD digunakan untuk menghitung Nilai Perbandingan Antar
Sampel (NPAS). NPAS bertujuan mengetahui interkasi antar sampel adakah
perbedaan nyata antarsampel. Nilai NPAS didapat sebesar 0,4918. Hasil ini
didapat dengan perkalian antara nilai LSD dengan nilai standar error. Nilai
standar error merupakan nilai yang menunjukan kesalahan terkecil dalam
perhitungan. Nilai NPAS kemudian dibandingkan dengan nilai selisih antar
sampel pada kolom nilai rata-rata tabel Fisher and Yates. Dari hasil
perhitungan dapat disimpulkan bahwa antar sampel terdapat 4 sampel tidak
berbeda nyata dan 6 sampel berbeda nyata satu dengan yang lain.
Ada tidaknya beda nyata ditunjukkan dengan membandingkan nilai
hasil pengurangan antar sampel dengan NPAS. Jika nilai hasil pengurangan
antar sampel lebih besar dari NPAS maka antar sampel tersebut memiliki
beda nyata, dan sebaliknya jika lebih kecil maka tidak ada beda nyata antar
sampel. Dari hasil diatas diketahui bahwa sampel Tango dengan UBM
Biskuit, tango dengan TOP, Selamat dengan Nissin, selamat dengan UBM
Biskuit, selamat dengan TOP dan Nissin dengan TOP memiliki beda nyata,
artinya bahwa kedua sampel tersebut tidak homogen atau memiliki karakter
yang berbeda. Sedangkan 4 sampel lainnya tidak beda nyata yang artinya
sampel tersebut homogen atau tidak memiliki karakter berbeda antara satu
sama yang lain.

E. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Uji kesukaan-ranking merupakan sebuah metode analisis sensori dimana
panelis diminta untuk mengurutkan sampel berdasarkan tingkat
kesukaannya yang ditunjukkan dengan skala hedonik (1, 2, 3, 4 atau 5).
2. Urutan kesukaan panelis terhadap sampel wafer yang diujikan dari yang
paling disukai sampai tidak disukai adalah selamat, tango, nissin, UBM
biskuit, dan TOP
3. F Hitung > F Tabel (21,853> 2,454) jadi pada tingkat signifikansi 5%
menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dari kelima sampel terhadap
penilaian ranking oleh panelis.
4. Hasil dari perbandingan antar sampel menunjukkan terdapat 6 formula
menunjukkan berbeda nyata dengan formula yang lain dan 4 formula
lainnya menyatakan tidak berbeda nyata,

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanti, Yuli. 2013. Pengembangan Produk Wafer Coklat Beng-beng Berdasarkan


Preferensi Konsumen PT. Mayora Indah Divisi Wafer. Tesis.
Buntaran, Wawan, Okid Parama Astirin, Edwi Mahajoeno. 2010. Effect Of Various
Sugar Solution Concentrations On Characteristic Of Dried Candy Tomato
(Lycopersicum esculentum). Nusantara Bioscience Vol. 2 No. 2: 55-61. ISSN:
2087-3940 (print)/ISSN: 2087-3956 (electronic).
Harikedua, Silvana D. 2010. Efek Penambahan Ekstrak Air Jahe (Zingiber officinale
Roscoe) dan Penyimpanan Dingin terhadap Mutu Sensori Ikan Tuna
(Thunnus albacores). Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume VI Nomor 1.
Kartika, Bambang, dkk. 1988. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. UGM Press.
Yogyakarta.
Lazim, M.A. dan M. Suriani. 2009. Sensory Evaluation of the Selected Coffee
Products Using Fuzzy Approach. Journal of Science, Engineering and
Technology 26 2009.
Merawati, Desiana. 2012. Uji Organoleptik Biskuit Dan Flake Campuran
TepungPisang Dengan Kurma Sebagai Suplemen Bagi Olahragawan. Jurnal
Teknologi Industri Boga dan Busana Vol. 3 No. 1, Hal 1-13.
Muresan, C., Stan, L., Man, S., Scrob, Stancuta dan Sevastita Muste. 2012. Sensory
Evaluation of Bakery Products and Its Role in Determining of The
Consumer Preferences. Journal of Agroalimentary Processes and
Technologies 2012, 18(4), 304-306.
Murray, J.M., Delahunty, C.M. dan Baxter I.A. 2001. Descriptive Sensory Analysis:
Past, Present and Future. Food Research International 34 (2001) 461-471.
Piana, Maria L., et al. 2004. Sensory analysis applied to honey: state of the art.
Apidologie. Vol.35
Riduwan. 2013. Dasar-dasar Statistika Edisi Revisi. Alfabeta. Bandung.
Setyaningsih, Dwi dkk. 2010. Analisis Sensori untuk Industri Pangan dan Agro. IPB
Press. Bogor.

LAMPIRAN DOKUMENTASI
Gambar 5.1 Sampel Wafer yang Akan Diuji

Gambar 5.2 Air Mineral untuk Menetralkan Rasa


Gambar 5.3 Borang Uji Kesukaan-Ranking