Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL PRAKTIKUM

FORMULASI SEDIAAN STERIL

INFUS INJEKSIRINGER LAKTAT

Disusun oleh:
Kelompok D 1.3

Anggota :
 Chelsi Airine ( 2016210044 )
 Cory Cindy Lesnussa ( 2016210049 )
 Cut Amiya Safitri ( 2016210050 )
 Dana Fauziyah Rahmat ( 2016210052 )
 Dewi Sulistya Rini ( 2016210062 )
 Dinda Oktavia Yusniawan ( 2016210069 )

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2018
I. JUDUL
Injeksi Ringer Laktat

II. PENDAHULUAN
Infus ringer laktat digunakan sebagai terapi rehidrasi (penggantian cairan
tubuh) misalnya pada terapi dasar untuk diare tanpa memandang etiologi.Penetapan
awal kehilangan cairan adalah sangat essensial untuk rehidrasi. Hilangnya berat badan
hal yang paling berkaitan dalam penetapan tingkat kehilangan cairan. Kehilangan
berat badan 9-10% dipertimbangkan sebagai parah dan memerlukan pergantian cairan
IV dengan larutan ringer laktat atau 0.9% NaCl. Larutan ringer laktat lebih dipilih
karena tidak menyebabkan metabolik asidosis hiperkloremik melalui infus atau saline
normal dalam jumlah yang banyak. Keuntungan dari ringer laktat adalah kecepatan
(500 – 2000 ml/jam) dan kemudahan pemberian, kompatibilitas dengan kebanyakan
obat, dan tidak adanya kenyerian serum. (ISO Farmakoterapi hal 742)
Ringer Injection, USP, adalah larutan steril natrium klorida, kalium, klorida
dan kalsium klorida dalam air untuk obat suntik. Ketiga zat tersebut kadarnya sama
dengan kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai
pembawa untuk obat lain atau digunakan secara tunggal sebagai penambah elektrolit
dan penambah cairan. Lactated Ringer’s Injection, USP, mengandung zat-zat yang
sama dengan larutan Ringer tetapi dengan konsentrasi berbeda dan mengandung
natrium laktat. Obat suntik ini adalah penambah cairan dan elekrolit serta pengalkalis
sistemik. ( Ansel. 2005. 408 )
Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan
berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan
zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-
partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Dalam kondisi
normal intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh yang terjadi. Kondisi
sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dibuatlah sediaan infus Ringer Laktat
sebagai pengganti cairan tubuh.
III. DATA PRAFORMULASI
A. Zat Aktif
Nama Zat Sifat Fisiko-Kimia Cara Dosis/Khasiat Cara
sterilisasi penggunaan
Kalsium Pemerian : Granul Autoklaf Dosis : Injeksi
Klorida atau serpihan (Martindale  13,6 mEq Ca intravena
( CaCl2) putih; keras; tidak 28. 621 ) 2+ Martindale
berbau. 28. 621 )
(Farmakope  5 mEq/L
Indonesia V. 604 ) (Steril Dosage
Kelarutan : Form halaman
sangat mudah larut 251)
dalam air Ekuivalensi :
(Farmakope 1 g CaCl 2 ~13,6
Indonesia V. 604 ) mEqCa 2+(Martindale
pH : antara 4,5 36 hal. 1675)E=0,51
dan 9,2. (Sprowls hal 187 )
(Farmakope Khasiat:
Indonesia V. 604 ) Sebagai elektrolit yang
4.5 – 9.2 dalam esensial bagi tubuh
larutan air untuk mencegah
(Martindale 28 hal kekurangan ion
621 ) kalsium yang
OTT : soluble menyebabkan
karbonat, fosfat, iritabilitas dan
sulfat, dan tartrat; konvulsia
dengan (Drug Indonesia 88
ampoterisin, hal. 1399)
cefalotin sodium,
klorfenilramin
maleat,
klortetrasiklin
hidroklorida,
oksitetrasiklin
hidroklorida, dan
tetrasiklin
hidriklorida.
(Martindale 28.
621 )
Stabilitas :kalsium
klorida stabil
secara kimia;
namun, harus
terlindungi dari
kelembaban.
( Handbook of
Pharmaceutical
Excipient 6. 89 )
Kalium Pemerian : Hablur Autoklaf atau Dosis : Injeksi
Klorida bentuk memanjang filtrasi 3,5 - 5,0 mEq/L (Steril intravena
( KCl ) prisma atau kubus, (Martindale Dosage Form halaman
atau serbuk granul 28 halaman 252)
putih; tidak 629) Ekuivalensi :
berbau; tidak 1 g KCl~13,4 mEq
berwarna; rasa K+(Martindale 36
asin; stabil hal. 1684)E=0,76
diudara; larutan
(Sprowls hal 189 )
bereaksi netral
Khasiat:
terhadap lakmus.
Mencegah dan
(Farmakope
mengobati defisiensi
Indonesia V. 594)
kalium
Kelarutan
(Drug Information 88
:Mudah larut
hal 630)
dalam
air(Farmakope
Indonesia V. 594)
pH: 7 ( Handbook
of Pharmaceutical
Excipient 6. 572) 4
– 8 dalam injeksi
(Martindale 28 hal
630 )
OTT:inkompatibel
dengan timbal,dan
garam merkuri.
(Martindale 28
halaman 629).
Stabilitas:Kalium
klorida stabil dan
harus disimpan
pada wadah
tertutup rapat,
ditempat sejuk dan
kering.
( Handbook of
Pharmaceutical
Excipient 6. 572 )
Natrium Pemerian : Hablur Autoklaf atau Dosis : Injeksi
Klorida bentuk kubus, filtrasi 135-145 mEq/L (Steril intravena
( NaCl ) tidak berwarna (Martindale Dosage Form halaman
atau serbuk hablur 28 635) 251)
putih; rasa asin. Ekuivalensi :
( Farmakope 1 g NaCl~17,1 mEq
Indonesia V. 917 ) Na+(Martindale 36
Kelarutan : hal. 1686)E=1
Mudah larut dalam (Sprowls hal 189 )
air (Farmakope Khasiat:
Indonesia V. 917 ) Bahan pengisotonis
pH : 6.7-7.3 dan asupan ion
( Handbook of natrium (Drug
Pharmacetutical Information 2003 hal
Excipient 6. 637) 2498)
4.5 – 7 dalam
injeksi ( Drug
Information 2003
hal 2499 )
OTT : larutan
natrium klorida
korosif terhadap
besi dan bereaksi
membentuk
pengendapan
dengan perak,
timbal, dan garam
merkuri. Pengawet
metil paraben
menurunkan
kelarutan sodium
klorida. (
Handbook of
Pharmaceutical
Excipient 6. 639 )
Stabilitas :larutan
natrium klorida
stabil namun dapat
menimbulkan
pemisahan pada
partikel kaca dari
jenis wadah kaca
tertentu.
( Handbook of
Pharmaceutical
Excipient 6. 639 )
Natrium Pemerian : massa Autoklaf ( Dosis : Injeksi
Laktat kristal lembab Martindale  8,9 mEq Na+ intravena
( C3H5NaO3 ) tidak berwarna 28. 641 ) (Martindale
atau sedikit kuning 28
atau cairan halaman640-
higroskopis; tidak 641
berbau, atau  26-29 mEq/L
dengan sedikit (Drug
bau, sedikit Information
mengandung 88 halaman
garam, rasa 1406)
hangat. Ekuivalensi :
(Martindale 28. 1 g Na Laktat ~ 8,9
640 ) mEq Laktat-
Kelarutan: larut (Martindale 36 hal.
dalam air 1673)E= 0,55 (
(Martindale 28. Sprowls hal 189 )
640 ) Khasiat :
pH:7 ( Handbook Mencegah dan
of Pharmaceutical mengobati pasien
Ecipient 6. 650 )
yang mengalami
6-7.3 dalam injeksi
metabolic asidosis
( Drug Information
ringan hingga
88 hal 1390 )
sedang. (Drug
Information 2003
OTT: dengan
novobiocin hal 2474)
sodium,
oksitetrasiklin
hidroklorida,
sodium bikarbonat,
sodium
kalsiumedetat, dan
sulfadiazin
sodium.
(Martindale 28.
640 )
Stabilitas:natrium
laktat harus
disimpan dalam
wadah tertutup
rapat di tempat
sejuk dan kering.
Natrium laktat
terdekomposisi
dalam pemanasan.
( Handbook of
Pharmaceutical
Excipient 6. 640 )
B. Zat Tambahan
Nama Zat Sifat Fisiko- Cara sterilisasi Konsentrasi Cara
Kimia berkhasiat Penggunaan
Aqua pro Pemerian : Aquadest Sampai 100% Injeksi
injeksi Cairan jernih didihkan selama
tidak berwarna; 30 menit
tidak berbau.
(Farmakope
Indonesia V. 64 )
Kelarutan :
Dapat bercampur
dengan semua
pelarut polar
pH : 5.0 – 7.0
(Farmakope
Indonesia V hal
64)
OTT :dengan zat
yang dapat
terhidrolisi
Stabilitas :stabil
secara kimia pada
semua bentuk
fisik (padat cair
dan gas)

C. TEKNOLOGI FARMASI
Injeksi adalah penyemprotan larutan (atau suspensi) ke dalam tubuh untuk
tujuan terapetik atau diagnostik.Injeksi dapat dilakukan langsung ke dalam aliran
darah,ke dalam jaringan dan organ.Infus termasuk injeksi yang digunakan sejumlah
besar misalnya 1atau beberapa liter. (Voight hal 461)
Keuntungan sediaan parenteral antara lain memberikan kerja obat yang cepat
oleh karena bahan obat disampaikan langsung ke dalam aliran darah, menghindari
inaktivasi atau reabsorpsi di dalam lambung, cocok untuk zat aktif yang dapat
mengiritasi lambung serta dapat diberikan pada pasien yang tidak sadarkan diri.
Adapun kerugian sediaan parenteral meliputi pada pemakaiannya hanya boleh
dilakukan oleh dokter atau suster rumah sakit dan dari segi ekonomis bentuk sediaan
ini jauh lebih mahal dibanding bentuk sediaan lainnya. (Voight hal 461)
Kerja optimal dan sifat tersatukan dari larutan obat yang diberikan secara
parenteral hanya akan diperoleh jika persyaratan berikut terpenuhi :
1. Sesuai kandungan bahan yang dinyatakan di dalam etiket dan yang ada dalam
sediaan, tidak terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan
obat secara kimia dan sebagainya.
2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap
steril tetapi juga mencegah terjadinya antaraksi antara bahan obat dan material
dinding wadah.
3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. Untuk itu beberapa faktor yang paling
menentukan adalah: bebas kuman, bebas pirogen, bebas pelarut yang secara
fisiologis, tidak netral,isotonis,isohidri,bebas bahan melayang.
( Voight 459-463)
Untuk mewadahi larutan infus disarankan penggunaan botol penyimpanan
darah (botol-Bluko), yang dilengkapi dengan sebuah pipa kecil ventilasi sehingga
memungkinkan cairan mengalir keluar. Diperdagangan botol tersebut tersedia dalam
berbagai ukuran: 120 ml, 300 ml, dan 500 ml dan merupakan botol yang dapat
ditusuk. Pada pengisian dengan cairan, volume yang ditempati cairan di dalam botol
kira-kira 80 % dari kandungan ruangannya agar peristiwa letusan wadah pada saat
sterilisasi akibat munculnya tekanan di bagian dalam tidak perlu dikhawatirkan.
(Voight hal 466)
Tutup karet atau tutup lempeng kecil bahan sintetis yang digunakan untuk
menutupi botol infus tidak boleh melepaskan bahan padat, pewarna serta komponen
toksis atau pirogen kedalam larutan. Penggunaan tutup yang berulangkali tidak
diijinkan. (Voight hal 466)

Metode sterilisasi akhir yangdigunakan metode sterilisasi uap dengan


mengunakan alat yaitu autoklaf (121oC, 15menit). Mekanisme membunuh
mikrobanya adalah dengan mendenaturasi protein penting untuk pertumbuhan
danreproduksi mikroorganisme juga pelelehan membrane bakteri. Spora dalam bentuk
vegetative bakteri dapat dimusnahkan secara efektif dalam autoklaf yang
menggunakan uap dibawah tekanan selama waktu pemaparan 20 menit dengan
tekanan sebesar 15 pon (121oC) atau selama 3 menit dengan tekanan 27 pon (132oC).
( Lachman, Leon III. 1268
D. Farmakologi, Farmakokinetik, Farmakodinamik
1. Farmakologi :
a. Garam kalsium
Kalsium dibutuhkan untuk menjaga fungsi syaraf,otot,dan sistem rangka dan
membran sel serta permeabilitas kapiler.Kalsium berperan penting dalam
regulator pada penyimpanan dan pelepasan hormon dan neurotransmiter.
(Farmakologi dan Terapi hal. 789)
b. Garam Natrium
Larutan natrium klorida memiliki komposisi yang hampir sama dengan
cairan ekstraseluler tubuh.0,9 % larutan natrium klorida memiliki tekanan
osmotik yang sama dengan cairan tubuh.Natrium klorida digunakan sebagai
zat tambahan elekrolit. (Farmakologi dan Terapi hal. 790)
c. Garam Kalium
Kalium adalah kation utama dalam cairan intraselular dan esensial untuk
mengatur keseimbangan asam-basa, isotonisitas, dan elektrodinamik di sel.
Kalium adalah aktivator penting dalam reaksi enzimatik dan esensial pada
beberapa proses fisiologis termasuk transmisi impuls saraf; kontraksi
jantung, otot polos dan rangka; sekresi gastrik’ fungsi ginjal; sintesis
jaringan; dan metabolisme karbohidrat. (Farmakologi dan Terapi hal. 790)
d. Natrium Laktat
Injeksi natrium laktat menggunakan hasil bikarbonat dalam tindakan
pencegahan dan pengobatan metabolit asidosis ringan sampai sedang yang
dibatasi penggunaannya secara oral, karena produksi bikarbonat dari laktat
dalam waktu 1-2 jam setelah penghantaran obat melalui injeksi. Obat tidak
seharusnya digunakan untuk pengobatan asidosis berat karena membutuhkan
koreksi bikarbonat segera pada konsenterasi plasma darah. Sejak penyediaan
obat natrium laktat memiliki kerugian yang besar, ia akan memberikan efek
yang merugikan. (Drug Information 88 hal 1390-1391)

2. Farmakokinetik :
a. Garam kalsium
1. Absorbsi
Kalsium aktif diabsorbsi di dalam duodenum dan jejunum proksimal dan
sampai pada bagian distal dan usus halus.Derajat absorbsi tergantung
pada beberapa faktor:Kalsium tidak pernah terserap sempurna dalam
usus.Absorbsi terjadi bila kalsium dalam bentuk terionisasi.
2. Distribusi
Setelah absorbsi,pertama kali kalsium masuk ke dalam cairan
ekstraseluler memasuki jaringan rangka
3. Eliminasi
Kalsium diekskresikan di dalam feses dan kalsium yang tidak terabsorbsi
disekresi melalui empedu dan cairan pankreas ke dalam lumen dari
saluran gastrointestinal.Kebanyakan kalsium terfiltrasi oleh glomerulus
ginjal dan direabsorbsi di lengkung henle dan tubulus proksimal dan
distal.
(DI 2010 hal 2719)
b. Garam Kalium
1. Absorbsi
Diabsorbsi baik dari saluran gastrointestinal. Potassium dalam sediaan
cair absorbsinya agak terlambat mungkin karena waktu yang dibutuhkan
untuk disolusi obatnya
2. Distribusi
Potassium memasuki cairan ekstraselular dan kemudian menuju ke sel-
sel dengan cara transport aktif dimana konsentrasi potassium didalam sel
40x lebih besar dibandingkan di luar sel.
3. Eliminasi
Dieliminasi oleh ginjal melalui proses filtrasi, reabsorbi dan ekskresi
oleh tubuli distal. Ekresi dipengaruhi oleh konsentrasi ion klorida,
hidrogen, keseimbangan asam-basa, dan hormone adrenal. Sebagian
kecil dapat dieliminasi melalui kulit dan saluran intestine
(Drug Information 2010 hal 2727)
c. Garam Natrium
Natrium Klorida diabsorbsi baik dari saluran cerna.Kelebihannya
diekskresikan melalui ginjal dan sebagian kecil dikeluarkan lewat feses dan
keringat.
(Martindaleed 36 hal 1686)
d. Natrium Laktat
Natrium laktat salah satu bikarbonat, penetral asam lambung dengan
memproduksi CO2. Bikarbonat tidak terlibat dalam reaksi absorpsi dan
dengan tidak adanya kekurangan bikarbonat dalam plasma. Ion bikarbonat
terekskresi oleh urin, yang memberikan basa, dan ada disertai diuresis
metabolisme natrium laktat, setelah penyerapan, menjadi bikarbonat.
(Martindale 36th hal 1674)

3. Farmakodinamik
a. Garam Kalsium
Menimbulkan gejala-gejala tetan, dan jika berat, dapat mengancam nyawa.
Pemberian yang cepat dari kalium intravena dapat menimbulkan rasa
kesemutan dan hangat, dan pengecapan seperti rasa logam. Kalsium perlu
diberikan dengan kecepatan yang sedang, dan harus dihindari terjadinya
infiltrasi. Kalsium dapat diberikan IV tanpa diencerkan dalam keadaan
darurat. (Farmakologi dan Terapi: 185)
b. Garam Kalium
Menjaga Aktivitas neuromuskular: oleh karena itu, kadar kalium serum harus
dipantau ketat. Awal kalium oral adalah dalam 30 menit, dan untuk kalium
intravena segera. Lama kerja kalium tidak diketahui, tetapi bervariasi
tergantung daripada dosis yang dipakai. EKG juga perlu dipantau ketat jika
diberikan dalam dosis yang besar. (Farmakologi dan terapi: 181)
c. Natrium Laktat
Injeksi natrium laktat digunakan sebagai sumber bikarbonat dalam
pencegahan dan pengobatan ringan sampai sedang metabolit acidosis pada
pasien yang mengalami keterbatasan dalam penggunaan oral dan yang
mengalami proses oksidatif. Aktivitasnya tergantung pada konversi menjadi
bikarbonat. Natrium laktat akan teroksidasi dalam hati menjadi bikarbonat
dan glikogen. Laktat secara perlahan dimetabolisme menjadi CO2 dan air,
menerima satu ion hidrogen dan menghasilkan pembentukan bikarbonat
membutuhkan waktu sekitar 1 – 2 jam. ( DrugInformation 2010 hal 2707)
4. Indikasi
Pengganti cairan tubuh yang hilang. Mengembalikan keseimbangan elektrolit
pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik( ISO 50 hal 355 ). Asidosis
metabolik (IONI 2008 hal 663)

5. Kontraindikasi
Kontraindikasi bagi penderita shock, penyakit berat pada hati, dan berbagai
keadaan asidosis hiperlaktik (Remington hal 1341)

6. Efek samping
Asidosis laktat, khususnya pada pasien yang sakit berat dengan perfusi jaringan
yang kurang baik atau gangguan fungsi hati (IONI 2008 hal 663)

7. Interaksi Obat
a. Garam Kalium
Meningkatkan resiko hiperkalsemia dengan obat-obatan penghambat ACE,
siklosporin, diuretika hemat kalium (DOI 11 hal 900)
b. Garam kalsium
Pemberian intravena garam kalsium dosis besar dapat menimbulkan
aritmia jika diberi bersamaan dengan glikosida jantung (IONI 2008 hal
627)

IV. FORMULASI
A. FORMULA RUJUKAN
1. MARTINDALE 28 HALAMAN 641
Na+ 124 mEq/L
K+ 3,6 mEq/L
Ca2+ 2,44 mEq/L
Na Laktat 26 mEq/L
2. Farmakope Indonesia Edisi V hal1105
Tiap 100 ml mengandung
NaCl 285-315 mg
HCl 27-33 mg
CaCl2. 2H2O 18 – 22mg
Na Laktat 290-330 mg
Aqua PI ad 100 mL
3. Drug Information 88 hal 1406
Laktat 28 mEq/L
Na+ 130 mEq/L
K+ 4 mEq/L
Ca2+ 2,7-3 mEq/L
Cl- 109 mEq/L
Aqua PI ad 1 L

B. FORMULA JADI
Formula merujuk menurut Drug Information 88
Laktat 28 mEq/L
Na+ 130 mEq/L
K+ 4 mEq/L
Ca2+ 3 mEq/L
Cl- 109 mEq/L
Aqua PI ad 500 mL

C. ALASAN PEMILIHAN BAHAN


1. Natrium Laktat berfungsi sebagai penyumbang ion natrium, untuk terapi
asidosis yaitu kelebihan asam dalam darah dimana akan mengakibatkan
nekrosis jaringan.
2. Garam kalsium digunakan sebagai cairan pengganti untuk mencegah atau
mengobati kekurangan kalsium. Kalsium dibutuhkan bentuk
mempertahankan fungsi saraf, otot, dan sistem tulang dan membran sel
dan permeabilitas kapiler. Kalsium juga berperan dalam berbagai reaksi
enzimatis. Dipilih CaCl2 karena merupakan garam yang larut air sehingga
dapat diharapkan dapat menggantikan peran kasium.
3. Potasium digunakan sebagai cairan pengganti untuk mencegah dan
mengobati kekurangan potasium. Potasium di dalam cairan intraseluler
digunakan untuk mempertahankan keseimbangan asam basa, isotonisitas
dan elektrodinamik dalam sel.Dipilih KCl karena merupakan garam yang
larut air sehingga dapat diharapkan dapat menggantikan peran potasium.
4. Natrium Klorida berfungsi untuk mengontrol distribusi air, cairan
keseimbangan elektrolit dan osmotik dari cairan tubuh. Natrium Klorida
dipilih karena dapat larut air dan dalam garam laktat.
5. Aqua Pro Injeksi digunakan sebagai pembawa karena infus ringer laktat
dalam jumlah besar akan masuk ke dalam pembuluh darah vena, dimana
dibutuhkan pembawa yang jernih dan bebas pirogen. Selain itu, aqua pro
injeksi merupakan pembawa yang dapat melarutkan bahan-bahan dalam
infus Ringer laktat.
6. H2O2 digunakan untuk menghilangkan pirogen pada sediaan infus.
7. Norit merupakan bahan inert sehingga tidak bereaksi dengan zat aktif.
Kegunaannya untuk menyerap kelebihan H2O2dalam sediaan.

V. A. Alat dan Bahan


Alat :
1. Pipet tetes 8. Pinset
2. Beaker glass 50 ml 9. Penjepit Besi
3. Erlenmeyer 250 dan 500 ml 10. Botol infus
4. Gelas ukur 10 dan 25 ml 11. Spatula
5. Corong glass 12. Kertas saring
6. Batang pengaduk 13. Karet pipet
7. Kaca arloji 14. Karet tutup botol infus

Bahan
1. NaCl 4. Norit
2. CaCl2 5. H2O2
3. KCl 6. Aqua Pro Injeksi

B. Cara Sterilisasi
No Alat Cara Sterilisasi Literatur
1. Beaker glass, corong Oven suhu 150oC, 1 jam Farmakope
glass, botol tetes, Indonesia V hal
Erlenmeyer, pipet 1663
tetes
2. Gelas ukur, kertas Autoklaf suhu 121oC, 15 menit Farmakope
saring Indonesia V hal
1662
3. Batang pengaduk, Direndam alkohol selama 30 Farmakope
spatula, pinset, kaca menit Indonesia III hal
arloji, penjepit besi 18
4. Karet pipet, karet Rebus dalam air mendidih Farmakope
tutup botol selama 30 menit Indonesia III hal
18

No Sediaan Cara Sterilisasi Literatur


1 Infus Ringer Laktat Autoklaf suhu Farmakope
121oC, 15 menit Indonesia V hal
1334

VI. PERHITUNGAN & PENIMBANGAN


A. Perhitungan
Formula merujuk menurut Drug Information 88
Laktat 28 mEq/L
Na+ 130 mEq/L
K+ 4 mEq/L
Ca2+ 3 mEq/L
Cl- 109 mEq/L
Aqua PI ad 500 mL

Kation Na+ K+ Ca2+ Σ


Anion
Cl - 102 mEq/L 4 mEq/L 3 mEq/L 109 mEq/L
Laktat - 28 mEq/L - - 28 mEq/L
Σ 130 mEq/L 4 mEq/L 3 mEq/L 137 mEq/L

Kesetaraan ekuivalen elektrolit ( Sprowls hal 187 & 189 )


1 gram NaCl ~ 17,1 mEq Na+ (Martindale 36 hal. 1686)
E NaCl = 1 ( Sprowls hal 189 )
1 gram KCl ~ 13,4 mEq K+ (Martindale 36 hal. 1684)
E KCl = 0,76 ( Sprowls hal 189 )
1 gram CaCl2 ~ 13,6 mEq Ca2+ (Martindale 36 hal. 1675)
E CaCl2 = 0,51 ( Sprowls hal 187 )
1 gram Na Laktat ~ 8,9 mEq Laktat- (Martindale 36 hal. 1673)
E Na Laktat = 0,55 ( Sprowls hal 189 )

130 𝑚𝐸𝑞
NaCl = 17,1 𝑚𝐸𝑞 x 1 gram = 7,6023 gram
4 𝑚𝐸𝑞
KCl = 13,4 𝑚𝐸𝑞 x 1 gram = 0,2985 gram
3 𝑚𝐸𝑞
CaCl2 =13,6 𝑚𝐸𝑞 x 1 gram = 0,2206 gram
28 𝑚𝐸𝑞
Na Laktat = 8,9 𝑚𝐸𝑞 x 1 gram = 3,1461 gram

Perhitungan tonisitas
V = [ ( 0,2985 x 0,76 )KCl + ( 7,6023 x 1 )NaCl + (0,2206 x 0,51 )CaCl2 +
(3,1461 x 0,55 )Na Laktat ] x 111,1 = 1074,5615 mL
1074,5615 𝑚𝐿
% isotonisitas = 𝑋 0,9 % = 0,97 % (HIPERTONIS)
1000 𝑚𝐿

Infus Ringer Laktat isotonis ( 0,9% ) memiliki flow rate 2 mL/ menit ( sterile
Dosage forms halaman 204 ) 40 tetes/ menit
0,9 %
Laju penetesan = 0,97 % x 40 tetes = 37,1 tetes / menit = 37 tetes permenit

B. Penimbangan
Dibuat sediaan infus sebanyak 2 botol @ 500 mL
Volume total = ( v x n ) + ( 10% ( v x n) )
= ( 500 x 2 ) + ( 10% ( 500 x 2 ) )
= ( 1000 ) + ( 100 ) = 1100 mL

Penimbangan bahan
1100 1100
1. NaCl = (1000 x 7,6023 ) + 5 % (1000 x 7,6023 ) = 8,7807 gram
1100 1100
2. KCl = ( 1000 x 0,2985 ) + 5 % ( 1000 x 0,2985 ) = 0,3448 gram
1100 1100
3. CaCl2 = ( 1000 x 0,2206) + 5 % ( 1000 x0,2206) = 0,2548 gram
1100 1100
4. Na Laktat = (1000 x 3,1461 ) + 5 % ( 1000 x 3,1461 ) = 3,6337 gram

5. Norit = 0,1 % x 1100 mL = 1,1 gram


6. H2O2 = 0,1 % x 1100 mL = 1,1 gram
7. Aqua PI ad 1100 mL

No Bahan Penimbangan Teoritis Penimbangan Praktikum


( gram ) ( gram )
1 NaCl 8,7807
2 KCl 0,3448
3 CaCl2 0,2548
4 Na Laktat 3,6337
5 Norit 1,1
6 H2O2 1,1
7 Aqua PI Ad 1100 mL

VII. CARA PEMBUATAN


Prinsip : Sterilisasi terminal menggunakan autoklaf pada suhu 121o C selama 15
menit
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dikalibrasi botol infus sampai tanda 500 mL
3. Disterilkan alat dan bahan sesuai dengan cara yang tercantum
4. Dibuat aqua P.I (Aquadest dipanaskan sampai mendidih, biarkan mendidih
selama 30 menit) ditambahkan H2O2, dipanaskan 15 menit lalu didinginkan.
Pembuatan aqua P.I ( FI III.14 )
5. Ditimbang bahan-bahan ( NaCl, KCl, CaCl2, Na laktat )
6. Dilarutkan masing-masing bahan dengan sebagaian larutan P.I bebas pirogen.
Dicampur ad homogen
7. Dicek pH larutan ( pH 6.2 – 6.5 ) sebelum di ad-kan, lalu ditambahkan aqua
P.I ad 1100 mL
8. Ditambah norit, lalu dipanaskan sambil diaduk selama 15 menit sampai
mendidih sekitar 50o – 60o C
9. Disaring dengan kertas saring 2 lapis sampai jernih
10. Dimasukan kedalam wadah botol infus ad tanda 500 mL
11. Ditutup dengan karet penutup steril lalu ditutup lagi dengan cap infus
12. Dilakukan uji evaluasi IPC ( Uji kejernihan, Uji pH dan keseragaman
volume)
13. Disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121o C selama 15 menit
14. Dilakukan uji evaluasi QC ( Uji kejernihan, uji keseragaman volume, uji
sterilitas, uji pirogenitas dan penetapan kadar ) sesuai yang terdapat dalam
literature
15. Diberi etiket dan label, dikemas dalam dus lalu diserahkan

VIII. EVALUASI
A. Uji evaluasi In Process Control(IPC)
1. Uji Kejernihan ( Lachman hal 1355 )
Produk dalam wadah diperiksa di bawah penerangan cahaya yang baik,
terhalang terhadap reflex dari mata, berlatarbelakang hitam dan putih
dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar.
Syarat:semua wadah diperiksa secara visual dan tiap partikel yang
terlihat dibuang dari infus volume besar, batas 50 partikel 10ųm dan
lebih besar 5 partikel ≥25 ųm/ml
2. Uji pH (Farmakope Indonesia V hal 1563 )
Cek pH larutan menggunakan pH meter atau pH indikator universal
Syarat : pH sediaan Ringer Laktat 6,2 - 6,5 (Drug Information 88 hal
1406 )
3. Uji Keseragaman Volume ( Farmakope Indonesia V hal 1570 )
Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat
keseragaman volume secara visual.
Syarat : Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah

B. Uji evaluasi Quality Control (QC)


1. Uji Sterilitas ( Farmakope IndonesiaV hal 1359 )
Menggunakan teknik penyaringan membran :
Bersihkan permukaan luar botol, tutup botol dengan bahan
dekontaminasi yang sesuai, ambil isi secara aseptik.Pindahkan secara
aseptik seluruh isi tidak kurang dari 10 wadah melalui tiap penyaring
dari 2 rakitan penyaring. Lewatkan segera tiap spesimen melalui
penyaring dengan bantuan pompa vakum/tekanan.Secara aseptik,
pindahkan membran dari alat pemegang, potong menjadi setengah
bagian (jika hanya menggunakan satu). Celupkan membran atau
setengah bagian membran ke dalam 100 ml media inkubasi selama tidak
kurang dari 7 hari.Lakukan penafsiran hasil uji sterilitas.
Syarat : steril dengan batas mikroba yang boleh ada pada sediaan
kurang dari 10-6
2. Uji Kejernihan ( Lachman hal 1355 )
Produk dalam wadah diperiksa di bawah penerangan cahaya yang baik,
terhalang terhadap reflex dari mata, berlatarbelakang hitam dan putih
dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar.
Syarat: semua wadah diperiksa secara visual dan tiap partikel yang
terlihat dibuang dari infus volume besar, batas 50 partikel 10ųm dan
lebih besar 5 partikel ≥25 ųm/ml
3. Uji Keseragaman Volume ( FI V hal 1570 )
Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat
keseragaman volume secara visual.
Syarat : Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah
4. Uji Pirogenitas ( Farmakope IndonesiaV hal 1412 )
Uji Biologik
Lakukan Pengujian dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogen
dan dengan kondisi lingkungan yang sama dengan ruang pemeliharaan,
bebas dari keriutan yang menyebabkan kegelisahan. Kelinci tidak diberi
makan selama waktu pengujian. Minum dibolehkan pada setiap saat,
tetapi dibatasi pada saat pengujian. Apabila pengujian menggunakan
termistor, masukkan kelinci ke dalam kotak penyekap sedemikian rupa
hingga kelinci tertahan dengan letak leher yang longgar sehingga dapat
duduk dengan bebas. Tidak leih dari 30 menit sebelum penyuntikan
larutan uji, tentukan "suhu awal" masing-masing kelinci yang merupakan
dasar untuk menentukan kenaikan suhu. Beda suhu tiap kelinci dalam
satu kelompok tidak boleh lebih dari 1° dan suhu awal setiap kelinci
tidak boleh lebih dari 39,8°.Kecuali dinyatakan lain pada masing-masing
monografi, suntikkan 10 ml per kg bobot badan, melalui vena tepi
telinga 3 ekor kelinci dan penyuntikkan dilakukan dalam waktu 10
menit. Larutan uji merupakansediaan yang bila perlu dikonstitusi seperti
yang tertera pada etiket maupun bahan uji yang diperlakukan seperti
yang tertera pada masing-masing monografi dan disuntikkan dengan
dosis seperti yang tertera. Untuk uji pirogen alat atau perangkat injeksi,
gunakan sebagai larutan uji hasil cucian atau bilasan dari permukaan alat
yang berhubungan langsung dengan sediaan parenteral, tempat
penyuntikan atau tubuh pasien. Semua larutan bebas dari kontaminasi.
Hangatkan larutan pada suhu 37° ± 2° sebelum penyuntikan. Rekam
suhu berturut-turut antara jam ke-1 dan jam k-3 setelah penyuntikan
dengan selang waktu 30 menit.
Syarat : bebas pirogen
5. Penetapan Kadar
Natrium Klorida( Farmakope Indonesia V hal 904 )
Timbang seksama lebih kurang 250 mg, masukkan ke dalam wadah
porselen, tambahkan 140 ml air dan 1 ml diklofluoresin LP, campur.
Titrasi dengan perak nitrat 0,1N LV sampai perak klorida menggumpal
dan campuran berwarna merah muda lemah.
1 ml perak nitrat 0,1 N setara dengan 5,844 mg NaCl
Kalium Klorida( Farmakope Indonesia V hal 584 )
Timbang seksama lebih kurang 200 mg, larutkan dalam 10 ml air.
Tambahkan 10 ml air. Tambahkan 10 ml asam asetat glasial P, 75 ml
metanol P dan 3 tetes eosin Y LP. Titrasi dengan perak nitrat 0,1 N LV
hingga terjadi warna merah muda.
1 ml perak nitrat 0,1 N setara dengan 7,455 mg KCl
Kalsium klorida( Farmakope Indonesia V hal 593 )
Timbang seksama lebih kurang 1 g, masukkan ke dalam gelas piala 250
ml, larutkan dalam campuran 100 ml air dan 5 ml asam klorida 3 N.
Pindahkan larutan ke dalam labu tentukur 250 ml, encerkan dengan air
sampai tanda. Pipet 50 ml larutan ke dalam labu erlenmeyer, tambahkan
100 ml air, 15 ml natrium hidroksida 1 N dan 300 mg indikator biru
hidroksi naftol LP. Titrasi dengan dinatrium edetat 0,05 M LV sampai
titik akhir berwarna biru tua.
1 ml dinatrium edetat 0,05 M setara dengan 7,351 mg CaCl2.2H2O
Syarat : Tiap 100 mL mengandung tidak kurang dari 285,0 mg dan tidak
lebih dari 315,0 mg natrium (sebagai NaCl dan C3H5NaO3), tidak kurang
dari 14,1 mg dan tidak lebih dari 17,3 mg Kalium (K, setara dengan
tidak kurang 27,0 mg dan tidak lebih dari 33,0 mg KCl), tidak kurang
dari 4,90 mg dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara dengan
tidak kurang dari 18,0 mg dari 368,0 mg dan tidak lebih dari 22,0 mg
CaCl2.2H2O), tidak kurang dari 231,0 mg dan tidak lebih dari 261,0 mg
laktat (C3H5O3, setara dengan tidak kurang dari 290,0 mg dan tidak lebih
dari 330,0 mg C3H5NaO3).

IX. DAFTAR PUSTAKA


o Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Diterjemahkan
oleh Farida Ibrahim Edisi IV. Jakarta : Universitas Indonesia Prees.
o Rowem Reymond C. Sheskey, Paul J. Quinn, Marian E., 2009. Handbook of
Pharmaceutical Excipient Sixth Edition. London ; The Pharmaceutical Press.
o Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh
Noerono Soendani. Yogyakarta ; Gajah Mada University Press.
o Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia. Edisi V.
Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 2014
o Sprowls JB, Prescription Pharmacy Dosage Formulation and Pharmaceutical
Adjuncts Second Edition; United State of America; J.B, Lippincott Company;
1970
o Reynold, James EF, Martindale the extra Pharmacopeia, twenty-eight edition.
The pharmaceutical press : London, 1982
o American Society of Health System Pharmacist 1988. Drug Information
Bethesda, Maryland: American Hospital Formulary Services.
o American Society of Health System Pharmacist 2010. Drug Information
Bethesda, Maryland: American Hospital Formulary Services.
o Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Edisi ketiga. Jakarta: UI-press: 1982.
o Joyce L. Kee. Farmakologi: pendekatan proses keperawatan. Jakarta: 1996.

X. LAMPIRAN