Anda di halaman 1dari 23

REKAYASA IDE PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Meningkatkan Minat Belajar Pendidikan Kewarganegaraan


(PKn) Melalui Belajar Kelompok
SEKOR NILAI :

DISUSUN OLEH:

HAFIFA AMANI ( 1173311050)

HASRI NOVIDAWATI PURBA ( 1173311051)

ICA ONIKA BR BRAHMANA ( 1173311053 )

IIDA RAMAYANI SIMATUPANG ( 1173311054 )

H EKSTENSI

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018

i
EXECUTIVE SUMMARY

Tujuan Rekayasa Ide ini bertujuan untuk mengetahui dan meningkatkan rendahnya
minat belajar siswa pada mata Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) maka rumusan masalah
pada penelitian ini adalah apakah minat belajar PKn dapat ditingkatkan melalui belajar
kelompok di kelas. Tujuan rekayasa ide ini adalah untuk meningkatkan minat belajar
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) melelui belajar kelompok. Dapat meningkat melalui
Belajar Kelompok. Rekayasa ide ini merupakan penelitian tindakan kelas, metode yang yang
digunakan dalam rekayasa ide ini adalah metode penelitian deskriptif dengan menggunakan
jenis data kualitatif. Melalui langkah-langkah pengumpulan, pengolahan, penganalisaan, dan
penyajian data dengan tehknik observasi dan evaluasi. Adapun pelaksanaan menggunakan
metode pembelajaran belajar kelompok dalam meningkatkan minat belajar siswa dan
dilakukan melalui empat tahap yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3)
observasi dan (4) refleksi. Rekayasa ide menunjukan bahwa tindakan yang dilakukan untuk
meningkatkan minat belajar siswa pada siklus pertama dengan perolehan nilai rata-rata 2
(kurang meningkat) da nada peningakatan pada siklus kedua dengan perolehan nilai rata-rata
siswa 4 (sangat meningkat), sehingga rekayasa ide dinyatakan berhasil dan hipotesis dalam
penelitian ini diterima.

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke khadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
telah melimpahkan rahmat,hidayah,dan inayah-Nya kepada penulis,sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas Rekayasa Ide ini dengan baik untuk memenuhi tugas dari mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang
telah membantu saya menyelesaikan tulisan ini,terutama kepada Dosen Pengampu Marlan,
M.Pd.
Tulisan ini berisi ulasan-ulasan dari hasil rekayasa ide dari mini riset yang berjudul
“Meningkatkan Minat Belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Melalui Belajar
Kelompok”. Terlepas dari itu semua, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan dan kesalahan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.Oleh karena
itu,dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
penulis dapat memperbaiki tulisan ini menjadi lebih baik lagi ke waktu yang akan datang.
Akhir kata penulis berharap Rekayasa Ide ini dapat memberikan manfaat kepada
semua pembaca.Terimakasih

Medan, Oktober 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

ABSTRAK………………………………………………………………………………...i
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................1
A. LATAR BELAKANG ...............................................................................................1
B. TUJUAN ....................................................................................................................2
C. MANFAAT ................................................................................................................2
BAB II IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
A. PERMASALAHAN UMUM .....................................................................................3
B. INDENTIFIKASI PERMASALAHAN SESUAI TEMA .........................................4
BAB III SOLUSI DAN PEMBAHASAAN ........................................................................12
BAB IV PENUTUP ..............................................................................................................21
A. KESIMPULAN ..........................................................................................................21
B. REKOMENDASI/ SARAN .......................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................23

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran wajib setiap jenjang
persekolahan dan materinya perlu dipahami dengan baik, namun kenyataannya masih ada
siswa yang kurang senang dan bahkan tidak berminat untuk belajar PKn karena bagi mereka
pelajaran ini sangat membosankan. Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah tersebut dituntut
peran serta semua pihak yang terkait dalam lingkunagan pendidikan tersebut yakni guru dan
siswa. Pada pelaksanaan pembelajaran, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar
secara aktif, efektif dan efisien sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai.
Salah satu langkah untuk memiliki strategi adalah harus menguasai teknik-teknik pengajaran
atau menguasai metode mengajar
Metode mengajar adalah cara yang dilakukan untuk saling berinteraksi sehingga proses
belajar brjalan dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Ditemukan siswa
kurang rajin dalam belajar, siswa jarang mengerjakan tugas, serta tidak disiplin dalam belajar,
dan siswa kurang berminat dalam belajar mata pelajaran PKn. Berdasarkan hal tersebut,
diketahui bahwa rendahnya minat belajar pada mata pelajaran PKn disebabkan oleh
penggunaan metode pembelajaran yang tidak optimal sehingga dapat mempengaruhi minat
belajar pada diri siswa sehingga menjadi persoalan dasar untuk segara mendapatkan
penanganan serius dari guru mata pelajaran PKn.
Salah satu bentuk metode mengajar yang dinilai efektif mampu memberikan konstribusi
positif pada peningakatan minat belajar siswa pada pembelajaran PKn adalah melalui belajar
kelompok. Metode ini dinilai mampu meningkatkan minat belajar siswa karena
memfokuskan pelajaran dengan memperbanyak pengayaan materi dengan melibatkan
keaktifan seluruh siswa dalam suatu kelompok belajar. Dalam belajar kelompok siswa akan
lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat
saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan teman.
B. TUJUAN
Untuk pembelajaran yang menekankan kepada guru atau tutor memfasilitasi
kegiatan belajar, sehingga suasana belajar menjadi kondusif dan nyaman, hal ini menuntut
pendidik mengemas bahan pembelajaran, sehingga anakanak dapat terangsang untuk
melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dalam pendidikan kewarganegaraan. Dan guru juga
v
harus megetahui metode yang akan dibuat untuk peserta didik agar pembelajaran berjalan
dengan baik

C. MANFAAT

Agar siswa dan guru dapat mengembangkan kreatifvitasnya dengan metode-metode


pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar dengan metode kelompok yang akan
diterapkan.

BAB II

vi
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

A. PERMASALAHAN UMUM

Masalah yang ditemui dalam setiap pembelajaran memang sangatkomplek. Masalah


tersebut datangnya bisa dari kurikulum, guru, siswa, saranaprasarana, sumber belajar, dan
lain-lain. Namun sayangnya banyak pendidik yang masih kurang peka terhadap permasalahan
yang dihadapi.Berdasarkan pengalaman mengajar PKn, di sini penulis
mencobamengidentifikasi permasalahan yang pernah penulis hadapi, yangmenyebabkan
pembelajaran PKn cenderung kurang menarik, dianggap sepele,membosankan, dan
bermacam-macam kesan negative lainnya. Pelajaran PKn adalah salah satu mata pelajaran
penting di Indonesia dan dilindungi UU, sebagaimana termuat dalam pasal 37 ayat (1) UU
No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Guru PKn adalah orang yang dengan
fungsinya melaksanakan dan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik mengenai
hubungan antara warga Negara dan Negara serta pendidikan pendahuluan bela negera agar
anak didik tersebut nantinya menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah
air. Dalam memberikan pembelajaran PKn di sekolah-sekolah, tidaklah mudah, tetapi
memerlukan usaha dan keterampilan khusus, memperluas wawasan, menguasai berbagai
model pembelajaran serta cakap dalam setrategi pemilihan metode yang tepat atas suatu
pokok bahasan yang diajarkan.
Beberapa problem mendasar yang dihadapi oleh guru PKn adalah, pengelolaan kelas,
ketidak seimbangan antara keluasan materi dan waktu pembelajaran dikelas, keberadaan PKn
dalam penentuan kelulusan, minimnya alat peraga, media dan variasi penggunaan metode
pembelajaran PKn oleh guru PKn. Seiring dengan kemajuan zaman dan pandangan yang
positif terhadap guru termasuk guru PKn, tidak ada pilihan kecuali memacu diri untuk
mendekati kearah guru professional, disenangi dan dirindukan anak didik di kelas guna
membawa mereka kearah kemajuan bangsa, cinta tanah air dan mandiri membangun bangsa
berdasar pada Pancasila dan UUD 1945.

1.1 Permasalahan dalam Pembelajaran PKN Saat Ini


Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada
pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan
kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan berkarakter
yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship
Education) merupakan mata pelajaran juga memfokuskan pada pembentukan diri yang

vii
beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa. Pembelajaran PKn
ini diharapkan akan mampu membentuk siswa yang ideal memiliki mental yang kuat,
sehingga dapat mengatasi permasalahan yang akan dihadapi.
Namun selama ini proses pembelajaran PKn kebanyakan masih mengunakan
paradigma yang lama dimana guru memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru
mengajar dengan metode konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa
duduk, diam, dengar, catat dan hafal ( 3DCH ), siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-
mengajar. Anak cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini
pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang
menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di
sekolah. Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ialah
penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran secara
tepat, yang memenuhi muatan tatanan nilai, agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa serta
mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari belum
memenuhi harapan seperti yang diinginkan.
Hal ini berkaitan dengan kritik masyarakat terhadap materi pelajaran PKn yang tidak
bermuatan nilai-nilai praktis tetapi hanya bersifat politis atau alat indoktrinasi untuk
kepentingan kekuasaan pemerintah. Metode pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar
(PBM) terkesan sangat kaku, kurang fleksibel, kurang demokratis, dan guru cenderung lebih
dominan (one way method). Di samping masih menggunakan model konvensional yang
monoton, aktivitas guru lebih dominan daripada siswa, akibatnya guru seringkali
mengabaikan proses pembinaan tatanan nilai, sikap, dan tindakan; sehingga mata pelajaran
PKn tidak dianggap sebagai mata pelajaran pembinaan warga negara yang menekankan pada
kesadaran akan hak dan kewajiban tetapi lebih cenderung menjadi mata pelajaran yang jenuh
dan membosankan. Selain itu pembelajaran PKn juga cenderung kurang bermakna karena
hanya berpatokan pada penilaian hasil bukan pada penilaian proses. Guru PKn mengajar
lebih banyak mengejar target yang berorientasi pada nilai ujian akhir. Hal ini berkaitan pada
pembentukan karakter, moral, sikap serta perilaku murid yang hanya menginginkan nilai
yang baik tanpa dimbangi dengan perbaikan karakter, moral, sikap serta perilaku dari anak
tersebut. jika anak tersebut telah belajar tentang mata pelajaran PKn yang seharusnya dapat
memperbaiki sikap, perilaku dan moral bagi para peserta didik namun sebaliknya malah
berbanding terbalik dengan sikap, perlaku dan moral peserta didik yang cenderung menurun.
Dari masalah yang dikemukakandiatas terlihat bahwa pembelajaran PKn di Sekolah Dasar

viii
cenderung kurang optimal, Maka akan kami paparkan beberapa solusi dari permasalahan
tersebut diatas, yaitu:
Guru harus menguasai metode – metode pembelajaran yang lebih menyenangkan bagi
para muridnya, dan membuat ruang belajar menjadi lebih bergairah, penuh dengan rasa ingin
tahu anak didik, serta ada semangat berkompetisi secara sehat dari anak didik. Tidak hanya
mengajar dengan metode ceramah saja yang banyak dgunakan guru yang dapat membuat
anak didik menjadi bosan dan jenuh dalam belajar PKn, yang dapat dilakukan dengan cara :
1. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada
siswa (Focus on Learners),
2. Memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual
dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan
mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa. Disinilah guru dituntut untuk
merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam
ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa.
3. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang
menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar.
Disini akan dikemukakan dua model pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk
mengatasi permasalahan – permasalahan dalam pembelajaran PKn.

B. INDENTIFIKASI PERMASALAHAN BELAJAR KELOMPOK


 Minat
Menurut Slameto (2010:180) minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu
hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan
suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau dekat
hubungan tersebut, semakin besar Minatnya. Crow D. Leater & Crow Alice (Djaali,
2009:121) mengatakan bahwa Minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong
seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman
yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri..

ix
 Belajar
Menurut Anthony Robbins (Trianto, 2010:15), bahwa belajar sebagai proses menciptakan
hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang
baru. Sedangkan menurut Thorndike (Wina Sanjaya, 2010:115) dasar terjadinya belajar
adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecenderungan
untuk bertindak atau hubungan karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi antara
stimulus dan respons. Selanjutnya menurut Sugihartono dkk (2007:74) belajar merupakan
proses perubahan tingkah laku sebagai Hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Sendangkan menurut Nana Sudjana (2005:28) belajar itu
bukan menghafal dan bukan pula mengingat melainkan suatu proses yang ditandai adanya
perubahan pada diri seseorang. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn) Kerangka
dasar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam kurikulum KTSP bertujuan
untuk peningkatan kesadaran dan wawasan siswa akan status, hak dan kewajibannya dalam
kehidupannya. (Depdiknas, 2007:59). Jika kita mencermati Standar Isi (Permendiknas
Nomor 22 tahun 2006) untuk pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) saat ini,
dikembangkan kompetensi dasar siswa menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan
cinta tanah air.
 Pengertian Kelompok Belajar

Menurut Daniel C. Kambey (1999:109) adalah : “(1) Meliputi semua jenis aktivitas kelas
yang melibatkan interaksi belajar antar murid dalam bentuk kerja sama yang terarah dan
bersifat gotong royong, (2) Merupakan rangkuman pengertian dimana siswa-siawa dalam
satu kelas dipandang satu kesatuan (kelompok kecil ataupun merupakan sigmen dalam dua
bahagian atau lebih) untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. Sendangkan Shlomo Sharan
(2012:217) menyatakan bahwa: “kelompok belajar kooperatif memiliki identitas kelompok
yang kuat, yang idealnya terdiri dari empat anggota dan berlangsung lama. Teman
sekelompok saling mengetahui dan saling menerima serta memberi bantuan.

C. SUBJEK PENELITIAN

Penelitian tindakan ini melibatkan 20 siswa di kelas III sekolah dasar tahun
ajaran 2017/2018 yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Dengan
demikian maka sampel dalam penelitian adalah merupakan keseluruhan populasi siswa

x
kelas III sekolah dasar. Dalam pelaksanaan pembelajaran peneliti melibatkan satu orang
observeri untuk membantu proses pembelajaran dalam penerapan metode kelompok belajar.

D. ASSESMENT DATA
Data dalam penelitian ini meliputi data kuantitatif dan kualitatif. Data
kuantitatif diperoleh dari hasil tes belajar siswa serta sebaran jumlah siswa
berdasarkan jenis kelamin di kelas III. Adapun data kualitatif dalam penelitian ini
meliputi aktifitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini meliputi tes, observasi dan dokumentasi. Data yang berhasil
dihimpun selanjutnya Tekhnik analisis data yang digunakan dalam menganalisis data
kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes belajar siswa dan menentukan presentase ketuntasan
belajar siswa.

xi
BAB III

SOLUSI DAN PEMBAHASAN

A. TEORI ( DEFINISI )

1. Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan


Kewarganegaraan (Citizenship) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada
pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku
bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang
diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Mata pelajaran Kewarganegaraan berfungsi
sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil, dan berkarakter yang setia
kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir
dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Tujuan mata pelajaran
Kewarganegaraan adalah untuk memberikan kompetensi-kompetensi sebagai berikut:
(1) berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan,
(2) berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam
kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,
(3) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada
karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa
lainnya.
(4) berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau
tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

2. Belajar Kelompok

Belajar kelompok adalah sebuah model pembelajaran dimana peserta didik belajar
bekerjasama dalam sebuah kelompok untuk menyelesaikan tugas belajar serta membantu
meningkatkan prestasi. Proses kelompok memiliki karakteristik atatu segi-segi relasi,
interaksi, partisipasi, kontribusi, afeksi dan dinamika. Menurut Hamalik proses kelompok
memiliki beberapa karakteristik, antara lain: Tiap individu berhubungan satu sama lain. Tiap
individu saling mempengaruhi.Tiap individu memberikan sumbangan pikiran. Tiap individu
ikut aktif. Tiap individu mendapat pembagian tugas. Tiap individu mengembangkan sifat-
sifat personal sosial moral. Kelompok bersifat dinamis karena kelompok senantiasa hidup
berubah dan berkembang.

12
Masih menurut Hamalik, pelaksanaan belajar kelompok berangkat dari tujuan, rencana
dan masalah tertentu. Belajar kelompok dimulai dengan menghimpun sumbang saran semua
anggota kelompok. Belajar kelompok juga dilakukan berdasarkan pembagian tanggung
jawab antara panitia dan para anggota. Belajar kelompok juga kata dia menyediakan
kesempatan kepada para anggota untuk mempelajari cara berpartisipasi secara efektif, belajar
menjadi anggota yang baik, belajar cara berdiskusi, menenangkan ketegangan-ketegangan,
menghimpun pemikiran, menerima kepemimpinan, kerja sama demi kebaikan kelompok.
Belajar kelompok dilakukan berdasarkan tata kerja demokratis dalam rangka penyaluran
pendapat, penyelesaian konflik, dan pembuatan keputusan. Dikatakan dia, belajar kelompok
hendaknya dipimpin oleh pemimpin yang dapat menciptakan kondisi yang menantang tiap
anggota agar ingin memberikan pemikirannya yang terbaik dan bekerja sama untuk
kepentingan bersama.

Belajar kelompok menuntut penilaian secara berkesinambungan terhadap kegiatan


kelompok, kemajuan yang telah dicapai dan hasil yang telah diperoleh serta apakah
kelompok telah bekerja dengan baik. Belajar kelompok hendaknya mendorong partisipasi
para anggota, bekerja secara efisien dan terjadi perubahan-perubahan konstruktif pada
perilaku individu. Belajar kelompok hendaknya memberikan penghargaan kepada anggota
kelompok.

Menurut beberapa sumber, tujuan diadakannya belajar kelompok adalah memanfaatkan


berbagai kemampuan yang dimiliki para siswa. Memberikan kesempatan kepada para siswa
untuk menyalurkan kemampuannya masing-masing. Membantu para siswa belajar menilai
kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-temannya (orang lain). Membantu siswa
mengembangkan motivasi belajar lebih lanjut. Agar siswa mampu bekerja sama dengan
teman lainnya dalam mencapai tujuan bersama

Tujuan dari belajar kelompok sendiri adalah untuk mengembangkan cara berpikir kritis
dalam memecahkan masalah, mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan komunikasi,
meninggikan rasa percaya diri terhadap kemampuan siswa. Selain itu, belajar kelompok juga
bertujuan agar siswa dapat memahami dan menghargai orang lain

Dengan membentuk kelompok belajar, dapat memotivasi semangat belajar antara teman
satu dengan lainnya. Saling berbagi informasi dan pengetahuan antara teman. Membangun
komunikasi timbal balik dengan adanya diskusi. Meringankan tugas yang dberikan karena
dikerjakan bersama. Mengoptimalkan kemampuan berpikir siswa dalam menanggapi suatu

13
permasalahan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas dan bersosialisasi di luar sekolah.
Belajar lebih menyenangkan karena dikerjakan secara berkelompok. Meningkatkan kualitas
kepribadian, seperti adanya kerja sama, toleransi, berpikir kritis dan disiplin.

3. Hasil belajar

Menurut Chaplin, pengertian hasil belajar atau hasil belajar adalah : “Hasil belajar
merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian,
keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes
prestasi” (1992: 159).
Pendapat Chaplin di atas mengandung pengertian bahwa prestasi itu hakikatnya berupa
perubahan perilaku pada individu di sekolah, perubahan itu terjadi setelah individu yang
bersangkutan mengalami proses belajar mengajar tertentu.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia ingin menerima
pengalaman belajar atau yang optimal yang dapat dicapai dari kegiatan belajar di sekolah
untuk pelajaran. Hasil belajar seperti yang dijelaskan oleh Poerwadarminta (1993 : 768)
adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan). Pengertian hasil belajar menurut pendapat
Mochtar Buchari (1986 : 94) adalah hasil yang dicapai atau ditonjolkan oleh anak sebagai
hasil belajarnya, baik berupa angka atau huruf serta tindakannya yang mencerminkan hasil
belajar yang dicapai masing-masing anak dalam periode tertentu.
Nasution (1972:45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan anak didik
berdasarkan hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program belajar secara
periodik. Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan dengan
adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi ini mengandung maksud untuk mengetahui kemajuan
belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi yang diberikan oleh guru.
Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan
dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang
menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif sebagai
perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap menurut
kemampuan anak dalam perubahan baru. Dalam proses belajar mengajar anak didik
merupakan masalah utama karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh
materi pelajaran yang diprogramkan didalam kurikulum.
Berdasarkan pengertian tentang hasil belajar maupun faktor-faktor yang
mempengaruhinya maka harus diperhatikan faktor-faktor tersebut supaya berpengaruh

14
menguntungkan bagi belajarnya sehingga hasil belajar sebagai suatu hasil yang telah dicapai
oleh siswa setelah melakukan kegiatan baik berupa angka atau huruf dapat meningkat.
Hasil belajar PKn adalah kemampuan siswa dalam menguasai materi PKn berdasarkan
hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti pembelajaran secara periodik dalam
kelas. Dengan selesainya proses belajar mengajar diakhiri dengan evaluasi untuk mengetahui
kemajuan belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi PKn terutama kompetensi dasar
hakekat negara yang diberikan oleh guru. Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil
belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka.

B. RUANG LINGKUP SOLUSI


1. Metode belajar kelompok

 Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar Siswa

Para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam pengetahuan, yakni
pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural. Pengetahuan deklaratif adalah
pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan procedural adalah pengetahuan tentang
bagaimana melakukan sesuatu (Kardi dan Nur 2000:4). Suatu contoh pengetahuan deklaratif
misalnya konsep tekanan, yakni hasil bagi antara gaya (F) dan luas bidang benda yang
dikenai gaya (A). jadi dapat ditulis secara matematis p . pengetahuan procedural yang
berkaitan dengan pengetahuan deklaratif di atas adalah bagaimana memperoleh rumus atau
persamaan tentang konsep tekanan tersebut.

 Sintaks atau Pola Keseluruhan dan Alur Kegiatan Pembelajaran

Pada model pembelajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Guru
mengawali pelajaran dengan pnjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran, serta
mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Pengajaran langsung mmenurut
Kardi (1997:3), dapat berbenuk ceramah, demontrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja
kelompok.

 Lingkungan Belajar dan System Pengelolaan

Agar efektif pengajaran langsung mensyaratkan tiap detail keterampilan atai isi
didefinisikan secara seksama dan demonstrasi serta jadwal pelatihan direncanakan dan
dilakukan secara seksama (Kardi dan Nur 2000: 8). Menurut Kardi dan Nur (2000:8-9),

15
meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini
terutama berpusat pada guru.

 Penelitian Tentang Keefektifan Guru

Landasan penelitian dari nodel pengajaran langsung dan berbagai komponennya,


berasal dari bermacam-macam bidang. Penelitian stalling dan Kaskowitz dalam Arends,
(2001:267) menunjukkan pentingnya waktu yang dialokasikan pada tugas (time on task).
Stalling dan kolegannya ingin mengungkapkan, manakah diantara program-program itu yang
dapat berfungsi baik dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Banyak hal yang dapat
diungkapkan pada penelitian itu, namun ada dua hal yang sangat menonjol, yaitu alokasi
waktu dan penggunaan tugas (kegiatan) yang menggunakan model pembelajaran langsung
lebih berhasil dan memperoleh tingkat keterlibatan yang tinggi daripada mereka yang
menggunakan metode-metode informal dan berpusat pada siswa.

Langkah pertama untuk melaksanakan pengelompokkan belajar, yaitu pembentukan


kelompok dilakukan oleh siswa. Cara ini, dilakukan berdasarkan pemilihan anggota
kelompok atas dasar rasa simpatik satu sama lain. Minat yang sama didorong kemauan yang
sama untuk memperoleh hasil yang baik dengan cara bekerja sama. Kedua, pembentukan
kelompok yang dibentuk oleh guru. Cara ini, biasanya didasarkan pada perbedaan heterogen
anak, sebagai contoh tempat duduk yang berdekatan, urutan presensi anak, taraf prestasi
anak, dan sebagainya. Ketiga, pembentukan kelompok diatur oleh guru atas dasar usulan dari
anak didik. Siswa mengusulkan nama-nama dalam keanggotaan kelompok belajar,
berdasarkan pertimbangan tertentu guru dapat menetapkan keanggotaan tersebut. Anak didik
mengisi angket dengan menuliskan nama teman yang dipilih, kemudian hasil diberikan
kepada guru.

Dalam pemilihan tempat yang akan digunakan untuk belajar kelompok harus dapat
digunakan untuk mempelajari bahan yang akan dibahas. Untuk waktu pelaksaan bisa kapan
saja, asalkan ada kesepakatan antar anggota supaya tidak ada anggota yang berhalangan.
Pilihlah waktu yang tidak mengganggu kegiatan antar anggota. Setiap anggota harus
mendisiplinkan dalam menepati waktu, agar tidak habis terbuang akibat saling menunggu.
Pada waktu pelaksanaan belajar kelompok, masing-masing anggota harus sudah
mempersiapkan materi yang akan dibahas. Sehingga pada saat pertemuan dapat melakukan
kegiatan seperti; membahas soal yang sukar, mengerjakan tugas yang diberikan guru,

16
mendiskusikan jawaban, memahami istilah-istilah yang sulit, menarik kesimpulan hasil
belajar.

Belajar kelompok sesungguhnya salah satu cara untuk menumbuhkan rasa semangat
siswa untuk belajar. Dikarenakan belajar secara bersama-sama dengan teman-temannya.
Menambah wawasan Ilmu Pengetahuan siswa. Dan dapat berinteraksi dengan anggota yang
lain. Berikut beberapa fungsi lain dari belajar kelompok:

· Meningkatkan pemahaman kepribadian orang lain.

· Belajar menghargai pendapat orang lain.

· Melatih mengemukakan pendapat didepan umum.

· Melatih keberanian untuk bertanya.

· Menambah wawasan tentang pengetahuan.

· Membantu memecahkan masalah.

· Meningkatkan sikap kebersamaan dan toleransi.

· Meningkatkan penguasaan konsep.

· Menghilangkan kebosanan.

· Tugas dapat terbagi dan dikerjakan lebih cepat

· Tugas dapat dibagi menurut keahliannya masing-masing.

Masalah adalah suatu keadaan yang tidak diharapkan oleh kita sebagai penyimpangan
kecil dalam bidang kehidupan yang kita alami. Ruang lingkup masalah di dunia pendidikan
sangat beragam baik itu mikro maupun makro, seperti halnya dalam proses belajar mengajar.
Masalah atau problem dalam pembelajaran sangatlah mungkin. Biasanya, dalam belajar
kelompok seringkali terjadi pemusatan hanya pada satu orang saja atau pada anggota yang
lebih mampu dalam materi yang akan diselesaikan. Hal ini akan menghambat berjalannya
belajar kelompok yang efisien. Maka dari itu, setiap kelompok harus membuat keepakatan
yang isi dan tujuannya agar setiap anggota dapat menyampaikan pendapatnya. Saling
bekerjasama dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

17
Belajar kelompok juga harus diliputi dengan niat yang bersungguh-sungguh. Jadi
mereka harus mengubah niat mereka untuk lebih aktif dalam menyelesaikan permasalahan
secara bersama-sama. Karena biasanya dalam proses belajar kelompok hanya digunakan
untuk bermain-main saja. Hal ini seharusnya tidak terjadi, apabila setiap anggota sadar akan
kewajibannya yang harus menyelesaikan permasalahan maupun tugas yang diberikan guru.

2. Hasil belajar
Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dikelompokan dalam
dua kategori yaitu kategori individual dan kategori situasi. Pendapat ini dikemukakanoleh
Ausubel sebagaimana yang dikutip oleh Budiningsih (2002:72) bahwa faktorfaktor yang
terdapat dalam diri peserta didik meliputi: 1) perubahan struktur kognitifyaitu berupa sifat-
sifat substantif atau riil dan organisasi pengetahuan yang diperolehsebelumnya dalam bidang
subject matter khusus; 2) kesiapan yang berkembang yaitukesiapan khusus yang
mencerminkan taraf perkembangan intelektuan pelajar; 3)kemampuan intelektual; 4) faktor
motivasi dan sikap; 5) faktor kepribadian lainnya.Adapun faktor-faktor situasi yang
mempengaruhi hasil belajar meliputi: 1) praktekyaitu frekuensi, distribusi, metode dan
kondisi-kondisi umum; 2) susunan ataurencana bahan pengajaran dalam arti jumlah, kesulitan
tingkat ukuran, logika yangmendasari, urutan, pengaturan kecepatan dan penggunaan alat-alat
peraga dalampengajaran; 3) faktor kelompok dan sosial tertentu; 4) karakteristik guru
berupakemampuan kognitif, pengetahuan tentang subject matter, kemampuan
dankesanggupan pedagogik, kepribandian dan tingkah lakunya.
Umumnya prestasi belajar dalam sekolah berbentuk pemberian nilai (angka) dari guru
kepada siswa sebagai indikasi sejauh mana siswa telah menguasai materi pelajaran yang
disampaikannya, biasanya prestasi belajar ini dinyatakan dengan angka, huruf, atau kalimat
dan terdapat dalam periode tertentu. Jadi yang dimaksud dengan prestasi belajar PKN adalah
indikator keberhasilan yang dicapai siswa ketika mengikuti, mengerjakan tugas dan
melakukan kegiatan pembelajaran PKN di sekolah terutama dinilai dari aspek kognitifnya,
serta berpengaruh terhadap penguasaan materi pembelajaran PKN

C. CARA STRATEGI
Ada beberapa petunjuk yang dapat dilakukan dalam melaksanakan metode belajar
kelompok, yaitu:

18
1) Pilih teman anda yang paling cocok untuk bergabung dalam satu kelompok yang terdiri
dari 3-5 orang. Anggota yang terlalu banyak biasanya kurang efektif.
2) Tentukan dan sepakati bersama, kapan, di mana, dan apa yang akan dibahas serta apa
yang perlu dipersiapkan untuk keperluan diskusi. Lakukan secara rutin minimal satu kali
dalam satu minggu.
3) Setelah berkumpul secara bergilir tetapkan siapa pimpinan kelompok yang akan
mengatur diskusi dan siapa penulis yang akan mencatat hasil diskusi.
4) Rumuskan pertanyaan atau permasalahan yang akan dipecahkan bersama dan batasi
ruang lingkupnya agar pembahasan tidak menyimpang.
5) Bahas dan pecahkan setiap persoalan satu persatu sampai tuntas, dengan cara memberi
kesempatan kepada setiap anggota mengajukan pendapatnya. Dari setiap pendapat yang
muncul, dikaji secara bersama manakah yang paling tepat. Kesimpulan jawaban yang telah
disepakati bersama dicatat oleh penulis.
6) Bila ada persoalan yang tidak dapat dipecahkan atau tidak ada kesepakatan antar anggota,
tangguhkan saja untuk dimintakan pendapatnya kepada guru. Lanjutkan saja kepada
persoalan yang lain.
7) Kesimpulan hasil diskusi dicatat penulis, lalu dibagikan kepada anggota kelompok
untuk dipelajari lebih lanjut di rumah masing-masing.

D. PROSEDUR MASING-MASING SOLUSI

Prosedur pemakaian metode diskusi secara umum terbagi menjadi tiga tahapan. Pada tiap-
tiap tahapan pemakaian metode diskusi terdapat berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan
oleh guru dan siswa. Adapun tiga tahapan dalam pemakaian metode diskusi adalah sebagai
berikut.

1) Tahapan Sebelum Pertemuan

a) Pemilihan topik diskusi, yakni suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk


menentukan topik diskusi untuk melakukannya, guru dan siswa menggunakan tujuan
yang ingin dicapai serta minat dan latar belakang siswa sebagai kriteria.

b) Membuat rancangan garis besar diskusi yang akan dilaksanakan (jika


memungkinkan bagi guru).

c) Menentukan jenis diskusi yang akan dilaksanakan.

19
d) Mengorganisasikan siswa dan formasi kelas sesuai dengan jenis diksusinya.

2) Tahapan Selama Pertemuan

a) Guru memberikan penjelasan tentang tujuan dari diskusi, topik diskusi dan kegiatan
diskusi yang akan dilakukan.

b) Siswa dan guru melaksanakan kegiatan disksusi (sesuai jenis diskusi yang
digunakan).

c) Pelaporan dan penyimpulan hasil diskusi oleh siswa bersama guru.

d) Pencatatan hasil diskusi oleh siswa.

3) Tahapan Setelah Pertemuan

Membuat catatan tentang gagasan-gagasan yang belum ditanggapi dan


kesulitan yang timbul selama disksusi. Mengevaluasi disksusi dari berbagai dimensi
dan mengumpulkan evaluasi dari para siswa serta lembaran komentar. (Hidayat,
2008:7.20-7.23)

20
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil rekayasa ide dan pembahasan rekayasa ini maka dapat disimpulkan
bahwa peningkatan minat belajar siswa dengan kriteria kurang berminat dalam pembelajaran
PKn dan setelah melakukan dalam pembelajaran PKn dengan menggunakan belajar
kelompok, ada peningkatan minat belajar siswa dengan kriteria sangat berminat. Hal ini
berarti meningkatkan minat belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan belajar
kelompok mencapai hasil sangat memuaskan dengan kriteria sangat baik (sangat berminat).
Dengan demikian metode belajar kelompok dapat meningkatkan minat belajar siswa pada
mata pelajaran PKn.
Belajar kelompok adalah kegiatan belajar atau bisa disebut dengan proses transfer ilmu
yang melibatkan lebih dari satu orang yang saling melengkapi dalam sebuah kelompok
dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan yang ada, baik permasalahan sekolah,
politik, ekonomi, budaya, serta permasalahan lainnya. Belajar kelompok juga harus diliputi
dengan niat yang bersungguh-sungguh. Jadi mereka harus mengubah niat mereka untuk lebih
aktif dalam menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama. Karena biasanya dalam
proses belajar kelompok hanya digunakan untuk bermain-main dan pemusatan pemikiran
hanya kepada satu anggota saja. Hal ini seharusnya tidak terjadi, apabila setiap anggota sadar
akan kewajibannya yang harus menyelesaikan permasalahan maupun tugas yang diberikan
guru secara bersama-sama.

B. REKOMENDASI/ SARAN

Penerapan melalui metode kerja kelompok tentang perilaku masyarakat dan peristiwa
alam pada pembelajaran PKN memberikan peluang kepada siswa untuk beraktivitas secara

21
optimal. Di samping itu penerapan melalui metode kerja kelompok memberikan pengalaman
baru baik bagi siswa maupun bagi guru.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, berikut ini saran-saran yang penulis
sampaikan kepada guru, kepala sekolah, dan pengawas.
1.Saran untuk Guru
Guru senantiasa mengembangkan kemampuan diri untuk menambah wawasan dan
pengetahuan, dan kreatifitas dalam penentuan metode pembelajaran yang paling tepat dan
sesuai, baik melalui jalur pendidikan maupun dengan cara membaca buku atau referensi yang
dapat menunjang terhadap peningkatan kompetensi dan profesional dalam rangka
melaksanakan tugas dan tanggung jawab membentuk masyarakat Indonesia yang berkualitas.
2.Saran untuk Kepala Sekolah
Kepala sekolah diharapkan dapat memberikan dukungan dan motivasi kepada guru dalam
rangka peningkatan kualitas pembelajaran.
3.Saran untuk Sekolah
Sekolah diharapkan dapat menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran yang
diperlukan, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.

22
DAFTAR PUSTAKA

Prof.Dr.Gurning Busmin,M.Pd.2017. Strategi Belajar Mengajar.Yogyakarta:K-Media.

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 1 No.1ISSN 2354-614X

Depdiknas. (2003). Kurikulum Pendidikan Dasar: GBPP Sekolah Dasar. Jakarta : Depdiknas.

Asep Sahid Gatara dan Subhan Sofhian. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung:
Fokusmedia. Aziz Saefudin. 2012. Meningkatkan Profesionalisme Guru Dengan PTK.
Yogyakarta: PT Citra Adi Parama.

Muhamad Erwin. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan Republik Indonesia. Bandung: PT


Refika Aditama.

Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT.
Refika Aditama.

23