Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

SINYAL DAN SISTEM LINIER

MODUL : 7

OPERASI KONVOLUSI SINYAL DISKRIT

NAMA : ARI HASAN ASYARI

NIM : 1167070016

KELAS : 4-A2

HARI, TANGGAL : RABU, 16 MEI 2018

WAKTU : 14.00-15.30 WIB

DOSEN/ASISTEN : AZWAR MUZAKKIR RIDWAN, S.T

LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

2018

0
Modul 8
OPERASI KONVOLUSI SINYAL KONTINU
Ari Hasan Asyari (1167070016)/ Rabu, 16 Mei 2018
Email : ah.asyari@gmail.com
Dosen/Asisten : Azwar Mudzakkir Ridwan, S.T

Abstract dengan x adalah variabel atau peubah yang independen


(nilainya tidak bergantung pada nilai peubah lain) dan y
Pada percobaan praktikum kali ini yaitu mengenai proses
(sinyal) merupakan peubah yang tidak independen (dalam hal
sampling. Tujuan pada praktikum kali ini yaitu dapat
ini nilai y bergantung pada nilai x. Peubah independen
memahami pengaruh pemilihan jumlah sample dan
menentukan domain (daerah asal) dan sinyal, misalnya
pengaruhnya pada proses recovery sinyal. Pada praktikum kali
y=sin(wt)
ini dilakukan beberapa percobaan yaitu pengamatan pengaruh
pemilihan frekuensi sampling secara visual, pengamatan II. TEORI DASAR
pemilihan frekuensi sampling pada efek audio dan pengamatan
Konvolusi antara dua sinyal diskrit x[n] dan v[n] dapat
efek aliassing pada audio.
dinyatakan sebagai

Index Terms
— Aliassing
— Recovery sinyal
— Sampling
Bentuk penjumlahan yang ada di bagian kanan pada
persamaan (7-1) disebut sebagai convolution sum. Jika x[n]
dan v[n] memiliki nilai 0 untuk semua integer pada n < 0,
selanjutnya x[i] = 0 untuk semua integer pada i < 0 dan v[i-n]
I. PENDAHULUAN
= 0 untuk semua integer n – i < 0 (atau n < i). Sehingga
A Latar Belakang jumlahan pada persamaan (7-1) akan menempati dari nilai i =
Sinyal adalah suatu isyarat atau pemberitahuan yang 0 sampai dengan i = n, dan operasi konvolusi selanjutnya dapat
dapat ditangkap oleh indera untuk kepentingan penyampaian dituliskan sebagai:
peringatan, petunjut, atau informasi. Sebagai contoh sinyal
mungkin berbentuk sebuah pola dari banyak variasi waktu atau
sebagian saja. Secara matematis, sinyal merupakan fungsi dari
satu atau lebih variable yang berdiri sendiri (independent
variable). Sebagai contoh, sinyal wicara akan dinyatakan
2.2. Mekanisme Konvolusi
secara matematis oleh tekanan akustik sebagai fungsi waktu
dan sebuah gambar dinyatakan sebagai fusngsi ke-terang-an Komputasi pada persamaan (1) dan (2) dapat
(brightness) dari dua variable ruang (spatial). diselesaikan dengan merubah discretetime index n sampai
Untuk analisis, sebuah sinyal dafat didefinisikan sebagai dengan i dalam sinyal x[n] dan v[n]. Sinyal yang dihasilkan
sebuah fungsi matematika secara umumdapat ditulis sebagai x[i] dan v[i] selanjutnya menjadi sebuah fungsi discrete-time
berikut: index i. Step berikutnya adalah menentukan v[n-i] dan
y=f(x) kemudian membentuk pencerminan terhadap sinyal v[i].
Lebih tepatnya v[-i] merupakan pencerminan dari v[i] yang

1
diorientasikan pada sumbu vertikal (axis), dan v[n-i]
merupakan v[-i] yang digeser ke kanan deng an step n. Saat
pertama kali product (hasil kali) x[i]v[n-i] terbentuk, nilai pada
konvolusi x[n]*v[n] pada titik n dihitung dengan
menjumlahkan nilai x[i]v[n-i] sesuai rentang i pada sederetan
nilai integer tertentu. Untuk lebih jelasnya permasalahan ini • Step ke enam adalah pergeseran satu step dan penjumlahan

akan disajikan dengan suatu contoh penghitung konvolusi


pada dua deret nilai integer berikut ini.

• Step ke tujuh adalah pergeseran satu step dan penjumlahan


• Step pertama adalah pembalikan sinyal kedua, v[n]
sehingga didapatan kondisi seperti berikut:

Dari hasil product and sum tersebut hasilnya dapat kita lihat
• Step ke dua adalah pergeseran dan penjumlahan
dalam bentuk deret sebagai berikut: 2 5 11 9 9 Disini hasil
penghitungan product and sum sebelum step pertama dan step
ke tujuh dan selanjutnya menunjukkan nilai 0, sehingga tidak
ditampilkan. Secara grafis dapat dilihat seperti berikut ini:

• Step ke tiga adalah pergeseran satu step dan penjumlahan

• Step ke empat adalah pergeseran satu step dan penjumlahan

Pada gambar 1 bagian atas, menunjukkan sinyal x[n], bagian


• Step ke lima adalah pergeseran satu step dan penjumlahan kedua menunjukkan sinyal v[n], sedangkan bagian ketiga atau
yang paling bawah merupakan hasil konvolusi.

2
III. METODOLOGI 3. Selanjutnya masukkan pembangkitan sekuen unit step ke
dua dengan cara menambahkan syntax berikut ini di bawah
program anda pada langkah pertama:
A. Perangkat yang Diperlukan :

 1 (satu) buah PC lengkap sound card dan OS for n=1:L


Windows dan perangkat lunak Matlab, if n<=P

 Sistem Operasi Windows dan Perangkat Lunak v(n)=1;

MATLAB yang dilengkapi dengan tool box DSP ,


else
 1 (satu) flash disk dengan kapasitas yang cukup
v(n)=0;
B. Langkah Percobaan
end
4.1. Konvolusi Dua Sinyal Unit Step
end
Disini kita akan membangkitkan sebuah sinyal unit step
diskrit yang memiliki nilai seperti berikut: t=1:L;

subplot(3,1,2)

stem(t,v)
Dan melakukan operasi konvolusi yang secara matematis
3. Coba jalankan program dan tambahkan perintah berikut:
dapat dituliskan sebagai berikut:

subplot(3,1,3)
Untuk itu langkah yang harus dilakukan adalah sebagai stem(conv(x,v))
berikut: 4. Coba anda jalankan seperti pada langkah kedua, dan
1. Bangkitkan sinyal x[n] dengan mengetikkan perintah apakah hasilnya seperti ini Gambar 7.2 ?
berikut: 5. Ulangi langkah ke 5 dan rubahlah nilai untuk L=12, 15,
L=input ('Panjang gelombang (>=10) : '); dan 12. Sedangkan untuk P masukkan nilai 10, 5, dan 12,
P=input ('Lebar pulsa (lebih kecil dari L): '); apa yang terjadi?
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;

end

end

t=1:L;

subplot(3,1,1)

stem(t,x) Gambar 7.2. Contoh hasil konvolusi 2 sinyal unit step

2. Jalankan program dan tetapkan nilai L=20 dan P=10.


4.2. Konvolusi Dua Sinyal Sekuen Konstan
3
Disini kita mencoba untuk membangkitkan dua sinyal 5. Coba anda jalankan seperti pada langkah kedua, dan
sekuen konstan dan melakukan operasi konvolusi untuk berikan penjelasan hasilnya.
keduanya. Langkah yang harus anda lakukan adalah 6. Ulangi langkah ke 5 dan rubahlah nilai untuk L1=15,
sebagai berikut: 10 dan amplitudo 2. Sedangkan untuk L2 = 18, 8 dan
1. Bangkitkan sinyal x[n] dengan mengetikkan perintah amplitudo 3, apa yang terjadi?
berikut:
4.3. Konvolusi Dua Sinyal Sinus Diskrit
%Pembangkitan Sekuen Konstan Pertama
Disini kita mencoba untuk membangkitkan dua sinyal
L1=21;
sinus diskrit dan melakukan operasi konvolusi untuk
for n=1:L1;
keduanya. Langkah yang harus anda lakukan adalah
if (n>=2);
sebagai berikut:
st1(n)=1;
1. Buat program untuk membangkitkan dua gelombang
else
sinus seperti berikut:
st1(n)=0;
L=input('Banyaknya titik sampel(>=20): ');
end
f1=input('Besarnya frekuensi gel 1 adalah Hz: ');
end
f2=input('Besarnya frekuensi gel 2 adalah Hz: ');
t1=[0:1:(L1-1)];
teta1=input('Besarnya fase gel 1(dalam radiant): ');
subplot(311)
teta2=input('Besarnya fase gel 2(dalam radiant): ');
stem(t1,st1)
A1=input('Besarnya amplitudo gel 1: ');
title('Konvolusi 2 sinyal sekuen konstan')
A2=input('Besarnya amplitudo gel 2: ');
2. Jalankan program dan tetapkan nilai L2 = 11
%Sinus pertama
3. Selanjutnya masukkan pembangkitan sekuen konstan
t=1:L;
ke dua dengan cara menambahkan syntax berikut ini di
t=2*t/L;
bawah program anda pada langkah pertama:
y1=A1*sin(2*pi*f1*t + teta1*pi);
%Pembangkitan Sekuen Konstan Kedua
subplot(3,1,1) stem(y1)
L2=21;
%Sinus kedua
for n=1:L2;
t=1:L; t=2*t/L;
if (n>=2);
y2=A2*sin(2*pi*f2*t + teta2*pi);
st2(n)=1;
subplot(3,1,2)
else
stem(y2)
st2(n)=0;
2. Coba anda jalankan program anda dan isikan seperti
end
berikut ini:
end
Banyaknya titik sampel(>=20): 20
t2=[0:1:(L2-1)];
Besarnya frekuensi gel 1 adalah Hz: 1
subplot(312)
Besarnya frekuensi gel 2 adalah Hz: 2
stem(t2,st2)
Besarnya fase gel 1(dalam radiant): 0
xlabel('Jumlah Sample')
Besarnya fase gel 2(dalam radiant): 0.25
4. Coba jalankan program dan tambahkan perintah
Besarnya amplitudo gel 1: 1
berikut:
Besarnya amplitudo gel 2: 1
subplot(313)
Perhatikan tampilan yang dihasilkan.
c=conv(st1,st2)
Apakah ada kesalahan pada program anda?
stem(c)
3. Lanjutkan dengan menambahkan program berikut ini
pada bagian bawah program yang anda buat tadi.
4
subplot(3,1,3)  L=12 dan P=10
stem(conv(y1,y2))
4. Jalankan program anda, dan kembali lakukan
pengisian seperti pada langkah ke 3. Lihat hasilnya
apakah anda melihat tampilan seperti berikut gambar
4.
5. Ulangi langkah ke 4, dengan menetapkan nilai
sebagai berikut: L=50. w1 = w2 = 2, teta1=1.5, teta2
= 0.5, dan A1 = A2 = 1. Apa yang anda dapatkan?
Apakah anda mendapatkan hasil yang berbeda dari Gambar 7.4. Konvolusi Dua Sinyal Unit Step
program sebelumnya? Mengapa ?
 L=15 dan P=5

4.4. Data dan Analisa


Anda telah melakukan berbagai langkah untuk
percobaan operasi konvolusi. Yang harus anda
lakukan adalah menjawab setiap pertanyaan yang ada
pada langkah percobaan. Tulis semua komentar dan
analisa sebagai penjelasan dari hasil percobaan anda.
1. Apa arti konvolusi 2 buah sinyal diskrit dalam
simulasi tersebut diatas ? Bagaimana jika amplitudo Gambar 7.5. Konvolusi Dua Sinyal Unit Step

masing-masing sinyal diubah ? Jelaskan !!!


 L=12 dan P=12
2. Jelaskan pengaruh konvolusi terhadap sinyal asli ?

IV. ANALISIS DATA PERCOBAAN

Hasil Data Percobaan dan Analisis

1. Konvolusi Dua Sinyal Unit Step


Gambar 7.6. Konvolusi Dua Sinyal Unit Step
 L=20 dan P=10

2. Konvolusi Dua Sinyal Sekuen Konstan


 L2=11

Gambar 7.3. Konvolusi Dua Sinyal Unit Step

5
Gambar 7.7. Konvolusi Dua Sinyal Sekuem  L=50. w1 = w2 = 2, teta1=1.5, teta2 = 0.5, dan A1
Konstan = A2 = 1

 L1=15, A=2 dan L2=18, A=3

Gambar 7.11. Konvolusi Dua Sinyal Sinus


Diskrit
Gambar 7.8. Konvolusi Dua Sinyal Sekuem
Analisis:
Konstan
Sinyal x[n] dibangkitkan dengan panjang
gelombang (L) harus lebih dariatau sama dengan 10
 L1=10, A=2 dan L2=8, A=3 dan lebar pulsa(P) yang lebih kecil dari L. Setelah
program dijalankan, untuk nilai awal P=20 dan L=10,
untuk grafik pertama skala pada sumbu-x maksimal
adalah 20 (0-L) dan x[n] bernilai 1 hingga ≤ P, atau
dengan kata lain hingga nilai 10 pada sumbu-x.
Selebihnya x[n] bernilai 0. Hal yang sama berlaku
untuk grafik yang kedua, hanya saja sinyal
dibangkitkan adalah v[n]. Adapun grafik ketiga
merupakan grafik hasil konvolusi x[n] dengan v[n].
Begitu juga untuk nilai L dan P yang lain.
Gambar 7.9. Konvolusi Dua Sinyal Sekuem
Pada konvolusi dua sinyal sinus titik sampe
Konstan
l dinyatakan dengan L(≥20) tidak jauh berbeda
3. Konvolusi Dua Sinyal Sinus Diskrit dengan proses konvolusi sebelumnya, nilai L akan
menjadi skala maksimal untuk sumbu x pada grafik
 L=20, w1 =1, w2 =2, teta1=0, teta2 = 0.25, dan A1 pertama dan kedua. Pengamatan pertama dengan
= A2 = 1 L=20, w1=1, w2=0.5, teta1=0, teta2=0.5 dan
A1=A2=1. Sinyal sinus pertama memiliki fase
gelombang=0 sedangkan sinyal sinus kedua memiliki
fase gelombang=0.5. pengaruhnya terlihat pada
grafik dimana untuk sinyal sinus kedua mengalami
pergeseran ke kiri sejauh setengah gelombang. Grafik
ketiga menunjukkan hasil konvolusi dari sinyal sinus
pertama dengan sinyal sinus kedua. Untuk L=50,
w1=w2=2, teta1=1.5, teta2=0.5, dam A1=A2=1,
Gambar 7.10. Konvolusi Dua Sinyal Sinus Diskrit
output yang didapat pada grafik pertama dan kedua
adalah frekuensi kedua yang sama dengan fase

6
berlawanan. Mendekati ujung dari sinyal hasil VI. DAFTAR PUSTAKA
konvolusi, amplitude gelombang akan semakin kecil. [1] Modul 7 Praktikum Sistem dan Sinyal Linier
[2] https://www.scribd.com/doc/302815535/Digital-Signal-
Hal pertama yang yang dilakukan pada
Processing-05-Operasi-Konvolusi-Nadya-Amalia-2011
pengamatan untuk konvolusi sinyalsinus dan raise
Diakses pada tanggal: 20 Mei 2018
cosine adalah dengan membangkitkan sinyal dasar
yakni sinyalsinus dan raise cosine. Sinyal sinus asli
kemudian ditambahkan noise dan sinyalsinus
bernoise yang dihasilkan tersebutlah yang akan
dikonvolusi dengan sinyalraise cosine yang telah
dibangkitkan sebelumnya. Untuk nilai n, semakin
kecil rentang sinyal yang diberikan rentang sinyal
yang dihasilkan akan semakin lebar. Sedangkan hasil
konvolusi dar masing-masing tdak berbeda terlalu
jauh. Sinyal hasil konvolusi akan mulai menanjank
semakin jauh dari skala nol untuk nilai rentang n yang
semakin lebar pula.

Adapun untuk konvolusi pada sinyal audio,


file audio yang digunakanadalah yodel.wav dan dib
angkitkan denga frekuensi sampling Fs=16000 Hz.S
elanjutkan, sinyal audio tersebut diberikan noise dan
sinyal audio bernoise inilah yang akan dikonvolusi
dengan matriks satu = ones(4,1).

V. KESIMPULAN

Dapat disimpulkan dari pembahasan di atas, yaitu bahwa :

1. Nilai pada konvolusi x[n]* v[n] pada titik n dihitung


dengan menjumlahkan nilai x[i]* v[n-i] sesuai dengan
rentang i pada sederetan nilai integer tertentu.
2. Semakin lebar rentang n pada konvolusi sinyal sinus
bernoise dengan sinyal raise cosine, sinyal hasil konvolusi
akan mengalami penanjakan pada skala sumbu-x yang
semakin jauh dari skala nol.
3. Sinyal diskrit adalah sinyal yang digunakan dalam domain
teknik engineering berbasis digital. Banyak cara untuk
menyelesaikan konvolusi sinyal diskrit, salah satu
diantaranya adalah secara grafis. Cara ini yang paling
mudah difahami secara visual, serta perhitungannya tidak
membutuhkan matematik tingkat tinggi.