Anda di halaman 1dari 30

STATISTIK

1 FERMI - DIRAC

Statistik Fermi - Dirac (FD) dikembangkan untuk menangani asembel yang


tersusun atas partikel dengan momentum anguler bilangan bulat ditambah setengah.
Contoh asembel yang dapat dianalisis dengan statistik FD antara lain elektron dalam
logam, proton, netron, dan bintang katai putih. Partikel yang taat asas statistik FD
dinamakan fermion. Karena taat larangan Pauli, maka sebuah keadaan energi hanya bisa
ditempati oleh –paling banyak- satu gas fermion, atau dengan kata lain fermion tak mau
berkeadaan sama. Di samping itu, sebuah fermion bersifat tak terbedakan dari yang lain.
Kedua sifat tersebut mendasari perumusan statistik FD.

4.1 Distribusi Fermi – Dirac

Pandanglah asembel terisolasi yang terdiri atas N partikel fermion tak


berinteraksi dengan energi total E. Seperti sebelumnya, distribusi partikel dari suatu
asembel dapat diekspresikan sebagai distribusi partikel pada berbagai tingkat energi.
Dengan demikian sebuah tingkat energi s terdiri atas gs keadaan energi dengan energi
dalam jangkau εs→εs+dεs. Konfigurasi yang diberikan bergantung pada jumlah partikel
tiap pita energi ns. Karena jumlah partikel dan total energinya konstan, maka dipenuhi:
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 150

∑ ns = N
s
(5-1)
∑ ns ε s = E
s

Seperti halnya pada kasus boson, pertukaran tempat –baik antar keadaan
maupun tingkat energi- antara dua fermion tidak menghasilkan konfigurasi baru.
Dengan demikian, jika terdapat Ws cara untuk menyususn ns partikel dalam gs keadaan
energi, maka jumlah cara penyusunan total untuk asembel adalah:
W = ∏ Ws (5-2)
s

dengan W adalah bobot total konfigurasi.


Karena prinsip larangan Pauli, bilangan penempatan untuk satu keadaan tunggal
hanya dapat bernilai 0 atau 1. Dengan demikian, dari gs keadaan energi yang tersedia
sejumlah ns keadaan terisi partikel sedang sisanya (gs-ns) keadaan kosong. Jumlah
penyusunan ns partikel dalam gs keadaan dapat dibayangkan sebagai cara pemilihan ns
keadaan dalam kedaan terisi dan sisanya (gs - ns) keadaan dalam keadaan kosong. Atau
dapat pula dipikirkan sebagai pemilihan ns keadaan terisi dari gs keadaan yang tersedia.
Kedua pendekatan tersebut sama dengan kombinasi gs diambil ns dan menghasilkan:
gs!
ws = (5-3)
ns !( g s − ns )!
Sedang bobot konfigurasi totalnya diberikan oleh:
s gs!
W =∏ (5-4)
s =1 ns !( g s − ns )!
Ilustrasi persamaan (5-3) diberikan dalam gambar 5.1.

1 • • • 6 • • •
2 • • • 7 • • •
3 • • • 8 • • •
4 • • • 9 • • •
5 • • • 10 • • •

Gambar 5.1 Penyusunan 3 partikel dalam 5 status menghasilkan 5!/(2! 3!) atau 10 kemungkinan
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 151

 Contoh 5.1
Misalkan terdapat 6 partikel fermion dengan energi total 6 eV. Bila partikel tersebut

dapat menduduki 5 pita energi dengan ε s = (s − 1) eV , dan gs=3, tentukan (a) Jumlah
makrostat (k), (b) Bobot konfigurasi untuk tiap makrostat (Wk), makrostat termungkin,

serta bobot konfigurasi total (W), serta (c) Bilangan penempatan rata-rata ( ns ) dan

bilangan penempatan total N. Berikan komentar saudara.

Penyelesaian
Permasalahan di atas identik dengan contoh 3.3 dan 3.5 untuk boltzon dan contoh 4.2

untuk boson. Persamaan yang berkaitan dengan W, ns , N, dan P(εs) juga sama. Yang
berbeda hanyalah cara perhitungan Wk yang mengacu pada persamaan (5-4). Untuk
kesederhanaan, penyelesaian disajikan dalam tabel.

Makrostat ke- 1 2 3 4 5 ns P(εs)

ε5 = 4 eV • 0,123 0,0205
ε4 = 3 eV • • 0,494 0,0823
ε3 = 2 eV • ••• •• 1,15 0,1917
ε2 = 1 eV •• • ••• •• 1,73 0,2880
ε1 = 0 eV ••• ••• •• ••• •• 2,51 0,4180
Wk 9 27 9 1 27
N=6 1,000
W = 73

Sekarang kita coba bandingkan hasil ini dengan contoh 3.3 dan 3.5 (kasus boltzon) dan
contoh 4.2 (kasus boson) sebagai berikut:

Kasus N=6, E= 6 eV, εs=(s-1)eV, dan gs=3


Jenis Partikel Jumlah makrostat Jumlah mikrostat
Boltzon 11 462 . 36=336798
Boson 11 1649
Fermion 5 73
Keterangan kMB = kBE > kFD WMB > WBE > WFD
(Penyebab) (Asas Pauli) (Prinsip keterbedaaan)
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 152

Selanjutnya kita coba lihat masing-masing makrostat dengan makrostat termungkin


dicetak miring dan tebal.

Kasus N=6, E= 6 eV, εs=(s-1)eV, dan gs=3


Makrostat ke- Statistik MB Statistik BE Statistik FD
6
M1 (5,0,0,0,0,0,1) 24 x 3 63 Tidak diijinkan
M2 (4,1,0,0,0,1,0) 8 x 36 135 Tidak diijinkan
6
M3 (4,0,1,0,1,0,0) 30 x 3 135 Tidak diijinkan
6
M4 (3,2,0,0,1,0,0) 60 x 3 180 9
6
M5 (4,0,0,2,0,0,0) 15 x 3 90 Tidak diijinkan
6
M6 (3,1,1,1,0,0,0) 120 x 3 270 27
6
M7 (2,3,0,1,0,0,0) 60 x 3 180 9
6
M8 (3,0,3,0,0,0,0) 20 x 3 100 1
M9 (2,2,2,0,0,0,0) 90 x 36 216 27
6
M10 (1,4,1,0,0,0,0) 30 x 3 135 Tidak diijinkan
M11 (1,6,0,0,0,0,0) 1 x 36 28 Tidak diijinkan
Bobot total 336798 1649 73

Selanjutnya dapat pula dilihat bilangan penempatan pada masing-masing pita energi

Kasus N=6, E= 6 eV, εs=(s-1)eV, dan gs=3


No. Energi pita Bilangan penempatan rata-rata
Pita (eV) Statistik MB Statistik BE Statistik FD
7 6 0,0130 0,0411 0
6 5 0,0649 0,0881 0
5 4 0,1948 0,2056 0,123
4 3 0,4545 0,4112 0,494
3 2 0,9091 0,8303 1,150
2 1 1,6364 1,5959 1,730
1 0 2,7272 2,8277 2,510

Di mana hasilnya dapat diplot sbb:


Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 153

50

MB
40
BE

Peluang (%)
FD
30

20

10

0
0 1 2 3 4 5 6
energi (eV)

Kembali ke persamaan (5-3). Karena nilai gs dan ns sangat besar, maka dapat
dipakai pendekatan Stirling sehingga diperoleh:
ln W = ∑ [g s ln g s − ns ln ns − ( g s − ns )ln ( g s − ns )] (5-5)
s

∂ ln W g − ns
dan = ∑ ln s (5-6)
∂ns s ns
Selanjutnya karena jumlah partikel total dan energi total konstan, serta dengan
menggunakan pengali tak tentu Lagrange, diperoleh:
 ∂ ln W 
∑ + α + βε s  dns = 0 (5-7)
s  ∂ns 
Dan karena dns tidak berharga nol, maka:
∂ ln W
+ α + βε s = 0 (5-8)
∂ns
Substitusi (5-6) dalam (5-8) menghasilkan:
gs
ns = (5-9)
− (α + βε s )
e +1
yang merupakan ekspresi distribusi FD. Distribusi tersebut berbeda dari distribusi
Maxwell-Boltzmann dan distribusi Fermi-Dirac, dengan keberadaan factor +1. Faktor
penyebut dalam pers. (5-9) dikenal sebagai fungsi Fermi dan ditulis sebagai:
1
f (ε ) = (ε −ε ) / kT (5-10)
e F +1
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 154

di mana indeks s telah ditanggalkan dan telah dilakukan substitusi β = −1 / kT dan

α = ε F / kT . Besaran ε F dikenal sebagai energi Fermi.1 Jika jumlah keadaan energi


dalam jangkau energi ε→ε+dε adalah g(ε) dε, maka jumlah partikel yang energinya
dalam jangkau ε→ε+dε dapat dinyatakan sebagai:
n(ε ) dε = f (ε )g (ε ) dε (5-11)

4.2 Gas Fermion Pada Temperatur Nol Mutlak

Sebelum membicarakan gas fermion, lebih dahulu kita lihat kelakuan fungsi
fermi pada temperatur nol mutlak. Pada T=0 K, exp [(ε − ε F ) / kT ] hanya mempunyai
dua kemungkinan nilai. exp [(ε − ε F ) / kT ]= − ∝ jika ε < ε F 0 dan exp [(ε − ε F ) / kT ]= ∝

jika ε > ε F 0 . Dengan demikian ada dua kemungkinan nilai fungsi Fermi, yaitu:

f (ε ) = 1 jika ε < ε F0
(5-12)
f (ε ) = 0 jika ε > ε F 0
Persamaan (5-12) menyatakan bahwa pada nol mutlak, semua keadaan energi dengan
ε < ε F 0 terisi oleh elektron sedang keadaan energi dengan ε > ε F 0 kosong. Bentuk
fungsi Fermi pada T=0 K mengalami diskontinuitas pada ε = ε F 0 .

f (ε)

T=0 K

0 εF0 ε
Gambar 5.2 Fungsi Fermi pada temperatur nol

1
Ada dua cara penulisan yang dikenal, yaitu dengan notasi εF dan µ. Bila digunakan notasi εF maka εF
pada T=0 ditulis sebagai εF0. Konvensi untuk cara yang pertama adalah [ε F (T ≠ 0 ), ε F 0 (T = 0)] . Bila
dipakai notasi µ, maka µ pada T=0 dituliskan sebagai εF, atau secara singkat [µ(T ≠ 0 ), ε F (T = 0)] . Pada
tulisan ini dipakai notasi yang pertama.
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 155

Perilaku fungsi Fermi dapat dipahami dengan mudah. Pada nol mutlak, fermion
akan menempati keadaan energi terendah lebih dahulu. Karena tiap keadaan hanya
dapat ditempati satu fermion, fermion berikutnya akan menempati keadaan energi yang
lain dan tingkat energi yang lebih tinggi sampai seluruh fermion terakomodasi. Dengan
demikian energi Fermi εF0 adalah keadaan energi tertinggi yang masih ditempati
fermion pada nol mutlak. Untuk mendapatkan nilai εF0, dihitung jumlah fermion total N
pada T=0 K
∝ ∝ εF 0
N = ∫ n(ε ) dε = ∫ f (ε )g (ε ) dε = ∫ g (ε ) dε (5-13)
0 0 0

Karena fermion adalah partikel kuantum seperti boson, dapat digunakan ekspresi
(contoh soal 4.3) untuk rapat keadaan g. Tetapi karena untuk satu keadaan
dimungkinkan dua spin –up dan down-, maka nilai rapat keadaan fermion adalah:
3/ 2
 2m 
g (ε ) dε = 4πV  2  ε 1 / 2 dε (5-14)
h 
sehingga diperoleh:
2/3
h 2  3N 
εF0 =   (5-15)
2m  8πV 

Tabel 5.1 Energi dan Temperatur Fermi untuk Beberapa Gas


Gas εF0 (eV)
3
Partikel atom He 0,94 x 10-3
Li 4,72
Na 3,12
Al 11,8
K 2,14
Partikel elektron Cs 1,53
dalam atom Cu 7,04
Zn 11,0
Ag 5,51
Au 5,54
Pt 2,1

Dalam menghitung ε F 0 gas elektron dalam metal, diasumsikan bahwa elektron


valensi berkelakuan sebagai partikel bebas dalam potensial yang dihasilkan oleh
potensial ion positif dari kisi. Ketergantungan ε F 0 pada rapat fermion N/V dan massa
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 156

m menyebabkan nilainya bersifat khas untuk setiap bahan, seperti diperlihatkan pada
tabel 5.1. Perbedaan yang besar antara harga ε F 0 gas helium dan gas elektron
disebabkan perbedaan massa dan kerapatan.
Dengan membandingkan energi Fermi terhadap energi termal kT, dapat
dibataskan temperatur Fermi sebagai berikut.
2/3
h 2  3N 
TF = ε F 0 / k =   (5-16)
2mk  8πV 
Untuk gas fermion yang tersusun atas partikel molekul, temperatur Ferminya
3
lebih rendah dibanding temperatur kamar (Untuk gas 2 He , TF = 10 K). Dalam kasus
ini, larangan Pauli pada distribusi energi sangat kecil efeknya pada temperatur tertentu.
Hal ini terjadi karena, selain pada energi terendah, bilangan penempatan rata-rata lebih
kecil dari satu. Selain itu pada gas tersebut dengan ε − ε F 0 >> kT , fungsi Ferminya

lebih mendekati fungsi klasik exp [(ε − ε F ) / kT ] . Dengan demikian distribusi fermion
menurut energinya pada temperatur ruang mendekati distribusi Maxwell-Boltzmann.

 Contoh 5.2
Hitunglah εF0 dan TF untuk bahan tembaga.

Penyelesaian
Untuk menghitung εF0 lebih dahulu dihitung rapat fermion (N/V) dalam tembaga

Rapat fermion = jumlah elektron valensi x rapat atom tembaga


rapat massa
= jumlah elektron valensi x
massa per atom
ρ
= jumlah elektron valensi x
BM x u

=1x
(8,94 x 10 ) = 8,48 x 10
−3
28
m −3
(63,5) (1,66 x 10 )
− 27

Karena Cu memiliki satu elektron tunggal 4s di luar kulit dalam yang tertutup, berarti
tiap atom Cu menyumbang satu elektron bebas atau dengan kata lain rapat elektron
sama dengan rapat atom. Selanjutnya dapat dipakai persamaan (5-15) dengan m adalah

( )
massa elektron, sehingga diperoleh: ε F 0 = 3,646 x10 −19 eV m 2 (N / V )2 / 3

Dengan memasukkan N/V = 8,48 1028 m-3, diperoleh εF0 = 7, 04 eV dan TF = 82000 K
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 157

 Contoh 5.3
Berapa fraksi elektron bebas dalam tembaga yang memiliki energi kinetik dalam
jangkau 3,95 eV dan 4,05 eV pada temperatur kamar ?

Penyelesaian
Dari contoh 5.2, Cu memiliki energi energi Fermi 7 eV yang nilainya relatif konstan
baik pada T=0 maupun pada temperatur kamar T = 293 K. Fraksi elektron bebas yang
memiliki energi antara 3,95 eV dan 4,05 eV adalah:

∫ n(ε ) dε ≅ N n(ε )∆ε


4, 05 eV
1 1
N 3,95 eV

Pendekatan di atas dibenarkan karena nilai ∆ε = 0,1 eV cukup kecil. Selanjutnya dengan
memanfaatkan (514) dan (5-15), diperoleh:

()
n ε ∆ε  3 ε 1 / 2 
=  f (ε ) =
 3 x 41 / 2  
 
1  0,0162
 (0,10 ) = −120 = 0,016 = 1,6 %
3/ 2 3 / 2  (4 − 7 ) / (1 / 40 )
N  2 ε F   2 x 7   e +1  e +1

Di mana telah dipakai kT=1/40 eV, εF = 7 eV, ∆ε = 0,1 eV, dan nilai tengah ε = 4 eV.

f(ε)

(
f (ε F − kT ) = e −1 + 1 )−1
≅ 0,73
(
f (ε = ε F )= e −0 + 1) −1
≅ 0,50
+ kT ) = (e + 1)
−1
f (εF 1
≅ 0,27

εF-kT εF εF+kT ε

Gambar 5.3 Fungsi Fermi untuk TF >>T>0

4.3 Gas Fermion Pada Temperatur Tidak Nol

Karena tingginya temperatur Fermi untuk gas elektron dalam metal, maka dapat
diharapkan bahwa kenaikan temperatur dari nol mutlak menuju temperatur ruang hanya
akan mempengaruhi elektron yang energinya dekat energi Fermi. Hal tersebut
ditunjukkan pada gambar 5.3 di mana diambil asumsi kT<<εF. dan nilai fungsi Fermi
dirajah dengan pendekatan pada tiga titik ekstrim.
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 158

Distribusi yang sebenarnya dari elektron pada jangkau ε→ε+dε adalah hasil kali
fungsi Fermi dan kerapatan keadaan seperti dinyatakan pada (5-11)
n(ε ) dε = f (ε )g (ε ) dε
Pada nol mutlak, harga rata-rata berbagai perilaku elektron dapat dihitung dengan
memanfaatkan fungsi Fermi pada T=0 K, sehingga integrasi cukup dilakukan dari nol
sampai ε F 0 . Sebagai contoh akan dihitung nilai energi rata-rata elektron pada T=0.
∝ εF0
∫ ε n(ε )dε ∫ ε g (ε )dε
3
ε0 = 0

= 0
εF 0
= ε F0 (5-17)
5
∫ n(ε )dε ∫ ()
g ε dε
0 0

Di mana hasilnya dinyatakan dalam ε F 0 menurut (5-15).

0,8
0,01 TF
0,6 0,1
f(ε)

0,2
0,5
0,4 1
2
0,2 20

0
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2
ε/εF0

Gambar 5.4 Fungsi Fermi pada berbagai temperatur.

Untuk mendapatkan pengaruh temperatur di atas nol mutlak pada distribusi


partikel, perlu diketahui nilai energi Fermi sebagai fungsi temperatur. Dengan
menggunakan (5-13) dapat ditulis
∝ ∝
N = ∫ n(ε ) dε = ∫ f (ε ) g (ε ) dε (5-18)
0 0
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 159

Gambar 5.5 Populasi elektron pada T=0 dan T>0 (Lay, 1990)

Untuk menyelesaikan pers. (5-18), akan ditinjau sifat ∂f / ∂ε , seperti


diperlihatkan pada gambar 5.6. Dengan memanfaatkan gambar 5.6, dapat diperoleh:
∝ εF
π2
∫ f (ε ) g (ε )dε = ∫ g (ε )dε + g ' (ε F ) (kT ) 6
2
(5-19)
0 0

-∂f/∂ε
T=0
(4kT)-1
T1>0

T2>T1

εF ε

Gambar 5.6 Perilaku ∂f/∂ε pada berbagai T. Terlihat bahwa pada T=0, ∂f/∂ε adalah delta Dirac. Pada
T>0, terjadi pelebaran. Semakin besar T, semakin lebar kurva yang terbentuk. Secara keseluruhan ∂f/∂ε
setangkup di ε=εF dengan nilai maksimum (4kT)-1.

Selanjutnya dengan memanfaatkan hasil (5-13)


∝ εF 0
∫ f (ε ) g (ε )dε = ∫ g (ε )dε
0 0

maka (5-19) dapat ditulis sebagai:


Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 160

εF 0 εF εF 0
π2
g ' (ε F ) (kT ) = ∫ g (ε ) dε − ∫ g (ε ) dε = ∫ g (ε ) dε
2
(5-20)
6 0 0 εF

Karena perbedaan antara εF dan εF0 sangat kecil, maka suku kanan (5-20) dapat
dijabarkan sebagai:
π2
g ' (ε F ) (kT ) = g (ε F 0 ) (ε F 0 − ε F )
2
(5-21)
6
Karena ε F ≅ ε F 0 untuk kT << ε F , maka dimungkinkan untuk menulis

∂g 1 g (ε F ) 1 g (ε F 0 )
g ' (ε F ) = = ≅ (5-22)
∂ε ε = ε 2 εF 2 ε F0
F

sehingga diperoleh:

ε F = ε F 0 1 −
(kT )2 π 12 
 (5-23)
 ε F 0 2 12 

 π 2  T  2 
atau εF = ε F 0 1 −    (5-24)
 12  TF  
2
π2  T 
Adalah suatu kenyataan bahwa faktor koreksi   hampir dapat diabaikan pada
12  TF 

T<< TF. Untuk benda dengan TF = 30.000 K, faktor koreksinya pada temperatur kamar
adalah 8 x 10-5, suatu harga yang cukup kecil.

0 < T << TF T > TF

Nilai eigen
energi

εF

εF

Gambar 5.7 Pergeseran energi Fermi pada berbagai temperatur


Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 161

4.4 Panas Jenis Elektron


Sekarang kita hitung panas jenis logam akibat kontribusi elektron. Mula-mula
kita hitung energi total E.

E = ∫ ε f (ε ) g (ε ) dε (5-25)
0

Dengan menggunakan pers.(5-20) nilai E dapat dihitung sebagai berikut.


εF
π2
E = ∫ ε g (ε ) dε + [g (ε F ) + ε F g ' (ε F 0 ) ] (kT )2 (5-26)
0 6

Dengan anggapan ε F 0 cukup dekat dengan ε F dan g (ε F ) ≅ g (ε F 0 ) suku pertama ruas


kanan dapat diuraikan sebagai:
εF εF 0 εF 0
∫ ε g (ε ) dε = ∫ ε g (ε )dε − ∫ ε g (ε ) dε
0 0 εF

= E0 − ε F 0 g (ε F 0 )(ε F 0 − ε F )
εF
π2
∫ ε g (ε ) dε = E 0 − g (ε F 0 )(kT )
2
atau (5-27)
0 12

Di mana E0 adalah energi total pada T=0. Dalam menghitung (ε F 0 − ε F ) telah


dimanfaatkan hasil (5-24). Selanjutnya kita hitung suku kedua ruas kanan pada pers.(5-
26) dengan memanfaatkan (5-22) sebagai berikut:
g (ε F ) + ε F g ' (ε F ) = 3 / 2 g (ε F ) ≅ 3 / 2 g (ε F 0 ) (5-28)
Dengan mensubstitusikan hasil (5-27) dan (5-28) pada (5-26) diperoleh:

π2
E = E 0 + g (ε F 0 )(kT ) 2
(5-29)
6
Untuk menghitung energi rata-rata, suku kedua sebaiknya ditulis sebagai fungsi jumlah
total fermion N. Jumlah total fermion pada dapat dihitung dengan cara
εF 0 εF0
2 2
N = ∫ g (ε ) dε = ∫ k ε 1/ 2 dε = k ε F 0 = ε F 0 g (ε F 0 )
3/ 2
(5-30)
0 0 3 3

3 N
atau g (ε F 0 ) = (5-31)
2 εF0

Substitusi hasil (5-31) dan hasil (5-16) E0 = 3 / 5 Nε F 0 pada (5-29) menghasilkan:


Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 162

3
E = N  ε F0 +
(kT )2 π 2 
 (5-32)
 5 ε F 0 4 

dan energi rata-rata ε sebagai berikut

3 T  π2
2

ε =ε F 0  +    (5-33)
 5  TF  4 

Dengan demikian kontribusi elektron pada panas jenis logam pada volume konstan
adalah:

Cv =
(
∂ NA ε
=
)
π 2 RT
= 4,93 R
T
(5-34)
∂T 2 TF TF
Untuk metal dengan TF =30.000 K, pada temperatur ruang nilai panas jenisnya
adalah 0,05R. Nilai ini sangat kecil bila dibandingkan dengan Cv menurut teori
ekipartisi (3/2R) serta akibat getaran kisi (3R).

n(ε)

T = 300 K
½ n(εF0)
3kT

εF0 ε 3kT
Gambar 5.8 Salah satu cara alternatif untuk menghitung jumlah elektron dengan energi di atas energi
Fermi.

 Contoh 5.4
Perkirakan jumlah elektron yang tereksitasi pada distribusi yang dilukiskan pada gambar
5.8.

Penyelesaian
Pada T=0 K energi tertinggi yang dimiliki elektron adalah εF0. Pada T>0 K, sejumlah
elektron memiliki energi di atas εF0 atau dianggap elektron dalam keadaan tereksitasi.
Dengan demikian jumlah elektron yang tereksitasi sama dengan luas segitiga pada
gambar 5.8.
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 163

1
neks = x alas x tinggi
2
1 1 
= (3kT )  n(ε F 0 )
2 2 

=
1
(3kT )  1 1 g (ε F 0 )
2 2 2 
1  
= (3kT )  1 1 3 N 
2  2 2 2 εF0 
9 NkT
=
16 ε F 0

3 N
di mana telah dipakai f(εF0) = ½. Dan g (ε F 0 ) = . Dengan demikian, fraksi electron
2 ε F0

neks 9 kT 9 T
yang tereksitasi adalah ≅ =
N 16 E F 0 16 TF

Jika kita menganggap hanya elektron yang tereksitasi saja yang bereperan dalam
perhitungan panas jenis, berarti panas jenis elektron sebanding dengan T. Pada
temperatur ruang kT = 0,025 eV. Karena nilai εF0 dalam orde eV berarti fraksi elektron
yang tereksitasi pada temperatur ruang dalam orde satuan persen bahkan seringkali lebih
kecil dari satu persen. Dengan menganggap elektron sebagai elektron bebas, maka saham
elektron pada panas jenis sekitar 0,01 R. Dengan demikian kontribusi elektron pada panas
jenis hanya diperhitungkan pada temperatur dekat TF.
Hasil eksperimen pada T→0 juga menunjukkan C v ∝ T . Karena hasil perhitungan

Debye untuk panas jenis kisi menunujukkan C v ∝ T 3 , berarti pada T→0 kontribusi
elektron pada panas jenis lebih besar dibanding kontribusi kisi kristal.

 Contoh 5.5
Perkirakan energi Fermi dari gas nukleon dalam material nuklir

Penyelesaian
Dalam inti terdapat proton dan netron yang masing- masing memiliki spin ½ sehingga
termasuk fermion. Keduanya berinteraksi secara kuat dengan energi ikat sekitar 8 MeV,
sedangkan –sebagai perbandingan- energi ikat elektron dalam atom hanya dalam jangkau
keV. Karena ikatan kuat antara keduanya, maka proton dan netron tidak dapat
diperlakukan sebagai satu partikel gas fermion. Meskipun demikian, untuk menghitung
energi dalam inti, dimungkinkan untuk memperlakukan proton dan netron sebagai gas
fermion, secara terpisah. Sekarang dicoba menghitung energi Fermi yang diakibatkan
oleh netron. Kerapatan netron adalah
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 164

N A− Z A− Z  A− Z 
= = = 1,09 x10 44  
3
V V 4πR  Z 
dengan A nomor massa, Z nomor atom, dan R jari-jari atom yang memenuhi
−27
R = 1,3 x10 −15 A1 / 3 . Jika digunakan m = 1,67 x 10 kg untuk netron, <g=(2s+1)=2,

h =1,05 x10 −34 Js , serta (A-Z)/Z = 0.5 akan diperoleh energi Fermi sebesar 28 MeV dan
temperatur Fermi 3,3 x 1011 K yang menunjukkan kedaaan yang terdegenerasi.
Untuk atom berat, rasio netron terhadap proton meningkat sehingga konsentrasi dan juga
energi Fermi proton lebih kecil dari besaran yang sama akibat netron.

Potensial Potensial
netron proton
V=0
Energi ikat 8
MeV
εF
Energi Fermi 28
MeV

Gambar 5.9 Tembok potensial untuk netron dan proton adalam inti atom.

 Contoh 5.6
Bagaimanakah keadaan materi dalam bintang katai putih dan bintang netron? Anggap sirius
B sebagai tipikal bintang katai putih.

Penyelesaian
Bintang katai putih memiliki rapat massa yang sangat tinggi. Massa sirius B diperkirakan
2,09 x 1030 kg dengan jari-jari 5,57 x 103 km. (Sebagai perbandingan, matahari dengan
massa 1,05 massa Sirius memiliki jari-jari 7 x 105 km, lebih dari 100 kali jari-jari Sirius B)
Sumber energi dalam bintang katai putih adalah reaksi termonuklir berantai yang mengubah
hidrogen menjadi helium. Jika satu inti helium terdiri atas 4 nuklen (2 proton dan 2 netron)
dengan massa 1, 67 x 10-27 kg, maka jumlah nukleon dalam bintang sirius B adalah

2,09 x 10 30
Nn = = 1,25 x 10 57
−27
1,67 x 10

Pengabaian massa elektron dalam pers. di atas dibenarkan karena massa elektron jauh lebih
kecil dibanding massa nukleon. Karena satu atom terdiri atas inti dengan 4 nukleon dan 2
elektron luar, maka dalam keadaan terionisasi sempurna, jumlah elektron helium adalah
N e = x N n = 0,5 N n
Selanjutnya kita dapat memperlakukan elektron sebagai gas Fermi dengan energi:
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 165

2/3
h 2  3 xN n 
ε F0 =  
2m  8πV 
Dengan substitusi m massa elektron, x=0,5, Nn rapat nukleon, g=(2s+1)=2, dan V volume
sirius B diperoleh:

ε F = 5,3 x 10 −4 J = 0,33 MeV

harga yang diperoleh cukup dekat dengan massa elektron diam 0,51 MeV. Temperatur
Fermi untuk Sirius B adalah 3,8 x 109 K. Karena temperatur titik tengah sirius B
diperkirakan 2 x 107 K, berarti T<<TF sehingga gas elektron dalam sirius B terdegenerasi.

4.5 Paramagnetisme Pauli

Bila tidak ada medan magnet, tidak ada momen magnetik total yang diakibatkan
oleh spin elektron. Bila medan magnetik H diterapkan pada metal maka elektron yang
memiliki momen spin magnetik searah dengan arah medan akan mendapatkan energi
magnetik sebesar
∆ε = 2 µ B H (5-35)
lebih kecil dari energi elektron yang momen spin magnetiknya berlawanan arah dengan
medan magnet. Di sini µB adalah magneton Bohr, yaitu momen magnetik yang
diakibatkan oleh spin elektron. Dalam medan magnet, momen tersebut bisa searah atau
berlawanan arah dengan medan. Karena perbedaan energi dari kedua keadaan spin,
maka beberapa elektron dengan spin berlawanan arah medan akan merubah arah
orientasinya sehingga jumlah elektron yang momen spinnya searah medan menjadi
lebih banyak dari yang berlawanan arah.
Diagram tingkat energi untuk kedua keadaan spin elektron pada nol mutlak
diperlihatkan pada gambar 5.10 dengan g(ε) diberikan oleh pers. (5-14). Tanda panah
atas menunjukkan elektron dengan spin –½ searah dengan medan magnet, sedang panah
bawah menunjukkan spin ½ berlawanan arah dengan medan magnet. Rapat keadaan
energi dituliskan sebagai ½ g(ε) karena pada mulanya hanya separuh elektron yang
memiliki spin searah dengan medan magnet sedang separuh yang lain berlawanan arah.
Bila tidak ada medan luar, jumlah elektron pada kedua keadaan spin sama
dengan tingkat energi tertinggi εF0 (gambar 5.10a). Kehadiran medan luar menyebabkan
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 166

tingkat energi spin yang searah dengan medan turun dengan nilai µBH sedang yang
berlawanan arah akan naik sebesar µBH (gambar 5.10b). Kenaikan menyebabkan
beberapa elektron memiliki energi lebih besar dari εF0. Dalam keadaan setimbang,
beberapa elektron akan menata kembali orientasinya sehingga energinya tidak melebihi
εF0 (gambr 5.10c). Karena µ B H << ε F 0 untuk semua keadaan magetik, maka jumlah
elektron yang mengalami reorientasi adalah:
ε F 0 + µBH
∆n = ∫ 1 / 2 g (ε ) dε ≅ 1 / 2 g (ε F 0 ) µ B H (5-36)
εF 0

H=0 H ≠ 0, T = 0 H ≠ 0, T ≠ 0
ε
ε ε

εF0

2µBH

½ g(ε) ½ g(ε) ½ g(ε) ½ g(ε) ½ g(ε) ½ g(ε)

Gambar 5.10 Variasi tingkat energi akibat kehadiran medan magnetik luar H (Daerah yang ditempati
elektron ditunjukkan oleh area terarsir, panah ke atas untuk spin searah dan panah ke bawah untuk spin
berlawanan arah). (a) distribusi elektron tanpa kehadiran medan luar. (b) Perubahan tingkat energi bila
medan luar tiba-tiba diterapkan. (c) Penataan kembali elektron pada energi terendah bila medan terjaga
pada nilai H.

Sekarang tiap elektron yang mengalami reorientasi akan merubah momennya


dari -µB menjadi +µB, sehingga perubahan totalnya adalah 2µB. Dengan demikian
kelebihan momen yang diakibatkan penataan kembali elektron adalah:

M = ∆n 2 µ B H = µ B H g (ε F 0 )
2
(5-37)
Dan momen magnetik per unit volume dari gas elektron adalah:
M g (ε F 0 )
= µB H
2
m= (5-38)
V V
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 167

Karena momen ini searah dengan arah medan magnet luar, maka momen ini memiliki
kontribusi paramagnetik pada momen magnet total logam.
Suseptibilitas magnetik yang bersesuaian dengan (5-38) adalah:
m 2 g (ε F 0 ) 2 3 N 3 n
χp = = µB = µB = µB2 (5-39)
H V 2 V ε F0 2 ε F0

di mana telah dipakai ungkapan ε F 0 dari (5-29). Gejala terakhir ini dikenal sebagai
paramagnetisme Pauli atau paramagnetisme tak gayut temperatur untuk
membedakannya dari paramagnetisme gas yang gayut temperatur. Ketergantungan χp
pada temperatur hanya terjadi secara lemah melalui εF dan dapat diabaikan pada
jangkau temperatur tertentu.
Perlu dicatat bahwa suseptibilitas χp tidak hanya memiliki kontribusi pada gas
elektron, tetapi juga memiliki kontribusi pada diamagnetisme sebesar 1/3 χ. yang
muncul dari gerak translasi elektron di samping kontribusi dari inti. Hasil ini sekaligus
memperbaiki hasil yang diperoleh melalui model elektron bebas yang menunjukkan
ketergantungan yang kuat suseptibilitas terhadap temperatur. Hasil pengukuran yang
menunjukkan ketergantungan yang lemah suseptibilitas terhadap temperatur
menunjukkan bahwa elektron dalam gas harus ditangani dengan statistik FD.

 Contoh 5.7
Gas ideal tersusun atas N fermion pada volume V. Pada temperatur mendekati nol mutlak,
hitunglah (a) jumlah fermion pada masing-masing spin akibat adanya medan magnet , (b)
energi rata-rata partikel, dan (c) suseptibilitas spin Pauli.

Pemecahan
Akibat pengaruh medan magnet, energi fermion dengan spin ½ adalah:

p2
ε = + µB H (*)
2m
Pada T=0 K, seluruh fermion menempati keadaan dengan energi yang lebih rendah dari
energi Fermi. Dengan demikian sebaran energinya dalah:
0 ≤ ε ≤ ε F0 − µB H untuk partikel dengan spin negatif
0 ≤ ε ≤ ε F0 + µB H untuk partikel dengan spin positif

Sehingga jumlahnya menjadi:


Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 168

4πV  1 
N+ = p+ 3  p+ 2 = ε F 0 + µ B H 
3
3h  2m 
dan jumlah totalnya adalah:

N = N+ + N− =
3πV (2m )3 / 2
3h 3
[(ε F0 + µ B H )3 / 2 + (ε F 0 − µ B H )3 / 2 ]
Dapat dibuktikan bahwa untuk H=0, akan diperoleh harga εF0 seperti pada pers. (5-15).
Untuk menghitung energi rata-ratanya, dihitung terlebih dahulu momentumnya. Dari pers.
(*) diperoleh:

[ (
p + = 2m ε F 0 + µ B H )]1/ 2
Selanjutnya energinya dapat dihitung sebagai berikut:
E = ∫ε dN

Dengan memanfaatkan harga ε pada pers. (*) dan harga dN dari pers. (**), diperoleh:

4πV  p + µ B H p+ 3 
5
E+ = + 
h 3 10 m 3 

Sehingga energi rata-rata partikelnya adalah

ε =
E+ + E−
N
=
4πV  1
3 
h 10 m
(
µ H
p+ 5 + p− 5 + B
3
) (p +
3
)
− p− 3 

sedangkan suseptibilitas magnetik dapat dihitung sebagai berikut

m µ B (N − − N + ) 3 N µ B 2
χ = = =
H VH 2ε F 0 V

yang tidak lain adalah pers. (5-39).

4.6 Emisi Termionik

Seperti yang sudah diterangkan, elektron dalam logam dapat dianggap berada
dalam sumur potensial, di mana energi potensial elektron dalam logam adalah -ε0. Jika
sebuah elektron ingin melepaskan diri dari metal, elektron tersebut harus memiliki
energi kinetik εn lebih besar dari ε0 dengan εn adalah energi kinetik dalam arah normal
permukaan logam. Perbedaan energi (ε0 - εF) dengan ε0 adalah energi pada permukaan
logam dikenal sebagai fungsi kerja logam dan dilambangkan dengan φ.
Misalkan bidang batas metal adalah bidang y-z sehingga normalnya dalam arah x.
Sebuah elektron dengan energi
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 169

ε n = 1 / 2 mv x 2 ≥ ε 0 (5-40)
akan dapat meninggalkan logam dan berperan dalam emisi termionik.

Gambar 5.11 Energi potensial elektron sebagai fungsi jaraknya terhadap bidang batas metal
(a) model yang disederhanakan dan (b) model yang sebenarnya (Lay, 1990)

Jumlah elektron per satuan volume yang memiliki komponen kecepatan dalam
arah x dengan jangkau vx→ vx +dvx adalah:

∝ ∝ 
( )
n x (v x ) dv x =  ∫ ∫ n3 v x , v y , v z dv y dv z  dv x (5-41)
−∝ −∝ 
di mana
2m 3 dv x dv y dv z
( )
n3 v x , v y , v z dv x dv y dv z = 3 (ε −ε ) / kT (5-42)
h e F +1
Faktor dua muncul karena adanya dua jenis spin elektron.

εF
φ εF+kT
εF
ε0 εF-kT
εF

n(ε)

Gambar 5.12 (a) Elektron dalam sumur potensial sedalam ε0 (b) distribusi n(ε)

Karena hanya elektron dengan energi lebih besar dari ε0 –yang berarti juga
melebihi εF- berarti nilai eksponensialnya besar dan kita dapat mengabaikan faktor satu
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 170

pada penyebut (5-42). Selanjutnya dengan menuliskan energi kinetik elektron dalam
komponen kecepatan, pers. (5-42) dapat ditulis sebagai:

2m 3 εF   mv x 2 
n x (v x ) dv x = exp   exp − 
h3  kT   2kT 
 
(5-43)
∝  mv y 2  ∝  mv y 2 
x ∫ exp  − 2kT  dv y ∫ exp  − 2kT  dv z
 
0   0  
dengan memanfaatkan
∝  mv y 2   m 
1/ 2
 
∫ exp  − 2kT  dv y =  2πkT 
0    
diperoleh

4πkTm 2 εF   mv x 2 
n x (v x ) dv x = exp   exp  −  (5-44)
h3  kT   2kT 
 
Jumlah elektron yang meninggalkan permukaan logam per satuan luas per satuan waktu
dalam arah x pada jangkau vx→ vx +dvx adalah
v x n x (v x ) dv x
yang memenuhi syarat (5-40) dan dengan asumsi tidak ada elektron yang dipantulkan
pada permukaan logam. Dengan demikian rapat arus –yaitu arus per satuan luas- adalah
rapat muatan yang dibawa elektron tersebut dan dapat dinyatakan sebagai:
di = e v x n x (v x ) dv x (5-45)
di mana e adalah muatan elektron. Rapat arus total didapatkan dengan substitusi (5-44)
dalam (5-45) dan mengintegrasikannya sehingga diperoleh:

4πkTm 2 εF  ∝  mv x 2 
i = exp   ∫ exp  −  dv
h3  kT  vx  2kT  x
  (5-46)
4πkTm ε   ε 
2
= 3
exp  F  exp  − 0 
h  kT   kT 
Atau dapat disederhanakan sebagai:
i = A' T 2 e −φ / kT (5-47)
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 171

dengan A’ adalah kostanta Richardson dan φ = ε 0 − ε F adalah fungsi kerja logam. Pers.
(5-47) dikenal sebagai persamaan Richardson untuk rapat arus yang disebabkan emisi
termionik elektron dalam logam.

4.7 Membandingkan Tiga Distribusi (MB, BE, dan FD)

Secara umum, partikel hanya dapat dibedakan atas boson dan fermion. Boltzon
adalah bentuk pendekatan bagi keduanya pada kondisi tertentu. Untuk mengetahui
kondisi di mana perilaku klasik mulai muncul, kita tuliskan kembali bentuk distribusi
umum yang memenuhi ketiga statistik sebagai berikut:
gi gi
ni = = (5-48)
e −α e ε / kT + a e (ε − µ ) / kT + a
dengan a adalah konstanta yang nilainya +1 (FD), 0 (MB), dan –1 (BE). Bentuk plot
ni/gi sebagai fungsi -α + (ε/kT) disajikan pada gambar 5.13.

BE
MB
2
FD
ni/gi

0
-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5
-α+(εi/kT)

Gambar 5.13 Bilangan penempatan untuk ketiga distribusi

Dari persamaan (5-48) terlihat bahwa fermion dan boson akan berkelakuan
sebagai boltzon bila dipenuhi

e (ε − µ ) / kT >> 1 (5-49)
sehingga faktor +1 dapat diabaikan dan fungsi distribusinya menjadi distribusi MB.
Syarat (5-49) juga dapat ditulis sebagai
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 172

ni
<< 1 . (5-50)
gi
Syarat (5-50) menunjukkan bahwa pada kerapatan yang rendah, fermion dan boson akan
berperilaku sebagai boltzon.

 Contoh 5.8
Tinjaulah partikel O2 pada keadaan STP yang berada dalam kotak dengan volume V.
Tunjukkan bahwa pendekatan klasik dapat dipakai untuk menelaah partikel tersebut.

Penyelesaian
Untuk partikel tersebut energi translasinya adalah:
 h2 
Etrans =  (
 n 2 + n y 2 + nz 2
 8mV 2 / 3  x
)
 
Jika dibataskkan Emaks = 3kT, dan Etrans tidak pernah melebihi Emaks, maka dapat
disimpulkan bahwa jumlah keadaan kuantum dengan energi Etrans adalah sama dengan 1/8
volume bola yang jari-jarinya adalah:
1/ 2 1/ 2
( 2
rmaks = n x + n y + n z 2 2
)  8mV 2 / 3
=
 h2

E maks 

 8mV 2 / 3
= 
 h2

3kT 

   
Jumlah kedaaan kuantum yang bersesuaian adalah
3/ 2 3/ 2
1 4πrmaks
3
π  24mV 2 / 3 kT   mkT 
=  ≈ 60   V
8 3 6  h2 
  h2 
Supaya syarat (5-48) terjaga, harus dipenuhi
3/ 2 3/ 2
 mkT  1  h 2  N
60   V >> N atau << 1
 h2  60  mkT  V

Untuk kasus gas O2 pada keadaan STP diperoleh nilai suku kiri 4 x 10-8. Hasil ini
membenarkan pemakaian statistik MB untuk menangani kasus tersebut.

Syarat (5-49) juga dapat dipenuhi bila nilai potensial kimia µ sangat negatif.
Dari gambar 5.13 dapat dipahami bahwa boson dan fermion berperilaku sebagai boltzon
bila dipenuhi
(ε − µ ) / kT ≥ 3 (5-51)
atau
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 173

µ ≤ − 3kT + ε (5-52)
Kurva potensial kimia untuk fermion dan boson disajikan pada gambar 5.14.
Pada temperatur yang rendah keduanya memiliki bentuk yang berbeda. Dengan
naiknya temperatur, nilai µ semakin turun dan menjadi negatif setelah melewati
temperatur tertentu yang dibataskan sebagai:

Gambar 5.14. Kurva potensial kimia untuk fermion dan boson

3/ 2 3/ 2
2πh  N  3,31 h 2  N 
TB =   =   (4-63)
mk  2,612 g V  mk  gV 
2/3
h 2  3N 
TF =   (5-16)
2mk  8πV 
dengan indeks B untuk boson dan F untuk fermion. Pada gambar 5.12 dipakai batasan
T0 sebagai berikut:
2/3
h2  N 
T0 =   (5-53)
2mk  2πVg 

Pada temperatur yang tinggi terlihat bahwa kurva µ berimpit. Pada temperatur tersebut
perbedaan antara fermion dan boson tidak tampak lagi, dan keduanya berperilaku
sebagai boltzon. Di atas temperatur tersebut, akan dipenuhi
 2πmkT 3 / 2 gV 
µ = − kT ln  
2 
 (5-54)
  h  N 
 
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 174

Syarat (5-52) sebanding dengan (5-50).


Secara umum dapat disimpulkan bahwa perilaku klasik akan muncul bila
partikel berada pada kerapatan yang rendah dan temperatur yang tinggi.
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 175

Ringkasan
1. Bobot konfigurasi dari fermion dipengaruhi oleh sifat partikelnya, yang tak terbedakan dan tak
mau berkeadaan sama. Jumlah konfigurasi dari ns fermion yang terdistribusi pada gs keadaan
energi (dengan gs>ns), sama dengan jumlah kombinasi dari ns keadaan yang terisi dari gs
keadaan yang tersedia. Secara matematis, hal tersebut dapat dinyatakan sebagai kombinasi dari
gs!
gs, diambil ns, dan menghasilkan bilangan C g1 = . Jika bilangan tersebut
n s !( g s − n s )!
ns

dikombinasikan dengan bilangan yang sama pada seluruh s tingkat energi yang ada, akan
menghasilkan bobot konfiguarsi untuk suatu keadaan makro, sbb

g s!
W =∏ .
s (g s − n s )!n s !

Bobot konfigurasi bersifat khas untuk setiap makro. Keadaan makro termungkin ditandai oleh
bobot konfonfigurasi terbesar. Seperti halnya pada statistik MB dan BE, kita dapat menghitung
bobot konfigurasi total, peluang menemukan partikel pada tingkat tertentu, serta entropi sistem.

2. Secara matematis, keadaan makro termungkin, terjadi pada saat nilai differensialnya sama
dengan nol. Di samping itu, ada syarat fisis terkait dengan keadaan asembel, yaitu jumlah
partikel total dan energi totalnya harus konstan. Perpaduan ketiga syarat tersebut menghasilkan
distribusi menurut energi:

gs
ns = − (α +βε s )
.
e +1

Distribusi di atas dicirikan dengan kehadiran faktor +1 pada penyebutnya, dan dikenal sebagai
distribusi Fermi-Dirac, mengacu pada dua kontributornya. Secara umum, fungsi distribusi dapat
dituliskan sebagai

gs
ns = − (α +βε s )
e +a

Dengan a=1 untuk statistik FD, a=-1 untuk statistik BE , dan a=0 untuk statistik MB.

3. Salah satu bentuk distribusi yang dikenal, adalah distribusi menurut energinya, sbb

3/ 2
 2m  ε1 / 2
n(ε )dε = 4πV  2  dε .
h  exp((ε − ε F ) / kT ) + 1
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 176

4. Seperti pada statistik MB dan BE, kita dapat memanfaatkan distribusi tersebut untuk mencari
harga rata-rata, mencari nilai maksimum, serta mencari fraksi partikel dengan nilai besaran pada
rentang tertentu.

5. Distribusi Fermi-Dirac, dapat dipakai untuk memahami berbagai fenomena fisis, antara lain gas
elektron dalam logam (panas jenis elektron, paramagnetisme, dan emisi termionik), bintang
katai, netron, dan proton.
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 177

Soal latihan:

1. Misalkan terdapat 7 partikel fermion dengan energi total 6 eV. Bila partikel tersebut dapat
menduduki 5 pita energi dengan ε s = (s − 1)eV , dan gs=3, tentukan (a) Jumlah makrostat (k), (b)
Bobot konfigurasi untuk tiap makrostat (Wk), makrostat termungkin, bobot konfigurasi total (W), (c)

serta bilangan penempatan rata-rata ( ns ) dan bilangan penempatan total N. Berikan komentar

saudara.
2. Kerjakan hal yang sama dengan no.1, tetapi dengan emergi total 7 eV. Berapakah perubahan
entropinya? Jika digunakan hubungan dQ = TdS , hitunglah temperature sistem.
3. Kerjakan hal yang sama dengan no.1 bila partikelnya boltzon dan boson. Bandingkan hasilnya.
4. Perlihatkan bahwa laju rata-rata dari sebuah elektron dalam gas elektron pada temperatur nol mutlak
sama dengan ¾ vF di mana vF adalah laju elektron pada energi Fermi
5. Hitunglah energi dan temperatur Fermi untuk elektron valensi dalam logam natrium jika valensi
natrium 1, kerapatannya 0,97 g cm-3 dan berat molekulnya 23.
6. Perlihatkan bahwa untuk gas yang molekulnya berkelakuan sebagai fermion, nilai energi Ferminya

 Nh 3 
mendekati ε F ≅ kT ln .
 V (2πmkT )3 / 2 
 
7. Buktikan pers. (5-24)
8. Perak memiliki energi Fermi 5,5 eV pada T=0 K. Berapakah energi Ferminya pada 300 K dan
berapakah koreksinya?
9. Fungsi kerja logam φ adalah energi minimum yang diperlukan untuk memindahkan sebuah elektron
dari material. Pada T=0K, perak memiliki energi Fermi 5,5 eV dan fumgsi kerja logam 4,6 eV.
Berapakah energi yang diperlukan sebuah elektron untuk menjadi elektron bebas? Bagaimanakh
prospek metal untuk menjadi pemancar elektron jika disinari dengan cahaya inframerah (7000 A)?
10. Jika energi elektron dibataskan sebagai

ε = ∫ ε n(ε ) dε
hitunglah energi elektron pada temperatur rendah.
11. Matahari bermassa 2 x 1030 kg dan berjari jari 7 x 108 m. anggaplah matahari terdiri atas hidrogen
yang terionisasi sempurna pada T=107 K. (a) carilah energi Fermi gas proton dan gas elektron dalam
matahari (b) bandingkan energi ini dengan kT untuk melihat gas mana yang terdegenerasi (kT << εF
sehingga hanya sedikit partikel yang berenergi lebih besar dari εF) atau tak terdegenerasi (kT >> εF
sehingga hanya sedikit partikel yang berenergi lebih kecil dari εF dan partikel tersebut berperilaku
sebagai partikel klasik).
12. Tinjaulah sebuah bintang kerdil putih yang massanya setengah kali massa matahari dan jari-jarinya
0,01 jari-jari matahari. Andaikan bintang itu terdiri dari atom karbon yang terionisasi sempurna
Abdurrouf Statistik Fermi – Dirac - 178

(massa 12 u) sehingga terdapat 6 elektron per inti dan temperatur bagian dalamnya 107 K, (a) carilah
energi Fermi gas inti dan gas elektron, (b) bandingkan energi ini dengan kT sehingga dapat diketahui
gas manakah yang terdegenerasi.

3 GM 2
13. Energi potensial gravitasional bola bermassa M dan jari-jari R adalah E g = − . Tinjaulah
5 R
bintang kerdil putih yang berisi N elektron yang energi Ferminya εF. Karena kT << εF energi elektron
rata-rata adalah sekitar 3/5 εF dan energi elektron totalnya adalah Ee = 3/5 NεF. Energi inti dapat
diabaikan terhadap Ee sehingga energi totalnya adalah E = Eg + Ee. (a) carilah jari-jari kesetimbangan
bintang (b) cari R untuk bintang yang massanya setengah kali massa matahari dan terdiri dari atom
karbon yang terionisasi sempurna.
14. Salah satu ungkapan untuk energi Fermi sebagai fungsi T dikemukakan pertama kali oleh
Sommerfeld sebagai berikut:
 π 2  T 
2
π4  T 
4 
ε F = ε F 0 1 −   +   + ....
 12  TF  80  TF  

Turunkan ungkapan tersebut dan berilah batasan kesahihan persamaan (5.24)


15. Ungkapan untuk energi total dapat dituliskan sebagai

3
E = N  εF0 +
(kT )2 π 2 

 5 ε F 0 4 

Turunkan ungkapan tersebut dan berilah batasan kesahihan persamaan (5.32)


16. Jika sebuah metal dikenai medan listrik ε dengan memberikan beda potensial, maka keadaanya dapat
diungkapkan oleh:
 τe  ∂F
F = F0 −  ε
 m  ∂v x
yang merupakan persamaan Transport Boltzmann satu dimensi, dengan F0 adalah fungsi distribusi
Fermi. Dengan menggunakan persamaan tersebut, turunkan ungkapan untuk konduktivitas listrik
logam.

Anda mungkin juga menyukai