Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Diare diartikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk
cairan atau setengah cair (setengah cair setengah padat), kandungan air pada tinja
lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24jam. Defenisi lain
memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari.
Buang air besar encer tersebut dapat atau tanpa desertai lendir dan darah. Diare
merupakan kondisi ketika individu mengalami atau beresiko mengalami pengeluaran
feses cair atau tidak berbentuk secara sering.
BAB lebih dari tiga dengan konsistensi cair. Atas dasar lamanya terjadi diare
dibedakan diare akut dan diare kronik. Diare akut adalah diare yang awitannya
mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam atau hari, dapat sembuh
kembali dalam waktu relatif singkat atau kurang dari 2 minggu. Sedangkan diare
kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu.
B. ETIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
1. Gangguan osmotik
Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang
usus untuk mengeluarkanya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsang tertentu (Misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus selanjutnya timbul diare
karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motalitas usus
Hiperpristaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap
makan seingga timbul diare. Sebaliknya bila pristaltik menurun akan mengakibatkan
bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula. Penyebab diare pada orang
dewasa berbeda dengan pada anak-anak. Kalau pada anak-anak disebabkan virus,
sedangkan kalau orang dewasa disebabkan bakteri, karena memang salah makan,
gangguan pencernaan malabsorpsi, pengaruh obat-obatan (pencahar) dan faktor
stres.
Diare pada dewasa disebabkan makanan dan minuman yang tercemar
kuman, seperti Eschericia coli (patogen), Salmonella sp, Shigella, virus, parasit
seperti amuba, beberapa jamur seperti Candida sp.
Obat-obatan juga bisa menyebabkan diare, yaitu obat-obatan yang bekerja
meningkatkan gerakan peristaltik usus atau mengencerkan feses seperti obat
pencahar. Kelebihan obat pencahar menyebabkan diare. Ada hubungan usus
dengan otak, karena stres memberikan impuls-impuls ke usus untuk meningkat
gerakan peristaltiknya. Keadaan ini bisa menyebabkan diare. Selain penyebab yang
telah dijabarkan, obat-obatan juga dapat menjadi penyebab terjadinya diare. Berikut
adalah obat-obatan yang sering menimbulkan diare.
Obat-obatan yang Sering Menimbulkan Diare
Obat-obatan Gastrointestinal : Preparat kemoterapeutik,
- Antacid yang mengandung Preparat hipolipidemik :
magnesium. - Klofibrat.
- Laksansia. - Gemfibrozil.
- Misoprostol. - Lovastatin.
- Olsalazin. - Probukol.

Obat-obatan Jantung : Obat-obatan neuropsikiatrik :


- Digitalis. - Lirium.
- Quinidin. - Fluoksetin (Prozac).
- Prokainamid. - Alprazolam (Xanac).
- Hidralazin. - Asam valproat.
- Diuretic. - Etosuksimid.
- L-Dopa.
Antibiotik : Lain-lain :
- Klindamisin. - Teofilin.
- Ampisilin. - Hormone tiroid.
- Sefalosporin. - Kolkisin.
- Eritromisin. - Obat-obatan antiinflamasi
nonsteroid.
Penyebab diare yang lain dapat dibagi dalam beberapa faktor:
1. Infeksi
a. Infeksi entral : ialah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab
diare pada anak meliputi infeksi interal sebagai berkut :
 Infeksi bakteri : vibrio, E. coli, Salmonella, Sigela, Campylobakteri, Yersenia,
Aerromonas dan sebagainya.
 Infeksi virus : Entro virus, adenovirus, Rotavirus, Astovirus dll.
 Infeksi parasit : Cacing protozoa dan jamur.
b. Infeksi Parentral ialah ineksi diluar alat pencernaan makan seperti otitis media akut
(OMA) tonsillitis / tonsiloparingitis, bronkhopnemonia , encephalitis, dsb. Keadaan ini
terutama tedapat pada anak kurang dari 2 tahun
2. Faktor Malabsorsi
a. Malabsorbsi karbohidrat
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi Protein
3. Faktor makanan: Makanan basi, beracun alergi terhadap makanan.
4. Psikologis : rasa takut dan cemas.
C. TANDA DAN GEJALA
Pada umumnya pasien dengan diare menunjukan tanda dan gejala berupa:
1. Gelisah dan sering ke kamar mandi (BAB).
2. Suhu tubuh meningkat akibat infeksi virus, bakteri maupun parasit.
3. Nafsu makan menurun atau tidak ada.
4. Tinja cair mungkin disertai ledir atau kadang lendir dan darah.
5. Timbul iritasi pada sekitar anus pada diare yang lama.
6. Muntah kadang juga timbul akibat gerakan peristaltic yang kuat sehingga terjadi
regurgitasi isi lambung melalui warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan
karena bercampur dengan empedu.
D. PATOFISIOLOGI
Pada dasarnya diare terjadi oleh karena terdapat gangguan transport
terhadap air dan elektrolit di saluran cerna. Mekanisme gangguan tersebut ada 5
kemungkinan sebagai berikut (Isselbacher, et al., 1999) :
1. Diare akut
Diare infeksius yang akut menjadi penyebab utama malnutrisi kalori protein
dan dehidrasi. Penyakit diare infeksius dapat menular melalui makanan atau air
yang tercemar.
2. Diare kronik
a. Diare Inflamatorik
Diare Inflamatorik terlihat pada pasien enterokolitis radiasi yang kronik
sebagai akibat dari tindakan irdiasi pelvis untuk mengatasi malignitas pada
traktus urogenital perempuan atau prostat laki-laki. Diare inflamatorik
umumnya ditandai oleh gejala panas, nyeri tekan abdomen, adanya darah
atau leukosit di dalam tinja dan lesi inflamatorik yang terlihat pada biopsy
mukosa intestinal. Diare pada penyakit usus inflamatorik dapat terjadi akibat
kerusakan epitel permukaan usus berfungsi untuk penyerapan di samping
zat-zat sekretorik ke dalam sirkulasi darah pankretikus.
b. Diare Osmotik
Diare osmotik terjadi saat larutan yang ditelan tidak diserap seluruhnya
dalam usus sehingga timbul kekuatan osmotik yang akan menarik cairan ke
dalam lumen intestinal. Peningkatan lemak volume cairan di dalam lumen
usus melebihi kemampuan kolon untuk penyerapan kembali. Larutan yang
tidak terserap dapat berupa nutrient atau obat yang mengalami maldigesti
dan malabsorpsi. Gejala klinis biasanya dikenal karena malabsorpsi lemak
(steatore) atau karbohidrat.
c. Diare Sekretorik
Diare sekretorik atau biasa juga disebut dengan watery diarrhea
ditandai oleh volume feses yang besar akibat transportasi cairan dan elektrolit
yang abnormal tetapi tidak berhubungan dengan makanan. Karena cairan
diare pada keadaaan ini merupakan larutan yang tidak terserap, osmolalitas
feses pada diare sekretorik dapat diukur berdasarkan unsure ion normal
tanpa kesenjangan osmotik pada feses.
d. Perubahan Motilitas Usus
Diare dapat dihubungkan dengan gangguan motilitas usus, yaitu
sindroma usus iritatif, di mana diare tipikal berubah dengan konstipasi dan
mungkin disertai dengan nyeri abdomen, lewatnya mucus dan rasa evakuasi
tak lengkap. Diare kadang-kadang terjadi secara paradoksal sebagai hasil
pemadatan fekal atau tumor yang menyumbat dengan aliran berlebihan isi
kolon cairan sekitar obstruksi atau feses yang terjepit.
e. Pseudodiare
Diare semu (faktisius) mengalami induksi sendiri oleh pasien dan dapat
diakibatkan oleh infeksi usus, tambahan air, urin atau feses atau pengobatan
sendiri dengan laksatif. Pasien terutama perempuan dengan diare berair
kronik yang berat, nyeri abdomen, mual dan muntah, edema perifer dan
kelemahan akibat hipokalemia.
D. MANIFESTASI KLINIS
Anus dan sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama
makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktose
yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah sebelum dan sesudah
diare dan dapat menyebabkan lambung juga turut meradang, atau akibat gangguan
asam basa dan elektrolit.
Timbul dehidrasi akibat kebanyakan kehilangan cairan dan elektrolit. Gejala
dehidrasi mulai nampak yaitu berat badan menurun turgor mata cekung dan ubun-
ubun besar menjadi cekung ( pada bayi dan tidak terjadi pada lansia), selaput lendir
bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Akibat dehidrasi diuresis berkurang (
oliguri sampai anuri). Bila sudah asidosis metabolis pasien akan tampak pucat
dengan pernapasan cepat dan dalam (kussmaul). Asidosis metabolisme karena:
1. Kehilangan NaCO3 melalui tinja diare.
2. Ketosis kelaparan.
3. Produk- produk metabolic.
4. Berpindahnya ion natrium dari cairan intra sel ke ekstrasel.
5. Penimbunan laktat ( anoksia jaringan ).
E. KOMPLIKASI
Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama,
terutama pada usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera kehilangan
cairan secara mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. Kehilangan
elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolik.
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi
berbagai komplikasi sebagai berikut:
1. Dehidrasi ( Ringan, berat hipotenik, isotonik hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik
3. Hipoglikemi
4. Intoleransi sekunder akibat kerusakan filimukosa usus dan defisiensi
enzim laktase
5. Hipokalemia
6. Kejang terjadi akibat dehidrasi hipertonik
7. Malnutrisi energi protein.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pasien dengan diare berat, demam, nyeri abdomen, atau kehilangan cairan
harus diperiksa kimia darah, natrium, kalium, klorida, ureum, kreatinin, analisa gas
darah dan pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan radiologis seperti
sigmoidoskopi, kolonoskopi dan lainnya biasanya tidak membantu untuk evaluasi
diare akut infeksi. Adapun pemeriksaan diagnosis yang lain yaitu :
1. Pemeriksaan tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. PH dan kadar gula dalam tinja
c. Bila perlu diadakan uji bakteri
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan
menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.
E. MANAJEMEN TERAPI
1. Penggantian Cairan dan elektrolit
Aspek paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga hidrasi
yang adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. Ini dilakukan
dengan rehidrasi oral, dimana harus dilakukan pada semua pasien kecuali
yang tidak dapat minum atau yang terkena diare hebat yang memerlukan
hidrasi intavena yang membahayakan jiwa. Idealnya, cairan rehidrasi oral
harus terdiri dari 3,5 g Natrium klorida, dan 2,5 g Natrium bikarbonat, 1,5 g
kalium klorida, dan 20 g glukosa per liter air. Cairan seperti itu tersedia secara
komersial dalam paket-paket yang mudah disiapkan dengan mencampurkan
dengan air. Jika sediaan secara komersial tidak ada, cairan rehidrasi oral
pengganti dapat dibuat dengan menambahkan ½ sendok teh garam, ½
sendok teh baking soda, dan 2 – 4 sendok makan gula per liter air. Dua
pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Pasien
harus minum cairan tersebut sebanyak mungkin sejak mereka merasa haus
pertama kalinya. Jika terapi intra vena diperlukan, cairan normotonik seperti
cairan saline normal atau laktat Ringer harus diberikan dengan suplementasi
kalium sebagaimana panduan kimia darah.
Status hidrasi harus dimonitor dengan baik dengan memperhatikan
tanda-tanda vital, pernapasan, dan urin, dan penyesuaian infus jika
diperlukan. Pemberian harus diubah ke cairan rehidrasi oral sesegera
mungkin. = BD Plasma – 1,025 X Berat badan (Kg) X 4 ml
0,001
Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis :
- Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% X KgBB
- Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% X KgBB
- Dehidrasi berat, kebutuhan cairan 10% X KgBB
2. Anti biotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare
akut infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari
tanpa pemberian anti biotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada :
Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah,
leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan,
persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong,
dan pasien immunocompromised. Pemberian antibiotik secara empiris dapat
dilakukan, tetapi terapi antibiotik spesifik diberikan berdasarkan kultur dan
resistensi kuman.
Organisme Pilihan pertama Pilihan kedua
Campylobacter, shigella Ciprofloksasin 500 mg Salmonella/shigella :
atau Salmonella spp. oral Ceftriaxon 1gr IM/IV
2x sehari, 3-5 hari sehari
TMP-SMX DS oral 2x
sehari, 3 hari.
Campilobakter spp :
Azithromycin, 500 mg
oral
2x sehari
Eritromisin 500 mg oral
2x
sehari, 5 hari.
Vibrio Cholera Tetrasiklin 500 mg oral Resisten tetrasiklin :
4x sehari, 3 hari. Ciprofloksacin 1gr oral
Doksisiklin 300 mg oral 1x
dosis tunggal. Eritromisin 250 mg oral
4x
sehari 3 hari.
Traveler diarrhea Ciprofloksacin 500 mg TMP-SMX DS oral 2x
sehari, 3 hari.
Clostridium difficile Metronidazole 250-500 Vancomycin, 125 mg
mg 4x sehari, 7-14 hari, oral 4x
oral atau IV sehari 7-14 hari
3. Obat anti diare
a. Kelompok antisekresi selektif
Terobosan terbaru dalam milenium ini adalah mulai tersedianya secara
luas racecadotril yang bermanfaat sekali sebagai penghambat enzim
enkephalinase sehingga enkephalin dapat bekerja kembali secara normal.
Perbaikan fungsi akan menormalkan sekresi dari elektrolit sehingga
keseimbangan cairan dapat dikembalikan secara normal. Di Indonesia saat ini
tersedia di bawah nama hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru
anti diare yang dapat pula digunakan lebih aman pada anak.
b. Kelompok opiat
Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid HCl serta
kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat (lomotil). Penggunaan kodein adalah
15-60mg 3x sehari, loperamid 2 – 4 mg/ 3 – 4x sehari dan lomotil 5mg 3 – 4 x
sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi,
peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses
dan mengurangi frekwensi diare.Bila diberikan dengan cara yang benar obat
ini cukup aman dan dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila
diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri obat ini tidak
dianjurkan.
c. Kelompok absorbent
Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat, pektin, kaolin, atau
smektit diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyeap bahan
infeksius atau toksin-toksin. Melalui efek tersebut maka sel mukosa usus
terhindar kontak langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi
elektrolit.
d. Zat Hidrofilik
Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta, Psyllium,
Karaya (Strerculia), Ispraghulla, Coptidis dan Catechu dapat membentuk
kolloid dengan cairan dalam lumen usus dan akan mengurangi frekwensi dan
konsistensi feses tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan cairan dan
elektrolit. Pemakaiannya adalah 5-10 cc/ 2x sehari dilarutkan dalam air atau
diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet.
e. Probiotik
Kelompok probiotik yang terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria
atau Saccharomyces boulardii, bila mengalami peningkatan jumlahnya di
saluran cerna akan memiliki efek yang positif karena berkompetisi untuk
nutrisi dan reseptor saluran cerna. Syarat penggunaan dan keberhasilan
mengurangi/menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah yang
adekuat.

BAB II
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Riwayat PerjalananPenyakit
a. Pola aktivitas dan istirahat
Os mudah lelah karena mengalami dehidrasi diuresis. Meningkatnya
metabolisme karena infeksi dalam tubuh dapat menyebabkan
hypertermia.
b. Pola nutrisi
Makanan yang terakhir dimakan sehingga menimbulkan gejala diare.
Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan. Turgor
kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
Jumlah pernafasan meningkat karena dehirasi yang menyebabkan
asidosis metabolic. Gangguan pertukaran gas dapat pula berisiko syok
hipovolemi.
2. Riwayat Penyakit Sebelumnya:
a. Pernah sakit gangguan pencernaan sebelumya
b. Riwayat kontak dengan makanan atau lingkungan yang kurang
hiegene
c. Daya tahan tubuh yang menurun.
3. Riwayat Pengobatan Sebelumnya:
a. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan
sakitnya.
b. Jenis, warna, dosis obat yang diminum.
4. Riwayat Sosial Ekonomi:
a. Riwayat tempat tinggal dan gaya hidup
b. Aspek psikososial. Os mengalami stress banyak tekanan.
5. Faktor Pendukung:
a. Riwayat lingkungan.
b. Pola hidup.
Nutrisi, kebersihan diri, pola makan
c. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang
penyakit, pencegahan, pengobatan dan perawatannya.
B. MASALAH YANG LAZIM MUNCUL
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan memberan
alveolar-kapiler
2. Diare berhubungan dengan proses infeksi dan inflamasi diusus
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
4. Resiko kerusakan integritas (kulit) faktor resiko kurang volume cairan
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan intake makanan
6. Resiko syok
C. DIAGNOSA DAN RENCANA KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
1 Gangguan pertukaran gas Respiratory Status: Gas Acid-base Management
berhubungan dengan perubahan Exchange - Pertahankan akses intravena
membran alveolar-kapiler Setelah dilakukan intervensi selama - Pertahankan kepatenan jalan napas
Batasan karakteristik: ...x...jam, klien dapat mencapai - Monitor AGD dan kadar elektrolit
- Diaforesis status respirasi berupa pertukaran - Monitor status hemodinamik
- Dispnea gas, dengan indikator: - Monitor kehilangan asam (muntah,
- Gangguan penglihatan - Status mental baik output NGT, diare, diuresis)
- Gas darah arteri abnormal - Mudah bernapas - Monitor kehilangna bikarbonat
- Gelisah - Dyspnea saat istirahat tidak - Posisikan untuk memfasilitasi
- Hiperkapnia terjadi ventilasi adekuat (buka jalan napas,
- Hipoksemia - Restlessness tidak terjadi naikkan kepala tempat tidur)
- Hipoksia - Sianosis tidak terjadi - Monitor tanda gagal napas (PaO2
- Iritabilitas - Somnolen tidak terjadi rendah, PaCO2 meningkat, otot
- Konfusi - PaO2, PaCO2, pH arterial, pernapasan fatigue)
- Nafas cuping hidung saturasi O2 dbn - Monitor pola napas
- Penurunan CO2 - Perfusi-ventilasi seimbang - Monitor determinant transport
- pH arteri abnormal oksigen ke jaringan/organ (PaO2,
- pola nafas abnormal SaO2, Hb, CO)
- sakit kepala saat bangun - Sediakan terapi oksigen
- sianosis - Monitor determinan konsumsi
- somnolen oksigen (SvO2, avO2)
- takikardia - Ambil spesimen sesuai order untuk
- warna kulit abnormal pemeriksaan keseimbangan asam-
basa (AGD, urine, serum)
- Monitor perburukan kondisi
ketidakseimbangan elektrolit
- Kurangi konsumsi O2 (tingkatkan
kenyamanan, cegah demam, kurangi
kecemasan)
- Monitor tingkat kesadaran
2 Diare berhubungan dengan Bowel Continence Diarrhea Management
proses infeksi dan inflamasi Bowel Elimination - Análisis riwayat diare
diusus Setelah di berikan tindakan - Evaluasi pengaruh status medikasi
Batasan karakteristik: keperawatan selama ...x..., terhadap pencernaan
- Ada dorongan untuk diharapkan diare teratasi dengan - Instruksikan keluarga atau pasien
defekasi kriteria hasil: untuk mencatat warna, volumen,
- Bisimg usus hiperaktif - Pola eleminasi normal frekuensi, dan konsistensi fese
- Defekasi feses cair >3 kali - Warna feses norma - Evaluasi kandungan gizi dari
dalam 24 jam - Bentuk feses normal makanan pasien
- Kram - Bising usus normal - Anjurkan pasien untuk
- Nyeri abdomen menghindari makanan pedas dan
mengandung gas
- Anjurkan pasien untuk mencoba
menghindari makanan atau
minuman mengandung laktosa
- Identifikasi faktor yang
memungkinkan terjadi diare
- Monitor tanda dan gejala diare
- Observasi keadaan turgor kulit
- Hitung BB pasien
- Konsultasikan ke dokter penyebab
terjadinya diare pasien
- Instruksikan menghindari laxative
- Diskusikan kepada pasien untuk
menurunkan stres
3 Kekurangan volume cairan Fluid balance Fluid Management
berhubungan dengan kehilangan Hydration - Pertahankan catatan intake dan
cairan aktif. Nutritional Status : Food and output yang akurat
Batasan karakteristik: Fluid Intake - Monitor status hidrasi (
- Haus Setelah dilakukan tindakan kelembaban membran mukosa,
- Kelemahan keperawatan selama ...x..., nadi adekuat, tekanan darah
- Kulit kering diharapkan defisit volume cairan ortostatik ), jika diperlukan
- Membran mukosa kering teratasi dengan kriteria hasil: - Monitor hasil lab yang sesuai
- Peningkatan frekuensi nadi - Mempertahankan urine output dengan retensi cairan (BUN , Hmt ,
- Peningkatan hematokrit sesuai dengan usia dan BB, BJ osmolalitas urin, albumin, total
- Peningkatan konsentrasi urine normal, protein )
urine - Tekanan darah, nadi, suhu tubuh - Monitor vital sign setiap 15menit –
- Peningkatan suhu tubuh dalam batas normal 1 jam
- Penurunan BB secara tiba- - Tidak ada tanda tanda dehidrasi, - Kolaborasi pemberian cairan IV
tiba Elastisitas turgor kulit baik, - Monitor status nutrisi
- Penurunan haluaran urine membran mukosa lembab, tidak - Berikan cairan oral
- Penurunan pengisian vena ada rasa haus yang berlebihan - Berikan penggantian nasogatrik
- Penurunan tekanan darah - Orientasi terhadap waktu dan sesuai output (50 – 100cc/jam)
- Penurunan tekanan nadi tempat baik - Dorong keluarga untuk membantu
- Penurunan turgor kulit - Jumlah dan irama pernapasan pasien makan
- Penurunan turgor lidah dalam batas normal - Kolaborasi dokter jika tanda cairan
- Penurunan volume nadi - Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas berlebih muncul meburuk
- Perubahan status mental normal - Atur kemungkinan tranfusi
- pH urin dalam batas normal - Persiapan untuk tranfusi
- Intake oral dan intravena adekuat - Pasang kateter jika perlu
- Monitor intake dan urin output
setiap 8 jam
4 Resiko kerusakan integritas Tissue integrity : skin and Pressure ulcer prevention
(kulit) faktor resiko kurang mucous membranes Fluid management
volume cairan Hydration Nutrition therapy
Setelah dilakukan tindakan - Monitor adanya tanda gejala akibar
keperawatan selama ...x..., perburukan dehidrasi
diaharapkan kerusakan integritas - Anjurkan pasien untuk menggunakan
jaringan pasien teratasi dengan pakaian yang longgar
kriteria hasil: - Jaga kulit agar tetap bersih dan kering
- Perfusi jaringan normal - Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
- Tidak ada tanda-tanda infeksi setiap dua jam sekali
- Ketebalan dan tekstur jaringan - Monitor kulit akan adanya kemerahan
normal - Oleskan lotion atau minyak/baby oil
- Menunjukkan pemahaman pada daerah yang tertekan
dalam proses perbaikan kulit - Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
dan mencegah terjadinya cidera - Monitor status nutrisi pasien
berulang - Memandikan pasien dengan sabun
- Turgor kulit normal dan air hangat
- Intake cairan adekuat - Kaji lingkungan dan peralatan yang
menyebabkan tekanan
- Kolaborasi ahli gizi pemberian diet
TKTP, vitamin
- Cegah kontaminasi feses dan urin
- Lakukan tehnik perawatan luka
dengan steril
- Berikan posisi yang mengurangi
tekanan pada luka
- Hindari kerutan pada tempat tidur
5 Ketidakseimbangan nutrisi Nutritional status Nutrition Management:
kurang dari kebutuhan tubuh Setelah dilakukan intervensi selama - Tentukan apakah klien mempunyai
berhubungan dengan penurunan ...x.., klien dapat mencapai status alergi makanan
intake makanan nutrisi ditandai dengan: - Tentukan makanan kesukaan klien
Batasan karakteristik: - Intake nutrien adekuat - Tentukan jumlah kalori dan tipe
- BB ≤20% BB ideal - Intake makanan dan cairan nutrien yang diperlukan klien
- Bising usus hiperaktif adekuat (kolaborasi dengan dietician)
- Cepat kenyang setelah - Massa tubuh cukup - Dorong intake kalori
makan - BB ideal - Dorong peningkatan intake zat
- Diare - Ukuran biokimia dbn besi, protein, dan vitamin C
- Gangguan sensasi rasa - Bberikan makanan ringan dan
- Kehilangan rambut tawar
berlebihan - Pastikan bahwa diet mengandung
- Kelemahan otot mengunyah cukup serat untuk mencegah
- Kelemahan otot menelan konstipasi
- Kerapuhan kapiler - Sediakan diit TKTP
- Kesalahan informasi - Timbang BB pasien
- Kesalahan persepsi - Dorong perawatan gigi dan mulut
- Ketidakmampuan memakan - Dorong penyiapan dan
makanan penyimpanan makanan yang
- Kram andomen aman
- Kurang informasi - Tentukan kemampuan pasien
- Kurang minat pada untuk memenuhi kebutuhan
makanan makanan
- Membran mukosa pucat
- Nyeri abdomen
- Penurunan BB dengan
asupan makanan adekuat
- Stomatitis
- Tonus otot menurun
6 Resiko syok Shock Severity: Hypovolemic Hypovolemia Management
Faktor resiko: Setelah dilakukan tindakan - Monitor status hemodinamic (TD,
 Hipoksemia keperawatan selama ...x..., tidak nadi, saturasi, RR dll)
 Hipoksia terjadi syok hipovolemia dengan - Monitor dehidrasi (turgor kulit,
 Hipotensi kriteria hasil: membran mukosa, dan penurunan
 Hipovolemia - TTV dalam batas normal output urine)

 Infeksi - Tidak terjadi aritmia - Monitor intake dan output

 Sepsis - Kelembapan kulit normal - Monitor insersi adanya infeksi,

 Sindrom respons - Tidak terjadi letargi plebitis, dll

inflamasi sistemik - Tidak terjadi asidosis metabolik - Jaga kepatenan IVFD


- Tidak terjadi hiperkalemia - Kalkulasi kebutuhan cairan tubuh
- Bising usus normal pasien
- Anjurkan pasien banyak minum
sesuai kalkulasi kebutuhan tubuh
pasien