Anda di halaman 1dari 19

JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

INFUSE RINGER LAKTAT


I. Nama Sediaan
Nama Generik : Infuse Ringer Laktat
Nama Dagang :

II. Kekuatan Sediaan


 Menurut USP (2008:3138) Formula Standar:
Tiap 100 ml Ringer Laktat mengandung
0,31% Sodium Laktat Anhidrat
0,6% NaCl
0,03% KCl
0,02% CaCl2 dihidrat
HCl/NaOH adjust pH 7,4\
Aqua pro injeksi ad. 100 mL
 Kekuatan sediaan Infuse Ringer Laktat
Natrium Laktat 0.31 %
NaCl 0.6%
KCl 0.03%
CaCl2 0.02%
Aqua Pro I. ad 500 ml

III. Preformulasi Zat Aktif


3.1. Natrium Laktat
Pemerian : Tidak berwarna , bening ; tidak berbau; atau sedikit berbau
dengan bau garam yang khas ;higroskopis.
Kelarutan : Larut dalam methanol 95% dan dalam air, kloroform dan
gliserol. Praktis tidak larut dalam kloroform,eter dan minyak.
Titik lebur : 163 - 165°C
pH : 5-7
Stabilitas : Stabil dalam air.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 1 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

Inkompatibilitis: Novabison sodium,oksitetrasiklin HCl, sodium


karbonat,sodium kalsium edetal,sulfanidin sodium.
Khasiat : Buffering agent, Isotonis agent.
Dosis : -
(Rowe,2009)

3.2. Kalium Klorida


Pemerian : Hablur bentuk memanjang, prisma atau kubus,tidak
berwarna,atau serbuk granul putiih;tidak berbau;rasa
garam;stabil diudara;larutan bereaksi netral terhadap lakmus.
Kelarutan : Mudah larut dalam air;lebih mudah larut dalam air
mendidih;tidak larut dalam etanol.
Titik lebur : -
pH : Antara 4-8
Stabilitas : stabil diudara; stabil dan harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat, ditempat sejuk dan kering.
Inkompatibilitis: Larutan KCl IV inkompatibel dengan protein hidrosilat,perak
dan garam merkuri.
Khasiat : zat antimikroba.
Dosis : konsentrasi kalium pada rute IV tidak lebih dari 40 mEq/L
dengan kecepatan 20 mEq/jam (untuk hipokalemia). Untuk
mempertahankan konsentrasi kalium pada plasma 4 mEq/L
(DI,2003:1410). K+ dalam plasma = 3,5-5 mEq/L (steril
dosage from hal 251).
(Farmakope Indonesia Edisi Keempat,1995:477)

3.3. Natrium Klorida


Pemerian : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur
putih; rasa asin.
Kelarutan : Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air
mendidih; larut dalam gliserin;sukar larut dalam etanol.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 2 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

Titik lebur : 801oC (1047 K)


pH : antara 5,0 dan 7,5
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat
menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas.
Inkompatibilitis: Logam Hg,Fe dan Ag.
Khasiat : pengganti Na+ dan Cl- dalam tubuh.
Dosis : Lebih dari 0,9% (Excipient hal 440). Injeksi IV 3-5% dalam
100ml selama 1 jam (DI 2003 hal 1415). Injeksi NaCl
mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na+ dalam plasma = 135-145
mEq/L.
(Farmakope Indonesia Edisi Keempat,1995:584-586)

3.4. Kalsium klorida dihidrat


Pemerian : Granul atau serpihan ; putih, keras ; tidak berbau.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol, dan dalam etanol
mendidih; sangat mudah larut dalam air panas.
Titik lebur : -
pH : Antara 4,5 dan 9,2
Stabilitas : Injeksi kalsium dilaporkan inkompatibel dengan larutan IV
yang mengandung banyak Zat aktif.
Inkompatibilitis: Karbonat, Sulfat, Tartrat, Sefalotin sodium, CTM dengan
tetrasiklin membentuk kompleks.
Khasiat : Zat penyerap air dan antimikroba.
Dosis : -
(Farmakope Indonesia Edisi Keempat,1995: 160)

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 3 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

IV. Pengembangan Formula


4.1.Zat aktif
Infus cairan intravena ( intravenous fluids infusion ) adalah pemberian
sejumlah cairan kedalam tubuh, melalui sebuah jarum, kedalam sebuah pembuluh
vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan
dari tubuh.
Infus Ringer laktat larutan steril dari kalsium klorida, kalium klorida,
natrium klorida, dan natrium laktat dalam air untuk infus. (Dirjen POM, 2014)
karena zat-zat tersebut bersifat garam maka infus ringer laktat memiliki kelarutan
yang baik dalam air. Sediaan infus ringer laktat dibuat dalam volume 500 mL.
Pada sediaan infus ini, Natrium Laktat berfungsi sebagai pengganti natrium
bikarbonat dalam larutan untuk terapi elektrolit dan cairan parenteral dan sebagai
sumber potensial kation tercampurkan untuk memperbaiki metabolik asidosis.
NaCl pada infus Ringer Laktat berfungsi sebagai pengganti elektrolit untuk
mengganti cairan tubuh yang kurang. Kalium Klorida dalam infus Ringer Laktat
berfungsi untuk mengelevasi level kalium normal plasma sebagai pengobatan
intoksikasi digitalis, dan ion Ca dalam CaCl2 dalam infus Ringer Laktat berfungsi
dalam pengaturan reaksi hipersensitivitas khususnya urtikaria dan edema
angionneurik dan untuk pemulihan elektrolit (Genaro, 1998:817-820).
4.2. Pembawa
Pada sediaan infus ringer laktat pembawa yang digunakan adalah aquabidest
bebas pirogen. Digunakan aquabidest bebas pirogen karena zat aktif pada infus
ranger laktat memiliki kelarutan yang baik dalam air, memiliki kemiripin dengan
cairan tubuh, dan infus yang digunakan dalam volume besar (lebih dari 100 mL)
sehingga akan sangat banyak volume sediaan yang masuk ke dalam tubuh sehingga
digunakan air dimana air ini merupakan pembawa yang kompatibel dengan tubuh
dan tidak bersifat toksik. Aquabidest juga sudah disterilisasi jadi bebas dari
mikroba dan partikel padat sehingga aman untuk digunakan dan tidak akan
menyumbat pembuluh darah.
4.3. Zat tambahan

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 4 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

Karena sediaan Infus Ringer Laktat harus bebas dari pirogen maka
ditambahkan Karbon aktif. karbon aktif adalah salah satu zat yang dapat
menghilangkan pirogen. Pirogen merupakan zat yang dapat menyebabkan demam
sehingga adanya pirogen dalam infus dapat membahayakan pasien. Karbon aktif
dapat menyerap pirogen yang akan membahayakan tubuh jika sampai masuk
kedalam pembuluh darah. Karbon aktif yang digunakan sebanyak 0,1% dari volume
total kemudian dipanaskan selama 10-15 menit dengan suhu 60-70ºC sambil
diaduk.
Pada sediaan infus ringer laktat ditambahkan pengatur tonisitas. Sediaan
infus harus isotonis karena isotonis merupakan syarat mutlak yang sangat
diperhatikan terutama untuk sediaan dengan volume besar (>10mL). agar pada saat
masuk kedalam tubuh tidak terjadi hemolisa sel darah. Osmolaritas Infus Ringer
Laktat yang harus dicapai : 270mOsm/L
Pada sediaan infus ringer laktat ditambahkan adjust pH karena sediaan tidak
sesuai dengan pH cairan darah, yaitu pH 7,4. Ditambahkan penadjust pH agar
sediaan menjadi isohidris. Zat yang dapat ditambahkan adalah asam sitrat ketika
sediaan larutan injeksi pHnya di atas 7,4 (terlalu basa) atau ditambahkan NaOH
ketika sediaan larutan injeksi pHnya di bawah 7,4 (terlalu asam).

V. Perhitungan Tonisitas dan Dapar


5.1 Perhitungan Persen Zat
0,31
Na Laktat = 𝑥 525 𝑚𝐿 = 1,6275 gram
100
0,03
KCl = 𝑥 525 𝑚𝐿 = 0,1575 gram
100
0,02
CaCl2 = 𝑥 525 𝑚𝐿 = 0,105 gram
100
0,6
NaCl = 100 𝑥 525 𝑚𝐿 = 3,15 gram

Volume apa setelah ditambahkan 5% = 500 ml + (5% x 500 ml)


= 500 ml + 25 ml
= 525 ml
5.2 Perhitungan Osmolaritas

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 5 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

g
liter zat terlarut
Na Laktat = x 1000 x Jumlah ion
BM zat terlarut
1,6275 𝑔/0,525 𝐿
= x 1000 x 2
112,06

= 55,3 M osmole/L
g
liter zat terlarut
KCl = x 1000 x Jumlah ion
BM zat terlarut
0,1575 𝑔/0,525 𝐿
= x 1000 x 2
74,5

= 8,05 M osmole/L
g
liter zat terlarut
CaCl2 = x 1000 x Jumlah ion
BM zat terlarut
0,102 𝑔/0,51 𝐿
= x 1000 x 3
147,02

= 4,08 M osmole/L
g
liter zat terlarut
NaCl = x 1000 x Jumlah ion
BM zat terlarut
3,15 𝑔/0,525 𝐿
= x 1000 x 2
58,44

= 205,34 M osmole/L
Jumlah total = 55,3 + 8,05 + 4,08 + 205,34 = 272,77 (Isotonis)
Isotonis dilihat dari tabel kaitan antara osmolaritas dan tonisitas :
Osmolaritas ( M Osmole/L) Tonisitas
>350 Hipertonis
329-350 Sedikit Hipertonis
270-328 Isotonis
250-269 Sedikit Hipotonis
0-249 Hipotonis

VI. Formula Akhir


R/ Natrium Laktat 0.31 %
NaCl 0.6%
KCl 0.03%
CaCl2 0.02%
Aquabidest ad 500 ml

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 6 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

m. f. infus.

VII.Preformulasi Eksipien
7.1. Karbon Adsorben
Pemerian : Serbuk,hitam;tidak berbau. Diperoleh dari residu destruktif
berbagai bahan organic, diolah untuk meningkatkan kapasitas
adsorbs zat warna organic dan basa nitrogen (Dirjen
POM,1995:1128).
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol 95%.
Titik lebur : -
pH : -
Stabilitas : Dapat mengadsorbsi air.
Inkompatibilitis: Dapat menurunkan ketersediaan hayati beberapa obat seperti
loperamid dan riboflavin. Reaksi hidrolisis dan oksidasi dapat
dinaikkan.
Khasiat : Adsorbsi pirogen.
Dosis : -
(Farmakope Indonesia Edisi Ketiga,1979:133)

7.2. Aquabidest Bebas Pirogen


Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna ; tidak berbau;tidak berasa.
Kelarutan : -
Titik beku/didih : 0/100ºC
pH : 7 (netral)
Stabilitas : Dapat stabil dalam semua keadaan fisika (es,cair,padat).
Inkompatibilitis : Kompatibel dengan zat aktif dan semua bahan tambahan.
Khasiat : -
Dosis : -
(Dirjen POM,1979: 97);(Rowe,et all.,2009:766)

VIII. Penentuan Metode Strerilisasi

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 7 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

Metode Sterilisasi atau teknik sterilisasi yang tepat untuk sediaan infus
ringer laktat ini yaitu metode sterilisasi akhir dengan metode sterililasi panas
lembab menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Dilakukan
metode sterilisasi akhir karena bentuk sediaan berupa larutan dengan pembawa air
sehingga kompatibel dengan uap air panas. Zat aktif juga memiliki stabilitas
dengan sediaan tahan terhadap pemanasan (termostabil). Tujuan sterilisasi untuk
menghilangkan mikroorgaanisme, pada sediaan infus ini dilakukan filtrasi
membran untuk membebaskan partikel asing. Pada proses sebelum dilakukan
sterilisasi maka dilakukan terlebih dahulu proses depirogenisasi untuk
menghilangkan pirogen.
.
8.1 Metode Sterilisasi Alat

Alat Metode Sterilisasi Alasan Metode Sterilisasi


Pipet Tetes Sterilisasi Panas Pada pipet tetes terdapat
Lembab (Autoklaf tutup karet yang dimana jika
121oC, 15 menit) di sterilisasi dengan metode
sterilisasi panas kering
menggunakan oven akan
menyebabkan tutup karet
meleleh karena tidak tahan
terhadap pemanasan pada
suhu yang tinggi dengan
waktu yang lama sehingga
dipilihlah metode ini untuk
sterilisasi.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 8 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

Gelas ukur dan Pipet Sterilisasi Panas Gelas ukur dan pipet ukur
Ukur Lembab (Autoklaf termasuk kedalam alat
121oC, 15 menit) presisi yang dianjurkan
untuk di sterilisasi
menggunakan metode
sterilisasi panas lembab
dengan autoklaf karena jika
dilakukan sterilisasi dengan
menggunakan metode
sterilisasi panas kering
dengan oven maka akan
menyebabkan alat tersebut
memuai sehingga ukuran /
angka yang tertera pada alat
akan berubah dan
keakuratan dari alat akan
berkurang.
Kaca arloji, Sterilisasi Panas Dilakukan sterilisasi
Erlenmeyer, Corong, Kering (Oven 160- menggunakan metode
batang pengaduk, dan 170oC, 1-2 jam) sterilisasi panas kering
Gelas kimia dengan oven karena bukan
merupakan alat presisi yang
akan berubah ukurannya
atau memuai pada
pemanasan suhu tinggi.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 9 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

8.2 Metode Sterilisasi Bahan

Bahan Metode Sterilisasi Alasan Metode Sterilisasi


Natrium Laktat Metode sterilisasi Karena Natrium Laktat tahan
akhir dengan Panas terhadap pemanasan pada
Lembab (Autoklaf, suhu tinggi dan dapat
121 oC, 15 menit). bercampur dengan pelarut air.

KCl Metode sterilisasi Karena Kalium klorida tahan


akhir dengan Panas terhadap pemanasan pada
Lembab (Autoklaf, suhu tinggi dan dapat
121 oC, 15 menit). bercampur dengan pelarut air.
NaCl Metode sterilisasi Karena Natrium klorida tahan
akhir dengan Panas terhadap pemanasan pada
Lembab (Autoklaf, suhu tinggi dan dapat
121 oC, 15 menit). bercampur dengan pelarut air.
CaCl2 Metode sterilisasi Karena kalsium klorida tahan
akhir dengan Panas terhadap pemanasan pada
Lembab (Autoklaf, suhu tinggi dan dapat
121 oC, 15 menit). bercampur dengan pelarut air.
Aquabidest Metode sterilisasi Karena zat tahan terhadap
akhir dengan Panas pemanasan pada suhu tinggi
Lembab (Autoklaf, dan dapat bercampur dengan
121 oC, 15 menit). pelarut air.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 10 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

IX. Perhitungan dan Penimbangan


9.1 Perhitungan Bahan
0,31
Na Laktat = 𝑥 525 𝑚𝐿 = 1,6275 gram
100
0,03
KCl = 𝑥 525 𝑚𝐿 = 0,1575 gram
100
0,02
CaCl2 = 𝑥 525 𝑚𝐿 = 0,105 gram
100
0,6
NaCl = 100 𝑥 525 𝑚𝐿 = 3,15 gram

Aquadest ad 525 mL
9.2 Penimbangan Bahan
No Nama Bahan Bobot
1. Na. Laktat 1,6275 gr
2. KCL 0,1575 gr
3. CaCl2 0,105 gr
4. NaCl 3,15 gr
5. Aqua p.i Ad 525 mL

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 11 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

X. Prosedur Pembuatan
10.1 Prosedur Pembuatan

Natrium laktat, KCl, CaCl2, dan NaCl ditimbang menggunakan kaca


arloji sesuai dengan data penimbangan.

Zat dilarutkan dalam beker gelas lalu diaduk menggunakan batang


pengaduk dengan pelarut aquabidest.

Karbon aktif digerus sejumlah 0,1 % b/v, dimasukkan ke dalam beker


gelas, selanjutnya ditambahkan aquabidestilat hingga 510 ml.

Setelah seluruh zat larut, beker gelas disisipi dengan batang


pengaduk. Botol infus dikalibrasi dengan volume 510 ml.

Larutan dipanaskan diatas api bunsen pada suhu 60 – 70o C hingga


hangat-hangat kuku sambil diaduk. Kegiatan ini dilakukan diluar
lemari steril.

Larutan disaring ke labu erlenmeyer dengan corong dan kertas saring


yang sudah dibasahi.

Larutan dituangkan ke dalam kolom melalui saringan G3 dengan


bantuan pompa penghisap.

Filtrat hasil dari kolom dimasukkan ke dalam botol infus steril


yang telah dkalibrasi. Botol ditutup dengan flakon steril, diikat
dengan simpul champagne.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 12 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

Dilakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf pada suhu 121oC selama 15


menit.

Pemberian etiket.

10.2 Prosedur Evaluasi


a. Penetapan pH
Penetapan pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH meter. Kertas pH
meter dicelupkan ke dalam infus yang telah dibuat kemudian dicocokkan kertas pH
dengan indikatornya sehingga diperoleh pH akhir.
b. Uji kejernihan larutan
Pemeriksaan dilakukan terhadap visual di bawah penerangan cahaya yang baik,
dan berlatar belakang warna hitam. Sediaan harus dipastikan benar – benar jernih
dan tidak ada partikel – partikel yang terlihat
c. Uji kebocoran
Pemeriksaan dilakukan dengan membalikan botol infus 180 derajat. Jika terjadi
kebocotan maka cairan infus akan menetes keluar dari botolnya secara perlahan.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 13 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

XI. Hasil Evaluasi Sediaan


Jenis Evaluasi Hasil Pengamatan

Penetapan pH pH 7

Uji kejernihan larutan


Jernih (+++)

Uji Kebocoran
Tidak bocor

Keterangan :
+++ : Sangat jernih
++ : Agak keruh
+ : Keruh
- : Tidak ada

XII.Wadah dan Kemasan


Wadah : Botol 500 ml
Kemasan :

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 14 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

XIII. Pembahasan
Infus merupakan injeksi volume besar dengan volume yang lebih dari
100ml. Infundabilia atau infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau
emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, dan
disuntikkan langsung kedalam vena dalam volume relatif banyak (Syamsuni, 2006:
228).
Prinsip kerja dari cairan infus sama seperti sifat dari air yaitu mengalir dari
tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah dipengaruhi oleh gaya grafitasi
bumi sehingga cairan akan selalu jatuh kebawah. Pada sistem infus laju aliran infuse
diatur melalui klem selang infus, jika klem digerakan untuk mempersempit jalur
aliran pada selang maka laju cairan akan menjadi lambat ditandai dengan sedikitnya
jumlah tetesan infus/menit yang keluar dan sebaliknya bila klem digerakan untuk
memperlebar jalur aliran pada selang infus maka laju cairan infus akan menjadi
cepat ditandai dengan banyaknya jumlah tetesan .
Pemberian cairan bisa melalui oral, ataupun melalui jalur intravena dengan
pemasangan infus. Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan
pemberian cairan infus adalah (UNAND, 2011):
a. Kondisi jaur enteral (via oral) tidak memungkinkan, missal pada pasien
penurunan kesadaran, kejang.
b. Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen
darah).
c. Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen
darah).
d. Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha)
(kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
e. Serangan panas (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi).
f. Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi).
g. Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh).
h. Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh
dan komponen darah) .
Jenis infus yang dipasang bisa berupa:

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 15 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

a. Infus set dengan tetesan mikro (untuk anak usia <1 tahun) (1 cc = 60 tetes
mikro).
b. Infus set dengan tetesan makro (1 cc = 20 tetes makro).
c. Transfusi set (1 cc = 15 tetes).
Pada praktikum kali ini membuat sediaan ringer laktat yang mengandung
Natrium laktat, KCl, CaCl2, dan NaCl sebagai zat aktifnya. Natrium Laktat
berfungsi sebagai pengganti natrium bikarbonat dalam larutan untuk terapi
elektrolit dan cairan parenteral dan sebagai sumber potensial kation tercampurkan
untuk memperbaiki metabolik asidosis. NaCl pada infus Ringer Laktat berfungsi
sebagai pengganti elektrolit untuk mengganti cairan tubuh yang kurang. Kalium
Klorida dalam infus Ringer Laktat berfungsi untuk mengelevasi level kalium
normal plasma sebagai pengobatan intoksikasi digitalis, dan ion Ca dalam CaCl2
dalam infus Ringer Laktat berfungsi dalam pengaturan reaksi hipersensitivitas
khususnya urtikaria dan edema angionneurik dan untuk pemulihan elektrolit
(Gennaro, 1998:817-820).
Formula yang digunakan merujuk pada jurnal terdahulu dan Farmakope
belanda. Kombinasi formula umum yang digunakan untuk sediaan infuse Ringer
Laktat terdiri dari garam-garam karena sesuai dengan kebutuhan tubuh dan
menjadikan kondisi sediaan isotonis sehingga tidak diperlukan penambahan zat
pengisotonis. Fungsi infus ringer laktat adalah untuk mengembalikan
keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena terdiri dari ion-ion elektrolit yang
memiliki kemiripan dengan caritan dalam tubuh.
Elektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang berdisosiasi menjadi
partikel yang bermuatan (ion) positif atau negatif. Ion bermuatan positif disebut
kation dan ion bermuatan negatif disebut anion. Keseimbangan keduanya disebut
sebagai elektronetralitas. (Wilson, 1995: 283-301). Pemeliharaan homeostasis
cairan tubuh adalah penting bagi kelangsungan hidup semua organisme.
Pemeliharaan tekanan osmotik dan distribusi beberapa kompartemen cairan tubuh
manusia adalah fungsi utama empat elektrolit mayor, yaitu natrium (Na+), kalium
(K+), klorida (Cl-), dan bikarbonat (HCO3-). (Scott et al, 2006: 93-95)

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 16 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

Hal pertama yang dilakukan dalam pembuatan sediaan ini adalah semua
bahan ditimbang sesuai dengan perhitungan hasil penimbangan. Semua bahan
dicampurkan dalam baker gelas dan di ad aquabidest hingga 510 ml. Beker gelas
berfungsi sebagai tempat penampung larutan dan pengadukan akan meningkatkan
kelarutan zat sehingga zat harus diaduk. Selanjutnya dimasukan karbon adsorben
yang sudah digerus kasar sebelumnya. Karbon adsorben berfungsi sebagai
antipirogen karena dalam infus harus bebas pirogen. Pirogen adalah senyawa
kompleks polisakarida dimana mengandung radikal yang ada unsure N dan P.
selama radikal masih terikat, selama itu masih dapat menimbulkan demam dan
pirogen bersifat termostabil. Pirogen sendiri dapat berasal dari aquadest yang
dibiarkan lama dan tercemar bakteri serta udara ataupun bisa berasal dari bahan
bahan tertentu seperti glukosa,NaCl,Na-Sitrat (Anief,1997:204). Karbon adsorben
dapat mencegah terbentuknya thrombus dan menghilangkan pirogen karena
mekanisme kerja dari karbon adsorben ini yaitu menyerap pirogen.
Selanjutnya larutan dipanaskan sambil diaduk kira-kira sampai 60-70ºC.
Pemanasan dan pengadukan berfungsi untuk mempercepat proses pelarutan zat
aktif dan larutan menjadi homogen. Setelah dipanaskan, larutan disaring melalui
saringan G3 yang dibantu dengan adanya vakum. Vakum berfungsi untuk
mempercepat proses penyaringan dengan cara menurunkan tekanan dalam sistem.
Pemakuman digunakan saringan khusus yaitu whatman 0,45 µm yang terbuat dari
nilon. Penggunaan kertas saring berfungsi untuk mencegah partikel-partikel asing
masuk kedalam sediaan infus dan menyaring karbon aktif. Setelah disaring larutan
infus dimasukan kedalam botol ukuran 500mL yang telah dikalibrasi. Lalu,
dilakukan pengecekan pH dan diperoleh pH 6. Oleh karena itu diperlukan
penambahan basa yaitu NaOH meng-adjust pH agar mendekati pH darah yaitu 7,4.
Pada infus tidak dilakukan penambahan dapar disebabkan karena volume yang
diberika pada pasien relative sangat tinggi. jika dilakukan pendaparan, maka
kemungkinan pH tubuh pasien pun akan berubah dan hal ini berbahaya untuk tubuh.
Oleh karena itu, sediaan infus hanya dilakukan peng-adjustan pH. Botol infus
ditutup dengan flakon steril, diikat dengan simpul champagne. Simpul champagne

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 17 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

dapat menutup botol dengan rapat sehingga tidak terjadi kebocoran saat dimasukan
autoclave.
Proses sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi akhir dengan metode
panas lembab menggunakan autoclve suhu 121ºC selama ± 15 – 30 menit.
Sterilisasi bertujuan untuk menghilangkan jika dalam sediaan ada cemaran atau
kontaminan mikroba saat pengerjaan. Alasan mengapa digunakan temperatur
121°C karena pada saat itu menunjukkan tekanan 2 bar yang akan membantu
membunuh mikroorganisme dalam suatu benda. Untuk tekanan pada atmosfer pada
ketinggian di permukaan laut air mendidih pada temperatur 100°C, sedangkan
autoklaf yang diletakkan pada ketinggian yang sama, menggunakan tekanan 2 bar
maka air akan mendidih pada temperatur 121°C. Pada saat sumber panas
dinyalakan, air yang ada di dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap
air yang terbentuk akan mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua
udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga
tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan temperatur yang
sesuai, maka proses strerilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur.
Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan
turun perlahan hingga tercapai tekanan normal. (Anggari, 2008)
Pada sediaan dilakukan evaluasi sediaan infus meliputi evaluasi pH,
kejernihan, dan uji kebocoran. Sediaan di cek pH nya dengan menggunakan kertas
pH universal infus ringer laktat memiliki pH 6 lalu di adjust menjadi pH 7
mendekati pH darah. Setelah itu uji kejernihan larutan. Pada saat pengujian
kejernihan, larutan sediaan infus yang dibuat sangat jernih ketika dimasukkan
kedalam botol. Lalu kemudian uji kebocoran sediaan. Sediaan yang dibuat memiliki
wadah yang tertutup rapat dan ketika botol sediaan diputas 180 derajat tidak terjadi
kebocoran dan cairan infus tidak keluar ataupun menetes.

XIV. Kesimpulan
Sediaan infus ringer laktat adalah sediaan yang diberikan secara intravena
yang dibuat steril serta isotonis dan didepirogenisasi oleh carbo adsorben. Fungsi
infus ringer laktat adalah untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit dalam

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 18 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID 2018

tubuh karena terdiri dari ion-ion elektrolit yang memiliki kemiripan dengan caritan
dalam tubuh. Sediaan infus ringer laktat yang dibuat memenuhi persyaratan
isohidris karena pH nya 7, jernih tidak mengandung partikel asing dan juga tidak
terjadi kebocoran pada wadah.

XV. Daftar Pustaka


Anief., Moh. (1997). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press
Catur putri anggari. 2008. Mikrobiologi dasar. Universitas jenderal soedirman:
purwekerto.
Dirjen POM, (1979), Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
Dirjen POM, (1995), Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.
Gennaro, A.R., (1998), Remington's Pharmaceutical Science 18th Edition, Marck
Publishing Co, Easton.
Martin, A., dkk, (1990), Farmasi Fisika Edisi III, UI Press : Jakarta.
Parfitt,K., (1994), Martindale The Complete Drug Reference 32nd Edition,
Pharmacy Press.
Rowe, et al., (2009), Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition, The
Pharmaceutical Press, London.
Scott M.G., LeGrys, V.A. and Klutts J,‘Electrochemistry and Chemical Sensors and
Electrolytes and Blood Gases’’ In: Tietz Text Book of Clinical Chemistry
and Molecular Diagnostics, 4th Ed. Vol.1, Elsevier Saunders Inc.,
Philadelphia, 2006, pp. 93-95.
Syamsuni, 2006, Farmasetika Dasar Dan Hitungan Farmasi, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta. 29 – 31.
Wilson L.M, ‘Keseimbangan Cairan dan Elektrolit serta Penilaiannya’ dalam:
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi ke-4, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1995, hh. 283- 301.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas MIPA – Unisba 19 dari