Anda di halaman 1dari 4

BAB II

PROFIL ORGANISASI

A. Sejarah
Prof. DR. R. Soeharso sebagai pendiri sekaligus menjadi direktur ke-
1 (1945 s/d 1971). Merintis dari tahun Th 1946 s/d 1971. Sejarah berdirinya
LOP tidak lepas dari sejarah perjalanan Rehabilitasi Centrum (RC) karena
merupakan bagian dari pelayanan RC yang dimotori oleh
Prof.DR.R.Soeharso. Perkembangan berikutnya LOP berubah nama menjadi
RS Orthopaedi dan Prothese dan berubah lagi menjadi RS Ortopedi Prof. DR.
R. Soeharso Surakarta.
Rehabilitasi Centrum (RC) rintisan Prof. DR. R. Soeharso waktu itu
sangat mendunia dan terkenal sampai Asia Tenggara dan mendapat perhatian
dalam dan luar negeri karena berhasil melaksanakan konsep pelayanan
rehabilitasi terpadu dibawah satu atap atas pemikiran yang mendalam yang
waktu itu. Pemikiran ini hasil pengalaman saat menangani penderita cacat
tubuh akibat perang yang pada kenyataannya mengalami permasalahan yang
sangat holistik. Dengan Konsep ini mampu menolong penderita cacat yang
tadinya, merasa tidak punya harapan menjadi punya masa depan, lebih
percaya diri, mandiri dan dapat sederajad dengan yang tidak cacat (sehingga
konsep ini menjadi tumpuan semua penderita cacat tubuh).
RC saat itu hanya Lembaga Pusat Rehabilitasi Penderita cacat Tubuh
(LPRPCT) kemudian baru dibuka Lembaga Orthopaedi dan Prothese (LOP)
dan berikutnya dikuti dengan Akademi maupun lembaga / yayasan dibawah
naungan nama Prof. Dr. R. Soeharso yang akhirnya tergabung dalam
“Paguyuban Lembaga Rehabilitasi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta” yang
berjumlah 10 sbb :

1. BBRSBD melaksanakan fungsi rehabilitasi sosial bagi penyandang cacat


dari seluruh Indonesia yang sepenuhnya dibiayai Pemerintah.
2. RS. Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta melaksanakan fungsi
pelayanan kesehatan di bidang ortopedi dan rehabilitasi kedik secara
paripurna sesuai konsep beliau yang berpedoman dari WHO.

4
3. YPAC mengkhususnya untuk penderita cacat tubuh untuk anak &
pendidikannya
4. Yayasan Sheltered Workshop Solo untuk pelatihan ketrampilan untuk
persiapan kerja
5. Pusrehabcat (Dorehabcat) yang memberikan pelayanan bagi penderita
cacat tubuh akibat perang saat itu.
6. Sekolah perawat Fisioterapi yang akhirnya berubah menjadi Akademi
Fisioterapi, menyiapkan kader-kader pelatih fisik pasien ortopedi yang
merupakan kesatuan dan pendukung dari rehabilitasi medik paripurna
7. Yayasan Paraplegia diperuntukkan bagi pasien dan keluarga yang
menderita paraplegia yang tempat tinggalkan tidak memungkinkan dilalui
kursi roda (misal di pegunungan)
8. Yayasan Koperasi penderita cacat “Harapan” untuk paguyuban &
usaha untuk meningkatkan kesejahteraan penderita cacat yang telah
mengikuti pelatihan dari Lembaga Pusat Rehabilitasi Penderita Cacat
Tubuh (LPRPCT) yang sekarang berubah nama Balai Besar Rehabilitasi
Sosial Bina Daksa (BBRSBD) yang berlokasi di Jebres.
9. Yayasan Pembinaan Olah Raga Penderita Cacat diperuntukkan bagi
pelatihan dan pembinaan mental lewat pembinaan olah raga , yang dulu
pernah mendunia dengan banyaknya penderita cacat mengikuti turnamen
olahraga dunia.
10. Pusat Rehabilitasi Sosial Bina masyarakat (PRSBM) berpusat di
Colomadu difokuskan untuk pelatihan dengan memberikan kesadaran
masyarakat masalah kecacatannya baik di daerah setempat lewat lembaga
kesehatan daerah ataupun di PRSBM

Pada Th.1946 bersama Suroto Reksopranoto pertama kali membuat


alat bantu ortotik dan prostetik yang sangat sederhana (dari bambu) yang
merupakan cikal bakal / perintisan bengkel protese di Indonesia yang
kemudian berkembang menjadi training center (ada BBRSBD waktu itu
LPRPCT berubah PRPCT).
Mengalami perkembangan pesat setelah mendapat bantuan dan
dukungan terutama pendanaan dari Kolonel Gatot Soebroto yang pada saat
itu menjabat sebagai gubernur militer untuk Surakarta, Pati, dan Madiun.

5
Mencetak beberapa tenaga dokter spesialis bedah ortopedi. Satu-satunya
dokter yang juga seniman yang ikut melestarikan budaya kraton Surakarta
karena jasanya memprakasai sendratari Ramayana yang sampai saat ini
masih digelar, dilestarikan di kawasan candi Prambanan.
Setelah meninggal th. 1971 diusia 59 tahun yang kemudian beliau
dinobatkan sebagai pahlawan nasional di bidang ortopedi, Penghargaan
bintang maha putra serta penghargaan lainnya.
Dalam perkembangannya lembaga dengan nama Prof. DR. R.
Soeharso ini berkembang secara dinamis terutama dalam hal ini RS. Ortopedi
mengalami perkembangan yang cukup berarti setara dengan perkembangan
ilmu kedokteran, terutama menyangkut dalam pelayanan ortopedi dan
Rehabilitasi Medik Paripurna.
Prof. DR. R. Soeharso mengembangkan / mempelopori proses
pelayanan ortopedi & rehabilitasi medik secara paripurna sesuai dengan
perkembangan kedokteran waktu itu & konsep WHO. Saat itu didukung
berbagai peralatan ortopedi dan rehabilitasi medik dan dipenuhi semangat
pengorbanan yang tinggi maka dipersiapkan lahan yang luas di Pabelan yang
akhirnya menjadi RS. Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso sejak tahun 1996.
Dengan Luas Lahan : 103.070 m² (10.3 Ha).
RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta merupakan instansi
dimana aktualisasi akan dilakukan. RS Ortopedi Prof Dr. R. Soeharso
merupakan rumah sakit yang khusus melakukan pelayanan terkait kasus-
kasus ortopedi dan traumatologi. RS Ortopedi Soeharso dipimpin oleh
seorang direktur utama dibantu dengan direktur pelayanan medik dan
keperawatan, direktur umum, SDM dan pendidikan, serta direktur keuangan.
Layanan unggulan yang diberikan di RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso
antara lain adalah sub spesialis adult reconstruction, sub spesialis spine, sub
spesialis onkology, sub spesialis hand and microsurgery, sub spesialis sport
medicine, DBC (Document Based Computerized), hidroterapi, ortotik
prostetik, pain management acupuncture, dan health whirlpool.

B. Visi dan Misi

6
Visi dari RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso yang akan dicapai dalam
kurun waktu 5 tahun adalah “Menjadi Rumah Sakit Ortopedi Unggulan
dengan Pelayanan Prima di ASEAN”. Untuk mewujudkan visi tersebut maka
disusun misi rumah sakit sebagai berikut :
1. Meningkatkan pelayanan sub spesialistik ortopedi traumatologi
terintegrasi paripurna.
2. Meningkatkan pendidikan, penelitian dan pengembangan sesuai
kebutuhan pelayanan. kesehatan, kemajuan ilmu pengetahuan dan
penelitian teknologi kedokteran ortopedi traumatologi
3. Meningkatkan manajemen rumah sakit dengan kaidah bisnis yang
sehat, terbuka, efisien, efektif dan akuntabel
4. Meningkatkan kapasitas dan kompetisi SDM sesuai kebutuhan
pelayanan serta kemampuan rumah sakit.