Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Malaria merupakan suatu penyakit berpotensial fatal yang disebabkan oleh
infeksi parasit Plasmodium, Plasmodium ini ditularka n ke manus ia melalui
gigitan nyamuk Anopheles sp. betina yang telah terinfeksi dengan parasit tersebut.
Malaria merupakan suatu infeksi yang menyerang pada sistem darah manusia.
Terdapat empat spesies plasmodium yang bisa menginfeksi manusia yaitu,
Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium
falciparum. Walaupun begitu, studi terbaru telah menemukan suatu spesies
Plasmodium baru yang bisa menginfeksi manusia. Spesies Plasmodium yang
kelima ini dikenali sebagai Plasmodium knowlesi.
Jenis-jenis malaria berdasarkan jenis plasmodiumnya antara lain sebagai berikut :
1. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum)
Malaria tropika/ falciparum malaria tropika merupakan bentuk yang paling
berat, ditandai dengan panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemia
yang banyak dan sering terjadi komplikasi. Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria
tropika menyerang semua bentuk eritrosit. Disebabkan oleh Plasmodium
falciparum. Plasmodium ini berupa Ring/ cincin kecil yang berdiameter 1/3
diameter eritrosit normal dan merupakan satu-satunya spesies yang memiliki 2
kromatin inti (Double Chromatin). Klasifikasi penyebaran Malaria Tropika:
Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup. Infeksi
Plasmodium Falcifarum sering kali menyebabkan sel darah merah yang
mengandung parasit menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat pada lapisan
endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi trombosis dan iskemik lokal.
Infeksi ini sering kali lebih berat dari infeksi lainnya dengan angka komplikasi
tinggi (Malaria Serebral, gangguan gastrointestinal, Algid Malaria, dan Black
Water Fever).
2. Malaria Kwartana (Plasmoduim Malariae)
Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan
Plasmoduim vivax, lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru.
Tropozoit matur mempunyai granula coklat tua sampai hitam dan kadang-kadang
mengumpul sampai membentuk pita. Skizon Plasmodium malariae mempunyai
8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak bunga/rossete. Bentuk gametosit
sangat mirip dengan Plasmodium vivax tetapi lebih kecil. Ciri-ciri demam tiga hari
sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain nyeri pada kepala dan punggung, mual,
pembesaran limpa, dan malaise umum. Komplikasi yang jarang terjadi namun
dapat terjadi seperti sindrom nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal lainnya.
Pada pemeriksaan akan di temukan edema, asites, proteinuria, hipoproteinemia,
tanpa uremia dan hipertensi.
3. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)
Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium
malariae, skizonnya hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen hitam di
tengah. Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit
yang terinfeksi Plasmodium Ovale biasanya oval atau ireguler dan fibriated.
Malaria ovale merupakan bentuk yang paling ringan dari semua malaria
disebabkan oleh Plasmodium ovale. Masa inkubasi 11-16 hari, walau pun
periode laten sampai 4 tahun. Serangan paroksismal 3-4 hari dan jarang terjadi
lebih dari 10 kali walau pun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari.
4. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)
Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda
yang diameternya lebih besar dari eritrosit normal. Bentuknya mirip dengan
plasmodium Falcifarum, namun seiring dengan maturasi, tropozoit vivax berubah
menjadi amoeboid. Terdiri dari 12-24 merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli.
Gametosit berbentuk oval hampir memenuhi seluruh eritrosit, kromatinin
eksentris, pigmen kuning. Gejalamalaria jenis ini secara periodik 48 jam dengan
gejala klasik trias malariadan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali
dengan puncak demam setiap 72 jam. Dari semua jenis malaria dan jenis
plasmodium yang menyerang system tubuh, malaria tropika merupakan malaria
yang paling berat ditandai dengan panas yang ireguler, anemia, splenomegali,
parasitemis yang banyak, dan sering terjadinya komplikasi.

B. ETIOLOGI
Plasmodium sebagai penyebab malaria terdiri dari 4 spesies, yaitu
Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium
ovale. Malaria juga melibatkan hospes perantara, yaitu manusia maupun vertebra
lainnya, dan hospes definitif, yaitu nyamuk Anopheles.
C. TANDA DAN GEJALA
1. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang
(sporulasi) pada malaria tertiana (P. Vivax dan P. Ovale).
2. Splenomegali
Merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami kongeori
menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan
jaringan ikat yang bertambah.
3. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab.
4. Ikterus
Disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar.
D. PATOFISIOLOGI
Daur hidup spesies malaria terdiri dari fase seksual eksogen (sporogoni)
dalam badan nyamuk Anopheles dan fase aseksual (skizogoni) dalam badan hospes
vertebra termasuk manusia.
1. Fase aseksual
Fase aseksual terbagi atas fase jaringan dan fase eritrosit. Pada fase
jaringan, sporozoit masuk dalam aliran darah ke sel hati dan berkembang
biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit. Proses ini
disebut skizogoni praeritrosit. Lama fase ini berbeda untuk tiap fase. Pada
akhir fase ini, skizon pecah dan merozoit keluar dan masuk aliran darah,
disebut sporulasi. Pada Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, sebagian
sporozoit membentuk hipnozoit dalam hati sehingga dapat mengakibatkan
relaps jangka panjang dan rekurens.
Fase eritrosit dimulai dan merozoit dalam darah menyerang eritrosit
membentuk trofozoit. Proses berlanjut menjadi trofozoit-skizon-merozoit.
Setelah 2-3 generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi
bentuk seksual. Masa antara permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit
dalam darah tepi adalah masa prapaten, sedangkan masa tunas/inkubasi
intrinsik dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai
timbulnya gejala klinis demam.
2. Fase seksual
Parasit seksual masuk dalam lambung betina nyamuk. Bentuk ini
mengalami pematangan menjadi mikro dan makrogametosit dan terjadilah
pembuahan yang disebut zigot (ookinet). Ookinet kemudian menembus
dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista. Bila ookista pecah, ribuan
sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar liur nyamuk.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Analisis darah akan memperlihatkan adanya parasit sel darah merah
F. MANIFESTASI KLINIS
Pada anamnesis ditanyakan gejala penyakit dan riwayat bepergian ke
daerah endemik malaria. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan adalah:
a. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang
(sporulasi). Pada malaria tertiana (Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale),
pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3,
sedangkan malaria kuartana (Plasmodium malariae) pematangannya tiap 72
jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan ditandai dengan
beberapa serangan demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas 3
stadium, yaitu menggigil (15 menit-1 jam), puncak demam (2-6 jam), dan
berkeringat (2-4 jam). Demam akan mereda secara bertahap karena tubuh
dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respons imun.
b. Splenomegali
Slenomegali merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami
kongesti, menghitam, dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit
parasit dan jaringan ikat yang bertambah.
c. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat
adalah anemia karena Plasmodium falciparum. Anemia disebabkan oleh:
1) Penghancuran eritrosit yang berlebihan.
2) Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time).
3) Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam
sum-sum tulang (diseritropoesis).
d. Ikterus
Ikterus disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar. Malaria
laten adalah masa pasien di luar masa serangan demam. Periode ini terjadi
bila parasit tidak dapat ditemukan dalam darah tepi, tetapi stadium
eksoeritrosit masih bertahan dalam jaringan hati.
Relaps adalah timbulnya gejala infeksi setelah serangan pertama.
Relaps dapat bersifat:
 Relaps jangka pendek (rekrudesensi), dapat timbul 8 minggu setelah
serangan pertama hilang karena parasit dalam eritrosit yang
berkembang biak.
 Relaps jangka panjang (rekurens), dapat muncul 24 minggu atau lebih
setelah serangan pertama hilang karena parasit eksoeritrosit hati
masuk ke darah dan berkembang biak.
G. KOMPLIKASI
1. Dehidrasi atau kekurangan cairan pada tubuh
2. Tekanan darah menurun secara tiba-tiba
3. Malaria Serebral: komplikasi ini cukup langka, tapi malaria bisa
mengakibatkan pembengkakan pada otak. Ini terjadi ketika sel darah yang
dipenuhi parasit menghalangi pembuluh darah kecil di otak. Terkadang
bisa menyebabkan kerusakan otak permanen, kejang-kejang, atau bahkan
koma.
4. Anemia parah: kerusakan sel darah merah yang disebabkan parasit
malaria bisa mengakibatkan terjadinya anemia pada tingkat parah. Anemia
adalah kondisi di mana tubuh kekurangan sel darah merah yang berfungsi
dengan baik dalam membawa oksigen ke organ-organ tubuh.
5. Kegagalan fungsi organ tubuh: malaria bisa menyebabkan gagal ginjal,
gagal hati atau pecahnya organ limpa. Semua kondisi ini bisa mengancam
nyawa seseorang.
6. Gangguan pernapasan: penumpukan cairan di dalam paru-paru atau
edema paru bisa menyebabkan Anda kesulitan bernapas.
7. Sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS)
8. Hipoglikemia: malaria yang parah bisa menyebabkan hipoglikemia atau
kondisi gula darah rendah. Obat antimalaria quinine, juga bisa akibatkan
gula darah rendah. Gula darah yang sangat rendah bisa berakibat koma
atau bahkan kematian.
9. Jaundice atau penyakit kuning
H. MANAJEMEN TERAPI
1. Terapi profilaktik terhadap malaria dianjurkan bagi orang yang bepergian
ke daerah endemik. Pencegahan di daerah endemik antara lain terdiri dari
eliminasi sumber-sumber genangan air dan penggunaan insektisida,
kelambu, dan insect reppelent.
2. Tersedia obat antimalaria untuk mengatasi penyakit apabila terjangkit.
3. Kadang-kadang dilakukan transfusi darah. Namun, di daerah-daerah
endemik dapat terjadi penularan virus imunodefisiensi manusia (HIV).
4. Baru-baru ini diciptakan vaksin yang tidak mencegah infeksi oleh parasit,
tetapi tampaknya dapat mengurangi keparahan penyakit.
5. Pemberian terapi IVFD untuk menjaga hidrasi pasien cukup.

BAB II
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Riwayat Penyakit Saat Ini
Klien dengan malaria biasanya akan diawali dengan adanya keluhan seperti
demam yang memanjang, mual serta nyeri dibagian perut.
a. Aktivitas/istirahat
Malaise.
b. Sirkulasi
TD normal/sedikit dibawah jangkauan normal. Kulit hangat, kering,
bercahaya (vasodilasi), pucat, lembab, burik (vasokonstriksi).
c. Makanan/cairan
Anoreksia, mual/muntah, penurunan berat badan, penurunan lemak
subkutan/massa otot, penurunan haluaran, konsentrasi urine,
perkembangan ke arah oliguria, serta anuria.
d. Neurosensori
Sakit kepala, pusing, pingsan, gelisah, ketakutan, kacau mental,
disorientasi, delirium/koma.
e. Nyeri/kenyamanan
Kejang abdominal, lokalisasi rasa sakit/ketidaknyamanan.
f. Pernapasan
Takipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan, penggunaan
kortikosteroid, infeksi baru.
g. Integumen
Umumnya meningkat (37,95oC atau lebih) tetapi mungkin normal pada
lansia, menggigil, ruang eritema makular, drainase purulen
2. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditayakan apakah ada anggota keluarga yang menderita malaria
beberapa waktu terakhir.
3. Pengkajian Psikososial
Pengkajian psikososial meliputi apa yang dirasakan klien terhadap
penyakitnya, bagaiamana cara mengatasinya, serta bagaimana perilaku klien
terhadap tindakan yang dilakukan kepada dirinya.

B. MASALAH YANG LAZIM MUNCUL


1. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi.
2. Risiko infeksi faktor resiko penurunan sistem imun.
3. Hipertermia berhubungan dengan peningkaan laju metabolisme
4. Risiko kekurangan volume cairan faktor resiko kehilangan cairan melalui
keringat
C. DIAGNOSA DAN RENCANA KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
1 Nyeri akut berhubungan dengan Pain control Pain Management
proses inflamasi. Setelah dilakukan intervensi  Lakukan pengkajian komprehensif
Batasan karakteristik: keperawatan selama ...x..., klien dapat terhadap nyeri (PQRS)
 Bukti nyeri dengan standart mengontrol nyeri, dengan indikator:  Kaji latar belakang budaya yang
periksa nyeri  Mengetahui onset nyeri mempengaruhi respon klien terhadap
 Diaforesis
 Menggunakan ukuran nyeri
 Dilatasi pupil
 Ekpresi wajah nyeri nonfarmakologis untuk  Kaji dampak nyeri terhadap kualitas
 Fokus menyempit mengurangi nyeri hidup (tidur, aktivitas)
 Fokus pada diri sendiri
 Mengekpresikan perilaku  Menggunakan agen farmakologis  Diskusikan cara yang biasa digunakan
 Perilaku distraksi untuk mengurangi nyeri pasien untuk mengatasi nyeri
 Perubahan parameteri
 Menyatakan kenyamanan  Ajarkan teknik relaksasi, distraksi
fisiologis
 Perubahan posisi  Kolaborasikan pemberian analgetik

menghindari nyeri  Pantau efektifitas analgetik yang


 Perubahan selera makan diberikan
 Putus asa
 Sikap melindungi area nyeri  Anjurkan klien cukup istirahat dan
aktivitas
 Instruksikan pada klien untuk
melaporkan nyeri
2 Risiko infeksi faktor resiko Immune Status Infection control
penurunan sistem imun. Knowledge : Infection control  Pertahankan teknik aseptif
Risk control  Batasi pengunjung bila perlu
Setelah dilakukan tindakan  Cuci tangan setiap sebelum dan
keperawatan selama...x..., diharapkan sesudah tindakan keperawatan
pasien tidak mengalami infeksi dengan  Gunakan baju, sarung tangan sebagai
kriteria hasil: alat pelindung
 Klien bebas dari tanda  Ganti letak IV perifer dan dressing
dan gejala infeksi sesuai dengan petunjuk umum
 Menunjukkan kemampuan  Gunakan kateter intermiten untuk
untuk mencegah menurunkan infeksi kandung kencing
timbulnya infeksi  Tingkatkan intake nutrisi
 Jumlah leukosit dalam  Berikan terapi antibiotik
batas normal  Monitor tanda dan gejala infeksi
 Menunjukkan perilaku sistemik dan lokal
hidup sehat  Pertahankan teknik isolasi k/p
 Status imun,
 Inspeksi kulit dan membran mukosa
gastrointestinal,
terhadap kemerahan, panas, drainase
genitourinaria dalam batas
 Monitor adanya luka
normal
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda
dan gejala infeksi
 Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam
3 Hipertermia berhubungan dengan Thermoregulation Fever treatment, aktivitas:
peningkaan laju metabolisme Setelah dilakukan intervensi  Monitor suhu tubuh
Batasan karakteristik : keperawatan selama …x…, klien dapat  Monitor IWL (keringat, napas)
 Peningkatan suhu tubuh di mencapai termoregulasi efektif, ditandai  Monitor warna dan suhu kulit
atas nilai normal dengan:  Monitor nadi, tekanan darah, dan
 Kejang/konvulsi  Suhu tubuh dan kulit dbn (36,5- respirasi
0
 Kulit kemerahan 37,5 C)  Monitor penurunan tingkat kesadaran
 Peningkatan RR  tidak terjadi nyeri kepala dan  Monitor adanya kejang
 Takikardi nyeri otot
 Monitor nilai Hb, Hmt, dan WBC
 Hangat ketika disentuh  RR dan nadi dbn
 Monitor intake dan output
 Hidrasi adekuat
 Berikan medikasi antipiretik
 Melaporkan kenyamanan (tidakk
 Berikan obat untuk menangani
demam)
penyebab demam
 Berikan tindakan water tepid sponge
 Dorong peningkatan intake cairan oral
 Berikan cairan intravena
 Kompres pasien
 Tingkatkan sirkulasi udara
 Berikan oksigen, bila perlu
4 Risiko kekurangan volume cairan Fluid balance Fluid Management
faktor resiko kehilangan cairan Hydration  Pertahankan catatan intake dan output
melalui keringat Nutritional Status : Food and Fluid yang akurat
Intake  Monitor status hidrasi ( kelembaban
Setelah dilakukan tindakan membran mukosa, nadi adekuat,
keperawatan selama ...x..., diharapkan tekanan darah ortostatik ), jika
defisit volume cairan teratasi dengan diperlukan
kriteria hasil:  Monitor hasil lab yang sesuai dengan
 Mempertahankan urine output retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas
sesuai dengan usia dan BB, BJ urin, albumin, total protein )
urine normal,  Monitor vital sign setiap 15menit – 1
 Tekanan darah, nadi, suhu tubuh jam
dalam batas normal  Kolaborasi pemberian cairan IV
 Tidak ada tanda tanda dehidrasi,  Monitor status nutrisi
Elastisitas turgor kulit baik,  Berikan cairan oral
membran mukosa lembab, tidak  Berikan penggantian nasogatrik sesuai
ada rasa haus yang berlebihan output (50 – 100cc/jam)

 Orientasi terhadap waktu dan  Dorong keluarga untuk membantu

tempat baik pasien makan

 Jumlah dan irama pernapasan  Kolaborasi dokter jika tanda cairan

dalam batas normal berlebih muncul meburuk


 Atur kemungkinan tranfusi
 Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas  Persiapan untuk tranfusi
normal  Pasang kateter jika perlu
 pH urin dalam batas normal  Monitor intake dan urin output setiap 8
 Intake oral dan intravena adekuat jam