Anda di halaman 1dari 13

KEPERAWATAN ANAK 1

PRE PLANING PERMAINAN UNTUK ANAK PRASEKOLAH

Dosen Pembimbing
Ns. Meira Erawati, Msi Med.

KELOMPOK 4

Reza Rizky A (22020117130082)


Wahyu Istiqomah (22020117140006)
Siti Khumaeroh (22020117120030)
Vania Luthfiyani S (22020117140004)
Zulfa Qothrun N (22020117130052)

A17.1

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Bermain adalah suatu aktivitas yang menyenangkan serta mempunyai manfaat


untuk merangsang perkembangan anak secara umum, membantu anak dalam
bersosialisasi dengan anak sebayanya ( sekartini,2011). Bermain tidak dapat dipisahkan
dengan dunia anak, melalui bermain anak akan belajar tentang dunia dan kehidupannya.
Bermain juga salah satu stimulus yang tepat untuk anak merangsang daya pikir anak
untuk mengembangkan aspek emosional, sosial dan fisiknya. Mendukung tumbuh
kembang dari aspek-aspek tersebut maka dibutuhkan sebuah program bermain anak.
Program bermain anak yang tepat dapat meningkatkan kecerdasan dalam berfikir
dan membantu mengembangkan imajinasinya. Program bermain anak juga harus
dirangsang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan usia anak. Pada anak
prasekolah umumnya perkembangan motorik halus anak sudah baik, komunikasi verbal
dan non verbal juga sudah baik. Maka, dengan itu kami bermaksud untuk melaksnakan
program bermain anak “Rainbow Rice Collage” pada anak usia prasekolah. Rainbow Rice
Collage ini dimaksudkan untuk menstimulus perkembangan-perkambangan anak tersebut,
seperti motorik halus, motorik kasar, kognitif, kreatifitas, dan sosial.

B. TUJUAN

Tujuan Umum :
Menciptakan inovasi permainan baru bagu anak-anak usia pra-sekolah sesuai
dengan tumbuh kembangnya. Permainan ditujukan kepada anak usia prasekolah pada
umumnya yang tidak sedang mengalami masalah psikologis.

Tujuan Khusus :
1. Memberikan inovasi permainan baru terhadap permainan yang sudah ada
2. Mengetahui tugas pertumbuhan dan perkembangan anak usia prasekolah
3. Mengetahui karakteristik permainan yang tepat untuk anak usia prasekolah sesuai
dengan tumbuh kembangnya
4. Menjelaskan konsep permainan baru “Rainbow Rice Collage” terhadap anak-anak
usia prasekolah

C. SASARAN

Aktivitas bermain “Rainbow Rice Collage” ini ditujukan kepada anak-anak


prasekolah pada umumnya atau yang tidak mengalami gangguan psikososial. Anak
tersebut berusia 3-5 tahun/6 tahun di TK Mekar Jaya, Jurang Blimbing.
BAB II
DESKRIPSI KASUS

A. KARAKTERISTIK SASARAN

Kriteria sasaran permainan “Rainbow Rain Collage” antara lain:


1. Anak-anak TK
2. Laki-laki/Perempuan
3. Usia 3-5/6 tahun
4. Sehat fisik ( tidak cacat ekstremitas atas / tangan )
5. Sehat normal/psikologis ( tidak autis dan gangguan psikologis lain )

B. TUGAS PERTUMBUHAN PERKEMBANGAN ANAK PRASEKOLAH

Tugas pertumbuhan dan perkembangan anak usia prasekolah antara lain:


1. Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik pada anak usia prasekolah khususnya pada berat badan
mengalami kenaikan pertahun rata-rata 2 kg, terlihat kurus akan tetapi aktivitas
motorik yang tinggi, sistem tubuhnya sudah mencapai kematangan seperti berjalan,
melompat, dan lain-lain. Pada pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan
bertambah rata-rata 6,75-7,5 centimeter setiap tahunnya (Hidayat, 2005).

2. Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik terdiri atas perkembangan motorik kasar dan halus.
Motorik halus adalah penggunaan sekelompok otot - otot kecil seperti jari-jemari dan
tangan dalam aktivitas menumbuhkan kecermatan dan koordinasi. Keterampilan
tersebut mencakup pemamfaatan dan penggunaan alat-alat untuk membuaat suatu
objek. Motorik kasar adalah gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan
koordinasi antar anggota tubuh dengan menggunakan otot-otot besar. Penggunaan
otot tersebut sebagian atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan
anak (Nursalam, 2007).
Keterampilan motorik kasar pada anak usia 3-6 tahun yaitu dapat melompat
dengan satu kaki, melompat dan berlari lebih lancar, mengembangkan kekmampuan
olah raga seperti meluncur dan berenang, mengendarai sepeda roda 3, menaiki tangga
dengan kaki bergantian berdiri satu kaki selama beberapa menit, melompat dengan
satu kaki, menuruni tangga dengan kaki bergantian pada usia 4 tahun melompati tali,
dan berdiri seimbang dengan satu kaki dan mata tertutup pada usia 5 tahun (Muscari,
2005).
Keterampilan motorik halus pada anak prasekolah yaitu merekatkan sepatu,
membuat jembatan dengan 3 balok, menggambar tanda silang, mengancingkan baju
sendiri, makan sendiri, dapat makan dengan menggunakan sendok dan garpu,
mengoleskan selai ke roti dengan menggunakan pisau, menuangkan air minum ke
dalam gelas, mandi sendiri, menggunakan gayung saat mandi, dan dapat ke toilet
sendiri (Muscari, 2005).

3. Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa anak usia prasekolah yaitu mampu menyebutkan hingga
empat gambar, hingga empat warna, menyebutkan kegunaan benda, menghitung,
menggunakan bunyi untuk mengidentifiasi objek, orang dan aktivitas, meniru
berbagai bunyi kata, memahami arti larangan, berespon terhadap panggilan dan
orang-orang anggota keluarga terdekat (Hidayat, 2005). Rata-rata anak usia 3 tahun
mengucapkan 900 kata, berbicara kalimat dengan 3-4 kata dan berbicara terus
menerus. Rata-rata usia anak 4 tahun mengucapkan 1.500 kata, mengatakan cerita
yang berlebih-lebihan, dan bernyanyi yang sederhana. Rata-rata usia 5 tahun dapat
mengucapkan 2.100, mengetahui 4 warna atau lebih dan dapat menamakan hari-hari
dalam 1 minggu dan bulan (Muscari, 2005).

4. Perkembangan adaptasi sosial


Perkembangan adaptasi sosial pada anak usia prasekolah adalah dapat bermain
dengan permainan sederhana, menangis jika dimarahi, membuat permainan
sederhana, membuat permintaan sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan
peningkatan kecemasan terhadap perpisahan, mengenali anggota keluarga (Hidayat,
2005).

C. PRINSIP BERMAIN MENURUT TEORI

Prinsip bermain berdasarkan teori permainan dibagi menjadi teori klasik dan teori
modern. Teori tersebut antara lain:

1. Teori-Teori Permainan Klasik


Teori – teori permainan kalsik muncul dari abad sembilan belas sampai perang
dunia pertama, teori-teori tersebut berdasarkan Mutiah (2010), antara lain:
a) Teori kelebihan tenaga yang diajukan oleh Herbert Spencer. Teori ini juga
disebut teori pelepasan energi. Teori ini menjelaskan bahwa kegiatan bermain
pada anak dipengaruhi oleh kelebihan tenaga pada diri anak. Tenaga atau energi
yang menumpuk pada anak perlu digunakan atau dilepaskan dalam bentuk
kegiatan bermain.
b) Teori rekreasi yang diajukan oleh Moritz Lazarus. Teori rekreasi menjelaskan
bahwa tujuan bermain adalah memulihkan energi yang telah terkuras saat
bekerja, tenaga ini dapat dipulihkan dengan cara melibatkan diri dalam
permainan.
c) Teori biologis yang diajukan oleh Karl Gross. Teori ini menjelaskan bahwa
permainan mempunyai tugas - tugas biologis untuk melatih bermacam - macam
fungsi jasmani dan rohani untuk menghadapi masa depan.
d) Teori praktis diajukan oleh Karl Buhler. Teori ini menjelaskan bahwa anak anak
bermain karena harus melatih fungsi jiwa dan raga untuk mendapatkan
kesenangan di dalam perkembangannya.

2. Teori-Teori Permainan Modern

Berdasarkan Mutiah (2010), teori-teori permainan modern terdiri atas:


a) Teori Sigmund Freud
Berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud, bermain berfungsi untuk
mengekspresikan dorongan implusif untuk mengurangi kecemasan yang
berlebihan pada anak. Bentuk kegiatan bermain tersebut berupa bermain fantasi
dan imajinasi dalam sosio drama atau pada saat bermain sendiri. Menurut Freud,
melalui bermain dan berfantasi anak dapat mengemukakan harapan-harapan dan
konflik serta pengalaman yang tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Sebagai contoh yaitu anak bermain perang-perangan untuk mengekspresikan
kekesalannya dengan meninju boneka dan pura-pura bertarung.

b) Teori Jean Piaget


Teori kognitif dari Jean Piaget, menjelaskan bahwa bermain mampu
mengaktifkan otak anak, mengintegrasikan fungsi belahan otak kanan dan kiri
secara seimbang dan membentuk struktur syaraf, serta mengembangkan pilar-
pilar syaraf pemahaman yang berguna untuk masa depan. Vygotsky
menambahkan bahwa bermain mempunyai peran langsung terhadap
perkembangan kognisi anak. Bermaian merupakan cara berpikir anak dan cara
anak memecahkan masalah, menemukan pengetahuan dalam dunia sosial yang
didapatkan dari teman bermain yang akan menjadi perkembangan kognitifnya.

D. KARAKTERISTIK PERMAINAN MENURUT TEORI

Bermain pada masa anak- anak mempunyai karakteristik tertentu yang


membedakannya dari permainan orang dewasa. Berdasarkan Hurlock (2010: 322- 326)
karakteristik permainan pada masa anak- anak yaitu:

1. Bermain dipenuhi tradisi


Anak kecil menirukan permainan anak yang lebih besar yang menirukan dari
generasi anak sebelumnya. Jadi dalam setiap kebudayaan, satu generasi menurunkan
bentuk permainan yang paling memuaskan dan biasanya berbeda-beda kegenerasi
selanjutnya.

2. Bermain mengikuti pola


Sejak masa bayi hingga masa pematangan, beberapa permainan tertentu populer
pada tingkat usia tertentu tanpa mempersoalkan lingkungan, bangsa, status sosial
ekonomi dan jenis kelamin. Misalnya adalah permainan balok kayu yang dilalui
dalam empat tahapan. Pertama, anak lebih banyak memegang, menjelajah, membawa
balok dan menumpuknya dalam bentuk tidak teratur. Kedua, membangun deretan dan
menara. Ketiga, mengambangakan teknik untuk membangun rancangan yang lebih
rumit. Keempat, mendramatisir dan menghasilkan bentuk yang sebenarnya.

3. Ragam kegiatan permainan menurun semakin bertambahnya usia


Penurunan ini disebabkan oleh anak yang lebih dewasa kurang memiliki waktu
untuk bermain dan mereka ingin menghabiskan waktunya dengan cara menimbulkan
kesenangan. Anak-anak meinggalkan permainan waktu kecilnya dengan alasan
karena telah bosan atau menganggapnya kekanak-kanakan.

4. Bermain menjadi semakin sosial dengan meningkatnya usia


Dengan bertambahnya jumlah hubungan sosial, kualitas permaianan anak-anak
menjadi lebih sosial. Pada saat anak-anak mencapai usia sekolah, kebanyakan mainan
mereka adalah sosial seperti permainan kerja sama. Tetapi, hal ini dilakukan apabila
mereka telah memiliki kelompok dan dapat menimbulkan kesempatan untuk belajar
berteman dengan cara bersosialisasi.

5. Jumlah teman bermain semakin menurun dengan bertambahnya usia


Pada fase prasekolah, anak menganggap semua anggota kelompok sebagai
teman bermain, tetapi ketika dia telah mengerti tentang kelompok kecil dia akan
memilih untuk bermain di dalamnya. Mereka ingin bermain dengan kelompok
kecilnya itu dimana anggotanya memiliki perhatian yang sama dan permainannya
menimbulkan kepuasan tertentu bagi mereka.

6. Bermain semakin lebih sesuai dengan jenis kelamin


Anak laki-laki tidak saja menghindari teman bermain perempuan pada saat
mereka masuk sekolah, tetapi juga menjauhkan diri dari semua kegiatan bermain
yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.

7. Permainan masa kanak-kanak berubah dari tidak formal menjadi formal.


Permainan anak kecil bersifat spontan dan informal. Mereka bermain kapan
saja dan dengan mainan apa saja yang mereka sukai, tanpa memperhatikan tempat
dan waktu. Secara bertahap menjadi semakin formal.

8. Bermain secara fisik kurang aktif dengan bertambahnya usia


Perhatian anak dalam permainan aktif mencapai titik rendahnya selama masa
puber awal. Anak-anak tidak saja menarik diri untuk bermain aktif, tetapi juga
menghabiskan sedikit waktunya untuk membaca, bermain dirumah atau menonton
televisi. Kebanyakan waktunya dihabiskan dengan melamun.

9. Terdapat variasi yang jelas dalam permainan anak.


Walau semua anak melalui tahapan bermain yang serupa dan dapat diramalkan,
tidak semua anak bermaian dengan cara yang sama pada usia yang sama. Variasi
permainan anak dapat ditelusuri pada sejumlah faktor.
BAB III
METODOLOGI BERMAIN

A. JUDUL PERMAINAN
Judul permainan yang kami buat adalah “Rainbow Rice Collage”.

B. DESKRIPSI PERMAINAN
Rainbow Rice Collage adalah permainan menempelkan butir beras yang sudah
diwarnai dengan pewarna makanan di kertas yang sudah terdapat pola gambar tertentu
yang sudah dipersiapkan. Dlam permainan ini, setiap anak memperoleh satu pola gambar
yang sudah tersedia yang dipilih berdasarkan keinginan mereka sendiri. Butir-butir beras
terdiri dari warna-warna pelangi (merah, orange, kuning, hijau, biru, ungu) dengan
tanbahan hitam dan putih. Dalam setiap meja yang terdiri dari 4 orang anak akan
disediakan satu paket warna tersebut beserta lem. Dalam hal ini, ana-anak diajak untuk
saling berbagi warna dengan teman-temannya serta melatih kesabaran dalam menunggu
gilirannya mengambil beras warna. Selain itu, dalam menempelkan butiran beras ini,
anak-anak diharapkan mampu mengikuti pola yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Setelah waktu bermain telah usai, kolase gambar yang telah dibuat akan dijemur dan
diangin-anginkan agar lem dan butiran beras menempel kuat di kertas.

C. TUJUAN PERMAINAN
Rainbow Rice Collage ini bertujuan untuk:
1. Untuk melatih motorik halus anak
2. Untuk melatih motorik kasar anak
3. Untuk melatih anak agar bisa berbagi
4. Untuk melatih kreativitas anak
5. Untuk melatih kesabaran anak
6. Untuk melatih kerapihan anak
7. Untuk melatih perkembangan otak anak
8. Untuk meningkatkan bonding ( kedekatan dengan orang lain )
9. Untuk melatih kognitif anak
10. Untuk melatih sosial emosional anak

D. KETERAMPILAN YANG DIPERLUKAN


Dalam permainan Rainbow Rice Collage ini, keterampilan yang dibutuhkan yaitu
menempel, kreativitas dalam memilih warna, dan menyesuaikan pola gambar yang
mengasah kesabaran anak.

E. JENIS PERMAINAN
Rainbow Rice Collage ini termasuk jenis permainan kolase. Kolase adalah jenis
permainan dengan menyusun benda sesuai dengan pola gambar.

F. ALAT YANG DIPERLUKAN


Alat dan bahan yang diperlukan dalam permainan “Rainbow Rice Collage” ini adalah:
1. Alat
a) kuas sedang

2. Bahan
a) kertas yang sudah ada pola gambarnya
b) beras
c) pewarna makanan
d) lem kertas

G. WAKTU PELAKSANAAN
1. Tempat
TK Mekar Jaya Jurang blimbing Rt.04/Rw.04, Tembalang, Semarang

2. Waktu
Hari/Tanggal : (Praktik pada semester 5)
Pukul : 09.00 WIB-Selesai
Lama : 45 menit

3. Pengorganisasian
a) Setting Tempat
b) Uraian Tugas
1) Leader
Tugas leader adalah:
a. Memulai dan mengakhiri kegiatan
b. Menjelaskan prosedur dan cara kegiatan
c. Memotivasi anggota kelompok mengemukakan pendapat dan
memberikan feed back terhadap kegiatan yang dilakukan
d. Mengatasi masalah yang mungkin timbul selama kegiatan
e. Mengkoordinir seluruh petugas yang terlibat pelaksanaan terapi
bermain
f. Memberi reinforcement positif
g. Menyimpulkan kegiatan

2) Fasilitator 1, 2 dan 3
Tugas fasilitator 1, 2 dan 3 adalah:
a. Memfasilitasi anak-anak yang mengalami kesulitan saat bermain
b. Menjelaskan kembali kepada anak-anak yang belum mengerti
c. Memberikan motivasi kepada anak-anak yang tidak mau bermain
d. Menengahi ketika anak-anak bertengkar
e. Membantu membagikan beras warna dan lem

3) Pendokumentasi
Tugas pendokumentasi adalah:
a. Melakukan pendokumentasian berupa foto maupun video selama
kegiatan berlangsung

c) Mekanisme Kegiatan
No Waktu Kegiatan Mahasiswa Kegiatan Peserta
1. 09.00- Pembukaan Mendengarkan penjelasan
09.05 a. Memusatkan perhatian anak- dari mahasiswa dan
anak memperkenalkan diri saat
b. Salam ditunjuk
c. Perkenalan mahasiswa
d. Perkenalan dosen pembimbing
e. Perkenalan anak-anak
f. Menjelaskan tujuan
g. Kontrak waktu
2. 09.05- Acara Inti Mengambil pola yang sudah
09.35 a. Pembagian kelompok kecil disediakan dan mulai
yang terdiri dari 4 orang anak bermain
b. Membagikan alat dan bahan
untuk permainan
c. Meminta anak untuk berbaris
dalam mengambil pola yang
tersedia
d. Membagikan alat dan bahan
yang diperlukan dalam bermain
e. Menjelaskan dan memberi
motivasi terhadap anak yang
masih belum memahami
permainan
f. Memandu dan mengawasi anak-
anak selama acara berlangsung
3. 09.35- Penjemuran dan Cuci Tangan Keluar kelas dengan rapi
09.40 a. Memfasilitasi anak-anak untuk untuk menjemur kolase yang
menjemur kolase yang sudah sudah jadi, mencuci tangan
jadi di terik matahari atu dengan sabun dan berperan
diangin-anginkan aktif dalam bernyanyi
b. Membagi jadwal keluar kelas
untuk melakukan penjemuran
c. Memandu anak-anak untuk
mencuci tangan dengan sabun
d. Mengajak untuk anak-anak
duduk di tempatnya masing-
masing
e. Mengisi waktu luang dengan
bernyanyi
4. 09.40- Penutupan dan Foto Bersama Mendengarkan penjelasan
09.45 a. Menyimpulkan kegiatan
b. Memberikan penghargaan
kepada anak-anak terktif,
terkreatif dan kolase terbaik
selam akegiatan berlangsung
c. Doa bersama
d. Salam
e. Foto bersama dengan hasil
kolase gambar

H. PROSES BERMAIN
Proses bermain permainan “Rainbow Rice Collage” yaitu:
1. Anak – anak diberikan pilihan gambar dan mereka memilih gambar yang mereka
sukai
2. Setiap meja dibagikan lem dan beras yang sudah berwarna
3. Mulai mengkolase gambar dengan beras :
a. Lem dioleskan sesuai gambar yang tersedia
b. Beras warna ditaburkan diatas pola gambar yang sudah diberikan lem
c. Menekan beras agar menempel dengan kuat
d. Dilakukan berulang sampai pola terisi penuh dengan beras warna
4. Setelah selesai menempelkan, kertas dikeringkan dibawah sinar matahari / diangin-
anginkan.
5. Rainbow Rice Collage sudah jadi

I. HAL-HAL YANG PERLU DIWASPADAI


Hal-hal yang harus diwaspadai/membahayakan anak-anak dalam bermain yaitu:
a. Memakan butir-butir beras
b. Tidak mencuci tangan setelah kegiatan
c. Bau lem yang menyengat

J. ANTISIPASI MEMINIMALKAN HAMBATAN


Antisipasi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan hambatan yaitu:
a. Pengawasan pada anak
b. Pemberian informasi tentang bahan-bahan yang tidak boleh dimakan
c. Pencampuran lem dengan minyak esensial yang aman dan berba tidak menyengat
d. Setelah kegiatan melakukan cuci tangan dengan sabun

K. KRITERIA EVALUASI (STRUKTUR, PROSES, HASIL)


1. Evaluasi Struktur
a. Peserta program bermain berasal dari TK Mekar Jaya
b. Pengaturan tempat sesuai dengan setting
c. Mahasiswa berperan sesuai dengan perannya

2. Evaluasi Proses
a. Selama proses berlangsung anak dapat mengikuti proses kegiatan
b. Selama proses kegiatan berlangsung anak berperan aktif dalam kegiatan
c. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan

3. Evaluasi Hasil
a. Anak dapat bekerja sama dengan baik sesuai dengan kegiatan yang dilakukan
b. Semua anak yang mengikuti kegiatan mampu mengutarakan perasaannya
c. Anak yang mengikuti kegiatan mampu bersosialisasi antara satu dengan yang
lainnya
BAB IV
PEMBAHASAN

Rainbow Rice Collage merupakan program bermain untuk anak usia pra sekolah yakni
usia 3-5/6 tahun. Pada anak usia pra sekolah, sesuai dengan tahap perkembangannya anak
akan mengalami perkembangan seperti pada motorik, kognitif, kreatifitas dan sosial. Oleh
karenanya program bermain Rainbow Rice Collage ini dimaksudkan untuk menstimulus
perkembangan-perkembangan anak tersebut, seperti motorik halus, motorik kasar, kognitif,
kreatifitas, dan sosial.
Program bermain Rainbow Rice Collage ini dilaksanakan bertujuan untuk melatih
motorik halus, motorik kasar, berbagi, kreativitas, kerapihan, kognitif dan sosial emosional
pada anak. Berkaitan dengan teori kognitif dari Jean Piaget, menjelaskan bahwa bermain
mampu mengaktifkan otak anak, mengintegrasikan fungsi belahan otak kanan dan kiri secara
seimbang dan membentuk struktur syaraf, serta mengembangkan pilar-pilar syaraf
pemahaman yang berguna untuk masa depan. Pada usia pra sekolah menurut Piaget termasuk
pada tahap pra opersional pada tahap ini anak telah menunjukkan aktivitas kognitif dalam
menghadapi berbagai hal diluar dirinya. Aktivitas berfikirnya belum mempunyai sistem yang
terorganisasikan. Anak sudah dapat memahami realitas di lingkungan dengan menggunakan
tanda –tanda dan simbol. Cara berpikir anak pada pertingkat ini bersifat tidak sistematis, tidak
konsisten, dan tidak logis. Anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilihat atau didengar.
Dalam program bermain Rainbow Rice Collage dapat memberikan kesempatan kepada
anak untuk mengembangkan kemampuannya atau kreativitasnya dalam menggunakan jari
jemarinya untuk meniru bentuk, menempel dan mengeksplorasi kemampuannya dengan
menggunakan media beras, maka anak akan percaya diri sehingga perkembangan morik halusnya
dapat meningkat. Penyataan tersebut sesuai dengan John Lock (1632 - 1704) yang mengemukakan
bahwa pengalaman dan pendidikan bagi anak merupakan faktor yang paling menentukan dalam
perkembangan anak. Kegiatan yang dilakukan dalam program bermain ini adalah menempel atau
yang sering disebut kolase.
Kegiatan menempel pada program bermain ini dapat meningkatkan penggunaan
motorik halus. Perkembangan motorik adalah perkembangan dari unsur pengembangan dan
pengendalian gerak tubuh. Perkembangan motorik berkembang dengan kematangan syaraf
dengan otot. Menggunakan motorik halus dengan cara menggerakkan otot-otot halus pada jari
dan tangan. Gerakan ini keterampilan bergerak, yang bisa mencakup beberapa fungsi yang
melalui keterampilan motorik halus anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan
senang dan anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolahnya. Gerakan motorik
halus adalah bila gerakan hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan
oleh otot-otot kecil, seperti keterampilan menggunakan jari-jemari tangan dengan gerakan
pergelangan tangan yang tepat. Menempel untuk anak usia dini dilakukan dengan
memperhatikan beberapa ketentuan. Ketentuan tersebut dibuat untuk dapat memaksimalkan
anak mengoptimalkan segala aspek perkembangannya. Anak diberi kebebasan untuk
membentuk apapun sesuai dengan imajinasi dan kreativitasnya.
DAFTAR PUSTAKA

Diana Mutiah. 2010. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2005). Pengantar Keperawatan anak, Edisi 2. Salemba Medika:
Jakarta

Hurlock, E. (1999). Psikologi perkembangan, (terjemahan). Jakarta : Erlangga

Nursalam, N. (2007). Manajemen keperawatan: Aplikasi dalam praktek keperawatan


profesional. Jakarta: Salemba Medika.

Muscari, Mary E. 2005. Keperawatan Pediatrik Edisi 3.Alih bahasa Alfrina. Jakarta : EGC

Sekartini, Rini. (2011). Kumpulan Tips Pediatrik. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter
Anak Indonesia.