Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PSIKOLOGI KOMUNIKASI

“PERSEPSI DAN SELF COMMUNICATION”

Dosen Pengampu :

Free Dirga Dwatra, S.Psi, M.A

Disusun oleh :

Kelompok 1

Altikah Salmai (17011087)

Regina Aldiyus (17011055)

Yoga Afrilianto (17011325)

Yusuf Nurrahman (17011207)

Jurusan Psikologi

Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Padang

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan kehadirat Allah SWT bahwa kami telah menyelesaikan
makalah tentang “Persepsi dan Self Communication”. Walaupun masih jauh dari kata sempurna,
namun kami bersyukur dapat menyelesaikan tugas ini tepat waktu dan dengan sebaik-baiknya,
untuk itu kami sangat mengharapkan saran. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih banyak
kepada dosen mata kuliah Psikologi Komunikasi, Free
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Dengan
segala kerendahan hati kami berharap makalah ini berguna dan bermanfaat bagi yang
memerlukan.

Padang, Februari 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
1. Latar Belakang………………………………………………………..1
2. Rumusan Masalah…………………………………………………….1
3. Tujuan………………………………………………………………...1
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………….2
A. Definisi Persepsi…………………………………………………….2
B. Proses Pembentukan Persepsi Pada Manusia………………………..2
C. Faktor yang memengaruhi…………………………………………...6
D. Diri dalam komunikasi………………………………………………12
BAB III PENUTUP………………………………………………………….16
A. Kesimpulan……………………………………………………………16
REFERENSI………………………………………………………………….17

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Persepsi adalah proses interaksi yang memungkinkan kita memilih,
mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut
mempengaruhi perilaku kita. Cara seseorang mempersepsikan sesuatu hal dengan orang lain
berbeda, meskipun Indera dan penggunaannya sama. Persepsi merupakan inti komunikasi
karena jika persepsi seseorang tidak akurat, Tidak mungkin orang tersebut berkomunikasi
dengan efektif. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi individu, semakin mudah dan
semakin sering mereka berkomunikasi, sehingga makin cenderung membentuk kelompok
budaya atau kelompok identitas. Persepsi meliputi penginderaan melalui reseptor indrawi,
atensi (perhatian), dan interprestasi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud persepsi ?
2. Apa itu Self Communication ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu persepsi.
2. Untuk mengetahui tentang self communication.

BAB II
1
PEMBAHASAN

A. Definisi Persepsi

Bimo Walgito. pengertian persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh
penginderaan yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu
melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris.

Slameto (2010). persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau
informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan
hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera
pengelihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium.

Menurut Robbins (2003). yang mendeskripsikan bahwa persepsi merupakan kesan


yang diperoleh oleh individu melalui panca indera kemudian di analisa (diorganisir),
diintepretasi dan kemudian dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna.

Menurut Purwodarminto (1990). persepsi adalah tanggapan langsung dari suatu


serapan atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pengindraan.

B. Proses Pembentukan Persepsi pada Manusia

Persepsi adalah proses aktif untuk menciptakan makna dengan cara menyeleksi,
menyusun, dan menginterpretasi manusia, objek, peristiwa. situasi, atau fenomena lainnya.
Harap dicatat bahwa persepsi adalah proses aktif. Kita tidak secara pasif menerima setiap
peristiwa yang terjadi. Sebaliknya, kita aktif merasakan apa yang terjadi pada diri kita, orang
lain, dan interaksi yang terlibat di dalamnya. Untuk melakukannya. kini hanya memilih
informasi yang penting saja. Informasi inilah yang akan kita susun dan organisasi kan.
Makna yang diberikan oleh sebuah peristiwa tergantung dari interpretasi yang diberikan
padanya. jadi persepsi bukan sesederhana menerima informasi begitu saja dari luar tubuh.
Kita mengeluarkan banyak energi dan usaha untuk menciptakan makna dari sebuah
peristiwa.

Persepsi terdiri dari tiga proses, yaitu seleksi, organisasi, dan interpretasi. Proses ini
berkelanjutan, saling terkait, dan bersifat interaktif. Misalnya, hal yang kita lihat dalam
2
sebuah peristiwa memengaruhi bagaimana cara kita mengorganisasikan dan memaknainya.
Sebaliknya, proses ini akan memengaruhi bagaimana cara kita melihat peristiwa lainnya.

1. Seleksi
Persepsi selektif merupakan istilah yang diaplikasikan pada kecenderungan
persepsi manusia yang dipengaruhi oleh keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan,
sikap-sikap, dan faktor-faktor psikologi lainnya. Persepsi selektif mempunyai peranan
penting di dalam komunikasi seseorang. Persepsi selektif berarti bahwa orang yang
berbeda dapat menanggapi pesan yang sama dengan cara yang berbeda. Tidak ada
seorang komunikator yang dapat mengasumsikan bahwa sebuah pesan akan mempunyai
ketepatan makna untuk semua penerima pesan atau terkadang pesan tersebut mempunyai
makna yang sama pada semua penerima pesan. Hal ini menyulitkan model komunikasi
massa kita. Barangkali komunikasi

2. Organisasi
Setelah memilih apa hal mesti diperhatikan, kita harus merasakan dan
memahaminya. Kita mengorganisasikan apa yang telah diamati dan memberikan makna
pada hal tersebut. Teori yang menjelaskan tentang bagaimana cara mengorganisasikan
pengalaman disebut dengan konstruktivisme. Teori ini mengatakan bahwa pengalaman
disusun dan diinterpretasikan dengan menerapkan struktur kognitif yang disebut dengan
skema. Kita mengandalkan empat skema untuk merasakan fenomena interpersonal. yaitu
prototipe, konstruk personal, stereotipe dan skrip.
a. prototipe adalah contoh yang paling mewakili dari sebuah kategori. contoh nya, anda
memiliki prototipe untuk beberapa kategori, seperti guru, atasan di kantor, sahabat, atau
rekan kerja. setiap kategori tersebut adalah contoh orang-orang yang ideal. itulah yang
dimaksudkan dengan prototipe, contoh ideal dari kategori. Misalnya. Jane adalah sahabat
teebaik yang pernah Anda kenal. Oleh karena itu. Anda menjadikan jane sebagai prototipe
sahabat. Prototipe ini (jane) membantu Anda untuk memutuskan siapa saja yang cocok
masuk kategori tersebut (sahabat). Misalnya, Anda ingin mengenal sosok Burt dan
kemudian melihat seberapa banyak kemiripan sifatnya dengan Jane (prototipe). jika Anda
melihat bahwa Burt punya banyak kesamaan dengan jane, maka ia akan dimasukkan
dalam kategori sahabat. Prototipe mengorganisasikan persepsi kita dengan menempatkan

3
situasi, orang, atau fenomena lainnya pada kategori umum. Kita yang memutuskan
seberapa dekat karakter orang atau fenomena tersebut dengan prototipe tiap kateaori.

b. Konstruk Personal adalah sebuah standar yang digunakan untuk mengukur seseorang atau
situasi yang bipolar. Contoh dari konstruk personal adalah cerdas-tidak cerdas, baik-tidak
baik, tanggung jawab tidak bertanggung jawab, tegas-tidak tegas, menarik-tidak menarik
Kita menggunakan konstruk personal untuk menakar dimensi seseorang atau peristiwa.
Seberapa cerdas, baik, dan menariknya seseorang? Perbedaan personal konstruk dan
prototipe terletak pada dimensi yang dijadikan patokan. Prototipe membantu kita untuk
mengklasiflkasikan seseorang atau situasipada kategori yang umum, sedangkan personal
konstruk membantu kita untuk membuat penilaian detail terhadap seseorang atau situasi
tertentu.

Konstruk personal ikut membentuk persepsi kita karena kita mendefinisikan


sesuatu hanya dengan menggunakan kosntruk tersebut Ketika melihat sesuatu dan
menyusun maknanya dengan menggunakan kontruk personal yang diyakini. jadi,
penilaian kualitas personal seseorang dilakukan dengan menggunakan konstruk tersebut.

c. Stereotipe adalah prediksi umum yang dikenakan pada orang atau situasi tertentu.
Berdasarkan kategori dan personal konstruk yang dilekatkan pada seseorang, kita
memperkirakan apa yang akan mereka lakukan. Misalnya, jika Anda mendefinisikan
seseorang sebagai kelompok liberal, maka Anda akan memberikan stereotipe bahwa
mereka pasti pemilih partai Demokrat dalam pemilu. Stereotipe juga dapat diberikan pada
kelompok kesukuan tertentu, anggota militer, olahragawan, dan orang dari berbagai latar
belakang. Stereotipe tidak memerlukan kesamaan objektif di antara orang-orang tersebut.
Sebaliknya, stereotipe berdasarkan persepsi subjektif kita terhadap kesamaan yang ada
dalam kelompok tertentu. Persepsi subjektif ini bisa jadi kita dapatkan ketika berinteraksi
dengan kelompok suku tertentu.

d. Skrip Skema kognitif terakhir yang digunakan untuk mengorganisasikan persepsi adalah
skrip. Sama seperti fungsi skrip dalam naskah drama, skrip dalam skema kognitif
berfungsi sebagai pandangan untuk berperilaku. Skrip terdiri atas rangkaian aktivitas
yang diharapkan oleh kita dan orang lain pada situasi tertentu. Skrip muncul berdasarkan

4
pengalaman dan pengamatan kita pada beragam situasi. Hampir seluruh aktivitas harian
kita diatur oleh skrip, meski mungkin kita sendiri tidak menyadarinya.

3. Interpretasi

Bahkan, ketika kita telah menyeleksi peristiwa dan menggunakan skema kognitif
untuk menyusun Persepsi, infomasi yang diterima belum terlalu jelas. Penyebabnya karena
fenomena tidak memiliki makna instrinsik. Sebaliknya, makna diberikan melalui interpretasi
terhadap apa yang kita amati dan organisasikan. Interpretasi adalah proses subjectif untuk
menjelaskan persepsi yang kita alami, dengan tujuan memberi makna terhadap informasi.
Kita menyusun berbagai penjelasan untuk menginterpretasi makna pada berbagai
situasi/perilaku.

4. Atribusi

Aribusi adalah alasan mengapa sesuatu dapat terjadi atau mengapa seseorang dapat
berperilaku dalam cara tertentu. Atribusi memiliki empat dimensi, Dimensi pertama adalah
fokus yang menjelaskan alasan perilaku seseorang dari faktor internal (" ia tidak pernah
sabar dengan orang yang datang terlambat”) atau faktor ekstemal (“Kemacetan tersebut
membuat ia frustrasi”). Dimensi kedua adalah stabilitas yang menjelaskan perilaku sebagai
hasil dari faktor tetap yang tidak berubah oleh waktu (“Dia termasuk dalam orang dengan
kepribadian tipe A”) atau perilaku sebagai basil faktor tidak tetap yang dapat berubah oleh
situasi (“Ia marah karena sekarang sedang sakit kepala”).

Dimensi ketiga adalah kekhususan yang menjelaskan perilaku dalam istilah apakah
ia berdampak global dan dapat diterapkan pada semua situasi (“Dia seorang pemboros”)
atau perilaku yang dampaknya hanya dirasakan pada situasi tertentu (“Ia kadang-kadang
boros hanya ketika sedang punya banyak uang saja"). Sepintas, stabilitas dan kekhususan
punya makna yang sama, tetapi sebenarnya mereka berada pada dimensi berbeda. Stabilitas
berada pada dimensi waktu (apakah perilaku bersifat sementara atau seterusnya),
sedangkan kekhususan berfokus pada luasnya penjelasan.

5. Kesalahan Atribusi

5
Peneliti menemukan kesalahan umum yang biasa terjadi dalam proses atribusi.
Kesalahan pertama adalah bias yang mementingkan diri sendiri (self-serving bias). Ini
adalah bias yang terjadi pada diri sendiri. Peneliti melihat bahwa kita cenderung membuat
atribusi yang bagus bagi diri sendiri (Hamachek, 1992; Manusov &Spitzberg, 2008) . jadi,
kita cenderung membuat atribusi dengan dimensi internal, stabil, dan global bagi diri
sendiri. Kita juga sering menegaskan bahwa keberhasilan terjadi karena kerja keras yang
telah dilakukan. Misalnya, ketika mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian, itu karena
Anda cerdas (atribusi internal dan stabil), selalu bertanggung jawab (global) dan belajar
dengan giat (kontrol personal). Self-serving bias dapat juga terjadi dalam cara lain. Kita
cenderung menghindar dari tanggung jawab kegagalan dengan menaruh kesalahan pada
atribusi eksternal, tidak stabil, dan faktor spesiflk di luar kendali internal (Schutz, 1999).

Untuk menjelaskan sebab kegagalan dalam ujian, Anda akan menaruh atribusi pada
profesor (eksternal) yang memberi soal terlalu sulit (tidak, stabil, faktor spesifik), sehingga
apa yang sudah kamu pelajari tidak banyak membantu untuk menjawab tes (di luar kontrol
personal). Dengan kata lain, perilaku buruk kita terjadi karna faktor eksternal yang tidak
dapat kita cegah, tetapi perilaku baik pasti murni hasil usaha kita sendiri. Bias Seperti ini
dapat mengacaukan persepsi dan membuat kita terlalu melebih-lebihkan usaha pribadi
sekaligus mengurangi porsi tanggung jawab untuk kesalahan. Ketika bias tersebut
menciptakan interpretasi pada perilaku kita, ia hanya akan membuat gambaran yang tidak
realistis pada perilaku dan aktifitas kita.

C. Faktor yang memengaruhi

Setiap individu dibedakan dari cara mereka melihat situasi dan peristiwa Pada bagaian
ini, kitaakan membahas beberapa hal yang memengaruhi persepsi.

a. Fisiologi

Perbedaan kemampuan indera dan kemampuan fisiologis adalah salah satu alasan
mengapa setiap orang dapat memiliki persepsi berbeda untuk hal yang sama. Saya
memiliki pendengaran yang lebih tajam daripada Robbie. Ia tidak dapat mendengar suara

6
musik pada level yang saya anggap nyaman untuk dinikmati. Bagi saya, masakan dengan
cita rasa pedas itu sangat nikmat. Namun bagi Robbie, masakan pedas tersebut berbahaya
bagi perutnya. Beberapa perbedaandatam kemampuan pancaindera memengaruhi
persepsi kita. Jika sedang lelah. Anda cenderung melihat sesuatu dari perspektif negatif.
Datam kondisi lelah atau sakit, candaan dari rekan kerja dapat Anda tanggapi secara
emosional. Sebaliknya,jika fisik Anda dalam kondisi baik, ejekan atau candaan malah
membuat Anda tertawa. Setiap manusia memiliki ritme biologis yang memengaruhi
kondisi emosional kita. Saya selalu memiliki emosi yang baik di pagi hari. Oleh karena
itu, saya selalu menulis dan mengajar dipagi hari .Sore hari adalah waktu di mana energi
saya telah berkurang. Apa yang saya lihat dipagi hari, sering tidak terlihat di sore hari. Ini
karena ketika sore hari, saya tidak terlalu fokus dan sudah lelah.

Kondisi medis juga menjadi salah satu faktor fisiologis yang mempengaruhi persepsi
manusia. Jika pernah mengonsumsi narkotika, Anda pasti paham bagaimana narkotika
dapat membuatpersepsi berubah secara drastis. Di bawah pengaruh narkotika, seseorang
dapat menjadi lebih depresi, paranoid dan bahagia secara berlebihan. Perubahan tubuh
karena pengaruh medis juga memengaruhi informasi yang kita lihat. Saya punya sakit
punggung yang secaraberkala membuat saya tidak bisa bergerak dan amat tergantung
dengan tongkat penyangga. Ketika punggung sedang sakit saya menjadi lebih waspada
jika menemukan atap yang rendah, tanah yang tidak rata dan segala macam aktivitas yang
membuat punggung saya bergerak. Ketika saking punggung saya sembuh, saya tidak
pernah memerhatikan hal-hal tersebut.

b. Usia

Usia adalah faktor lain yang memengaruhi persepsi manusia .Coba bandingkan
persepsi memgenai uang pada remajaberusia 19-20 tahun dengan orang tuaberusia 60
tahun. Ketika masih kuliahdanberusia 22 tahun, saya berkata pada ayah saya betapa
sulitnya mendapatkan uang dengan menjadi asistendosen. Ayah bilang sekitar tahun
1930 Ia sudah begitu bahagia mendapatkan uang meski hanya cukup untuk makan roti
ayah saya hidup pada masa depresi ekonomi besar di AS. Ia memberika perspektif yang
lebihluas mengenai uang dan kehidupan ini Usia juga memengaruhi persepsi kita
terhadap waktu. Keponakan saya yang berusia 7 tahun merasa rentang waktu setahun itu
7
lebih lama dari yang saya rasakan. Ketika tumbuhsemakin dewasa dan semakin berpen
perspektif kita pada banyak hal juga ikutberubah. Misalnya, saya merasa kecewa ketika
tidak dapat mengajar dengan baik atau ketika saya memiliki pengeluaran diluar
perencanaan. Ayah saya meninggal ketika saya berusia 36tahun. Sejak itu saya
mendapatkan perspektif baru mengenai apa yang dikatakan buruk danperasaan yang
menyertainya.

Usia dan pengalaman hidup dapat mengubah persepsi kita terhadap masalah.
Seperti misalnya peningkatan diskriminasi yang masih dialami oleh wanita dan kelompok
minoritas membuat frustrasi banyak mahasiswa di kampus. Kebanyakan mahasiswa
memang berasal dari beragam kalangan. Saya merasa lebih beruntung dibandingkan
mereka karena telah melihat banyak perubahan terjadi datam hidup ini Ketika saya masuk
kuliah, wanita tidak memiliki deraja yang sama dengan pria. Para belajar dari kelompok
kulit berwarna juga dianggap sebagai kaum minoritas Namu ketika saya memasuki dunia
kerja, sudah ada peraturan yang melindungi wanita dan kelompok minoritas dari ketidak
adilan perubahan tersebut membuat saya menyadari bahwa telah ada perhatian
pemerintah terhadap Masalah diskriminasi dan ketida setaraan.

c. Budaya

Budaya adalah keseluruhan nilai, norma kepercayaan, dan pemahaman dari


interpretasi terhadap pengalaman yang melingkupi sekelompok manusia. Budaya
membentuk pola kehidupan dan memandu begaimana cara manusia berpikir merasakan,
dan berkomunikasi. Budaya punya pengaruh yang amatbesar dalam mempengaruhi
persepsi kita Terdapat beberapa aspek dari kebudayaan A. S yang memengaruhi persepsi
masyarakat di dalamnya. Budaya A S menekankan pada teknologi dan sifat hasil yang
diciptakannya (cepat dan praktis). Mayoritas masyarakat A S ingin segala sesuatu dapat
berjalan cepat dan instan Apakah hal tersebut berupa proses akses Internet, pekerjaan,
bahkan untuk pekerjaan rumah tangga seperti mencuci pakaian dan piring. Selalu ingin
mengakselerasi kecepatan. Kita mengirim suratdenganposkilatatau menggunakan fasilitas
e-mail. Kita menggunakan pesawat untuk bepergian . Kita membuat sarapan dengan
microwave. Dibeberapa negara seperti Nepal dan meksiko, kehidupan berjalan lebih

8
pelan dan menyenangkan. Orang- orang dapat menghabiskan waktu untuk mengobrol,
relaksasi, dan saling bercengkrama dalam aktivitas ringan.

Masyarakat AS memiliki budaya yang didominasi sifat individualistis. Dalam


budaya tersebut Inisiatif personal sangat diharapkan dan dihargai. Sementara datam
beberapa kebudayaan yang lebih mementingkan sifat kolektif, identitas lebih ditekankan
sebagaikeanggotaan padakeluarga atau kelompok social daripada kualitas individual.
Karena keluarga adalah identitas utama dalam budaya kolektif maka orangtua datam
budaya kolektif diberikan penghormatan dan perhatian yang lebih besar dari pada
orangtua dalam kebudayaan A. S (individual). Beberapa Negara yang bersifat komunal
memiliki kebijakan publik yang merefleksikan nilai penghormatan pada keluarga pada
beberapa negara berkembang, orangtua yang baru memiliki anak (termasuk anak angkat)
diberikan sedikitnya cuti kerja selama enam pekan, Sementara di beberapa Negara masa
cuti dapat mendekati satu tahun.

d. Lingkungan Sosial

Beberapa tahun belakangan, peneliti menyadari bahwa persepsi kita tidak hanya
dipengaruhi oleh budaya secara umum, tetapi juga lingkungan sosial tertentu yang
didefinisikan sebagai kelompok sosial yang kita miliki (Hallstein, 2000 Haraway 1998
Harding,1991). Sudut pandang (standpoint) adalah cara pandang yang timbul dari
kesadaran politik mengenai lingkungan sosial yang ditempati oleh kelompok Orang-
orang yang berkuasa dan memiliki status sosial cenderung berkeinginan mempertahankan
lingkungan yang memberikan hak khusus pada mereka Jadi, mereka tidak mungkin
kekurangan secara materi Sebaliknya orang-orang dalam kelompok yang tidak punya
kekuasaan sangat mungkin untuk mempersepsikan lingkunganya penuh dengan ketidak
adilan dan diskriminasi (Collins, 1998 Harding, 1991).

Pria dan wanita cenderung untuk menempati lingkungan sosial yang berbeda,
meski mereka juga saling berbagi lingkungan sosial. Misalnya wanita lebih cenderung
menempati lingkungan lebih feminin daripada pria Namun, lingkungan wanita tersebut
tidak selalu sama dengan lingkungan sosial para pengasuh (seperti ibu dan pengasuh
bayi). Lingkungan sosial seperti ini cenderung mengajarkan naluri keibuan pada wanita

9
(Ruddick, 1989). Peneliti memaparkan bahwa pria yang terlibat dalam banyak aktivitas
sosial dan pengasuhan cenderung menjadi lebih penyayang, mudah diajak bekerja sama
dan peka terhadap perasaan orang lain (Kaye &Applegate 1990).

e. Kemampuan Kognitif

Kompleksitas Kognitif Setiap orang memiliki skema tersendiri untuk melihat dan
memahami situasi kompleksitas kognitif mengacu pada sejumlah konstruk personal yang
digunakan dalam interaksi (ingat kembali bahwa konstruk personal terdiri atas dimensi
penilaian yang bipolar). Mayoritas anak-anak memiliki sistem kognitif yang sederhana
dan mengandalkan beberapa konstruk personal. Anak-anak lebih memperhatikan
situasiyang konkret daripada situasi abstrak Anak-anak juga sering kali tidak menyadari
hubungan yang terdapat dalam konstruk personal. Secara umum, orang dewasa memiliki
struktur kognitif yang lebih komplek dibandingkan anak anak. Jika Anda menilai orang
hanya dari apakah mereka baik atau tidak, berarti Anda memiliki keterbatasan dalam
melihat sifat orang lain. Orang yang berfokus pada informasi yang tampak memiliki
keterbatasan pengetahuan dibandingkan dengan orang yang juga melihatinfomnasi
psikologis. Contohnya, Anda mengamati bahwa ada orang yang menarik, suka lelucon,
dan gampang berbicara dengan orang laln. Ini adalah persepsi konkrit Pada kondisi yang
abstrak (levelpsikologis), perilaku orang tersebut merefleksikan memiliki kepribadian
kuat dan percaya diri.

person-centeredness berhubungan dengan kompleksitas struktur kognitif karena


ia memerlukan pemikiran abstrak dan skema kognitif yang amat luas. Person
Centeredness adalah kemampuan untuk melihat orang lain sebagai individu yang unik.
Kemampuan melihat keunikan orang lain tergantung pada sejauh mana kemampuan kita
untuk membuat perbedaan kognitif. Orang dengan struktur kognitif kompleks
mengandalkan skema kognitif lebih banyak untuk menginterpretasi perilaku orang lain.
Person-centeredness juga dicirikandengan kemampuan menggunakan pengetahuan
tentang orang lain untuk diterapkan dalam proses komunikasi Jadi, percakapan yang ia
lakukan berdasarkain informasi yang diterimanya mengenai lawan bicara tersebut.
Person-centeredness tidak sama dengan empati. Empati adalah kemampuan untuk
merasakanapa yang dialami oleh orang lain pada situasi, tanpa ikut larut datam situasi
10
tersebut, sedangkanperson-centeredness adalah keterampilan kognitif. Perasaan pada
seseorang adalah respons emosional yang tidak dapat sepenuhnya kita capai. Perasaan
kita cenderung diarahkan oleh pengalaman emosional, jadi agak mustahil kita dapat
merasakan dengan tepat apa yangdirasakan juga oleh orang lain. Hal yang dapat kita
lakukan adalah berusaha memahami apayang orang lain rasakan (Muehlhoff, 2006).
Dengan komitmen dan usaha, kita dapat belajarmemahami perspekstif orang lain.
Sekalipun perspektif tersebut jauh berbeda dengan keyakinankita. Pengetahuan ini
bersama dengan Icompleksitas kognitif akan menjadikan kita sebagai komunikator
person-centeredness.

f. Diri Sendiri

Hal terakhir yang memengaruhi persepsi adalah diri kita sendiri. Kita dapat
melihat betapa beragamnya cara melihat hubungan interpersonal pada orang dengan gaya
kelakatan yang berbeda. Orang deligan gaya kelekatan aman menilai bahwa dirinya
adalah orang yang dicintai dan orang lain dapat dipercaya. Mereka melihat hubungan
interpersonal sebagai sesuatu yang positif. Sebaliknya, orang dengan gaya kelekatan takut
melihat hubungan interpersonal sebagai sesuatu yang melukai psikologis. Orang dengan
gaya kelekatan meremehkan memaksa orang lain agar menilai dirinya baIk tetapi ia
sendiri menilai buruk pada sikap orang lain. Terakhir, orang dengan gaya kelekatan
cemas/ambivalen melihat hubungan interpersonal sebagai permainan dan tidak konsisten
datam bersikap.

Teori kepribadian implisit menjelaskan bagaimana konsep diri memengaruhi


persepsi interpersonal. Teori kepribadian implisit merupakan kumpulan dari
ketidaksadaran yangmenilai bagaimana beragam karakter dapat menyatu datam
kepribadian manusia. Kebanyakanmanusia mengira bahwa satu karakter otomatis terkait
dengan karakter lainnya-Misalnya,Anda mengira orang yang ramah itu pasti bersahabat,
percaya diri, dan humoris. Asumsi ini merupakan kesimpulan berdasarkan teori
kepribadian implisit mengenai karakter yang menyertai sifat ramah.

D. Diri dalam Komunikasi

a. Kesadaran-Diri
11
Jika kita harus mendaftarkan berbagai kualitas yang ingin kita miliki, kesadaran-
diri pasti menempati pioritas tinggi. Kita semua ingin mengenal diri sendiri secara lebih
baik, karena kitamengendalikan pikiran dan perilaku kita sebagian besar sampai batas
kita memahami diri sendiri-sebatas kita menyadari siapa kita. Kesadaran-diri merupakan
landasan bagi semua bentuk dan fungsi komunikasi (kleinke, 1978).Ini dapat dijelaskan
dengan baik melalui Jendela Johari (johari Window). Jendela ini dibagi menjadi empat
daerah atau kuadran pokok, yang, masing masing berisi diri (self) yang berbeda,

b. Daerah terbuka (Open Self)

Daerah terbuka (open self) berisikan semua informasi, perilaku, sikap, perasaan,
keinginan,motivasi,gagasan, dan sebagainya yang diketahui oleh diri sendiri dan oleh
orang lain. Macam informasi yang rermasuk di sini dapat beragam mulai dari nama,
warna kulit, dan jenis kelamin seseorang sampai pada usia, keyakinan politik dan agama.
Daerah terbuka masing-masing orang akan berbeda beda besarnya bergantung pada
dengan siapa orang ini berkomunikasi. Ada orang yang Membuat kita merasa nyaman
dan mendukung kita ; terhadap mereka, kita membuka diri kita membuka diri kita lebar
lebar. Terhadap orang yang Iain kita lebih suka menutup sebagian besar diri kita.

c. Daerah Buta (Blind Self)

Daerah buta (blind self) berisikan informasi tentang diri kita yang diketahui orang
lain, tetapi kita sendiri tidak mengetahuinya. Ini dapat berupa kebiasaan-kebiasaan kecil
mengatakan “ tahu kan" atau memegang-megang hidung bila Anda marah atau hal-hal
lain yang lebih berarti sepertl sikap defensif, atau pengalamah terpendam. Sebagian orang
mempunyai daerah buta yang luas dan tampaknya tidak menyadari berbagai kekeliruan
yang dibuatnya.

Orang lain kelihatannya sangat cemas jika memiliki sedikit saja daerah buta .
Mereka berusaha melakukan terapi dan mengikuti semua kegiatan kelompok penyadaran
diri, Sementara orang yang lain mengira mereka tahu segalanya tentang diri mereka
sendiri, percaya bahwa mereka telah menghilangkan daerah buta ini sampai nol. Masih
ada lagi orang yang hanya berpura-pura ingin memgurangi daerah buta mereka. Mereka
menunjukkan kesediaan untuk mendengar tentang diri mereka, tetapi baru saja komentar
12
bernada negatif muncul, mereka bersikap defensif dan membela diri. Kebanyakan dari
kita terletak di antara ekstrem-ekstrem ini. Komunikasi menuntut keterbukaan pihak-
pihak yang terlibat. Bila ada daerah buta, komunikasi menjadi sulit. Tetapi, daerah seperti
ini akan selalu ada pada diri kita masing-masing. Walaupun kitammungkin dapat
menciutkan daerah ini, menghilangkannya sama sekali tidaklah mungkin.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan-Diri

pengungkapan-diri terjadi lebih lancar datam situasi-situasi tertentu daripada


situasi yang lain. Disini, kita mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi
pengungkapan-diri.

Besar kelompok. pengungkapan-diri lebih banyak terjadi dalam kelompok kecil


dari pada Dalam kelompok besar. Diad (kelompok yang terdiri atas dua orang)
merupakan lingkungan yang paling cocok untuk pengungkapan-diri. Dengan satu
pendengar, pihak yang melakukan pengungkapan-diri dapat meresapi tanggapan dengan
cermat. Dengan dukungan atau ketiadaandukungan ini, orang dapat memantau
pengungkapan-diri ini, meneruskannya jika situasinya mendukung dan menghentikanys
jika situasi tidak mendukung. Bila ada lebih dari satu orang pendengar, pemantauan
seperti ini menjadi sulit, karena tanggapan yang muncul pasti berbeda daripendengar
yang berbeda.

Perasaan menyukai. Kita membuka diri kepada orang-orang yang kita sukai
atau cintai, dan kita tidak akan membuka diri kepada orang yang tidak kita sukai (Derlega
dkk., 1987). Ini tidak Mengherankan, karena orang yang kita sukai (dan barangkali
menyukai kita) akan bersikap mendukung dan positif. periset pengungkapan-diri John
Berg dan Richard Archer (1983) melaporkanbahwa tidak saja kita membuka diri kepada
mereka yang kita sukai, kita juga tampaknya menjadi suka kepada mereka terhadap siapa
kita membuka diri. Kita juga membuka diri lebih banyak kepada orang yang kita percayai
(Wheeles dan Grotz, 1977). Sewaktu-waktu, pengungkapan-diri lebih mungkin terjadi
dalam hubungan yang bersifat sementara dari pada dalam hubungan yang bersifat
permanen-misalnya, antara pelacur dan pelanggan-nya, atau bahkan di antara sesama
penumpang kereta api atau pesawat terbang. Michael McGill(1985), dalam the McGill

13
Report on Male intimacy, menamai hubungan macam ini” keakraban perjalanan
“(“ inflight intimacy"). Datam situasi ini, dua orang membina hubungan pengungkapan-
diri yang intim selama masa perjalanan yang singkat, tetapi tidak melanjutkamya setelah
itu.

Efek Diadik. Kita melakukan pengungkapan-diri bila orang yang bersama kita
juga melakukan pengungkapan-diri. Efek diadik ini barangkali membuat kita merasa
lebih aman dan, nyatanya, memperkuat perilaku pengungkapan-diri kita sendiri. Berg dan
Archer (1983) melaporkan bahwa pengungkapan-diri menjadi lebih akrab bila itu
dilakukan sebagai tanggapan atas pengungkapan diri orang lain.

Kompetensi. Orang yang kompeten lebih banyak melakukan datam


penwngkapan-diri daripada orang yang kurang kompeten. “Sangat mungkin, “ kata James
Mccros]tey dan Lawrence Wheeless (1976), “bahwa mereka yang lebih kompeten juga
merasa diri mereka memang lebih kompeten, dan karenanya mempunyai rasa percaya diri
yang diperlukan untuk lebih memanfaatkan Pengungkapan-diri. Atau, lebih Mungkin
lagi, orang yang kompeten barangkali memiliki lebih Banyak hal positif tentang diri
mereka sendiri untuk diungkapkan daripada orang-orang yang tidak kompeten”

Kepribadian. Orang-orang yang pandai bergaul (sociable) dan ekstrover


melakukan pengungkapan-diri lebih banyak daripada mereka yang kurang pandai
bergaul dan lebih introvert perasaan gelisah juga mempengaruhi derajat pengungkapan-
diri. Rasa gelisah adakalanya meningkatkan pengungkapan-diri kita dan kali lain
memengaruhinya sampai batas minimum. Orang yang kurang berani bicara pada
umumnya juga kurang mengungkapkan diri daripada mereka yang merasa lebih nyaman
dalam berkomunikasi.

Topik. Kita lebih cenderung membuka diri tentang top & tertentu daripada topik
yang lain. Sebagai contoh, kita lebih mungkin mengungkapkan informasi diri tentang
pekerjaan atan bobi kita dari pada tentang kehidupan seks atau situasi keuangan kita
oourard, 1968, 1971a). Kita juga mengungkapkan informasi yang bagus lebih cepat
daripada informasi yang kurang baik. Umum-nya, makin pribadi dan makin negatif suatu
topik, makin kecil kemungkinan kita mengungkapkannya.

14
Jenis Kelamin. Faktor terpenting yang mempengaruhi pengung)£apan-diri adalah
jeniskelamin. Umumnya, pria lebih kurang terbuka daripada wanita. Judy Pearson (1980)
berpendapatbahwa peran seks-lah (sex role) dan bukan jenis kelamin datam arti biologis
yang menyebabkanperbedaan datam hal pengungkapan-diri ini. « Wanita yang
maskulin,"misalnya, kurang membuka diri daripada wanita yang nilai datam skala
maskulinitasnya lebih rendah. Selanjutnya,"priafeminin'membuka diri lebih besar
daripada pria yang nilai datam skala femininitasnya lebih rendah. Pria dan wanita juga
mengemukakan alasan yang berbeda untuk penghindaran mereka terhadap
pengungkapan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam
otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan
lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihat,
pendengar, peraba, perasa, dan penciuman. Persepsi terdiri dari tiga proses, yaitu seleksi,
organisasi, dan interpretasi. Proses ini berkelanjutan, saling terkait, dan bersifat interaktif.
Misalnya, hal yang kita lihat dalam sebuah peristiwa memengaruhi bagaimana cara kita
mengorganisasikan dan memaknainya. Sebaliknya, proses ini akan memengaruhi
bagaimana cara kita melihat peristiwa lainnya

15
REFERENSI

DeVito, A. J. komunikasi antar manusia. Tanggerang : Karisma Publishing Grup

Saverin, J. W. (2001). Teori Komunikasi. Jakarta : Prenadamedia Grup.

Wood, T. J. (2010). Komunikasi interpersonal. Jakarta : Salemba Humanika

16