Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendekatan konseling behavioral ini berhubungan dengan skinner, Pavlov yang mana
pada penemuan itu selalu mengembangkan yang namanya stimulus dan respon. Pada tahun
1927 penerjemahan karya Pavlov kedalam bahasa Inggris mendorong pengambil alihan
pendekatan behavioristik dalam mempelajari psikologi amerika serikat. Salah satu study
yang paling penting adalah hal ini adalah yang dilakukan oleh Wathson dan Ray yang
menggunakan seorang anak kecil membuktikan bahwa rasa takut itu dipelajari.

Konseling behavioristik membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan


dengan lingkungan. Perilaku yang dapat diamati merupakan suatu kepedulian dari para
konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling. Menurut pandangan ini
manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar seperti yang dikemukakan oleh freud.
Sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi
pembentukan tingkah laku.

Pendekatan behavioral tidak mengesampingkan pentingnya hubungan klien/terapis atau


potensi klien untuk membuat pilihan-pilihan. Hakekat konseling menurut Behavioral adalah
proses membantu orang dalam situasi kelompok belajar bagaimana menyelesaikan masalah-
masalah interpersonal, emosional, dan pengambilan keputusan dalam mengontrol kehidupan
mereka sendiri untuk mempelajari tingkah laku baru yang sesuai.

Tujuan konseling behaviour adalah untuk memperoleh perilaku baru, mengeliminasi


perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan
dalam jangka waktu lama. Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan
langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk
menemukan istilah-istilah klien sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru.
Sistem dan prosedur konseling behavioral amat terdefinisikan, demikian pula peranan yang
jelas dari konselor dan klien.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian teori konseling behavioral ?

2. Apa konsep utama pendekatan behavioristik ?

3. Bagaimana pandangan tentang hakikat manusia ?

4. Apa ciri-ciri konseling behavioral ?

5. Bagaimana hubungan antara konselor dengan klien ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian teori konseling behavioral.

2. Untuk mengetahui konsep utama dalam pendekatan behavioristik.

3. Untuk mengetahui pandangan behavioristik tentang hakikat manusia.

4. Untuk mengetahui ciri-ciri konseling behavioral.

5. Untuk mengetahui hubungan antara konselor dengan klien.

2
BAB II

PENDEKATAN BEHAVIORAL DALAM KONSELING

2.1 Pengertian Teori Konseling Behavioral

Konseling Behavioral adalah salah satu dari teori-teori konseling yang ada pada saat ini.
Konseling behavioral merupakan bentuk adaptasi dari aliran psikologi behavioristik, yang
menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak. Pada hakikatnya konseling
merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien, bantuan di
sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah
yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu
menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya (Yusuf&Juntika,2005:9).

Pengertian konseling tidak dapat dipisahkan dengan bimbingan karena keduanya


merupakan sebuah keterkaitan. Surya (1988:25) mengungkapkan bahwa konseling
merupakan bagian inti dari kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih berkenaan
dengan masalah individu secara Pribadi.

Yusuf&Juntika (2005:15) mengutip pengertian konseling dari ASCA (American School


Conselor Assosiation ) sebagai berikut : Konseling adalah hubungan tatap muka yang
bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor
kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu
kliennya dalam mengatasi maslah- masalahnya. Sedangkan pengertian
behavioral/behaviorisme adalah satu pandangan teoritis yang beranggapan, bahwa persoalan
psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi-konsepsi mengenai kesadaran dan
mentalitas (JP.Chaplin, 2002:54). Aliran Behaviorisme ini berkembang pada mulanya di
Rusia kemuadian diikuti perkembangannya di Amerika oleh JB. Watson.

Dari pengertian koneling dan behaviorisme yang dipaparkan di atas kita dapat menarik
kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan konseling behavioral adalah sebuah proses
konseling (bantuan) yang diberikan oleh konselor kepada klien dengan menggunakan
pendekatan-pendekatan tingkah laku (behavioral), dalam hal pemecahan masalah-masalah
yang dihadapi serta dalam penentuan arah kehidupan yang ingin dicapai oleh diri klien.

3
Menurut Krumboltz& Thoresen (Surya, 1988:187) konseling behavioral adalah suatu proses
membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan
keputusan tertentu.

2.2 Konsep Utama Pendekatan Behavioristik

Pendekatan behavioral didasarkan pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia yaitu
pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam konseling. Konseling behavior juga
dikenal sebagai modifikasi perilaku yang dapat diartikan sebagai tindakan unuk mengubah
tingkah laku. Terapi ini berfokus pada perilaku yang tampak dan spesifik. Dalam konseling,
konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptif, memperkuat serta
mampertahankan perilaku yang diinginkan dan membentuk pola tingkah laku dengan
memberikan imbalan atau reinforcement muncul setelah tingkah laku dilakukan.

Ciri unik dari terapi ini adalah lebih berkonsentrasi pada proses tingkah laku yang
teramati dan spesitik, fokus pada tingkah laku kini dan sekarang. Periaku dipandang sebagai
respon terhadap stimulasi atau perangsangan eksternal dan internal Karena itu tujuan terapi
adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R)
sedapat mungkin. Kontribusi terbesar konseling behavioral adalah bagaimana memodifikasi
perilaku melalui rekayasa lingkungan sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan
perilaku.

Behaviorisme merupakan pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Menurut


behavioristik, manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial
budaya, sehingga perilaku manusia dapat dipelajari. Dalam konsep behavioral, perilaku
manusia merupakan hasil belajar sehingga dapat diubah dengan manipulasi dan mengkreasi
kondisi-kondisi belajar.

Teori behavioral tidak berlandaskan sekumpulan konsep yang sistematik, juga tidak
berakar pada suatu teori yang dikembangkan dengan baik. Sekalipun mempunyai banyak
teknik, terapi behavioral memiliki sedikit konsep. Terapi behavioral merupakan suatu
pendekatan induktif yang berlandaskan eksperimen-eksperimen dan menerapkan metode
eksperimental pada proses teurapeutik.

4
Mohamad Surya (1988:186) memaparkan bahwa dalam konsep behavioral, perilaku
manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan
mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu
penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu untuk mengubah
perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.

Hal yang paling mendasar dalam konseling behavioral adalah penggunaan konsep-konsep
behaviorisme dalam pelaksanaan konseling, seperti konsep reinforcement , yang nerupakan
bentuk adaptasi dari teori pengkondisian klasik Pavlov, dan pengkondisiaan operan dari
Skinner. Menurut Surya (1988:186) menyatakan bahwa ada tiga macam hal yang dapat
memberi penguatan yaitu : 1) Positive reinforcer, 2) Negative reinforcer, 3) No consequence
and natural stimuli.

Terdapat beberapa pendekatan atau metode yang diterapkan dalam koneling behavioral.
Krumboltz (Surya, 1988:188) memberikan empat kategori pendekatan konseling behavioral
diantaranya,:

1. Operant Learning: pendekatan ini merupakan adaptasi dari dua teori kondisioning dari
Pavlov dan Skinner, pendekatan ini memfokuskan pada penguatan (reinforcement),
dalam pembentukan perilaku klien yang dikehendaki.

2. Pendekatan belajar social bertolak dari pendapat Bandura tentang tiga sistem terpisah
namun merupakan system pengatur yang saling berkaitan, tiga aspek tersebut adalah :
peristiwa stimulus eksternal, penguat eksternal, dan yang paling penting adalah proses
perantara kognitif. Dalam pelaksanaanya pendekatan ini diterapkan oleh konselor
dengan cara merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien

3. Cognitive learning: metode ini merupakan metode pengajaran secara verbal, kontak
antara konselor dengan klien dan bermain peran. Pendekatan ini terdiri atas persuasi dan
argumentasi yang diarahkan kepada perubahan-perubahan ide yang tidak rasional.

4. Emotional Learning: emotional learning diterapkan pada individu yang mengalami


kecemasan. pelaksanaannya dilakukan dalam situasi rileks dengan menghadirkan
rangsangan yang menimbulkan kecemasan bersama suatu rangsangan yang

5
menyenangkan.

Conditioning learning memegang peranan yang sangat penting dalam pendekatan


behavoristik, terutama dalam memahami urutan terbentuknya tingkah laku. Landasan dalam
pendekatan behavior menurut pandangan Aubrey J. Yates (1970) adalah sebagai berikut :

a) Psikodinamika dan psikiatri tidak mampu menyelesaikan seluruh tingkah laku yang
salah suai.

b) Tingkah laku abnormal yang tidak disebabkan gangguan organik terjadi karena
kekeliruan belajar. Individu memperoleh tingkah laku baru yang dipandang
menyimpang melalui proses belajar.

c) Konsep-konsep seperti ketidaksadaran, id, ego, super ego, insight dan self, tidak
digunakan dalam memahami dan menyembuhkan penyimpangan tingkah laku.

d) Simptom merupakan penyimpangan tingkah laku yang penyembuhannya dilakukan


dengan menghilangkan tingkah laku tersebut, dan bukan sekedar mengganti simptom.

e) Penelitian tentang sebab-sebab terjadinya simptom dan mencari stimulus yang


menyebabkan terjadinya simptom sangat diperlukan bagi penyembuhannya.

Konseling kelompok merupakan proses penggunaan dinamika kelompok untuk


memecahkan permasalahannya. Beberapa teknik yang digunakan dalam konseling
behavioral kelompok (Corey: 2005), diantaranya adalah:

1) Penguatan Kembali (reinforcement)

Penguatan kembali merupakan intervensi yang penting dalam konseling kelompok


behavioral. Dalam terapi kelompok behavioral setiap anggota masing-masing
memberikan penguatan dengan cara penghargaan, persetujuan, dukungan dan
perhatian. Dalam beberapa kasus reinforcement dapat negative meliputi seperti berada
dalam kencaman. Salah satu tujuan dalam terapi behavioral kelompok adalah
mengajarkan individu untuk memperkuat diri mereka sendiri. Hal ini di lakukan agar
individu dapat meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dan menjadi tidak
bergantung kepada penguatan orang lain.

6
2) Extinction

Extinction adalah proses menurunkan nilai perilaku yang terjadi karena


meninggalkan reinforcers yang mempertahankannya. Apabila respons terus menerus
dibuat tanpa perkuatan maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan
demikian kenapa pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus
setelah suatu periode, cara untuk menghapus perilaku yang maladatif tersebut. Teknik
ini biasanya dalam kombinasi metode behavioral lain supaya anggota kelompok
memiliki perilaku pengganti yang di hilangkan. Extinction dapat didunakan ketika
anggota kelompok berbicara tentang materi yang tidak relevan. Dalam kasus seperti
itu pemimpin kelompok akan mengabaikan perilaku dan mempersilahkan anggota
kelompok lain untuk mengabaikannya juga. Hanya ketika anggota kelompok
memfokuskan pada materi yangrelevan maka dia akan menerima perhatian kelompok
dan pemimpinnya.

3) Contingency Contrast

Kontrak kontigensi menjelaskan perilaku yang harus dilakukan, perubahan atau


penghentian kegiatan, hadiah yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan, dan
kondisi-kondisi untuk menentukan pemberian hadiah-hadiah itu. Apabila mungkin
kontrak ini berisi pula batas waktu untuk memperhatikan perilaku yang diinginkan.
Kongtrak kotigensi biasanya digunakan untuk anak-anak, karena bagi orang dewasa
hal ini dirasakan sebagai sesuatu yang merendahkan diri.

4) Shaping

Shaping melibatkan pengajaran perilaku melalui penafsiran berturut-turut dan


pertautan. Proses langkah ini umumnya mengizinkan anggota untuk mempelajari
perilaku baru dalam waktu yang banyak dan bagian-bagian perilaku dipraktekan
hingga sempurna. Sebelum membuat shaping dalam kelompok, pemimpin kelompok
perlu menyadari rangkaian respon khusus yang ingin mereka tetapkan.

2.3 Pandangan tentang Hakikat Manusia

Hakikat manusia dalam pandangan para behaviorist adalah pasif dan mekanistis, manusia

7
dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan
lingkungan yang membentuknya. Dalam teori ini menganggap manusia bersifat mekanistik
atau merespon kepada lingkungan dengan kontrol terbatas, hidup dalam alam deterministic
dan sedikit peran aktifnya dalam memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupannya
dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya,dan interaksi ini menghasikan pola-pola
perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Periaku seseorang ditentukan oleh banyak
dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Konseling behavioral ini
berpandangan bahwa manusia itu:

a) Lahir dalam bawaan netral artinya manusia itu mempunyai hak untuk berbuat
baik/buruk/jahat.

b) Lahir dengan membawa kebutuhan dasar dan dipengaruhi oleh interaksi dengan
lingkungan.

c) Kepribadian manusia berkembang atas dasar interaksi dengain lingkungannya.

d) Mempunyai tugas untuk berkembang melalui kegiatan belajar

e) Manusia dapat mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan

Berdasarkan pada hakikat manusia, teori dan pendekatan behavior ini menganggap bahwa
pada dasarnya manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan
kontrol yang terbatas, hidup dalam alam deterministik dan sedikit berperan aktif dalam
menentukan martabatnya. Manusia memulai kehidupannya dan memberikan reaksi terhadap
lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang akan membentuk
kepribadian. Perilaku seseorang ditentukan oleh intensitas dan beragamnya jenis penguatan
(reinforcement) yang diterima dalam situasi hidupnya.

Pendekatan behavior di dalam proses konseling membatasi perilaku sebagai fungsi


interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Perilku yang dapat diamati merupakan
suatu kepedulian dari konselor sebagai kriteria pengukuran keberhasilan konseling. Dalam
konsep behavior, perilaku manusia merupakan hasil belajar yang dapat diubah dengan
memanipulasi dan mengkreasikan kondisi-kondisi belajar. Di mana proses konseling
merupakan suatu proses atau pengalaman belajar untuk membentuk konseli mengubah

8
perilakunya sehingga dapat memecahkan masalahnya. Dalam konsep behaviorisme modern,
perilaku manusia dipandang dalam mekanisme dan pendekatan ilmiah yang diimplikasikan
pada pendekatan secara sistematis dan terstruktur dalam proses konseling. Manusia tidak
diasumsikan secara deterministik tetapi merupakan hasil dari pengkondisian sosio kultural.
Trend baru dalam behaviorisme adalah diberinya peluang kebebasan dan menambah
keterampilan konseli untuk memiliki lebih banyak opsi dalam melakukan respon.

Secara filosofis behaviorisme meletakkan manusia dalam kutub yang berlawanan, namun
pandangan modern menjelaskan bahwa faktor lingkungan memiliki kekuatan alamiah bagi
manusia dalam stimulus-respon, sesuai dengan konsep social learning theory dari Albert
Bandura. Konsep ini menghilangkan pandangan manusia secara mekanistik dan
deterministik bahkan dalam tulisan Thoresen dan Coates, behaviorisme modern merupakan
perpaduan antara behavioral-humanistic approaches (Hanyata: 2012:3-4).

Pendekatan behavioral tidak mengesampingkan pentingnya hubungan klien/terapis atau


potensi klien untuk membuat pilihan-pilihan. Dari dasar pendekatan tersebut, dapat
dikemukakan beberapa konsep kunci tentang hakikat manusia sebagai berikut :

a. Tingkah laku manusia diperoleh dari belajar, dan proses terbentuknya kepribadian
adalah melalui proses kematangan dan belajar. Terbentuknya tingkah laku, baik positif
maupun negatif diperoleh dari belajar.

b. Kepribadian manusia berkembang bersama-sama dengan interaksinya dengan

lingkungannya. Interaksi yang dapat diamati antara individu dengan lingkungan,


interaksi ini ditentukan bentuknya oleh tujuan, baik yang berasal dari diri pribadi
maupun yang dipaksakan oleh lingkungan.

c. Setiap orang lahir dengan membawa kebutuhan bawaan, tetapi sebagian besar
kebutuhan dipelajari dari interaksi dengan lingkungan. Mula-mula individu banyak
tergantung pada sumber kepuasan eksternal, namun semakin matang kekuatan penguat
internal semakin penting.

d. Manusia bukanlah hasil dari conditioning sosial/kultural mereka, namun sebaliknya


manusia adalah produser (penghasil) dan hasil dari lingkungannya. Kecenderungan

9
saat ini adalah mengarah pada prosedur perkembangan yang nyata memberikan
pengontrolan pada diri para klien.

e. Manusia tidak lahir baik atau jahat tetapi netral, bagaimana kepribadian seseorang
dikembangkan tergantung pada interaksinya dengan lingkungan. Dengan kata lain,
dapat saja manusia menjadi baik atau sebaliknya tergantung dari bagaimana ia belajar
dalam interaksi dengan lingkungan.

f. Manusia mempunyai tugas untuk berkembang, dan semua tugas perkembang yang
harus diselesaikan dengan belajar. Hidup adalah serangkaian tugas yang dipelajari.
Keberhasilan belajar akan menimbulkan suatu kepuasan, sedangkan kegagalan
berakibat ketidakpuasan dan penolakan sosial.

2.4 Ciri-ciri Konseling Behavioral

Ciri-ciri konseling behavioral menurut Latipun (2008) adalah:

a) Berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik

b) Perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat dirubah

c) Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling

d) Mengembangkan prosedur perlakuan spesitik sesuai dengan masalah klien

e) Penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling

f) Prinsip-prinsip belajar sosial seperti misalnya reinforcement dan social modeling, dapat
digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling

g) Keefektifan koseling dan hasil konseling dinlai dari perubalan-perubahan dalam perilaku-
perilaku khusus konseli diluar dari layanan konseling yang diberikan

h) Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap, atau ditentukan sebelumnya, tetapi dapat
secara khusus didisain untuk membantu konseli dalam memecahkan masalah khusus

10
2.5 Hubungan Konselor-Konseli

Yang menjadi perhatian utama konselor behavioral adalah perilaku yang tampak, dengan
alasan ini banyak asumsi yang berkembang tentang pola hubungan konselor- klien lebih
manupulatif- mekanistik dan sangat tidak Pribadi, namun seperti dituturkan Rosjidan
(1988:243) salah satu aspek yang essensial dalam terapi behavioral adalah proses penciptaan
hubungan Pribadi yang baik.

Untuk melihat hubungan konselor-klien dalam seting konseling behavioral dapat kita
perhatikan dari proses konseling behavioral. Proses konseling behavioral yaitu sebuah
proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan
keputusan tertentu.

Jika kita perhatikan lebih lanjut, pendekatan dalam konseling behavioral lebih cenderung
direktif, karena dalam pelaksanaannya konselor-lah yang lebih banyak berperan.

Peran Konselor :

a. Menyebutkan tingkah laku maladaptip

b. Memilih tujuan-tujuan yang masuk akal

c. Mengarahkan dan membimbing keluarga untuk merubah tingkah laku yang tak sesuai

Penerapan teori tingkah laku ke dalam konseling keluarga menekankan 3 hal pokok:

a. Menciptakan konseling yang positip

b. Mendiagnosis problem-problem keluarga ke dalam istilah tingkah laku

c. Mengimplementasikan prinsip-rinsip tingkah laku dari penguat dan model

d. Penggunaan model dan permainan peranan dalam proses penyembuhan.

e. Adanya kesepakatan atas hal yang akan diubah antara konselor dan anggota keluarga

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Konseling behavioral merupakan adaptasi dari aliran psikologi behaviorisme yang


memfokuskan perhatiannya pada tingkah laku yang tampak. Pada hakikatnya konseling
merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien, bantuan di
sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah
yang dipilihnya sendiri. Dalam pandangan kaum behaviorist (termasuk konselor behavioral)
manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dirubah dan dibentuk, manusia bersifat
mekanistik dan fasif. Banyak pendekatan dalam konseling behavioral, dari keseluruhan
pendekatan yang ada semua menjurus pada pendekatan direktif dimana konselor lebih
berperan aktif dalam penangan masalahnya.

3.2 Saran

Dengan adanya teori tentang pendekatan behavioristik diharapkan agar mampu untuk
memahami secara secara detail apa konseling behavioristik yang sebenarnya, tujuan, serta
hakekattentang manusia, karakteristik dan peran serta fungsi konselor hingga dapat
memahami hubungan konselor dengan konseli, tahap dan teknik konseling bahkan
diharapkan mampu menanggapi kelebihan dan keterbatasan serta asumsi perilaku
bermasalah serta cirri khusus yang ada pada konseling behavioristik.

12
KEPUSTAKAAN

Chaplin, J.P. (2002). Kamus Lengkap Psikologi (terjemahan). Jakarta: Raja Grapindo.

Corey, G. (2005). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Seventh Edition.
Belmont: Brooks/Cole-Thomson Learning.

Latipun. (2008). Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.

Rosjidan, (1985). Pengantar Teori-teori Konseling. Jakarta: Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan.

Sanyata, S. (2012). Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling. Paradigma
Jurnal. Volume 7 No 14 (3-4).

Surya, M. (1988). Pengantar Teori-teori Konseling. Bandung: CV Pustaka Bani Quraisy.

Yusuf, S. & Juntika, N. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosdakarya.

13