Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ANTROPOLOGI

“KESATUAN HIDUP LOKAL TRADISIONAL”

Dosen Pengampu :
Drs. Indra Ibrahim, M.si, Kons

Oleh kelompok 12 :
Meldya Wati (17011166)
Rahmat Iqbal (17011188)
Vivia Zami (17011072)
Yulia Yasni (17011129)
SESI F

Jurusan Psikologi
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Padang
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Antropologi dengan judul “Kesatuan Hidup Lokal dan
Tradisional”.
Makalah ini telah kami susun semaksimal mungkin dan dapat banyak
bantuan dari beberapa pihak untuk memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak. Terlepas dari
semua itu, kami menyadari bahwa banyak kesalahan pada makalah ini.
Oleh karena itu kami menerima segala kritikan agar dapat memperbaiki
makalah kami ini. Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
pembaca dan dapat menambah wawasan tentang Antropologi.

Padang,5 Mei 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGATAR ................................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................1
C. Tujuan Masalah .......................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Solidaritas dalam Masyarakat .......................................................................2
B. Pelapisan Sosial.............................................................................................4
C. Pimpinan Masyarakat ....................................................................................6
D. Pengendalian Sosial ......................................................................................8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................................10
B. Saran .............................................................................................................10
KEPUSTAKAAN ....................................................................................................11

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Wilayah merupakan syarat mutlak untuk kesatuan hidup suatu
komunitas atau kumpulan dari berbagai individu untuk membentuk
kesatuan hidup. Orang yang tinggal bersama disuatu wilayah belum tentu
merupakan satu kesatuan hidup apabila mereka tidak merasa terikat oleh
rasa bangga dan cinta kepada wilayahnya. Sebagai suatu kesatuan manusia
komunitas tentu saja memiliki rasa kesatuan seperti yang dimiliki hampir
semua kesatuan manusia lainnya, namun perasaan dalam komunitas
biasanya sangat tinggi sehingga ada rasa kepribadian kelompok, yaitu
perasaan bahwa kelompoknya memiliki ciri-ciri kebudayaan atau cara
hidup yang berbeda dari kelompok lainnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertin dari solidaritas dalam masyarakat?
2. Apa yang dimaksud dengan pelapisan sosial ?
3. Apa yang dimaksud dengan pimpinan masyarakat?
4. Apa yang dimaksud dengan pengendalian sosial ?
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan pengertian solidaritas dalam masyarakat
2. Menjelaskan maksud dari pelapisan sosial
3. Menjelaskan materi pimpinan masyarakat
4. Menjelaskan materi pengendalian sosial

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Solidaritas dalam Masyarakat


Sebagai suatu kesatuan manusia komunitas tentu saja mempunyai rasa
kesatuan seperti yang dimiliki semua kesatuan manusia lainnya. Bentuk
dari komunitas ada bermacam-macam, ada yang besar seperti kota tetapi
ada juga komunitas kecil yaitu desa, Rt dan sebagainya. Komunitas kecil
selain memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Para warganya saling mengenal dan bergaul secara intensif,
2. Karena kecil maka setiap bagian yang ada didalamnya tidak terlalu
berbeda antar yang satu dan yang lainnya.
3. Para warganya dapat menghayati berbagai lapangan kehidupan mereka
dengan baik. (Koentjaraningrat,2005:144).
1. Prinsip Timbal-Balik Sebagai Penggerak Masyarakat.
Penelitian para ahli antropologi sosial dan sosiologi menunjukkan
bahwa saling tolong-menolong didasari karena saling membutuhkan.
Menurut B. Malinowski, dalam masyarakat penduduk kepulauan trobiand,
sistem saling tukar-menukar jasa tenaga dan benda dalam berbagai bidang
produksi dan ekonomi dan dalam penyelenggaraan upacara-upacara
keagamaan, maupun pertukaran harta mas kawin, menjadi pengikat dan
penggerak dalam masyarakat. Sistem memberi sumbangan yang
mengundang kewajiban bagi si penerima sumbangan untuk membalasnya,
merupakan prinsip dalam kehidupan masyarakat kecil yang oleh
Malinowski disebut principle of reciprocity, atau prinsip timbal-balik.
2. Gotong-Royong Tolong-Menolong
Gotong-royong memang tidak selamanya diberikan secara rela dan
ikhlas, tetapi ada beberapa tingkat kerelaan, tergantung dari jenis
kegiatannya dalam kehidupan sosial yaitu:
1. Tolong-menolong dalam kegiatan pertanian
2. Tolong-menolong dalam kegiatan-kegiatan sekitar rumah tangga
3. Tolong-menolong dalam mempersiapkan pesta dan upacara
4. Tolong-menolong sewaktu terjadi musibah

2
Masyarakat yang menyelenggarakan kegiatan tentu harus
memperhatikan peraturan-peraturan sopan-santun dan adat-istiadat, antara
lain dengan menyajikan makanan dan minuman.
3. Gotong-Royong Kerja Bakti
Jenis gotong-royong kerja bakti terbagi menjadi dua:
1. Bekerjasama dalam proyek-proyek yang diprakarsai para warga
komunitas sendiri
2. Bekerjasama dalam proyek-proyek yang diperintahkan oleh Kepala
Desa.
Proyek-proyek yang diprakarsai para warga komunitas sendiri tentu
benar-benar dirasakan manfaatnya, karena itu dikerjakan dengan ikhlas
dan penuh semangat. Sebaliknya, proyek-proyek yang diperintahkan dari
atas, seringkali tidak mereka pahami benar manfaatnya, dan dirasakan
sebagai kewajiban yang tidak dapat mereka hindari kecuali dengan cara
mewakilkannya kepada orang lain (dengan memberi imbalan uang).
4. Jiwa Gotong-Royong.
Jiiwa atau semangat gotong-royong (sebagai lawan dari jiwa
individualis) timbul akibat adanya pengertian akan kebutuhan sesama
warga masyarakat. Dalam masyarakat yang memiliki jiwa gotong-royong,
kebutuhan umum dinilai lebih tinggi dari pada kebutuhan pribadi, dan
kerja bakti merupakan hal yang terpuji.
Dengan demikian nyata bahwa sistem pengarahan tenaga dengan
tolong-menolong merupakan ciri kelompok-kelompok primer, tetapi jiwa
gotong-royong dan jiwa berbakti adalah ciri-ciri dari watak atau
kepribadian yang dimiliki banyak bangsa didunia, dalam suatu lingkungan
yang lebih luas dari pada kelompok primer.
5. Masyarakat Dan Jiwa Musyawarah
Musyawarah adalah unsur sosial yang ada dalam banyak masyarakat
pedesaan diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Keputusan yang diambil
dalam suatu rapat tidak berdasarkan pendapat mayoritas, tetapi merupakan
keputusan yang dicapai secara bulat.

3
B. Pelapisan Sosial
Suatu kedudukan yang dianggap paling terhormat disuatu masyarakat,
mungkin berada diperingkat dibawahnya dalam masyarakat lain, dan yang
dianggap rendah disuatu masyarakat, mungkin sangat dihormati dalam
masyarakat lain. Dengan demikian ada masyarakat yang menentukan
tinggi-rendahnya kedudukan seseorang berdasarkan besar kecilnya
kekuasaannya, dan ada masyarakat yang menilai kekayaan, kepandaian,
keterampilan, pengetahuan, atau suatu kombinasi dari hal-hal tersebut
untuk menentukan tinggi-rendahnya kedudukan seseorang.
Hampir semua masyarakat tampak gejala bahwa orang yang
dipandang (dan menganggap dirinya sendiri) mempunyai kedudukan
tertentu, cenderung untuk bergaul lebih banyak dengan orang-orang yang
kedudukannya sama, sehingga terbentuk lapisan-lapisan sosial. Setiap
lapisan sosial itu kemudian mengembangkan cara dan gaya hidup
tersendiri (eksklusif), berbeda dengan cara dan gaya hidup lapisan-lapisan
sosial lainnya. Di Amerika Serikat, misalnya, warga masyarakat dari
lapisan tertentu berbeda dengan warga masyarakat dari lapisan-lapisan
lainnya jika dilihat dari gaya pakaiannya, bagian-bagian kota yang dipilih
sebagai tempat tinggal, merek mobil yang dimiliki, gereja tempat
beribadah, sekolah yang dipilih bagi anak-anak mereka, toko-toko yang
dikunjungi untuk berbelanja. Lapisan-lapisan sosial yang sangat mencolok
perbedaannya itu menyebabkan bahwa lapisan-lapisan sosial kemudian
disebut “lapisan-lapisan sosial tak-resmi” , yang dalam tulisan-tulisan
berbahasa Inggris disebut social classes.
Sebab-sebab terjadinya susunan berlapis :
1) Kualitas serta keahlian
2) Senioritas
3) Keaslian
4) Hubungan kekerabatan dengan kepala masyarakat
5) Pengaruh dan kekuasaan
6) Pangkat
7) Kekayaan

4
1. Sistem Kasta.
Sistem kasta terbentuk apabila suatu sistem pelapisan sosial seakan-
akan terbeku. Walaupun sistem kasta umumnya kita hubungkan dengan
agama hindu, ada pakar-pakar yang cenderung memberi batasan yang
lebih luas pada paham kasta, yaitu sebagai sistem pelapisan sosial dengan
ciri-ciri sebagai berikut:
1) Keanggotaan berdasarkan kelahiran
2) Endogami kasta yang dikuatkan dengan sanksi hukum dan agama
3) Larangan pergaulan dengan warga-warga kasta rendah
yang di kuatkan dengan sanksi hukum dan agama. Terutama larangan
bergaul dengan anggota-anggota masyarakat yang dianggap hina inilah
yang tampak mencolok dalam kehidupan sehari-hari masyarakat India.
Berdasarkan pembatasan paham tersebut diatas, bukan hanya
masyarakat India saja yang mempunyai sistem kasta, tetapi juga
masyarakat Amerika Serikat, dengan adanya pemisahan yang tajam
(segregation) antara lapisan orang kulit putih (whites) dan lapisan
warganegara Amerika kulit hitam (Negroes, atau coloreds), sedang sistem
pemisahan yang tajam antara lapisan orang kulit putih dan lapisan
penduduk pribumi di negara Uni Afrika Selatan juga dapat dipandang
sebagai sistem kasta.
2. Sistem Pelapisan Sosial Di Bali
Masyarakat Bali secara adat terbagi kedalam 4 lapisan, yaitu
brahmana, satria, vesia, dan sudra, ketiga lapisan pertama, yang hanya
merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh masyarakat Bali, disebut
triwangsa, sedang lapisan yang keempat, yang merupakan bagian terbesar,
disebut jaba. Walaupun jumlah yang tepat tidak ada, secara umum ada
anggapan bahwa jumlah warga triwangsa berjumlah sekitar 10%, dan
sisanya adalah warga jaba.
Setiap lapisan triwangsa masih terbagi lagi kedalam lapisan-lapisan
khusus, yang memberi hak kepada warga setiap lapisan itu untuk
menggunakan gelar tertentu didepan namanya. Orang Bali umumnya
mengetahui gelar yang tertinggi bagi seorang pria adalah “Ida bagus”,

5
yang secara menurun urutannya adalah: “Cokorda”, “Dewa”, “Ngakan”,
“Bagus”, “I Gusti”, dan “Gusti”. Gelar “Ida bagus” adalah gelar bagi orang
brahmana, gelar “Cokorda”, “Dewa”, “Ngakan”, dan “Bagus” adalah
gelar-gelar bagi orang satria, dan gelar-gelar “I Gusti”, dan “Gusti” adalah
gelar-gelar bagi orang vesia. Juga orang sudra memakai gelar seperti
“Pande”, “Kbon”, “Pasek”, “Pulasari”, “Parteka”, “Sawan”, dan lain-lain.
Walaupun sistem kasta dan gelar-gelar tidak membagi masyarakat Bali
kedalam golongan-golongan, gelar sangat penting dalam adat sopan santun
pergaulan. Orang yang memiliki gelar yang dianggap tinggi, harus
dihadapi dengan hormat (dinyatakan dengan bahasa dan tingkah laku), dan
orang yang memiliki gelar yang dianggap lebih rendah dapat dihadapi
dengan sikap bebas. Berbagai aturan adat juga memberlakukan hak-hak
bagi penyandang berbagai gelar, dalam menggunakan lambang, perhiasan
atau hiasan tertentu, dan lain-lain.
C. Pimpinan Masyarakat

1). Unsur-Unsur Kepemimpinan


Pimpinan dalam suatu masyarakat dapat berupa kedudukan sosial,
tetapi juga proses sosial. Kedudukan sosial seorang pemimpin (yaitu raja,
kepala desa, direktur, ketua, panglima, dan lain-lainnya) membawa
sejumlah hak dan kewajiban. Seorang pemimpin harus dapat
membangkitkan masyarakat atau kesatuan-kesatuan sosial khusus dalam
masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan sosial. Misalnya dalam
perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan keputusan, pengawasan
pelaksanaan, hingga pengawasan akibat pelaksanaan.
Seorang pemimpin harus memiliki tiga unsur penting untuk dapat
menjalankan tugasnya dengan baik yaitu:
a) Kekuasaan
b) Kewibawaan
c) Popularitas
Ada pemimpin yang memiliki kekuasaan yang besar, tetapi sebaliknya
tidak arif dan bijaksana dan tidak memiliki wibawa. Sebaliknya adapula

6
pemimpin yang diakui masyarakat sebagai orang yang berwibawa, arif,
dan bijaksana, tetapi tidak memiliki kekuasaan yang nyata.
2). Sifat-sifat pemimpin:
1. Sifat-sifat yang disenangi warga masyarakat pada umumnya
2. Sifat-sifat yang diidam-idamkan warga masyarakat pada umumnya,
yang karena itu akan ditiru
3. Memiliki keahlian yang diperlukan dan diakui warga masyarakat
4. Pengesahan resmi, atau keabsahan sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan adat masyarakat
5. Memiliki lambang-lambang pemimpin, sesuai dengan adat masyarakat
3). Berbagai Bentuk Kepemimpinan Dalam Masyarakat Kecil
Bentuk-bentuk dasar yang terpenting dari kepemimpinan dalam
masyarakat kecil adalah:
a. kepemimpinan kadangkala
Pemimpin seperti ini ada dalam kelompok-kelompok pemburu.
b. kepemimpinan terbatas
Ada suku-suku bangsa pemburu yang tidak memiliki pemimpin
kadangkala atau pemimpin yang memiliki keahlian untuk memecahkan
berbagai masalah khusus, tetapi memiliki seorang pemimpin tetap,
walaupun wewenangnya sangat terbatas.
c. kepemimpinan mencakup
Masyarakat-masyarakat yang hidup menetap dalam desa-desa (baik
masyarakat peladang maupun petani menetap) biasanya mempunyai
pemimpin-pemimpin yang wewenangnya tidak terbatas pada beberapa
lapangan saja, tetapi mencakup hampir seluruh lapangan kehidupan
masyarakat.
d. kepemimpinan pucuk
Jenis pemimpin seperti ini dalam buku-buku antropologi juga
disebut paramount chief. Seorang pemimpin pucuk sebenarnya juga
seorang pemimpin mencakup, dengan kekuasaan yang lebih luas, yaitu
meliputi suatu wilayah yang terdiri dari sejumlah kelompok dan desa.

7
D. Pengendalian Sosial

1). Arti Paham.


Kehidupan suatu masyarakat secara garis besar mematuhi seperangkat
tata tertib yang kita sebut adat istiadat. Adat istiadat dalam kenyataan
adalah cita-cita, norma-norma, pendirian, keyakinan, sikap, peraturan,
hukum, undang-undang, dan sebagainya, yang mendorong tingkah laku
manusia. Adat istiadat dalam suatu masyarakat dipahami warganya dengan
cara belajar, yang dimulai sejak lahir hngga akhir hayat mereka.

2). Cara Pengendalian Soaial

Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengendalikan ketegangan-


ketegangan sosial, yaitu :

a) mempertebal keyakinan akan kebaikan dan manfaat dari adat istiadat;


b) memberi ganjaran kepada warga masyarakat yang taat kepada adat
istiadat;
c) mengembangkan rasa malu untuk menyeleweng dari adat istiadat;
d) mengembangkan rasa takut untuk menyeleweng karena adanya ancaman.

3). Hukum

Hukum adalah suatu sistem pengendalian masyarakat yang bersifat


universal, dan dalam masyarakat-masyarakt kecil pengendalian sosial
dilakukan dengan kegiatan-kegiatan tertentu, dan tidak terutama karena
ketaatan yang mutlak kepada adat.

4). Hukum dalam Komunitas Kecil

Suatu komunitas kecil terjadi penyelenggaraan adat istiadat


yangmenimbulakan ketegangan, maka ketentraman akan diupayakan
dengan cara meminta keputusan dari seorang pemimpin. Berdasarkan
keputusan yang menyalahkan pihak yang tak menaati aturan adat istiadat,
dan membenarkan pihak yang menaatinya, persoalan diharapkan dapat
dipecahkan.

8
Teori mengenai dasar-dasar hukum yang dapat dirumuskan sebagai
berikut :

a. hukum adalah suatu kegiatan kebudayaan yang berfungsi sebagai alat


pengendalian sosial. Untuk membedakan kegiatan ini dari kegiatan-
kegiatan kebudayaan lain dalam masyaraka, yang oleh Pospisil
disebut attributes of law.
b. attribute of authority, yaitu yang menentukan bahwa kegiatan
kebudayaan yang disebut hukum adalah keputusan orang-orang atau
golongan orang-orang yang berkuasa dalam masyarakat, yang dapat
meredakan ketegangan-ketegangan dalam masyarakat.
c. attribute of intention of universal application, yaitu yang menentukan
bahwa keputusan pihak yang berkuasa harus dmaksudkan sebagai
keputusan yang berjangka waktu panjang, dan harus dianggap berlaku
terhadap peristiwa-peristiwa serupa di masa yang akan datang.
d. attribute of obligation menentukan bahwa keputusan pemegang kuasa
harus mengandung perumusan dari kewajiban pihak pertama terhadap
pihak kedua tetapi juga sebaliknya.
e. attribute of sanction, menentukan bahwa keputusan-keputusan pihak
yang berkuasa harus dikuatkan dengan sanksi berdasarkan kekuasaan
masyarakat yang nyata. Sanksi itu dapat berupa sanksi jasmani, tetapi
dapat pula berupa penyitaan hak milik.

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Didalam masyarakat pedesaan atau lebih khususnya di dalam
masyarakat komunitas kecil tolong menolong merupakan suatu hal yang
sangat menonjol, akan tetapi system tolong menolong atau gotong royong
ini sering disalah pahami karena sebagaian orang sering
menganggap bahwa tolong menolong hanya karena mereka terdorong oleh
keinginan spontan untuk berbakti kepada sesama warga, akan tetapi
menurut para ahli antropologi social dan sosiologi menunjukan
bahwa saling tolong menolong itu didasari rasa saling membutuhkan.
B. Saran
Berdasarkan beberapa pemaparan yang telah disampaikan di atas,
diharapkan pembaca dapat lebih memahami tentang kesatuan hidup lokal
dan tradisional dalam antropologi.

10
KEPUSTAKAAN

Koentjaraningrat. (2005). Pengantar Antropologi ii pokok-pokok etnografi,.


Jakarta: Rineka Cipta.

Marzali, Amri. (2009). Antropologi dan Pembangunan Indonesia. Jakarta :


Kencana.

Mcglynn, dkk,. (2002). Pendekatan Antropologi pada Perilaku Politik. Jakarta :


Universitas Indonesia.

11