Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

KEPERAWATAN DASAR II
MENJAHIT LUKA

Dosen Pengajar : Giri Susanto S.Kep.,Ns


Disusun Oleh : KELOMPOK 3

1. Novita Citra Sari


2. Widya Astuti
3. Siti Sholehah
4. Yessy Dwi Anggara
5. Silvia Nur Anggraini
6. Rosa Gistina Salsabila
7. Ulfiyah
8. Satriya Ginta Irawan
9. Sapta Ari Ramadani

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYAH
PRINGSEWU
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas rahmat dan izin-Nya kami diberikan kemudahan dan kelancaran
sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “MENJAHIT
LUKA” Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman, terutama
kepada dosen mata kuliah “Keperawatan Dasar II” Bp.Giri Susanto, S.kep.,Ns.
yang telah memberikan pengarahan kepada kami dalam membuat makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat kepada para pembacanya.Namun


demikian, kami sangat menyadari bahwa dalam penyajian makalah ini masih
banyak kekurangan.Oleh karena itu, kami menerima setiap kritik dan saran dari
pembaca dengan tangan terbuka.

Pringsewu, 13 April 2019


KATA PENGANTAR…………………………………………………….. .
DAFTAR ISI…………………………………………………………….......

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………………………………………….
B. Tujuan……………………………………………………………...

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Luka……………………………….…………………………...
B. Menjahit Luka………………….……………………………………….
C. Penutupan Luka………………………………………………………...
D. Penyembuhan Luka…………………………………………………….
E. Persiapan Menjahit Luka………………………………………………
F. Alat Untuk Menjahit……………………………………………………
G. Informasi Yang Harus Di Ketahui…………………………………….
H. Teknik Menjahit Luka…………………………………………………
I. Manajemen Pasca Penjahitan……….…………………………………
J. Membuka Jahitan……………………………………………………….
K. Penyakit Yang Mungkin Terjadi………………………………...…….
L. 10 Tips Menghindari Masalah………………………………………….

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan...................................................................................... ……
B. Saran................................................................................................ ....…

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang menggunakan tekhik
invasive dengan membuka atau menanpilkan bagian tubuh yang akan di
tangani melalui sayatan yang di akhiri dengan penutupan dan penjahitan
luka (Sustywati, dkk, 2010). Potter dan pery (2005) menyebutkan bahwa
menghadapi pembedahan pasien akan mengalami berbagai sttesor,
sedangkan rentang waktu menunggu pelaksanaan pembedahan akan
menyebabkan rasa takutv dan kecemasan pada pasien.

Kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan


merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan,
pengalaman baru atau belum pernah di lakukan, serta dalam menemukan
identitas diri dan arti hidup.Kecemansan adalah reaksi yang dapat dialami
siappun. Namun cemas yang berlebihan apalagi yang sudah menjadi
gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam kehidupannya (fitri
fauziah dan Julianti widuri, 2007).

Penelitian dilakukan oleh Ferlina Indra (2012) tentang singkat kecemasan


preoperasi di RSUD Seragen bahwa dari 40 orang responden yang
menjalini operasi dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang
(17,5%), 16 orang (40%) yang memiliki tingkat kecemasan sedang 15
orang (37,5%) ringan dan 2 orang (5%) responden yang tidak merasa
cemas.

Berkaitan dengan hal tersebut pengkajian oleh seorang perawat terhadap


fungsi pasien secara integral yang meliputi fisiologis dan psikologis sangat
di perlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi (Paryanto,
2009).Untuk itu, di perlukan juga suatu intervensi keperawatan yang tepat
untuk mempersiapkan pasien, baik secara fiologis maupun psikologis
(Smeltzer dan Bare, 2002).

Kini telah banyak di kembangkan terapi terapi keperawatan untuk


menangani kecemasan salah satunya adalah terapi pembacaan AL-
quran.Serta beberapa penelitian menunjukan bahwa dengan menghirup
arima terapi mampu menurunkan tingkat kecemasan seseorang (Arwani
2013).Terapi pembacaan al-quran yang diperdengarkan di rumah sakit
ternyata mengurangi kecemasan dan mempercepat penyembuhan (Judi
2013). Keyika ayat-ayat al-quran di bacakan dengan tartil dan
diperdengarkan dengan tempo yang lambat serta harmonis maka ia akan
memberikan rasa rileks, ketenangan, dan ketentraman hati (Heru 2008).
Hal ini menunjukan bahwa bacaan al-quran dapat di gunakan sebagai
terapi perawatan untuk menurunkan tingkat kecemasan yang di alami oleh
seorang anak di rumah sakit. Terapi murotal ini terbukti berguna dalam
proses penyembuhan karna daoat menurunkan rasa nyeri dan kecemasan
pada pasien usia toddler saat di lakukan injeksi intravena dengan nilai p=
0,0001 yang menunjukan lebih kecil daripada nilai 5% (Judi 2013).

Pada saat ini, perawatan luka telah mengalami perkembangan yang sangat
pesat terutama dalam dua decade terakhir ini.Teknologi dalam bidang
kesehatan juga memberikan kontribusi untuk menunjang praktek
perawatan luka ini berkaitan dengan perubahan profil pasien, diman pasien
dengan kondisi penyakit degenerative dan kelainan metabolic semakin
banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai
kekomplekan suatu luka dimana perawatan yang tepat diperlukan agar
proses penyembuhan bisa tercapai dengan optimal.

Dengan demikian, perawat di tuntut untuk memmpunyai pengetahuan dan


ketrampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan luka yang
dimulai dari pengkajian yang koprehensif, perencanaan intervensi yang
tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan selama
perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis. Isu yang lain yang
harus di pahami oleh perawat adalah berkaitan dengan cost effectiveness.
Manajemen perawatan luka modern sangat mengedepankan isu tersebut.
Hal ini di tnjang dengan semakin banyaknnya inovasi terbaru dalam
perkembangan produk-produk yang bisa di pakai dalam merawat luka.

Seorang dokter, baik dokter umum maupun spesialis pada suatu saat akan
menghadapi kasus yang mengharuskannya menjahit luka, baik sebagai
tindakan definiktif ataupun tindakan sementara.Angka kejadian luka
terbuka yang memerluka jahitan cukup tinggi, di instalasi gawat darurat di
salah satu RS pemerintahan di Jakarta di dapatkan angka 9607 pasien
pertahun.sehingga setiap dokter, khususnya dokter umum dan dokter
bedah membutuhkan pengetahuan dan kemampuan menjahit luka agar
bekasnya kelak tidak menambah masalah bagi pasien.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan definisi luka ?
2. Apa yang dimaksud dengan menjahit luka ?
3. Apa yang dimaksud dengan penutupan luka ?
4. Apa yang dimaksud dengan penyembuhan luka ?
5. Apa yang dimaksud dengan persiapan menjahit luka ?
6. Apa yang dimaksud dengan alat untuk menjahit ?
7. Apa yang dimaksud dengan informasi yang baru di ketahui ?
8. Apa yang dimaksud dengan teknik menjahit ?
9. Apa yang dimaksud dengan manajemen pasca penjahitan ?
10. Apa yang dimaksud dengan membuka jahitan ?
11. Apa yang dimaksud dengan penyakit yang mungkin terjadi ?
12. Apa yang dimaksud dengan 10 tips menghindari masalah ?
C. Tujuan
1. Umum
Makalah ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas mata kuliah
Keperawatan Dasar II, menambah wawasan tentang Penjahitan Luka,
agar kami mahasiswa mengerti tentang bagaimana caraMenjahit dan
Perawat Luka yang baik.
2. Khusus
a. Menjelaskan apa yang di maksud dengan definisi luka
b. Menjelaskan apa yang di maksud dengan menjahit luka
c. Menjelaskan apa yang di maksud dengan penutupan luka
d. Menjelaskan apa yang di maksud dengan penyembuhan luka
e. Menjelaskan apa yang di maksud dengan persiapan menjahit luka
f. Menjelaskan apa yang di maksud dengan alat untuk menjahit
g. Menjelaskan apa yang di maksud dengan informasi yang baru di
ketahui
h. Menjelaskan apa yang di maksud dengan teknik menjahit
i. Menjelaskan apa yang di maksud dengan manajemen pasca
penjahitan
j. Menjelaskan apa yang di maksud dengan membuka jahitan
k. Menjelaskan apa yang di maksud dengan penyakit yang mungkin
terjadi
l. Apa yang dimaksud dengan 10 tips menghindari masalah
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Luka
Lukaadalah terputusnya kontinuitas jaringan. Dibawah ini terdapat
beberapa defisini dari luka, yaitu :
1. Luka Terbuka adalah luka yang menyakut epidermis-dermis dan
jelas tampak jaringan di bawah dermis missal lemak, otot atau
tulang.
2. Luka Tertutup adalah kerusakan jaringan yang terjadi dibawah
dermis, misalnya “closed degloving injury” dan rupture intestinum
pada trauma tumpul abdomen.
3. Luka Tegang adalah luka dengan jarak kedua tepinya relative jauh
dan saat di tautkan memerlukan daya yang besar. Biasanya bekas
lukanya/parut akan menebal dan melebar
4. Luka Memar adalah biasanya akibat benda tumpul, pembuluh
darah kapiler di bawah kulit pecah tanpa robekan pada kulit
diatasnya sehingga darah menyusup pada jaringan ikat longgar,
terlihat dari luar berwarna kebiruan/kehitamana.
5. Luka Avulsi Total adalah terlepasnya kulit dengan paksa, dapat
disertai jaringan di bawahnya. Pada avlusi parsial, belum tentu
sirkulasi ke jaringan avlusi tersebut memeadai.
6. Luka Tembus adalah luka yang menembus organ tubuh setelah
menembus kuli.
7. Jahitan jebol/ luka kembali terbuka setelah di tutup (dehisensi)
adalah luka yang telah di tutup dalam kurung (biasanya dengan
penjahitan), dank arena di tautkan terlalu tegang atau terjadi infeksi
tepi luka sehingga kulit rapuh, terbuka kembali karena jahitan
takbisa berfungsi.
8. Luka Sayat adalah luka akibat benda tajam, biasanya tepi lukanya
lurus/teratur.
9. Luka Robek (Lacetaed Wound) terjadi akibat trauma oleh benda
yang tidak tajam misalnya tepi meja, bagian dari kendaraan
bermotor dan sebagainya. Tapi luka tidak rata.
10. Luka Lecet (Excoriated Wound) biasanya di permuakaan
(superfisial) terjadi akibat trauma. Luka umumnya memenjang.
Luka akan kering dengan proses epitelisasi dari dasar.
11. Luka Abrasi (luka gores) adalah kerusakan hanya terjadi pada
epidermis. Biasanya terjadi bila kulit bergesekan dengan
permukaan yang kasar.
12. Luka Insisi (Incised wounds) terjadi karena di iris oleh instrument
yang tajam. Missal yang terjadi akibat pembedahan.
13. Luka Kronik adalah luka yang gagal melewati fase penyembuhan
dalam tempio yang wajar, untuk menghasilkan penutupan luka
yang baik secara structural, fungsional dan kosmetik.
14. Luka Basah adalah luka yang masih mengeluarkan cairan eksudad
(bila kasa kering di tempelkan pada luka, akan teridsi eksudad)
15. Luka Kering adalah luka yang tidak lagi mengeluarka eksudad.
Biasanya setelah hari ke 7 pada saat telah terbentuk fibrin sebagai
perekat tepi luka yang cukup kuat sehingga jaitan kulit (luar) bisa
diangkat.
16. Luka Sembuh adalah setelah luka kering proses remodeling
berjalan terus sampai luka sembuh atau dapat di sebut luka matang
dengan ciri: tidak gatal, tidak merah, lebih rata, dan di tekan lunak.
Waktu untuk sembuh paling cepat 3 bulan, bisa mencapai lebih dari
1 tahun pada luka dekat sendi.
17. Luka terinfeksi adalah terdapat replikasi kuman pathogen dalam
luka. Tanda yang dapat di temukan adalah kemerahan pada luka,
bengkak, rasa panas pada luka, dan nyeri.
18. Luka Gigitan adalah luka yang diakibatkan oleh bagian mulut
(biasanya gigi) dari lewan atau manusia. Harus diperhatikan
kemungkinan infeksi bakteri dan rabies.
19. Luka Remuk (Crush injury) adalah luka akibat trauma yang
meremukan ektremitas, sering terjadi pada kaki yang terjepit/
dijatuhi beban barat. Luka dapat terdiri dari memar, laserasi, fraktur
kerusakan faskuler atau kombinasi antara keadaan tersebut.

B. Menjahit Luka
Menjahit luka adalah proses menyatukan dua permukaan atau tepi luka
sehingga menyatu dengan suatu cara tertentu biasa nya menggunakan
instrument dan benang jahit yang akan dibahas selanjutnya adalah
menjahit luka yang di dapat akibat trauma.
1. Tujuan Menjahit Luka
a. mencegah parut luka dikemudian hari menjadi parut
hipertropik
b. (tebal,gelap,tidak rata), atau keloid (tumbuh
terus,gatal,nyeri,) membuat bekas luka halus,tak begitu
nyata
c. Memuaskan pasien dan mengurangi morbiditas.

2. Indikasi Menjahit Luka


Adanya luka yang terbuka merupakan indikasi untuk ditutup secara
primer (dijahit)
a. Penyembuhan akan lebih baik dan lebih cepat bila ditutup
secara primer bila dibandingan dengan penyembuhan
sekunder.
b. Bila luka lebih cepat ditutup maka kemungkinan maka
kemungkinan infeksi dan komplikasi akan berkurang.
c. Bekas luka nya akan lebih bagus
3. Penanganan Luka Khusus
Ada beberapa kondisi yang membuat penjahitan luka tidak serta
merta dikerjakan oleh dokter jaga guna menghindari maleficence
atau kerugian pasien,yaitu:
a. Luka yang terkontaminasi berat.
b. Kehilangan jaringan yang bermakna.
c. Luka yang kompleks pada wajah dan tanganyang
memerlukan segera penanganan spesialis bedah plastik.
d. Terdapat kerusakan pada struktur dibawah luka (misalnya
fraktur terbuka).
e. Luka terbuka lama (> 6 jam atau yang diperkirakan dengan
debridement tidak dapat bersih)
f. Perlu penilaian vitalitas jaringan dibawahnya ( misalnya
otot,syaraf,dll).

Contoh Luka Khusus


C. Penutupan Luka
Ada beberapa jenis penutupan luka, yaitu :
1. Penutupan primer adalah luka di tutup segera setelah ada luka,
dengan cara merapatkan tepi luka (biasanya dengan dijahit).
2. Penutupan primer tertunda
a. Luka di biarkan terbuka beberapa hari (sampai 3 hari)
b. Mengurangi resiko infeksi pada luka yang terkontaminas
berat, pada luka yang tidak mampu di lakukan depridement
dengan baik, atau aka nada penilaian lebih lanjut.
3. Penutupan sekunder
a. Luka menutup sendiri setelah ada epitelisasi dari samping.
b. Sesuai untuk luka yang terinfeksi atau terkontaminasi dan
bila di jahit malah menjadi abses.
c. Memungkinkan drainase eksudad yang diperkirakan akan
keluar lama.
d. Memungkinkan depripdemen saat penggantian penutup
luka.
e. Tetapi proses inflamasi yang di perpanjang seperti ini kelak
akan meningkatkan terjadinya parut dan kontraktur
4. Penutupan luka seperti pada kehilangan epitel kulit pada luka bakar
derajad 2 atau luka donorsplit thick-ness skin graft, akan tumbuh
epitel baru dari bawah, biasanya sekitar 2-3 minggu telah terjadi
epitelisasi dan tampak luka kering.

D. Peyembuhan Luka
1. Fase Inflamasi
a. Di mulai saat terjadi luka, bertahan 2 hingga 3 hari
b. Diawali dengan vasokontriksi untuk mencapai hemostasis
(efek epinefrin dan tromboksan)
c. Thrombus terbentuk dan rangkaian pembentukan darah
diaktifkan, sehingga terjadi deposisi fibrin.
d. Keeping darah melepaskan platelet-derifetd growth factor
(PDGF) dan transforming growth factor B (TGF) – B yang
menarik sel-sel inflamasi, terutama makrofag
e. Setelah hemostasis tercapi, terjadi vasodilatasi dan
permebilitas pembuluh darah meningkat.
f. Jumlah neotrofil memuncak pada 24 jam dan membantu
depridement.
g. Monosit memasuki luka,menjadi makrofag, dan jumlahnya
memuncak dalam 2 hingga 3 hari
h. Makrofag menhasilkan PDGF dan mengecil TGF-Bakan
menarik fibrobras dan merangsang pembentukan kolagen.

2. Fase proliferasi
a. Dimulai pada hari ke3, setelah fibrolas batang, dan bertahan
hingga minggu ke 3
b. Fibrolas: di tarik dan diaktifkan oleh PDGF dan TGF- B :
memasuki pada hari ke 3, mencapai jumlah terbanyak pada
hari ke-7.
c. Terjadi sistesis kolagen (terutama tipe III), angiogenesis,
dan epitelisasi.
d. Jumlah kolagen total meningkat selama 3 minggu, hingga
produksi dan pemecahan kolagen mencapai keseimbangan,
yang menandai di mulai fase remodeling.
e. Pada fase oini biasanya jahitan di angkat ( bila di gunakan
benang yang tidak di serap).
3. Fase remodeling
a. Peningkatan produksi maupun penyerapan kolagen
berlangsung 6 bulan hingga 1 tahun, dapat lebih lama bila
dekat sendi.
b. Kolagen tipe 1 menggantikan kolagen tipe III hingga
mencapai perbandingan 4:1 (seperti kulit normal dan kulit
matang.
c. Kekuatan meningkat sejalan dengan reorganisasi kolagen
sepanjang garis tegangan kulit, terjadi cross- link kolagen.
d. Penurunan faskulalitas.
e. Fibroblast dan miofibroblast menyebabkan kontraksi luka
selama fase remodeling.
f. Selesai fase ini luka dapat dikatakan sembuh dengan ciri:
1) Tidak terlalu gatal
2) Tidak menonjol
3) Tidak merah
4) Lunak bila di tekan.

E. Persiapan Menjahit Luka


1. Bahan :
a. Antiseptic
Cairan antiseptic digunakan untuk mensucihamakan tepid
an sekitar luka dan mencegah infeksi cairan yang umum di
gunakan adalah iodin povidon.

b. Cairan steril
Cairan di gunakan untuk irigasi luka dengan cara
menyeprotkan cairan tersebut kebagian dalam luka, untuk
menyeprotkan cairan tersebut dapat digunakan berbagai
cara, antara lain dengan spuit 50cc ataupun dengan
melubangi kolf cairan dan menyemprotkan isinya kearah
luka.cara yang pertama lebih di sukai untuk luka terbatas
karena aliran lebih kuat dan terkendali. Cairan yang
digunakan secara luas untuk irigasi adalah NaCl 0,9% steril.
c. Kasa steril
Kasa setril digunakan untuk deberidement, menghentikan
pendarahan, menutup luka setelah di jahit, menyerap
eksudad, membatasi penguapan, melindungiluka dan lain-
lain.

d. Plester perekat
Digunakan untuk merekatkan kasa penutup luka atau untuk
penekanan ringan pada keadaan tertentu.

e. Anestesi local
Umumnya dalam penjahitan luka digunakan anestesi local
dengan kerja cepat seperti lidokain.Konsentrasi yang sering
digunakan 1-2 persen dengan atau tanpa adrenalin. Perlu
diinget bila lidokain digunakan bersama adrenalin maka
durasi kerja dan dosis maksimal akan bertambah dan
pendarahan akan berkurang, namun tidak boleh dipakai
pada daerah “end artery” seperti jari-jari dan penis.
Pemberian dapat dilakukan dengan cara injeksi cara
intradermal, subkutan atau kombinasi keduanya. Dosis
maksimaltanpa epinefrin 5mg/kg BB, dengan epinefrin
7mg/kg BB, dosis maksimal dewasa 300-500 mg (15-25 cc
lidokain 2%), dengan lama kerja 2-4 jam.

f. Sarung tangan setril (sebagai tindakan aseptic)


Digunakan selama penjahitan untuk menjaga alat-alat dan
luka tetap setril, selain itu fungsi yang tidak kalah penting
adalah mencegah penularan penyakit dari tenaga medis ke
pasien dan sebaliknya.
F. Alat Untuk Menjahit
1. Pemegang jarum (needle holder)
Seperti namanya alat ini di gunakan untuk memegang jarum untuk
menjahit.Sisi dalam bagian pemeganganya memiliki alur untuk
mengakomodasi kelengkungan jarum jahit.Jenisnya ada bermacam-
macam, namun yang umum digunakan sehari-hari adalah jenis
mayohegar.

2. Klem
Berfungsi untuk memegang jaringan untuk hemostastis, namun
dalam menejement luka yang sederhana klem jarang diperlukan,
dan klem dapat juga untuk menjepit benang yang akan di cabut
pada anak-anak yang belum kooperatif.

3. Pinset.
Digunakan untuk menjepit jaringan yang akan dijahit, untuk
menjahit kulit di gunakn pinset kecil bergigi, misalnya pinset adson
chirurgic, untuk mrmrgang tepi luka dan memudahkan jarum
menembus kulit. Jangan gunakan pinset anatomic untuk memegang
kulit karena akan menjepit kulit lebih banyak dan memerlukan
tekanan yang lebih besar sehingga jaringan kulit mengalami
kerusakan dan penyembuhannya akan terganggu. Selain untuk
memegang kulit, pinset juga berfungsi untuk memegang jarum jahit
agar aman dan menusuk jari operator.

4. Benang jahit
Benang jahit dapat dibagi-bagi dalam berbagai klarifikasi.
a. Kemampuan untuk diserap
1) Dapat diserap
Benang yang dapat diserap penggunaanya praktis
karena tidak perlu di cabut lagi, kerap menjadi pilihan
dalam penjahitan organ visceral atau penjahitan
jaringan bawah kulit. Benang jenis ini akan di cerna
secara enzimatik ataupun reaksi hidrolisis,
menimbulkan reaksi jaringan yang nyata, dan
kekuatanya akan berkurang seiring proses penyerapan
sehingga tidak dipilih untuk menjahit kulit ataupun
menjahit jaringan yang memerlukan kekuatan dalam
waktu yang lama. Contoh golongan ini adalah catgood,
polyglikolik acid, poli glatin 9,10, dan polydioxanone.
Benang jenis ini dalam waktu 3 minggu kekuatannya
tinggal 20% padahal proses penyembuhan luka sampai
matang masih lama, sehingga perlu difikirkan
pemenfaatannya yang spesifik.

2) Tidak dapat diserap


Benang yang tidak dapat diserap biasanya dicabut
kembali, dan reaksi jaringannya minimal serta
kekuatanya relative tidak berkurang sehingga golongan
ini merupakan salah satu bahan pilihan untuk menjahit
kulit.Contoh golongan ini adalah nilon, polypropylene
dan sutra atau silik.
b. Sumber bahan benang
1) Alami
Bahan alami yang masih di pakai adalah silik atau sutra
dan catgood. Untuk bennag yang dapat diserap bahan
alami menimbulkan reaksi jaringan yang lebih nyata
dibandingkan benang sintektik, karena benang sintetik
diuraikan dengan proses hidrosisis, bukan dengan
reaksi enzimatik seperti benang dari bahan alami.
Karena alsan yang sama, bahan sintetik juga diuraikan
lebih lama dibandingkan bahan alami, sehingga
mempunyai kekuatan mentautkan tepi luka lebih lama.
2) Sintetik
Sebagian besar bennag yang beredar saat ini berasal
dari bahan sintetik dari bermacam jenis, bahn-bahn ini
bervafiasi dalam kekuatannya, kemudahan untuk di
simpul, proses penyerapan, dan berbagai fiktur lainya.
Yang sering dipaki adalah polypropylene, nylon, dan
polyglatine.
c. Bentuk
1) Berpilin
Contoh bennag berpilin adalah benang catgood,
keunggulannya adalah bila disimpul maka simpul
cenderung tetap berada di tempatnya,tidak meudah
bergeser dan tidak mudah lepas. Namun ada pula
kekuranganya yaitu terdapat lekukan pada sisi benang
yang bisa ditempati oleh bakteri, sehingga infeksi lebih
mudah terjadi.
2) Berayam (braided)
Contoh benang beranyam adalah polyglatine 910,
keunggukan dan kekurangan jenis benang ini hamper
sama dengan benang berpilin, namun bennag jenis ini
mempunyai keuntungan tanbahan yaitu anyamannya
lebih kuat dibandingkan bennag berpilin sehingga tidak
mudah terurai.
3) Filament tunggal
Contoh benang filament tunggal adalah polypropylene,
keuntungannya mudah menembus jaringan,
kemungkinan infeksi lebih kecil, dan sedikit sekali
menimbulkan trauma karena penampangnya yang bulat
dan licin. Kekuranganya bila di simpul akan mudah
akan bergeser dan mudah lepas,
d. Ukuran
Ukuran bennag jahit di nyatakan dengan angka, yang paling
umum di gunakan adalah ukuran 5.0 sampai 1. Semakin besar
angka di depan 0 berarti bennag tersebut semakin kecil,
misalnya benang 4.0 lebih kecil dari benang 2.0.

Macam-macam benang; a. berpilin, b. beranyam,


c. penampang lintang benang beranyam, d. benang
monofilament

5. Jarum jahit
Jarum jahit yang digunakan dalam menjahit kulit atau jaringan lain
umumnya berbentuk melengkung, ukuran dan penampang jarum
jahit bermacam-macam, namun secar garis besarnya terdapat tiga
jenis penampang jarum; cutting, taper dan reverse cutting. Untuk
menjahit kulit umumnya di gunakan jarum penampang cutting 3/8
lingkaran.

a. Cutting
Jarum cutting berbentuk seperti segitiga yang puncaknya
menhadap kea rah lengkungan jarum. Jarum di gunakan untuk
menembus jaringan yang liat. Misalnya kulit. Merupakan
penampang jarum yang paling sering di gunakan dalam pratek
sehari-hari.
b. Taper
berbentuk bulat dengan penampang seperti lingkaran. Jarum
ini digunakan terutama untuk menjahit jaringan yang lunak
dan mudah di tembus, misalnya usus, organ visceral lain, dan
fasia. Tidak di gunakan untuk menjahit kulit karena sulit untuk
menembus kulit sehingga perlu kekuatan yang lebih besar dan
berpotensi menimbulkan kerusakan jaringan yang lebih luas.
c. Reverse cutting
Bentuknya seperti jarum cutting namun puncak segitiganya
menghadap kearah sebaliknya dari lengkungan jarum,
sehingga disebut reverse. Jarum seperti ini digunakan untuk
mencegah benang memotong jaringan saat simpul
dikencangkan karena sebelumnya sudah berbentuk awal
robekan oleh jarum non reverse.
Saat ini jarum biasanya sudah menyatu dengan benang, namun
masih sering di gunakan jarum tipe “French-eyed” dan “round
eyed” yang benangnya harus dimasukan dulu kelubang jarum.
Jarum cutting.

Jarum Taper

Jarum reverse cutting


6. Spuit 3cc, 50cc
Spuit berukuran kecil (3cc/1cc) di gunakan untuk injeksi anestesi
local, sedangkan ukuran besar (50cc) digunakan untuk irigasi luka.
7. Duk steril
Duk di gunakan untuk menjaga daerah operasi atau dalam hal ini
sekitar luka yang dijahit agar tetap steril. Duk yang biasa di
gunakan berulang di bagian tengah untuk tempat luka yang akan
dijahit. Duk dipasang setelah dilakukan antiseptisis disekitar luka
dan irigasi luka.

8. Baskom
Untuk meletakan/menampung alat-alat yang digunakan.

9. Mangkok
Umumnya dipakai untuk wadah cairan antiseptic yang digunakan.

Alat-Alat yang diguakan pada penjahitan luka.


G. Informasi yang harus di ketahui
Sebelum anda menjahit luka perlu diketahui beberapa hal yang mungkin
akan berpengaruh pada tindakan anda terhadap pasient.
1. Mekanisme terjadinya luka dan kontaminasi yang terjadi pada
luka.
Bila mekanisme terjadinya luka adalah trauma yang berat, maka
pasien harus di periksa untuk menemukan apakah ada kegawatan
atau tidak. Tentunya keselamatan pasien lebih penting daripada
menjahit luka. Dari mekanisme terjadinya luka anda dapat pula
memperkirakan derajad kontaminasi luka yang nantinya akan
berpengaruh kepada keputusan anda dalam manejemen luka
selanjutnya, misalnya dalam volume cairan untuk irigasi, untuk
luka yang terkontaminasi minimal di erlukan 100-200 cc cairan
NaCl 0,9%, jumlah yang lebih banyak diperlukan untuk luka ynag
lebih berat kontaminasinya.

2. Riwayat alergi pasien dan dalam keluarga pasien


Bila pasien alergi terhadap bebrapa obat, perlu diwaspadai
kemungkinan pasien alergi terhadap anestesi local yang digunakan,
karena anestesi local mungkinsaja masuk peredaran darah dan
emnimbulkan reaksi anafilaksis. Sehingga perlu disiapkan obat
untuk menangani syok, misalnya epinefrin,. Selain itu setelah
dijahit lazim di berikan analgesic untuk mengurangi rasa sakit pada
luka, bila pasien alergi terhadap satu jenis analgesic dapat dipilih
analgesic lain.

3. Riwayat keloid dalam keluarga


Bila didapatkan riwayat keloid dalam keluarga, mungkin luka akan
menjadi keloid. Tetapi menetapkan seseorang menderita keloid
tidak mudah! Sebaiknya hal ini dikonsulkan dengan ahli bedah
plastic. Pemberian anti keloid yang tidak tepat bisa menimbulkan
masalah baru, dehisensi, pelebaran dan penipisan parut, serta
venektasi.

H. Teknik Menjahit Luka


1. Memberikan antiseptic
Daerah sekitar luka dioleskan cairan antiseptic menggunakan
kasa/kapas, pengolesan dilakukan dengan pola melingkar dari
bagian luka kea rah luar (sentrifugal) diulangi beberapa kali.

2. Memberikan anestesi local


Pemberian anestesi local dalam menjahit luka dapat dilakukan
secara blok saraf perifer, infiltrasi, dan dan secara topical infiltrasi
lebih sering dipakai karena lebih mudah untuk dilakukan dengan
hasil yang cukup baik. Larutan lidokain diambil kedalam spuit 1cc
atau boleh digunakan spuit3cc, kemudian jarum di tusukan pada
tepi luka kemudian cairan didepositkan ke jaringan bawah kulit,
sambil jarum ditarik keluar. Proses ini diulangi sehingga seluruh
tepi luka telah terinfiltrasi.

3. Irigasi luka
Pada luka kotor disemprotkan cairan NaCl 0,9%. Tekanan harus
cukup untuk menyapu keluar debris dan benda asing. Irigasi
dilakukan sampai luka terlihat bersih, kotoran dan debris telah
tersapu keluar. Jumlah cairan yang diperlukan untuk irigasi pada
luka musculoskeletal yang kompleks berkisar dari 3L-9L sesuai
kontaminasi lukanya (Anglen 2001). Gunakan sarung tangan (tidak
perlu steril), masker, dan pelindung mata (goggle) selama
melakukan tindakan.
4. Memakai sarung tangan steril.
Sebelum memakai sarung tangan, operator sebaiknya mencuci
tangan terlebih dahulu dengan sabun antiseptic kemudian sarung
tangan dipaki dengan teknik sedemikian rupa sehingga permukaan
yang nantinya akan bersentuhan dengan alat tidak bersentuhan
dengan permukaan tangan atau jari-jari tangan. Setelah memakai
sarung tangan setril kemudian diatas luka dipasang duk steril yang
berlubang di tengahnya

5. Memegang alat-alat
a. Pinset
Pinset dipegang ditangan kiri menggunakan telunjuk dan ibu
jari, dengan pangkal pinset diletakan diatas sela jari antara
ibujari dan telunjuk.

b. Pemegang jarum
Pemegang jarum dipegang di tangan kanan menggunakan ibu
jari dan jari manis yang dimasukan ke cincin gagang
pemegang jarum. Jari dimasukan ½ ruas saja untuk
memberikan control yang baik.

c. Gunting
Cara memegang gunting serupa dengan needle holder.

d. Jarum
Jarum dipegeng dengan needle holder pada 2/3 bagian
belakang, agar saat menusukan jarum ke kulit lebih mudah,
nemun bila terluka ke belakang maka perlekatan jarum dengan
benang akan melemah, dan jarum mungkin akan bengkok.
6. Meratakan tepi luka
Luka yang terjadi akibat sayatan benda tajam misalnya pisau
umumnya memiliki tepi yang rata, sehingga seringkali luka tidak
perlu dirapihkan lagi dan dapat langsung dijahit. Namun luka
akibat benda tumpul sering kali tepinya tidak rata, dan mungkin
didapatkan bagian epidermis yang yang terlepas dari dermis namun
masih melekat dengan epidermis di sebelahnya. Untuk
mendapatkan hasil yang baik, dapat ddirapatkan menjadi berbentuk
garis lurus. Tepi luka yang tidak rata dijepit dengan pinset
kemudian digunting dengan gunting jaringan menyusuri tepi luka
agar didapatkan tepi luka yang rata.

7. Menjahit luka
Teknik menjahit luka ada beberapa macam, penggunaanya
tergantung kepada keadaan luka, tempat luka pada tubuh, dan
pertimbangan operator.
a. Jahitan dermal dalam
Apapun teknik jaitan yng digunakan untuk menutup kulit,
parut bekas jahitan akan menjadi jelek apabila saat kedua tepi
luka ditautkan dengan menyimpul benang terdapat ketegangan.
Untuk mencegah terjadinya tegangan pada luka diperlukan
sebuah jahitan pada dermis yang disebut jahitan dermal dalam.
Dengan jahitan ini bagian dalam dermis kedua tepi luka di
tarik merapat sehingga tegangan pada kulit diatasnya dapat
dikurangi. Cara membuat jahitan ini seperti membuat jahitan
satu-satu yang terbaik. Jarum dimasukan menurut arah seperti
pada gambar. Benang yang digunakan adalah bennag yang
tidak diserap berukuran kecil, misalnya nylon bening/clear 5.0.
bila ada benang yang diserapnya lama, baik digunakan untuk
jahitan ini, namun harganya 3 kali lipat. Arah tusukannya lihat
gambar.
Jahitan Dermal Dalam

Luka jahitan sudah dirapikan

b. Jahitan satu-satu (Simple interrupted suture)


Jahitan ini adalah bentuk jahitan paling sederhana dan paling
sering digunakan. Jahitan satu-satu dimulai dengan menusukan
jarum ke kulit hingga sedalam jaringan subkutis tepi luka yang
lain dan dikeluarkan dari kulit pada tepi luka tersebut. Kedua
benang kemudian disimpul sehingga kedua tepi luka akan
mendekat dan menempel satu sama lain.

c. Membuat simpul
1) Biasanya menggunakan needle holder
2) Mulai dengan double row kemudian 3x simpul satu row
masing-masing arahnya berlawanan satu sama lain.
3) Ikat setidaknya 5 kali simpul pada benang catgut, pada
asam poliglikolat setidaknya 4 kali.
4) Sebaiknya simpul diposisikan pada salah satu sisi luka dan
tidak diatas luka karena menggangu proses penyembuhan.

d. Jahitan matras Vertical


Jahitan matras vertical mirip dengan jahitan satu-satu (simple
interrupted). Perbedaannya adlah pada jahitan matras vertical
setelah jarum keluar dari kulit seperti yang dilakukan pada
jahitan satu-satu, jarum kemudian ditusukan kembali ke kulit
pada bidang vertical yang sama dengan “bite” pertama namun
menembus sedikit saja, kemudian benang disimpul pada sisi
luka yang sama dengan tempat masuknya benang pertama kali
(lihat gambar).

Keunggulan jahitan ini adlah dapat mempertahankan eversi


kulit. Jahitan ini terutama di gunakan pada daerah kulit yang
secara alami mengalami inverse seperti lekukan tubuh atau
lipatan kulit. Kerugian iskemia lebih banyak terjadi sehingga
penymebuhan luka dapat terganggu.

e. Jahitan matras Horizontal


Jahitan ini terdiri dari dua jahitan satu-satu yang pararel yang
disimpul menjadi satu. Jahitan ini dimulai seperti jahitan satu-
satu, setelah jarum dan benang keluar dari kulit jarum
dimasukan lagi pada jarak tertentu di sebelah tempat keluar
benang sebelumnya jarum menembus sampai kedalam yang
sama seperti pada “bite” pertama. Kemudian bennag disimpul
pada sisi luka tempat masuknya jarum pertama kali, sehingga
tampak ada dua garis benang sejajar dengan garis luka pada
kedua sisi luka. Keunggulan jahitan ini hamper sama dengan
matras vertical, khususnya pada daerah yang kulitnya tipis, dan
pada kulit yang longgar.

f. Jahitan kontinyu (conntinuos suture)


1) Jahitan pembagi
Jahitan pembagi dibuat terdahulu agar tepi kiri dan kanan
terbagi merata pada luka yang memenjang, kemudian saat
jahitan kontinu dicabut pada saat yang sama karena
beberapa pertimbangan, misalnya jahitan dekat sendi
sehingga masih perlu “lem luka” didukukng oleh jahitan.

2) Jahitan kontinu
Dibuat jahitan kulit menembus lemak dan keluar lagi dari
tepi yangbersamaan (through and through). Bila sudah
terbiasa, dan sudah didahuli oleh jahitan dermal dalam,
pengerjaan jahitan ini tidak perlu benar menggunakan
pinset, sehingga memar jaringan bisa dikurangi. Setiap 5x
jahitan kontinu disimpulkan dulu kemudian dilanjutkan
lagi. (lihat gambar dengan tujuan:
a) Agar bila terjadi sesuatu dan jahitan ini dilepas satu
segmen, luka tidak perlu terbuka semuannya
sekaligus (bagian yang tidak perlu dibuka dapat
melanjutkan proses penyembuhan).
b) Bila jahitan terbuka kembali (dehisensi) maka tidak
perlu jahitan diulang semuannya.
c) Membagi tegangan pada tepi luka agar sama
sepanjang jahitan.

g. Countinuous Dermal Suture


Adalah jahitan ynag dipilih untuk mencegah terjadinya bekas
jahitan yang seperti rel kereta api. Jahitan ini juga sedikit
sekali membuat iskemia pada jaringan. Namun jahitan ini tidak
dapat digunakan pada luka yang tergengang karena
kekuatannya tidak sekuatan jahitan yang lain.
Cara membuatnya :
1) Menggunakan benang yang diserap lama dimulai dengan
menjahit dermis dari arah dalam, jangan sampai menembus
kulit, dari satu sisi dilanjutkan ke sisi lainya secara terus
menerus sampai ke ujung luka kemudian disimpul
2) Bila digunakan benang yang tidak diserap, tusukan jarum
dimulai dari kulit bagian luar pada salah satu ujung luka,
kemudian jahitan dilakukan sepanjang luka hingga benang
keluar lagi di ujung luka yang lain. Keduan ujung bisa
dibuat simpul masing-masing atau disatukan antara kedua
ujung tersebut, bahkan kalau menggunakan benang tida
diserap berukuran 6.0, kedua ujung bisa dipegang oleh
plester saja.
3) Hati-hati pada luka yang panjang, bennag yang tidak
diserap bila dicabut bisa macet atau putus.

h. Jahitan Barron (Matras Horizontal Setengah Terbenam)


Jahitan ini adalah jahitan khusus yang menggabungkan
keuntungan jahitan matras horizontal (eversi) dan jahitan
subkutikuler (mengurangi iskemia). Biasanya digunakan bila
salah satu sisi luka diperkirakan mempunyai suplai darah
yang jelek sehingga jahitan biasa akan mengakibatkan iskemia
karena tekanan.
Situasi tersebut misalnya pada flap kulit yang bagian basisnya
kecil atau jauh. Jahitan ini dimulai seperti memulai jahitan
satu-satu, kemudian jarum menembus kedalam luka lalu
ditusukan ke dermis tepi luka yang bersebrangan seperti
membuat jaringan sub kutikuler, selanjutnya jarum kembali di
tusukan dari dermis hingga menembus kulit pada sisi luka awal
dan akhirnya disimpul seperti jahitan matras horizontal luar
kasanya kering dan cukup tebal untuk menyerap aksudat.
Setelah kasa terpasang kemudian diplester kekulit, untuk
bagian tubuh tertentu dapat dipertimbnagkan penggunaan
perekat yang tidak tembus air agar luka tidak basah waktu
mandi. Bila luka bersifat eksudat hendaknya jangan digunakan
perekat yang tidak tembus air, karena bila cairan eksudat tidak
bisa keluar akan terjadi penumpukan cairan dan maserasi kulit.

I. Manajemen Pasca Penjahitan


Luka yang telah dijahit harus dijaga kebersihannya supaya tidak terjadi
infeksi. Bila terjadi infeksi maka akan terlihat bengkak, merah dan nyeri.
Luka harus dijaga agar tetap kering dan tidak terkena trauma tambahan.
Pada hari ke-4 kasa harus diganti agar eksudat (protein) tidak sempat
menjadi media tumbuhnya bakteri. Bila kasa basah juga harus diganti.
Jahitan yang dibuat dengan benang yang tidak diserap harus dibuka
kembali. Waktu optimal untuk membuka jahitan bervariasi bergantung
pada berbagai faktor, diantaranya lokasi luka yang dijahit. Biasanya waktu
membuka jahitan berkisar antara 3 hari sampai 2 minggu, bergantung
lokasi lukannya.
Bila jahitan tidak dibuka pada waktunya, akan tumbuh epitel sepanjang
benang masuk ke kulit sehingga berbekas bintik-bintik dan antara dua
tusukan jarum tampak garis gelap akibat iskemi kulit setempat karena
terjerat simpul.
Lokasi Jahitan Waktu Pengangkatan Jahitan (hari)
Wajah 3 sampai 4
Leher 5
Kulit Kepala 6
Dada atau Abdomen 7
Lengan dan punggung tangan 7
Kaki dan punggung kaki 10
Punggung 10
Telapak tangan/ kaki 14
Luka teregang (tension) 14

Tabel 9
Waktu pengangkatan jahitan berdasarkan lokasi jahitan.
J. Membuka Jahitan
Jahitan dan luka diolesi terlebih dahulu dengan antiseptic. Hydrogen
peroksida baik untuk membersihkan darah dan eksudat yang kering.
Kemudian salah satu ujung simpul dipegang dengan pinset dan ditarik ke
atas sehingga salah satu bilah gunting benang dapat masuk, kemudian
benang digunting dan seluruh benang ditarik keluar menggunakan pinset
anatomis. Pengguntingan sebaiknya dilakukan dekat permukaan kulit,
agar bagian benang yang ada di luar kulit (terkontaminasi) melalui kulit
sesedikit mungkin.

K. Penyakit Kulit Yang Mungkin Terjadi


1. Infeksi
Tanda-tanda luka terinfeksi :
a) Tanda-tanda local: kemerahan.
b) Keluar pus atau terlihat pengumpulan pus.
c) Tanda sistemik berupa demam.
Luka tertentu memiliki kemungkinan infeksi lebih tinggi :
a) Lambat dibawa ke tenaga kesehatan (bakteri sudah
berkolonisasi atau sudah multiplikasi)
b) Terdapat benda asing dalam luka.
c) Luka sangat kotor.
d) Luka gigitan (terutama gigitan manusia)
e) Luka dalam mulut.
f) Fraktur terbuka/ tendon terekspos.
g) Luka karena terhimpit (crush wounds).
h) Luka pada jaringan iskhemia.

Antibiotik sistemik dapat di bersihkan bila luka beresiko tinggi


untuk terinfeksi, atau bila luka telah menunjukan tanda-tanda infeksi.
Cara pemberian biasanya oral, namun dianggap perlu maka dapat pula
diberikan antibiotic topical tapi pilihlah yang tidak dipakai pada
kebutuhan sistemik, missal neomycin. Pemilihan antibiotik
berdasarkan bakteri patogen yang paling sering ditemukan ditempat
tersebut.

2. Dehisensi (jahitan jebol)


Tanda dehisensia antara lain adalah :
a) Luka terbuka kembali.
b) Benang terlepas atau terputus.
c) Keluar darah dari luka.
d) Mungkin disertai juga dengan tanda-tanda infeksi, missal
eksudat purulen.
Faktor risiko dehisensi yang di ketahui :
1) Berat badan berlebih.
2) Usia tua.
3) Nutrisi yang buruk.
4) Telah ada skar sebelumnya.
5) Kesalahan dalam penjahitan.
6) Jarak kedua tepi saat ditautkan tegang.
7) Diabetes mellitus.
8) Merokok.
9) Penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang.
10) Adanya infeksi.
11) Penderita keganasan.
12) Radiasi pada tempat jahitan.
13) Aktivitas berlebihan pada tempat jahitan sehingga luka
terengang, fibrin dan kapiler baru rupture.
Tatalaksana Dehisensi
a) Terapi Bedah
Membuang jaringan mati, luka dijahit kembali dan
pemberian perekat misalnya plester steril antara tepi luka
agar tegangan pada jahitan dapat di kurangi.
b) Terapi Medikamentosa
Pemberian antibiotik dan suplemen.

3. Bekas JahitanYang Tidak Baik


1) Parut yang jelas/nyata.
2) Parut hipertrofik.
3) Keloid.
4) Parut yang lebar.
5) Bekas benang yang menjerat kulit berbentuk kaki kelabang.
6) Jebol/dehisensi.
7) Bernanah.
8) Hernia insisional (incisional hernia).
9) Tersisa benda asing dalam luka (pasir, tanah, aspal dan lain-
lain).
10) Dan lain-lain.
L. 10 Tips Menghindari Masalah
1. Tindakan a dan antiseptik yang benar lebih daripada mengandalkan
antibiotic yang kuat!
2. Hindari menjahit luka secara memaksa melawan ketegangan.
3. Atasi ketegangan tepi luka dengan “undermining”, menutup
dengan flap, membuat jahitan dermis dalam.
4. Sebelum menjahit kulit (dari luar) hendaknya tepi sudah
menempel, kalau bisa dibuat eversi hasilnya lebih bagus.
5. Jahitan kulit menyimpulkannya tidak menjerat tepi luka.
6. Jangan terburu-buru puas setelh benang jahitan di angkat dan luka
kering, proses penyembuhan masih berlangsung satu tahun ke
depan!
7. Atasi masalah yang mungkin timbul dalam tenggang waktu antara
luka dan maturitas. Misalnya : dengan plester, balut tekan, sampai
luka matang.
8. Bila beberapa jahitan dibuka tampak bekas luka merengang, jangan
lanjutkan pembukaan jahitan. Pakailah plester steril untuk melawan
perengangan sekaligus mendapatkan kembali luka. Istirahatkan
bagian tersebut dari gerakan tubuh.
9. Konsultasi bila perlu, demi pasien.
10. Tidak pernah manusia mencapai titik kesempurnaan dalam bekerja,
dengan petunjukNya kita berharap bisa kembali.

\
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menjahit luka adalah proses menyatukan dua permukaan atau tepi luka
sehingga menyatu dengan suatu cara tertentu biasa nya menggunakan
instrument dan benang jahit yang akan dibahas selanjutnya adalah
menjahit luka yang di dapat akibat trauma.
Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang menggunakan tekhik
invasive dengan membuka atau menanpilkan bagian tubuh yang akan di
tangani melalui sayatan yang di akhiri dengan penutupan dan penjahitan
luka (Sustywati, dkk, 2010). Potter dan pery (2005) menyebutkan bahwa
menghadapi pembedahan pasien akan mengalami berbagai sttesor,
sedangkan rentang waktu menunggu pelaksanaan pembedahan akan
menyebabkan rasa takut dan kecemasan pada pasien.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa perawatan luka dapat di lakukan dengan
beberapa tekhnik menjahit tergantung pada luka yang di derita oleh pasien
tersebut.

B. Saran
Di harapkan Setelah mengetahui isi makalah ini pembaca di harapkan
untuk ikut serta untuk mempelajari tentang teknik penjahitan luka supaya
luka yang diderita pasien tidak menyebar keseluruh bagian tubuh pasien
dan perawat juga harus lebih memperhatikan kebersihan alat dari
mikroorganisme.
DAFTAR PUSTAKA
Sudjatmiko, Gentur. Menjahit Luka “Supaya Berkasnya Susah Dicari”. Jakarta:
Sagung Seto. 2009

Anda mungkin juga menyukai