Anda di halaman 1dari 15

FILSAFAT IBNU BAJJAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Islam

Dosen Pengampu :
Dr. H. Hasan Basri, M.Ag
Zaenal Mutfie, M.Ag

Disusun oleh kelompok 7:

Ayuni Alyani ( 1162020043)

Ebi Nabilah ( 1162020061)

Gun-Gun Gumelar ( 1162020078)

PAI V B

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2018
1. Bagaimana latar belakang kehidupan Ibnu Bajah dan hasil karyanya?
a. Biografi
Ibnu Bajah adalah dilosof Muslim yang pertama dan utama dalam
sejarah kefilsafatan di Andalus.1 Ibnu Bajah memiliki nama lengkap Abu
Bakar Muhammad Ibnu Yahya Al Shaiqh. Ia berasal dari keluarga al-Tujibn
dan karenanya ia juga sering disebut sebagai al-Tujibi.2 Di Negara Barat
(Eropa), ia dikenal dengan nama Avampace, Avenpace dan Aben pace.3 Ia
dilahirkan di Zaragosa pada abad XI M. adapun tahun kelahiran Ibnu Bajah
tidak ada yang mengetahui secara pasti. Demikian pula dengan masa kecil dan
masa mudanya. Menurut catatan sejarah, ia hidup di Servill pada tahun 1118
M dan meninggal dunia di Fas pada tahun 1138 M.4
Ibnu Bajah terkenal sebagai salah seorang Filosof muslim Arab
terbesar di Spanyol. Bahkan Ibnu Khaldun menyejajarkan namanya dengan
Ibnu Rusyd, Al-Farabi dan Ibnu Sina. Ibnu Khaldun juga menyebutnya
sebagai salah seorang ahli ilmu ekstra, musikus, composer lagu-lagu pop dan
seorang penyair.5
b. karya-karya Ibnu Bajah
Dalam buku Para Filosof Muslim, M.M. Syarif menyebutkan beberapa karya
Ibnu Bajah sebagai berikut:
a. The Bodleian MS., Arabic Pcocke, No. 206, beisis 220 folio ditulis
pada bulan Tsani 547 H/1152 M di Qus.
b. The Berlin MS No. 5060 (lihat Ahlwardt: cataloge), hilang pada masa
perang dunia II.

1
T.J. De Boer, Tarikh al Falsafat fi al-Islam, Terj. Muhammad Abd Al-Hadi Abu Zaidah, Kairo:
Mathba’at al-Taklif, 1986, hlm 280.
2
M.M Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 143.
3
M. Nadsir Arsyad, Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah, (Bandung: Mizan, 1989), hlm. 201.
4
Menurut suatu riwayat, ia meninggal karena diracuni oleh seorang dokter yang iri terhadap ilmu dan
ketenarannya. Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 230
5
M. Najsir Arsyad, Op.Cit, hlm 202.
c. The Escurial MS. No. 612 hanya berisi risalah-risalah yang ditulis oleh
Ibnu Bajah sebagai penjelasan atas risalah-risalah Al-Farabi dalam
masalah logika. Karya itu ditulis tahun 667 H/1307 M di Seville.
d. The Khediviuah MS. Ahloq No. 290 telah diterbitkan oleh Dr. Omar
Farrukh dalam bukuknya Ibnu Bajah Wal-Falsafah al-Maghribiyyah.
Sebagai perbandingan dapat dikatakan bahwa buku tersebut
merupakan ringkasan dari tadbir al-Mutawahid dalam arti bahwa buku
itu membuang sebagian besar buku aslinya, tetapi tetap
mempertahankan kata-kata pengarangnya sendiri.
e. Karya-karya yang disunting oleh Asin Palacios dengan terjemahan
bahasa spanyol dan catatan yang diperlukan:
 Kitab al-Nabat, al-Andalus Jilid V.1940
 Risalah Ittisal al-Aql bi al-Ihsan, al-Andalus Jilid VII, 1942.
 Risalah al-Wada’, al-Andalus, Jilid VII,1943.
 Tabdir al-Mutawahid berjudul El Regimen Del Solitario, 1946.
f. Karya-karya yang disuting oleh Dr. M. Shahir Hasan al-Ma’sumi.
 Kitab al-Nafs dengan catatan dan pendahuluan dalam bahasa
Arab, Majallah al-Majma’al al-llm al-Arabi, Damaskus, 1958.
 Risalah al-Ghayag al-Insaniyah dengan terjemahan bahasa
Inggris, Journal of Asiatic Society of Pakistan, Jilid II, 1957.6
2. Bagaimana filsafat dan pemikiran Ibnu Bajjah
Filsafat Ibnu Bajjah banyak terpengaruh oleh pemikiran Islam dari
kawasan di Timur, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Hal ini disebabkan
kawasan Islam di Timur lebih dahulu melakukan penelitian ilmiah dan kajian
filsafat dari kawasan Islam di Barat (Andalus). Untuk lebih jelasnya, di bawah
ini kita akan menelusuri pemikiran filsafatnya.

6
M.M Syarif, Op. Cit., hlm. 155
a. Metafisika (Ketuhanan)
Menarik tesis yang dimunculkan M.M. Syarif,7
kendatipundalam pandangan De Boer8 filsafat fisika, metafisika dan
logika Ibnu Bajjah sejalan dengan Al-Farabi, namun ia tidaklah
menyalin dan menerima semua yang dituturkan Al-Farabi, tetapi ia
telah memberikan sejumlah besar tambahan dalam filsafatnya dan
menggunakan metode-metode penelitian filsafat yang hanya
didasarkan pada nalar semata.
Menurut Ibnu Bajjah, segala yang ada (al-maujudat) terbagi
dua: yang bergerak dan tidak bergerak. Yang bergerak adalah jisim
(materi) yang sifatnya finite (terbatas). Gerak terjadi dari perbuatan
yang menggerakkan terhadap yang digerakkan. Gerakan ini
digerakkan pula oleh gerakan yang lain, yang akhir rentetan gerakan
ini digerakkan oleh penggerak yang tidak bergerak, dalam arti
penggerak yang tidak berubah yang berbeda dengan jisim (materi).
Penggerak ini bersifat azali. Gerak jisim mustahil timbul dari
substansinya sendiri sebab ia terbatas. Oleh karena itu, gerakan ini
mesti berasal dari gerakan yang infinite (tidak terbatas), yang oleh
ibnu Bajjah disebut dengan aql.
Kesimpulannya, gerakan alam ini jisim yang terbatas,
digerakkan oleh aql (bukan berasal dari substansi alam sendiri).
Sedangkan yang tidak bergerak ialah ‘aql, ia menggerakkan alam dan
ia sendiri tidak bergerak. ‘Aql inilah yang disebut dengan Allah (‘aql,
‘aqil dan ma’qul), sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Farabi dan
Ibnu Sina sebelumnya.
Perlu diketahui bahwa para filosof Muslim pada umumnya
menyebut Allah itu ‘aql. Argument yang mereka majukan ialah Allah
Pencipta dan Pengatur alam yang beredar menurut natur rencana-Nya,

7
Muhammad, Saghir. Ibnu Bajjah, op.cit., hlm.511.
8
T.J. De Boer, op.cit., hlm. 234.
mestilah Ia memiliki daya berpikir. Kemudian dalam mentauhidkan
Allah semutlak-mutlaknya, para filosof Muslim menyebut Allah
adalah Zat yang mempunyai daya berpikir (‘aql), juga berpikir (‘aqil)
dan objel pemikirannya sendiri (ma’qul). Keseluruhannya adalah zat-
Nya yang Esa.
b. Materi dan Bentuk
Menurut pandangan Ibnu Bajjah9, Materi (al-Hyula) tidak
mungkin bereksistensi tanpa bentuk (al-ahurat). Sementara itu, bentuk
bisa bereksistensi dengan sendirinya tanpa materi. Jika tidak, secara
pasti kita tidak mungkin dapat menggambarkan adanya modifikasi
(perubahan-perubahan) pada benda. Perubahan-perubahan tersebut
adalah suatu kemungkinan dan inilah yang dimaksud dengan
pengertian bentuk materi.
Pandangan Ibnu Bajjah ini diwarnai oleh pemikiran Aristoteles
dan Plato. Menurut Aristoteles, materi adalah sesuatu yang menerima
bentuk yang bersifat potensialitas dan dapat berubah sesuai bentuk.
Sementara menurut pandangan Plato, bentuk adalah nyata dan tidak
membutuhkan sesuatu pun untuk bereksistensi. Bentuk, menurut Plato,
terdapat di luar benda. Bentuk yang dimaksud Ibnu Bajjah mencakup
arti jiwa, daya, makna dan konsep.10 Bentuk hanya dapat ditangkap
dengan akal dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindra. Bentuk
pertama, menurut Ibnu Bajjah, merupakan suatu bentuk abstrak yang
bereksistensi dalam materi, yang dikatakannya sebagai tidak
mempunyai bentuk.
Bentuk, menurut Ibnu Bajjah bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling
rendah adalah bentuk materi pertama dan yang paling tinggi adalah
bentuk akal pemisah (al-‘aql al-mufariq). Dari bentuk yang paling
rendah sampai pada bentuk yang paling tinggi terjalin seperti mata

9
T.J. De Boer, op.cit., hlm. 283.
10
Muhammad, Saghir. Ibnu Bajjah, op.cit., hlm.512.
rantai. Akal manusiawi dapat mencapai bentuk kesempurnaannya
dengan melewati rantai tersebut dengan berfilsafat. Jiwa seperti ini
dapat berhubungan dengan Akal Aktif.11
Setiap materi menurut Ibnu Bajjah, mempunyai tiga bentuk,
bentuk rohani umum atau bentuk intelektual, bentuk khusus dan
bentuk fisik. Jenis bentuk yang pertama memiliki suatu hubungan,
yakni hubungan dengan menerima. Jenis bentuk kedua (khusus)
mempunyai dua hubungan, satu hubungan khusus dengan yang
berakal sehat, yang satu lagi hubungan umum dengan yang terasa.
Jenis bentuk yang ketiga ialah bentuk yang bereksistensi pada materi.
Contoh, kita ingat bentuk Ka’bah. Bentuk Ka’bah yang kita ingat sama
dengan bentuk Ka’bah yang nyata. Kalau Ka’bah tersebut berada di
depan mata, ini dinamakan bentuk rohani umum. Bentuk ini juga
mempunyai hubungan dengan wujud umum yang terasa sebab hanya
orang yang melihat Ka’bah, ini dinamakan bentuk khusus. Sedangkan
bentuk fisik, yaitu Ka’bah itu benar.
c. Jiwa
Menurut Ibnu Bajjah, setiap manusia mempunyai satu jiwa.
Jiwa ini tidak mengalami perubahan sebagaimana jasmani. Jiwa adalah
penggerak bagi manusia. Jiwa digerakkan dengan dua jenis alat. Alat-
alat jasmaniah dan alat-alat rohaniah. Alat-alat jasmaniah di antaranya
ada berupa buatan dan ada pula berupa alamiah, seperti kaki dan
tangan. Alat-alat alamiah ini lebih dahulu dari alat buatan, yaitu
disebut juga oleh Ibnu Bajjah dengan pendorong naluri (al-harr al-
gharizi) atau roh insting. Ia terdapat pada setiap makhluk yang
berdarah.12

11
T.J De Boer, op.cit., hlm 284.
12
Ahmad Daudy, et.al., Filsafat Islam, Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, (Aceh: IAIN ar-
Raniry, 1985), hlm. 196.
Jiwa, menurut Ibnu Bajjah adalah jauhar rohani, akan kekal
setelah mati. Di akhirat jiwalah yang akan menerima pembalasan, baik
balasan kesenangan (surga) maupun balasan siksaan (neraka). Akal,
daya berpikir bagi jiwa, adalah satu bagi setiap orang yang berakal. Ia
dapat bersatu dengan Akal Fa”al yang di atasnya dengan jalan
ma’rifah filsafat. Filsafat Obnu Bajjah tentang jiwa pada prinsipnya
didasarkan pada filsafat Al-Farabi dan Ibnu Sina.
d. Akal dan Ma’rifah
Ibnu Bajjah menempatkan akal dalam posisi yang sangat
penting. Dengan perantaraan akal, manusia dapat mengetahui segala
sesuatu, termasuk dalam mencapai kebahagiaan dan masalah ilahiyat.
Akal, menurut Ibnu Bajjah terdiri dari dua jenis, diantaranya:
 Akal teoritis
Akal ini diperoleh hanya berdasarkan pemahaman terhadap
sesuatu yang konkret atau abstrak.
 Akal praktis
Akal ini diperoleh melalui penyelidilan (eksperimen) sehingga
menemukan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh akal ada dua jenis
pula: yang dapat dipahami, tetapi tidak dapat dihayati; yang dapat
dipahami dan dapat pula dihayati.13
Berbeda dengan Al-Ghazali, menurut Ibnu Bajjah manusia
dapat mencapai puncak ma’rifah dengan akal semata, bukan dengan
jalan sufi melalui al-qalb, atau al-zauq. Manusia kata Ibnu Bajjah,
setelah bersih dari sifat kerendahan dan keburukan masyarakat akan
dapat bersatu dengan Akal Aktif dan ketika itulah ia akan memperoleh
puncak ma’rifah karena limpahan dari Allah.14

13
Muslim Ishak, Tokoh-Tokoh Filsafat Islam dari Barat (Spanyol), (Surabaya: Bina Ilmu, 1980), hlm. 31
14
Muhammad, Ghallab, al-Ma’rifat ‘ind Mufakkir al-Muslim, (Kairo: Dar al-Mishiriyyat, 1966), hlm.
272.
Dalam buku Tadbir al-Mutawahhid, Ibnu Bajjah mengkritik konsep
uzlah tasawuf Al-Ghazali. Pengasingan diri secara total dari
masyarakat manusia bertentangan dengan tabiat manusiawi sebagai
makhluk social.15 Bagi Ibnu Bajjah uzlah yang tepat adalah ‘uzlah
falsafi, yakni tetap hidup dan berhubungan dengan masyarakat, namun
ia wajib meninggalkan segala sifat-sifat yang tercela dari masyarakat
dan sanggup mengendalikan diri sehingga tidak terseret ke dalam
perbuatan rendah masyarakat. Penyendiri hanya bergaul dengan para
alim saja, jika tidak ada orang yang alim mesti uzlah total, dalam arti
hanya bergaul dengan masyarakat terbatas pada hal-hal yang tidak
dapat dihindari. Lebih jelas tentang manusia penyendiri ini akan
diuraikan pada tempat khusus.
e. Akhlak
Ibnu Bajjah membagi perbuatan manusia menjadi perbuatan
hewani dan manusiawi. Perbuatan hewani didasarkan atas dorongan
naluri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan hawa
nafsu. Sementara itu, perbuatan manusiawi adalah perbuatan yang
didasarkan atas pertimbangan rasio dan kemauan bersih lagi luhur.16
Sebagai contoh, perbuatan makan bisa dikategorikan perbuatan hewani
dan bisa pula menjadi perbuatan manusiawi. Apabila perbuatan
hewani makan tersebut dilakukan untuk memenuhi keinginan hawa
nafsu, perbuatan ini jatuh pada perbuatah hewani. Namun, apabila
perbuatan makan dilakukan bertujuan untuk memelihara kehidupan
dalam mencapai keutamaan dalam hidup, perbuatan ini tergantung
pada motivasi pelakunya, bukan pada perbuatannya. Perbuatan yang
bermotifkan hawa nafsu tergolong pada jenis perbuatan hewani dan
perbuatan bermotifkan rasio (akal) maka dinamakan perbuatan
manusiawi.

15
Ahmad, Fu’ad Al-Ahwany, op.cit., hlm. 92.
16
Muhammad, Saghir, Ibnu Bajjah, op.cit., hlm. 523.
Pandangan Ibnu Bajjah di atas sejalan dengan ajaran Islam,
yang juga mendasarkan perbuatan pada motivasi pelakunya. Lebih
lanjut ia menjelaskan bahwa manusia yang mendasarkan perbuatannya
atas iradah yang merdeka dan akal budi akan dapat mencapai
kebahagiaan.
Manusia, menurut Ibnu Bajjah, apabila perbuatannya dilakukan demi
memuaskan akal semata, perbuatannya ini mirip dengan perbuatan
Ilahy daripada perbuatan manusiawi. Hal ini merupakan keutamaan
karena jiwa telah dapat menekankan keinginan jiwa hewani yang
selalu menentangnya.17 Perbuatan seperti itulah yang dikehendaki oleh
Ibnu Bajjah bagi masyarakat yang hidup dalam Negara utama.
f. Politik
Pandangan politi Ibnu Bajjah dipengaruhi oleh pandangan
politik Al-Farabi. Sebagaimana Al-Farabi, dalam buku Ara’ Ahl al-
Madinat al-Fadhilat, ia (Ibnu Bajjah) juga membagi Negara menjadi
Negara utama (al-Madinat al-Fadhilat) atau sempurna dan Negara
yang tidak sempurna, seperti Negara jahiliah, fasiqah dan lainnya.
Demikian juga tentang hal-hal lain, seperti persyaratan kepala
negara dan tugas-tugasnya selain mengatur Negara, juga pengajar dan
pendidik. Pendidik Ibnu Bajjah ini sejalan dengan Al-Farabi.
Perbedaannya hanya terletak pada penekanannya. Al-Farabi titik
tekannya pada kepala Negara, sedangkan Ibnu Bajjah titik tekannya
pada warga negara (masyarakat)
Warga Negara utama, menurut Ibnu Bajjah, mereka tidak lagi
memerlukan dokter dan hakim.18 Sebab mereka hidup dalam keadaan
puas terhadap segala rezeki yang diberikan Allah, yang dalam istilah
agama disebut dengan al-qana’ah. Mereka tidak mau memakan
makanan yang akan merusak kesehatan. Mereka juga hidup saling

17
Muslim, Ishak, op.cit., hlm. 33.
18
Al-Iraqy, al-Falsafat, op.cit., hlm. 60-61.
mengasihi, saling menyayangi dan saling menghormati. Oleh karena
itu, tidaklah akan ditemukan perselisihan antara mereka. Mereka
seluruhnya mengerti undang-undang Negara dan mereka tidak mau
melanggarnya.
Berbeda dengan Al-Farabi, dalam konsep politiknya, Ibnu
Bajjah menambahkan adanya di antara masyarakat yang mutawahhid,
yaitu uzlah falsafi yang berbeda dengan uzlah tasawuf Al-Ghazali.
Perlu dikemukakan bahwa penyebab Ibnu Bajjah melontarkan filsafat
politik ini erat kaitannya dengan kegagalan para filosof Muslim dalam
lapangan politil praktis.
3. Pengaruh filsafat Ibnu Bajjah terhadap ilmu dan sains
a. Kontribusi Ibnu Bajjah
1) Astronomi
Ibnu Bajjah ternyata turut berperan dalam perkembangan
Islam. seorang ilmuwan Yahudi dari Andalisia, Moses Maimonides,
menyatakan bahwa Ibnu Bajjah telah mencetuskansebuah model
planet. Selain itu, Ibnu Bajjah pun telah mengkritisi pendapat
Aristoteles tentang meteorology. Ia bahkan telah mengungkapkan
sendiri teorinya tentang Galaksi Bima Sakti. Ibnu Bajjah menegaskan
Galaksi Bima Sakti sebagai fenomena luar angkasa yang terjadi di atas
bulan dan wilayah sub-bulan. Pendapatnya itu dicatat dalam
Ensiklopedia Filsafat Stanford.
2) Fisika
Dalam bidang fisika Islam, Ibnu Bajjah mengungkapkan
hukum gerakan. Prinsip-prinsip yang dikemukakannya itu menjadi
dasar bagi pengembangan ilmu mekanik modern. Pemikirannya dalam
fisikaa banyak memengaruhi fisikawan Barat abad pertengahan,
seperti Galileo Galilei. Tak heran, jika hujum kecepatan yang
dikemukakannya sangat mirip dengan yang dipaparkan Galilei.
Menurut Ibnu Bajjah Kecepatan-Gaya gerak-resistensi materi,
Ibnu Bajjahpun adalah fisikawan pertama yang mengatakan selalu ada
gaya reaksi untuk setiap gaya yang mempengaruhi. Ibnu Bajjah pun
sangat memengaruhi pemikiran Thomas Aquinas mengenai analisi
gerakan. Inilah salah satu bukti betapa peradaban Barat banyak
terpengaruh dengan sains yang dikembangkan ilmuwan Muslim.19

3) Psikologi
Ibnu Bajjah pun juga sangat berjasa dalam mengembangkan
psikologi Islam. pemikirannya tentang studi psikologi didasarkan pada
ilmu fisika. Dalam risalah yang ditulisnya berjudu, Recognition of the
Active Intelligence, adalah kemampuan yang paling penting bagi
manusia. Dia juga menulis banyak hal tentang sensasi dan imajinasi.
“Pengetahuan tidak dapat diperoleh dengan pikiran sehat saja,
tapi juga dengan intelegensia aktif yang mengatur intelegensia alami”.
Ungkap Ibnu Bajjah. Ia juga mengupas tentang jiwa. Bahkan secara
khusus Ibnu Bajjah menulis kitab berjudul, an-Nafs, atau Jiwa. Dia
juga membahas tentang kebebasan. Menurut dia, seseorang dapat
dikatakan bebas ketika dapat bertindak dan berpikir secara rasional.20

4. Bagaimana Pandangan-Pandangan Filosofis Ibnu Bajah


a. Hakikat Manusia
Menurut Ibnu Bajah, perbedaan yang mendasar antara manusia
dengan hewan teriak pada akal yang dimiliki oleh manusia. Dengan
akalnya, manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk yang
dapat memperoleh pengetahuan dan berperadaban.21

19
Asep Sulaeman, Mengenal Filsafat Islam, Bandung: Fadilah Press Hlm 108
20
Ibid., hal 109.
21
Miska, Muhammad Amin. Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 1986), hlm 46.
Ibnu Bajah lalu membagi perbuatan-perbuatan manusia kepada
dua bagian. Bagian pertama, perbuatan hewani yang timbul dari motiv
dan naluri. Kedua, perbuatan kemanusiaan yang timbul dari pemikiran
yang lurus dan kemauan yang bersih dan tinggi. Pangkal perbedaan
antara kedua bagian tersebut menurut Ibnu Bajah bukan pada
perbuatan itu sendiri melainkan pada motifnya. Ia mengemukakan
contoh seorang yang tersandung batu sehingga ia lika-liku, lalu ia
melemparkan batu itu. Kalau ia melemparkan batu itu karena alasan
telah melukainya, maka ini adalah perbuatan hewani yang didorong
oleh naluri kehewaninya, tetapi kalau ia melemparkan batu itu agar
batu tersebut tidak mengganggu orang lain, bukan kepentingan
dirinya, maka perbuatan itu adalah pekerjaan kemanusiaan.22
Manusia menurut Ibnu Bajah bersifat monodulistis, artinya ia
memiliki raga dan jiwa, tetapi ia dapat hidup tanpa raga. Sebab, jiwa
bersifat abadi. Jiwa disamakan dengan ruh yang merupakan bagian
dari nyawa dan bersifat umum (universal).
Ruh tersebut memiliki hasrat tersendiri yang terdiri atas tiga
unsure. Pertama, hasrat imajinatif, yang lewat hasrat tersebut seorang
anak dibesarkan, individu-individu dibawa di tempat tinggal mereka
dan memiliki kasih sayang, cinta dan semacamnya. Kedua, hasrat
menengah, yang lewat hasrat tersebut timbul nafsu akan makanan,
perumahan, kesenian dan ilmu. Ketiga, hasrat berbicara yang dengan
hasrat ini timbul pengajaran. Tidak seperti hasrat sebelumnya, hasrat
ketiga ini khusus dimiliki manusia.23
b. Kebenaran
Ibnu Bajah merupakan salah seorang pelopor filsafat skolastik
dalam Islam. Filsafat sebelum Ibnu Bajah cenderung berpikir secara
mistik (tasawwuf), namun Ibnu Bajah menggeser orientasi filsafat

22
Ahmad, Hanafi. Op.Cit., hlm 47.
23
Ahmad, Hanafi. Op.Cit., hlm 47.
tersebut dengan mengatakan bahwa manusia dapat memperoleh
kebenaran melalui kebenaran itu sendiri dan manusia dapat mencapai
tingkat tersebut melalui filsafat murni. Dengan berpikir filosofis,
manusia dapat membersihkan dirinya dari pengaruh-pengaruh luar.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengasingkan dirinya, sebab untuk
memperoleh kebenaran manusia harus meleburkan dirinya dengan akal
af’al. tingkatan tersebut akan dicapai apabila pengaruh masyarakat
yang kotor dibersihkan.
Jadi, manusia dapat meraih kebenaran melalui pikirannya
sendiri (mandiri) setelah ia berhasil melepaskan diri dari sifat-sifat
hewani. Tingkatan ini oleh Ibnu Bajjah disebut istilah mutawwahid.
Mutawwahid dapat diartikan sebagai penyendirian (uzlah),24
mutawahid di sini berarti hidup menyendiri sambil merenungkan
berbagai ilmu teoritis. Dengan cara begitu, ia dapat berhubungan
dengan al aql al-fa’al (ful force mind).25
c. Metode
Ibnu Bajjah menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh
dengan mempergunakan metode eksperimen (percobaan). Percobaan
dilakukan dengan indera, tetapi di lain pihak Ibnu Bajjah menyatakan
bahwa pengamatan indrawi semata-mata belum cukup untuk
mendapatkan kebenaran dan harus ditingkatkan lebih lanjut ketingkat
pengamatan akal (rasio).
Menurut Ibnu Bajjah, Tuhan dapat mengetahui manusia melalui
pemikiran filsafat. Manusia dengan berfilsafat akan dapat memahami
(makrifat) tentang akal yang tertinggi yaitu Tuhan yang maha kuasa.26
Dengan demikian, pemikiran Ibnu Bajjah merupakan kombinasi atau
paduan antar perasaan (intuisi) dengan akal. Sementara itu, dalam

24
Miska, Muhammad Amin, Op.Cit., hlm. 47.
25
Ibid., hlm. 98.
26
Hasbullah Bakery, Disekitar Filsafat Skolastik Islam, Cet. III, (Jakarta; Tinta Mas, 1973), hlm. 58.
masalah pengetahuan inderawi, dia mempergunakan metode rasional
dan empiri, tetapi mengenai kebenaran Tuhan dia mempergunakan
filsafat. Kebenaran-kebenaran itu sendiri dapat diperoleh manusia
apabila manusia menyendiri (uzlah).

5. Pengaruh Filsafat Ibnu Bajjah terhadap Pemikiran Islam


Ibnu Bajjah termasuk salah satu filosof muslim yang dianggap paling
cemerlang pemikirannya, sehingga para murid dan para pengikutnya menilai
bahwa dalam segi pemahaman filsafatnya sama dengan filsafat Al-Farabi,
seperti logika, filsafat alam dan metafisika. Akan tetapi, Ibnu Bajjah telah
memberikan sejumlah besar tambahan dalam karya-karyanya. Dan lagi dia
telah menggunakan metode filsafat yang benar-benar dan tambahan sangat
luar biasa. Demikian juga dalam psikologi, Ibnu Bajjah tidak ketinggalan
langkah. Dia dipandang memiliki argument dan pemikiran yang mirip sama
dengan Aristoteles, yang mendasarkan psikologinya pada fisika. Oleh sebab
itu, Ibnu Bajjah bukan hanya seorang filosof, tetapi juga dia seorang saintis
yang menguasai beberapa disiplin ilmu, seperti: kedokteran, astronomi, fisika,
matematika dan musikus.
Ibnu Bajjah juga telah mengilhami filosof lain, yakni mampu
menghasilkan pemikiran yang baru bagi Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd.
Sehingga keduanya mampu menyumbangkan pemikiran mereka diantara
filosof-filosof muslim lainnya. Teori dan pemikiran Ibnu Bajjah dapat
diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, demi tercapainya
tujuan sebagai makhluk, yaitu ma’rifatullah. Menurut Ibnu Bajjah semua
orang mempunyai kesempatan untuk mencapainya, dalam hal ini tidak mudah
untuk mendapatkan ma’rifatullah (mendekatkan diri kepada Allah), salah
satunya bisa ditempuh dengan beribadah kepada Allah, menurut Al-Ghazali.
Sedangkan menurut Ibnu Bajjah manusia memiliki kesempatan untuk
mencapai ma’rifatullah, dengan menggunakan akal pikirannya yang benar
bisa menjaga diri dari perbuatan yang merusak dan menghancurkan dirinya
sendiri.
Ibnu Bajjah dengan filsafatnya ini dapat dikelompokkan ke dalam
filosof yang mengutamakan amal untuk mencapai derajat yang sempurna. Di
pihak lain filsafat manusia penyendiri Ibnu Bajjah cocok dengan zaman
modern ini. Segala keutamaan dan perbuatan moral diarahkan untuk
memimpin dan menguasai jiwa manusia mengalahkan jiwa hewaniah. Secara
global seseorang harus mengupayakan perjuangannya untuk berhubungan
dengan alam, baik secara bersama-sama dengan masyarakat maupun secara
terpisah. Sehingga jika masyarakat baik, berarti harus memberikan andil
dalam berbagai macam urusannya, tetapi jika masyarakat tidak baik maka ia
harus menyepi dan menyendiri.