Anda di halaman 1dari 1

Konsep Willingness to Pay (WTP)

Nilai ekonomi sumberdaya yang berkaitan dengan fungsi kepuasan (utilitas) dapat diukur melalui
konsep Willingness to Pay (WTP). Metode Contingent Valuation Method (CVM) umum digunakan
untuk mengestimasi nilai WTP atas komoditas yang tidak diperdagangkan di pasar, contohnya
perbaikan lingkungan. CVM dilakukan dengan mendapatkan langsung nilai WTP dari responden atas
suatu perubahan pada aliran jasa lingkungan. Langkah-langkah untuk mendapatkan nilai WTP
dengan metode CVM dibagi menjadi enam (Hanley dan Spash 1993), yaitu:

a. Menyusun pasar hipotetis Tahap pertama adalah membangun alasan untuk pembayaran atas
manfaat jasa lingkungan. Pembayaran tidak dilakukan secara nyata dan hanya menggunakan
instrumen survey yang telah ditetapkan.

b. Mendapatkan nilai tawaran Responden ditanya secara individual mengenai nilai WTP untuk
mencegah penurunan kualitas atau melaksanakan perbaikan lingkungan. Wawancara dengan tatap
muka umumnya digunakan agar nilai tawaran yang diberikan murni dari responden. Ada empat
metode untuk mendapatkan nilai tawaran, yaitu metode tawar menawar (bidding game),
pertanyaan terbuka (open ended question), payment card, dan close ended referendum.

c. Mengkalkulasi nilai rataan WTP Setelah nilai WTP terkumpul, dilakukan perhitungan rataan dan
nilai tengah WTP. Nilai tengah dihitung apabila rentang nilai terlalu jauh.

d. Menduga kurva Kurva diperkirakan dengan menggunakan nilai WTP sebagai variabel tidak bebas
dan faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai variabel bebas.

e. Menjumlahkan data Tahap ini merupakan proses menghitung nilai WTP dengan mengalikan
rataan nilai tawaran dengan angka total populasi.

f. Mengevaluasi penggunaan CVM Tahap terakhir adalah mengukur keberhasilan penerapan CVM.
Evaluasi dilakukan dengan melihat nilai R-square (R2 ) dari model dugaan WTP.

Manfaat Ekonomi SPALD

Keberadaan SPAL domestik mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha mengurangi
masalah lingkungan. Sejalan dengan usaha tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan air limbah
olahan untuk mengurangi debit air limbah yang dihasilkan. Pemanfaatan yang dilakukan antara lain
untuk kegiatan ternak lele PKK, menyiram tanaman, dan lain-lain. Kegiatan pemanfaatan air limbah
olahan ini dapat memberikan manfaat ekonomi berupa tambahan pendapatan dari ternak lele dan
penghematan biaya air PDAM.