Anda di halaman 1dari 46

STOIKIOMETRI

Oleh :

1) RANNY (18176009)
2) TANIYA RACHMAWATI (18176013)
3) WATIN DEHISTORA (18176015)
4) SALMAH (18176021)

Dosen Pembimbing :

Dr. Yerimadesi, S.Pd, M.Si

PASCA SARJANA PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................................... i

A. Hukum Dasar Kimia ..................................................................................... 1

1. Hukum Kekekalan Massa ....................................................................... 1

2. Hukum Perbandingan Tetap .................................................................... 3

3. Hukum Perbandingan Berganda .............................................................. 4

B. Bilangan Avogadro ......................................................................................... 6

C. Konsep Mol ................................................................................................... 8

D. Kadar Zat ...................................................................................................... 13

E. Komposisi Persentase ................................................................................... 19

F. Rumus Kimia ................................................................................................ 23

1. Rumus Empiris .......................................................................................... 25

2. Rumus Molekul ......................................................................................... 29

G. Rumus Kimia Hidrat ..................................................................................... 29

H. Pereaksi Pembatas ......................................................................................... 30

I. Hasil Teoritis dan Hasil Persentase ............................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 43

i
STOIKIOMETRI

A. HUKUM DASAR KIMIA


Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari materi dan perubahannya1. Semua
materi selalu mengalami perubahan. Misalnya :
Etanol + Oksigen  Karbon dioksida + Air
Zat yang mengalami perubahan disebut zat pereaksi (reaktan) dan zat yang
terbentuk disebut hasil reaksi (produk). Dalam hal ini etanol dan oksigen adalah
pereaksi, sedangkan karbon dioksida dan air adalah hasil reaksi.2
Kehidupan di dunia tidak lepas dari perubahan kimia. Pernapasan
merupakan bagian dari perubahan kimia. Kita memasukkan O2 ke dalam tubuh
yang akan bereaksi dengan glukosa menghasilkan H2O dan CO2. Reaksi ini
menghasilkan energi yang berupa panas untuk menjaga suhu tubuh dan energi
gerak.
Bidang kimia yang mempelajari aspek kuantitaif unsure dalam suatu
peristiwa atau reaksi disebut “STOIKIOMETRI” (bahasa Yunani : Stoichea =
unsur , metrain = mengukur), jadi Stoikiometri adalah perhitungan kimia yang
menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi kimia. Pada
persamaan reaksi kimia berlaku Hukum Kekelan Massa, yang dikemukakan oleh
“Lavoiser”. Pada tahun 1774 ia melakukan penelitian dengan memanaskan timah
dengan oksigen dalam wadah tertutup. Dengan mengamati secara teliti, ia
berhasil membuktikan bahwa dalam reaksi itu tidak terjadi perubahan massa.
Hukum Kekelan Massa itu menyatakan bahwa setiap reaksi kimia, massa zat –
zat setelah bereaksi adalah sama dengan zat sebelum bereaksi.
1. HUKUM KEKEKALAN MASSA
Pada tahun 1774, Lavoiser memanaskan timah dengan oksigen dalam
wadah tertutup. Dengan menimbang secara teliti ia berhasil membuktikan
bahwa dalam reaksi itu tidak terjadi perubahan massa. Ia mengemukakan

1
Raymond Chang, Kimia Dasar 1 (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm 3
2
Syukri S, Kimia Dasar 1 (Bandung: ITB, 1999), hlm. 23

1
pernyataan yang disebut hukum kekekalan massa, yang berbunyi : “Materi
tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan”
Pada mulanya para ahli meyakini kebenaran hokum ini karena
berdasarkan percobaan. Akan tetapi kemudian timbul masalah pada reaksi
eksotermik dan endotrmik, karena menurut albert Einstein massa setara
dengan energi, yaitu
E = mc², dengan
E = energi (s), m = massa materi (g), dan c = kecepatan cahaya (3108 m/s) 3
Artinya, energi yang timbul dalam suatu peristiwa mengakibatkan
hilangnya sejumlah massa. Sebaliknya, energi yang diserap suatu peristiwa
akan disertai terciptanya sejumlah materi. Namun demikian, perhitungan
menunjukkan bahwa perubahan massa dalam reaksi sangat kecil sehingga
dapat diabaikan. Contohnya reaksi 2 g Hidrogen dengan 16 g Oksigen
menjadi air melepaskan energi setara dengan 10-9g massa. Jadi, hukum
kekekalan massa masih tetap berlaku, dan dalam versi modern berbunyi:
“Dalam reaksi kimia tidak dapat dideteksi perubahan massa”4
Contoh Soal 1 :
Dalam wadah tertutup 4 gram logam Natrium dibakar denagn oksigen
menghasilkan natrium oksida, jika massa natrium oksida yang dihasilkan
adalah 5,6 gram, berapakah massa oksigen yang dibutuhkan ?
Penyelesain :
Massa Na = 4 gram
Massa NaO = 5,6 gram
Berdasarkan hukum kekekalan massa maka Massa sebelum reaksi = Massa
sesudah reaksi
mNa + mO2 = mNaO
mO2 = mNaO – mNa
= (5,6 – 4) gram = 1,6 gram

3
Sunarya, Yayan. Kimia Dasar 2 (Bandun: Yrama Widya, 2012), hlm. 329
4
Syukri S, Kimia Dasar 1 (Bandung: ITB, 1999), hlm. 23-24.

2
Contoh soal 2 :
Pada pembakaran 2,4 gram magnesium di udara dihasilkan 4 gram oksida
magnesium, berapa gram oksigen yang terpakai dalam reaksi itu ?
Penyelesain :
Massa Mg = 2,4 gram
Massa MgO = 4 gram
Massa sebelum reaksi = Massa sesudah reaksi
m Mg + m O2 = m MgO
m O2 = m MgO – m Mg
= (4 – 2,4) gram
= 1,6 gram
2. HUKUM PERBANDINGAN TETAP (HUKUM PROUST)
Pada sekitar tahun 1799, Joseph Louis Proust menemukan sifat penting
dari senyawa. Berdasarkan penelitiannya terhadap berbagai senyawa, Proust
menemukan bahwa perbandingan massa unsur-unsur dalam satu
senyawa adalah tertentu dan tetap. Senyawa yang sama, meskipun berasal
dari sumber yang berbeda atau dibuat dengan cara yang berbeda, ternyata
mempunyai komposisi yang sama. Pernyataan tersebut dikenal
dengan Hukum Perbandingan Tetap atau Hukum Proust.
Contoh soal 1 :
Pada reaksi antara logam magnesium sebanyak 10 gram dengan 6 gram
oksigen sesuai persamaan reaksi :
2 Mg (s) + O2 (g)  2 MgO (s)
Ternyata dari percobaan dihasilkan 15 gram magnesium oksida dan sisa
logam magnesium sebanyak 1 gram, berapakah massa oksigen dan massa
Magnesium pada magnesium oksida ? ( Ar Mg = 24, Ar O = 16)
Penyelesain :
Dari persamaan reaksi diatas maka kita bisa tentukan menggunakan rumus
hukum proust yaitu.

3
Massa O dalam MgO
= (Ar O)/(Mr MgO) x massa MgO
= 16/40 x 15 gram
= 6 gram
Massa Mg dalam MgO
= (Ar Mg) / (Mr MgO) x massa MgO
= 24/40 x 15 gram
= 9 gram
Jadi massa magnesium yang bereaksi adalah 9 gram (tersisa 1 gram) dan
massa oksigen yang bereaksi adalah 6 gram.
3. HUKUM PERBANDINGAN BERGANDA (HUKUM DALTON)
John Dalton (1820) tertarik untuk mempelajari unsur-unsur yang dapat
membentuk lebih dari satu senyawa seperti karbon dengan oksigen, nitrogen
dengan oksigen, belerang dengan oksigen, fosfor dengan klorin, dan
tembaga dengan oksigen. Hasil pengamatan ini melahirkan Hukum
Perbandingan Berganda (dikenal sebagai Hukum Dalton) sbb:5
1. Tembaga dan Oksigen membentuk dua senyawa tembaga oksida
Tembaga oksida tembaga oksigen tembaga : oksigen
I 88,8% 11,2% 1 : 0,126
II 79,9% 20,1% 1 : 0,252
2. Karbon dan Oksigen dapat membentuk
Karbon + Oksigen  Karbon monoksida (I)
Karbon + Oksigen  Karbon dioksida (II)
Senyawa karbon oksigen karbon : oksigen
I 42,8% 57,2% 1 : 1,33
II 27,3% 72,7% 1 : 2,67
3. Sulfur (belerang) dengan oksigen dapat membentuk dua senyawa
oksigen, yaitu sulfur dioksida (I) dan sulfur trioksida (II)

5
Syukri S, Kimia Dasar 1 (Bandung: ITB, 1999), hlm. 27.

4
Senyawa belerang oksigen belerang : oksigen
I 50% 50% 1 : 1
II 40% 60% 1 : 1,5
Perhatikan angka-angka perbandingan di atas! Yang menarik adalah
angka perbandingan pada unsur kedua (dalam hal ini oksigen) yaitu:
0,126 : 0,252 = 1 : 2
1,33 : 2,67 = 1 : 2
1 : 1,5 = 2 : 3
Berdasarkan kenyataan di atas akhirnya Dalton menarik suatu kesimpulan,
yang disebut hukum perbandingan berganda: “Bila dua unsur dapat
membentuk lebih dari satu senyawa, maka perbandingan massa unsur yang
satu, yang bersenyawa dengan unsur lain yang tertentu massanya,
merupakan bilangan bulat dan sederhana.”6
Contoh:
Raksa dan klor membentuk dua macam senyawa. Dalam senyawa pertama
0,66 g raksa bergabung dengan 0,118 g klor, sedangkan dalam senyawa
kedua, 1,00 g raksa bergabung dengan 0,355 g klor. Apakah data ini sesuai
dengan hukum perbandingan berganda.
Jawab
Senyawa raksa klor
I 0,669 0,118
II 1,000 0,335
atau
Senyawa raksa klor
I 1 0,176
II 1 0,335
Perbandingan klor bila raksa sama dalah:
0,176 : 0,335 = 1 : 2

6
Syukri S, Kimia Dasar 1 (Bandung: ITB, 1999), hlm. 28

5
B. BILANGAN AVOGADRO
Amadeo Avogadro melengkapi kajian yang telah dilakukan oleh para
ilmuwan kimia terdahulu. Pada tahun 1811, Avogadro mempublikasikan suatu
hipotesis sebagai berikut :Pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan
jumlah partikel = perbandingan koefisien gas-gas yang terlibat dalam reaksi
kimia Misalnya, jika pada T dan P yang sama, gas CO2 menempati ruang dengan
volume yang sama dengan yang ditempati oleh gas H2, maka jumlah molekul
CO2 dan H2 adalah sama. Jadi, pada T dan P yang sama,

Dalam reaksi kimia, banyaknya partikel-partikel yang terlibat dalam reaksi


dinyatakan dengan koefisien reaksi. Oleh karena itu, hukum Avogadro dapat
dijabarkan sebagai berikut: Pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan
jumlah partikel= perbandingan koefisien gas-gas yang terlibat dalam reaksi
kimia.
Sebagai contoh, untuk reaksi pembuatan gas ammonia (NH3) dari gas nitrogen
(N2) dan hydrogen (H2) :
N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g)
1 molekul 3 molekul 2 molekul
1 volume 3 volume 2 volume
Jadi, untuk reaksi yang melibatkan gas pada suhu dan tekanan yang sama :

Dengan demikian, hipotesis Avogadro membuktikan dan memperkuat


kebenaran hukum Gay- Lussac. Hukum Gay-Lussac dan Avogadro dapat
diterapkan
Contoh soal :
Volume atom gas helium adalah 2 L. Pada suhu dan tekanan yang sama,
berapakah jumlah molekul gas nitrogen yang menempati ruang 3 L ?

6
Jawab :
Pada T dan P yang sama,

Bilangan Avogadro dan Mol


Telah dibahas bahwa jumlah partikel dalam satu mol disebut bilangan
Avogadro = 6,022 x 1023. Oleh karena terdapat banyak atom dalam satu mol
unsur, massa dari satu atom tersendiri sangatlah kecil. Contoh berikut
menggambarkan bagaimana bilangan Avogadro dapat dipakai untuk menghitung
massa dari setiap partikel atom.7
Contoh Pemakaian bilangan Avogadro dalam perhitungan
Soal: Berapa massa dari sebuah atom kalsium?
Analisis: Apabila suatu perhitungan menyangkut dengan sifat dari suatu atom
atau molekul dan menghubungkan sifat tersebut dengan sesuatu yang dapat kita
ukur di laboratorium, biasanya dibutuhkan bilangan Avogadro. Persoalan dapat
dituliskan berikut:
1 atom Ca = (?) g Ca
Perhatikan bahwa kita diminta untuk mengutarakan sifat dari suatu atom
(massanya) dalam suatu garam yang dapat kita ukur dilaboratorium. Kita
memerlukan bilangan Avogadro untuk menghubungkan dunia submikroskopis
yang kecil dengan dunia laboratorium yang besar.
Penyelesaian: Kita mempunyai hubungan
6,022 x 1023 atom Ca = 1 mol Ca (3 angka penting)
1 mol Ca = 40,1 g Ca

7
James E. Brady, Kimia Universitas Asas & Struktur Jilid Satu (Ciputat: Binarupa Aksara),
hlm. 85

7
Penyelesaian soal dapat dibuat:
1 mol Ca 40,1 g Ca
1 atom Ca x (6,02 x ) 𝑥 (1 mol Ca ) = 6,66 𝑥 10−23 𝐶𝑎8
10−23 atom C

Massa Atom Relatif dan Massa Molekul Relatif9


Massa atom adalah nilai relative, artinya suatu rasio tanpa dimensi.
massa satu atom unsur
Ar 
1
massa satu atom C  12
12

Massa molekul relative dedefinisikan sebagai jumlah massa atom berdasarkan


jenis dan jumlah atom yang terdefinisi dalam rumus kimianya. Misalkan rumus
molekul karbon dioksida adalah CO2, dan massa molekulnya adalah
12+(2x16)=44.

C. KONSEP MOL
Dalam dunia sekarang ini, pembahasan dari zat dan reaksi kimia
memerlukan kemampuan untuk mencoba menentukan sifat dari hasil reaksi
kimia. Kita harus dapat menemukan rumus dan menentukan seberapa banyak
berbagai zat kimia diperlukan apabila kita akan melakukan reaksi kimia.
Dengan perkataan lain, kita harus dapat bekerja secara kuantitatif dengan
unsur, senyawa, dan reaksi kimia. Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani
(berasal dari bahasa Stoicheion yang berarti unsur dan metron berarti
mengukur) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan bentuk
kuantitatif dari reaksi dan senyawa kimia.
Teori atom Dalton dan perkembangan dari tabel masa atom unsur-
unsur membuka jalan untuk perhitungan Stoikiometri, tetapi sebelum ini

8
Ibid., hlm. 70.
9
Takeuchi, Yashito, Buku Teks Pengantar Kimia, (Tokyo: 2006), hlm. 10-12.

8
diterima, kita harus membicarakan terlebih dahulu konsep yang terpenting
dalam Stoikhiometri yaitu: Mol.10
Seperti telah dipelajari, atom bereaksi untuk membentuk molekul
dalam perbandingan angka yang mudah dan bulat. Misalnya atom hidrogen
dan oksigen, bergabung dalam perbandingan 2:1 untuk membentuk air (H2O),
atom karbon dan oksiger, bergabung dalam. perbandingan 1:1 membentuk
karbonmonoksida (CO). Setelah mengetahui hal ini, misalkan kita ingin
mernbuat karbonmonoksida dari atom karbon dan atom oksigen sedemikian
rupa sehingga tak ada atom dari kedua unsur ini yang tersisa. apabila kita
hanya memerlukan satu molekul, kita dapat membayangkan akan
menggabungkan bersama-sama 1 atom C dan I atom O. Bila dua molekul
yang dibutuhkan, diperlukan 2 atom C dan 2 atom O dan seterusnya untuk
berbagai jumlah yang kita inginkan. Tetapi kita tak dapat bekerja dengan
atom-atom, karena mereka sangat kecil. Sebab itu dalam keadaan sebenarnya
di Laboratorium kita harus memperbesar ukuran dari sampel sedemikian rupa,
sehingga ia dapat dilihat dan dipergunakan, tetapi harus dibuat dengan cara
sedemikian rupa, agar perbandingan atom yang sesuai dapat dipertahankan.
Salah satu jalan untuk memperbesar jumlah dalam reaksi kimia adalah bekerja
dengan lusinan atom, bukan dengan satuan atom.
1 atom C + 1 atom O 1 molekul CO
1 lusin atom C + 1 lusin atom O 1 lusin molekul CO
(12 atom C) (12 atom O) (12 molekul CO)
Perhatikan bahwa perbandingan 1:1 lusinan atom tepat
sama perbandingan 1:1 satuan atomnya sendiri. Jika kita mengambil 2 lusin
atom karbon dan 2 lusin atom oksigen (perbandingan 1:1 dari lusinan), dapat
dipastikan akan jumlah atom yang sama dari karbon dan oksigen
(perbandingan 1:1 atom). Sehingga tidak menjadi masalah jumlah lusinan dari
tiap atom yang kita ambil asal jumlah lusinannya sama sehingga perbandingan

10
Ibid., hlm. 69

9
1:1 secara lusin dan atom tetap dipertahankan.11 Konsep ini sangat penting
sekali, sehingga perlu ditinjau dalam kasus lain. Perhatikan zat air (H2O). Bila
kita ambil atom-atomnya sendiri persamaannya adalah sebagai berikut:
2 atom H + 1 atom  1 molekul H2O
Kemudian kita dapat tingkatkan ukuran reaksi dengan bekerja lusinan atom
hidrogen dan oksigen
2 lusin atom H + 1 lusin atom O  1 lusin molekul H2O atau
4 lusin atom H + 2 lusin atom O 2 lusin molekul H2O atau
6 lusin atom H + 3 lusin atom 0  3 lusin molekul H2O
Dalam setiap persamaan, tetap dipertahankan perbandingan 2 : 1 antara
atom H dan O dengan mempertahankan perbandingan 2 : 1 lusinan atom-atom
ini.12
Sekarang menjadi jelas bahwa bila ada suatu cara untuk menghitung atom
secara lusinan, kita dapat mengambilnya berlusin-lusin dalam perbandingan
yang tepat sesuai yang diinginkan perbandingan atomnya dan dengan cara ini
pasti akan didapat perbandingan atom yang sesuai. Sayangnya selusin atom
atau molekul masih terlalu kecil untuk dikerjakan, sebab itu kita harus
mengambil satuan yang lebih besar. "Lusinannya ahli kimia"
disebut mole (disingkat mol). Mol ini terdiri dah 6,022 x 10 23partikel (akan
dibicarakan lagi nanti mengenai asal usul angka lusin dan mol ini, yang
disebut bilangan Avogadro)
1 lusin = 12 objek
1 mol = 6,022 x 1023 partikel
Keterangan yang sama untuk lusinan dapat diterapkan juga pada mol. Mol
hanyalah suatu jumlah yang lebih besar.
1 mol atom C + 1 mol atom O 1 mol molekul CO
atau
1 mol C + 1 mol O  1 mol CO

11
Ibid., hlm. 76
12
Ibid., hlm. 76.

10
(6,022 x 1023atom C) (6,022 x 1023 atom 0) (6,022 x 1023 molekul CO)

Terlihat bahwa bila kita mengambil 1 mol atom karbon dan 1 mol atom
oksigen, kita akan mempunyai jumlah atom karbon dan oksigen yang sama
dan akan membentuk tepat 1 mol molekul CO, tak ada sisa apapun.
Pembahasan di atas menggambarkan hal yang penting dari konsep mol.

Perbandingan atom-atom yang bersenyawa untuk membentuk molekul akan


tepat sama dengan perbandingan mol dari atom-atom ini yang bersenyawa.

Misalnya untuk membentuk karbon tetraklorida CCl4, kita mengetahui bahwa:


1 mol C + 4 atom Cl  1 molekul CCl4
Kita dapat lansung mengubah ke mol
1 mol C + 4 mol Cl  1 mol CCl4
Dengan mengambil pertandingan atom karbon dan atom klor 1 : 4 kita sudah
pasti akan mempunyai sebuah atom karbon untuk empat atom klor. Apabila
tujuan kita hanya membuat perbandingan ato karbon: klor sama dengan 1 : 4,
kita dapat bekerja dengan berapa saja jumlah mol atom karbon, selama jumlah
mol atom klor adalah empat kali lebih besar. Jadi, apabila kita mulai dengan 2
mol atom C, kita memerlukan 8 mol atom Cl.
2 mol C + 8 mol Cl  2 mol CCl4
Atau apabila kita mulai dengan 5 mol atom C, akan diperlukan 20 mol atom
Cl.
5 mol C + 20 mol Cl  5 mol CCl4
Pada tiap kasus selalu ada perbandingan karbon : klor = 1 : 4, baik berupa
mol atau atom.
Kesimpulan, perbandingan mol zat yang bereaksi akan sama dengan
perbandingan atom dan molekul yang berekasi. Pemikiran yang sederhana ini
merupakan dasar dari semua persoalan kimia kuantitatif.

11
Contoh Menentukan Perbandingan Mol dari Rumus Kimia13
Soal: Berapakah perbandingan mol dari karbon dan klor harus diambil untuk
membuat zat C2Cl6 (heksakloroetena), yakni suatu pelarut yang penting dalam
industri?
Analisis: Apabila kita ingin mendapat perbandingan mol dari suatu rumus
kimia, haruslah diingat bahwa perbandingan mol adalah tepat sama dengan
perbandingan atom. Maka persoalan menjadi mudah.
Penyelesaian: Penulisan subscrips dari rumus C2Cl6 memberikan kita
perbandingan atom, yaitu 2 atom C : 6 atom Cl. Ini berarti bahwa
perbandingan molnya harus 2 mol C : 6 mol Cl.
Perbandingan atom perbandingan mol
2 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝐶 2 𝑚𝑜𝑙 𝐶
6 atom Cl 6 mol Cl

Tentu hasil ini akan sama dengan perbandingan (1 mol C)/ (3 mol Cl).
Perbandingan atom dalam rumus kimia eperti C2Cl6 membuat sejumlah
perbandingan mol yang berguna untuk membentuk faktor konversi yang dapat
dipakai dalam memecahkan soal. Telah kita lihat salah satu, yang dapat ditulis
sebagai:
2 𝑚𝑜𝑙 𝐶 6 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑙
atau
6 mol Cl 2 mol C

Ada juga yang lainnya. Rumus ini menyatakan bahwa 1 molekul C2Cl6
mengandung 2 atom C dan 6 atom Cl. Kita dapat mengubah lansung ke mol :
1 mol C2Cl6 mengandung 2 mol C dan 6 mol Cl ini kan memberikan dua
macam ekuivalensi.
1 mol C2Cl6 ↔ 2 mol C
1 mol C2Cl6 ↔ 6 mol Cl
Dengan perkataan lain, setiap saat kita mempunyai satu mol molekul dari
C2Cl6 akan ada 2 mol atom karbon di dalamnya dan setiap saat kita
mempunyai satu mol molekul C2Cl6 akan ada 6 mol atom klor didalamnya.
Hal ini yang diartikan dengan ekuivalensi (↔). Seperti telah digunakan

13
Ibid., hlm. 78.

12
sebelumnya, ekuivalensi ini dapat digunakan untuk membentuk faktor
konverensi.
𝟏 𝒎𝒐𝒍 𝑪𝟐 𝑪𝒍𝟔 2 mol C
atau
2 mol C 𝟏 𝒎𝒐𝒍 𝑪𝟐 𝑪𝒍𝟔

dan
𝟏 𝒎𝒐𝒍 𝑪𝟐 𝑪𝒍𝟔 6 mol C
atau
6 mol C 𝟏 𝒎𝒐𝒍 𝑪𝟐 𝑪𝒍𝟔

Contoh berikut akan menunjukkan bagaimana cara pemakainnya.


Contoh Menggunakan Perbandingan Mol Sebagai Faktor Konversi 14
Soal: Berapa mol atom yang diperlukan untuk bersenyawa dengan 4,87 mol
Cl agar membentuk zat C2Cl6?
Analisis : Soal diatas kita ubah bentuknya sebagai berikut:
4,87 mol Cl ↔ ? mol C
Sekarang terlihatlah bahwa kita memerlukan faktor konverensi yang akan
mengubah “mol Cl” ke “mol C”. Seperti ditekankan di atas, hal ini diberikan
dalam rumus kimianya.
Penyelesaian: Rumusnya memberikan kita dua faktor konversi berhubungan
dengan mol C dan mol Cl. Mengingat bahwa perbandingan mol sama dengan
perbandingan atom, kita tinggal memilih faktor konversi.
2 𝑚𝑜𝑙 𝐶 6 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑙
atau
6 mol Cl 2 mol C

Agar “mol Cl” dapat dihilangkan, kita gunakan konversinya sebelah kiri.
2 𝑚𝑜𝑙 𝐶
4,87 meter Cl x (6 mol Cl ) ↔ 1, 62 mol C

Kita memerlukan 1,68 mol C. Perhatikan bahwa harus diberikan tiga angka
penting. Angka perbandingan mol harus bilangan eksak sebab atom-atom
akan bersenyawa dalam perbandingan yang bulat dan pasti untuk membentuk
suatu senyawa.
Contoh Menggunakan Perbandingan Mol Sebagai Faktor Konversi
Soal: Berapa jumlah mol karbon yang terdapat dalam 2,65 mol C2Cl6?
Penyelesaian: Soal ini dapat ditulis:

14
Ibid., hlm. 79.

13
2,65 mol C2Cl6 ↔ ? mol C
Dari rumus kimianya kita mendapat ekuivalen
1 mol C2Cl6 ↔ 2 mol C
kemudian gunakan ini untuk membentuk faktor konversi yang diperlukan
2 mol C
2,56 𝐶2 𝐶𝑙6 x (1 mol C ) ↔ 5,30 mol C
2 Cl6

Jadi, 2,65 mol C2Cl6 mengandung 5,30 mol C.

D. KADAR ZAT
Dalam suatu reaksi kimia, atom-atom atau molekul akan bergabung
dalam perbandingan angka yang bulat dan kita juga telah melihat bahwa mol
dari zat juga akan bereaksi dengan perbandingan angka yang bulat.
Berdasarkan ini maka mol dapat disebut satuan kimia. Ukurannya cukup besar
sehingga sebuah mol atom atau molekul akan mewakili suatu jumlah yang
dengan mudah dapat dikerjakan di laboratorium. Akan tetapi sayang tak ada
alat yang dapat menolong kita untuk menghitung langsung atom-atom dalam
perkalian bilangan Avogadro. Oleh sebab itu kita harus mempunyai cara
untuk mengubah satuan kimia ini ke unit laboratorium—sesuatu yang dapat
diukur di laboratorium.
Telah dikatakan bahwa satu mol terdiri dari 6,022 x 1023 partikel
(objek). Angka yang aneh ini tidaklah dipilih secara sembarangan melainkan
merupakan jumlah atom dalam suatu sampel dari tiap elemen yang
mempunyai massa dalam gram yang jumlah angkanya sama dengan massa
atom elemen tersebut , misalnya massa atom dari karbon adalah 12,011, maka
1 mol atom karbon mempunyai massa 12,011 g. Demikian juga massa atom
dari oksigen adalah 15,9994, jadi 1 mol atom oksigen mempunyai massa
15,9994 g
1 mol C = 12,011 g C
1 mol O = 15,9994 g O

14
Jadi, kesamaan inilah yang menjadi alat kita untuk mengukur mol.
Untuk mendapat satu mol dari tiap elemen, yang kita perlukan adalah melihat
massa atom dari elemen tersebut. Angka yang didapat adalah jumlah dari
gram elemen tersebut yang harus kita ambil untuk mendapatkan 1 mol elemen
tersebut.
Pengubahan antara gram dan mol adalah penghitungan rutin yang harus
dipelajari secara cepat. Beberapa contoh perhitungan ini bersama dengan
pemakaian mil dalam perhitungan kimia akan ditunjukkan dalam soal-soal
berikut.
Contoh Mengubah Gram Ke Mol15
Soal: Berapa mol Silikon (Si) yang terdapat dalam 30,5 gram Si? Silikon
adalah suatu elemen yang dipakai untuk pembuatan transistor.
Penyelesaian: Persoalan kita adalah mengubah satuan gram dari Si ke mol Si,
yaitu 30,5 g Si =? mol Si. Diketahui dari daftar massa atom bahwa

1 mol Si = 28,1 g Si
Untuk mengubah g Si ke mol, kita hrus mengkalikan 30,5 g Si dengan satuan
faktor yang mengandung satuan “g Si” pada penyebutnya, yaitu:
1 𝑚𝑜𝑙 𝑆𝑖
28,1 g Si

Maka,
1 𝑚𝑜𝑙 𝑆𝑖
30,5 g Si x ( 28,1 g Si ) = 1,09 mol Si

Contoh Mengubah Mol ke Gram16


Soal: Berapa gram tembaga (Cu) terdapat dalam 2.55 mol Cu?
Penyelesaian: Dari tabel masa atom
1 mol Cu = 63,5 g Cu
Faktor konversinya harus mempunyai satuan mol Cu pada penyebutnya, yaitu,
63,5 𝑔 𝐶𝑢
1 mol Cu

15
Ibid., hlm. 82.
16
Ibid., hlm. 82.

15
Oleh karena itu,
63,5 g Cu
2,55 mol Cu x ( ) = 162 g Cu
1 mol Cu

Jadi, masa dari 2,55 mol Cu adalah 162 g.


Contoh Pemakaian Hubungan Mol17
Soal : Berapa banyak mol Ca diperlukan untuk bereaksi dengan 2,5 mol Cl
agar menghasilkan senyawa CaCl2 (kalsium klorida)? Unsur ini dipakai untuk
melelehkan es pada jalan-jalan ketika musim dingin.
Penyelesaian: Persoalan: 2,5 mol ↔ (?) mol Ca.
Dari rumus diketahui bahwa 1 atom Ca akan bergabung dengan 2 atom Cl.
Jadi,
1 atom Ca ↔ 2 atom Cl
Oleh karena mol bersenyawa sebanding dengan atom
1 mol Ca ↔ 2 mol Cl
Jawaban yang dapat sebagai berikut
1 mol Ca
2,50 mol Cl x ( ) ↔ 1,25 mol Ca
2 mol Cl
Contoh Pemakaian Hubungan Mol dan Massa18
Soal: Berapa gram Ca harus bereaksi dengan 41,5 g Cl untuk menghasilkan
CaCl2?
Analisis: Sekali lagi kita diminta untuk menghubungkan jumlah Ca dengan
jumlah Cl, tetapi kali ini dimulai dengan jumlah gram, bukan mol. Hubungan
lansung antara Ca dan Cl didapat dari tanda subscripts pada rumus kimia dan
ini akan memberikan hubungan molnya.
1 mol Ca ↔ 2 mol Cl
Oleh sebab itu, langkah pertama dalam menyelesaikan soal ini adalah
mengubah gram dari Cl ke mol Cl, kemudian hubungan ini dapat dipakai
untuk mencari mol Ca yang diperlukan. Untuk mengubah gram dari Cl ke mol

17
Ibid., hlm. 83.
18
Ibid., hlm. 83.

16
dengan mudah dapat dilakukan dengan melihat massa atom Cl sehingga dapat
ditulis:
1 mol Cl = 5,5 g Cl
Kedua hubungan ini memungkinkan kita menghitung 42,5 g Cl yang diketahui
ke mol Ca yang diperlukan. Langkah terkhir adalah mengubah “mol Ca” ke “g
Ca”. Sekali lagi kita harus melihat tabel mass atom.
1 mol Ca = 40,1 g Ca
Sekarang kita telah mempunyai segala keterangan yang diperlukan untuk
memecah soal, tetapi sebelumnya mari kita buat diagram cara kerja.
Akan kita dapatkan bahwa banyak soal stoikiometri yang dikerjakan
mengikuti cara ini. Kita akan diberi beberapa buah satuan lab, misalnya gram,
lalu kita harus menghitung jumlah zat lain dalam satuan lab. Namun, untuk ini
kita harus melalui satuan kimia (mol) karena hubungan kuantitatif antara dua
zat tidak diutarakan dalam gram, tetapi dalam perbandingan mol.
Penyelesain:
1 mol Cl
41,5 g Cl x ( ) = 1,17 mol Cl
35,5 g Cl
1 mol Ca
1,17 mol Cl x (2 mol Cl ) ↔ 0,585 mol Ca
40,1 g Ca
0,585 mol Ca x ( ) = 23,5 g Ca
1 mol Ca

PENGUKURAN MOL SENYAWA: MASSA MOLEKUL DAN MASSA


RUMUS
Seperti pada elemen, secara tak langsung persamaan diatas juga dapat
dipakai untuk menghitung mol dari senyawa. Jalan yang termudah adalah
dengan menambahkan semua massa atom yang ada dalam elemen. Bila zat
terdiri dari molekul-molekul (misalnya CO 2 , H 2 O atau NH 3 ), maka jumlah
dari massa atom disebut massa molekul atau Berat molekul. Kedua istilah
ini dipakai berganti-ganti). Sehingga massa molekul dari CO 2 adalah:
C 1x12,0 u = 12,0 u

17
2O 2x16,0 u = 32,0 u
CO 2 total = 44,0 u
Demikian juga massa molekul dari H 2 O = 18,0 u dan dari NH3 = 17,0 u.
Berat dari 1 mole zat didapat hanya dengan menuliskan massa molekulnya
dengan satuan gram. Jadi,
1 mol CO 2 = 44,0 g
1 mol H 2 O = 18,0 g
1 mol NH 3 = 17,0 g
Banyak senyawa yang tak mengandung molekul yang jelas. Kita akan
menemukan bahwa bila suatu atom bereaksi, acap kali ia akan mendapat atau
kehilangan partikel yang bermuatan negatif yang disebut elektron. Natrium
dan klor akan bereaksi secara ini. Bila natrium klorida, NaC1, terbentuk dari
elemennya, tiap atom Na akan kehilangan satu elektron, sedangkan tiap atom
klor akan mendapat elektron. Pada mulanya unsur Na dan C1 bermuatan atom
listrik netral, tetapi pada saat pembentukan NaC1, atom-atom ini akan
mendapat muatan. Ini akan ditulis sebagai Na  (positif karena Na kehilangan
satu muatan elektron negatif) dan C1  (negatif karena C1 mendapat satu
elektron). Atom atau kumpulan ataom yang mendapat muatan listrik disebut
ion. Kerana NaC1 padat terdiri dari Na  dan C1  , dikatakan adalah
senyawa ion.
Seluruh topik ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam Bab-bab
berikutnya. Untuk sekarang hanya perlu diketahuai bahwa senyawa ion tak
mengandung molekul. Rumusnya hanya menyatakan perbandingan dari
berbagai atom dalam senyawa. Dalam NaC1, perbandingan ataomnya adalah
1:1. Pada senyawa CaC1 2 , perbandingan dari atom Ca dan C1 adalah 1:2 (
tenang saja, saat ini anda tidak diminta untuk mengetahui bahwa CaC1 2 itu
adalah senyawa ion). Dari pada menggunakan istilah molekul NaC1 atau

18
CaC1 2 , lebih baik digunakan istilah satuan rumus untuk membedakan dua

ion pada NaC1 (Na  dan C1  ) atau tiga ion pada CaC1 2 .
Untuk senyawa ion, jumlah massa atom dari elemen-elemen yang ada
dalam rumus dikenal sebagai massa rumus atau Berat Rumus. untuk NaC1
ini 22,99 - 35,44 = 58,44. satu mol NaC1 (6,022 x 10 23 satuan rumus dari
NaC1) mengandung 58,44 g NaC1. tentu saja penggunaan istilah massa
rumus tak hanya untuk senyawa ion. Dapat juga digunakan untuk senyawa
molekuler, dalam hal ini istilah massaformila dan massa molekul mempunyai
arti yang sama.
Contoh Konversi Antara Mol dan Gram UntukSenyawa19
Soal: Natrium Karbonat, Na 2 CO 3 adalah suatu zat kimia yang pentingdalam
industri pembuatan kaca.
(a). Berapa gram berat 0,250 mol Na 2 CO 3

(b). Berapa mol Na 2 CO 3 terdapat dalam 132 g Na 2 CO 3


Penyelesaian: Untuk menjawab pertanyaan ini, kita memerlukan massa
formula dari Na 2 CO 3 . kita kita menghitungnya dari massa atom elemen-
elemennya.
2 Na 2x23.0 = 46.0 u
1C 1x12.0 = 12.0 u
3O 3x16.0 = 48.0 u
Total 106.0 u
Massa rumus adalah 106,0 u; maka:
1 mol Na 2 CO 3 = 106,0 g Na 2 CO 3
Maka rumus ini dapat digunakan untuk membuat faktor konversi hubungan
gram dan mol dari Na 2 CO 3 yang kita perlukan untuk menjawab pertanyaan
diatas.

19
Ibid., hlm. 87.

19
(a) Untuk mengubah 0,250 mol Na 2 CO 3 ke gram, kita buat satuan yang
dapat dihilangkan.
 106,0 gNa2CO3 
0,250 mol Na 2 CO 3 x    26,5 gNa2CO3
 1molNa2CO3 
(b) Sekali lagi, kita buat satuan dihilangkan.
 1molNa2CO3 
132Na 2 CO 3 x    1, 25molNa2CO3
 106,0 gNa2CO3 

E. KOMPOSISI PERSENTASE20
Bentuk biasa untuk menggambarkan massa relatif unsur-unsur dalam
suatu senyawa adalah daftar persentase massa yang disebut komposisi
persentase senyawa. Persentase berdasarkan massa suatu unsur adalah jumlah
gram unsur yang ada dalam 100 g senyawa. Secara umum, persentase
berdasarkan massa ditemukan dengan menggunakan persamaan berikut.

Kita dapat menentukan komposisi persentase berdasarkan analisis kimia suatu


zat seperti yang ditunjukkan pada Contoh berikutnya.

Contoh Menghitung Komposisi Persentase dari Analisis Kimia


Sampel cairan dengan massa 8,657 g diuraikan menjadi unsur-unsurnya dan
menghasilkan 5,217 g karbon, 0,9620 g hidrogen, dan 2,478 g oksigen.
Berapa persentase komposisi senyawa ini?
Analisis: Memecahkan masalah sering mengharuskan kita mengetahui arti
istilah-istilah kunci, dalam hal ini komposisi persentase. Kami baru saja
membahas istilah ini dan sekarang kami dapat menerapkannya dalam
menjawab pertanyaan.

20
James E Brady, Chemistry: The Molecular Nature of Matter, (Wiley: America, 2002), hlm, 116.

20
Merakit Alat: Alat yang kita butuhkan dinyatakan dengan Persamaan 4.1.
Kita diberi massa masing-masing elemen dalam sampel, dan jumlah massa itu
memberi kita massa seluruh sampel. Total massa adalah 8,657 g dan massa
individu diberikan.
Solusi: Menggunakan Persamaan 4.1 untuk masing-masing elemen secara
berurutan memberikan tiga persamaan yang kami gunakan untuk menghitung
persentase yang dibutuhkan:

Salah satu hal berguna tentang komposisi persentase adalah bahwa ia memberi
tahu kita massa masing-masing unsur dalam 100 g zat. Sebagai contoh, hasil
dalam masalah ini memberi tahu kita bahwa dalam 100,00 g cairan ada 60,26
g karbon, 11,11 g hidrogen, dan 28,62 g oksigen.
Apakah Jawabannya Wajar? "Cek" adalah bahwa persentase harus
menambahkan hingga 100%, memungkinkan untuk perbedaan kecil yang
disebabkan oleh pembulatan. Kami juga dapat memeriksa hasil individual
dengan membulatkan semua angka ke satu angka penting untuk
memperkirakan hasilnya. Misalnya, persentase C akan diperkirakan 5/9 × 100,
yang sedikit di atas 50% dan setuju dengan jawaban kami.
Latihan Soal
a. Senyawa organik dengan berat 0,6672 g didekomposisi, menghasilkan
0,3481 g karbon dan 0,0870 g hidrogen. Berapa persentase hidrogen dan
karbon dalam senyawa ini? Apakah mungkin senyawa ini mengandung
unsur lain? (Petunjuk: Ingat alat tentang konservasi massa.)
b. Ketika 0,5462 g senyawa terurai, 0,2012 g nitrogen dan 0,3450 g oksigen
diisolasi. Berapa persentase komposisi senyawa ini? Jelaskan bagaimana

21
Anda dapat menentukan apakah ada unsur lain yang ada dalam senyawa
ini.
Kami juga dapat menentukan persentase komposisi suatu senyawa dari
rumus kimianya. Jika kita menganggap satu mol suatu zat, massa molarnya
akan menjadi massa seluruh sampel dalam Persamaan 4.1. Pembilang dalam
Persamaan 4.1 akan menjadi massa yang terkait dengan salah satu elemen
dalam rumus. Pada bagian berikutnya kita melihat bagaimana persentase yang
dihitung ini dapat digunakan sebagai properti fisik yang berguna untuk
mengidentifikasi suatu zat.
KOMPOSISI PERSENTASE DAN IDENTITAS KIMIA21
Kita dapat menggunakan Persamaan 4.1 untuk menentukan
komposisi persentase dari setiap senyawa kimia ketika kita mengetahui
rumusnya. Nitrogen dan oksigen, misalnya, membentuk semua senyawa
berikut: N2O, NO, NO2, N2O3, N2O4, dan N2O5. Untuk mengidentifikasi
sampel senyawa nitrogen dan oksigen yang tidak diketahui, orang dapat
membandingkan persentase komposisi yang ditemukan oleh eksperimen
dengan persentase yang dihitung, atau secara teoritis, untuk setiap formula
yang mungkin. Formula mana, misalnya, yang cocok dengan komposisi
persentase yang dihitung dalam Latihan Praktik 4.11? Strategi untuk
mencocokkan formula dengan persentase massa diuraikan dalam contoh
berikut.
Contoh Mengidentifikasi Senyawa Berdasarkan Komposisi Persentase
Apakah persentase massa 25,94% N dan 74,06% O cocok dengan rumus
N2O5?
Analisis: Untuk menghitung persentase massa, kita perlu menggunakan
Persamaan 4.1. Melihat persamaannya, kita akan membutuhkan massa N, O,
dan N2O5 dalam sampel senyawa. Jika kita memilih 1 mol senyawa yang
diberikan untuk sampel ini, akan mudah untuk menentukan massa oksigen,
nitrogen, dan dinitrogen pentoksida yang membentuk satu mol N2O5.

21
Ibid., hlm. 117.

22
Merakit Alat: Kita perlu Persamaan 4.1 untuk menghitung komposisi
persen. Kita akan membutuhkan alat untuk menghitung massa molar N2O5
dan rasio mol yang dapat kita peroleh dari rumus itu. Kita perlu melakukan
konversi massa-ke-mol untuk atom nitrogen dan oksigen.
Hubungan yang disyaratkan adalah:

Solusi: Kita tahu bahwa 1 mol N2O5 harus mengandung 2 mol N dan 5 mol
O dari alat rasio mol. Jumlah gram N dan O yang sesuai ditemukan sebagai
berikut.

Sekarang kita dapat menghitung persentase.

Dengan demikian nilai-nilai eksperimental benar-benar cocok dengan


persentase teoritis untuk rumus N2O5.
Apakah Jawabannya Wajar? Pemeriksaan termudah untuk masalah ini
adalah memastikan bahwa semua persentase menambahkan hingga 100%.
Mereka menambahkan hingga 100% sehingga hasil yang dihitung masuk
akal.
Latihan Soal
c. Hitung komposisi persentase teoritis N2O4. (Petunjuk: Ingat definisi
komposisi persentase.)

23
d. Hitung komposisi persentase teoritis untuk N2O, NO, NO2, N2O3, N2O4,
dan N2O5. Manakah dari senyawa ini yang menghasilkan data dalam
Latihan Praktik b ?
Dalam mengerjakan Latihan Latihan d, Anda mungkin telah
memperhatikan bahwa komposisi persentase NO2 sama dengan N2O4. Ini
karena kedua senyawa memiliki rasio mol yang sama. Semua senyawa
dengan rasio mol yang sama akan memiliki komposisi persentase yang
sama.

F. RUMUS KIMIA22
Ada bermacam bentuk rumus kimia dan tiap bentuk berisi suatu
keterangan. Ini dapat termasuk komposisi unsur, jumlah relatif dari tiap
atom yang ada, jumlah atom yang pasti dari tiap unsur dalam molekul zat,
atau struktur dari molekul zat tersebut. Untuk mudahnya kita dapat
membagi bentuk rumus menurut jumlah keterangan yang diberikan.
Sebuah rumus yang membagi subscripts bilangan bulat sederhana
untuk menyatakan jumlah atom relatif dari tiap unsur yang ada dalam
rumus empiris karena biasanya diturunkan dari suatu hasil percobaan
analisis. Rumus NaCl, H2O, dan CH2 adalah rumus empiris.
Suatu rumus yang menyatakan jumlah yang pasti dari tiap macam
atom yang terdapat dalam molekul dinamakan rumus molekul. H2O adalah
rumus molekul (tetapi juga rumus empiris) karena satu molekul air
mengandung 2 atom H dan 1 atom O. Rumus C2H4 adalah rumus molekul
untuk zat etilena yang mengandung 2 atom karbon dan 4 atom hidrogen.
Perhatikan bahwa rumus yang paling sederhana untuk senyawa ini adalah
CH2 karena perbandingan antara karbon dan hidrogen adalah 1 : 2. Namun,
rumus CH2 yang paling sederhana ini bukanlah khusus untuk C2H4 saja.
Suatu zat dengan rumus empiris CH2, dapat mempunyai rumus molekul
CH2, C2H4, C3H6, dan seterusnya.

22
James E Brady, Kimia Universitas, hlm. 90.

24
Dalam rumus bangun, tanda garis antara berbagai atom,
menggambarkan “ikatan kimia” yang mengikat atom-atom sesamanya
dalam molekul. Anda akan mempelajari lebih mendalam dalam Bab 8.
Suatu rumus bangun menerangkan pada kita cara bagaimana atom-atom
dalam molekul terikat satu sama lain sehingga kita dapat menulis rumus
molekul dan empirisnya, Jadi, untuk asam asetat di atas, kita dapat menulis
rumus molekulnya (C2H4O2) dan rumus empirisnya (CH2O).
Rumus yang paling disenangi tentu saja rumus bangunnya karena
juga mengandung semua keterangan yang diberikan oleh kedua macam
rumus lain itu. Akan tetapi, dalam ilmu kimia, seperti juga dalam
kehidupan ini, tidak ada sesuatu tanpa bayaran (gratis). Lebih banyak suatu
rumus memberikan keterangan, lebih susah percobaan untuk
mendapatkannya. Kita akan melihat bagaimana asalnya rumus empiris
molekul dan molekul, tetapi semua cara untuk menentukan suatu rumus
bangun tidak termasuk pada pembicaraan dalam makalah ini.
1. Rumus Empiris23
Angka-angka dalam rumus empiris menyatakan perbandingan atom
dalam suatu senyawa, misalnya CH2 perbandingan atom C : H adalah 1:2
dan seperti telah dipelajari perbandingan atom sama dengan mol. Dalam
CH2, perbandingan unsurnya adalah 1 mol C terhadap 2 mol H. Kesamaan
dalam perbandingan antara atom dan mol inilah yang menjadi dasar untuk
menentukan cara penentuan rumus empiris, secara percobaan diukur
perbandingan molnya yang kemudian akan didapat perbandingan atomnya.
Misalnya kita mempunyai suatu sampel dari senyawa yang mengandung
karbon dan hydrogen saja, dimana ada perbandingan molnya 1:3 sehingga
rumus empirisnya harus CH3.
Untuk menghitung rumus empiris kita harus mengetahui massa tiap
unsur penyusun senyawa yang membandingkan massa secara keseluruhan.
Sehingga kita dapat menentukan perbandingan mol unsur-unsur penyusun

23
Keenan. Kimia Untuk Universitas (Jakarta: Erlangga, 1999)

25
senyawanya. Misalnya hydrogen peroksida yang mempunyai rumus nyata
H2O2 ini berarti rumus empirisnya adalah HO.24
Pertanyaan selanjutnya tentu: “Bagaimana kita mendapatkan
perbandingan molnya?” pada setiap perhitungan rumus empiris, kita selalu
harus mempunyai suatu petunjuk dasar.

Untuk menghitung rumus empiris, kita harus mengetahui massa dari


setiap unsur dalam senyawa yang diberikan.

Contoh Perhitungan Rumus Empiris


Soal: Suatu sampel dari gas yang berwarna cokelat yang merupakan
polutan utama udara ternyata mengandung 2,34 g N dan 5,34 g O.
Bagaimana rumus paling sederhana dari senyawa ini?
Penyelesaian: Dalam soal ini kita diberikan massa dari tiap unsur sehingga
kita dapat langsung menghitung jumlah mol dari tiap sampel. Kita
mengetahui bahwa:
1 mol N = 14,09 g N (Mengapa?)
1 mol O = 16,99 g O (Mengapa?)
Maka:
N 2,34 O5,34  N0,167O0,334  NO2
14,09 16

Contoh Perhitungan Suatu Rumus Empiris dari Komposisi Persen25


Soal: Bagaimana rumus empiris suatu senyawa yang terdiri dari 43,7% P
dan 56,3% dari hitungan berat?
Penyelasaian: Adalah hal yang biasa untuk mendapat hasil analisis dalam
bentuk komposisi persen berat. Cara yang paling sederhana dalam hal ini
adalah membayangkan adanya suatu sampel dari suatu senyawa dengan
berat 100 g. Dari analisis, sampel ini akan mengandung 43,7 g P dan 56,3 g
O (perhatikan bahwa dalam senyawa persen berubah menjadi gram). Setelah

24
Zulfikar, Senyawa, Unsur, dan Molekul, (Jakarta: Grafindo, 2010), hlm. 16.
25
James E Brady, Op.CIt., hlm. 92.

26
kita mengetahui massa dari fosfor dan oksigen dalam sampel ini, kita ubah
massa menjadi mol, seperti diatas
1 mol P
43,7 g P 𝑥 ( ) = 1,41 𝑚𝑜𝑙 𝑃
31,0 g P
1 mol O
56,3 g O 𝑥 ( ) = 3,52 𝑚𝑜𝑙 𝑂
16,0 g O
Bilangan bulat akan diperoleh dengan menggandakan tiap angka subscripts.
Jadi, rumus empirisnya menjadi P2O5.
Pada umumnya, kita tidak mungkin menguraikan suatu senyawa
menjadi unsur-unsurnya lalu menimbangnya. Oleh sebab itu, cara lain harus
dipakai sebagai syarat dalam hal ini. Biasanya dengan cara membiarkan
senyawa mengalami reaksi kimia yang akan membagi unsur-unsur
sesamanya kemudian memisahkannya dan mengisolasi unsur-unsur itu
dalam senyawa yang sudah diketahui rumus kimianya. Analisis semacam ini
memerlukan kerja yang sangat hati-hati untuk memastikan bahwa semua
unsur dalam sampel asal telah terpisahkan menjadi senyawa baru, yang
diketahui rumus kimianya. Dua contoh berikut menggambarkan hal ini, yaitu
analisis senyawa-senyawa yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan
oksigen.
Contoh Penentuan Rumus Empiris dari Analisis Kimia26
Soal: 0,1000 g sampel etil alkohol (alkohol tapai) yang mengandung unsur
karbon, hidrogen, dan oksigen dibakar habis dalam oksigen membentuk CO2
dan H2O. Hasilnya ditampung terpisah dan mengandung berat 0,1910 g CO2
dan 0,1172 g H2O. Bagaimana rumus empiris dari senyawa ini?
Analisis: Seperti sebelumnya kita dapat menentukan jumlah C dan H dari
massa CO2 dan H2O yang didapat. Namun, oksigen dari sampel asal akan
dibagi antara CO2 dan H2O bersama-sama dengan oksigen tambahan yang
digunakan untuk pembakaran. Dengan perkataan lain, tidak semua oksigen
berasal dari sampel asal sehingga kita tidak mempunyai cara yang lansung

26
Ibid., hlm. 94.

27
untuk mendapatkan massa oksigen yang berasal dari sampel. Namun, kita
akan mendapatkannya secara tidak lansung sebab kita tahu bahwa jumlah
masih dari C, H dan O harus sesuai dengan keseluruhan massa sampel. Oleh
sebab itu, sesudah didapat massa dari C dan H, kita jumlahkan. Hasil
pengukuran massa sampel asal (0,1000 g) dengan jumlah massa C dan H
adalah massa oksigen. Kemudian setelah ketiga massa (C, H dan O)
diketahui dengan cara biasa, dihitung molnya masing-masing, dan
seterusnya.
Penyelesaian: Pertama-tama, hitung dahulu massa karbon dan hidrogen
dalam CO2 dan H2O.
12,01 g C
0,1910 g 𝐶𝑂2 𝑥 (44,01 g 𝐶𝑂 ) ↔ 0,05212 g C
2

2,016 g H
0,1172 g 𝐻2 𝑂 𝑥 (18,02 g 𝐻 𝑂 ) ↔ 0,01311 g H
2

Apabila massa C dan H dijumlahkan, akan kita dapatkan jumlah 0,06523 g,


maka massa oksigen dalam sampel seharusnya
Massa O = (massa sampel)-(jumlah massa C dan H)
= 0,1000 g – 0,06523 = 0,0348 g O
Sekarang kita ubah massa C, H, dan O menjadi mol dari tiap unsur. Jadi,
untuk karbon kita peroleh:
1 mol C
0,05212 g C𝑥 (12,01 g 𝐶 ) ↔ 0,004340 mol C

Dengan perhitungan yang sama terhadap kedua unsur yang lain akan didapat
0,0130 mol H dan 0,00218 mol O. Jadi, rumus empirisnya:
C0,004340 H0,0130 O0,00218 = 𝐶0,004340 𝐻 0,0130 𝑂0,00218
0,00218 0,00218 0,00218

atau
C2H6O
Cara pendekatan dari kedua contoh adalah sama. Kita menghitung massa C
dan H dalam CO2 dan H2O lalu massa diubah menjadi mol sehingga
perbandingan molnya dapat dihitung. Kita anggap hal ini sebagai cara
penyelesaian soal secara umum. Oleh karena senyawanya hanya

28
mengandung C dan H, kita tidak perlu mengetahui massa masing-masing
unsur. Kita cukup menghitun mol C dalam CO2 dan jumlah mol H dalam
H2O. Mol ini merupakan jumlah C dan H dalam sampel senyawa asal. Jadi,
untuk karbon:
1 mol 𝐶𝑂2 1 mol C
3,007 g 𝐶𝑂2 x ( )𝑥 ( ) = 0,06833 𝑚𝑜𝑙 𝐶
44,01 g 𝐶𝑂2 1 mol 𝐶𝑂2
dan untuk hidrogen:
1 mol 𝐻2 O 1 mol H
1,845 g 𝐻2 O x ( )𝑥 ( ) = 0,2048 𝑚𝑜𝑙 𝐻2 O
18,02 g 𝐻2 O 1 mol 𝐻2 O

Selanjutnya, lakukan perhitungan seperti biasa.


Kita harus menghitung massa C dan H sehingga kita dapat mengurangkan
total keduanya dari massa sampel dan memperoleh massa oksigen. Tidak
ada cara lain yang lebih pendek.
Hal yang harus dipelajari dari contoh ini adalah bahwa dengan memperoleh
pemahaman yang mendasar akan konsep yang dikembangkan di sini.
Dengan memikirkan dari awal sampai akhir sebelum mencoba
menyelesaikan soal ini, kadang anda dapat menghemat waktu.
2. Rumus Molekul27
Rumus molekul dalam suatu senyawa tidak hanya memberikan
perbandingan atom-atomnya, tetapi juga jumlah atom yang sebenarnya dari
masing-masing unsur dalam molekul senyawa. Harus diingat bahwa
mungkin saja lebih dari satu senyawa akan mempunyai rumus empiris yang
sama. Molekul-molekul C2H4, C3H6, C4H8 dan C5H10 semuanya
mempunyai perbandingan C dan H sebesar 1 : 2 sehingga rumus
empirisnya CH2. Perbedaan penting dari senyawa-senyawa ini tentunya
adalah massa molekul berlainan.
Jika rumus yang mengatakan molekul yang sebenarnya maka disebut
rumus molekul, dan jika rumus ditulis untuk menunjukkan bagaimana atom
secara individual berhubungan dengan molekulnya maka disebut rumus

27
Keenan. Kimia Untuk Universitas (Jakarta: Erlangga, 1999).

29
struktur. Ukuran relative dan posisi atom dalam molekul dapat
digambarkan dengan model molekul, tingkat dan model molekul ruang.28
Dua senyawa atau lebih yang mempunyai rumus yang sama tetapi
memiliki sifat fisik dan sifat kimia yang berbeda disebut dengan isomer29.
Contoh Menentukan Rumus Molekul Suatu Senyawa30
Soal : Suatu cairan tidak berwarna yang dipakai dalam mesin roket, yang
mempunyai rumus empiris NO2, mempunyai massa molekul 92,0.
Bagaimana rumus molekulnya?
Penyelesaian: Massa molekul dari NO2 adalah 46,0. Berapa kalinya rumus
empiris NO2 terdapat dalam senyawa adalah:
92,0
=2
46,0
Rumus molekul adalah (NO2)2 = N2O4 (dinitrogen tetroksida). N2O4 adalah
jawaban yang diinginkan karena (NO2)2 mengimplikasikan suatu
pengetahuan dari bentuk molekulnya (yaitu dua unit NO2 yang bergabung).

G. RUMUS KIMIA HIDRAT


Hidrat adalah senyawa kristal padat yang mengandung air kristal
(H2O). Rumus kimia senyawa kristal padat sudah diketahui. Jadi pada
dasarnya penentuan rumus hidrat adalah penentuan jumlah molekul air kristal
atau nilai x. Secara umum, rumus hidrat dapat ditulis sebagai:
Rumus kimia senyawa kristal padat: x H2O
Sebagai contoh garam kalsium sulfat, memiliki rumus kimia CaSO4. 2 H2O,
artinya dalam setiap mol CaSO4 terdapat 2 mol H2O.

28
Ralp, H Petrucci, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern (Terjemahan). (Yogyakarta:
Erlangga, 2007), hlm. 97.

29
Ahmad, Hiskia. 1993
30
James E Brady, Kimia Universitas, hlm. 96

30
H. PEREAKSI PEMBATAS
Jika kita mereaksikan, senyawa kinila, biasanya kita tidak memperhati
kan berapa jumlah reagen yang tepat supaya tidak terjadi kelebihan reagen-
reagen tersebut. Sering terjadi satu atau lebih reagen berlebih dan bila hal ini
terjadi, maka suatu reagen sudah habis digunakan sebelum yang lainnya habis.
Reaktan yang pertama kali habis digunakan pada reaksi kimia disebut
pereaksi pembatas31. Sebagai contoh, 5 mol H2 dan 1 mol O2 dicampur dan
terjadi reaksi dengan persamaan reaksinya.
2H2 + O2  2 H2O
Koefisien reaksi itu mengatakan bahwa dalam persamaan tersebut 1
mol O2 akan mampu bereaksi seluruhnya karena kita mempunyai lebih dari 2
mol H2 yang diperlukan. Dengan kata lain, terdapat lebih dari cukup H2 untuk
bereaksi sempurna dengan semua O2. Memang, karena kita memulai dengan 5
mol H2, dapatlah kita mengharapkan bahwa ketika reaksi selesai, ada 3 mol
H2 yang tersisa tanpa bereaksi.
Dalam contoh ini O2 diacu sebagai reaktan pembatas (limiting reac-
tant) karena bila habis, tidak ada reaksi lebih lanjut yang dapat terjadi dan
tidak ada lagi produk ( H2O ) dapat terbentuk. Bila dikatakan dengan cara lain,
dalam campuran khusus 1 mol O2 dan 5 mol H2 , banyaknya O2 inilah yang
membatasi banyaknya H2O yang dapat terbentuk.
Dalam memecahkan soal " reaktan-pembatas", kita harus mengenali
mana yang merupakan pereaksi pembatas. Kemudian, kita hitung banyaknya
produk yang terbentuk yang didasarkan pada banyaknya reaktan- pembatas
yang tersedia, seperti ditunjukkan dalam dua contoh berikut.

31
Chang, Raymond. Kimia Dasar 1 (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm 77

31
Contoh Pemecahan Soal Reaktan Pembatas32
Soal: Seng dan belerang direaksikan membentuk seng sulfide, suatu zat yang
digunakan untul melapisi permukaan bagian dalam tabung monitor Tv.
Persamaan Reaksinya
Zn + S ZnS
Dalam percobaa, 12,0 g Zn dicampur dengan 6,50 g S dan dibiarka bereaksi:
a) Mana yang merupakan reaktan pembatas?
b) Berapa gram ZnS yang terbentuk, berdasarkan reaktan pembatas yang ada
dalam campuran?
c) Berapa gram sisa reaktan yang lain, yang akan tetap tidak bereaksi dalam
eksperimen ini?
Analisis:
a) Untuk mengetahui reaktan pembatas, kita pilih satu reaktan dan hitung
jumlah reaktan lain yang dibutuhkan agar reaksi terjadi. Kemudian kita
bandingkan jumlah yang dibutuhkan dan jumlah yang tersedia. Setelah
dihitung (perhitungan dapat dilihat pada “jawaban”), diperoleh Zn sebagai
reaktan pembatas.
b) Setelah diketahui jumlah reaktan pembatas yang dibutuhkan, kita dapat
menggunakan untuk menghitung hasil reaksi yang diperoleh (perhitungan
ini adalah perhitungan stoikiometri umum yang telah kita pelajari
sebelumnya)
c) Setelah seng diketahui sebagai reaktan pembatas, maka harus tersisa
belerang yang berlebih setelah reaksi selesai. Berdasarkan perhitungan
jumlah seng yang tersedia, maka dapat kita hitung jumlah belerang yang
akan bereaksi. Perbedaan jumlah belerang yang tersedia dengan jumlah
yang digunakan merupakan jumlah belerang sisa yang tidak terpakai.

32
James E Brady, Kimia Universitas , hlm. 113.

32
Penyelesaian:
a. Untuk memudahkan perhitungan (perhitungan secara stoikiometri),
sebaiknya perhitungannya dalam mol. Dengan demikin, jumlah gram setiap
reaktan diubah menjadi mol.
1 𝑚𝑜𝑙 𝑍𝑛
12,0 g Zn x (65,4 𝑔 𝑍𝑛 ) = 0,183 mol Zn
1 𝑚𝑜𝑙 𝑆
6,50 g S x (32,1 𝑔 𝑆 ) = 0,202 mol S

Sekarang, ambil salah satu reaktan dan hitung berapa jumlah reaktan
lainnya agar reaksinya terjadi. Tidak menjadi masalah reaktan mana yang
akan di ambil, misalnya diambil Zn. Kita mempunya 0,183 mol Zn dan Zn
bereaksi dengan S dengan perbandingan 1:1. Kita membutuhkan 0,183 mol
S agar semua Zn habis terpakai, tetapi kenyataannya kita mempunyai 0,202
mol S dalam campuran sehingga jumlah S nya berlebih. Dengan demikian
S masih tersisa, sedangkan semua Zn sudah habis bereaksi. Ini berarti Zn
merupakan reaktan pembatas (limiting Reactant)
Kita sampai pada kesimpulan haruskah kita memilih S untuk direaksikan?
0,202 mol S membutuhkan 0,202 mol Zn agar reaksi sempurna, tetapi kita
hanya mempunyai 0,183 mol Zn. Selama dalam pencampuran jumalah Zn
tidak cukup untuk direaksikan dengan semua belerang, maka Zn
merupakan reaktan pembatas.
b. Oleh karena Zn merupakan reaktan pembatas, jumlah Zn yang tersedia
(0,183 mol) dapat digunakan untuk menghitung jumlah hasil reaksi yang
terbentuk. Dari koefisien persamaan reaksi.
1 mol Zn ↔ 1 mol ZnS
Kita peroleh mol Zn bereaksi menjadi mol ZnS. Kemudian kita gunakan
massa rumus ZnS (97,5 gr/mol) dapat mengubah mol ZnS menjadi gram.
1 mol ZnS = 97,5 g ZnS
Jawaban soal ini:
1𝑚𝑜𝑙 𝑍𝑛𝑆 97,5 𝑔 𝑍𝑛𝑆
0,183 mol Zn x ( )x ( ) ↔ 17,8 g ZnS
1 𝑚𝑜𝑙 𝑍𝑛 1 𝑚𝑜𝑙 𝑍𝑛𝑆

33
c. Zn merupakan reaktan pembatas, sedangkan belerang tersisa setelah reaksi
selesai. Jumlah sisa belerang adalah perbedaan jumlah S yang semula
terseia (0,202 mol S) dengan jumlah belerang yang direaksikan dengan Zn
(0,183 mol S)
Mol S sisa = (0,202-0,183) mol S = 0,019 mol S
Kemudian kita ubah menjadi gram S:
32,1 𝑔 𝑆
0,019 mol S x ( 1 𝑚𝑜𝑙 𝑆 ) = 0,16 g S

Dengan demikian, ketika reaksi selesai, masih tersisa 0,61 g S.


Contoh Penyelesaian Soal Reaktan Pembatas33
Soal: Etilena, C2H4, terbakar di udara membentuk CO2 dan H2O menurut
persamaan reaksi:
C2H4 + 3O2  2 CO2 + 2 H2O
Berapa gram CO2 yang terbentuk jika campurran ini mengandung 1,93 g C2H4
dan 5,92 g O2 yang terbakar
Analisis: Kemungkinan sejarang Anda menyadari bahwa hal yang paling
sukar untuk memecahkan suatu soal adalah bentuk soal apa yang kita hadapi.
Jika Anda bertanya bagaimana memecahkan soal seperti yang dihadapi ini,
yang pertama Anda ingat adalah bahwa soal ini adalah soal reaktan diketahui
dan kemudian dihubungkan dengan stoikiometri dari reaksinya (misalnya
jumlah hasil reaksi yang terbentuk).
Setelah mengetahui bahwa soal ini adalah mengenai reaktan pembatas,
langkah selanjutnya adalah mengubah jumlah masing-masing reaktan menjadi
mold an tentukan yang mana reaktan pembatasnya. Pilih salah satu reaktan
dan ditentukan berapa mol yang dibutuhkan dengan jumlah mol yang bersifat
pembatas.
Akhirnya, gunakan jumlah mol reaktan pembatas untuk menghitung jumlah
hasil reaksi yang terbentuk
Penyelesaian: Mula-mula mengubah jumlah gram reaktan menjadi mol

33
Ibid., hlm. 115.

34
1 𝑚𝑜𝑙 𝐶2 𝐻4
12,5 g 𝑂2 x ( ) = 0,0689 𝑚𝑜𝑙 𝐶2 𝐻4
28,0 𝑔 𝐶2 𝐻4

1 𝑚𝑜𝑙 𝑂2
5,92 g 𝑂2 x ( ) = 0,185 mol 𝑂2
32,0 𝑔 𝑂2
Sekarang, kita pilih satu reaktan dan hitung berapa mol reaktan yang lain
dibutuhkan untuk menyelesaikan reaksi ini. Misalnya kita pilih O2 (meskipun
dapat kita pilih C2H4 yang lebih mudah). Berapa jumlah mol C2H4 yang
dibutuhkan agar semua O2 habis terpakai? Persamaan reaksi membantu kita
mengetahui perbandingan antara C2H4 dan O2.

1 mol C2H4 ↔ 3 mol O2

1 𝑚𝑜𝑙 𝐶2 𝐻4
0,185 mol 𝑂2 x ( ) 0,0617 𝐶2 𝐻4 ↔
3 𝑚𝑜𝑙 𝑂2

Kita membutuhkan 0,0617 mol C2H4, tetapi kita mempunyai 0,0689 mol
C2H4; kita mempunyai C2H4 lebih daripada yang kita butuhkan sehingga
semua O2 dapat bereaksi. Oleh sebab itu, O2 adalah reaktan pembatas.

Akhirnya, kita gunakan reaktan pembatas (0,185 mol O2) untuk menghitung

jumlah CO2 yang terbentuk.


2 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑂2 44,0 𝑔 𝐶𝑂2
O, 185 mol 𝑂2 x ( 3 𝑚𝑜𝑙 𝑂2
) x ( 1 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑂2
) ↔ 5,43 g 𝐶𝑂2

Jumlah maksimum CO2 yang diperoleh dari reaksi tersebut adalah 5,43 g.

I. HASIL TEORITIS DAN HASIL PERSENTASE34


Kadang-kadang satu set reaktan mampu menghasilkan lebih dari satu set
hasil reaksi, tergantung pada keadaan (kondisi) reaksi, pada paragraf
sebelumnya dalam Bab ini misalnya, diperhatikan pembakaran hidrokarbon
dalam keadaan kekurangan persediaan oksigen dan menghasilkan campuran

34
Ibid., hlm.116.

35
hasil reaksi. Hal ini terjadi karena adanya reaksi samping (side Reaction),
reaksi yang lain dari reaksi yang diinginkan, menghasilkan hasil reaksi
samping (side product). Biasanya, hasil reaksi samping ini tidak diinginkan.
Tiga macam jumlah hasil reaksi yang menjadi perhatian ahli-ahli kimia dalam
keadaan seperti ini adalah hasil menurut teori, hasil yang sebenarnya
diperoleh, dan hasil persentase. Hasil teorotis (theoretical yield) dari suatu
reaksi merupakan hasil maksimum yang mungkin dapat diperoleh, jika
reaktan hanya menghasilkan senyawa tersebut tanpa adanya reaksi samping.
Hasil teoritis adalah hasil yang diperoleh dari perhitungan. Hasil reaksi ini
diperoleh dengan menggunakan persamaan reaksi yang terjadi pada reaksi ini
dan menghitung jumlah hasil reaksi yang terbentuk dari jumlah rekatan yang
diketahui. Dalam contoh 3.8, misalnya kita menghitung hasil teoritis CO2

dengan anggapan semua C2H4 yang dibakar berubah seluruhnya menjadi CO2
dan H2O .
Hasil yang sebenarnya diperoleh (actual yield) adalah jumlah hasil
reaksi yang sebenarnya diperoleh dari percobaan. Biasanya, hasil reaksi ini
diperoleh dengan mengisolasinya dari campuran dan menimbangnya. Pada
umumnya tidak ad acara lain untuk menghitung jumlahnya; hasil reaksi ini
diukur secara eksperimen.
Hasil persentase adalah ukuran efisiensi suatu reaksi dan disebut sebagai:
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
Hasil persentase = x 100%
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

Sebagai contoh misalnya dalam percobaan yang tertulis dalam Contoh


3.8, hanya 3,48 g CO2 yang diperoleh dan karbon yang sisa diperoleh dalam
bentuk CO, yang sebnarnya merupakan hasil yang diukut yang diperoleh dari
hasil campuran nyata ini, yaitu 3,48 g. hasil teoritis 5,43 g berdasarkan
stoikiometri reaksi pembakaran. Dengan demikian hasil persentase adalah
3,48 𝑔 𝐶𝑂2
Hasil persentase 𝐶𝑂2 = x 100% = 64,1 %
5,43 𝑔 𝐶𝑂2

36
KONSENTRASI MOLAR35
Sering dibutuhkan penentuan konsentrasi suatu larutan secara kuantitatif.
Ada beberapa cara yang untuk memperoleh konsentrasi larutan secara
kuantitatis. Suatu istilah yang sangat berguna dan berkaitan dengan
stoikiometri suatu reaksi dalam larutan disebut konsentrasi molar atau
molaritas dengan simbol M. Dinyatakan sebagai jumlah mol suatu zat terlarut
(solut) dalam larutan dibagi dengan volume larutan yang ditentukan dalam
liter.
mol zat terlarut
Molaritas (M) =
Volume (liter)
Larutan yang mengandung 1 mol NaCl dalam 1 L larutan mempunyai
molaritas 1 mol NaCl/(L larutan) atau 1 M dan disebut 1 molar larutan.
Contoh Perhitungan Molaritas Suatu Larutan36
Soal: 2,00 g natrium hidroksida, NaOH (senyawa yang banyak ditemukan
dalam pembersih Drano), dilarutkan dalam air dan membentuk larutan dengan
volume 200 mL. berapa molaritas NaOH dalam larutan?
Penyelesaian: Untuk meghitung molaritas, kita ambil perbandingan antara
jumlah mol zat terlarut dengan jumlah liter larutan. Ini berarti kita mengetahui
jumlah NaOH dalam mol dan volume dalam air.
Massa molekul NaOH 40,0 g/mol, sehingga:
1 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻
2,00g NaOH x = 0,0500 mol NaOH
40,0 𝑔 𝑁𝑎𝑂𝐻

Jika dinyatakan dalam liter, 200 mL menajdi 0,200 L. dengan demikian


molaritasnya adalah
0,0500 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻
Molaritas = = 0,250 mol NaOH/L = 0,250 M NaOH
0,200 𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
Alasan molaritas merupakan konsentrasi yang sangat berguna adalah
karena jika kita mengetahui molaritas suatu larutan, kita dapat menentukan
jumlah mol zat terlarut yang diinginkan dengan cara mengukur volumenya

35
Ibid., hlm. 120.
36
Ibid., hlm. 120.

37
yang teapat. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai suatu wadah yang
besar dan berisi 0,250 M larutan NaOH selain itu, kita juga membutuhkan
suatu reaksi dengan jumlah NaOH tepat 0,250 mol. Label yang ada pada
wadah itu tertulis setiap liter larutan mengandung 0,250 mol NaOH. Dengan
demikian, jika kita membutuhkan 0,500 mol NaOH untuk suatu percobaan,
kita dapat mengambil larutan itu sejumlah 2,00 L larutan. Jika kita
membutuhkan hanya 0,125 mol NaOH, kita dapat menagmbil sejumlah 0,500
L (500mL) larutan. Contoh-contoh berikut ini memperlihatkan bagaimana
hubungan ini dilaksanakan.
Contoh Perhitungan volume Suatu Larutan yang Mengandung Sejumlah
Zat Terlarut yang Diketahui37
Soal: Berapa milliliter dari larutan 0,250 M NaOH yang dibutuhkan untuk
membuat 0,0200 mol NaOH?
Analisis: Untuk perhitungan, molaritas merupaka jembatan antara mol zat
terlarut dan volume larutan. Pada label tertulis 0,250 M NaOH, yang berarti
larutan mengandung 0,250 mol NaOH/L. angka ini dpat digunakan sebagai
faktor konversi yang langsung dapat digunakan atau diubah lebih dahulu:
0,250 mol NaOH 1,00 L larutan
1,00 𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 0,250 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻

Kita dapat mengubah volume menjadi milliliter dan ditulis sebagai berikut:
0,250 mol NaOH 1000 m L larutan
1000 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 0,250 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻

Kemudian untuk menjawab soal ini kita mulai dengan mengubah arti
molaritas yang tertulis menjadi faktor konversi. Dengan demikian, soal ini
dapat dijawab secara tepat.
Penyelesaian: Kita dapat mengubah bentuk soal menjadi:
0,0200 mol NaOH ↔ ? mL NaOH larutan

37
Ibid., hlm. 121.

38
Untuk mengubah mol NaOH menjadi milliliter larutan, kita membutuhkan
faktor konversi “mol NaOH” dalam penyebut pecahan. Oleh karena kita
membutuhkan jawaban dalam mililite, maka:
1000 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
0,0200 mol NaOH x ↔ 80,0 mL larutan
0,250 mol NaOH

Dengan demikian, kita ambil 80,0 mL larutan 0,250 M NaOH, yang berarti
mengandung 0,0200 mol NaOH
Contoh Perhitungan jumlah Zat Terlarut dalam Larutan yang Diketahui
Molaritasnya38
Soal: Berapa gram NaOH yang ada dalam 50,0 mL larutan 0,400 M NaOH?
Analisis: Kita dapat menulis soal ini menjadi:
50,0 mL larutan ↔ ? g NaOH
Molaritas dapat digunakan sebagai faktor konversi untuk mengubah “mL
larutan” menjadi mol NaOH dan kemudian kita gunakan massa molekul
NaOH untuk mendapat jumlah gramnya.
Penyelesaian: Mula-mula, 0,400 M diubah menjadi mol dengan volume.
0,400 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻
0,400 M berarti
1000 mL larutan
Kemudian perbandingan ini digunakan sebagai fkator konversi untuk
menghitung “mL larutan”
0,400 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻
50,0 mL larutan x ( ) ↔ 0,0200 mol NaOH
1000 mL larutan

Massa molekul NAOH adalah 40,0 g/mol. Oleh karena itu:


40 𝑔 𝑁𝑎𝑂𝐻
0,0200 mol NAOH x = 0,800 g NaOH
1 mol NaOH

Dengan demikian, 50,0 mL NaOH 0,400 M mengandung 0,800 g NaOH.


Contoh Pembuatan Larutan yang Mengandung Molaritas Tertentu
Soal: Berapa gram perak nitrat, AgNO3 yang dibutuhkan untuk membuat 500
mL larutan AgNO3 0,300 M?
Analisis: Apa yang sebetulnya kita butuhkan di sisni adalah berapa gram
AgNO3 yang harus ada dalam larutan akhir. Jika kita dapat

38
Ibid., hlm. 122.

39
membayangkannya, kita dapat menimbang zat terlarut yang dibutuhkan,
kemudian dilarutkan dalam pelarut secukupnya sesuai dengan larutan yang
diinginkan. Dengan demikian, soal ini dapat dijawab seperti berikut ini.
Penyelesaian: mula-mula, molaritas diubah menjadi
0,300 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂3
0,300 M AgNO3 berarti x ( )
1000 mL larutan

Dalam larutan akhir, jumlah AgNO3 yang harus ada adalah:


0,300 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂3
500 mL larutan x ( ) = 0,150 mol AgNO3
1000 mL larutan

Massa molekul AgNO3 adalah 170 g/mol. Dengan demikian,


170 𝑔 𝐴𝑔𝑁𝑂
0,150 mol AgNO3 x 1 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂3 = 25,5 g AgNO3
3

Contoh Menggunakan Molaritas dalam Soal-Soal Stoikiometri39


Soal: Aluminium hidroksida Al(OH)3, salah satu komponen antasida yang ada
dalama Maalox, dapat dibuat dari reaksi aluminium sulfat, Al2(SO4)3, dengan
natrium hidroksida, NaOH. Persamaan reaksinya adalah:
Al2(SO4)3 (aq) + 6 NaOH (aq)  2 Al(OH)3 (s) + 3 Na2SO4 (aq)
Berapa milliliter larutan NaOH 0,200 M yang dibutuhkan untuk direaksikan
dengan 3,50 g Al2(SO4)3 ?
Analisis: Soal ini dapat dbuat seperti berikut
3,50 g Al2(SO4)3 ↔ ? mL 0,200 M NaOH
Seperti setiap soal-soal stoikiometri, jumlah reaktan selalu ditentukan dalam
mol yang diperoleh dari koefien yang ada dalam persamaan reaksi. Oleh sebab
itu, langkah pertama yang dikerjakan adalah mengubah gram Al2(SO4)3
menjadi mol Al2(SO4)3. Kemudian digunakan koefisien dari persamaan reaksi
untuk mencari jumlah mol NaOH yang dibutuhkan dalam reaksi ini dan
akhirnya kita dapat menggunakan molaritas sebagai faktor konversi untuk
mencari volume larutan NaOH yang dibutuhkan.
Penyelesaian: mula-mula kita hitung jumlah mol Al2(SO4)3 (massa molekul =
342,2 g/mol

39
Ibid., hlm. 129.

40
1 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑙3 (𝑆𝑂4 )3
3,50 g 𝐴𝑙3 (𝑆𝑂4 )3 x ( ) = 1,02 x 10−2 𝐴𝑙3 (𝑆𝑂4 )3
342,2 𝑔 𝐴𝑙3 (𝑆𝑂4 )3
Selanjutnya, kita gunakan koefisien untuk menetapkan perbandingan mol
yang di perlukan
6 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻
1,02 x 10−2 mol 𝐴𝑙3 (𝑆𝑂4 )3 x ( )
1 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑙3 (𝑆𝑂4 )3
↔ 6,12 x 10−2 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻

Langkah terakhir adalah menghitung volume larutan NaOH yang diperoleh


dari jumlah mol ini. Pengertian konsentrasi molar memberikan dua macam
faktor konversi
0,200 mol NaOH 1000 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
𝑑𝑎𝑛
1000 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 0,200 mol NaOH

Untuk perhitungan soal ini digunakan faktor konversi kedua


1000 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
6,12 x 10−2 mol NaOH x ( ) ↔ 306 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
0,200 mol NaOH
Untuk meraksikannya kita larutkan 3,50 g Al2(SO4)3 dalam air, kemudian
ditambahkan ke dalam 306 mL larutan NaOH 0,200 M agar reaksinya
sempurna.
Contoh Menggunakan Molaritas dalam Soal-Soal Stoikiometri40
Soal: Kapur tulis terbuat dari kalsium karbonat, CaCO3. Senyawa yang tidak
larut dalam air ini dibuat dari kalsium klorida CaCl2, yang ditambahkan ke
dalam natrium karbonat, Na2CO3. Reaksinya adalah:
CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq)  CaCO3 (s) + 2 NaCl (aq)
Berapa milliliter CaCl2 0,250 M yang dibutuhkan untuk direaksikan secara
sempurna dengan 50,0 mL larutan Na2CO3 0,150 M ?
Penyelesaian: Dari volume dan molaritas larutan Na2CO3 dapat dihitung
jumlah mol Na2CO3 yang ada. Konsentrasi Na2CO3 0,150 M berarti:

40
Ibid., hlm. 130.

41
0,150 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
1000 mL larutan
Oleh sebab itu,
0,150 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
50,0 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑥 ↔ 7,50 𝑥 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎2 𝐶𝑂3
1000 mL larutan

Oleh karena koefisien CaCl2 dan Na2CO3 sama dalam persamaan reaksi,
jumlah CaCl2 yang dibutuhkan juga 7,50 x 10-3 mol. Oleh sebab itu, langkah
terakhir adalah menghitung volume larutan CaCl2 yang mengandung sejumlah
mol zat terlarut ini. Faktor konversi kosentrasi CaCl2 adalah:
0,250 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑎𝐶𝑙2 1000 mL larutan
𝑑𝑎𝑛
1000 mL larutan 0,250 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑎𝐶𝑙2
Perhitungan menggunakan faktor konversi kedua menghasilkan:
7,50 x 10-3 mol CaCl2
1000 mL larutan
7,50 𝑥 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑎𝐶𝑙2 𝑋 ↔ 30,0 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
0,250 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑎𝐶𝑙2
Volume larutan CaCl2 yang dibutuhkan adalalah 30,0 mL.
Contoh Reaktan Pembatas Dalam Reaksi Larutan41
Soal: Perak bromide AgBr adalah senyawa kimia yang sangat sensitive
apabila terkena cahaya yang digunakan dalam film fotografi. Senyawa yang
tidak larut ini terbentuk apabila larutan nitrat, AgNO3 dalam air dicampur
dengan larutan kalsium bromide, CaBr2 dalam air.
2 AgNO3 (aq) + CaBr2 (aq)  2 AgBr (s) + Ca(NO3)2 (aq)
Berapa gram endapan AgBr yang terbentuk jika 50,0 mL AgNO3 0,180 M
dicampur dengan 60,0 mL CaBr2 0,0850 M ?
Analisis: Jika diketahui volume dan molaritas dari larutan, berarti kita
mengetahui jumlah mol zat terlarut. Hal ini disebabkan oleh hasil perkalian
molaritas dan volume (dalam liter) menghasilkan mol. Dengan demikian, jika
diketahui molaritas dan volume kedua reaktan. Sebelumnya telah dipelajari
bahwa dalam hal seperti ini perlu ditentukan reaktan pembatas. Kemudian

41
Ibid., hlm. 131.

42
dihitung jumlah hhasil reaksi yang terbentuk berdasarkan jumlah yang
tersedia dari reaktan pembatas tersebut.
Penyelesaian: Sekarang kita mengetahui strategi apa yang harus kita kerjakan
untuk memecakan soal ini. Mula-mula dihitung jumlah mol setiap reaktan
yang ada dalam larutan.
Untuk AgNO3
0,180 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂3
50,0 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑋 ( ) ↔ 9,00 x 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂3
1000 mL larutan
Untuk CaBr2
0,0850 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑎𝐵𝑟2
60,0 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑋 ( ) ↔ 5,10 x 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑎𝐵𝑟2
1000 mL larutan
Selanjutnya, kita cari reaktan pembatas. Kemudian dihitung berapa mol CaBr2
dibutuhkan untuk dapat bereaksi dengan semua AgNO3
1 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑎𝐵𝑟
9,00 x 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂3 𝑋 (2 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂2 ) ↔
3

4,50 x 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝑎𝐵𝑟2 yang dibutuhkan


Perhatikan, bahwa jumlah CaBr2 yang tersedia (5,10 x 10-3 mol) lebih besar
dari jumlah yang dibutuhkan. Ini berarti CaBr2 akan tersisa, dengan demikian
AgNO3 adalah rekatan pembatas.
Akhirnya, dihitung jumlah AgBr yang terbentuk dari AgNO3 yang tersedia.
2 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝐵𝑟
9,00 x 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂3 𝑋 ( ) ↔ 9,00 x 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝐵𝑟
2 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝑁𝑂3
Massa molekul AgBr adalah 187,8 g/mol sehingga:
187,8 𝑔 𝐴𝑔𝐵𝑟
9,00 x 10−3 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝐵𝑟 𝑋 ( ) = 1,69 g 𝐴𝑔𝐵𝑟
1 𝑚𝑜𝑙 𝐴𝑔𝐵𝑟
Berat AgBr yang terbentuk dari hasil mencampur kedua larutan ini adalah
1,69g.

43
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Hiskia, dkk. 1993. Kimia Dasar UntukPerguruan Tinggi. Bandung: Erlangga

Brady, James E. Kimia Universitas Asas & Struktur Jilid Satu. Ciputat: Binarupa
Aksara

Brady, James E. Chemistry: The Molecular Nature of Matter. Wiley: America.

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar 1 .Jakarta: Erlangga

Keenan. 1999. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga

Petrucci, Ralp, H. 2007. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern (Terjemahan).
Yogyakarta: Erlangga

S, Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB

Sunarya, Yayan. 2012. Kimia Dasar 2 . Bandun: Yrama Widya

Takeuchi, Yashito. 2006. Buku Teks Pengantar Kimia. Tokyo

Zulfikar. 2010. Senyawa, Unsur, dan Molekul. Jakarta: Grafindo

44

Anda mungkin juga menyukai