Anda di halaman 1dari 39

RE-MAKE OF LAW FOR JUSTICE: MEWUJUDKAN KEADILAN BAGI

PEMILIK E-MONEY MELALUI PERUBAHAN KLAUSULA BAKU


DALAM PERJANJIAN

Kompetisi Karya Tulis Ilmiah


Parahyangan Legal Competition 2019
TIM TUAN GURU K.H. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID

Disusun Oleh :
Veronika Winda Inriani (B011171400)
Wiranti (B011171082)

BANDUNG
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya sehingga karya tulis ilmiah ini dapat kami selesaikan sesuai
yang diharapkan. Judul karya tulis ini “Re-Make of Law for Justice:
Mewujudkan Keadilan Bagi Pemilik E-Money Melalui Perubahan Klausula
Baku dalam Perjanjian”.
Penulisan karya tulis ini diajukan dalam rangka mengikuti Kompetisi
Karya Tulis Ilmiah Parahyangan Legal Competition 2019 Fakultas Hukum
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Dalam proses penyusunan karya ilmiah ini, tentunya kami mendapatkan
bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang sedalam-
dalamnya kami sampaikan kepada :
1) Dr. Muh. Hasrul, S.H., M.H. selaku wakil dekan bidang kemahasiswaan,
alumni dan kemitraan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
2) Dr. Aulia Rifai, S.H., M.H. selaku dosen pembimbing karya tulis
3) Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Penalaran dan Penulisan Karya Ilmiah
(UKM LP2KI) selaku wadah pengembangan tulis menulis mahasiswa
Fakultas Hukum.
4) Rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak memberikan masukan untuk
karya tulis ini.
Kami menyadari bahwa karya tulis yang kami paparkan ini tentunya jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik yang bersifat membangun sangat kami
butuhkan untuk kesempurnaan penulisan selanjutnya. Demikian karya tulis ini
kami buat semoga bisa bermanfaat bagi semua pihak.

Makassar, 8 Maret 2019

Penulis

ii
LEMBAR PENGESAHAN

iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR ISI

iv
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................... iv
DAFTAR ISI ............................................................................................................v
ABSTRAK ............................................................................................................ vii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
A. Latar Belakang .............................................................................................1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................4
C. Tujuan Penulisan ..........................................................................................4
D. Manfaat Penulisan ........................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................5
A. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia ..........................................5
B. Uang Elektronik (E-Money) .........................................................................6
C. Tinjauan Umum Hukum Perlindungan Konsumen ......................................6
1. Pengertian Perlindungan Konsumen ......................................................6
2. Pengertian Konsumen ............................................................................7
3. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen ............................................8
4. Hak dan Kewajiban Konsumen ..............................................................9
BAB III METODE PENULISAN ..........................................................................11
A. Metode Pengumpulan Data ........................................................................11
B. Metode Pengolahan Data ...........................................................................11
C. Metode Analisis Data .................................................................................12
BAB IV PEMBAHASAN ......................................................................................13
A. Dampak dari Penggunaan Klausula Baku pada Kartu E-Money ...............13
B. Perlindungan Hukum Bagi Pemilik Kartu E-Money Serta Penerapan Nilai-
Nilai Pancasila dalam Klausula Baku untuk Mencapai Prinsip Keadilan..21
BAB V PENUTUP .................................................................................................27
A. Kesimpulan ................................................................................................27
B. Saran ..........................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................29
LAMPIRAN-LAMPIRAN

v
Re-Make of Law for Justice: Mewujudkan Keadilan Bagi Pemilik E-Money
Melalui Perubahan Klausula Baku dalam Perjanjian

vi
Re-Make of Law for Justice: Realize Justice for the Owner of E-Money
Through a Change in the Standard in the Agreement

Veronika Winda Inriani dan Wiranti


Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin, Makassar
Jl. Perintis Kemerdekaan Km 10, Kota Makassar 90245

ABSTRAK

Seiring dengan perkembangan zaman telah muncul berbagai inovasi di berbagai


bidang, diantaranya dalam hal pembayaran yaitu konsep gerakan non-tunai dalam
hal ini berupa uang elektronik (e-money). Uang elektronik (e-money) memiliki
perbedaan diantara alat pembayaran lainnya, karena uang elektronik (e-money)
hanya tersimpan dalam satu kartu yang mudah dibawa kemana-mana dan dapat
digunakan di berbagai tempat seperti tempat wisata, jalan tol, tempat makan,
toko-toko, dan beberapa tempat lain. Meskipun uang elektronik memiliki berbagai
keunikan yang berbeda dengan alat pembayaran lainnya. Namun, uang elektronik
(e-money) juga memiliki berbagai kekurangan dan mudah untuk disalahgunakan.
Hal tersebut dikarenakan uang elektronik (e-money) tidak memerlukan konfirmasi
data atau personal identification number (PIN). Sehingga dengan mudah untuk
disalahgunakan oleh pihak ketiga. Disamping itu uang elektronik (e-money) juga
tidak memberikan kepastian hukum karena uang elektronik (e-money) bukan
merupakan simpanan. Sehingga ketika terjadi kesalahan maka pihak Bank tidak
bertanggung jawab atas hal tersebut, dan inilah yang mengakibatkan ketidak
adilan bagi konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
dampak dari penggunaan klausula baku dalam kontrak bisnis kartu berlangganan
e-money, dan mengetahui penerapan nilai-nilai Pancasila dalam penyusunan
perjanjian baku agar pemilik e-money mendapat keadilan dalam menggunakan
produk kartu berlangganan.

Kata kunci : Uang Elektronik (e-money), Keadilan, Perlindungan Hukum.

ABSTRACT

vii
Along with the times have emerged various innovations in various fields,
including in terms of payments, namely the concept of non-cash movements in
this case in the form of electronic money (e-money). Electronic money (e-money)
has a difference between other payment instruments, because electronic money (e-
money) is only stored in a card that is easy to carry everywhere and can be used in
various places such as tourist attractions, highways, eating places, shops -store,
and several other places. Although electronic money has a variety of uniqueness
that is different from other payment instruments. However, electronic money (e-
money) also has various disadvantages and is easy to abuse. This is because e-
money does not require data confirmation or personal identification number
(PIN). So that it is easily misused by third parties. Besides that electronic money
(e-money) also does not provide legal certainty because e-money is not a deposit.
So when an error occurs, the Bank is not responsible for that, and this is what
causes injustice to consumers. The purpose of this study was to determine the
impact of using standard clauses in e-money subscription card business contracts,
and knowing the application of Pancasila values in the preparation of standard
agreements so that e-money owners get justice in using subscription card products

Keywords: Electronic Money (e-money), Justice, Legal Protection.

viii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat merupakan dasar
fundamental dari tata hukum pemerintahan Indonesia yang di dalamnya memuat
cita-cita dan tujuan negara yakni melindungi setiap warga negara, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut serta
melaksanakan perdamaian dunia berdasar pada keadilan. Pancasila sebagai dasar
negara membawa konsekuensi yuridis bahwa Pancasila merupakan sumber dari
segala sumber hukum dalam penyelenggaraan negara. Semua aspek kehidupan
bernegara di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan dan
keamanan harus berpedoman pada Pancasila.
Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, hal
ini tercantum sebagai pokok pikiran yang termuat dalam pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945. Pokok pikiran tersebut dijabarkan sebagai misi dari aspek
ekonomi dalam Pasal 33 ayat (4) yang berbunyi: "perekonomian nasional
diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan,
efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta
dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional." Arti
dari pasal tersebut yakni dalam membangun kegiatan ekonomi tidak mencari
keuntungan pribadi semata tetapi berlandaskan pada nilai-nilai kebersamaan,
keadilan, kemandirian, keseimbangan dalam menjalankan suatu kegiatan ekonomi
dan bisnis. Pembangunan nasional dalam bidang ekonomi harus dijiwai semangat
Pancasila dalam rangka mewujudkan tujuan negara yakni mewujudkan
masyarakat adil dan makmur.
Perkembangan dunia bisnis yang ditandai dengan tuntutan pemenuhan-
pemenuhan kebutuhan masyarakat secara massal dan cepat, membuat pelaku
usaha dituntut untuk menemukan cara yang praktis, efektif dan efisien dalam
memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut, diantaranya dengan
menyiapkan perjanjian-perjanjian terstandar atau yang sering dikenal dengan

1
istilah perjanjian baku. Dalam isi perjanjian tersebut biasanya mengandung
klausula baku yang merupakan syarat-syarat yang dibuat secara tertulis oleh
pelaku usaha yang pada umumnya hanya untuk melindungi kepentingannya
sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan konsumen, sehingga terlihat lebih
menguntungkan bagi pihak yang mempersiapkan pembuatannya dan sering terjadi
pula pelaku usaha mengalihkan kewajiban-kewajiban yang seharusnya menjadi
tanggung jawabnya kepada konsumen.1 Perjanjian baku (standaard contract)
yang dalam beberapa hal bertentangan dengan asas kebebasan berkontrak dan
prinsip musyawarah mufakat yang menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia.2
Uang elektronik (e-money) merupakan sebuah inovasi dari dampak
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan untuk
memudahkan segala bentuk transaksi. Penggunaan e-money tidak selalu
memerlukan proses otorisasi dan hanya menempelkan kartu pada sensor alat yang
disediakan oleh penerbit pada merchant rekanan, maka transaksi pembayaran
berhasil dilakukan dengan pemotongan saldo yang ada dalam kartu. Hal ini
mempermudah konsumen karena tidak perlu membawa uang tunai jika ingin
melakukan pembayaran, sehingga mengurangi tingkat kriminalitas. Selain itu, e-
money ini dapat diisi ulang (top up) dan dapat dimiliki oleh nasabah maupun non
nasabah dari bank penerbit. Transaksi menggunakan e-money tidak terikat dengan
rekening nasabah di bank, karena perolehan kartu e-money tidak memerlukan
konfirmasi data atau personal identification number (PIN) sehingga jika kartu e-
money hilang atau dicuri maka diluar dari tanggung jawab pihak penerbit.
Penerbit tidak akan mengganti saldo dan memblokir kartu yang hilang atau dicuri
tersebut karena saldo yang ada dalam kartu bukan simpanan pada bank penerbit.
Dalam pembelian kartu e-money pada penerbit, kartu akan dilengkapi
dengan syarat dan ketentuan penggunaan kartu e-money. Syarat dan ketentuan
tersebut menjadi suatu bentuk perjanjian antara pihak penerbit dan pemilik kartu
e-money dalam penggunaannya pada transaksi e-money. Salah satu acuan penting

1
H.P. Panggabean, Praktik Standaard Contract (Perjanjian Baku) Dalam Perjanjian Kredit
Perbankan, (Bandung: PT Alumni, 2012), hlm 1.
2
Neni Sri Imaniyanti, Hukum Ekonomi dan Ekonomi Islam dalam Perkembangan,( Bandung:
Mandar Maju, 2002), hlm 29.

2
pada Undang-Undang Perlindungan Konsumen yaitu dengan adanya peraturan
mengenai pencantuman klausula baku dalam perjanjian. Dimana dasar peraturan
dalam penggunaan alat pembayaran elektronik menggunakan uang elektronik
adalah dengan menggunakan perjanjian baku, maka pencantuman klausula baku
yang seimbang haruslah diatur. Klausula baku biasanya dibuat oleh pihak yang
kedudukannya lebih kuat, yang dalam kenyataannya biasa dipegang oleh pelaku
usaha atau dalam hal ini yang kaitannya dengan perjanjian baku uang elektronik,
kedudukan yang lebih kuat dipegang oleh penerbit kartu e-money. Isi klausula
baku seringkali merugikan pihak yang menerima klausula baku tersebut, yaitu
pihak konsumen atau pemilik e-money karena dibuat secara sepihak oleh pihak
penerbit. Klausula baku bukanlah hasil suatu kesepakatan melainkan hasil
pemaksaan kepada pihak lain untuk menerima atau tidak menerima sama sekali
sehingga dapat menimbulkan suatu kondisi yang tidak seimbang antara pelaku
usaha dengan konsumen.3 Bila konsumen menolak klausula baku tersebut, ia tidak
akan mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan. Artinya dimanapun calon
pemilik kartu e-money akan melakukan pembelian barang atau jasa uang
elektronik maka penerbit akan memberikan klausula baku sebagai bentuk
persetujuan pembelian dan penggunaan kartu e-money. Hal tersebut menyebabkan
konsumen atau pemegang kartu e-money menjadi sering menyetujui isi dari
klausula baku tersebut, walaupun terasa tidak adil.
Bagi para pelaku usaha atau penerbit kartu e-money, mungkin ini cara
untuk mencapai tujuan ekonomi yang efisien, praktis, dan cepat serta tidak
bertele-tele, tetapi bagi konsumen atau pemegang kartu justru merupakan pilihan
yang tidak menguntungkan karena hanya dihadapkan pada satu pilihan, yaitu
menerima walaupun dengan berat hati dan terpaksa. Oleh karena itu, perlunya
suatu bentuk perlindungan hukum untuk menjamin aspek keadilan bagi pemilik
kartu e-money, dimana isi klausula dalam perjanjian tersebut harus sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia maupun kebijakan
pemerintah dan peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai lembaga
pengawas kegiatan keuangan. Berdasarkan uraian di atas penulis hendak

3
H.P. Panggabean, Op.cit., hlm 2.

3
menyusun sebuah karya tulis dengan judul “Re-Make of Law for Justice:
Mewujudkan Keadilan Bagi Pemilik E-Money Melalui Perubahan Klausula
Baku dalam Perjanjian.”

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah berguna untuk membatasi ruang lingkup pembahasan karya
tulis agar tidak melebar dan lebih terfokus pada permasalahan. Adapun rumusan
masalah dalam karya tulis ini antara lain :
1. Bagaimana dampak dari penggunaan klausula baku dalam perjanjian kartu
berlangganan e-money?
2. Bagaimana perlindungan hukum bagi pemilik kartu e-money serta
penerapannya berdasarkan nilai-nilai Pancasila dalam menyusun isi
perjanjian baku agar memberikan keadilan dalam menggunakan produk
kartu berlangganan ini?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dampak dari penggunaan klausula baku dalam kontrak
bisnis kartu berlangganan e-money.
2. Untuk mengetahui pelaksanaan penggunaan klausula baku yang
berdasarkan nilai-nilai Pancasila agar pemilik e-money mendapat keadilan
dan perlindungan hukum dalam menggunakan produk kartu berlangganan
tersebut.

D. Manfaat Penulisan
Harapan karya tulis ini tidak hanya bermanfaat bagi penulis semata, melainkan
juga bermanfaat bagi pihak-pihak lain. Adapun manfaat dari penulisan karya tulis
ilmiah ini antara lain:
1. Bagi konsumen: memberikan informasi kepada mereka agar dapat
memahami dampak dari perjanjian baku.
2. Bagi peneliti: memberikan informasi dan pengetahuan mengenai dampak
serta mengetahui pelaksanaan penggunaan klausula baku yang berdasarkan
nilai-nilai Pancasila.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Pancasila memandang kodrat manusia adalah sebagai makhluk pribadi dan
sekaligus makhluk sosial yang merupakan kesatuan bulat, yang harus
dikembangkan secara seimbang, selaras dan serasi.4
Konsep keadilan telah menjadi salah satu pemikiran filosofis Presiden
Soekarno “keadilan sosial ialah suatu masyarakat atau sifat suatu masyarakat
adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada
penindasan, tidak ada penghisapan”. Pemikiran filosofis tersebut mengandung
pemahaman bahwa Soekarno sangat memprioritaskan nilai keadilan dan
menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dalam konsep hidup berbangsa dan
bernegara. Keadilan sosial merupakan salah satu tujuan membentuk pemerintahan
Negara Indonesia seperti yang tertulis dalam ayat IV Pembukaan UUD 1945.
Yang artinya bahwa mewujudkan keadilan tidak hanya bersifat semata-mata
persoalan UUD 1945, tetapi juga kewajiban masyarakat, bagsa dan negara
Indonesia.5
Keadilan adalah norma dasar hubungan sosial dalam menghilangkan dan
mencegah segala bentuk ketersaingan sosial, semua tingkat hubungan sosial umat
manusia. Istilah keadilan pada prinsipnya sila kelima Pancasila perlu dilihat dalam
hubungannya dengan istilah “hanya” dalam prinsip kedua Pancasila. Keadilan,
berarti “untuk memberikan apa kepada saya dan apa yang saya punya kepadanya.
Ini aspek sosial keadilan, karena hubungan seseorang dengan orang lain. Keadilan
dalam prinsip-prinsip kedua dan kelima dari Pancasila sebenarnya adalah
pengakuan nasional dan konsesus bahwa semua manusia pada dasarnya sama.
Tidak ada perbedaan dan diskriminasi dapat dibuat atas dasar latar belakang, ras,
agama, sosial, dan politik. Semua diskriminasi, pada dasarnya bertentangan

4
Johannes Gunawan, “Penggunaan Penjanjian Standard dan Implikasinya pada Kebebasan
Berkontrak”, Pro JustitiaVol. 5, Oktober 1987, hlm. 61.
5
Yunie Herawati, “Konsep Keadilan Sosial dalam Bingkai Sila Kelima Pancasila”, Vo. 18,
Januari 2015, hlm. 20-21.

5
dengan konsep keadilan dalam Pancasila. Sehingga, dimensi sosial keadilan
menjadi jelas bahwa setiap orang berhak untuk diperlakukan adil baik dalam
kepentingan umum maupun secara pribadi. 6
B. Uang Elektronik (E-Money)
Secara umum uang elektronik atau dalam bahasa Inggris disebut electronic
money adalah sebuah alat pembayaran yang menggantikan pembayaran
konvensional yang dapat digunakan dan didistribusikan sebagai alat tukar yang
disimpan dalam formal digital disebuah komputer atau micro chip dalam sebuah
kartu.7
Uang elektronik adalah alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur
sebagai berikut: diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetorkan terlebih dahulu
kepada penerbit, nilai uang yang disimpan secara elektronik dalam suat media
server atau chip, digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang
bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut.8
C. Tinjauan Umum Hukum Perlindungan Konsumen

1. Pengertian Perlindungan Konsumen


Pada hakikatnya, selain Pancasila yang merupakan sumber dari segala
sumber hukum terdapat dua instrumen hukum penting yang melandasi kebijakan
perlindungan konsumen di Indonesia, yaitu : pertama, Undang-Undang Dasar
1945 yang mengamanatkan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk
mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Tujuan pembangunan nasional
diwujudkan melalui sistem pembangunan ekonomi yang demokratis sehingga
mampu menumbuhkan dan mengembangkan dunia yag memproduksi barang dan
jasa yang layak dikonsumsi oleh masyarakat. Kedua, Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disingkat UUPK).
Lahirnya Undang-Undang ini memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia

6
Ibid., hlm. 24.
77
Linda Nur Hasanah, Kedudukan Hukum Uang Elektronik (e-money) dalam Melakukan
Transaksi Pembayaran Non Tunai, (Malang: Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim, 2018), hlm. 32.
8
Ibid.

6
untuk memperoleh perlindungan atas kerugian yang diderita atas transaksi suatu
barang dan jasa. UUPK menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen.9
Perlindungan konsumen termaktub didalam Pasal 1 angka 1 Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya
disebut UUPK) yang berbunyi : “Perlindungan konsumen adalah segala upaya
yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada
konsumen”.
Menurut Az. Nasution, hukum perlindungan konsumen merupakan bagian
dari hukum konsumen yang lebih luas, bahwa hukum konsumen yang memuat
asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur dan juga mengandung sifat yang
melindungi kepentingan konsumen. Adapun hukum konsumen diartikan sebgai
keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan
masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/jasa
konsumen, didalam pergaulan hidup.10
Sedangkan kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada
konsumen itu adalah dengan meningkatkan harkat dan martabat konsumen serta
membuka akses informasi tentang barang dan/atau jasa baginya, serta menumbuh
kembangkan sikap pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab.11
2. Pengertian Konsumen
Pengertian konsumen berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang
Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999 berbunyi : Konsumen adalah setiap
orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi
kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan
tidak untuk diperdagangkan.
Menurut istilah konsumen berasal dari kata consumer (Inggris, Amerika)
atau consumen/konsument (Belanda). Pengertian dari consumer atau consument
itu tergantung posisi mana ia berada. Secara harfiah arti kata consumer (lawan

9
Marzuki Ahmad, Perlindungan Konsumen di Indonesia, (Jakarta: Media Indonesia, 2007), hlm.
8.
10
Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: PT Sinar Grafika, 2008),
hlm. 13.
11
Adrian Sutedi, Tanggung Jawab Produk dalam Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Sinar
Grafika, 2008), hlm. 8.

7
dari produsen) setiap orang yang menggunakan barang. Tujuan penggunaan
barang dan jasa nanti menentukan termasuk konsumen kelompok mana pengguna
tersebut, begitu pula kamus Bahasa Inggris-Indonesia memberi arti consumer
sebagai pemakai atau konsumen.12
3. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
Berdasarkan Pasal 2 UUPK, yaitu :
a. Asas Manfaat
Maksud asas ini adalah untuk mengamanatkan bahwa segala upaya
dalam menyelnggarakan perlindungan konsumen harus memberikan
manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha
secara keseluruhan.
b. Asas keadilan
Asas ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat bisa
diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada
konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan
kewajiban secara adil.
c. Asas keseimbangan
Asas ini bermaksud untuk memberikan keseimbangan antara
kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintahan dalam arti
material dan spiritual.
d. Asas keamanan dan keselamatan konsumen
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan
dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan
pemanfaatan barang/jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
e. Asas Kepastian Hukum
Asas ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen
menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelengaraan
perlindungan konsumen serta negara menjamin kepastian hukum.

12
Anniza Triutami Ningsih, Perlindungan Konsumen Terhadap Pengguna Rokok Elektronik,
(Makassar Alumni, 2015), hlm. 11.

8
Berdasarkan yang dikemukakan diatas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa sangat penting untuk dapat melindungi konsumen dari berbagai hal
yang dapat mendatangkan kerugian bagi mereka. Konsumen perlu dilindungi,
karena konsumen dianggap memiliki suatu kedudukan yang tidak seimbang
dengan para pelaku usaha. Keseimbangan ini menyangkut bidang pendidikan
dan posisi tawar yang dimiliki oleh konsumen. Seringkali konsumen tidak
berdaya menghadapi posisi yang lebih kuat dari para pelaku usaha.13
4. Hak dan Kewajiban Konsumen
Hak dan kewajiban konsumen diatur dalam Pasal 4 dan Pasal 5
Undang-Undnag Perlindungan Konsumen. Dalam Pasal 4 UUPK diatur
mengenai hak-hak konsumen yaitu:
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang
dan/atau jasa tersebut mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai
dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
c. Hak atau informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa.
d. Hak untuk mendengar pendapat dan keluhannya atas barang dan atau jasa
yang digunakan.
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut.
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara besar dan jujur serta tidak
diskriminatif.
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian,
apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian
atau tidak sebagaimana mestinya.
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undnagan
lainnya.

13
Adrian Sutedi, Op.cit, hlm. 9.

9
Sedangkan secara garis besar ada tiga hal yang menjadi dasar hak-hak
konsumen :14
- Hak yang dimaksudkan untuk mencegah konsumen dari kerugian, baik
kerugian personal maupun kerugian harta kekayaan.
- Hak untuk memperoleh barang dan/jasa dengan harga yang wajar, dan
- Hak untuk memperoleh penyelesaian yang patut terhadap permasalahan
yang dihadapi.
Oleh karena ketiga hak/prinsip dasar tersebut merupakan himpunan
beberapa hak konsumen sebagaimana diatur dalam UUPK, maka hal tersebut
sangat esensial bagi konsumen, sehingga dapat dijadikan prinsip
perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia. Apabila konsumen benar-
benar akan dilindungi, maka hak-hak konsumen yang disebutkan diatas harus
dipenuhi, baik oleh pemerintah maupun oleh produsen, karena pemenuhan
hak-hak konsumen tersebut akan melindungi kerugian konsumen dari segala
aspek15. Oleh karena itu, untuk memenuhi tercapainya keadilan bagi
konsumen maka klausula baku dalam ketentuan e-money harus diubah agar
terwujudnya keadilan bagi pemilik e-money sesuai dengan Pasal-pasal
perlindungan konsumen.
Sedangakan kewajiban-kewajiban konsumen diatur dalam Pasal 5
Undang-Undang Perlindungan Konsumen, yaitu :
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian
atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan.
b. Beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau
jasa.
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen
secara patut.

14
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2011), hlm. 46-47.
15
Ibid., hlm. 14.

10
BAB III
METODE PENULISAN

A. Metode Pengumpulan Data

Data dalam suatu penelitian merupakan bahan yang sangat penting dan
sifatnya dalam penelitian ini adalah mutlak. Hal itu dikarenakan data yang
dirangkum juga berfungsi sebagai bahan untuk menjawab setiap poin-poin
pertanyaan yang ada dalam suatu penelitian sehingga nantinya masalah yang
meskipun tersirat dalam penelitian ini bisa terjawab atau terselesaikan dengan
baik. Kualitas data sangat ditentukan oleh kualitas alat pengumpulan datanya16.
Dalam penelitian ini sendiri data yang digunakan adalah data yang bersifat
sekunder. Data sekunder dapat berupa bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder, diperoleh dengan cara mempelajari dan mengkaji bahan-bahan
kepustakaan (literature research) berupa undang-undang, buku-buku, artikel,
jurnal, dan lain-lain.

B. Metode Pengolahan Data

Data bagi suatu penelitian merupakan bahan yang akan digunakan untuk
menjawab permasalahan penelitian. Oleh karena itu, data harus selalu ada agar
permasalahan penelitian ini dapat dipecahkan. Dalam penelitian ini jenis data
yang dikumpulkan bersifat sekunder.
Data sekunder dapat berupa bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder, diperoleh dengan cara mempelajari dan mengkaji bahan-bahan
kepustakaan (literature research) berupa undang-undang, buku-buku, artikel,
jurnal dan lain-lain.

16
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm
64

11
C. Metode Analisis Data

Data yang sudah terkumpul melalui kegiatan pengumpulan data belum


dapat ditarik kesimpulannya untuk mencapai tujuan penelitiannya, karena data
tersebut masih merupakan data mentah dan masih diperlukan suatu usaha atau
upaya untuk mengolahnya. Proses yang harus dilakukan adalah dengan
memeriksa kemudian meneliti data yang telah diperoleh untuk menjamin apakah
data dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan kenyataan. Setelah data diolah
lebih lanjut dan dirasa cukup maka selanjutnya akan disajikan dalam bentuk
narasi. Setelah data semuanya yang dibutuhkan terkumpul dan sudah diolah
dengan menggunakan narasi maka selanjutnya dianalisis secara kualitatif.
Dalam suatu penelitian selalu terdapat kesimpulan dan saran yang
kemudian nantinya dikemukakan sebagai tonggak dari penelitian tersebut.
Kesimpulan merupakan suatu pembuktian hipotesis yang ditulis secara ringkas
dan memuat informasi yang cukup sehingga pembaca mengetahui pembuktian
hipotesis tersebut. Menarik kesimpulan selalu harus didasarkan pada data yang
diperoleh dalam kegiatan penelitian (data yang telah diolah/ dianalisis). Dalam
penelitian ini sendiri, penarikan kesimpulannya adalah penarikan kesimpulan
deduktif yang berarti kesimpulan tersebut diambil dari suatu hal yang umum ke
sifat khusus dari hal tersebut. Kemudian ada juga saran. Saran merupakan catatan
lain yang menunjukkan kekurangan yang ditemukan dalam penelitian,
kemungkinan penelitian lanjut, maupun potensi yang dimiliki oleh metode
penelitian yang digunakan. Saran dalam penelitian ini sendiri bisa dikemukakan
ketika penelitian ini sudah selesai dilaksanakan nantinya sehingga bisa diketahui
hal-hal yang nantinya harus disempurnakan lebih lanjut lagi.

12
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Dampak dari Penggunaan Klausula Baku pada Kartu E-Money

Perkembangan teknologi telah mempengaruhi banyak aspek dalam


kehidupan manusia, salah satunya di bidang ekonomi yakni industri perbankan.
Pertumbuhan terhadap aplikasi jaringan komputerisasi perbankan mengurangi
biaya transaksi dan meningkatkan kecepatan layanan secara substansial.17
Akibatnya, pihak bank meningkatkan teknologi produksi mereka dengan
berfokus pada distributor produk, sehingga perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi saat ini telah mendorong perkembangan alat pembayaran
menggunakan kartu (Kartu ATM, Kartu Kredit, Kartu Debet), dan kartu prabayar
berbasis elektronik (e-money).
Metode pembayaran elektronik dengan menggunakan uang elektronik atau
yang lebih dikenal dengan e-money karakteristiknya lebih berbeda dengan metode
pembayaran elektronik yang telah disebutkan sebelumnya, karena penggunaan
uang elektronik tidak selalu membutuhkan proses otorisasi untuk pembebanan ke
rekening pengguna atau nasabah yang memakainya. Hal tersebut dikarenakan
pada e-money sudah terekam sejumlah nilai uang yang berupa saldo. Pada
prinsipnya jika orang yang memiliki e-money sama halnya dengan orang yang
mempunyai uang tunai, hanya saja nilai uang yang dimiliki dikonversikan dalam
bentuk elektronik (e-money). Uang elektronik sangat bermanfaat untuk melakukan
transaksi massal yang bernilai kecil, namun frekuensinya tinggi seperti
transportasi, parkir, tol, fast food, dan pembayaran-pembayaran lainnya.
Dalam peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang
Elektronik menyatakan bahwa yang dimaksud dengan uang elektronik (e-money)
adalah alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur berikut18 :

17
Dharfan Aprianto dkk, Jurnal Perkembangan Uang Elektronik dan Kartu Kredit di Indonesia
Periode 2007-2012, https://chibechan.wordpress.com/2013/07/ diakses pada tanggal 5 Maret 2019
pukul 18:08 WITA.
18
Pasal 1 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/2009/PBI tentang Uang Elektronik

13
a. Diterbitkan atas dasar uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang
kepada penerbit;
b. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau
chip;
c. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan
penerbit uang elektronik tersebut;
d. Nilai uang elektronik yang dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan
sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai
perbankan.
Uang elektronik (e-money) pada awalnya dikenal dengan sebutan kartu
penyimpanan dana (Stored Value Card) yaitu sebuah kartu yang berfungsi untuk
menyimpan sebuah dana dalam jumlah yang didepositkan. Fungsi ini hampir
sama dengan kartu debit, namun kartu penyimpanan dana tidak menyimpan
identitas dari pengguna atau pemilik kartu. Dilihat dari media yang digunakan,
ada dua tipe produk uang elektronik (e-money) yaitu19:
1. Prepaid Card/kartu prabayar, dengan karakteristik:
a. Nilai uang yang dikonversi menjadi nilai elektronik dan disimpan dalam
suatu chip, yang tertanam dalam kartu;
b. Mekanisme pemindahan dana dilakukan dengan cara memasukkan kartu
ke suatu alat card reader.
2. Prepaired software/digital cash, dengan karakteristik:
a. Nilai uang dikonversikan menjadi nilai elektronik dan disimpan dalam
suatu hard disk komputer yang terdapat dalam Personal Computer (PC).
b. Mekanisme pemindahan dana dilakukan secara online melalui suatu
jaringan komunikasi seperti internet pada saat melakukan pembayaran.
Penerbit dapat menerbitkan jenis uang elektronik yang mewajibkan
pendaftaran data identitas pemegang (registered), dan jenis uang elektronik yang
tidak memerlukan data identitas pemegang (unregistered). Pencatatan data
identitas pemegang uang elektronik paling sedikit memuat nama, alamat, tanggal

19
R. Serfianto, dkk, Untung dengan Kartu Kredit, Kartu ATM-Debit, & Uang Elektronik, (Jakarta:
Visi Media, 2012), hlm. 98.

14
lahir, dan data lain yang tercantum sesuai ketentuan. Salah satu penyedia layanan
uang elektronik atau e-money yang dapat digunakan sebagai salah satu metode
pembayaran elektronik adalah kartu e-money Mandiri.

Gambar 1. Gambar 2.
Tampak Depan Kartu E-Money Tampak Belakang Kartu E-Money
yang diterbitkan oleh Bank yang diterbitkan oleh Bank
Mandiri Mandiri

Dalam pembelian kartu e-money pada penerbit yang dalam hal ini Bank
Mandiri, kartu akan dilengkapi dengan syarat dan ketentuan penggunaan kartu e-
money tersebut. Adapun syarat dan ketentuan penggunaan kartu e-money Mandiri
dari penerbit ini yaitu:20
1. Penggunaan Mandiri e-Money
a. Mandiri e-money milik Bank dan atas permintaan Bank kepada pemegang
kartu, wajib segera mengembalikan Mandiri e-money kepada Bank tanpa
syarat;
b. Bank tidak berkewajiban untuk mengganti kerugian akibat kartu yang
rusak karena kelalaian pemegang kartu, hilang, dicuri atau digunakan oleh
pihak yang tidak bertanggung jawab dan tidak akan mengganti kartu yang
hilang dengan kartu yang baru;
c. Saldo yang terdapat dalam kartu tidak termasuk dalam program
penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS);

20
Syarat dan ketentuan Mandiri E-Money, https://www.bankmandiri.co.id/syarat-dan-ketentuan-
mandiri-e-money diakses pada tanggal 6 Maret 2019 pukul 12:17 WITA

15
d. Pengguna kartu hanya dapat dilakukan sebatas saldo yang tersimpan pada
kartu;
e. Pemegang kartu tidak diperkenankan merusak, memanipulasi, mengcopy
dan/atau mengubah fisik maupun isi data kartu;
f. Pemegang kartu bertanggung jawab dan wajib melaporkan kepada
penerbit apabila terjadi penggandaan (Cloning) dan penggunaan oleh
pihak yang tidak berwewenang untuk melakukan transaksi;
g. Dalam hal kartu hilang, penerbit tidak akan melakukan pemblokiran, tidak
menggantikan fisik dan tidak mengganti saldo;
h. Dalam hal kartu rusak, penerbit tidak akan melakukan pemblokiran, tidak
akan menggantikan fisik kartu, namun akan mengembalikan saldo;
i. Pencantuman nama, tandatangan atau tanda-tanda apapun pada kartu
bukan merupakan petunjuk atau bukti kepemilikan kartu;
j. Bank penerbit berhak secara sepihak menghentikan atau menangguhkan
pelayanan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemegang kartu
atas dasar permasalahan teknis maupun non teknis.
2. Masa berlaku Mandiri e-money
Kartu tidak memiliki masa berlaku, namun apabila dalam jangka waktu 12
(dua belas) bulan tidak digunakan untuk melakukan transaksi maka pada saat
pengaktifan kembali akan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp. 10.000
(sepuluh ribu rupiah).
3. Penutupan Mandiri e-money
Penutupan kartu dapat terjadi apabila ditutup oleh bank penerbit akibat tidak
terpenuhinya hal-hal yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh
pemegang kartu, maupun atas permintaan pemegang kartu yang bersangkutan
yang ajukan secara tertulis. Saldo yang masih tersisa akan dikembalikan
setelah dikurangi biaya administrasi. Proses penutupan kartu dan
pengembalian saldo dilakukan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari
kerja setelah dokumen lengkap diterima oleh bank penerbit.
4. Redemption

16
Pemegang kartu dapat mengajukan redemption atau pengembalian saldo kartu
ke cabang Bank Mandiri terdekat dengan dikenakan biaya administrasi.
5. Penyelesaian sengketa (dispute) transaksi Mandiri e-money
Penyelesaian sengketa (dispute) transaksi Mandiri prabayar pemegang kartu
dapat mengajukan keluhan atas dispute transaksi maksimal 30 (tiga puluh)
hari kerja sejak tanggal transaksi. Pengajuan keluhan dilakukan secara tertulis
dengan melampirkan fotokopi bukti-bukti transaksi dan bukti lainnya yang
mendukung pengaduan. Bank penerbit akan melakukan pemeriksaan atau
investigasi atas pengaduan pemegang kartu.
6. Batas pertanggungjawaban (Liability)
a. Bank dan seluruh pejabat, pegawai dan mitra terkait tidak dapat diminta
pertanggung jawaban oleh pemegang kartu atau pihak manapun yang
mengajukan tuntutan atas :
- Kehilangan kartu oleh pemegang kartu;
- Kerusakan kartu akibat kecerobohan pemegang kartu, termasuk tidak
menggunakan atau menempatkan kartu sesuai petunjuk penggunaan;
- Kerugian sejumlah nilai uang dalam kartu akibat penggunaan
transaksi pembayaran yang tidak benar;
- Kartu digunakan oleh pihak lain yang tidak berwenang dan/atau hasil
penggandaan (cloning)
b. Dengan tidak membatasi hal-hal tersebut, bank penerbit termasuk mitra
tidak bertanggungjawab atas tuntutan atau klaim mengenai:
- Segala kerugian atas kerusakan karena tidak beroprasinya sistem
akibat bencana alam, perang, pemberontakan, kerusuhan umum,
dan/atau adanya peraturan atau larangan pemerintahan atau hal-hal
yang diluar kuasa lainnya;
- Segala kerugian atau kehilangan data kerena penggunaan kartu oleh
pihak yang tidak berwewenang.
7. Kerahasiaan informasi Pemegang Kartu
Keamanan informasi pribadi pemegang kartu akan dilindungi oleh bank
penerbit, termasuk mewajibkan perusahaan lain yang akan melakukan

17
kerjasama merchant akan diwajibkan untuk melindungi kerahasiaan
pemegang kartu.
8. Hukum yang Berlaku dan Domisili
- Syarat dan ketentuan mengenai penggunaan Mandiri e-money ini tunduk
pada hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia
- Berkenaan dengan syarat dan ketentuan mengenai penggunaan Mandiri
e-money dan segala akibatnya, Bank dan Pemegang Kartu setuju untuk
memilih tempat kediaman hukum di tempat Pemegang Kartu membeli
kartu perdana Mandiri e-money.
- Dalam hal terjadi perselisihan maka para pihak sepakat untuk
menyelesaikannya secara musyawarah dan apabila tidak terjadi
kesepakatan, maka para pihak sepakat untuk menyelesaikannya melalui
Pengadilan Negeri sesuai domisili tergugat.
9. Lain-lain
- Syarat dan ketentuan umum Mandiri e-money, termasuk jenis/bentuk
layanan setiap saat dapat diubah oleh Bank tanpa pemberitahuan terlebih
dahulu kepada Pemegang Kartu;
- Atas perubahan, penambahan atau penggantian syarat dan ketentuan
mengenai penggunaan Mandiri e-money tersebut tetap akan mengikat
pemegang kartu.
- Perubahan, penggantian, dan/atau penambahan tersebut dilakukan
melalui:
1. Pemberitahuan yang ditempel pada Cabang Bank atau counter
2. Diumumkan melalui website Bank (www.bankmandiri.co.id)
3. Diumumkan melalui media cetak dan/atau elektronik; dan/atau
4. Media lain yang ditentukan kemudian.
- Seluruh jenis dan besarnya biaya dapat berubah sewaktu-waktu melalu
pemberitahuan atau pengumuman
Syarat dan ketentuan tersebut menjadi suatu bentuk perjanjian antara
penerbit dan pemegang kartu dalam penggunaannya pada transaksi e-money.
Salah satu acuan penting pada Undang-Undang Perlindungan Konsumen yaitu

18
dengan adanya peraturan mengenai pencantuman klausula baku dalam perjanjian.
Dimana dasar peraturan dalam penggunaan alat pembayaran elektronik
menggunakan e-money adalah dengan menggunakan perjanjian baku, maka
pencantuman klausula baku yang seimbang haruslah diatur.
Perjanjian baku merupakan terjemahan dari standard contract, baku berarti
acuan atau patokan. Perjanjian baku adalah perjanjian yang isinya dibakukan dan
dituangkan dalam bentuk formulir.21 Perjanjian baku merupakan konsep janji-janji
tertulis yang disusun tanpa membicarakan isi dan lazimnya dituangkan dalam
perjanjian yang sifatnya tertentu.22
Klausula baku biasanya dibuat oleh pihak yang kedudukannya lebih kuat,
yang dalam kenyataannya biasa dipegang oleh pelaku usaha atau penerbit. Isi
klausula baku seringkali merugikan pihak yang menerima klausula baku tersebut
yaitu pihak konsumen atau pemegang kartu e-money karena dibuat secara sepihak
oleh pihak penerbit. Klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan yang
syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara
sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau
perjanjian mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Pembuat undang-undang
ini menerima kenyataan pemberlakuan standard kontrak adalah suatu kebutuhan
yang tidak bisa dihindari sebab sebagaimana dikatakan oleh Syahdeini, perjanjian
baku standar/kontrak adalah suatu kenyataan yang memang lahir dari kebutuhan
masyarakat. Pada dasarnya klausula baku merupakan perwujudan dari asas-asas
kebebasan berkontak yang mana asas tersebut terdapat dalam UUPK dan hukum
perjanjian syariah. Akan tetapi dalam kenyataan dan implementasinya klausula ini
menjadi pembatasan dalam berkontrak.23
Salah satu masalah yang timbul bagi konsumen dalam hal ini pemegang
uang elektronik (e-money) adalah kerusakan kartu yang mengakibatkan gagalnya
transaksi pembayaran karena uang elektronik tidak dapat terbaca oleh alat reader
di merchant sehingga mengakibatkan gagalnya transakasi. Sehingga kerusakan

21
Mariam Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank, (Bandung: Alumni, 1978), hlm 48.
22
Ibid. hlm. 49.
23
M. Roji Iskandar, Pengaturan Klausula Baku dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen
dan Hukum Perjanjian Syariah, Awaluna Vol. 1, Juli 2017, hlm. 200.

19
kartu tersebut membuktikan tidak adanya jaminan keamanan, kenyamanan dan
kemudahan dalam bertransaksi. Dan akibatnya menurut Undang-Undang
Perlindungan Konsumen dapat mengajukan ganti rugi. Namun dalam praktiknya
perjanjian yang mencantumkan klausula-klausula baku yang dibuat secara sepihak
oleh pelaku usaha yang sangat merugikan konsumen karena kewajiban mereka
lebih banyak daripada haknya-haknya sehingga pencantuman klausula baku pada
perjanjian diatur khusus dalam Pasal 18 Undang-undang Perlindungan Konsumen.
Pasal 18 Undang-undang Perlindungan Konsumen dimaksudkan untuk
menempatkan kedudukan konsumen setara dengan pelaku usaha berdasarkan asas
kebebasan berkontrak.24 Selain hal tersebut ketentuan atau syarat tentang waktu
pengembalian klaim ganti rugi selama 14 hari, tidak pernah diinformasikan dari
awal perjanjian kepada pemegang e-money. Waktu pengembalian klaim ganti rugi
selama 14 hari, tidak pernah diinformasikan dari awal perjanjian kepada
pemegang e-money. Waktu 14 hari dalam proses pengembalian ganti rugi tidak
sesuai dengan ketentuan tentang waktu pengembalian ganti rugi yang diatur dalam
Pasal 19 ayat (3) Undang-Undnag Perlindungan Konsumen yaitu tenggang waktu
pengembalian ganti rugi selama 7 hari. Hal ini telah mengabaikan hak-hak
konsumen atas informasi yang benar, jelas dan jujur sebagai kewajiban pelaku
usaha yang diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Perlindungan Konsumen.25
Dari segi isi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen mensyaratkan bahwa tidak boleh ada klausula baku yang memuat
kontrak yang tidak adil. Sedangkan klausula dan syarat serta ketentuan e-money
yang dikeluarkan dari bank penerbit dalam hal ini adalah Bank Mandiri telah jelas
memuat klausula yang tidak adil terhadap konsumen. Padahal pada dasarnya harus
ada keseimbangan antara pihak yang membuat ketentuan dalam hal ini Bank
Mandiri dengan pihak yang mengikatkan dirinya dalam hal ini konsumen.
Dinyatakan secara tegas dalam Pasal 18 ayat (3) UUPK akibat hukum dari suatu
perjanjian baku yang notabene merugikan konsumen adalah batal demi hukum

24
Mintarsih, Perlindungan Konsumen Pemegang Uang Elektronik (e-money) dihubungkan
dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Wawasan
Hukum Vol. 29, September 2013, hlm. 898-899.
25
Ibid., hlm. 899-900.

20
yaitu perjanjian tersebut dianggap tidak pernah ada dan mengikat para pihak
dalam perjanjian, maka para pihak saling bersinergi mengembalikan keadaan atau
perbuatan hukum yang telah terjadi pada keadaan semula.

B. Perlindungan Hukum Bagi Pemilik Kartu E-Money serta Penerapan


Nilai-Nilai Pancasila dalam Klausula Baku Untuk Mencapai Prinsip
Keadilan
Uang elektronik (e-money) sebagai salah satu alat pembayaran non tunai
sudah memiliki peran yang sangat penting bagi sebagian masyarakat. Kecepatan,
kemudahan, dan ketepatan dalam bertransaksi menjadi salah satu daya tarik bagi
masyarakat untuk menggunakan produk e-money ini, sehingga dari tahun ke tahun
pengguna kartu e-money semakin bertambah. Namun, disisi lain penggunaan kartu
e-money juga memiliki berbagai potensi resiko keamanan. Potensi resiko yang
bisa terjadi dalam melakukan transaksi dengan kartu e-money adalah seperti
pencurian kartu, pemalsuan, dan duplikasi kartu. Sehingga untuk mengurangi
resiko terjadinya penyalahgunaan tersebut, diperlukan perhatian dari
penyelenggara e-money dan harus mewujudkan kepastian hukum yang kuat, serta
transparan dan mampu menjamin perlindungan terhadap para pemegang kartu e-
money.
Pihak-pihak yang menerbitkan uang elektronik (e-money) harus
mengutamakan prinsip perlindungan bagi nasabah dalam penyelenggaraan
kegiatannya dengan menyampaikan informasi yang jelas, dan secara tertulis
kepada pemegang kartu. Kewajiban penyelenggara sistem pembayaran elektronik
terhadap pemegang kartu uang elektronik (e-money) didasarkan bahwa
penyelenggara dan pemegang kartu kedudukannya tidak sejajar.26
Dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa konsumen memiliki hak-hak yang
harus dilindungi oleh pelaku usaha yaitu antara lain:
a. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang atau jasa;

26
John Pieris dan Wiwik Sri Widiarty, Negara Hukum dan Perlindungan Konsumen Terhadap
Produk Pangan Kadaluwarsa, (Jakarta: Pelangi Cendikia, 2007), hlm 54.

21
b. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
diperjanjikan;
c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang atau jasa;
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang atau jasa yang
digunakan;
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya;
i. Hak untuk diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Terkait dengan perlindungan pemegang kartu atau pemilik e-money
sebagai konsumen uang elektronik yang diatur dalam Undang-Undang
Perlindungan Konsumen yang secara garis besar telah memberikan perlindungan
terhadap konsumen untuk menikmati produk mereka secara jelas dan tidak
menyesatkan. Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengatur pelaku usaha
perbankan untuk memberikan tanggung jawabnya kepada konsumen berupa27:
1. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
2. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan jasa yang dibelikannya;
3. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif;
4. Menjamin kegiatan usaha perbankan berdasarkan ketentuan standart
perbankan yang berlaku.

27
Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,
2006), hlm 338.

22
Walaupun keberadaaan Undang-Undang Perlindungan Konsumen telah
memberikan posisi tawar-menawar yang lebih kuat terhadap pelaku usaha
(penerbit), namun Undang-Undang tersebut tidak secara jelas mengatur
bagaimana menyelenggarakan sebuah sistem elektronik yang handal dan aman
dalam melindungi konsumen.
Dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/11/DASP Tahun 2009
tentang Uang Elektronik, lebih lanjut diatur penyelenggaraan penerapan
manajemen resiko operasional para penyelenggara kegiatan uang elektronik wajib
meningkatkan keamanan teknologi uang elektronik untuk mengurangi tingkat
kejahatan dan penyalahgunaan uang elektronik sekaligus untuk meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan uang elektronik sebagai alat
pembayaran. Peningkatan keamanan yang dapat dilakukan adalah dengan
menggunakan konsep proven techonology yang memenuhi unsur-unsur sebagai
berikut:28
1. Adanya sistem teknologi yang memenuhi prinsip-prinsip sebagai
berikut;
a. Kerahasiaan data
b. Integritas sistem dan data
c. Otentikasi sistem dan data
d. Pencegahan terjadinya pengangkalan transaksi yang telah
dilakukan; dan
e. Ketersediaan sistem. Seluruh prinsip ini dilakukan secara efektif
dan efisien dengan memperhatikan kepatuhan terhadap ketentuan
yang berlaku.
2. Adanya sistem dan prosedur untuk melakukan audit trail;
3. Adanya kebijakan dan prosedur internal untuk sistem dan Sumber
Daya Manusia (SDM);
4. Adanya Business Contiuity Plan (BCP) yang dapat menjamin
kelangsungan penyelenggaraan uang elektronik. BCP ini meliputi
tindakan preventif maupun contingency plan (termasuk penyedia saran

28
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/11/DASP Tahun 2009 tentang Uang Elektronik

23
back-up) jika terjadi kondisi darurat atau gangguan yang
mengakibatkan sistem utama penyelenggaraan e-money tidak dapat
digunakan.
Sedangkan perlindungan hukum bagi pemegang atau pemilik kartu e-
money dapat dilakukan dengan bentuk perlindungan hukum preventif dan
perlindungan hukum represif. Bentuk perlindungan preventif bagi pemegang atau
pemilik kartu e-money dapat diwujudkan dengan memperbaharui pengaturan
ketentuan tentang penggunaan perjanjian standard atau perjanjian baku yang lebih
rinci mengenai karakter, hakikat, pembagian hak, dan kewajiban berdasarkan
nilai-nilai Pancasila yang dituangkan dalam bentuk undang-undang atau peraturan
lainnya, yang memberi wadah atau tempat berlindung bagi pemilik kartu e-money
melalui pengaturan klausula-klausula dalam perjanjian baku syarat dan ketentuan
pemegang kartu.
Penulis dapat memberikan contoh pengaturan ketentuan tentang beberapa
implementasi nilai-nilai Pancasila dalam klausula-klausula baku sebagai berikut:
1. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila kedua ini mengandung makna keseimbangan atau kesederajatan.
Contoh klausula yang dapat diterapkan dalam perjanjian baku Mandiri e-money
terkait klausula kesederajatan:
“Bank penerbit berhak secara sepihak menghentikan atau menangguhkan
pelayanan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemegang kartu atas
dasar permasalahan teknis maupun non teknis.”
Menjadi:
“Bank penerbit berhak menghentikan atau menangguhkan pelayanan dengan
pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemegang kartu atas dasar
permasalahan teknis maupun non teknis.”
2. Persatuan Indonesia
Sila ini mengandung makna kesatuan dan persatuan. contoh klausula baku
yang dapat diterapkan dalam syarat dan ketentuan Mandiri e-money :
“Berkenaan dengan syarat dan ketentuan mengenai penggunaan Mandiri e-
money dan segala akibatnya, Bank dan Pemegang Kartu sepakat untuk

24
memilih domisili hukum di tempat Pemegang Kartu membeli kartu perdana
Mandiri e-money.”
3. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
Sila ini mengandung makna win-win solution bagi para pihak yang
bersengketa. Contoh klausula baku yang dapat diterapkan terkait dengan
klausula penyelesaian sengketa yaitu:
“Dalam hal terjadi perselisihan maka para pihak sepakat untuk
menyelesaikannya secara musyawarah mufakat.”
4. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Sila ini mengandung makna tentang nilai moral keadilan bersama atau
kolektif. Contoh klausula baku yang dapat diterapkan dalam perjanjian terkait
dengan pengaturan hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian yaitu:
“Dalam hal kartu hilang, penerbit tidak akan melakukan pemblokiran, tidak
menggantikan fisik dan tidak mengganti saldo”
Menjadi
“Dalam hal kartu hilang, penerbit wajib melakukan pemblokiran pada kartu e-
money yang telah dilaporkan oleh pemilik kartu, tidak menggantikan fisik,
namun mengembalikan saldo yang masih terdapat dalam kartu yang telah
diblokir.”
Bentuk perlindungan represif dapat ditempuh oleh para pihak, baik sebagai
penerbit maupun sebagai pemilik kartu melalui pola penyelesaian sengketa yang
dapat dibagi menjadi dua macam yaitu melalui pengadilan (upaya litigasi) dan
alternatif penyelesaian sengketa diluar pengadilan (non litigasi) yang terdiri atas
konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan penilaian ahli.29
Penyelesaian sengketa antara penerbit dan pemilik kartu tunduk pada
hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perselisihan yang
terjadi atas kesepakatan antara kedua belah pihak diselesaikan melalui:
1. Penyelesaian secara musyawarah

29
Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet, (Jakarta: Elex Media
Komputindo, 2010), hlm. 256

25
2. Jika musyawarah tidak menemukan kesepakatan, maka para pihak
dapat menyelesaikannya melalui Pengadilan Negeri sesuai dengan
domisili tergugat
3. Bentuk atau cara penyelesaian lain sesuai dengan kesepakatan para
pihak.
Hukum yaitu memberikan jaminan dan keamanan dalam kehidupan sosial
termasuk terhadap pemegang atau pemilik kartu e-money dalam kegiatan
bertransaksi melalui uang elektronik berhak memperoleh jaminan terhadap nilai
uang tunai sesuai kaidah hukum yang berlaku. Perlindungan hukum merupakan
upaya mempertahankan dan memelihara kepercayaan masyarakat atau konsumen
sebagai pemegang/pemilik kartu e-money, maka sudah seharusnya diberikan
perlindungan oleh pemerintah, sehingga pemerintah perlu dan harus berusaha
memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat dalam bertransaksi,
sehingga dapat terciptanya proses transaksi yang sesuai dengan prinsip-prinsip
perlindungan konsumen dan nilai-nilai Pancasila.

26
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari keseluruhan uraian maka karya ilmiah dengan judul “Re-Make of Law
for Justice: Mewujudkan Keadilan Bagi Pemilik E-Money Melalui Perubahan
Klausula Baku Dalam Perjanjian” ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengaturan alat pembayaran menggunakan uang elektronik (e-money) dalam
melakukan transaksi e-money diatur oleh Bank Indonesia melalui Peraturan
Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik termasuk
diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/11/DASP Tahun 2009
tentang Uang Elektronik. Pengaturan ini mengatur mengenai tata cara dan
syarat para pihak terkait kegiatan uang elektronik dalam menjalankan
kegiatan uang elektronik. Lebih lanjut, penerbit menentukan syarat dan
ketentuan penggunaan kartu e-money dalam bentuk perjanjian baku yang
ditujukan kepada pemegang/pemilik kartu. Dalam Undang-Undang
Perlindungan Konsumen, ditentukan larangan terhadap pencantuman klausula
baku yang akan merugikan konsumen yang dalam hal ini pemegang/pemilik
kartu.
2. Perlindungan hukum bagi pemegang/pemilik kartu dalam kegiatan
pembayaran menggunakan uang elektronik (e-money) dilakukan melalui
upaya perlindungan hukum secara preventif yaitu melalui aturan-aturan yang
ditetapkan oleh pemerintah maupun dalam bentuk perjanjian antara penerbit
dan pemegang/pemilik kartu e-money guna menciptakan prinsip keadilan
berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan mencegah terjadinya pelanggaran.
Upaya dalam bentuk represif yaitu melalui penyelesaian sengketa. Bank
Indonesia selaku Bank sentral akan melakukan pengawasan dalam proses
pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan uang elektronik agar kegiatan
bertransaksi uang elektronik dapat berjalan sesuai ketentuan berlandaskan
prinsip keadilan bagi kedua belah pihak.

27
B. Saran
Penerapan kebijakan penggunaan uang elektronik (e-money) harus
menerapkan prinsip keadilan dengan menyeimbangkan aspek hak dan
kewajiban antara pelaku usaha dengan konsumen dalam hal ini pemegang
uang elektronik serta pengaturan yang jelas tentang perlindungan hukum
terhadap konsumen yang menggunakan jasa uang elektronik sehingga
mempunyai kekuatan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan demi
terwujudnya cita-cita Pancasila dan Undnag-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia. Disamping itu, Penerbit yang memproduksi uang elektronik
haruslah mengedepankan iktikad baik dengan memberikan informasi yang
jelas dan rinci terkait dengan dampak-dampak yang akan diterima oleh
konsumen.

28
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Perundang-Undangan

UUD NRI 1945


Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW)
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 j.o Undang-Undang Nomor 23 Tahun
1999 tentang Bank Indonesia
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/11/PBI 2009 tentang Penyelenggaraan
Kegiatan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu
Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (E-
Money)
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/11/DASP Tahun 2009 tentang Uang
Elektronik (E-Money)

Buku
Ahmad, Marzuki. Perlindungan Konsumen di Indonesia, Media Indonesia,
Jakarta, 2007.
Badrulzaman, Mariam. Perjanjian Kredit Bank, Alumni, Bandung, 1978.
Djumhana, Muhammad. Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2006.
Hariyani, Iswi. Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet, Elex Media
Komputindo, Jakarta, 2010.
Hasanah, Linda Nur Hasanah. Kedudukan Hukum Uang Elektronik (e-money)
dalam Melakukan Transaksi Pembayaran Non Tunai, Fakultas Syariah
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, 2018.
Imaniyanti, Neni Sri. Hukum Ekonomi dan Ekonomi Islam dalam Perkembangan,
Mandar Maju, Bandung, 2002.

29
Miru, Ahmadi dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, PT
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011.
Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, Bumi Aksara,
Jakarta, 2009.

Ningsih, Anniza Triutami. Perlindungan Konsumen Terhadap Penguna Rokok


Elektronik, Alumni, Makassar, 2015.
Panggabean, H.P. Praktik Standaard Contract (Perjanjian Baku) Dalam
Perjanjian Kredit Perbankan, PT Alumni, Bandung, 2012.
Pieris, John dan Wiwik Sri Widiarty, Negara Hukum dan Perlindungan
Konsumen Terhadap Produk Pangan Kadaluwarsa, Pelangi Cendikia,
Jakarta, 2007.
Serfianto, R., dkk, Untung dengan Kartu Kredit, Kartu ATM-Debit, & Uang
Elektronik, Visi Media, Jakarta, 2012.
Sutedi, Adrian. Tanggung Jawab Produk dalam Hukum Perlindungan Konsumen,
Sinar Grafika, Jakarta, 2008.

Jurnal
Iskandar, M. Roji. Pengaturan Klausula Baku dalam Undang-Undang
Perlindungan Konsumen dan Hukum Perjanjian Syariah, Awaluna
Volume 1, 2017.
Mintarsih, Perlindungan Konsumen Pemegang Uang Elektronik (e-money)
dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen, Wawasan Hukum Volume 29, 2013.
Johannes Gunawan. Penggunaan Penjanjian Standard dan Implikasinya pada
Kebebasan Berkontrak, Pro Justitia,Volume 5, 1987.
Yunie Herawati. Konsep Keadilan Sosial dalam Bingkai Sila Kelima Pancasila,
Volume 18, 2015.

30
Website Resmi
Dharfan Aprianto dkk, Jurnal Perkembangan Uang Elektronik dan Kartu Kredit
di Indonesia Periode 2007-2012,
https://chibechan.wordpress.com/2013/07/ diakses pada tanggal 5 Maret
2019 pukul 18:08 WITA
https://www.bankmandiri.co.id/syarat-dan-ketentuan-mandiri-e-money diakses
pada tanggal 6 Maret 2019 pukul 12:17 WITA.
http://erepo.unud.ac.id/11207/3/bb43a90d9f489482a0f42561bf957778.pdf
diakses pada tanggal 5 Maret 2019 pukul 17:46 WITA.
https://www.dictio.id/t/bagaimana-risiko-yang-ditimbulkan-dari-penerapan-e-
money/15965 diakses pada tanggal 6 Maret 15:27 WITA.
http://etheses.uin-malang.ac.id/12883/1/13220197.pdf diakses pada tanggal 5
Maret 2019 pukul 17.55 WITA.
https://www.nurulfikri.ac.id/index.php/id/artikel/item/1549-pengaruh-
perkembangan-teknologi-terhadap-ekonomi-dan-industri diakses pada
tanggal 6 Maret pukul 21:00 WITA.

31