Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Bisnis keluarga merupakan salah satu bentuk bisnis yang melibatkan sebagian
anggota keluarga di dalam kepemilikan atau operasi bisnis. Kehadiran Perusahaan
Keluarga memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perekonomian suatu negara.
Untuk mempertahankan keberlangsungannya, diperlukan calon penerus yang dapat
mempertahankan dan mengembangkan perusahaan kearah yang lebih baik.
Perusahaan keluarga (family business) merupakan suatu fenomena umum yang
terjadi di mana-mana, sebagai respons kepala keluarga untuk menjamin kualitas hidup
yang lebih baik bagi keluarganya dengan cara membuka unit usaha. Bentuk perusahaan
keluarga merupakan pilihan yang dominan ketika seseorang mendirikan bisnis untuk
pertama kalinya. Pramono (2006) menyatakan bahwa alasan memilih lingkup keluarga
sebagai dasar awal menjalankan bisnis adalah karena pemilik bisnis membutuhkan
perasaan aman dalam menjalankan bisnis. Perasaan aman tersebut terbagi atas dua
kategori, yakni kategori keterikatan emosional dan masalah penghargaan. Keterikatan
emosional meliputi keyakinan pemilik bahwa anggota keluarga akan berbuat jujur dan
tidak akan merusak sistem yang dibangun oleh pemilik perusahaan. Berkaitan dengan
penghargaan, pemilik tidak akan terlalu merasa bersalah jika perusahaan masih dalam
kondisi sulit pemilik memberikan gaji yang lebih kecil, atau tidak akan keberatan
memberikan penghargaan yang lebih tinggi jika kondisi perusahaan membaik, karena
mereka adalah keluarga.
Dalam perjalanan sebuah bisnis tentunya harus ada re-organisasi atau penggantian
pengurus. Dimana dalam bisnis keluarga penggantian pengurus juga dilakukan oleh
anggota keluarga yang lain, hal tersebut terjadi umumnya karena masalah usia. Usia
menjadi alasan utama penggantian pengurus di dalam bisnis keluarga untuk diturunkan
kepada yang lebih muda. Tetapi di dalam menurunkan bisnisnya seseorang tidak begitu
saja dapat secara langsung memberikannya tetapi juga melihat hal-hal lain seperti
kecakapan seseorang dalam memimpin sebuah perusahaan. Hal ini lah yang menentukan
kesuksesan sebuah usaha keluarga. Walaupun secara kontekstual bisnis keluarga tetap
harus memperhatikam factor-faktor yang dapat menunjang kemajuan sebuah usaha
keluarga, maka dari itu dapat di pelajari bagaimana menyusun sebuah perencanaan suksesi
usaha keluarga.

2. Rumusan Masalah
a. Pengertian Bisnis Keluarga
b. Manajemen dan mekanisme Usaha keluarga
c. Perencanaan suksesi Usaha Keluarga

3. Tujuan Masalah
a. Mengetahui definisi Bisnis Keluarga
b. Mengetahui manajemen dan mekanisme menjalankan Usaha keluarga
c. Mengetahui Perencanaan Suksesi Usaha keluarga
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Usaha Keluarga

Dari 24 juta perusahaan keluarga di Amerika Serikat, 55% perusahaan yang CEO-nya
berusia lebih dari 61 tahun dan diharapkan untuk pensiun, dalam lima tahun terakhir belum
memilih seorang penerus (The Mass Mutual Financial Group, 2003).

Bagaimana di Indonesia? Dari hasil survei The Jakarta Consulting Group, perusahaan-
perusahaan keluarga di Indonesia ternyata belum semuanya mempersiapkan penerus
melalui perencanaan suksesi untuk memimpin perusahaan. Responden yang telah
mempersiapkan penerus melalui perencanaan suksesi sebanyak 67,8% sedangkan yang lain
(32,2%) tidak atau belum mempersiapkannya.

Perusahaan keluarga adalah sebuah perusahaan yang dimiliki, dikontrol, dan dijalankan
oleh anggota sebuah atau beberapa keluarga atau dikelola oleh anggota-anggota
keluarganya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa semua pekerja dalam perusahaan
harus merupakan anggota keluarga. Banyak perusahaan keluarga, terutama perusahaan-
perusahaan kecil, memperkerjakan orang lain untuk menempati posisi rendahan, sementara
posisi tinggi (top manager) dipegang oleh orang dari dalam keluarga pemilik perusahaan.
Misalnya saja pemilik perusahaan adalah bapaknya, direkturnya anak pertama, dan wakil
direkturnya anak kedua.

Definisi Usaha Keluarga


1. Usaha Keluarga (family business) adalah suatu perusahaan yang kepemilikannya
melibatkan fungsi dua atau lebih anggota keluarga yang sama secara langsung dalam
sebuah usaha.
2. Menurut Longenecker, dkk (2003), usaha keluarga adalah:
“A family business is a company in which two or more members of the same family
share ownership or work in its operation”. (“Usaha keluarga adalah suatu perusahaan
di mana dua atau lebih anggota keluarga sama-sama berperan sebagai pemilik atau
bekerja bersama dalam operasi bisnis”).
3. Usaha Keluarga merupakan usaha yang kepemilikannya diwariskan dari generasi
suatu keluarga pada generasi berikutnya.

Dalam terminologi bisnis, perusahaan keluarga terbagi menjadi dua macam :

1. Family owned enterprise (FOE), yaitu perusahaan yang dimiliki oleh keluarga
tetapi dikelola oleh profesional yang berasal dari luar lingkaran keluarga.
Keluarga hanya berperan sebagai pemilik dan tidak melibatkan diri dalam
operasi di lapangan. Perusahaan seperti ini merupakan bentuk lanjutan dari usaha
yang semula dikelola oleh keluarga yang mendirikannya.
2. Family business enterprise (FBE), yaitu perusahaan yang dimiliki dan dikelola
oleh keluarga pendirinya. Perusahaan tipe ini dicirikan oleh dipegangnya posisi-
posisi kunci dalam perusahaan oleh anggota keluarga. Jenis perusahan keluarga
inilah yang banyak terdapat di Indonesia.

Banyak contoh perusahaan yang dibangun selama puluhan tahun oleh generasi
pertama ambruk dalam hitungan cepat lantaran kecerobohan yang dilakukan generasi
kedua atau ketiga. Harus diakui, suksesi sering menimbulkan masalah yang dipicu oleh
persoalan non-teknis dan adanya muatan emosi dalam pelaksanaannya. Ini karena
perusahaan keluarga tidak secara formal dan sistematis mengelola persoalan suksesi.Tak
heran jika akhirnya kurang terkelola dengan baik.

B. Manajemen dan Mekanisme Usaha Keluarga

 Mekanisme Bisnis Keluarga

Dunia bisnis dan dunia keluarga memang memiliki perbedaan yang amat curam. Jelas,
dalam sebuah keluarga kepentingan keluarga akan mengalahkan kepentingan-
kepentingan yang lain. Padahal, perusahaan menuntut sikap yang profesional. Termasuk
juga dalam masalah kompensasi atau pembagian keuntungan.
Perusahaan profesional akan mendasarkan pemberian gaji pada nilai pasar dan riwayat
kerja (kinerja) seseorang. Sedangkan keluarga mendasarkan pemberian gaji pada
kebutuhan.

Di sini terlihat betapa keluarga memiliki standar yang tidak jelas. Masalah terpenting
dalam keberlanjutan bisnis keluarga adalah masalah suksesi. Suksesi memang bukan
satu-satunya penentu kelanggengan bisnis keluarga. Tapi, mau tidak mau generasi
pendahulu harus memberikan tongkat estafet perusahaan kepada generasi berikutnya.
Suksesi tidak hanya berarti pata tingkat pimpinan dan managerial saja, termasuk pada
kebijakan-kebijakan perusahaan.

Terdapat tujuh langkah dalam melakukan suksesi perusahaan keluarga: mengevaluasi


struktur kepemilikan; mengembangkan gambaran struktur yang diharapkan setelah
suksesi; Mengevaluasi keinginan keluarga; mengembangkan proses pemilihan, melatih
dan memonitoring penerus masa depan; Melakukan aktivitas team building dari
keluarga; Menciptakan dewan direksi yang efektif; Yang terakhir, memasukkan penerus
pada saat yang tepat, yaitu ketika pendiri berusia 50 tahun dan penerus berusia 30 tahun

 Manajemen Bisnis Keluarga

Kompleksitas hubungan dalam perusahaan keluarga memerlukan manajemen yang


terbuka, artinya manajemen yang dikelola secara profesional. Manajemen yang baik
diperlukan untuk kesuksesan tiap bisnis. Praktek manajemen bisnis keluarga yang baik
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Merangsang pemikiran dan pemahaman strategi bisnis yang baru

Merekrut dan mempertahankan manajer non keluarga yang baik

Menciptakan organisasi yang fleksibel dan inovatif

Menciptakan dan melindungi modal

Menyiapkan pengganti kepemimpinan (suksesi)


Salah satu permasalahan umum yang dihadapi ketika perusahaan keluarga berkembang
adalah menentukan gaya bisnis apa yang sebaiknya diterapkan dalam manajemennya.
Ketika perusahaan masih dalam taraf kecil, manajemen keluarga masih dapat digunakan.
Tetapi makin besar perkembangan usahanya, gaya manajemen tentunya harus berubah
karena kemungkinan tidak lagi mampu jika hanya anggota keluarga yang mengelola.

Ciri negatif yang harus dihindari oleh perusahaan keluarga antara lain; kurang formalitas,
pemisahan urusan personal bisnis yang tidak jelas, serta kepemimpinan ganda. Hubungan
interpersonal yang emosional juga harus dihindari. Dalam bisnis keluarga, sikap-sikap
jujur, ulet dan tidak serakah akan membawa pada perkembangan yang baik. Sifat jujur
diperlukan agar orang tetap percaya dengan setiap perkataan dan perbuatannya. Sikap
ulet dapat mendorong seseorang untuk maju dan tidak gagal. Sikap tidak serakah
mencegah seorang pengusaha tidak fokus dalam melakukan ekspansi usahanya.

Manajemen keuangan bukan sekedar bagaimana memanajemen uang kas. Tapi lebih dari
itu, manajemen keuangan adalah bagaimana perusahaan mengelola kekayaan untuk
menghasilkan keuntungan dan memanfaatkan sumber-sumber modal untuk membiayai
usaha. Meski sederhana, bisnis keluarga pun perlu menerapkan prinsip-prinsip
manajemen keuangan.

Berikut beberapa dasar manajemen keuangan bagi bisnis keluarga.

1. Pisahkan uang pribadi dan usaha.

Kesalahan paling umum yang dilakukan pengusaha UKM dalam mengelola keuangan
adalah mencampur uang usaha dengan uang pribadi. Mungkin karena usaha masih kecil,
kita berpikir tidak masalah jika mencampur uang usaha dengan uang pribadi. Namun
yang kebanyakan terjadi, kita sulit membedakan pengeluaran pribadi dan usaha.
Walhasil, keperluan pribadi sedikit demi sedikit menggerogoti saldo uang usaha.

2. Rencanakan penggunaan uang.


Bahkan saat perusahaan memiliki modal lebih banyak, perusahaan tetap harus
merencanakan penggunaan uang sebaik mungkin. Jangan hambur-hamburkan uang
meski saldo kas tampaknya berlebihan. Tanpa perencanaan yang matang. Sesuaikan
rencana pengeluaran dengan target-target penjualan dan penerimaan kas. Urungkan
rencana-rencana belanja modal jika tidak memberikan manfaat dalam meningkatkan
penjualan atau menurunkan biaya-biaya. Lakukan analisa “cost and benefit” atau “untung
rugi” untuk meyakinkan bahwa penggunaan uang perusahaan tidak bakal sia-sia dan
memberikan return yang menguntungkan.

3. Buat buku catatan keuangan.

Bisnis tidak cukup dikelola berdasarkan ingatan, melainkan dengan catatan yang
lengkap. Minimal anda wajib memiliki buku kas yang mencatat keluar masuknya uang.
Lalu cocokkan setiap hari saldo uang dengan catatan anda. Ini untuk mengontrol lalu
lintas uang dan memastikan tidak ada uang yang terselip. Selanjutnya tingkatkan
kemampuan administrasi kita untuk mencatat penjualan dan biaya-biaya. Tidak kalah
penting, kita juga harus mencatat saldo-saldo hutang piutang, persediaan dan aset-aset
tetap perusahaan. Jika mampu, gunakan sistem komputer untuk memudahkan proses
pencatatan. Dan alangkah lebih baik lagi jika anda bisa menerapkan sistem akuntansi
yang memadai.

4. Hitung keuntungan dengan benar.

Menghitung keuntungan dengan tepat sama pentingnya dengan menghasilkan


keuntungan itu sendiri. Bagian yang paling kritikal dalam menghitung keuntungan adalah
menghitung biaya-biaya. Sebagian besar biaya bisa diketahui karena melibatkan
pembayaran uang tunai. Sebagian yang lain tidak berupa uang kas, seperti penyusutan
dan amortisasi. Sebagian lagi belum terjadi namun perlu dicadangkan untuk dikeluarkan
di masa mendatang, seperti pajak dan bunga pinjaman.

5. Putar arus kas lebih cepat.


Jangan hanya berpusat pada keuntungan. Manajemen keuangan meliputi juga bagaimana
perusahaan mengelola hutang, piutang dan persediaan barang dagangan. Banyak usaha
mengalami kesulitan kas meski catatan akuntansi mereka menunjukkan angka berwarna
biru. Perhatikan bagaimana anda memutar kas. Putaran kas anda melambat jika termin
penjualan kredit anda lebih lama ketimbang kulakannya, atau jika anda harus menyimpan
persediaan barang dagangan. Anda harus mengusahakan termin penjualan kredit sama
dengan pembelian kredit anda. Anda juga harus mampu menekan tingkat persediaan
sedemikian rupa agar tetap dapat memenuhi order namun tanpa membebani keuangan.

6. Awasi harta, hutang dan modal.

Secara berkala, kita perlu memeriksa persediaan di gudang dan memastikan semuanya
dalam keadaan lengkap dan baik. Namun sebelum kita bisa melakukan itu, kita perlu
mempunyai administrasi yang memadai untuk mengontrol semua itu. Hal yang sama
perlu anda lakukan terhadap piutang-piutang kepada pembeli dan tagihan-tagihan dari
suplier. Kita tidak mau ada tagihan yang macet atau kedobelan membayar kepada suplier
gara-gara catatan anda berantakan. Jika kita tidak mampu melakukan semua itu sendiri,
anda dapat mempekerjakan bagian keuangan dan menetapkan prosedur keuangan yang
cukup untuk memastikan bahwa harta kekayaan usaha perusahaan selalu terjaga dengan
baik.

7. Sisihkan keuntungan untuk pengembangan usaha.

Menyisihkan sebagian keuntungan untuk pengembangan usaha. Salah satu tugas penting
manajemen keuangan adalah menjaga kelangsungan hidup bisnis dengan mendorong dan
mengarahkan investasi ke bidang-bidang yang menguntungkan.

C. Strategi Suksesi Mengembangkan Usaha Keluarga


Suksesi menjadi agenda yang sangat penting bagi perusahaan keluarga.
Keberhasilan suksesi akan menentukan keberlangsungan hidup perusahaan dalam jangka
panjang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagaimana penerapannya? Salah urus
dalam pengelolaan suksesi bisa berakibat fatal. Banyak contoh perusahaan yang dibangun
selama puluhan tahun oleh generasi pertama ambruk dalam hitungan cepat lantaran
kecerobohan yang dilakukan generasi kedua atau ketiga. Harus diakui, suksesi sering
menimbulkan masalah yang dipicu oleh persoalan non-teknis dan adanya muatan emosi
dalam pelaksanaannya. Ini karena perusahaan keluarga tidak secara formal dan sistematis
mengelola persoalan suksesi. Tak heran jika akhirnya kurang terkelola dengan baik.
Masalah suksesi dalam usaha keluarga merupakan masalah yang krusial bagi
kesinambungan suatu perusahaan. Dari berbagai pengalaman yang ada, ternyata tidak
mudah untuk mencari pengganti seorang pemimpin dalam usaha keluarga. hal tersebut
dikarenakan oleh hal-hal berikut.

1. Pemegang kekuasaan ingin terus bertahan


Sukses merupakan suatu zat perangsang, maka mempertahankan sukses pada level
kepemimpinan merupakan suatu kebiasaan, jika tidak pemimpin itu akan menjadi
kecanduan kekuasaan, sebagaimana pendapat Henry Kissinger.

2. Tidak adanya pelatihan bagi calon pengganti


Hal yang mungkin terjadi kerena tidak ada perencanaan, atau memang sengaja tidak
diadakan kaderisasi karena pimpinan takut diganti. Menurut teori kepemimpinan,
dalam suatu organisasi perlu dibentuk “tim kerja” atau membentuk tim yang dapat
bertahan setelah pemimpinnya meninggalkan organisasi. Perlu adanya tim kerja
yang mampu menciptakan para pengganti mereka sebelum mereka tidak mampu
memimpin perusahaan.

3. Tidak ada orang berbakat


Ada juga alasan bahwa di dalam organisasi suatu usaha keluarga tidak ada orang
yang kompeten menjadi pemimpin. Kondisi ini juga merupakan salah satu alasan
bagi seorang pemimpin untuk mempertahankan kedudukannya. Kondisi ini tercipta
karena tidak ada sistem pencarian bakat dari orang-orang yang lebih muda yang
selanjutnya akan dibina menjadi pimpinan baru atau pengganti pucuk pimpinan.
4. Adanya perbedaan kualifikasi
Mungkin adanya perbedaan dalam kualifikasi untuk pemimpin yang baru, sehingga
tidak memenuhi persyaratan. Dapat juga dikarenakan kualifikasi terbaru terlalu
tinggi, sehingga sukar untuk mendapatkan orang yang memenuhi syarat. Dalam
kondisi tidak ada orang yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Hal yang harus
dilakukan dalam mempersiapkan suksesi adalah mengembangkan bakat yang
dimiliki oleh anggota keluarga dalam sebuah usaha keluarga, meliputi:
 Penasihat
Panduan dan bantuan kerja serta perkembangan suatu pengetahuan anggota
organisasi baru atau kurang
 Hanya memperkenankan anggota-anggota keluarga yang kompeten dan
memenuhi syarat untuk memangku tugas kepemimpinan perusahaan guna
meningkatkan nilai perusahaan bagi seluruh pihak yang memilki perhatian
kepemilikan.

Cara Mencari Eksekutif Pengganti

1. Mencari dan mengader dari dalam


Membesarkan orang-orang yang ada di dalam perusahaan dengan memberikan
pembinaan pribadi untuk berkembang atas orang-orang yang berprestasi di dalam
organisasi tersebut. Terdapat keuntungan dan kerugian bila perusahaan menempuh
cara ini.
2. Mencari dari luar
Melakukan seleksi dari orang luar organisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan
organisasi. Demikian halnya cara ini juga ada untung ruginya
3. Mengembangkan sendiri pemimpin
Mengembangkan para pemimpin yang ada dengan mempersiapkan di masa datang.
Dilakukan perencanaan dan pelatihan dengan menunjuk atau memilih beberapa
orang yang kelihatannya memilki talenta untuk menjadi pemimpin masa depan
organisasi.
Tahapan-tahapan Dalam Suksesi Usaha Keluarga
1. Level I Pra-Suksesi
a. Tahap Pertama Pra-Bisnis
Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai calon penerus
perusahaan diarahkan untuk menjadi sadar dan mau mengenal segi-segi
pokok atau permukaan perusahaan dan atau industri yang dimiliki oleh
orangtuanya.

b. Tahap Kedua Pengenalan


Pada tahap ini, anak-anak sebagai penerus perusahaan akan dibeberkan
untuk diperkenalkan pada jargon-jargon bisnis, para pegawainya dan
lingkungan bisnis perusahaan yang dimiliki oleh orang tuanya.

c. Tahap Ketiga Pengenalan Fungsi-Fungsi Operasional


Pada tahap ini, anak sebagai calon penerus perusahaan mulai
diperkenalkan terhadap fungsi-fungsi operasioanal penting, seperti proses
produksi, penelitian dan pengembangan, keuangan, akuntnasi, pemasaran,
pengawasan dan fungsi-fungsi lain perusahaan yang esensial.

2. Level II Masuk Penggantian

a. Tahap Keempat Menjalankan Fungsional


Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai penerus perusahaan
sudah mulai diminta untuk sebagai pengganti potensial mulai bekerja
sebagai pegawai purnawaktu. Penerus tersebut sudah menjalankan seluruh
fungsi yang ditempatkan pada posisi bukan manajemen menengah atau
manajemen puncak, melainkan diberi pekerjaan pada posisi staf.
b. Tahap Kelima Melaksanakan Fungsi Lanjutan
Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai penerus perusahaan akan
diminta untuk sebagi pengganti potensial. Anak sebagai penerus perusahaan
didudukkan untuk memangku posisi pempinan termasuk memahami posisi-
posisi utama manajemen missal menjadi presiden direktur perusahaan.

3. Level III Transfer Kepemimpinan Sesungguhnya

a. Tahap Keenam Suksesi Awal


Pada tahap ini, anak sebagai penerus perusahaan/ sebagai suksesor
mengambil tampuk kepemimpinan, termasuk periode dimana suksesor
secara legal (de jure) berkedudukan sebagai pemimpin perusahaan yang
sah secara hukum.
b. Tahap Ketujuh Suksesi Sungguhan
Pada tahap ini, anak sebgai penerus perusahaan sudah berfungsi sebagai
pengganti pucuk pimpinan secara fakta (de facto) atau direktur utama pada
usaha keluarga yang bersangkutan.

Kondisi-Kondisi Pendukung Suksesi Kepemimpinan Yang Berhasil Dalam


Suatu Usaha Keluarga
1. Situasi yang nyaman dan selalu dapat dipercaya, sehingga usaha menjadi
menguntungkan.
2. Kondisi usaha yang stabil karena adanya hubungan-hubungan keluarga yang
sehat dan harmonis.
3. Selalu siap dengan perencanaan ke depan untuk suksesi kepemimpinan.
4. Kepemimpinan keluarga positif dan struktur manajemen yang berorientasi
pada suatu kerja tim yang solid.
5. Penyajian berbagai kesempatan karier tanpa mengorbankan keharmonisan
keluarga.
6. Komunikasi yang terbuka mengenai isu-isu usaha keluarga.

Rencana suksesi yang efektif dalam perusahaan keluarga antara lain merencanakannya sedini
mungkin dengan melibatkan anggota keluarga. Founder harus mulai mengambil dua langkah ke
belakang (to take two steps back) agar generasi penerus dan profesional baru bisa mengambil satu
langkah ke depan. Founder dianggap sebagai tokoh yang wibawanya besar, tahu semua koneksi,
dan bila ia mengambil satu langkah pun, yang lain tidak berani maju. Apabila ini tidak dilakukan
oleh founder, regenerasi tidak akan berjalan. Sebaiknya ada pilihan bagi generasi berikutnya untuk
bergabung atau tidak dalam perusahaan. Pengalaman eksternal juga diperlukan agar dapat
memberikan masukan buat perusahaan. Perusahaan hendaknya menciptakan pembelajaran dan
pengembangan bagi karyawan. Pendiri sedapat mungkin memilih penggantinya secepatnya. Jika
suksesi dari sumber internal tidak ada, sebaiknya dicari alternatif-alternatif lain.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Ada dua macam bisnis keluarga, dalam arti umum Bisnis Keluarga adalah bisnis yang
dijalankan bersama oleh keluarga,ada yang dalam pengelolaannya di kerjakan sendiri oleh
anggota keluarga, ada juga yang dalam pengelolaanya diluar anggota keluarga, jadi
anggota keluarganya tersebut hanya sebagai pemilik. Dunia bisnis dan dunia keluarga
adalah dua hal yang sangat berbeda jauh, dalam dunia bisnis semua kegiatan dilakukan
dengan profesional, sedangkan dalam dunia keluarga yaitu dimana sekumpulan orang yang
memiliki hubungan kekerabatan melakukan bisnis, dan bisnis yang dijalankannya relative
bisnis yang kecil, tapi bisa berkembang dengan sendirinya jika pengelolaannya dilakukan
secara profesional. Banyak hambatan dan kelebihan dalam bisnis keluarga ini, tapi seiring
dengan perkembangan zaman, maka banyak paradigma baru mengenai bisnis keluarga ini.

2. Saran
Dalam makalah ini banyak kelebihan dan kekurangan dalam isi materi maupun masih
kurang dari apa yang seharusnya. Maka kami mohon sarannya agar kedepannya dalam
penulisan dan penyusunan makalah ini lebih baik lagi dan lebih bermutu lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Anisa, A.N. (5 Juni 2015). Definisi Bisnis Keluarga.


https://azkianurannisa.wordpress.com/2015/06/05/definisi-bisnis-keluarga/
Berlian, Y.S. (4 April 2012). Mengenal Perusahaan Keluarga Dan Strategi
Pengembangannya. https://yusufsaefulberlian.wordpress.com/2012/04/04/mengenal-
perusahaan-keluarga-strategi-pengembangannya/
Jakarta Consulting. (n.d). Suksesi Dalam Usaha keluarga.
http://www.jakartaconsulting.com/publications/articles/family-business/suksesi-dalam-
perusahaan-keluarga
Warnet, W. (22 Desember 2013). Proses Suksesi Usaha Keluarga.
http://suksesiusahakeluarga.blogspot.co.id/
Rosa, G. (19 Mei 2017). Bisnis Keluarga.
http://gusvirossafutrii.blogspot.co.id/2017/05/makalah-kewirausahaan-bisnis-
keluarga.html