Anda di halaman 1dari 4

KULTURAL KETERTINGGALAN BUDAYA (CULTURAL LAG)

DALAM PENDIDIKAN
Diajukan guna memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS

Disusun Oleh : Kelompok 14


PAI V-B
Cahyadi Permana 1162020047
Delina 1162020052

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GNUNG DJATI
BANDUNG
2018 M/1440 H
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ketertinggalan Budaya (Cultural Lag)

Ketertinggalan Budaya (Cultural Lag) adalah perbedaan antara taraf


kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan masyarakat. Pada masyarakat yang
sedang mengalami perubahan, tidak selalu perubahan-perubahan pada unsur-unsur
masyarakat yang sedang mengalami kelainan yang seimbang. Ada unsur-unsur
yang sukar untuk berubah. Akan tetapi ada ada pula unsur-unsur yang sukar untuk
berubah 1 . Biasanya unsur-unsur kebudayaan kebendaan lebih berubah daripada
unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Misalnya, suatu unsur perubahan dalam cara
Bertani, tidak begitu berpengaruh terhadap tari-tarian tradisional. Akan tetapi
sistem pendidikan anak-anak mempunyai hubungan yang erat dengan
dipekerjakannya tenaga-tenaga wanita pada industri2. Apabila dalam hal ini terjadi
ketidakserasian, maka kemungkinan akan terjadi kegoyahan dalam hubungan
antara unsur-unsur tersebut diatas, sehingga keserasian masyarakat terganggu.

Suatu teori yang terkenal didalam sosiologi mengenai perubahan dalam


masyarakat adalah teori ketertinggalan budaya (cultural lag) dari Eillian F. Ogburn.
Teori tersebut mulai dengan kenyataan bahwa pertumbuhan kebudayaan tidak
selalu sama cepatnya dengan dalam keseluruhannya seperti diuraikan sebelumnya,
akan tetapi ada bagian dalam kebudayaan dari suatu masyarakat, dinamakan
cultural lag (artinya ketertinggalan kebudayaan)3. Juga suatu ketertinggalan (lag)
terjadi apabila laju perubahan dari dua unsur masyarakat atau kebudayaan
(mungkin juga lebih) yang mempunyai korelasi, tidak sebanding, sehingga unsur
yang satu tertinggal oleh unsur lainnya. Perubahan itu bisa berupa discovery
(penemuan), invention (ciptaan baru), dandiffusion (difusi, peleburan dari ciptaan
lama dengan baru).

Suatu contoh dapat ditemukan megenai tenaga listrik antara tahun 1963-
1966 di Jakarta, dibandingkan dengan kebutuhan penduduk yang semakin
meningkat jumlahnya. Keadaan listrik di kota Jakarta sangant dibawah norma-
norma persyaratan listrik bagi kota-kota besar, dan dari hal itu dapat pula dinilai
norma-norma kesejahteraan masyarakat di Jakarta. Listrik di Jakarta hanya lebih
melayani 100.000 langganan atau 500.000 penduduk, yang berarti lebih kurang
hanya 13% dari seluruh penduduk Jakarta, atau satu diantara delapan keluarga.

1
Jacob Ranjabar. Sistem Sosial Budaya Indonesia Suatu Pengantar. 2013. Bandung; CV. Alfabeta
2
Koentdjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. 2009. Bandung: Rineka Cipta
3
Esti Isnawati. Ilmu Sosial Budaya Dasar. 2012. Yogyakarta: Penerbit Ombak
Adanya Cultural Lag disini adalah karena tidak sesuainya penyediaan
dengan pemakaian tenaga listrik dan juga karena terlalu cepatnya perkembangan
penduduk Jakarta, apabila dibandingkan dengan kecepatan pertumbuhan
penyediaan listrik. Keadaan tersebut mengakibatkan ketidakwajaran, misalnya
pencurian listrik yang menyebabkan para konsumen yang benar-benar
berlangganan dirugikan.

Pengertian ketertinggalan dapat digunakan paling sedikit dalam dua arti,


pertama sebagai jangka waktu antara terjadi dan diterimanya penemuan baru.
Ketertinggalan yang mencolok adalah ketertinggalan alam pikiran dengan
perkembagan teknologi yang sangat pesat. Hal ini dijumpai terutama pada
masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia ini4.
Suatu contoh nyata adalah penggunaan komputer yang merupakan salah
satu hasil perkembangan teknologi di negara-negara maju. Penggunaan alat tersebut
harus disertai oleh peralatan-peralatan khusus, seperti untuk memperbaikinya
apabila rusak. Aliran listrik harus mempunyai ketegangan tertentu, konstan dan
seterusnya. Ini belum semuanya tersedia, misalnya aliran listrik yang konstan. Hal
itu dapat memacetkan komputer atau kalau rusak untuk memperbaikinya belum
tentu tersedia alat dan ahli yang cukup.
Tidak mudah memang untuk menagatasi persoalan demikian, paling tidak
alam pikiran manusia harus mengalami perubahan terlebih dahulu, yaitu dari alam
pikiran tradisional menuju alam pikiran yang modern. Alam pikiran modern
ditandai oleh beberapa hal, misalnya sifatnya yang terbuka terhadap pengalaman
baru serta terbuka pula bagi perubahan dan pembaharuan. Tekanan dalam hal ini
bukanlah terletak pada keahlain dan kemampuan jasmaniah belaka, tetapi pada
suatu jiwa yang terbuka. Alam pikiran modern tidak hanya terpaut dalam keadaan
sekitarnya saja yang langsung, akan tetapi juga berhubungan dengan hal-hal yang
diluar itu, yaitu berpikiran dengan luas.
Disini Pendidikan memperoleh posisi menentukan; semakin terdidik
seseorang, semakin terbuka dan semakin luar daya pikirnya. Dia harus menyadari
bahwa ada pendapat-pendapat lain dan sikap-sikap lain yang mengelilingi dirinya.
Kondisi lain yang juga harus diperhatikan adalah bahwa alam pikiran modern lebih
berorientasi pada keadaan sekarang serta keadaan-keadaan mendatang daripada
terhadap keadaan-keadaan yang telah lalu; dan sehubungan dengan itu, dia harus
mengadakan perencanaan (planning) untuk hari kedepannya.
Kiranya seseorang dengan alam pikiran modern yakin bahwa manusia dapa
belajar belajar untuk memanfatkan dan menguasai alam sekelilingnya, daripada
bersikap pasrah atau pasif. Seorang juga yakin bahwa keadaan-keadaan dapat
diperhitungkan, artinya bahwa orang-orang lain serta Lembaga-lembaga lain dapat

4
Jacob Ranjabar. Sistem Sosial Budaya Indonesia Suatu Pengantar. 2013. Bandung; CV. Alfabeta
diandalkan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban dan tanggung jawabnya. Dia
tidak setuju pada pendapat bahwa segala sesuatu dapat ditentukan oleh nasib atau
oleh watak dan sifat-sifat yang khusus dari orang-orang tertentu. Sehubungan
dengan itu timbul kesadaran akan harga diri orang-orang lain, sehingga dia menaruh
keseganan terhadap mereka. Kenudian, dia lebih percaya pada ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) walaupun dengan cara-cara sederhana sekalipun. Hal itu
menimbulkan keyakinan kepadanya bahwa penghargaan sebagai balas jasa,
diberikan kepada mereka yang betul-betul telah berjasa dan tidak atas dasar
kekayaan atau kekuasaan yang dimilikinya. Itu semuanya terutama dapat dicapai
dengan Pendidikan supaya orang dapat berpikir secara ilmiah.cara berpikir secara
ilmiah harus melembaga dalam diri manusia, terutama pada masyarakat-
masyarakat yang sedang berkembang, agar terhindar dari terjadinya ketertinggalan
budaya5

5
Munandar Sulaeman. Ilmu Budaya Dasar Pengantar ke Arah Ilmu Sosial Budaya Dasar/ISBD/Social
Culture. 2012. Bandung: PT. Refika Aditama