Anda di halaman 1dari 4

Nama: Cahyadi Permana Al-Hijad

Tanya Sejarah ke-4

KENABIAN

Setelah membahas tentang pernikahan dan akhlak mulia Nabi Muhammad saw,
materi selanjutnya adalah Kenabian. Dimana pada materi ini menjelaskan tentang
awal mula terjadinya Ikhtila’ (menyendiri) dan diturunkannya wahyu pertama kepada
Nabi Muhammad saw.

Banyak kejanggalan yang dirasakan oleh Rasulullah perihal sikap kejahiliyahan


umatnya sebelum Beliau di nubuwwah. Hingga akhirnya Allah menciptakan skenario
berupa Rasulullah memiliki rasa senang dengan menyendiri dan Rasulullah
melakukan ‘Uzlah (pengasingan diri) untuk beberapa waktu. Pada saat Rasulullah
berumur 40 tahun maka saat itulah beliau di angkat menjadi Rasul. Saat menjelang
Bi’tsah (pengangkatan sebagai Rasul) ternyata Rasulullah telah diberikan tanda -
tanda oleh Allah berupa mimpi maka setelah itu terjadilah penurunan wahyu yang
pertama oleh Jibril kepada Rasulullah.

1. Menyendiri di Gua Hira

Menjelang usia 40 tahun Rasulullah cenderung lebih suka menyendiri, sudah


menjadi bagian dari skenario yang Allah buat agar Rasulullah memiliki rasa
senang untuk menyendiri. Rasa senang menyendiri ini bukan semata - mata hanya
untuk menjauh dari masyarakat Arab, tetapi ada hikmah dibalik semua itu. Saat
itu Rasulullah mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjal dan tak wajar pada
tradisi masyarakat Arab, jahiliyah. Beliau cenderung meemiliki pikiran yang jauh
berbeda dengan umatnya sebelum beliau diangkat menjadi rasul..

Pada suatu waktu beliau memutuskan untuk pergi ke Gua Hira untuk
berkhalwah. Sebuah gua yang terletak di atas gunung An-Nur yang jaraknya kira
- kira 2 mil dari Mekkah. Gua yang tidak terlalu besar panjangnya kira - kira empat
hasta dan lebarnya kira - kira tiga perempat hingga satu hasta.

Rasulullah mulai berkhalwat pada bulan Ramadhan dan melewatkan


waktunya dengan beribadah serta merenungkan segala sesuatu yang pernah dilihat
disekitarnya terutama kejanggalan yang dirasakan saat melihat umatnya, mereka
yang bergumul terhadap kemusyrikan dan takhayul.

Beliau memutuskan untuk mengasingkan diri ke gua hira karena tidak ingin
terlibat dengan hirup pikuk kehidupan dunia dan kebisingan manusia saat tu
sehingga ini merupakan langkah persiapan bagi Rasulullah untuk menerima
amanah besar yang tengah ditunggunya. Dengan amanah besar itu pula beliau akan
mengubah tradisi masyarakat Arab, bahkan merubah dunia dan membawanya
kepada jalan kebenaran.

Allah pasti akan memberikan ujian kepada hambaNya jika hamba tersebut
ingin dinaikan derajatnnya, begitupun dengan Rasulullah. Allah menguji
Rasulullah dengan menjalani 3 tahun masa pegasingan. Rasulullah pergi untuk
mengasingkan diri dalam jangka waktu sebulan dengan membawa ruh suci dan
mulai memikirkan hal yang gaib. Hingga Allah pun mengizinkan beliau agar
memikirkan sesuatu yang gaib tanpa mengurangi kualitas keimanan beliau.

2. Turunnya wahyu perantara Jibril

Ketika usia Rasulullah sudah mencapai 40 tahun, maka disitulah Allah


mengangkat beliau sebagai rasul dan saat itu pula wahyu pertama diturunkan oleh
malaikat jibril. Sebelumnya sudah terdapat tanda - tanda yang diberikan oleh Allah
yang menyatakan bahwa Muhammad adalah seorang rasul dan Allahpun
memberikan beberapa tanda kerasulannya kepada Muhammad. Tepatnya pada
saaat Rasulullah akan menginjak usia 40 tahun Allah memberikan tanda sebuah
mimpi. Di dalam mimpi tersebut Rasullullah tidak melihat apapun kecuali ada
sinar fajar yang menyingsing, beliau mengalami mimpi seperti itu selama enam
bulan. Dengan peristiwa ini lah genap sudah masa pengasingan beliau selama 3
tahun dan Allah memuliakannya dengan nubuwwah dan mengutus Jibril agar
memberikkan wahyu pertama berupa ayat - ayat suci Al-Qur’an.

Allah menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah perantara jibril pada


hari senin hari ke-21 di bulan Ramadhan di malam hari bertepatan dengan tanggal
10 Agusutus 610 M.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radihyallahu ‘anha, menceritakan


tentang permulaan wahyu pertama turun. Ia berkata:
Wahyu pertama diterima oleh Rasulullah SAW dimulai dengan suatu mimpi
yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar
menyingsing di pagi hari. Kemudian beliau diperintahkan oleh Allah untuk
melakukan ‘uzlah. Beliau melakukan khalwah di Gua Hira’sambil melakukan
ibadah selama beberapa malam, kemudian pulang kepada keluarganya (Khadijah)
untuk mengambil bekal. Demikianlah berulang kali hingga satu saat beliau
dikejutkan dengan kedatangan wahyu di Gua Hira’ tersebut.

Pada suatu hari, datanglah malaikat Jibril As lalu bekata, “Bacalah!” Beliau
menjawab, Áku tidak bisa membaca.” Rasululullah menceritakan lebih lanjut:
Malaikat Jibril lalu mendekati dan memelukku hingga aku merasa lemas sekali,
kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, “Bacalah!” Namun aku tetap menajawab,
“Aku tidak bisa membaca.” Ia mendekati aku lagi dan mendekapku, sehingga aku
merasa tidak berdaya sama sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi,
“Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Untuk yang ketiga kalinya, ia mendekati aku dan memelukku hingga aku
merasa lemas, kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia berkata lagi, “Bacalah
dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari
segumpal darah. (dan seterusnya).

Rasulullah SAW segera pulang dalam keadaan gemetar sekujur tubuhnya


guna menemui Khadijah. Beliau lalu berkata, “Selimutilah aku! Selimutilah aku!”
kemudian beliau diselimuti hingga rasa takutnya hilang. Setelah itu, beliau berkata
kepada Khadijah, “wahai Khadijah, tahukah engkau mengapa aku tadi begitu?”
Lalu beliau menceritakan apa yang baru dialaminya. Selanjutnya beliau berkata,
“Aku sungguh khawatir terhadap diriku (dari gangguan jin).” Tapi Siti Khadijah
menjawab, “Tidak! Bergembiralah! Demi Allah, sesungguhnya Tuhan tidak akan
membuat engkau kecewa. Karena engkau adalah seorang yang suka menyambung
tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu, dan membela
orang yang berdiri diatas kebenaran.”

Beberapa saat kemudian, Khadijah mengajak Rasulullah SAW pergi menemui


Waraqah bin Naufal, salah seorang anak paman Siti Khadijah. Di masa jahiliyah,
ia memeluk agama Nasrani. Ia dapat menulis huruf Ibrani, bahkan pernah menulis
bagian-bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani. Ia seorang yang sudah lanjut usia dan
telah kehilangan penglihatannya. Kepadanya Khadijah bertanya, “Wahai anak
pamanku, dengarkanlah apa yang hendak dikatakan oleh anak lelaki saudaramu
(yakni Muhammad SAW).” Waraqah bertanya kepada Muhammad SAW, “wahai
anak saudaraku, ada apakah gerangan?” Rasulullah SAW kemudian menceritakan
apa yang dilihat dan dialaminya di dalam Gua Hira’. Setelah mendengar
keterangan Rasulullah SAW, Waraqah berkata, “itu adalah malaikat yang pernah
diutus Allah kepada Musa. Alangkah bahagia seandainya aku masih muda perkasa!
Alangkah gembira seandainya aku masih hidup tatkala kamu diusir oleh kaummu!”

Rasulullah SAW balik bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”


Warawah menjawab, “Ya. Tak seorang pun yang datang membawa seperti yang
engkau bawa kecuali akan diperangi. Seandainya kelak aku masih hidip dan
mengalami hari yang engkau hadapi itu, pasti engkau akan kubantu sekuat
tenagaku.” Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia, dan untuk beberapa
waktu lamanya, Rasulullah SAW tidak menerima wahyu.

Tentang kedatangan Jibril yang kedua, Al-Baihaqi meriwayatkan sebuah


hadits dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW
berbicara tentang terhentinya wahyu. Beliau berkata kepadaku, “Pada saat aku
sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Ketika kepalaku
kuangkat, ternyata malaikat yang datang kepadaku di Gua Hira’. Kulihat ia sedang
duduk dikursi antara langit dan bum. Aku segera pulang menemui istriku dan
kukatakan kepadanya, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku!.’

Sehubungan dengan kejadian itu Allah kemudian berfirman, Wahai orang


yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu,
sucikanlah pakaianmu, dan jauhilah perbuatan dosa. (QS. Al-Muddatstsir [74]:
1-5). Sejak saat itu, wahyu mulai diturunkan secara kontinu.