Anda di halaman 1dari 312

606

Tanya Jawab
Seputar Puasa
Le m b a g a Ko n s u lt a s i Ke l u a rg a & Sya ri a h

L A Y A N A N K O N S U LT A S I
G R AT I S
H U B U N G I V I A W H AT S A P P
DINOMOR BAWAH INI

081915327292
FOLLOW SOCIAL MEDIA KAMI

@MAWADDAHCENTERS

MAWADDAH CENTER T V

WWW.MAWADDAHCENTER.COM
606 Tanya Jawab Seputar Puasa i
606
Tanya Jawab
Seputar Puasa

606 Tanya Jawab Seputar Puasa iii


Dr. Rasyid Sa'd Al-Ulaimi

606
Tanya Jawab
Seputar Puasa

Penerjemah:
Masturi Irham, Lc

Mawaddah Center

606 Tanya Jawab Seputar Puasa v


Al-Ulaimi, Dr. Rasyid Sa'd
606 Tanya Jawab Seputar Puasa / Dr. Rasyid Sa'd Al-Ulaimi, Penerjemah:
Masturi Irham,Lc. editor: Abu Athiyan. Mawaddah Center. Cet. 1 --Jakarta; 2014
312 hlm; 17,5 cm.

606
Tanya Jawab
Seputar Puasa

Judul Asli: Ash-Shiyam; (Sual wa Jawab)


Penulis: Dr. Rasyid Sa'd Al-Ulaimi

Penerjemah: Masturi Irham, Lc


Editor: Abu Athiyan
Pewajah Sampul: Tebar Kebaikan
Penata Letak: Abu Athiyan
Cetakan: Pertama, Juni 2014 M / Sya'ban 1435 H

Semua hak dilindungi oleh undang-undang.


Dilarang memproduksi, menyimpan dalam sistem penyimpanan apapun atau
menyebarkan, dalam bentuk atau cara apapun, apakah elektronik, mesin
fotokopi, rekaman dan lain-lain, bagian-bagian manapun dari penerbitan ini,
tanpa izin tertulis sebelumnya dari penerbit
All Right Reserved

vi 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Dustur Ilahi

“Ya Tuhanku berilah hamba ilham untuk tetap


mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku dan
untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai,
dan masukkanlah hamba dengan rahmat-Mu ke dalam
golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (An-Naml: 19)

606 Tanya Jawab Seputar Puasa vii


viii 606 Tanya Jawab Seputar Puasa
Daftar Isi

Dustur Ilahi — vii


Mukadimah — 1
Pasal-pasal Dalam Buku Ini — 3
Ucapan Terima Kasih — 5

Bab Pertama
Hukum-hukum Tentang Puasa
Pembahasan Pertama: Informasi-informasi
Umum Tentang Puasa — 8
Pembahasan Kedua: Akhlak Orang Puasa — 15
Pembahasan Ketiga: Hal-hal yang Berhubungan
Dengan Bulan Sya’ban — 21
Pembahasan Keempat: Di Antara Keutamaan-
keutamaan Puasa dan Bulan Suci Ramadhan — 32
Pembahasan Kelima: Di Antara Hukum-
hukum yang Berkaitan dengan Puasa — 37

606 Tanya Jawab Seputar Puasa ix


Pembahasan Keenam: Kriteria Orang yang
Terkena Hukum Wajib Berpuasa — 46
Pembahasan Ketujuh: Masuknya Bulan — 52
Hal-hal yang Berkaitan dengan Ru`yatul
Hilal (Melihat Hilal) — 52
Hal-hal yang Berkaitan dengan Perbedaan Al-
Mathali’ (Lokasi Munculnya Hilal) — 62
Doa dan Ucapan Selamat Atas Datangnya Bulan — 66
Pembahasan Kedelapan: Amal-amal
Ketaatan di Bulan Ramadhan — 68
Pembahasan Kesembilan: Akhlak
Orang Puasa — 75
Pembahasan Kesepuluh: Niat Dalam Puasa — 89
Pembahasan Kesebelas: Pembahasan-
pembahasan Tentang Puasa — 96
Pembahasan Kedua Belas: Hal-hal yang
Berhubungan dengan Mimpi Basah
dan Bersentuhan Badan — 107
Pembahasan Ketiga Belas: Perkara-
perkara yang Merusak Puasa — 113
Hal-hal yang Berhubungan Dengan Jima’ — 117

Pembahasan Keempat Belas: Hal-hal yang


Berkaitan dengan Haid — 129

x 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Hal-hal yang Berkaitan dengan Istihadhah — 145
Hal-hal yang Berkaitan dengan
Perempuan Nifas — 146
Pembahasan Kelima Belas: Sahur — 150
Pembahasan Keenambelas: Berbuka Puasa — 160
Pembahasan Ketujuh Belas: Anak
Kecil dan Puasa — 168
Pembahasan Kedelapan Belas:
Lupa Dalam Puasa — 173
Pembahasan Kesembilan Belas: Orang-
orang yang Punya Udzur — 177
Hal-hal yang Berkaitan Dengan Orang Sakit — 179
Wanita Hamil dan Menyusui — 184
Orang Gila dan Orang Pingsan — 186
Pembahasan Kedua Puluh: Hukum-hukum
Medis yang Ber­kaitan Dengan Puasa — 190
Pembahasan Kedua Puluh Satu:
Puasa dan Bepergian — 201
Pembahasan Kedua Puluh Dua:
Shalat Tarawih — 217
Pembahasan Kedua Puluh Tiga: Malam Sepuluh
Terakhir Dan Lailatul Qadar — 232
Pembahasan Kedua Puluh Empat: I’tikaf — 241

606 Tanya Jawab Seputar Puasa xi


Bab Kedu
Hukum-Hukum Shalat Id
Dan Tata Cara Umum
Pembahasan Pertama: Hukum-hukum Id — 254

Bab Ketiga
Setelah Bulan Ramadhan
Pembahasan Pertama: Qadha Puasa — 266
Pembahasan Kedua: Puasa Sunnah — 275
Pertama: Pengetahuan Umum — 275
Kedua: Puasa Enam Hari di Bulan Syawal — 280
Ketiga: Puasa Bulan Muharram dan Asyura — 283
Keempat: Puasa Hari Kesembilan di
Bulan Dzulhijjah — 285
Kelima: Puasa Hari Senin dan Kamis — 287
Keenam: Puasa Al-Ayyam Al-Bidh
(hari-hari putih) — 288
Ketujuh: Puasa Hari Jum’at dan Sabtu — 291
Kedelapan: Puasa Wishal — 295
Penutup — 298
Daftar Pustaka — 300

[] [] []

xii 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Mukadimah

Segala puji hanya bagi Allah I Tuhan seru sekalian alam.


Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas Nabi
Muhammad n yang diutus sebagai rahmat bagi umat manusia
semuanya, amma ba’du,
Buku yang ada di hadapan pembaca yang budiman ini
merupakan cetakan pertama dari buku “Ash-Shiyam” (Puasa).
Buku ini sebenarnya merupakan bagian dari buku “Ash-Shiyam wa
Az-Zakah” (Puasa dan Zakat), kemudian kami berinisiatif untuk
menerbitkan bab puasa dalam bentuk buku tersendiri supaya lebih
mudah dan ringan untuk dibaca dan dipelajari.
Di antara nikmat Allah I yang Dia anugerahkan kepada
manusia adalah memberinya taufik untuk mengerjakan apa yang
Dia cintai serta menuntun dan memandu langkahnya supaya dia
senantiasa melangkah dengan berdasarkan pada pengetahuan dan
wawasan terkait apa yang dia ucapkan atau kerjakan.
Di antara media terpenting untuk mencapai hal itu adalah
membaca dan mempelajari dasar-dasar dan rukun-rukun agama,

606 Tanya Jawab Seputar Puasa 1


supaya seorang Muslim memiliki wawasan pengetahuan yang jelas
tentang hal-hal yang berkaitan dengan berbagai tema dan hukum
yang berkenaan dengan dasar-dasar dan rukun-rukun agama. Hal
itu karena dasar-dasar dan rukun-rukun agama merupakan pilar
untuk meraih kebahagian abadi, terlebih lagi pokok-pokok agama
dan rukun-rukunnya termasuk dalam kategori hal-hal yang harus
diketahui setiap individu dan jika sampai ada yang tidak tahu,
maka itu sama sekali tidak bisa diterima.
Untuk mewujudkan semua itulah, maka lahirlah buku ini
dengan muatan yang berkaitan dengan salah satu rukun agama,
yaitu puasa Ramadhan, juga puasa sunnah. Hal itu karena tema
ini selalu ramai dibicarakan terutama setiap kali bulan Ramadhan
tiba. Oleh karena itu, penulis berkeinginan –dengan taufik dari
Allah I- untuk mengumpulkan sejumlah permasalahan dan
tema yang berkaitan dengan puasa dan bulan Ramadhan dari
berbagai literatur para ulama –semoga Allah I memberi kita
kemanfaatan dari Fikih dan ilmu mereka- terutama dari literatur
Syaikh Muhammad bin Al-Utsaimin serta dari ilmu yang penulis
pahami seputar permasalahan-permasalahan puasa.
Tema seputar permasalahan-permasalahan yang berhu­
bungan dengan puasa tersebut kami paparkan dalam buku ini
dalam bentuk tanya jawab singkat. Kami sengaja memilih metode
seperti ini, karena menurut hemat kami metode seperti ini
memiliki efektifitasnya tersendiri dalam proses pembelajaran.[]

2 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pasal-pasal Dalam Buku Ini

Setelah Mukadimah di atas, buku ini terdiri dari tiga bab


dan sejumlah pasal seperti berikut,
Bab Pertama: hukum-hukum umum tentang puasa,
terdiri dari beberapa pasal seperti berikut:
1. Informasi umum tentang puasa
2. Akhlak orang puasa
3. Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan bulan
Sya’ban.
4. Beberapa keutamaan puasa dan bulan Ramadhan.
5. Beberapa hukum yang berkaitan dengan puasa.
6. Kriteria orang yang sudah wajib berpuasa.
7. Permasalahan seputar masuknya bulan.
8. Amal-amal ketaatan di bulan Ramadhan.
9. Akhlak orang puasa.
10. Niat dalam puasa.
11. Hal-hal yang Mubah dalam puasa.

606 Tanya Jawab Seputar Puasa 3


12. Hal-hal yang dapat merusak puasa.
13. Hal-hal yang berkaitan dengan menstruasi.
14. Sahur.
15. Berbuka.
16. Anak-anak dan puasa.
17. Lupa dalam puasa.
18. Orang-orang yang memiliki udzur (orang sakit, orang lanjut
usia, orang hamil dan menyusui).
19. Permasalahan-permasalahan medis yang berkaitan dengan
puasa.
20. Puasa dan safar atau bepergian.
21. Shalat Tarawih.
22. Sepuluh malam terakhir dan lailatul Qadar.
23. Iktikaf.
Bab kedua: permasalahan-permasalahan yang berkaitan
dengan hari Raya dan etika-etikanya.
Bab ketiga: permasalahan-permasalahan yang berkaitan
dengan puasa sunnah dan mengqadha puasa, terdiri dari
dua pasal seperti berikut ini:
1. Mengqadha puasa.
2. Puasa sunnah.
Penutup

4 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Ucapan Terima Kasih

Penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan apresiasi


yang besar kepada syaikh kami Al-Muhaddits Badr Abdullah Al-
Badar dan saudara Dr. Muhammad Aud Al-Fazi’1 atas kesediaan
beliau berdua untuk menelaah dan memeriksa naskah pertama
serta memberikan sejumlah masukan dan catatan yang sangat
berharga. Semoga Allah I memberikan balasan kepada beliau
berdua dengan pahala yang baik dan ganjaran yang agung. Penulis
juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-
besarnya kepada setiap pihak yang telah memberikan arahan,
masukan dan nasihat dalam pembuatan buku ini.
Kepada Allah I penulis memohon semoga buku ini
mendapatkan taufik, apresiasi dan diterima, serta memberikan
manfaat bagi kaum Muslimin. Jika di sana ada suatu kesalahan
atau kealpaan, maka penulis yakin pasti ada orang yang baik hati
yang tidak akan segan-segan memberikan nasihat, petunjuk dan
masukan dengan tulus, serta berbaik sangka bahwa masalah-

1 Direktur divisi pengawasan syariat di perusahaan Al-Imtiyaz (Kuwait).

606 Tanya Jawab Seputar Puasa 5


masalah yang penulis tulis dalam buku ini adalah apa yang
menurut penulis lebih kuat dan tepat, dan mendoakan semoga
penulis mendapatkan kebaikan dan tambahan ilmu yang
bermanfaat.
Dan penutup doa kami ialah, segala puji bagi Allah I Tuhan
semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan keberkahan
kepada kekasih kami Nabi Muhammad n, kepada keluarga
dan para sahabat beliau, dan limpahkan salam kepada mereka
sebanyak-banyaknya.[]

6 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Bab Pertama
Hukum-hukum
Tentang Puasa
Pembahasan Pertama:
Informasi-informasi
Umum Tentang Puasa

Tanya:
1. Apakah puasa juga disyariatkan bagi umat-umat sebelum
kita?
Jawab:
Ya, dalilnya adalah firman Allah I,
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Tanya:
2. Ada yang mengatakan bahwa pada awal mulanya puasa
Ramadhan tidak diwajibkan atas kaum Muslimin?
Jawab:
Ya, pada awal mulanya yang wajib adalah puasa Asyura,
namun kemudian setelah itu puasa Ramadhan difardukan.

8 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
3. Kapan dan bagaimana awal mula perintah puasa Ramadhan?
Jawab:
Yaitu ketika Allah I menurunkan ayat,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu


berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang
tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit
atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang mampu
berpuasa (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah,
(yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang
dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 9


yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 183-184)
Jadi pada waktu itu, masih ada pilihan, yaitu berpuasa atau
tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah, yaitu
memberi makan orang miskin. Kemudian turun ayat,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan
kedatangan bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada
bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu
dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah
menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.” (Al-Baqarah: 185)
Maka, dalam ayat ini Allah I mewajibkan puasa
Ramadhan bagi orang mukim yang sehat, memberi­kan
keringanan bagi orang sakit dan musafir, serta menetapkan
untuk memberi makan orang miskin bagi orang lanjut usia
yang tidak mampu berpuasa.2

2 Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

10 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
4. Dikatakan bahwa pada awal mula puasa disyariatkan, aturan-
aturannya cukup berat, kemudian muncullah pemberian
keringanan di dalamnya, bagaimana penjelasan­nya?
Jawab:
Betul, pemberian keringanan tersebut muncul karena
dilatarbelakangi oleh banyak sebab. Di antaranya adalah,
bahwa ada seorang laki-laki dari Anshar bernama Shirmah
tetap terus bekerja sambil berpuasa hingga petang hari,
lalu dia pulang dan shalat Isya kemudian langsung tidur
tanpa makan dan minum lebih dahulu sampai subuh, lalu
dia langsung berpuasa lagi. Lalu Rasulullah n melihatnya
dalam kondisi yang sangat lemah dan kepayahan. Rasulullah
n pun lantas bertanya kepadanya, “Aku lihat, kamu tampak
sangat lemah dan kepayahan, kenapa?” Dia menjawab, “Ya
Rasulallah, kemarin saya bekerja, kemudian pulang dan
merebahkan tubuh hingga tertidur, kemudian pada pagi
harinya saya langsung berpuasa lagi.” Lalu Allah I pun
menurunkan ayat,
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa
bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian
bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah
mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu,
karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af
kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 11


apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan
minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu
sampai (datang) malam,” (Al-Baqarah: 187)3
Tanya:
5. Bagaimana asal-usul nama Ramadhan?
Jawab:
Disebutkan bahwa nama bulan Ramadhan dulunya
adalah “Natiq.” Ketika orang Arab ingin mengalihkan nama-
nama kuno bulan ke bahasa mereka, maka kebetulan bulan
Natiq datang bertepatan dengan waktu yang memiliki cuaca
yang sangat panas menyengat dan membakar (Ar-Ramadh),
maka bulan itu pun disebut Ramadhan.
Ada pula keterangan yang menyebutkan, bahwa
bulan puasa disebut Ramadhan, karena puasa Ramadhan
membakar dosa-dosa.
Tanya:
6. Kapan puasa Ramadhan difardhukan atas kaum Muslimin?
Jawab:
Pada tahun kedua Hijrah.
Tanya:
7. Berapa Ramadhankah Nabi Muhammad n berpuasa?

3 Hal ini sebagaimana yang dirawayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan
Al-Baihaqi.

12 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Nabi Muhammad n berpuasa Ramadhan sebanyak
sembilan kali Ramadhan.
Tanya:
8. Apa makna kata “Kutiba” dalam ayat puasa, “Ya ayyuhal
ladzina amanu kutiba ‘alaikum ash-Shiyamu,” ?
Jawab:
Maknanya adalah Al-Kitabah Asy-Syar’iyyah, yakni perintah
syara’ yang memerintahkan apa yang dicintai oleh Allah I.
Tanya:
9. Kenapa dalam puasa, Allah I menggunakan redaksi,
“Ayyaman ma’dudatin” sedangkan dalam haji, Allah I
menggunakan redaksi, “Asyhur ma’lumat”?
Jawab:
Karena bulan-bulan haji waktunya sudah diketahui dan
maklum sejak jaman nabi Ibrahim a.s dan diwarisi secara
turun temurun. Adapun Ramadhan, maka pensyariatan
puasa di bulan Ramadhan merupakan syariat yang baru
bagi manusia.
Tanya:
10. Bolehkah berpuasa dengan dua tujuan atau niat, yaitu niat
ibadah dan sekaligus untuk tujuan diet?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 13


Jawab:
Jika seseorang dianjurkan oleh dokter untuk melakukan
diet, lalu pada malam harinya dia berniat puasa dan
tidak makan mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya
matahari, maka dia mendapatkan pahala dan puasanya itu
tetap dinilai sebagai puasa syar’i, karena dia telah berniat
puasa dan menjalankan puasa selama jangka waktu yang
telah ditetapkan sebagai waktu puasa. Juga, karena dia
tidak beralih dari puasa diet murni ke puasa ibadah yang
merupakan amal mendekatkan diri kepada Allah I
melainkan dalam hatinya pasti ada kesadaran akan ibadah
yang satu ini. Namun tetap saja, orang yang puasa dan sejak
awal dia berpuasa murni karena didorong oleh keinginan
mencari pahala dari Allah I adalah lebih agung pahalanya
daripada orang yang di dalam puasa menggabungkan antara
ibadah dan perkara yang mubah seperti diet tersebut.[]

14 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kedua:
Akhlak Orang Puasa

Tanya:
11. Apa maksud dan tujuan dari pensyariatan puasa?
Jawab:
Maksud dan tujuan yang karenanya puasa disyariatkan
adalah menggapai ketakwaan apabila orang yang berpuasa
menjalankan puasa dengan sebenar-benarnya. Allah I berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu


berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu, agar kamu bertakwa,” (Al-Baqarah: 183)
Tanya:
12. Apakah yang dimaksudkan dengan takwa itu?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 15


Jawab:
Takwa maknanya adalah menjalankan perintah-perintah
Allah I dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan itulah
tujuan dari puasa. Hal itu karena, puasa merupakan ajang
untuk mendidik dan membangun jiwa, mempurifikasi
akhlak, membenahi dan meluruskan prilaku, sehingga bulan
Ramadhan tidak berakhir melainkan pendidikan Ramadhan
telah meninggalkan jejak dan kesan yang sangat mendalam
pada dirinya yang itu tercermin pada jiwanya, akhlaknya
dan prilakunya.
Tanya:
13. Apakah Nabi Muhammad n mengisyaratkan tentang
persoalan takwa dalam kaitannya dengan puasa?
Jawab:
Ya, Nabi Muhammad n bersabda, “Barangsiapa tidak
meninggalkan perkataan palsu dan perbuatan yang batil,
maka Allah I tidak mau tahu dirinya meninggalkan
makanan dan minumannya.” (HR Al-Bukhari).
Tanya:
14. Faedah dan pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari firman
Allah I,
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu, agar kamu bertakwa,” (Al-Baqarah: 183)

16 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Pertama, penegasan tentang signifikansi puasa, karena
Allah I mewajibkan puasa tidak hanya bagi kita saja,
tapi bagi umat-umat sebelum kita juga. Ini menunjukkan
bahwa Allah I menyukai ibadah puasa dan bahwa puasa
merupakan kewajiban bagi setiap umat.
Kedua, ayat tersebut ingin membuat umat ini merasa
ringan menjalankan ibadah puasa dengan menanamkan
kesadaran bahwa bukan hanya umat ini saja yang ditaklif
mengerjakan ibadah yang satu ini, yaitu ibadah puasa yang
mungkin merupakan ibadah yang mengandung semacam
masyakah bagi jiwa dan raga.
Ketiga, ayat tersebut menyiratkan bahwa Allah I
menyem­purnakan agama umat ini dengan melengkapi­nya
dengan amal-amal keutamaan yang juga diberlakukan bagi
umat-umat sebelumnya.
Tanya:
15. Apakah di sana terdapat hikmah-hikmah yang karenanya
puasa disyariatkan?
Jawab:
Ya, di antara hikmah-hikmah dan faedah-faedah yang
terkandung dalam puasa adalah,
Pertama, bahwa puasa adalah ibadah yang kita gunakan
untuk mendekatkan diri kepada Tuhan kita dengan

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 17


meninggalkan berbagai bentuk kesenangan-kesenangan
yang menjadi bagian dari kodrat kita seperti makan, minum
dan berhubungan badan, supaya kita bisa meraih ridha
Tuhan kita.
Kedua, menanamkan kesadaran dalam diri orang kaya
akan besarnya nikmat Allah I kepada dirinya, bagaimana
Allah I telah memberinya kemudahan dan fasilitas
mendapatkan apa yang dia inginkan seperti makanan,
minuman dan nikah. Dengan begitu, maka dirinya pun bisa
pandai-pandai bersyukur kepada-Nya atas nikmat tersebut.
Juga sekaligus dia bisa ingat kepada saudaranya yang miskin
yang tidak bisa mendapatkan apa yang bisa dia dapatkan,
sehingga dengan begitu dia pun tidak ragu-ragu untuk
berderma dan berbuat kebaikan kepadanya.
Ketiga, melatih untuk mengekang dan mengontrol diri,
sehingga dia mampu mengendalikan dan mengarah­kannya
kepada hal-hal yang mendatangkan kebaikan, kemashlahatan
dan kebahagiaan baginya. Juga menjadikan dirinya terhindar
dari menjadi sosok binatang berbentuk manusia yang tidak
kuasa mengendalikan diri terhadap kesenangan, keinginan,
syahwat dan hawa nafsunya.
Tanya:
16. Apakah puasa memiliki faedah dan manfaat-manfaat
duniawi bagi fisik?

18 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, namun satu hal yang harus diperhatikan, yaitu kita
jangan menomor satukan faedah dan manfaat-manfaat
duniawiah itu dan menjadikannya sebagai hal yang pokok,
karena hal itu berpotensi melemahkan keikhlasan serta
membuat kita menomor duakan keinginan pada manfaat
dan faedah ukhrawi dan menjadikannya terpinggirkan.
Di antara faedah dan manfaat-manfaat duniawiah dari
puasa adalah kesehatan dan kebugaran fisik yang dapat kita
raih sebagai akibat dari proses pengurangan porsi makanan,
sistem pencernaan yang mendapatkan kesempatan beristira­
hat dan melakukan proses sterilisasi dari sedimen-sedimen
dan cairan-cairan yang tidak baik bagi tubuh, dan lain
sebagainya.
Tanya:
17. Peristiwa, kejadian dan momen-momen istimewa apa saja
yang terjadi pada bulan Ramadhan?
Jawab:
Di antara peristiwa, kejadian dan momen-momen
istimewa tersebut adalah:
- Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana Allah I
mulai menurunkan Al-Qur`an.
- Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana perang
Badar Kubra terjadi pada tahun kedua Hijriah.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 19


- Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana Fathu
Makkah (penaklukan kota Makkah oleh Nabi
Muhammad n) berlangsung.
Masih banyak lagi kejadian-kejadian istimewa yang
berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadhan.[]

20 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Ketiga:
Hal-hal yang Berhubungan
Dengan Bulan Sya’ban

Tanya:
18. Kenapa disebut dengan bulan Sya’ban
Jawab:
Katanya, karena pada bulan Sya’ban, orang-orang Arab
melakukan tasya’ub, yaitu pergi berpencar dan menyebar
untuk mencari air, atau untuk melakukan aksi-aksi
peperangan pada masa Jahiliyah setelah berakhirnya bulan
Rajab yang merupakan salah satu bulan Haram. Atau dari
kata “At-Tasya’ub” yang artinya Azh-Zhuhur (muncul).
Tanya:
19. Kenapa kita seyogyanya memberikan perhatian lebih pada
ibadah-ibadah di bulan Sya’ban?
Jawab:
Supaya hal itu sebagai langkah persiapan menyongsong

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 21


kedatangan bulan Ramadhan, sehingga ibadah-ibadah
tersebut terasa lebih ringan untuk dikerjakan di bulan
Ramadhan, karena pada bulan Sya’ban kita sudah mulai
melatih diri mengerjakannya, seperti membaca Al-Qur`an
dan puasa.
Tanya:
20. Apakah disyariatkan berpuasa di bulan Sya’ban?
Jawab:
Ya, dan disunnahkan untuk memperbanyak puasa di
bulan Sya’ban. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah d,
“Dulu, jika Rasulullah n berpuasa, maka hampir-hampir
kita mengatakan beliau sepertinya tidak pernah berbuka,
dan jika sedang tidak berpuasa, maka hampir-hampir kita
mengatakan beliau seperti tidak pernah berpuasa. Dan aku
tidak pernah melihat Rasulullah n menyempurnakan puasa
satu bulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah
melihat Rasulullah n berpuasa di suatu bulan lebih banyak
dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq ‘alaihi).
Tanya:
21. Apa sebab dan alasan untuk memperbanyak puasa di bulan
Sya’ban?
Jawab:
Barangkali illatnya adalah bahwa bulan Sya’ban
merupa­kan bulan yang banyak diabaikan oleh orang-orang

22 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Sudah maklum
bahwa waktu-waktu di mana biasanya banyak orang yang
tidak begitu memperhatikannya untuk beribadah, maka
memanfaatkan waktu-waktu seperti itu dengan amal-amal
ketaatan adalah dianjurkan. Ada juga yang mengatakan
bahwa illat atau alasannya adalah supaya seorang Muslim
sudah siap berpuasa sebelum Ramadhan, sehingga ketika
datang bulan Ramadhan, maka dia terasa ringan dan mudah
menjalankan puasa, karena sebelumnya sudah dilatih
terlebih dahulu pada bulan Sya’ban.
Tanya:
22. Katanya ada larangan berpuasa pada paroh kedua bulan
Sya’ban, apakah itu benar?
Jawab:
Ya, berdasarkan sabda Rasulullah n, “Apabila bulan
Sya’ban sudah memasuki paroh kedua, maka janganlah
kalian berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi).
Tanya:
23. Bagaimana kita mengkompromikan dan mensinkronkan
antara larangan berpuasa setelah bulan Sya’ban memasuki
paroh kedua dengan hadits yang menjelaskan bahwa Nabi
Muhammad n sering berpuasa di sebagian besar dari bulan
Sya’ban?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 23


Jawab:
Larangan berpuasa setelah bulan Sya’ban memasuki
paroh kedua tersebut ditujukan buat orang yang baru
memulai puasa pada paroh kedua bulan Sya’ban, bukan
orang yang sudah banyak berpuasa sejak awal bulan.
Tanya:
24. Apa hukum berpuasa pada hari Syak?
Jawab:
Ada pengharaman puasa hari Syak. Diriwayatkan
dari Ammar Ibnu Yasir a bahwasanya beliau bersabda,
“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka
sungguh dia telah durhaka kepada Abu Al-Qasim n.” (HR.
Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).
Tanya:
25. Apa yang dimaksud dengan hari Syak itu?
Jawab:
Yang dimaksud dengan hari syak adalah hari terakhir
bulan Sya’ban, juga satu hari sebelum hari terakhir bulan
Sya’ban. Diriwayatkan dari Abu Hurairah a, dia berkata,
“Rasulullah n bersabda, “Janganlah kalian mendahului
Ramadhan dengan puasa satu hari atau dua hari, kecuali
orang yang sebelumnya memiliki kebiasan berpuasa pada
hari-hari tertentu, dan hari itu (hari terakhir bulan Sya’ban)
bertepatan dengan hari-hari puasanya tersebut, maka
silahkan dia berpuasa.” (Muttafaq ‘alaih).

24 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
26. Apa illat atau alasan larangan berpuasa pada hari syak?
Jawab:
Ada yang mengatakan, alasannya adalah agar jangan
sampai memasukkan hari yang bukan bagian dari bulan
Ramadhan ke dalam bagian dari bulan Ramadhan. Juga
supaya ada pemisah yang jelas antara puasa fardhu dan
puasa sunnah, seperti memisah antara shalat fardhu dan
shalat sunnah setelahnya dengan cara seperti berbicara atau
berpindah tempat.
Tanya:
27. Apakah larangan tersebut mencakup puasa hari terakhir
bulan Sya’ban yang dilakukan untuk menunaikan nadzar
atau membayar kafarat?
Jawab:
Tidak apa-apa puasa hari syak karena untuk menunai­kan
nadzar atau membayar kafarat. Larangan tersebut hanya
ditujukan buat puasa hari Syak dengan niat puasa mutlak.
Tanya:
28. Jika ada orang biasa puasa hari Kamis, lalu ternyata hari syak
jatuh bertepatan dengan hari Kamis, maka apakah orang itu
boleh berpuasa pada hari Kamis tersebut?
Jawab:
Ya, dia boleh berpuasa pada hari Kamis yang jatuh

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 25


bertepatan dengan hari syak tersebut, karena Rasulullah
n memperbolehkannya bagi orang yang seperti itu seperti
dalam sabda beliau di atas,

“Janganlah salah seorang dari kalian mendahului Ramadhan


dengan puasa satu hari atau dua hari, kecuali jika dia adalah
orang yang memiliki kebiasan berpuasa pada hari-hari
tertentu, dan hari itu (hari syak) ternyata jatuh bertepatan
dengan hari-hari puasanya tersebut, maka silahkan dia
berpuasa.” (Muttafaq ‘alaih).
Tanya:
29. Bolehkah berpuasa pada hari terakhir bulan Sya’ban sebagai
bentuk antisipasi dan kehati-hatian (Al-Ihthiyath)?

Jawab:
Kita tahu bahwa kepastian waktu puasa Ramadhan
adalah dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban
sampai tiga puluh hari atau dengan melihat hilal Ramadhan.
Selain itu, maka pelakunya dianggap melampaui batas-batas
yang telah digariskan oleh Allah I di samping dia berarti

26 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


terjatuh dalam sikap mengada-ada dan memaksakan diri.
Tanya:
30. Apakah melakukan puasa pada hari Syak dengan maksud
sebagai langkah kehati-hatian dan antisipasi dianggap sebagai
tindakan menyalahi waliyyul amri (pihak pemerintah yang
berwenang)?
Jawab:
Ya, di samping tentunya yang paling utama dia telah
menyalahi petunjuk dan tuntunan Nabi Muhammad n. Kita
harus senantiasa ingat dan sadar bahwa kita hidup di negeri
Muslim, maka kita harus mengikuti ketetapan dan keputusan
waliyyul amri atau pihak berwenang yang ditunjuk oleh
waliyyul amri tentan kapan mulai masuk bulan Ramadhan.
Jika waliyyul amri atau pihak yang berwenang tersebut
memutuskan bahwa awal bulan Ramadhan sudah datang,
maka kita harus berpuasa mengikuti umat Islam lainnya.
Tanya:
31. Kapankah kita mesti menerapkan langkah Al-Ihthiyath
(kehati-hatian dan antisipasi) dalam ibadah?
Jawab:
Al-Ihthiyat baru diperintahkan ketika ada kemung­kinan
dan potensi terjatuh ke dalam tindakan melanggar. Adapun
apabila Al-Ihthiyath justru akan mengakibatkan tindakan
melakukan sesuatu yang terlarang atau mening­gal­kan

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 27


sesuatu yang diperintahkan, maka langkah kehati-hatian
dan antisipasi dalam hal ini adalah dengan meninggalkan
langkah kehati-hatian dan antisipai atau al-Ihthiyath
tersebut.
Tanya:
32. Bagaimana cara menyikapi hari terakhir bulan Sya’ban dalam
kaitannya dengan kepastiannya melalui cara ru’yah?
Jawab:
Jika datang hari tanggal tiga puluh bulan Sya’ban,
sementara ru`yatul hilal tidak bisa dilakukan karena ter­
halang mendung atau debu, maka itu adalah hari Syak.
Akan tetapi jika cuaca cerah dan langit cerah, namun
hilal tidak terlihat, maka itu berarti bukan hari Syak, tapi bisa
dipastikan masih termasuk bulan Sya’ban dan tidak boleh
digunakan berpuasa berdasarkan hadits di atas, “Janganlah
kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu hari atau
dua hari, kecuali orang yang sebelumnya memiliki kebiasan
berpuasa pada hari-hari tertentu, dan hari itu (hari terakhir
bulan Sya’ban) bertepatan dengan hari-hari puasanya
tersebut, maka silahkan dia berpuasa.” (Muttafaq ‘alaih).
Tanya:
33. Apakah ada hadits yang kuat tentang keutamaan malam
pertengahan bulan Sya’ban?

28 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari a, dia
berkata, “Rasulullah n bersabda,

“Sesungguhnya pada malam pertengahan bulan Sya’ban Allah


I menebarkan rahmat dan maghfirah-Nya untuk memberikan
ampunan kepada seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik
dan orang musyahin.” (HR. Ibnu Majah).
Musyahin adalah orang yang menebar kebencian dan
permusuhan terhadap orang Mukmin.
Tanya:
34. Ada semacam tradisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat
di Kuwait, yaitu tradisi yang dikenal dengan sebutan Al-
Qarisy, bagaimana kita memandang tradisi seperti itu?
Jawab:
Itu adalah tradisi kuno di mana kaum perempuan
berkumpul-kumpul untuk menumbuk biji gandum menjadi
tepung sebagai persiapan menyambut kedatangan bulan
suci Ramadhan dengan maksud agar selama bulan suci
Ramadhan mereka bisa fokus mengerjakan ibadah di
dalamnya tanpa disibukkan dengan pekerjaan membuat

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 29


gandum karena sudah memiliki stok. Akan tetapi pada masa
sekarang, hal semacam itu sudah tidak diperlukan lagi, sudah
tidak relevan lagi dan sudah tidak ada alasan lagi untuk
tetap melestarikannya karena sudah kehilangan makna
dari hakekat tradisi tersebut. Maka dari itu, meninggalkan
kebiasaan seperti itu adalah lebih utama, apalagi kebiasaan
tersebut biasanya justru hanya menghambur-hamburkan
makanan saja seperti yang biasa kita dapati di tempat-tempat
kerja.
Tanya:
35. Jika ada orang yang masih memiliki hutang puasa, maka
apakah dia boleh mengqadhanya pada bulan Sya’ban?
Jawab:
Ya, dan dia harus segera mengqadha hutang puasanya itu
sebelum datangnya Ramadhan, meskipun di bulan Sya’ban.
Tanya:
36. Apakah itu juga mencakup perempuan yang masih memiliki
hutang puasa Ramadhan tahun lalu karena haidh atau nifas?
Jawab:
Ya, maka dia wajib mengqadha hutang puasanya itu.
Tanya:
37. Ada sebagian orang yang dengan begitu ringan melaku­kan
berbagai kemaksiatan sebelum datangnya Ramadhan, dengan
alasan bahwa orang yang puasa dosanya menda­pat­­kan

30 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


ampunan, bagaimana hukum sikap dan prilaku orang seperti
itu?
Jawab:
Jelas itu merupakan sikap dan prilaku yang buruk
dengan berekspektasi akan mendapatkan ampunan karena
berpuasa di bulan Ramadhan padahal mereka belum
mengerjakannya. Memang, siapakah yang memberi mereka
ijin melakukan kemaksiatan kapan pun? Juga, memangnya
mana ada jaminan bahwa orang yang berpuasa Ramadhan
pasti akan mendapatkan maghfirah dan diterima amal
puasanya?
Tanya:
38. Apa hukum shalat yang dikenal dengan istilah shalat Ar-
Ragha`ib?
Jawab:
Shalat Ar-Ragha`ib adalah shalat dua belas rakaat yang
dikerjakan antara Maghrib dan Isya pada malam Jumat
dari bulan Rajab atau pada malam pertengahan bulan
Sya’ban. Semua itu tidak memiliki landasan dalil yang
shahih dari Nabi Muhammad n, dan ada sejumlah ulama
yang mengatakan bahwa shalat tersebut merupakan bid’ah
munkarah.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 31


Pembahasan Keempat:
Di Antara Keutamaan-
keutamaan Puasa dan
Bulan Suci Ramadhan

Tanya:
39. Apa saja keutamaan-keutamaan puasa secara umum?
Jawab:
- Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri a, dia berkata,
“Aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa
berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah I
menjauhkan dirinya dari neraka sejauh jarak tujuh puluh
musim gugur (tahun).” (HR. Al-Bukhari).
- Diriwayatkan dari Abu Hurairah a, bahwasannya
Rasulullah n bersabda, “Tuhan kalian berfirman, “Setiap
amal adalah kafarat, kecuali puasa, karena puasa adalah
untuk-Ku dan Aku Yang akan membalasnya sesuka-Ku
tanpa ada yang tahu seberapa besar ukurannya.” (HR.

32 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Ahmad).
- Diriwayatkan dari Abu Hurairah a, bahwasannya
Rasulullah n bersabda, “Setiap amal anak cucu Adam
dilipat gandakan, satu amal kebaikan dilipat gandakan
sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah I
berfirman, “Kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-
Ku dan Aku Yang akan membalasnya sesuka-Ku tanpa
ada yang tahu seberapa besar ukurannya.” (HR. Muslim).
- Diriwayatkan dari Hudzaifah Ibnu Al-Yaman a, dia
berkata, “Rasulullah n bersabda, “Fitnah seseorang
berkenaan dengan keluarganya, hartanya dan tetangganya
bisa terhapus oleh shalat, puasa dan sedekah,” (Muttafaq
‘alaihi).
- Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Amr a, bahwasannya
Rasulullah n bersabda, “Puasa dan Al-Qur`an kelak
pada hari kiamat akan memberikan syafaat buat seorang
hamba. Puasa berkata, “Ya Rabb, saya telah mencegahnya
dari makanan dan syahwat di siang hari, maka terimalah
syafaatku buat dirinya.” Al-Qur`an berkata, “Ya Rabb,
saya telah membuat dirinya tidak tidur pada malam hari,
maka terimalah syafaatku buat dirinya.” Maka, Allah I
pun menerima syafaat keduanya.” (HR. Ahmad).
- Diriwayatkan dari Abu Umamah a, dia berkata, “Aku
menemui Rasulullah n dan berkata, “Ya Rasulallah,
perintahkanlah kepadaku suatu amal yang bisa memasuk­

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 33


kan diriku ke dalam surga.” Rasulullah n bersabda,
“Rajin-rajinlah kamu berpuasa, karena puasa tiada
bandingannya.” Kemudian aku menemui beliau pada kali
kedua, lalu beliau kembali berkata, “Rajin-rajinlah kamu
berpuasa.” (HR. Ahmad, An-Nasa`i dan yang lainnya).
Dalam versi lain disebutkan dengan redaki, “karena
sesungguhnya puasa tiada padanannya.” (HR. Ibnu Hibban
dan An-Nasa`i).
Tanya:
40. Apa saja keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan secara
ringkas?
Jawab:
- Diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwasannya
Rasulullah n bersabda,

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh


keimanan dan mengharap pahala dari Allah I maka
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa
melaksanakan qiyamul lail pada malam lailatul qadr
dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari

34 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Allah I, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Muslim).
- Diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwasannya
Rasulullah n bersabda, “Ketika datang malam pertama
bulan Ramadhan, maka setan-setan dan jin-jin jahat
dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tanpa ada satupun
yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka tanpa ada satupun
yang ditutup, dan berserulah penyeru, “Wahai orang yang
mencari kebaikan, datanglah. Wahai orang yang ingin
melakukan keburukan, tahanlah diri kalian, sesungguhnya
ada orang-orang yang akan dibebaskan oleh Allah I dari
neraka, dan itu berlangsung tiap malam.” (HR. Ibnu
Majah).
- Diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwasannya
Rasulullah n naik ke atas mimbar lalu berkata, “Amin,
amin, amin.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Ya
Rasulallah, sebelumnya anda belum pernah melakukan
hal seperti itu.” Lalu Rasulullah n bersabda, “Malaikat
Jibril a.s berkata kepadaku, “Sungguh hina seorang
hamba yang memiliki kesempatan menyaksikan kedua
orang tuanya atau salah satunya, namun hal itu tidak
bisa membuatnya masuk surga.” Lalu aku berkata,
“Amin.” Kemudian malaikat Jibril a.s kembali berkata,
“Sungguh hina seorang hamba yang memiliki kesempatan
menyaksikan bulan Ramadhan, namun hal itu tidak bisa

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 35


membuatnya memperoleh ampunan.” Lalu aku berkata,
“Amin.” Kemudian malaikat Jibril a.s kembali berkata,
“Sungguh hina seorang hamba yang nama anda disebutkan
di dekatnya, namun dia tidak bershalawat kepada anda.”
Lalu aku berkata, “Amin.” (HR. At-Tirmidzi).[]

36 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kelima:
Di Antara Hukum-hukum
yang Berkaitan dengan Puasa

Tanya:
41. Apa definisi puasa secara etimologi?
Jawab:
Puasa secara etimologi artinya adalah al-Imsaak
(menahan diri dari melakukan sesuatu). Di antara contoh
penggunaannya adalah ayat,
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (yakni puasa
bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak
akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.”
(Maryam: 26)
Tanya:
42. Apa definisi puasa secara terminologi syara’?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 37


Jawab:
Yaitu, beribadah kepada Allah I dengan menahan
diri dari hal-hal yang bisa membatalkan dengan niat
mendekatkan diri kepada Allah I, mulai dari terbitnya fajar
sampai terbenamnya matahari.
Tanya:
43. Apa saja macam-macam puasa?
Jawab:
Puasa terbagi menjadi dua:,
- Puasa fardhu, yaitu puasa karena sebab kafarat atau
nadzar, atau tanpa sebab seperti puasa bulan Ramadhan,
karena puasa Ramadhan diwajibkan sejak awal oleh
syara’ dalam artian tanpa ada sebab dari orang mukallaf
yang melatar belakanginya.
- Puasa non fardhu, yaitu ada yang tertentu secara
spesifik seperti puasa senin Kamis, dan ada yang bersifat
mutlak seperti puasa di hari apa saja yang memang
diperbolehkan untuk dibuat berpuasa.
Tanya:
44. Apa hukum puasa bulan Ramadhan?
Jawab:
Puasa bulan Ramadhan adalah salah satu rukun Islam.
Allah I berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu

38 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa,” (Al-Baqarah: 183)
Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar a, dia berkata,
“Rasulullah n bersabda,

“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu bersaksi


bahwa tiada Tuhan kecuali Allah I dan bahwasannya
Muhammad adalah Rasul Allah I, menegakkan shalat,
menunaikan zakat, menunaikan haji dan melaksanakan
puasa Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari).
Kaum Muslimin telah ijma’ bahwa puasa Ramadhan
hukumnya adalah fardhu.
Tanya:
45. Apa saja rukun-rukun puasa itu?
Jawab:
Puasa memiliki satu rukun, yaitu beribadah kepada Allah
I dengan menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan
puasa dimulai sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya
matahari.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 39


Tanya:
46. Puasa apa saja yang wajib dijalankan oleh seluruh kaum
Muslimin?
Jawab:
Puasa Ramadhan saja. Diriwayatkan dari Thalhah
Ibnu Ubaidullah a bahwasannya ada seorang laki-
laki Arab badui datang menemui Rasulullah n dengan
kondisi rambut kepala yang acak-acakan, lalu berkata, “Ya
Rasulallah, tolong beritahu puasa apa yang difardhukan
oleh Allah I atas diriku?” Rasulullah n berkata, “Puasa
Ramadhan, kecuali jika kamu ingin melakukan puasa
sunnah.” (Muttafaq ‘alaihi).
Tanya:
47. Apakah ada macam-macam fajar berkaitan dengan masalah
puasa?
Jawab:
Ya, di sana ada fajar shadiq yang menjadi awal waktu
berpuasa, yaitu fajar kedua sebelum fajar pertama yang
dikenal dengan istilah fajar kadzib.
Tanya:
48. Bagaimana cara kita membedakan antara fajar kadzib
dengan fajar shadiq?

Jawab:
Fajar kedua atau fajar shadiq bisa diidentifikasikan dan

40 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


dibedakan dari fajar kadzib dengan tiga hal,
- Bahwa fajar pertama atau fajar kadzib berbentuk
memanjang dari timur ke barat, semetara fajar shadiq
memanjang dari utara ke selatan, yakni melintang di
ufuk.
- Fajar kadzib akan kembali menghilang dan menjadi
gelap lagi setelahnya, sedangkan fajar shadiq tidak akan
gelap lagi setelahnya, tapi cahayanya terus bertambah
hingga terbitnya matahari.
- Warna putih fajar kedua atau shadiq tersambung dengan
ufuk, sementara fajar kadzib tidak, tapi dipisahkan oleh
gelap, sehingga antara cahaya fajar kadzib dengan ufuk
terdapat gelap yang memisahkan antara keduanya.
Fajar kadzib tidak memiliki hukum apa-apa dalam
syara’. Shalat shubuh belum boleh dilakukan ketika yang
muncul baru fajar kadzib dan orang yang berpuasa tetap
boleh makan, beda dengan fajar shadiq.
Tanya:
49. Apa hukum orang yang menolak kefardhuan puasa
Ramadhan?
Jawab:
Barangsiapa mengingkari dan menolak kefardhuan puasa
Ramadhan, maka dia kafir, kecuali jika dirinya adalah orang

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 41


yang hidup di kawasan terpencil dan tidak mengetahui
hukum-hukum syara’, maka dia diberitahu, namun jika dia
tetap keras kepala dan bersikukuh pada sikapnya itu, maka
dia kafir.
Tanya:
50. Bagaimana hukum orang yang tidak mau menjalankan ibadah
puasa Ramadhan karena menyepelekan kefardhuannya?
Jawab:
Ada sebagian ulama yang berpandangan bahwa orang
seperti itu menjadi kafir dan murtad. Akan tetapi yang rajih
adalah, orang itu tidak sampai kafir dan murtad, tapi fasiq
dan berada dalam bahaya besar.
Tanya:
51. Jika ada orang yang sengaja meninggalkan puasa Ramadhan
selama beberapa tahun silam, maka apakah dia wajib
mengqadhanya?

Jawab:
Orang seperti itu tidak harus mengqadha puasa yang dia
tinggalkan tersebut, tetapi dia harus bertaubat dan menyesali
semuanya itu serta memperbanyak amal-amal sunnah yang
sejenis dengan amal yang pernah dia tinggalkan tersebut.
Tanya:
52. Bisakah hukum tersebut diqiyaskan kepada perbuatan
meninggalkan shalat karena ketiduran?

42 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Hukum tersebut tidak bisa dibantah dengan seperti sabda
Rasulullah n, “Barangsiapa tertidur hingga terlambat shalat
atau lupa shalat, maka hendaklah dia mengerjakan shalat itu
ketika dia ingat.” (Muttafaq ‘alaihi).
Hal itu karena terlambat shalat karena ketiduran
atau lupa adalah udzur yang dimaklumi bagi orang yang
bersangkutan, dan mengqadha amal yang terlambat
dilaksanakan karena ada udzur syar’i seperti itu dianggap
sama seperti melaksanakannya secara ada` dalam hal
pahalanya.
Tanya:
53. Apa hukum orang yang berbuka di siang bulan Ramadhan
tanpa ada udzur?
Jawab:
Berbuka di siang bulan Ramadhan tanpa ada udzur
termasuk salah satu dosa besar, dan pelakunya harus
beristighfar dan bertaubat kepada Allah I.
Tanya:
54. Apakah orang terebut wajib mengqadha puasa hari itu?
Jawab:
Ya, orang tersebut wajib mengqadhanya dan dia tetap
menanggung dosa. Hal itu karena ketika dirinya telah mulai

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 43


masuk ke dalam pelaksanaan puasa Ramadhan, maka berarti
dia telah membuat komitmen untuk melaksanakannya,
sehingga itu sama seperti nadzar, makanya dia wajib
mengqadhanya.
Tanya:
55. Apakah orang yang berbuka pada suatu siang di bulan
Ramadhan wajib mengqadha?
Jawab:
Orang yang meninggalkan puasa Ramadhan sejak awal
dengan sengaja tanpa ada udzur, maka yang rajih adalah
dia tidak berkeharusan mengqadha, karena dia tetap tidak
akan mendapatkan apa-apa, sebab tidak akan diterima.
Kaedahnya adalah, bahwa setiap bentuk ibadah yang
ditentukan waktunya secara spesifik, apabila terlambat
dilaksanakan pada waktunya tersebut tanpa ada udzur, maka
tidak diterima qadha`nya.
Tanya:
56. Jika ada orang kafir masuk Islam, maka apakah dirinya
berkeharusan untuk mengqadha ibadah-ibadah yang
ditinggalkannya selama dirinya masih kafir?
Jawab:
Hal itu tidak perlu, berdasarkan firman Allah I,

44 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “Jika mereka
berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni
mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika
mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada
mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.” (Al-
Anfal: 38)
Tanya:
57. Bagaimana cara berpuasa bagi orang yang tinggal di kawasan
yang waktu siangnya atau waktu malamnya panjang sekali?
Jawab:
Negeri yang memiliki waktu malam dan siang dalam
waktu dua puluh empat jam, maka kaum Muslimin yang
tinggal di sana tetap harus berpuasa seperti biasa meskipun
waktu siangnya sangat panjang dan waktu malamnya pendek
selama masih bisa dibedakan antara waktu malam dan
waktu siangnya. Adapun di negeri-negeri yang tidak bisa
dibedakan antara waktu siang dan waktu malamnya, maka
kaum Muslimin yang tinggal di negeri seperti itu berpuasa
mengikuti ukuran waktu negeri yang terdekat dari negeri
tersebut yang memiliki waktu siang dan malam yang bisa
dibedakan.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 45


Pembahasan Keenam:
Kriteria Orang yang Terkena
Hukum Wajib Berpuasa

Tanya:
58. Siapakah orang yang terkena kewajiban puasa Ramadhan?
Jawab:
Puasa Ramadhan wajib secara ada` bagi setiap Muslim
laki-laki dan perempuan yang sudah baligh, berakal,
mampu, mukim dan bebas dari hal-hal yang menjadi
penghalang puasa.
Tanya:
59. Apa yang dimaksud dengan bebas dari hal-hal yang menjadi
penghalang puasa itu?
Jawab:
Yaitu, apa yang dialami oleh seorang perempuan berupa
haidh atau nifas yang menjadi sebab dirinya tidak boleh
melakukan ibadah seperti shalat, puasa dan ibadah-ibadah

46 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


lainnya yang tidak boleh dikerjakan oleh perempuan yang
sedang haidh atau nifas.
Tanya:
60. Apa kriteria dan patokan seseorang dianggap memiliki akal?
Jawab:
Kriteria atau patokannya adalah memiliki kemampuan
untuk membedakan di antara hal-hal. Jika seseorang tidak
berakal, maka tidak ada kewajiban puasa, shalat dan tidak
pula haji atas dirinya.
Tanya:
61. Apakah seseorang yang sudah lanjut usia dan pikun tetap
wajib berpuasa atau cukup membayar kafarat?
Jawab:
Tidak ada kewajiban puasa dan tidak pula membayar
kafarat puasa atas dirinya, karena sudah tidak ada
pentaklifan apa-apa atas dirinya.
Tanya:
62. Apa saja patokan usia baligh itu?
Jawab:
Usia baligh bisa terwujud dengan salah satu dari tiga hal:
- Sudah mencapai usia lima belas tahun.
- Atau sudah mulai tumbuh rambut kemaluannya.
- Atau sudah pernah mengalami ejakulasi (mengeluar­kan

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 47


sperma disertai dengan rasa nikmat), baik itu dalam tidur
(mimpi basah) maupun dalam kondisi terjaga.
Khusus untuk perempuan ada satu lagi, yaitu sudah mulai
mengalami menstruasi.
Tanya:
63. Apakah baligh bisa dideteksi dengan usia tertentu?

Jawab:
Kebalighan tidak bisa dideteksi dengan usia tertentu,
tapi siapa yang sudah genap berusia lima belas tahun, baik
laki-laki maupun perempuan, maka dia sudah baligh. Jika
ada seorang perempuan yang sudah mengalami menstruasi
meskipun belum genap berusia lima belas tahun, maka dia
juga sudah baligh.
Tanya:
64. Apa yang dimaksud dengan kriteria mampu dalam kaitannya
dengan puasa?
Jawab:
Maksudnya adalah, seseorang tidak memiliki penyakit
yang menghalanginya dari puasa.
Tanya:
65. Apakah yang dimaksud dengan kriteria mukim adalah
kebalikan dari musafir?

48 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, maka orang yang mukim dalam artian orang yang
tinggal di suatu daerah dan di situ dia punya keluarga,
maka dia wajib berpuasa. Adapun seorang musafir yang
melakukan suatu perjalanan untuk suatu tujuan, maka dia
tidak wajib berpuasa.
Tanya:
66. Jika ada seseorang masuk Islam di pertengahan bulan
Ramadhan, maka apa yang harus kita perintahkan kepadanya?
Jawab:
Apabila ada seseorang masuk Islam di siang hari, maka
mulai saat itu dia harus menahan diri dari larangan-larangan
puasa tanpa harus mengqadha, karena ketika itu dirinya sudah
termasuk orang yang terkena kewajiban puasa.
Tanya:
67. Jika ada seseorang berbuka karena situasi dan kondisi ujian
yang jatuh pada bulan Ramadhan sementara mata pelajaran
yang diujikan sulit, maka bagaimana hukumnya?
Jawab:
Berbuka di siang hari bulan Ramadhan karena alasan
ujian adalah tidak boleh, karena dia bisa belajar pada malam
hari dan tidak ada alasan yang mengharuskan untuk berbuka
dan tidak berpuasa.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 49


Tanya:
68. Jika begitu, maka apa yang harus dilakukan oleh orang yang
terlanjur pernah melakukan hal seperti itu?
Jawab:
Pertama-tama, orang yang keliru seperti itu harus
bertaubat dan dia juga berkewajiban mengqadha, karena
dalam hal ini dia meninggalkan puasa dengan berdasarkan
pada suatu interpretasi bukan karena meremeh­k an
kewajiban puasa.
Tanya:
69. Apakah buruh yang bekerja dalam bidang pekerjaan yang
berat boleh berbuka?
Jawab:
Pertama-tama yang harus mereka lakukan adalah tetap
berpuasa dengan memohon pertolongan kepada Allah I,
kemudian ketika di tengah-tengah hari mereka mengalami
kepayahan dan rasa haus luar biasa yang mengancam
keselamatan mereka, maka mereka baru boleh berbuka
karena ada kondisi hajat.
Tanya:
70. Apakah bisa membuat kesepakatan dengan pengusaha terkait
waktu kerja supaya para pekerja bisa berpuasa dengan
sempurna tanpa hambatan?

50 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, dan itu bagus ketika mereka bisa membuat kesepakatan
terkait jadwal kerja pada bulan Ramadhan, misalnya jadwal
kerja dialihkan pada malam hari misalnya atau jam kerjanya
dikurangi, supaya para pekerja tetap bisa bekerja dan sekaligus
berpuasa dengan nyaman.
Tanya:
71. Apakah petugas pemadam kebakaran boleh berbuka pada
bulan Ramadhan?
Jawab:
Jika situasi dan kondisi yang ada memaksa mereka
harus berbuka supaya mereka kuat untuk menjalankan
misi menyelamatkan nyawa manusia, maka boleh saja dan
mereka harus mengqadha setelah Ramadhan.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 51


Pembahasan Ketujuh:
Masuknya Bulan

Hal-hal yang Berkaitan dengan Ru`yatul Hilal (Melihat


Hilal)
Tanya:
72. Bagaimana cara menetapkan masuknya bulan Ramadhan?
Jawab:
Kepastian masuknya bulan Ramadhan bisa dengan
melihat hilal, atau dengan menyempurnakan bilangan hari
bulan Sya’ban sampai tiga puluh hari. Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah n,

“Apabila kalian melihat hilal, maka berpuasalah, dan apabila


kalian melihat hilal, maka berbukalah. Namun jika kalian

52 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


tidak bisa melihat hilal karena tertutupi, maka genapkanlah
bilangan hari bulan Sya’ban sebanyak tiga puluh hari.” (HR.
Al-Bukhari).
Tanya:
73. Bagaimana cara kita bisa tahu secara pasti tentang masuk­nya
bulan?
Jawab:
Hal itu ketika orang-orang memang melihat hilal. Ketika
mereka telah melihat hilal, maka hal-hal yang menjadi
konsekwensinya harus dilaksanakan, seperti puasa jika hilal
itu adalah hilal Ramadhan, atau berbuka (tidak berpuasa
lagi) jika hilal itu adalah hilal bulan Syawal.
Tanya:
74. Syarat-syarat apa saja yang harus terpenuhi pada diri orang
yang melihat hilal?
Jawab:
Syaratnya adalah dia harus orang yang memiliki
kredibilitas dan bisa dipercaya, yaitu memiliki kemam­
puan penglihatan mata yang sehat, memiliki integritas
pada keagamaannya dan ucapannya bisa dipertanggung
jawabkan.
Tanya:
75. Apa hukum mengajak orang-orang untuk melakukan kegiatan
melihat hilal?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 53


Jawab:
Mengajak dan menyeru orang-orang untuk melihat
hilal, yakni hilal bulan Ramadhan atau hilal bulan Syawal
merupakan hal yang sudah jamak dilakukan pada masa
sahabat. Hal ini berdasarkan perkataan Abdullah Ibnu
Umar a, “Orang-orang pergi untuk melihat hilal, lalu
aku mengabarkan kepada Rasulullah n bahwa aku telah
berhasil menangkap keberadaan hilal, lalu Rasulullah n
pun memulai puasa dan memerintahkan orang-orang untuk
memulai puasa.” (HR. Abu Dawud dalam Sunannya).
Tanya:
76. Di mana lokasi yang memungkinkan untuk melihat hilal
dengan jelas untuk pertama kali kemunculannya?
Jawab:
Di gurun di mana tidak ada cahaya atau di atas puncak
gunung.
Tanya:
77. Apa yang bisa kita petik dari perkataan Abdullah bin Umar
a di atas, “Dan Rasulullah n pun memerintahkan orang-
orang untuk mulai puasa,” ?
Jawab:
Yaitu, bahwa hanya Waliyyul Amri saja yang memiliki
kewenangan dan otoritas menetapkan awal dan akhir puasa
serta awal Syawal, dan memerintahkan kaum Muslimin di

54 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


negeri yang bersangkutan untuk berpuasa.
Tanya:
78. Butuh berapa saksi untuk menetapkan masuknya bulan
Ramadhan?
Jawab:
Masuknya bulan Ramadhan sudah bisa ditetapkan
dengan kesaksian satu orang laki-laki jika hakim menilai
bahwa orang tersebut layak untuk diterima kesaksiannya.
Nabi Muhammad n menetapkan masuknya bulan
Ramadhan dengan berdasarkan kesaksian Abdullah Ibnu
Umar a bahwa dirinya telah menangkap wujud hilal
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Tanya:
79. Jika ada seseorang yang melihat hilal sendirian, maka apa
yang harus dia lakukan?
Jawab:
Dia harus menyampaikan hal itu kepada mahkamah dan
memberikan kesaksian tentang hal itu.
Tanya:
80. Jika ada orang yang ditolak kesaksiannya perihal melihat
hilal, apakah dia wajib berpuasa?
Jawab:
Ya, dia wajib untuk mulai berpuasa, karena dia yakin
telah melihat hilal. Rasulullah n bersabda, “Puasalah kalian

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 55


karena melihat hilal,” dan orang yang bersangkutan telah
melihat hilal.
Tanya:
81. Jika hilal sudah berhasil dilihat, tetapi ada orang yang tidak
berhasil melihat hilal berkata, “Aku akan meng­genap­kan
bilangan hari bulan Sya’ban,” apa yang harus disampaikan
kepada orang seperti itu?
Jawab:
Secara prinsip, bahwa setiap orang yang melihat hilal,
maka dia harus mulai berpuasa. Akan tetapi hal itu tidak
lantas berarti bahwa orang yang tidak melihat hilal tidak
ikut memulai puasa. Bukan itu maksud yang diinginkan
berdasarkan kesepakatan. Perintah yang ada adalah
ditujukan kepada semuanya secara keseluruhan, bukan
kepada masing-masing individu, karena tidak mungkin
mengharuskan tiap-tiap individu dari seluruh umat untuk
bisa melihat hilal.
Tanya:
82. Bisakah memanfaatkan pesawat terbang untuk melihat hilal?
Jawab:
Tidak disyariatkan menggunakan pesawat terbang atau
satelit untuk mendeteksi dan melihat hilal, karena pesawat
terbang dan satelit berada di ketinggian yang sangat jauh
sekali dari bumi yang merupakan tempat untuk melihat hilal.

56 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
83. Bolehkah seorang Muslim menggunakan alat semacam
teropong, teleskop atau keker untuk melihat hilal?
Jawab:
Ya, tidak apa-apa menggunakan alat semacam itu, karena
keumuman sabda Rasulullah n, “Jika kalian melihat hilal
(Ramadhan), maka mulailah berpuasa, dan jika kalian
melihat hilal (Syawal), maka berbukalah.”
Tanya:
84. Mana yang lebih diprioritaskan, rukyah atau hisab?
Jawab:
Rukyah lebih diprioritaskan atas hisab, berdasarkan
firman Allah I,
“Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan
bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu,”
(Al-Baqarah: 185)
Juga berdasarkan sabda Rasulullah n, “Jika kalian
melihat hilal (Ramadhan), maka mulailah berpuasa, dan
jika kalian melihat hilal (Syawal), maka berbukalah.”
Tanya:
85. Bolehkah hanya mengandalkan hasil perhitungan
observatorium dalam menetapkan mulai masuk dan
keluarnya bulan?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 57


Jawab:
Tidak boleh. Jika hilal sudah terlihat, meskipun itu
dengan menggunakan teleskop observatorium, maka
rukyat itu diperhitungkan, berdasarkan keumuman sabda
Rasulullah n,

“Jika kalian melihat hilal (Ramadhan), maka mulailah


berpuasa, dan jika kalian melihat hilal (Syawal), maka
berbukalah.”
Adapun hisab saja, maka tidak boleh digunakan dan
tidak boleh pula dijadikan sebagai pegangan.
Tanya:
86. Kapan hisab bisa digunakan sesuai dengan hasil perhi­tungan
observatorium?
Jawab:
Hasil hisab tersebut hanya bisa digunakan untuk
meniadakan bukan untuk menetapkan. Dalam artian,
seandainya ada seseorang mengatakan bahwa dirinya telah
melihat hilal, sementara hasil perhitungan observatorium
menyatakan bahwa hilal tidak mungkin lahir pada malam
tersebut di lokasi tersebut, maka di sini yang kita ambil
adalah hasil observatorium tersebut. Namun jika seandainya
observatorium menetapkan bahwa hilal telah lahir pada

58 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


malam ini, namun tidak ada satu orang pun yang bisa
melihat dan menangkapnya dengan mata, maka ketetapan
observatorium tersebut tidak kita gunakan, karena yang
diperhitungkan adalah melihat secara alami dalam artian
benar-benar terlihat oleh mata.
Tanya:
87. Seandainya hasil hisab ternyata benar dan tepat, maka
apakah kita bisa mempergunakannya untuk tahun-tahun
mendatang?
Jawab:
Tidak boleh hanya berpatokan pada hasil hisab, baik
apakah hasil hisab yang ada adalah betul atau keliru, karena
kita tidaklah diminta melainkan hanya menggunakan
media-media yang syar’i dalam menetapkan hilal, tidak
lebih dari itu.
Tanya:
88. Seandainya ada orang berargumentasi bahwa dulu umat
Islam pada awalnya adalah ummi dalam artian tidak pandai
menulis dan menghitung, makanya mereka menggunakan
cara rukyah alami. Adapun sekarang, maka umat sudah
pandai menulis dan berhitung, sehingga illat yang ada sudah
tidak relevan lagi. Maka dari itu, kita harus merujuk kepada
hisab. Apa yang harus kita katakan kepada orang yang
berargumentasi seperti itu?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 59


Jawab:
Dikatakan kepadanya, tidak, itu adalah label umat ini,
meskipun di antara mereka ada orang yang belajar. Allah
I berfirman,

“Dia lah Yang mengutus kepada kaum yang buta huruf


seorang Rasul di antara mereka,” (Al-Jumu’ah: 2)
Rasulullah n adalah seorang yang ummi, umat ini juga umat
ummi berdasarkan informasi Nabawi yang benar meskipun
umat tersebut bisa menulis dan membaca.
Tanya:
89. Apa makna sabda Rasulullah n, “Ada dua bulan yang tidak
berkurang, dua bulan itu adalah dua bulan hari raya, yaitu
bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Al-Bukhari).
Jawab:
Terdapat ragam pendapat seputar apa yang dimaksud­kan
dari hadits tersebut. Di antaranya adalah,
- Yang dimaksud dengan dua bulan hari raya yang tidak
berkurang adalah, keduanya tidak berkurang secara
bersama-sama dalam satu tahun, yaitu bulan Ramadhan
dan bulan Dzulhijjah. Jika salah satunya genap, maka
yang lain berkurang.
- Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya adalah

60 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


tidak berkurang dalam hal keutamaan dan pahala,
meskipun bilangannya dua puluh sembian hari atau tiga
puluh hari.
- Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya adalah
tidsak berkurang dalam hal hukum-hukumnya.
Tanya:
90. Apakah Nabi Muhammad n pernah menyebutkan tentang
kadar ukuran bulan Arab?
Jawab:
Ya, diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar a, dari
Rasulullah n bahwasannya beliau bersabda, “Sesung­guh­
nya kita adalah umat yang ummi, kita tidak pandai menulis
dan menghitung, bulan adalah sekian dan sekian,” yakni
terkadang dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh
hari.” (Muttafaq ‘alihi).
Tanya:
91. Ketika orang-orang baru mengetahui masuknya awal bulan di
pagi atau siang hari, maka apa yang harus mereka lakukan?
Jawab:
Jika masuknya awal bulan baru diketahui di tengah-
tengah hari, maka mulai saat itu juga mereka harus menahan
diri dari larangan-larangan dan pantangan-pantangan
puasa, karena ternyata hari tersebut sudah menjadi bagian
dari bulan Ramadhan.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 61


Tanya:
92. Apakah orang-orang seperti mereka itu wajib mengqadha
puasa untuk hari tersebut?
Jawab:
Dalam hal ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan
ulama. Jumhur ulama mengatakan bahwa mereka wajib
mengqadha, alasannya adalah karena mereka tidak niat
puasa dari awal hari, sehingga ada bagian dari hari itu yang
dia lalui tanpa niat.
Sementara itu, ada sebagian ulama yang berpendapat
bahwa mereka tidak berkewajiban mengqadha, karena
mereka pada hari itu berbuka karena tidak tahu, sementara
ketidak tahuan mereka itu adalah ketidak tahuan yang dapat
dimaklumi.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Perbedaan Al-Mathali’


(Lokasi Munculnya Hilal)
Tanya:
93. Bagaimana menyikapi seruan tentang penyatuan Al-Mathali`
dan rukyat?

Jawab:
Tidak ada persoalan sebenarnya menyangkut pandangan
yang mengatakan tentang kesamaan Al-Mathali’ atau
perbedaan Al-Mathali’. Hal tersebut tidak memunculkan

62 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


suatu persoalan selama perjalanan panjang sejarah umat
Islam, meskipun pada beberapa periode terdapat ulama
yang memfatwakan tentang kesamaan Al-Mathali’ dan
ada pula yang memfatwakan perbedaan Al-Mathali’. Akan
tetapi, karena umat Islam pada masa lalu berada di bawah
kepemimpinan satu orang, maka hal itu memungkinan
untuk mengeluarkan keputusan yang mengikat bagi seluruh
umat di seluruh penjuru timur dan barat. Namun hal itu
tidak lagi memungkinkan untuk diterapkan pada masa
sekarang ini. Akan tetapi jika para ulama tiap-tiap negara
berijtihad dan mereka memang memiliki kapasitas untuk
melakukan itu dan memiliki kapabilitas untuk diikuti, maka
insya Allah tidak akan ada persoalan apa-apa.
Tanya:
94. Ada sebagian kalangan yang menyerukan untuk menyatukan
Al-Mathali’ dengan menjadikan Makkah sebagai patokan
dan rujukannya demi menjaga kesatuan dan persatuan
umat Islam menyangkut masuknya awal bulan, bagaimana
memandang seruan seperti ini?
Jawab:
Secara astronomis, hal itu adalah mustahil, karena
Mathali’ hilal memang berbeda-beda. Jika memang Mathali’
hilal berbeda-beda, maka menurut dalil yang ada, tiap-tiap
negeri memiliki hukumnya sendiri. Jika penduduk Makkah

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 63


sudah melihat hilal misalnya, maka apakah kita mesti
mengharuskan penduduk Pakistan untuk ikut berpuasa,
padahal kita tahu bahwa hilal belum muncul di ufuk atau
cakrawala langit mereka.
Tanya:
95. Apakah perbedaan Al-Mathali’ juga sudah ada pada masa
lalu?
Jawab:
Ya, buktinya adalah keterangan yang bersumber dari
Kuraib bahwa Ummu Al-Fadhl Binti Al-Harits mengutus
dirinya untuk menemui Muawiah di Syam. Kuraib
bercerita, “Maka, aku pun pergi ke Syam dan melaksanakan
keperluannya yang dia amanatkan kepadaku. Ketika aku
masih di Syam, hilal awal bulan Ramadhan datang dan aku
melihatnya pada malam Jumat. Kemudian aku pulang ke
Madinah dan sampai di sana di akhir bulan Ramadhan.
Lalu Abdullah bin Abbas a bertanya kepadaku, kemudian
pembicaraan pun sampai pada masalah hilal. Abdullah
bin Abbas a berkata kepadaku, “Kapan kamu melihat
hilal?” Aku menjawab, “Kami melihat hilal pada malam
Jumat.” Abdullah bin Abbas a kembali berkata, “Kamu
melihatnya sendiri?” Aku menjawab, “Ya, dan orang-orang
juga melihatnya, lalu mereka pun berpuasa dan Muawiah
pun berpuasa.” Abdullah bin Abbas a kembali berkata,
“Namun kami di sini baru melihat hilal pada malam sabtu,

64 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


maka dari itu kami akan tetap berpuasa hingga genap tiga
puluh hari atau kecuali kami melihat hilal (bulan Syawal).”
Lalu aku berkata, “Tidakkah anda cukup mengikuti
rukyat­nya Muawiah dan puasanya?” Abdullah bin Abbas
a menjawab, “Tidak, dan demikianlah Rasulullah n
memerintahkan.” (HR. Muslim).

Tanya:
96. Bagaimana tentang orang yang merilis berita di surat kabar
tentang waktu awal bulan?

Jawab:
Semestinya tindakan seperti itu ditinggalkan, karena
khawatir bisa memicu perpecahan di kalangan kaum
Muslimin.
Tanya:
97. Apakah ketetapan dan keputusan waliyyul amri di suatu
negeri adalah keputusan final yang harus menjadi rujukan
menyangkut persoalan perbedaan Al-Mathali’i?
Jawab:
Betul. Maka dari itu, apabila waliyyul amri sudah
mengeluarkan instruksi untuk mulai berpuasa atau
berakhirnya puasa dan masuknya hari raya, maka harus
dipatuhi oleh semuanya, karena ketetapan dan keputusan
waliyyul amri dalam permasalahan-permasalahan khilafiah
adalah penentu finalnya.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 65


Tanya:
98. Orang yang hidup di luar negeri misalnya, apakah dia
berpuasa bersama-sama dengan masyarakat dan penduduk
setempat ataukah mengikuti negeri asalnya?
Jawab:
Seorang Muslim berpuasa dan berbuka mengikuti
masyarakat setempat di mana dia tinggal, baik apakah
waktunya sesuai dengan yang berlangsung di negeri asalnya
maupun berbeda.

Doa dan Ucapan Selamat Atas Datangnya Bulan


Tanya:
99. Apakah ada khusus yang bersumber dari Nabi Muhammad
n ketika melihat hilal?
Jawab:
Ya, ada. Diriwayatkan dari Rasulullah n bahwa beliau
memanjatkan doa seperti berikut,

“Ya Allah, terbitkanlah hilal itu kepada kami dengan keberkahan,


keimanan, keselamatan dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu
adalah Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

66 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
100. Apakah disyariatkan bagi orang yang mendengar berita
bahwa hilal telah terlihat untuk mengucapkan doa di atas?
Jawab:
Tidak disyariatkan memanjatkan doa di atas kecuali bagi
orang yang menyaksikan hilal saja.
Tanya:
101. Apa hukum mengucapkan selamat atas masuknya bulan
Ramadhan?
Jawab:
Tidak apa-apa menyampaikan ucapan selamat atas setiap
hal yang menggembirakan, karena dasarnya terdapat dalam
As-Sunnah, seperti ucapan selamat para sahabat kepada
Ka’b Ibnu Malik a atas diterimanya pertaubatan dirinya
oleh Allah I. Begitu juga, Nabi Muhammad n diberi
ucapan selamat dan kabar gembira atas kelahiran putra
beliau yang bernama Ibrahim. Para malaikat juga pernah
mengucapkan selamat dan menyampaikan berita gembira
kepada nabi Ibrahim a.s bahwa dirinya akan memiliki
anak. Jadi, memberikan ucapan selamat atas setiap hal
yang menggembirakan adalah boleh-boleh saja dan itu ada
dasarnya di dalam As-Sunnah.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 67


Pembahasan Kedelapan:
Amal-amal Ketaatan di
Bulan Ramadhan

Tanya:
102. Apakah ibadah memiliki dua sisi yang mesti diperhatikan?
Jawab:
Ya.
- Sisi pertama, yaitu pelaksanaan dan realisasi sesuai
dengan tata cara dan tuntunan yang telah diajarkan
dan digariskan oleh Nabi Muhamad n. Ini disebut
Al-Ijza` atau juga dikenal dengan istilah sah dengan
memperhatikan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya,
kewajiban-kewajibannya dan lain sebagainya.
- Sisi kedua, yaitu balasan dan ini baru bisa digapai jika
telah memenuhi sejumlah syarat, yaitu ikhlas hanya
karena Allah I, mengharapkan pahala hanya dari-
Nya, menghindari riya` dan hal-hal lainnya yang bisa

68 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


merusak pahala ibadah. Ini disebut dengan al-Qabul
atau diterima di sisi Allah I.
Tanya:
103. Dalam hal apa seorang Muslim satu dengan orang Muslim
lainnya memiliki kesamaan atau perbedaan dalam hal
ibadah?
Jawab:
Bisa memiliki kesamaan dalam hal al-Ijza` (sama-sama
sah), tapi meskipun begitu pahala yang diperoleh bisa
berbeda-beda antara Muslim satu dengan Muslim yang lain.

Tanya:
104. Mungkinkan seorang Muslim menunaikan ibadah, namun
tidak diterima oleh Allah I?

Jawab:
Ya, seperti misalnya orang yang tidak menjaga adab dan
etika terhadap Allah I dalam ibadah, sehingga ibadahnya
sah secara lahiriah, namun secara substansi ibadahnya itu
rusak.

Tanya:
105. Apa saja amalan-amalan yang disyariatkan untuk dikerjakan
di bulan Ramadhan?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 69


Jawab:
Banyak sekali, seperti tentunya shalat fardhu, shalat
sunnah, shadaqah, mengeluarkan zakat, membaca Al-
Qur`an, shilaturrahim, umrah, memberi nasihat dan yang
lainnya berupa setiap hal yang dicintai dan diridhai oleh
Allah I buat kita.

Tanya:
106. Apakah doa orang yang berpuasa mustajab?
Jawab:
Ya, diriwayatkan dari Abu Hurairah a, dia berkata,
“Rasulullah n bersabda, “Ada tiga orang yang doa mereka
tidak ditolak. Imam yang adil. Kedua, orang yang berpuasa
hingga dia berbuka. Ketiga, doa orang yang teraniaya, pada
hari kiamat kelak doa orang yang teraniaya diangkat oleh
Allah I di atas kabut putih, pintu-pintu langit dibuka untuk
doanya itu, dan Allah I berfirman, “Demi kebesaran dan
keagungan-Ku, sungguh Aku pasti akan menolongmu meski
setelah beberapa waktu.” (HR. Ibnu Majah).
Tanya:
107. Ada sebagian orang meyakini bahwa umrah pada bulan
Ramadhan hukumnya adalah wajib, apakah itu betul?
Jawab:
Itu adalah tidak betul. Umrah hanya wajib satu kali
seumur hidup. Adapun umrah pada bulan Ramadhan, maka

70 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


itu hanya sunnah dan dianjurkan.
Tanya:
108. Apakah pahala umrah pada bulan Ramadhan berbeda dari
pahala umrah pada bulan-bulan yang lain?
Jawab:
Ya, Rasulullah n bersabda, “Umrah di bulan Ramadhan
menyamai haji, atau menyamai haji bersamaku.” (HR. Al-
Bukhari).
Tanya:
109. Apakah pahala umrah pada bulan Ramadhan berbeda-beda
menurut harinya?
Jawab:
Tidak, tapi umrah di bulan Ramadhan disyariatkan
pada semua hari-hari Ramadhan. Mengistimewakan umrah
pada hari-hari tertentu dari bulan Ramadhan tidaklah
disyariatkan.
Tanya:
110. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa memberi
bahan untuk berbuka puasa bagi orang puasa, maka dia
mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut
tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang yang puasa
tersebut,” makanan bagaimanakah yang bisa dikatakan
sebagai makanan berbuka yang bisa mendatangkan pahala
seperti itu?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 71


Jawab:
Ada yang mengatakan, bahwa yang penting sesuatu yang
bisa digunakan untuk berbuka puasa sekalipun itu hanya
satu butir kurma.
Namun ada pula sebagian ulama yang mengatakan
bahwa maksudnya adalah makanan dalam kadar yang sudah
bisa mengenyangkan, karena makanan seperti itulah yang
berguna bagi orang yang berpuasa pada malam harinya itu,
bahkan mungkin lebih dari cukup hingga membuat dirinya
tidak perlu sahur.
Akan tetapi zhahir hadits menunjukkan bahwa jika dia
memberi bahan berbuka puasa kepada orang yang puasa
sekalipun itu hanya sebutir kurma, maka dia sudah bisa
mendapatkan pahala seperti yang dijelaskan dalam hadits
di atas. Maka dari itu, hendaknya seseorang sebisa mungkin
selalu berusaha untuk memberi makanan buka puasa kepada
orang-orang yang berpuasa sesuai dengan kemampuan,
terlebih lagi kepada orang-orang yang membutuhkan dan
orang-orang tidak mampu.
Tanya:
111. Apakah mengkhatamkan Al-Qur`an di bulan Ramadhan
merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan?

72 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, dan hendaknya seseorang di bulan Ramadhan
memperbanyak baca Al-Qur`an, karena hal itu termasuk
bagian dari Sunnah Rasulullah n ketika beliau melaksanakan
tadarus Al-Qur`an dengan malaikat Jibril AS pada tiap bulan
Ramadhan.
Tanya:
112. Apa hukum orang yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur`an
dan menghadiahkannya kepada orang-orang yang telah
meninggal dunia?
Jawab:
Hal semacam itu bukan merupakan bagian dari jejak
langkah yang dilakukan oleh generasi salaf.
Tanya:
113. Ada orang yang mengkhatamkan Al-Qur`an lebih dari sekali
dan menjualnya kepada orang lain supaya selanjutkan orang
yang membelinya menghadiakannya kepada kerabatnya yang
sudah meninggal dunia, bagaimana hukum hal seperti itu?
Jawab:
Sungguh itu merupakan perbuatan yang sangat aneh dan
merupakan bentuk bid’ah dalam agama.
Tanya:
114. Apakah ada batasan tertentu untuk mengkhatamkan Al-
Qur`an?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 73


Jawab:
Ramadhan adalah bulan Al-Qur`an, dan setiap Muslim
bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk meraup
kebajikan sesuai dengan batas kesanggupan.[]

74 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kesembilan:
Akhlak Orang Puasa

Tanya:
115. Apa makna hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah n
paling dermawan ketika di bulan Ramadhan?
Jawab:
Yakni, bahwa sesungguhnya Rasulullah n adalah sosok
yang paling pemurah dan dermawan tanpa ada satu orang
pun yang menandingi kedermawanan dan kemurahan
beliau. Namun kedermawanan dan kemurahan beliau
yang sudah luar biasa itu meningkat tajam ketika di bulan
Ramadhan. Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah
bin Abbas a, dia berkata, “Nabi Muhammad n adalah
orang yang paling dermawan dan pemurah, dan beliau
jauh lebih dermawan dan pemurah lagi ketika di bulan
Ramadhan di saat beliau ditemui oleh malaikat Jibril u lalu
beliau memper­dengarkan bacaan Al-Qur`an sementara

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 75


malaikat Jibril a.s menyimaknya, sehingga beliau lebih
dermawan dan pemurah dengan kebaikan dibandingkan
angin yang bertiup.” (HR. Al-Bukhari).
Tanya:
116. Apakah kedermawanan dan kemurahan itu hanya pada aspek
nafkah maliah atau materi saja?
Jawab:
Tidak, akan tetapi dalam semua aspek kebaikan dan
prilaku yang baik, sopan dan santun dengan Allah I dan
dengan manusia.
Tanya:
117. Apa makna sabda Rasulullah n, “Barangsiapa tidak
meninggalkan perkataan bathil dan perbuatan bathil,
maka Allah I tidak mau tahu dengan amal meninggalkan
makanan dan minuman yang dia kerjakan,” ?
Jawab:
Perkataan batil atau yang dalam hadits di atas diung­
kap­kan dengan kata, “Az-Zur” adalah setiap perkataan yang
diharamkan, seperti bohong, ghibah dan lain sebagainya.
Sedangkan perbuatan Az-Zur adalah perbuatan
melakukan setiap hal yang diharamkan, seperti melakukan
pelanggaran dan penganiayaan kepada orang lain dengan
tindakan khianat, tidak jujur, menipu, mengelabuhi dan
lain sebagainya. Termasuk juga mendengarkan hal-hal yang

76 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


diharamkan dan mu’akasat (mengganggu dan menggoda
perempuan).
Tanya:
118. Apakah perbuatan-perbuatan seperti di atas membatalkan
puasa?

Jawab:
Tidak membatalkan puasa, namun menjadikan
puasa orang yang bersangkutan tidak diterima dan tidak
mendatangkan pahala.
Tanya:
119. Apakah perbuatan-perbuatan jelek di bulan Ramadhan
dilipat gandakan dosanya?

Jawab:
Dosa tidak ada yang dilipat gandakan, hanya ber­
tambah besar ukurannya, jadi yang bertambah hanya
aspek kwalitasnya bukan aspek kwantitasnya. Hal itu bisa
dikarenakan kemuliaan waktu semisal Ramadhan, atau
kemuliaan tempat seperti Makkah.
Tanya:
120. Sebagian orang yang berpuasa tampak tidak ada perubahan
apa pun pada prilaku dan tindak tanduknya selama puasa,
apa akibatnya?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 77


Jawab:
Memang sangat disayangkan, ada sebagian orang yang
tidak membedakan antara hari-hari puasa dan hari-hari
biasa, sehingga tetap saja pada hari-hari puasa mereka
masih berprilaku seperti biasanya seperti meninggalkan
kewajiban dan mengerjakan keharaman tanpa ada kesadaran
sedikit pun bahwa semestinya mereka menghormati dan
menjunjung tinggi kehormatan, kewibawaan dan kesucian
puasa. Bahkan ketika ditimbang-timbang, prilaku-prilaku
kelirunya mengalahkan pahala puasa, sehingga pahalanya
pun lenyap dan sirna.
Tanya:
121. Kenapa fenomena-fenomena kejelekan dan kerusakan
biasanya menurun cukup signifikan pada bulan Ramadhan?
Jawab:
Hal itu karena beberapa hal, di antaranya adalah
bertambahnya keberkahan pada bulan Ramadhan, juga
karena setan-setan dibelenggu.
Tanya:
122. Apa dalil yang menunjukkan bahwa setan-setan dibeleng­gu
pada bulan Ramadhan?

Jawab:
Dalilnya adalah sabda Rasulullah n, “Ketika tiba malam
pertama bulan Ramadhan, maka setan-setan dan jin-jin jahat

78 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


dibelenggu.” (HR. At-Tirmidzi dan dianggap shahih oleh
Syaikh Al-Albani)
Tanya:
123. Sebagian orang tetap saja melakukan kemaksiatan-
kemaksiatan hingga di bulan Ramadhan, bagaimana
hal semacam itu bisa terjadi padahal setan-setan sudah
dibelenggu pada bulan Ramadhan?
Jawab:
Ada yang mengatakan, bahwa jin-jin jahatlah yang
semuanya dibelenggu, bukan semua setan. Ada pula yang
mengatakan bahwa para setan dan jin jahat dibelenggu
hanya bagi orang-orang yang mengerjakan puasa dengan
benar dan sempurna dengan segenap etika dan tata
kramanya.
Tanya:
124. Apa hukum orang-orang yang tidur sepanjang hari di bulan
Ramadhan, sebagian dari mereka shalat berjamaah dan
sebagian yang lain tidak shalat, apakah puasa orang-orang
seperti itu sah?
Jawab:
Puasa mereka sah dan mencukup dalam artian sudah
menggugurkan kewajiban puasa, akan tetapi cacat dan
tidak sempurna serta jauh dari maksud puasa itu sendiri,

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 79


karena Allah I berfirman dalam ayat puasa, “Supaya kalian
bertakwa.”
Sudah maklum bahwa menyia-nyiakan shalat dan
tidak mempedulikannya sama sekali bukan bagian dari
ketakwaan kepada Allah I, dan itu tidak sejalan dengan apa
yang diinginkan dan dikehendaki oleh Allah I dan Rasul-
Nya dalam puasa. Anehnya, orang-orang seperti itu tidur
sepanjang hari dan bergadang sepanjang malam, bahkan
barang kali mereka bergadang untuk hal-hal yang tidak ada
faedahnya apa-apa atau melakukan hal yang diharamkan
sehingga membuat mereka mendapat dosa.
Tanya:
125. Ada sebagian pemuda dan pemudi kecanduan internet
sepanjang malam dan siang, dan terkadang di dalamnya
terdapat hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah I atau tidak
sejalan dengan semangat dan nilai-nilai puasa, lantas apa
hukumnya hal itu di bulan Ramadhan secara khusus?
Jawab:
Orang-orang seperti rawan dan berpotensi kehila­
ngan pahala puasa. Permasalahannya bukan hanya
sekedar melaksanakan amal puasa secara lahiriah dan
menggugurkan kewajiban, akan tetapi di sana ada misi
yang harus ditunaikan. Takutnya, Allah I tidak berkenan
menerima puasa mereka. Allah I berfirman,

80 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


“Sesungguhnya Allah hanya berkenan menerima dari orang-
orang yang bertakwa,” (Al-Ma`idah: 27)
Yakni, orang-orang yang bertakwa dengan meng­hindar­
kan diri dari berbuat maksiat dan durhaka terhadap Allah
I.
Tanya:
126. Apakah berbicara lewat telephon atau yang lainnya antara
pemuda dan pemudi asing (bukan mahram) bisa menyia-
nyiakan puasa?
Jawab:
Itu adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan
yang mendatangkan murka Allah I atas mereka berdua. Itu
merupakan salah satu perbuatan yang dijadikan nampak
indah dan menyenangkan oleh setan di mata mereka berdua.
Hal itu juga menunjukkan lemahnya sense of honor dan
iffah dalam hati mereka berdua. Dosa di bulan Ramadhan
menjadi lebih besar, maka dari itu hendaklah pemuda dan
pemudi yang sedang berpuasa itu bertakwa kepada Allah
I dan menjauhkan diri dari murka-Nya. Seseorang jangan
sampai menggunakan dalih dan argumentasi semu bahwa
hubungan yang ada tersebut hanyalah sebatas komunikasi
dan berbicara saja, bahwa itu murni hanya sebatas hubungan

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 81


pertemanan saja. Semua itu adalah alasan-alasan semu
untuk suatu perbuatan buruk.
Tanya:
127. Jika ada seseorang sahur, kemudian shalat Shubuh, lalu
tidur hingga tiba aktu shalat zhuhur, kemudian dia bangun
dan shalat zhuhur, lalu tidur lagi hingga tiba waktu shalat
ashar, lalu dia shalat ashar dan tidur lagi sampai tiba waktu
berbuka, apakah puasanya itu sah?
Jawab:
Puasanya sah, namun orang puasa yang terus tidur
sepanjang hari seperti itu adalah orang yang tidak bijak dan
ceroboh, apalagi bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang
semestinya setiap Muslim memanfaatkan sebaik-baiknya
untuk hal-hal yang berguna baginya seperti memperbanyak
membaca Al-Qur`an, mencari rezeki dan mencari ilmu.
Tanya:
128. Jika pekerjaan seseorang menuntut untuk bekerja malam
hari hingga waktu sahur, apakah orang seperti itu boleh tidur
sepanjang hari di bulan Ramadhan?
Jawab:
Dikhawatirkan orang tersebut tidak bisa menunaikan
kewajiban shalat, sehingga dia berdosa karena tidak
memperhatikan kewajiban shalat. Oleh karena itu, jika
tidak ada orang lain yang bisa dia minta tolong untuk

82 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


membangunkannya, maka dia harus memanfaatkan
semacam alarm yang dibunyikan pada jam-jam waktu
shalat, sehingga dirinya bisa menunaikan shalat yang telah
diwajibkan oleh Allah I atas dirinya.
Tanya:
129. Jika ada orang yang hanya rajin beribadah di bulan
Ramadhan saja, kemudian ketika Ramadhan sudah selesai,
maka dia kurang begitu memperhatikan kewajiban shalat,
apakah orang seperti ini bisa mendapatkan faedah dari
puasanya?
Jawab:
Shalat merupakan salah satu rukun Islam terpenting
setelah dua kalimat syahadat. Shalat adalah fardhu ain.
Barangsiapa meninggalkan shalat karena mengingkari
hukum wajib shalat, atau karena malas dan tidak begitu
mempedulikan kewajiban shalat, maka sungguh dia telah
kafir. Adapun orang yang puasa dan shalat hanya pas di
bulan Ramadhan saja, maka berarti dia itu adalah orang
yang berpura-pura kepada Allah I, dan tidak sah puasanya
jika dia adalah orang yang meninggalkan shalat.
Tanya:
130. Orang yang kadang-kadang shalat dan kadang-kadang tidak,
apa dampak dan pengaruh hal itu terhadap puasanya?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 83


Jawab:
Itu adalah prilaku yang aneh, menunjukkan bahwa dia
tidak menghormati dan tidak menjunjung tinggi hukum
Allah I serta tidak tulus dan tidak sungguh-sungguh
berkomitmen terhadap ibadah yang agung tersebut.
Semestinya dia harus selalu konsisten pada kebaikan dan
ketaatan.
Tanya:
131. Bagaimana dengan orang yang berpuasa tapi tidak shalat?
Jawab:
Orang seperti itu, puasanya tidak berguna dan tidak
mendatangkan manfaat apa-apa baginya, karena di antara
syarat sahnya puasa adalah Islam, sementara orang yang
meninggalkan shalat bukanlah seorang Muslim. Maka dari
itu, puasanya dan amalnya tidak bermanfaat apa-apa baginya
selama dia masih meninggalkan shalat, karena itu berarti dia
telah murtad dan keluar dari Islam. Kami memohon afiat
kepada Allah I. Perbuatan meninggalkan shalat adalah
persoalan yang sangat serius.
Tanya:
132. Banyak orang yang begitu perhatian dan antusias dengan
masalah shalat ketika di bulan Ramadhan saja, namun di
bulan-bulan lainnya tidak, maka nasihat apa yang harus
kita sampaikan kepada mereka?

84 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Kita nasihati mereka agar senantiasa menjaga ketakwaan
kepada Allah I di semua waktu, kapan pun dan di mana pun,
di bulan Ramadhan dan di selain bulan Ramadhan, karena
manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Tuhannya
sampai mati. Allah I berfirman,
“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang
diyakini (ajal).” (Al-Hijr: 99)
Tanya:
133. Jika ada orang yang berpuasa marah karena suatu hal, dan
dalam marahnya itu dia mengeluarkan kata-kata kasar, maka
apakah hal itu membatalkan puasanya ataukah tidak?
Jawab:
Tidak membatalkan puasanya, tetapi mengurangi pahala
puasa. Seorang Muslim harus senantiasa mengendalikan
dirinya dan menjaga lisannya dari kata-kata kasar dan
kotor, terlebih lagi ketika puasa dan dia hendaknya menjaga
kesempurnaan puasanya. Abu Hurairah a meriwayatkan
bahwasannya Rasulullah n bersabda,

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 85


“Jika salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah dia
mengeluarkan kata-kata kotor dan janganlah mengeluarkan
kata-kata kasar. Jika ada seseorang mengumpatnya atau
menyakitinya, maka hendaklah dia berkata, “Aku sedang
berpuasa.” (HR. Muslim).
Tanya:
134. Apakah menghindari perbuatan-perbuatan maksiat hanya
di siang hari saja, sedangkan setelah berbuka puasa (yakni,
pada malam hari) boleh-boleh saja melakukannya?
Jawab:
Itu merupakan salah satu pemahaman yang buruk
dan merupakan bentuk perlakuan yang buruk terhadap
waktu-waktu bulan Ramadhan yang semuanya mulia.
Apakah memangnya menonton film dan drama yang tidak
baik boleh di malam hari dan haram di siang hari?! Takwa
kepada Allah I adalah sebuah keharusan di setiap waktu
dan tempat, kapan pun dan di mana pun.
Tanya:
135. Apakah turnamen olah raga berpengaruh terhadap puasa?
Jawab:
Orang yang berpuasa hendaknya selalu ingat untuk
menjaga puasanya dari hal-hal yang tidak ada gunanya
dan dari kondisi kelelahan di tempat-tempat hiburan dan
permainan yang mungkin di dalamnya terdapat hal-hal yang

86 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


batil. Dia harus memanfaatkan waktunya sebaik mungkin
dengan amal-amal ketaatan. Khawatirnya, sebagian
turnamen olah raga terkadang dibarengi dengan adanya
taruhan.
Tanya:
136. Orang yang menghabiskan waktu siang Ramadhan dengan
tidur-tiduran atau bermalas-malasan, dan berkata, “Aku
tidak kuat membaca Al-Qur`an karena aku merasa sangat
lapar dan dahaga,” apakah hal itu berpengaruh terhadap
keabsahan puasanya?
Jawab:
Sabar, tabah dan tegar menghadapi masyakat menam­bah
pahala berdasarkan sabda Rasulullah n kepada Aisyah d,
“Sesungguhnya kamu mendapatkan ganjaran sesuai dengan
kadar kepayahan dan biaya yang kamu keluarkan.” (HR.
Al-Hakim).
Orang tersebut bisa melakukan hal-hal yang bisa
meringankan ibadah baginya, seperti mendinginkan tubuh
dengan mandi atau duduk di tempat yang teduh dan sejuk
misalnya.
Tanya:
137. Seorang pegawai menghabiskan sebagian besar waktunya di
perusahaan dengan tidur di jam-jam kerja, apakah puasanya
menjadi rusak?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 87


Jawab:
Puasanya tetap sah secara lahiriah, karena tidak ada
sangkut pautnya antara meninggalkan tugas pekerjaan
dengan puasa. Akan tetapi orang yang memiliki tugas
pekerjaan harus mengerjakan tugas pekerjaan yang
diserahkan kepadanya itu, karena dia mengambil gaji atas
pekerjaan tersebut, dan pekerjaannya itu harus dia lakukan
sesuai dengan yang diinginkan yang bisa menggugurkan
tanggung jawab dan kewajibannya, sebagaimana dia juga
ingin gajinya dibayar penuh. Khawatirnya puasanya itu
berkurang pahalanya, karena dia melakukan perbuatan yang
haram tersebut, yaitu tidur dan mengabaikan pekerjaan yang
menjadi tanggung jawabnya.
Tanya:
138. Orang yang tidur sepanjang hari dan baru bangun menjelang
shalat Isya, bagaimana hukum puasanya hari itu?
Jawab:
Puasanya hari itu sah, tetapi tidur hingga membuatnya
tidak mengerjakan shalat adalah haram, karena seseorang
tidak boleh sedikit pun meremehkan masalah shalat,
apalagai sampai pada tingkatan lebih memilih tidur dan
tidak mempedulikan kewajiban shalat. Orang yang tidur
dan tidak ada orang yang membangunkannya, maka dia
harus menggunakan alarm, supaya dia bisa bangun dan
mengerjakan shalat.[]

88 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kesepuluh:
Niat Dalam Puasa

Tanya:
139. Apa yang dimaksud dengan niat dalam puasa?
Jawab:
Yang dimaksud dengan niat dalam puasa adalah
seseorang tahu dan sadar bahwa besok dia harus puasa
kemudian dia berazam mengerjakannya jika itu adalah
puasa fardhu, atau boleh berazam bersamaan dengan waktu
mulai puasa jika itu adalah puasa sunnah.
Tanya:
140. Apa dalil yang menunjukkan bahwa niat harus sudah ada
sebelum fajar?
Jawab:
Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa yang tidak
niat sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR.
An-Nasa`i dan dianggap shahih oleh oleh Al-Albani)

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 89


Tanya:
141. Apa yang dimaksudkan dengan tabyit niat dalam puasa
Ramadhan?
Jawab:
Maksudnya adalah mendahului ibadah sebelum
waktunya dengan niat. Salah satu syarat sah ibadah adalah
harus didahului dengan niat, karena syarat adalah sebelum
masyruth.
Tanya:
142. Apakah niat disyaratkan harus diucapkan seperti dengan
mengucap, “aku berniat, atau aku ingin puasa”?
Jawab:
Tidak ada keterangan bahwa Nabi Muhammad
n mengucapkan atau membaca niat dan tidak pula
mengajarkan hal itu kepada satu orang pun dari sahabat
beliau, baik untuk amal fardhu maupun sunnah.
Tanya:
143. Kapan niat harus dilakukan untuk puasa Ramadhan?
Jawab:
Imam Abu Hanifah, imam Asy-Syafi’i dan imam Ahmad
Ibnu Hanbal berpendapat wajib untuk niat di malam hari
untuk puasa fardhu bukan puasa sunnah, karena niat untuk
puasa sunnah tidak harus di malam hari. Diriwayatkan
dari Hafshah d dari Rasulullah n, beliau bersabda,

90 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


“Barangsiapa yang tidak berazam (niat) puasa sebelum fajar,
maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Tanya:
144. Apakah satu niat untuk puasa Ramadhan dari hari pertama
sudah cukup untuk puasa hari-hari berikutnya?

Jawab:
Niat puasa Ramadhan pada hari pertama sudah cukup
dan tidak perlu memperbarui niat setiap hari, kecuali jika
ada sebab yang memperbolehkan seseorang berbuka, seperti
bepergian, sakit atau lain sebagainya, maka setelah sebab
itu hilang dan mulai berpuasa lagi, maka harus dengan niat
baru lagi.

Tanya:
145. Katanya seorang Muslim perlu membuat niat sebelum fajar
untuk puasa hari itu, apakah itu betul?

Jawab:
Tidak betul, karena niat hanyalah sekedar berazam untuk
mengerjakan puasa Ramadhan selama sebulan penuh, dan
tidak disyaratkan lebih dari itu.

Tanya:
146. Bagaimana dengan orang yang mengucapkan niat puasa
sebelum adzan Shubuh?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 91


Jawab:
Tidak ada keterangan bahwa Nabi Muhammad n
menganjurkan sahabat melakukan hal semacam itu.
Tanya:
147. Seseorang tidur dan tidak tahu kalau sudah ada peng­
umuman hilal Ramadhan sudah terlihat, sehingga dia pun
tidak niat puasa pada malam itu dan pada pagi harinya dia
tidak berpuasa karena tidak tahu kalau hari itu sudah mulai
Ramadhan, apa yang harus dia lakukan?
Jawab:
Jika kita ingat bahwa niat pada prinsipnya mengikuti
kondisi tahu dan sadar, jadi bagi orang yang tidak tahu,
maka dia dimaklumi jika dia tidak niat pada malam hari itu.
Oleh karena, jika dia langsung menahan diri dari larangan-
larangan dan pantangan-pantangan puasa sejak dirinya
tahu dan sadar, maka puasanya sah dan dia tidak perlu
mengqadha. Ada sebagian ulama mengatakan, bahwa orang
itu tetap harus ikut menahan diri dari larangan-larangan
dan pantangan-pantangan puasa, namun dia berkewajiban
mengqadha. Mereka berasalan bahwa ada sebagian dari hari
itu yang dia lalui tanpa niat. Tidak diragukan lagi bahwa
langkah yang lebih hati-hati dan antisipatif bagi orang
seperti itu adalah mengqadha puasa hari itu.

92 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
148. Ada seseorang melakukan bepergian dalam keadaan
berpuasa, kemudian dia berniat ingin berbuka, tapi dia tidak
menemukan sesuatu yang bisa dia gunakan untuk berbuka,
sehingga akhirnya dia pun mengurungkan niatnya itu dan
mencabutnya kembali dan melanjutkan puasanya sampai
Maghrib, bagaimana status puasanya itu?
Jawab:
Puasanya itu tidak sah dan dia wajib mengqadhanya,
karena ketika dia berazam untuk berbuka, maka berarti dia
telah melakukannya.
Tanya:
149. Bagaimana hukum menggantungkan niat membatalkan
puasa pada keberadaan makanan?
Jawab:
Misalnya adalah seseorang berkata, “Jika aku menemukan
air, maka aku akan minum, jika tidak, aku akan tetap
melanjutkan puasaku,” lalu ternyata dia tidak menemukan
air, maka puasa orang itu sah. Hal itu karena dia dianggap
tidak memutus niat puasa, tetapi hanya menggantungkan
pembatalan puasanya pada keberadaan sesuatu, dan ternyata
sesuatu itu tidak ada, maka berarti dia masih berada pada
niatnya yang pertama.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 93


Tanya:
150. Jika ada seseorang mengalami kondisi junub dan dia niat
berpuasa, lalu dia belum mandi sampai waktu pagi, apakah
puasanya sah?
Jawab:
Ya, puasanya sah. Rasulullah n pernah mengalami junub
karena jimak pada malam hari dan beliau tetap berpuasa.
Akan tetapi orang seperti itu hendaklah cepat-cepat mandi
besar supaya bisa shalat shubuh, dan jangan sampai shalat
shubuhnya terlambat dan tidak tepat pada waktunya.
Tanya:
151. Ada seseorang berpuasa, ketika waktu berbuka puasa tiba,
dia ketiduran dan baru bangun setelah adzan shubuh, apakah
dia harus tetap berpuasa atau boleh berbuka?
Jawab:
Ya, dia harus tetap berpuasa, karena dia telah berazam
dalam hatinya untuk berpuasa esok, dan selama dia sudah
memiliki niat seperti itu, maka puasanya sah.
Tanya:
152. Apabila kita ragu-ragu pada hari terakhir bulan Ramadhan,
apakah sudah termasuk hari raya ataukah masih termasuk
bulan Ramadhan, sementara kita tidak mendengar suatu apa
pun yang pasti dan meyakinkan, maka bagaimana hukum
mengambangkan niat antara puasa atau berbuka?

94 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Hal pertama yang harus dilakukan tentunya adalah
mencari kepastian, dan kaidah Fikih menyebutkan, “al-
Ashlu baqa`u ma kana ‘ala ma kana” (hukum asal sesuatu
adalah tetap seperti semula). Seandainya di sana ada suatu
hal misalnya sudah hari raya, maka tentunya nampak jelas
dan ramai, di mana orang-orang sudah tidak sahur lagi
dan sudah tidak berpuasa lagi. Oleh karena itu, hari yang
seperti itu dianggap masih menjadi bagian dari Ramadhan.
Karena seandainya memang bulan Ramadhan benar-benar
sudah selesai, pastinya itu akan jelas. Oleh karena itu,
dalam kondisi seperti itu, seseorang harus tetap berpuasa
tanpa ragu-ragu, karena menurut hukum asal adalah masih
Ramadhan. Jika setelah itu ternyata hari itu adalah sudah
hari raya, maka baru ketika itu dia berbuka.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 95


Pembahasan Kesebelas:
Pembahasan-pembahasan
Tentang Puasa

Tanya:
153. Apakah yang dimaksud Mubah dalam istilah Fikih?
Jawab:
Dia adalah sesuatu yang jika dilakukan atau diucapkan
seorang muslim laki-laki atau muslim perempuan tidak ada
pahalanya dan tidak ada dosanya.
Tanya:
154. Apakah yang dimaksud dengan hal-hal Mubah dalam puasa?
Jawab:
Perkara-perkara yang tidak berpengaruh terhadap
puasa, baik berupa perbuatan melakukan atau perbuatan
meninggalkan.

96 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
155. Apakah boleh meninggalkan perkara-perkara yang
diperbolehkan karena khawatir terjatuh dalam perkara yang
membatalkan puasa?
Jawab:
Ya, dan hal ini terhitung sebagai bagian dari sifat
wira’i dan kehati-hatian dari terjatuh dalam perkara yang
merusakkan puasa. Ini adalah perkara yang terpuji bagi
manusia yang melakukannya, akan tetapi hendaknya tidak
berlebih-lebihan dalam hal ini.
Tanya:
156. Jika seorang muslim ragu tentang sesuatu hal, apakah
membatalkan puasa atau tidak, apakah yang dilakukannya?
Jawab:
Sesuai dengan hukuma asal, sesuatu tidak membatalkan
puasa kecuali dengan dalil syara’, karena puasa wajib
berdasarkan dalil syara’. Maka sesuatu tidak membatalkan
puasa kecuali dengan dalil syara’ dari Kitabullah atau As-
Sunnah, jauh dari pendapat akal.
Tanya:
157. Khawatir masuknya air ke dalam Jauf (rongga tubuh), apakah
benar berkumur dalam wudhu membatalkan puasa pada
siang Ramadhan?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 97


Jawab:
Tidak benar, berkumur dalam wudhu fardhu4 dalam
setiap keadaan karena keumuman firman Allah I,
“Maka basuhlah wajahmu.” (Al-Ma`idah: 6)
Akan tetapi tidak perlu berlebih-lebihan dalam berkumur
atau menghirup air saat berpuasa karena hadits Laqith bin
Shabrah a bahwasanya Rasulullah n bersabda kepadanya,
“Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air kecuali kamu
sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi)
Tanya:
158. Apakah sisa air kumur dalam mulut membatalkan puasa?
Jawab:
Jika orang yang berpuasa mengeluarkan air setelah
berkumur, maka sisa basahnya tidak membatalkan karena
tidak dapat dihindari.
Tanya:
159. Apakah hukum mandi berulang kali dalam bulan Ramadhan,
khususnya pada hari-hari musim panas?
Jawab:
Mandi pada siang Ramadhan tidak membatalkan
puasa. Rasulullah n mengalirkan air ke kepalanya karena

4 Menurut madzhab Hanbali, berkumur dalam wudhu hukumnya wajib.


Adapun menurut madzhab Syafi’i dan jumhur, berkumur dalam wudhu
hukumnya sunnah. Penj.

98 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


panas saat beliau sedang berpuasa. Akan tetapi orang yang
berpuasa wajib menjaga diri dari masuknya air ke dalam
rongga tubuhnya.
Tanya:
160. Apakah ada perbedaan antara mandi janub dengan mandi
untuk kebersihan tubuh bagi orang yang berpuasa?
Jawab:
Mandi junub hukumnya wajib, sedangkan mandi karena
membersihkan diri merupakan perkara yang Mubah.
Terkadang mandi kebersihan hukumnya sunnah jika dengan
tujuan berhias diri untuk shalat.
Tanya:
161. Apakah hukumnya menyelam dalam air bagi orang yang
berpuasa?
Jawab:
Tidak apa-apa, seperti juga berenang. Hukum asal adalah
boleh hingga ada dalil yang menunjukkan kemakruhan
atau keharamannya. Sesungguhnya sebagian ulama
memakruhkannya karena khawatir air masuk ke dalam
perut.
Tanya:
162. Apakah penggunaan krim rambut, lipstik dan celak bagi
perempuan berpengaruh terhadap puasa?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 99


Jawab:
Jenis-jenis krim dan minyak tidak membatalkan
puasa dan tidak membatalkan wudhu. Akan tetapi jika
lipstik mengandung rasa, maka jangan digunakan karena
dikhawatirkan rasanya turun ke dalam rongga tubuh.
Tanya:
163. Apakah penggunaan krim-krim yang melembabkan tubuh
berpengaruh terhadap puasa?
Jawab:
Tidak ada pengaruhnya terhadap puasa. Barangkali hal
ini dibutuhkan oleh perempuan untuk kulitnya setiap saat.
Tanya:
164. Apakah perempuan berhias di luar rumah diperbolehkan?
Jawab:
Tidak diperbolehkan, bahkan haram meskipun di luar
bulan Ramadhan. Memang hal itu tidak membatalkan, akan
tetapi dikhawatirkan ia berhias untuk laki-laki lain sehingga
menjadi sebab puasanya dan ibadah-ibadah lainnya tidak
diterima karena sengaja maksiat.
Tanya:
165. Apakah hukum menghirup wewangian atau asap dupa saat
berpuasa?

100 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Tidak mengapa, baik dia minyak atau asap dupa.
Sebagian ulama berpendapat bahwa menghirup asap dupa
secara langsung bagi orang yang berpuasa tidak boleh.
Tanya:
166. Apakah menggunakan minyak-minyak wangi yang cair
membatalkan puasa jika seseorang meletakkannya di badan­
nya atau pakaiannya?
Jawab:
Menggunakan minyak dengan cara tersebut tidak
membatalkan orang yang berpuasa.
Tanya:
167. Apakah menghirup obat-obat pemusnah serangga membatal­
kan puasa?
Jawab:
Tidak membatalkan puasa, baik puasa Ramadhan
maupun selain Ramadhan, baik puasa wajib maupun selain
puasa wajib.
Tanya:
168. Apakah dahak membatalkan puasa jika orang yang berpuasa
menelannya?
Jawab:
Tidak benar. Jika ia menelannya, maka puasanya tidak
batal karena meratanya musibah ini.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 101


Tanya:
169. Apakah hukum menelan sisa-sisa makanan di sela-sela gigi
bagi orang yang berpuasa?
Jawab:
Menelan sisa makanan yang tersangkut di antara gigi-
gigi secara tidak sengaja atau sisa makanan tersebut sedikit
yang tidak mungkin dipisahkan dan dikeluar­kan, maka
hukumnya sama dengan ludah. Dia tidak membatalkan.
Jika sisa makanan tersebut banyak dan dapat dikeluarkan,
maka ia harus mengeluarkannya. Jika ia memakannya secara
sengaja, maka puasanya batal.
Tanya:
170. Apakah bersiwak pada siang Ramadhan biperbolehkan bagi
orang yang berpuasa?
Jawab:
Ya, bersiwak adalah sunnah dalam semua siang,
bahkan andaikata orang yang berpuasa bersiwak lalu ia
menemukan panas atau rasa di dalamnya dan ia menelan­
nya atau mengeluarkannya dari mulutnya, kemudian
mengembalikannya dan menggunakannya bersiwak, maka
tidak membatalkan puasa.
Tanya:
171. Apakah kesunnahan di dalam bersiwak mencakup bahan-
bahan yang ditambahkan kepadanya, seperti rasa permen
dan lainnya?

102 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Tidak mencakupnya. Akan tetapi orang yang berpuasa
wajib menjauhi siwak jika ada tambahan rasa lain dari siwak,
seperti rasa lemon dan permen.
Tanya:
172. Apakah orang yang menggunakan sikap gigi mendapatkan
pahala?
Jawab:
Ya, jika disertai dengan niat ibadah bersiwak.
Tanya:
173. Apakah mengobati gigi saat berpuasa diperbolehkan?
Jawab:
Ya, namun harus hati-hati agar tidak ada sesuatu yang
masuk ke dalam rongga tubuh.
Tanya:
174. Apakah hukum mimisan, maksudnya keluarnya darah dari
hidung?
Jawab:
Puasa tetap sah. Mimisan merupakan perkara yang
muncul di luar pilihannya.
Tanya:
175. Apakah keluarnya darah dari gusi hukumnya sama dengan
hukum mimisan?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 103


Jawab:
Ya, akan tetapi jika gusi luka atau berdarah karena siwak,
maka tidak boleh menelan darah. Orang yang berpuasa
wajib mengeluarkannya. Jika darah masuk ke dalam
kerongkongannya tanpa disengaja, maka tidak apa-apa
baginya.
Tanya:
176. Apakah orang yang bekerja di tempat pengubahan air
laut menjadi air tawar melalui penguapan, apakah ini
mempengaruhi puasa mereka?
Jawab:
Tidak membatalkan puasa mereka.
Tanya:
177. Ibu mengunyah makanan demi anaknya, apakah hal ini
merusak puasanya?
Jawab:
Tidak merusakkannya karena hal itu termasuk sesuatu
yang diperlukan untuk mengetahui rasanya.
Tanya:
178. Apakah mencicipi makanan berpengaruh terhadap puasa?
Jawab:
Tidak berpengaruh terhadap puasa. Ibnu Abbas a
mengatakan, “Tidak mengapa (orang yang berpuasa)
mencicipi cuka dan sesuatu yang ingin dibelinya.

104 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
179. Mencukur rambut dan memotong kuku pada siang
Ramadhan, apakah dilarang bagi orang yang berpuasa?
Jawab:
Semua itu tidak merusak puasa.
Tanya:
180. Berburu hewan di laut atau di darat, apakah berpengaruh
terhadap puasa?
Jawab:
Tidak ada hubungannya atau pengaruhnya terhadap
puasa.
Tanya:
181. Dalam kondisi tertentu, udara berdebu. Apakah masuknya
debu ke dalam rongga tubuh membatalkan puasa?
Jawab:
Debu, asap dan yang sejenisnya tidak termasuk makanan.
Ia tidak membatalkan puasa jika masuk ke dalam perut,
karena hal-hal tersebut tidak mungkin dihindari dan sudah
ada pada zaman Nabi n dan beliau tidak melarang para
sahabat darinya.
Tanya:
182. Apakah hukum perempuan berhias dengan daun pacar (inai),
sedang dia berpuasa?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 105


Jawab:
Tidak mengapa dalam hal ini.
Tanya:
183. Apakah berbekam diperbolehkan bagi orang yang berpuasa?
Jawab:
Ya, akan tetapi karena dikhawatirkan menyebabkan
orang yang membekam dan orang yang dibekam berbuka,
karena bekam melemahkan badan, maka ia dilarang bagi
orang yang lemah karenanya. Pendapat yang demikian telah
diunggulkan oleh sekelompok ulama. Yang lebih hati-hati,
orang yang berpuasa tidak melakukan bekam pada siang
hari.
Tanya:
184. Jika anak kecil mengompol di pakaian atau tubuh orang
yang berpuasa, maka apakah hal ini berpengaruh terhadap
puasanya?
Jawab:
Hal ini tidak berpengaruh terhadap berpuasa dan
terhadap wudhu. Akan tetapi ia harus membersihkan tempat
najis saja.[]

106 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kedua Belas:
Hal-hal yang Berhubungan
dengan Mimpi Basah dan
Bersentuhan Badan

Tanya:
185. Apakah mimpi basah membatalkan puasa?
Jawab:
Orang yang mimpi basah karena tidur pada siang
Ramadhan, padahal ia sedang berpuasaa, maka puasanya
tidak batal karena mimpi basah terjadi bukan atas pilihan
dan bukan atas kesengajaannya. Ia hanya wajib mandi.
Karena itulah ia tetap wajib menyempurnakan puasanya.
Tanya:
186. Apakah yang dimaksud dengan Mubasyarah (bersentuhan
badan)?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 107


Jawab:
Bersentuhan badan maksudnya bersentuhan antara kulit
dengan kulit, misalnya merangkul dan mencium saja.
Tanya:
187. Apakah bersentuhan dan merangkul berpengaruh terhadap
puasa?
Jawab:
Berhubungan dengan isteri di luar farji tidak ber­
pengaruah terhadap puasa. Akan tetapi harus hati-hati dari
keluarnya mani. Jika tidak keluar mani, maka tidak wajib
mandi. Jika keluar mani, maka wajib mandi. Dengan itu
suami berbuat dosa dan wajib mengqadha hari tersebut.
Hukum ini juga berlaku bagi isteri.
Tanya:
188. Apakah hukum suami mencium isterinya?
Jawab:
Tidak mengapa suami mencium isteri jika ia menguasai
syahwatnya, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang
terdapat dalam Ash-Shahihain dari Aisyah RA bahwasanya
Nabi n mencium ketika sedang berpuasa dan bersentuhan
ketika sedang berpuasa, akan tetapi beliau orang yang
paling menguasai syahwatnya. Jika tidak demikian, maka
hukumnya haram jika sampai menyebabkan rusaknya puasa.

108 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
189. Apakah boleh melarang bersentuhan dan mencium?
Jawab:
Jika seseorang cepat syahwatnya dan tidak menguasai
nafsunya, maka ia tidak boleh melakukannya karena dapat
mengantarkan kerusakan puasanya dan tidak aman dari
keluarnya mani atau jima’. Allah I berfirman dalam hadits
qudsi, “Dan dia meninggalkan syahwatnya demi diri-Ku.”
Kaidah syara’ mengatakan bahwa setiap sarana menuju
keharaman haram adalah haram.
Tanya:
190. Apakah hukum pemuda berbeda dengan orang tua?
Jawab:
Tidak berbeda, jika salah satunya tidak menguasai
syahwatnya. Akan tetapi orangtua diperkirakan dapat
menguasai syahwatnya, kebalikan dari pemuda.
Tanya:
191. Apakah yang wajib dilakukan bagi orang yang melakukan
onani dengan sarana apapun?
Jawab:
Barangsiapa yang melakukan onani pada siang
Ramadhan dengan sesuatu yang dapat ia hindari, misalnya
menyentuh dan mengulanga-ulang pandangan, maka ia
wajib bertaubat, melanjutkan puasanya dan mengqadhanya

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 109


sebagai kehati-hatian. Jika ia melakukan onani dan tidak
mengeluarkan mani, maka ia hanya wajib bertaubat saja.
Hendaknya orang yang berpuasa menjauhkan diri dari
segala sesuatu yang membangkitkan syahwat.
Tanya:
192. Sebagian Fuqaha memberikan fatwa bahwa tidak ada kafarat
bagi orang yang melakukan onani saat berpuasa. Bagaimana
penjelasannya?
Jawab:
Ya, Syaikh Al-Albani menyebutkan pendapat ini dalam
komentarnya terhadap Fiqh As-Sunnah bahwa onani tidak
dapat diqiyaskan dengan jima’. Ini merupakan pendapat
Imam Ash-Shan’ani dan Asy-Syaukani. Dia juga pendapat
Imam Ibnu Hazm. Semoga Allah memberikan rahmat
kepada mereka semua.
Tanya:
193. Apakah dari ini dipahami bahwa bersentuhan bagi orang yang
berpuasa itu diperbolekan, meskipun sampai menyebabkan
keluarnya mani?
Jawab:
Tidak diperbolehkan bersentuhan bagi orang yang
berpuasa karena dikhawatirkan terjatuh dalam jima’,
khususnya orang yang besar syahwatnya. Hal ini merupakan
Sadd Adz-Dzari’ah (menutup sarana) yang diambil dari

110 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


dalil-dalil syara’. Seolah Aisyah d mengisyaratkan hal itu
dengan ucapannya ketika meriwayatkan persentuhan Nabi
n ketika beliau sedang berpuasa. Ia mengatkan, “Siapakah
di antara kalian yang menguasai syahwatnya?” Dan juga
karena meninggalkan syahwat demi menjaga puasa.
Tanya:
194. Apakah keluarnya Madzi sama dengan keluarnya mani bagi
orang yang berpuasa?
Jawab:
Keluarnya Madzi tidak membatalkan puasa. Begitu juga
Wadi. Dia adalah cairan yang keras dan licin setelah kencing
tanpa rasa nikmat. Keduanya tidak membatalkan puasa.
Yang wajib dilakukan hanyalah bersuci darinya dan wudhu.
Tanya:
195. Jika tangan laki-laki yang berpuasa jatuh pada perempuan
lain, apakah puasa laki-lak batal atau puasa perempuan
batal?
Jawab:
Jika hal ini terjadi tanpa disengaja, maka tidak apa-apa
atas keduanya dan puasanya tidak batal. Hal seperti ini
terkadang terjadi di tengah-tengah umrah. Akan tetapi
sengaja dalam hal itu dosa, namun tidak membatalkan
puasa.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 111


Tanya:
196. Apakah memandang pemandangan-pemandangan yang tidak
terjaga pada siang Ramadhan membatalkan puasa?
Jawab:
Tidak membatalkan puasa. Akan tetapi dikhawatirkan
menghilangkan pahala. Karena itu kita wajib menjaga
pandangan mata sekuat tenanga.[]

112 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Ketiga Belas:
Perkara-perkara yang
Merusak Puasa

Tanya:
197. Apakah yang dimaksud dengan perkara-perkara yang
merusakkan puasa?
Jawab:
Dia adalah sesuatu yang masuk ke dalam rongga tubuh,
maksudnya perut, berupa makanan atau minuman atau
sesuatu yang mencukupkan dari makanan dan minuman.
Al-Ghazali telah mengumpulkannya dalam perkataannya,
“Perkara-perkara yang membatalkan ada tiga: masuknya
sesuatu yang masuk, keluarnya sesuatu yang keluar dan jima’.”
Tanya:
198. Sebagian orang tergesa-gesa memberikan fatwa tanpa dalil
kepada manusia tentang batalnya puasa mereka. Apakah
hukumnya?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 113


Jawab:
Sudah maklum bahwa hukum asal adalah sahnya puasa
hingga ditemukan dalil syara’ yang menunjukkan hukum
batalnya puasa tersebut. Karena itu kita wajib bertanya
kepada para ahli ilmu sebelum tergesa-gesa memberikan
fatwa.
Tanya:
199. Apakah perkara-perkara yang membatalkan syara’ yang telah
dijelaskan oleh syara’?
Jawab:
Perkara-perkara yang membatalkan puasa sebagai­mana
ditunjukkan teks dan ijma’ adalah: (1) makan, (2) minum
dan (3) jima’. Allah I berfirman,
“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang
telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga
jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai
(datang) malam.” (Al-Baqarah: 187)
(4) Darah haid dan nifas. Dalilnya, hadits Abu Said Al-
Khudri a bahwasanya Rasulullah n bersabda,
“Bukankah jika perempuan sedang haid tidak shalat dan
tidak puasa?” (HR. Al-Bukhari)
(5) Muntah yang disengaja. Dia membatalkan puasa
berdasarkan sabda Rasulullah n, “Barangsiapa yang

114 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


muntah tanpa disengaja, maka tidak ada qadha baginya
dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka ia
wajib mengqadha.” (HR. Abu Dawud)
Tanya:
200. Sebagian ahli Fikih mengatakan, “Puasa batal karena perkara
yang masuk, bukan perkara yang keluar.” Apakah ini benar?
Jawab:
Perkataan ini tidak dapat diterima. Muntah adalah
perkara yang keluar. Sengaja dalam muntah menyebabkan
batalnya puasa.
Tanya:
201. Apakah sesuatu yang masuk ke dalam tubuh membatalkan
puasa?
Jawab:
Ini tidak benar. Jika memang demikian, maka Nabi n
menjelaskannya dengan penjelasan yang terang. Akan tetapi
perkara-perkara yang membatalkan telah disebutkan dalam
hal-hal yang terbatas.
Tanya:
202. Apakah yang masuk ke dalam perut atau lambung orang yang
berpuasa termasuk perkara yang membatalkan?
Jawab:
Ya. Usus-usus adalah tempat dimana makanan diserap.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 115


Jika sesuatu yang dapat diserap diletakkan di dalamnya, baik
berupa makanan atau materi lainnya, maka dia membatalkan
puasa karena hal ini semakna dengan makanan sebagaimana
yang tidak samar lagi.
Tanya:
203. Apakah batasan Al-Jauf (rongga tubuh) dengan perut?
Jawab:
Ada perbedaan besar antara perut dengan Al-Jauf. Al-
Jauf menyangkut lambung dan lainnya yang ada di dalam
rongga perut. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah
makna penyerapan makanan karena tempat makanan
adalah lambung (dan usus). Selain tempat ini tidak dapat
menyebabkan tumbuhnya daging dan tertolaknya rasa lapar
sehingga tidak menyebabkan hukum haram (batal) jika
sesuatu masuk ke dalamnya.
Tanya:
204. Kapankah batalnya puasa terwujud?
Jawab:
Batalnya puasa terwujud dengan berkumpulnya tiga
perkara: (1) pelaku mengetahui hukumnya, bukan orang
bodoh, (2) ingat, tidak lupa dan (3) melakukannya atas
pilihan sendiri, bukan terpaksa atau darurat.

116 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
205. Apakah perkara-perkara yang membatalkan puasa memiliki
perbedaan antara puasa wajib dan puasa sunnah?
Jawab:
Tidak ada bedanya. Perbedaannya hanya kafarat yang
terkait dengan jima’.
Tanya:
206. Orang yang berbuka karena matahari tenggelam di balik
awan, kemudian ternyata apa yang dilakukannya salah,
apakah ia wajib mengqadha puasa?
Jawab:
Tidak ada kewajiban qadha atasnya. Akan tetapi ia
wajib menahan diri dari makanan dan minuman dan
menyempurnakan puasanya. Hal ini jarang terjadi karena
sudah ada jadwal waktu puasa.

Hal-hal yang Berhubungan Dengan Jima’


Tanya:
207. Apakah yang dimaksud dengan jima’?
Jawab:
Jima’ adalah tercapainya aktivitas memasukkan (dzakar)
ke dalam farji perempuan, terkadang ada maksud supaya
memiliki anak.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 117


Tanya:
208. Apakah yang dilarang dalam hukum ini?
Jawab:
Yang dilarang adalah jima’nya laki-laki terhadap isternya
pada siang Ramadhan.
Tanya:
209. Apakah jima’ antara suami dan isteri pada malam hari
diperbolehkan?
Jawab:
Ya, diperbolehkan. Allah I berfirman,

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur


dengan isterimu.” (Al-Baqarah: 187)
Tanya:
210. Dikatakan bahwa jima’ semula diharamkan atas atas kaum
muslimin pada bulan Ramadhan. Apakah ini benar?
Jawab:
Ya, benar. Diriwayatkan dari Al-Barra`, ia berkata, “Ketika
perintah puasa Ramadhan turun, mereka tidak mendekati
perempuan-perempuan sebulan penuh. Beberapa laki-laki
tidak mengindahkan aturan ini. Lalu Allah I menurunkan
ayat,

118 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


“Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu
sendiri, tetapi Dia menerima taubatmu dan memaafkanmu.”
(Al-Baqarah: 187) (HR. Al-Bukhari)
Kemudian datanglah keringankan diperbolehkannya
jima’ pada malam Ramadhan.
Tanya:
211. Jika suami menyetubuhi isterinya dan keduanya tidak mandi
kecuali setelah adzan fajar, apakah hukum puasa mereka
berdua?
Jawab:
Hukumnya sah. Aisyah d berkata, “Aku bersaksi atas
Rasulullah n bahwasanya beliau pagi hari dalam keadaan
junub karena jima’, bukan karena mimpi basah, kemudian
beliau berpuasa.” (Muttafaq Alaih)
Tanya:
212. Kapan laki-laki yang menyetubuhi isterinya berkewajiban
membayar kafarat?
Jawab:
Dia adalah orang yang berkewajiban puasa, mukim di
daerahnya, tidak musafir, lalu ia jima’ pada siang Ramadhan
secara sengaja tanpa terpaksa. Gambarannya, dua khitan
bertemu dengan masuknya kepala dzakar ke dalam
liang farji. Hal yang seperti ini membatalkan puasa, baik

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 119


mengeluarkan mani atau tidak mengeluarkan mani dan
pelakunya wajib membayar kafarat.
Tanya:
213. Apakah yang wajib dilakukan pelaku perbuatan ini?
Jawab:
Pertama ia wajib bertaubat, meminta ampunan kepada
Allah dan menyempurnakan puasa hari itu. Kemudian
ia mengqadhanya pada waktu yang lain dan membayar
kafarat besar yang tersebut dalam hadits. Abu Hurairah
a mengatakan, “Suatu ketika, kami duduk-duduk di sisi
Nabi n. Tiba-tiba seorang laki-laki datang dan berkata,
“Wahai Rasulullah, aku telah binasa.” Beliau bertanya, “Ada
apa dengan dirimu?” Ia menjawab, “Aku telah menyetubuhi
isteriku, sementara aku berpuasa.” Rasulullah n bersabda,
“Apakah kamu menemukan budak yang kamu merdekakan?”
Ia menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Apakah kamu mampu
berpuasa dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab, “Tidak.”
Beliau bersabda, “Apakah kamu mampu memberikan
makanan kepada enam puluh orang miskin?” Ia menjawab,
“Tidak.” (HR. Al-Bukhari)
Tanya:
214. Berilah penjelasan tambahan tentang kafarat.
Jawab:
Kafarat dalam puasa ada tiga tingkatan secara tertib.

120 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pertama, memerdekakan budak. Barangsiapa yang tidak
menemukan, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-
turut. Jika ia tidak mampu, maka ia memberikan makan
kepada enam puluh orang miskin. Setiap miskin diberi
setengah sha’ gandum, kurma atau makanan pokok lainnya.
Tanya:
215. Apakah kafarat dilaksanakan sesuai dengan pilihan atau
wajib tertib?
Jawab:
Kafarat wajib secara tertib. Kita tidak memandang
keadaan pelaku dari segi jika ia kaya, maka memberi
makanan didahulukan daripada puasa. Maka kita mengikuti
urutan tersebut secara tertib.
Tanya:
216. Apakah dalam puasa kafarah wajib dilakukan secara
beruntun?
Jawab:
Ya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah n, “Apakah kamu
mampu berpuasa dua bulan secara beruntun?” Kecuali jika
berbuka dengan udzur yang memperbolehkannya, misalnya
sakit, maka tidak memutus keberuntunan.
Tanya:
217. Orang yang melakukan perjalanan dan puasa dalam
perjalanannya itu, kemudian ia jima’ isterinya pada siang

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 121


hari, apakah ia wajib membayar kafarah?
Jawab:
Ia wajib melakukan puasa satu hari saja.
Tanya:
218. Orang yang melakukan puasa secara beruntun, kemudian ada
udzur yang menghalanginya, misalnya haid, apakah yang ia
lakukan?
Jawab:
Tidak melakukan puasa sebab udzur tersebut, kemudian
melanjutkan puasa dalam kesempatan lain.
Tanya:
219. Orang yang tidak melakukan puasa kafarat karena udzur
syara’, bagaimana cara ia memberikan makanan?
Jawab:
Tidak mengapa jika memberikan kepada enam puluh
orang miskin, baik mereka berkumpul atau terpisah-pisah.
Yang penting memberikan tiga puluh sha’.
Tanya:
220. Orang yang tidak mampu melakukan kafarat sama sekali,
apakah yang wajib baginya?
Jawab:
Tidak ada kewajiban apapun baginya. Tidak ada kafarat
baginya.

122 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
221. Apakah hukum kafarat jima’ juga mencakup isteri?
Jawab:
Yang wajib baginya hanyalah puasa. Jika ia dijima’
suaminya pada siang Ramadhan dengan suka rela, maka
hukumnya sama dengan hukum suaminya. Jika ia dipaksa
atau tidur, kemudian suami menjima’nya, maka tidak ada
kafarat atasnya.
Tanya:
222. Jika pelaku tidak mengetahui bahwa jima’ termasuk perkara-
perkara yang dilarang dalam puasa, apakah puasanya batal
dan ia wajib membayar kafarat?
Jawab:
Barangsiapa tidak mengetahui bahwa perbuatan ini
adalah haram atau membatalkan, maka ia dimaafkan dan
tidak ada kewajiban apapun atasnya.
Tanya:
223. Apakah hukum ini juga berlaku terhadap orang yang tidak
mengetahui kafarat saja?
Jawab:
Barangsiapa mengetahui bahwa jima’ diharamkan pada
siang Ramadhan, akan tetapi tidak mengetahui kewajiban
kafarat akibat jima’ tersebut, maka ini bukanlah udzur

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 123


baginya. Jika ia melakukan jima’, maka ia tetap wajib
melaksa­na­kan kafarat.
Tanya:
224. Apakah yang wajib dilakukan perempuan agar tidak
menggugah syahwat suami pada siang Ramadhan?
Jawab:
Isteri yang mengetahui bahwa suaminya tidak dapat
menguasai syahwatnya wajib menjauh darinya dan tidak
berhias diri kepadanya pada siang Ramadhan agar tidak
menimbulkan syahwat suami.
Tanya:
225. Jika jima’ dilakukan berulangkali dalam satu hari atau dalam
bulan Ramadhan, maka apakah kafarat juga dilakukan
berulang kali?
Jawab:
Jika jima’ dilakukan berulang kali dalam satu hari, maka
pelaku hanya wajib melakukan kafarat sekali. Jika dilakukan
berulang kali dalam dua hari, maka masing-masing satu hari
wajib kafarat satu kali karena setiap hari adalah ibadah yang
berdiri sendiri.
Tanya:
226. Barangsiapa yang ingin menjima’ isterinya, lalu meng­
awalinya dengan makan, kemudian menjima’nya demi
menghindari kafarat besar atasnya, apakah hukumnya?

124 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Maksiatnya lebih besar karena ia merusak kehormatan
Ramadhan dua kali, dengan makan dan jima’. Karena itu
kafarat besar lebih wajib atasnya dan rekayasanya menjadi
bencana baginya. Ia wajib bertauat secara benar.
Tanya:
227. Apakah batasan mampu dalam puasa terkait dengan orang
yang wajib melaksanakan kafarat karena jima’ pada bulan
Ramadhan?
Jawab:
Urusan ‘mampu’ itu antara orang yang berpuasa dan
Allah. Barangsiapa mengetahui dirinya mampu berpuasa,
maka ia tidak boleh pindah dari puasa kepada memberi
makanan. Patut dikatakan kepada pelaku, “Bukankah kamu
mampu melakukan pausa bulan Ramadhan? Maka kamu
wajib melakukan puasa dua bulan secara beruntun sebagai
kafarat atas apa yang telah kamu lakukan.”
Tanya:
228. Apakah ada udzur lain selain sakit dan perjalanan bagi
orang yang mampu puasa Ramadhan dimana udzur tersebut
menggugurkan puasa kafarat karena jima’?
Jawab:
Adakalanya ia lemah tubuhnya sekira tidak dapat
berpuasa dua bulan secara beruntun, adakalanya syahwatnya

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 125


besar sehingga tidak sabar meninggalkan jima’ selama masa
tersebut dan adakalanya dia memiliki pekerjaan yang tidak
memungkinkannya melakukan puasa dua bulan secara
beruntun.
Tanya:
229. Apakah yang dilakukan pelaku jima’ andaikata jima’nya
berlangsung hingga setelah adzan fajar?
Jawab:
Jika seseorang melakukan jima’, lalu fajar terbit, maka
ia wajib mencabut dzakarnya dan puasanya sah meskipun
mengeluarkan mani setelah mencabut dzakarnya. Akan
tetapi jika ia meneruskan jima’nya hingga setelah fajar terbit,
maka puasanya batal dan ia wajib bertaubat dan melakukan
kafarat.
Tanya:
230. Orang yang berbuka pada siang Ramadhan tidak karena
udzur, kemudian menjima’ isterinya, dan ia berbuka pertama
kalinya bukan untuk berjima’, apakah kafarat wajib atasnya?
Jawab:
Ya, ia kafarat wajib atasnya karena ia tetap wajib menjaga
diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa dalam
sisa harinya.
Tanya:
231. Apakah merokok termasuk perkara yang membatalkan puasa?

126 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, bahkan dia termasuk maksiat. Yang lebih meng­heran­
kan, orang yang melakukan perbandingan dan berargumen
dalam kerusakan puasa antara asap rokok yang kotor dan
buruk dan antara asap dupa yang baik dan diperbolehkan,
untuk berdalil atas tidak batalnya puasa dengan rokok bagi
orang yang berpuasa.
Tanya:
232. Apakah hukum muntah secara sengaja?
Jawab:
Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa yang muntah
tanpa disengaja, maka tidak ada kewajiban qadha atasnya
dan barangsiapa muntah secara sengaja, maka ia wajib
mengqadhanya.” (HR. At-Tirmidzi) Barangsiapa yang
muntah secara sengaja dengan cara apapun, maka ia wajib
melakukan qadha puasa. Akan tetapi jika muntah tanpa
sengaja, maka puasanya tidak batal karena terjadi bukan
atas kehendaknya.
Tanya:
233. Bagaimana jika seseorang berusaha muntah, namun tidak
muntah?
Jawab:
Jika ia mengetahui bahwa muntah secara sengaja itu
membatalkan puasa, maka sesungguhnya ia telah niat

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 127


membatalkan puasa.
Tanya:
234. Orang yang puasa muntah, lalu sebagian muntahnya tertelan
tanpa sengaja, apa hukum perbuatannya?
Jawab:
Puasanya tidak batal dan ia tidak wajib qadha puasa.[]

128 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Keempat Belas:
Hal-hal yang Berkaitan
dengan Haid

Tanya:
235. Apakah perempuan wajib bertanya dan belajar tentang
hukum-hukum haid, nifas dan istihadhah?
Jawab:
Ya, tidak ada perempuan baligh kecuali perkara-perkara
ini dialaminya, khususnya haid. Kita mengetahui bahwa
tidak ada rasa malu dalam ilmu.
Tanya:
236. Sebagian perempuan malu bertanya kepada para ulama
tentang masalah-masalah haid, apakah hukum per­buatan­­nya
ini?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 129


Jawab:
Ini termasuk malu yang tercela karena menghalanginya
dari mencapai kebenaran.
Tanya:
237. Apakah hukum puasa bagi perempuan yang haid atau nifas?
Jawab:
Perempuan yang haid atau nifas haram berpuasa, baik
puasa wajib maupun puasa sunnah. Seandainya berpuasa,
maka puasanya tidak sah karena sabda Nabi n yang
menetapkan hal itu, “Bukankah jika perempuan haid tidak
shalat dan tidak puasa?” Maksudnya, jika perempuan haid,
maka ia tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa.
Tanya:
238. Apakah perempuan haid wajib melakukan qadha shalat
setelah Ramadhan?
Jawab:
Ia tidak melakukan qadha shalat, akan tetapi qadha puasa
karena hadits Aisyah d, ia berkata, “Haid menimpa kami,
lalu kami diperintahkan untuk qadha puasa dan kami tidak
diperintahkan untuk qadha shalat.” (Muttafaq Alaih)
Tanya:
239. Kapan perempuan haid menqadha puasa yang ditinggal­
kannya pada bulan Ramadhan?

130 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ia menqadhanya pada hari-hari lain, seperti yang dilakukan
orang sakit ketika meninggalkan puasa. Ia menqadhanya pada
hari-hari di luar Ramadhan. Perkaranya mudah, yakni ia
melakukannya secara beruntun atau terpisah-pisah.
Tanya:
240. Apakah hukum puasa jika haid terjadi di tengah siang hari?
Jawab:
Haid tersebut membatalkan puasa, meskipun hal itu
terjadi menjelang waktu Maghrib. Ia wajib mengqadha puasa
tersebut jika puasa fardhu.
Tanya:
241. Apakah ada batasan haid paling sedikit dan paling banyak
dalam hitungan hari?
Jawab:
Menurut pendapat yang Shahih, haid tidak ada
batasannya dalam hitungan hari karena firman Allah I,
“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang
haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena
itu jauhilah isteri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati
mereka sebelum mereka suci.” (Al-Baqarah: 222)
Allah tidak menjadikan batas akhir larangan dengan
hari, akan tetapi menjadikan batas akhir larangan dengan
suci. Hal ini menunjukkan bahwa alasan hukumnya adalah

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 131


haid, ada dan tidaknya haid. Ketika ada haid, maka tetaplah
hukumnya dan ketika tidak ada haid, maka hilanglah
hukum-hukumnya dari perempuan.
Tanya:
242. Jika ada perempuan kecil mengalami haid, apakah kita
mewajibkan puasa terhadapnya?
Jawab:
Ya, kita mewajibkannya berpuasa dan ibadah-ibadah
lainnya yang kewajibannya dikaitkan dengan unsur baligh.
Tanya:
243. Bagaimana dengan orang yang membatasi waktu haid,
misalnya tujuh hari?
Jawab:
Pembatasan tidak ada dalilnya dari syara’, padahal
kondisi yang ada menuntut penjelasannya pada zaman Nabi
n. Karena itu, setiap darah yang dilihat perempuan yang
dikenal dengan darah haid, maka dia adalah darah haid
tanpa pembatasan waktu terhadapnya.
Tanya:
244. Jika darah keluar terus menerus, apakah hukumnya?
Jawab:
Jika darah keluar terus menerus tanpa ada putusnya atau
terputus dalam waktu yang sebentar, misalnya satu hari
atau dua hari dalam satu bulan, maka darah yang seperti

132 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


ini dinamakan darah istihadhah atau darah penyakit.
Tanya:
245. Jika perempuan merasakan dekatnya waktu datang bulan
pada siang hari dan ia tidak melihat darah, apakah hukum
puasanya?
Jawab:
Jika perempuan merasakan datang bulan sebelum
Maghrib, akan tetapi ia tidak melihat darah kecuali setelah
Maghrib, maka puasanya sah karena darah yang berada di
dalam tubuh tidak ada hukumnya. Darah haid tidak ada
hukumnya kecuali setelah dilihat di luar, bukan dengan
perpindahannya.
Tanya:
246. Apakah hukum cairan keruh atau cairan kuning sebelum
turunnya darah haid?
Jawab:
Cairan kuning dan cairan keruh sebelum turunnya darah
haid tidak sepi dari kedua keadaan:
Pertama; Disertai dengan rasa sakit haid atau bersam­
bung dengan darah haid tanpa ada pemisahnya. Dalam
keadaan ini, ia termasuk darah haid.
Kedua; Jika ia terpisah dari turunnya darah haid dan
tidak ada rasa sakit, maka ia tidak termasuk haid.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 133


Tanya:
247. Apakah hukum cairah keruh yang keluar di tengah-tengah
masa haid?
Jawab:
Jika perempuan melihat cairah kuning dan keruh saat
yang biasa dihukumi haid (masa haid), maka dia termasuk
haid.
Tanya:
248. Bagaimana perempuan mengetahui suci setelah haid?
Jawab:
Perempuan yang mengalami haid ketika melihat cairan
putih yang keluar dari rahim setelah haid, maka cairan
tersebut merupakan tanda ia telah suci. Maka ia niat puasa
malam hari dan berpuasa pada siangnya. Jika ia tidak
melihat tanda suci yang dikenalnya, maka ia mengusapkan
kapas dan sejenisnya ke dalam farji. Jika kapasnya keluar
dalam keadaan bersih, maka ia wajib berpuasa. Inilah yang
disebut dengan istilah Al-Jafaf (kering).
Tanya:
249. Apakah hukum cairan kuning dan cairan keruh yang muncul
setelah suci?
Jawab:
Perempuan yang melihat suci secara yakin setelah haid,
seperti keluarnya cairan putih atau kering, maka cairan

134 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


keruh atau cairan kuning tidak termasuk haid dan tidak
mencegah shalat, puasa dan jima’ suami terhadap isterinya.
Ummu Athiyah berkata, “Kami tidak menganggap cairan
kuning dan cairan keruh sebagai sesuatu apapun.” (HR.
Al-Bukhari) Abu Dawud menambahkan, “Setelah suci.”
Tanya:
250. Apakah perempuan wajib segera mandi ketika darah sudah
menjadi sedikit agar dapat menyusul puasa dan shalat?
Jawab:
Ia tidak boleh tergesa-gesa mandi hingga telah melihat
suci, karena sebagian perempuan ketika darahnya menyusut
tergesa-gesa mandi sebelum melihat suci. Karena itu Aisyah
RA berkata kepada kaum perempuan sahabat, “Janganlah
kalian tergesa (mandi) hingga kalian melihat cairan putih.”
(HR. Al-Bukhari)
Tanya:
251. Jika darah kembali kepadanya, apakah berpengaruh terhadap
puasanya?

Jawab:
Jika darah haid kembali, maka puasanya batal dan ia
wajib memutus puasanya selama darah tersebut keluar
dalam waktu yang telah menjadi kebiasaan haid, meskipun
sedikit.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 135


Tanya:
252. Perempuan berpuasa dan ia ragu tentang kesuciannya. Ketika
pagi hari, ternyata ia suci, apakah puasanya sah, padahal ia
tidak yakin suci?

Jawab:
Puasanya tidak sah dan ia wajib menqadha puasa hari
itu, karena hukum asal tetapnya haid dan karena masuknya
ia ke dalam ibadah puasa tanpa yakin suci. Masuk ke dalam
ibadah bersama dengan keraguan tentang syarat sah ibadah,
mencegah keshahihannya.

Tanya:
253. Perempuan memperkirakan bahwa besok ia mengalami haid,
apakah ia berniat tidak puasa?

Jawab:
Perempuan yang mengetahui bahwa kebiasaan haidnya
datang hari besok, ia wajib meneruskan niat puasa, berpuasa
dan tidak membatalkan puasa hingga melihat darah.

Tanya:
254. Jika perempuan haid atau nifas suci pada siang hari, apakah
ia tetap menjaga diri dari perbuatan yang membatalkan
puasanya?
Jawab:
Tidak wajib. Ia boleh makan dan minum karena menahan

136 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


diri dari perkara yang membatalkan puasa tidak berfaidah
terhadapnya karena ia wajib melakukan qadha puasa. Ibnu
Mas’ud a berkata, “Barangsiapa yang makan di awal siang,
maka hendaklah ia makan di akhir siang.” Maksudnya dalam
keadaan boleh memakan.
Tanya:
255. Apakah perempuan yang haid boleh mencegah diri dari
perkara-perkara yang membatalkan puasa karena malu
terlihat sebagai perempuan yang sedang haid?

Jawab:
Ia boleh melakukan hal itu hingga jauh dari pembicaraan
orang yang tidak mengetahui urusan-urusan perempuan. Ia
boleh makan secara sembunyi-sembunyi.
Tanya:
256. Apakah diperbolehkan meminum obat-obatan yang mencegah
haid?

Jawab:
Obat-obatan ini sebagaimana yang ditetapkan banyak
para dokter menimbulkan mudharat, menyebabkan luka di
rahim dan waktu haid yang tidak teratur. Banyak masalah
kewanitaan disebabkan minum obat-obatan tersebut. Jika
perempuan belum menikah, maka bisa menyebabkan
kemandulan. Disamping itu dengan akalnya, meskipun

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 137


dia bukan dokter, dapat mengetahui bahwa mencegah
perkara alami yangmana Allah menjadikan waktu-waktu
tertentu untuknya menimbulkan bahaya-bahaya. Karena
itu, hendaklah perempuan menjauhi obat-obatan seperti
ini.
Tanya:
257. Apakah hukum meminum obat-obatan pencegah datangnya
bulan agar dapat melakukan shalat pada sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan?
Jawab:
Yang lebih utama bagi perempuan yang haid adalah
tetap dengan kondisi alaminya. Pada sepuluh hari terakhir
ia dapat berdoa, membaca Al-Qur`an dan melakukan amal-
amal shaleh yang lain selain shalat dan thawaf di sekeliling
Ka’bah?
Tanya:
258. Jika perempuan haid mengkonsumsi obat-obat penghilang
haid dan haidnya benar-benar hilang, apakah ia dianggap
suci?
Jawab:
Jika perempuan melakukan hal itu dan darahnya
terputus, maka ia menjadi perempuan yang suci. Ia wajib
berpuasa dan puasanya mencukupinya.

138 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
259. Jika waktu fajar datang dan perempuan sedang haid, sebentar
setelah itu ia suci, apakah ia berpuasa?
Jawab:
Jika waktu fajar tiba, sementara perempuan sedang haid,
maka ia tidak sah melakukan puasa hari itu, walaupun suci
tersebut datang sebentar setelah waktu fajar tiba.
Tanya:
260. Apakah niat puasa perempuan yang berhenti haidnya dan ia
belum mandi diperbolehkan?
Jawab:
Ya, perempuan yang mengalami haid atau nifas ketika
darahnya terputus malam hari, lalu ia berniat puasa hari
besoknya, kemudian waktu fajar datang sebelum ia mandi,
maka menurut madzhab seluruh ulama, puasanya sah
meskipun ia mandi setelah fajar.
Tanya:
261. Jika perempuan suci sebelum adzan fajar dan ia tidak mandi
kecuali setelahnya, apakah puasanya sah?
Jawab:
Ya, puasanya sah karena diqiyaskan dengan orang junub
berdasarkan hadits Aisyah d, ia berkata, “Nabi n pada
pagi hari dalam keadaan junub dari jima’ tanpa mimpi basah,
kemudian beliau berpuasa Ramadhan.” (Muttafaq Alaih)

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 139


Tanya:
262. Perempuan suci pada malam hari dan secara sengaja
mengakhirkan mandi suci hingga waktu siang dengan alasan
ingin memastikan suci, apakah hukum perempuannya?
Jawab:
Yang wajib ia lakukan adalah segera mandi untuk
melaksanakan shalat pada waktunya. Hal ini ketika ia melihat
tanda yang menunjukkan kesucian, bahkan meskipun
mandi suci tersebut cepat untuk segera melaksanakan shalat.
Tanya:
263. Apakah puasa batal jika haid mulai setelah adzan Maghrib
secara langsung dan sebelum melakukan shalat?
Jawab:
Puasanya tidak batal. Perempuan yang ketika terbenam­
nya matahari tidak melihat haid keluar puasanya sah.
Tanya:
264. Perempuan yang mengatakan pada waktu malam, “Jika pagi
hari aku suci, maka aku berpuasa.” Lalu ia melihat suci setelah
fajar. Apa hukum puasanya?
Jawab:
Puasanya tidak sah, karena hukum asal tetapnya perkara
yang menghalangi (sahnya puasa).

140 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
265. Perempuan mengalami haid pertama kali sementara ia masih
kecil, lalu ia malu memberitahu keluarganya sehingga ia tidak
berpuasa, apakah hukum yang berlaku kepadanya?
Jawab:
Ia wajib mengqadha satu bulan karena perempuan
yang mengalami haid menjadi perempuan yang mukalaf.
Disamping itu haid merupakan salah satu tanda-tanda
baligh.
Tanya:
266. Apakah perempuan yang haid boleh membaca Al-Qur`an?
Jawab:
Ya, ia boleh membaca Al-Qur`an. Terkadang membaca
Al-Qur`an itu untuk suatu keperluan, misalnya guru yang
membacakannya untuk pengajaran, atau siswi membacanya
untuk belajar dan orang yang membacanya untuk mengingat
hafalan.
Tanya:
267. Apakah hukum perempuan haid menghadiri ceramah-
ceramah di masjid-masjid, terlebih ceramah-ceramah pada
bulan Ramadhan?
Jawab:
Perempuan haid tidak boleh menetap di masjid. Adapun
melewatinya untuk suatu keperluan tidak apa-apa. Dalilnya,

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 141


Nabi n memerintahkan kepada kaum perempuan agar
keluar ke tempat shalat Id untuk shalat dan dzikir dan
memerintah kaum perempuan yang haid agar menjauhi
tempat shalat.
Tanya:
268. Apakah hukum seorang suami meminta isterinya yang sedang
haid melakukan jima’ dengannya?
Jawab:
Jima’ antara suami dan isteri ketika sedang haid adalah
perkara yang diharamkan. Allah I berfirman,

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, “Haid


itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu
menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah
kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila
mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat
yang diperintahkan Allah kepadamu.” (Al-Baqarah: 222)
Isteri wajib mencegah suami dari hal itu, menyelisihinya
dan tidak menyetujui permintaannya karena perbuatan

142 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


tersebut diharamkan. Tidak ada ketaatan kepada makhluk
dalam maksiat kepada Allah.
Tanya:
269. Jika suami memintanya di akhir haid, apakah ia menyetujui­
nya?
Jawab:
Suami boleh menjima’nya setelah dia suci dari haid dan
setelah mandi dari haid.
Tanya:
270. Perempuan memiliki kebiasaan haid enam hari, kemudian
kebiasaan hari haidnya bertambah, apakah ia tidak
melakukan puasa?
Jawab:
Jika adat haid perempuan enam hari, kemudian kebiasaan
harinya bertambah hingga menjadi sembilan atau sepuluh
hari, maka sesungguhnya ia tetap tidak shalat hingga suci.
Hal ini karena Nabi n tidak memberikan batasan yang
khusus terhadap haid. Allah I berfirman,
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah,
“Haidh itu adalah suatu kotoran.” (Al-Baqarah: 222)
Ketika darah ini masih tetap, maka perempuan tetap
dalam keadaannya hingga suci, lalu mandi dan shalat. Jika
dalam bulan kedua, masa haidnya berkurang dari itu, maka
sesungguhnya dia mandi ketika telah suci meskipun tidak

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 143


seperti masa sebelumnya. Yang penting, ketika haid masih
tetap bersama perempuan, maka ia tidak shalat, baik haid
sesuai dengan kebiasaan sebelumnya atau lebih banyak atau
lebih kurang. Jika ia telah suci, maka ia shalat.
Tanya:
271. Perempuan memiliki masa haid sepuluh hari. Dalam bulan
Ramadhan masa haid menjadi empat belas hari. Ia belum
suci selama itu. Lalu darah keluar dengan warna hitam
atau kuning. Ia tetap seperti ini selama delapan hari dan ia
melakukan shalat dan puasa. Apakah shalat dan puasanya
sah selama delapan hari ini? Apakah yang wajib atasnya?
Jawab:
Jika masa haid perempuan ini mengalami pertambahan
dari kebiasaannya dan ia mengetahui bahwa darah ini
adalah darah haid yang biasa ia kenal, maka ia tetap dalam
haidnya, tidak shalat dan tidak puasa. Kecuali jika masa
pertambahannya itu lebih dari satu bulan. Jika demikian,
maka ia disebut dengan darah istihadhah. Ia tidak berhenti
dari shalat dan puasa setelah itu kecuali sesuai dengan kadar
kebiasaannya.
Berdasarkan ini, hari-hari yang ia jalani dengan puasa
setelah suci, kemudian ia melihat darah yang aneh ini
yang ia ketahui sebagai bukan darah haid, akan tetapi ia
hanyalah darah kuning atau keruh atau hitam, maka darah

144 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


ini bukanlah darah haid. Puasanya selama itu sah dan
mencukupi. Begitu juga shalatnya tidak diharamkan atasnya.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Istihadhah


Tanya:
272. Apakah tanda-tanda yang membedakan antara darah haid
dan darah istihadhah?
Jawab:
Di antara tanda-tanda yang membedakan antara darah haid
dan darah istihadhah, antara lain:
Pertama; Warna darah haid hitam, sementara darah
istihadhah cerah.
Kedua; Bau darah haid amis.
Ketiga; Darah haid keluar dengan deras, sementara darah
istihadhah tidak.
Keempat; Darah haid didahului dengan rasa sakit, sedang
darah istihadhah tidak.
Tanya:
273. Apakah istihadhah merusak puasa?
Jawab:
Darah istihadhah tidak berpengaruh terhadap sahnya
puasa. Perempuan yang mengalami istihadhah tetap shalat,
puasa dan boleh bersetubuh dengan suaminya.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 145


Tanya:
274. Perempuan yang mengalami istihadhah, bagaimana ia shalat
dan kapan ia berpuasa?
Jawab:
Ia tidak melakukan shalat dan tidak berpuasa selama
masa haid biasanya sebelum ini. Jika kebiasaannya haid
datang di awal bulan selama enam hari setiap bulan
misalnya, maka ia tidak shalat dan tidak puasa selama enam
hari mulai awal bulan. Jika hari-hari tersebut selesai, maka
ia mandi kemudian shalat dan puasa.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Perempuan Nifas


Tanya:
275. Bagaimana cara mengetahui darah yang berhubungan dengan
gugurnya janin bahwa dia darah nifas atau lainnya demi
puasa?
Jawab:
Jika perempuan hamil melahirkan janin secara prematur
dimana janin tersebut membentuk manusia atau memiliki
bentuk-bentuk tubuh seperti kepala atau tangan, maka
darahnya adalah darah nifas. Jika janin prematur tersebut
berupa segumpal darah atau segumpal daging dimana bentuk
manusia belum jelas, darah tersebut adalah darah rusak. Ia
tetap berpuasa jika mampu. Jika tidak mampu, maka ia tidak
berpuasa dan menggantinya pada hari yang lain.

146 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
276. Apakah pandangan syara’ terhadap darah yang keluar dari
perempuan yang hamil?
Jawab:
Kita mengetahui bahwa perempuan hamil tidak haid
karena perempuan diketahui hamil dengan berhentinya
haid. Haid diciptakan Allah sebagai makanan bagi janin
di perut ibunya. Karena itu, terkadang darah keluar dari
perempuan yang hamil karena suatu peristiwa, misalnya
kecelakaan, membawa beban atau sejenisnya.
Tanya:
277. Setelah keguguran janin, proses pembersihan dilakukan,
kapan ia dapat berpuasa?
Jawab:
Jika janin yang lahir prematur kurang dari delapan puluh
hari, maka darah ini tidak mencegah ibadah. Pembersihan-
pembersihan ini tidak mencegah shalat dan puasa.
Tanya:
278. Jika perempuan yang nifas suci sebelum empat puluh hari,
apakah ia puasa dan shalat?
Jawab:
Ya, ia wajib puasa dan mandi untuk menjalankan shalat.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 147


Tanya:
279. Jika darah perempuan yang mengalami nifas kembali setelah
suci dalam waktu kurang dari empat puluh hari, apakah yang
ia lakukan?
Jawab:
Jika darah kembali dalam waktu empat puluh hari, maka
ia tidak boleh berpuasa karena darah tersebut merupakan
darah nifas.
Tanya:
280. Jika darah nifas terus berlangsung setelah empat puluh hari,
kapan ia shalat dan puasa?
Jawab:
Perempuan yang mengalami nifas, jika setelah empat
puluh hari darahnya masih mengalir dan darah tersebut
tidak berubah, maka jika darah tersebut bertepatan dengan
kebiasaan haidnya, maka ia berhenti dari shalat dan puasa
dan jika tidak bertepatan dengan kebiasaan haidnya, maka
para ulama berselisih dalam hal itu.
Sebagian mereka berpendapat bahwa ia mandi, shalat
dan puasa meskipun darah mengalir karena dalam keadaan
tadi ia seperti perempuan yang mengalami istihadhah.
Sebagian mereka berpendapat bahwa ia tetap tidak shalat
dan tidak puasa hingga sempurna enam puluh hari karena
ada di antara perempuan yang mengalami nifas enam puluh

148 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


hari. Ini adalah perkara yang terjadi. Sebagian perempuan
memiliki kebiasaan nifas enam puluh hari. Berdasarkan
hal ini ia menunggu hingga sempurna enam puluh hari,
kemudian setelah itu kembali kepada kebiasaan haidnya. Ia
tidak shalat dan tidak puasa dalam waktu kebiasaan haidnya,
kemudian mandi dan shalat karena ketika itu ia terhukumi
sebagai perempuan yang mengalami istihadhah.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 149


Pembahasan Kelima Belas:
Sahur

Tanya:
281. Apa arti kata As-Sahar?
Jawab:
Ia adalah makan pada waktu sahur yaitu akhir malam
sebelum subuh.
Tanya:
282. Apa hukum makan sahur?
Jawab:
Sunnah Muakkadah. Rasulullah n berusaha keras untuk
melakukannya. Al-Bukhari dalam Shahih-nya mengatakan,
“Bab tentang berkah sahur dengan tanpa diwajibkan, karena
Rasulullah n dan para sahabatnya melanjutkan puasa dan
tidak disebutkan (makan) sahur.”
Tanya:
283. Apa manfaat sahur?

150 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Makan sahur dapat membantu orang yang berpuasa
untuk menahan kepayahan puasa. Oleh karena itu dalam
hadits disebutkan bahwa sahabat Anas bin Malik RA
mengatakan, “Rasulullah n bersabda, “Bersahurlah kalian,
karena sesungguhnya di dalam sahur terdapat berkah.” (HR.
Al-Bukhari)
Tanya:
284. Bagaimana makan sahur dapat membawa berkah?
Jawab:
Berkah dapat terjadi dengan semakin bertambahnya
kebaikan yang ada pada tubuh orang yang berpuasa yang
menjadi kuat dan giat, serta berkah karena mengikuti
petunjuk Nabi.
Tanya:
285. Apakah mengakhirkan sahur termasuk Sunnah?
Jawab:
Ya. Diriwayatkan dari Abu Athiyah, dia mengatakan,
“Aku mengatakan kepada Aisyah, “Di samping kita terdapat
dua lelaki dari sahabat Nabi n; salah satu dari mereka
menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur,
sedangkan yang lainnya mengakhirkan berbuka puasa
dan menyegerakan sahur.” Aisyah berkata, “Siapa yang
menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 151


Aku menjawab, “Abdullah bin Mas’ud.” Aisyah berkata,
“Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah n.” (HR.
An-Nasa’i)
Tanya:
286. Apakah penekanan terhadap pentingnya sahur, mempunyai
arti menjauhi dari serupa dengan orang Nasrani?

Jawab:
Ya. Diriwayatkan dari Amr bin Ash a bahwa Rasulullah
n bersabda, “Perbedaan antara puasa kita dengan puasa
ahlul kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim, Abu Dawud
dan lainnya)
Tanya:
287. Niat puasa apakah sudah dapat ditunjukkan dengan aktifitas
makan sahur?

Jawab:
Ya, karena sudah bisa dimaklumi bahwa orang yang
bangun di akhir malam dan makan sahur, dia tentunya ingin
berpuasa; karena setiap orang yang berakal ketika melakukan
sesuatu dengan kehendaknya maka tidak mungkin dia
melakukan sesuatu kecuali dengan keinginan, dan keinginan
ini merupakan niat. Seseorang tidak akan makan di akhir
malam kecuali karena bertujuan untuk berpuasa. Andai
maksudnya hanya sekedar makan, namun hal ini tidak

152 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


menjadi kebiasaannya untuk makan pada waktu seperti ini.
Hal ini termasuk niat.
Tanya:
288. Kapan waktu sahur Nabi n?

Jawab:
Waktu sahur Nabi n ketika mendekati waktu adzan
subuh. Hal ini seperti yang tersebut dalam keterangan yang
menjelaskan bahwa Rasulullah n mengakhirkan sahur,
bahkan antara waktu sahur dan waktu menjalankan shalat
hanya sekitar bacaan lima puluh ayat. (Muttafaq Alaih)
Tanya:
289. Kapan dimulai menahan sesuatu dari hal yang membatalkan
puasa?

Jawab:
Menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa
dimulai dari adzan fajar kedua yang merupakan adzan
untuk shalat subuh, sebagaimana sabda Rasulullah n,
“Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada waktu
malam, maka makanlah kalian dan minumlah, hingga
Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” (HR. Al-
Bukhari) Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan
kedua untuk shalat subuh.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 153


Tanya:
290. Apakah adzan pertama sudah menunjukkan bahwa makan
dan minum sudah dilarang?

Jawab:
Tidak dilarang makan (saat adzan pertama). Rasulullah
n bersabda, “Janganlah adzan Bilal mencegah salah satu dari
kalian dari sahurnya. Sesungguhnya Bilal mengumandangkan
adzan atau menyeru pada waktu malam agar orang yang
shalat malam di antara kalian kembali dan orang tidur di
antara kalian kalian bangun.” (HR. Al-Bukhari) Adzan
pertama sebelum subuh dimaksudkan untuk memberikan
peringatan.
Tanya:
291. Orang yang berada di padang sahara, bagaimana dia
mengetahui fajar kedua?

Jawab:
Lanjutan hadits di depan memberikan jawaban. Rasu­
lullah n bersabda, “Tidak dengan mengatakan demikian dan
demikian –Rasulullah membetulkan dengan tangannya dan
mengangkatnya—hingga mengatakan, “Begini.” Rasulullah
merenggangkan antara dua jarinya; maksudnya adalah
sesuatu yang membentang di ufuk.” (HR. Al-Bukhari)

154 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
292. Apa yang sunnah untuk dimakan pada waktu sahur?

Jawab:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwasanya
Rasulullah n bersabda, “Sebaik-baik sahur seorang mukmin
adalah dengan kurma.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)
Tanya:
293. Sebagian orang masih makan pada waktu adzan kedua shalat
subuh dikumandangkan hingga selesai adzan, apa hukum
perbuatan tersebut?

Jawab:
Hukumnya tergantung dari kondisi muadzin. Apabila
muadzin hanya mengumandangkan adzan ketika sudah
yakin fajar terbit, maka bagi orang yang mendengarnya
wajib Imsak (menahan sesuatu yang membatalkan puasa)
ketika adzan sudah dikumandangkan, sebagaimana sabda
Rasulullah n, “Makanlah dan minumlah kalian, hingga
Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” (HR.
Al-Bukhari) Namun apabila muadzin tidak yakin fajar
telah terbit, maka yang lebih utama ketika adzan sudah
dikumandangkan adalah melakukan Imsak (menahan
diri), namun tidak apa-apa apabila masih makan, karena
pada dasarnya malam masih ada. Yang lebih utama adalah
berhati-hati (Al-Ihtiyath) dan menahan diri.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 155


Tanya:
294. Apakah ada dzikir yang dibaca ketika sahur yang menunjukkan
keinginan berpuasa?
Jawab:
Tidak diketahui bahwa Rasulullah n mekatakan hal
ini, bahkan Rasul tidak mengajarkannya kepada salah
seorang yang bersamanya, maka meninggalkan Talaffuzh
(melafalkan) adalah wajib.
Tanya:
295. Apabila seseorang tidur sebelum matahari terbenam pada
bulan Ramadhan dan dia masih saja terus tidur dan tidak ada
orang yang membangunkannya hingga fajar terbit, apakah
kita bisa mengatakan bahwa puasanya pada hari kedua sah
meskipun dia tidak niat puasa?
Jawab:
Ya, sah. Hal ini disandarkan pada pendapat yang meng­
anggap bahwa satu niat di awal Ramadhan sudah mencukupi
untuk satu bulan.
Tanya:
296. Apakah pendapat mengenai batasan waktu Imsak di
kalender?
Jawab:
Hal ini merupakan sesuatu yang baru yang tidak ada
pada masa generasi pertama kaum muslimin, bahkan hal ini

156 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


termasuk melarang menikmati sesuatu yang diperbolehkan
pada waktu yang diperbolehkan secara agama, oleh karena
itu hal ini jangan dijadikan sandaran utama.
Tanya:
297. Dikatakan bahwa orang yang berpuasa harus menahan diri
mulai dari sepertiga jam sebelum adzan subuh; dan hal ini
disebut dengan Imsak Ihtiyathi (melakukan Imsak untuk
berhati-hati), lantas seberapa lamakah kira-kira waktu antara
Imsak dengan adzan subuh di Ramadhan?

Jawab:
Pada dasarnya, Imsak orang yang berpuasa dan berbuka
puasanya disandarkan pada firman Allah I, “Dan makan
minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu
sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah: 187) Makan dan
minum hukumnya mubah hingga terbit fajar; terbitnya fajar
ini ditunjukkan oleh adzan yang telah dijadikan oleh Allah
sebagai tanda batas diperbolehkannya makan, minum dan
lainnya yang membatalkan puasa.
Tanya:
298. Apa hukum orang yang makan karena menyangka fajar belum
terbit?
Jawab:
Kondisi seperti ini tidak apa-apa, karena ayat di depan

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 157


menunjukkan bahwa makan diperbolehkan hingga muncul
kejelasan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas a bahwa dia
mengatakan, “Allah menghalalkan minuman untukmu selagi
kamu masih ragu, hingga kamu tidak ragu.”5
Tanya:
299. Apa yang dilakukan oleh orang yang mendengar adzan
sedangkan di tangannya masih ada wadah makanan?
Jawab:
Dia diperbolehkan melanjutkan keperluannya dari
wadah tersebut. diriwayatkan dari Abu Hurairah a dia
mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda, “Apabila salah
satu dari kalian mendengar adzan, sedangkan wadah masih
berada di tangannya, maka janganlah meletakkannya hingga
dia memenuhi kebutuhannya darinya.” (HR. Abu Dawud)
Syaikh Al-Albani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan
bahwa orang yang telah menemukan fajar, sedangkan
wadah makanan dan minuman masih di tangannya,
maka dia diperbolehkan untuk tidak meletakkannya
hingga memenuhi kebutuhannya darinya. Gambaran ini
merupakan bentuk pengecualian dari ayat, “Dan makan
minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu
sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah: 187)6

5 Fath Al-Bari, 4/135 dan Al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, 29/263.


6 Tamam Al Minnah, 1/417 dan Fath Al-Bari, 4/109-110.

158 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
300. Apakah dapat dikatakan bahwa hadits di depan menjelaskan
juga tentang Imsak?
Jawab:
Ya, bila ditinjau dari sisi kesalahan menyandarkan puasa
dengan waktu Imsak; karena di antara faedah hadits ini
adalah membatalkan bid’ah Imsak sebelum fajar selama
seperempat jam. Mereka melakukan hal tersebut karena
khawatir masuk waktu adzan fajar sedangkan mereka masih
melakukan sahur. Andai mereka mengetahui Rukhsah ini,
niscaya mereka tidak akan terjerumus ke dalam bid’ah ini.
Tanya:
301. Sebagian orang begadang tidak tidur, kemudian ketika
mendekati tengah malam, dia makan sahur, apakah pendapat
mengenai prilaku seperti ini?
Jawab:
Hal ini dilakukan oleh orang yang tidak merasakan
berkah mengakhirkan sahur dalam puasanya dan tidak
mengingat petunjuk Nabi mengenai hal ini, bahkan
dikhawatirkan prilaku seperti ini membuat orang menjadi
kurang berniat untuk melakukan shalat subuh, ketika dia
tidur setelah makan.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 159


Pembahasan Keenambelas:
Berbuka Puasa

Tanya:
302. Apa yang disunnahkan dalam berbuka puasa?
Jawab:
Disunnahkan menyegerakan berbuka puasa, sebagaimana
sabda Rasulullah n, “Seseorang akan selalu dalam kebaikan
selagi dia menyegerakan berbuka puasa.” (Muttafaq Alaih)
Tanya:
303. Apakah petunjuk Nabi n mengenai hal ini?
Jawab:
Rasulullah n berbuka puasa dengan kurma sebelum
shalat. (HR. Abu Dawud dan dianggap shahih oleh Al-
Albani)
Tanya:
304. Kapan waktu yang benar menurut agama untuk berbuka
puasa?

160 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Hal ini berhubungan dengan terbenamnya matahari
bagi orang yang tidak menemui penghalang untuk
melihatnya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Aufa a,
dia mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda, “Apabila
matahari terbenam dari sini dan malam datang dari sini,
maka orang yang berpuasa berbuka.” (Muttafaq Alaih)
Tanya:
305. Orang yang berpuasa dan berada di padang sahara, apakah
harus berpegangan pada adzan dari radio?
Jawab:
Tidak diharuskan melakukan hal itu, apabila dia melihat
matahari. Ketika matahari terbenam di ufuk, maka dia
diperbolehkan berbuka puasa.
Tanya:
306. Apakah harus menunggu terbenamnya warna kemerah-
merahannya sinar matahari setelah matahari terbenam?
Jawab:
Ibnu Taimiyah berkata, “Ketika bulatan matahari
terbenam, maka orang yang berpuasa diperbolehkan
berbuka dan warna merah yang terlihat di ufuk tidak
menjadi pertimbangan.”
Tanya:
307. Sebagian orang mengatakan, “Sesungguhnya makna firman

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 161


Allah I, “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai
(datang) malam,” (Al-Baqarah: 187) adalah agar orang yang
berpuasa menunggu hingga waktu malam lewat kemudian
baru berbuka puasa, bukan langsung berbuka puasa ketika
matahari terbenam.” Apakah arahan mengenai perkataan
orang ini?
Jawab:
Kata ila, di sini artinya bukan Al-Ghayah; yaitu agar orang
yang berpuasa menemui satu waktu dari malam, namun arti
ila di sini tunduk pada ungkapan yang dimaksud agama
bukan dimaknai secara bahasa, yaitu agar menyegerakan
berbuka puasa. Hal ini sangat jelas dari perbuatan Nabi n
dan juga kaidah yang menyebutkan bahwa yang dijadikan
sandaran dalam penetapan hukum adalah agama bukan
akal.
Tanya:
308. Apakah ada larangan atau ancaman terhadap orang yang
berbuka puasa sebelum waktunya?
Jawab:
Ya. sesungguhnya Rasulullah n melihat dalam tidurnya
(bermimpi) terdapat orang-orang yang terbelenggu di urat
atas tumitnya, dan mulutnya mengalirkan darah. Ketika
ditanya tentang mereka, maka diberitahukan bahwa mereka
adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum tiba waktu
berbuka puasa mereka.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

162 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
309. Apa yang dilakukan oleh orang yang ragu bahwa dia telah
berbuka puasa sebelum waktunya?
Jawab:
Orang yang yakin, atau berkeyakinan kuat bahwa
dia berbuka puasa sebelum Maghrib, maka dia harus
mengqadha puasanya, karena dia yakin bahwa dia berbuka
puasa pada waktu siang.
Tanya:
310. Apakah mengakhirkan berbuka puasa termasuk menyalahi
petunjuk Nabi?
Jawab:
Ya, apabila dilakukan dengan tanpa sebab; seperti tidak
ada makanan atau terlambatnya kehadiran orang-orang di
rumahnya. Diriwayatkan dari Sahal bin Saad a bahwa
Rasulullah n bersabda, “Umatku masih berada dalam
sunnahku selagi dia tidak menunggu bintang untuk berbuka
puasa.” (HR. Ibnu Hibban) Menunggu bintang berarti
mengakhirkan berbuka puasa hingga langit menjadi
gelap dan bintang pun tampak. Hal seperti ini minimal
membutuhkan waktu sekitar seperempat jam. Hal ini
menyalahi sunnah Nabi dan sesuai dengan prilaku orang
Yahudi dan Nasrani.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 163


Tanya:
311. Apa yang dilakukan oleh orang yang tidak menemukan
makanan untuk berbuka puasa?
Jawab:
Apabila orang yang berpuasa tidak menemukan sesuatu
untuk berbuka puasa, maka berniat berbuka puasa di
hatinya.
Tanya:
312. Apakah dianjurkan mendengarkan adzan terlebih dahulu
kemudian baru makan berbuka puasa?
Jawab:
Tidak. Hal ini menyalahi sunnah Nabi n dalam
bersegera untuk berbuka puasa.
Tanya:
313. Apa petunjuk Nabi mengenai macam makanan untuk
berbuka puasa?
Jawab:
Orang yang berpuasa disunnahkan berbuka puasa
dengan memakan Ar-Ruthab (kurma matang). Apabila
tidak ada, maka dengan Tamar (kurma). Apabila tidak ada,
maka dengan air. Setelah itu, dia dapat memakan apa yang
dikehendaki.
Diriwayatkan dari Salman bin Amir, dia mengatakan,
“Rasulullah n bersabda, “Apabila salah seorang di antara

164 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


kalian berpuasa, maka berbuka puasalah dengan kurma.
Apabila tidak menemukan kurma, maka dengan air.
Sesungguhnya air itu suci.” (HR. Abu Dawud dan lainnya)
Tanya:
314. Apakah orang yang sedang berada di luar rumahnya harus
mempercepat kendaraannya untuk dapat berbuka puasa dan
tiba di rumah sebelum adzan Maghrib?

Jawab:
Tidak harus, bahkan tidak boleh mengendarai
dengan cepat, karena mengendarai dengan cepat dapat
membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Apabila dia
mendengar adzan, maka dia dapat masuk masjid untuk
minum air dan melakukan shalat dan menangguhkan
makan buka puasa.
Tanya:
315. Apakah pada waktu berbuka puasa disunnahkan berdoa?

Jawab:
Ya. disebutkan dalam hadits, “Tiga hal yang tidak ditolak
doa mereka; imam yang adil, orang puasa ketika berbuka,
dan doa orang yang dizhalimi. Doa tersebut akan diangkat di
atas awan, dibukan pintu-pintu langit untuknya, dan Tuhan
mengatakan, “Demi Keagungan-Ku, Aku akan menolongmu,
walaupun menunggu waktu.” (HR. At-Tirmidzi)

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 165


Tanya:
316. Doa apa yang disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika
berbuka?
Jawab:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar h, dia menga­
ta­k an, “Ketika Rasulullah n berbuka puasa, beliau
mengatakan, “Hilanglah dahaga, leher menjadi basah, dan
pahala menjadi tetap, insyaallah.” (HR. An-Nasa’i dalam
Sunan-nya)
Tanya:
317. Perkataan apa yang disunnahkan terhadap orang yang makan
di tempat orang lain?
Jawab:
Diriwayatkan dari Anas bin Malik a bahwa sesungguh­
nya Rasulullah n ketika berbuka puasa di tempat orang,
maka beliau mengatakan, “Orang-orang yang berpuasa
berbuka di tempat kalian, orang-orang baik memakan
makanan kalian dan malaikat turun kepada kalian.” (HR.
Ad-Darimi dan lainnya, dan dalam redaksi lain digunakan
kata, “Semoga malaikat menyampaikan shalawat terhadap
kalian.” (HR. Al-Baihaqi)
Tanya:
318. Apa pahala orang yang memberikan makanan berbuka puasa
terhadap orang yang berpuasa?

166 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani bahwasanya
Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa yang memberikan
buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka dia
mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang
berpuasa dengan tanpa berkurang sedikitpun.” (HR. At-
Tirmidzi dan lainnya)
Tanya:
319. Apa hukum mengakhirkan shalat Maghrib hingga mendekati
masuk waktu adzan Isya?
Jawab:
Tidak apa-apa melakukan hal tersebut, selagi tidak terikat
dengan shalat jamaah dengan masjid yang berada dekat
rumahnya, karena waktu shalat Maghrib berlangsung hingga
sebelum terbenamnya awan merah yang menunjukkan
masuknya waktu shalat Isya.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 167


Pembahasan Ketujuh Belas:
Anak Kecil dan Puasa

Tanya:
320. Siapa yang dimaksud dengan istilah anak kecil?
Jawab:
Dia adalah anak yang belum baligh dan sudah mencapai
usia Tamyiz, yaitu berumur tujuh tahun ke atas, baik laki-laki
maupun perempuan.
Tanya:
321. Apa hukum puasa anak kecil?
Jawab:
Puasa anak kecil hukumnya sunnah. Dia mendapatkan
pahala apabila berpuasa dan dia tidak mendapatkan dosa
apabila tidak berpuasa. Namun bagi orang tuanya agar
memerintahkannya untuk berpuasa dan mendorongnya
untuk melakukan hal tersebut agar menjadi terbiasa.

168 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
322. Bagaimana para sahabat memperlakukan anak-anak kecil
mereka ketika puasa?
Jawab:
Hal tersebut dapat diketahui dengan memperhatikan
perkataan Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz a, “Pada hari
Asyura, Rasulullah n mendatangi desa-desa kaum Anshar,
“Barangsiapa yang pagi ini tidak berpuasa, maka lanjutkanlah
harinya, dan barangsiapa yang pagi ini berpuasa, maka
berpuasalah.” Ar-Rubayyi’ mengatakan, “Pada saat itu, kami
berpuasa, dan kami mengajak serta anak-anak kami untuk
berpuasa. Kami membuatkan mainan dari katun kepada
mereka. Ketika salah satu dari mereka menangis meminta
makanan, maka kami memberikan mainan tersebut, hingga
datang waktu berbuka puasa.” (Muttafaq Alaih)
Tanya:
323. Apakah diperbolehkan memberikan hukuman terhadap
anak yang sudah baligh ketika dia meninggalkan puasa atau
menyepelekannya?
Jawab:
Al-Bukhari mengomentari perkataan Umar a terhadap
anak muda di bulan Ramadhan ketika mencercanya dan
memukulnya karena meminum khamar. Umar berkata
kepadanya, “Celaka kamu, padahal anak-anak kecil kami

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 169


berpuasa?” kemudian Umar memukulnya.” Maksudnya
adalah; Apakah kamu tidak berpuasa dan juga meminum
khamar di bulan Ramadhan, padahal anak-anak kecil saja
berpuasa?”
Tanya:
324. Apabila anak kecil bersikukuh untuk meneruskan puasa
Ramadhan, meskipun puasa tersebut membuat bahaya
dirinya karena masih kecil, maka apakah kita dapat
menggunakan kekerasan untuk membuatnya berbuka puasa?
Jawab:
Apabila memang dapat dipastikan bahwa puasa ini
membahayakan bagi diri anak kecil tersebut, maka dia
dilarang untuk melakukan puasa. Namun pelarangan ini
tidak dilakukan dengan kekerasan. Sesungguhnya kekerasan
tidak selayaknya diberlakukan untuk anak-anak, ketika
mendidik mereka untuk beribadah.
Tanya:
325. Sebagian orang tua melarang anak kecil melakukan puasa
karena merasa kasihan kepadanya, apa hukum perbuatan
tersebut?
Jawab:
Kasih sayang terhadap anak dapat terwujud ketika kita
memerintahkannya untuk melakukan taat dan membiasakan
mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak diragukan

170 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


lagi bahwa hal tersebut merupakan pendidikan yang baik
dan penjagaan yang sempurna. Disebutkan dalam sabda
Rasulullah n, “Sesungguhnya seorang lelaki merupakan
pemimpin bagi keluarganya dan bertanggungjawab terhadap
orang yang dipimpinnya.” Sebaiknya bagi para wali yang
bertanggungjawab terhadap keluarga dan anak-anaknya
agar bertakwa kepada Allah dalam menjaga mereka dan
memerintahkan mereka untuk beribadah.
Tanya:
326. Banyak orang tua tidak memperhatikan pendidikan anak-
anak mereka, khususnya dari sisi agama. Mereka kurang
memperhatikan hal tersebut dengan alasan lelah setelah
seharian bekerja dan menyepelekan tanggungjawab tentang
mereka, apa hukum prilaku mereka tersebut?
Jawab:
Kita wajib memperhatikan pendidikan anak-anak kita,
karena peringatan dari Firman Allah I, “Hai orang-orang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-
Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
Laksanakanlah tanggungjawab yang telah diingatkan
oleh Rasulullah dengan sabdanya, “Sesungguhnya

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 171


seorang lelaki merupakan pemimpin bagi keluarganya dan
bertanggungjawab terhadap orang yang dipimpinnya.” (HR.
Al-Bukhari) Dia tidak boleh menyepelekannya, melainkan
orang tua harus mendidik mereka sesuai dengan kondisinya
dan perbuatannya. Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda,
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat
semenjak umur tujuh tahun dan pukullah mereka karena
meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun.” (HR.
Ahmad)[]

172 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kedelapan Belas:
Lupa Dalam Puasa

Tanya:
327. Apakah perbedaan antara bodoh dan lupa dalam melakukan
ibadah?
Jawab:
Bodoh adalah tidak tahu, apabila seorang melakukan
sesuatu yang diharamkan sedangkan ia tidak tahu sesuatu
itu adalah haram, maka ia tidak berdosa. Apabila ia
meninggalkan suatu kewajiban sementera ia tidak tahu itu
adalah kewajiban, maka ia tidak wajib mengqadhanya jika
waktunya telah habis. Dalilnya adalah bahwa Nabi tidak
memerintahkan orang yang buruk dalam shalatnya—tidak
melakukan Thuma`ninah—untuk mengqadha shalat yang
telah selesai waktunya. Akan tetapi, Nabi memerintahkannya
untuk melakukan shalat yang selanjutnya sesuai dengan
yang apa disyariatkan.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 173


Lupa adalah lalainya hati dari sesuatu yang sudah
diketahui. Barangsiapa melakukan sesuatu yang haram
karena lupa, maka ia tidak berdosa. Seperti orang puasa
yang makan karena lupa atau meninggalkan kewajiban
karena lupa, maka tidak ada dosa ketika dalam kondisi
lupa, akan tetapi ia harus mengerjakannya ketika telah
mengingatnya. Dalilnya adalah sabda Nabi., “Barangsiapa
lupa shalat, maka hendaklah ia mengerjakannya apabila ia
telah mengingatnya.” (HR.Al-Bukhari)
Tanya:
328. Apa dalilnya bahwa lupa tidak berpengaruh pada puasa?
Jawab:
Allah I berfirman, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.” (Al-
Baqarah: 286)
Nabi bersabda, “Apabila orang puasa lupa lalu makan
dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya,
sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum Allah.”(HR.
Al-Bukhari) dalam riwayat lain, “Maka tidak ada qadha dan
kafarat atasnya.”
Tanya:
329. Apakah masalah lupa ini berlaku pada pelanggaran
berhubungan suami isteri?

174 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, dalam hadits disebutkan, “Barangsiapa batal
puasanya karena lupa maka tidak ada qadha dan kafarat
atasnya.” (HR. Al-Bukhari dan Hakim) Makna riwayat ini
menunjukkan pada batalnya puasa karena hubungan suami
istri karena ada kaitannya dengan penafian kafarat, dan tidak
ada kafarat melainkan pada pelanggaran hubungan suami
isteri.
Tanya:
330. Apakah ada perbedaan lupa dalam puasa wajib dan puasa
sunnah?
Jawab:
Tidak ada bedanya, karena tidak ada dalil yang menye­
but­­kan adanya pengecualian atau pembatasan dengan yang
wajib dari yang sunnah.
Tanya:
331. Apabila orang puasa lupa, lalu makan banyak makanan,
apakah ini berpengaruh pada keberlanjutan puasanya?
Jawab:
Tidak berpengaruh berdasarkan dalil hadits yang
diriwayatkan Abu Hurairah a, ia berkata, Rasulullah
n bersabda, “Barangsiapa makan karena lupa dan ia
berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya,
sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum Allah.” (HR.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 175


Al-Bukhari dan Muslim) Ini berarti sama saja hukumnya
apakah ia makan atau minum banyak maupun sedikit di
saat ia lupa.
Tanya:
332. Apabila seorang melihat orang yang puasa Ramadhan
meminum air, sementara ia tahu bahwa orang itu dalam
keadaan lupa, apakah ia harus mengingatkannya atau
membiarkannya meneruskan minum?
Jawab:
Yang wajib baginya adalah mengingatkannya. Hal ini
berdasarkan umunya dalil dari firman Allah, “Dan tolong
menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”
Dan dalil dari umumnya sabda Nabi, “Apabila aku lupa,
maka hendaklah kalian mengingatkanku.” Pada dasarnya
perbuatan tersebut adalah kemungkaran yang harus diubah.
Adapun orang yang melakukannya, tidak ada dosa atasnya
sebab kelupaannya.[]

176 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kesembilan Belas:
Orang-orang yang Punya Udzur

Tanya:
333. Apakah yang dimaksud orang yang punya udzur?
Jawab:
Yaitu orang yang mempunyai uzur Syar’i baik dalam
kondisi sementera maupun selamanya.
Tanya:
334. Apakah udzur yang membolehkan meninggalkan puasa?
Jawab:
Udzur-udzur yang membolehkan meninggalkan puasa
adalah sakit, safar atau dalam perjalanan, wanita hamil
yang khawatir dengan kondisi diri atau janinnya, wanita
menyusui yang khawatir puasa akan berpanguruh pada diri
atau janinnya, orang yang harus membatalkan puasa untuk
menyelamatkan orang lain dari kematian seperti tenggelam
dan lainnya.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 177


Tanya:
335. Siapakah yang dimaksud orang yang berusia lanjut?
Jawab:
Yaitu orang yang umurnya sudah lanjut dan badannya
lemah untuk berpuasa dan dikhawatirkan kondisinya akan
memburuk jika tidak makan.
Tanya:
336. Apakah firman Allah, “Bagi orang-orang yang berat
menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar
fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin,” (Al-Baqarah:
184) berkaitan dengan orang usia lanjut?
Jawab:
Benar, Abdullah bin Abbas a berkata, “Ayat ini tidak
dinasakh, ayat ini berlaku bagi orang lelaki tua dan wanita
tua yang tidak mampu berpuasa, maka hendaklah mereka
memberi makan orang miskin setiap hari sebagai gantinya.”
(HR.Al-Bukhari).
Tanya:
337. Apabila sebab yang membolehkan meniggalkan puasa terjadi
lalu ia telah batal puasanya, apakah harus tetap menjaga
puasanya setelah uzurnya selesai?

Jawab:
Apabila seorang membatalkan puasa karena menyelamat­
kan orang dari kematian, maka ia terus batal puasanya

178 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


meskipun setelah menyelamatkan, sebab ia membatalkan
puasa karena sebab yang memperbolehkan untuk membatal­
kan, maka ia tidak wajib menjaga puasanya.

Hal-hal yang Berkaitan Dengan Orang Sakit


Tanya:
338. Apakah jenis-jenis penyakit pada orang puasa?

Jawab:
Jenis pertama; Penyakitnya berlangsung terus menerus.
Seperti penyakit yang sulit disembuhkan. Maka wajib
baginya memberi makan orang miskin setiap harinya sesuai
bilangan hari-hari bulan Ramadhan.
Jenis kedua; Penyakit yang bisa disembuhkan, seperti
penyakit mendadak, yang membuatnya tidak kuat untuk
berpuasa. Maka ia boleh tidak puasa dan mengqadhanya
pada hari lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Maka
jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa)
sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”
(Al-Baqarah: 184).
Tanya:
339. Apakah orang yang sakit terus menerus sementara ia masih
muda hukumnya sama dengan orang usia lanjut?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 179


Jawab:
Ya, hukumnya sama dan kafaratnya sama.
Tanya:
340. Apakah sakit yang membolehkan orang meninggalkan puasa?
Jawab:
Yaitu sakit yang menyebabkan orang berpuasa
mengalami keberatan dalam menjalankan puasanya atau
akan menimbulkan keberatan pada nantinya.
Tanya:
341. Apakah perlu saran dokter ketika seseorang akan meninggalkan
puasa?
Jawab:
Ya, bahkan wajib bagi setiap muslim untuk mengambil
saran dari dokter dahulu, karena sarannya dalam masalah
kedokteran bisa diakui bersama fatwa Syar’i.
Tanya:
342. Bagaimana hukumnya orang yang meninggalkan saran dokter
dan bersikeras mengerjakan puasa?
Jawab:
Allah menginginkan kita dalam kemudahan, wajib
bagi kita untuk menaati Allah dengan menggunakan
keringanan meninggalkan puasa demi menjaga kesehatan
dan menghindarkan bertambahnya sakit akibat tidak makan
atau tidak minum obat.

180 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
343. Wanita tua yang bersikeras untuk berpuasa, padahal ini akan
membahayakan kesehatannya, bagaimana hukumnya?
Jawab:
Ia tidak boleh berpuasa apabila membahayakan
kesehatannya, Allah I berfirman, “Dan janganlah kalian
membunuh jiwa-jiwa kalian, sesungguhnya Allah Maha
kasih sayang dengan kalian.” (An-Nisa`: 29) Maka ia harus
memberi makan orang miskin setiap hari, dengan demikian
ia akan terbebas dari tanggungan.
Tanya:
344. Seorang dokter menyarankan orang sakit membatalkan puasa
untuk minum obat. Akan tetapi, ia membantah dan tidak
mau membatalkannya karena masih kuat berjalan ke masjid
dan ke rumah sakit. Apakah ia dibolehkan membatalkan
puasa sementara kondisinya seperti itu?
Jawab:
Apabila dokter menyarankan agar ia meninggalkan
puasa. Maka saran dokter ini perlu diperhitungkan karena ia
tahu kondisi dan sejauh mana orang sakit kuat menjalankan
puasa. Maka orang yang sakit harus mengqadhanya setelah
ia mampu.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 181


Tanya:
345. Apabila orang sakit mendapati beberapa hari Ramadhan, lalu
ia meninggal apakah kita mengeluarkan kafarat untuknya?
Jawab:
Setiap orang yang mendapati bulan Ramadhan dan ia
dalam kondisi sakit yang sulit disembuhkan, maka ia harus
memberi makan orang miskin setiap harinya.
Tanya:
346. Apabila orang sakit sembuh pada siang hari Ramadhan,
apakah ia harus menjaga puasa dengan waktu yang tersisa
hari itu?
Jawab:
Ia tidak wajib mempertahankan puasanya karena hari itu
ia telah dibolehkan untuk membatalkan puasa. Yang wajib
baginya adalah mengqadhanya pada hari lain.
Tanya:
347. Jika orang sakit yang penyakitnya sulit disembuhkan, lalu ia
sembuh dari penyakitnya dan ia telah mengeluarkan kafarat,
apakah ia wajib mengqadha?
Jawab:
Ia tidak wajib mengqadha karena ia telah melaksanakan
apa yang diwajibkan dan sudah terbebas dari tanggungan.

182 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
348. Bagaimana cara memberi makan bagi orang yang tidak kuat
puasa secara total?
Jawab:
Ada dua cara dalam memberi makan.
Pertama; Mengelurakan makanan nasi seberat seperempat
sha’, apabila memberikannya kepada fakir miskin sebaiknya
disertai dengan lauk dari daging atau lainnya sesuai dengan
kondisi dan tradisi yang ada.
Kedua, membuat makanan cukup untuk 30 atau 29 fakir
miskin sesuai hari-hari yang ditinggalkannya dalam puasa. Lalu
mengundang mereka untuk makan bersama. Hal ini seperti yang
dilakukan Anas bin Malik ketika sudah berusia lanjut.
Tanya:
349. Apakah boleh memberikan makanan satu orang miskin untuk
mengganti beberapa hari Ramadhan?
Jawab:
Tidak boleh memberi makan satu orang dari 30 atau 29
hari, karena ia harus membayarnaya setiap hari untuk orang
miskin.
Tanya:
350. Apa hukum membayar kafarat makanan kepada orang kafir
yang fakir?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 183


Jawab:
Apabila ada orang-orang Islam yang berhak, maka
hendaklah memberikannya kepada mereka, jika tidak
hendaklah memberikannya ke negara muslim yang
penduduknya masih membutuhkan makanan.
Tanya:
351. Apa hukum memberikan kafarat makanan dari orang sakit
yang sulit disembuhkan pada awal bulan Ramadhan?
Jawab:
Ia tidak boleh melakukan seperti ini, karena kewajiban
belum berlaku atas dirinya, barangkali ia meninggal di
tengah bulan. Anas bin Malik mengumpulkan 30 orang
fakir pada akhir bulan, lalu memberi makan mereka.
Tanya:
352. Apakah boleh mengakhirkan membayar kafarat?
Jawab:
Tidak apa-apa melaksanakannya di bulan Ramadhan
atau lainnya.

Wanita Hamil dan Menyusui


Tanya:
353. Apakah wanita hamil dan menyusui boleh meninggalkan
puasa?

184 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, ini diqiyaskan dengan orang sakit, baik mereka
khawatir atas diri mereka atau atas janin bayi mereka. Hal ini
berdasarkan sabda Nabi, “Sesungguhnya Allah mengurangi
separuh shalatnya musafir, dan meringankan puasa pada
wanita hamil dan menyusui.” (HR. Abu Dawud)
Tanya:
354. Apakah yang wajib atas mereka, qadha atau kafarat?
Jawab:
Tidak wajib atas mereka kecuali qadha.
Tanya:
355. Bagaimana kita memahami masalah wanita menyusui
kaitannya dengan meninggalkan puasa.
Jawab:
Wanita menyusui yang meninggalkan puasa karena
khawatir terhadap bayinya adalah seperti orang yang
membatalkan puasa karena menyelamatkan orang
tenggelam atau terbakar yang harus diselamatkan, maka ia
boleh membatalkan puasa dan mengqadhanya. Dan seperti
mereka orang-orang yang bekerja dalam memadamkan
kebakaran. Apabila terjadi kebarakan pada siang hari dan
mereka pergi untuk menyelamatkan sedang mereka tidak
bisa melakukannya kecuali dengan membatalkan puasa
dan makan untuk memperkuat tubuh mereka, maka seperti

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 185


ini dibolehkan untuk membatalkan puasa. Dan ini seperti
wanita menyusui yang mengkhawatirkan kondisi bayinya.
Tanya:
356. Bagaimana hukumnya wanita hamil yang mengalami
pendarahan?
Jawab:
Puasanya sah dan tidak berpengaruh apapun terhadap
puasanya.

Orang Gila dan Orang Pingsan


Tanya:
357. Apakah orang gila terkena taklif kewajiban puasa?
Jawab:
Orang gila tidak diwajibkan puasa. Sebab ia telah
kehilangan syarat untuk menerima taklif yaitu akal. Hal
ini sesuai dengan sabda Nabi, “Pena catatan amal diangkat
dari tiga orang; dari orang tidur sampai ia bangun, dari anak
kecil sampai ia dewasa dan dari orang gila sampai ia berakal.”
(HR. Abu Dawud)
Tanya:
358. Apabila ada orang yang akalnya hilang pada sebagian waktu
siang, apakah ia wajib puasa?
Jawab:
Jika sehari penuh berlalu atau sebagian besar hari berlalu

186 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


akalnya tidak kembali, maka tidak ada kewajiban puasa
baginya, sehingga tidak ada kewajiban mengqadha hari itu,
atau hari-hari yang dilaluinya dalam kondisi gila.
Tanya:
359. Orang yang hilang ingatan dan kurang akal apakan wajib
puasa?
Jawab:
Orang yang tidak punya akal tidak ada kewajiban baginya
menjalankan ibadah. Ini merupakan rahmat dari Allah.
Seperti juga orang kurang akal yang akalnya mengalami
gangguan tapi tidak sampai pada batas gila.
Tanya:
360. Seorang mengalami mati rasa selama kurang lebih sebulan dan
tidak berpuasa Ramadhan, apa yang harus dilakukannya?
Jawab:
Tidak ada sesuatu yang wajib baginya karena ia telah
kehilangan rasa. Akan tetapi, jika Allah mentakdirkan
kesadaran padanya, maka ia harus mengqadha’nya. Jika
Allah mentakdirkannya mati, maka tidak ada kewajiban
apapun baginya. Kecuali orang-orang yang mempunyai uzur
berkelanjutan sepeti orang usia lanjut dan lainnya, maka
kewajibannya adalah walinya memberi makan kepada fakir
miskin untuk setiap harinya.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 187


Tanya:
361. Apakah kondisi orang pingsan diqiyaskan dengan kondisi
orang gila?
Jawab:
Ya, jika sehari penuh berlalu ia dalam keadaan pingsan
terus menerus, artinya sehari semalam berlalu dan ia dalam
kondisi tidak sadar, maka ia tidak wajib puasa dan tidak
wajib qadha.
Tanya:
362. Mengapa orang yang pingsan tidak diqiyaskan dengan kondisi
orang meninggalkan shalat karena lupa?
Jawab:
Hendaknya kita ingat bahwa ibadah tidak harus
dicari-cari alasannya sebab ibadah adalah perintah Allah
yang harus kita laksanakan tanpa harus mengetahui
sebab musababnya. Dengan demikin satu ibadah tidak
bisa diqiyaskan dengan ibadah lainnya. Puasa tidak
bisa diqiyaskan dengan shalat, mengqadha puasa tidak
bisa diqiyaskan dengan mengqadha shalat. Misalnya
wanita haid diperintah mengqadha puasa dan tidak
diperintah mengqadha shalat. Ada perintah bagi orang
yang tidur untuk mengqadha shalat, sehingga ia wajib
mengerjakannya ketika bangun dari tidur. Dari Anas bin
Malik a, bahwa Rasulullah n bersabda, “Apabila salah

188 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


seorang di antara kalian tertidur dari shalat atau lupa,
maka hendaklah ia mengerjakannya apabila telah ingat.”
(HR. Muslim) Hadits ini adalah nash dalam ibadah shalat
dan tidak kita temukan nash semisalnya dalam ibadah
puasa.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 189


Pembahasan Kedua Puluh:
Hukum-hukum Medis yang
Ber­kaitan Dengan Puasa

Tanya:
363. Sebagian orang menghukumi bahwa setiap yang masuk ke
dalam rongga orang puasa adalah membatalkannya, apakah
ini benar?
Jawab:
Ini tidak benar, kecuali kalau memang dari jenis makanan
atau minuman atau yang menggantikan kedudukannya. Dalam
Al-Mishbah Al-Munir disebutkan, “Makan secara hakiki adalah
menelan makanan setelah dikunyah. Menelan kerikil tidak
disebut memakan secara hakiki.”
Tanya:
364. Apakah batal puasa orang yang menggunakan suntikan pada
urat nadi?

190 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Tidak batal puasa orang yang menggunakan suntikan
obat di kulit, otot dan nadi. Sebab suntikan ini bukanlah
makanan atau minuman dan bukan menggantikan makanan
atau minuman.
Tanya:
365. Apakah hukum ini termasuk pada suntikan nutrisi atau
makanan?
Jawab:
Suntikan nutrisi termasuk yang membatalkan puasa.
Hendaknya kita tahu bahwa sebab batalnya puasa bukan­
lah sampainya sesuatu ke rongga dari lobang, akan
tetapi terjadinya apa yang bisa menguatkan badan dan
memberinya nutrisi. Dan ini tentunya terjadi pada suntikan
dari jenis ini.
Tanya:
366. Seorang berpuasa membutuhkan pil jantung di letakkan di
bawah lisannya, apakah ini membatalkan puasa?
Jawab:
Ini tidak membatalkan puasa, karena pil ini hanya untuk
mengobati gangguan-gangguan jantung. Pil ini meresap
seketika setelah diletakkan dan dibawa darah ke jantung
sehingga gangguannya akan berhenti secara spontan dan

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 191


tidak ada yang sampai ke lambung dari pil ini. Maka ini
tidak ada kaitannya dengan pemberian nutrisi makanan.
Tanya:
367. Apakah boleh menggunakan tetes mata pada siang hari
Ramadhan?
Jawab:
Ya, boleh dan ini tidak membatalkan puasa.
Tanya:
368. Di beberapa apotik ada alat semprotan ke mulut untuk
penyakit asma, apakah orang puasa boleh menggunakan­nya
pada siang hari Ramadhan?
Jawab:
Boleh menggunakan alat ini, karena tidak sampai ke
lambung dan hanya sampai ke tenggorokan saja. Ini juga
bukan berarti makan atau minum dan tidak sampai ke
lambung.
Tanya:
369. Apa hukum menghisap uap yang digunakan di rumah sakit
bagi penderita asma di siang hari Ramadhan?
Jawab:
Jika uap itu disertai air maka akan masuk ke paru-paru
dan lambung, maka dari orang yang puasa tidak boleh
mengggunakannya.

192 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
370. Apa hukum menggunakan tetes hidung bagi orang puasa?
Jawab:
Ini tidak berpengaruh pada puasa, karena yang sampai ke
lambung dari tetes ini sangat sedikit sekali. Dan yang sedikit
sekali ini tidak memberikan makanan. Akan tetapi orang
yang berpuasa hendaklah hati-hati dari memperbanyak
menggunakannya.
Tanya:
371. Bagaimana hukumnya jika obat hidung dalam bentuk alat
semprotan?
Jawab:
Tidak apa-apa menggunakannya.
Tanya:
372. Apakah lotion pembersih telinga membatalkan puasa?
Jawab:
Tidak membatalkan puasa dengan syarat rongga telinga
dalam kondisi normal.
Tanya:
373. Apa hukum sumbu bagi orang puasa?
Jawab:
Tidak berpengaruh terhadap puasa.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 193


Tanya:
374. Apakah memeriksakan rahim berpengaruh pada puasa?
Jawab:
Tidak berpengaruh baik dengan menggunakan alat atau
menggunakan jari untuk pemeriksaan medis.
Tanya:
375. Apakah hukumnya memasang spiral dan semisalnya di rahim
wanita pada siang hari?
Jawab:
Tidak apa-apa, laulab dan semisalnya di rahim seperi apa
yang masuk dalam saluran kencing laki-laki atau perempuan
dari alat atau materi pelindung sinar atau cairan untuk
mencuci kandung kemih tidak berpengaruh pada puasa.
Tanya:
376. Apakah menggunakan lotion untuk vagina membatalkan
puasa?
Jawab:
Tidak membatalkan puasa karena tidak ada lobang yang
yang menghubungkan antara alat kelamin wanita dengan
lambung.
Tanya:
377. Apakah hukum suntikan di anus bagi orang puasa?

194 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Tidak apa-apa, sebab itu tidak termasuk jenis makanan
melainkan obat.
Tanya:
378. Para penderita penyakit wasir membutuhkan pemasangan
sumbu-sumbu, apakah boleh mereka menggunakan
pengobatan ini ketika sedang berpuasa?
Jawab:
Ya, boleh mereka menggunakannya, sebab ini tidak
membatalkan puasa.
Tanya:
379. Seandainya pengobatan gigi kebetulan pada siang hari
Ramadhan, apakah ini membatalkan puasa?
Jawab:
Melobangi gigi atau mencabut gigi atau membersihkan
gigi, ini semua tidak berpengaruh terhadap puasa apabila
menghindarkan menelan apa yang sampai ke lambung.
Tanya:
380. Terkadang dalam pengobatan gigi memerlukan mengaum
keras, apakah ini boleh dilakukan orang puasa.?
Jawab:
Berkumur-kumur dan mengaum serta alat terapi yang
digunakan di mulut tidak apa-apa bagi orang puasa dengan
syarat tidak ada sesuatu yang sampai masuk ke lambung.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 195


Tanya:
381. Apakah hukum menggunakan pasta gigi bagi orang puasa?
Jawab:
Tidak apa-apa jika tidak ada sesuatu yang turun sampai
ke lambung. Sebaiknya tidak menggunakannya pada saat
puasa dan mungkin bisa diakhirkan sampai waktu berbuka.
Tanya:
382. Apakah boleh menggunakan gas oksigen bagi orang puasa?
Jawab:
Ya, boleh menggunakannya.
Tanya:
383. Apakah boleh menyamakan hukum gas bius dengan gas
oksigen bagi orang puasa?
Jawab:
Ya, gas bius atau ping tidak berpengaruh terhadap puasa
selagi tidak memberikan cairan makanan bagi orang yang
sakit atau pembiusan memakan waktu sehari penuh.
Tanya:
384. Apakah hukum bius sebagian atau bius total?
Jawab:
Pembiusan ini bisa diperinci; Pertama, orang yang dibius
kehilangan kesadaran sehari penuh. Maka puasanya tidak
sah, dan ia harus mengqadha. Kedua, orang yang dibius

196 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


tidak kehilangan kesadaran sehari penuh. Apabila ia sadar
pada waktu kapanpun dari siang hari, maka puasanya sah.
Tanya:
385. Apakah hukum minyak, pelumas, stiker tempel di kulit yang
mengandung obat terapi bagi orang puasa?
Jawab:
Apa yang masuk meresap lewat kulit tidak berpengaruh
terhadap puasa.
Tanya:
386. Apakah boleh menggunkan pembasah bibir bagi orang yang
menderita bibir kering?
Jawab:
Boleh orang yang puasa menggunakannya untuk
membasahi bibir.
Tanya:
387. Apakah pengaruh alat medis spekulum bagi orang puasa?
Jawab:
Tidak berpengaruh terhadap puasa karena bentuknya
yang beku dan tidak memberi nutrisi.
Tanya:
388. Apakah hukum orang puasa yang memasang cairan atau
minyak pada alat spekulum sebelum memasukkannya?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 197


Jawab:
Apabila dilakukan seperti itu, maka membatalkan puasa
dengan materi tersebut, sebab ia membatalkan dari segi
dzatnya karena merupakan bahan nutrisi yang masuk ke
lambung.

Tanya:
389. Pelaksanaan operasi dengan menggunakan spekulum perut,
apakah ini berpengaruh terhadap puasa?

Jawab:
Selagi tidak masuk ke lambung, maka tidak membatal­
kan puasa, sebab yang diletakkan di luka tidak sampai ke
tempat makanan.

Tanya:
390. Apakah memasukkan pipa kecil ke pembuluh darah untuk
pemotretan atau pengobatan pembuluh jantung atau lainnya
berpengaruh terhadap puasa?

Jawab:
Tidak berpengaruh dengan syarat bahan minyak tidak
diletakkan pada pipa ketika dimasukkan lewat mulut. Ini
seperti memasukkan alat spekulum dari dinding perut
untuk memeriksa usus-usus atau melakukan operasi bedah,
seperti juga spekulum lambung jika tidak dibarengi dengan
memasukkan cairan atau bahan lainnya.

198 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
391. Terkadang keperluan menuntut untuk pengambilan sampel
dari hati atau lainnnya dari anggota tubuh, apakah ini
membatalkan puasa?
Jawab:
Tidak membatalkan puasa selagi tidak dibarengi dengan
pemberian cairan atau bahan berminyak melalui mulut.
Tanya:
392. Mengambil sample darah untuk analisa apakah mem­batal­
kan puasa?
Jawab:
Jika darah yang diambil adalah sedikit dan wajar maka
tidak berpengaruh terhadap puasa. Apabila yang diambil
banyak maka lebih afdhalnya mengqadha, untuk lebih hati-
hati.
Tanya:
393. Hampir sama dengan pertanyaan di atas, apakah mendo­
nor­kan darah berpengaruh terhadap puasa?
Jawab:
Tidak berpengaruh, akan tetapi meninggalkannya adalah
lebih baik ketika sedang berpuasa karena dikhawatirkan
akan menyebabkan kelemahan pada sebagian orang yang
puasa dan menyebabkannya untuk membatalkan.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 199


Tanya:
394. Darah keluar dari hidung orang puasa lalu ada sedikit yang
masuk ke lambung, apakah puasanya batal?
Jawab:
Puasanya tidak batal sebab tidak ada kesengajaan, akan
tetapi jika ia menelannya dengan sengaja dan sadar bahwa
ia sedang puasa, maka ia wajib mengqadhanya.
Tanya:
395. Apakah cairan Pretoni bagi penderita penyakit ginjal
membatalkan puasa?
Jawab:
Apabila itu tidak menjadikannya sebagai nutrisi
dan materinya tidak sampai ke lambung maka tidak
membatalkan puasa. Akan tetapi, biasanya dalam cairan
ini digunakan obat yang mengandung kadar air, sehingg
ini membatalkan puasa.[]

200 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kedua Puluh Satu:
Puasa dan Bepergian

Tanya:
396. Apakah arti safar atau bepergian?
Jawab:
Kata safar diambil dari kata Isfar yang berarti muncul
dan terlihat. Misalnya kata Sufur digunakan untuk menyebut
wanita yang memperlihatkan apa yang seharusnya ditutupi.
Tanya:
397. Apakah standar Syar’i tentang batas-batas safar?
Jawab:
Karena batas safar tidak ditentukan dalam Al-Qur`an
dan As-Sunnah serta dalam bahasa Arab, maka patokan
batasannnya adalah kembali kepada adat yang dikenal. Maka
dari itu, tidak bisa dikatakan musafir sampai seorang keluar
dari negerinya.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 201


Tanya:
398. Apa dalil Syar’i tentang keringangan tidak berpuasa dalam
bepergian?
Jawab:
Dalilnya adalah firman Allah I,
“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam
perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari
yang lain.” (Al-Baqarah: 185)
Tanya:
399. Apakah boleh puasa dalam perjalanan?
Jawab:
Nabi n berpuasa dalam perjalanan jika tidak mem­berat­
kannya.
Tanya:
400. Manakah yang afdhal bagi musafir, berpuasa atau tidak
berpuasa?
Jawab:
Jika ringan baginya berpuasa, maka yang afdhal adalah
berpuasa. Jika yang ringan baginya tidak puasa, maka yang
afdhal tidak berpuasa. Apabila sama tingkatannya maka
yang afdhal adalah puasa.

202 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
401. Mengapa puasa adalah yang afdhal jika tidak menimbulkan
kecapaian?
Jawab:
Karena ini adalah yang dilakukan Nabi dan menjadi
Sunnahnya ketika dalam perjalanan. Ini lebih cepat
membebaskan tanggunan dan lebih ringan bagi manusia
karena qadha terasa berat bagi manusia.
Tanya:
402. Jika kita berada dalam kondisi perjalanan, apakah kita
menganjurkan berpuasa atau tidak berpuasa?
Jawab:
Kita menganjurkan untuk memilih. Sesungguhnya
Hamzah bin Amr Al-Aslami bertanya kepada Nabi, “Apakah
aku berpuasa dalam perjalanan? Ia adalah seorang yang
banyak berpuasa. Maka Nabi menjawab, “Jika kamu mau,
maka berpuasalah, jika kamu mau, maka berbukalah.” (HR.
Al-Bukhari)
Tanya:
403. Bagaimana hukum puasa dalam perjalanan jika menimbulkan
keberatan?
Jawab:
Jika puasa memberatkannya, maka hendaklah ia berbuka
dan itu adalah keharusan, karena pernah diadukan kepada

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 203


Nabi bahwa orang-orang merasa keberatan berpuasa, maka
Nabi n berbuka. Kemudian diadukan lagi bahwa sebagian
orang tetap berpuasa, maka Nabi n bersabda, “Mereka itu
adalah pelaku maksiat. Mereka itu adalah pelaku maksiat.”
(HR. Muslim)
Nabi bersabda, “Bukan dari kebaikan berpuasa dalam
perjalanan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Sebab
munculnya sabda Nabi ini adalah bahwa Nabi n berada
dalam satu perjalanan, lalu melihat kerumunan orang dan
seorang yang dinaungi, maka Nabi bertanya, “Ada apa ini?”
mereka menjawab, “Orang ini puasa.” Maka Nabi bersabda,
“Bukan dari kebaikan berpuasa dalam perjalanan.”
Tanya:
404. Apa hukum bepergian pada bulan Ramadhan agar bisa
mendapat keringanan tidak berpuasa?
Jawab:
Haram hukum melakukan rekayasa untuk menggu­
gurkan suatu kewajiban syariat. Tidak berpuasa baginya
adalah diharamkan dan ia wajib bertaubat kepada Allah,
kembali dari perjalanannya dan berpuasa. Apabila ia tidak
kembali, maka ia wajib berpuasa di perjalanan, sebab
rekayasa untuk menggugurkan suatu kewajiban tidak
menjadikannya gugur sebagaimana rekayasa untuk sesuatu
yang diharamkan tidak menjadikannya mubah.

204 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
405. Apakah ada perbedan hukum puasa antara yang perjalanan­
nya dekat dengan perjalanannya yang jauh?
Jawab:
Masalahnya adalah dilihat dari sejauh mana seorang
menanggung beratnya perjalanan.
Tanya:
406. Orang yang bersama rombongan dalam perjalanan, lalu
ada beberapa orang yang puasa dan ada yang lainnya tidak
berpuasa, apakah ini menimbulkan kesempitan?
Jawab:
Tidak ada kesempitan atas mereka dan merupakan
Sunnah untuk tidak saling menyalahkan satu sama lainnya.
Anas berkata, “Kami pernah bepergian bersama para sahabat
Rasulullah pada bulan Ramadhan. Di antara kami ada yang
puasa dan ada yang tidak puasa. Yang ini tidak menyalahkan
yang itu dan sebaliknya.” (HR. Al-Bukhari)
Tanya:
407. Bagaimana hukum puasa musafir jika puasa tidak
memberatkannya, dimana zaman sekarang telah tersedia
transportasi modern?
Jawab:
Para sahabat Nabi n dalam perjalanan mereka ber­
sama Nabi n ada yang berpuasa dan ada yang tidak

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 205


berpuasa. Tidak ada satupun dari mereka yang menyalahkan
lainnya. Orang yang melihat pada alat trasnportasi modern
ada kenyamanan, maka yang lainnya akan melihatnya
melelahkan.
Tanya:
408. Sebagian orang pergi untuk ibadah umrah dengan berpuasa
dan ini memberatkan dirinya dalam melakasanakan umrah,
bagaimana hukumnya?
Jawab:
Yang afdhal bagi musafir adalah bepuasa jika itu tidak
memberatkannya. Maka yang afdhal baginya adalah tidak
berpuasa agar bisa melaksanakan ibadah umrah dengan
mudah.
Tanya:
409. Apakah yang afdhal bagi musafir yang puasa, membatalkan
puasanya dan melaksanakan umrah mulai begitu sampai?
Ataukah yang afdhal mempertahankan puasanya dan tidak
melaksanakan umrah kecuali pada malam hari?
Jawab:
Yang Afdhal adalah membatalkan puasanya dan
mengerjakan umrah pada siang hari, karena Nabi n apabila
pergi umrah segera mengerjakannya. Bahkan sampai-
sampai Nabi n apabila umrah tidak mengistirahatkan
untanya kecuali di depan pintu masjid untuk segera

206 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


melaksanakan umrah.
Tanya:
410. Apakah kafarat musafir yang berpuasa lalu ia berhubungan
suami isteri pada siang hari Ramadhan?
Jawab:
Ia wajib mengqadha hari itu saja.
Tanya:
411. Orang yang berniat puasa dalam tempat tinggalnya, lalu ia
bepergian karena ada keperluan darurat, apakah boleh ia
membatalkan puasa?
Jawab:
Ia boleh membatalkan puasa, sebab ia beralih dalam
kondisi perjalanan dan ada sebab yang membolehkannya.
Tanya:
412. Apakah boleh tidak puasa dalam perjalanan yang Mubah
seperti rekreasi?
Jawab:
Ya, boleh tidak berpuasa.
Tanya:
413. Orang musafir yang naik pesawat, apakah ia berbuka ketika
melihat matahari telah terbenam ataukah ia berbuka sesuai
dengan waktu penduduk di bawahnya?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 207


Jawab:
Ia berbuka ketika matahari telah terbenam, sesuai dengan
sabda Nabi, “Apabila malam datang dari sini dan matahari
terbenam, maka orang berpuasa harus berbuka.” (HR. Al-
Bukhari dan Muslim)
Tanya:
414. Seandainya langit dalam kodisi mendung dan orang yang
berpuasa salah berbuka padahal matahari belum terbenam,
apa yang harus dikerjakannya?
Jawab:
Seharusnya ia bertanya lebih dahulu, seandainya setelah
itu ia salah maka tidak apa-apa, karena Rasulullah n
pada suatu hari berbuka puasa bersama para sahabatnya
di Madinah dalam cuaca mendung, lalu matahari muncul
setelah mereka berbuka dan Rasulullah tidak memerintah­
kan mereka mengqadha.” (HR. Al-Bukhari)
Tanya:
415. Pada bulan Ramadhan ada beberapa penerbangan yang
pesawatnya berangkat pada saat adzan Maghrib, maka orang
yang berpuasa berbuka ketika masih di atas bumi. Setelah
terbang dari ketinggian bumi, terlihat bola matahari tampak
terang, apakah ia harus menahan puasanya atau meneruskan
berbukanya?

208 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ia harus meneruskan berbukanya dan tidak menahan
puasanya lagi, sebab ia telah berbuka sesuai dengan dalil
Syar’i, seperti firman Allah,
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (Al-
Baqarah :187)
Dan sabda Nabi, “Apabila telah tiba malam hari dari sini,
Nabi menunjuk ke arah timur. Dan siang hari pergi dari sini,
Nabi menunjuk ke arah barat, dan matahari telah terbenam,
maka orang berpuasa boleh berbuka.”
Tanya:
416. Apabila seorang berpindah-pindah dalam perjalanannya
lebih dari satu negeri, apakah keringanan tidak puasa bagi
musafir terus berlanjut padanya?

Jawab:
Ya, sebab ia tidak terputus dari kondisi perjalanannya,
maka ia boleh tidak puasa Ramadhan meskipun hari-hari
yang tersisa ia berada di luar negerinya.
Tanya:
417. Apabila seorang musafir sampai ke negerinya dalam kondisi
tidak puasa, apakah ia harus menahan puasa?

Jawab:
Ia tidak wajib menahan puasa, boleh baginya makan dan

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 209


minum pada sisa waktunya, sebab tidak ada artinya ia tetap
berpuasa karena ia telah wajib mengqadha hari tersebut.
Akan tetapi, sebaiknya ia tidak makan dan minum secara
terang-terangan.
Tanya:
418. Jika telah diumumkan terlihatnya bulan sabit hari Raya di
suatu negeri, lalu seorang pergi pada malam itu ke negeri lain
sekitar pukul 02.00 malam dan ia tahu bahwa di negeri itu
mereka belum melihat Hilal bulan Syawal, sehingga mereka
masih dalam waktu puasa, apakah ia berpuasa bersama
mereka?
Jawab:
Ia harus berpuasa bersama mereka, karena itu adalah
waktu berpuasa di negeri baru tersebut meskipun puasanya
akan bertambah lebih dari sebulan. Dan tambahannya
adalah mengikuti. Seperti kalau ia puasa di negerinya sampai
menjelang maghrib, lalu pesawat terbang berangkat menuju
ke Amerika dan ia melihat matahari lebih dari sehari,
maka orang tersebut tidak boleh berbuka sampai matahari
terbenam. Dan itu adalah keluarnya bulan meskipun
ia puasa 30 hari, lalu ia bepergian ke suatu negeri dan
mendapati bulan Syawal belum masuk, maka ia berpuasa
bersama mereka. Puasanya ini adalah untuk mengikuti,
seperti yang disabdakan Nabi, “Puasa adalah hari dimana

210 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


mereka puasa, Idul Fitri adalah hari dimana mereka berbuka,
dan Idul Adha adalah hari dimana mereka berkorban.”
Tanya:
419. Apabila seorang muslim mulai berpuasa di negerinya, lalu
ia pergi ke negeri lain di Asia Timur pada bulan Ramadhan,
dimana bulan Hijriah lebih terlambat satu hari di sana,
apakah ia berpuasa 31 hari? Apabila ia puasa 29 hari apakah
ia berbuka atau tidak?
Jawab:
Apabila seorang bepergian dari satu negeri dalam
keadaan puasa pada awal bulan ke negeri yang waktu
berbuka di sana agak terlambat, maka ia harus terus tidak
berbuka sampai mereka berbuka. Seperti halnya ia pergi
pada harinya ke suatu negeri yang terlambat waktu terbenam
mataharinya, maka ia harus terus berpuasa sampai matahari
terbenam meskipun sampai 20 jam, kecuali jika ia tidak
berpuasa karena perjalanan, maka boleh baginya karena
dalam kondisi perjalanan. Wallau A’lam
Tanya:
420. Apakah kondisi-kondisi yang bisa dijadikan contoh untuk
perbedaan rukyatul Hilal atau melihat Hilal dengan hisab
atau perhitungan bulan Ramadhan?
Jawab:
Contoh pertama, jika ia bepergian dari negeri yang

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 211


penduduknya berpuasa pada hari Ahad ke negeri yang
penduduknya berpuasa pada hari Sabtu dan mereka
berbuka pada hari Ahad dalam 29 hari, maka ia harus
berbuka bersama mereka dan ia harus mengqadha satu
hari. Dalil kewajiban berbukanya adalah ia telah melihat
Hilal. Dan Nabi bersabda, “Apabila kalian melihatnya, maka
berbukalah.” Dan dalil kewajiban mengqadha adalah sabda
Nabi, “Sesungguhnya sebulan hanya 29 hari.” Dan tidak
mungkin sebulan kurang dari 29 hari.
Contoh kedua, jika ia bepergian dari satu negeri yang
penduduknya berpuasa pada hari Ahad ke negeri yang
penduduknya berpuasa pada hari Senin dan mereka berbuka
pada hari Rabu dalam 30 hari, maka ia tetap berpuasa bersama
mereka meskipun bertambah lebih dari 30 hari, sebab ia
berada di tempat yang tidak melihat Hilal di sana, sehingga
tidak boleh baginya berbuka. Seperti ini seandainya ia pergi
dalam keadaan puasa dari negeri yang matahari terbenam
jam 6 ke negeri yang matahari terbenam jam 7, maka ia tidak
berbuka sampai matahari terbenam jam 07, sesuai dengan
firman Allah, “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai
malam hari.”
Dalil wajibnya ia tetap berpuasa lebih dari 30 hari adalah
sabda Nabi, “Apabila kalian melihat Hilal, maka berbukalah.”
Nabi n menggantungkan berbuka dengan melihat Hilal,
dan saat itu tidak ada bulan sabit yang terlihat, maka hari

212 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


itu adalah masih Ramadhan di tempat itu sehingga tidak
boleh berbuka.
Contoh ketiga, Jika ia bepergian dari negeri yang
penduduknya berpuasa pada hari Ahad ke negeri yang
penduduknya berpuasa pada hari Senin, dan mereka
berbuka pada hari selasa dalam 29 hari, maka ia berbuka
bersama mereka dan puasa mereka adalah 29 hari dan
puasanya adalah 30 hari.
Contoh keempat, jika ia bepergian dari negeri yang
penduduknya berpuasa pada hari Ahad dan mereka berbuka
pada hari Selasa dalam 30 hari ke negeri yang penduduknya
berpuasa pada hari Ahad dan mereka berbuka pada hari Seni
dalam 29 hari, maka ia berbuka bersama mereka dan tidak
wajib mengqadha sehari, sebab ia telah menyempurnakan
29 hari.
Tanya:
421. Apa yang harus dilakukan seorang muslim yang bepergian
dari Kuwait ke Pakistan dan singgah di sana, sementara
orang-orang Pakistan belum melihat Hilal dan penduduk
Kuwait telah terbukti melihat Hilal bulan Syawal?
Jawab:
Dalam kondisi ini ia tetap berpuasa sebab ia berada
di tempat yang tidak terlihat Hilal dan Nabi bersabda,
“Berpuasalah kalian karena melihat Hilal dan berbukalah
kalian karena melihat Hilal.” Seandainya ia kembali pada

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 213


hari yang sama, maka ia harus berbuka. Sebaliknya jika kita
bepergian ke Barat dan kita singgah di suatu negeri yang
penduduknya telah melihat Hilal Ramadhan dan belum
terlihat di Kuwait, maka kita ikut berpuasa, sebab kita berada
di tempat dimana Hilal sudah terlihat. Allah telah berfirman,
“Barangsiapa di antara kalian melihat Hilal bulan maka
hendaklah ia berpuasa.” (Al-Baqarah: 185)
Yang dijadikan patokan adalah tempat kalian berada,
apabila telah terlihat Hilal maka ikutilah dalam berbuka
dan berpuasa.
Tanya:
422. Apakah yang harus dilakukan seorang muslim di negara non
muslim?
Jawab:
Di negara-negara kafir, jika ia dilihat oleh orang muslim,
maka ia berpuasa bersama mereka. Dan pada hakikatnya ia
musafir dan boleh berbuka. Dan hendaklah diketahui bahwa
apabila Hilal terlihat di Kuwait misalnya, maka pasti akan
terlihat di Amerika, sebab negeri-negeri Timur melihat
bulan sebelum negeri-negeri Barat. Sebaliknya jika seorang
berada di Pakistan atau Jepang atau semisalnya.
Tanya:
423. Apakah ada sesuatu yang wajib atas orang berpuasa apabila
sebab berpindahnya dari negeri ke negeri lain bilangan puasa
Ramadhannya menjadi 28 hari?

214 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ia wajib menambahi satu hari saja sebagai penyempurnaan
satu bulan Ramadhan.
Tanya:
424. Apakah yang afdhal bagi orang muslim berbuka pada waktu
perjalanan agar terhindar dari permasalahan-permasalahan
seperti di atas?
Jawab:
Ya, karena ia adalah musafir maka ia boleh berbuka.
Tanya:
425. Bagiamana puasa orang yang bepergian terus menerus seperti
orang-orang yang bekerja di pengiriman kontainer?
Jawab:
Sopir angkutan kontainer selagi dalam perjalanan, boleh
menggunakan semua Rukhshah atau keringanan mulai dari
mengqashar shalat dan menjamaknya, berbuka puasa pada
waktu Ramadhan dan hukum-hukum lainnya.
Tanya:
426. Apakah hukum Rukhshah berlanjut selama perjalanan
mereka?
Jawab:
Selagi mereka mempunyai tempat dan keluarga untuk
menginap, maka ketika ia meninggalkan tempat ini dan
mereka, dianggap sebagai musafir. Dengan demikian, ia

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 215


boleh melakukan apa yang dilakukan para musafir. Allah
telah menyebutkan secara mutlak dalam firman-Nya, “Atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari
yang lain.” (Al-Baqarah: 185) Allah tidak membatasinya
dengan sesuatupun, apa yang dimutlakkan Allah dan Rasul-
Nya, maka wajib diamalkan secara mutlak.[]

216 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kedua Puluh Dua:
Shalat Tarawih

Tanya:
427. Apakah yang dimaksud shalat Tarawih?
Jawab:
Maksud dari shalat Tarawih adalah menghidupkan
malam Ramadhan dengan shalat.
Tanya:
428. Apa sebab dinamakan shalat Tarawih?
Jawab:
Dinamakan Tarawih karena orang-orang sebelumnya
memperpanjangnya, setiap shalat empat rakaat mereka
beristirahat sebentar, kemudian memulai shalat lagi.
Tanya:
429. Apa hukum shalat Tarawih?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 217


Jawab:
Hukumnya adalah sunnah dan telah disunnahkan oleh
Rasulullah.
Tanya:
430. Apakah pahala shalat Tarawih pada bulan Ramadhan?
Jawab:
Nabi n bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat pada
malam Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala
Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-
Bukhari)
Tanya:
431. Apakah dosa yang diampuni dalam hadits di atas mencakup
semua dosa?
Jawab:
Dari redaksi hadits tersebut mengandung arti umum,
akan tetapi para ulama mengatakan bahwa dosa-dosa besar
harus disertai taubat.
Tanya:
432. Apakah syarat mendapatkan pahala dalam hadits di atas
harus shalatnya berjamaah?
Jawab:
Barangsiapa yang shalat Tarawih bersama imam atau
sendirian, maka sudah dihitung sebagai orang yang shalat
malam Ramadhan.

218 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
433. Apakah ada perbedaan antara shalat Qiyamullail, shalat
Tarawih dan shalat tahajjud?
Jawab:
Tidak ada bedanya kecuali dari segi namanya.
Tanya:
434. Kapan dimulainya shalat Tarawih?
Jawab:
Dimulai setelah shalat Isya dan sampai dekat waktu adzan
Shubuh.
Tanya:
435. Apakah Nabi shalat Tarawih berjamaah?
Jawab:
Ya, Nabi shalat Tarawih berjamaah selama tiga malam,
lalu Nabi mengulur-ulur dan bersabda, “Sesungguhnya
aku takut akan diwajibkan atas kalian.” (HR. Al-Bukhari)
Sebaiknya seorang tidak menyepelekan shalat Tarawih
agar mendapatkan pahala orang yang melakukan qiyam
Ramadhan yaitu diampuni dosanya yang telah lalu.
Tanya:
436. Pada masa siapa orang-orang Islam berkumpul untuk shalat
Tarawih?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 219


Jawab:
Pada masa Umar a dan imam shalat Tarawihnya adalah
Ubay bin Ka’ab a.
Tanya:
437. Bagaimana shalat Nabi pada malam Ramadhan?
Jawab:
Aisyah d berkata, “Nabi n shalat empat rakaat, maka
jangan kamu bertanya tentang baik dan panjangnya, lalu
Nabi n shalat empat rakaat, maka jangan kamu bertanya
tentang baik dan panjangnya, lalu Nabi n shalat tiga rakaat.”
(HR. Al-Bukhari)
Tanya:
438. Apakah harus mengerjakan shalat Tarawih secara sempurna
bersama imam?
Jawab:
Ya, sebab Nabi n bersabda, “Barangsiapa shalat bersama
imam sampai selesai, maka dicatat baginya shalat semalam.”
(HR. At-Tirmidzi)
Tanya:
439. Apa hukum keluarnya para wanita ke masjid-masjid untuk
shalat Tarawih?
Jawab:
Tidak apa-apa dalam hal ini. Dari Abu Hurairah a
bahwa Rasulullah n bersabda, “Janganlah kalian melarang

220 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


wanita-wanita dari masjid-masjid Allah.” Akan tetapi
hendaklah mereka keluar dan mereka tidak memakai
minyak wangi.
Tanya:
440. Apakah nasihat yang disampaikan kepada para wanita ketika
pergi ke masjid?
Jawab:
Wanita harus menggunakan pakaian Syar’i yang
menutupi, tidak memakai minyak wangi jika wanita berada
di tempat shalat yang sama dengan kaum lelaki.
Tanya:
441. Apa hukum tergesa-gesa dalam mengerjakan shalat Tarawih
seperti yang dilakukan sebagian imam?
Jawab:
Ini adalah salah. Tergesa-gesa dalam mengerjakan
shalat sehingga jamaahnya tidak bisa Thuma`ninah dan
menyebabkan keberatan bagi orang-orang tua, orang lemah,
orang sakit dan semisalnya adalah tidak disenangi dan jauh
dari ketenangan dan tadabur.
Tanya:
442. Apakah yang dianjurkan dalam shalat Tarawih memper­
panjang atau memperingan?
Jawab:
Hukum asli dalam hal itu adalah memperpanjang. Nabi

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 221


n bersama para sahabatnya melakukan melakukan Qiyamul
Lail hingga sepertiga malam. Pada malam kedua mereka
shalat hingga separuh malam. Pada malam ketiga mereka
shalat hingga khawatir waktu sahur. (HR. Ahmad dan para
pemiliki As-Sunan)
Tanya:
443. Nabi memerintahkan Mu’adz untuk meringankan shalatnya,
bagaimana kita memperpanjang shalat Tarawih kepada
orang-orang?
Jawab:
Nabi melarang Mu’adz memanjangkan shalat bukan pada
shalat sunnah yang mana orang boleh meninggalkannya atau
keluar darinya. Nabi hanya melarangnya pada shalat wajib
yang tidak boleh ditinggalkan atau keluar darinya kecuali
ada udzur Syar’i, yang mana mereka diwajibkan melakukan
dengan sedang-sedang saja dan menyempurnakannya.
Tanya:
444. Apakah seorang boleh memperpanjang untuk dirinya shalat
malam?
Jawab:
Ya, Nabi pernah memanjangkan shalat malam sebagai­
mana dalam riwayat Ibnu Mas’ud a ketika ia shalat
bersama Nabi n, maka Nabi memperpanjang shalat sampai
ia ingin duduk dan meninggalkan Nabi. (HR. Al-Bukhari)

222 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


hal itu seperti yang terdapat dalam hadits Hudzaifah
a ketika shalat bersama Nabi pada suatu malam. Nabi
membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa`, Ali Imran. Apabila
Nabi melewati bacaan ayat yang ada tasbihnya maka Nabi
berstasbih, ketika melewati ayat yang ada permohonan
Nabi memohon, ketika melewati ayat yang ada minta
perlindungan Nabi memohon perlindungan.(HR. Muslim)
Tanya:
445. Apakah menambahi lebih dari apa yang dilakukan Nabi
dalam shalat malam termasuk menyalahi Nabi?
Jawab:
Tidak, sebab Nabi menjelaskan kepada kita bahwa shalat
malam adalah dua rakat dua rakaat. Nabi n melakukan
Qiyamullail 9 rakaat dan 11 rakaat. Dalam hal ini ada
kelapangan.
Tanya:
446. Manakah yang afdhal shalat 21 rakaat atau hanya 11 rakaat.
Jawab:
Sedikit yang sesuai dengan As-Sunnah adalah lebih
baik daripada yang banyak baik dalam kuantitas maupun
kualitas. Sebagaimana diketahui 11 rakaat shalat Tarawih
adalah sesuai dengan As-Sunnah, maka ini adalah lebih
baik apalagi banyak mereka yang shalat Tarawih 23 rakaat
mengerjakannya dengan cepat hampir menghilangkan

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 223


Thuma`ninah yang merupakan rukun shalat. Namun apabila
rakaatnya banyak dan sesuai dengan As-Sunnah, maka yang
banyak ini lebih baik.
Tanya:
447. Apabila seorang shalat di belakang imam yang menambah
lebih dari 11 rakaat, apakah harus mengikuti imam atau
berpisah setelah 11 rakaat.

Jawab:
Sesuai dengan As-Sunnah, ia harus mengikuti imam, sebab
jika ia berpisah dari imam sebelum imam menyempurnakan,
maka ia tidak mendapatkan pahala Qiyamullail satu malam.
Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa shalat bersama imam
sampai ia selesai, maka dicatat mendapat bagian pahala
shalat semalam penuh.”
Tanya:
448. Apakah para sahabat mengikuti imam apabila imam
menambah dalam shalat Tarawih?

Jawab:
Ya, para sahabat mengikuti imam mereka dalam hal
tambahan atas yang disyariatkan dalam shalat perjalanan,
yaitu bersama Amirul Mukminin Utsman bin Affan
ketika menyempurnakan shalat di Mina pada musim
haji, artinya ia mengerjakan shalat empat rakaat, padahal

224 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Nabi, Abu Bakar, Umar, dan para sahabat mengingkari
perbuatannya, meskipun demikian mereka mengikuti dan
shalat bersamanya empat rakaat.
Tanya:
449. Sebagian jamaah di masjid tidak mengikuti imam sampai
akhir Tarawih dengan alasan melebihi 11 rakaat, apa hukum­
nya perbuatan seperti ini?
Jawab:
Para sahabat Nabi bersemangat dalam mengikuti imam,
perbuatan Nabi n dalam shalat adalah bisa diambil darinya
hukum kesunnahannya, pemahaman para sahabat dan
bagaimana interaksi mereka bersama masalah-masalah ini
menunjukkan dibolehkannya menambahi dan tetap shalat
bersama imam.
Tanya:
450. Sebagian jamaah ada yang bersikap keras dalam mendebat
imam yang menambahi rakaat shalat Tarawih, bagaimana
cara menasihatinya?
Jawab:
Tidak seharusnya perbuatan seperti ini keluar dari
perkara-perkara yang memungkinkan untuk dikerjakan
dan tidak menyalahi kewajiban. Bahkan seharusnya berlaku
sopan dalam perkataan dan dialog bersama imam masjid.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 225


Tanya:
451. Apakah kita dibolehkan shalat Isya bersama imam yang shalat
Tarawih?
Jawab:
Ya, para ulama membolehkan hal ini. Asal muasalnya
adalah dari penduduk Makkah pada tahun penaklukan
Makkah, dimana mereka shalat di belakang Nabi, lalu
mereka menyempurnakan shalat setelah salamnya Nabi.
Tanya:
452. Berapa minimal bilangan rakaat yang dilakukan seorang
dalam shalat malam?
Jawab:
Satu rakaat seperti yang dilakukan Amirul Mukminin
Muawiyah a. Ibnu Abbas a ditanya, “Bagaimana tentang
Amirul Mukninin Muawiyah, sesungguhnya ia tidak shalat
Witir melainkan satu rakaat.” Ia menjawab, “Ia benar,
sesungguhnya ia adalah seorang faqih.” (HR. Al-Bukhari)
Tanya:
453. Apa hukum shalat Witir?
Jawab:
Hukum shalat Witir adalah sunnah muakkaddah dan
Nabi selalu mengerjakannya.
Tanya:
454. Bagaimana cara mengerjakan shalat Witir tiga rakaat?

226 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Cara pertama, shalat dua rakaat lalu salam dan dilanjut­
kan satu rakaat yang ketiga. Cara kedua shalat tiga rakaat
sekaligus dengan satu tasyahud dan satu salam.
Tanya:
455. Apa hukum orang yang shalat Witir lalu menggenapkan
rakaat di belakang imam?
Jawab:
Tidak apa-apa. Orang seperti ini terkadang ingin shalat
bersama imam dan senang mengikutinya sampai akhir.
Kemudian ingin menutup dengan rakaat ganjil di akhir
malam. Maka dari itu, apabila imam salam, maka ia tidak
ikut salam bersamanya lalu berdiri menambahi satu rakaat
lagi untuk menggenapkan shalatnya bersama imam.7
Tanya:
456. Seorang yang shalat Witir bersama imamnya lalu setelah itu
ingin shalat Qiyamullail di rumahnya sebelum fajar, apakah
dibolehkan shalat lagi?
Jawab:
Ya, boleh tapi tidak usah shalat Witir yang kedua kalinya.
Tanya:
457. Kapan doa Qunut dibaca pada shalat Witir?

7 Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, 2/164.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 227


Jawab:
Boleh dibaca sebelum ruku dan tidak apa-apa kalau
dibaca setelah ruku.
Tanya:
458. Apa yang diajarkan Nabi kepada para sahabat dalam doa
Witir?
Jawab:
Di antaranya yang diajarkan Nabi kepada Al-Hasan. Al-
Hasan berkata, “Rasulullah mengajariku kalimat-kalimat yang
aku baca dalam Qunut shalat Witir. “Ya Allah, tunjukkanlah
aku ke dalam orang yang Engkau tunjukkan, selamatkan aku
bersama orang yang Engkau selamatkan, lindungi aku bersama
orang-orang yang yang Engkau lindungi, berkahilah aku dalam
apa yang Engkau karuniakan kepadaku, jagalah aku dari
buruknya apa yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau
mentakdirkan dan Engkau tidak ditakdirkan. Sesungguhnya
tidak terhina orang yang Engkau lindungi, Mahasuci Engkau
Tuhan kami dan Mahatinggi Engkau.” (HR. An-Nasai)
Tanya:
459. Apakah harus menggunakan bacaan doa di atas?
Jawab:
Tidak disyaratkan seperti itu, orang shalat Witir boleh
menggunakan doa sebisanya sesuai dengan yang dibukakan
Allah.

228 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
460. Apakah dibolehkan memperpanjang doa Qunut?
Jawab:
Tidak termasuk petunjuk Nabi memperpanjang doa
Qunut.
Tanya:
461. Apa hukum melagukan doa dalam Witir dan lainnya?
Jawab:
Tidak ada atsar shahih atau dhaif bahwa orang-orang
salaf melagukan doa, bahkan tidak bisa dibayangkan
seorang muslim berdoa memohon kepada Tuhannya sambil
melagukannya.
Tanya:
462. Bagaimana hukum tangisan orang shalat karena bacaan doa,
bukan bacaan shalat?
Allah berfirman,
“Maka apakah mereka tidak mentadaburi Al-Qur`an atau
pada hati mereka ada penutup-penutupnya?” (Muhammad:
24)
Jawab:
Siapa yang tidak terpengaruh dengan Al-Qur`an, maka
hendaklah ia mengevaluasi dirinya, bagaimana ia terpengaruh
dengan doa dan menangis ketika mendengar­nya sementara
ia tidak tergetar oleh kalam Allah.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 229


Tanya:
463. Sebagian wanita dalam shalat Tarawih menutupi wajah­nya
meskipun sudah ada penutup dari kaum lelaki, bagaimana
hukumnya?
Jawab:
Mereka harus membuka wajahnya agar bisa menempel
dengan tanah pada saat sujud.
Tanya:
464. Sebagian orang berpindah-pindah dari masjid ke masjid
untuk bisa shalat di setiap masjid beberapa rakaat, apakah
dalam hal ini ada permasalahan?
Jawab:
Seharusnya ini tidak terjadi sebab ini membuang-buang
waktu. Yang utama baginya adalah menggunakan waktunya
untuk ketaatan dan jangan sampai ketinggalan pahala
sebagaimana disabdakan Nabi, “Barangsiapa shalat bersama
imam sampai selesai maka dicatat baginya pahala shalat
semalam penuh.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai) dan
dengan Berpindah-pindah masjid berarti ia telah terhalangi
dari pahala yang besar.
Tanya:
465. Sebagian jamaah ada yang memegang mushaf pada bulan
Ramadhan untuk menyimak bacaan imam dalam shalat
Tarawih, bagaimana hukumnya?

230 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Seharusnya ini tidak terjadi sebab akan mengganngu
pikiran dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperlukan
serta kehilangan sunnah meletakkan tangan kanan pada
tangan kiri di atas dada. Meninggalkan hal seperti itu adalah
lebih afdhal.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 231


Pembahasan Kedua Puluh Tiga:
Malam Sepuluh Terakhir
Dan Lailatul Qadar

Tanya:
466. Kapan dimulainya awal sepuluh malam?
Jawab:
Permulaan sepuluh malam dari terbenamnya matahari
tanggal 20 dan dengan masuknya malam ke 21.
Tanya:
467. Apa keutamaan malam-malam ini?
Jawab:
Sepuluh malam ini merupakan malam waktu paling
afdhal di bulan Ramadhan dimana Allah mengkhusus­
kannya dengan malam Lailatul Qadar. Maka dari itu,
Rasulullah mengkhususkannya dengan I’tikaf demi mencari
malam tersebut. Yaitu malam yang difirmankan Allah,

232 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


“Malam lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.”
(Al-Qadr: 3)
Tanya:
468. Apakah ada tambahan ibadah pada sepuluh terakhir
Ramadhan?
Jawab:
Ya, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Aisyah RA,
“Apabila sepuluh terakhir Ramadhan datang, Rasulullah
n mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya
dan membangunkan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim) “Mengencangkan sarungnya” maksudnya bersiap-
siap untuk beribadah, meninggalkan isteri-isterinya dan
melipat kasurnya. Dari Aisyah d, ia berkata, “Rasulullah
bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir tidak seperti
hari-hari biasanya.” (HR. Muslim)
Tanya:
469. Apakah bisa dipahami dari perkataan Aisyah bahwa Nabi
n melakukan shalat malam semalam penuh?
Jawab:
Perkataan Aisyah, “Menghidupkan malamnya” maksud­
nya Nabi tidak tidur pada sepuluh malam terakhir. Dan ini
khusus untuk sepuluh malam ini.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 233


Tanya:
470. Apakah makna Qadar?
Jawab:
Ada yang mengatakan maknanya adalah kemuliaan,
kedudukan dan punya kehormatan. Atau maknanya adalah
apa yang ditakdirkan di dalamnya dari ilmu Allah tentang
kondisi para hamba dan makhluk untuk takdir setahun.
Tanya:
471. Apa dalilnya bahwa Lailatul Qadar adalah berada pada salah
satu dari sepuluh malam terakahir?
Jawab:
Lailatul Qadar tidak diragukan lagi adalah pada bulan
Ramadhan, di mana Nabi beri’tikaf pada sepuluh awal
Ramadhan mencari Lailatul Qadar, lalu Nabi beri’tikaf
pada sepuluh pertengahan, lalu Rasulullah melihatnya pada
sepuluh terakhir dari Ramadhan, seperti yang disebutkan
Al-Bukhari.
Tanya:
472. Apakah ada ketentuan lain tentang Lailatul Qadar?
Jawab:
Ya, mimpi-mimpi para sahabat Nabi telah bersepakat
bahwa Lailatul Qadar ada pada tujuh terakhir Ramadhan,
Rasulullah besabda, “Aku melihat mimpi-mimpi kalian telah
sepakat pada tujuh terakhir, barangsiapa mencarinya, maka

234 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.” (HR. Al-
Bukhari)
Tanya:
473. Apakah Lailatul Qadar berpindah-pindah di antara malam-
malam sepuluh?
Jawab:
Apabila kita memperhatikan dalil-dalil tentang Lailatul
Qadar, maka akan jelas bagi kita bahwa ia berpindah-pindah
dari satu malam ke malam lainnya, bahwa ia tidak dalam
satu malam tertentu setiap tahunnya. Nabi n diperlihatkan
Lailatul Qadar dalam mimpi dan beliau sujud pagi harinya
di air dan tanah. Malam itu adalah malam ke-23 (HR. Al-
Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan bahwa Lailatul
Qadar tidak terbatas pada satu malam tertentu. Dengan
demikian dalil-dalil bisa bertemu.
Tanya:
474. Kita tahu bahwa ada dalil yang menyebutkan bahwa Lailatul
Qadar ada pada malam ke 27, bagaimana meng­ga­bungkan
dengan dalil di atas?
Jawab:
Ini menunjukkan bahwa malam ini adalah paling
diharapkan di dalamnya ada Lailatul Qadar. Akan tetapi,
ia bukan Lailatul Qadar secara pasti melainkan hanya yang
paling diharapkan.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 235


Tanya:
475. Apakah mungkin Lailatul Qadar ada pada malam-malam
genap dari sepuluh malam terakhir?
Jawab:
Ya, tidak ada pengecualian untuk malam-malam genap
dalam mencari Lailatul Qadar, sebab ia termasuk sepuluh
malam terakhir dan sesuai dengan hadits Nabi, “Siapa yang
mencari-carinya, hendaklah ia mencarinya di tujuh malam
terakhir.” Dalam hal ini baik malam ganjil maupun malam
genap, akan tetapi riwayat tentang malam ganjil lebih kuat.
Tanya:
476. Apa hikmah tidak ditentukannya Lailatul Qadar?
Jawab:
Allah menyembunyikan dari hamba-Nya karena dua
hikmah besar; Pertama, agar jelas orang yang bersungguh-
sungguh mencarinya pada setiap malam barangkali ia akan
menemukannya atau mendapatinya. Seandainya ditentukan
pada malam tertentu saja, maka tidak akan ada manusia
yang bersungguh-sungguh kecuali pada malam itu saja.
Kedua, agar orang-orang bertambah amal shalihnya untuk
mendekatkan diri kepada Allah dan mengambil faidah
darinya.
Tanya:
477. Apakah para malaikat turun pada Lailatul Qadar?

236 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, dalilnya dari firman Allah,
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat
Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”
(Al-Qadr: 4)
Tanya:
478. Apakah ada tanda-tanda alam yang luar biasa terjadi pada
Lailatul Qadar?
Jawab:
Tidak ada nash Syar’i yang menunjukkan terjadinya
kejadian aneh pada alam yang bisa dilihat pada malam
Lailatul Qadar.
Tanya:
479. Apakah ada tanda-tanda yang menunjukkan terjadinya
Lailatul Qadar?
Jawab:
Di antara tanda-tandanya adalah pagi harinya matahari
keluar jernih tidak bersinar (HR. Muslim). Ada tanda-tanda
lain seperti bertambahnya cahaya di malam itu, ketenangan
dan kenyamanan orang mukmin serta kelapangan dadanya.
Tanya:
480. Apakah doa yang diajarkan untuk dibaca pada Lailatul
Qadar?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 237


Jawab:
Di antara yang terbaik kita mohon kepada Allah adalah
ampunan, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan
Aisyah RA, ia berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya aku
berjumpa dengan Lailatul Qadar doa apa yang aku baca?”
Rasulullah menjawab, “Katakanlah, Ya Allah, sesungguhnya
Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka
ampunilah aku.” (HR. At-Tirmidzi)
Tanya:
481. Apakah orang haid atau nifas boleh membaca doa ini?
Jawab:
Ya, mereka boleh membacanya.
Tanya:
482. Sebagian orang menghidupkan malam ke-27 saja dari
Ramadhan untuk shalat dan ibadah, apakah ini benar?
Jawab:
Tidak, ini tidak benar. Lailatul Qadar berpindah-pindah,
terkadang ada pada tanggal 27 dan terkadang ada pada
tanggal selainnya, sebagaimana ditunjukkan hadits-hadits
yang banyak dalam hal ini. Telah datang dari Nabi n bahwa
pada satu tahun Nabi diperlihatkan Lailatul Qadar, ketika
itu pada malam kedua puluh satu. Shalat malam seharusnya
tidak dikhususkan pada satu malam yang diharapkan
menjadi malam Lailatul Qadar tanpa ada kepastiannya.

238 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Maka dari itu, yang benar adalah bersungguh-sungguh pada
sepuluh malam terakhir. Dan ini sesuai dengan petunjuk
Nabi. Yang seharusnya dilakukan seorang mukmin yang
tegas adalah berijtihad pada hari-hari sepuluh pada semua
malam-malamnya sampai ia tidak ketinggalan pahala.
Tanya:
483. Apakah dibolehkan mengkhususkan malam kedua puluh
tujuh untuk melakukan ibadah umrah atau sedekah atau
membagikan makanan?
Jawab:
Dikhawatirkan mengkhususkan seperti ini termasuk
bid’ah.
Tanya:
484. Seandainya Lailatul Qadar ditentukan pada salah seorang
lewat mimpi, apakah ia memberitahukan tentang hal ini?
Jawab:
Orang yang ditentukan baginya Lailatul Qadar seharus­
nya tidak menceritakannya, sebab merahasiakan­nya
mengandung hikmah yang besar. Rasulullah yang didukung
oleh wahyu ingin mengabari mereka Lailatul Qadar ini,
maka dua orang saling berdebat lalu Lailatul Qadar diangkat.
Diangkatnya adalah demi kemaslahatan hamba agar mereka
bersungguh-sungguh pada semua Ramadhan, terutama
pada sepuluh terakhir.

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 239


Tanya:
485. Orang yang menyebarkan lewat telepon genggam tentang
waktu Lailatul Qadar atau lewat gambar, apakah ini perbuatan
yang dianggap baik?
Jawab:
Mereka yang melakukan hal ini dikhawatirkan
berseberangan dengan hikmah dari dirahasiakannya dan
terkadang akan membantu orang-orang yang lemah untuk
bermalas-malasan shalat dan berdoa pada malam-malam
lainnya.
Tanya:
486. Apakah ada doa khusus perpisahan Ramadhan?
Jawab:
Tidak ada doa khusus tentang ini dari Nabi n.

240 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kedua Puluh Empat:
I’tikaf

Tanya:
487. Apa maksud I’tikaf?
Jawab:
I’tikaf adalah menetapnya seseorang di masjid dan
menjauh dari manusia karena taat kepada Allah I dan sibuk
dengan ibadah.
Tanya:
488. Apa hukum I’tikaf?
Jawab:
I’tikaf hukumnya Sunnah sebagaimana dalil yang ada
dalam agama. Ia adalah sunnah yang telah dilakukan
oleh Rasulullah n dalam hidupnya, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Aisyah d bahwa sesungguhnya Rasulullah
n melakukan I’tikaf di sepuluh terakhir di bulan Ramadhan
hingga Rasul wafat, kemudian isteri-isterinya setelahnya pun
turut beri’tikaf. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 241


Tanya:
489. Apa hikmah I’tikaf?
Jawab:
Untuk menjauh dari kesibukan dunia dan ketergan­
tungan dengannya, sehingga hati dapat berkonsentrasi
sepenuhnya dalam bermunajat kepada Allah untuk
berdzikir dan berdoa kepada-Nya.
Tanya:
490. Apakah dapat dikatakan bahwa I’tikaf dapat menyebabkan
ketenangan jiwa?
Jawab:
Ya. Manusia membutuhkan waktu untuk menenangkan
diri dalam hidupnya dan menjauhkan diri dari hiruk-
pikuk dunia dan kesibukannya serta menyendiri bersama
Tuhannya dan Dzat yang menguasai seluruh hidupnya
dengan bermunajat dan dan berdoa.
Tanya:
491. Apakah tempat yang paling utama untuk beri’tikaf?
Jawab:
Tempat paling utama untuk beri’tikaf adalah di salah
satu dari tiga masjid ini, yaitu Masjidil Haram di Makkah,
masjid Nabawi, atau Baitul Maqdis; karena kemuliaannya
dan besarnya pahala melakukan ibadah di sana.

242 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
492. Apakah diperbolehkan melakukan I’tikaf di masjid-masjid
lain?
Jawab:
Ya. I’tikaf dapat dilaksanakan di seluruh masjid. Namun
yang lebih utama apabila dilakukan di masjid Jami’ agar
tidak membutuhkan keluar masjid ketika hendak melakukan
shalat Jum’at.
Tanya:
493. Kapan I’tikaf dimulai?
Jawab:
I’tikaf dimulai setelah fajar, karena sesuai dengan hadits
yang diriwayatkan oleh Ummil Mukminin, Aisyah r. a. yang
mengatakan bahwa ketika Rasulullah n hendak melakukan
I’tikaf, maka Rasul melakukan shalat Fajar, kemudian masuk
ke tempat I’tikafnya.
Tanya:
494. Kapan I’tikaf selesai?
Jawab:
I’tikaf selesai pada waktu matahari terbenam di akhir
hari dari bulan Ramadhan.
Tanya:
495. Apakah I’tikaf mempunyai rukun dan syarat tertentu?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 243


Jawab:
Rukun I’tikaf adalah menetap di masjid untuk melakukan
taat kepada Allah I dan beribadah kepada-Nya. Sedangkan
syarat-syaratnya adalah sebagaimana syarat-syarat ibadah
yang lain, di antaranya adalah Islam, berakal, sah dilakukan
meskipun belum baligh, sah dilakukan bagi lelaki dan
perempuan, sah dilakukan dengan tanpa puasa dan sah
dilakukan di setiap masjid.
Tanya:
496. Apakah batas minimal sehingga dapat disebut I’tikaf?
Jawab:
Batasan agama untuk I’tikaf adalah sepuluh malam.
Namun panjangnya waktu berdiam diri juga disebut I’tikaf
secara bahasa. Melakukan I’tikaf satu malam juga sa disebut
I’tikaf. Suatu ketika sahabat Umar a bernadzar untuk
melakukan I’tikaf selama satu malam, maka Rasulullah
pun mengakuinya dan bersabda, “Penuhilah nadzarmu.”
Hal ini menunjukkan bahwa melakukan I’tikaf selama satu
malam untuk bertaqarrub kepada Allah I dengannya, maka
termasuk kategori I’tikaf.
Tanya:
497. Kapan I’tikaf Rasulullah n selesai?
Jawab:
I’tikaf Rasulullah n selesai ketika matahari terbenam di
malam Id.

244 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
498. Apakah I’tikaf dianjurkan juga di selain bulan Ramadhan?
Jawab:
Pada dasarnya, I’tikaf hanya dilakukan di bulan
Ramadhan saja, karena Rasulullah n tidak beri’tikaf di
selain bulan Ramadhan, kecuali di bulan Syawal ketika Rasul
tidak melakukan I’tikaf sunnah di bulan Ramadhan, maka
Rasul beri’tikaf di bulan Syawal. Namun, andai seseorang
melakukan I’tikaf di selain bulan Ramadhan, maka hal ini
diperbolehkan, karena sahabat Umar RA bertanya kepada
Rasulullah n, “Sesungguhnya aku bernadzar untuk
melakukan I’tikaf satu malam atau satu hari di Masjidil
Haram.” Maka Rasul bersabda, “Penuhilah nadzarmu.” (HR.
Al-Bukhari)
Tanya:
499. Apakah melakukan I’tikaf pada hari-hari tertentu di sepuluh
terakhir bulan Ramadhan termasuk dari petunjuk Nabi?
Jawab:
Tidak dapat dipastikan bahwa hal tersebut merupakan
Sunnah Nabawiyah, karena sesungguhnya tujuan dari I’tikaf
tersebut adalah untuk menemukan Lailatul Qadar dan
waktunya tidak dipastikan di seluruh waktu sepuluh terakhir
bulan Ramadhan. Oleh karena itu ketika melakukan ibadah
pada sepuluh pertengahan di bulan Ramadhan, Rasulullah

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 245


n mengatakan, “Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di
depanmu, maka beri’tikaflah kamu pada sepuluh terakhir
seluruhnya.”
Tanya:
500. Apakah perempuan diperbolehkan melakukan I’tikaf di
rumahnya?
Jawab:
Hal itu tidak diperintahkan dalam agama.
Tanya:
501. Apakah seorang perempuan diperbolehkan melakukan I’tikaf
di masjid dan apa batasannya?
Jawab:
Ya. Hal itu diperbolehkan, apabila dalam hal tersebut
tidak ada larangan agama dan tidak sampai berlebihan
hingga meninggalkan kewajiban dalam rumah tangga.
Tanya:
502. Apakah diperbolehkan melakukan I’tikaf di Mushalla yang
aktif dipergunakan?
Jawab:
Apabila Mushalla tersebut dipergunakan untuk melaku­
kan shalat lima waktu dan tidak digantikan, melainkan
selalu dikhususkan untuk melakukan shalat, maka I’tikaf
di dalamnya adalah boleh, namun apabila tidak demikian,
maka hukumnya tidak boleh.

246 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
503. Apa yang disunnahkan dalam I’tikaf?
Jawab:
Disunnahkan dalam I’tikaf agar seseorang mengguna­kan
waktunya untuk taat kepada Allah I, seperti membaca Al-
Qur’an, berdzikir, berdoa, shalat dan lainnya.
Tanya:
504. Apa yang dimakruhkan dalam I’tikaf?
Jawab:
Makruh hukumnya bagi orang yang beri’tikaf untuk
menyia-nyiakan waktunya dengan sesuatu yang tidak ada
manfaatnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian
orang yang beri’tikaf. Kita menemukan mereka tinggal
di masjid namun di setiap waktu masih didatangi orang-
orang dan mengobrol dengannya. Dia menggunakan waktu
I’tikafnya dengan tanpa manfaat. Sedangkan apabila sekedar
berbicara kepada sebagian orang atau sebagian keluarga,
maka tidak apa-apa, sebagaimana yang disebutkan dalam
Ash-Shahihain mengenai apa yang dilakukan oleh Rasulullah
n ketika Shafiyah d mendatanginya dan berbicara
dengannya sebentar kemudian kembali ke rumahnya.
Tanya:
505. Apa yang dilarang terhadap orang yang I’tikaf?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 247


Jawab:
Orang yang beri’tikaf dilarang keluar dari masjid
dengan tanpa udzur; atau melakukan aktifitas jual beli, atau
menyetubuhi isterinya.
Tanya:
506. Apa yang diperbolehkan untuk dilakukan oleh orang yang
beri’tikaf?
Jawab:
Orang yang beri’tikaf diperbolehkan untuk berbicara
dengan orang lain dengan cara yang ma’ruf, bertanya tentang
keadaannya, keluar dari masjid karena sesuatu yang tidak
dapat ditinggalkannya, seperti keluar dari masjid untuk
mengambil makanan dan minuman apabila tidak ada orang
yang mengambilkan untuknya. Demikian pula keluar dari
masjid karena sesuatu yang diperbolehkan yang diwajibkan
atasnya, seperti keluar dari masjid karena untuk mandi
janabat.
Tanya:
507. Apakah keluarnya seseorang yang beri’tikaf untuk buang
hajat (berak atau kencing) dapat mempengaruhi keabsahan
I’tikaf?
Jawab:
Hal tersebut tidak apa-apa, meskipun kamar kecilnya
jauh dari masjid.

248 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
508. Apakah orang yang beri’tikaf masih dianjurkan untuk
menengok orang sakit atau mengikuti prosesi jenazah?
Jawab:
Disandarkan pada penjelasan dari Ummul Mukminin
Aisyah RA bahwa orang yang beri’tikaf disunnahkan agar
tidak menengok orang yang sakit, tidak mengikuti prosesi
pemakaman jenasah, tidak menyentuh perempuan, tidak
menyetubuhi isterinya, tidak keluar untuk keperluan kecuali
keperluan sangat penting yang tidak dapat ditinggalkannya,
tidak beri’tikaf kecuali dengan berpuasa, dan tidak beri’tikaf
kecuali di masjid Jami’.
Tanya:
509. Apakah orang yang beri’tikaf boleh memberikan syarat untuk
keluar setiap malam untuk melakukan aktifitas tertentu?
Jawab:
Hal ini tidak selayaknya dilakukan, karena hal seperti ini
dapat meniadakan tujuan semula dilakukannya I’tikaf yaitu
beribadah untuk menemukan Lailatul Qadar dan beribadah
sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah n.
Tanya:
510. Apakah dalam I’tikaf disyaratkan agar orang yang beri’tikaf
harus dalam keadaan puasa?

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 249


Jawab:
I’tikaf tidak disyaratkan harus berpuasa. I’tikaf dapat
dilakukan setelah bulan Ramadhan dan pada waktu kapan
pun.
Tanya:
511. Orang yang tidak suka beri’tikaf, apakah sebaiknya melakukan
sesuatu yang lain?
Jawab:
Apabila seorang muslim tidak melakukan I’tikaf,
maka sebaiknya mengurangi untuk bercampur bersama
orang-orang sekuat mungkin di sepuluh terakhir di bulan
Ramadhan, karena bercampur dengan orang-orang dapat
mempengaruhi hati dan pada masa sekarang ini, bercampur
dengan orang-orang mempunyai mudharat yang lebih
besar dibanding dengan manfaat yang didapatnya; kecuali
bersama dengan orang yang diperintahkan oleh Allah
I agar kita bersabar untuk bersamanya. Orang seperti
inilah yang dapat membantu memberikan sesuatu yang
bermanfaat.
Tanya:
512. Orang yang tidak bisa melakukan I’tikaf di bulan Ramadhan
karena ada udzur, maka apakah dia meng­qadha­nya setelah
Ramadhan?

250 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya. Dia dapat melakukan hal itu. Inilah yang dilakukan
oleh Rasulullah n, beliau melakukan I’tikaf pada bulan
Syawal.[]

Bab Pertama: Hukum-hukum Tentang Puasa 251


252 606 Tanya Jawab Seputar Puasa
Bab Kedua
Hukum-Hukum Shalat
Id Dan Tata Cara Umum
Pembahasan Pertama:
Hukum-hukum Id

Tanya:
513. Dengan apa masuknya bulan Syawal ditentukan?
Jawab:
Bulan Syawal ditentukan dengan menyempurnakan
bilangan bulan Ramadhan atau dengan melihat (ru’yat) Hilal
bulan Syawal.
Tanya:
514. Apa yang dilakukan oleh orang yang melihat Hilal bulan
Syawal, namun pendapatnya tidak digunakan?
Jawab:
Dia wajib berbuka puasa, namun tidak menampak­kannya
kepada masyarakat agar tidak menunjukkan perselisihan
yang mencolok terhadap masyarakat atau agar tidak
disangka buruk karena perbuatan tersebut.

254 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
515. Apakah kita melakukan shalat Tarawih pada malam Id?
Jawab:
Tidak. Shalat Tarawih tidak dilakukan pada malam Id.
Tanya:
516. Apakah seorang muslim membaca doa ketika melihat Hilal?

Jawab:
Ya, dan doa ini dibaca ketika melihat tiap-tiap Hilal.
Tanya:
517. Apa hukum shalat Id?

Jawab:
Tentang hukum shalat Id, terdapat tiga macam pendapat
ulama:
Ada yang mengatakan hukum shalat Id adalah sunnah.
Ada yang mengatakan bahwa shalat Id hukumnya fardhu
kifayah, karena ia termasuk ajaran agama yang zhahir.
Oleh karena itu, shalat Id dilakukan dengan berjamaah dan
dilakukan di tanah lapang. Perintah agama yang bersifat
zhahir merupakan fardhu kifayah seperti adzan. Di antara
para ulama ada yang berpendapat bahwa hukum shalat
Id adalah fardhu Ain, karena Rasulullah n memberikan
perintah untuk menghadiri shalat Id bahkan terhadap
perempuan yang sedang haid dan sedang dipingit agar

Bab Kedua: Hukum-hukum Shalar Id dan... 255


keluar untuk menuju ke tempat shalat Id. Pendapat ketiga
yang terakhir ini merupakan pendapat yang dipilih oleh
Ibnu Taimiyah.

Tanya:
518. Berapa jumlah hari Raya bagi kaum muslimin?

Jawab:
Hari raya bagi kaum muslimin hanya dua; yaitu Idul
Fitri dan Idul Adha. Inilah hari Raya yang dilakukan oleh
Rasulullah n.
Tanya:
519. Apakah hari Raya ini merupakan pengganti hari-hari Raya
pada zaman Jahiliyah?
Jawab:
Ya. Hari Raya ini sebagai pengganti dari hari Raya An-
Niruz dan Al-Mahrajan.
Tanya:
520. Apakah diperbolehkan menyebut hari-hari lain sebagai hari
Raya Id?
Jawab:
Dikhawatirkan sikap seperti ini dapat memicu bid’ah dan
mengecilkan kemuliaan Id yang dianjurkan agama, seperti
perkataan orang-orang dengan menyebut Id Al-Ilmi (hari
Raya ilmu), Id Al-Um (hari Ibu) dan lain sebagainya.

256 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
521. Bagaimana kita dapat mewujudkan kegembiraan sebagaimana
yang diajarkan oleh agama dengan hari Raya Id?
Jawab:
Dengan berkumpul, dimulai dengan melakukan shalat
Id, kemudian memberikan ucapan selamat kepada orang
lain, memberikan kegembiraan kepada anak-anak dengan
menyenangkannya dan memberikan sesuatu yang lebih,
serta berkumpul dengan keluarga untuk bersilaturrahim;
dengan tetap berhati-hati dari melakukan sesuatu yang
dapat membuat murka Allah I dalam perbuatan, perkataan
bahkan pakaian dan lain sebagainya.
Tanya:
522. Apakah tata cara agama yang berhubungan dengan seorang
muslim ketika hendak melakukan shalat Id?
Jawab:
Di antara tata cara agama mengenai hal ini adalah; makan
kurma sebelum keluar untuk melakukan shalat Id, menghias
diri dengan mandi dan baju yang bagus, membaca takbir
ketika berangkat ke tempat shalat dan mendorong orang-
orang agar membaca takbir.
Tanya:
523. Apa yang harus dilakukan oleh seorang perempuan berkenaan
dengan aturan ketika hendak berangkat melakukan shalat Id?

Bab Kedua: Hukum-hukum Shalar Id dan... 257


Jawab:
Ketika hendak melakukan shalat Id, mereka harus
menjauh dari tempat shalat lelaki, dan tidak keluar dengan
berhias dan memakai wangi-wangian yang berlebihan
serta menutup aurat. Oleh karena itu ketika Rasulullah
n memberikan perintah kepada para perempuan untuk
berangkat menuju ke tempat shalat Id, maka mereka
bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, salah satu dari kami
tidak mempunyai jilbab!?” maka Rasul berkata, “Hendaknya
saudarinya memberikan jilbabnya untuk dipergunakan
olehnya.” (HR. Muslim) Jilbab adalah pakaian yang serupa
dengan Al-Iba’ah (sejenis daster atau mantel yang terbuka
depannya). Hal ini menunjukkan bahwa seorang perempuan
harus keluar dengan menggunakan pakaian yang menutupi.
Tanya:
524. Bagaimana cara shalat Id?
Jawab:
Shalat Id dimulai dengan Takbiratul Ihram, kemudian
imam membaca takbir enam kali setelah Takbiratul Ihram.
Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan surat lain
setelah surat Al-Fatihah. Pada rakaat kedua, ketika bangun
dari sujud, maka imam berdiri dengan membaca takbir,
kemudian setelah itu membaca takbir sebanyak lima kali
setelah berdiri, kemudian membaca surat Al-Fatihan dan
surat lainnya. Apabila di rakaat pertama membaca surat

258 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Al-A’la, maka di rakaat kedua membaca surat Al-Ghasyiyah.
Apabila di rakaat pertama membaca surat Qaf, maka di
rakaat kedua membaca surat Al-Qamar.
Tanya:
525. Kapan waktu melaksanakan shalat Id?
Jawab:
Waktu melakukan shalat Id dimulai dari naiknya
matahari setinggi satu tombak hingga tergelincirnya
matahari. Tidak apa-apa mengakhirkan shalat Id hingga
matahari naik sekitar dua tombak, karena orang-orang pada
hari Raya Idul Fitri membutuhkan perpanjangan waktu agar
mereka cukup waktu untuk mengeluarkan zakat.
Tanya:
526. Apakah setelah shalat Id dianjurkan untuk pulang dengan
melewati jalan yang lain?
Jawab:
Hal itu dianjurkan, karena mengikuti Rasulullah n.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah a, dia mengatakan,
“Pada hari Raya Id, Nabi n melewati jalan yang berbeda.”
(HR. Al-Bukhari)
Tanya:
527. Apa hikmah menempuh jalan yang berbeda ini?
Jawab:
Hikmahnya adalah mengikuti petunjuk Rasulullah n.

Bab Kedua: Hukum-hukum Shalar Id dan... 259


Allah I berfirman,
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak
(pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan
Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)
Inilah hikmah yang bersifat Ta’abbudiyah.
Namun sebagian ulama menyebutkan beberapa sebab,
di antaranya adalah bahwa hal tersebut dilakukan karena
untuk menampakkan ajaran agama ini di pasar-pasar kaum
muslimin. Pendapat yang lain mengatakan bahwa hal ini
ditujukan agar seseorang mendapatkan saksi dari dua
jalan yang dilaluinya pada hari Kiamat nanti. Dan ada yang
mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan karena untuk
memberikan shadaqah terhadap fakir miskin di jalan yang
kedua.
Tanya:
528. Orang yang ketinggalan melakukan shalat Id, apakah dia
diperbolehkan mengqadhanya?
Jawab:
Diperbolehkan baginya untuk mengqadhanya dengan
melakukan shalat empat rakaat. Hal ini telah diriwayatkan
dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa

260 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


tidak melakukan shalat Id, maka hendaknya shalat empat
rakaat.”8 Salah satu pendapat yang lain mengatakan hanya
melakukan shalat dua rakaat, sebagaimana yang disebutkan
dalam Shahih Al-Bukhari, “Bab: Ketika seseorang tidak
melakukan shalat Id maka melakukan shalat dua rakaat.”9
Tanya:
529. Orang yang tidak patuh untuk melakukan shalat ini, apakah
hukum perbuatannya tersebut?
Jawab:
Dia harus bertakwa kepada Allah I dan tetap melakukan
shalat ini yang mencakup kebaikan dan doa, saling tatap
muka dengan orang lain, kasih sayang dan keharmonisan.
Andai orang-orang diserukan untuk berkumpul ke tempat
hiburan, niscaya Anda akan melihat orang-orang datang
dengan bersegera, lantas bagaimana dengan seruan
Rasulullah n untuk melakukan shalat ini yang dengannya
akan mendapatkan pahala dari Allah I sebagaimana yang
dijanjikan-Nya!?
Tanya:
530. Apakah shalat Id masih diperintahkan bagi orang yang
musafir?

8 HR. Abdurrazaq, 5713, dan Ibnu Abu Syaibah, 2/183 dan dianggap shahih
oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath, 2/475.
9 Shahih Al-Bukhari, 2/474.

Bab Kedua: Hukum-hukum Shalar Id dan... 261


Jawab:
Shalat Id tidak diperintahkan bagi orang yang musafir.
Namun apabila musafir tersebut bepergian di negeri
yang di sana dilaksanakan shalat Id tersebut, maka dia
diperintahkan untuk melakukan shalat Id tersebut bersama
kaum muslimin.
Tanya:
531. Apakah diperbolehkan melakukan puasa pada hari pertama
Idul Fitri atau Idul Adha?
Jawab:
Diharamkan berpuasa pada hari pertama Idul Fitri dan
Idul Adha. Hal ini disebutkan dalam hadits Abu Said Al-
Khudri a bahwa Rasulullah n melarang berpuasa pada
dua hari; hari Raya Idul Fitri dan hari Raya Idul Adha.” (HR.
Al-Bukhari)
Tanya:
532. Bagaimana hukumnya, apabila puasa tersebut merupakan
puasa nadzar atau kifarat?
Jawab:
Berpuasa pada dua hari Raya ini hukumnya haram secara
ijma’. Andai seseorang berpuasa pada hari tersebut untuk
qadha puasa, maka tidak mencukupi. Andai dia bernadzar
untuk berpuasa pada hari Raya Id, maka tidak sah nadzarnya,
menurut Jumhur ulama, karena hal itu termasuk maksiat.

262 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Rasulullah n telah bersabda, “Barangsiapa bernadzar akan
melakukan maksiat kepada Allah, maka jangan melakukan
maksiat kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari)
Tanya:
533. Apakah wajib bagi orang Islam untuk menghadiri shalat
Jum’at yang bertepatan dengan hari Raya Id, dan dia telah
melakukan shalat Id?
Jawab:
Apabila shalat Jum’at dan shalat Id berkumpul dalam
satu hari, maka shalat Id tetap dilaksanakan dan demikian
pula shalat Jum’at. Namun orang yang turut melaksanakan
shalat Id bersama imam, maka dia boleh melakukan shalat
Jum’at dan boleh melakukan shalat Zhuhur.[]

Bab Kedua: Hukum-hukum Shalar Id dan... 263


264 606 Tanya Jawab Seputar Puasa
Bab Ketiga
Setelah Bulan
Ramadhan
Pembahasan Pertama:
Qadha Puasa

Tanya:
534. Apa maksud mengqadha puasa?
Jawab:
Qadha puasa adalah melakukan puasa yang tidak
dilakukan olehnya di bulan Ramadhan, atau puasa yang
dilakukan oleh seseorang untuk orang yang meninggalkan
puasa setelah meninggal dunia dikarenakan sebab nadzar
atau kafarat.
Tanya:
535. Siapa yang diperintahkan untuk mengqadha puasa?
Jawab:
Qadha’ puasa diperintahkan kepada perempuan yang
haid dan nifas, kepada orang sakit dengan sakit yang
mungkin sembuh, dan juga kepada seorang musafir yang
tidak berpuasa pada waktu bepergiannya.

266 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
536. Orang yang pada suatu hari membatalkan puasa secara sengaja
dengan tanpa ada udzur, maka apakah dia wajib mengqadha?
Jawab:
Dia tidak wajib qadha’, namun harus bertaubat dan
menyesali perbuatan maksiat yang besar ini.
Tanya:
537. Apakah dia dapat melakukan puasa untuk mengganti hari
yang dia tidak puasa sebagai wujud penyesalan?
Jawab:
Dia dapat melakukan hal tersebut. Dan inilah yang
difatwakan oleh Said bin Al-Musayyab, Asy-Sya’bi, Ibnu
Jabir dan juga lainnya.
Tanya:
538. Bolehkah melakukan puasa qadha pada hari yang berbeda-
beda (tidak berturut-turut)?
Jawab:
Ya. Diperbolehkan qadha puasa dengan cara berturut-
turut dan berpisah-pisah, dengan tanpa melebihkan
keutamaan salah satu atas yang lainnya. Diperbolehkan
meng­qadha puasa Ramadhan langsung setelah hari Raya
Id, sebagaimana juga diperbolehkan mengakhirkan qadha
puasa hingga bulan Sya’ban sebelum bulan Ramadhan
berikutnya.

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 267


Tanya:
539. Apakah ada dalil yang menunjukkan diperbolehkannya
mengakhirkan qadha puasa ini?
Jawab:
Ya, sesuai dengan perkataan Ummul Mukminin Aisyah
d, “Sesungguhnya, suatu ketika aku mempunyai qadha
Ramadhan, maka aku tidak dapat mengqadha puasanya
hingga datang bulan Sya’ban.” (HR. Muslim)
Tanya:
540. Apakah terdapat perbedaan antara Ada’ dan qadha dalam
puasa?
Jawab:
Ya, di antara perbedaannya adalah bahwa qadha waktunya
lebih luas hingga bulan Ramadhan berikutnya. Sedangkan
Ada’, waktunya lebih sempit karena harus dilakukan pada
waktunya, yaitu di bulan Ramadhan. Puasa yang dilakukan
secara Ada’, apabila terjadi pelanggaran bersetubuh (jima’),
maka harus membayar kafarat, sedangkan puasa qadha,
apabila terjadi pelanggaran persetubuhan (jima’) maka tidak
terkena kafarat.
Tanya:
541. Orang yang meninggal dunia dan dia masih mempunyai
tanggungan puasa, maka apakah kewajiban puasa tersebut
menjadi gugur darinya?

268 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Tanggungan puasa tersebut tidak dengan serta merta
menjadi gugur dengan kematiannya. Namun salah satu dari
keluarga dapat melakukan puasa untuknya.
Tanya:
542. Apakah dalilnya mengenai diperbolehkannya keluarga
melakukan puasa untuk orang yang meninggal?
Jawab:
Diriwayatkan dari Aisyah d bahwasanya Rasulullah
n bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia, sedangkan dia
masih punya tanggungan puasa, maka keluarganya (wali)
melakukan puasa untuknya.” (HR. Muttafaq Alaih)
Tanya:
543. Siapakah yang dimaksud wali itu?
Jawab:
Yang dimaksud wali di sini adalah sanak kerabat.
Ada yang mengatakan, dia adalah orang yang berhak
mendapatkan warisan dan ada yang mengatakan bahwa wali
adalah ahli waris ashabah. Maksudnya adalah keluarga ini
dapat melakukan puasa untuk menggantikan puasa yang
ditinggalkan oleh orang yang sudah meninggal dunia tadi.
Tanya:
544. Mengapa dikhususkan kepada wali?

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 269


Jawab:
Terdapat nash yang menyebutkan wali, karena pada
umumnya, merekalah orang yang berkeinginan keras untuk
membayarkan tanggungjawab keluarganya.
Tanya:
545. Apakah hal ini mencakup semua puasa yang ditinggalkan
oleh mayat?
Jawab:
Puasa yang dapat digantikan adalah puasa nadzar saja,
bukan puasa yang wajib dilakukan sejak semula, seperti
Ramadhan; karena puasa seperti puasa Ramadhan tidak
dapat digantikan. Seseorang tidak dapat menggantikan
puasa orang lain. Seseorang juga tidak dapat menggantikan
kewajiban shalat orang lain. Namun apa yang diwajibkan
seseorang terhadap dirinya merupakan kadar lebih melebihi
apa yang diwajibkan oleh agama; hal seperti inilah yang
dapat digantikan.
Tanya:
546. Apakah dalil diperbolehkannya menggantikan puasa nadzar
orang lain (yang sudah meninggal dunia)?
Jawab:
Dalilnya adalah riwayat yang menyebutkan, “Barang­siapa
meninggal dunia, sedangkan dia masih punya tanggungan
puasa nadzar, maka keluarganya (wali) melakukan puasa
untuknya.” Hadits ini termasuk Shahih.

270 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
547. Apakah beberapa wali (keluarga) mayat dapat turut serta
untuk berpuasa untuknya?
Jawab:
Ya. Andai mayat mempunyai tanggungan sepuluh hari,
maka dapat dilakukan oleh sepuluh orang dan masing-
masing orang cukup melakukan satu hari, kecuali apabila
tanggungan tersebut disyaratkan harus berturut-turut.
Tanya:
548. Seseorang meninggal dunia dan dia mempunyai tanggu­ngan
puasa dua bulan berturut-turut, maka salah satu keluarganya
melakukan puasa untuk membayarkan sebagiannya,
kemudian keluarga yang lain juga melakukannya pada hari
berikutnya dengan tanpa terpisah hari-hari tersebut, maka
apakah hal tersebut dapat mencukupinya?
Jawab:
Tidak dapat mencukupinya, karena puasa yang
disyaratkan harus dilaksanakan secara berturut-turut tidak
dapat terpenuhi kecuali apabila dilakukan oleh satu orang
saja. Oleh karena itu, orang yang akan membayarkannya
harus memulai dari awal karena telah terjadi pemutusan
(tidak berturut-turut) dan puasa yang telah dilakukannya
dianggap merupakan puasa sunnah untuk mayit.

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 271


Tanya:
549. Apabila seorang muslim melakukan puasa sebagian
Ramadhan, kemudian dia meninggal dunia dan tidak dapat
melanjutkan sisa Ramadhan, maka apakah walinya wajib
menyempurnakan puasa mayat?
Jawab:
Wali mayat tidak wajib menyempurnakan puasa
Ramadhan untuk mayat dan juga tidak wajib untuk mem­
beri­kan shadaqah makanan untuk menggantikan puasa
mayat.
Tanya:
550. Orang yang meninggal dunia dan dalam hatinya mempunyai
niat untuk mengqadha puasa, namun tidak berhasil
mengqadhanya, apakah anak-anaknya diperbolehkan
mengqadha puasa untuknya?
Jawab:
Barangsiapa membatalkan puasa di bulan Ramadhan
karena udzur yang diperbolehkan, kemudian dia tidak
mampu untuk mengqadhanya dengan tanpa sembrono,
hingga meninggal dunia, maka dia tidak wajib mengqadha­
nya dan juga tidak wajib memberi makan untuk mengganti
puasa tersebut. Sedangkan apabila pengakhiran puasa
ini dilakukan dengan tanpa udzur hingga dia meninggal
dunia, maka diperbolehkan bagi salah satu kerabatnya
berpuasa untuknya; sebagaimana hadits yang diriwayatkan

272 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


oleh Ummul Mukminin Aisyah d bahwa Rasulullah n
bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia, sedangkan dia
masih punya tanggungan puasa, maka keluarganya (wali)
melakukan puasa untuknya.” (HR. Muttafaq Alaih)
Tanya:
551. Orang yang mempunyai tanggungan kewajiban mem­berikan
makanan (fidyah) karena meninggalkan puasa, maka apakah
dia dapat membebaskan tanggung­jawabnya dengan turut
serta memberikan buka puasa kepada orang-orang yang
berpuasa yang dilakukan di masjid kepada para pekerja
miskin?
Jawab:
Ya, apabila memang dapat dipastikan bahwa jumlah
fakir miskin tersebut sebanding dengan jumlah hari yang
ditinggalkannya dan makanannya tidak bercampur dengan
makanan orang lain.
Tanya:
552. Orang yang pingsan di bulan Ramadhan karena sakit, dan
keadaan tersebut terus berlangsung hingga dia meninggal
dunia, maka apakah dia berkewajiban melakukan sesuatu?
Jawab:
Tidak wajib membayar qadha dan tidak wajib membayar
kafarat, karena orang yang seperti ini dalam keadaan tidak
sadarkan diri (hilang kesadaran akalnya).

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 273


Tanya:
553. Orang yang tidak melakukan puasa Ramadhan, kemudian
Ramadhan berikutnya datang dan dia tidak punya udzur
syar’i untuk mengqadha puasa yang ditinggalkannya ini,
maka apakah dia mempunyai kewajiban lain selain qadha?
Jawab:
Dia hanya berkewajiban membayar qadha puasa saja,
sebagaimana yang dapat dipahami secara umum dari firman
Allah I, “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain.” (Al-Baqarah: 185) Dalam ayat ini, Allah I hanya
menyebutkan kewajiban membayar qadha pada hari lain
dan tidak menyebutkan perintah yang lain. Sebagian ulama
memberikan fatwa bahwa orang tersebut selain qadha juga
harus memberikan makanan (fidyah) karena sembrono. Ini
adalah pendapat yang baik.[]

274 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Pembahasan Kedua:
Puasa Sunnah

Pertama: Pengetahuan Umum


Tanya:
554. Apa maksud ibadah sunnah?
Jawab:
Ia adalah bertaqarrub kepada Allah dengan sesuatu yang
tidak wajib, melakukan shalat sunnah, dan shadaqah sunnah
yang bukan zakat.
Tanya:
555. Apa maksud puasa Tathawwu’ (sunnah)?
Jawab:
Ia adalah selain puasa Ramadhan dan selain apa yang
diwajibkan oleh manusia terhadap dirinya (nadzar),
sebagaimana hadits Dhamamah bin Tsa’labah a bahwa
Rasulullah n menyampaikan berita bahwa sesungguhnya
Allah mewajibkan puasa Ramadhan kepada mereka, maka

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 275


Dhamamah berkata, “Apakah aku diwajibkan dengan
sesuatu yang selainnya?” Rasul menjawab, “Tidak, kecuali
apabila kamu ingin bertathawwu’ (melakukan amalan
sunnah).”
Tanya:
556. Apa pentingnya memperhatikan urusan Tathawwu’?

Jawab:
Dalam hal ini terdapat manfaat besar bagi orang
Islam. Amalan Tathawwu’ dapat menyempurnakan apa
yang kurang dari amalan wajib, sebagaimana hadits yang
berisi tentang diperiksanya amal perbuatan pada hari
Kiamat nanti, yang di dalamnya menjelaskan bahwa
apabila ditemukan kekurangan dalam amalan wajib, maka
dikatakan, “Lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai amalan
Tathawwu’?”

Tanya:
557. Apa pahala puasa Tathawwu’ sehari karena Allah I?

Jawab:
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri a, dia berkata
bahwa Rasulullah n bersabda, “Tidak ada seorang hamba
pun yang berpuasa sehari di jalan Allah kecuali karena satu
hari tersebut Allah menjauhkan mukanya dari api neraka
sejauh tujuh puluh tahun.” (Muttafaq Alaih)

276 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
558. Apakah Rasulullah n berusaha keras untuk melakukan
puasa Tathawwu’?

Jawab:
Ya, di antara buktinya adalah dalam waktu satu bulan,
Rasul selalu melakukan puasa beberapa hari pada waktu
tersebut; sebagaimana hadits Aisyah bahwa sesungguhnya
Rasulullah n tidak melakukan puasa sebulan penuh kecuali
Ramadhan dan Rasulullah tidak pernah meninggalkan
puasa seluruhnya dalam satu bulan, hingga Rasul melakukan
puasa pada sebagiannya.” (HR. Muslim)
Tanya:
559. Apakah terdapat hari-hari tertentu dimana dilarang
melakukan puasa Tathawwu’ pada saat itu?
Jawab:
Ya, seperti puasa khusus hari Jum’at secara mutlak
dengan tanpa sebab, puasa pada hari Raya Idul Fitri dan
Idul Adha, dan puasa hari-hari Tasyriq, kecuali bagi orang
yang mempunyai sebab yang berhubungan dengan haji.
Tanya:
560. Kapan diperintahkan melakukan niat untuk puasa
Tathawwu’?

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 277


Jawab:
Puasa sunnah dapat diniati pada siang hari, apabila orang
yang berpuasa belum melakukan sesuatu yang membatalkan
puasa. Diriwayatkan dari Aisyah d, dia mengatakan,
“Pada suatu hari, Rasulullah n datang menemuiku,
Rasul berkata, “Apakah kamu mempunyai sesuatu?” Kami
menjawab, “Tidak.” Rasul kemudian mengatakan, “Jika
begitu aku puasa.” Kemudian pada hari yang lain, Rasulullah
mendatangi kami, maka kami katakan kepadanya, “Wahai
Rasulullah, kita diberi Hais 10.” Maka Rasul berkata,
“Tunjukkanlah ia kepadaku. Aku tadi puasa, maka aku akan
makan sekarang.” (HR. Muslim)
Tanya:
561. Apa dalil yang menunjukkan diperbolehkannya melaku­kan
niat puasa sunnah di tengah hari?
Jawab:
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia bermaksud
untuk melakukan puasa pada waktu siang, padahal
sebelumnya dia tidak mempunyai niat puasa, namun
dia belum memakan makanan pada hari tersebut. dan
diriwayatkan pula bahwa Hudzaifah melakukan puasa
setelah matahari tergelincir pada siang itu; maksudnya

10 Al-Hais adalah makanan yang terbuat dari minyak samin, keju dan kurma
atau digunakan tepung sebagai ganti keju.

278 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


adalah dia melakukan niat puasa setelah Zhuhur dan
menunjukkan hal tersebut kepada orang-orang.11
Tanya:
562. Apakah niat puasa sunnah tertentu berbeda caranya?
Jawab:
Puasa sunnah mutlak tidak disyaratkan untuk melaku­kan
niat pada waktu malam, sebagaimana hadits Aisyah d, ia
berkata, “Pada suatu hari, Rasulullah n datang menemuiku,
Rasul berkata, “Apakah kamu mempunyai sesuatu?” Kami
menjawab, “Tidak.” Rasul kemudian mengatakan, “Jika
begitu aku puasa.” (HR. Muslim). Sedangkan mengenai
puasa sunnah tertentu (Muayyan), seperti puasa Arafah
atau Asyura maka sebaiknya melakukan niat pada waktu
malam.
Tanya:
563. Apakah seorang suami berhak memerintahkan isterinya
untuk membatalkan puasa yang wajib bagi si isteri?
Jawab:
Apabila seorang perempuan diperintahkan untuk
melakukan qadha puasa wajib, maka perempuan ini tidak
diperbolehkan membatalkannya kecuali dengan udzur
Syar’i dan sang suami pun tidak diperbolehkan untuk
memerintahkan isterinya agar membatalkan puasa ketika

11 Al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, 25/120.

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 279


sang isteri sedang melakukan qadha puasa, sebagaimana
juga sang suami tidak diperbolehkan menyetubuhinya,
dan sang isteri pun tidak boleh menaati sang suami
untuk melakukan hal tersebut. Hal ini berbeda dengan
puasa sunnah, sebagaimana hadits Abu Hurairah a dari
Rasulullah n, “Seorang perempuan tidak diperkenankan
puasa, sedangkan suaminya melihatnya kecuali dengan
seizinnya.” (HR. Al-Bukhari)
Tanya:
564. Ketika seorang perempuan akan membayar hutang puasa,
maka apakah dia harus meminta izin dari suaminya untuk
melakukan hal tersebut?
Jawab:
Seorang perempuan wajib mengqadha puasa Ramadhan
yang ditinggalkannya meskipun dengan tanpa sepenge­
tahuan suaminya dan untuk melakukan puasa wajib tidak
disyaratkan harus meminta izin suaminya.

Kedua: Puasa Enam Hari di Bulan Syawal


Tanya:
565. Apakah puasa yang diperintahkan untuk dilakukan setelah
puasa Ramadhan?
Jawab:
Disunnahkan melakukan puasa enam hari di bulan
Syawal.

280 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
566. Apakah pahala yang didapatkan dari puasa ini?
Jawab:
Diriwayatkan dari Abu Ayyub a, dia mengatakan bahwa
Rasulullah n bersabda, “Barangsiapa melakukan puasa
Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari
bulan Syawal, maka hal tersebut merupakan puasa setahun.”
(HR. Muslim)
Tanya:
567. Bagaimana puasa seperti ini disebut sebagai puasa Ad-Dahr
(setahun)?
Jawab:
Hal ini terwujud dalam hadits Tsauban bahwa dia
mendengar Rasulullah n bersabda, “Allah menjadikan
kebaikan dengan sepuluh kali lipat, satu bulan menjadi
sepuluh bulan dan enam hari setelah Idul Fitri merupakan
penyempurnaan satu tahun.” (HR. An-Nasa’i)
Tanya:
568. Apakah puasa enam hari di bulan Syawal disyaratkan
harus berturut-turut dan dilaksanakan langsung setelah
Ramadhan?
Jawab:
Tidak disyaratkan semua itu. Diperbolehkan memisah-
misah puasa pada hari-hari di bulan Syawal.

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 281


Tanya:
569. Orang yang mempunyai hutang puasa Ramadhan, apakah
dia harus memulai puasa dengan membayar hutang puasa
Ramadhan tersebut, ataukah puasa Syawal terlebih dahulu?
Jawab:
Yang lebih utama adalah memulai puasa dengan
membayar hutang puasa terlebih dahulu, namun tidak apa-
apa bila melakukan puasa Syawal terlebih dahulu, seperti
yang dilakukan oleh banyak perempuan yang mempunyai
hutang banyak puasa Ramadhan.
Tanya:
570. Apakah diperbolehkan melakukan puasa enam hari dengan
niat melakukan puasa enam hari di bulan Syawal bersamaan
dengan niat membayar hutang?
Jawab:
Tidak diperbolehkan menyertakan keduanya dengan
niat, karena puasa enam hari di bulan Syawal mempunyai
niat tersendiri dan puasa untuk membayar hutang juga
mempunyai niat tertentu pula, maka tidak diperbolehkan
menyertakan dua niat yang berbeda pada puasa pada hari
yang sama.
Tanya:
571. Apakah diperbolehkan melakukan puasa enam hari di bulan
Syawal pada hari Senin dan Kamis, atau pada hari-hari putih
(Al-Ayyam Al-Bidh)?

282 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Ya, diperbolehkan; karena puasa hari Senin dan Kamis
atau hari-hari Al-Bidh tidak mempunyai niat tertentu,
melainkan disunnahkan puasa pada hari-hari ini. Puasa
ini dapat terlaksana dengan adanya niat puasa yang lain.

Ketiga: Puasa Bulan Muharram dan Asyura


Tanya:
572. Apakah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan?
Jawab:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah a, dia mengatakan
bahwa Rasulullah n bersabda, “Puasa paling utama setelah
Ramadhan adalah puasa bulan Allah Al-Muharram dan
shalat paling utama setelah shalat Fardhu adalah shalat
malam.” (HR. Muslim)
Tanya:
573. Apa hukum puasa hari Asyura?
Jawab:
Hukumnya sunnah, sebagaimana sabda Rasulullah n,
“Ini adalah hari Asyura dan tidak diwajibkan puasa hari ini
atas kalian. Sedangkan aku adalah orang yang melakukan
puasa. Maka barangsiapa ingin, hendaklah ia berpuasa dan
barangsiapa yang ingin, maka hendaklah ia tidak berpuasa.”
(Muttafaq Alaih)

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 283


Tanya:
574. Apakah puasa hari Asyura dikenal sebelum Islam?
Jawab:
Ya. Dalilnya adalah apa yang disampaikan oleh Aisyah
d ketika dia mengatakan, “Hari Asyura dipuasai oleh
suku Qurays pada zaman Jahiliyah dan Rasulullah n pun
berpuasa pada hari Asyura. Ketika Rasul datang ke Madinah,
Rasul melakukan puasa Asyura dan memerintahkan orang
untuk berpuasa Asyura. Ketika puasa bulan Ramadhan
diwajibkan, maka Rasul meninggalkan puasa Asyura; barang
siapa ingin, maka berpuasa dan barang siapa ingin, maka
meninggalkannya.” (Muttafaq Alaih).
Tanya:
575. Apakah agama memerintahkan agar tidak hanya puasa
Asyura?
Jawab:
Ya, sebagaimana sabda Rasulullah n, “Andai aku masih
hidup di tahun depan, niscaya aku akan berpuasa hari Tasu’a’
(kesembilan).”
Ibnu Abbas a mengatakan, “Belum sampai tahun depan
tiba, Rasulullah n sudah wafat.” (HR. Muslim)
Tanya:
576. Apakah hukum hanya melakukan puasa Asyura dengan tanpa
melakukan puasa pada hari sebelum atau sesudah­nya, baik
dengan udzur atau dengan tanpa udzur?

284 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Apabila hal tersebut dilakukan karena ada udzur, maka
tidak apa-apa. Sedangkan apabila dilakukan dengan tanpa
udzur maka berarti telah bertentangan dengan asal mula
dianjurkannya puasa, disamping juga dianjurkannya untuk
berbeda dengan Ahlul Kitab.
Oleh karena itu sebagai sikap hati-hati, maka dikatakan
bahwa sebaiknya melakukan puasa Asyura bersama
juga dengan puasa pada hari sebelumnya atau satu hari
setelahnya, atau yang lebih utama adalah ketika melakukan
puasa tiga hari semuanya.
Tanya:
577. Apa hukum puasa nadzar bersama dengan puasa hari
Asyura?
Jawab:
Tidak diperbolehkan, karena perbedaan niat yang telah
ditentukan bersamaan dengan tiap-tiap amalan yang ada.

Keempat: Puasa Hari Kesembilan di Bulan Dzulhijjah


Tanya:
578. Apakah keutamaan amal shaleh di sepuluh hari pertama di
bulan Dzul Hijjah?
Jawab:
Disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah
n bersabda, “Tidak ada hari-hari beramal shaleh yang lebih

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 285


dicintai oleh Allah I melebihi dari hari-hari ini.” Para sahabat
berkata, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”
Rasul menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali
seorang lelaki yang keluar dengan hartanya dan jiwanya,
kemudian tidak ada yang kembali sesuatupun dari semua
itu.”
Tanya:
579. Apakah hukum orang yang berpuasa dalam seluruh hari yang
berjumlah sembilan di bulan Dzul Hijjah?
Jawab:
Hal tersebut tidak apa-apa. Hal tersebut termasuk prilaku
amal shaleh yang dianjurkan di sepuluh pertama di bulan
Dzul Hijjah dan tidak ada keterangan dari Rasulullah n
yang menunjukkan bahwa hal tersebut dilarang.
Tanya:
580. Apabila puasa hari-hari Dzulhijjah bertepatan dengan
hari Senin dan Kamis, maka apakah orang yang berpuasa
mendapatkan dua pahala?
Jawab:
Ya. Orang yang berpuasa tersebut mendapatkan dua
pahala dengan seizin Allah I.
Tanya:
581. Apa pahala puasa hari kesembilan dari bulan Dzul Hijjah?

286 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Diriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda,(teks tidak
lengkap)
Tanya:
582. Apakah berlaku bahwa orang yang haji berpuasa pada waktu
haji?
Jawab:
Tidak ada penjelasan dari hadits bahwa orang yang haji
melakukan puasa sunnah di bulan Dzulhijjah dan juga tidak
berpuasa pada hari Arafah pada waktu haji.

Kelima: Puasa Hari Senin dan Kamis


Tanya:
583. Rasulullah n memberitahukan kepada kita tentang
puasa hari Senin bahwa hal tersebut dikarenakan hari
dilahirkannya Rasulullah, apakah hal tersebut dapat
diartikan sebagai seruan untuk menampakkan kegembiraan
dengan kelahirannya?
Jawab:
Sabda Rasulullah n tentang hari Senin adalah, “Hari
itu adalah hari aku dilahirkan, aku diutus, dan diturunkan
kepadaku (Al-Qur’an).” (HR. Muslim) Tidak diragukan lagi
bahwa kelahiran Rasulullah n merupakan kebaikan bagi
seluruh manusia, karena Rasul merupakan rahmat bagi
seluruh alam. Kelahirannya merupakan rahmat. Namun

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 287


di antara bentuk pengagungan dan rasa suka terhadap
kelahirannya adalah dengan cara mengikutinya. Kita tidak
boleh mengada-adakan sesuatu dalam agamanya dengan
sesuatu yang tidak pernah diajarkannya. Kita bergembira
dengan kelahirannya, namun kita tidak menambah-nambah
melebihi apa yang telah diperintahkannya; karena puncak
kesaksian “bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan
Allah” adalah agar Allah disembah hanya dengan cara yang
diajarkannya. Puasa hari Senin merupakan bentuk syukur
kepada Allah I karena telah dikaruniakan rahmat dan
kenikmatan ini dan kita menyembah Allah hanya dengan
cara yang telah diajarkan kepada kita.
Tanya:
584. Apakah hukum puasa qadha dan nadzar pada hari Senin
dan Kamis?
Jawab:
Boleh, karena puasa Senin dan Kamis tidak diharuskan
niat tertentu. Keduanya termasuk puasa sunnah mutlak.

Keenam: Puasa Al-Ayyam Al-Bidh (hari-hari putih)


Tanya:
585. Apakah maksud Al-Ayyam Al-Bidh?
Jawab:
Ia adalah tiga hari, yaitu hari ketiga belas, hari keempat
belas dan hari kelima belas dari setiap bulan Qamariyah.

288 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
586. Mengapa disebut dengan sebutan ini?
Jawab:
Karena cahaya bulan semakin bersinar terang pada hari-
hari itu.
Tanya:
587. Apakah dalil puasa pada hari-hari ini?
Jawab:
Dalilnya adalah hadits Abu Dzar a, dia mengatakan,
“Rasulullah n memberikan perintah kepada kita agar
berpuasa di setiap bulan, pada hari ketigabelas, hari
keempatbelas dan hari kelimabelas.” (HR. An-Nasa’I dan
At-Tirmidzi)
Tanya:
588. Apakah pahala puasa pada hari-hari itu?
Jawab:
Diriwayatkan dari Abu Dzarr a bahwasanya Rasulullah
n bersabda, “Barangsiapa melakukan puasa tiga hari dalam
setiap bulan, maka hal tersebut merupakan puasa setahun.”
Kemudian Allah I membenarkan sabda Rasulullah n
dalam kitab-Nya, “Barangsiapa membawa amal yang
baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya;
dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka
dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 289


kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan).” (Al-An’am: 160) Satu hari dibalas dengan
sepuluh hari. (HR. Ibnu Majah)
Tanya:
589. Apakah hikmah melakukan puasa tiga hari ini?
Jawab:
Sebagian ulama mengatakan bahwa dalam hal ini terdapat
kemukjizatan ilmiah, dimana puasa dapat mengurangi
kadar kebasahan tubuh yang semakin bertambah dengan
bertambahnya cahaya bulan.
Tanya:
590. Orang yang hanya dapat melakukan puasa satu hari, apakah
dia masih mendapatkan pahala?
Jawab:
Pahala sesuai dengan kadar jerih payahnya. Orang
yang mendapatkan udzur sehingga tidak dapat melakukan
sebagiannya atau seluruhnya, maka dia mendapatkan pahala
atas puasa yang telah dilakukannya dengan seizin Allah.
Tanya:
591. Ada seseorang ingin melakukan puasa tiga hari dalam
sebulan, maka apakah yang lebih utama dia melakukan puasa
di Al-Ayyam Al-Bidh ataukah melakukan puasa pada hari
Senin dan Kamis?

290 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Jawab:
Lebih utama melakukan puasa di Al-Ayyam Al-Bidh.

Ketujuh: Puasa Hari Jum’at dan Sabtu


Tanya:
592. Apakah hukum melakukan puasa pada hari Jum’at sendirian
dengan tanpa sebab?
Jawab:
Makruh
Tanya:
593. Apa dalil agama yang menunjukkan puasa hari Jumat saja?
Jawab:
Terdapat dalam hadits Ummul Mukminin Juwairiyah
RA bahwa Rasulullah n menemuinya ketika dia sedang
puasa pada hari Jumat, maka Rasul berkata, “Apakah kamu
melakukan puasa kemarin?” Ummul Mukminin Juwairiyah
menjawab, “Tidak.” Rasul bertanya, “Apakah kamu ingin
melakukan puasa besok?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.”
Maka Rasul berkata, “Berbuka puasalah kamu.” (HR. Al-
Bukhari).
Tanya:
594. Bagaimana apabila puasa seseorang bertepatan dengan hari
Jumat?

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 291


Jawab:
Orang yang selalu menjaga untuk melakukan puasa
sehari dan tidak berpuasa pada hari berikutnya, kemudian
puasanya bertepatan dengan hari Jumat maka tidak apa-apa,
sebagaimana juga ketika hari Jumat tersebut bertepatan
dengan hari Arafah.
Tanya:
595. Apa hukum orang yang menggunakan hari Jum’at untuk
melakukan puasa sunnah, bukan karena tujuan untuk puasa
Jumat, melainkan karena dia tidak sempat melakukan puasa
kecuali hari itu?
Jawab:
Hal tersebut tidak apa-apa, karena yang dilarang adalah
ketika dikhususkan. Oleh karena itu ketika hari Arafah
bertepatan dengan hari Jum’at maka tetap dilakukan puasa
bagi orang yang tidak haji dan tidak diharuskan melakukan
puasa pada hari sebelumnya.
Tanya:
596. Andai seseorang mengatakan, “Aku ingin berpuasa pada hari
Jumat,” dengan tanpa tujuan untuk berpuasa khusus hari
Jumat, padahal dia dapat melakukan puasa pada hari lain
selain Jumat?
Jawab:
Tidak boleh. Harus ada sebab yang jelas.

292 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Tanya:
597. Apa hukum melakukan puasa pada hari Sabtu saja?
Jawab:
Tidak boleh, sebagaimana hadits, “Dilarang melakukan
puasa hari Sabtu, kecuali puasa fardhu.” (HR. Ahmad dan
dianggap shahih oleh Al-Albani)
Tanya:
598. Orang yang berpuasa wajib seperti puasa kafarat, maka
apakah dia diperbolehkan untuk tidak menyempur­nakannya?
Jawab:
Orang yang melakukan puasa wajib, seperti puasa qadha,
nadzar atau kafarat, maka dia harus menyempurnakannya
dan tidak boleh membatalkannya dengan tanpa udzur
dan yang lebih utama adalah apabila orang yang berpuasa
sunnah menyempurnakan puasanya selagi tidak ada
kemaslahatan yang kuat yang diperbolehkan agama untuk
membatal­kannya.
Tanya:
599. Orang yang berpuasa di awal hari dengan niat membayar
hutang kemudian membatalkannya, maka apakah dia harus
mengqadha hari tersebut?
Jawab:
Tidak diharuskan membayar kafarat atas hari itu, namun
dia harus berpuasa untuk membayar hutang puasanya pada
hari lain.

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 293


Tanya:
600. Apabila orang yang sedang berpuasa mendapatkan undangan
walimah, dan puasanya adalah puasa sunnah, maka apakah
dia harus menghadiri undangan dan membatalkan puasa?
Jawab:
Orang tersebut tetap menghadiri undangan, dan dia
mencegah diri dari makan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah
a dia mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda,
“Apabila salah satu dari kalian mendapat undangan, maka
hadirilah. Apabila dia sedang berpuasa maka berdoalah agar
mendapatkan berkah, dan apabila dia tidak berpuasa, maka
makanlah.” (HR. Muslim)
Tanya:
601. Apakah orang yang berpuasa dianjurkan untuk menjelas­kan
bahwa dia sedang berpuasa ketika mendapatkan undangan
walimah?
Jawab:
Ya, dianjurkan untuk melakukan itu. Diriwayatkan
dari Abu Hurairah a dari Rasulullah n, dia bersabda,
“Ketika salah satu dari kalian mendapat undangan untuk
jamuan makan sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka
hendaknya mengatakan, “Sesungguhnya aku berpuasa.” (HR.
Muslim).

294 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


Kedelapan: Puasa Wishal
Tanya:
602. Apakah maksud puasa Wishal itu?
Jawab:
Puasa Wishal adalah melanjutkan puasa dengan tanpa
berbuka puasa pada waktu malam.
Tanya:
603. Apa hukum puasa Wishal?
Jawab:
Terdapat hadits yang melarang melakukan puasa Wishal.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwa Rasulullah n
melarang puasa Wishal. Kemudian salah seorang lelaki dari
kaum muslimin berkata, “Sesungguh­nya engkau, wahai
Rasulullah melakukan puasa Wishal?” Rasul menjawab,
“Siapakah di antara kalian yang seperti aku? Sesungguhnya
aku bermalam dan Tuhanku memberiku makan dan minum.”
Ketika orang-orang enggan untuk berhenti melakukan
puasa Wishal, maka Rasul melakukan puasa Wishal bersama
mereka sehari kemudian sehari, kemudian mereka melihat
Hilal, maka Rasulullah bersabda, “Andai Hilal terlambat
datang, niscaya aku akan menambah kalian.” Seperti orang
yang menakuti mereka ketika mereka enggan untuk berhenti.”
(Muttafaq Alaih).

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 295


Tanya:
604. Apakah larangan ini berarti pengharaman?
Jawab:
Larangan ini berarti makruh, karena Rasulullah n
melakukan puasa Wishal bersama mereka. Apabila puasa
Wishal diharamkan, niscaya Rasul tidak mendidik mereka
dengan sesuatu yang diharamkan ini. Ketika mereka dididik
dengan hal tersebut, maka dapat dipahami bahwa puasa
Wishal diperbolehkan, namun menyelisih keutamaan dan
hal ini menjadikan larangan tersebut dari haram menjadi
makruh.
Tanya:
605. Apa maksud sabda Rasulullah n, “Sesungguhnya aku
bermalam dan Tuhanku memberiku makan dan minum.” ?
Jawab:
Salah satu pendapat mengatakan bahwa pernyataan
tersebut memang hakekatnya demikian, yaitu bahwasanya
Rasulullah n diberi makanan dan minuman dari Allah
sebagai karamah untuknya pada malam-malam Rasul
berpuasa.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa hal itu merupakan
bentuk pemberian makanan yang bersifat rohani kepada
Rasulullah n dari Allah I. Ibnu Al-Qayyim mengatakan,
“Maksudnya adalah asupan yang diberikan oleh Allah

296 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


yang berupa pengetahuan dan memenuhi hatinya dengan
kenikmatan bermunajat, menjadikan permata hati dengan
kedekatannya kepada-Nya, dan merasa nikmat dengan
rasa cinta dan kerinduannya kepada-Nya dan manusia
tidak mungkin dapat sampai ke tingkatan ini karena hal ini
merupakan kekhususan Rasulullah n.
Tanya:
606. Apakah pahala puasa semakin bertambah bagi orang yang
jerih payahnya bertambah?
Jawab:
Apabila jerih payah bertambah dan seorang muslim
bersabar terhadap jerih payah ini, maka pahala semakin
bertambah, karena jerih payah yang mengiringi ibadah
membawa pada pahala besar dari Allah I. Sesungguhnya
pada hakekatnya tidak terdapat pahala dalam jerih payah
(Masyaqqah), kecuali apabila Masyaqqah tersebut karena
akibat dari ibadah. Oleh karena itu, orang yang berpuasa
tidak dianjurkan untuk mencari-cari Masyaqqah dengan
menyangka bahwa hal ini merupakan perintah agama.[]

Bab Ketiga: Setelah Bulan Ramadhan 297


Penutup

Saya katakan bahwa puji syukur bagi Allah yang telah


memberikan karunia kenikmatan, baik yang zhahir maupun yang
bathin kepada kita; di antaranya adalah dalam bentuk pertolongan
dan kemudahan untuk menyajikan tulisan ini yang mencakup
sejumlah fatwa para ulama; semoga Allah memberikan manfaat
kepada kita dengan ilmu mereka dan pemahaman mereka dan
semoga Allah mengumpulkan kita dengan mereka di surga
Firdaus yang tinggi.
Wahai para pembaca budiman,
Apa yang ditemukan dari kebenaran penjelasan, kemudahan
dan kebenaran dalam pengetahuan di dalam risalah ini, maka
ini adalah merupakan karunia Allah I, sedangkan apabila ada
kesalahan dan ketimpangan di dalam risalah ini, hal tersebut
dikarenakan keilmuan yang terbatas dan kesalahan pribadi dan
aku memohon ampunan kepada Allah yang Mahaagung dari
segala kesalahan tersebut. Dan tentunya aku sangat mengharapkan
arahan baik dari para sahabat tercinta dan doa agar mendapatkan

298 606 Tanya Jawab Seputar Puasa


taufiq dari Tuhan kita serta mendapatkan keilmuan yang
bermanfaat.
Ucapan terima kasih kami haturkan kepada semua orang
yang telah turut serta menerbitkan risalah ini.
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, dan shalawat
serta salam semoga selalu mengalir di hadirat kekasih kita, Nabi
Muhammad dan keluarganya, para sahabatnya dan para tabi’in;
semoga kebaikan selalu mengalir kepada mereka hingga hari
kiamat.[]

606 Tanya Jawab Seputar Puasa 299


Daftar Pustaka

1. Ahkam wa Fatawi Az-Zakah wa Ash-Shadaqat wa An-Nudzur


wa Al-Kifarat; cet. Ke-8, Bait Az-Zakat, 1430-2009.
2. Jami’ Al-Ahadits Ash-Shahihah fi Ash-Shiyam wa Al-Qiyam
wa Al-I’tikaf, disusun oleh Hamdi Hamid Subh, ditelaah dan
disajikan oleh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari, Dar Ibnu
Hazm, cet ke-1, 1417-1997.
3. Al-Fatawi Asy-Syar’iyyah fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah min
Fatawi Ulama Al-Balad Al-Haram; Dr. Khalid Abdurrahman
Al-Jarisi, cet. Ke-6, 1429-2008.
4. Fiqh Az-Zakah, karya Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Muassasah
Ar-Risalah, 1405-1985.
5. Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih bin Utsaimin,
dikumpulkan dan disusun oleh Fahd bin Nashir As-
Sulaiman, Dar Ats-Tsurayya li An-Nasyr, 1423-2003.
6. Nawazil Az-Zakah; Dirasat Fiqhiyyah Ta’shiliyah li
Mustajiddat Az-Zakah, Dr. Abdullah bin Manshur Al-
Ghafili, dikeluarkan oleh Wizarat Al-Auqaf, daulat Qatar.

300 606 Tanya Jawab Seputar Puasa