Anda di halaman 1dari 25

MATERI DAN ENERGI

Elektrokimia

OLEH :

KELOMPOK III

HIDAYATI KARDENA (18176005)


SUHA KAMILAH (18176012)
RUSDANI (18176010)
ILHAM (17176007)

DOSEN PEMBIMBING:

Dr. YERIMADESI, S.Pd, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
rahmat-Nya lah dan hidayah-Nya jualah penulisan makalah ini dapat selesai dengan tepat
waktu. Makalah ini disusun untuk dijadikan referensi yang lengkap dan menyeluruh tentang
“Elektrokimia”.
Makalah ini disusun secara khusus dan sistemika untuk memenuhi tugas dari Mata Kuliah
“Materi dan Energi” dan penyusunannya dilakukan secara kelompok. Substansi yang
terdapat dalam makalah ini berasal dari beberapa referensi buku dan literatur-literatur lain,
ditambah pula dari sumber-sumber lain yang berasal dari media elektronik melalui
pengambilan bahan dari internet. Sistematika penyusunan makalah ini terbentuk melalui
kerangka yang berdasarkan acuan atau sumber dari buku maupun literatur-literatur lainnya.
Makalah yang berjudul “Elektrokimia” ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran
bagi mahasiswa, dosen atau masyarakat umum dan juga sebagai bahan pembanding dengan
makalah lain yang secara substansial mempunyai kesamaan. Tentunya dari konstruksi yang
ada dalam makalah ini yang merupakan tugas mata kuliah “Materi dan Energi” banyak
terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis berharap diberikan kritikan yang membangun
kepada para pembaca.

Padang, Maret 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I ......................................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 2
A. Elektrokimia.................................................................................................................... 2
B. Sel Galvani ...................................................................................................................... 2
C. Kespontanan Reaksi Redoks ........................................................................................... 8
D. Persamaan Nernst.......................................................................................................... 10
E. Baterai ........................................................................................................................... 11
F. Sel Elektrolisis .............................................................................................................. 14
G. Korosi ............................................................................................................................ 18
KEPUSTAKAAN .................................................................................................................... 22

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Elektrokimia merupakan bagian yang penting dalam kimia, merupakan “jembatan”
antara kimia dengan kehidupan sehari-hari. Contoh: setiap saat kita menstater mobil,
memijat kalkulator, melihat arloji digital, mendengarkan radio, dan sebagainya.
Semuanya bergantung pada reaksi eletrokimia atau yang lazim dikenal dengan baterai.

Elektrokimia menyangkut fenomena yang berkaitan dengan aspek


perbedaan/pemisahan muatan. Pemisahan muatan ini akan mengakibatkan terjadinya
transfer muatan, yang dapat berlangsung dalam sistem homogen maupun heterogen.

Mempelajari hubungan antara energi listrik/arus listrik dengan reaksi kimia. Secara
umum reaksi kimia yang melibatkan arus listrik disebut sebagai proses elektrokimia.
Beberapa proses elektrokimia adalah: elektrolisis, reaksi oksidasi-reduksi. Pada proses
elektrokimia, reaksi kimia ikut melibatkan perpindahan elektron dari spesi kimia yang
terlibat dalam reaksi tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu sel elektrokimia?
2. Apa itu sel galvani?
3. Bagaimana Kespontanan reaksi redoks?
4. Bagaimana Persamaan Nernst?
5. Bagaimana penerapan elektrokimia pada baterai?
6. Apa itu sel elektrolisis?
7. Apa itu korosi?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah di atas, secara garis besar makalah ini bertujuan
untuk mengetahui tentang apa itu elektrokimia, sel galvani, kespontanan reaksi
redoks,persamaan Nernst, baterai, sel elektrolisis dan korosi.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Elektrokimia
Baterai ada di mana-mana di zaman masyarakat modern ini. Mereka menyediakan
arus listrik ke mobil kami dan untuk menyalakan sejumlah produk seperti kalkulator
saku, digital jam tangan, alat pacu jantung, radio, dan alat perekam. Sebuah baterai
adalah sel elektrokimia, perangkat untuk melakukan konversi energi kimia dan listrik.
Abattery mengambil energi yang dilepaskan oleh reaksi kimia spontan dan
menggunakannya untuk menghasilkan listrik. Elektrokimia, bidang kimia yang
bersangkutan dengan interkonversi energi kimia dan listrik, sangat penting dalam
sains dan teknologi modern tidak hanya karena baterai tetapi juga karena
memungkinkan pembuatan yang penting bahan kimia dan bahan industri. Natrium
hidroksida, misalnya digunakan dalam pembuatan kertas, tekstil, sabun, dan deterjen,
diproduksi oleh melewatkan arus listrik melalui larutan natrium klorida dalam air.
Klorin, penting untuk pembuatan plastik seperti poli (vinil klorida) (PVC), adalah
diperoleh dalam proses yang sama. Logam aluminium juga diproduksi secara
elektrokimia proses, seperti tembaga murni untuk digunakan dalam kabel listrik. Jadi
elektrokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara perubahan (reaksi kimia)
dengan kerja listrik, biasanya melibatkan sel elektrokimia yang menerapkan prinsip
reaksi redoks dalam aplikasinya. (Murry, 2003 : 763-764)

B. Sel Galvani
Baterai telah menjadi sumber umum daya portabel untuk berbagai produk, dari ponsel
ke iPod ke laptop dan mobil hybrid. Energi dari baterai berasal dari reaksi redoks
spontan di mana transfer elektron dilakukan melalui kawat. Peralatan yang
menyediakan listrik dengan cara ini disebut galvanic sel, setelah Luigi Galvani (1737-
1798), seorang ahli anatomi Italia yang menemukan listrik. (Ini juga disebut sel volta,
setelah Italia lainnya ilmuwan Allesandro Volta (1745–1827), yang penemuannya
mengarah pada pengembangan baterai modern) (Brady, 2012 : 918)

Arus listrik yang dihasilkan dari aliran electron pada kawat selanjutnya dimanfaatkan
untuk sumber tenaga listrik. Pemanfaatan seperti ini terdapat pada baterai dan aki.
Baterai tergolong sel elektrokimia , yaitu system yang terdiri dari elektroda tercelup
dalam suatu elektrolit, dimana reaksi kimia yang terjadi dapat membangkitkan arus
listrik. Sel volta atau sel galvani adalah sel elektrokimia yang memanfaatkan prinsip
seperti ini (Sunarya, 2012 : 263)

Untuk melengkapi rangkaian listriknya, kedua larutan harus dihubungkan oleh suatu
medium penghantar agar kation dan anion dapat bergerak dari satu kompartemen
elektroda ke kompartemen elektroda lainnya. Persyaratan ini terpenuhi oleh jembatan
garam, yang dalam bentuk sederhananya berupa tabung U terbalik yang berisi larutan
elektrolit inert, seperti KCl atau NH4NO3, yang ion-ionnya tidak akan bereaksi
dengan ion lain dalam larutan atau dengan elektroda (lihat gambar 19.1). selama

2
reaksi redoks keseluruhan berjalan, electron mengalir keluar dari anoda (elektroda Zn)
melalui kawat dan voltmeter menuju katoda (elektroda Cu). Di dalam larutan, kation-
kation (Zn2+, Cu2+, dan K+) bergerak kearah katoda, sementara anion-anion (SO42- dan
Cl-) bergerak ke anoda. Tanpa jembatan garam yang menghubungkan kedua larutan,
terjadinya penumpukan muatan positif dalam kompartemen anoda (karena
pembentukan ion Zn2+) dan muatan negative dalam kompartemen katoda (terjadi
ketika sebagian ion Cu2+ tereduksi menjadi Cu) tentunya dengan cepat akan
menghentikan kerja sel.

Peralatan percobaan untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan reaksi redoks


spontan disebut sel galvani atau sel volta, diambil dari nama ilmuwan Italia Luigi
Galvani dan Allessandro Volta, yang membuat versi awal dari alat ini. Gambar 19.1
memperlihatkan komponen penting dari sel tersebut. Sebatang seng dicelupak ke
dalam larutan ZnSO4 dan sebatang tembaga dicelupkan ke dalam larutan CuSO4. Sel
bekerja berdasarkan asas bahwa oksidasi Zn menjadi Zn2+ dan Cu2+ menjadi Cu dapat
dibuat berlangsung serentak dalam lokasi-lokasi yang terpisah dimana transfer
electron antara lokasi-lokasi tersebut terjadi melalui sebuah kawat eksternal. (Chang,
2011 : 666).

Batang seng dan tembaga dinamakan elektroda. Susunan elektroda Zn dan Cu dan
larutan ZnSO4 dan CuSO4 ini disebut Sel Daniel. Sel ini diberi nama menurut nama
John Frederic Daniell, seorang kimiawan Inggris yang menemukannya pada tahun
1836 (Moore, 2010 : 156)

3
Untuk sel Daniell, reaksi-reaksi setengah sel , yaitu reaksi oksidasi dan reduksi pada
masing-masing elektroda ialah

Perhatikan bahwa kecuali kedua larutan dipisahkan satu sama lain, ion Cu2+ akan
bereaksi langsung dengan batang seng :

Notasi konvensional untuk menyatakan sel galvani ialah diagram sel. Untuk sel
Daniel yang ditunjukkan pada gambar 19.1 jika kita asumsikan bahwa konsentrasi ion
Zn2+ dan ion Cu2+ masing-masing 1 M, maka diagram selnya ialah :

(Chang, 2011 : 666)


Garis tegak tunggal menyatakan batas fasa. Garis tegak ganda menyatakan jembatan
garam. Berdasarkan konvensi anoda ditulis terlebih dahulu, di sebelah kiri garis ganda
dan di sebelah kanan ditulis katoda.
Dua reaksi setengah sel, seperti disebutkan sebelumnya, adalah

Setengah reaksi pertama, di mana suatu spesies kehilangan elektron, adalah reaksi
setengah oksidasi. Tempat terjadinya oksidasi disebut anoda. Setengah reaksi kedua,
di mana suatu spesies memperoleh elektron, adalah setengah reaksi reduksi. Tempat
terjadinya reduksi disebut katoda.

Perhatikan reaksi sel yang terjadi :

adalah reaksi bersih yang terjadi dalam sel volta; itu disebut reaksi sel.

Setelah Anda tahu elektroda mana yang merupakan anoda dan mana yang merupakan
katoda, Anda bisa tentukan arah aliran elektron di bagian luar rangkaian. Elektron
diberikan oleh anoda (dari setengah reaksi oksidasi) dan dengan demikian mengalir
dari itu, sedangkan elektron digunakan oleh katoda (oleh setengah reaksi reduksi) dan
mengalir ke elektroda ini. Anoda dalam sel volta memiliki tanda negatif, karena
elektron mengalir darinya. Katoda dalam sel volta memiliki tanda positif (Ebbing,
2008 : 810)

4
Potential Reduksi Standar
Jika konsentrasi ion Cu2+ dan Zn2+ keduanya adalah 1,0 M ,ternyata voltase atau emf
dari sel Daniell adalah 1,10 V pada 250C (lihat gambar 19.2). Voltase ini tentunya
berhubungan erat dengan reaksi redoks yang terjadi, tetapi bagaimana? Seperti halnya
reaksi sel keseluruhan dapat dianggap sebagai jumlah dari dua reaksi setengah-sel,
emf terukur dari sel pun dapat dianggap sebagai jumlah dari potensial listrik pada
elektroda Zn dan Cu.

Pada kondisi keadaan standar (ketika tekanan H2 1 atm dan konsentrasi larutan HCl 1
M), potensial reduksi H+ pada 250C adalah tepat nol :

E0 adalah potensial reduksi standar, atau voltase yang berkaitan dengan reaksi reduksi
pada satu elektroda ketika semua zat terlarut 1 M dan semua gas pada 1 atm. Jadi,
potensial reduksi standar dari elektroda hydrogen ditetapkan sebagai nol. Elektroda
hydrogen ini dinamakan elektroda hydrogen standar (SHE, standard hydrogen
electrode)

Kita dapat menggunakan SHE untuk mengukur potensial dari jenis-jenis elektroda
lain. Contohnya, Gambar 19.4(a) menunjukkan sel galvanic dengan elektroda seng
dan SHE. Dalam kasus ini, elektroda seng adalah anoda dan SHE adalah katoda. Kita
menyimpulkan fakta ini dari menurunnya massa dari elektroda seng selama sel
bekerja, yang konsisten dengan lepasnya seng ke larutan sebagai ion Zn2+ akibat
reaksi oksidasi :

5
(Chang, 2011 : 668)
Berdasarkan kesepakatan dan ketentuan, potensial elektroda standar selalu merujuk
kepada setengah reaksi yang dinamakan dengan reduksi. Seperti contoh reaksi antara
Zn dan Cu. Potensial elektroda standar setengah reaksi untuk Zn terjadi pada anoda,
sedangkan potensial elektroda standar setengah reaksi untuk Cu terjadi pada katoda
dimana reaksi yang terjadi adalah :

Karena reaksi berlangsung spontan dengan Cu berada di katoda maka nilai E0 Cu


harus lebih besar dari Zn yang berada di katoda . Maka E0 yang dihasilkan akan
bernilai positif. Dimana nilainya yaitu :

Kita dapat mengambil kesimpulan pada sel volta : potensial sel standar adalah
perbedaan antara potensial elektroda standar pada katode (reduksi) dengan potensial
elektroda standar pada anode (oksidasi)

6
(Silberberg, 2010 : 716)
Tabel 19.1 memuat potensial reduksi standar untuk sejumlah reaksi setengah-sel.
Berdasarkan defenisi, SHE mempunyai nilai E0 sebesar 0,00 V. di bawah SHE,
potensial reduksi standar negative akan meningkat, dan diatasnya potensial reduksi
standar positif meningkat. Hal-hal berikut mengenai table ini perlu diketahui :
 Semakin positif E0, semakin besar kecenderungan zat untuk tereduksi
 Reaksi setengah sel pada table adalah reaksi reversible
 Pada kondisi keadaan standar, setiap spesi di sebelah kiri dari suatu setengah
reaksi sel akan bereaksi spontan dengan spesi yang muncul di sebelah kanan
dari semua reaksi setengah sel yang terletak di bawahnya. Dalam kasus sel
Daniell :

 Mengubah koefisien stoikiometri suatu reaksi setengah-sel tidak


mempengaruhi nilai E0 sebab potensial elektroda adalah sifat intensif. Ini
berarti bahwa nilai E0 tidak dipengaruhi oleh ukuran elektroda atau banyaknya
larutan yang ada. Contohnya :

Tetapi E0 tidak berubah jika kita kalikan setengah-reaksi dengan 2 :

(Chang , 2011 : 671)

7
(Petrucci, 2010 : 872)
C. Kespontanan Reaksi Redoks
Langkah kita berikutnya adalah melihat bagaimana E0sel dihubungkan dengan
kuantitas termodinamika seperti ΔG° dan K. Dalam sel galvani, energy kimia diubah
menjadi energy listrik. Energy listrik dalam hal ini adalah hasil kali dari emf sel
dengan muatan listrik total (dalam coulomb) yang melewati sel :

Muatan total ditentukan oleh banyaknya mol electron (n) yang melewati rangkaian.
Berdasarkan defenisi :

8
muatan total = nF

di mana F, konstanta Faraday , ialah muatan listrik yang terkandung dalam 1 mol
elektron. Percobaan menunjukkan bahwa 1 faraday setara 96.485,3 coulomb, atau
96.500 coulomb, dibulatkan menjadi tiga ngka signifikan. Jadi :
1 F = 96500 C/mol

Kita dapat juga menyatakan satuan faraday sebagai


1 F = 96500 J/V. mol

Emf terukurnya ialah voltase maksimum yang dapat dicapai oleh sel. Nilai ini
digunakan untuk menghitung jumlah maksimum energy listrik yang dapat diperoleh
dari reaksi kimia. Energy ini digunakan untuk melakukan kerja listrik (W ele),
sehingga

Tanda negative pada sisi kanan menyatakan bahwa kerja listrik dilakukan oleh system
pada lingkungan. Secara spesifik, perubahan energy bebas (ΔG) menyatakan jumlah
maksimum kerja yang dapat diperoleh dari suatu reaksi :

(Chang, 2011 : 673)


Jadi kita dapat menuliskan

Untuk reaksi yang reaktan dan produknya dalam keadaan standar , persamaannya
menjadi

Sekarang kita dapat menghubungkan E0sel dengan konstanta kesetimbangan (K) dari
reaksi redoks

Jika kita gabungkan dengan persamaan sebelumnya , menjadi

Sehingga diperoleh untuk E0sel

(Silberberg, 2010 : 724)


Bila T = 298 K, persamaan di atas dapat disederhanakan dengan menstubtitusi R dan
F:

9
Alternatifnya, persamaan diatas dapat ditulis dengan menggunakan logaritma basis-10
dari K :

(Chang, 2011 : 674)

D. Persamaan Nernst
Berdasarkan persamaan

Karena ΔG = -nFE dan ΔG0 = -nFE0, maka persamaan dapat dinyatakan sebagai

Dengan membagi persamaan dengan –nF, kita dapatkan

Persamaan di atas dikenal sebagai Persamaan Nersnt, ditemukan oleh ahli kimia dari
Jerman yang bernama Walther Hermann Nernst pada tahun 1889. (Silberberg, 2010
: 726)
Contoh penerapan persamaan Nernst

10
(Petrucci, 2010 : 881)
E. Baterai
Baterai Sel Kering
Tipe baterai yang biasa digunakan di lampu senter adalah baterai sel kering. Terdapat
beberapa tipe pada baterai sel kering. Tipe yang paling murah adalah yang
menggunakan zink pada katoda, zink akan teroksidasi dengan persamaan reaksi :

Anodanya adalah MnO2 yang juga mengandung NH4Cl. MnO2 akan tereduksi
menjadi Mn2O3 dengan reaksi :

Voltase yang dihasilkan oleh sel kering sekitar 1,5 V. Pada baterai alkaline, zink akan
mengalami oksidasi dengan reaksi total :

Baterai alkaline lebih tahan lama daripada baterai non alkaline.

11
(Tro, 2011 : 841)

Baterai Bertimbal (Aki)


Baterai aki yang umu digunakan di mobil terdiri atas enam sel identic yang tersusun
secara seri. Setiap sel mempunyai anoda timbal dan katoda yang terbuat dari timbal
dioksida (PbO2) yang dikemas pada sebuah pelat logam. Baik katoda maupun anoda
dicelupkan pada asam sulfat yang berfungsi sebagai elektrolit. Reaksi selnya ialah :

Aki dapat diisi ulang, reaksi pengisian material awalnya adalah :

12
(Silberberg, 2010 : 733)
Baterai Merkuri
Baterai merkuri banyak digunakan dalam dunia pengobatan dan industry elektronik
dan lebih mahal dari baterai sel kering biasa. Ditempatkan di dalam sebuah silinder
baja antikarat, baterai merkuri terdiri atas anoda seng yang bersentuhan dengan
elektrolit alkali kuat yang mengandung seng oksida dan merkuri (II) oksida. Reaksi
selnya adalah :

Sel Bahan Bakar


Minyak fosil merupakan sumber energy utama, tetapi proses pengubahan minyak fosil
menjadi energy listrik sangat tidak efisien. Untuk menghasilkan listrik, kalor yang
dihasilkan dari reaksi terlebih dahulu digunakan untuk mengubah air menjadi uap air,
yang selanjutnya menggerakkan turbin yang menggerakkan generator. Karena reaksi
pembakaran adalah reaksi redoks, akan lebih baik melaksanakannya langsung dengan
cara-cara elektrokimia, dengan demikian akan meningkatkan efisiensi produk daya.

13
Tujuan ini dapat dicapai dengan alat yang dikenal sebagai sel bahan bakar, yaitu sel
galvani yang memerlukan pasokan reaktan yang kontinu agar tetap berfungsi.

Dalam bentuknya yang paling sederhana, sel bahan bakar hydrogen-oksigen terdiri
atas larutan elektrolit, seperti larutan kalium hidroksida, dan dua elektroda inert. Gas
hydrogen dan oksigen dihembuskan lewat kompartemen anoda dan katoda, dimana
reaksi-reaksi berikut terjadi :

(Chang, 2011 : 681-684)

F. Sel Elektrolisis
Berlawanan dengan reaksi redoks spotan yang menghasilkan perubahan kimia energi
menjadi listrik, elektrolisis ialah proses yang menggunakan energi listrik agar reaksi
kimia nonspontan dapat terjadi. Sel elektrolitik ialah alat untuk melaksanakan
elektrolisis. Asas yang mendasari elektrolis dan proses yang berlansung dalam sel
galvanik. (Chang, 2011 : 219)

Elektrolisis adalah penguraian suatu elektrolit oleh arus listrik. Pada sel elektrolisis,
reaksi kimia akan terjadi jika arus listrik dialirkan melalui larutan elektrolit, yaitu

14
energi listrik (arus listrik) diubah menjadi energi kimia (reaksi redoks). Tiga ciri
utama, yaitu:

1. Ada larutan elektrolit yang mengandung ion bebas. Ion-ion ini dapat memberikan
atau menerima elektron sehingga elektron dapat mengalir melalui larutan.
2. Ada sumber arus listrik dari luar, seperti baterai yang mengalirkan arus listrik
searah ( DC ).
3. Ada 2 elektroda dalam sel elektrolisis. Elektroda yang menerima elektron dari
sumber arus listrik luar disebut Katoda, sedangkan elektoda yang mengalirkan
elektron kembali ke sumber arus listrik luar disebutAnoda. Katoda adalah tempat
terjadinya reaksi reduksi yang elektrodanya negative (-) dan Anoda adalah tempat
terjadinya reaksi oksidasi yang elektrodanya positive (+).

Sel Elektrolisis adalah sel yang menggunakan arus listrik untuk menghasilkan reaksi
redoks yang diinginkan dan digunakan secara luas di dalam masyarakat kita (Achmad,
H, 2001 ).

Aplikasi Elektrolisis

o Elektrolisis Lelehan Garam


Baterai sebagai sumber arus listrik searah dihubungkan dengan kedua elektroda yang
dicelupkan kedLm lelehan natrium klorida (NaCl meleleh pada 810°C) Pada elektroda
yang dihubungkan dengan kutub negatif baterai terbentuk endapan logam natrium,
sedangkan pada elektroda yang dihubungkan dengan kutub positif berbentuk gas
klorin (Sunarya, 2010 : 291 ). Setengah reaksinya adalah :
Na (l)+ + e- Na(l)
Cl(l) ½ Cl2 + e-
Sebagaimana pada sel galvani, anoad adaladh elektroda tempat terjadinya oksidasi,
katoda adalah tempat terjadinya reduksi. Jadi selama elektrolisis lelelhan NaCl terjadi
reaksi reduksi. Jadi, selama elektrolisis lelehan NaCl terjadi reduksi ion Na + menjadi
gas Cl2.

15
Dalam keadaan meleleh, natrium klorida, suatu senyawa ionik dapat dielektrolisis
agar membentuk logam natrium dan klorin. Gambar diatas adalah diagram sel downs
yang digunakan untuk elektrolisis NaCl dalam skla besar. Dalam lelehan NaCl, kation
dan anionnya masing- masing adalah ion Na+ dan Cl- gamabar diatas merupakan
reaski sederhana yang menunjukkan reaksi pada elektoda. Sel elektrolitik memunyai
sepasang elektroda yang dihubungkan ke baterai. Baterai berfungsi sebagai pompa
elektron yang menggerakka elekton ke katoda ( tempat terjadinya reduksi)m dan
menarik elektron dari anoda ( tempat terjadinya oksidasi). Reaksi pada elektroda
adalah sebagai berikut :

Proses ini merupakan sumber utama logam natrium murni dan klorin perkiraan
teoristis menunjukkan bahwa nilai E° untuk keseluruhan proses adalah sekitar 4°C V,
yang berarti bahwa ini termasuk proses nonspontan . Jadi minimum 4V harus dipasok
oleh baterai untuk melaksanakan reaksi . Pada praktiknya, diperlukan voltase yang
lebih tinggi akibat ketidak efisienan dalam proses elektrolitik dan akibat over- voltase
yang dibahas secara ringkat berikut ini ( Chang, 2011 : 2019)

o Elektrolisis Air
Dalam elektrolisis lelehan garam, setengah reaksi ditentukan oleh keterlibatan ion-
ion hasil lelehan garam. Akan tetapi, jika elektrolisis dilakukan pada larutan ionik ,
adanya air sebagai pelarut perlu dipertimbangkan, boleh jadi terlibat pada salah satu
elektroda atau keduanya, sebab air dapat direduksi atau dioksidasi menurut setenagh
reaksi reduksi dan setengah reaksi oksidasi (Sunarya , 2012 : 290 )
Air dalam beker pada kondisi atmosfer ( 1 atm dan 25°C) tidak akan terurai secara
spontan membentuk gas hidrogen dan oksigen sebab perubahan energi bebas standar
untuk reaksi ini positif dan besar :

Namun demikian reaksi ini dapat dibuat terjadi dalam suatu sel seperti ditunjukkan
gambar 19.18 berikut ini :

16
Sel elektronik terdiri dari sepasang elektroda yang terbuat dari logam nonreaktif,
seperti platina yang direndam di air. Ketika elektoda - elektrodanya dihubungkan ke
baterai, tidak terjadi sesuatu karena tidak cukup ion dalam air murni untuk membawa
arus listrik. ( ingat bahwa pada 25°C, air murni hanya memiliki 1 × 10 - 7 M ion H+
dan 1 × 10 - 7 M ion OH-. Sebaliknya reaksi dengan mudah dalam larutan H2SO4
0,1 M sebab terdapat cukup ion untuk menghantarkan listrik ( Gambar 19.18) Dengan
segera gas mulai keluar pada kedua elektroda. Proses pada anoda nya adalah :

Reaksi keseluruhan diberikan oleh :

Perhatikan bahwa secara total tidak ada H2SO4 yang dikosumsi dalam reaksi ini.

17
G. Korosi
Korosi adalah istilah yang biasanya digunakan untuk kerusakan logam akibat adanya
proses kimia. Kita melihat banyak contoh korosi disektar kita.karat pada besi, noda
pada perak dan platina hijau yang terbentuk pada tembaga dan kuningan, korosi
nengakibatkan kerusakan parah pada bangunan, jembatan, kapal dan mobil.

Sejauh ini contoh yang paling lazim dari korosi ialah pembentukan karat pada besi.
Gas oksigen dan air harus terlibat dalam pembentukan karat besi. Meskipun reaksi
yang terlibat sangat rumit dan tidak sepenuhnya dipahami , tahapan adalah sebagai
berikut : satu wilayah pada permukaan logam berfungsi sebagai anoda, diamana
oksidasi terjadi :

Elektron yang dilepaskan oleh besi mereduksi oksigen di atmosfer menjadi air pada
katoda, yang merupakan, wilayah lain dari permukaan yang sama.

Reaski redoks secara keseluruhan ialah

Dengan data dari tabel 19.1 kita peroleh standar untuk proses ini :

Perhatikan bahwa reaksi ini terjadi dalam medium asam ion H+ dipasok sebagian oleh
reaksi karbon dioksida di atmosfer dengan membentuk H2CO3 ion Fe2+ yang
terbentuk pada anoda dioksidasi lagi oleh oksigen

Gambar 19.13 menunjukkan mekanisme pembentukan karat. Rangakaian listriknya


terbentuk dengan bermigrasinya elektron dan ion inilah sebabnya mengapa karat
terbentuk begitu cepat pada peraian asin.

Faktor penyebab terjadinya korosi adalah :


1. Konsentrasi H2O dan O2
Dalam kondisi kelembaban yang lebih tinggi, besi akan lebih cepat berkarat. Selain
itu, dalam air yang kadar oksigen terlarutnya lebih tinggi, perkaratan juga akan lebih
cepat. Hal ini sebagaimana air dan oksigen masing-masing berperan sebagai medium
terjadinya korosi dan agen pengoksidasi besi.

18
2. pH
Pada suasana yang lebih asam, pH < 7, reaksi korosi besi akan lebih cepat,
sebagaimana reaksi reduksi oksigen dalam suasana asam lebih spontan yang ditandai
dengan potensial reduksinya lebih besar dibanding dalam suasana netral ataupun basa.

3. Keberadaan elektrolit
Keberadaan elektrolit seperti garam NaCl pada medium korosi akan mempercepat
terjadinya korosi, sebagaimana ion-ion elektrolit membantu menghantarkan elektron-
elektron bebas yang terlepas dari reaksi oksidasi di daerah anode kepada reaksi
reduksi pada daerah katode.

4. Suhu
Semakin tinggi suhu, semakin cepat korosi terjadi. Hal ini sebagaimana laju reaksi
kimia meningkat seiring bertambahnya suhu.

5. Galvanic coupling
Bila besi terhubung atau menempel pada logam lain yang kurang reaktif (tidak mudah
teroksidasi, potensial reduksi lebih positif), maka akan timbul beda potensial yang
menyebabkan terjadinya aliran elektron dari besi (anode) ke logam kurang reaktif
(katode). Hal ini menyebabkan besi akan lebih cepat mengalami korosi dibandingkan
tanpa keberadaan logam kurang reaktif. Efek ini disebut juga dengan efek galvanic
coupling.

Korosi logam tidak terbatas hanya pada besi. Kita lihat aluminium yaitu logam yang
digunakan untuk membuata banyak barang berguna, termasuk pesawat udara dan
kaleng minuman. Aluminium ini memiliki kecendrugan hauh lebih besar terokisdasi
dari pada besi. Kita lihat bahwa potensial Al mempunyai potensial reduksi standar
yang lebih negatif dibanding Fe. Berdasarkan fakta ini saja, kita mungkin akan
memperkirakan bahwa pesawat udara perlahan - lahan akan terkorosi dalam badai dan
kaleng minuman berkabonasisasi berubah menjadi tumukan aluminium terkorosi.
Proses - proses ini tidak akan terjadi karena lapisan aluminium oksida (Al2O3) taklarut
yang terbentuk pad korosi lebih lanjut. Namun karat yang terebentuk pada permukaan
besi terlalu berpori sehingga tidak mampu melindungi logam dibawahnya.

Uang logam dari tembaga dan perak juga terkorosi , tetapi jauh lebihb lambat.

19
Gambar 19.13 proses elektrokimia yang terlibat dalam pembentukan karet. Ion H+
dipasok oleh H2CO3 yang terbentuk bila CO2 terlarut dalam air.

Pada atmosfer normal, tembaga membentuk lapisan tembaga karbonat CuCO3 suatu
zat bewarna hijau yang disebut platina, yang melindungi logam dibawahnya dari
korosi lebih lanjut. Demikian pula, peralatan makan perak yang bersentuhan dengan
bahan makanan akan membentuk lapisan perak sulfida (AgS)

Sejumlah metode telah dirancang untuk melindungi korosi. Kebanyakan metode ini
bertujuan pembetukan karat. Cara yang paling jelas ialah melindungi permukaan
logam dengan cat. Namun jika tergores,berlubang, atau penyot dan merperlihatkan
sedikit saja bagian logam karat akan terbentuk dibawah lapisan cat.

Permukaan besi bisa dibuat tidak aktif dengan proses ysng disebut dengan pasivasi.
Suatu lapisan tipis oksida akan terbentuk ketika logam direaksikan dengan zat
pengoksidasi kuat seperti asam nitrat pekat. Larutan natrium kromat sering
ditambahkan pada sistem pendingin dan radiotor untuk mencegah pembentukan karat
lewat mekanisme yang sama.

Kecendrungan besi teroksidasi jauh lebih berkurang bila dilapisi dengan logam
tertentu. Contohnya pada baja antikarat (campuranbesi dan kronium), terbentuk
lapisan kronium oksida yang melindungi korosi.

Wadah dari besi dapat dilapisi dapat dilapisi dengan logam lain seperti timah atua
seng. Kaleng “timah” dibuat dengan membuat lapisan tipis timah dai atas besi. Karat
tidak akan terjadi asalkan lapisan timah tetap utuh. Namun begitu permukaannya
tergores, karat terjadi engan cepat. Jika kita lihat potensial reduksi standar,
berdasarkan autran diagonal, terlibat bahwa besi bertindak sebagai anoda dan timah
sebagai katoda dalam proses korosi.

Proses perlindungannya berbentuk besi berlapis seng, atau besi galvanisasi. Seng lebih
mudah teroksidasi dibandingkan besi.

Jadi meskipun besi menjadi terpapapr akibat goresan, seng yang tetap adakn
terserang. Dalam kasus ini, logam seng bertindak sebagai anoda dan besi adalah
katodanya.

Perlindungan katholik ialah proses perlindungan proses perlindungan logam dari


korosi dengan membuatnya sebagai katoda sel galvanik. Gambar 19.14 menunjukkan
paku tersebut dengan secarik seng. Tanpa perlindungan seperti ini paku besi akan

20
cepat berkarat dalam air. Pengaratan pipa besi di bawah tanah dan wadah tangki besi
dapat dicegah atau dikurangi dengan menghubungkannya dengan logam sepertu seng
dan magnesium yang mudah teroksidasi besi gambar 19.15

( Chang, 2011 : 215 - 216)

21
KEPUSTAKAAN
Achmad, Hiskia. 2001. Kimia Unsur dan Radiokimia. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti

Brady, James. 2012. Chemistry The Molecular Nature of Matter 6th edition. New York : St
John University
Chang, Raymond. 2011. General Chemistry The Essential Concepts sixth Edition. USA : Mc
Graw-Hill
Ebbing, D. Darrel. 2008. General Chemistry Eight Edition. New York : Houghton Mifflin
Company
Moore, T John . 2010. Chemistry for Dummies. New York : Wiley Publishing Inc
Murry. Mc. 2003. Chemistry Fourth Edition. New York : Pearson Prentice Hall
Tro, J Nivaldo. 2011. Chemistry a Molecular Approach Second Edition. USA : Pearson
Prentice Hall.
Petrucci, H Ralph. 2010. General Chemistry Principles and Modern Application. Toronto :
Pearson Canada Inc
Silberberg. 2010. Chemistry The Molecular Nature of Matter and Change Second Edition.
USA: Mc. Graw Hill Companies.
Sunarya, Yayan. 2012. Kimia Dasar 2 Berdasarkan Prinsip-prinsip Kimia Terkini. Bandung :
IKAPI

22